Sebelumnya, saya mau bilang bahwa Pangeran Xi Liang yang masih misterius itu adalah... MA CHAO! Yeah! Applause buat yang jawabannya benar! Hadianya adalah TIKET KELILING DUNIA jalan kaki... *dinuklir seketika...*
Reply Review~
Fansy Fan: Errr... it's still a long way for Lu Xun to meet Zhao Yun... *SPOILER* but he would be in Shu not long after this... ^^v and yeah, your guess is right! ^^
Putri: Waaa~ anda benar sekali... XDDDD yups... itu Ma Chao... ^^v
Yulius: Loh? Kan Zhuge Liangnya anda? Tadi kalo nggak salah saya liat di 3KO kayak getu, deh...
IXA Cross: no 1 salah (eaaahhh... apa2 T'an Mo yg disalahin terus... ==a) dan yang kedua... BENAR! SELAMAT! ^^
Mocca-Marocchi: Makasih... ^^ ahahahaha~ justru saya yang mesti berterima kasih boleh memasukkan OC anda di cerita saya ini... *sujud*
Saya berharap suatu saat bisa menulis surat kayak gini...
Dear KOEI,
I would be gladly to translate this story for you and send a copy for you from the very first chap to last one so you can make an RPG-version of my most favourite game in this entire earth, Dynasty Warrior...
Yours sincerely,
PyroMystic
Cuma berharap... *dinuklir*
Satu hal lagi... di chap ini, kita bakal menemukan San Zang ama Sun Wukong! Sayangnya, saya nih nggak punya Warriors Orochi Z jadi saya nggak tahu sifatnya 2 orang itu... wewww... jadi ya mungkin bakal agak OOC... ^^;
Trus, berhubung Sun Wukong manggil San Zang dengan shiho (bahasa Jepang, nih...) saya terpaksa ngubah nih dua kanji jepang jadi Hanzi China dan keluarnya jadi: 'Shijiang'. Jadi, di sini saya bakal pake Shijiang sebagai panggilan dari Sun Wukong ke San Zang...
Happy reading! ^^
Da-ge: Panggilan untuk temen cowo yang lebih tua yang dianggep kayak kakak
Xun-jue: Tuan, dalam bahasa yang sangat formal. BTW, kalo ada yang tahu panggilan 'Tuan' yang lebih bagus, tolong kasih tahu saya...
Lu Xun
Tepat seperti yang kurencakan sebelumnya, aku tidak pergi ke Shu dahulu melainkan ke Gunung Jing yang disebutkan Meng Zhang.
Untung saja Zhou Ying tidak marah. Ketika aku menyampaikan hal itu padanya, dia memang terlihat sedikit kecewa, tetapi dia bilang berkali-kali kalau dia tidak apa-apa. Alasan kenapa aku pergi ke sana pun tidak kuberitahukan. Aku yakin ketika aku mengatakan padanya tentang akan menemui Pendeta San Zang, dia tidak akan percaya dan mengatakan aku berkhayal. Jadi, aku cuma mengatakan aku ingin tahu rahasia siapa sebenarnya aku. Akhirnya, kami pun sepakat untuk pergi ke Gunung Jing.
Perjalanan itu memang cukup makan waktu. Dua minggu sudah terlewati, bahkan hampir tiga minggu. Syukurlah sekarang kami sudah sampai di daerah Gunung Jing itu. Dalam perjalanan, tidak ada hal menarik yang terjadi, kecuali, seperti biasa, aku sama sekali tidak menunggangi Huo Li karena segala alasannya yang tidak masuk akal itu. Tapi kalau ditunggangi Zhou Ying, dia sama sekali tidak keberatan!
Dan, pikir-pikir tentang itu, baru saja sebelumnya aku membandingkan kekurangajaran Huo Li padaku seperti Sun Wukong pada Pendeta San Zang. Sekarang, aku sebentar lagi akan menemui kedua orang itu! Aneh sekali, bukan?
Sebelum sampai di Gunung Jing, kami menemukan sebuah desa kecil di sana.
"Lu Xun, kau tidak ingin beristirahat dulu?" Tanyanya prihatin.
Aku menggeleng. "Tidak perlu. Lebih cepat selesai, lebih baik."
"Kau ingin kutemani?"
Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya aku menjawab. "Kurasa tidak perlu, Zhou Ying. Ini... sesuatu yang harus aku ketahui seorang diri."
Demikian, akhirnya Zhou Ying tidak membantah lagi. Yah, kalau seandainya yang bersamaku adalah Yangmei, pasti sekarang kami sudah mulai berdebat. Berhubung ini Zhou Ying, dia hanya mengangguk dengan patuh. Akhirnya, di sinilah kami berpisah. Dia berjalan mengarah ke desa itu dengan membawa serta Huo Li, sementara aku melanjutkan perjalanan ke gunung Ding Jun.
Hahaha... senang sekali aku akhirnya bisa bebas dari Huo Li!
Ah, sudahlah, kuda satu itu memang tidak ada harganya untuk disebut-sebut. Lebih baik sekarang aku memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bertemu dengan Pendetan San Zang, rasanya menegangkan sekali. Apa dia benar seperti yang dikatakan dalam legenda-legenda sebagai orang suci, pendeta yang bersama pengikutnya menempuh perjalanan panjang mencari Tiga Kitab? Aku yakin, pasti aku akan merasakan sesuatu seperti di Tiantan lagi hanya dengan merasakan aura kebijaksanaannya.
Baiklah, kurasa tidak ada gunanya memikirkan ini terlalu panjang. Bukankah nanti aku akan tahu dengan sendirinya?
"Gunung Jing..." Kuambil peta dari dalam tas kain yang kubawa-bawa. Hmmm... aneh juga. Memang di sini terdapat gambar gunung, tetapi tidak ada tulisan bahwa ini adalah Gunung Jing. Kemungkinan besar Gunung ini diberi nama Guning Jing karena terletak di Provinsi Jing. Benar begitu bukan?
Apapun itu, setelah aku sampai di Gunung Jing ini, baru aku sadar satu hal.
Pendeta San Zang tidak ada dimanapun!
Kutengadahkan kepalaku, ternyata puncak gunung itu sampai tertutup dengan awan. Kalau benar seandainya pendeta San Zang ada di sana, matilah aku. Bagaimana caranya aku mendaki sampai atas? Bukan cuma akan memakan waktu sangat lama, tetapi memang gunung ini besar dan tinggi sekali, rasanya mustahil bisa mencapai ujungnya! Bahkan apakah aku sudah berada di kaki gunungnya atau belum, aku juga tidak tahu.
