So... (menghindari lemparan bata dari reader yang marah sambil minum cola) sebenarnya ini di luar rencana hiatus sampai awal 2013...
Yah, selamat membaca saja deh!
One Piece © Eiichiro Oda
Two Schools, Two Worlds
Chapter V "Left for Dance"
Prologue
Evil Council is Evil
Rapat pertama OSIS baru tidak bisa dikatakan… berjalan seperti semestinya.
Karena tak tahan menghadapi hawa persaingan yang masih terasa dari Luffy dan Kidd yang terus memperdebatkan berbagai hal nggak penting, para cewek memilih untuk menggosip. Awalnya Monet yang memulai. Sekretaris pilihan Kid itu selalu bisa menemukan bahan pembicaraan yang menarik, meskipun dia selalu tenggelam dalam antusiasme Nami dan Bonney setelahnya.
Monet diseret Kid untuk bergabung dengan OSIS sebagai bentuk "hukuman" karena telah "menggoda" Law sehingga dia menjauhi Supernova. Law terus menyangkal kalau mereka ada hubungan khusus, tapi jawaban itu membuat Kidd dan anak Supernova lain terus menggodanya, karena memang mereka amat dekat.
Oh, kembali ke rapat OSIS...
Brak!
Nami menggebrak meja ruang OSIS untuk yang kesekian kalinya siang itu, membuat obrolan kawan-kawannya sesama pengurus langsung terhenti.
Matanya berkilat-kilat memancarkan aura pembunuh yang pastinya bakal membuat orang biasa langsung menciut mentalnya, walaupun tentu saja itu tidak berefek pada Luffy dan yang lain di ruangan. Mungkin ada yang beranggapan cewek itu memiliki Haki Haoushoku, tapi Zoro berani menjamin kalau itu "cuma" tatapan sang iblis.
"Oke. Setelah semuanya diam... mari kita mulai rapat yang sebenarnya. Dimulai dari kalian! Apa kalian ada ide, wahai ketua dan wakil?!" teriak Nami kemudian.
Nggak mau mendengar celotehan Nami, Kid dan Luffy segera memutar otak masing-masing. Tapi, gabungan kekuatan berpikir para ketua geng besar di Seifu itu berakibat fatal...
"Zombie night!" teriak Luffy dan Kidd kompak.
Untuk Nami.
"Heee?"
"?!" Kedua orang itu saling menoleh dengan cengiran lebar menghiasi wajah masing-masing, senang karena akhirnya mereka nyambung.
"Heh. Baru kali ini kita sepakat akan sesuatu, 'kaichou'," kata Kidd, membuat tanda kutip dengan kedua tangannya. Lidahnya masih nggak biasa memanggil cowok bodoh di depannya ini sebagai ketua OSIS, jadi gestur itu dia rasa perlu.
"Shishishi. Jadi sudah diputuskan," Luffy mengangkat tangannya dengan wajah berseri, yang disambut Kidd dengan tos mantap.
"Eeeeh? Apanya yang 'sudah diputuskan'?" Nami bangkit dari kursinya untuk mencoba protes, tapi cengiran Luffy dan Kidd semakin lebar, membangkitkan bulu kuduknya. "Oh, tidak, tidak…"
"Oh, iya, Nami-chan. Tema prom tahun ini zombie night!" Kid mengakhiri upaya protes Nami.
Nami mengerang. Kenapa dia selalu terlibat hal-hal seram seperti ini?! Terakhir dia ikut acara bernuansa horor waktu membantu Chopper dulu, muncul hantu sungguhan!
"Hum... berarti yang kita perlukan adalah dekorasi bernuansa horor." Monet segera mencatat keputusan mrk siang itu di notes kesayangannya.
"Kamu nggak bilang?" Kid memasang tampang Nicholas Cage.
"Kita sediakan makanan bertema horor juga! Dengan labu dan jeli merah darah!" celetuk Bonney, membuat Luffy bersorak mendengarnya. Mereka pun mengusap air liur yang mulai mengalir di pipi masing-masing.
"Tanyakan Hawkins soal dekorasi, Bonney. Dia suka hal-hal begituan. Untuk makanan, aku yakin si Kaki Hitam dari tempatmu bisa mengatasinya, Monkey-kun?"
"Sip!" Luffy mengacungkan jempol, air liur masih membekas di pipinya.
"Eeh, tapi, apa anak-anak mau makan makanan berpenampilan seperti itu?" komentar Monet, menaikkan kacamata botol susunya.
"Tenang saja, masakan Sanji sangat enak! Sejelek apapun penampilannya rasanya tetap enak!"
"Sudah, kamu nggak usah ngomong lagi. Segera hubungi kawanmu itu."
"Ou!"
"Tu-tunggu!" Nami yang dari tadi diam saja, nyeletuk. "Aku nggak setuju dengan ini! Kalian nggak bisa memaksakan pendapat begitu... Bonney-san! Monet-san! Apa kalian setuju?"
