UNCONDITIONALLY

EXO Fanfiction

Warning: BL

Pairing: HunKai, Sehun X Kai (Kim Jongin)

Cast: Lay, Suho, Kris, Xiumin, Chen, others

Rating: T-M

Halo ini sekuel BLACK yang kesepuluh selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan Happy reading all. Ah ya maaf chapter kemarin salah tulis END hehehe….

PREVIOUS

"Aku akan ke toilet." Dusta Kris. "Semoga kau masih hidup Sehun!"Kris memberi semangat sebelum keluar dengan membanting pintu ruangan Xiumin.

"Maaf Xiumin hyung, ehmmmm…, Hyung tidak akan melakukan kekerasan padaku kan?"

"Bagaimana ya?" Xiumin bertanya dengan nada main-main. Sehun hanya bisa menghembuskan napas kasar, ia lupa jika Kris bukan tipe Xiumin. Sama sekali bukan tipe Xiumin, bahkan secara ekstrim jempol kaki Kris bukan tipe Xiumin.

"Hyuuuuunggggg!" Sehun berteriak saat Xiumin menarik telinga kanannya cukup keras, hal yang selalu Xiumin lakukan saat Sehun berubah menjadi anak nakal dan jahil, sepanjang ingatan Sehun.

BAB SEPULUH

Jongin menarik napas dalam-dalam seharusnya ia menunggu Sehun pulang sebelum datang ke tempat ini, namun ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia terlalu rindu itu saja alasan sederhananya. Maka, Jongin dengan sengaja mengabaikan ponselnya yang sejak tadi bergetar, panggilan Sehun. Jika ditanggapi sekarang Sehun akan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan. Jongin malas untuk berdebat sekarang.

Jongin membawa dua buket mawar, satu untuk Suho dan satu untuk Lay. Mereka dimakamkan berdampingan. "Haahhh…," Jongin mengembuskan napasnya perlahan. Mengeratkan syal yang melingkari lehernya, udara benar-benar beku sekarang dan salju tengah turun. Jongin duduk dan menekuk kedua kakinya, duduk di hadapan nisan Suho dan Lay. "Selamat siang, bagaimana kabar kalian?" Jongin tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, semoga kalian bahagia di sana. Dimanapun."

Jongin mengambil batu kerikil dan memainkannya. "Siwon hyung ingin aku menunjukkan diri di depan publik, aku menolaknya. Aku tidak suka menjadi tenar. Biar mereka membaca tulisanku saja tidak perlu melihat wajahku. Setelah ini aku akan pergi mengunjungi Ibu, jika tidak ada perubahan rencana."

Jongin menggaruk pelipis kanannya. "Aku memakai nama kalian berdua di dalam ceritaku, ah aku menuliskan cerita hidup kalian. Tenang saja aku melewatkan bagian yang menyedihkan, aku hanya menulis bagian yang paling menyenangkan dalam hidup kalian." Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. "Aku melakukannya untuk Youne, aku ingin dia mengenal kalian, dekat dengan kalian, meski dia tidak memiliki kenangan tentang kalian berdua."

Kedua mata Jongin mengerjap cepat. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan menangis lagi, aku sangat lega dan bahagia bisa berada di sini menemui kalian. Aku yakin kalian bisa melihatku sekarang dan meski kalian tidak bisa menjawabku, aku tetap bahagia. Ah ya aku sudah menikah dengan Sehun. Mungkin kalian sudah tahu, atau mungkin kalian bahkan hadir di upacara pernikahan kami."

Jongin berdiri membersihkan salju yang menempel pada bagian belakang celanannya. "Maaf aku tidak bisa berlama-lama, aku janji akan lebih sering berkunjung. Meski aku berusaha untuk tegar namun berada di sini sedikit lebih lama lagi," Jongin tersenyum tipis. "Aku pasti akan menangis padahal aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Selamat tinggal Suho hyung, Lay hyung." Jongin melambaikan tangan kanannya singkat sebelum berbalik dan berjalan pelan meyusuri jalan setapak yang membelah pemakaman.

