Arc 1; New Sensei

Lecture I

8/1/1837 (Minggu)

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak bisa melupakannya. Saat ini kami sedang liburan dan aku menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di kamar. '... apa ini pilihan yang benar?' aku berpikir dengan gelisah.

Malam itu aku benar mengajak Tiara menikah denganku. Namun aku masih tidak mengerti kenapa aku mengajak Tiara menikah. Sebenarnya apa alasan aku ingin menikahinya.

"Percuma... aku tidak mengerti" aku mendesah di dalam kamarku yang sepi. Noel sedang pergi untuk membeli beberapa bahan makanan jadi aku sendirian di asrama laki-laki.

Aku juga bingung bagaimana menghadapi Tiara nantinya. 'aku harus bersikap biasa' aku menyemangati diriku. aku kemudian berdiri dari kasurku dan menuju kamar mandi.

setelah selesai bersiap, aku segera menuju cerimin dan melihat diriku sendiri di balik bayangan. aku memiliki wajah masih muda dengan rambut hitam cukup panjang dan memiliki mata biru.

'apa aku keturunan dari barat?' aku bertanya-tanya sendiri sambil mengingat siapa ayah secara teknis diriku. aku kemudian mengambil bajuku. pakaian yang aku pakai adalah seragam sekolah dari SMA Alborz.

besok aku sudah bisa mengajar di kelas E-1 dimana semua murid-muridnya adalah para anak baru yang mengalami kesulitan dalam mempelajari pengendalian Mana. "Baiklah semua sudah selesai" aku kemudian keluar dari asrama dan berjalan menuju kota.

Aku melihat-lihat sekeliling kota dimana banyak warga dengan semangat bekerja dan menjalani hari mereka dengan tenang. Lalu ketika aku ingin membeli sesuatu di toko buah secara tidak sengaja aku bersentuhan dengan seseorang ketika kami berdua ingin mengambil buah yang sama.

"Maafkan aku"

"Maafkan aku"

Kami berdua meminta maaf dan ketika aku mengangkat wajahku aku melihat perempuan dengan rambut putih perak dengan mata berwarna merah.

'Ah.." aku terkejut begitu juga dengan dia. Namun kami berdua jatuh dalam diam ketika saling mengenal.

"Yo... Tiara"

"hm?" Tiara mengangguk dengan wajah menunduk tidak berani menatap wajahku. Aku juga sangat malu dengan situasi ini.

"Ingin membeli sesuatu?" aku membuka pembicaraan dengan harapan jika aku tidak merusak suasana.

Tiara hanya menggumamkan kaliman 'hm' sebagai jawaban dengan wajah masih menunduk. Sejujurnya aku sangat kehabisan pikiran mengenai cara untuk memperbaiki suasana diantara kami berdua.

"Tiara... ehm... ano... mau berjalan-jalan sebentar"

Aku mengajaknya dengan sangat gugup. 'dasar bodoh... jika kau mengajaknya seperti ini. Maka ia akan menolak' aku berdebat di dalam pikiranku dengan sangat kesal.

"Tidak masalah" Tiara menjawabku dan jelas jawaban ini membuatku terkejut karena sangat di luar perkiraan sama sekali.

"Baik" aku menjawab dengan singkat dan kami segera pergi entah kemana. Sejujurnya aku tidak memiliki rencana apapun. Dan aku sendiri tidak tahu ingin kemana dan mulai dari mana. Dengan mengandalkan peruntunganku aku mengajak Tiara ke tebing dekat laut.

Saat kami sampai sepanjang mataku, aku melihat 14 kapal perang terparkir di pelabuhan tidak jauh dari kota. "cukup indah" aku mengatakan dengan jujur ketika melihat lautan yang disinari matahari pagi.

Tiara masih diam dan aku juga tetap diam.

Tiara menggumamkan sesuatu yang aku hampir tidak bisa dengar. "Ada apa?" aku menatap Tiara karena aku tahu jika Tiara memperhatikanku.

"Eh... tidak ada apa-apa" Tiara menunduk lagi dan berusaha menghindari tatapanku.

Walau aku tidak tahu mengenai perasaan perempuan sedikitpun, tapi aku tahu jika sesuatu menjadi aneh. "Apa kau memikirkan kejadian kemarin"

"Tiara... walau aku sudah mendapatkan jawabanmu, aku ingin kau jujur padaku. Apa kau menerimaku" aku segera menatap wajah Tiara ketika menghadap di depannya.

Tiara masih menunduk aku tidak punya pilihan lain selain mengangkat wajah Tiara dan membiarkannya menatap wajahku. "Tiara lihat aku" aku sedikit menaikkan nada.

Dan ketika Tiara menatapku dengan wajah sedikit takut ia kembali menghindari tatapan mataku. "aku takut.."

