Disclaimer : Saya sudah berulang kali menulisnya dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Naruto tetap milik Masashi Kishimoto. Tulisan ini hanya pengantar ide dari otak absurd saya, bukan untuk kepentingan komersil.

Warn : Nothing different, believe me.

Enjoy Please~!

.

.

.

Satu per satu memasuki bangunan khusus yang dari luar nampak seperti kuil. Ada beberapa remaja yang sepanjang perjalanan bisa saling menyikut dan sedikit bercanda. Tapi, rata-rata dari mereka masuk dengan wajah tegang.

Terutama Uchiha Fugaku sebagai pemimpin klan.

"Kalian...yakin, tidak akan masuk ke sana?" Naruto bertanya pelan. Matanya masih terarah ke depan, berjaga-jaga takut ada orang yang menemukan tempat persembunyian dadakannya ini.

"Tidak, Naruto. Masuk ke sana hanya akan mendapat beban pikiran tambahan saja, tidak ada manfaatnya," Shishui menjawab, menepuk pelan puncak kepala gadis cilik yang ikut berjongkok di sampingnya, bersembunyi di belakang semak-semak. Lalu ia beralih pada Itachi yang tetap dengan tampang sedatar papan penggilesan di sebelahnya. "Apalagi Uchiha kita yang satu ini. Pasti sulit diserang dari kedua sisi—tetua desa dan tetua klan."

"Rasanya lebih buruk dari pada menjadi penengah. Di satu sisi aku harus mengabdi pada desa sebagai Anbu, di sisi lain klan berharap aku tidak mengecewakan mereka," timpal Itachi, tidak menyangkal perkataan sepupunya itu.

Naruto yang kurang lebih bisa memahami dialog dua sosok 'kakak' baginya itu hanya manggut. Biang masalah Academy ninja itu menggigit bibir bawahnya, ketika melihat dua orang Uchiha dewasa keluar dari bangunan yang mereka intai. Kedua pasang mata hitam itu perlahan berubah menjadi kemerahan. Oh, tidak. Penyisiran daerah, pemastian tak ada penyusup pertemuan Uchiha itu. Mereka bisa ketahuan kalau begini.

Tepat saat itu pula, Naruto merasa dirinya tersedot oleh sesuatu. Reflek ia menutup matanya.

Yang dapat dirasakan olehnya adalah...dingin. Entah bagaimana suhu di sekitarnya terasa lebih dingin.

"Kita tidak akan ketahuan," terdengar suara Shishui. Naruto membuka matanya, terperangah melihat tempat di mana mereka berada. "Aku pakai jutsu baru, hehe,"

Sebuah tempat yang remang-remang. Ada beberapa benda asing berbentuk balok menyebar di sekitar mereka. "Jutsu jelajah dimensi?" tebak Naruto. Mendapat anggukan mantap dari Shishui, Naruto bersiul kagum. "Keren!"

"Tepatnya hanya alih dimensi sementara. Tidak bisa dipakai terlalu lama, tapi lumayan untuk pertahanan dan persembunyian sementara," Shishui menjelaskan. "Nah, sepertinya sudah aman. Kita kembali!"

Dari mata sharingan Shishui, muncul putaran dimensi yang lagi-lagi membuat Naruto serasa disedot oleh pusaran angin. Begitu selesai, mereka kembali ke tempat semula. Bangunan kuil itu sudah tertutup sempurna, mengurung semua orang berlabel 'Uchiha' yang akan mengadakan rapat istimewa.

"Sebenarnya, kenapa kalian mengajakku kemari? Bukankah lebih baik kalian masuk ke sana dari pada terlambat?" Naruto mengernyit heran. Itachi dan Shishui terlihat tidak khawatir sedikit pun. Padahal mereka sudah bolos dari rapat penting klan mereka sendiri!

Paman Fugaku bisa marah kalau begini. Jujur saja, Naruto lebih menyukai senyum samar pria itu dari pada pelototan tajamnya.

"Sudah kubilang, semuanya percuma. Dari topik yang dibicarakan, yang tidak setuju hanya segelintir orang termasuk aku dan Itachi. Mufakat pasti diambil lewat suara terbanyak, Naruto. Ada tidaknya kami tidak berpengaruh," Shishui mengibaskan tangannya santai. "Kita pergi ke tempat lain! Itachi, kau ikut?"

Itachi—masih dengan seragam Anbunya—menggeleng. "Kau lanjutkan saja dengan Naruto. Ada yang harus kuurus di kantor Hokage," setelah itu, Itachi menghilang dengan satu lompatan kilat.

"Sebenarnya topik apa yang dibicarakan, sih?" Naruto menggerutu pelan. Seingat Naruto, Shishui paling rajin soal urusan klan. Sejak resmi dikenal sebagai salah satu ninja yang berdedikasi, mendapat julukan Shunshin no Shishui pula, segala kegiatan klan ia ikuti dengan sepenuh hati. Tak heran, Shishui memang sangat mencintai klannya. "Jarang-jarang kalian jadi nakal begini," Naruto mengakhiri pertanyaannya dengan sedikit ledekkan.

Shishui mencubit pipi Naruto gemas, lalu menggenggam tangan gadis itu lembut. "Kau tidak perlu tahu. Sekarang kita berangkat!"

Meskipun kesal dengan Shishui yang sok rahasia, toh Naruto tidak protes dibawa oleh pemuda itu.

Mereka berhenti di pinggiran perbatasan desa. Tempat itu terlihat jauh lebih tua dari bangunan yang menjadi aula rapat tadi. Dindingnya sudah dihias banyak lumut dan dijalari beberapa tumbuhan paku. Di dalam bangunan tak berpintu itu, berdiri kokoh kursi batu yang tampak seperti tahta. Naruto memasang senyum tertarik.

"Tempat ini dipakai oleh pemimpin klan untuk mengetes kelayakan putra tertuanya untuk memimpin klan Uchiha," jelas Shishui. "Luasnya sama dengan dojo utama Uchiha, hanya saja yang ini terbuat dari batu,"

Naruto bergumam pelan.

"Sini!"

