Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Inspiride by : OreImo

Summary : Semua masih sama. Adiknya masih menjengkelkan seperti biasa. Tapi semua makin rumit saat banyak gadis yang menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya dan ditambah lagi sebuah bahaya besar mengancam kedamaian dunia shinobi. Bagaimanakah Bolt menghadapi semua ini?. Simak saja ceritanya. . .

Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family

Rate : T

Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan

Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Kamis, 11 Februari 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . . .

"Eh, tunggu, Mirai tetap lah disini sebentar, kalian yang lain bersiap-siap saja dahulu" kata Naruto tiba-tiba.

Setelah anggota tim 7 keluar ruangan, Shikamaru juga sudah keluar setelah urusan singkatnya, tersisa lah Mirai sendirian di hadapan Hokage. Beberapa saat hening, akhirnya Mirai bertanya.

"Sebenarnya ada perlu apa dengan saya, Hokage-sama?"

"Aku memberikan mu misi tambahan, kau ke Kumo sekalian antarkan udangan resmi kepada Raikage dan juga ambil daftar nama peserta Jounin Exam yang mewakili Kumo"

"Baiklah" jawab Mirai.

"Oh iya, aku meminta seseorang untuk menemanimu"

"Siapa?"

"Tunggu saja sebentar lagi"

Tidak lama kemudian,

Kriiieeetttt….

Suara pintu berderit, seseorang masuk ke ruangan Hokage.

"Ka-kau…..." Mirai tidak menyangka yang datang adalah orang ini,,,,,

.

My Cute Sister? Season II

By Si Hitam

Chapter 28. Hilangnya Blueprint Rancangan Senjata Pemusnah Meriam Chakra.

Tim 7 sudah siap berangkat untuk misi. Jangan samakan dengan era hokage pertama sampai hokage keenam dimana tim ninja yang akan berangkat misi selalu berkumpul di depan gerbang desa Konoha. Jaman sudah berganti, jaman Hokage Ketujuh sudah maju. Sekarang tim ninja yang akan melaksanakan misi jauh keluar desa, tidak lagi berkumpul didepan gerbang, tapi di stasiun. Bukan masalah jika ninja ikut transportasi umum, untuk memangkas waktu dan tenaga. Itu lebih efektif dan lagipula tidak ada yang protes. Saat ini sudah diberlakukan Undang-Undang baru untuk pensejajaran hak dan kewajiban antara ninja dan warga sipil.

Menunggu sambil duduk di bangku stasiun, Himawari nampak badmood. Sudah stasiunnya sesak karena banyak orang, suhu udara mulai panas pula. Ya wajar karena sekarang sedang musim panas dan saat ini adalah jam sibuk.

"Haaaaaah,,, kenapa Mirai-nee lama sekali sih?" keluh Himawari.

"Mungkin Mirai-sensei mendapat tugas penting dari Hokage-sama" sahut Ryuzetsu.

"Nah, tuh Mirai-sensei sudah datang" kata Amaru, yang pertama kali melihat kedatangan Mirai.

"Hai minna, maaf ya kalau lama menunggu. Aku diberi tugas tambahan oleh Hokage-sama" kata Mirai setelah dekat dengan tim bimbingannya.

"Tugas apa Mirai sensei?" tanya Amaru

"Mengantar undangan resmi Jounin Exam kepada Raikage sekalian mengambil daftar nama peserta Jounin Exam perwakilan Kumo"

"Oh, jadi kita semua akan ke kantor raikage nanti?" sambung Ryuzetsu

"Tidak, kalian tetap melaksanakan misi kalian. Aku hanya menemani kalian berangkat ke Kumo. Pulangnya kita sendiri-sendiri." Jawab Mirai

"Apa tidak apa-apa kalau Mirai-nee sendirian?" Himawari giliran bertanya.

"Siapa bilang aku pergi sendiri, tuh ada Bolt-kun yang menemaniku" kata Mirai sambil menunjuk Bolt yang baru sampai.

"Yoo.. Hai, semuanya" sapa Bolt saat sudah sampai dikerumunan gadis-gadis itu.

"Hai juga, Bolt-niisan" sahut Amaru segera, hanya dia yang dengan ekspresi senang membalas sapaan Bolt.

"Oh iya, nih minumanmu Mirai-nee" Bolt menyerahkan sebotol minuman.

"Ahh, terima kasih Bolt-kun" balas Mirai, menerima minuman dari Bolt dan ternyum senang kepada pemuda bersurai pirang itu.

Himawari langsung berubah jadi pendiam sejak kedatangan Bolt. Entah kenapa dia merasa sedang malas untuk ribut dengan kakaknya sekarang, jadi hanya menatap penuh arti pada Bolt dan Mirai.

.

Kereta melaju dengan sangat cepat. Sekarang ini kereta melintasi jalur jembatan yang melewati jurang antara dua tebing yang menjadi perbatasan Konoha dan Kusagakure. Setelah melewati Kusa, melewati satu negara tetangga lalu sampai lah di wilayah Kumogakure.

