Well, aku update lagi~

And, here we go~

.

.

.

...

Peramal Itu Bilang Kau Adalah Suami Masa Depan-Ku

(The Fortune-Teller Said That You're My Future Husband)

[Lik Original:: com/story/view/591693 || tambahkan alamat webs asianfanfics di depannya ]

The Real Author :: Otpismyoxygen

Translator :: Sayaka Dini

Disclaimer: This story belong to Otpismyoxygen.

Cast:

Baekhyun; Chanyeol; Jongin; Kyungsoo; Kris; Jongdae; Tao

Pairing: Chanbaek / Baekyeol

Setting: AU

Genre: Romance—Fluff—Comedy

Rated: T.

Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.

Please, Don't Like Don't Read.

Hope You Enjoy It~ ^_^

_o0o_

.

.

.

.

.

.

...

Bagian 30 ::

.o.o.o.o.o.o.

Menyibukkan diri dalam banyak kegiatan, seperti belajar, menyelesaikan pekerjaan Osis atau klub adalah solusi terbaik untuk menyembuhkan orang patah hati, itu menurut Baekhyun. Saat makan siang tiba, Baekhyun tidak pergi ke kantin lagi karena ia tidak ingin hilang kendali dan berlari ke arah Chanyeol. Ia juga tidak pergi ke atap sekolah karena itu hanya akan semakin menghancurkan hatinya. Tempat yang biasa ia gunakan sebagai tempat istirahat rahasia (atap sekolah) tidak ada lagi. Karena itu, Baekhyun memutuskan hanya akan membawa kotak makan siangnya setiap hari ke sekolah agar ia bisa makan siang di kelasnya atau di ruang Osis.

Sudah seminggu penuh setelah mereka putus, Baekhyun tidak pernah melihat mantan kekasihnya lagi sejak argumen besar mereka beberapa hari yang lalu. Baekhyun seharusnya merasa berterima kasih, tapi dia malah merasa sedih karenanya. Ia sangat merindukan sosok tinggi nan ceria itu.

Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol akan menyambutnya di ujung lorong, dan mereka bersama-sama akan menuju ke kantin atau atap sekolah. Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol akan menceritakan banyak cerita lucu, yang membuatnya tersenyum dan tertawa. Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol bicara tapi pada saat yang sama juga bisa menjadi pendengar yang baik. Ia akan mendengarkan cerita Baekhyun dengan penuh konsentrasi, dan akan memberikan pendapatnya sendiri tentang cerita tersebut. Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol selalu merawat Baekhyun lebih dulu dan mengutamakannya. Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol memanggilnya 'Baek' atau 'Baekkie'. Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol memegangnya, memeluknya, dan menciumnya.

Tapi lebih dari itu, Baekhyun rindu bagaimana Chanyeol menjadi miliknya.

Rasanya ajaib bagaimana stok air mata Baekhyun tidak pernah habis setelah ia menangis selama berhari-hari. Ia merasa bagaikan zombie. Rasanya seolah Chanyeol sudah membawa pergi jiwa dan hati Baekhyun bersama dengannya sejak Baekhyun meninggalkan atap sekolah ketika mereka resmi putus.

Kini, tepat sedetik setelah ia memikirkan hal itu, Baekhyun mengusap air mata di sudut matanya sambil memakan sepotong kimbap dengan tangannya yang lain. Ia benci bagaimana air matanya seringkali datang kapan saja, di mana saja tanpa izinnya. Ia benci bagaimana Chanyeol datang ke pikirannya setiap saat tanpa persetujuannya.

"Hyung, kau baik-baik saja?"

Baekhyun mendongak dari kotak makan siangnya yang penuh dengan kimbap dan beberapa buah-buahan, seperti semangka dan anggur. Ia melihat sang wakil ketua Osis berdiri di depannya dengan raut khawatir dari wajahnya. Sejak kapan Tao datang?

"Oh," ucap Baekhyun. "Aku tidak dengar kalau kau datang, Tao. Maafkan aku."

Raut khawatir tidak menghilang dari wajah Tao saat ia duduk di samping ketua Osis yang melanjutkan sesi makan siangnya. "Kau tidak terlihat baik, hyung," kata Tao, tatapannya tidak lepas dari ketua Osis. "Sebenarnya, kau sering sekali tidak terlihat baik akhir-akhir ini."

Baekhyun tertawa getir, "Aku tahu." Ia tidak butuh siapa pun untuk mengatakan kenyataan itu padanya. Ia sudah tahu itu sendiri.

