I Chanbaek You fanfic event present

The Other Destiny

.

Chanyeol x Baekhyun

.

.

"Tolong siappapun.. hhah to-longhh"

Seorang laki-laki mungil tengah berlari di tengah hutan, tergesa-gesa dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya. Ia tak lupa berteriak minta tolong walau dengan suaranya yang kepayahan.

"Kyaa!" Pekik lelaki itu lalu ia langsung jatuh terduduk saat menyadari 2 orang bertubuh cukup besar sudah menghadangnya. Baekhyun mundur perlahan sambil memohon ampunan sekaligus pertolongan.

"Sekeras apapun kau berlari itu percuma, hahaha!" Tawa seorang lelaki tinggi di hadapannya, sedangkan teman yang ada di sampingnya hanya menjilat bibirnya-seolah kelaparan.

"Mau kita apakan lelaki manis yang tersesat ini?" Tanya lelaki yang tadi menjilat bibirnya. Sekarang berjongkok dan mengelus pergelangan kaki Baekhyun.

"Sepertinya aku rindu daging manusia, tapi sebelumnya kita cicipi dulu darah nya" Ucap lelaki pertama dengan seringaian yang terukir di wajahnya. Perlahan ia mengikuti temannya yang sudah mengelus betis lelaki di hadapannya. Lelaki dengan senyum seksinya ini mendekati wajah Baekhyun yang ketakutan,mengelus pipinya dan bibirnya.

"A-apa apaan ini… tolong lepas-kkan.." Lirih si Lelaki mungil sambil sesekali memberontak. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan 2 orang lelaki yang sedang mengerayangi tubuhnya sekarang. Baekhyun bergidik geli saat merasakan sesuatu yang basah di lehernya, ia melirik kesamping dan mendapati seorang dari mereka tengah menjilati lehernya sekarang.

"L-lepaskan kumohon.." Isak Baekhyun "To-longhh!" Pekiknya sekali lagi Ia hanya bisa menutup mata dan berdoa..

"BRUAK!"

Seketika suara kencang terngiang di telinga Baekhyun, dan ia merasakan hawa dingin kembali menerpa tubuhnya. Baekhyun mencoba membuka matanya perlahan. Seorang lelaki tinggi dan 2 orang lelaki-yang tadi menyerang Baekhyun- dibawahnya. Baekhyun kembali bergidik saat lelaki itu menatap Baekhyun dan mendekatinya. Baekhyun ingin berlari,tapi badannya seolah terkunci oleh tatapan lelaki di hadapannya sekarang. Tanpa sadar lelaki tadi sudah berada tepat di depan Baekhyun, mereka terus bertatapan. Dan baru Baekhyun sadari, mata lelaki di hadapannya sekarang berbeda dengan mata 2 lelaki yang tadi menyerangnya.

.

.

"Biru"

"Hah? Kau melamun lagi Baekhyun" Ucap Lelaki di depan Baekhyun sambil mengelus rambut Baekhyun.

"Eh, apa yang ku katakan?" Tanya Baekhyun

"Warna mataku, kau menatap mataku dan kembali melamun. Aku tau mataku seindah itu" Kekeh lelaki di hadapan Baekhyun, lalu ia kembali fokus pada makanannya.

"Terlalu percaya diri, seperti biasa Park Chanyeol" Cibir Baekhyun

"Ahaha, aku tau kau mengingat masa satu tahun yang lalu. Iya kan?" Goda Chanyeol sambil menurun naikan alisnya, "Tentunya saat pertama kali kita bertemu.. dan pertama kalinya kau jatuh cinta pada mataku… atau padaku?"

"Terserah kau, tiang"

Chanyeol hanya tertawa lalu mengacak rambut lelaki di hadapannya. Lelaki di hadapannya hanya meringis tidak suka dan Chanyeol kembali menjahilinya.

"Hentikan vampir jelek!" Pekik Baekhyun sambil menghempaskan tangan yang dari tadi menjahilinya.

"Aku ingin menghisap darahmu kau tau?" Ucqp Chanyeol sambil memperlihatkan taringnya.

