BAB 26 DAFTAR
.
"Lily, bangun!" James berseru seraya menghambur ke kamar Lily.
Lily bergumam mengantuk dan mencari sumber suara. James sedang membuka tirai jendela untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Mengerang, Lily menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Sudah pagi!" ujar James antusias, mengamati Lily dengan geli. Melihat Lily tidak memberikan reaksi apa pun, James melanjutkan, "Lily! Matahari sudah bersinar cerah!"
Lily mengembuskan napas kesal dan bergerak menjauh di tempat tidur. James terkekeh.
"Lily, bangunlah!"
"Pergi sana."
Dengan seringaian di wajah, James menarik selimut yang menutupi kepala Lily.
"Lily!" panggilnya putus asa.
Mengerang, Lily menyurukkan kepalanya ke bawah bantal yang langsung saja direbut James dan dilemparnya.
"Aku sedang tidur!" protes Lily.
James tertawa dan menarik selimut yang dipakai Lily. Lily berteriak dan menggelung diri untuk menghangatkan tubuh. James duduk di tepi tempat tidur dan menyibak rambut Lily dari wajahnya.
"Lily, ayo bangun," katanya lembut.
Lily membuka matanya segaris.
"Kenapa?"
"Aku merencanakan sesuatu yang spesial hari ini," jawab James sungguh-sungguh.
Lily mengernyit padanya.
"Jam berapa sekarang?"
"Itu tidak ada hubungannya," bantah James, melarikan tangan ke rambutnya. "Ayo, turun dari tempat tidur!"
Setelah diberi banyak sekali bujukan oleh James, Lily turun sambul menggerutu.
"Cepat, cepat!" dendang James, mendorong Lily ke kamar mandi.
Lily menggosok giginya, mandi kilat di bawah pancuran, dan berpakaian cepat. James sudah menunggunya di ruang rekreasi dengan bersandar pada sofa, mengenakan seragam Quidditch-nya dan jins hitam, sedang membaca selembar kertas yang tampaknya disobek dari sebuah buku. Dia mendongak ketika Lily keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Pagi, Sayang," sapa James manis, menyongsongnya.
"Boleh kutahu kenapa aku dibangunkan sekasar tadi?" gerutu Lily.
"Ayolah," ujar James, mengedip. Lily terkikik. "Nah, bagus tersenyum begitu," seringai James. "Ada hal-hal yang harus kita lakukan hari ini!"
"Apa?" desah Lily.
"Ingat apa yang kujanjikan sebelum NEWT?" tanya James, melambaikan kertas yang tadi digenggamnya.
Lily mengernyit mengamatinya. Matanya membelalak ketika tahu kertas apa itu sebenarnya. James tersenyum melihat wajah Lily yang berseri-seri.
"Benarkah?" tanya Lily, menyambar kertas berjudul Daftar yang dibuatnya ketika kelas lima itu. James mengangguk dan mengecup keningnya.
"Ayo," katanya, menarik tangan Lily. "Bagaimana kalau dilakukan sesuai urutannya?"
Lily mengangguk. James berdeham dan meneliti daftar itu.
"Nomor satu!" kata James dalam nada resmi yang membuat Lily terkikik. "Menyuruh Peeves untuk membuat kekacauan." James mendongak dan terkekeh. "Kau yakin kau sendiri yang menulis ini?"
"Yeah, aku bukan cewek baik-baik, tahu," kata Lily seolah itu sudah jelas.
James mengedipkan mata.
"Aku tahu," katanya. "Jadi, apa yang membuatmu menuliskan nomor satu ini?" dia bertanya ketika mereka meninggalkan asrama.
"Oh, aku cuma bosan setelah OWL, jadi aku ingin ada sesuatu yang terjadi," Lily nyengir.
"Cukup adil. Nah, bagaimana kalau sekarang kita cari Peeves?"
"Di mana dia?" tanya Lily, mencari-cari di langit-langit.
"Tak tahu, tapi aku tahu seseorang yang pasti tahu," seringai James. "FILCH!" teriaknya.
Si Squib penjaga sekolah itu terlonjak di tengah perjalanannya, dan berbalik.
"Di mana Peeves?" tanya James segera.
"Menara Astronomi, mengolesi teleskop dengan tinta," gerutu Filch, lalu bergegas menyeret kakinya ke kantornya.
James nyengir pada Lily, yang tertawa melihat reaksi Filch.
"Yuk?" ajak James, menggenggam tangan Lily.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini?" Hestia menanyai Sirius, menghambur masuk ke kamar anak laki-laki dan duduk di tempat tidur Sirius. Remus dan Peter sudah turun untuk sarapan; keduanya sempat memberi tahu Hestia bahwa James dan Lily tidak akan bersama mereka semua seharian ini, dan bahwa cowok Hestia itu masih mendengkur.
"Hrmphmerf," gerutu Sirius ke dalam bantalnya.
"Hrmphmerf?" tanya Hestia, terkekeh. "Kedengarannya menarik. Apa itu?"
"Seberapa bosan dirimu?" gumam Sirius, kepalanya menoleh ke samping untuk memandang Hestia yang mencoba menggosok mata Sirius.
"Amat sangat," tukas Hestia, menggelosor di lantai di sisi tempat tidur Sirius. "Lily mengerjakan sesuatu dengan James hari ini, dan Alice menulis undangan pernikahan, jadi sepertnya kau terjebak denganku."
Sirius terbahak.
"Kukira aku tidak akan pernah terjebak denganmu, Sayang," katanya, menggeliat dan bangkit. Ditariknya Hestia supaya duduk di tempat tidur di dekat kakinya. "Apa yang ingin kaulakukan hari ini?"
"Entahlah," Hestia mengangkat bahu.
"Kau mau ke lapangan Quidditch?"
"Aku kan tidak bisa main Quidditch," keluh Hestia, menggelengkan kepala dengan wajah mengernyit.
"Siapa bilang kita mau main Quidditch?" tanya Sirius.