Ahhh... Susah payah sampai di sini, apa memang benar aku harus berhenti? Atau jangan-jangan aku memang harus mendaki?
"Tentu saja tidak perlu!"
"Begitu, ya?" Balasku menanggapi suara itu dengan desahan. "Ngomong memang gampang. Tapi bagaimana caranya aku menemukan Pendeta San Zang?"
"Tentu saja dengan naik awan!"
Aku cuma bisa memutar bola mataku. "Terima kasih. Tapi aku lebih suka naik daun pisang daripada naik awan." Jawabku menanggapi ide yang kelewat gila itu.
Eh? Tunggu...
Sebenarnya dari tadi aku sedang ngomong-ngomong dengan siapa, ya?
Suara itu datang lagi! Kali ini dengan tawa yang cukup keras! "Hahaha! Tuan Phoenix memang luar biasa hebat! Bukan hanya bisa bercanda tetapi juga langsung tahu aku ini si Pendekar Kera, kan?"
Pendekar Kera...
Astaga...
Ya Tian! Jangan-jangan...
"Pendekar Sun Wukong?" Aku langsung berbalik menatap sekelilingku. Eh? Kenapa tidak ada siapapun?
"Hahaha! Kau tahu aku Sun Wukong, kan? Makanya kau menyindirku dengan daun pisang?" Suara itu lagi menyambung. Astaga... kejadian aneh bin ajaib apa lagi yang akan terjadi padaku?
Tapi, dia memang tidak ada dimanapun! Sosoknya sama sekali tidak kelihatan! "Pendekar Sun Wukong, kau dimana? Kenapa aku hanya mendengar suaramu?" Sesekali aku berlari dan mencari di balik sebuah pohon, tetapi dia tidak ada dimana pun!
Suara itu sekali lagi terdengar. "Kalau jawabannya ada di atas, untuk apa kau cari di bawah?" Jawabnya. "Apa kau tidak sadar kalau sedari tadi matahari bersinar terik, tetapi tempat kau berdiri saja yang ada bayangannya?"
Eh? Kata-katanya benar juga. Jadi, kutengadahkan kepalaku ke atas dan...
... memang benar aku melihat Pendekat Sun Wukong di atas awan yang melayang!
"HEAAAAA!" Tiba-tiba saja dia melompat dan dengan kecepatan luar biasa akhirnya sampai ke tanah. Untung saja aku sempat menghindar. Setelah mengibas-ngibaskan pakaiannya yang kotor karena debu yang beterbangan, dia menyapaku. "Hai, Feng! Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja? Baru kali ini kita bertemu, ya!"
Sebelum aku sempat menjawab apapun, dengan cepatnya ia mengangkat sejumput rambutku. "Wah, rambutmu pendek sekali, ya? Padahal Shijiang bilang rambutmu dulu panjang!"
Shijiang? Apa maksudnya Pendeta San Zang? Wah, aneh sekali. Aku tidak pernah merasa bertemu dengan Pendeta San Zang sebelumnya. Dan dia berkata kalau rambutku dulu panjang. Hmmm... jangan-jangan... "Nggg... apa mungkin karena sekarang aku manusia?"
"Ah! Benar! Bagaimana aku bisa lupa?" Serunya sambil memukul kening sekali. "Wah... wah... wah.. padahal baru saja kemarin aku dan Shijiang membicarakan tentang ini..."
Aiya... aku benar-benar mati gaya mengetahui ternyata Pendekar Sun Wukong seperti ini. Sungguh jauh dari apa yang kuperkirakan!
"Jadi, kau ingin naik dengan awan atau dengan daun pisang?" Tanya Pendekar Sun Wukong sambil melompat lagi ke awan tempatnya berpindah-pindah. Dia kemudian tiduran di atas awan itu sambil menunggu jawabanku yang masih belum pulih dari keterkejutan. "Ayo, Feng. Kau jangan menghabiskan waktu di sini. Shijiang di atas sudah menunggumu sampai punah!"
Akhirnya, setelah sadar diri, aku langsung menyahut. "Ah iya! Aku akan segera naik ke atas!" Seruku dengan cepat. "Tapi, apa aku akan naik awan juga?" Tanyaku dengan ragu-ragu, sambil membayangkan tubuhku akan melayang-layang di atas awan. Bagaimana kalau nanti aku akan terjun bebas ke bawah? Maka, jangankan untuk menyelamatkan Yangmei, untuk bertemu dengan Pendeta San Zang saja aku tidak akan bisa!
"Ha! Memang itu perintah Shijiang!" Balasnya sebelum menarik pergelangan tanganku dan segera diangkatnya hingga aku sekarang di atas awan!
"WHOAAA!"
"Hati-hati, Feng!"
Ya Tian... ini benar-benar mengerikan! Aku heran bagaimana Pendekar Sun Wukong bisa naik sambil melompat-lompat dengan lincahnya, bahkan sambil tertawa-tawa! Sementara awan ini dengan kecepatan luar biasa melayang naik ke atas, aku bisa merasakan hembusan angin yang semakin keras seiring dengan bertambahnya ketinggian yang kami capai. Yang paling mengerikan adalah saat kami melewati lapisan awan! Yang kulihat cuma layar putih saja, baik di atas, bawah, depan, belakang, kiri dan kanan! Kalau seandainya aku jatuh, matilah aku...
"Selamanya aku tidak mau naik awan lagi..." Keluhku sambil menutup mata erat-erat. Bagaimana tidak? Hembusan angin yang keras ini membuat mataku sakit!
"Aneh juga kau! Padahal ini mengasyikkan!" Balas Pendekar Sun Wukong.
Yang aneh itu justru kau... rasanya ingin aku membalas demikian. Tapi kepalaku sudah mulai pusing. Mana bisa aku sempat-sempatnya menjawab begitu?
Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang rasanya tidak ada habisnya dan sangat menyiksa itu, kami sampai di atas puncak Gunung Jing. Pendekar Sun Wukong membantuku yang sudah pusing kepala bukan main ini turun dari awan.
"Hei, Feng, kau selama ini kan terbang? Kenapa tidak bisa naik awan?" Tanya Pendekar Sun Wukong sambil tertawa, seolah yang kualami ini hanya masalah sederhana.
