WARRIOR FROM THE HEAVEN

Chapter#28

SERANGAN EMPAT ARAH

Rate: T

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Don't Like Don't Read

Jangan lupa review, favorite follow!

Summary:

Kehilangan kedua orang tuanya menyebabkan dampak besar bagi kemampuan Naruto. Dia kini dirawat oleh salah 1 dan 4 klan sihir terbesar di Kerajaan Konoha, klan Hyuuga dan demi membalas kebaikan klan, mampukah ia membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat.

.

.

.

.

.

.

Flashback

22 Juli X777, Calender WFTH

Neji mengikuti langkah kaki Shikamaru dari belakangnya. Pria dengan gaya rambut nanas itu berjalan sambil menenggelamkan kedua tangannya di dalam saku celana. Seperti yang ditawarkan Shikamaru sebelumnya, ia mengajak Neji ke tempat para laki laki biasa berkumpul di asrama Pegasus Wing. Dan sesampainya mereka berdua disana… Neji melihat bahwa di dalam sana bukan hanya berisi laki laki sepenuhnya tapi juga beberapa perempuan yang tengah mengobrol.

"Hei.. Bukankah ruangan ini harusnya berisi laki laki semua? Apa yang para perempuan lakukan disini?"

Tanya Neji penasaran begitu melihat Ino dan beberapa temannya yang sedang asyik mengobrol sambil bercanda. "Siapa bilang kalau aku akan mengajakmu ke tempat para laki laki? Aku hanya mengajakmu ke tempatku bersantai,"

Neji mengerutkan keningnya sejenak lalu memberi tatapan malas kepada Shikamaru sedangkan laki laki bergaya rambut nanas itu berjalan pelan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana. "Apa tidak bisa kau untuk sedikit bersantai? Urusan Nagato-senpai masih lama bukan?"

Yang diamati Neji disana adalah orang orang yang berada di sekitar Shikamaru. Mereka semua menatap Neji dengan tatapan yang aneh dan membingungkan untuknya. Entah apa yang terjadi tapi kini dia menjadi pusat perhatian disana. Jelas mereka semua mengenal siapa dirinya tapi tatapan tersebut memiliki maksud lain. "Kurasa aku tak begitu disukai disini,"

Kata Neji berjalan ke arah Shikamaru lalu duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Masih sama seperti sebelumnya, mereka semua masih sibuk memberinya tatapan aneh.

"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu, Shikamaru?"

"Mungkin karena kehadiranmu disini memang membuat mereka rishi,"

Jawab Shikamaru datar tanpa menoleh ke arah Neji. Neji hanya memberikan tatapan datar sambil merendahkan alisnya. "Apa sebegitu dibencinya kah aku karena sudah mengalahkan kalian di turnamen?"

Shikamaru hanya tersenyum mendengarnya lalu menoleh ke arah Neji yang sudah memasang wajah sombong. "Hal itu tidak akan terjadi lagi di pertarungan kita berikutnya,"

"Kau serius..? Apa kita harus mengajak Naruto dan gadis penguasa itu? Atau hanya antara kau dan aku? Kurasa sudah jelas siapa pemenangnya bukan?"

Kata Neji sedikit sombong. Shikamaru hanya tertawa mendengarnya. Dan saat itu, Neji menyadari kalau orang orang di sekitarnya masih menatapnya intens. Dia memberikan tatapan yang sama kepada orang orang yang menatapnya dan entah kenapa pandangan mereka beralih ke arah Shikamaru yang sedang meminum teh nya.

Pada saat itulah, Neji tahu alasan kenapa sedari tadi dia ditatap oleh orang orang itu. Alasannya adalah Shikamaru. Sejak awal Shikamaru punya alasan mengapa dia membawa Neji kemari. "Bisa kau jelaskan apa yang terjadi? Apa kau membawaku kesini untuk balas dendam?"

Tanya Neji malas. Shikamaru hanya diam sambil menatapnya datar. Setelah itu ia meletakkan teh nya kembali di meja yang ada di sebelahnya. Lalu kembali menatap Neji. "Sayangnya aku tidak tertarik untuk hal semacam itu…"

"Lantas kenapa kau membawaku kemari?"

Tanya Neji cepat sebelum Shikamaru melanjutkan kalimatnya yang berikutnya. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku… Ah tidak… Untuk kami tepatnya,"

Kata Shikamaru sambil menatap ke seluruh orang yang berada disana bersamanya. Anehnya tak hanya murid tahun pertama yang berada disana namun ada beberapa murid tahun kedua dan ketiga yang bersamanya. "Melakukan apa?"

"Aku mau kau melihat ke dalam suatu ruangan yang ada di asrama ini…"

Kata Shikamaru yang membuat Neji sedikit bingung. Cukup lama hingga satu dua tiga detik Neji bisa menanggapinya. "A-Apa..? Untuk apa aku melihat ke dalam sebuah ruangan?"

"Karena aku tak bisa melihat ke dalamnya dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya,"

Jawab Shikamaru membuat Neji semakin bingung. "Apa kau ingin aku untuk menggunakan Byakugan disini?"