"Lho, apa lagi yang kita lakukan di sana?" tanya Hestia putus asa.
Sirius tertawa.
"Kau perlu sedikit imajinasi, sayangku," katanya. "Kita bisa mengambil sapu, lalu terbang berkeliling, kemudian berpiknik, dan melakukan hal-hal lain."
Hestia tersenyum lebar dan berkata, "Aku tahu aku mencintaimu bukan tanpa alasan.".
"Aku siap-siap dulu, kau tunggu di sini," kata Sirius, mengetuk ujung hidung Hestia dan menuju kopornya. "Jangan ngintip," kedipnya, menarik kelambu hingga menutupi tempat tidurnya.
Hestia terkikik.
"Sirius?"
"Ya?"
"Apa yang ingin kaulakukan dalam hidupmu?" tanya Hestia, berbaring di tempat tidur Remus.
"Kenapa mendadak kau ingin tahu?" tanya Sirius, menarik kelambunya. Dia sudah selesai berganti pakaian dan menghampiri Hestia.
"Aku hanya bertanya-tanya. Aku tak tahu apa-apa tentangmu!" gumam Hestia, duduk.
"Aku ingin jadi Auror," katanya, nyengir, lalu ikut berbaring di tempat tidur Remus. "Kau?"
"Aku ingin bekerja untuk Prophet."
"Kau akan menjadi penulis hebat," kata Sirius, meletakkan dagunya di bahu Hestia.
"Terima kasih," Hestia tersenyum, sedikit menoleh untuk menatap Sirius. "Semoga kepalamu tidak membengkak, tapi kau penyihir besar, jadi kau akan jadi Auror yang hebat."
Sirius nyengir.
"Kaupikir begitu?"
"Ya," kata Hestia, mengangguk, dan mencium Sirius.
1. Menyuruh Peeves untuk membuat kekacauan
"PEEVES!"
Peeves terlonjak di udara dan menunduk mencari tahu orang yang memanggilnya. Sebuah seringaian lebar tersungging di wajahnya ketika menemukannya.
"James!" pekiknya gembira, melayang turun menghampiri salah satu anggota Marauder itu. Lily cukup takjub melihatnya.
James nyengir melihat ekspresi Lily, lalu kembali memandang Peeves.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa pun untukmu, Yang Perampok," kata Peeves, membungkuk main-main.
Lily harus menahan diri untuk tidak memutar matanya. Tentu saja Peeves menyukai para Marauder; mereka membuat begitu banyak kekacauan sampai-sampai Peeves terlihat seperti McGonagall. James kembali memandang Lily, yang pipinya bersemu. Peeves, baru menyadari kehadiran Lily, menyeringai jahat.
"Halo, Silly Lily," sapanya.
Lily menatap James, yang berusaha keras menahan tawa.
"Sebetulnya, Lily di sini untuk menyuruhmu membuat kekacauan," kata James.
Alis Peeves terangkat.
"Si manis Ketua Murid ingin membuat kekacauan?" tanyanya keheranan, menatap Lily yang sedang nyengir nakal. "Itu sungguh kehormatan bagi saya, Miss Evans," kata Peeves, membungkuk. "Apa yang harus saya lakukan?"
Lily berseri-seri.
"Aku tak begitu tahu, sebetulnya," katanya, keningnya sedikit mengerut. "Sesuatu yang sangat bising yang bisa mengganggu McGonagall," seringainya akhirnya.
James terbahak.
"Siapa kau, dan apa yang sudah kaulakukan pada Lily Evans?" godanya.
Lily meleletkan lidah padanya.
"Ini sungguh tidak sepertimu," gumam Peeves, mengamati Lily dengan penasaran. "Oh, baiklah," katanya acuh, meluncur ke langit-langit. "Kapan?"
"Sebelum kelulusan," kata James.
Peeves membungkuk lagi.
"Apa pun untukmu, Yang Perampok."
"A-aku kan bukan Marauder," gagap Lily sementara James terkekeh.
"Apa pun untukmu, Yang Perampok dan kekasihnya," ujar Peeves, meralat ucapannya barusan sambil mengulang bungkukannya.
Lily sudah membuka mulutnya, tetapi James menahannya.
"Itu yang terbaik yang bisa kaudapat, Lils," kekehnya.
Lily hanya menggeleng dan berkata pada Peeves, "Dah, Peeves." Dia berputar pada tumitnya dan melenggang pergi bersama James yang sempat melambaikan tangan pada Peeves. "Aku tak percaya Peeves bisa sangat suka pada idiot sepertimu," gumamnya.
James mencengkeram dadanya seolah terluka.
"Lily! Bisa-bisanya kau?"
"Oh, sudahlah, James," desahnya, mencondongkan tubuh untuk mengambil daftarnya dari James, tetapi James menjauhkannya dari jangkauan Lily, mengangkatnya semeter lebih tinggi dari Lily.
"Potter!" gertak Lily.
"Evans!" James balas nyengir.
"Oh, pergi sana," rutuk Lily.
James tertawa, lalu membuka daftar Lily dan membaca, "Nomor dua!"
"Sirius, aku benar-benar tidak mau terbang berkeliling dengan sapu," bentak Hestia ketika Sirius mengangsurkan sebuah sapu kepadanya di lapangan Quidditch. Sirius memakai sapu James—bukan berarti dia sudah minta izin—dan Hestia bisa menggunakan sapu kebanggaannya.
"Kenapa tidak?" kata Sirius, menaiki sapunya.
Hestia otomatis mengikutinya. Sirius nyengir sendiri.
"Soalnya... bagaimana kalau aku jatuh?" kata Hestia gugup.
"Aku akan menangkapmu."
"Sumpah?" ujar Hestia.
Sirius mengangguk.
"Sumpah kelingking?" ujar Hestia lagi, mengacungkan kelingkingnya.
Sirius menyernyit memandang kelingking itu.
"Sumpah kelingking?" tanyanya geli.
Hestia merona.