Aku mendengar jika Tiara menggumamkan sesuatu. "Takut?"

Tiara menganggukkan kepala dan mulai bergetar di seluruh tubuhnya. "Aku sudah merasakan perasaan ini lagi... aku takut jika aku berakhir membunuhmu"

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Tiara kemudian menangis pelan. "Jika aku merasakan perasaan cinta lagi, aku dapat membunuh seseorang hanya dengan menatap matanya... aku takut jika itu terjadi"

Aku menyipitkan mata, mulai memejamkan mata dan menggunakan manaku untuk melakukan scanning pada tubuh Tiara. Kekuatan yang aku kembangkan selama aku di dalam kamarku. Kekuatan ini tidak jauh berbeda dengan teknik pengindraan jarak jauh.

'Sebuah teknik kutukan pembunuh' aku menganalisan. Ternyata apa yang Tiara katakan itu memang benar. Karena aku bisa merasakan mana tidak teratur datang dari dalam dirinya dengan kondisi seperti ini Tubuh tiara bagai bom berjalan.

"Tiara..." aku membuat tiara menatapku dengan paksa.

"Tidak!" Tiara panik dan setelah beberapa saat Tiara menatapku tidak ada yang terjadi sedikitpun.

Dengan wajah tidak mengerti Tiara menatapku dengan tanda tanya. "Dengar Tiara. Aku tidak akan mati dengan mudah hanya sebuah teknik seperti itu, dan aku berjanji aku akan menghilangkan kutukan itu. Jadi aku tidak mungkin mati begitu saja" aku tersenyum

Alasan kenapa aku tidak terkana karena aku berhasil membuat sebuah penghalang untuk energi dari Tiara. Dengan kata lain, aku menggunakan mana milikku untuk menahan kekuatan tiara. Namun hal seperti ini tidak bisa bertahan lama kecuali aku mampu menghancurkan sumber masalahannya.

"Tapi bagaimana" dengan wajah terkejut Tiara menatapku dengan tidak percaya apa yang terjadi. Aku menggelengkan kepala saat kami berdua masih saling menatap satu sama lain.

"Sebuah keajaiban mungkin, dengar Tiara. Aku tidak akan mati dengan mudah setidaknya itu yang aku percayai"

Saat tiara masih memandangku dengan shock, aku nampaknya berhasil meyakinkan Tiara jika aku tidak akan terkana apapun karean kutukan Tiara. Lalu kami berdua saling tersenyum dan menikmati waktu kami dengan menatap satu sama lain hingga...

"... stare"

"Ah!" aku terkejut begitu juga dengan tiara ketika mendapat sebuah sambutan tidak enak dari party member. Noel, Miyuki, dan Satsuki menatap kami dengan mata curiga ketika kami saling menjauh.

"Apa yang aklian lakukan" Satsuki paling pertama berbicara dengan mata curiga.

Miyuki melihat aku dengan wajah cemburu begitu juga dengan Noel. "Y..Yo.. apa kabar" aku memberi ucapan salam dengan ragu-ragu ketika melihat tatapan mereka.

"Jangan yo sama kami! Apa yang kalian lakukan!" Miyuki mulai marah.

Aku dan tiara tidak memberitahukan mereka mengenai proposal pernikahan. Karena saat itu, Tiara mengatakan padaku jika ia masih ingin mereka seperti ini. Hidup sebagai pelajar dan sebagai teman satu party member.

Aku dan tiara menjelaskan pada mereka jika aku sebenarnya melihat apakah tiara sedang sakit atau tidak dan mereka memberiku mata sangat curiga akan alasanku. "Apa benar" Noel melirik kearahku.

Aku membuat wajah datar agar tidak ketahuan. Noel Onee-san adalah orang yang paling mengenal diriku, jadi jika aku salah bertindak sedikit saja. Maka Noel langsung mengetahuinya.

"Sudah aku katakan, kami tidak ada apa-apa!" aku sedikit menaikkan nadaku karena kesal. Sejujurnya ini hanya akting semata agar tidak di anggap mencurigakan.

Dengan bermodalkan harapan jika mereka membayar perhatian dengan bualanku. 'Ayolah... jangan tatap aku seperti itu' aku berkeringat gugup ketika tiga gadis memberikanku tatapan ingin mengetahui sesuatu.

"Ara... apa kalian sangat cemburu dengan sercantku yang selalu setia di bawah kakiku"

Aku langsung terkejut ketika mendengar suara dari tiara. Dan ketika kami semua melihat Tiara, aku cukup terkesan bagaimana Tiara mengubah personalitanya dalam waktu sangat singkat.

