Pairing : Kaisoo

Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar. GS (untuk beberapa cast).

Rating : M

A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja ( Je Ra tidak berniat merubah banyak karena terlalu suka sama seluruh isi fic ini ) dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.


Chapter 27

"Good morning, Honey."

.

Kyungsoo menatap datar pada gelas kaca berisi penuh dengan cairan kental bewarna merah yang disodorkan Kai padanya. Tidak biasanya pemuda yang selalu ceria itu memasang wajah tanpa ekspresi seperti sekarang. Apa mungkin dia masih mengantuk? Tapi Kai tidak begitu menggubrisnya dan malah menarik tangan Kyungsoo untuk memegang gelas yang ditawarkannya.

Iris mata yang kini bewarna rubby milik Kyungsoo yang masih terduduk di atas ranjang besarnya itu menatap Kai yang nampak tersenyum padanya, lalu kembali melirik segelas darah yang kini ada di genggamannya.

Perlahan ia pun mulai mendekatkan mulut gelas tersebut ke bibirnya dan meneguk sedikit darah kental berbau anyir itu. Ketika ia merasakan cairan kental tersebut melewati kerongkongannya dan jatuh ke dalam lambungnya, perasaan 'melayang' dan juga lapar segera merasukinya hingga melahap habis semua minumannya hanya dalam beberapa tegukan saja.

Desahan puas meluncur dari mulut yang kini belepotan darah hingga jatuh menuruni dagunya itu. Iris matanya masih semerah mawar dan terlihat masih dipenuhi oleh euforia dari sensasi benda cair yang kini mengalir ke seluruh tubuhnya. Tubuh yang tidak sama lagi…tidak akan sama lagi.

"Sensasinya memabukkan? Hmm…Kyungsoo?" bisik Kai, kini ia berada di atas tubuh kekasihnya ―menjilati tetesan darah yang belepotan dari dagu dan bibir Kyungsoo. Mengecupnya dan mengajak sang pemilik bibir untuk saling melumat satu sama lain.

Beberapa tetes darah yang juga melewati kerongkongannya membuat taring Kai ikut mencuat dan iris kelamnya pun berganti pula menjadi rubby yang beradu terang dengan milik kekasihnya yang tengah melingkarkan tangan ke bahunya itu ―menatap Kai nakal sambil menjilati taring miliknya sendiri dengan begitu sensual. Sangat menggoda…setelah meminum darah memang membuat para vampire mabuk layaknya manusia yang mabuk oleh rum.

Tanpa pikir panjang Kai segera menyusupkan kedua tangannya ke dalam kemeja Kyungsoo ―hingga kemeja itu tersingkap ke atas, sementara Kyungsoo mulai mendesah oleh ulah lidah liar kekasihnya yang kini tengah bergerilya di lehernya.

Kai sangat suka dengan Kyungsoo yang dalam kondisi begini. Sepertinya mulai sekarang ia akan menyediakan 'makanan' dulu sebelum bercinta dengan Kyungsoo. Memang tidak ada yang lebih hebat daripada 'berurusan' dengan Kyungsoo yang tengah mabuk dan nakal begini.

"Mmmnggh….ahh~! Ngh…,"

PRAANGGG!

Kai sontak menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara kaca yang dipecahkan itu. manik rubbynya segera menoleh ke belakang dan mendapati Baekhyun ―dalam kondisi masih terikat erat di kursi― sudah berada tepat di pinggir ranjang dengan satu kaki yang terangkat ―menendang gelas tadi dari atas meja hingga jatuh.

Baekhyun menatap bengis pada Kai yang tengah mencumbui sahabatnya di hadapan matanya itu. Tidak berkedip dan tidak bergeming sampai akhirnya Kai menarik dirinya dari Kyungsoo. Dan ketika Kai melihat Kyungsoo kembali, pemuda itu rupanya sudah terlelap lagi.

"Kau mau apa?"

"Lepaskan aku."

"…"

"Aku tidak sudi melihatmu melakukan 'itu' dengan Kyungsoo."

Terdiam sesaat namun Kai pun setuju, "Hm."

.

.

.

-Morning-

Tok! Tok! Tok!

"Kyungsoo? Buka pintunya!" teriak Kai dari luar kamar tidak sabar ―kenapa juga Kyungsoo harus mengunci kamarnya? Kai tadi hanya sekedar turun ke bawah untuk mengambil koran pagi dan ketika naik kamarnya sudah dalam keadaan terkunci. "Kyungsoo!" panggil Kai lagi namun tidak ada jawaban dari dalam.

Kyungsoo tidak mati terbakar matahari di dalam 'kan? Kai ingat betul kalau semalam ia sudah memasang penyekat kembali di jendela kamar itu jadi tidak mungkin Kyungsoo terpapar sinar matahari.

Saat medengar suara shower dari dalam sana Kai pun akhirnya mendengus dan memilih turun kembali ke ruang tamu untuk membaca korannya.

Di halaman pertama terpampang wajah yang sangat tidak asing bagi Kai ―namun bukan wajah yang ingin dilihatnya pagi ini. Apalagi ketika ia baru saja selesai membaca rubrik mengenai orang itu terdengar suara ketukan pintu depan di ruangan itu.

Oke, bagaimana cara membuka pintu itu sekarang tanpa membuatnya terkena sinar matahari? Dan hell, siapa juga yang bertamu sepagi ini? Pengantar susu?

"Menyingkir jika kau ada di situ!" seru sebuah suara dari depan pintu ―membuat Kai mengeryit dan akhirnya menurut. Ia pun menyimpan korannya di atas meja lalu bersembunyi di balik dinding ketika pintu rumahnya (setidaknya sekarang sudah bisa disebut rumahnya juga) itu mulai terbuka ―menerangi satu ruang tamu― lalu kembali tertutup dan membuat rumah itu menjadi redup lagi.

Sang tamu yang hari itu cuti dari tempat prakteknya nampak tengah melonggarkan kerah baju dan kancing lengan kemejanya sembari menoleh sekilas pada koran yang Kai sampirkan di atas meja. Sikap pemuda bernama Chanyeol itu sangat santai ―seolah telah menganggap kediaman yang didatanginya seperti rumahnya sendiri. Ia menyampirkan jas besarnya di sofa ―tempat koper besarnya juga berada.

"Kau jadi bahan pergunjingan lagi, hem? 'Dokter Park Chanyeol tidak bisa menunjukkan cara kerja serumnya karena kehabisan bahan baku'?" celetuk Kai mengulangi judul rubrik yang tadi di bacanya sambil memasuki ruang tamu.

Chanyeol tidak mengubris, "Dimana dia?"

"Dapur." Sahut Kai segera. Siapa lagi yang dicari manusia ini kalau bukan si Baekhyun?

Chanyeol menatap Kai ―menyelidik. "Jadi? Bagaimana keadaan Kyungsoo? Dimana kau mendapatkan darah untuknya?" tanya Chanyeol santai.

Kai mengernyitkan dahinya. Bagaimana Chanyeol tau soal Kyungsoo? Siapa yang memberitahunya?

Baru saja Kai akan melayangkan pertanyaannya pada Chanyeol, Baekhyun sudah lebih dulu muncul dan memberi tatapan yang bisa Kai artikan bahwa pemuda inilah yang memberitahu Chanyeol soal Kyungsoo.

"Lalu apa tujuanmu datang kemari?" tanya Kai dingin.

Baekhyun nampak berjalan menghampiri Chanyeol dan memberinya segelas susu yang segera diteguk habis oleh sang dokter.

Dari tingkah laku mereka sepertinya Kai tau kalau tujuan Chanyeol datang adalah untuk menemui Baekhyun. "Hah. Silahkan menikmati waktu kalian," ketusnya lalu meninggalkan kedua orang itu. Lebih baik ia menemui Kyungsoo saja.

.

"Jadi…apa sangat susah mendapatkannya lagi?" tanya Baekhyun datar ―mengambil koran pagi Kai dan membaca rubrik depan surat kabar tersebut.