Didalam kereta, tempat duduk penumpang berupa sofa empuk yang nyaman disusun berhadapan, terpisah oleh sebuah meja. Itulah tempat duduk didalam gerbong kelas eksekutif, tempat duduk yang dipilih tim 7, atau lebih tepatnya tempat duduk yang dipilih Himawari. Himawari rela merogoh uang banyak asal mendapat pelayanan prima, dan karena Himawari yang membayar tiket kereta untuk semuanya, jadi tidak ada yang memprotes. Kalau gerbong kelas ekonomi tempat duduknya biasa saja dan berdempetan. Bahkan tidak sedikit penumpang yang harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Ryuzetsu, seperti biasa. Lebih senang tidur saat di kendaraan, apalagi mendapat tempat duduk kelas eksekutif yang sangat nyaman. Amaru sedang membaca buku medis, tidak sedikitpun melewatkan waktu luang untuk belajar. Sedangkan Himawari, yang duduk di dekat jendela tampak sedang menikmati pemandangan di luar. Itu hanya tampaknya saja, karena Himawari tidak fokus melihat pemandangan, buktinya seringkali Himawari melirik dari ekor matanya, melirik Mirai dan Bolt yang duduk berdampingan dan berbicara terus dan kadang tertawa riang seolah tidak pernah kehabisan topik obrolan.

"Oh iya Bolt-kun. Aku penasaran akan jadi seperti apa ya proyek besar mu nanti?" tanya Mirai, mencari topik permbicaraan lain setelah habis topik sebelumnya.

"Lihat saja nanti, aku yakin proyek itu bisa mengalahkan semua penemuan ilmuan Konoha. Heheeee…" jawab Bolt bangga.

"Iya, aku percaya padamu" balas Mirai, "Emmm,,,, lain kali kalau ke gedung pusat HMC lagi, ajak-ajak aku ya"

"Eh, kenapa?"

"Rasanya nyaman sekali, menikmati pemandangan sore hari dari puncak gedung seperti yang kita lakukan kemarin"

"Iya-iyaa. Aku pasti mengajakmu kok, Mirai-nee. Sebenarnya tidak hanya di gedung itu saja sih, ada banyak fasilitas HMC lain yang memiliki spot-spot yang sangat indah untuk bersantai"

"Benarkah? Yeeeiiiy. . . . Arigatou Bolt-kun"

"Haaah,,, kau ini seperti anak-anak saja, Mirai-nee"

"Aaahh,, biarin. Heheee,,,. Tapi terima kasih ya, Bolt-kun"

"Yaaa, aku juga berterima kasih kau mau menemaniku kemarin"

"Umm. Anooo,, . . .- "

Mirai dan Bolt terus saja berbicara lepas, saling berbicara seolah hanya mereka berdua saja yang menjalankan misi ini tidak menghiraukan gadis-gadis tim 7 yang kali ini diam saja dan tidak berisik. Mirai dan Bolt berbicara tanpa sungkan karena hubungan mereka berdua yang semakin dekat membuat mereka tahu bagaimana sifat mereka satu sama lain.

Himawari, masih sesekali melirik kearah kakak dan jounin pembimbingnya. Otaknya pun seakan dipaksa fokus untuk mendengarkan permbicaraan Mirai dan Bolt. Mood-nya yang jika bersama kakaknya selalu ingin mengajak ribut juga lenyap, hilang entah kemana. Yang ada hanya perasaan aneh di hati Himawari melihat kedekatan Bolt dan Mirai yang nampak berlebihan.

Cemburu,?, Entahlah, bisa jadi. Kemungkinan besar iya, tapi sepertinya bukan itu saja. Hanya saja tampak aneh, karena tidak pernah sekalipun Himawari melihat kakaknya bersikap senyaman itu jika bersama seorang gadis. Mirai juga, yang selama ini tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki manapun malah seperti menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya pada Bolt. Keduanya sama-sama merasa nyaman, itulah yang tertangkap dipandangan Himawari. Apa mereka berdua cocok? pikirnya.

.

Sekarang mereka sedang transit sebentar di sebuah stasiun di negara tetangga. Sudah 5 jam mereka di kereta. Untuk sampai ke Kumo masih perlu waktu tempuh sekitar 4 jam lagi. Cukup lama karena Kumo letaknya cukup jauh dari Konoha. Empat gadis dari tim 7 tadi sedang duduk di kursi diruang tunggu stasiun itu. Bolt, dia tadi ingin ke toilet, sekalian membeli minum.

Stasiun yang menjadi tempat transit tampak lengang, berbeda jauh dengan stasiun di Konoha yang sangat sesak. Mungkin saja karena stasiun ini letaknya di kota kecil dari negara tetangga ini.

Himawari menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan, lehernya terasa pegal karena hampir sepanjang perjalanan tadi dia menoleh kesamping kanan, melihat pemandangan diluar karena tidak ingin mengganggu Mirai dan Bolt yang asyik berbicara.