"Lakukanlah, aku tau kau tak bisa melakukannya" Balas Baekhyun sambil tersenyum miring. Chanyeol hanya diam, menatap tajam Baekhyun. Baekhyun hanya menggedikan bahu dan berdiri dari kursinya.

Tiba tiba ia menarik Baekhyun, dan sukses membuat lelaki itu jatuh tepat di pangkuan Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun dengan lekat lalu memasang senyum miringnya sebelum menempatkan kepalanya ke ceruk leher Baekhyun. Ia memainkan bibirnya di Baekhyun dan membuat lelaki itu kegelian.

"Aku bisa saja memakan mu disini, sekarang juga" Ucap Chanyeol

"C-chan jangan gila." Baekhyun mendorong kepala Chanyeol. Menjauh dari ceruk lehernya. Sekarang mereka bertatapan dengan jarak yang dekat. Chanyeol terkekeh kecil sedangkan Baekhyun memukul pelan bahu lelaki di depannya. Mereka tertawa, Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol, dan Chanyeol mengalungkan tangannya di pinggang Baekhyun. Seketika mereka saling memandang satu sama lain.

"Aku masih heran. Kenapa kau berbeda dengan yang lainnya?" Tanya Baekhyun.

"Hmm?"

"Matamu biru, sedangkan mata sejenismu merah. Kau bisa memakan makanan manusia, padahal setahuku kalian tidak bisa.. kau aneh" Ucap lelaki mungil dihadapan Chanyeol.

"Hahaha. Aku memang berbeda, karena itu kau menyukaiku kan?" Goda Chanyeol

Baekhyun meringis dan mencubit telinga Chanyeol yang menjadi favoritnya. Chanyeol berteriak kesakitan. Lalu dia menggenggam kedua tangan Baekhyun. Ia lalu menatap Baekhyun dengan tatapan serius.

"Baek, kau tetap harus berlatih menembak" Ucap Chanyeol tiba tiba.

"Kenapa? Bukannya vampir yang mengincarku sudah mati?" Tanya Baekhyun, raut wajahnya berubah menjadi sendu.

"Yang mengincarmu bukan hanya mereka Baekhyun.. dan lagi kau harus menjaga dirimu sendiri, kalau-kalau aku tidak ad-"

"Oke kita berlatih" Potong Baekhyun, ia langsung bangun dari pangkuan Chanyeol dan pergi mengambil senapan dan pistol yang dia punya. Sedangkan Chanyeol hanya menatap lalu tersenyum miris pada punggung kecil yang berjalan membelakanginya lalu Ia menghela napas panjang.

.

.

Aku menatap Baekhyun yang sedang menyeka keringatnya, ia terlihat sangat menarik ketika sedang berkeringat seperti ini. Setelah menyeka keringatnya, ia kembali fokus pada target yang kupasang untuk latihan menembak. Tiba tiba ia terlihat memutar pergelangan lengannya, kali ini dia belajar menembak dengan senapan panjang yang otomatis lebih berat dari pistol biasa. Akupun menghampiri Baekhyun yang meringis pegal, aku memegang lengan kanan Baekhyun dengan maksud supaya bebannya berkurang. Dia sedikit kaget lalu menoleh kebelakang. Saat mengetahui bahwa aku dibelakangnya, ia tersenyum dan kembali membidik target. Dia menarik pelatuk dan tembakannya tepat mengenai tengah target.

Dia menoleh dan tersenyum sangat manis. Aku pun membalas senyumnya dan menariknya ke dalam pelukanku. Dia yang awalnya sedikit heran lalu membalas pelukanku.

"Ada apa Chan?" Tanya nya

Aku hanya menggeleng pelan, lalu melepas pelukan kami.

"Malam ini, kunci semua pintu. Jangan buka sedikit celahpun. Dan jangan bukakan pintu pada siapapun" Ucapku, dia terlihat memudarkan senyumannya dan raut wajahnya menjadi khawatir.

"Kenapa?" Tanya nya dengan suara yang bergetar

"Tidak apa. Hanya berjaga, aku tidak akan dirumah hari ini" Ucapku sambil mengelus rambutnya.