Jongin menggumamkan lagu yang selama beberapa hari ini selalu ia dengarkan Miracles in December untuk mengusir rasa sepi melintasi pemakaman yang sepi. Tanpa sadar Jongin mulai bernyanyi pelan. "I'm struggling to find you who I cannot see. I'm struggling to find you who I cannot hear. I see things that I couldn't see before.
I hear things that I couldn't hear before. After you left me, I have grown a power that I didn't have before."

Jongin menggumamkan lagunya sambil melangkah menuruni anak tangga dengan perlahan. "If I just think of you, I can fill this world with you, because each snowdrop is one tear drop that belongs to you. But theres just one thing that I can't do and it's to make you come to me. I hope I don't have this miserable power."

"Jongin."

"Ah Sehun?!" Jongin tentu saja terkejut dengan kehadiran Sehun yang menunggu di ujung tangga tiba-tiba. "Kau pergi dengan apa?"

"Taksi."

"Kenapa tak menungguku?"

"Kau butuh lebih banyak waktu bersama sahabat-sahabatmu, bukankah aku sudah mengatakannya di telepon juga di pesan."

"Aku ingin mengantarmu." Jongin hanya tersenyum menanggapi kalimat Sehun. "Jongin." Sehun bersikeras.

"Maaf, aku tidak menunggumu. Bagaimana kabar Xiumin hyung, Kris hyung, dan Chen hyung?" Jongin bertanya sambil melewati tubuh Sehun yang menghadangnya. Ia tidak ingin mendebatkan hal sepele terlalu lama.

"Mereka baik-baik saja, ah mereka ada di mobil ingin bertemu denganmu." Jawab Sehun sambil menjajari langkah Jongin.

"Benarkah?!" Jongin tidak percaya jika ketiga sahabat Sehun datang.

"Ya, aku sudah melarang mereka namun mereka tetap memaksa. Mereka ingin mengajakmu makan bersama."

"Aku ingin bertemu dengan Ibu hari ini, bagaimana jika lain kali?"

"Aku sudah mengatakan jika kau bisa Jongin." Jongin terdiam. "Maaf aku tidak menanyakannya padamu."

"Tidak apa. Sehun saja yang pergi, aku sudah mengatakan tadi jika kau butuh lebih banyak waktu bersama sahabat-sahabatmu."

"Jongin….,"

"Tidak ada penolakan." Potong Jongin. "Aku yakin kau merindukan sahabat-sahabatmu."

"Hmmm." Sehun hanya menggumam pelan. "Lalu kau bagaimana?"

"Aku bisa pergi dengan taksi." Jongin tersenyum lebar. "Aku akan baik-baik saja jangan cemas Sehun, astaga aku bukan anak kecil yang akan tersesat."

"Baiklah." Sehun menjawab setengah hati.

"Ayo, aku ingin bertemu dengan Xiumin hyung dan yang lainnya sebelum berangkat."

"Ayo." Balas Sehun sambil meraih dan menggenggam tangan kanan Jongin. Keduanya berjalan bersama menuju tempat parkir.

Xiumin, Kris, dan Chen berdiri di dekat mobil Sehun. "Jongin!"

"Chen jangan berteriak di dekat telingaku!"

"Maaf Xiumin hyung."

"Jongin!" Chen mengulangi kembali, Xiumin mendengus sebal dan Kris pura-pura tidak tahu.

Jongin tersenyum lebar. "Bagaimana kabar kalian semua?"

"Baik." Chen yang paling bersemangat dengan kehadiran Jongin, ia langsung memeluk Jongin dengan erat. Jongin tertawa menanggapi tingkah konyol Chen.

"Sudah." Ucap Xiumin sambil menarik kemeja belakang Chen, menjauhkannya dari Jongin.

"Halo Xiumin hyung."

"Hai Jongin." Xiumin berucap ramah, iapun memeluk Jongin namun dengan cara yang lembut dan tak beringas. Xiumin melepaskan pelukannya mengambil langkah mundur, memberi ruang kepada Kris untuk mendekati Jongin.

"Kami semua baik-baik saja." Ucap Kris sambil tersenyum lebar dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Dengan senyum mengembang Jongin menjabat tangan Kris.