Semua orang tahu. Semua orang sudah tahu kalau Baekhyun dan Chanyeol, pasangan yang berhasil menciptakan keributan sangat besar pada awal semester, sudah putus. Semua orang berbicara tentang hal itu. Semua orang memandang Baekhyun dengan tatapan arti. Semua orang tampaknya merasa kasihan padanya.

Jujur saja, Baekhyun juga merasa kasihan pada dirinya sendiri.

Baekhyun mendengar Tao mendesah pelan. Pemuda yang lebih muda itu berdiri lalu meletakkan dokumen ke dalam laci meja. Tao menatap Baekhyun sekilas sebelum akhirnya berbicara, "Kau tahu, Hyung. Dua orang yang sangat saling mencintai seharusnya bersama."

Baekhyun membeku. Zitao sudah berhasil membuka bendungan air mata Baekhyun sekali lagi, dan Baekhyun tidak berani mendongak untuk menatap wakil ketua Osis tersebut.

"Aku pergi duluan, Hyung," kata Tao, melangkah menuju pintu. Tapi ketika ia membuka pintu ada seorang perempuan yang berdiri di depan ruang Osis. "Oh? Namjoo-ssi?"

Saat nama perempuan itu disebut, Baekhyun mengangkat kepalanya, dan langsung melihat Tao yang membiarkan Namjoo memasuki ruangan. Tao menganggukan kepalanya sebentar pada perempuan itu, lalu ia pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Baekhyun yang terkejut dengan kunjungan mendadak perempuan tersebut.

"Namjoo? Kenapa kau ke sini?" Baekhyun bertanya sambil berdiri. Kakinya sedikit goyah karena lemah. Kondisinya entah bagaimana berubah buruk karena stres.

Namjoo tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah berjalan cepat menuju Baekhyun, menarik turun leher Baekhyun, lalu memeluknya. "Oppa," dia berbisik. "Aku merindukanmu."

"Ap–" Baekhyun mengerjap kebingungan. "Hei, Namjoo. Apa ada yang salah?"

Namjoo melepaskan pelukan mereka. Ia mendongak ke arah Baekhyun dengan matanya yang tampak sedikit basah. "Kau tidak pernah lagi datang makan siang bersama kami. Aku merindukanmu. Kau bertanya apa ada yang salah, jawabannya ya, jelas ada yang salah di sini."

Baekhyun menatap Namjoo bingung, terkejut dengan celotehan tiba-tiba perempuan tersebut. Perempuan di depannya ini, yang sudah menjadi temannya, yang sudah dekat dengannya seiring berjalannya waktu, yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, kini sedang melotot padanya dengan ekspresi sedih yang terpampang di wajah cantiknya.

Baekhyun menghela napas, memijat dahinya. Ia kemudian membawa perempuan itu untuk duduk di sampingnya. Setelah mereka duduk saling berhadapan, Namjoo segera berceloteh lagi, "Kau kejam, Oppa. Sebenarnya, kalian berdua sama-sama kejam. Bagaimana kalian bisa mengabaikan kami? Tidak mengatakan apa-apa bahkan satu kata pun, mendiami kami dalam kegelapan."

"Namjoo, ini rumit, sungguh," Baekhyun membela.

"Ini sama sekali tidak rumit," bentak Namjoo. "Aku tahu, Oppa. Aku sudah tahu karena orang tua ku sudah bilang padaku tentang pertunangan. Tapi aku tidak ingin memberitahu teman-teman kita tentang masalah kalian. Kau atau Chanyeol Oppa yang seharusnya memberitahukan mereka tentang ini."

Mata Baekhyun melebar, "Kau sudah tahu tentang pertunangan itu?"

Namjoo memutar matanya, "Tentu saja. Tapi bukan itu intinya, karena lagian aku akan menolaknya. Intinya adalah–"

"Jangan!" Baekhyun memotong ucapannya. "Kau tidak boleh membatalkan pertunangannya, Namjoo."

"Jangan bodoh," Namjoo menggeleng. "Tidak mungkin aku akan menikah dengan Chanyeol Oppa."

"Tapi kau mau, iya kan?"

"Kalau mau sih, iya. Tapi sekarang tidak lagi," Namjoo menyandarkan punggungnya pada kursi, dan melipat tangannya. "Mana berani aku memutuskan ikatanmu dengan Chanyeol Oppa."

