Btw, Mingyu kapan nembak Wonunya? (wonuu17-06) hmmmm ada waktunya lah XD

Ch depan bakal prom kan? (redhoeby93) belum say, sabar dikit yhaa~

Kapan ayahnya wonu tau anaknya jadi perempuan? (lupanamapenname) belum nulis bagian itu (.0^0.) masih lama kali.

Aku px permintaan, boleh gak aku cubit pipi kamu? (an2794) wah, pipiku tidak enak untuk di cubit :( bisa cubit pipi Soonyoung aja ngga? :))

Mingyu suka Wonu sejak kapan? Sejak lama atw saat Wonu jadi cewe?—ini ceritanya si Mingyu itu 'lurus' atau 'melenceng'? (Rie Cloudsomnia) sebetulnya, kalau masih ingat waktu Mingyu ga sengaja lempar bola ke Wonu dan apa yang dia katakan waktu gendong Wonu itu sebetulnya udah ketauan dia sukanya sejak kapan. Tapi mungkin karena ini kebanyakan ch jadi kalian lupa (aku pun sebetulnya udah lupa beberapa bagian yang pernah aku tulis XD). Soal Mingyu 'lurus' atau 'melenceng', nah, pikir sendiri~ /tolongjangantimpuksaya

Kan satu skolah udah pada tau? Masa gak dikasih seragam siswi gitu? (Ara94) jangan dulu hehe

Oh iya, ntar kana gak bully lagi kan? Terus ada karakter baru g? (kirino07) ngga kok. Ada sih… sama ada member svt yang belum keluar, ntar tak keluarin :3

Btw, kana muncul ch depan thor? (jeon wonnie) wah, kok tauuu~

Thor jihoon jadi g ngembaliin wonu? Trus kana ikhlasin wonu-mingyu g? ayah wonu orangnya gmn? (kimxjeon) rahasiaaaa~

Kamu pilih mana thor, enaknya Wonu tetep jadi cewek atau balik? (siVO14) eng~ ing~ eng~ rahasia hehe~

.

.

.

Enjoy!

Ch 28

.

.

.

Mingyu dan Wonwoo duduk berdua di atap, Mingyu dengan roti isi ukuran besar dan susu kotak yang dibelinya di kantin dan Wonwoo dengan kotak berisi bekal yang dibuatkan ibunya.

"Aku pikir kau juga harus bawa bekal." Ucap Wonwoo sambil menyumpitkan telur dadar gulung dan memasukkannya ke mulut lalu mengunyahnya.

Mingyu menelan makanannya, lalu berkata, "Oh, Noona ingin makan siang bersamaku." Dia tersenyum geli.

Wonwoo merengut, "Bukan begitu."

"Kau sendiri jarang membawa bekal, tiba-tiba bawa bekal." Ucap Mingyu.

"Mom-ku mengunjungiku dan tinggal bersamaku selama beberapa hari." Jawab Wonwoo.

"Ah… aku mengerti…" Mingyu tersenyum.

Wonwoo tersenyum, lalu keduanya menghabiskan makan mereka dalam diam.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Wonwoo akhirnya.

Mingyu terdiam sebentar dan menghabiskan susu kotaknya, "Maaf karena aku tidak bisa melakukan apapun tadi pagi. Aku menarikmu untuk pergi, tapi aku juga malah di tanyai dan aku tidak tahu bagaimana menjawabnya." Ucapnya.

Wonwoo terpaku sejenak, "Oh. Tidak apa, beruntung temanku menolong kita." Balasnya.

"Aku berterimakasih padanya." Ucap Mingyu dengan tidak enak.

Lalu keduanya membicarakan hal yang lain hingga pintu atap terbuka dan menampakkan Jeonghan dan Jisoo.

"Oh, hai Eonni." Sapa Wonwoo

"Hai Noona." Sapa Mingyu.

"Hai, Dongsaeng." Sapa Jeonghan balik, lalu menatap kearah kotak yang kosong dihadapan Wonwoo dan bungkus roti di hadapan Mingyu, "Aaah! Kalian tidak menunggu kami!" serunya sebal.

"Kalian tidak mengatakan apapun." Wonwoo berucap dengan bingung.

"Memang tidak." Jawab Jeonghan lalu duduk dan diikuti Jisoo yang duduk di sebelahnya, mereka lalu membuka kotak bekal masing-masing dan mulai makan.

"Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan disini selain makan bersama?" tanya Jeonghan sambil menaik-turunkan alisnya.

"Ngobrol." Jawab Wonwoo.

"Menghindari murid yang lain." Jawab Mingyu.

Jeonghan lalu mengingat apa yang terjadi kemarin, "Ah… aku mengerti, pasti sangat mengganggu."

Wonwoo dan Mingyu mengangguk.

"Mengenai kau wanita tersebar sangat cepat, satu kelas langsung bertanya pada kami." Ucap Jisoo.

"Iya, aku sampai sebal. Mau jawab apa, bingung. Terus salah satu dari mereka bilang tentang apa yang terjadi di pagi tadi dan mereka tahu kau punya trauma." Lanjut Jeonghan geli.

"Tentu saja, tidak mungkin kita mengatakan hal itu, bukan?" bisik Jeonghan.

Jisoo terkekeh, "Wonwoo jadi seperti artis yang terkena skandal." Lalu mereka tertawa.

"Oh ya! Wonwoo, kami nanti akan mengajakmu ke suatu tempat, kau tidak boleh menolak." Ucap Jeonghan.

"Kemana?" tanya Wonwoo.

"Eum. Aku tidak ingin menjawabnya, nanti kau tidak mau." Jawab Jeonghan.

Jisoo mengangguk, "Kau tidak sibuk kan?" tanyanya.

"Tidak, tapi Mom-ku berkunjung ke rumah kemarin… jadi…"

"Minta izin saja nanti." potong Jeonghan.

"Oh, oke…"

"Emm… boleh aku ikut juga?" tanya Mingyu.

"TIDAK!" jawab Jeonghan dan Jisoo bersamaan, Mingyu kaget mendengarnya.

"Kenapa?" tanya Wonwoo dan Mingyu bersamaan.

Jeonghan memeluk Wonwoo, "Hanya bisa kita bertiga."

Mingyu mendengus dan merengut, "Baiklah."

.

.

.

"Minghao sama Jisoo-noona, Mingyu dengan Wonwoo-hyu-,eh noona, Mingming dengan Jun-hyung, aku dengan siapa?" keluh Seokmin.

"Mingming dengan Jun?" tanya Mingyu kaget.

Seokmin meliriknya dengan pandangan 'kemana saja kau' dan mencibir. Minghao yang sejak tadi menyalin buku tugas Mingyu terkekeh-kekeh.

"Mereka sangat dekat, Mingyu." Ucap Minghao.

"Oh. Lalu?"

"Tidak heran jika nanti mereka mungkin akan berpasangan dalam prom." Jawab Minghao.

"The best gay ever." Ucap Seokmin.

Mingyu mendesis, "Jangan begitu."

"Memangnya kenapa?" desis Seokmin.

"Karena Mingyu juga sama dengan mereka jika saja dia tak beruntung Wonwoo itu seorang wanita." Jawab Minghao.

Mingyu manyun mendengarnya, tapi selanjutnya ia tersenyum.

"Ah. Benar juga." Jawab Seokmin sambil menepuk tangan sekali, lalu terdiam sambil memicing mata dan berkata, "kalian aneh tidak sih Wonwoo itu wanita? Kok kayaknya tidak mungkin ya? Untuk apa dia nyembunyiin identitasnya kalau ia sendiri masuk ke kamar mandi pria?" tanyanya bingung.

Mingyu dan Minghao diam sambil berkeringat dingin, mereka membentuk senyum palsu di wajah sambil berusaha mencoba mencari jawaban yang tepat

"Oh ya, kalau tidak salah, aku pernah liat dia bingung mau masuk antara toilet pria atau wanita." Ucap Seokmin mengingat-ingat, ia lalu terbelalak saat menyadari sesuatu, "jangan-jangan ia ingin mengintip kita, anak cowok?"

Mingyu dengan cepat mencubit pipi Seokmin keras-keras hingga pemuda itu berteriak kesakitan, "Memangnya dia itu kau?" tanyanya murka.

Seokmin tertawa, "Hahah. Calm down, bro." lalu wajahnya berubah murung dan mengguncang bahu Mingyu kuat-kuat.

"Kalau begitu carikan aku pasangan untuk prom!" rengeknya.

"Hah. iya-iya. Hentikan mengguncangku." Ucap Mingyu dengan wajah menderita.