"Bagaimana jika kita makan siang bersama?" Xiumin menggeser tubuh Kris ke kanan dengan cara menyikut lengan Kris.

"Maaf Xiumin hyung, aku ingin menemui Ibu hari ini. Lain kali ya."

"Ahhhhh…, sayang sekali." Chen mengutarakan kekecewaannya dengan keras. "Awwww!" dan dia memekik kencang karena Xiumin menendang tulang keringnya.

"Maafkan dia. Ah maafkan mereka berdua, mereka pasangan idiot."

"Kami bukan pasangan!" pekik Kris dan Chen bersamaan. Sehun tertawa kencang di belakang Jongin, ia tidak bisa menahan tawa melihat kekonyolon Kris dan Chen.

"Diam kau albino!" Kris memekik kesal.

"Dasar cadel!" sambung Chen tak mau kalah menistakan Sehun.

"Aku tidak cadel!" protes Sehun.

"Ya sayang sekali, tapi tidak apa-apa, tidak perlu sungkan." Xiumin tersenyum ramah mengabaikan gerutuan Kris dan Chen di belakang tubuhnya.

"Sekali lagi aku minta maaf Hyung." Balas Jongin mengabaikan pertengkaran Sehun dengan Kris dan Chen.

"Hmmm, baiklah kalau begitu biar Sehun mengantarmu aku bisa pulang dengan taksi, dan kurasa Kris akan berkencan dengan Chen."

"Astaga Xiumin hyung!" Kris berteriak frustasi. "Berhentilah menjodoh-jodohkan aku dengan Chen."

"Ya, betul sekali Xiumin hyung kenapa terus memojokkan kami sudah jelas hubungan kami tidak ada baik-baiknya sama sekali."

"Aku suka melihat pertengkaran kalian." Jawaban Xiumin membuat Kris dan Chen terdiam.

"Apa Xiumin hyung sedikit psiko?" bisik Sehun pada Chen dan Kris.

"Diam atau kepalamu dilempar sepatu." Peringat Chen.

"Kurasa Sehun hanya akan dicubit atau ditarik telinganya, berbeda dengan kita." Kris menanggapi dengan berbisik.

"Kalian bertiga berhenti berbisik!" teriakkan Xiumin membuat Kris, Chen, dan Sehun menegakkan tubuh masing-masing. Dan tak lupa menggeser tubuh mereka agar sedikit menjauhi satu sama lain.

"Tidak, Sehun akan pergi dengan kalian, Sehun butuh hiburan." Ucap Jongin tulus.

"Lalu kau bagaimana?"

"Aku bisa pergi dengan taksi."

"Jongin aku bisa mengantarmu sebelum pergi dengan Xiumin hyung dan lainnya."

"Tidak, aku bisa pergi sendiri." Jongin menoleh ke belakang menatap Sehun sembari tersenyum. "Kalian bisa bisa mengantarku sampai di dekat jalan raya."

"Baiklah." Sehun menjawab masih dengan tatapan setengah hati darinya. Berikutnya Sehun membukakan pintu penumpang depan untuk Jongin. Xiumin, Kris, dan Chen, duduk berhimpitan di kursi belakang. Xiumin diapit oleh Kris dan Chen.

"Merapat." Ucap Xiumin sambil menyikuti lengan kanan Kris.

"Sudah tidak bisa lagi Hyung…," balas Kris merasa risih karena Xiumin terus menyikuti lengannya.

"Rapatkan kakimu!" Xiumin terus memaksa, menahan kesal Kris melakukan apa yang Xiumin perintahkan. Merapatkan kedua kakinya. Chen dan Sehun terkikik pelan melihat tingkah Kris. Xiumin hanya mendelik sebal.

Tidak sampai lima menit mobil yang Sehun kendarai berhenti di tepi jalan yang memang diizinkan untuk memarkir mobil. Jongin tersenyum menatap wajah Sehun. "Aku pergi dulu ya."

"Hati-hati Jongin."

"Ya, aku akan mengirim pesan setelah sampai di sana."

"Aku akan menjemputmu bagaimana?"

"Tidak perlu, nikmati saja waktumu dengan Xiumin hyung dan yang lain. Kita bisa bertemu lagi nanti di rumah."