Shikamaru tak memberikan jawaban karena kenyataannya laki laki yang berasal dari klan Hyuuga ini sudah tahu jawabannya. "A-Aku tidak mengerti! Ruangan apa di asrama ini yang tidak bisa kau masuki selain kamar murid lainnya?"

"Bukan sebuah kamar tapi sebuah ruangan rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh Sara-senpai, Koyuki-senpai dan…."

Kata Shikamaru terputus setelah menatap Neji sesaat. Neji hanya menunjukkan ekspresi wajah bingung ketika Shikamaru menggantung kalimatnya barusan. "….Dan siapa?"

Shikamaru mengalihkan pandangannya ke arah lain. "… Nagato-senpai,"

Neji mengerutkan keningnya semakin bingung. "Nagato-senpai… T-Tunggu, untuk apa Nagato-senpai masuk ke ruangan yang ada di Pegasus Wing? Itu tidak masuk akal.. kau tahu?"

"Ya.. Memang tidak masuk akal.. Untuk apa dia masuk ke ruangan itu bersama Sara-senpai dan Koyuki-senpai sedangkan kami atau murid tahun ketiga lainnya tidak bisa masuk kesana?"

Tanya Shikamaru bangkit dari tempat duduknya sambil melemparkan bukunya ke sofa. Neji tampak berpikir sejenak hingga tiba tiba wajahnya berubah aneh. "Apa mungkin mereka melakukan 'itu' disana?"

Tanya Neji datar. Shikamaru langsung tahu apa yang dimaksud oleh Neji. "Tidak! Tidak mungkin mereka melakukan itu.. Jangan pikirkan yang aneh aneh.."

"Justru kau yang seharusnya berpikir aneh!"

"Mereka tidak melakukan itu… Aku dulu juga sempat mengiranya begitu tapi setelah aku mencoba masuk ke dalam ruangan itu… ruangan itu disegel oleh semacam sihir aneh,"

Kata Shikamaru yang kini membuat Neji ikut curiga terhadap senpainya sendiri meski dia satu asrama. Orang orang yang ada disana juga tampak sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Shikamaru. Akhirnya Neji berpikir dua kali… dan mengambil keputusan bahwa untuk membuktikan kesalahan dari kecurigaan Shikamaru, dia akan menuruti apa yang diinginkan Shikamaru. "Kau harus gunakan Byakugan mu, Neji.."

"Hanya sekali…"

Kata Neji yang membuat seluruh penghuni yang ada disana tersenyum lega. Neji mengalihkan pandangannya…

"Byakugan!"

KKRRRTTTT

CLINGGG

Neji sudah mengaktifkan Byakugan miliknya dan membuka matanya setelah aktivasinya. Sesuai dengan arahan Shikamaru, dia melihat ke lokasi yang ditunjuk oleh laki laki berambut nanas itu dari dalam ruangan mereka sekarang. "Apa yang kau lihat?"

"Kenapa ini..?"

Shikamaru dan yang lainnya mengernyitkan alis mendengar Neji. Mereka segera menoleh ke arah Neji dan menemukan Neji yang tengah memasang tampang terkejutnya begitu menggunakan Byakugan miliknya…

"Ada apa, Neji..?"

Neji masih terdiam selama beberapa saat. Sejenak dia tak percaya dengan apa yang terjadi. Dia berkedip beberapa kali memastikan apakah matanya baik baik saja.

"Aku tidak bisa melihat ke dalam ruangan itu.."

Flashback OFF

.

.

.

.

.

.

Di depan gerbang Akademi Konoha

Naruto, Shino dan Hinata sudah berada di depan gerbang Akademi membuat kelompok sendiri sedangkan di sekitar mereka terlihat Sasuke, Shion, Nagato dan Koyuki. Mereka semua tengah menunggu seseorang sebelum berangkat menuju tempat yang menjadi tujuan dari misi mereka. Anehnya, Shion tampak lengket dengan Naruto sedangkan Sasuke masih terlihat menutup diri dari teman temannya satu tim. Naruto menoleh ke arah Nagato dan Koyuki yang sedang mengobrol cukup jauh dari tempat mereka sekarang. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua senpai itu namun dia tak bisa kesana sekarang karena dirinya kini sudah dijaga oleh dua gadis yang tak membiarkannya pergi.

"N-Ne.. Naruto-kun, semoga kita bisa satu kelompok…"

"U-Uh.." jawab Naruto sambil menganggukkan kepalanya pelan.

Naruto yang menyadari perubahan sikap Shion sejak hari itu, mulai sedikit menjauhi gadis bersurai pirang pucat itu namun apa boleh buat… Dia sekarang harus bersama dengan gadis tersebut dalam satu misi sedangkan di sebelahnya Hinata sedang menatap kesal ke arahnya. Dia semakin bingung harus bersikap seperti apa. Awalnya dia mengira Shino akan membantunya keluar dari masalahnya ini namun nyatanya laki laki berkacamata itu bahkan tak mau terlibat sama sekali ke dalam masalah Naruto.