"Eh?" Himawari sedikit tersentak karena tiba-tiba Bolt ada didepannya.

"Ini, minuman dan cemilan untuk kalian" kata Bolt, lalu memberikan sekantong plastik berisi beberapa cemilan dan tiga minuman kaleng pada Himawari.

"Ah, ya." balas Himawari singkat, lalu mengambil kantong plastik tadi dari tangan kakaknya.

Bolt lalu mengambil tempat duduk disamping Mirai yang kebetulan kosong, mengambil satu botol air minum isotonik dari kantong plastik lain yang ia bawa, membuka tutup botolnya, lalu memberikannya pada Mirai.

"Nih, minumlah. Jangan sampai kau dehidrasi, Mirai-nee" tawar Bolt.

"Hihii, terima kasih ya. Kau perhatian sekali padaku, Bolt-kun. Sampai-sampai mau membukakan tutup botolnya untukku" kata Mirai sembari menyambut air minum pemberian dari Bolt.

"Ah, biasa saja"

"Massa? aku tidak percaya." kata Mirai sambil memasang wajah polos tidak percaya pada Bolt

"Kau saja yang kege'eran" balas Bolt dengan pede-nya.

"Cuih, ga mau ngaku.." cibir Mirai.

"Jangan mulai aneh-aneh deh, Mirai-nee"

"Ahahaaa" Mirai tertawa pelan sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya.

Sejak tadi, ada satu gadis yang diam saja memperhatika interaksi Bolt dan Mirai. Himawari tahu walaupun hanya interaksi kecil seperti itu, jelas keduanya terlihat lebih dari sekedar teman atau sahabat biasa. Apalagi jika antara seorang pemuda dengan seorang gadis.

Himawari menggeleng pelan, tidak ingin berpikir terlalu jauh. Nanti saja memikirkan ini, jika memang keduanya saling menyukai, dan kelihatannya mereka sangat cocok. Lebih baik kakaknya bersama Mirai, dari pada Uchiha berkacamata itu, pikir Himawari. Aahh,,, mengingat Uchiha itu, Himawari jadi kesal sendiri.

.

"Huuuuhh, akhirnya sampai juga. Pegal sekali rasanya duduk terlalu lama di kereta" keluh Himawari.

Himawari bersama empat orang lainnya sudah sampai di stasiun kereta Kumogakure. Sekarang sudah petang. Langit senja sudah mulai menggelap. Panorama kota Kumo khas pegunungan sangat berbeda dengan Konoha. Bangunan-bangung di wilayah Kumo tidak berpondasi ditanah, namun seperti menempel ditebing-tebing. Itulah ciri khas kota Kumo karena bentang alam kota ini bukanlah dataran, tapi pegunungan dengan banyak tebing-tebing terjal.

Mereka berlima sudah membicarakan tentang misi mereka saat di kereta tadi. Tugas mengambil gulungan untuk klien dikerjakan oleh Himawari, Amaru, dan Ryuzetsu. Setelah sampai di Kumo, mereka ingin langsung mengambil gulungan itu dari pengamat bisnis perusahaan Soui Inc., di hotel tempat dia menginap. Jadi mereka bertiga bisa langsung pulang ke Konoha dengan kereta malam. Orang yang mereka cari sudah dihubungi lewat telepon, dan dia mengatakan bersedia menunggu di penginapannya sampai jam 9 malam.

Sedangkan untuk urusan ke kantor raikage, Mirai dan Bolt akan memberikan undangan itu besok pagi. Kantor raikage sudah pasti tutup saat malam, jadi mereka berdua memutuskan mencari penginapan di dekat kantor raikage agar tidak menyulitkan pergi ke kantor raikage besok paginya.

"Kita berpisah disini ya, Hima-chan, Amaru-chan, Ryu-chan" kata Mirai.

"Iya, Mirai-sensei. Lagipula ini kemauan Hima juga" sahut Ryuzetsu.

"Aku hanya ingin cepat pulang" sambung Himawari ketus.

"Aku juga, aku tidak ingin lama-lama disini" tambah Amaru.

"Jangan berbuat yang tidak-tidak saat pulang ya, Hima" kata Bolt menasehati adiknya.

"Iyaa, kau tidak usah sok perhatian padaku" sahut Himawari ketus. "Ayo, Amaru-chan, Ryu-chan. Kita langsung mencari penginapan itu"

Himawari langsung beranjak pergi, di ikuti oleh Amaru dan Ryuzetsu.

"Ish, aneh sekali bocah itu" sungut Bolt mengatai adiknya. "Tadi diam saja, sekarang bawel lagi"

"Mungkin dia lagi PMS, Bolt-kun" sahut Mirai

"Ya sudah, ayo. Kita juga harus mencari penginapan kita bermalam, Mirai-nee"

"Kita bermalam berdua?"

"Iya, memang siapa lagi yang ikut?" jawab Bolt.

"Sekamar?"

"Ya enggak lah. Aku kebetulan bawa uang banyak, jadi kau tidak usah khawatir."