"Apanya yang selama ini terbang?" Balasku setengah menahan kesal. "Aku sama sekali tidak bisa terbang! Yang namanya manusia sampai kapanpun tidak akan pernah bisa terbang, terutama kalau menggunakan awan, apalagi daun pisang!" Gayaku yang kesal setengah mati ini pasti sangat lucu untuknya. Kalau tidak, dia tidak mungkin tertawa seperti itu. "Yahhh... tidak tahu lagi kalau mungkin delapan belas abad mendatang manusia bisa terbang..."
Pendekar Sun Wukong mengangkat alis karena bingung. "Delapan belas abad? Kau tahu darimana?"
Aku mengangkat bahu sambil melaluinya. "Entahlah. Mungkin karena umurku sekarang delapan belas, makanya aku bilang delapan belas."
Menyenangkan juga sih kalau seandainya manusia bisa terbang. Tapi kalau terbang naik awan... menyeramkan. Aku berharap, kalaupun suatu saat ada kendaraan untuk terbang, jangan yang bentuknya seperti awan...
Sekarang, aku sudah sampai di puncak Gunung Jing. Pemandangan dari sini... benar-benar luar biasa! Sepanjang mataku melihat ke bawah, yang ada hanya tumpukan awan-awan berwarna putih bersih yang bergerak lambat, berbeda dengan awan yang digunakan Pendekar Sun Wukong. Matahari bersinar lebih terik dari atas sini, tetapi tempat ini sama sekali tidak panas melainkan sejuk. Mungkin juga karena hembusan angin yang kuat, tetapi tetap lembut. Rasanya menyenangkan sekali berada di tempat setinggi ini...
"Sudah puas melihat-lihat?" Tanya Pendekar Sun Wukong. "Ayo, Shijiang sudah menunggumu!"
"Oh, iya! Segera!"
Aku berjalan beberapa langkah melalui sebuah jalan batu yang berbentuk seperti anak tangga. Semakin naik, aku semakin jelas melihat sesuatu.
Di atas sana ada sesuatu, seperti altar. Tapi, bentuk altar itu berbeda dengan yang kulihat di Tiantan. Kalau altar yang di Tiantan bentuknya lingkaran, yang kali ini bentuknya segitiga, dengan tiga pilar menjulang dan atapnya yang juga berbentuk segitiga. Entah ini hanya mataku saja atau benar, tetapi kurasa baik lantai, pilar, maupun atap semuanya memiliki tekstur dan bentuk seperti batu giok! Bau giok yang berkualitas tinggi, diukir satu persatu dengan teliti. Dan bukan hanya itu, altar itu tidak terbuka melainkan tertutup, hanya saja tertutup oleh sesuatu yang transparan. Tetapi anehnya, benda transparan itu, jika dilihat dari sisi yang berlainan, akan menunjukkan tujuh warna pelangi. Sebagai penambah dari keindahan itu, ada sebuah lapisan aneh yang setengah transparan, seperti kain sutra yang masih belum ditenun yang juga mengeluarkan tujuh warna, gerakannya yang mengikuti angin seperti tirai bagi bangunan itu. Benar-benar luar biasa indahnya. Belum pernah sekalipun di China ini kulihat tempat seperti ini.
"Masuklah." Tak terasa, aku sudah sampai di depan bangunan itu. Pendekar Sun Wukong sudah menungguku di dalam. Aneh, bagaimana dia masuk ke dalam sana, aku tidak tahu. Tidak ada pintu.
Tapi, dengan nekat aku mencoba masuk dan ternyata... memang secara ajaib aku bisa masuk melewati benda transparan bercahaya tujuh warna itu!
"Selamat datang!"
Eh? Ada suara anak perempuan! Suara itu menggema dalam ruangan ini. Aneh juga. Ruangan ini sebenarnya tertutup atau tidak? Kalau tertutup, kenapa aku bisa masuk? Dan kalau terbuka, kenapa bisa terdengar gema?
Tapi yang lebih aneh selain ruangan itu sendiri adalah suara yang baru saja kudengar. Siapa pemilik suara itu?
Dan jawaban itu segera kudapatkan ketika aku berbalik. Seorang gadis, umurnya tidak lebih tua dari Yangmei, sedang berlari-lari kecil seperti menyambutku dan Pendekar Sun Wukong. Dia mengenakan pakaian dengan model yang jarang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya, dengan topi seperti mahkota yang belum pernah kulihat juga. Bajunya berwarna dominan putih dan hijau, kecuali lengan bajunya yang berwarna kuning bergradasi merah. Wajahnya kelihatan sangat ceria, sepertinya ia gadis yang sangat menyenangkan. Tetapi siapa dia sebenarnya, aku juga tidak tahu.
Setelah hanya terpisah beberapa langkah dariku, gadis muda itu mengistirahatkan tangannya di kedua lututnya sambil mengatur nafas. Baru sesudah itu dia dengan riang menyapaku. "Wah! Aku tidak menyangka! Ternyata Feng da-ge mau menyempatkan diri pergi ke Gunung Jing menemui San Zang! San Zang senang sekali!"
Eh?
Gadis ini...
Sebelum pikiranku terucapkan, Pendekar Sun Wukong menepuk punggungku sekali. "Bagaimana, Shijiang? Aku sudah membawa Feng kemari!"
Gadis itu berkacak pinggang. "Wukong! Panggil Feng da-ge yang benar, dong! Kau ini tidak punya sopan santun, ya? Panggil Feng 'xun-jue'!"
"Shijiang sendiri memanggilnya da-ge! Itu lebih tidak sopan lagi!" Balas Pendekar Sun Wukong.
"Hei! Itu karena Feng da-ge sendiri yang sudah mengizinkannya!" Timpal si gadis tadi sambil mengarahkan lengan bajunya yang sangat panjang itu ke arah Pendekar Sun Wukong. Baru sekarang aku tahu kalau lengan bajunya itu adalah senjatanya.
Pendekar Sun Wukong juga tidak mau kalah. Dia mengeluarkan tongkatnya. "Hei! Hei! Hei! Shijiang memukulku tanpa alasan! Curang!"
"Salahkan dirimu saja sendiri! Itu karena kau tidak sopan, Wukong!"
Dan akhirnya, aku jadi cuma melihat pertarungan guru-murid itu dengan perasaan takjub bukan buatan. Astaga... aku ini sebenarnya sedang bermimpi atau ini kenyataan? Kupukul punggung tanganku sendiri dan ternyata sakit. Hmmm... berarti ini bukan mimpi...