"Jangan melakukan hal yang berbahaya.. Kau harus pulang" Sahut Baekhyun, matanya terlihat berkaca kaca.

Aku hanya mengangguk dan mengantarnya sampai ke dalam rumah. Memastikan semua sudah terkunci, lalu mengecup keningnya sebelum pergi. Aku harus menyelesaikan semuanya, tidak mungkin aku dan Baekhyun hidup dengan terus berlari, bersembunyi, dan melawan. Aku harus membicarakan ini pada dalang utama nya, yang mengincar Baekhyun. Setidaknya Baekhyun harus terus hidup.

Walau tidak bersamaku.

.

.

Disini lah aku,sebuah istana terpencil. Tempat kelahiran ku, tempat keluargaku. Aku melangkah masuk ke dalam istana, beberapa penjaga yang aku lewati berlutut menyadari kedatanganku. Aku terus melangkah ke dalam, ke arah pintu ruangan utama.

Penjaga yang melihatku langsung membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan aku masuk, hal pertama yang aku lihat adalah wajah lelaki yang antagonis. Dia melihatku daan memasang senyum miring yang memuakkan.

"Akhirnya kau pulang, sudah berubah pikiran huh?" Ucapnya sambil mendengus

Aku hanya memandang wajahnya dengan geram.

"Bagaimana? Akan menyerahkan lelaki manis itu?"

"Diam! Aku tidak akan pernah menyerahkannya!" Bentak ku, aku benci saat mulut kotornya membicarakan Baekhyun.

"Hahaha. Sudah kuduga. Oke, jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu. Padanya,.. atau bahkan kau juga" Ucapnya sambil tertawa. Aku mengepalkan tanganku, rahangku sudah mengeras. Keinginan terbesarku sekarang adalah meninju wajah antagonis lelaki di depan ku, persetan dengan keluarga.

"Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu menyentuhnya sedikitpun" Geramku

"Lucu sekali Park Chanyeol. Kau anak yang lugu" Ucapnya, ia tiba tiba berdiri dan mengangkat sedikit tangannya. Seketika tubuhku bergerak sendiri, aku jatuh berlutut. "Harusnya kau mengerti posisi mu sekarang anak kurang ajar!. Harusnya kau berlutut dan memohon agar aku berbaik hati melepaskan kalian!" Bentak Lelaki yang sekarang berdiri di depan ku

Aku menitikkan airmata ku,tubuhku bergetar. Aku tidak bisa menggerakan sekujur tubuhku "Tolong ayah.. jangan lukai dia.. ku-mohon" Ucapku pada akhirnya, masih sambil berlutut

Ayahku, dalang dari semua ini hanya tertawa keras dan dia menendang bahuku sampai aku terjatuh.

"SUDAH TERLAMBAT! Lagipula, aku tidak mungkin melepaskan harta karun terindah itu anakku sayang. Kenapa tidak kau bawa dia kesini dan kita nikmati bersama? HAHAHAHA" Ucapnya yang membuatku gelap mata. Aku tidak peduli lagi dengan sekitar ku. Seketika sekitar ku menggelap, yang aku ingat hanya teriakan lelaki tua itu memanggil para penjaga lalu mayat mayat penjaga itu tergeletak begitu saja di lantai. Termasuk lelaki yang sangat kubenci.

Aku melihat dirinya yang tergeletak dan mengucapkan beberapa kata sebelum aku memecahkan kepalanya.

"I-ini belum berakhir c-chanyeol, b-belum berakhir"

.

.

*Tok tok tok*

Suara ketukan membuatku terbangun dari tidurku. Suara ketukan masih terdengar, sesaat aku turun. Dari kasur aku teringat kata Chanyeol yang menyuruhku untuk tidak membukakan pintu pada siapapun. Aku pun mengurungkan niatku untuk keluar dari kamar. Perlahan suara ketukan itu melemah, dan akhirnya menghilang. Baru saja aku ingin menghela napas, tiba tiba ketukan itu kembali terdengar. Ketukan itu kini berada tepat disampingku, berasal dari jendela kamarku. Kini suara ketukan itu tak kunjung menghilang. Aku perlahan mengambil pistol di laci nakas yang selalu kusimpan dan perlahan berjalan ke arah jendela. Aku perlahan menyingkap tirai jendela ku, sedikit demi sedikit siluet seseorang semakin terlihat. Aku akhirnya membuka tirai itu dan menodongkan pistol ku.