"Bagaimana dengan Soonyoung-hyung?" tanya Mingming yang baru saja datang sambil menggigiti sosis.

"Pemandangan ambigu." Ucap Seokmin yang langsung di pukul Mingyu.

"Kau saja yang otaknya konslet, dasar jomblo mesum." Ucap Mingyu.

"Kau sendiri juga mesum! Dan kau juga jomblo! Heh! Aku rebut nanti Wonwoo darimu!" seru Seokmin.

"Berani kau sentuh dia, aku tenggelamkan kau ke laut mati." desis Mingyu.

"Orang bodoh. Di laut mati tidak akan tenggelam." Ucap Mingming.

Minghao tertawa, "Kau mengatakan bodoh pada orang yang menempati peringkat satu pararel di angkatan, Ming."

"Ngomong-ngomong, Soonyoung-hyung sudah ada pasangan." Mingming mengabaikan ucapan Minghao.

"Aku tidak minat padanya!" seru Seokmin.

"Aku punya pasangan untukmu." Ucap Mingyu.

"BENARKAH?!" Seokmin tampak antusias, "siapa?"

"Lihat sendiri nanti," Mingyu tersenyum miring, "aku bisa membuatmu bertemu denganmu, kalau kalian berdua punya waktu kosong, aku bisa mengaturnya."

"Aku selalu punya waktu kosong." Jawab Seokmin.

"Jomblo sih," ledek Mingyu, "oke, aku bicarakan padanya." Ucapnya lalu mengambil ponsel.

Untuk beberapa saat ia berkirim pesan dengan seseorang lalu tersenyum puas.

"Dia bisa besok."

"Baiklah, dimana?" tanya Seokmin.

"Jam Jam Café."

.

.

.

Wonwoo membuka ponselnya saat sebuah pesan masuk, dilihatnya siapa pengirimnya, Jeonghan dan Jisoo.

Wonwoo, maafkan kami! Nanti tidak jadi… (.0^0.) ada kelas tambahan dan piket ternyata (.~_~.)

Besok ya?

Wonwoo menghela napas. lalu membalas pesannya. Baiklah.

Wonwoo menatap langit yang gelap dan merasa kesepian karena ia akan pulang sendirian. Ia mengganti sepatu di ruang loker dan segera keluar dari wilayah sekolahnya. Ia melangkahkan kakinya cepat-cepat menuju halte.

Tapi ia terkejut dengan adanya Kana di halte itu, tersenyum keji padanya. Wonwoo menghentikan langkahnya lima meter dari halte. Ia sedang tidak ingin berseteru dengan gadis itu. Ia jadi was-was, kenapa Kana ada disana? Ia lalu teringat peristiwa di halte beberapa hari yang lalu. Kekhawatirannya memuncak dan sebelum ia tahu apakah ada preman-preman itu atau tidak, ia berbalik dan berlari menjauh.

Yang ia tahu berikutnya, ia merasa ada yang mengejarnya dan Wonwoo semakin panik. Ketakutan menyergapnya. Ia bahkan tidak menyadari saat berlari, ada sebuah sepeda yang meluncur kearahnya.

"Awaaass!"

Wonwoo terkejut dan ia mendengar sepeda itu di-rem dengan sekuat tenaga hingga terdengar suara decitan yang keras. Sepeda itu berhenti tepat di hadapannya yang merosot jatuh ke tanah karena kaget.

"Mingyu…" Wonwoo mendesah lega saat melihat siapa pengendara sepeda itu.

"Wonwoo-noona?!" Mingyu segera turun dari sepedanya dan menghampiri Wonwoo, "apa yag kau lakukan disini? Bukankah kau akan pergi dengan Jeonghan dan Jisoo?" tanyanya sambil membantu Wonwoo untuk berdiri.

Wonwoo berpegangan pada bahu Mingyu yang kokoh untuk berdiri dan Mingyu membantunya dengan menariknya di tangan dan menahan keseimbangan tubuhnya dengan memegang pinggangnya. Sedikit, entah kenapa Wonwoo merasa begitu terlindungi dalam kedua lengan itu.

"Mereka membatalkannya, mereka punya kelas tambahan sekarang." Jawab Wonwoo lalu melirik ke belakangnya.

Mingyu mengangguk, lalu mengikuti arah pandang Wonwoo dan menatap bingung tidak melihat sesuatu disana. Tapi kenapa Wonwoo terlihat ketakutan?