"Lakukan saja sumpah kelingking!"
"Baiklah, baiklah," kekeh Sirius, mengaitkan kelingkingnya di kelingking Hestia. "Apa?" tanyanya ketika Hestia terkikik.
"Kelingkingmu besar sekali."
"Wah, terima kasih," kata Sirius, memainkan alisnya.
Hestia merona
"HUEK! SIRIUS!" dengkingnya. "KAU BARU SAJA MERUSAK SUMPAH KELINGKINGKU!" serunya gusar, menjejak tanah dan melesat ke angkasa.
Sirius terpingkal-pingkal dan mengikutinya terbang.
"Kau penerbang hebat," kata Sirius, menukik beberapa meter di depan Hestia.
"Aku tahu," kata Hestia. "Gwenog bukan satu-satunya anggota keluarga Jones yang bisa terbang, tahu."
"Kenapa kau tidak main?" tanya Sirius, terbang mengelilingi hestia.
"Karena... aku tidak ingin," Hestia mengangkat bahu. "Dan aku tidak menyesal," tambahnya, menyeringai.
Sirius memutar matanya.
"Kau, Hestia Margaret Jones, benar-benar misteri yang takkan bisa kupahami."
2. Berenang di danau
"Tidak, James! Aku kan sudah pernah!" seru Lily.
James menyeret Lily ke halaman. Anak-anak kelas tujuh memang sudah bebas dari pelajaran, mengingat mereka sudah menyelesaikan pendidikan.
"Ini ada dalam daftar," kata James, masih menyeret Lily ke danau.
"Tapi aku sudah pernah melakukannya! Kan judulnya hal-hal yang harus dilakukan sebelum kelulusan! Aku tidak menyebutkan berapa kali dengan spesifik!" Lily berteriak, menancapkan tumitnya kuat-kuat ke tanah, tetapi itu sepertinya tidak menahan James sama sekali.
"Ya, tapi kita akan melakukan semua yang ada di daftarmu hari ini," kata James senang, sebelum membungkuk untuk memosisikan lengannya di belakang lutut Lily.
"James Potter, jangan berani-berani—" Lily menjerit, tetapi James sudah menggendongnya dan sekarang sedang berlari menuju danau. "JAMES!" jerit Lily, tangannya geragapan mencengkeram leher James dan memejamkan mata.
"Sori, Lils," kekeh James.
Lily merasa perutnya anjlok saat James melemparnya. Dia memejamkan mata kuat-kuat dan menutup mulut rapat-tapat untuk menahan benturan dengan air. Tetapi ketika ternyata dia tidak menyentuh air, Lily membuka mata dan mendapati dirinya melayang beberapa meter dari tepi danau. Ditatapnya James, yang sedang mengacungkan tongkatnya dan mengeluarkan suara seperti Hippogriff tercekik.
"Tidak lucu!" jerit Lily.
James tertawa sampai wajahnya merah padam.
"Ya... sangat... lucu... harus lihat... wajahmu..." James tersedak di antara tawanya, tangannya mencengkeram perutnya.
Lily menyilangkan tangan tan mendelik padanya, merasakan emosinya memuuncak; tempramennya memang mudah meledak.
"James Potter, kalau kau tidak menurunkanku sekarang..." Lily memulai, tetapi James menjentikkan tongkatnya, dan Lily mendarat di rerumputan empuk. Lily berdiri, membersihkan jubahnya, dan mendelik pada James dengan tangan tersilang di dada.
James hanya tertawa semakin keras. Begitu tawanya mereda, dia berdiri tegak dan menatap Lily yang masih memelototinya.
"Oh, ayolah, Lils," kata James gembira, maju beberapa langkah mendekati Lily. Sekarang mata Lily menyipit dan kepalanya menggeleng, membuat James terkekeh. "Kau dan tempramenmu itu—sejujurnya, Lils—kalau kau memikirkannya, lucu sekali," kata James, berhenti beberapa senti dari Lily dan menyibak rambut Lily dari wajahnya.
"Tidak lucu!" tukas Lily keras kepala. "Sama sekali tidak!"
"Oke, aku minta maaf," kata James.
Lily tertawa kecil melihat James mencebik.
"Baiklah," desah Lily.
"Bagus," kata James, menepukkan tangannya. "Nah..."
Dia meletakkan tangan di pundak Lily dan mendorongnya. Lily menjerit dan terhuyung jatuh ke danau, menghasilkan deburan keras. Dia menendang ke sana kemari, menyembul di permukaan dan memandang berkeliling.
"JAMES POTTER!" jeritnya.
James tersenyum manis padanya, memperhatikan bagaimana Lily berusaha terlihat mengancam padahal bibirnya biru dan giginya bergemeletukan.
"Kau seharusnya berenang," kata James, melangkah ke tepi danau.
"A-aku t-tak b-bisa," gagap Lily di antara gemeletuk giginya.
James masih sempat terkekeh sebelum melompat ke dalam air. Dia menyembul di depan Lily dan meraih pinggangnya, berusaha menahan kepala keduanya tetap berada di atas air.
"Gampang saja, tinggal lupakan rasa dinginnya," katanya.
"Oh, betapa tololnya aku, aku tinggal melupakan soal itu," omel Lily, suaranya penuh sarkasme.
James terkekeh dan memberinya ciuman yang cukup lama. Lily merasakannya menggelenyar sampai ke jari-jari kakinya.
"Kau bisa berenang sekarang?" bisik James. Lily terkikik. "Bagus. Sana!" usir James, melepaskan Lily.
Lily memekik saat tubuhnya oleng sejenak; dia belum menyadari bahwa James menahan dirinya.
"Sedikit peringatan akan lebih baik," gumam Lily, lalu mengambil posisi terlentang di atas permukaan air.
James merunduk dan melepas kuncir rambut Lily, yang kemudian mengambang di dekatnya.
"Aku merasa seperti duyung," Lily terkikik, mengibaskan rambutnya.
James mengangkat alis.