JADI GADIS ITU PENDETA SAN ZANG? DAN TERNYATA GURU SERTA MURID ITU BEGINI KOCAK SIFATNYA? TIDAK MUNGKIN!
Ya Tian... ini jelas-jelas sangat JAUH dari yang selama ini kupikirkan. Menurut yang kubaca dalam legenda, Pendeta San Zang itu punya wibawa yang sangat tinggi, sementara Pendekar Sun Wukong, meskipun memang kocak, tetapi tidak sampai separah ini! Wah... kenapa tiba-tiba semuanya jadi gila begini?
"Nggg..." Saat aku mulai bersuara, baru keduanya berhenti dan menatapku, masih dalam posisi bertarung. Pendeta San Zang berhenti di tengah-tengah saat akan menyerang Pendekar Sun Wukong, sementara Pendekar Sun Wukong menggunakan tongkatnya untuk melindungi diri. Bagaimana mereka mempertahankan posisi demikian sambil mendengarku, aku juga tidak tahu. "Kudengar Pendeta San Zang mencariku. Bisa aku tahu dimana dia berada?"
Gadis tadi sekali lagi berlari ke arahku, kemudian menggenggam kedua pergelangan tanganku. "Ini San Zang, Feng da-ge! Feng da-ge juga lupa pada San Zang?" Tiba-tiba saja, ekspresi gadis tadi, yang baru kusadari ternyata adalah Pendeta San Zang itu sendiri, berubah seperti akan menangis. Kedua bibirnya melengkung ke bawah, begitu juga tatapan matanya yang sekarang jatuh ke arah kakinya. "Ternyata, Feng da-ge kalau jadi manusia benar-benar lupa segalanya, ya..."
Ekspresinya yang lucu seperti anak kecil itu membuatku bingung harus menangis atau tertawa. Aku juga jadi serba salah, habis, aku kan tidak pernah melihat Pendeta San Zang sebelumnya. Jangankan melihat, membayangkan Pendeta San Zang ternyata seorang gadis kecil saja tidak pernah terlintas di pikiranku!
"Nggg... maafkan aku, Pendeta San Zang..." Kataku sambil dengan canggung menepuk bahunya. "Aku memang... lupa semuanya..." Kataku pada akhirnya karena tidak menemukan kata-kata yang lebih tepat.
"Itu benar!" Celetuk Pendekar Sun Wukong dari belakang secara tiba-tiba. "Justru karena itu sekarang kita panggil dia kemari, kan?"
Meskipun enggan, Pendeta San Zang yang ternyata seorang gadis kecil itu mengangguk. "Iya juga, sih..." Gumamnya. "Tapi, Feng da-ge jangan memanggil San Zang dengan 'Pendeta San Zang' begitu! San Zang kan jadi seperti orang asing!" Serunya dengan wajah yang masih cemberut. "Panggil San Zang saja, ya?"
Heran, aku sampai benar-benar bingung. Padahal, aku juga tidak pernah ingat seorang Pendeta San Zang memanggilku da-ge. Da-ge. Bayangkan saja, DA-GE! Baik di kehidupan ini maupun di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah menyangka Pendeta San Zang memanggilku seperti itu. Dan tidak hanya itu, sekarang dia menyuruhku memanggilnya 'San Zang' saja.
"B-baiklah..." Kataku dengan ragu-ragu. Saat dia mulai tersenyum, baru aku bertanya. "Ngomong-ngomong, San Zang memanggilku kemari ada apa? Kata Meng Zhang, kau ingin memberitahu sesuatu padaku?"
"Ah iya! Benar!" Jawabnya sambil tersenyum lebar. "Syukurlah Meng Zhang menyampaikannya pada da-ge! Memang ada sesuatu yang ingin San Zang sampaikan!" Jelasnya sambil menarik tanganku untuk pergi ke sudut lain dari tempat itu. "Oh, iya! Da-ge, aku juga ingin minta maaf!"
"Minta maaf untuk apa?"
"Karena da-ge sudah hampir melewati perbatasan Shu-Wei, baru San Zang ingat harus memanggil da-ge ke tempat ini." Katanya mengakui. "Maaf... Waktu itu San Zang benar-benar lupa. Wukong juga lupa mengingatkan sih!"
"Hei, Shijiang sendiri kan tahu aku lebih pelupa!" Balas Pendekar Sun Wukong dari belakang.
"Mana mungkin? Usiaku lebih tua darimu, pastilah aku yang lebih pikun!" San Zang menyahut lagi.
"Yah, gara-gara Shijiang pikun, Feng sampai capek-capek kemari berjalan kaki."
"Sudah, sudah!" Kataku pada akhirnya sebelum perdebatan ini mendatangkan pertengkaran seperti tadi. "Tidak apa-apa, kok, San Zang, Pendekar Sun Wukong. Lagipula, aku memang tidak terburu-buru." Jawabku seadanya. Sebenarnya sih aku sedang terburu-buru. Tapi kan sungkan kalau aku mengakuinya pada mereka.
"Wah! Sudah kuduga, Feng da-ge memang baik hati!"
"Oh! Satu hal lagi, Feng!" Pendekar Sun Wukong menyeletuk. "Jangan panggil aku 'Pendekar Sun Wukong' seperti itu! Benar kata Shijiang, aku kan jadi seperti orang asing juga!"
Aku mengangguk sambil memaksakan senyum. "Oh, iya... benar juga..." Jawabku sambil tertawa kecil.
Baru sesudah itu, aku merasakan sesuatu di tangan kananku, tangan kananku yang masih dibebat karena sebelumnya terluka akibat dililit tumbuhan berduri Yangmei ini. San Zang mengangkatnya, kemudian mengamatinya sebelum matanya yang lebar dan jernih menatapku. "Feng da-ge, ini kenapa? Ahhh... Jangan-jangan..." Sekali lagi, ekspresi wajahnya berubah sedih lagi. "Jangan-jangan... ini gara-gara Huang da-jie, ya?"
Baru saja aku mau mengangguk, dia langsung mendorongku ke sudut terjauh ruangan berbentuk segitiga itu. Di sana, aku melihat sebuah baki yang terbuat dari emas yang penuh dengan air. Air itu mengalir terus, dan ketika sampai ke dasar laintai hilang begitu saja.