Namun, tubuhku seketika melemas melihat siapa yang ada di jendela kamarku sekarang. Aku membuka jendela dengan tergesa gesa dan setelah aku membuka jendela ku, Chanyeol terhuyung dan langsung memelukku. Ia memelukku sangat erat. Akupun membawanya ke kasur, merebahkan tubuhnya dan cepat cepat menutup jendela serta tirainya lalu kembali menghampiri Chanyeol.

Keadaannya memprihatinkan sekarang. Wajahnya yang lebam, beberapa bercak darah di tangan dan kakinya, dan bajunya yang sedikit terkoyak. Ia menatapku dan tersenyum.

"Kau aman sekarang" Ucapnya. Namun,aku tidak mengerti apa yang dia maksud.

"Aku sudah menyingkirkan semuanya.. termasuk dalang besarnya.." Ucapnya. Suaranya bergetar.

"Kini a-ayahku tidak akan menyentuhmu lagi Baekhyun" Ucapnya lagi, kali ini ia meraih pipiku dan setetes air mata jatuh ke pipinya.

Aku tidak sanggup berkata apa apa selain memeluk tubuh lelaki yang sangat kucintai ini. Dari awal aku-kami- sudah tau dalang utama dari setiap percobaan penculikan atau pembunuhanku. Berkali kali pula aku menyuruh Chanyeol untuk menyerahkanku dan pulang ke keluarganya, bukan berakhir membunuh keluarganya sendiri. Seperti saat ini.

.

.

Beberapa hari kemudian, Chanyeol dan Baekhyun mulai kembali menjalani aktivitas mereka seperti biasa, tanpa gangguan apapun. Tanpa Baekhyun sadari pun, Chanyeol sudah berniat menikahinya dengan modal cincin peninggalan ibunya yang selalu ia jaga. Hari ini juga Chanyeol akan melamarnya.

Chanyeol menatap cincin indah itu dengan perasaan yang membuncah. Ia lalu menaruh cincin itu di meja dan ia mengucapkan beberapa mantra dan harapan pada cincin itu. Setelah ritual nya selesai, ia turun ke lantai dasar dan mencari keberadaan lelaki kesayangannya. Ia mencari ke penjuru ruangan dan tidak menemukan tanda kehidupan sama sekali. Ia mulai sedikit panik dan meneriaki nama baekhyun berkali kali.

Ia akhirnya berlari keluar rumah, menatap sekeliling sampai ia menemukan sesuatu yang dapat membuatnya menghela napas lega. Baekhyunnya tengah terduduk menghadap kolam dan memperhatikan aliran air dan ikan yang berenang di dalamnya. Chanyeol tersenyum manis melihatnya. Ia berjalan mendekati Baekhyun dan akhirnya memeluknya dari belakang. Baekhyun awalnya terkejut, tapi beberapa saat kemudian dia menyadari pemilik tangan yang melingkar di perutnya sekarang.

Mereka terkekeh bersama selama beberapa saat, lalu terdiam menikmati pemandangan. Tiba tiba Chanyeol melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuh Baekhyun lalu ia berlutut. Mengeluarkan cincin yang sudah ia siapkan. Sedangkan Baekhyun hanya menatapnya heran.

"Byun Baekhyun. Aku tau ini terlalu mendadak, dan aku juga bukan orang yang bisa merangkai kata romantis. Maukah kau menikah denganku?" Ucap Chanyeol. Baekhyun memperlihatkan raut wajah terkejutnya. Lalu ia menutup mulutnya, matanya berkaca kaca.