"Noona kenapa? Kau kelihatan ketakutan, ada yang mengejarmu?" tanya Mingyu.

Wonwoo mengangguk, "Tadi ada, sekarang entahlah." Jawabnya.

Mingyu mengangguk, ia lalu mengajak Wonwoo naik sepeda, "Kalau begitu, kita pergi saja dari sini, mumpung mereka brsembunyi."

"Iya."

Lalu keduanya naik sepeda dan dengan segera pergi dari tempat itu. Wonwoo berpegangan pada baju Mingyu sambil sesekali menengok ke belakang. Dari kejauhan, ia bisa melihat Kana memandangnya murka dengan beberapa preman yang pernah Wonwoo lihat disekitarnya. Ia lalu menatap punggung Mingyu di depannya.

"Mingyu, terimakasih." Lirih Wonwoo, "kau datang di waktu yang tepat, jika aku tidak bertemu denganmu, entah bagaimana nasibku."

Mingyu meliriknya sebentar, "Tidak apa. Ngomong-ngomong, siapa yang mengejarmu?" tanyanya.

"Kana dan preman-preman di halte kemarin." Jawab Wonwoo.

"Apa?! Astaga! Gadis itu tidak ada habisnya!" kesal Mingyu.

Wonwoo mengangguk.

"Aku tidak suka melihatmu terus di ganggu dia, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikannya, Noona?" tanya Mingyu.

Wonwoo berpikir sejenak, kepalanya menengadah ke arah langit, "Hmm…. Apa ya?"

"Apa ya…."—Mingyu.

"Ya apa…."—Wonwoo.

"Lah apa…"—Mingyu.

"Apa sih…" Wonwoo memukul punggung Mingyu sebal. Yang sedang mengayuh sepeda hanya tertawa.

"Baiklah, kita pikirkan nanti saja.." Ucap Mingyu saat mereka tiba di depan gedung apartment Wonwoo.

"Uhm. Okay," Wonwoo lalu turun dari sepeda, "thanks, Min—"

"Ah! Wonwoo! Kau sudah pulang!"

Kedua muda-mudi itu menoleh kearah Ibu Wonwoo yang baru saja keluar dari gedung dan menghampiri mereka.

"Mom.." Mingyu kaget mendengar Wonwoo memanggil wanita itu, dengan cepat ia panik karena tiba-tiba harus bertemu dengan wanita yang melahirkan Wonwoo disini.

"Annyeonghaseyo, Bibi…" sapa Mingyu.

Wonwoo melirik ke arah Mingyu lalu ke Ibunya berkali-kali, "Mmm… Mom… ini Mingyu."

Ibunya tersenyum manis, "Ah… jadi ini yang namanya Mingyu…" lalu ia menelusuri Mingyu dengan mata dari atas hingga bawah.

"Salam kenal, Bibi. Saya Kim Mingyu." Mingyu jadi kikuk sendiri, tidak tahu harus melakukan apa dibawah pandangan wanita yang menatapnya tajam itu.

"Salam kenal juga, aku Ibu Wonwoo." Balas wanita itu, "nah, kalian dari mana tadi?"

"Sekolah." Jawab Wonwoo dan Mingyu bersamaan.

Mata ibu Wonwoo memicing, "Benar dari sekolah?" tanyanya menelisik.

"Itu benar, Mom." Jawab Wonwoo.

"Lalu pulang bersama? Sejak kapan?"

"Mmm… sejak… sejak…" Wonwoo tidak tahu harus jawab apa, karena ia lupa.

"Sejak aku merasa harus mengantarnya, Bibi.." jawab Mingyu.

Wonwoo terdiam, terbelalak dengan jawaban Mingyu. Ia lalu cepat-cepat beralih pada Ibunya, "Mom mau kemana?"

"Belanja. Kau ini, kulkas seharusnya di perhatikan." Jawab Ibunya.

"Mm… Biar aku temani, Mom tunggu disini, aku mau ganti baju dulu!" lalu ia beralih pada Mingyu, "Mingyu… kau bisa pulang… thanks sudah mengantarku…"

Mingyu mengangguk kaku, lalu bersiap untuk mengayuh pedal jika saja tangan Ibu Wonwoo tidak menahan bahunya sambil tersenyum manis sedangkan Wonwoo berlari masuk ke apartment.

"Em… Bibi?" Mingyu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.