"Sangat." Jawab Chanyeol singkat sambil menatap malas kesudut ruangan sembari menyamankan diri di sofa. Maniknya itu kemudian menoleh pada sosok Baekhyun yang sedang berdiri di depannya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Dia mengambil cuti beberapa hari untuk mengistirahatkan dirinya. Beberapa minggu belakangan ini benar-benar menyabotase tenaga dan pikirannya. Pasiennya entah mengapa jadi membeludak. Hahh…mungkin pengaruh pergantian musim.

Dan…sosok Baekhyun yang entah kapan terakhir kali Chanyeol 'sentuh' terlihat sangat sehat. Segar…

"Ah!" Baekhyun memekik ketika sepasang lengan memeluk pinggul dan bahunya tiba-tiba dari belakang.

"Aku punya satu kantong darah untukmu," bisik Chanyeol nyaris mendesah, "Tapi kali ini kau harus membayarnya," sambungnya lalu menjilati tengkuk Baekhyun.

"Nngh!" erang Baekhyun. Ia sendiri sebenarnya mulai lapar dan juga 'lapar'. "K-Kamar… tamu ada…di lantai…nnh..dua..,"

.

BRAAKK!

"Huh?"

"…"

"Kau dengar itu, Kai? Itu dari kamar sebelah 'kan?" tanya Kyungsoo bingung. Acara mengelap rambutnya yang basah ―sehabis mandi― jadi terhenti karena suara mengagetkan barusan.

"Hm." Sahut Kai datar.

"Jangan ber-'hm' saja! Apa itu Baekhyun?" tanya Kyungsoo mulai heran dan segera menuju keluar namun di tahan oleh sang kekasih. "Apa?"

"Dia tidak sendirian." Sergah Kai.

Kyungsoo mengeryitkan dahinya, "Chanyeol?"

"Hm, ya."

"Cih!" decak Kyungsoo melempar wajah tak sukanya kearah lemari pakaian. "Kalau begitu kita turun ke bawah." Ujarnya sambil mencomot kemeja dan celana dari dalam sana kemudian segera mengenakannya dengan terburu-buru. "Aku tidak ingin mendengar-'nya'."

Sesaat setelah Kyungsoo selesai berpakaian, mereka berdua pun turun ke ruang tamu ―melewati ruang makan yang kosong melompong.

Baru saja Kyungsoo akan mengambil posisi duduk yang nyaman ―di salah satu sofa panjang dan mengulurkan tangannya untuk mengambil koran― ketika Kai tiba-tiba mengganggu dengan mendorongnya hingga terbaring lalu menaiki tubuhnya. Tidak hanya itu Kai kemudian malah menciumnya dan mulai melakukan hal yang segera membuat kusut kemejanya.

"Mmngh! He-Hey…jangan disini…,"

"Kenapa?"

"Mereka bisa melihatnya nanti."

Kai mendengus geli, "Hm, mereka berdua?" tanyanya remeh, "Mereka tidak mungkin turun sebelum sore. Jadi kau tidak perlu khawatir, berhubung kau tidak mau berada di kamar jadi terpaksa kita 'bermain' di sini."

"Nngh…," Kyungsoo hanya bisa menyahut dengan erangan saat bibir Kai mulai menjilati pipinya ―seolah kulitnya itu terasa manis.

Kai terus menciumi wajah Kyungsoo dengan penuh kasih lalu membawa kedua lengan itu untuk melingkar di bahunya.

"Kau benar-benar akan melakukannya di sini?" tanya Kyungsoo di sela-sela kegiatan Kai yang tengah menciumi lehernya sembari menanggalkan satu per satu kancing kemejanya.

Kai mengangkat wajahnya untuk bertemu pandang dengan iris Kyungsoo, "Tentu. Kita sudah pernah mencobanya di sini juga 'kan?" sahutnya sambil melempar senyum.

"Ugh, tapi aku…tidak suka dalam keadaan 'terbuka' di tempat seluas ini…,"

"Hmm…tidak masalah."

"Huh?"

Kai nampak bergerak turun dan melepas celana panjang dan juga boxer Kyungsoo hingga sebatas paha saja lalu mengangkat kedua kaki ―yang terkunci oleh celana yang tidak dilepas sempurna itu― ke atas hingga bokong dan testis Kyungsoo terekspos.

"Wuah! Tu-Tu-Tunggu dulu…!" pekik Kyungsoo panik, "Jangan langsung begitu!" serunya lagi sambil menutupi wilayah-wilayah 'vitalnya'―lubang anus dan kejantanannya― dengan kedua telapak tangannya.

"Kita akan melakukannya begini saja, bagaimana?" tawar Kai sambil menurunkan resleting celananya dan menyodorkan ujung penisnya ke lubang Kyungsoo. "Kau tidak perlu telanjang."

"Ta-Tapi….err…," Kyungsoo berusaha menggerakkan kakinya yang terkunci oleh celananya sendiri dan juga ditahan oleh sebelah tangan Kai agar tetap terangkat hingga lututnya nyaris menyentuh wajahnya, "Aku…tidak bisa bergerak banyak..," protesnya.

Kai nampak tersenyum di antara kedua kaki Kyungsoo, "Disini aku yang bergerak."

Bibir mungil Kyungsoo mengerucut, "Nanti kakiku keram..," protesnya dan hanya dibalas dengusan geli oleh sang kekasih.

.

0l=======*You Chose This*=======l0

Kyungsoo bergerak menyamankan diri ke dalam pelukan Kai yang tengah memeluknya dari belakang. Ia lelah dan benar-benar merasa tenang dan damai dengan posisinya sekarang.

"Nah, Kai…," panggilnya sambil mendongakkan wajahnya ke atas untuk menatap sang kekasih, jari-jarinya terulur ke atas untuk menarik-narik lembut rambut Kai manja.

"Hm..?"

"Apa kau…akan membiarkanku berburu?"

Yang ditanya nampak tertegun sesaat mendengar pertanyaan yang dilayangkan padanya. Ditatapnya mata Kyungsoo dalam-dalam dan semakin tertegun ketika melihat keseriusan di sana ―jemari yang tengah memainkan ujung rambutnya pun berhenti memelintir manja surai hitamnya.

Kai bergerak mencium kening Kyungsoo, "Tidak akan…," bisiknya.

"Tapi…,"

"Tidak akan kubiarkan kau menderita lebih dari ini." Sambung Kai tegas ―sambil tetap menempelkan bibirnya di kening Kyungsoo.

"Lalu bagaimana caranya…,"

"Aku punya ide."

"Hm? Ide apa?" Kyungsoo nampak antusias dan berbalik badan menatap Kai.

"Nanti akan kuberitau," jawab Kai, "oke?" tangannya terulur untuk menyentuh wajah pemuda di hadapannya dan menatapnya sayu…berusaha untuk hangat.

Tok! Tok! Tok! Kriiieeett!

"Huwa―,"

Teriakan Kyungsoo tertahan ketika Kai tiba-tiba melompat ke arahnya dan memeluknya yang kini terbaring kembali ke atas sofa.

'Apa lagi ini? Jangan bilang dia masih..,' pikir Kyungsoo yang menganggap Kai akan 'menyerangnya' lagi seketika berubah ketika dilihatnya wajah Kai meringis kesakitan dengan punggung yang berasap akibat sinar matahari yang masuk dari pintu depan yang dibuka seseorang. Beruntung pintu itu segera ditutup kembali, jadi Kai dan Kyungsoo bisa kembali dalam posisi duduk.

"Kai! Kau…kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo panik.

"Hng..," Kai berusaha bergumam untuk menenangkan Kyungsoo namun yang keluar malah erangan kesakitan.

Kyungsoo langsung berdelik ke arah pemuda yang seenaknya bertamu dan masuk begitu saja ke dalam rumahnya itu.

"Gelap seperti biasa." Sahut sang tamu dengan nada cuek khas miliknya.