"Eeh, aku juga ingin tahu..." Kidd memandang kedua anggota ceweknya itu, yang langsung memandangnya balik. Dia nyengir pede. "Heh. Empat lawan 1, Nami-chan."
Nami menggeram mendengarnya, tapi itu nggak berefek pada Kid yang sudah biasa menghadapi keganasan Bonney. Walaupun geraman Nami nggak seseram Bonney yang sedang lapar...
"U-uuh… Luffy," Nami pun menggunakan senjata pamungkasnya, 'tatapan-kucing-yg-ditendang', yang bahkan membuat Kid melongo sejenak saking imutnya. "A-apa nggak ada tema lain? Halloween masih lama, kan?"
"Lho, memangnya kenapa? Semua orang suka zombi," jawab Luffy sambil mengorek hidung.
Kid tertawa kencang, dan Nami hanya bisa meratapi kepolosan sang ketua.
-o0o0o0o0o-
Setelah semuanya diputuskan, Kid segera menyerahkan proposal prom night ke Pak Kepsek Odacchi yang langsung menyetujuinya. Mereka pun segera bekerja.
Monet dan Bonney membuat pamflet dan poster pengumuman. Sementara Luffy dan Kid mencari sponsor, tapi karena mereka kelewat sukses, Nami nyaris pingsan setelah menerima uang muka dari dana yang diperlukan.
Sore harinya, Bonney memberikan pamflet pengumuman ke masing-masing wali kelas XII untuk dibacakan saat jam homeroom. Salah satunya mendarat di tangan Pak Kuzan, wali kelas XII-3.
"Yak… sebelum kita pulang, ada pengumuman." Pak Kuzan menggaruk rambut kriwilnya. "Yang cukup panjang. Aah, padahal aku ingin segera pulang dan tidur…"
"Oi, kau masih harus mengoreksi tes pra-ujian kami!" teriak Marco dari bangku belakang.
"Ya, ya… itu bisa dilakukan besok pagi sebelum kalian masuk kelas."
Anak-anak sweatdropped massal. Mana mungkin guru pemalas yang satu ini bisa koreksi dengan teliti dalam waktu sesingkat itu... seminggu koreksi pun sering ada kesalahan!
"Kembali ke pengumuman! Kalian tahu, waktu kalian di sekolah ini tinggal 2 bulan. Eits, eits, nggak usah menangis merindukan Bapak dulu."
"Huuuu-!"
"Iiiih..."
"Najisss!"
"Siapa juga yang bakal kangen sama kepala brokolimu?!"
"Portgas-san, mau membersihkan kelas menggantikan piket hari ini?"
"Ooh, Bapak yang ganteng, saya akan sangat merindukan Anda!"
"Oke. Seperti biasa, akan ada prom night untuk merayakan kepergian kalian dari Seifu."
Anak-anak menepuk dahi mereka mendengar pilihan kata wali kelas mereka itu.
"Tepat setelah ujian?" tanya Marco.
"Yah..." Pak Kuzan membaca lembaran kertas di tangannya. "Ararara… tema tahun ini 'Zombie Night', padahal Halloween masih lama! Dresscode: pokoknya yang keliatan seperti zombi, tapi bukan baju compang-camping… disarankan kalian berdandan ala film-film Tim Burton."
"Dengan kata lain, jas, gaun lusuh dan make-up pucat." Hancock yang menyandarkan kepalanya di telapak tangan buru-buru berbicara sebelum ditanya.
Seisi kelas angguk-angguk.
"Sesuai yang saya harapkan darimu, Boa-san! Oh ya, satu lagi. Yang terakhir, dan yang terpenting sampai di pamflet font-nya di bold dan pakai CAPSLOCK, kalian harus bawa pasangan!"
Seisi kelas berteriak mengeluh.
"Siapapun yang mencetuskan ide bahwa prom night harus dihadiri dengan pasangan adalah orang paling brengsek di seluruh jagat raya!"
Aplaus menggema.
"Kata-kata bagus, Portgas!" teriak Urouge dari belakang kelas.
"Ararara... kamu jomblo, Portgas-san?" tanya Pak Kuzan sambil nyengir, mengundang tawa dari para cowok.
Dan bisik-bisik gosip dari para cewek yang langsung berencana mengundang dia.
"Ng-nggak! Aku…" Ace menatap Hancock yang duduk di belakangnya, tapi Hancock mengalihkan pandangannya ke jendela sambil mendengus.
"Dia ditolak sebelum mengatakan apapun!" teriak para cowok kompak. Tawa mereka pun semakin kencang.
Kesal karena ditertawakan, Ace membanting badan ke kursi.
"Hhh... kenapa kamu nggak menyerah juga, Portgas? Kau sudah tahu kalau Hancock itu tak tersentuh," pikir Ace sambil menghela napas panjang.