"Sebentar ya, kamu harus saya pukul dulu." Mingyu bergidik mendengar suara Ibunya Wonwoo yang mengintimidasi, lalu ia merasa sebuah pukulan di kepalanya, bukan pukulan yang kuat sebenarnya, hanya sebuah pukulan pelan yang membuat Mingyu terdiam dan menatap Ibu Wonwoo dengan bingung.

"Apa kau merasa kasihan padanya karena ia dikutuk menjadi wanita?" tanya Ibu Wonwoo.

Mingyu melongo, kemudian ia hanya menggeleng.

"Lalu kenapa kau melindunginya?" tanya Ibu Wonwoo lagi.

Mingyu berpikir sejenak, "Karena aku merasa bersalah. Aku membuatnya menjadi seperti itu. Aku membuatnya mendapat masalah."

"Hanya karena merasa bersalah?"

Mingyu terdiam, lalu menggeleng ragu, "Tidak juga, aku benar-benar ingin melindunginya. Aku tidak ingin melihatnya bersedih dan terluka." Jawabnya. Matanya menatap tangannya yang mencengkram stang dengan sayu.

Melihatnya terluka membuat hatiku terasa pedih sekali. Batinnya sambil teringat beberapa hari yang lalu saat ia mendapati Wonwoo terluka.

Lalu keduanya terdiam.

"Terimakasih sudah melindungi Wonwoo," Ibu Wonwoo menarik napas pendek, "tapi, saya tidak akan memaafkanmu jika menyakiti Wonwoo lagi."

Mingyu mengangguk, "Iya, Bibi. Aku janji."

Lalu keduanya mengobrol sebentar sebelum akhirnya Mingyu pamit pulang. Mingyu tersenyum lebar sambil mengayuh pedal dengan semangat. Dalam benaknya, mengulang lagi percakapan singkatnya dengan Ibu Wonwoo. Mingyu merasa wanita itu tahu banyak tentang dirinya, sepertinya Wonwoo menceritakan tentangnya—atau masalahnya. Tapi tak apa, Mingyu merasa senang. Ibu Wonwoo tampaknya sama sekali tidak membencinya, padahal seharusnya ia merasa sangat marah telah membuat anak lelakinya menjadi seperti itu.

Dalam hatinya, Mingyu berjanji.

Ia akan melindungi Wonwoo dari apapun dan akan membahagiakannya.

.

.

Wonwoo mengikuti ibunya sambil mendorong trolley.

"Aku tadi melihat Mom menahan Mingyu, Mom tidak mengatakan hal yang tidak-tidak padanya kan?" tanya Wonwoo mendesak, ini pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya ia lontarkan sambil mengikuti ibunya mondar-mandir mengambil bahan makanan.

"Mom."

"Ssstt." Ibunya mendesis, lalu mereka berjalan melintasi rak popok dan pembalut, lalu ibunya menoleh kearahnya, "pembalutmu masih ada bukan? Ini sudah berganti bulan, menstruasimu akan datang lagi." bisiknya.

Wonwoo merasa berat hati, masa menstruasi membuatnya sama sekali tidak nyaman. Ia harus merasakan sakit di perutnya, ia merasa aneh dengan benda bernama pembalut yang harus di letakkan diselakangannya (walaupun dia seharusnya terbiasa karena selama ini ada sesuatu yang menggantung di selakangannya, tapi dua hal itu sangat-sangat berbeda-kau tahu apa maksudku-), ia merasa takut jika darah yang keluar dari dalam dirinya merembes keluar mengotori pakaiannya, dan hal lainnya. Setelah ia berpikir sejenak, "Ah, tinggal beberapa buah lagi." jawab Wonwoo.

Ibunya mengangguk dan mengambil satu pack pembalut dan menaruhnya di trolley. Keduanya lalu berjalan lagi untuk mengambil barang yang lain.

"Mom. Jawab pertanyaanku." Ucap Wonwoo.

"Aku tidak mengatakan apapun. Hanya memukulnya." Jawab sang ibu.

Wonwoo terhenti, "Astaga, Mom. Kenapa kau memukulya? Bukankah aku melarangmu."

Ibunya tertawa, "Tenang saja."

Wonwoo merengut, "Lalu setelah itu?"

"Aku menyuruhnya pulang." Jawab Ibunya acuh dan segera mendapat picingan mata dari anaknya.

