"Odoroitaka?!"
Sosok putih muncul dari semak belukar, niatnya ingin mengejutkan sang pirang kini hanyalah angan belaka
Toh Yamanbagiri telah hapal diluar kepala
Peridot menoleh ke berbagai arah
Hanya firasatnya saja.. Atau citadel kian sepi?
"Dimana mikazuki? "
Sang bangau menyilangkan tangannya. Pipinya ia gembung kan sedikit tanda jengkel akan pertanyaan Yamanbagiri
"Kenapa kau selalu menanyakan kakek tua itu? "
"Kenapa nadamu seperti keberatan akan hal itu? "
"Kenapa kau balas bertanya?! "
"Karena aku rasa pertanyaanku lebih berbobot daripada dirimu"
Cekcok kecil berakhir helaan nafas seorang Tsurumaru. Berkelahi mulut dengan Yamanbagiri adalah sebuah kesalahan..
"Yasudah.. Ngomong ngomong kau dipanggil oleh Aruji... Beliau ingin bicara padamu"
Derapan langkah kaki beriringan, memecah kesunyian kecil didalam benteng
Tengah hari.. Ya?
Mungkin para Toushirou sedang asyik mengayuh sampan menuju alam mimpi
"Untuk apa kau mengikuti ku? "
"Karena kau cantik"
"Jangan sebut aku cantik"
"Kalau memang kenyataanya seperti itu, mau bagaimana lagi? "
"Aku cuman duplikat"
"Kalau begitu aku cuman bangau pembawa sial"
Yamanbagiri berhenti, menatap sejenak Tsurumaru yang hanya mengangkat bahu
Ah sudahlah.. Toh dia sendiri yang mengakui hal demikian
Ruangan kecil terbuka perlahan, Tsurumaru bisa melihat sang Aruji yang hanya mempersilahkan Yamanbagiri masuk
dan hanya Yamanbagiri
Itu berarti.. Telinga bangau ini harus diuji kemampuannya
"Yamanbagiri-san... Apa kau paham betul konsekuensi dari rencana mu ini?"
Rencana?
Sang bangau mengerjap perlahan, telinganya menempel mendengarkan pembicaraan
"Haah.. Untuk apa kau melakukan semua ini? "
''Hanya untu melindungi apa yang harus aku lindungi.. Tuanku"
Decitan kecil terdengar lirih
''Bahkan bila harus menyerahkan segalanya pada penguasa kegelapan..
Aku sanggup"
"Baiklah... Mari kita mulai"
Gubrak
Ah, Tsurumaru kelewat batas..
Ia tak sengaja menggeser pintu dan membuat dirinya jatuh di dalam ruangan sang master
"O-odoroitaka? "
"Tsurumaru... "
Sang Aruji menggeram kesal
Yamanbagiri berdiri, mohon izin untuk pamit dari ruangan itu. Menoleh dan menyeret Tsurumaru keluar
"Bisakah kau tidak mengacaukan sesuatu, Tsurumaru? "
"Ah? Itu.. Hehe"
Yamanbagiri menghela nafas
Bisakah bangau sialan ini tidak menyebabkan sebuah kekacauan?
Ah atau yang paling sederhana saja.. Bisakah ia diam barang 10 detik saja?
"Jadi... "
Dia berhenti
"Perjanjian apa yang kau buat dengan Aruji? "
"Tidak ada"
"Aku mendengarnya"
"Itu tidak penting"
"Tapi bagiku kau penting! "
Hening melanda, sang pirang kembali menghela nafas. Sungguh keras kepala
"Jika aku menceritakannya, apa kau akan menyebarluaskan nya?"
"Tidak"
"Baiklah.. Dengar.."
Tsurumaru menajamkan indera nya. Menatap dengan serius kedua peridot sejernih permata
"Kedamaian ini.. Tidaklah abadi"
"Akan ada saat dimana para lawan akan berkumpul dan menghancurkan citadel"
"Lalu.. Apa hubungannya dengan mu? "
"Kita tidaklah kuat, Tsurumaru"
"Kita kuat! lagipula.. Semua itu tidak akan terjadi"
"Lihat? Kau bahkan tidak mempercayai nya, kau dan aruji sama saja... Hei ..Insting ku tidak pernah salah"
Tsurumaru diam.. Mendengarkan apa yang akan dikatakan selanjutnya
"Aku membuat sebuah perjanjian. Dimana akulah yang akan maju pertama kali.. Aku lah yang akan memimpin di garis depan"
Memimpin?