"Tao-ge…," Geram Kyungsoo.

"Kau tidak perlu semarah itu, dia tidak akan tewas hanya dengan kulit sedikit terbakar begitu."

"Mau apa kau datang kemari?" pertanyaan dengan tekanan meluncur dari bibir Kyungsoo.

"Begitukah kau menyambut keluargamu yang tengah bertamu?"

"Aku bukan lagi bagian dari 'keluarga'."

"Owh, dan aku bisa dibilang tidak termasuk dalam 'Keluarga yang membuangmu' karena datang berkunjung seperti ini."

Tep tep tep

Terdengar suara dua pemuda yang menuruni tangga dengan santai dan lalu bergabung di ruang tamu. Baekhyun dan Chanyeol.

Baekhyun sempat sedikit tertegun melihat Tao ada di rumah itu sementara sang pendatang itu sendiri segera memasang wajah berkerut yang seolah menyelidikinya.

"Oh, jadi kau punya hubungan khusus dengan dokter ini? Heh! Cukup mengejutkan." Celetuk Tao sinis. Terlihat raut wajah tak senang dari cara ia memandang Chanyeol.

"Aku tidak…," sergah Baekhyun berusaha memasang wajah datarnya.

Tao menepis dengan dengusan geli, "Tubuh yang terlihat 'segar', baju yang kusut, kissmark dan hmm…lebam di lehermu itu lalu..," Tao mengendus, "Bau ini…sudah jelas sekali, Baekhyun."

"Kau tidak kesini untuk sekedar berlagak detektif begitu 'kan?" celetuk Kyungsoo bergerak menghampiri kakak sepupunya dengan wajah bosan.

Iris Tao membulat seketika ―seolah ia baru saja melihat sosok 'yang tak seharusnya nampak' dari tubuh Kyungsoo― dan segera melempar tatapan serupa pada Baekhyun. Nafasnya tercekat dan ia berubah kaku. Sebuah sikap yang sangat langka ditunjukkan pemuda itu.

"Kyungsoo…," desis Tao menatap Kyungsoo nanar, "Baekhyun…kau juga…," sambungnya lalu berbalik pada pemuda di depannya. Tao nampak meraung kecil dan memegang dahinya seolah takut kepalanya itu akan jatuh dari tempatnya. Membuat gerakan face palm dan menyeringai sinis di baliknya. "Heh..heheh…," tawa ala psikopat pun melncur dari mulutnya, membuat semua orang di ruangan itu hanya bisa saling melempar pandangan bingung.

"Kulit pucat itu…kalian berdua sudah menjadi monster rupanya."

Sebuah pernyataan yang sontak membuat Kyungsoo dan Baekhyun sontak terhenyak tak percaya. Mereka sama sekali tidak berencana dan belum menyusun rencana bersama untuk menyembunyikan identitas baru mereka tapi…mendengar pernyataan telak dari orang terdekat mereka itu jelas cukup mengejutkan.

"Aku tau kau sangat bodoh Kyungsoo…sangat bodoh. Dan aku juga yakin Baekhyun tidak akan ikut 'berubah' seperti ini jika bukan karena kebodohanmu itu. Tapi sungguh…,sungguh Kyungsoo…," Tao menatap Kyungsoo sambil menggeleng tak percaya, "Aku sangat kecewa."

"…" speechless ―Kyungsoo hanya bisa menunduk.

"Kupikir dengan meninggalkanmu di sini setelah pertemuan terakhir kita kau akan kembali memikirkan keputusanmu itu. Namun rupanya kau…kau malah memilih menjadi penghianat!"

Deg!

"Apa kau tau,Kyungsoo? Alasan mengapa manusia mengutuk vampire?!" seru pemuda dengan setelan kemeja rapi itu dengan nada menghina, "Karena mereka membunuh manusia!"

"Vampire hanya berusaha mempertahankan hidup mereka! Mempertahankan hak mereka untuk tetap hidup, Tao-ge, ini sama saja dengan manusia yang membunuh binatang agar mereka bisa tetap hidup!" tepis Kyungsoo tidak terima dan segera mendapat tatapan menggertak dari pemuda yang lebih tua darinya itu.

"Kau…jangan samakan manusia dengan binatang!" tandas Tao. "Manusia yang memiliki akal dan perasaan tidak sama dengan binatang yang hanya memiliki otak dan naluri. Kau tidak akan tau…ada berapa banyak orang yang menangis, tersakiti dan dendam dari kematian satu manusia yang menjadi sarapanmu."

Kyungsoo terhenyak, ia memegangi mulutnya seolah akan memuntahkan sesuatu.

"Binatang tidak akan memiliki itu…," sorot mata benci dan kecewa bercampur aduk pada iris milik Tao, "Kau…bagaimana bisa kau memilih menjadi vampire, Kyungsoo? Jadi seperti itu…? Kini kau memilih untuk membunuh ah, bukan, tapi memangsa keluargamu begitu? Orang-orang yang memiliki darah yang sama dengan yang mengalir di tubuhmu sekarang?!"

"TIDAK! Aku tidak akan melakukan itu!" bentak Kyungsoo, wajahnya sangat pucat sekarang.

"Kenapa tidak? Kau akan hidup abadi selama tidak ada yang membunuhmu. Selama kau hidup dan terus makan, tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat, salah satu anggota keluarga kita yang berkembang biak akan menjadi menu makan malam di meja makanmu. Kau tidak bisa memungkirinya."

"Cukup…,"

"Dan kini kau malah mengajak Baekhyun? Ah! Kau…!" tunjuk Tao pada Chanyeol, "Kau seharusnya bisa membantu kekasihmu itu untuk kembali menjadi manusia, bukan?"

Chanyeol hanya diam sambil melempar lirikannya pada pemuda di sampingnya, "Aku tidak akan menjadi manusia kembali."

"Hah?" Tao semakin tidak percaya. "Kau tidak tertular bodohnya si idiot ini, 'kan?"

"Tidak." Tegas Baekhyun dan menatap Tao tajam, "Dengan kekuatan ini aku bisa melindungi Kyungsoo."

"Hah! Dan menambah daftar manusia yang akan tewas di tangan kalian begitu?"

"Itu resiko."

"Kalian sudah gila! Bertahan hidup dengan membunuh orang lain, memangnya kalian ini apa? Manusia purba?" Tao kembali berkoar-koar ―nyaris seperti menggila.

Kyungsoo masih tetap diam ―mengunci bibirnya rapat-rapat― ia telah yakin dengan keputusan yang diambilnya dan apapun hal buruk yang akan terjadi ―seperti kata Baekhyun―adalah sebuah resiko.

Miris…apakah cintanya yang sangat buta itu telah melenyapkan hati nuraninya sebagai manusia?

Selesai meraung-raung kecewa dan menghina, Tao segera menerjang pintu keluar hingga sinar matahari menyilaukan ruangan gelap itu ―sontak membuat Kai dan Chanyeol bergerak melindungi pasangan mereka masing-masing.

Baru saja pintu berderit itu tertutup Chanyeol segera mendorong Baekhyun ke balik sofa dan ikut keluar mengejar Tao.

.

Tao sangat kecewa hari itu. Ia sebenarnya berniat untuk melihat kembali keadaan adik sepupunya itu dan mungkin akan membujuknya untuk berhenti memikirkan ide gila tapi…semuanya sudah terlambat dan itu sangat memuakkan!

Grep!

"Lepaskan!" sentak Tao saat lengannya ditangkap dari belakang oleh dokter muda yang tercium anyir baginya itu.

"Kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu, brengsek!" cercah Tao geram dan kembali melangkah pergi namun ditahan lagi oleh Chanyeol.

"Aku butuh bantuanmu."

"Cih! Seharusnya aku membiarkanmu mencium ujung kakiku terlebih dahulu kalau saja aku tau tujuanmu adalah untuk meminta tolong."