"Sebenarnya ada apa denganmu, Shion-san? Seingatku kau membenci niisan ku, tapi kenapa sekarang kau malah terlihat lengket sekali dengan niisan?"

Kata Hinata sinis melihat Shion. Shion langsung menanggapinya serupa… dengan tatapan dingin dan sinisnya. "Memangnya kenapa kalau aku lengket dengan Naruto-kun?"

"Yah, aku hanya heran saja… Kenapa kau tadinya yang membenci niisan sekarang bisa seperti ini,"

"Karena aku mencoba dekat dengan Naruto-kun sekarang!"

Naruto memberikan senyuman pahit ketika mendengarnya sekaligus melihat ekspresi yang diberikan Shion. Dia menoleh ke arah Hinata yang terlihat kesal tapi juga terkejut. Dia tahu kalau keadaan ini tidak akan membaik dan akhirnya dia hanya bisa menghela nafas pasrah menerima kondisinya sekarang. Shion mengalungkan tangannya pada tangan Naruto sambil memberikan senyuman manisnya.

"Lepaskan.. kau benar benar tidak sopan, Shion-san.."

Kata Hinata ketika melihat tindakan Shion barusan. Dia mengernyitkan alisnya sedangkan Shion hanya membalasnya dengan tatapan tajam. "Memangnya kau sendiri siapa? Kau hanya adik Naruto-kun yang selamanya akan menjadi adik.. kau tidak berhak melarangku dekat dengan Naruto-kun,"

Mendengar kata kata tajam Shion barusan, Hinata terdiam seketika. Dia terdiam selama beberapa detik lamanya sebelum akhirnya dia alihkan pandangannya menatap Naruto yang menatap ke arah lain dengan ekspresi wajah tak peduli meski dia mendengar apa yang dikatakan Shion barusan. 'Niisan…'

"Lebih baik kau tidak mengangguku dan Naruto-kun!"

Kata Shion yang semakin membuat Hinata tersentak. Dia kembali menatap Naruto yang tengah bingung harus merespon seperti apa. Pemuda itu mengerutkan keningnya bingung. "Lihat, kan? Bahkan Naruto-kun kurasa setuju dengan usulanku…,"

Kata Shion semakin membuat Hinata terdiam karenanya. Gadis bersurai indigo itu kini tertunduk dalam diam tak mampu membalas kata kata Shion. Sebenarnya ia menunggu Naruto untuk membelanya namun selama satu dua tiga hingga detik detik berikutnya, Naruto masih tak merespon. Akhirnya Hinata mengangkat kepalanya menatap Naruto berharap Naruto akan membelanya kali ini jika dia menatap niisan nya. "Aku ingin sendiri…"

Kata Naruto melepas tangan Shion dan berjalan menjauh dari sana. Hinata dan Shion sempat terkejut melihat laki laki pirang yang menjadi pusat perhatian mereka saat ini. Hinata kembali tertunduk sedangkan Shion hanya mengerutkan keningnya menatap Naruto. "Kau lihat… tak selamanya kau bisa bersama Naruto… dia tak lebih dari sekedar niisan mu!"

Kata Shion datar namun terlihat benar benar menegaskan kalimatnya barusan kepada Hinata. Hinata mengedipkan matanya terkejut, setelah itu menatap Shion yang memberinya tatapan dingin. Dia menatap Shion cukup lama sebelum akhirnya dia kembali menundukkan kepalanya. "Kurasa kau sudah mengerti…"

Kata Shion kemudian berjalan meninggalkan Hinata. Kemana Shion akan pergi? Kemana lagi jika bukan menyusul Naruto. Tanpa di sadari oleh mereka yang terlibat, Shino sejak tadi sudah memperhatikan mereka bertiga sambil menghela nafas beberapa kali.

Akhirnya setelah cukup lama mereka menunggu… Orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Dia tampak terlihat santai meski sudah hampir lewat satu jam dari jadwal pertemuan mereka disana. Bahkan wajah itu sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah ketika melihat murid muridnya sudah menunggu kedatangannya. Naruto, Sasuke, Shion hanya menatap malas ke arah sensei abu abu itu sedangkan Hinata dan Shino sejak tadi diam. Nagato dan Koyuki hanya tersenyum melihat respon adik adik kelasnya.

"Apa aku terlambat?"

Tanya Kakashi bodoh. Buat apa lagi dia bertanya jika sudah benar benar jelas kalau dia itu terlambat? Naruto, Sasuke dan Shion semakin dibuat geram oleh tingkah Kakashi yang seenaknya. Rasanya mereka ingin sekali menghajar sensei yang satu ini meski mereka tahu bahwa kemampuan mereka bahkan belum sepadan dengan pria berambut abu abu itu.

"Sensei.. Kurasa kau tidak perlu bertanya lagi,"

Jawab Koyuki tersenyum sambil memejamkan matanya. Ekspresinya sejak tadi tak berubah seakan dia memang sudah terbiasa dengan kebiasaan buruk sensei yang satu ini. Begitu pula dengan Nagato yang juga terlihat santai santai saja melihat Kakashi.