Shishui menunjukkan pada Naruto sebuah jalan rahasia. Keduanya menuruni tangga, begitu sampai di dasarnya, Shishui menyalakan obor yang ada di dalam sana. "Whoaa...itu apa?"

Di depan sana, Naruto melihat sebongkah batu yang bertuliskan tulisan kuno. Anehnya, begitu Naruto menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatan, tulisan itu seolah berubah perlahan.

"Ditulis dengan aksara lama Konoha. Isinya tentang sejarah Konoha, tepatnya klan Uchiha dan Senju," ujar Shishui.

"Aksara lama tadi memang menguraikan sedikit sejarah itu. Tapi aneh," gumam Naruto. "Yang terbaca selanjutnya malah tentang mata Uchiha."

Shishui tersedak ludahnya. Tujuan utamanya mengajak Naruto kemari hanya untuk mengenalkan tempat ini dan ruang rahasianya. Ia sama sekali tidak menyangka Naruto bisa membaca isi batu itu, yang mana baru bisa Shishui dan Itachi baca setelah mengaktifkan Mangekyou mereka.

"Sudah kuduga, tidak salah membawamu ke sini..." Shishui tertawa pelan. Naruto bingung melihat pemuda itu seperti berkaca-kaca. Seperti...mengenang sesuatu? Ada apa? "Yuk, pulang! Sudah sore."

Naruto merengut, "Apaan sih? Sebenarnya kenapa kau dan Itachi-nii sering sekali menyeretku ke tempat yang seharusnya hanya kalian para Uchiha saja yang tahu? Hayolho, aku ini orang luar, Shishui-nii! Bagaimana kalau aku sebarkan ke orang jahat?" Naruto menginjak kaki Shishui kesal ketika pemuda itu malah mengedipkan mata—bermain-main dengannya. "Kalian juga sering bercerita tentang Uchiha ini, Uchiha itu, kalian ini ingin aku masuk Uchiha atau apa?"

Shishui tertawa geli melihat Naruto mulai bersungut tak mengerti. "Tidak ada maksud khusus, sih. Ingin memastikan kau mengenal betul-betul tentang kami. Jadi, kau bisa menjaganya," satu kedipan usil diperlihatkan, Shishui menghilang dalam kepulan asap. "Pulanglah sendiri!"

Naruto semakin bersungut ketika mendapati dirinya ditinggalkan di ruang rahasia remang-remang. Bulu kuduknya berdiri. Perlahan telinganya mulai dibisiki desisan halus, kepalanya juga mulai memproyeksi bayangan-bayangan putih tembus pandang.

Dari dulu sampai sekarang, Naruto masih takut hantu.

Setelah melempar pandangan terakhir pada batu aneh di tempat itu, Naruto buru-buru berlari keluar. Hari sudah semakin gelap, Naruto tidak mau mengambil resiko berpapasan dengan Anbu yang sedang bertugas. Apalagi kalau sampai bertemu Anbu Root. Bisa kacau nantinya.

Naruto tidak menyesal diseret kemari dan ditinggal begitu saja oleh Shishui. Toh, di batu tadi, Naruto dapat bahan baru untuk memperkuat muridnya—alias Sasuke.

Teringat Sasuke, Naruto lupa hari ini mereka sudah janjian mau berlatih di Hutan Kematian.

Aku harus cepat-cepat! Bisa misuh-misuh si Teme kalau aku terlambat lebih lama lagi, ttebayo!

Tanpa Naruto sadari, Kurama di dalam tubuhnya, tengah mengekeh pelan.

'Jadi, itukah rahasiamu, Yondaime?'

.

.

.

Jangan terus menatap ke belakang, kau sudah tidak ada di sana.

Jangan juga berlebihan menatap ke depan, atau kau akan menyesal nantinya.

Lakukan yang terbaik di hari ini, agar apa yang telah kau lalui tidak sia-sia dan apa yang akan kau temui di masa depan bisa mengukir senyuman...

-(stillwannabe)anonim-

.

.

.

Uzumaki's Prodigy

Second Reason : Now

Pos penjagaan telah hancur berkeping-keping. Biang keladinya adalah kertas yang mengandung segel peledak. Dua belas jumlahnya. Empat menempel di tiang pos masing-masing satu, empat tertempel di ujung atap pos, dan empat terakhir tertanam di dasar pos. Untung saja Naruto buru-buru memperingatkan ketika dua belas kertas itu aktif.

Penghuni pos mengevakuasi diri masing-masing, berhasil selamat dari ledakkan. Naruto berhasil melakukan kawarimi di detik-detik terakhir. Kalau tidak, mungkin badannya sudah mengalami luka bakar serius.

Di tengah keributan yang terjadi di antara panitia yang sedang bertugas di pos, sesosok pria bertopeng aneh yang sempat Naruto lihat sebelum gadis itu tak sadarkan diri muncul dari pusaran dimensi. Pria itu berdiri dengan sebelah tangan mengecak pinggang—terlihat begitu santai.

"Hmm... Sasuke benar, kau adalah shinobi dengan tingkat pengamatan cukup tinggi. Seharusnya kuledakkan saja saat kau masih sibuk dengan boneka tadi," ujar sosok itu.

Melihat pria berjubah Akatsuki itu lagi, Naruto menggertakan giginya. Tidak salah lagi. Orang itu adalah sosok dalang penyerangan Kyuubi lima belas tahun lebih ke belakang yang Ayahnya ceritakan. Dia yang membuat Ayahnya harus berkorban demi desa. Dia yang membuat Ibunya hanya dapat bermimpi menjadi seorang ibu. Dia yang membuat Kurama menyesali banyak hal.

Dia yang membuat penduduk desa membenci Naruto.

"Jangan menatapku dengan galak begitu, Uzumaki—atau perlu kusebut Namikaze?" sosok itu mendengus geli. "Aku kemari hanya ingin mengenalkan diri."

"...Kisama," Naruto mendesis. Intonasinya begitu dingin, sampai-sampai Shukaku yang selalu mendapat cengiran lebar atau kerucutan kesal gadis itu jadi merinding sendiri. Tapi, jelmaan Ichibi itu langsung memasang pose siaga begitu Naruto merunduk dan menyentuh tanda segel penyimpanan di kakinya.