"Hm…baiklah terserah. Seperti yang kau tau, aku bisa membuat serum itu lagi tapi…tentu tidak akan bisa tanpa bantuanmu." Chanyeol berkata dengan serius, salah satu kunci suksesnya selama ini adalah yah, pemuda Huang ini. Karena dialah Chanyeol bisa menyempurnakan serum miliknya, "Aku butuh kelinci percobaan lagi."

Tao nampak melembut saat melihat sang dokter mulai serius seperti itu, "Kau pikir menangkap vampire itu semudah menangkap lalat di malam hari? Tidak peduli seberapa teri mereka, mahluk-mahluk itu tetap saja sangat berbahaya dengan kekuatan yang dimilikinya. Lagipula sebenarnya harus berapa banyak vampire yang kau butuhkan untuk dijadikan kelinci percobaan? Bukankah kau sudah memiliki formulanya?" protes Tao.

Ia akui menangkap dan membunuh vampire sudah tidak asing baginya sejak ia bertemu dengan mahluk itu untuk pertama kalinya, tapi menangkap dan membiarkan mereka tetap hidup sambil di gotong ke laboratorium sangatlah tidak menyenangkan.

Ia harus mempertaruhkan nyawanya jauh lebih besar untuk melakukan itu. Baginya lebih mudah membunuh mahluk itu di tempat daripada berkereta dengan mereka di tengah malam.

"Ya, masalahnya ada pada bahan formula itu sendiri. Aku harus mengujinya pada 'mereka' untuk mengetahui ketepatan bahan yang kugunakan."

Dahi Tao mengernyit tidak mengerti, ia tidak bodoh tapi kalau berurusan dengan hal yang bukan bidangnya dia tentu saja bingung juga. "Terserah," ujarnya kemudian ―cuek.

"Aku butuh tiga ekor akhir bulan ini."

0l=======*You Chose This*=======l0

"Kita akan berburu binatang…," gumam Kyungsoo dengan sorot mata tanpa minat. Tubuhnya membungkuk di atas sofa ―menopang wajah down-nya dengan kedua tangan yang ia tautkan bersama.

"Itu mustahil." Sahut Kai di sampingnya, ia tau betul bagaimana rasanya darah binatang itu. Sangat tidak dapat diandalkan. Umpamanya manusia yang harus menahan lapar hanya dengan air mineral saja. Perutmu terisi namun rasa lapar itu tetap menggantung.

"Kita tetap akan berburu binatang." Gumam Kyungsoo lagi. Meski pendiriannya tetap teguh untuk menjadi mahluk noctural seperti vampire, kalimat-kalimat Tao nampaknya berefek pada dirinya.

Saat Kyungsoo akan melanjutkan kalimat penegasannya, Kai tiba-tiba muncul dan berlutut di hadapannya. Sorot mata Kai terlihat ambigu, lengannya kemudian terulur memegangi kepala Kyungsoo dan membawanya mendekat, mengecup keningnya penuh kasih.

"Aku janji…tidak akan ada pembunuhan yang terjadi di depan matamu," bisiknya sembari mengecup mata Kyungsooo yang menutup, "Dan tidak akan ada nyawa yang melayang di tanganmu," sambung Kai sembari mengecup kedua tangan Kyungsoo dalam genggamannya. "I love you..," dan bibir mungil Kyungsoo menjadi perhentian terakhir kecupannya.

0l=======*You Chose This*=======l0

Esok harinya Kyungsoo dibangunkan oleh suara gaduh dari lantai bawah. Ia pun bangkit dari ranjangnya. Kyungsoo jelas terheran-heran, kemarin malam Baekhyun telah dibawa Chanyeol kembali ke kediamannya untuk membantunya dalam sebuah riset ―meski Kyungsoo menolak habis-habisan karena takut Baekhyun akan dalam bahaya jika berada di kota dan Baekhyun juga memberontak untuk tetap tinggal bersama Kyungsoo, namun akhirnya, setelah Chanyeol mengajak Baekhyun bicara berdua, kedua sejoli itu pun meninggalkan desa ini. Jadi…siapa yang gaduh di bawah sana?

Saat mendengar suara terburu-buru seseorang yang turun dari tangga Kai yang malam itu berada di ruang tamu pun berbalik dan menyambut kekasihnya yang muncul dengan wajah terheran-heran.

"Siapa? Tadi itu siapa?" tanya Kyungsoo kelimpungan ketika ia sampai ke tempat yang ia yakini asal suara gaduh tadi ―terdengar seperti sekumpulan orang yang berjalan memasuki rumahnya, tapi kini yang berada di ruang tamu hanya dirinya dan Kai.

Kai nampak memandangnya aneh ―terlihat akan tersenyum namun sepertinya sadar kalau tersenyum bukan ekspresi yang tepat untuk ditunjukkan sekarang. "Kyungsoo," ujarnya meletakkan kedua tangannya pada bahu Kyungsoo agar menatapnya.

"Ada apa?" tanya Kyungsoo masih kebingungan.

Kai menoleh sesaat ―menimbang-nimbang― lalu menatap Kyungsoo lurus, "Aku membeli beberapa budak dan meletakkan mereka di ruang bawah tanah. Saat tengah hari mereka akan bertugas menjadi pelayan di rumah ini. Mereka yang akan membeli semua keperluan yang tidak bisa kita dapatkan ketika terang. Tidak satu pun diantara mereka yang tau siapa kita berdua, namun ada hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan ―seperti mengganggu kita, melepas tirai saat siang dan bertanya-tanya― sudah mereka pahami dengan baik." Jelas Kai.

"La-Lalu…apa kau akan mengambil mereka satu persatu seperti hewan ternak begitu?" ada yang mengganjal di dada Kyunsoo sekarang dan rasanya ngilu. Ia memelihara manusia untuk dibantai satu per satu?

"Tidak akan terang-terangan begitu." Ujar Kai, "Aku sudah membuat peraturan, agar mereka tidak keluar dari rumah ini saat malam dengan alasan adanya binatang buas yang berkeliaran di hutan ketika senja tiba." Katanya lagi. "Dan hanya orang-orang yang melanggarlah yang akan 'kupanen'."

-gulp-

"Apa…bisa dengan begitu? Mereka tidak akan berani melanggar 'kan…?" ringis Kyungsoo.

Kai menyeringai dan menatap yakin, "Jangan khawatir, akan kupastikan satu per satu dari mereka akan melanggar jam malam yang telah kutetapkan."

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo POV:

"Kisah ini akan berakhir disini. Hanya akan sampai disini…,"

Jujur di awal ketika aku mengambil keputusan itu ―keputusan untuk menjadi vampire sama seperti Kai― kupikir semua hal tentang kisah kami berdua…akan berakhir sampai disitu saja. Tepat ketika aku membuka mataku, semua masalah tidak akan berpengaruh lagi pada kami, kami akan hidup bahagia layaknya di negeri dongeng, tidak ada lagi ancaman dari kelompok Sehun, Baekhyun akan tulus dan merelakan hubunganku dengan Kai lalu aku dan Kai pun bisa kembali ke kehidupan kami yang sebenarnya ―di rumah kami sendiri. Yah, berakhir disitu. Berakhir bahagia.

Tapi sayang, rupanya pepatah yang mengatakan kalau 'Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang akan menentukan hasilnya' ternyata berlaku telak pula pada kaum vampire. Begitu miris.

Aku begitu bodoh saat berpikir semua akan baik-baik saja selama aku bersama Kai untuk selamanya.

Aku begitu bodoh…sangat naif. Tao-ge pantas memarahiku, Baekhyun pantas kecewa padaku, semuanya pantas menyalahkanku…aku memang sangat bodoh. Bodoh! Bodoh! Sangat bodoh!

Bagaimana bisa aku terhanyut pada pemikiran kalau semua akan baik-baik saja setelah aku menjadi mahluk peminum darah? Kenapa? Kenapa aku bisa berpikir seperti itu?

"Kyungsoo?"

"…"

"Ada apa..? Kau baik-baik saja?" Kai datang menghampiriku. Seharian ini aku berada di dalam kamar bahkan kemarin malam pun aku tidak turun sama sekali ke bawah dan hanya mengurung diri di tempat ini.