"Hihihiiii,, padahal kalau mau sekamar berdua juga tidak apa-apa" ucap Mirai seduktif.

"Eh? Kalau gitu, aku pesan satu kamar saja deh nanti" ekspresi Bolt berubah cerah setelah dengan cepat merubah keputusannya.

"Isshh,, Bolt-kun mesum. Gak bisa bedain mana candaan mana serius."

"Heh? Mengataiku mesum?.. Kau sendiri tadi yang mulai, berarti kau kan yang mesum?"

"Moouuuu,,,," Mirai berubah cemberut, berjalan lebih dulu meninggalkan Bolt.

"Mirai-nee, kau itu sudah lewat 20 tahun, masa bertingkah kayak anak baru puber sih?" ejek Bolt.

"Hmmpphhh….." Mirai makin cemberut.

"Heiii,, Mirai-nee, tungguu….." Bolt berusaha mengejar Mirai.

Dan aksi aneh sepasang muda mudi yang hubungannya tidak jelas ini pun terus berlangsung hingga mereka mendapatkan penginapan.

.

Suasana sekarang tampak sangat sepi, maklum saja karena ini didalam kereta malam yang sedang melaju kencang. Gadis-gadis tim 7 sudah selesai mengambil gulungan laporan dari pengamat bisnis Soui Inc., di tempat dia menginap. Penumpang kereta malam ini tidak terlalu banyak, dan hampir semua penumpang sedang tidur. Amaru dan Ryuzetsu pun sudah enak-enakan tidur di dalam kereta.

Lagi-lagi mereka memilih tempat duduk kelas eksekutif. Terang saja, ada Himawari yang membayar. Dia anak orang kaya, selain itu penghasilannya sendiri sebagai model majalah juga tidak sedikit. Sebenarnya mengerjakan misi pun, hanya jika Himawari tertarik. Himawari sama sekali tidak perlu uang imbalan misi karena itu tidak seberapa dibanding pengeluarannya perhari. Hanya karena ingin menjadi ninja yang kuat saja, makanya dia sesekali ikut misi untuk mengasah kemampuannya. Pekerjaannya sebagai model majalah remaja terkenal, tentu memberikan pemasukan yang lebih banyak dari sekedar imbalan misi. Tapi itu juga masih belum seberapa, karena selama ia memegang goldcard, kartu kredit milik ayahnya, Himawari memiliki tambang emas pribadi yang tidak akan pernah habis seumur hidupnya.

Kalau Ryuzetsu tidur, itu hal wajar. Memang sudah kebiasaannya seperti itu. Kalau Amaru tidur, yang ini gara-gara dia kebanyakan makan. Amaru yang ternyata baru pertama kali jalan-jalan ke Kumo, sebelum pulang masih sempat-sempatnya dia berwisata kuliner padahal dia sendiri berkata kalau ingin cepat-cepat pulang. Sebelum mendapatkan kereta malam saja, dia sempat mengunjungi tiga kedai makanan khas Kumo.

Dan jadinya, hanya Himawari sendirian yang masih terjaga. Matanya tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk, bahkan menguap pun belum ada. Dia masih kepikiran tentang kedekatan Mirai dan Bolt tadi yang tampak aneh dimatanya, membuat Himawari pusing.

"Haaaahh, kenapa aku kepikiran itu terus dari tadi sih?" gumam Himawari. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya hingga pandangan matanya jatuh pada gulungan berukuran sedang yang ada disamping kakinya. Gulungan yang timnya bawa dalam misi ini.

Himawari menatap gulungan itu, dia jadi ingat pesan dari pengamat bisnis yang menyerahkan gulungan itu sebelum dia pulang. Orang itu berpesan agar tidak membuka gulungannya, itu adalah rahasia perusahaan, tidak boleh dilihat oleh siapapun agar tidak berpotensi merugikan perusahaan nantinya.

Namun larangan itu, malah membuat Himawari jadi penarasan, dia tidak ingin kasusnya yang kemarin dengan perusahaan yang menjadi klien misi terjadi lagi, bahkan sampai masuk penjara. Tapi Himawari berpikir, melihat-lihat sedikit isi gulungan itu juga tidak apa-apa kan? Lagipula dirinya tidak mungkin menyebarkan isi gulungan itu kepada orang lain, tidak ada untungnya baginya.

Akhirnya, Himawari yang sudah tidak tahan lagi, dan mumpung Amaru dan Ryuzetsu sedang tertidur, jadi dia memberanikan diri membuka gulungan itu. Menghilangkan rasa penasarannya. Setelah Himawari membuka gulungannya, hanya ada gambar aneh yang sama sekali tidak ia mengerti, gambar seperti suatu rancang bangun sebuah alat yang tidak pernah Himawari lihat dan tidak bisa dia terjemahkan dengan kemampuan otaknya yang terbilang minim. Dengan perasaan kecewa, dia menyimpan kembali gulungannya seolah tidak terjadi apapun.