Naruto mengeluarkan sebuah scroll. Begitu dibuka di udara, terlihat beberapa rangkaian segel. Naruto menggigit jempolnya dengan gesit, langsung dioleskan di rangkai segel kedua. Kepulan asap putih muncul, scroll kembali hilang digantikan oleh sebuah katana. Menarik keluar senjata itu dari sarungnya, Naruto memaksimalkan dorongan kakinya, melesat cepat ke arah pria itu, langsung mengayunkan katananya dengan target bagian samping.

Pria bertopeng itu melompat ke belakang, ditanggapi Naruto dengan melangkahkan satu kaki ke depan dan kembali menghunuskan katananya. Gesit, pria itu melompat salto ke depan. Sebelah tangannya menggunakan bahu Naruto sebagai batu loncatan. Naruto buru-buru memutar badannya dengan katana bergerak selaras dengan tarian badan Naruto. Katana kali ini dihunuskan dari atas menyamping. Pria itu lagi-lagi menghindar dengan lompat menjauh.

Gerakan serang-hindar keduanya begitu cepat, sampai-sampai beberapa shinobi di sana terpaku dan berdecak takjub secara tidak sadar.

"Menyebar! Amankan peserta!" titah dari Gaara menyadarkan mereka. Lima panitia penghuni pos berlari masuk ke dalam Demon Dessert untuk memastikan keselamatan peserta. Satu orang melapor ke ruang panitia. "Shukaku..."

"Kau juga pergi. Naruto biar aku yang bantu!" putus Shukaku.

Mengangguk paham, Gaara mengikuti jejak lima panitia untuk mencari dan mengamankan peserta.

Shukaku melesak masuk ke dalam pertarungan. Perlahan namun pasti, pria bertopeng itu mulai terpojok. Dengan sedikit pengelabuan, Shukaku berhasil mengunci pergerakan pria bertopeng. Saat Naruto melesatkan kembali katana kebanggaannya, matanya membulat lebar. Alih-alih melukai pria itu, katana Naruto malah mengenai badan Shukaku.

Katana Naruto menembus badan pria itu!

"Ugh!" Shukaku meringis kecil.

"Shukaku-nee!"

Pria bertopeng sudah melompat menjauhi Naruto dan Shukaku yang mulai berdarah. Pria itu menyeringai kecil di balik topengnya, ketika badan Naruto mulai dihias relief kehijauan khas. "Kau seorang inryou-nin?" ujarnya tidak percaya, dengan nada merendahkan.

Naruto mencoba mengabaikannya dan fokus untuk menyembuhkan Shukaku.

"Dan...hmm... Katana itu bukan sembarang Katana. Kau anggota Anbu? Dan...Shukaku? Gadis ini monster berekor satu?" jeda sejenak. "Apakah itu artinya penyerang pertama adalah Kyuubi? Jadi, dua bijuu lain yang kau punya ada di Konoha, kah?"

Selesai menyembuhkan, Naruto kembali mengangkat katananya, memasang kuda-kuda menyerang.

"Bagaimana...bocah sepertimu bisa melakukan hal itu?" tanya pria itu pada akhirnya. Nada bicaranya terdengar benar-benar meremehkan, membuat Naruto sedikit emosi.

Siapa pria brengsek ini? Apa motifnya menyerang Konoha dahulu? Mungkinkah...dia dalang di balik pembentukan Akatsuki? Apa yang kurasakan berbeda dengan ketika berhadapan dengan Pain...

"Spiral Technique : Flowing Wind!"

Naruto bergerak dengan begitu cepat namun ringan—seperti angin. Jika dilambatkan, pertama ia bergerak memutar, mengayunkan katana cross ke belakang. Lalu sedikit menyerong, menarik kembali pedangnya dan menyerang bagian lengan. Kembali berputar agak berjongkok, katana bergerak menyilang ke atas. Mengumpulkan tenaga di kaki kanan, Naruto melompat dan kembali menjatuhkan badannya dengan cepat bersamaan dengan bergeraknya katana menyerang tubuh bagian belakang pria itu dengan gerakkan melintang. Setelah itu Naruto melompat mundur 2x5 meter ke belakang.

Mata Naruto terbelalak lebar-lebar. Semua serangan beruntun dengan kecepatan nyaris tak kasat mata itu tidak ada yang berhasil melukai pria itu. Katananya terus menembus badan itu.

Apa yang terjadi? Itu tubuh asli, kan?

"Che... Kau terlalu terburu-buru, Uzumaki," Naruto memposisikan katananya dalam pose bertahan ketika pria itu mendekat. "Sudah kubilang aku hanya ingin memperkenalkan diri."

Sraak!

Sebuah rantai yang terhubung dengan kedua tangan pria itu muncul. Kakinya bergerak, melesat menuju Naruto. Gadis itu membeku ketika menyaksikan bagaimana badan pria itu menembus badannya.

Sraak!

Berhenti di belakang Naruto, pria itu menarik rantainya. Rantai hitam itu nyata, langsung menyentuh leher Naruto. Sedikit menunduk dan berputar, pria itu sukses mencekik Naruto dengan rantainya.

"!"

"N-Naruto!" Shukaku menyahut panik. Ingin melawan, tapi gerak-gerik pria itu menghentikannya. Secara tidak langsung, Shukaku merasakan ancaman, Diam di sana atau gadis ini mati, dari aura intimidasinya.

"Diam dan jadilah gadis baik, Uzumaki," Naruto meronta kuat. Nafasnya terasa semakin sesak bersamaan dengan menguatnya cengkraman rantai itu di lehernya. Kedua tangannya menggenggam rantai itu, berusaha menariknya lepas. Namun, rantai itu mulai bercahaya keunguan—membuat Naruto tiba-tiba tidak bisa menggerakkan badannya.

"Lepaskan Naruto, hey!" Shukaku diabaikan.

"Kau ingat baik-baik nama ini, Uzumaki," si Pria mendengus kecil. "Aku adalah Uchiha Madara."

Pengakuan itu sukses membuat baik Naruto maupun Shukaku terkejut. Uchiha Madara...siapa yang tidak tahu dengan nama mengerikan itu?