Baekhyun mendesah. Kepalanya tiba-tiba berputar. Stres benar-benar mengambil alih jalan pikirannya. "Sejak awal tidak ada ikatan di antara kami, Namjoo."

Namjoo terlihat seakan ingin menarik semua rambutnya keluar karena kebodohan Baekhyun. Dia jelas tahu kalau kedua teman laki-laki terdekatnya ini menderita. Keduanya terluka karena mereka jelas masih sangat saling mencintai. Baik Chanyeol dan Baekhyun tidak datang ke kantin tiap hari, membuat Namjoo dan sahabat mereka lainnya khawatir tentang mereka berdua.

Mereka tahu pasangan itu telah putus, namun tidak satupun dari mereka tahu alasan di balik itu, kecuali Namjoo. Karena menjadi satu-satunya orang yang tahu, membuat Namjoo memutuskan untuk mengetuk sesuatu diantara dua idiot itu. Karena Baekhyun sudah pasti lebih bijaksana, Namjoo memilih untuk berbicara dengannya.

Tapi setelah melihat kondisi Baekhyun seperti ini, Namjoo berpikir bahwa baik Baekhyun maupun Chanyeol harus berbicara.

"Oppa," Namjoo memanggilnya, dan Baekhyun mendongak. "Apa kau mencintai Chanyeol Oppa?"

Butuh beberapa waktu bagi Baekhyun untuk menjawabnya, tapi Namjoo bisa melihat kalau Baekhyun tidak berpikir atau ragu-ragu tentang jawabannya. Dia hanya menimbang untuk memberitahu Namjoo atau tidak.

"Ya," jawab Baekhyun singkat. "Aku mencintainya. Ya. "

"Chanyeol Oppa juga mencintaimu. Dan jangan mencoba untuk menyangkalnya," Namjoo cepat menambahkan saat melihat Baekhyun ingin membantah. "Chanyeol Oppa sekarang terlihat seperti mayat berjalan. Tidak ada ... cahaya di matanya. Dia hanya secara fisik ada di situ. Tapi jiwa dan pikirannya berada di tempat lain yang dia sendiri tidak tahu di mana."

"Kau cahaya matanya, Baekhyun Oppa," lanjut Namjoo. "Dan ketika ia kehilanganmu, ia kehilangan cahaya untuk membimbingnya sepanjang jalan. Dia hilang. Semua yang ada padanya hilang."

Baekhyun menutup matanya, menekan air mata untuk kembali ke tempatnya. Ia tidak ingin Namjoo melihatnya menangis. Ia sudah terlihat kacau, dan ia tidak ingin air mata terlihat semakin memperburuk kondisinya.

"Apa kau tahu,Oppa?" Namjoo berbicara dengan suara pelan. "Dulu aku membencimu karena Chanyeol terlihat sangat menyukaimu. Dia tersenyum cerah ketika ia bersamamu, dan itu membuatku marah. Aku rasa aku cemburu, tapi," Namjoo memegang punggung tangan Baekhyun, membuat pemuda mungil itu membuka matanya dan menatap perempuan tersebut. "Aku sadar kalau aku tidak cemburu padamu. Aku iri dengan cinta yang kalian berdua bagi satu sama lain, dan aku masih iri sampai sekarang. Kalian membuat ku ingin jatuh cinta mendalam seperti itu. Aku ingin menjadi alasan di balik senyuman seseorang, seperti kau yang menjadi alasan di balik senyuman Chanyeol."

Baekhyun seharus merasa malu karena sekarang ia sedang dihibur oleh seorang perempuan, yang bahkan lebih muda darinya. Tapi dia tidak bisa menyangkal semua ucapan Namjoo. Semua kalimat Namjoo dicerna baik oleh sistemnya, terutama pikiran dan hatinya.

Namjoo benar. Mereka berdua sudah saling jatuh cinta; jatuh cinta setengah mati. Betapa bodohnya ia yang bahkan berani membiarkan cinta sejatinya pergi begitu mudah. Chanyeol adalah suami masa depannya, bukan karena si peramal bilang begitu. Tetapi karena Chanyeol ingin membuat Baekhyun menjadi suami masa depannya.

Kini Baekhyun mengingat percakapan pertama mereka di atap sekolah di hari jadian mereka.

"Tapi, serius, bagaimana bisa kau percaya pada peramal itu? Bagaimana jika dia menunjuk ... katakanlah... seorang pembunuh. Apa kau juga percaya padanya?"

"Aku rasa karena itu adalah kau. Karena itu adalah kau, jadi aku percaya padanya."