"Apa ada masalah?" tanya Kai lagi kali ini sambil duduk disampingku, mengelus punggungku lemah.

Aku menggeleng pelan namun tetap tertunduk menatap dipan.

"Mereka khawatir, kau tau. Kalau kau terus-terusan terlihat murung begini, mereka juga jadi merasa tidak nyaman dengan kondisimu."

Ketika Kai berkata begitu, mataku menangkap beberapa sosok orang yang tengah berusaha mengintip ragu-ragu dari balik bingkai pintu yang terbuka lebar di depan kamarku. Beberapa pasang mata memang nampak menatap khawatir dari sana.

"T-Tuan..Kyung..soo…?" lirih salah seorang dari pengintip-pengintip itu. Perlahan sosok yang memanggil tadi mulai keluar dari persembunyiannya lalu berdiri di depan kamar (tak satu pun dari mereka yang berani memasuki kamar ini, makanya gadis muda itu hanya berdiri di sana). "T-Tuan…Kyungsoo- …," panggilnya sekali lagi. "Erm..kalau kami punya kesalahan yang membuat tuan Kyungsoo merasa tidak nyaman…kami mohon maaf." Rijin ―nama gadis muda itu, ia berbicara dengan begitu hati-hati. Dia gadis belasan tahun berambut coklat pendek yang sangat manis, salah satu dari budak-budak yang Kai bawa tempo hari.

Tidak aneh jika mereka khawatir akan diriku, karena tidak seperti budak-budak pada umumnya ―yang hanya dijadikan babu dan hidup hanya untuk bekerja― mereka kuperlakukan bagaikan keluarga, yah meski dengan beberapa peraturan. Aku tidak pernah memerintah secara otoriter atau pun menyuruh mereka melakukan pekerjaan yang akan membuat mereka menderita, mereka bebas berpendapat dalam batasan yang tidak begitu tegas dan sesekali kubiarkan mereka merawatku sesuai keinginan mereka agar mereka senang.

Tidak ada yang aneh bagiku jika mengingat peran mereka diakhir hidupnya nanti, …ugh.

Well, begitulah…peran terpenting mereka yang sesungguhnya adalah saat mereka sudah menghembuskan nafas terakhirnya ―terhidangkan di atas meja makan dalam bentuk cairan kental bewarna merah, mengisi cawan anggurku dan Kai.

Tidak ada yang aneh untukku…tapi tidak dengan mereka. Mereka merasa terlalu sangat berhutang akan kebaikanku dan Kai ―tanpa mengetahui 'bayaran' sebenarnya yang harus mereka tanggung belakangan, mereka bahkan menolak untuk kusediakan kamar khusus di lantai pertama dan malah memilih untuk dikurung saja di ruang bawah tanah dengan alasan agar mereka tidak lupa diri kalau mereka adalah budak. Karena itulah, ketika malam tiba mereka semua pun dikurung dan dikunci dalam jeruji besi ―yang telah Kai perluas sedikit― beralaskan tumpukan jerami di bawah sana.

"Aku baik-baik saja," ujarku berusaha menenangkan. Mendengarku berkata demikian sambil melempar senyum tipis membuat Dan, Erika, Jihyun dan juga Misa akhirnya ikut keluar dari persembunyian mereka dan berdiri di belakang Rijin dengan wajah lega.

"Jadi? Apa aku sekarang boleh mengikir kuku tuan Kyungsoo? Biar kubuat cantik!" seru Rijin girang bahkan nyaris saja melompat masuk ke dalam kamar ini kalau saja Erika tidak menahannya.

"Ergh?"

"Boleh, ya? Ayolaah…tuan Kyungsoo~! Kali ini akan kugunakan pewarna jingga yang manis, oke?"

"Kau ini…tidak kapok-kapoknya mendandani tuan Kyungsoo seperti wanita." Celetuk Erika. "Tuan Kyungsoo itu seorang pria tau!"

"Uh, tapi…tuan Kyungsoo itu sangat manis kalau sedikit dibuat glamor, aku bahkan sering memikirkan tuan Kyungsoo menggunakan gaun jingga yang sangat manis dalam mimpiku," celotehan Rijin sukses membuatku sweatdrop. Beruntung dia tidak muncul saat aku masih menyamar sebagai Sookyung, kalau tidak ..ergh, aku tak tau lagi bagaimana jadinya kepribadianku nanti.

"Ba-Baiklah…, aku mau mandi dulu."

"Apa tuan Kyungsoo dan tuan Kai ingin disediakan makan malam? Misa baru saja membeli daging domba terbaik dari desa untuk tuan." Dan tersenyum dengan sopan seperti biasanya setiap ia berbicara. Aku mengiyakan dan kelima orang itu pun beranjak dari sana.

Masih kutatap sendu bingkai pintu kamarku setelah mereka semua pergi, rasanya…aku telah menjadi mahluk yang paling kejam di muka bumi ini. Tapi bisa apa memangnya aku? Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah bersikap sebaik mungkin pada mereka sebelum…

"Jangan terus-terusan memasang wajah seperti itu," bisik Kai kemudian mengecup pipiku penuh sayang, menarikku pelan dalam pelukannya dan kembali memberiku kecupan singkat di kepala. "Aku akan menjadi orang yang paling menderita disini jika kekasihku berduram durja terus." lanjutnya.

Aku juga tidak ingin terus-terusan merenung begini sebenarnya, "Aku mau mandi." Lebih baik aku mendinginkan kepala saja terlebih dahulu.

"Hm."

Normal POV:

"Bertahanlah! Kau akan baik-baik saja, tetap atur nafasmu dengan benar….!"

"….hahh…,hh…,"

"Tetap seperti itu…," Chanyeol berusaha untuk tidak melepaskan jemarinya dipergelangan tangan Baekhyun ―untuk memastikan detak jantung pemuda itu masih dalam keadaan normal.

"Chan..hh…y-yeol…-ssi..hahhh…,"

"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?!" pekik Tao yang masih menurut untuk memegangi sebuah wadah berisi air dan juga handuk di pinggir ranjang medis di tengah-tengah ruangan itu.

"Kau belum pernah liat vampire sakit? Selamat ini adalah pengalaman pertamamu." Celetuk Chanyeol cuek ―namun tak berhasil menyembunyikan wajah gusarnya sendiri― dengan masih berusaha membuat racikan obat sesuai dengan yang tertera pada sebuah kertas kecil di atas mejanya. "Jangan biarkan tubuhmu melemah. Kau yang mengendalikan tubuhmu, bukan tubuhmu yang mengendalikan dirimu. Tetap bernafas!" perintah Chanyeol terus menerus pada Baekhyun yang masih sekarat dengan nafas pendek yang memburu.

"Sebaiknya kau jelaskan padaku apa yang terjadi pada Baekhyun, brengsek!" Tao tidak juga menyerah meminta jawaban.

"Dengar," kata Chanyeol menatap mata Tao sinis, "Diam dan bersikap manislah, ini bukan tempat dimana kau bisa menyuarakan kata-kata 'brengsek' andalanmu itu sekarang. Oke?"

Tao terhenyak mendapat teguran tegas tersebut dan akhirnya hanya bisa diam menyaksikan sang dokter besar di hadapannya itu membuat racikan obat sembari sesekali menyuntikkan beberapa cairan ke pergelangan tangan Baekhyun.

Baekhyun ―yang kini menjadi pusat perhatian kedua pria lainnya di ruangan tersebut― nampak sangat amat pucat dengan wajah yang cekung, ada apa sebenarnya? Tao benar-benar ikut dibuat gusar dalam kondisi yang suasananya terus menegang setiap detiknya itu. Apa yang telah Chanyeol lakukan hingga Baekhyun jadi seperti ini.