"Maksudku, duyung dalam dongeng Muggle," Lily menjelaskan.
James terkekeh.
"Masuk akal."
"Iya, kan?" Lily terkikik.
James menggeleng lembut. Lily berbalik dan mulai berenang mengelilingi danau.
"LILY!" seru James setelah beberapa saat.
"Apa?" teriak Lily, menatap James yang sedang nyengir padanya.
"Apa kau berencana kabur dari Hogwarts? Atau kepingin kena radang dingin?" goda James.
Lily nyengir malu-malu. Dia kembali berenang mendekat pada James dan tangannya merangkul leher James.
"Bagaimana kalau aku kabur dari Hogwarts?"
"Tidak bakal," dengus James. "Tapi kalau kau di bawah kutukan Imperius dan melakukan itu, aku akan mengikutimu, atau tinggal membawamu kembali," kekehnya.
"Dan kalau aku kena radang dingin?"
"Aku akan menyembuhkanmu."
"Dan kau akan membawaku keluar dari air karena...?" tanya Lily ceria.
"Karena masih banyak hal yang harus kita lakukan."
"OH!" seru Lily dengan gembira. "Apa selanjutnya?"
"Bagaimana kalau mengeringkan diri dulu?" James menawarkan.
Lily nyengir. Begitu mereka mentas dari danau, Lily mengeringkan dirinya sendiri dan James, lalu menatap James penuh harap. James nyengir dan meneliti daftarnya.
"Nomor tiga!"
Dari jendela perpustakaan, Severus Snape menonton Lily dan James berenang di danau. Dia bersembunyi di perpustakaan seharian, tidak ingin mendengarkan rencana sore berikutnya, yang dia yakin akan membuat Lily semakin memusuhinya. Dia tersenyum melihat Lily tertawa dan berenang menuju James Potter. Potter. Severus benci pada James Potter. Dia selalu, dan akan selalu, mengabaikan fakta bahwa Potter pernah berjanji akan menjaga Lily, dan Potter memang membuatnya bahagia. Itu tidak ada artinya bagi Severus. Dia membenci James Potter.
"Apa itu?" tanya Hestia, menunjuk benda cokelat di dalam kotak. Sirius sudah menyiapkan piknik mereka, dan keduanya sekarang duduk di atas alas di tengah lapangan Quidditch.
"Ini kue cokelat," kata Sirius gembira.
Hestia terkikik.
"Apa itu?"
"Pastel labu."
"Yang itu?"
"Roti Prancis."
"Yang itu?"
"Roti spons cokelat."
"Sirius Black, akankah kau membawa makanan sungguhan?" tanya Hestia putus asa.
"Ini makanan sungguhan!" ujar Sirius, melambaikan tangan ke arah makanan-makanan penutup itu. "Apa yang kau maksud itu sampah yang harus kita makan sebelum MAKANAN?"
Hestia memutar matanya.
"Makanan-makanan tadi bergizi."
"Makanan-makanan ini lezat," balas Sirius.
Hestia mendengus.
"Makanan-makanan tadi seharusnya membuatmu merasa lebih baik," katanya.
"Tidak, makanan-makanan ini membuat stresmu berbalik," kata Sirius tegas.
"Bagaimana caranya?"
"Coba pikirkan. Stressed," kata Sirius, mencabut tongkatnya dan menuliskan 'stressed' di udara, "alias stres, kalau dibalik jadi desserts, makanan penutup." Dia melambaikan tongkatnya, dan kata-kata itu berubah susunan menjadi 'desserts'.
Hestia nyengir dan mengangguk.
"Telmi," goda Sirius.
Hestia menjulurkan lidahnya.
"Kau tidak gampang ditebak, oke?" katanya defensif.
Sirius menggonggongkan tawa.
"Aku tidak gampang ditebak? Kukira kau belum pernah bertemu cewekku, Hestia Jones."
Hestia tertawa.
"Teruskan teorimu," katanya, melambaikan tangannya.
Sirius mencebik, mengibaskan tangannya.
"Kau melukai perasaanku," keluhnya.
Hestia menggelengkan kepala. Dia menyandarkan kepala pada lututnya dan memeluk kakinya, lalu mendongak menatap Sirius.
"Beri tahu aku, please?" katanya. Sirius tertawa. "Apa? Kukira aku terlihat tertarik," kata Hestia.
"Kukira kau terlihat menarik," kata Sirius.
Hestia merona.
"Katakan saja teorimu itu," katanya.
Sirius berubah cerah.
"Benar! Jadi, karena stressed itu desserts yang dibalik, berarti makanan penutup membalikkan tingkat stresmu."
"Membalikkan?" kikik Hestia
"Apa pun lah!" Sirius berteriak.
Hestia tertawa.
"Apa pun?"
Gantian Sirius yang tertawa.
3. Memakai kamar sapu
"Kita sudah pernah melakukan itu," elak Lily, menghentikan James.
"Tapi ini favoritku!" seru James. "Kita akan pergi ke lemari sapu, dan ini final."
Lily mengangkat alisnya.
"Kaku sekali," komentarnya, menggelengkan kepala.
"Kau suka, kan?" seringai James.
"Ya, tapi tidak cukup untuk masuk ke lemari sapu."
James mencibir.
"Lily Evans, aku sudah melakukan banyak hal untukmu hari ini, tidak bisakah kau melakukan itu untukku?"
"Itu curang!"
"Tidak, tidak curang," kata James riang, membuka pintu lemari sapu di koridor Mantra yang tersembunyi. "Dan tidak ada yang akan menemukan kita di sini, jadi jangan khawatir soal itu."
Lily mendesah.
"Kau tidak akan menang, Lils," goda James.
Lily meleletkan lidah padanya.
"Baiklah," katanya, masuk ke dalam lemari sapu. James mengikutinya dengan seringaian di wajah.
"Aku punya syarat," kata Lily, tetapi dia tidak melanjutkan kalimatnya sebab bibirnya mendadak amat sibuk.