"Maaf, da-ge..." San Zang memegang tanganku, kemudian melepaskan perban yang melilit tanganku perlahan-lahan dengan sangat hati-hati. "Ahhh... seandainya saja waktu itu San Zang dan Wukong sempat menolong da-ge, pasti tangan da-ge tidak terluka begini, kan?" Tanyanya dengan wajah yang sangat polos.
"San Zang..." Balasku sambil tersenyum, sambil berusaha menahan sakit karena lukaku yang terbuka. "Seandainya kau dan Wukong datang pun, aku tetap akan membiarkannya berbuat demikian..."
Entah bagaimana, Wukong tiba-tiba saja berada di sebelahku, mengamat-amati tanganku yang terbuka perlahan-lahan. "Tanganmu sampai luka begini..." Dia mendesah panjang. "Kau memang tidak bisa menyembuhkan diri sendiri, ya?"
Sekali lagi aku tersenyum, kemudian menggeleng tanpa mengatakan apapun.
"Itulah kejamnya!" Seru San Zang tiba-tiba dengan suara agak tinggi. "Feng da-ge dan Huang da-jie satu-satunya yang tidak bisa menyembuhkan diri sendiri, tetapi bisa menyembuhkan yang lain. Sementara San Zang sendiri, Wukong, dan yang lain cuma bisa menyembuhkan diri sendiri dan tidak bisa orang lain!" Ungkapnya sementara tangannya masih bekerja dengan perbanku. Jelas di wajahnya aku melihat kekecewaan dan juga kesedihan. "Berarti, satu-satunya yang bisa menyembuhkan Feng da-ge kan hanya Huang da-jie? Tapi kenapa justru sekarang Huang da-jie melukai Feng da-ge?"
Wukong menyahut lagi. "Aku juga bingung bukan main! Kau sudah begitu baik pada Huang, tetapi kenapa dia membuatmu terluka begini?"
Akhirnya, perban itu terlepas sepenuhnya, menampakkan tanganku yang keadaannya masih tidak jauh membaik. Entah apa yang ada dalam duri itu. Luka-luka itu sudah mulai mengering, tetapi masih menyisakan darah-darah yang lembab di sana-sini. San Zang memposisikan tanganku di atas baki itu. Kemudian ia menciduk air itu dengan kedua belah telapak tangannya sebelum mencurahkannya di atas tanganku. Wah! Ajaib! Perlahan luka-luka itu mulai hilang dengan sendirinya!
"Da-ge, maafkan San Zang, ya?" Gumamnya tanpa menatap ke arahku. "San Zang tidak bisa menyembuhkan. Untung saja ada air penyembuh ini..."
Aku cuma mengangguk. San Zang terdiam, begitu juga Wukong. Aku sendiri akhirnya tidak mengatakan apapun. Yang terdengar hanyalah suara air yang dituang ke atas tanganku dan mengalir ke bawah, sampai akhirnya aku teringat untuk menjawab pertanyaan San Zang dan Wukong. Sementara tanganku sedikit demi sedikit mulai sembuh, aku menatap keduanya.
"San Zang, Wukong." Mereka langsung memandangku bersamaan. "Memang aku harus terluka olehnya, supaya dia sembuh dari luka-lukanya."
Aku tidak tahu apakah mereka mengerti atau tidak. Yang kulihat hanyalah San Zang yang mengerutkan dahi, sementara Wukong cuma mendengus kesal. Saat San Zang akan membuka mulut untuk bertanya lagi, Wukong langsung menepuk bahunya agar ia tidak mengatakan apapun lagi. Akhirnya, gadis pendeta itu tutup mulut lagi.
"Selesai, da-ge." Ujar San Zang ketika melihat tanganku sekarang kembali seperti semua. Bersih, tanpa luka sedikitpun. "Nah, da-ge, berhubung luka da-ge sudah sembuh, bagaimana San Zang mulai..." Dia diam sejenak, tersenyum nakal seolah menunggu aku menebak-nebak. "... Da-ge sudah tidak sabar, ya?"
Sejujur-jujurnya, aku masih merasa canggung sekali berbicara dengan seorang Pendeta San Zang! Terlepas dari apakah di kehidupan sebelumnya aku pernah akrab sekali dengannya sampai dia memanggilku 'da-ge', tapi aku sekarang kan cuma manusia! Bagaimana bisa tidak canggung?
Akhirnya, dengan gaya yang aneh bukan main, aku menjawabnya seperti yang ia harapkan. "Tentu saja tidak sabar! Apapun yang San Zang ingin tunjukkan, da-ge pasti akan senang melihatnya!" Ya Tian... semoga aku tidak terlihat bodoh.
"Yay! Sudah kuduga da-ge akan senang!" Reaksi San Zang seperti yang kuharapkan. Yahhh... tidak sia-sia aku menjawab dengan gaya agak bodoh, meski sekarang aku tahu jelas Wukong sedang mati-matian menahan tawa melihat gayaku...
"Tidak kusangka ternyata seorang Phoenix bisa bertingkah seperti seorang 'da-ge' sungguhan!" Sindir pendekar kera itu. Seketika itu juga, dia langsung mendapat hadiah berupa serangan dari San Zang yang menggunakan lengan baju sebagai senjatanya.
"Hush! Jangan berlaku tidak sopan pada Feng da-ge!"
Kalau aku boleh berpendapat, sebenarnya bukankah San Zang juga agak tidak sopan? Ah, sudahlah. Dia kan sedang mencoba bersikap ramah padaku.
"Da-ge, kan tidak seru rasanya kalau San Zang bercerita tentang masa lalu da-ge dari awal sampai akhir," Jelas San Zang, masih dengan antusiasme yang sama. Wah, melihat Pendeta San Zang rupanya seperti ini membuatku bukan main terkejut, tapi aku senang setidaknya kami lebih akrab seperti ini. "... jadi, San Zang akan membawa da-ge ke masa lalu langsung! Asyik kan, da-ge?"
"Membawaku ke masa lalu?" Aku membelalakkan mata lebar-lebar karena terkejut.
San Zang mengangguk kuat-kuat layaknya anak kecil. "Iya! Iya! Nanti, da-ge bisa melihat sendiri semua kejadiannya! Bagaimana?"
Sebagai balasan, aku pun mengangguk sambil tersenyum, seperti biasa. "Terserah San Zang saja..."