"Siapa yang kau panggil dengan Servant!' aku mulai marah ketika di panggil Sercant untuk pertama sekali di tahun baru ini.

"Ara? Apa aku salah"

Tiara bersiak seperti ojou-sama lagi dengan cara merendahkan diriku dan aku sudah terpancing emosi karena sikapnya.

Namun tiga gadis menatap kami dengan keringat menetes. "Yah... aku rasa mereka tidak ada apa-apa" Noel menghela nafas ketika melihat dua anak remaja saling tukar penghinaan.

Aku mulai sangat kesal ketika melihat tingkah dari Tiara yang bertambah menyebalkan sekali. "Jangan panggil aku Servant rendahan, Jalang bajingan!"

"Ah... itu dia... tolong... panggil aku lagi dengan sangat kejam... aku sangat ingin itu..."

Tiara perlahan mendekat kearahku. "Jangan mendekat, Bajingan bodoh!" aku menahan wajah Tiara dengan kekuatanku.

"Lagi... Lagi"

"Oi.. bajingan!" aku mulai berteriak dan berlari menjauh dari tiara karena, Tiara berhasil menakutiku saat ini.

'Yah... ini sebenarnya sangat normal' Tiga gadis keringat menetes dengan wajah tersenyum melihat aku berlari dan di kejar oleh Tiara.

Setidaknya hubungan kami menjadi normal dan aku bisa menjalani sisa kehidupanku dengan damai. Aku mengeluh setiap harinya namun entah kenapa setiap harinya yang diisi oleh hal aneh selalu berhasil membuatku tertawa.

'Hari berganti' (9/1/1837)

"uaaahm!" aku menguap ketika cahaya pagi berhasil menyinari metaku dan membuatku mau tidak mau harus terbangun.

Aku kemudian melirik kearah kanan dan kiri dimana aku bisa melihat kamarku yang kosong. 'Noel onee-san sudah bangun berarti' aku bergumam.

Lalu aku bangkit dari kasur mengambil mandi dan berganti pakaian. "Hari ini adalah hari besar" aku menatap kalender hari ini. "Yosh... ini hari besar untukku" aku tersenyum semangat ketika memikirkan hari ini.

Hari ini aku akan mengajar dan menjadi guru pembimbing untuk kelas E-1. "Noel?" aku mencari dimana Noel berada. Saat aku tiba di kantin akademi dimana Noel seharusnya berada.

"Tidak ada?" aku melihat hanya sebuah kantin kosong yang aku lihat. Lalu aku melihat makanan tersedia di meja makan dengan catatan kecil di atas meja.

'Onee-san pergi pertama ada beberapa urusan, Naruto-sama anda bisa pergi tanpa diriku' itu isi dari catatan yang aku lihat.

Aku kemudian mengangkat bahu tidak tahu menahu. Aku makan pagi dengan normal dan segera bersiap untuk menuju kantor kepala sekolah dimana aku mengambil beberapa daftar absen siswa dan siswi.

Aku berjalan dengan tenang dan aku juga melihat beberapa siswa dan siswi saling menyapa satu-sama lain ketika mereka bertemu. Aku tersenyum karena melihat pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan planet bumi.

Aku kemudian berjalan pelan menuju kantor kepala sekolah ketika sampai di akademi. "Permisi" aku memberi ucapan ketika masuk kedalam kantor.

"Ah.. selamat datang, Naruto-sensei"

"Kepala sekolah" aku menyapa dan duduk di depan meja kepala sekolah.

"Naruto-sensei, anda akan aku percayakan murid-muridku padamu"

Lalu raja arthur menghela nafas sebentar. "Mereka adalah murid terbaik.. namun karena mereka selalu terlibat hal aneh mereka menjadi kelompok terburuk yang pernah ada"

Aku memilih untuk diam dan menyiimak dari pada berargumen tidak jelas.

"Ini buku absen. dan seragam barumu"

"Seragam baru?" aku memiringkan wajah tidak mengerti apa yang di maksud. namun ketika Arthur mengambil sesuatu dari dalam mejanya aku melihat baju berwarna biru panjang dengan sebuah jaket tanpa kancing juga tanpa lengan berwarna putih.

Arthur setelah menyerahkan seragam mulai tersenyum lagi. "Ini adalah seragam khusus untukmu. Seragam jika kau adalah pengajar tingkat rendah di sekolah"

Aku menganggukkan kepala lalu mengambil seragam itu. Namun sebelum aku keluar dari ruangan Arthur mengehentikanku. "Ah. Aku lupa akan sesuatu, Naruto aku ingin kau menjadikan mereka yang terbaik. Apa kau dengar aku"

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala pada Raja. "Tentu, akan aku laksanakan" lalu aku keluar dari ruangan.