"Ya." Sehun menjawab singkat. Ia perhatikan Jongin melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk membuka pintu mobil. "Jongin."

"Ya?" Jongin menoleh menatap Sehun.

Sehun mencondongkan tubuhnya ke kanan, dengan cepat mendekati Jongin. Mengecup pipi kiri Jongin. "Hati-hati." Ucapnya tulus. Jongin mengangguk pelan sebelum akhirnya benar-benar turun dari mobil Sehun.

Keheningan tercipta beberapa saat di dalam mobil. Apa yang Sehun lakukan membuat ketiga sahabatnya merasa sedikit iri. Mereka juga ingin mendapatkan pendamping hidup yang tulus. "Aku pindah ke depan!" pekikan Chen mengakhiri keheningan di dalam mobil. Dan Chen bukannya turun dari mobil, dia berpindah ke depan dengan melangkah ke depan menginjak kursi penumpang depan sebelum mendaratkan pantatnya.

Sehun hanya diam sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkan salah satu kakaknya itu. Chen memakai sabuk pengamannya kemudian menepuk pelan bahu kanan Sehun. "Kapan kita berangkat?"

"Setelah Jongin mendapatkan taksi dan naik taksi."

"Baiklah." Ucap Chen sembari menyandarkan punggungnya.

Beruntung taksi yang Jongin tunggu datang dengan cepat, setelah Jongin masuk dan taksi itu pergi. Barulah Sehun membawa mobilnya pergi. "Punya rekomendasi restoran apa yang akan kita kunjungi?"

"Restoran biasa." Balas Kris yang disetujui oleh semua orang.

.

.

.

Dua jam barulah Jongin sampai di tempat rehabilitasi sang Ibu, bukan karena jaraknya yang jauh, namun Jongin mampir untuk membeli sesuatu ditambah lagi dia menghabiskan waktu setengah jam berdiri di depan pintu kamar. Berdebat dengan dirinya sendiri apa sekarang dia bisa masuk atau tidak.

Setelah meyakinkan dirinya sendiri untuk masuk, Jongin mendorong pintu perlahan. Melangkah masuk, ibunya terduduk di depan jendela kamar. Melukis. "Selamat sore." Jongin berucap lembut. Saat ibunya tak memberi tanggapan, Jongin sudah berniat untuk berbalik dan keluar.

"Ah, Jongin." Kedua mata Jongin membola ia tidak percaya jika ibunya mengenali dirinya. Jongin tersenyum lebar, ia melangkah cepat menghampiri sang ibu memberinya pelukan erat. "Hai Jongin Sayang, selamat atas pernikahanmu."

"Terimakasih banyak."

"Duduklah kau harus bercerita banyak kepada Ibu."

"Ibu juga, Ibu berhutang banyak cerita padaku." Jongin membalas kemudian diiringi oleh sebuah senyuman manis. Ia letakkan tas belanjanya ke atas lantai dan menarik salah satu kursi kayu. Duduk di sisi kanan tubuh sang ibu. Ia perhatikan lukisan setengah jadi di hadapan sang Ibu. Sebuah taman bunga yang indah namun dipayungi oleh awan mendung yang nampak suram.

"Jadi—bagaimana upacara pernikahanmu dengan Sehun?" Taerin bertanya sambil menggenggam tangan kanan Jongin dengan lembut.

"Semuanya berjalan dengan lancar, hanya upacara sederhana, ada tiga sahabat Sehun, Ayah dan Youne. Sehun melakukannya dengan tiba-tiba. Aku sama sekali tidak diberitahu itu sangat mengejutkan."

"Kau sangat bahagia."

"Apa?" Jongin menatap bingung wajah sang ibu.

"Kau tersenyum lebar dan kedua bola matamu berbinar, aku yakin kau pasti sangat bahagia."

"Iya Ibu." Jongin membalas singkat.

"Ayahmu hampir setiap hari datang ke sini bersama dengan Youne." Jongin menelan ludahnya kasar, ia takut jika ibunya masih belum bisa menerima semua yang terjadi. "Youne dia sangat mirip dengan Suho." Jongin tak membalas.