"Asyik! San Zang akan jalan-jalan dengan da-ge!" Dia langsung menarik tanganku dan berlari ke salah satu arah. Secepat mungkin aku mengikurinya.
Wukong yang malang tertinggal di belakang. "Shijiang! Shijiang! Aku ikut!"
"Tidak bisa!" San Zang menjulurkan lidah. "Kau jaga tempat ini saja, ya?"
Akhirnya, tanpa protes lagi, aku mengikuti San Zang yang berlari ke sumbu pusat dari gedung berbentuk prisma segitiga itu. Kemudian, ia mendorongku hingga tepat berada tengah-tengah sebuah ukiran segitiga di atas lantai giok itu. Di tiga sudut segitiga itu terdapat pilar-pilar kecil, yang seolah memagari aku tetap berada di dalam area ukiran segitiga itu. Entah apa yang akan terjadi sekarang, aku tidak tahu.
"Da-ge! Satu menit lagi tepat tengah hari! Matahari akan tepat di atas da-ge!" Sahut San Zang. "Saat itulah, da-ge harus menatap ke atas, ya!"
"Baiklah, San Zang!"
Sementara itu, San Zang mengeluarkan sesuatu yang secara mistis muncul begitu saja. Tiga buah buku yang sangat tebal. Masing-masing diletakkan di atas pilar-pilar kecil pembatas ukiran segitiga itu. Aku bingung, tetapi tidak mengatakan apapun.
"Da-ge! Sekarang lihat ke atas!"
Mendengar seruan San Zang, aku segera menengadah. Baru saat itu aku sadar. Betapa bodohnya aku! Tengah hari begini, matahari sedang bersinar terik bukan main, dan aku memaksakan mataku untuk melihatnya! Kalau begini, bisa-bisa aku buta sangking silaunya!
Tapi, ternyata yang kulihat jauh dari apa yang kupikirkan! Aku melihat sebuah pemandangan... yang bukan main indahnya! Keindahan itu tidak bisa kulukiskan dengan kata-kata lagi. Cahaya matahari berwarna putih itu masuk menembus bangunan berbentuk prisma segitiga ini, kemudian entah bagaimana caranya, terurai menjadi tujuh cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Bahkan tidak hanya itu, ketujuh cahaya itu terus menerus dipantulkan dari satu dinding ke dinding yang lain, seperti membentuk jaring-jaring lurus berwarna pelangi yang tidak terhitung banyaknya!
Tanpa kusadari, sekarang jaring-jaring lurus berwarna pelangi itu memagariku. Dan bukan hanya itu, mereka semakin lama semakin kuat! Begitu kuatnya hingga aku tidak dapat melihat sekelilingku lagi selain ketujuh cahaya itu yang bermain-main di depan mataku. Hanya itu yang kulihat. Cahaya matahari yang membaur menjadi tujuh warna.
Astaga... Kenapa sesuatu yang begini indah bisa ada?
Kurasa, aku bisa melihat ini seharian, seminggu, sebulan, selamanya bahkan...
-o-o-o-o-o-o-
"Da-ge! Da-ge!"
"WHOAAA!"
Eh? Dimana aku sekarang?
Tadi rasanya aku masih berada di dalam bangunan aneh itu, menikmati pemandangan cahaya matahari yang bermain-main menjadi tujuh warna. Tapi sekarang... dimana aku? Yang bisa kulihat di depan mataku hanya San Zang saja.
"San Zang?" Dia sepertinya menunggu apa yang akan kukatakan. "Dimana... ini?"
Dengan riangnya dia menjawab. "Ini masa lalu da-ge!" Jawabnya. "Oh iya! Kalau yang da-ge lihat tadi itu sudah sangat indah, sebenarnya itu belum apa-apa..." Katanya, sebelum berpindah dari hadapanku sehingga aku bisa melihat jelas pemandangan yang terpampang di depan mataku. "Da-ge harus lihat ini!"
Ya Tian...
Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.
Apa tempat seperti ini masuk akal ada di dunia? Mustahil!
Kalau bangunan yang sebelumnya kulihat hanya memainkan cahaya matahari sehingga seolah memiliki tujuh warna, yang kulihat kali ini jauh lebih luar biasa. Di depan mataku aku melihat suatu tempat seperti taman yang indahnya belum pernah kulihat sebelumnya. Tembok-tembok pembatas pagar itu hanya setinggi pinggang, tetapi terbuat dari berbagai macam batu mulia yang bukan disusuk acak melainkan secara teratur, dan memiliki hierarki sendiri yang keindahannya tidak bisa dipikirkan lagi. Tidak hanya itu, di taman itu tumbuh berbagai macam bunga yang berwarna-warni. Tetapi, berbeda dengan bunga yang selama ini kulihat, bunga di tempat ini memantulkan cahaya sehingga terlihat seolah bunga-bunga itu bercahaya. Kolam yang berisi air seolah adalah kristal leleh yang memainkan ketujuh warna secara begitu indah. Air yang begitu jernih. Beberapa pohon yang tumbuh di sebelah kolam itu menjatuhkan tetesan embun yang seperti permata ke kolam itu.
Sungguh, tempat ini tidak bisa dilukiskan lagi dengan kata-kata.
"Da-ge! Tempat ini adalah Langit-Tian Shang!" Jelas San Zang. "Di tempat inilah segala sesuatunya dimulai!"
Aku bahkan tidak merespon perkataan San Zang sangking takjubnya aku dengan semua ini. Tetapi, aku lebih takjub lagi saat melihat sesuatu, bukan... seseorang sedang mendekat kemari.
Dari kejauhan, yang kulihat hanyalah sesosok manusia. Tetapi yang aneh, dia seperti memancarkan cahaya putih. Setiap detik, setiap langkah ia mendekat kemari, aku semakin jelas melihatnya. Dia memakai jubah sutra berwarna putih dan emas. Sebuah hiasan kepala, seperti mahkota, berwarna emas dengan bentuk seperti sayap tersemat tepat di atas telinganya. Beberapa helai kain sutra setengah transparan yang juga menghasilkan tujuh warna diselempangkan di pinggang, bahu, pergelangan tangan, dan terselip pada rambut di sisi kanan-kiri kepalanya, semuanya berjumlah tujuh. Saat dia berjalan, angin semilir menerpa tubuhnya sehingga melambai-lambaikan kain-kain itu.
Hei, tunggu. Emas dan mengeluarkan cahaya putih seperti matahari. Tujuh kain dengan tujuh warna seperti ekor burung Phoenix. Jangan-jangan...