Saat aku pergi Arthur menatap jendela dimana suasana sekolah terlihat jelas di belakang badannya. "Setidaknya aku bisa mempercayakan anakku padamu. Naruto" Arthur tersenyum lalu mengambil foto keluarga di laci kerjanya.

"Lina... kau harus melihat anakmu yang sudah besar sekarang" Arthur tersenyum ketika melihat istrinya yang tersenyum dengan menggendong anak perempuan dengan rembut hitam memiliki warna mata merah muda.

Lalu Arthur membuat wajah marah. "Ini semua kesalahanku... jika bukan karena aku, Tiara tidak akan menderita seperti ini"

Namun arthur kembali tersenyum "Tapi setidaknya aku tahu jika Tiara memiliki teman baik sekarang"

Setelah mengganti pakaian di kamar mandi Aku berjalan dengan santai sesekali aku berpikir apa kesan pertama yang harus aku berikan pada murid-muridku.

"hah... aku terlalu memikirkannya" aku mendesah dan menatap ke jendela dimana langit biru masih dapat aku lihat dengan jelas.

Aku kemudian berjalan dan ketika aku sampai di depan pintu kelas aku menguatkan hati agar tidak gugup ketika berhadapan dengan muridku. "Selamat pagi"

"Eh?" aku heran ketika melihat murid-muridku. 'ini sangat tidak di sangka-sangka' aku mulai lesu ketika melihat murid-muridku.

"NARUTO!" Party member Tiara berteriak padaku dengan terkejut ketika aku masuk kedalam kelas. Aku melihat muridku yaitu Party member Tiara minus Koyuki yang masih bertugas di UK dan beberapa wajah baru.

"Darling!" aku disambut pelukan oleh perempuan berambut putih susu.

"Naruto!' aku juga disambut pelukan dari satu gadis lainnya. Perempuan itu memiliki rambut ungu namun warna di rambutnya sangat dominan warna merah muda sehingga aku mengira jika ia memiliki rambut merah muda.

"Kalian, bisa lepaskan aku dulu!" aku menaikkan nadaku pada mereka yang memelukku dengan erat. saat mereka melepaskanku mereka kemudian duduk di bangku masing-masing. aku menghela nafas sejenak dan mempersiapkan diri untuk memperkenalkan murid yang asing di mata Naruto.

'aku seperti pernah melihat perempuan itu, tapi dimana' NAruto bertanya-tanya pada perempuan berambut ungu yang menatapku dengan senyuman ceria. "Baiklah untuk permulaan mari kita memperkenalkan diri. Namaku Naruto Uzumaki, E Rank Mages. kalian mungkin belum terlalu mengenalku yang sebenarnya. aku adalah pasukan Number 0"

"Heee!" party member tiara langsung terkejut ketika aku mengeluarkan kartu bukti jika aku adalah pasukan resmi dari kerajaan. Putina hanya memberikanku tatapan gembira karena sesuatu begitu juga dengan perempuan dengan rambut berwarna ungu itu yang ikut menatapku dengan wajah ceria.

"Tunggu! Bagaimana mungkin!" Tiara berdiri dengan wajah protes karena pengakuan yang baru saja aku berikan.

Sisa dari party member juga menatapku dengan tidak percaya dan meminta penjelasan di saat yang sama. "Hah... Maaf jika aku tidak memberitahukan kalian. Tapi seperti yang terlihat, aku memang anggota pasukan dan bukti ini seharusnya sudah cukup"

Lalu aku menggaruk kepala belakang dan membaca laporan mengenai alasan kenapa Party member kami di lempar ke kelas E. "Kita menyelesaikan Quest, namun setiap Quest yang kita jalankan kebanyakan berakhir dengan hukuman. Terlebih lagi kita juga meninggalkan kelas dengan waktu melebihi dari Quest yang tertera sehingga tim Tiara menjadi bagian terburuk"

Aku menatap Tiara yang terkejut sedikit. "Eh... kenpa kau melihatku, servant"

Aku mendesah "Dengar.. kesalahan tim itu diakibatkan pemimpin yang tidak berguna sama sekali"

Tiara mulai membuat wajah marah padaku. "Apa artinya kau mengatakan jika ini semua adalah salahku" aku menganggukkan kepala tanpa keraguan sedikitpun, dan Tiara semakin marah padaku.

Lalu kami berkenalan satu-sama lain. Anehnya ketika aku bertanya pada gadis berambut ungu yang bernama Neptune itu mengenai darimana ia mengenalku. Ia hanya memberiku jawaban dengan menggelengkan kepala dan mengatakan jika itu rahasia.

'apa-apaan itu maksdunya' aku menggaruk kepala bagian belakang. "Baiklah kalian. Saatnya pelajaran dimulai" aku membuat wajah serius pada mereka walau aku tahu Tiara tidak mau memberiku perhatian sama sekali.