"Iya aku ma-" Tiba tiba kalimat Baekhyun terputus karena suara gagak yang tiba tiba berhamburan dari dalam hutan. Chanyeol langsung menoleh, menyimpan cincinnya dan berdiri, perasaannya tiba tiba menjadi tidak enak. Baekhyun mendekati Chanyeol memegang tangannya. Ia pun merasakan sesuatu yang tidak baik sekarang.

Chanyeol menarik napas panjang. Ia mengeluarkan pistolnya dan menyerahkannya pada Baekhyun.

"Pegang ini. Ingat yang kuajarkan kan? Aku akan memeriksanya. Tenang saja, aku akan kembali" Ucap Chanyeol. Ia pun menepuk kepala Baekhyun singkat, lalu berlari ke dalam hutan tersebut.

.

.

Baekhyun masih berdiri di tempatnya, menunggu kehadiran Chanyeol. Ia merapalkan segala doa agar Chanyeol cepat muncul.

Tak lama bayangan seseorang muncul dari hutan. Baekhyun tau itu Chanyeol. Hanya saja- jalannya sedikit tertatih dan tertahan.

"C-chan? Itukah kau? Kau tidak apa apa kan?" Tanya Baekhyun, ia berjalan mendekati sosok Chanyeol di depannya.

"BERHENTI! JANGAN MENDEKAT!" Tiha tiba Chanyeol berteriak, membuat Baekhyun menghentikan langkahnya. Ia mengeratkan genggamannya pada pistol yang ia bawa.

"Tolong bunuh aku Baek, kumohon" Ucap Chanyeol tiba tiba.

"A-apa? Jangan bercanda Park Chanyeol" Sahut Baekhyun. Tangannya mulai bergetar.

"Bunuh aku, aku tidak bisa m-mengendalikan tubuhku" Ucap Chanyeol terbata bata

"Ti-tidak, aku tidak bisa" Ucap Baekhyun yang masih memegang pistolnya, tangannya begetar hebat

"Kumo-hon, a-aku tidak ingin menyakitimu" Chanyeol terus mendekat dengan langkah yang kadang tertahan.

"Tubuhku di kendalikan! Kumohon, tarik pelatuknya.." Teriak Chanyeol, air matanya terlihat mengalir melewati pipinya.

"Tidak Chanyeol.." Baekhyun masih terisak. Ia menggelengkan kepalanya

Tiba-tiba Chanyeol sudah berada di depan Baekhyun dan membuatnya tersentak kaget. Tubuh Chanyeol bergetar hebat. Chanyeol mendorong Baekhyun sampai menabrak tembok. Baekhyun meringis kesakitan, ia melihat Chanyeol yang mengepalkan tangannya dan terlihat hendak meninju wajah Baekhyun.

"BRUAK!"

Baekhyun perlahan membuka matanya. Chanyeol ternyata dapat mengendalikan tubuhnya tepat waktu. Ia meninju tembok di sebelah kepala Baekhyun sampai retak. Baekhyun pun akhirnya menangis deras.

"Kumohon Baek.. aku sungguh tidak ingin kau terluka sedikitpun" Dengan badan yang masih bergetar Chanyeol meraih tangan Baekhyun yang memegang pistol dan mengarahkannya pada jantung Chanyeol.

"Tidak! Chanyeol tidak! Aku mohon tidak.. jangan lakukan ini.." Baekhyun meraung raung dan berusaha melepaskan cengkeraman Chanyeol dari tangannya.

"Lepaskan! Aku bilang lepaskan Chan-hmph!" Chanyeol membungkan Baekhyun menggunakan bibirnya. Air mata mereka terus mengalir bersamaan dengan menempelnya kedua bibir mereka itu. Cukup lama sampai Baekhyun suudah tidak terlalu berontak, dan Chanyeol melepaskan ciuman mereka lalu menempelkan kedua dahi mereka.

"Mengapa harus begini?" Lirih Baekhyun masih sambil menangis

Chanyeol mengecup dahi Baekhyun

"Kau harus cepat, a-aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.." Ucap Chanyeol, tubuhnya mulai bergetar hebat kembali dan ia mulai mengeratkan pegangannya pada pistol yang di pegang Baekhyun, menaruh jari telunjuk Baekhyun pada pelatuk dan menaruh ibu jarinya diatas telunjuk Baekhyun.