Semakin dia mendekat, aku semakin jelas melihatnya. Rambutnya yang panjang sampai menyentuh kaki dikepang dengan rapi, hanya menyisakan sejumput rambut pada kedua sisi wajahnya. Saat dia menunduk, rambut depannya yang panjang menutupi wajahnya sehingga aku mengenalnya, tetapi saat dia mulai menengadah, aku menyadari sesuatu.
Astaga...
Benar-benar saat melihatnya aku seperti melihat... diriku sendiri!
"Wah! Wah! Wah!" San Zang tiba-tiba saja menjadi heboh sekali. Menatapku, kemudian menatap pendatang baru itu, kemudian kembali padaku, dan begitu seterusnya. "Da-ge dulu dan sekarang saat menjadi manusia tidak banyak beda, ya?"
Lagi-lagi aku tidak bisa menanggapi San Zang. Terlalu kaget untuk berpikir. Jantungku saja hampir pecah karena bedetak terlalu keras saat menyadarinya. Benar... segala sesuatu yang kami miliki sama. Wajah, warna mata, bentuk tubuh, semuanya tidak ada yang berbeda! Kalau saja rambutku sepanjang itu dan mengenakan pakaian yang sama dengannya, aku akan benar-benar seperti melihat bayanganku sendiri di dalam cermin...
Tanpa kusadari, aku berjalan mendekat ke arahnya. Terbersit pikiran di kepalaku, kenapa dia tidak kaget melihatku? Dan apakah aku benar-benar... dia?
"Hei... kau!"
Tapi, dia seolah tidak melihat maupun mendengarku. Saat aku mendekat padanya pun, dia terus berjalan hingga menembusku! Hah? Kenapa bisa begini?
San Zang langsung menepuk bahuku dari belakang. "Da-ge! Mana mungkin da-ge yang dulu dan da-ge sekarang saling bertemu? Da-ge memang bisa melihatnya di waktu ini, tapi bukan berarti da-ge benar-benar ada di waktu ini!"
Oh, iya... benar juga. Kan tidak lucu kalau aku yang sekarang dan aku yang dulu bisa bercakap-cakap?
"Tapi, apa kau yakin itu benar-benar aku, San Zang?" Tanyaku masih dengan ragu-ragu.
San Zang mengangguk mantap. "Tentu saja! Itu memang da-ge, kok! Dilihat darimanapun, tidak ada perbedaannya!"
Mataku kembali mengikutinya. Diriku yang memang aku, tetapi di masa lalu. Atau setidaknya, begitulah kata San Zang. Sekarang dia berada di sebelah pohon itu, berhadapan dengan kolam di depannya. Dia berlutut perlahan, kemudian mencelupkan tangannya ke kolam itu, mengambil airnya dengan satu telapak tangannya, setelah itu mendekatkan ke bibirnya dan meminumnya.
Tapi, yang kulihat bukan cuma itu.
Di balik salah satu pohon itu, baru aku sadar ada seseorang. Dan orang itu... hei... orang itu jangan-jangan.
"Aku tahu kau di sana..." Kata Phoenix itu, Feng, atau tepatnya aku yang di masa lalu. Suara itu mengalihkan pandanganku dari orang yang bersembunyi itu kepadanya lagi. "... Jian Bing."
Ini benar-benar gila... Bahkan suaranya pun persis dengan suaraku!
Jian Bing, si Harimau Putih itu keluar dari tempat persembunyiannya dengan cemberut bukan main. "Feng xun-jue! Kau ini membosankan sekali!" Seru Jian Bing sambil menghentak-hentakkan kakinya dan menggembungkan pipinya karena kesal. Ah, memang Jian Bing sekali, ya? "Kau benar-benar tidak enak diajak bermain!" Sebagai balasan, Phoenix itu, aku yang seorang lagi, hanya memberikan seulas senyum.
"Whoa! Whoa! Whoa!" Sekali lagi, San Zang memecahkan konsentrasiku dengan main heboh sendiri. "Senyum da-ge yang dulu dan yang sekarang sama persis, ya? Tetap manis dan lembut!"
"Kau ini ada-ada saja!" Balasku sambil mengacak-acak rambutnya.
Sementara aku yang seorang lagi itu belum mengatakan apapun, seorang lagi muncul untuk menghebohkan suasana. Dari perhatiannya yang berlebihan itu, aku sudah tahu itu siapa. "Jian Bing!" Seru Ling Guang, si Burung Merah, yang sedang keluar dari semak-semak. "Kau ini kurang kerjaan benar sampai mengganggu Feng xun-jue!"
"Habis aku sendirian!" Balas Jian Bing tak kalah heboh. "Sedari tadi Zhi Ming 'meronda' mengawasi keadaan di Ren Huan! Meng Zhang pasti sekarang sedang sibuk dengan buku-bukunya! Sementara kau..." Perang mulut itu terus berlanjut sementara Jian Bing mencari kata-kata yang tepat. "... kau sibuk sedari tadi mengawasi Feng xun-jue!"
"APAAA?" Kali ini, Ling Guang benar-benar kelihatan marah. "Kau ini bisanya cuma ngomong sembarangan!"
Ketika kedua Si Xiang itu masih sedang seru-serunya beradu mulut, aku yang di masa lalu hanya mendesah. "Sudahlah... hentikan itu..."
"Benar kata Feng xun-jue... kalian ini berisik."
Suara baru terdengar dari atas pohon, yang meskipun belum pernah kulihat wujudnya yang dewasa, tapi aku tahu dia adalah Meng Zhang. Naga Biru itu sedang asyik membaca buku sambil tiduran di atas sebuah cabang pohon. "Ini benar-benar menyedihkan. Si Harimau Putih ingin bermain dengan Tuan Phoenix. Si Burung Merah ingin memanipulasi Tuan Phoenix. Tetapi Tuan Phoenix sendiri ingin apa?" Gumamnya tanpa sedikitpun melepaskan pandangan dari buku yang dibacanya.
Pertanyaan itu diajukan tanpa menunutut jawaban. Tetapi dia hanya toh menjawabnya dengan suara ringan dan tawa kecil. "Aku ingin meminjam bukumu, Meng Zhang."
Jawaban yang luar biasa... Maksudku, luar biasa bodoh. Ah, tapi aku yakin itu hanya bercanda.