"Tolong ajari aku lagi, Naruto" Miyuki tersenyum padaku dengan keyakinan. Begitu juga dengan Noel, Satsuki, Putina dan Neptune.

"Baik. Mari kita mulai dengan pelajaran Mana"

Aku kemudian menuju papan tulis dimana aku menggambar sebuah lingkaran dengan berbagai macam Rune. Berkat belajar dan melakukan penelitian mengenai Chakra sejak kecil sekarang aku mampu mengajari tanpa kesulitan sedikitpun.

"Aku tahu itu apa" Tiara mengatakan sebelum aku memulai bertanya.

"Hooo?"

Aku tersenyum dengan cara meremehkan pada Tiara yang melipat tangan dengan wajah yakin jika ia memang tahu apa yang aku buat. "Jika begitu. Bisa katakan padaku apa ini"

Tiara kemudian berdiri dan mulai berbicara. "Itu adalah lingkaran sihir. Lingkaran dari permulaan sebuah sihir dan pengendalian mana. Dengan memahami lingkaran itu kita bisa dengan mudah mengaplikasikan teknik sihir tanpa kesulitan sedikitpun"

Aku melipat tangan dan menatap tiara yang di berikan tepukan tangan dari teman sekelas. 'Seperti yang di harapkan dari seorang tuan putri. Namun dari cara ia menjawab sekarang aku tahu kenapa Tiara tidak memiliki teman bahkan jika tidak ada kutukan itu'

Aku kemudian tersenyum pada tiara dan mengulurkan tanganku kedepan dan memberinya jempol terbalik.

"Ha?" Tiara terkejut begitu juga dengan semua yang ada di kelas ketika aku memberikan penilaian.

"Jawabanmu hampir benar"

"Apa kau mengatakan kau lebih tahu daripada aku!" Tiara mulai protes dan menggebrak meja di saat yang sama.

"Hah... sudah aku duga jika Mages di sini semuanya sangat bodoh sekali"

Aku kemudian menuju papan tulis dan menguraikan setiap rune yang ada di lingkaran sihir itu. "Sekarang, katakan padaku. Apakah ini bisa bekerja?" aku merubah rangkaian rune dengan pola segitiga tanpa merubah susunan kalimat di rune itu.

Tiara tidak bisa menjawab bahkan satu kelas jatuh dalam hening. Aku kemudian menyeringai. "Lihat kalian"

Aku merentangkan kedua tanganku dan memejamkan mata bersiap untuk mengeluarkan sihir. "Lingkaran, datanglah dengan segala kehendakku"

"Apa!"

"Bagaimana bisa!"

Tiara, Miyuki, Noel, dan Satsuki sangat terkejut ketika aku berhasil mengeluarkan lingkaran sihir dengan warna hijau di kedua tanganku. Lalu saat aku menghilangkan lingkaran sihir itu aku menatap mereka. "Dengar kalian, Rune dan Lingkaran Sihir adalah satu bagian. Sebuah rune tidak bisa bekerja tanpa adanya sebuah objek yang mewakili rune itu."

Lalu aku menggambar di papan tulis. Gambar yang aku buat adalah sebuah segitiga dengan tiga kotak berisi kalimat. Mana, Rune, dan Objek rune (lingkaran sihir)

Aku menggambar panah yang saling menghubungkan satu-sama lain antara ketiga kalimat itu. "Dengar kalian. Ini adalah dasar dari yang paling dasar. Ini adalah mana..." aku menunjukkan pada kalimat itu.

"Mana adalah dasar karena itu adalah kekuatan kita. Jadi setiap mana itu tadi perlu kita gunakan dan dengan itu kita memerlukan sebuah Rune untuk mewujudkan itu. Namun Rune itu tidak berguna jika kalian tidak memahami mengenai lingkaran Sihir."

"Rune adalah penghubung untuk lingkaran sihir. Jika kalian terbalik dalam mengetahui hal sesimpel seperti itu, maka 80 persen kekuatan kalian akan sia-sia. Misalnya seperti ini"

Aku menggambar lingkaran sihir dengan kapur di lantai. "Baiklah" aku setelah selesai mulai merentangkan tanganku.

" Lingkaran, datanglah dengan segala kehendakku" aku menggunakan kalimat yang sama. Namun tidak ada yang terjadi sama sekali.

"Ada yang bisa menjelaskan kenapa ini" aku menatap mereka yang berpikir sebentar mengenai kenapa lingkaran sihirku yang tidak bekerja sama sekali.