"Dokter bilang jika Ibu bisa kembali ke rumah dua minggu lagi meski tetap dalam pengawasan dokter."

"Ibu—Ibu sudah bisa menerima semuanya?" Jongin bertanya dengan ragu.

"Belum sepenuhnya ada saat dimana Ibu ingin mengingkari semua yang terjadi tapi itu tidak berguna kan? Semuanya tidak akan kembali. Suho tidak akan kembali. Keluarga kita sudah berubah."

"Aku juga belajar untuk menerima semuanya Ibu, ada Sehun yang selalu membantuku. Dan aku ingin Ibu merasa sepertiku, tidak sendirian melewati semua ini." Taerin mengangguk pelan, Jongin tersenyum tipis. "Ah aku membawakan sesuatu untuk Ibu."

"Apa?!" Taerin terdengar serius dengan hadiah yang Jongin bawakan.

Jongin tersenyum lebar sambil mengeluarkan sesuatu dari tas belanjanya. Sebuah buku diary dan alat tulis. "Ibu pernah mengatakan padaku saat semunya buruk, tuangkan semuanya lewat tulisan. Mungkin ini juga bisa membantu Ibu."

"Ah terimakasih banyak Jongin, Ibu yakin ini akan sangat membantu. Perawat juga melakukan hal yang sama, namun mereka tidak memberi Ibu buku untuk menuliskan perasaan Ibu."

"Apa yang mereka berikan?"

Taerin beranjak dari kursinya, Jongin mengikuti setiap pergerakan sang Ibu. Taerin menarik laci dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kardus sepatu bekas. "Ini." Jongin menerima kardus yang diulurkan sang ibu. Membukanya dan melihat banyak catatan-catatan yang tertulis di atas kertas warna-warni.

Setiap kertas berisi empat perintah sederhana. Diawali dengan bangun pagi, merapikan tempat tidur, mandi, dan selanjutnya ditambah perintah tambahan seperti menyiram bunga, melukis, bertemu dengan orang-orang baru, berbagi cerita, dan mendengarkan musik. "Apa perintah hari ini?"

"Melukis."

"Ibu melukis padang bunga itu?"

"Ya, Ibu sudah mengerjakannya hampir satu minggu ini."

"Padang bunganya indah tapi awannya mendung."

"Ya." Taerin menjawab singkat.

"Tapi tidak apa-apa lukisannya indah." Jongin memuji dengan nada ceria. "Kita bisa menggantungnya di rumah saat Ibu pulang nanti."

Taerin kembali ke kursi menatap lekat-lekat lukisan di hadapannya. "Apa kau tahu arti lukisan ini, Jongin?"

"Tidak. Aku tidak pandai dalam hal seperti lukisan."

"Padang bunga indah ini adalah apa yang Ibu miliki dan awan hitam adalah apa yang telah pergi dari Ibu." Jongin mendengarkan dengan seksama. "Kau, Ayahmu, dan Youne adalah padang bunga, Suho dan Lay adalah awan mendung. Selama ini Ibu terus menatap awan mendung melupakan padang bunga indah di bawahnya. Ibu terlalu bersedih dan melupakan apa yang masih Ibu miliki."

"Semua butuh waktu Ibu, setiap luka membutuhkan waktu untuk sembuh."

"Maafkan Ibu, Jongin, Ibu sudah membuatmu menderita, membuat ayahmu menderita, dan menelantarkan Youne."

"Tidak, tidak perlu meminta maaf. Sudah cukup Ibu, ini sangat menyakitkan tapi kita harus melanjutkan hidup. Sudah, jangan lagi ada air mata sekarang saatnya untuk berbahagia."

Taerin tersenyum lebar menatap wajah putra bungsunya. "Iya, sudah cukup air mata yang keluar sekarang saatnya untuk berbahagia." Iapun memeluk putra bungsunya dengan erat. Jongin membalas pelukan ibunya, meski masih ada hal yang mengganjalnya. Cepat atau lambat ibunya harus tahu, bahwa dia tidak akan bisa memberikan cucu untuk kedua orangtuanya, memberikan keturunan untuk Sehun.