"Ahh, pikiran ku tambah pusing gara-gara isi gulungan tadi" keluhnya, lebih baik aku memejamkan mata saja, siapa tahu aku bisa tidur cepat" lanjutnya lagi. Himawari menutup matanya, tidak lama kemudian dia benar-benar tertidur lelap.

.

.

.

Pagi yang benar-benar dingin hari ini, dirasakan oleh Mirai dan Bolt. Wajar saja, tempat mereka berada sekarang yakni Kumogakure yang secara harfiah dapat di artikan sebagai desa tersembunyi dibalik lindungan awan. Daerah itu terletak di wilayah yang bentang alamnya berupa pegunungan tinggi yang letaknya setinggi awan, sehingga disebut Kumogakure. Jadi suhu dingin menjadi hal yang wajar didaerah pegunungan tinggi seperti itu.

Selain itu, kadar oksigennya juga minim jika dibanding tempat-tempat lain yang letaknya lebih rendah. Hal inilah yang menjadi pemicu kenapa orang-orang Kumogakure kebanyakan mempunyai fisik yang kuat disertai badan yang kekar, olah tubuh dengan udara berkadar oksigen rendah membuat latihan menjadi lebih berat. Selain itu, mungkin juga karena keseringan naik turun anak tangga yang menjadi penghunung semua tempat di Kumogakure.

Komugakure dulunya merupakan desa shinobi tersembunyi, namun sekarang berubah menjadi kota terbuka seperti halnya Konohagakure. Kumogakure juga berkembang pesat semenjak Perang Dunia Shinobi Keempat dua puluh tahun silam, sama seperti desa-desa shinobi lainnya seperti Iwagakure, Sunagakure, maupun Kirigakure. Namun jika dibandingkan antara lima desa awal shinobi itu, tetaplah Konoha yang berkembang paling maju serta memiliki populasi penduduk paling banyak. Tentu hal wajar, karena bentang alam wilayah Konoha berupa dataran yang dikelilingi hutan serta beberapa aliran sungai menjadikan Konoha tempat yang sangat cocok untuk dijadikan tempat tinggal. Dibandingkan Kumo yang letaknya di pegunungan, Suna yang di tengah gurun, Iwa yang penuh bebatuan, ataupun Kiri yang selalu tertutup kabut, maka Konoha lah yang paling layak menjadi tempat tinggal.

Kumogakure terletak di Kaminari no Kuni atau negara petir. Walaupun Kumogakure suhu udaranya cenderung dingin, namun anehnya setelan pakaian standar yang digunakan oleh ninja-ninja Kumo terasa terlalu terbuka. Raikagenya pun cenderung tidak pakai baju atau pun kalau pakai, hanya haori tanpa kancing tanpa ada baju dalaman. Shinobi-shinobi Kumo juga memakai seragam yang agak terbuka, pun begitu dengan Kunoichinya. Anehnya tidak satupun dari mereka yang tampak kedinginan. Berbeda jauh dengan seragam standar chunin dan jounin Konoha yang menggunakan pakaian lebih tertutup serta rompi hijau yang lumayan tebal.

Dan beginilah jadinya, dua orang ninja dari Konoha. Seorang shinobi berpangkat chunin, putra sulung Hokage Ketujuh Uzumaki Boruto bersama kunoichi cantik berpangkat elite jounin bernama Mirai Sarutobi, menggigil kedinginan di tengah ramainya warga-warga Kumo yang dengan pakaian tipis berlalu lalang tanpa merasa kedinginan. Tidak lama berjalan di Kota Kumo yang jalan-jalannya bukan didominasi jalan tanah datar, tapi kebanyakan adalah anak tangga, akhirnya Bolt dan Mirai sampai di kantor Raikage. Setelah memperkenalkan diri dan menunjukan tanda pengenal ninja Konoha lalu surat tugas misi, akhirnya mereka berdua bisa masuk ke dalam kantor Raikage, yah setelah melalui pemeriksaan yang cukup ketat tadi.

Sampai didepan ruangan Raikage, Bolt dan Mirai terpaksa dibuat menunggu dahulu atas perintah dari asisten Raikage. Mereka menunggu tidak jauh dari ruangan Raikage, duduk di sofa khusus tamu yang telah disediakan. Ruangan tunggu ini mengarah ke pusat desa dan di lindungi kaca tebal. Karena kantor Raikage terletak di tempat yang lumayan tinggi, jadi bisa menikmati pemandangan indah keseluruhan kota Kumo dari sana. Yah, inilah nilai lebih kantor Raikage.

Waktu masih pagi, suhu udara terasa sangat dingin, saat yang enak untuk bermalas-malasan. Walaupun ada kerjaan, seharusnya saat pagi seperti ini belum banyak kerjaan yang harus diselesaikan dan seharusnya suasana juga cukup tenang. Seharusnya begitu, tetapi ternyata tidak untuk kantor Raikage pagi ini.

Entah karena apa, suasana kantor Raikage yang dipimpin oleh Darui, terlihat sangat sibuk. Bukan sibuk karena pekerjaan yang menumpuk, tapi sepertinya sedang disibukkan oleh hal lain yang tidak diketahui apa, yang kemungkinan itu adalah masalah besar.