Lalu aku melihat Neptune, anak baru berambut ungu menaikkan tangan kirinya. "hai. Neptune"

"Dari penjelasan anda. Aku menduga jika Sensei tidak menggunakan Rune yang benar"

Aku mulai tertarik pada anak baru ini yang nampaknya mengetahui sesuatu. "bisa jelaskan" aku memberikannya kapur setelah aku di depan mejanya.

Lalu Neptune menganggukkan kepala dan mengambil kapurku. Dengan menggunakan buku pelajaran yang ia pegang Neptune melirik kearah Lingkaran sihir yang aku buat dengan sempurna. Sebenarnya lingkaran sihirku ini sangat sempurna dan aku awalnya menduga 100 persen mereka tidak mengetahui dimana letak kesalahannya.

"hoooo?" aku tertarik ketika Neptune menghapus rune di lingkaran itu dan menulis ulangnya.

Lalu Neptune meletakkan buku dan menyentuh lingkaran sihir itu dengan kedua tangannya. " Lingkaran, datanglah dengan segala kehendakku" dengan kalimat sihir yang sama Neptune berhasil membuat lingkaran sihir itu menyala.

"Lihat?" aku kemudian menatap murid-muridku yang terkejut akan keberhasilan dari Neptune.

"Kerja bagus, Neptune" aku mengelus kepala Neptune dengan tangan kananku karena dirinya aku bisa memberikan penjelasan lebih singkat.

"..." namun para gadis memberikan wajah tidak menyenangkan ketika aku melakukan hal itu.

"heheheh"

Neptune nampaknya menyukai jika aku mengusap kepalanya namun aku harus selesai melakukan hal ini jika tidak maka aku akan terkana hal yang sangat buruk dari para gadis yang ada disini.

Lalu aku menatap mereka setelah Neptune selesai memperagakan jika memang ada kesalahan dalam Lingkaran Sihir itu. "Jadi kalian semua, jika kalian menggunakan pemahaman jika lingkaran sihir adalah dasar maka hasil yang kalian dapat tidak lebih dari kegagalan."

Lalu aku membuat lingkaran sihir dengan sangat berantakan, namun rune yang aku gunakan adalah Rune yang benar. " Lingkaran, datanglah dengan segala kehendakku" lingkaran sihir itu bekerja dan membuat mereka semua jatuh dalam keterkejutan karena hal ini.

Aku menyeringai karena pelajaran semakin menarik jika di teruskan.

"Baiklah kalian semua. Mari aku akan mengajari hal yang menarik bagi kalian"

Aku kemudian mengajari mereka cara menghemat mana tanpa mengubah sususan dari rune yang akan mereka gunakan. Singkatnya mereka aku ajari bagaimana untuk tidak menggunakan terlalu banyak mana saat melakukan Spell Castor.

"Dengar. Saat kalian menggunakan Spell maka mana kalian akan berkurang bahkan sebelum kalian mengeluarkan Sihir. Jadi caranya adalah dengan menggunakan chakra untuk pemicu dari spell maka kalian bisa menghemat 60 persendari mana yang seharusnya kalian keluarkan setiap menggunakan spell"

Aku kemudian memberi peraga dengan mengeluarkan energi chakra. "Angin aku perintahkan, jadilah kekuatanku" aku kemudian menciptakan sebuah pisau angin berukuran kecil saat energi chakraku sepenuhnya mengalir ke tanganku.

"ini adalah pengendalian tingkat lanjut. Jika kalian bisa mengendalikan mana dengan baik. Maka kalian bisa menggunakan chakra dan mana disaat yang sama. Namun kalian jika menggunakannya terlalu berlebihan maka kalian akan berujung di rumah sakit selama 7 hari" aku tersenyum pada mereka

"Sekarang ini, kalian hanya bisa melakukan manipulasi untuk Chakra dan menggunakannya sebagai energi mana kalian sendiri" aku kemudian mengambil kapur lagi dan menulis beberapa rangkaian kalimat yang dapat mereka gunakan.

16.00

Hari berlalu dengan sangat cepat dari yang aku perkirakan. "Baiklah pelajaran selesai sampai disini" aku memberikan mereka pelajaran yang di butuhkan selama beberapa jam.

Dan kelas akhirnya di bubarkan.

Aku menuju ruangan Guru dimana aku mengisi lembar absensi untuk para guru magang maupun guru tetap.

"Baiklah ini sudah selesai" aku bergumam dan berjalan keluar dari ruangan guru dengan pikiran terbang entah kemana.

'Kenapa aku merasa pernah bertemu dengan perempuan bernama Neptune itu. Tapi kapan dan dimana' aku terus berpikir dengan keras sambil berjalan di lorong sekolah.

Aku kemudian berjalan menuju hutan tidak jauh dari akademi dimana tempat aku bertemu dengan Tiara pertama sekali. '...' aku menatap danau kecil yang jernih di hutan ini.