Masih berusaha membebaskan lehernya dari rantai menyebalkan itu, Naruto mendesis kecil, "Penipu. Uchiha Madara itu sudah mati lama sekali!"

Surai pirang Naruto dicengkram erat, pria itu menegadahkan Naruto untuk bisa menatapnya. "Terserahmu akan percaya atau tidak. Aku hanya ingin berkenalan, itu saja," setelah itu, Naruto dilepaskan.

Naruto terbatuk hebat, menepuk keras dadanya yang terasa sesak. Pria itu lagi-lagi mendengus.

"Selanjutnya, kita akan bertemu di Konoha, Uzumaki. Sebaiknya...kau jaga peliharaanmu jika tidak mau kami rebut," ujar pria yang mengaku sebagai Uchiha Madara itu sebelum kembali tersedot oleh putaran dimensi yang dibuat oleh matanya.

Butuh waktu beberapa menit sampai Naruto merasa napasnya kembali teratur. Giginya menggertak kecil. Perlahan, kepanikan dapat Naruto rasakan.

Hanya tinggal menghitung hari sampai Akatsuki mengetahui rahasia para bijuu.

"Naruto..., Kurama!"

"Hm. Ayo!"

Semuanya terbongkar. Konoha dalam bahaya.

.

.

.

Ledakkan dan semburan api berkali-kali keluar, membuat udara di sekitar yang sudah panas terasa semakin panas. Chakra Sasuke sudah menipis, terlalu banyak menggunakan chakranya. Tadinya pemuda itu mau mengaktifkan sharingan agar pertarungan lebih efisien. Niat diurungkan ketika melihat daerah ini penuh dengan energi alam. Sepanjang perjalanan pertarungan ini hingga tanpa sadar mereka sudah sampai perbatasan desa yang dipenuhi pohon, Sasuke menjadi pihak yang terdesak.

Sejak awal, pertarungan ini sudah tidak seimbang bagi Sasuke.

Di hadapannya ini bergerak dengan mantap, jelmaan bijuu dengan umur sudah beribu-ribu tahun. Pengalaman bertarungnya sudah pasti tinggi, melawan lautan manusia pula. Jutsu dilakukan sudah tidak perlu insou panjang sehingga balasan yang dilakukan lebih cepat dari pada yang Sasuke keluarkan. Tingkat observasi dan ketajamannya pun tidak menurun dari tingkatannya sebelum menjelma menjadi sesosok manusia. Jika kapasitas chakra dalam tubuhnya sudah menipis, ia tinggal menarik tambahan chakra lewat transmit chakra dengan jinchuuriki tercintanya.

Melawannya dengan chakra bukan pilihan tepat.

Sasuke putuskan untuk memancing kembali ketua Anbu itu agar bertarung menggunakan pedangnya. Tongkat hitam panjang Sasuke genggam di tangannya, ia tarik—terbagi menjadi dua. Memunculkan dua bilah mata pedang yang mengkilat. Sepasang pedang kembar.

Kurama tentu langsung meresponnya dengan menarik kembali katana, tambahan sebilah kunai yang ia bawa di kantong senjatanya. Suara dentingan senjata terdengar begitu nyaring dan memekakan telinga. Hantam kanan, lawan kiri. Hantam atas, lawan bawah. Hantam melintang, dilawan lagi oleh gerakkan sebaliknya. Tak ada satu pun yang mau mengalah.

Diam-diam Sasuke memprotes pada takdir. Sasuke memang paling sebal dengan keusilan sosok bijuu di hadapannya, tapi ia tak pernah membenci Kurama. Baginya, Kurama itu seperti sosok Kakak baru yang mau tidak mau Sasuke akui ia sayangi. Berada di pihak berseberangan dengannya bukanlah pilihan Sasuke.

Mengapa ketika ia bisa bersatu kembali dengan saudaranya, ia harus berpisah dengan yang lainnya?

Berkali-kali ia ingin menjelaskan di tengah pertarungan mereka, selagi rekannya tak ada di sekitar sini. Tapi, Kurama tidak mau mendengar. Matanya habis dilalap api kemarahan. Berkali-kali pemuda tanggung itu mengumpatkan bahwa Sasuke harus pergi jauh-jauh dari Naruto.

Padahal dulunya dia yang selalu iseng menjodohkan Naruto dan Sasuke.

Yah, Sasuke tidak bisa menyalahkan juga. Sekarang ya sekarang, dulu ya dulu. Ini salahnya sendiri yang memilih untuk meninggalkan Konoha sejak awal. Bukan tanpa alasan. Jika Sasuke tetap tinggal dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin Naruto akan berbuat ceroboh. Kalian lihat sendiri bagaimana nekatnya gadis itu terjun ke medan perang Kirigakure, kan?

Sasuke tidak mau Naruto kenapa-kenapa. Lebih baik ia dilabuhi kebencian sahabatnya itu.

Trank!

"Kena kau, khu!"

Sasuke kalap. Kedua pedangnya terlontar dari tangan, lalu jatuh di permukaan beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Katana Kurama siaga di belakang lehernya, sedangkan kunai pemuda itu mengarah tepat pada lehernya. Bergerak sedikit, lehernya bisa terluka. Sasuke tidak sempat menyiapkan kawarimi.

"Pulang ke Konoha atau mati," desis Kurama.

Sasuke mendengus kecil. Di sisinya, pilihan Kurama sama saja dengan memilih mati atau mati. Tak ada gunanya untuk menjawab, Sasuke memilih bungkam. Lagipula ia ingin tahu apa yang akan Kurama lakukan. Jika Naruto saja melepaskannya setelah sedikit berbincang, apakah Kurama akan menunjukkan kepeduliannya?

"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Uchiha brengsek!"

Tepat ketika kunai dan katana berniat untuk memenggal kepala Sasuke, dengan satu kilatan kuning, satu sosok lain muncul, menangkis kunai dengan tendangan dan menarik Sasuke sampai jatuh terduduk.

"...G-gaki?! Kau baik-baik saja?!"

...Uzumaki Naruto. Dia datang menteleportasikan diri, dengan chakra Kurama sebagai perantaranya.