"Ah, begitu ya? Jadi aku terlambat? Yah… wajar bila orang orang pernah terlambat.."

Kata Kakashi santai. Ketika mendengar ucapan santai Kakashi.. kata kata yang muncul di hati ketiga murid yang sudah kesal di hadapannya adalah…,

'Pernah kau bilang? Wajar kau bilang? Apa terlambat setiap harinya bisa kami katakan 'pernah' dan 'wajar', hah!?'

Dan setelah puas mengutuk sensei itu dalam hati mereka masing masing, akhirnya mereka bisa meredakan amarah mereka untuk sementara.

"Kalau begitu apalagi yang kita tunggu? Mari berangkat.."

Ujar Kakashi sambil memberikan sinyal dengan gerakan tangannya untuk segera berangkat. Dalam hati ketiga orang yang kesal itu… 'Kita? Sejak kapan kau ikut menunggu!?'

"Sebelumnya, sensei…"

Kata Nagato terputus. Dia menghentikan langkah Kakashi yang sudah beberapa meter mendahului murid muridnya. Kakashi segera menoleh ke belakang menatap Nagato yang belum menyelesaikan kalimatnya barusan.

"…Bagaimana dengan pembagian timnya, sensei?"

Kakashi menaikkan alisnya mendengar pertanyaan dari Nagato. Selanjutnya dia mengangguk menanggapinya. "Benar juga.. Akan lebih baik kalau kita bagi kelompoknya sekarang,"

"Bagaimana cara kita membagi jumlah yang ada menjadi dua kelompok?"

Tanya Sasuke yang sejak tadi belum bersuara sama sekali meski tadi sempat mengumpat kesal pada Kakashi. "Kita harus membagi rata kekuatan kita dan oleh sebab itu ada beberapa aturan dan syarat agar kelompok tersebut seimbang…"

Kata Naruto menjawab pertanyaan Sasuke. Naruto segera menoleh ke arah Kakashi yang juga tengah menatap Naruto sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kukira kau akan menjelaskannya…"

Kata Kakashi sebelum ia menghela nafas.

"Pertama, kita harus memisahkan Hinata dan Shino agar setiap kelompok memiliki tipe pendeteksi. Itu adalah hal pertama yang harus dipenuhi jika kita ingin membagi jumlah orang yang ada menjadi dua kelompok,"

Kata Kakashi sambil mencubit dagunya dengan tatapan datar. Sementara Nagato terlihat berpikir sejenak sebelum dia mendapat ide mengenai komposisi kelompok.

"Bagaimana bila aku, Koyuki, Naruto dan Shino berada dalam satu tim sedangkan Sasuke, Shion dan Hinata bersama sensei?"

Tanya Nagato memberi usulannya sambil mengangkat tangannya. Sebenarnya bukan komposisi yang buruk justru terdengar cukup bagus di telinga Kakashi dan Naruto. Pemuda berambut pirang itu bersyukur karena dia dipisahkan dari Hinata dan Shion namun di sisi lain dia juga sedikit mengkhawatirkan Hinata. Dia sempat menatap Hinata sejenak ketika Kakashi tampak akan menyetujui usulan Nagato.

"Uhm.. Kurasa boleh juga…"

Jawab Kakashi menyetujui usulan Nagato. Dan dengan persetujuan Kakashi, mereka segera membentuk kelompok sesuai yang dikatakan Nagato tadi.

"K-Kenapa aku tak satu kelompok dengan Naruto-kun, senpai!?"

Tanya Shion berbisik ke Koyuki dan Nagato. Koyuki dan Nagato hanya menghela nafas.

"Kalau begitu… Kita berpisah disini, aku, Sasuke, Shion dan Hinata akan masuk lewat jalan utama.. kita berpencar!"

Kata Kakashi yang langsung dijawab anggukan oleh Nagato dan Koyuki. Sensei berambut abu abu itu segera berangkat bersama dengan ketiga muridnya meninggalkan Naruto, Shino, Nagato dan Koyuki.

"Jadi, dari arah mana kita akan memasuki wilayah itu?"

Tanya Naruto menoleh ke arah Nagato dan Koyuki. Nagato malah menoleh ke arah Shino seakan jawaban yang ditunggu Naruto ada pada Shino sekarang. "Ikuti aku!"

Kata Shino segera berangkat ke tempat tujuan disusul Naruto, Nagato dan Koyuki di belakangnya.

.

.

.

.

.

.

Skip Time

Kakashi beserta timnya telah sampai di jalur utama untuk memasuki wilayah White Devil. Dan jujur saja, saat pertama kali Hinata menginjakkan kakinya tepat di jalur masuknya sekarang ini dia sudah memiliki firasat buruk. Apalagi sekarang dia terpisah dari Naruto dan Shino. Meski Kakashi-sensei, Sasuke dan Shion ada disana bersamanya namun ia tetap merasa gelisah. Bukan dirinya yang dikhawatirkannya melainkan Naruto yang tak bersamanya.