Setelah itu kembali mereka melanjutkan mengambil bahan yang lain.

"Beberapa hari lagi, sekolahku mengadakan prom, Mom, dan aku di suruh memakai gaun." cerita Wonwoo.

Ibunya menoleh dengan kaget dan hampir saja menjatuhkan satu pack telur ditangannya, "Apa?!"

Wonwoo menatap datar reaksi drama ibunya. Ibunya lalu berdeham dan terkekeh, "Lalu kau sudah punya gaunnya?"

Wonwoo mengembungkan kedua pipinya , mengikuti ibunya menuju kasir, "Kenapa Ibu malah senang sekali."

"Soalnya aku tidak pernah melihatmu memakai gaun." Jawab Ibunya, lalu keduanya terdiam saat menunggu belanjaan di bayar di kasir.

"Jadi, kau sudah menyiapkan gaunnya?" tanya Ibunya lagi saat mereka keluar dari minimarket.

"Mungkin…" jawab Wonwoo.

"Mungkin?"

"Jisoo-eonnie memberikanku beberapa waktu aku tinggal disana, aku rasa itu sudah cukup." Jawab Wonwoo.

"Ah? Iyakah?" tanya Ibunya tidak yakin, "kalau begitu, tunjukkan nanti padaku."

.

.

.

Ibu Wonwoo melihat satu persatu baju yang anaknya tunjukkan padanya. Dua buah pajama dress berwarna putih dan hitam tanpa lengan, blus putih dengan renda hitam, dress lengan panjang berwarna putih-biru dan juga tunik berwarna hijau tosca.

Ibunya mengerutkan kening, "Semuanya tidak bisa kau pakai, kau harus mencari yang lain."

"Eh, Mom…"

"Besok kita akan membelinya, kau ada waktu?" tanya Ibunya tidak peduli.

"Aku ada janji dengan Jeonghan eonni dan Jisoo eonni." Jawab Wonwoo.

"Oh, aku keduluan. Tapi tidak apa, mungkin bersama mereka kau bisa menemukan gaun yang bagus." Ujar Ibunya.

"Tapi, belum tentu kami akan belanja gaun."

"Tidak. Itu pasti. Oh, jangan lupa, kau juga harus beli sepatu. Kau belum punya sepatu wanita bukan?" tanya Ibunya sambil membuka ponsel.

Wonwoo tidak menjawab, ibunya lalu menunjukkan beberapa gambar sepatu yang membuatnya bingung.

"Ini flat shoes, ini wedges, ini stiletto, ini platforms, apa yang kau inginkan? Atau kitten heels seperti ini? Atau ballet flats? Atau spool heels?" tanya Ibunya sambil menggerakkan kursor ponselnya.

"Eemmm aku tidak tau… tapi itu bagus semua…" jawab Wonwoo lirih, entah kenapa dalam hatinya ia ingin mencoba semuanya.

"Mana yang kau sukai?" tanya Ibunya.

"Entahlah…"

Ibunya lalu melihat anaknya dari atas sampai bawah, lalu berpikir sejenak, "Sepertinya agak lebih baik kau menghindari sepatu dengan heels yang tinggi. Soalnya kau sudah tinggi. Kasihan nanti pasanganmu."

Wonwoo merengut, Ibunya tertawa, "Yasudahlah, kita bahas lagi besok. Sekarang mandi sana, lalu makan dan tidur." Perintahnya.

"Baik~"

.

.

.

"Aku suka ibumu." Ucap Mingyu.

"Wtfs?" Wonwoo menatapnya aneh.

"Maksudku, aku senang bertemu dengannya. Dia baik sekali padaku." Ujar Mingyu.

"Oh iyakah? Senang mendengarnya." Wonwoo tersenyum lebar.

Keduanya mengganti sepatu mereka, "Noona jadi pergi dengan Jeonghan-noona dan Jisoo-noona?" tanya Mingyu.

"Iya."

"Naik apa?" tanya Mingyu.

"Entahlah?" jawab Wonwoo sambil menutup lokernya.

"Naik mobil." Jawab Jisoo yang baru saja datang.

"Eonnie!" "Noona!" Jisoo tersenyum manis dan membuka loker untuk mengganti sepatunya.

"Lalu dimana Jeonghan-noona?" tanya Mingyu yang tak melihat sosok Jeonghan di sebelah Jisoo.