Lalu mataku menuju tertuju pada pohon di depanku. Pohon tidak terlalu besar namun memiliki aura yang menyejukkan membuatku sangat tenang sekali. 'Baiklah, mungkin aku perlu menenangkan diri disini' aku duduk dengan posisi bertapa.

Saat mataku terpejam aku merasakan jika diriku di telan kegelapan dan ketika aku merasakan perasaan lain, aku membuka mataku saat itu juga. 'Tempat ini' aku menatap kandang besar dimana rubah itu tersegel.

"Manusia, apa yang kau inginkan" Rubah itu memanggil kearahku dengan nada yang memiliki inten pembunuh sangat kental.

Aku berjalan dengan santai ke dalam kandang dengan bahu terangkat untuk jawaban yang diinginkan olehnya. "Aku sedang bosan" aku kemudian duduk di kepala Rubah itu.

"..." Rubah itu menatapku dengan sangat inten

"Apa yang kau mau? Aku sedang malas diskusi" aku langsung mengajukan pertanyaan agar ia segera memberikanku sebuah penjelasan.

"..." Rubah itu mendengkur layakbya kucing dan tertidur. Aku sendiri ikut tertidur karena tidak mendapatkan jawaban yang aku harapakan sedikitpun.

Lalu aku merasakan jika aliran energi manaku perlahan mulai teratur dengan sangat baik. '...' lalu aku bangkit menuju dunia nyata.

"Sekarang aku bisa" aku merasakan aliran energiku mulai normal dan mana yang aku miliki juga sangat normal.

'Ini harus bekerja' aku mengambil kertas dan membentuknya seperti humanoid kertas. "Ini saatnya aku bertemu denganmu lagi, Yoko" aku tersenyum.

Lalu kertas yajg aku lipat, aku tulis dengan beberapa Rune Sihir dan lingkaran Sihir kecil di kepala boneka kertas.

Lalu aku berdiri dan membentuk lingkaran Sihir berukuran cukup besar. Setelah selesai aku berdiri di temgah lingkaran Sihir itu dan mengeluarkan darahku yang aku sediakan di botol kecil.

"Aku akan menggunakan teknik pemanggil klan Uzumaki, dengan darahku. Ini harusnya berhasil"

Aku menuangkan darahku di tengah Lingkaran sihir lalu memejamkan mata.

"Seluruh roh pelindung dan kekuatan dari Kekuatan suci klan Uzumaki. Aku pewaris dari Roh penjaga klan Uzumaki ke 14 Naruto Uzumaki. Dengan darahku aku memanggilmu servant ku, pelindungku, kekuatanku, dan segala kekuatan yang dimiliki oleh alam. Perkenankan pemanggilanku..."

Lingkaran Sihir mulai bersinar dengan berbagai macam warna yang indah. "... Teknik Pemanggil 8 warna, Roh penjaga Yoko. Datanglah padaku" aku menghentakkan kedua tanganku di tanah dan menciptakan getaran kecil.

Saat itu juga boneka kertas pemanggil mulai bersinar dan asap tercipta di kertas itu. "Selamat datang kembali, Servantku"

Aku tersenyum ketika melihat kertas pemanggil itu berubah wujud menjadi sesosok gadis kecil dengan tinggi 90/100 cm dengan rambut perak pendek memiliki telinga dan ekor rubah dengan warna yang sama seperti rambutnya mengenakan pakaian miko putih.

"Naruto-sama" Yoko tersenyum gembira lalu memelukku dengan wajah ceria.

"Selamat datang kembali Yoko" Aku mengusap kepala Yoko pelan karena aku sangat merindukan servant kecilku ini.

"Hai!" Yoko tersenyum lalu ekornya bergerak-gerak dengan pelan.

"Naruto-sama, anda sekarang terlihat... Semakin... Tampan..." Yoko malu-malu mengatakan ketika melihat wajahku.

"Hai-Hai" aku hanya membalas seadanya saja.

"Yoko, karena ini hari pertamamu kembali ke dunia ini. Sebaiknya kau segera menuju asramaku dan berikan ini" aku menyerahkan surat dimana menjelaskan mengenai identitas dari Yoko.

"Katakan pada perempuan di kamar 102 atas nama Naruto Uzumaki, jika kau adalah Servant milikku. Mengerti"

Yoko tersenyum ceria dan segera pergi menuju asrama yang aku beri petunjuk dimana itu. Lalu mataku tertuju pada hutan di depanku.

'Aku merasakan perasaan buruk' aku menuju hutan dimana aku yakin aku merasakan sebuah ancaman.