"Kita sudah masuk cukup jauh…"

Kata Kakashi memasuki kawasan jalan di hutan White Devil sedangkan Sasuke, Shion dan Hinata yang berada di belakangnya menyiapkan mental. "Apa benar di dalam kawasan jalan di hutan ini terdapat Iblis..?" tanya Shion sambil melihat lihat ke sekitaran wilayah hutan yang mereka lewati.

Sejujurnya tak ada yang tahu siapa orang yang diajak bicara olehnya hingga Sasuke akhirnya menoleh ke arah gadis tersebut dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Dengan siapa kau bicara?"

Tanya Sasuke dengan nada dingin sedangkan Shion masih sibuk melihat lihat.

"Tentu saja dengan kalian berdua.."

Jawab Shion datar kepada Sasuke dan Hinata. "Jadi bagaimana menurut kalian tentang rumor itu? Kita disini untuk memastikan dan menangkapnya kan jika benar?"

Sasuke memalingkan pandangannya ke depan menatap Kakashi yang berjalan di depan mereka. "Itu pun jika kita bisa melakukannya, jangan kira dengan jumlah kita delapan orang termasuk kelompok lain akan membuat kita dengan mudah menangkap Iblis itu,"

Kakashi dengan jelas mendengar apa yang di ucapkan Sasuke di belakangnya. Ia tak menoleh ke arah pemuda itu karena dia memang tak bisa membantahnya sama sekali. Sampai sekarang pun dia ragu dengan keputusannya membagi tim ini menjadi dua kelompok. Sebenarnya akan jadi berbahaya apabila satu kelompok sendiri harus melawan Iblis tersebut namun dengan tujuan mempercepat pencarian, dia harus membuat keputusan tersebut.

"Musuh yang akan kita lawan bukanlah musuh yang sembarangan.. Bahkan kita tidak bisa memastikan kemenangan meski aku bersama kalian sekalipun,"

Kata Kakashi sambil menoleh ke sekitarnya mencari dengan Sharingan miliknya. Semua energy sihir akan terlihat dengan menggunakan Sharingan. Tampaknya Sasuke tak terpikirkan ide tersebut karena dia terlalu malas untuk menggunakan Sharingan nya sebagai alat untuk mencari. Dia menyerahkan tugas pencarian ini kepada gadis bersurai indigo di belakangnya.

"Kau gadis Hyuuga.. Sebaiknya kau gunakan Byakugan mu jika memang itu berguna,"

Kata Sasuke menoleh sedikit ke arah Hinata.

"Aku mengerti… Byakugan!"

Yang ada dipikiran Sasuke sekarang adalah menghemat energy sebaik mungkin. Jangan sampai dia menyia nyiakan energy sihirnya sebelum bertemu dengan Iblis itu. Dia tampaknya berniat bertarung habis habisan dengan Iblis itu jika dia bertemu nanti.

"Apa kau tidak terlalu berlebihan menyerahkan semua ini kepada seorang gadis?"

Tanya Shion melirik ke arah Sasuke dengan tatapan dingin. Sasuke yang mendengar perkataan itu keluar dari mulut Shion hanya bisa tersenyum geli sambil mengernyitkan alisnya. "Jadi gadis penguasa sepertimu memiliki belas kasihan juga kepada orang lain? Kukira kau hanya memiliki sisi baik di hadapan orang yang lebih kuat darimu,"

Kata Sasuke dengan sedikit menyindir Shion jika dia mengingat kejadian tadi bersama Naruto. "Apa maksudmu?"

"Bukan apa apa.. Aku hanya tahu sekarang kalau kau akan bersikap baik pada orang yang telah mengalahkanmu, apa kau menyukainya?"

Tanya Sasuke langsung kepada intinya. Shion yang mendengarnya tampak tak begitu terkejut sedangkan Hinata yang ada di belakang mereka lebih merespon kata kata Sasuke barusan ketimbang Shion. "Jika iya… Apa masalahmu? Bukankah itu artinya dia juga jauh lebih kuat darimu? Kau bahkan tak bisa mengimbangi gadis sepertiku.."

Kata Shion tajam dengan niat mengejek Sasuke yang sekarang tengah berdebat dengannya. Sasuke langsung terpancing oleh kata kata Shion. Wajahnya berubah ganas seakan dia siap untuk menyerang Shion kapan saja. Hinata tampak coba menghentikan perdebatan mereka berdua sedangkan Kakashi masih diam saja setelah ia menghela nafas pasrah.

"Hentikan.. Apa kalian bisa fokus pada misi kali ini?"

Tanya Hinata di dengar oleh Shion dan Sasuke. Mereka berdua menatap Hinata sejenak sebelum kemudian mengalihkan kembali pandangan mereka ke depan. Hinata tampak menghela nafas lega karena mereka mau mengakhiri perdebatan sengit itu.

Walaupun tak bisa dilihat dari belakang oleh Sasuke, Shion dan Hinata… Kakashi juga ikut menghela nafas lega karena Hinata berhasil melerai dua murid unggulan di asramanya masing masing itu.