"Tolong, tekan tombol hijau di dekat tabung itu." tunjuk Chanyeol tanpa mengalihkan perhatian dari kesibukannya dengan alat penggerus obat miliknya pada Tao. Menunjuk pada sebuah tabung besar yang berdiri kokoh di sudut dinding. Tabung transparan tempat menyimpan vampire tangkapan Tao itu nampak terisi. Sesosok pria paruh baya yang tidak Tao ragukan lagi adalah vampire yang ia tangkap beberapa minggu yang lalu itu nampak diikat kencang dalam posisi berdiri dari kepala hingga pergelangan kaki oleh sebuah pengikat berbentuk ikat pinggang. Tao segera memencet tombol hijau yang tertempel di dinding tabung itu sesuai perintah dan dalam hitungan detik kabut mulai memenuhi tabung tersebut.

"Efek obat biusnya sudah hampir habis, aku tidak mau dia sampai bangun dan mengamuk ditengah-tengah keadaan genting seperti ini." jelas Chanyeol.

"AGGHHK!"

"Cih! Sial!" umpat Chanyeol nampak frustasi, semua usahanya gagal. Baekhyun masih kesakitan dan semakin terlihat parah. Apalagi yang harus dilakukannya? Tubuh Baekhyun meronta dan Chanyeol masih belum tau segala hal tentang cara menangani tubuh vampire yang sakit. Dengan putus asa Chanyeol lalu berjalan mendekati meja terujung ―tempat ia biasa melakukan eksperimen untuk menciptakan serum 'andalan'-nya yang terkenal itu. Dicampurkannya asal semua bahan yang telah ia ukur sesuai dengan takaran yang sudah ia tetapkan sebelumnya, menuangkannya dalam sebuah cawan kecil dan kembali menghampiri Baekhyun.

"Tunggu!" baru saja Chanyeol akan meminumkan serum itu pada Baekhyun ketika Tao dengan tegas menahan pergelangan tangannya. "Itu masih belum diuji coba, bukan?" tandas Tao.

"Tidak ada waktu untuk itu. Semua bahannya telah kusesuaikan dengan serum sebelumnya." Chanyeol menepis.

"Kau akan membunuhnya dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"

"Kau juga sama saja akan membunuhnya jika membiarkan ia terus seperti ini!"

"Karena itu jelaskan padaku apa yang terjadi padanya?!" bentak Tao akhirnya.

Chanyeol nampak tidak terima untuk mengatakan yang sebenarnya meski ia tau mengatakannya pun juga tidak masalah. Sekarang bukan waktunya untuk berdebat, mungkin ia bisa menjelaskannya secara singkat saja.

"Persediaan darah yang biasa kuberikan cukup terbatas dan Baekhyun pun juga bersikeras untuk tidak banyak mengkonsumsi darah yang kuberikan itu. Namun tubuh miliknya ini menolak dan mengamuk untuk diberi pasokan darah dalam jumlah yang sesuai dengan yang memang diperlukan tubuhnya. Kondisinya pun menurun drastis menjadi semakin lemah. Sangat lucu saat mengetahui vampire juga bisa terkena busung lapar, bukan?"

"Lalu sebenarnya apa yang kau butuhkan untuk setidaknya menyelamatkan dia dari kondisi kritis ini?" tanya Tao berusaha untuk tidak merubah intonasinya.

"Sebuah suntikan adrenalin yang cocok. Tubuh manusia dan vampire mungkin punya struktur dan organ-organ yang sama tapi…'kebutuhan' mereka berbeda. Semua obat yang bisa kuberikan pada manusia ―yang memiliki kondisi yang sama― telah kucoba."

"Suntikan adrenalin…," Tao entah mengapa langsung menyimpulkan itu sebagai sesuatu yang akan membuat jantung berdetak lebih cepat atau dengan kata lain berdebar-debar, sesuatu yang mebuatmu 'menggila' dalam takaran tertentu. "Tu-Tunggu…aku rasa kau bisa gunakan ini." Seru Tao terburu-buru. Ia ingat jika ia memiliki partner seorang vampire yang sangat berguna tidak lama ini. Dan tepat seminggu yang lalu partner-nya itu memberikannya sebuah serum unik yang ditawarkan padanya untuk diteliti oleh Chanyeol. Sebuah serum khusus untuk vampire, yang bisa menyelamatkan nyawa vampire dari hal yang paling memalukan seperti ini ―kelaparan.

"Apa ini?" tanya Chanyeol memperhatikan seksama sebuah botol kecil berisi cairan merah di tangannya.

"Sudah, cepat berikan pada Baekhyun!" seru Tao.

"Kau melarangku untuk menyuntikkan serum tanpa diuji yang sudah kuteliti bertahun-tahun dan kini malah ingin memberikan serum asing yang tidak jelas asalnya begini padanya?!" protes Chanyeol kesal.

"Kau itu cerewet tidak pada tempatnya, ya?! Sudah berikan saja! Aku yang menjamin asalnya, kau tidak perlu ragu."

Chanyeol menatap sinis. Bisa-bisanya dia mengatakatan hal konyol begitu. Dan lagi dari mana bocah ini mendapatkan obat untuk masalah Baekhyun dan begitu yakin akan keamanannya?

Tapi melihat bagaimana rubby itu menatap begitu yakin, Chanyeol pun akhirnya menghela nafas berat dan pasrah pada satu-satunya 'zat' yang bisa ia gantungi harapan ―Tuhan, mungkin. Berharap semoga Tao benar-benar tidak salah akan keyakinannya sekarang.

Dengan perlahan dan tanpa ada rasa ragu lagi, Chanyeol mengangkat kepala Baekhyun untuk membantunya meneguk sebotol cairan merah di tangannya. Secara insting, Baekhyun pun langsung meneguk semua cairan itu bagai pengelana yang baru saja kembali dari padang sahara tanpa sebotol minuman mengisi kerongkongannya.

Wajah Chanyeol dan Tao masih terpaku pada sosok Baekhyun yang wajah pucat dan cekungnya perlahan dan berangsur-angsur kembali terlihat normal ―dalam konteks vampire. Tubuhnya mulai berhenti memproduksi keringat dingin, nafasnya sudah teratur dan sepertinya sebentar lagi ia akan membuka mata dan menyapa mereka berdua.

Chanyeol terdengar mendengus lewat mulut ―terdengar lega dan juga tidak habis pikir, disusul oleh Tao yang memijit keningnya hingga lengan bajunya yang longgar melorot ke sikunya.

"Benar-benar menyusahkan." Protes Tao berniat beranjak dari ranjang medis tempat Baekhyun kini berbaring tenang. Padahal niat awalnya datang cuma mau mengabari Chanyeol soal beberapa hal yang ia ketahui mengenai Kyungsoo dan juga berniat memberikan serum yang diminta 'partner vampire'-nya untuk diteliti oleh si dokter itu, tapi kenapa ia malah justru datang ditengah-tengah operasi darurat bin dadakan seperti tadi?

Tanpa Tao sadari, Chanyeol melempar pandangan menyelidik padanya yang sedang fokus memijit keningnya.

"Jadi? Ada apa?" tanya Chanyeol.

"Huh?" Tao berbalik.

"Kau kesini bukan karena kau tau Baekhyun butuh pertolongan, bukan?"

"Heh, yah. Cuma itu, aku cuma mau kau meneliti soal serum yang baru saja kuberikan padamu. Tapi sepertinya sudah tak bersisa lagi untuk dijadikan sampel. Tsk, terpaksa aku harus memintanya lagi dari dia."

"Dia?"

Tao tertegun, nampak terkejut sendiri dengan apa yang baru saja meluncur dari bibirnya, "Ah, lupakan! Bukan sesuatu yang penting. Aku pergi!" tepisnya dan beranjak dari tempatnya.

"Apa 'dia' ini vampire?" tanya Chanyeol dari arah belakang ―merapikan peralatan dan bahan-bahan bekas operasinya dari meja dekat ranjang, berusaha bertanya dengan kesan cuek yang tenang.

"Itu tidak penting."

