8 bulan kemudian
Perut Baekhyun sudah sangat besar dan hampir memasuki bulan kelahiran anaknya. Selama masa kehamilannya, ia selalu di dampingi KaiSoo juga HunHan. Bahkan kedua pasangan itu yang sibuk menyiapkan perlengkapan bayi. KaiSoo untuk peralatan bayi, sedangkan HunHan baju-baju bayi.
"Eoh? Apa jenis kelamin bayinya? Tanya Luhan pada Sehun.
"Omo...apakah Baekhyun tidak periksa kandungan?" Pikir Sehun.
"Untuk saat ini belikan saja warna netral untuk bayi itu nanti!" Ujar Kai.
"Ne! Untuk sekarang jauhkan hal-hal yang berbau feminim." Sambung Kyungsoo.
Kedua pasang ini sibuk berbelanja, sedangkan Baekhyun hanya terdiam di apartement. Karena para sahabatnya itu tidak ingin Baekhyun keluar dengan umur kandungan tua.
"Yeoboseyo my giant~!"
Ya, Baekhyun menghubungi Chanyeol saat kekasihnya itu libur bekerja.
"Bagaimana dengan kandunganmu?"
"Aku tidak pernah periksa ini! Tapi aku merasa sehat. Ku pikir akan sangat mengejutkan jika aku tidak memeriksa kehamilanku tiap bulan."
"Bulan besok aku sudah memasuki masa persalinan. Bisakah kau pulang?"
"Kau tahu? Aku sudah mengambil cuti sejak kemarin. Sekarang aku sedang bersiap menemui kurcaciku~!"
"Jinjja? Ahh...aku sudah tidak sabar!"
"Kau tahu? Kau harus berterima kasih pada KaiSoo dan HunHan. Mereka selalu mendampingiku dan menjaga anak kita."
"Aku selalu percaya dengan penjagaan mereka Baek~!"
"Eummm...benarkah disana kau tidak main mata?"
"Aigoo...Baeki, aku disini untuk bekerja bukan untuk mencari pasangan. Bukankah aku sudah mempunyai pasangan hidupku? Lalu untuk apa aku mencari lagi?"
"Bagiku, Park Baekhyun adalah segalanya bagiku. Dia penyemangat hidupku. Jika aku sudah kembali berhadapan dengannya, aku tidak ingin membuang waktu untuk memeluk tubuh mungil itu."
"Sepertinya tubuhku sudah tidak mungil dan seksi dulu lagi Yeol~"
"Kau akan selalu menjadi bidadari cantik dan seksi bagiku Baek!"
"Omo...jangan membuatku ingin mengigit ponselku karena ucapanmu ini. Sebaiknya cepat kau berangkat sekarang juga!"
"Ok baby~! Saranghae..."
Byun Baekhyun POV
Perasaanku jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Aku sangat tidak sabar untuk kehadiran Chanyeol di depan mataku. Aku tidak ingin dia lepas dariku lagi. Pisah darinya membuatku tak tahan dengan kesendirianku di apartement ini.
"Sebaiknya aku mandi dan segera merapihkan semuanya untuk menyambut kehadirannya kembali."
Skip time
Selesai merapihkan diriku, aku segera merapihkan kamar dan ruang lainnya.
"Berita hari ini adalah sebuah kecelakaan beruntun di jepang! Sebuah bus, truk, dan 3 mobil lainnya dalam keadaan cukup hancur. Terdapat beberapa korban yang meninggal, luka parah, hingga luka ringan. Dan ada satu orang yang tidak di temukan dengan identitas asal korea selatan. Kemungkinan besar dia terjatuh hingga jurang."
Mendengar berita televisi tersebut, membuat ku sangat terkejut bahkan kedua kakiku bergetar.
Dengan cepat, aku menghubungi Chanyeol kembali.
1 kali
2 kali
Hingga 10 kali, panggilan selalu terputus.
"Dari sebuah indentitas tercantum nama Park Chanyeol adalah korban asal korea selatan yang hilang. Saat ini pihak kepolisian sedang mencarinya."
Smartphone ku lepas begitu saja dari genggamanku.
"C-Chanyeol?"
"Awww..." Rintihku saat perutku kontraksi.
"Aaa...sakit!"
"Baeki~! Gwaenchanayo?" Pekik Luhan dari luar sana.
"Perutku sakit!" Balas ku.
"Buka pintu!" Ujar Kai.
"Aku tidak bisa bergerak. Ini begitu sakit..."
"Katakan sandinya!" Pinta Sehun.
"Tanggal lahirku!"
Cklek~
"Baek gwaenchana?" Tanya Kyungsoo khawatir.
Dengan samar, aku mendapati keempat sahabatku yang berlari mendekatiku. Dan semuanya menjadi gelap.
TBC~