"Hai, Remus."
Remus mendongak cepat dari buku catatan yang sedang ditulisinya, di ruang rekreasi, dan mendapati Tonks berdiri di sana.
"Hai," sapa Remus, tersenyum. "Bukankah seharusnya kau di kelas?"
Tonks nyengir.
"Aku berpura-pura hidungku patah."
"Bagaimana kau bisa berpura-pura hidungmu patah?" kekeh Remus, mengangkat alisnya.
Tonks tersenyum berterima kasih karena Remus tidak menegurnya.
"Aku bisa mengubah penampilanku," akunya pelan.
Alis Remus menghilang di balik rambutnya.
"Maksudmu, kau ini A—"
"Ya," Tonks mengangguk cepat, tetapi ketika melihat Remus menaikkan alisnya, dia menambahkan sambil nyengir, "Semua orang di kelasku tahu, tapi yang lain tidak. Dumbledore tidak ingin yang semua orang tahu."
Remus manggut-manggut.
"Mungkin kau bisa melewatkan kelas Transfigurasi di tahun keenam dan ketujuh," sarannya, membuat wajah Tonks menjadi cerah.
"Masa?"
"Yeah, pelajarannya tentang transfigurasi manusia."
"Indah sekali," kata Tonks dengan nada bahagia yang membuat Remus tertawa.
"Kau mau duduk?" tawar Remus, melambaikan tangan ke sofa di sampingnya.
Tonks mengangguk dan duduk di sebelah Remus, mengamati catatannya.
"Kau sedang apa?" tanya Tonks.
Remus menutup bukunya dengan keras.
"Er... membuat rancangan," jawabnya canggung.
"Untuk?"
"Pesta."
"Pesta lagi?" kata Tonks, tertawa.
Remus nyengir.
"Yeah."
"Kapan?"
"Malam ini."
"Tidakkah kaupikir waktunya terlalu mepet?"
"Yah, kami merencanakannya kemarin sih," kata Remus sedikit malu.
Tonks tertawa.
"Kenapa teman-temanmu tidak membantu?" tanyanya ingin tahu.
Remus sedikit merona.
"Oh, mereka tidak bisa membuat rencana," dia mengakui. "Tapi biasanya aku sudah menyusun beberapa hal sendiri."
"Menyedihkan."
"Aku tidak seperti itu!" bantah Remus, tetapi toh dia tertawa dan melempar bantar kursi ke arah Tonks, yang terbahak dan menghindari lemparan tadi.
"Aku harus kembali ke kelas," kata Tonks akhirnya, bangkit dari sofa. Remus sedikit kecewa. "Sampai nanti," pamit Tonks, melambai malu-malu.
"Sampai nanti, Tonks," balas Remus, kembali menekuri catatannya.
Tonks meninggalkan menara Gryffindor dan kembali ke kelas Ramuan. Sementara itu, Remus tertawa sendiri dan menggelengkan kepalanya, sama sekali tidak menyadari bahwa Tonks adalah satu-satunya anak perempuan yang bisa diajaknya ngobrol dengan nyaman, dibandingkan teman-teman perempuannya yang lain.
4. Menyentuh rambut itu
"Oke, aku tidak terlalu paham dengan yang satu ini," ujar James, menatap Lily, yang wajahnya mendadak merah jambu keunguan. "Itu?"
"Bukan apa-apa, aku tidak perlu melakukannya lagi!" kuak Lily.
James tetap menatapnya. Lily sedikit panik; bagaimana dia bisa menjelaskan pada James apa yang dia maksudkan? Rambutnya selalu membuatnya tertarik; itu sensasi menyenangkan yang membuatnya merasa bersalah.
"Lily, kita sedang melakukan semua yang ada dalam daftar. Nah, apa maksudnya ini?"
"Aku ingin—"
"Menyentuh rambut itu, benar, untungnya aku tahu sendiri," cemooh James. "Apa maksudmu dengan 'itu'?"
Lily mendesah dan maju selangkah untuk menyentuh rambut James.
"Apa berikutnya?" tegasnya kikuk.
Alis James terangkat tinggi-tinggi.
"Kau ingin menyentuh rambutku?" tanya James, sebuah seringaian membelah wajahnya.
"Oh, jangan sampai kepalamu menggelembung," gumam Lily, membuat seringaian James semakin lebar. "Ya! Baiklah! Aku ingin menyentuh rambutmu!"
"Kau tahu, kalau kau minta, aku akan mengizinkanmu."
Lily merona.
"Aku tahu," katanya.
"Kenapa menyebutnya 'itu'?" seringai James.
"Karena aku tidak ingin menyebutmu dengan 'Potter' di sana! Bisa-bisa semua orang tahu!" seru Lily.
James terpingkal-pingkal.
"Kenapa kau ingin?"
"Rambutmu selalu membuatku tertarik sama besarnya seperti membuatku sebal," kata Lily tak acuh. James nyengir mendengarnya. "Oh, lupakan!" teriak Lily, meninju lengan James. "Selanjutnya?"
"Nomor lima."
"Maria!"
Maria Beckly mendongak ketika Tonks, sahabatnya, duduk di sampingnya.
"Kukira hidungmu patah?" ledek Maria.
Tonks memutar matanya, tetapi wajahnya bercahaya.
"Maria."
"Ya, Tonks?"
"Kita harus berdandan untuk malam ini."
"Kenapa?"
"Akan ada pesta."
"Dan?"
"Ini kesempatan terakhirku, Maria!"
"Benar," komentar Maria, menelengkan kepala seperti biasanya ketika sedang berpikir. "Yah, kita harus membuatmu tampak memesona, kan?"
"TERIMA KASIH, MARIA!" seru Tonks, memeluk sahabatnya.
"Kuharap ini berhasil."
"Aku juga."
"Di mana kita?" bisik Hestia. Gelap sekali di sekelilingnya.
"Tunggu dulu..."
"Aku tersinggung, Sirius. Di mana kita?"