"Aku baik, Kurama," Naruto melirik Sasuke dengan tajam. "Mengobrol seolah kau menyesal, lalu menunjukkan kau memihak musuh? Kau tahu? Tadi itu penghinaan bagiku. Urusan kita belum selesai, teme."

Mendapati gelagat tidak biasa dari Naruto, Kurama buru-buru mengembalikan katana ke sarungnya. Ia mencengkram bahu gadis itu dan menatap matanya serius. "Ada apa?" tanyanya.

"Pria bertopeng yang diceritakan tou-san... Kita harus kembali ke desa," Naruto mengisyaratkan agar Kurama pergi duluan. Selama beberapa saat, gadis itu menatap Sasuke datar. "Selanjutnya kita bertemu, pertarungan sebelum kau membual akan kulanjut. Jaa, teme."

.

.

.

"APA?!"

Suara pekikan terkejut dari Tsunade menggelegar. Burung-burung yang hinggap barang sejenak di kabel listrik radius 50 meter dari kantor berterbangan dengan ketakutan. Jendela-jendela bergetar, untung saja tidak pecah. Beberapa shinobi yang sedang berkeliaran di sekitar kantor hokage nyaris terjatuh saking kagetnya.

Bukan main kabar yang ia terima sore itu.

Bagaimana ia tidak terkejut, ketika pintu ruang kerjanya digebrak tanpa permisi oleh si Bocah Biang Masalah dan Ketua Anbu jelmaan bijuu itu? Wajah keduanya tampak begitu tegang. Niat Tsunade mengamuk karena mereka seenaknya keluar-masuk desa diurungkan, sepertinya lebih baik wanita itu langsung membunuh mereka saja. Biar desa aman tentram, gitulho.

"Kau bisa gampar atau membunuhku sekalian jika Konoha kembali aman. Tapi untuk kali ini, kumohon, kumohon tahan emosimu, baa-chan. Kita harus mengadakan pengamanan khusus. Aku tidak tahu kapan, tapi Akatsuki pasti akan menyerang kita," Naruto terdiam sejenak. "Kita bisa minta bantuan pada desa lain. Beritahu mereka ini permintaanku."

Tsunade mengerut pelipisnya. Apakah ini yang dirasakan Sandaime selama menjabat dan berhadapan terus dengan bocah biang masalah ini? Demi apapun, bagaimana bocah itu membawa bendera perang dengan Akatsuki setelah baru juga beberapa hari menginjak tanah Konoha?

Apa salah Tsunade di masa lampau hingga harus mengalami hal ini, Kami...?

"Oke, oke, oke, OKE!" Tsunade berdiri, menatap tajam dua sosok di hadapannya. "Sementara aku siapkan rapat dadakan—yang oh tentu saja kalian harus HADIRI, pergilah ke markas Anbu. Beritahu mereka situasinya, bersiaplah untuk bagian terburuk!"

Dengan langkah dihentak-hentak karena emosi, Tsunade keluar.

"Ke markas?" tawar Kurama. Naruto mengangguk tanpa banyak bicara.

Keduanya bergerak gesit menuju markas besar Anbu.

Respon anggota Anbu ketika diberitahu kurang lebih sama dengan Tsunade. Hanya saja, suara mereka tidak sedahsyat Hokage wanita pertama itu. Atmosfir di dalam markas tiba-tiba berubah tegang. Semua berkumpul, berdiskusi dengan suara perlahan tentang apa-apa saja yang harus mereka lakukan. Naruto juga mulai menjabarkan misi yang akan mereka hadapi dan kemungkinan bekerja sama dengan Anbu Root.

"Apa ini artinya kau akan memimpin kami lagi, Naruto-kaichou?" tanya salah seorang Anbu lama.

Naruto menggeleng pasti. "Ketua kalian tetap Kurama," katanya. "Tapi aku pasti akan membantu mengatur pengamanan ini. Kita juga harus siapkan tempat evakuasi warga untuk jaga-jaga."

"Untuk jadwal latihan..."

.

.

.

Rapat diadakan pukul 7 malam. Dihadiri oleh Tsunade, tetua dewan, petinggi desa, dan beberapa oknum penting seperti Ketua Anbu dan high-jounin senior. Begitu topik rapat mulai meluncur secara mulus dari bibir Tsunade, tak lupa dengan intonasi penuh penekanan seolah masih memendam dendam akan ulah Naruto, seluruh peserta rapat terkejut secara berjamaah.

Seketika rapat menjadi kurang kondusif untuk dilakukan. Berbagai bisikkan maupun diskusi pelan dilakukan oleh peserta rapat dengan peserta terdekat dari tempat duduknya. Banyak dari mereka yang heboh mengira-ngira apa yang akan terjadi jika Akatsuki sampai hati menyerang desa Konoha. Namun tak sedikit juga yang malah sibuk menggunjingkan si Biang Keladi dengan peliharaannya. Naruto dan jelmaan bijuu. Banyak dari mereka berpendapat, baiknya Naruto dan keempat peliharaannya diusir saja dari desa, agar desa lebih tentram.

"Bukankah anak ini dengan congkaknya sudah menaklukan desa lain? Kenapa tidak suruh mereka mengungsi saja ke sana?" ujar seorang dewan desa tanpa menyembunyikan sedikit pun intonasi kebencian di dalamnya.

"Tidak bisa semudah itu. Kalau dilakukan, justru itu bisa merugikan desa lain," tukas yang lain.

"Biar saja! Memang apa keuntungan kita mempertahankan bocah ini?" balas yang lain lagi.

Naruto mendengus jengah. Inilah alasan mengapa ia tidak suka menghadiri rapat dadakan. Tidak seperti rapat rutin yang dihadiri peserta dengan kepala dingin, rapat seperti ini undangannya saja sudah menggoyahkan emosi peserta. Apalagi ketika sudah mulai dibuka topik pembicaraannya?

"Aku sempat berpikir untuk meninggalkan Konoha juga. Siapa tahu bisa menyerang Akatsuki duluan, agar kalian semua tetap selamat sentosa," Naruto menyela perdebatan seorang pak tua dewan tidak tahu diri yang memaksa Tsunade untuk mengusir Naruto dan para bijuu. Lalu melanjutkan,"Tapi kupikir tidak akan berguna. Pria Akatsuki ini bukan sembarang anggota yang mencari bijuu. Dia adalah otak dari penyerangan Kyuubi di masa lampau."