"Sebaiknya kau pulang, setelah ini Ibu akan pergi ke aula untuk bertemu dengan teman-teman Ibu. Kau harus pulang untuk Sehun." Jongin tertawa pelan mendengar kalimat sang ibu. "Kau bukan lajang lagi Jongin."

"Baiklah, kali ini aku tidak akan membantah Ibu."

"Ibu harus menjadi orang pertama yang mendengar kabar baik darimu dan Sehun."

"Ah." Jongin terperanjat untuk beberap detik. Ia tahu dengan jelas apa yang ibunya maksdukan. "Te—tentu." Jongin membalas terbata diiringi senyuman canggung.

"Kenapa gugup seperti itu Jongin?" Taerin menatap penuh selidik.

"Tidak aku hanya—tidak menyangkan Ibu akan mengatakan hal itu."

"Ada yang salah dengan pertanyaan Ibu?"

"Tidak." Jongin membalas cepat. "Tidak ada yang salah hanya saja aku—aku dan Sehun belum memikirkan tentang itu."

"Jangan menundanya."

"Ya." Jongin menjawab singkat.

"Sudah kau pulang saja, terimakasih atas kunjungannya. Bukan maksud Ibu untuk mengusirmu, tapi kurasa kau juga akan bosan mengikuti kegiatan Ibu di sini."

"Aku belum pernah mencobanya."

"Kau pulang saja Jongin, Sehun pasti merindukanmu."

"Setiap hari kami bertemu bahkan sebelum kami menikah."

"Jongin….," Taerin memanggil nama sang putra dengan nada menggoda.

"Baiklah kurasa aku akan pulang sekarang, aku akan sering berkunjung."

"Tentu Sayang." Taerin tersenyum dan membalas pelukan putra bungsunya, setelah mencium kedua pipi ibunya barulah Jongin melangkah keluar.

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, seharusnya ia merasa bahagia sekarang karena ibunya sudah banyak perkembangan dan diizinkan pulang tak lama lagi. Namun, ia merasakan beban lain yang sama beratnya menunggu di depan mata. "Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"

"Astaga Sehun!" Jongin hampir berteriak. "Kau muncul darimana? Kenapa kau bisa ada di sini? Sejak kapan?" Jongin bertanya tanpa jeda.

"Bernapaslah." Balas Sehun santai. "Lagipula apa sekarang kau tidak melihat berada dimana?"

"Ah." Jongin baru sadar dan mengamati keadaan di sekitar. "Tempat parkir.

"Hmmm, dan aku mengawasimu sejak keluar dari bangunan, tapi kau tidak menyadari kehadiranku. Kau terlihat memikirkan sesuatu apa keadaan Ibu buruk?"

"Tidak, Ibu baik-baik saja."

"Jadi apa yang mengganggumu?"

"Tidak ada hanya urusan sepele. Dimana Xiumin hyung dan yang lainnya?"

"Sopir Xiumin hyung menjemput mereka jadi aku bisa datang menjemputmu."

"Terimakasih banyak."

"Ayo pulang, apa kau ingin mampir ke suatu tempat sekalian menunggu makan malam?"

"Aku ingin pulang saja, makan malam dengan Ayah."

"Oke." Sehun memutar tubuhnya membukakan pintu mobil untuk Jongin. "Masuklah." Jongin tersenyum lebar sebelum melangkah memasuki mobil.

"Jika ada yang mengganggumu kau bisa bercerita padaku jangan memendamnya sendiri."

"Tentu." Jongin membalas singkat. Sehun tersenyum tipis sebelum mobil bergerak pelan meninggalkan tempat parkir.

TBC

Terimakasih pada pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan aneh saya, terimakasih rebiew kalian HK, rofi mvpshawol, Zhafiraep, My Love Double B, NishiMala, kaerinkartika, VampireDPS, cute, seorinkim88, kaila, ucinaze, Grey378, riyaaa ki, KaiNieris, jjong86, novisaputri09, NisrinaHunkai99, ohkim9488, Mara997, Flowerinyou, nabilapermatahati, Deviadevilcute, ulfah cuiitybeams, utsukushii02, tobanga garry, kanzujackson jk, vivikim406, OhKimRae94, diannurmayasari15, geash. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.