"Kita di bumi."
"Bagus sekali, Sirius. Di bagian bumi manakah kita?"
"Hogwarts."
"Kemajuan! Di bagian Hogwarts manakah kita?"
"Oh, maaf, aku tak bisa menjawab yang satu itu."
"SIRIUS BLACK!"
"Aku juga mencintaimu."
"Sirius, di mana aku?"
"Baiklah, sabar sedikit, Sayang. Oke?"
"Aku bukan penyabar."
"Kuperhatikan itu. Nah, tunggu sebentar."
"Sirius!"
"Hestia Jones, kau baru saja mengacaukannya! Yang benar saja!"
"Sirius!"
"Tunggu! Dan..."
Ada kilatan cahaya, dan mendadak saja Hestia bisa melihat. Dia memandang berkeliling dengan kagum. Mulutnya, memalukan sekali, terbuka lebar ketika dia memasuki tempat itu. Samar-samat tempat itu terasa familiar, seolah-olah pernah dilihatnya dalam mimpi. Dia terkesiap.
"Sirius, di mana kita?"
"Kita berada dalam kencan impianmu."
5. Melihat seekor Unicorn
"Kau belum pernah melihat Unicorn?" seringai James.
"Belum. Ingat tidak, mereka tak bisa menemukan seekor pun untuk pelajaran?" Lily mengingatkan.
James berpikir sejenak.
"Oh, benar! Hari itu ada serangga di rambutmu dan aku mencoba mengusirnya, tapi kau menamparku," dia menyeringai.
"Ada serangga?"
"Barusan kubilang ada serangga, kan!"
"Aku tak percaya padamu," kata Lily, nyengir ketika dililhatnya James menggelengkan kepala. "Apa? Bertahun-tahun kau mengajakku kencan, kau mencoba meyakinkanku kalau kau pemain Quidditch tersohor, dan kau mengharapkanku memercayaimu?"
"Oh, yeah," kekeh James, mengecup kening Lily. "Waktu itu aku sedikit sinting."
"Sedikit?"
"Oh, tutup mulut, Lils," tukas James, mengacak rambutnya. "Oke, ayo kita cari Unicorn!"
"Tunggu. Kau serius?"
"Astaga, Lily, aku James!" desis James.
Lily terkikik.
"Jadi, di mana kita bisa menemukan Unicorn?"
"Hutan Terlarang."
"Aku tidak mau ke sana!" Lily berseru.
James menghela napas. Dia seharusnya mencari sampai ke pelosok hutan.
"Kenapa?"
"Karena kita berdua murid!"
"Tidak, kita bukan murid," seringai James. "Kita adalah seorang murid dan seekor binatang liar."
"Kau akan bertransformasi?" desis Lily.
James hanya tersenyum, lalu memejamkan mata. Langsung saja di tempatnya baru saja berdiri, muncul seekor rusa jantan besar.
"Oke, baiklah," desah Lily, lalu mengikuti rusa jantan yang konyol itu ke dalam hutan. Si rusa jantan menghentikannya dan menekuk lututnya. "Apa?" pekik Lily kaget.
Mata si rusa mengedip. Dia berjalan ke belakang Lily dan menunduk, lalu tanpa peringatan menyenggol Lily sedemikian rupa sehingga gadis itu duduk di atas punggung rusa.
"JAMES!" jerit Lily sementara si rusa mulai berlari.
Tetapi setelah beberapa saat sempat merasa takut akan jatuh, Lily mendapati dirinya menikmati kecepatan si rusa. Dia tertawa dan menjerit sementara James menandak-nandak.
"Kau rusa jantan yang sungguh feminin," kata Lily, menepuk-nepuk kepala si rusa. Didengarnya rusa itu mengeluarkan semacam dengusan yang hanya bisa diasumsikannya sebagai suara mengancam. "Aku juga sayang padamu. Kau tahu, mungkin saja aku lebih menyukaimu sebagai rusa jantan, soalnya kau tidak terlalu menyebalkan," kata Lily. Si rusa jantan mendadak berhenti. "Dan rambutmu jauh lebih rapi," Lily berpikir-pikir, membelai bulu si rusa.
Rusa jantan itu menggoyangkan tubuhnya untuk menuruunkan Lily. Lily mendarat keras di tanah dan si rusa jantan berubah kembali menjadi James.
"Apa maksudmu, aku tidak terlalu menyebalkan?" kata James galak, menghambur mendekati Lily yang masih di tanah.
Lily terkikik dan memberikan senyuman pada James, yang gagal menahan diri untuk tidak tersenyum balik.
"Yang kumaksudkan adalah kau tidak terlalu banyak bicara."
"Jadi, kau ingin mengatakan bahwa kata-kataku menyebalkan?" cemooh James, membantu Lily berdiri. Lily hanya mengangkat bahu. "LILY!"
"James, shh!" desis Lily, menutup mulut James dengan tangannya.
James menatapnya. Lily sedang memandang sesuatu di balik bahu James. James memutar tubuhnya dengan cepat, siap melindunginya, dan melihat dua ekor Unicorn, satu masih anak-anak dan satu dewasa.
"Sana," perintah James pelan ada Lily, mendorongnya ke arah kedua Unicorn.
Lily membelalak padanya.
"Aku tidak bisa mendekat, mereka tidak suka anak laki-laki," kata James. "Sana," ulangnya.
Lily tersenyum, menarik napas dalam-dalam dan mendekati kedua Unicorn itu.
"Hai," sapanya lembut, mengulurkan tangannya dengan gugup.
Si Unicorn dewasa mengeluarkan suara yang membuat Lily lebih percaya diri mendekatinya. Menarik napas dalam-dalam, dibelainya Unicorn itu. Rasanya seperti membelai sutra. Si Unicorn tidak bergerak, maka Lily dengan hati-hati meletakkan tangannya di tanduknya, dan tersenyum. Lily bisa merasakan tanduk itu sedikit bergelombang, merasakan keajaiban itu. Sesuatu menyentuh kakinya, dan dia menunduk, melihat si anak Unicorn mengendusi jubahnya. Lily terkikik dan berlutut untuk membelainya juga.