GRUSAK GRUSAK

"Hinata.. Apa itu?"

Tanya Kakashi melihat ke arah semak semak yang tak jauh dari sana. Seharusnya dengan Byakugan, mereka bisa langsung tahu apa yang ada di balik semak semak itu. "Hanya seekor rubah kecil.."

Kata Hinata bernafas lega setelah melihat apa yang ada di balik semak semak. "Hanya seekor rubah… Apa disini kita bisa menemukan Magical Beast?"

Tanya Sasuke menoleh ke arah Kakashi.

"Hmm.. Jika kau mencari Magical Beast.. Kau datang ke tempat yang benar benar tepat. Wilayah ini tak hanya dikenal karena White Devil namun juga karena bermacam macam Magical Beast mulai dari puluhan tahun hingga ratusan tahun,"

Sasuke mengerutkan alisnya lalu melirik ke arah Shion. 'Milik gadis itu sudah berusia ratusan tahun… Jika aku ingin lebih kuat lagi darinya aku harus mendapatkan yang berusia ribuan tahun. Di hutan ini tak terdapat Magical Beast dengan kisaran umur ribuan tahun jadi sepertinya tak ada gunanya aku bertanya lebih,'

"Kakashi-sensei.. Aku mendeteksi sesuatu dari berbagai arah cukup jauh dari sini,"

Kata Hinata yang entah kenapa ingin memperluas lagi jarak pandangannya hingga hampir setengah kawasan bisa lihat. Shion, Sasuke dan Kakashi segera membalikkan tubuhnya menghadap Hinata yang masih mencoba memastikan lagi. "Siapa?"

"Apa mungkin itu kelompok Nagato?"

Tanya Kakashi yang langsung dijawab gelengan kepala oleh pemilik mata Byakugan tersebut.

"Aku sama sekali tak melihat kelompok Nagato-senpai di setengah kawasan yang bisa kulihat… Mungkin mereka berada di setengah bagian lainnya,"

"Lantas siapa mereka?" tanya Kakashi.

Hinata menghitung jumlah orang orang yang tengah menuju mereka saat ini dengan kecepatan penuh. Hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi hingga mereka sampai ke tempat Kakashi, Shion, Sasuke dan Hinata sekarang. Mereka semua berjumlah 17 orang dan semuanya memiliki kesamaan dari pakaian mereka. Itulah yang diamatai Hinata menggunakan Byakugan miliknya.

"Jumlah mereka 17 orang.. 8 datang dari depan, 4 datang dari samping kanan, 4 orang datang.. dan satu orang ada di belakang kita!"

Kata Hinata mengejutkan Kakashi dan yang lainnya. Jika benar yang dikatakan Hinata, mungkin saja orang yang ada di belakang mereka merupakan bala bantuan tapi seperti yang berhasil di analisa oleh Hinata. Mereka semua memiliki kesamaan dari pakaian mereka. Jadi mustahil bisa menganggap kalau satu orang yang menuju ke arah mereka dari belakang merupakan kawan. "Dari belakang? Kau yakin… Kita baru sekitar setengah jam masuk ke dalam dan sudah ada musuh yang datang dari belakang?"

Tanya Sasuke sedikit ragu dengan penglihatan Hinata.

"Jika musuh bisa menyergap dari belakang artinya mereka datang dari Konoha… Bahkan mungkin saja mereka sudah menungu kita masuk,"

Jawab Kakashi masih memasang Sharingan di mata kanannya yang memiliki bekas sayatan.

"Mereka memiliki kesamaan dari segi pakaian.."

Sasuke dan Shion segera mengambil kuda kuda melindungi Hinata yang masih sibuk memberi analisa dari penglihatannya. Sedangkan Kakashi masih melakukan pemanasan sebelum mereka akan bertarung disana. "Sebentar lagi..."

"Sial.. Seharusnya kita menyuruhnya menggunakan Byakugan sejak masuk ke dalam hutan ini tadi dan bukan sekarang,"

Kata Sasuke kesal. Shion yang berada di dekatnya hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar Sasuke yang mengeluarkan kekesalannya lewat kata kata. "Lebih baik kau fokus pada pertarungan daripada hanya bicara tidak jelas.."

"Kau menantangku…? Apa kau bisa menghabisi mereka lebih banyak dariku?"

Tanya Sasuke membuat tantangan. Di saat saat seperti ini dia benar benar kekanakan. Bahkan dia tidak peduli kalau orang yang di tantangnya adalah seorang gadis sekalipun. "Kau menantang seorang gadis lagi… Jika kau kalah untuk yang kedua kalinya, itu akan benar benar merendahkanmu sebagai seorang laki laki,"

Kata Shion dingin dan tajam. Sasuke hanya tersenyum jahat mendengarnya. "Mungkin memang benar bila aku kalah dari seorang gadis seumuranku untuk kedua kalinya akan benar benar merendahkan harga diriku… tapi kurasa ada sedikit pengecualian untuk gadis penguasa seperti dirimu…"

WUUSSSSSSHHHHHHH

Detik berikutnya keluarlah 16 orang yang dimaksud oleh Hinata dan setidaknya satu orang yang ada di belakang mereka masih belum muncul. "Serang mereka berempat!"