Sebenarnya, sejak awal dia dan para anggota OSIS yang serius mendekati Hancock sadar bahwa mereka tak memiliki kesempatan. Apalagi, beberapa saat lalu tersebar gosip di kalangan fans Hancock bahwa sang Ratu Es telah menemukan pujaan hati...
Dan Ace tahu orangnya. Si beruntung sialan...
"Pasangan, ya..." gumam Hancock. Terus terang, dia nggak terlalu antusias menghadapi acara seperti ini, toh paling-paling dia akan dinobatkan jadi ratu prom seperti biasa. Tapi, entah kenapa kejadian beberapa hari lalu waktu pertarungan calon ketua OSIS terbayang di benaknya.
"Whoooaaaah!"
Seisi sekolah bersorak menyambut kemenangan Luffy; bahkan para pendukung Kid juga terlibat dalam euforia karena kandidat mereka walaupun kalah telah menyajikan pertarungan yang amat seru.
Tentu saja Hancock sebagai pendukung Luffy merasa bahagia.
"Luffy... kamu berhasil!" katanya dengan mata berkaca-kaca. Dia hanya bisa menatap dari jauh SH yang bergembira, melemparkan Luffy ke udara...
Nguuung! Tes, tes!
Dengungan mic menghentikan sorakan mereka, dan kemudian semua mata tertuju pada Pak Ray di atas podium dengan didampingi Luffy yang digotong anak-anak SH ke atas podium.
"Selamat buat Monkey D. Luffy-kun. Baiklah, sekarang mantan ketua OSIS akan menyerahkan jabatannya secara simbolik!" kata Pak Ray. Kata-kata itu membuat Hancock tersadar bahwa dia terus memandangi Luffy, dan wajahnya memerah.
Dia pun segera berjalan menghampiri panggung. Setelah berjalan entah berapa lama, Hancock sampai di depan Luffy yang masih cengar-cengir menikmati kemenangannya. Menyadari Hancock datang, Luffy menolehinya, membuat wajah gadis itu semakin memerah.
"B-baiklah. Monkey D. Luffy, dengan ini aku mewariskan jabatanku sebagai ketua OSIS kepadamu."
"Thanks, Hammock!"
"... yang benar Hancock," Hancock tersipu imut menanggapinya, mengundang teriakan nafsu kaum Adam.
"Ya! Hancock."
Saat Luffy menyebut namanya dengan benar, perlahan wajah anak itu berubah menjadi... bishonen? Luffy yang jadi ganteng itu tiba-tiba menggenggam tangan Hancock, membuat wajahnya berasap.
"Um..."
"Sebenarnya aku nggak terlalu peduli sama jabatan itu. Hancock... aku ingin kamujadihadiahku."
"?!"
Wajah Luffy semakin mendekat. Para murid kembali bersorak.
"L-Luffy... ini di depan seisi sekolah..."
Tapi cowok di depannya ini nggak mendengarkannya, dan di tengah sorakan para murid, dia mencium-
"Hammock?"
Krek.
Bagaikan foto yang dirobek, lamunan itu langsung buyar setelah panggilan nama yang salah itu terdengar lagi. Dia membuka matanya dan melihat Luffy dengan wajah bodohnya yang biasa, memiringkan kepalanya.
Hancock segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir rona merah yang mewarnai wajahnya, lalu menatap Luffy dengan penuh wibawa seperti biasa.
"Eh-ehem. Kamu dengar aku, Monkey D. Luffy, sekarang kamu adalah ketua OSIS."
"Yeah, thanks!"
Hancock tersadar dari lamunannya setelah bel pulang berbunyi. Di tengah keramaian anak-anak kelas yang meringkas barang masing-masing, dia tersenyum seolah menyadari sesuatu.
"Sudah kuputuskan. Aku akan mengajak Luffy-sama."
Ya, ini adalah keputusan yang paling tepat.
Menurut nenek Nyon, khayalan tentang Luffy yang tiap hari menyerbu pikiran Hancock adalah pertanda jelas kalau sang Ratu Es telah jatuh hati kepada anak bodoh itu.
Nenek Nyon juga menyarankan agar Hancock memberitahukan perasaannya sebelum lulus, agar hal ini tidak mempengaruhi karirnya di dunia artis kelak.
...
"Tapi, aku malu!" teriaknya.
A/N Corner
The fighting chapters are over... now, welcome to the romantic comedy chapters!
Yeah, aku selalu ingin mencoba ini. Genre rom-com!
Ngomong-ngomong, untuk chapter V ini akan banyak jeda karena kesibukan IRL yang semakin gila.
*dilempar bata
Weqs! Kaburrr...
Next in Two Schools, Two Worlds
Chapter V Part 1 – A Message in the Wind
"Ooh, tidak bisa. Kalau kamu ingin mengajak adikku, kamu harus mengajaknya langsung."