"Lils?"
Lily terlonjak dan mendongak menatap James. Dia sudah lupa terhadap sekelilingnya, begitu terpikat pada kedua Unicorn itu.
"Kita harus pergi sekarang," kata James, memandang berkeliling hutan dengan cemas.
Lily mengangguk paham dan berdiri, memberi elusan perpisahan pada kedua Unicorn itu sebelum mendekati James dan meraih tangannya yang terulur.
"Aku bisa membelai seekor Unicorn!" bisiknya bahagia.
Tersenyum, James mengamati mata Lily berbinar-binar, penampilannya yang berantakan, dan nada serta aura gembira yang terpancar darinya.
"Kau membelai dua ekor," koreksi James, ketika halaman kastil tampak di depan mereka.
"Aku berhasil!" jerit Lily, berdiri di hadapan James, menghentikannya. Dia melompat dan memeluk lehernya. "Terima kasih!"
James tertawa dan memeluknya balik.
"Apa pun untukmu, Lils."
"Apa lagi berikutnya?" tanya Lily bersemangat, melepaskan James dan melompat-lompat.
"Ah, sayang sekali, tinggal dua lagi," keluh James. "Nomor enam!"
"Bagaimana kau bisa tahu tentang kencan impianku?" pekik Hestia dalam perjalanan untuk makan siang, masih mencoba membayangkan bagaimana caranya kekasihnya ini mengetahuinya.
"Bunga-Lily," Sirius mengangkat bahu. Hestia ternganga. "Jangan marah padanya, aku ingin melakukan sesuatu yang istimewa sebelum kita meninggalkan tempat ini," Sirius memohon.
"I love you," jerit Hestia, berjinjit untuk menciumnya.
6. Menampar wajah Black
"Menampar wajah Black," James membaca sambil terkekeh sementara Lily tertawa. "Astaga, Lily, karena apa itu?"
"Dia tidak bisa tutup mulut, padahal aku sedang mencoba belajar," kenang Lily.
"Oke. Kita lakukan sekarang?" kata James, menawarkan sikunya.
Lily membelalak.
"Sungguh?"
"Kan ada dalam daftar."
"Dia kan sahabatmu."
"Lebih baik lagi," James mengedip, menarik Peta Perampok dari sakunya. "Dia ada di asrama," katanya, menyeret Lily ke menara Gryffindor.
Remus sedang duduk sendirian di sofa ketika mereka berdua masuk.
"MOONY!"
"Hai, Prongs," kata Remus setelah mengatasi kekagetannya.
"Kau lihat Padfoot?"
"Dia dan Hestia sedang mengadakan kencan khusus," jawab Remus, memutar matanya.
"Oke, aku tahu di mana mereka," kata James, menarik tangan Lily.
"Aku tidak mau menyela!" seru Lily, membelalak.
"Lily!"
Lily terlonjak mendengar panggilan itu. Suara itu datang dari belakangnya. Dia berbalik tepat ketika Hestia, berlari mendekat, menubruknya.
"Lily, aku mendapatkan kencan impianku!" pekik Hestia.
Lily nyengir.
"Trims, Bunga," kata Sirius dari belakang Hestia.
Lily memberinya kedipan penuh makna.
"KAU YANG MELAKUKAN INI!" jerit Hestia.
Lily meringis, merasakan gendang telinganya mau pecah.
"Kaupikir dia bisa melakukannya sendiri?" tukas Lily jengkel.
Hestia terkikik.
"Aku. Sayang. Padamu."
"Aku tahu," seringai Lily, lalu berpaling pada James, yang mengangguk ke arah Sirius. "Sungguh?" bisik Lily.
James mengangguk cepat.
"Kalau kau berani."
"Kalau dia berani apa?" tanya Remus penasaran.
James mengulurkan daftar itu. "Nomor enam," katanya.
Remus membaca cepat daftar di tangannya, dan menyeringai.
"Lakukanlah," kata Remus tak acuh, menegakkan diri.
James tergelak.
"Kalau kau berani," ulang James, menyilangkan lengannya.
Lily mendesah. Dia menegakkan bahu dan mendekati Sirius.
"Apa?" tanya Sirius gugup ketika Lily berhenti di hadapannya. Sebelum dia menyadari, Lily sudah mengangkat tangan dan menampar wajahnya keras-keras.
"BRENGSEK!" teriak Sirius, terhuyung ke kursi di belakangnya sementara James and Remus tertawa terpingkal-pingkal.
"Apa-apaan itu tadi?" tanya Hestia, setengah geli setengah gusar.
"Daftarku," kata Lily singkat.
Hestia tertawa.
"Kau betul-betul melaksanakannya?"
"Oh, kupikir dia harus melaksanakannya," kata James santai.
"Dia beruntung memilikimu," kata Hestia, tersenyum pada James, lalu menghampiri Sirius. "Bangun."
"Dia baru saja menampar mukaku!" erang Sirius. Hestia hanya mengangkat bahu. "HESTIA!"
"I love you," kata Hestia, menarik tangan Sirius untuk membantunya berdiri. "Kamar Kebutuhan?" bisiknya di telinga Sirius.
Mata Sirius melebar.
"Suatu kehormatan bagiku," katanya, dan dia langsung menarik Hestia dan meninggalkan asrama, namun masih sempat melemparkan lirikan berbahaya pada Lily.
"Aku tak pernah berpikir kau bisa melakukan itu," kekeh James, memandang Lily penuh kekaguman.
"Aku juga," kata Lily, nyengir.
"Selanjutnya?" tanya James bersemangat, memandang Remus.
"Nomor tujuh!"
"Oh, ini yang terakhir," desah James.
Lily merasa perutnya anjlok, tetapi Remus tersenyum lebar.
"Ini akan lama. Nomor tujuh!"
"Maria, warna apa?"