Pernyataan Naruto tentang identitas anggota Akatsuki yang secara tidak langsung menyatakan rencana penyerangan Konoha entah kapan itu membuat peserta semakin tidak kondusif mengikuti rapat. Heboh. Tsunade bahkan hanya bisa mengerut pelipisnya. Status siaga ini terlalu mendadak.

"Dari mana kau tahu, bocah? Kau bahkan baru lahir saat itu! Mau mengelak dan membela temanmu ini, bahwa bukan dia yang menyerang desa?" hardik seorang pria ubanan.

Kalau pandangan bisa membunuh, sudah dapat dipastikan pria itu hanya tinggal nama.

Diam-diam, Naruto melirik khawatir pada Kurama yang berdiri di sebelahnya. Naruto tidak bisa melihat mimik wajah jelmaan Kyuubi itu, tapi ia dapat memastikan tubuh Kurama sempat menegang.

Ini benar-benar memuakkan. Manusia memang senang menyimpulkan sendiri tanpa peduli jika apa yang mereka katakan itu belum tentu benar adanya.

"Namikaze Minato, AYAHKU, dia yang memberitahukannya padaku. Penyerangan desa itu bukan semata gara-gara Kyuubi. Ada seorang pria bertopeng yang mengendalikannya. Jika ia melakukan itu di masa lalu, aku tidak heran jika ia akan melakukannya lagi, walau entah apa motifnya di balik semua ini," Naruto mencoba menjelaskan selogis mungkin.

"...Kalian akan percaya perkataan bocah tak tahu diri yang diberi tahu oleh arwah orang mati?" tawa meremehkan terdengar, Naruto mulai mengepalkan tangannya. "Jangan mentang-mentang kau hebat, lalu kau pikir kau bisa mengatur dan melakukan semuanya semaumu, Uzumaki Naruto."

"Kau yakin bukan kau yang bersekongkol dengan Akatsuki dan menyiapkan perangkap?"

"Atau Kurama-san tersayang telah membisikimu untuk merencanakan kekacauan ini?"

Naruto sudah muak. "Cukup!" gertak gadis itu, bangkit dari kursinya. "Rapat ini tidak berguna. Aku akan kerahkan Anbu untuk menyelamatkan desa. Aku tidak peduli dengan izin maupun pendapat kalian, karena, oh, aku bisa saja memerintahkan anggota Anbu membantai kalian semauku. Kalian ingat...siapa yang Anbu pihak saat ini?"

Kericuhan berhenti, semua pandangan tertuju pada Godaime yang tiba-tiba memukul meja dengan keras.

"Duduk kembali, Uzumaki Naruto!" titahnya tegas. "Kalian juga, tunjukkan etika rapat yang benar! Kalian ini sudah berapa lama menjadi peserta rapat, sih?! Keadaan desa sedang genting!"

Kurama menyentuh bahu Naruto, bermaksud membuatnya kembali duduk. Namun, gadis itu malah menepis kasar tangannya, lalu melayangkan tatapan tajam pada seantero ruangan. "Daripada menghabiskan waktu untuk berdebat dengan dewan desa profesional seperti mereka, Baa-chan... Aku lebih memilih menggunakannya untuk memperkuat squad Anbu dan menyiapkan mereka untuk melindungi desa. Aku permisi."

Satu bungkukan badan dilakukan, Naruto keluar dari ruangan diekori oleh Kurama. Sudah macam hokage saja dia, meninggalkan dan memutuskan rapat seenaknya.

"Tunggu sebentar, Naruto!" sebuah panggilan terdengar tepat setelah Naruto menuruni anak tangga terakhir gedung Hokage. Danzou menghampiri, dengan seorang Anbu Root mengekor di belakangnya. "Tidak semua orang mengabaikan usulanmu meningkatkan pengamanan desa,"

Naruto mengedip tidak percaya.

"Kalau memang orang yang sama akan menyerang Konoha, aku mendukungmu. Anbu Root bisa bekerja sama lagi dengan Anbu di bawah kepemimpinanmu," lanjut Danzou, kali ini disertai senyum tipis. Mendengarnya, cengiran mulai terbentuk di wajah Naruto.

"Serius?"

"Aku tidak keberatan. Selama tujuannya untuk melindungi desa."

"Awesome!" Naruto bertepuk tangan. Lalu ia beralih pada Kurama. "Bagaimana, 'Rama-nii?"

"Terserah padamu, Naruto," balas Kurama pendek, namun berarti.

Naruto mendesah lega. Setidaknya, kuantitas pengamanan Konoha akan semakin banyak! Apalagi, Anbu Root punya porsi latihan sendiri sehingga kemampuan mereka tidak dapat diremehkan.

"Boleh langsung kutemui anak buahmu?"

Anggukan persetujuan dari Danzou menjadi salah satu hal yang Naruto syukuri hari itu.

Keadaan markas Anbu Root saat itu ramai oleh anggota yang sedang melakukan latihan rutin, tidak banyak berbeda dengan markas Anbu Konoha. Perbedaannya hanya pada wajah mereka yang minim ekspresi, berbeda dengan Anbu yang bisa jadi saklek kalau sedang usil semua. Naruto tersenyum kecil, ketika beberapa anggota yang pernah berhubungan langsung dengannya mengangguk dan memasang senyum sapa.

"Sai!" Danzou memanggil.

Seorang pemuda sepantaran Naruto dengan rambut klimis sebelas dua belas dengan Lumut Hijau Konoha menghampiri mereka. Di sebelah tangannya terdapat sebuah buku kecil mencurigakan. Sedang sebelah tangannya yang lain menggenggam pena.

"Ha'i, Danzou-sama?" Sai—pemuda itu—memasang senyum manis. Saking manisnya, Naruto greget ingin menendangnya sampai ke neraka. "Hello, Banci."