Di garis depan?
"Kenapa? "
"Karena aku.. Aku lah yang pertama kali membangun citadel bersama Aruji.. Aku punya sebuah kewajiban untuk itu"
"Kenapa tidak kakek brengsek itu saja? "
Amber tak berpaling dari peridoti
"Dia bodoh dan tidak bisa diandalkan"
Tepat sekali
"Lagipula.. Apalah arti nyawa duplikat sepertiku.. Dibandingkan dengan nyawa sebilah pedang indah Mikazuki Munechika?"
Dan untuk pertama kalinya..
Helaian pirang bebas
"Aku.. Akan melindungi mu. Apapun yang terjadi"
Jubah lusuh kembali ditarik, ia berbalik
"Aku mengandalkanmu"
Tsurumaru hanya tersenyum
- ugh"
Ah.. Ada yang menghantam kepalanya. Yamanbagiri mencengkram surai pirang erat
"Y-yamanbagiri! Oi! Ada apa?! "
Mata itu...
"A-ah.. Tidak.. Mungkin aku kelelahan"
Sekelebat rasa khawatir nyaris membunuh, ingin sekali Tsurumaru memeluk insan rapuh itu dengan erat.. Namun niatnya terurung saat sebuah suara nista mengejutkannya
"MANBA-CHAANNN~"
BRUGH
Shit.. Tsurumaru cemburu buta
Mikazuki, kakek sialan itu baru saja pulang dari misinya. Dan sekarang sedang berpelukan mesra dengan sosok yang ia cintai
Akan ku patahkan pinggangnya
"Jangan beritahu siapa pun, ya? "
Lagi lagi mata itu
"Oya? Apa yang dilakukan siluman rendahan itu disini? "
'Aku ingin membunuhnya... '
"Sampai jumpa Yamanbagiri.. Akan kujaga rahasiamu loh"
Kini giliran Mikazuki yang cemburu
"Kau punya sebuah rahasia bersama setan itu? "
Sang pirang mengangguk
"Aku cemburu loh.. "
"Yasudah kalau cemburu pergi sana.. Aku bisa cari pasangan baru"
"Aa!! Jangan!! Maafkan aku MANBA-CHAANNN~"
"Ya.. Aku akan melindungi mu.. Yamanbagiri"
Dalam bayangan.. Saat semuanya tak lagi punya kesadaran utuh..
Dirimu terduduk pasrah...
Dibawah hujan..
Kau meregang nyawa
Mengucapkan hal tak masuk akal..
Lalu sirna dengan kepingan kepingan yang tak lagi serupa
Aku gagal...
Aku... Tidak bisa melindungi mu..
Aku.. Hanyalah orang bodoh
Aku lemah..
Maaf
"YAMANBAGIRI!!! "
CTARR
"HUWAA!! "
Pemuda itu tersentak, amber terbelalak seiring turunnya beberapa bulir dari pelipis.. Ia bermimpi lagi
Mimpi yang menyakitkan
"Ada apa Tsurumaru?! Teriakan mu menggelegar sampai lantai bawah"
Dan untuk itulah Shoukudaikiri disini. Pemuda ber eye patch itu sedang memakai apron dan masih memegang spatula
Demi dewa
"Mimpi buruk ne? Kau menjerit seperti perempuan"
Tidak ada reaksi sama sekali.. Sampai akhirnya Tsurumaru buka suara
"We have to go"
"What? "
Shoukudaikiri mengerjap perlahan, gagal paham dengan yang dibicarakan
Terlambat memahami, pemuda bersurai hitam telah diseret ke luar
Dan masih memakai apron
"NOW! "
Katakan selamat tinggal pada harga dirimu.. Shoukudaikiri
Kali ini.. Aku tidak akan gagal