"Tonks, kau cocok dengan warna apa saja," kata Maria bosan dari sudut paling jauh di kamar anak-anak perempuan kelas dua. "Lagi pula, pestanya tidak sampai empat jam!"
"Warna apa?" ulang Tonks, mengamati tiga buah gaun.
"Astaga, Tonks," gerutu Maria, mendekat untuk mengamati gaun-gain itu. "Merah jambu cerah, tentu saja," katanya.
"Kalau ini berhasil, itu akan jadi warna favoritku," kata Tonks senang.
"Maksudmu, kalau itu sudah berhasil?"
"Tentu saja," kata Tonks, lalu kembali menghadap cermin. Dia menutup matanya dan merasakan sensasi aneh ketika wajahnya bertransformasi.
"Tonks, apa yang kaulakukan?"
"Hidungku besar sekali!"
Maria memutar matanya dan kembali menekuni bukunya.
7. Menemukan semua lorong rahasia ke luar Hogwarts
"Kau jangan meremehkanku, James Potter," kata Lily, menjawab pandangan geli James.
"Kenapa kau bersemangat sekali?"
"Karena ini daftar-ku," kata Lily, menempelkan tangan di bibirnya.
James tersenyum ketika teringat cara ibunya berdiri.
"Oke, Lils. Jadi," kata James, berdeham, menarik keluar daftar Lily. "Nomor tujuh," dia membaca dengan resmi aneh yang digunakannya sebelumnya. "Menemukan semua lorong rahasia ke luar Hogwarts." Dia menggeleng; tak masuk akal rasanya Lily yang dikenalnya adalah Lily yang menuliskan daftar ini. "Beruntung bahwa kau mengencani seorang Marauder, kalau begitu," katanya, mengedip.
"Kau tahu semua jalan keluar?" tanya Lily.
James memutar matanya.
"Yang benar saja, Lily, aku tersinggung, nih," ejeknya, menggenggam jemari Lily. "Yang mana dulu?"
"Aku tak tahu," kata Lily canggung.
"Hmm... kau hanya ingin tahu jalan rahasianya, atau melewatinya?"
"Dua-duanya!" teriak Lily.
James mengangkat alis.
"Aku penasaran," aku Lily perlahan.
James tertawa dan mengecup keningnya.
"Baiklah, kita ke Honeydukes dulu."
"Kita kan sudah pernah melewati lorong itu, James," Lily mengembuskan napas keras ketika mereka menuju patung yang akan membawa mereka ke lorong itu sekali lagi.
"Kita ulangi sekali lagi," kata James. Dia mengacungkan tongkatnya untuk mengubah terowongan itu menjadi luncuran, dan keduanya berlomba mencapai Honeydukes. Mereka tiba di gudang bawah tanah dan Lily, menyeringai, memandang berkeliling. James berindap menuju sebuah kotak dan mengantongi sebungkus permen.
"James!"
"Apa? Tidak ada yang akan memperhatikan," kata James jail. Sebelum Lily bisa terteriak padanya, James mengacungkan tongkatnya ke lantai dan mereka berlari menuju Hogwarts. "Oh, yah, aku tak bisa mengembalikannya sekarang," kata James ketika mereka keluar.
Lily memutar matanya.
"Berikan satu padaku," kata Lily.
James tertawa.
"Aku tidak akan membunuhmu kalau kauberi aku satu," lanjut Lily, dan James, nyengir, meletakkan sebutir permen di lidah Lily. "Jauh lebih baik," kata Lily. "Di mana lagi jalan-jalan rahasianya?"
"Aku tidak akan memberitahumu semuanya, Lily, dua terbaik saja," kata James. "Tidak apa-apa, kan?"
Lily mengangkat bahu. "Yeah," katanya. "Boleh kutanya kenapa?"
"Aku tidak bisa memberitahumu semua rahasia Marauder," James mengedip. "Lagipula, pestanya dua jam lagi, dan dugaanku Hestia akan menculikmu untuk bersiap-siap?"
"Dugaanmu tepat," kata Lily dengan suara rendah.
Kini keduanya berjalan meninggalkan kastil. Lily sedikit gugup ketika mereka tiba di tempat Dedalu Perkasa berdiri.
"Kita akan ke mana?" tanya Lily.
"Ini lorong favoritku," kata James, melambaikan tangan ke arah Dedalu Perkasa, "yang akan membawamu ke Shrieking Shack tempat Moony biasanya pergi."
"Ya, aku tahu," kata Lily pelan, bergidik ketika teringat malam dia dan James putus. "Bagaimana kau bisa masuk?"
"Kau harus menekan benjolan di dahannya," kata James, mengangkat tongkat sihirnya untuk membuat sebuah imenekan tonjolan di bagian bawah pohon. Pohon itu langsung diam.
James menarik Lily ke lubang yang kini tampak di dekat akarnya.
"Kau duluan," kata James.
Lily tersenyum, lalu merangkak masuk. Terowongan itu begitu sempit sampai-sampai Lily harus merangkak sepanjang perjalanan.
"Pemandangan indah dari belakang sini," kata James.
Lily menggeram dan menendangnya. James tertawa.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di Shrieking Shack. Lily memandang berkeliling, mengamati kursi-kursi yang sepertinya rusak karena gigitan dan dinding yang tergores. Dia bergidik.
"Agak menyeramkan di sini," bisiknya.
James terkekeh.
"Memang," kata James lembut.
"Geng kalian sangat menikmati malam purnama, kan?" bisik Lily, tangannya merangkul leher James.
"Sangat."
"Mungkin sebaiknya kita pergi," kata Lily, mengerling arloji James. "Pestanya satu setengah jam lagi, dan kau perlu bantuan untuk membawa... er... beberapa barang."
James nyengir.
"Aku tahu aku mencintaimu."
"Oh, James," kata Lily, menghentikan James yang sudah hendak menuju terowongan. "Terima kasih," senyumnya.
"Apa pun untukmu, Sayang."