Mendengar panggilan tak asing selama interval babak terakhir Ujian Chuunin Konoha waktu itu, Naruto mendengus dongkol. Awal-awal mendengar panggilannya, Naruto tidak segan menendang bokongnya sekeras yang ia bisa. Atau barangkali menonjok wajah minim ekspresi itu.

Berhubung sudah terbiasa, Naruto malah balik membalas, "Hello juga, Waria."

Di balik topengnya, hidung Kurama mulai kembang-kempis—menahan tawa.

"Sudah lama sekali, ya. Kau terlihat beda dari terakhir kali kita bertemu. Kau semakin jelek saja. Bagaimana kabar burungmu?"

Sialan.

"Ya, memang sudah lama. Terima kasih atas kejujuranmu. Kabarnya bagaimana bukan urusanmu."

"Kukira kau berhasil menumbuhkan lagi burungmu, mengingat hebatnya kau dalam fuuinjutsu. Kalau kau tetap bertahan, jangan labil. Setidaknya tumbuhkan bukitmu dengan benar,"

Sialan.

Naruto berusaha keras menahan senyum tetap pada tempatnya, tidak mau kalah dengan senyum manis Sai yang terlihat permanen itu. Walau gadis itu ragu senyumnya terlihat seperti orang dongkol atau orang menahan boker.

Rasa kesal sudah tidak perlu ditanyakan lagi keberadaannya.

Kali ini, tawa Kurama menggelegar tanpa bisa jelmaan rubah itu tahan. Naruto memutar bola matanya, bertindak (sok) tidak peduli.

Danzou berdeham, "Tahan dulu basa-basi kalian. Anbo Root, kumpul! Ada hal yang harus kubicarakan kepada kalian!"

Dulu, Danzou dan antek-anteknya adalah hal yang paling Naruto hindari. Begitu aroma tidak sedap mereka telah tercium, Naruto buru-buru pasang kuda-kuda atau tancap gas saat itu juga. Namun sekarang berbeda. Di mata Naruto, Danzou dan Anbu Root ia nilai sebagai rekan sesama shinobi di desanya. Tak ada lagi rasa persaingan maupun permusuhan.

Naruto berharap, ia tidak salah melangkah.

.

.

.

Malam itu Hiruzen sedang menikmati hari-hari damainya di hunian tercinta, sembari membaca beberapa scroll lama berisi catatan perjalanan misinya jauh sebelum ia duduk manis di kursi kebesaran dan menghabiskan hari dengan mengurusi banyak dokumen. Di sela-sela bibirnya terapit sebuah cerutu. Rumah dirasa amat damai, apalagi Konohamaru sedang ada misi dengan timnya.

Hiruzen tidak perlu takut pinggangnya tiba-tiba encok karena Konohamaru mendatanginya dan minta main kucing-kucingan.

Ketika matanya sampai pada beberapa baris terakhir, telinganya mendengar suara ketukan. Yang pasti bukan Konohamaru maupun Asuma, karena mereka biasa masuk tanpa permisi ke rumah. Yang ini pasti tamu.

Satu pertanyaan mampir dalam benak pria tua itu, Siapa yang bertamu semalam ini?

Segera Hiruzen membuka pintu rumahnya—tidak mau membuat sang Pengetuk menunggu lebih lama. Berdiri Tsunade dan Jiraiya, dengan tampilan acak-acakan, tak lupa pancaran kepanikan di wajah keduanya.

Hiruzen membatin geli, hal apa yang membuat dua Sannin legendaris itu tampak seperti sehabis diobrak-abrik oleh angin puting beliung. Membuka pintunya lebar-lebar, Hiruzen mempersilahkan dua mantan muridnya masuk ke dalam. Keduanya menghela napas secara bersamaan ketika Hiruzen suguhkan secangkir teh dengan asap mengepul.

"Ada apa dengan kalian?" tanya Hiruzen tanpa basa-basi.

"Sensei, bagaimana kau bisa kuat menjadi Hokage dari Naruto lahir?" Tsunade balas bertanya.

Hiruzen mengernyit, "Naruto melakukan apa lagi kali ini?" tanya pria itu ketika paham maksud Tsunade.

"Dia bilang Konoha terancam diserang Akatsuki," Jiraiya menjelaskan. Hiruzen sukses tersedak tehnya mendengar hal itu. "Tadi rapat tidak berjalan dengan lancar. Kau tahulah bagaimana sifat dewan."

"Hmm... Lalu bagaimana?" Hiruzen menopang dagunya.

"Dia menggunakan Anbu dengan melangkahiku," dengus Tsunade tidak terima.

Hiruzen tertawa. "Kau tidak bisa protes soal hal itu. Naruto juga sering melakukannya padaku. Keloyalan Anbu pada Naruto tidak bisa diremehkan," ujar pria itu seraya tersenyum tipis. "Percaya pada Naruto. Mungkin dia memang anak yang sedikit nakal. Tapi soal urusan mencintai desa, dia jagoannya."

Jiraiya mengimani perkataan sang mantan guru. Sannin kodok itu memang percaya Naruto begitu mencintai desa kelahirannya. Kalau tidak seperti itu, mana mungkin ia bertahan dicaci-maki dalam rapat tadi?

"Oh, ya, Sarutobi-sensei... Naruto mengungkit bahwa orang yang akan menyerang kita adalah orang yang sama yang telah menyerang Konoha menggunakan Kyuubi beberapa tahun silam..."

Hiruzen sempat membulat mendengarnya. Dahulu ia memang curiga ada seseorang yang mengendalikan Kyuubi. Pasalnya, pengamanan dan persiapan yang dilakukan untuk persalinan Jinchuuriki Kyuubi sebelumnya—Kushina, sudah benar-benar matang. Bahkan ia diceritakan oleh mendiang istrinya jika tempat persalinan memang diserang oleh seorang shinobi misterius.

Mendengar Naruto bahkan mengetahui hal itu, Hiruzen meringis iba. Seingatnya, Naruto bilang pertemuannya dengan kedua orang tuanya saat gadis itu belum genap delapan tahun. Apa saja yang Minato ceritakan pada gadis sekecil itu?

Seharusnya Hiruzen lebih banyak memerhatikan Naruto saat itu.