"Tentu seorang vampire, bukan?" Chanyeol tak menggubris pengelakan Tao dan melanjut pertanyaannya ―kali ini dengan senyuman menghiasi wajahnya.

Meski Tao dalam posisi membelakangi dokter itu, tapi ia yakin sekarang Chanyeol pasti sedang berusaha menggodanya ―mengolok-oloknya.

"Sepertinya kau memelihara'nya' dengan baik. Aku tidak menyangka…sungguh, aku sama sekali tidak menyangka. Pria yang beberapa minggu lalu berteriak-teriak tentang bagaimana dan mengapa manusia harus membenci vampire kini malah menjadi seorang 'pet sitter' yang baik."

Mendengar kalimat itu, Tao langsung berbalik bengis dengan mulut terkunci rapat. Ingin sekali ia bertanya apa maksud dari perkataan Chanyeol barusan dan apa yang membuatnya bisa berpikir seperti itu. Namun rupanya Chanyeol sudah tau betul bagaimana membaca wajah 'bertanya' dari cara Tao menatapnya tajam. Dan dokter muda itu pun menjawab tanpa perlu ada kalimat tanya yang harus keluar dari bibir Tao.

"Tubuhmu…," gumam Chanyeol, membuat Tao sontak ingin menatap tubuhnya namun ia urungkan untuk bisa tetap melempar deathglare pada Chanyeol agar ia menyelesaikan kalimatnya. "Tubuhmu itu… tiap kau datang kemari selalu segar dengan mark-mark baru. Apa kau sadar akan hal itu?" kini Chanyeol balas menatap Tao dengan senyum poker. "Dan…sepertinya 'gigitan' di lenganmu itu yang paling baru minggu ini."

Tao sontak menyingkap kain lengan bajunya dan mendapati ada tiga bekas gigitan taring di sana. Ia baru saja mendapatkan gigitan 'istimewa' itu dua hari yang lalu makanya bekasnya jadi lebih nampak jelas dibanding dengan yang memenuhi tubuhnya.

"Cih!" decak Tao tak suka. "Aku tidak memperlakukan dia seperti kau dan Kyungsoo memperlakukan kekasih kalian." Tukasnya dan pada akhirnya memilih menyelonong keluar daripada ia harus berdebat akan masalah yang sangat tidak ingin ia bahas saat ini.

'Benar-benar sial.' Pikir Tao. Lain kali ia harus menggunakan pakaian yang akan menutup semua kulit tubuhnya jika ia kembali ke tempat itu lagi.

Tidak lama setelah Tao pergi dan Chanyeol selesai membereskan perabotan yang mengotori labnya yang selalu bersih dan terawat itu, Baekhyun yang memang sudah sadar tiba-tiba menarik ujung lengan bajunya pelan.

Chanyeol menoleh dan menghentikan kegiatannya. Membantu Baekhyun duduk di atas ranjang tersebut dengan mengangkat tubuhnya seperti seorang ayah yang mengangkat tubuh bayi mungilnya untuk diangkat ke udara.

Chanyeol hanya sekedar ingin memastikan apa tubuh itu sudah cukup kuat atau tidak, dan rupanya ia bisa berhenti khawatir karena Baekhyun nampaknya tidak keberatan disuruh duduk dan tidak ada tanda-tanda kalau Baekhyun nampak pusing ―seperti yang dialami orang-orang yang baru sembuh kebanyakan. Ia hanya nampak terlihat sedikit linglung ―tidak lebih. Obat yang diberikan Tao sungguh luar biasa.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Tao-ge…dia sudah pergi?" tanya Baekhyun.

"Ya." Chanyeol berusaha tidak kesal karena diacuhkan.

"Apa ada kabar tentang Kyungsoo…?" tanya Baekhyun lagi, tatapannya menerawang seolah kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Ucapan terima kasih bahkan tak terlintas di otaknya atas apa yang telah Chanyeol usahakan untuk menyelamatkan nyawanya, tapi bagi Baekhyun apa yang telah ia lakukan selama tinggal bersama Chanyeol dan apa yang Chanyeol lakukan padanya adalah hal terlumrah layaknya pelanggan bar yang datang dan membeli minuman dan bartender menerima uang bayarannya.

"Tidak..," jawab Chanyeol, "Kurasa dia terlalu terburu-buru untuk pergi tadi sebelum mengabarkan perkembangan di desa." Sambungnya lagi lalu membelakangi Baekhyun ―kembali membereskan alat-alatnya.

"Sampai kapan aku harus berada di sini?" Baekhyun bertanya nyaris bergumam. Meski Chanyeol mendengar gumaman itu lebih dari jelas, ia nampaknya tidak berniat untuk menjawab. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan yang nyaris ia dengar tiap hari itu. Chanyeol tau ini cukup kejam bagi Baekhyun jika ia terus-terusan tidak memberi jawaban tapi sungguh…ia tidak tau bagaimana caranya lagi ia menjelaskan pada pemuda keras kepala itu agar mau tetap berada di rumah ini.

Chanyeol pikir dengan tak memberi jawaban, Baekhyun akan diam dan melanjutkan aktivitas seolah pertanyaan itu tak pernah keluar dari bibirnya, namun pikiran itu segera terusik ketika ia mendengar Baekhyun turun dari ranjang kecil di ruangan itu dan berjalan menuju ke pintu keluar di sudut ruangan, bukan menuju tangga yang akan membawanya ke lantai satu kediaman Chanyeol ―seperti yang seharusnya Chanyeol harapkan.

"Kau mau kemana?!" Chanyeol nyaris berlari untuk menahan lengan kurus Baekhyun yang akan pergi meninggalkan ruangan itu.

"Lepaskan aku…," tandas Baekhyun dengan nada yang benar-benar tegas dan dalam. Kesabarannya habis. Ia tidak ingin lagi dipenjara di rumah itu dan dijadikan 'whore' nyaris seperti binatang. "Jika kau tidak juga memberitahuku alasan mengapa aku harus tetap berada di sini selain menjadi pelacur untukmu, aku sebaiknya kembali ke desa. Kyungsoo benar. Kota adalah tempat yang paling 'berbahaya' untukku sekarang." Baekhyun menatap sinis penuh tusukan kearah Chanyeol yang kini melepaskan genggaman tangannya perlahan.

"Bisakah kau tenang dan berpikir sejenak? Kau punya otak bukan? Pikirkan baik-baik. Disini adalah tempat yang paling aman yang bisa kau dapatkan dengan sikapmu itu!"

"Dengan menjadi 'anjing' di tempat tidurmu begitu?! ITU BUKAN ALASAN YANG LOGIS YANG BISA MASUK KE OTAKKU! JIKA SAJA KAU TAU ITU!" bentak Baekhyun. Wajahnya memerah nyaris cukup aneh bagi seorang vampire yang selalu berwajah pucat. Tidak pernah ia semarah ini sebelumnya sejak ia datang ke kota. Chanyeol berjanji bahwa keberadaannya akan sangat membantu untuk keselamatan Kyungsoo, tapi…apa yang ia dapatkan dan pasrahkan selama ini sama sekali tidak menunjukkan semua itu.

Ia berusaha untuk percaya bahwa semua yang ia lakukan benar-benar akan memberi dampak yang baik bagi Kyungsoo, tapi selama ini…betapapun ia berusaha membodohi dirinya sendiri sebodoh-bodohnya, Baekhyun sama sekali tidak bisa menemukan titik tetap dimana ia harus berpegang pada janji yang Chanyeol tawarkan padanya. "AKU MUAK!" Baekhyun berteriak dan menghempaskan tubuh Chanyeol beberapa langkah kebelakang hingga jatuh tersungkur ke atas lantai marmer dingin.

"Heh…aku tidak tau kalau seorang manusia yang menjadi vampire bisa bertambah bodoh." Cara Chanyeol menyindir terdengar tenang seolah ia hanya berbisik. Membuat Baekhyun berkerut dahi tak mengerti. "Sudah kukatakan kalau tempat ini adalah satu-satunya tempat aman yang bisa kau dapatkan saat ini." Katanya lagi.