Kata salah seorang dari gerombolan berisi 8 orang yang datang dari arah depan. "Kurasa ini tidak akan mudah.."

Kata Kakashi begitu ia menyadari seragam yang dikenakan oleh orang orang itu. Seragam tersebut mengingatkannya dengan seseorang dan Kerajaan Tersembunyi yang telah di bangun orang itu.

"Kurasa kau tidak perlu menggunakan Sharinganmu, sensei.." kata Sasuke yang sudah menumbangkan satu lawan yang datang kepadanya dengan beberapa tinjunya.

Kakashi yang mendengar pernyataan tersebut keluar dari mulut Sasuke segera menoleh ke pemuda bergaya rambut raven itu. Dan ia menemukan Sasuke sudah menginjak satu orang tak dikenal yang berasal dari gerombolan itu. "Kenapa mereka semua mengenakan topeng? Apa mereka seorang prajurit?"

Tanya Shion segera mengaktifkan lingkaran sihir pelindungnya kepada Hinata. Hinata yang terselimuti pelindung sihir itu segera menoleh ke Shion dengan tatapan bingung.

"Jangan salah sangka… Akan merepotkan bila kau terluka. Naruto-kun pasti akan marah padaku nanti kalau aku tidak melindungimu,"

Hinata mengedipkan matanya beberapa kali masih tak percaya dengan apa yang melindunginya sekarang. Sebuah pelindung sihir yang kuat. Shion bermaksud untuk tak melibatkan Hinata dalam pertarungan ini. Dia merasa kalau Hinata tak cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri dalam pertarungan ini.

"Water Style: Water Bullet!"

CUS CUS CUS CUS CUS

Salah seorang dari gerombolan itu mengeluarkan sihir elemen air sederhana dari telunjuknya. Yap tepat, dia menembakkan peluru peluru air ke arah Shion. "Kau yakin akan melawanku dengan sihir rendahan semacam itu?"

"Illusion of Destiny: Change The Rule!"

"Memory Bringer, Fire Style: Phoenix Flower!"

BWOOOOOOSSSSSSSHHHHH

Shion menciptakan burung burung api lewat sihir pembawa ingatan miliknya yang ia tiru dari sihir milik Sasuke. Anehnya dia menggunakan elemen api untuk melawan elemen air tersebut. Dan hasilnya peluru peluru air itu musnah sedangkan burung burung api milik Shion menghujam ke arah orang yang menyerangnya.

"Uaaaaakkkkkhhh!" rintih orang tersebut dengan tubuh depan yang terbakar.

'Dia mengalahkan pengguna elemen air dengan elemen api… Itu artinya tingkatan orang orang ini masih di bawah kami…'

Kata Sasuke dalam hati menyimpulkan setelah melihat serangan Shion yang mempan kepada orang yang menyerangnya dengan elemen air. Selanjutnya, Sasuke tahu apa yang harus diperbuatnya.

"Thunder Style: Shock Wave!"

Sasuke menciptakan lingkaran sihir di telapak tangan yang ia arahkan ke tanah dan dalam sekejap muncul sengatan listrik yang langsung membuat beberapa orang lawan di sekitarnya terdiam di tempat mereka.

"Ukkkhh…"

Rintih mereka semua dalam diam. Dalam satu… dua… tiga detik, tubuh mereka jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Sasuke tersenyum penuh kemenangan melihat jumlah orang yang dikalahkannya sekarang lebih banyak dari Shion. Tanpa ia sadari, sudah ada musuh besar yang muncul di belakangnya. Dia mengepalkan tinjunya ke arah Sasuke yang kini sudah menyadari kehadirannya.

"Earth Style: Heavy Smash!"

'Celaka!'

BLAAAAAARRRRRRR

Kepulan asap menghalangi penglihatan Shion.. Dia sejenak melihat apa yang terjadi kepada Sasuke barusan. Sedangkan Hinata yang berada di belakangnya tampak tenang tenang saja melihat ke arah Sasuke dengan Byakugan miliknya meski tertutupi kepulan asap. "Apa yang terjadi padanya?"

Tanya Shion kepada Hinata. Hinata menoleh ke arah Shion sejenak kemudian kembali memalingkan pandangannya ke arah Sasuke.

"Tenang saja…"

WUUUUUSSSSSSHHHH

Sebuah hembusan angin yang datang membuat asap menghilang seketika. Di hadapan Sasuke kini berdiri sebuah dinding elemen tanah yang telah Kakashi aktifkan dari tempat sensei berambut abu abu itu berdiri. "Dinding elemen tanah.."