"Tidak Chanyeol.. tidak kumohon.. ada cara lain aku yakin.. tidak.." Isak Baekhyun, Tangisannya mulai kencang saat Chanyeol mulai menekan telunjuknya. Baekhyun merasakan air mata Chanyeol yang juga turun melewati pipinya.

"Aku mencintaimu" Lirih Chanyeol, ia mencium dahi Baekhyun yang masih terisak kencang dan menekan telunjuk Baekhyun.

"DOR!"

"CHANYEOL!" Pekik Baekhyun saat Chanyeol mundur beberapa langkah lalu akhirnya jatuh telentang. Kaki Baekhyun melemas, ia pun terduduk dan merangkak menghampiri Chanyeol.

"C-chan.." Baekhyun menyentuh pipi Chanyeol yang masih terlihat sedikit bernapas dengan tangannya yang bergetar hebat. Chanyeol membuka natanya perlahan. Ia menatap Baekhyun.

"Jangan me-nangis" Ia lalu menarik tengkuk Baekhyun saat lelaki itu malah menangis makin kencang. Ia mencium bibir Baekhyun dan mendekatkan bibirnya pada telinga Baekhyun.

"Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali. Dengan takdir yang lebih baik" Ucap Chanyeol. Ia melepas tengkuk lelaki itu lalu menatap langit. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan cincin yang tadinya ia pakai untuk melamar Baekhyun.

"Pas-tikan.. kau selalu m-memakainya, memba-wanya.." Ia menaruh cincin itu di telapak tangan Baekhyun.

Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol erat. Menciumnya berkali-kali

"Chanyeol.. tidak.. jangan pergi.. kumohon"

Chanyeol kembali menatap Baekhyun dengan tatapan sayu dan hampir menutup.

"J-jangan mena-ngis.." Chanyeol menjulurkan tangannya dengan susah payah untuk menghapus air mata Baekhyun. Lalu jari Chanyeol turun ke bibir Baekhyun, "Ukirlah senyum indahmu yang ku-kusukai" Chanyeol tersenyum tipis.

Seolah terkena terpaan badai, tangan itu tiba tiba jatuh. Napas Chanyeol tidak lagi terasa. Baekhyun kembali meraung.

"Tidak Chanyeol! Kembalilah! JANGAN TINGGALKAN AKU!" Baekhyun memeluk erat leher Chanyeol, menangis sekencang mungkin, berteriak seolah Chanyeol dapat bangun karenanya.

"Jangan tinggalkan aku sendriian Chanyeol.. KEMBALILAH! BUKA MATAMU! PARK CHANYEOL!" Teriak Baekhyun. Dia terus menangis, berteriak, memeluk dan menggoyangkan badan Chanyeol berharap Chanyeol membuka matanya, dan tersenyum padanya kembali.

Walau dia tau itu sudah tidak mungkin.

.

.

2 tahun kemudian

Hidup tanpa Chanyeol merupakan salah satu hal terburuk yang tidak pernah bisa kubayangkan. Semenjak kepergiannya saat itu, aku mengurung diri di kamar, dan menjadi masokis selama beberapa hari. Tak jarang juga aku mencoba mengakhiri hidupku, namun hasilnya selalu gagal. Pernah waktu itu aku ingin mengiris pergelangan tanganku namun tiba tiba pergerakanku terkunci. Dan punggungku terasa hangat, seperti di dekap oleh seseorang.

Karena rumah dulu selalu mengingatkan ku pada Chanyeol, aku memutuskan untuk pindah ke kota besar. Dengan harapan menemukan sesuatu yang dapat membuatku sibuk, agar bayangannya tidak muncul terus menerus.