"Kenapa Bolt-kun, sepertinya ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Mirai pada Bolt yang duduk tepat di sampingnya. Sejak duduk di ruang tunggu ini Bolt diam saja.

"Aahh, tidak ada Mirai-nee"

"Kau tidak suka pemandangan diluar? Indah loh, hanya di Kumo ada pemandangan seperti ini." tukas Mirai sembari menunjukkan pemandangan desa Kumo yang tampak sangat indah.

"Huuuuuh,,, , ," Bolt menghela nafas. "Hanya merasa aneh saja"

"Perasaanmu saja mungkin, , , , sudahlah. Ini minum dulu, tadi aku sempat membeli kopi kaleng hangat saat kesini" kata Mirai sembari menyerahkan sekaleng minuman kopi.

"Arigatou, Mirai-nee"

"Um,,, douittashimashita",

Mirai lalu mengambil ponsel disakunya, mengutak-atiknya sebentar lalu memperlihatkannya kepada Bolt.

"Nih, pesan singkat dari adikmu. Katanya, dia sudah sampai di Konoha" kata Mirai.

Bolt melihat layar ponsel Mirai, namun yang tertulis dengan apa yang dikatakan Mirai berbeda. Memang yang tertulis adalah pesan singkat, tapi terdapat beberapa angka yang jika disusun menjadi sebuah kode. Kode angka itu merujuk pada suku kata tertentu dalam isi pesan. Bolt yang cerdas, mudah saja menerjemahkan sandi itu.

'Aku tahu apa yang kau pikirkan, bersikap biasa saja!'

Itulah yang Bolt tangkap dari pesan itu. Mereka bedua sama-sama tahu, dimanapun di setiap sudut kantor seorang kage, pasti ada ANBU yang bertugas mengawasi gerak-gerik setiap tamu yang datang ke kantor kage, bahkan sekarang ditambah dengan kamera CCTV yang tersebar hampir disetiap sudut ruangan.

Sesuai intruksi Mirai tersebut, akhirnya Bolt mengajak Mirai mengobrol, membicarakan topik yang sebenarnya tidak penting. Kadang pula seperti saling merayu, entah itu akting atau apapun tapi yang tampak adalah mereka berdua sangat menikamati obrolan mereka.

"Isssh,,,, kau ini. Sudah besar, minum kopi saja masih belepotan, Bolt-kun" kata Mirai, lalu dia mengambil selembar tissu dari kantong senjata ninja miliknya dan melap sudut bibir Bolt.

"Ahaaa, maaf ya kalau aku merepotkanmu, Mirai-nee" Bolt jadi tampak malu, rona merah hinggap dikedua pipinya yang berhias sepasang tanda lahir.

"Sudahlah. Pokoknya kau jangan selalu seperti ini, bersikaplah sopan dan dewasa. Tidak akan ada gadis yang tertarik dengan pemuda yang tidak menjaga penampilan dan sikap sepertimu, Bolt-kun" balas Mirai.

Tangan Mirai masih melap dengan lembut sudut bibir Bolt yang lain, Bolt diam saja menikmatinya sembari memadang wajah cantik Mirai. Saat tangan Mirai hendak menjauh dari bibir Bolt, Bolt menahannya sehingga membuat mereka berdua saling pandang cukup lama.

Owwhhh,, ini momen yang terbilang romantis. Dan pula dapat dikatakan berani karena 'bermesraan' di kantor raikage.

' . . . . . . ' sayup-sayup terdengar suara yang sangat pelan dari arah ruang kerja Raikage.

Walaupun mereka seperti pasangan yang sedang bermesraan, tapi mereka memasang telinga mereka baik-baik. Walaupun pelan, baik Bolt dan Mirai mendengar teriakan Raikage yang sepertinya sedang marah besar. Raikage sempat melontarkan kata-kata tentang hilangnya gulungan cetak biru (blueprint) yang berisi rancangan senjata pemusnah meriam chakra yang pernah digunakan untuk menghancurkan semua meteor yang hendak jatuh ke bumi belasan tahun lalu, saat insiden penyerangan Toneri.

Keasyikan saling pandang dari jarak yang cukup dekat, tidak lama kemudian, Bolt dan Mirai sama-sama memalingkan wajah, kelihatan rona merah yang sangat kentara di wajah mereka masing-masing. Keduanya sama-sama tidak ada yang bersuara, seperti sedang sibuk menata perasaan dan detak jantung tak karuan sehabis momen manis tadi.

Tingkah mereka tampak sangat natural untuk sepasang kekasih, entah karena akting mereka yang sangat hebat saat ini atau memang seperti itulah yang mereka rasakan di hati mereka masing-masing?. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dengan pasangan pemuda dan gadis beda umur yang statusnya belum jelas ini nanti? Yang terpenting sekarang adalah tidak ada ninja atau ANBU Kumo yang bertugas di kantor Raikage ini, yang menyadari bahwa mereka bedua mendengar tentang keributan didalam ruang kerja Raikage.