"Dan sudah kukatakan kalau itu tidak cukup untuk membuatku tetap berada di sini sementara Kyungsoo berada dalam bahaya." Tepis Bakhyun.

"Dia akan jauh berada dalam bahaya jika kau ada di sana."

"…" kerutan di dahi Baekhyun makin menjadi saja. Otaknya tidak bisa diajak berkerja sama sekarang, ia terlalu geram untuk berpikir dan hanya bisa terdiam.

"Jika kau ke sana dan tinggal satu rumah dengan Kyungsoo dan juga Kai, apa menurutmu warga desa tidak akan curiga?"

"Memang apa bedanya jika yang tinggal hanya Kyungsoo dan Kai? Itu sama saja, jika yang kau permasalahkan adalah waktu kapan kami baru bisa muncul ―at night."

"Tentu saja beda. Jika yang tinggal hanyalah Kai dan Kyungsoo, mereka bisa membuat alasan telak mengapa mereka berdua hanya bisa muncul ketika malam. Kai bisa berspekulasi jika Kyungsoo terserang Photosensitivity ―sejenis penyakit dimana kulit sensitif terhadap sinar matahari, sebagai alasan mengapa Kyungsoo tidak bisa muncul pada siang hari. Tidak akan ada yang begitu curiga jika Kai lalu menjelaskan lagi bahwa karena penyakit yang diderita Kyungsoo itulah ia juga tidak bisa keluar sebelum malam tiba untuk menjaganya sepanjang hari hingga ia tertidur. Berbelanja kebutuhan aku rasa akan mereka akali dengan membeli budak." Ujar Chanyeol.

"Bayangkan jika kau juga berada di sana. Bertiga dalam satu rumah dan baru bisa muncul bersama ketika malam tiba. Memangnya kau pikir harus butuh dua orang sekaligus untuk menjaga seorang pria dengan penyakit kulit tanpa ada satu pun dari kedua pria itu menyempatkan diri berkunjung ke desa pada siang hari? Apa menurutmu itu tidak terlalu mencurigakan? Nah, Baekhyun. Pikirkan baik-baik."

Baekhyun bergeming. Tapi entah mungkin karena sifat keras kepala Kyungsoo sudah menular padanya hingga ia tetap bersikeras untuk melawan, "Aku tidak peduli!" katanya, "Sekalipun aku harus tinggal di hutan untuk menghindari kecurigaan warga, aku tidak peduli! Selama aku berada di dekat Kyungsoo untuk memastikan keselamatannya."

Chanyeol mendengus, "Jangan lupakan Sehun dan antek-anteknya, Baekhyun. Kyungsoo akan mengamuk jika tau kau berada di hutan yang berbahaya itu untuk mengawasinya."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia kesal namun otak warasnya kini akhirnya kembali dan membuat ia bisa berpikir jernih kalau semua yang dikatakan Chanyeol padanya sangat masuk akal sekarang. Chanyeol menjauhkannya dari Kyungsoo agar sahabatnya itu bisa tinggal dengan aman dan terhindar dari kecurigaan warga desa di sana. Warga di desa itu ―seperti yang terakhir kali dikabarkan Tao sebulan lalu― mulai membenahi diri akan serangan vampire dan monster-monster hutan lainnya. Tao berkata kalau para warga kini tidak akan segan untuk memburu dan membunuh apapun yang akan mengancam keamanan desa.

Itu artinya jika Kyungsoo dan Kai mulai terlihat mencurigakan sedikit saja, mereka akan dalam bahaya.

Baekhyun hanya berharap, Kai bisa berada di waktu yang tepat jika seandainya hal itu terjadi.

Tbc

{Tanjungpinang, 20151115}


Balasan review di chap sebelumnya :

Rukichi kurosaki : ini juga udah update kok~~~~~~ Makasih ya udah review :)

Sofia Magdalena : Kyungsoo udah jadi vampire tuh, jadi vampire Soo XDD ini udah next kok. Makasih ya udah review :)

Rahmah736 : hooo gitu… Ya ya ya Je Ra ngerti sekarang XD sama2 deh, makasih juga karena udah selalu nungguin ff ini. Makasih buat review dan semangatnya, Je Ra terhura banget *nangis Bombay* #abaikan XD.

Lovesoo : entah kenapa Je Ra salpok waktu ngebaca review-an chingu yang jatuh guling-guling jadi 'jatuh gulung-gulung' Je Ra aneh banget ya :3 ini udah lanjut kok. Romantisin kaisoo? Hmm…*berlagak mikir* Je Ra nggak janji ya (becanda dech ) XD. Makasih ya udah review :)

Meyriza : yup Kyungsoo bertransformasi jadi vampire soo. Jangan nangis dong chingu Baek aja nggak nangis tuh :P Chanyeol nangis Bombay tuh dipojokan gara2 Baek jadi vampire XD haha… #peace. Ini udah di next. Makasih ya untuk semangat dan reviewnya:)

Oh Grace : Chanyeol bakalan jadi vampire juga nggak ya? Hm… trus soal Dionya gimana dan bakalan mangsa ortu atau nggak bakalan terjawab di chapter2 depan ne *senyum misterius*. Makasih ya udah review :)

cuteSoo93 : Kyungsoo udah jadi vampire. Kyungsoo bisa selamanya dengan Kai dan Sehun cs bakalan balik atau nggak semuanya akan terjawab di next next next chapter ya chingu, hehe xd. Makasih ya udah review :)

mascahyoo: kenapa Chanyeol nggak nawarin serum temuannya buat ngerubah Baek jadi manusia lagi? jawabannya udah ada di chap ini tuh chingu. Makasih ya udah review :)

ericomizaki13 : Dio nya Je Ra umpetin dulu dan nggak Je Ra bolehin muncul #digampar. Makasih ya udah review :)

rizkyalila1 : jadi vampire soo, apa yang sehun rencanain masih R.A.H.A.S.I.A #digampar, jawabannya ada di next chap chingu. Nggak apa2 kok, chingu udah review aja Je Ra udah senang banget. Makasih udah review dan nungguin fic ini :)

Kyung1225 : jadi vampire soo,ini udah Je Ra update. Makasih ya udah review :)

Anisafransiskaa : Kyungsoo Bakalan nyusul jadi vampire? Jawabannya udah ada tuh 'kan chingu :) makasih ya udah review dan nungguin fic ini :)

Rie : Je Ra juga penasaran sama Kyungsoo setelah jadi vampire XD *loh? #abaikan saja chingu. BTW makasih ya udah review :)

Hsandra : ehem, beri sambutan buat vampire baru kita…vampire soo~~~ *tiup terompet* #PLAAKKK Chan diem-diem memang suka sama Baek tapi perasaannya bertepuk sebelah tangan tuh, kasian banget yah #digampar Chanyeol. Dio jangan ditungguin ntar makin nggak mau muncul Dio-nya XD. Makasih udah review, dan nungguin fic ini :)

Wu Zhiyan : jangan marah dan jangan kesal dong chingu, pleaseeee TvT. Kabarnya Dio? …. R.A.H.A.S.I.A, hehe. Ini udah fast update. Makasih ya udah review :)

Sisca : serumnya chanyeol kemana?dipakai kah? Udah terjawab 'kan di chap ini XD memang lebih unyu kalau jadi vampire #plakk. Makasih ya udah review :)

Je Ra minta maaf kalau masih ada aja typo yang nggak ke edit dan membuat readers kurang nyaman saat membacanya. Je Ra akan berusaha untuk meminimalkan typo yg ada di fic ini n(_ _)n.

Terima kasih buat yang udah RnR, fav dan follow ^_^ Je Ra harap chap ini dan seterusnya masih ada yang berkenan untuk mereview dan semoga jumlahnya makin banyak agar Je Ra lebih semangat lagi ngelanjutin-nya \^.^/

Next chap : {20151118}

See you on next chap :)

XOXO