"Oh, sudah duluan. Dia harus menghidupkan mobilnya dulu." Jawab Jisoo.

"Oh. Wow." Komentar Mingyu dan Wonwoo bersamaan.

Jisoo menutup lokernya, "Ayo keparkiran." Ajaknya pada dua orang itu.

Lalu ketiganya pergi ke parkiran dan saat itu pula sebuah mobil berwarna pink bergerak keluar dari area parkiran.

"Ah, ayo kita naik Wonwoo." Ucap Jisoo sambil berjalan kearah mobil pink itu dan membuka salah satu pintunya.

"Eh, ehm. iya." Jawab Wonwoo, lalu ia menatap pada Mingyu yang tersenyum padanya. Mau tak mau Wonwoo ikut tersenyum, "sampai besok Mingyu."

Mingyu mengangguk, "Sampai besok. Hati-hati Noona." Balasnya, ia lalu membukakan pintu mobil untuk gadis itu dan Wonwoo terperanjat, Mingyu menaikkan satu alisnya, "masuklah."

Wonwoo menatapnya dengan tersipu lalu masuk kedalam mobil. Jeonghan dan Jisoo menatap adegan itu dengan melongo. Mingyu lalu menutup pintu mobil dan menjauh lalu melambaikan tangan sambil nyengir.

"Hati-hati kalian semua."

Jeonghan dan Jisoo tersenyum lebar, "Thanks Mingyu."

Wonwoo tersenyum kearahnya, "Thanks Mingyu."

Lalu kaca mobil tertutup dan mobil mulai melaju dengan didalamnya Jeonghan dan Jisoo bersiul menggoda, juga berkoar 'cieee'.

"Ngomong-ngomong, bagaimana jika kita makan dulu?" tanya Jeonghan.

"Oke, makan dimana?" tanya Jisoo.

"Jam Jam café, bagaimana? Aku suka maccaron yang ada disana." Jawab Jeonghan.

"Baiklah."

Wonwoo diam saja dan menurut kemana mereka pergi.

"Oh ya, Wonwoo. Kau tahu akan ada prom bukan?"

"Iya."

"Baguslah, maaf kami lupa memberitahumu. Err… jadi, kita sekarang akan ke butik Jeonghan untuk mencari gaun. Okay?" tanya Jisoo.

"Iya, terimakasih." Jawab Wonwoo.

.

.

Ponsel Mingyu berbunyi saat ia bersiap untuk mengayuh pedal. Ia segera mengambil ponsel dan mendapati nomor Seungkwan disana. Ia lalu mengangkatnya.

"Halo."

"Oppa…"

"Iya, Seungkwan?"

"Pertemuannya jadi tidak? Aku sudah nunggu di halte dekat sekolahmu nih."

"Oh. Iya, jadi kok. Tunggu sebentar, aku akan kesana." Ucap Mingyu sambil mengayuh sepeda keluar dari wilayah sekolah.

"Oppa… gimana nih, aduuhh… aku grogi…"

Mingyu tertawa, "Bohong. Biasanya juga pede aja kok."

"Iiih. Oppa gak tau sih… ah, tapi aku udah gak sabar, kyaaa."

"Ei. Jangan teriak di telingaku."

"Eheheh, sorry oppa."

"Sudah, kumatiin ya."

"Iya."

Mingyu lalu menutup sambungan dan tetap mengayuh, ia kemudian sampai di halte dan menemukan Seungkwan dalam balutan sweater berwarna peach dan celana jeans.

"Ey. Kau bagus."

"Aku akan menendangmu Oppa." Seungkwan melotot padanya lalu naik ke bangku penumpang.

"Ish. Ish. Kau tidak berat kan?"

"Aku akan menyumpal mulutmu kalau tidak diam. salah sendiri tidak punya motor atau mobil." Jawab Seungkwan.

"Aku lagi mengumpul uang untuk membeli salah satunya kok." Bela Mingyu sebal sambil mengayuh sepeda.

"Apa Seokmin-oppa bakal datang? Dia tidak lupa kan?" tanya Seungkwan cemas.

"Tenang saja, tidak kok. Lagipula dia daritadi nanya bolak-balik padaku apakah jadi." Jawab Mingyu sambil tertawa.

Lalu keduanya pergi menuju Jam Jam café dan tidak lama kemudian sampai disana.

"Kau masuk tidak?" tanya Seungkwan.