Kata laki laki bertubuh besar yang memberikan pukulannya kepada dinding tersebut. "Jangan gegabah Sasuke.. Ada beberapa dari mereka yang memiliki tingkatan kekuatan berkisar Spirit level 5 hingga level 10. Yang artinya berada sekitar 10 tingkat lebih di atasmu,"

Mendengar kata kata Kakashi barusan membuatnya ingin menggunakan Lightning Armor miliknya yang mampu menaikkan tingkatan kekuatannya dengan batas waktu yang sementara. Namun dia berpikir dua kali… Jika ia mengaktifkannya sekarang, dia akan kelelahan untuk menggunakannya lagi saat melawan White Devil nanti. Dia hanya bisa bergantung pada Kakashi untuk saat ini.

"Memory Bringer, Fire Style: Fire Dragon!"

BWOOOOOOSSSHHH

Shion tak menyia nyiakan kesempatannya untuk mengalahkan mereka semua yang sibuk memandangi Kakashi. Dengan naga api yang barusan dia ciptakan melalui lingkaran sihir, dalam sekejap dia menghabisi lawan lawan mereka dan tinggal menyisakan dua orang termasuk orang yang menyerang Sasuke barusan. "Cih, ternyata lawan yang menyerang Uchiha itu memang tangguh,"

Dua orang yang tersisa segera bergerak bersama. Mereka berdiri menghadap Kakashi, Shion, Sasuke dan Hinata. Mereka berdiri menjaga jarak beberapa meter seakan mereka membiarkan orang lain untuk masuk ke antara mereka berdua. "Kakashi-sensei.. Ada yang aneh.."

Kata Hinata melihat jauh ke belakang mereka. Arah yang dilihat Hinata merupakan arah darimana mereka masuk atau arah kembali menuju Konoha. "Ada apa Hinata?"

Tanya Kakashi berjalan mendekati ketiga muridnya. "Satu orang yang belum datang kini sudah bergerak mendekat.."

Sasuke dan Shion tampak bersiap menunggu kedatangan orang tersebut sama halnya dengan Kakashi yang juga sudah siap dengan tangan yang terangkat ke depan dan lingkaran sihir di depan telapak tangan.

"Tak kusangka kalau aku akan bertarung melawan Hatake Kakashi yang terkenal di Konoha…"

Seorang laki laki yang mengenakan kacamata datang ke arah mereka dan berhenti tepat di tengah tengah kedua lawan bertopeng yang tersisa. Kakashi mengernyitkan alisnya begitu ia dapat melihat jelas wajah laki laki tersebut. Shion, Sasuke dan Hinata yang tak mengenal wajah tersebut hanya bisa diam tanpa berkomentar. "Jadi begitu…"

Kata Kakashi menatap tajam ke arah pria tersebut sambil menenggelamkan kedua tangan di saku celananya.

"Apa akhirnya kau menyadari siapa White Devil itu…"

Kakashi terdiam sesaat begitu pria tersebut mengeluarkan kata katanya. "Tsunade-sama tak bisa memastikannya tapi dengan kehadiranmu disini… sekarang aku bisa memastikan siapa White Devil sebenarnya…"

Orang tersebut keluar dari balik bayangan menampakkan wajah serta postur tubuhnya yang memiliki tinggi hampir sama dengan Kakashi…

"Kau yakin dengan perkiraanmu?"

"Tentu saja… Yakushi Kabuto…"

TBC

.

.

.

Yuhuuuu.. Akhirnya author update.. sry klo lama.. maklum author lagi sibuk karena lagi PKL.. Baru seminggu udah disuruh nggambar rumah pake autocad.. hah…

Sebenernya bisa update dua hari yang lalu tapi kenapa gak terjadi? Karena dua hari yang lalu, luka lama author kembali terbuka setelah author secara sengaja kepengen nonton ulang episode terakhir Shigatsu wa Kimi no Uso.. Arggghhh.. Scene matinya sih gak masalah tpi scene terakhir waktu baca suratnya itu yang bikin masalah! Bikin galau sehari walaupun udh nonton dulu tahun 2015.. (klo gak salah) sampe bikin galau 3 hari 3 malam… soalnya shigatsu itu anime romance pertama yang saya tonton.. hebat kan? First anime romance yang ditonton ternyata endingnya gitu.. sialan..

Itu anime pertama.. klo untuk fic pertama yang author baca itu.. DESTINY karya Win.01-senpai, dan sialannya endingnya juga nggantung..

Balik ke masalah fic ini.. yang tdi cuma curhatan author. Untuk next chap aku bingung updatenya kapan.. tpi giliran update selanjutnya itu untuk fic baruku yg judulnya Symbol of Revenge.. Maaf klo ada typo dan maaf klo alur kecepetan, maaf juga klo beberapa hari ini jarang bales PM atau review karena kesibukan.. Terakhir… buat kalian yg sudah baca banyak fic.. ada rekomendasi fic naruhina yang temanya school life? Ralat.. gak usah naruhina.. pair apapunlah yang penting sama Naruto dan Naruto nya itu punya sifat yang gimana ya..? Anti sosial dan cerdas.. mohon rekomendasinya bagi yang tahu..

Jangan lupa tinggalkan review