Bagaimana bisa Baekhyun sebodoh itu? Dia menginginkan Chanyeol, dan Chanyeol juga menginginkannya. Mengapa harus membuatnya lebih rumit dari sebelumnya?

"Aku menginginkannya," gumam Baekhyun. "Aku ingin dia kembali."

Namjoo berseri-seri saat ia mendengar kalimat itu. Perempuan itu bersemangat merentangkan tangannya hendak memeluk pemuda mungil tersebut, namun Baekhyun dengan cepat menahan tangannya. "Ada apa, Oppa?"

"Tapi Namjoo," tatapan Baekhyun terlihat kecewa. Ia meneguk air liur di tenggorokannya sebelum berkata, "Besok aku akan pergi ke Jepang."

.

.

.

.

.

Chanyeol membuka matanya saat ia merasakan tempat tidurnya bergerak. Ia langsung melihat sahabatnya duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan raut wajah dikhianati.

"Apa yang kau lakukandi sini?" kata Chanyeol dengan suaranya yang dalam; lebih dalam dari biasanya karena ia sudah menangis selama beberapa jam terakhir.

"Beraninya kau, Hyung," kata pemuda di depannya.

"Jongin, please," Chanyeol mengusap matanya, menghapus air mata. "Aku ingin sendirian."

"Kau tidak masuk sekolah hari ini, jadi aku rasa kau sudah punya cukup waktu sendirian, Hyung," kata Jongin pelan, takut membuat pemuda tinggi itu hancur. Chanyeol terlihat sangat rapuh meskipun tubuhnya sangat besar. "Yura noona sudah menceritakan semuanya. Maaf, tapi kau tidak mengatakan apapun selama seminggu, dan aku tidak tahan lagi untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Jongin melihat Chanyeol perlahan-lahan bergerak ke posisi duduk, menyandarkan punggungnya ke dinding, matanya merah dan bengkak. Ia tampak sangat lelah, baik secara fisik dan emosional. Jongin juga bisa melihat Chanyeol tidak bercukur selama berhari-hari.

Kamar itu terlalu gelap dan suram bagi Jongin, dan itu hanya membuat kondisi Chanyeol terlihat semakin buruk. Jongin lalu bangkit untuk menyalakan lampu. Mata Chanyeol tersentak beberapa detik karena cahaya terang tersebut, tapi dia tidak protes. Dia sudah kehilangan semua kekuatannya, bahkan hanya untuk berbicara. Itulah mengapa ia tidak masuk ke sekolah hari ini. Menghadiri sekolah selama beberapa hari terakhir –setelah argumen mereka berdua– hanya menguras energinya.

Tepat hari ke tujuh setelah mereka putus, Chanyeol sepenuhnya telah kehilangan alasan kehadirannya.

"Jadi," Jongin duduk di tempat tidur di samping Chanyeol, ikut bersandar ke dinding. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Jongin. Itu pertanyaan bodoh, Jongin tahu, tapi ia hanya tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak pandai dalam hal ini.

"Tidak ada," jawab Chanyeol kosong.

Mendengar jawaban Chanyeol, mata Jongin melebar, "Hyung ..."

"Sepertinya aku sekarang mati rasa," ucap Chanyeol. "Aku tidak bisa... Aku tidak ingin merasakan apapun. Ini benar-benar menyakitkan."

Rasanya Jongin ingin menangis. Karena ia tahu Chanyeol merujuk pada hatinya, dan Jongin benci kenyataan bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Jangan biarkan orang patah hati, Jongin, ku beritahu. Ini benar-benar menyakitkan, aku tidak bercanda," Chanyeol mengangkat tangan kirinya dan mencengkeram kain sweater-nya, tepat di depan dadanya. "Tidak hanya hancur di sini, tapi seperti lukamu di sini disiram air garam dan alkohol secara bersamaan."

Itu menakutkan, Jongin berpikir, kalau patah hati bisa mengubah seseorang seceria Chanyeol menjadi orang penuh emosi.

"Dia mencintaimu, Hyung," Jongin meyakinkannya. "Dia sangat mencintaimu, aku bisa melihatnya."

"Aku tahu," Chanyeol tertawa, tapi itu tawa kosong. "Aku tahu dia mencintaiku, aku tidak buta. Tapi Baek–" Chanyeol berhenti di tengah kalimatnya, dan mendesah. "Sial, ini sakit menyebut namanya."