1 tahun usaha yang kulakukan untuk melupakan Chanyeol gagal total, sampai sampai aku hampir terjun dari suatu jembatan di sebuah sungsi besar. Namun, lagi lagi hal itu gagal. Aku selamat dan ditemukan di pinggir sungai oleh orang orang sekitar. Disana lah aku bertemu dengan seseorang. Namanya Luhan. Ia yang merawatku dan menemaniku, mendengarkan ceritaku. Ia sering mendatangi apartemenku untuk membuat makanan dan membantuku membereskan rumah.

Ia juga adalah orang pertama yang ku ceritakan soal Chanyeol. Awalnya kukira ia tidak akan percaya, tapi dia percaya segalanya. Ia juga berkata kalau kekasihnya memiliki teman yang dulunya seorang vampir. Kekasihnya- Oh sehun- juga baik terhadapku. Mereka kadang mengajakku bermain di mall atau sekedar jalan jalan di taman. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi, yang mengingatkan ku pada Chanyeol. Dan aku yang dulu.

Tahun ke 2 ini, aku memutuskan untuk tidak menghapus bayangan Chanyeol dari hidupku daan aku juga memutuskan untuk bekerja di suatu perusahaan untuk membuatku sibuk. Kebetulan Sehun mengetahui sebuah lowongan pekerjaan dan ia menawarkannya padaku. Setelah belajar beberapa hal dari Luhan, aku akhirnya mencoba memasuki perusahaan itu.

"Baekkie ah, kau sudah siap?" Tanya Luhan

"Ya.. aku pikir aku siap. Doakan aku Luhannie" Ucapku sambil memeluk Luhan

"Santai saja.. Bos mu itu teman dekat Sehun. Dia juga terlihat antusias mendengar tentangmu. Dan katanya ia tampan, cobalah mendekatinya" Goda Luhan

"Ahh Luhan! Berhenti menggodaku" Keluh ku.

"Hahaha, oke oke. Fighting Baekki!" Ucap Luhan, akupun pamit dan berangkat menuju kantorku.

Gedung perusahaan ini cukup besar. Aku merasakan gugup kala memasuki gedung besar ini. Pegawai disana terlihat ramah saat aku mengatakan maksud dan tujuan ku kemari. Aku diantar ke depan pintu sebuah ruangan yang bertuliskan 'CEO' . Pegawai itu mengetuk pintu dan mempersilahkan aku masuk. Tidak lupa aku membungkuk untuk mengucapkan terimakasih padanya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Orang yang duduk membelakangiku.

Jantungku berdegup kencang, ini aneh. Ia seperti membuka lembaran lembaran yang kupikir CV ku. Aku menatap terus punggungnya-yang anehnya tidak asing bagiku. Rambutnya, postur tubuhnya mengingatkan ku pada seseorang.

Dan jantungku seketika berhenti saat ia membalikan tubuhnya dan menatapku.

"Tuan Byun?" Ucapnya

Aku masih termangu di tempatku. Badanku bergetar, mataku berkaca kaca

"tidak mungkin" batinku

"Ada apa?" Tanya nya, suara sedikit bergetar. Ia pun berdiri lalu berjalan mendekatiku.

"A-ah tidak.. Anda hanya mirip dengan.. seseorang" Ucapku itu semakin mendekat pada Baekhyun.

"Apa kau merindukan orang itu?" Tanya nya tiba tiba, tatapan matanya menjadi sendu

"Kau..juga mirip seseorang tuan Byun.." , " Seseorang yang sangat ku rindukan" Ucapnya lagi

"Tidak mungkin" Ucapku sambil menutup mulut, kakiku melemas. Aku merasa tubuhku ambruk namun lelaki didepanku langsung mendekapku dalam pelukannya.

"Aku merindukanmu Baekhyun" Ucap lelaki di depan Baekhyun. "Sangat.."

"Aku juga sangat merindukanmu…"

.

.

.

"…. Park Chanyeol"

.

'Mari kita bertemu lagi lain kali. Dengan takdir yang lebih baik'

.

.

The End

.

Hello good people! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review ya ^^ Disamping menambah motivasi Author dalam menulis, event ini juga akan mengambil dua readers login sebagai pemenang Readers Tercyduk! Good luck!

.

This fanfic is belongs to the real author. Please give your best support to our writers who have work hard! Thankyou!