"Aku percaya pada apa yang telah Naruto katakan. Kalian percaya kan?" Hiruzen kembali tersenyum.

"Guru macam apa yang tidak percaya pada muridnya sendiri? Tentu saja aku percaya, sensei!"

Hiruzen terkekeh begitu melihat Tsunade mengangguk lemah.

"Soal pengamanan... Siapa lagi yang bergerak selain Anbu?" tanya Hiruzen setelah beberapa saat tak ada yang buka suara.

"Aku melihat Danzou menghampiri Naruto," jawab Jiraiya spontan. "Tapi gadis itu terbuka pada Danzou, bahkan memperlihatkan senyumnya. Kurasa kita tak perlu khawatir temanmu itu akan mengapakan Naruto," tambahnya saat Hiruzen terlihat agak terganggu mendengar nama Danzou disebutkan.

"Aku akan ikut serta," putus Hiruzen. Desa dalam bahaya, bukan? Mana bisa ia duduk manis meniup cerutunya? "Nanti aku akan mengunjungi markas Anbu."

.

.

.

Bagi Naruto, bisa kembali memakai armor Anbu miliknya dan berdiri di tengah-tengah markas menjadi suatu kebahagiaan tersendiri. Meski misi yang ia dapat semasa menjabat menjadi Ketua Anbu selalu berpusat dengan misi berdarah, kebersamaan yang dirasakan di dalam markas selalu bisa mengukir senyum di wajahnya. Apalagi, kedatangannya di markas disambut dengan sapaan heboh seolah ia adalah aktor terkenal.

Syut!

Sebuah tangan naik mencubit hidung Naruto. Gadis itu memekik protes, saat sadar itu adalah Kurama. "Berhenti memasang tampang bodoh itu. Mengerikan, gaki."

Naruto manyun selama beberapa saat, lalu kembali tersenyum lebar. "Aku Cuma sedang senang, Kurama. Kembali lagi bersama Anbu, bahkan kini Anbu Root pun ada di bawah intruksiku!"

"Ingat, kau di sini karena masalah serius. Jangan main-main!" tegur Kurama mengingatkan.

Naruto menjulurkan lidahnya. Ia hanya tertawa saat Kurama melotot tidak terima.

"Umm... Kaichou, Naruto-kaichou, pergantian shift!" sahut seorang anggota Anbu yang memakai topeng Cricket. Naruto mengacungkan jempolnya. "Otsukaresamadeshita!"

Memakai topeng Anbu miliknya, Naruto meninju pelan bahu Kurama. "Aku berangkat, Kurama-nii!" pamitnya. Kurama melambaikan tangan dengan malas sebagai jawabannya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Bijuu in Human form (Female=F, Male=M)

Ichibi = Shukaku [F]

Nibi = Matatabi [F]

Sanbi = Isobu [M]

Yonbi = Son Goku [M]

Gobi = Kokuo [F]

Rokubi = Saiken [F]

Nanabi = Lucky Seven Choumei [M]

Hachibi = Gyuki [M]

Kyuubi = Kurama [M]

[A/N]

Domo! Berhubung Chic sudah memberantas semua soal-soal UAS jahannam itu, updatenya cepat khukhu~ Seminggu sudah termasuk kilat, kan? *nyengir lebar* Agak pendek, ya? Maafkan~

Langsung kita bahas hal-hal yang perlu dijelaskan dalam review yang tertampung setelah chapter terakhir mengudara.

Apa Sasuke akan jadi jahat sampai akhir?

Apakah dengan masuk Akatsuki itu artinya Sasuke jadi orang jahat?

Apa Sasuke pura-pura jahat di depan Akatsuki?

Bisa dibilang seperti itu.

Sasuke kenapa?

Dia jadi aneh, kah? Harap maklum, ayam itu baru beres bertelur. Jadi agak sensi *bakiakmelayang*

Gender bijuu ketika jadi manusia?

Tuh di atas sudah dicantumkan :D

Apa Naruto masih ingin balik lagi ke gender awal?

Masih. Meski dia sudah mulai menikmati kehidupannya saat ini akakak

Bisakah Naruto menemukan fuuin penangkal perubahan 'wujud'nya?

Bisa saja. Mungkin, sih. Enggak tahu juga ding. *author labil*

Cerita tidak asyik karena Narutonya berubah jadi cewek?

Bung, perubahan ini terjadi pada chapter 1, sekarang sudah meloncat chapter 28. Bukankah aneh jika tetap membaca sesuatu yang tidak disukai? Bung, coba baca warning yang tertera.

Ceritanya terlalu kompleks? Author harus rubah ceritanya jadi 'gini' dan 'gitu'?

Bung, ini cerita buatan saya. Maaf saja kalau kompleks karena saya ingin membuat yang seperti ini. Saran dari pembaca saya tampung untuk referensi, tapi kalau tuntutan membuat cerita 'harus begini' saya tidak bisa terima. Monggo buat cerita sendiri :v

Ingin lihat scene komedinya saja?

Monggo baca lagi apa genre fanfic ini.

Di chapter kemarin Sasuke serius untuk menangkap Naruto?

Tentu saja dia serius. Kalau tidak, ngapain Naruto digenjutsu segala?

Masih ada harapan Naruto untuk kembali ke gender semula?

Masih ada. Mungkin. Bisa jadi *dikeroyok reader*

Chic ini laki apa perempuan?

Kalian maunya gimana? *ketawa sinting* Boleh baca bio Chic kalau mau tahu. Semoga tidak il-feel ya hahaha

Yosh! Anbu dan Root bekerja sama, mengamankan desa Konoha tercinta :)

Tokoh favorit chic dengan bibir jontor (baca : pedas) muncul! Sai! Hehe... Di animanganya, Chic paling suka bagian Sai menyebut Sakura 'Jelek' dengan seenak jidatnya, pake pasang senyum malaikat pula. Hahaha... Rekan sesama bibir jontor nih :v

Dan... 'Uchiha Madara' telah muncul. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Terima kasih untuk semua dukungan dari kalian semua, bahkan pada para Sider yang masih dipertanyakan keberadaannya huhu

Review lagi?

Sekian terimagaji,

Chic White

(Your Possible!Chic-ken *roosting*)