"Dia hanya emosional, Hyung. Dia akan kembali ketika dia bisa mengendalikan dirinya."

"Tapi bagaimana kalau dia tidak?" Chanyeol menatap Jongin. Matanya secara perlahan berubah sedih. "Bagaimana kalau dia tidak kembali? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan terjadi padaku?"

Jongin menutup mulutnya karena dia serius tidak tahu harus menjawab apa. Tidak pernah ia bayangkan Chanyeol dan Baekhyun akan putus.

"Dia belahan jiwaku," lanjut Chanyeol. "Apa yang harus aku lakukan saat belahan jiwaku menghilang?"

"Hyung, orang bilang jika kau bahagia sebelum mengenal seseorang, maka kau juga bisa bahagia saat seseorang itu pergi."

"Yah, mereka bohong," kata Chanyeol, suaranya meninggi. "Sudah jelas mereka tidak jatuh cinta atau tidak kehilangan cinta dari kehidupan mereka." Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Aku mungkin bisa hidup tanpa dia, Jongin. Tapi aku tidak akan pernah bahagia lagi. Tidak akan pernah. Aku tidak akan sama dengan Park Chanyeol lagi tanpa dia."

"Dia pikir aku tidak mencintainya," lanjut Chanyeol. "Bukankah Baekhyunnie-ku sangat bodoh? Dia tidak sempurna Jongin, aku tahu. Dia moody, keras kepala, dan emosi. Tapi tidak ada yang sempurna sampai kau jatuh cinta dengannya. Jika apa yang aku rasakan padanya bukan cinta..." Chanyeol menghela napas berat. "Jika patah hati ini, bukanlah cinta. Lalu lihatlah, apa aku sekarang?"

"Dia kira aku hanya menyukai pemikiran kalau dia menjadi suami masa depanku. Jongin, saat aku tahu kalau dia adalah suami masa depanku, aku hanya menyukainya, aku akui itu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menghabiskan waktuku bersama dengannya, aku hanya–" Chanyeol berhenti saat air mata mengalir di pipinya, dan Jongin bersumpah ia pertama kalinya ia melihat Hyung-nya hancur berkeping-keping di sampingnya. "Aku hanya sangat mencintainya," suara Chanyeol retak. "Aku bertemu dengannya, dan kami cocok begitu saja. Aku nyaman dengannya, seolah aku sudah mengenalnya selama hidupku. Dia membuat aku mencintainya tanpa aku menyadarinya. Dan aku jatuh semakin dalam padanya. Aku tidak mencintainya hanya dengan mataku dan tubuhku, aku mencintainya dengan hatiku."

"Dia pikir aku tidak akan menyadari keberadaannya kalau si peramal tidak memberitahu ku. Tapi astaga Jongin, aku akan selalu menemukannya. Apakah itu di awal semester, tengah semester, atau ketika dia berjalan melewati koridor, atau saat dia akan memberikan pidatonya di upacara wisuda, atau mungkin nanti ketika kami bertemu di kampus, atau mungkin ketika aku meminum secangkir kopi di cafe dan dia tiba-tiba akan duduk di depanku."

"Aku akan selalu menemukannya, dan dia akan menemukanku. Peramal itu hanya media untuk membuat aku menemukannya lebih cepat dan mudah. Tetapi jika aku harus melewati setiap kesulitan di dunia selama bertahun-tahun dalam hidupku, tidak apa-apa. Tidak apa-apa untuk menunggu, menunggu, dan menunggu jika itu menunggunya. Setiap kali atau di mana pun itu akan terjadi, saat aku akan melihatnya melalui mataku sendiri untuk pertama kalinya, aku akan tahu kalau dia adalah milikku."

"Sejak awal Byun Baekhyun adalah milikku, dan itu akan tetap seperti itu, untuk selamanya."

.

.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

...

o.o.o.o.o.o.o.o

T/N [Dini] ::

Saya update ini di saat mata saya memerah (lirik jam satu malam), well, katakanlah aku sedikit mengalami insomnia (T . T)"

Akhir kalimat sebagai penutup, (Dan sekali lagi copy paste) ::

"Fanfic ini tidak akan lanjut tanpa adanya review dan tanggapan kalian, karena itu...

Terima kasih banyak yang masih setia mau ngikutin fanfic ini dan memberikan reviewnya, Aku cinta kalian guys~ :D"

o.o.o.o.o.o.o.o

Review?

Thanks again for Author Otpismyoxygen (Icha) \^o^/

~Sayaka Dini~

[15 Desember 2014]