Mingyu mengangguk, "Sekalian mau makan, lapar." Jawabnya.

Keduanya lalu masuk dan mendapati Seokmin yang melambai kearah mereka.

"Sudah ya." jawab Mingyu.

"Thanks oppa." Jawab Seungkwan sambil berjalan kearah Seokmin dengan tersipu.

Mingyu tersenyum kearah mereka berdua dan mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap sosok Wonwoo yang duduk di tempat ujung depan. Mingyu mengerutkan alisnya, bingung. Ia berjalan perlahan kearah gadis itu dan tambah bingung saat tidak melihat sosok Jeonghan atau Jisoo disana, malahan dia melihat seorang gadis bersurai pink ombre duduk di depan Wonwoo.

Itu Jihoon-noona, batin Mingyu.

Mingyu penasaran, dengan hati-hati ia melangkah dan duduk diam-diam tepat di belakang Wonwoo. Ia tidak perlu takut ketahuan karena kursi di café itu merupakan sofa dengan sandaran tinggi. Diam-diam pula ia menguping sambil melihat keadaan sekitar, samar-samar ia mendengar Wonwoo berbasa-basi dengan Jihoon. Tidak terlalu penting hingga matanya melebar mendengar Jihoon berkata.

"Aku menemukan penangkalnya."

.

.

.

-.-

Mohon Maaf Lahir Batin, ya all~

Aku minta maaf kalau ada kesalahan di perkataan dan penulisan, minta maaf jika ff ini banyak kekurangan dan keraguan, minta maaf karena update lama, dan minta maaf juga karena kebanyakan curhat~

Btw, aku meras otak/agaklebedikitgpp/ waktu percakapan Mingyu dan Wonu's Mom. Aku benar2 kehabisan ide untuk kata2/sigh/ mangap—eh, maap yah, karena kurang memuaskan di ch ini.

Thanks to : fvcksoo, kwon-summer, Wonuu17-06, 17MissCarat, redhoeby93, meaniecrt, svtjeon, headbootak, sindijulia, Vioolyt, nandassi, xingmyun, lulu-shi, yer99, geuxx29, febynd, Mirror, lupanamapenname, Lsw123, an2794, parksungrin, noname, Cissy, GameSMl, elfrani, Ketiiilem, Arlequeen Kim, restypw, lT886, iryanisolecha, wonderella, ohsaera, gih, Rie Cloudsomnia, kookies, kimjongxx, syupit, guest, Ara94, katojikiku, hyosangganteng, riani98, chaehee, guest, kirino07, svtbae, Jeon Wonnie, Rlike, BumBumJin, XiayuweLiu, chanbaekhyon, exoinmylove, NichanJung, kwonhosh, kimxjeon, Inspcom, jeonjk, KimAnita, JaeShine, BLUEFIRE0805, wonderfulwoo, KimKei0808, lalapoh, Mrs. EvilGameGyu, Beanienim, haru-chan, equuleusblack, Sehun yehet, tinkuerbxlle, Reiichigoon, ddazed, Rahma584, happydeer, siVO14, kim hwa min, anniqasalwa, Baek Gain, Anitha96, meaniemeanie, mingyu

a/n : MV NICE, Wonwoo kiyuuut banget hadeeehhh lebih canteks daripada model ceweknya dan Mingyunya aheelaaaah tepar gua.

a/n2 : btw, masih soal MV. Begitu aku liat teasernya waktu itu dan pakaian mereka. Aku langsung mikir, gimana jika mereka nge-cover dance-nya Girl's Day –Expectation. LOL. Kan gimana gitu yhaaa/mikirjorok

a/n3 : Wonuuuu cepatlah sembuuuuhhhh~ I miss u :3 btw, ini dalih karena aku ingin liat dia pas make baju dance mereka itu. sexy hmz. /soribang/ Liat Mingyu aja aku udah ga kuat hahahah

a/n4 : kemesraan Mingyu dan Wondoll menjadi-jadiiii~ MZ, THOLONG LAKUKAN ITU PADA ORANG ASLINYA. Berani ga dia muehehehe.

a/n5 : MINGYU MAKIN GANTENG. Aku sama sepupu fangirlingan sambil ngucap kata kotor lol, astagfirullah…

a/n6 : Jisoo jadi cantik ya :3 sebelumnya juga udah cantik sih haha :3

a/n7 : See ya, all! Love u, mmuah!