30 menit kemudian, barulah Bolt dan Mirai dipanggil oleh asisten Raikage untuk masuk ke ruang kerja Raikage. Setelah masuk kedalam, yang Bolt dan Mirai lihat hanya Raikage berkulit hitam berambut putih, bersama asistennya. Hanya ada dua orang itu saja didalam. Mereka berdua menyadari kalau Raikage masih dilanda emosi marah besar walau sudah memasang raut wajah santai. Sesuai intruksi yang diberikan Mirai lewat sandi menggunakan ponsel tadi, mereka akan bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. Ini adalah masalah internal Kumogakure dan tidak ingin kalau hubungan bilateral Konoha-Kumo sampai retak hanya karena masalah ini.

"Selamat pagi, Raikage-sama" kata Mirai duluan.

Darui, si Raikage berambut putih tadi, mengamati dua ninja dari Konoha yang datang kepadanya. Darui mengenal salah satunya, pemuda yang berambut pirang.

"Kau, anaknya Naruto kan?" kata Darui menatap Bolt.

Ya, Darui masih ingat saat-saat itu. Insiden penyerangan yang dilakukan oleh Momoshiki dan Kinshiki yang berusaha menangkap kyubi yang tersegel didalam tubuh Naruto. Saat empat kage yang tersisa yaitu Darui, Kurotsuchi, Choujuro, dan Gaara, bersama Uchiha Sasuke hendak berangkat menyelamatkan Naruto, ketika itu lah Bolt muncul. Saat itu terjadi perdebatan singkat, yang akhirnya Sasuke mengijinkan Bolt ikut untuk menyelamatkan Naruto bersama mereka berlima. Ahhh, kenangan itu sudah 6 tahun lalu, pikir Darui.

"Iya, Raikage-sama. Saya Uzumaki Boruto" jawab Bolt sopan seraya memperkenalkan diri.

Darui hanya tersenyum karena itu, teringat lagi akan usahanya bersama rekan sesama kage lain untuk menyelamatkan dunia, dan sekaligus balas jasa untuk menyelamatkan pahlawan dunia, pahlawan semua orang. Lalu Darui mengalihkan pandangannya pada perempuan disamping Bolt.

"Perkenalkan, saya Mirai Sarutobi" Mirai juga memperkenalkan diri. "Kami berdua kesini untuk mengantarkan undangan resmi pelaksanaan ujian kenaikan pangkat Jounin Exam yang akan dilaksanakan di Konoha bulan depan" lanjut Mirai seraya menyerahkan gulungan berisi surat undangan yang dimaksud.

Darui menerimanya, "Terima kasih". Sebagai Raikage, Darui sudah tahu tentang kedatangan utusan dari Konoha, jadi dia juga mempersiapkan sesuatu untuk ini. "Ini daftar biodata peserta ninja kami yang akan mengikuti Jounin Exam nanti" katanya, lalu menyerahkan satu eksemplar berisi data-data ninja Kumo yang akan ikut Jounin Exam. "Sampaikan pada Shikamaru-san" lanjutnya lagi.

"Ha'i, Raikage-sama" jawab Mirai. "Karena keperluan kami sudah selesai, kami mohon undur diri"

"Ya, terima kasih atas kerjasamanya" balas Darui.

Mirai dan Bolt keluar dari ruang kerja Raikage, setelah itu mereka langsung pulang ke Konoha. Pulang lewat jalur kerata.

.

.

.

Kerlap kerlip lampu bangunan, tampak indah untuk dilihat, membuat hati siapapun yang memandangnya menjadi tenang. Warna-warni berbagai macam lampu memenuhi setiap area Kota Konoha. Belum sampai setengah jam lampu-lampu itu memulai tugasnya, yang berarti menandakan bahwa waktu petang baru saja tiba.

Walaupun Bolt dan Mirai baru sampai di Konoha saat hampir petang, tapi karena kantor hokage masih buka. Aaaahhh,, bukan. Kantor Hokage sudah tutup sejak jam 4, tapi memang Naruto dan Shikamaru biasanya selalu pulang setelah petang. Jadi Bolt dan Mirai memutuskan untuk ke kantor Hokage dahulu, tidak ingin menunda urusan sampai besok.

Sudah sejak tadi Bolt dan Mirai berada di ruang kerja Hokage, mungkin sekitar lima menit. Mereka berdua menunggu Naruto yang sepertinya sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sedang beres-beres bersiap hendak pulang.

"Bagaimana misi kalian?" tanya Naruto yang kini sudah duduk santai dikursinya untuk menerima laporan misi terakhir yang masuk kepadanya hari ini.

"Lancar, Hokage-sama" jawab Mirai, "Oh, ini ada daftar ninja Kumo yang ikut serta Jounin Exam nanti." kata Mirai lalu menyerahkan daftar itu.