Meng Zhang, tentu saja menjawabnya dengan cuek sekali sambil memutar bola matanya. Untuk pertama kalinya matanya terlepas dari deretan huruf di bukunya itu. "Tunggu kau jadi manusia, baru aku pinjami bukuku."
Oh ya? Meng Zhang berkata begitu? Hmmm... seharusnya kalau begitu sekarang aku boleh meminjam bukunya...
"Ha! Sampai satu juta tahun lagi, itu tidak akan pernah terjadi!" Balas Jian Bing sambil tertawa, kemudian Harimau Putih itu menepuk bahunya. "Kau tidak perlu pinjam buku darinya, Feng xun-jue! Kau kan sudah cukup pintar! Tidak perlu belajar terus sepertinya!" Bodoh benar... apa Jian Bing tidak tahu kalau dia sebenarnya sedang bercanda?
Aku yang di masa lalu hanya menyunggingkan seulas senyum. Tetapi senyum itu bukan senyum senang melainkan senyum... sedih. "Tapi, bagaimana kalau itu benar terjadi?"
"APA? Kau jangan bercanda, Feng xun-jue!" Seru Ling Guang dengan sangat berlebihan. Wah... wah... wah... Ling Guang ini... "Itu tidak mungkin terjadi, kan? Mana mungkin Feng xun-jue menjadi manusia hanya untuk membaca buku Meng Zhang?"
"Kalau Feng xun-jue berkata begitu, berarti mungkin saja dia benar-benar akan menjadi manusia." Suara terakhir muncul. Suara milik Si Xiang keempat, Zhi Ming si Kura-kura Hitam. Dia berjalan mendekati kerumunan itu. "Tetapi yang pasti bukan untuk meminjam buku Meng Zhang."
Melihat kedatangan Zhi Ming, aku yang seorang lagi-lah yang terlihat sangat antusias. Dia langsung berlari menyambut Zhi Ming. Sesudah Zhi Ming memberi hormat, barulah dia bertanya. "Zhi Ming, bagaimana keadaan di Ren Huan? Baik-baik saja?" Tanyanya.
Zhi Ming menggeleng. "Apa yang perlu dikhawatirkan, Feng xun-jue? Tentu saja segala sesuatunya, kegiatan manusia dan hewan, keseimbangan daratan dan lautan, semuanya berjalan dengan damai dan tenang." Jawabnya dengan nada yang sangat terhormat.
Dia hanya mengangguk sekali, dan itu pun sepertinya kelihatan sangat ragu. "Tapi, sebaiknya aku pergi sendiri ke Ren Huan..."
"Tidak! Tidak! Tidak!" Belum selesai dia bicara, Ling Guang sudah menarik tangannya dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan. "Kau tidak boleh ke Ren Huan! Kau harus tetap di Tian Shang! Kalau ingin ke Ren Huan, suruh saja salah seorang di antara kami!"
"Kenapa?"
"Karena aku takut kalau kau ke Ren Huan, kau akan menjadi ren-manusia betulan!"
Jawaban Ling Guang yang begitu konyol segera disambut tawa oleh yang lainnya. Bahkan aku dan San Zang di sini juga tidak bisa menahan tawa. Dan mau Ling Guang memaksa bagaimanapun, dia toh tetap pergi. Wah, aku tidak menyangga Ling Guang separah ini. Pantas saja saat di Istana Wei dulu dia benar-benar mengkhawatirkanku.
"Ling Guang sangat baik pada da-ge, ya?" San Zang menyahut tiba-tiba. "Ah, sebenarnya bukan hanya Ling Guang saja, semua Si Xiang sangat baik pada da-ge! Enak sekali ya punya teman seperti itu..." Gumam San Zang sambil menunduk, seolah sedang berandai-andai. "Ah, tapi memang da-ge baik sekali, sih. Makanya punya banyak teman. Kalau saja San Zan punya teman sebanyak itu..."
Aku tersenyum kecil sambil membelai rambut coklatnya. "Siapa bilang San Zang bukan orang baik? San Zang kan juga punya banyak teman? Kalau bukan, Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Zha Wujing itu siapa?" Tanyaku, membuat pikirannya sedikit terbuka. Mengenai semua teman-teman San Zang itu, selain Wukong, aku belum pernah bertemu. Itu hanya aku baca dari legenda saja. "Dan lagi, aku kan juga temanmu, San Zang!"
"Ah! Iya, ya!" San Zang menepuk dahinya sendiri. "Benar juga! Da-ge kan juga temanku! Punya teman baik seperti da-ge sudah membuat San Zang senang sekali, apalagi ditambah Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Zha Wujing! Wah! San Zang ternyata punya banyak teman."
Melihat tingkah San Zang yang seperti itu membuatku tidak bisa tidak tertawa. Habis, dia memang lucu dan menyenangkan, sih...
Ah, tiba-tiba saja suatu pikiran terbersit di kepalaku. Tadi, Phoenix itu, aku yang di masa lalu, mengatakan tentang menjadi manusia bukan? Dan dengan ekspresi seperti itu... Apa mungkin... mungkin saja... aku yang dulu sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Dia tahu akan ada dia di masa depan yang seorang manusia?
Tapi kalau begitu, kenapa aku tidak tahu tentang aku di masa lalu yang seorang Phoenix?
Pengungkapan misteri bagian satu!
Nahhh... ini dia chap yang udah saya tunggu-tunggu buat ditulis...
Oh, dan satu lagi, berhubung saya lagi sekolah arsitek, sekarang entah kenapa saya rasa kalo saya menjelaskan tentang bangunan kok rasanya detail banget... XDDD dan, BTW, tempat yang bentuknya segitiga dan balh... blah... blah... itu secara simple adalah prisma... yang kalau di percobaan fisika kena cahaya putih bisa membaur jadi tujuh warna itu loh~ ayo... ayo... ayo... fisikanya dipake... Eh, saya udah nggak peduli lagi kalo tempat kayak getu nggak kelihatan Chinanya, ato malah kagak mungkin eksis di dunia... pokoknya pake imajinasi doeloe...
Trus, Zhu Bajie ama Zha Wujing itu bawahan San Zang yang lain selain Sun Wukong. Maaf nggak saya munculkan di sini...
BTW, saya udah mendesign ulang Feng ama Huang (AKA Lu Xun dan Yangmei di masa lalu)... tapi belum saya warnai... wewww... akan secepatnya saya selesaikan...
Wokey... that's all kayaknya...
Updatenya next week hari minggu~