"Terima kasih" naruto menyambut daftar itu, kemudian meletakkannya di meja. Karena Shikamaru sudah pulang, jadi biar besok saja, biar Shikamaru yang mengurusnya kepada panitia Jounin Exam.

Bolt hanya berdiri saja di ruang itu, merasa tak ada yang perlu dibicarakan, lagipula tugasnya hanya menemani Mirai saja. Jadinya Bolt melihat-lihat seisi ruang kerja ayahnya, tidak ada yang spesial, hanya saja kertar-kertas dokumen yang biasanya menumpuk sekarang sudah tidak ada lagi. Inilah hasil penataan sistem birokrasi pemerintahan Konoha, yang sudah diperbaiki sehingga tugas Naruto sebagai hokage tidak terlalu banyak lagi dan sekarang bisa pulang tepat waktu kerumah. Walau kadang-kadang masih ada lembur, tapi itupun jarang.

Naruto berdiri, mungkin hendak pulang dan menyuruh anaknya serta Mirai pulang juga, tapi sebelum itu,,

"Anoo,,,, Hokage-sama. Ada hal penting yang harus ku katakan"

Terpaksa Naruto duduk kembali karena Mirai mengatakannya dengan raut wajah serius, dan sebagai hokage dia harus sigap akan laporan ninja-ninjanya. Bolt juga merubah ekspresinya menjadi serius, lalu menatap ayahnya.

Naruto jadi heran dengan suasana ini, "Ada apa ini sebenarnya?" tanyanya heran.

"Secara tidak sengaja, kami mendengar kalau blueprint gulungan rancangan senjata pemusnah meriam chakra milik Kumo hilang. Dan Kumo sepertinya sedang kacau karena hal itu"

"Begitu ya, lalu?"

"Mungkin saja hal ini nanti berimbas pada Konoha, Papa" sambung Bolt.

"Baiklah, aku mengerti. Tapi biarkan saja dulu, kita tidak bisa seenaknya ikut campur urusan mereka. Dan rahasiakan hal ini dari siapapun, aku tidak ingin kalau Konoha terlibat karena informasi ini bocor dari mulut kalian berdua"

"Baiklah, kami menegerti, Hokage-sama" sahut Mirai.

"Bagus, pokoknya kalian berdua jangan khawatir. Serahkan hal ini padaku" kata naruto dengan kepercayaan diri yang tinggi.

"Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang, Papa" kata Bolt.

Bolt dan Mirai berjalan menuju pintu keluar, tapi sebelum membuka pintu,

"Ooooh~~~, , , , Bolt, sekarang kamu lebih suka pulang bersama seorang gadis ya daripada pulang dengan Papamu ini" sindir Naruto pada Bolt

Bolt berhenti, mendelik kearah ayahnya.

Sebelum Bolt buka suara, Naruto lebih dahulu berkata, "Sudahlah, kau antarkan Mirai-chan pulang dulu. Walaupun Mirai-chan itu ninja yang kuat, tapi sangat tidak gentle kalau kau membiarkan seorang gadis pulang sendirian"

"Cih" Bolt mendengus tidak bisa membalas perkataan ayahnya. "Ayo, ku antarkan kau pulang, Mirai-nee" katanya pada Mirai.

"Ahh ya, terima kasih Bolt-kun", Mirai tersenyum senang dengan interaksi ayah anak itu. Aaahh, Mirai jadi teringat tentang ayahnya sendiri. Ayah yang sudah tiada sebelum ia menghirup nafas pertama kali di dunia ini, Asuma Sarutobi.

"Suiiit, suuiiiittt. . . Aaaahh, Hinata di rumah pasti senang kalau tahu putra kesayangannya sudah memiliki gadis pujaan tambatan hati. Hihiiieeewww…." Masih sempat-sempatnya Naruto menggoda putranya.

Brakkk,,

Pintu ruang kerja hokage dibanting keras oleh Bolt.

"Dasar anak muda.." kata Naruto kesenangan, paling tidak kejadian ini bisa menghibur dan menghilangkan penatnya karena seharian hanya duduk-duduk saja di kursi.

.

.

To be Continued. . . . .

.

Note : Yooo,, sepertinya banyakan pendukung pair BoltSara yah… Aaahh, kemungkinan besar mungkin pair nanti akan bergerak ke arah sana. Aku kan sudah mengakui kalau aku cenderung ke pair itu juga, tapi aku berencana menyimpan hal itu untuk nanti. Aku ingin membuat konflik yang lebih mengedepankan perang batin antara mereka. Kalau untuk bagian atas, BoltMirai, anggap saja hanya untuk fluffy-fluffy-an doang. Walau pair BoltMirai juga ada peluang untuk jadian. Heheheeeee. . . . . .

Karena cerita sudah berlangsung satu tahun sejak season I, maka umur pemeran cerita ini,

Uzumaki Himawari – 15 tahun

Uzumaki Buroto/Bolt – 18 tahun

Uchiha Sarada – 18 Tahun

Naruto – 38 tahun

Sarutobi Mirai – 21 tahun

Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.

Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.