Dan ketika aku berlari menuju hutan aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat. "Pedang Excalibur?!" aku terkejut melihat pedang berwarna ungu terang tertancap di sebuah batu. Pedang itu memiliki desain sangat anggun namun pancaran aura kekuatanbdari pedang itu pasti menarik nafsu siapapun untuk menariknya.

Ketika aku ingin menuju pedang itu aku mendapat sambutan. (Sfx tiing)

Aku menahan serangan dengan pedang saber yang berhasil aku munculkan tepat waktu. "Siapa kau!" aku menatap seorang perempuan dengan baju jubah coklat menggunakan kerudung di kepalanya dan sejata pedang yang ia gunakan sebuah pedang pengutuk asli dengan warna merah terang.

"Jangan halangi aku mendapatkan Pedang Gipsy" perempuan itu menekan pedang dan menyebabkan kami berdua saling menjauh.

Perempuan itu kemudian menatapku. "Kau memiliki pedang pengutuk dari angin. Ini menarik" perempuan itu tertawa padaku.

Aku sudah bersiap untuk serangan dan apapun itu aku tidak bisa menurunkan penjagaan. "..."

"Hiyah!" perempuan itu melesat kearahku namun aku dengan cepat menahan serangan. "Kau cukup kuat" gadis itu tersenyum.

"Aku merasa tersanjung akan itu" aku mengatakan dengan jujur pada perempuan itu.

Lalu aku memutar tubuh dan menebas perempuan itu. Dia dengan cepat menangkis namun aku menggunakan kesempatan itu untuk menendang kaki perempuan itu hingga akhirnya ia terjatuh.

Lalu aku melompat dan tanganku siap memukul wajah perempuan itu. Namun aku terlalu meremehkannya.

Perempuan itu tersenyum dan tangannya segera mengambil pisau kecil dan "Ah!" aku menjauh dari perempuan itu ketika tanganku terkena sayatan pisau kecil dari saku celana perempuan itu.

"Sialan" aku kesakitan ketika melihat pisau itu berdarah. 'Ini akan sulit' aku bergumam ketika menatap lawanku.

"Apa segitu saja kekuatanmu?" perempuan itu menatapku dengan wajah tidak terlalu bereskpresi.

Aku sedikit kesal jika kondisiku seperti ini. "Saber: Lightning Pierce" Aku mengaliri energi api di pedangku sehingga pedang Anginku menjadi berapi-api

"Oh?" Perempuan itu tampaknya tertarik ketika pedang angon berpadu dengan api.

"Hm... Baiklah, aku akan melayanimu lebih lama" perempuan itu kemudian maju kearahku.

Aku bersiap untuk serangan yang akan datang. "Kena kau!" Aku tersenyum saat aku ikut maju dan menundukkan badan. Serangan frontal yang seharusnya mengenai kepalaku berhasil aku hindari dan aku mendapatkan celah dengan menebaskan pedang Saber tepat di pinggang perempuan itu.

(Sfx robek)

Perempuan itu melompat menjauh ketika berhasil terhindar dari serangan mematikan. Namun jubahnya serta kerudung yang menutupi wajahnya menjadi robek dan menampilkan sosok itu.

"Siapa kau?! Dan apa yang kau inginkan?!" aku menatap perempuan berambut kuning dengan tubuh sekitar 168 dengan pakaian kemeja hijam diikat dasi abu-abu.

'Devine Wisdom?' aku menatap seragam yang sangat familiar itu.

Lalu perempuan itu menatap kearahku. "Oh? Sekarang aku tahu dengan pasti. Kau adalah orang yang berhasil membunuh rekan kami, benar?"

Aku masih bersiaga dan perempuan itu tersenyum lagi padaku. "Heheh... Ini menarik, kau..." perempuan itu mengarahkan pedangnya kearahku.

"... Kita akan bertemu lagi, untuk saat ini kau aku biarkan pergi. Sampai jumpa" perempuan itu menghilang bagai abu di tiup angin.

'Sial, perempuan itu bukan lawan yang aku bisa anggap remeh' aku kemudian menghilangkan pedang Saber dan berpikir sebentar.

Setelah itu aku menatap pedang ungu yang tertancap di batu itu. Ketika tanganku menggenggam gagang pedang tiba-tiba aku merasa jika seluruh energiku di serap oleh pedang itu. 'Apa!' aku merasa kesakitan karena energiku di serap secara paksa.

"Ayolah!" aku kemudian mencabut pedang itu dengan sekali tarikan dan saat itu juga pedang Excalibur berhasil aku tarik.

Pedang itu mengeluarkan energi bagai pedang petir yang memiliki energi listrik. Pedang itu bersinar ungu dengan sangat cantik sekali dan aku kemudian melihat di gagang pedang. 'Gipsy' nama dari pedang ini.

'Ini sangat luar biasa' aku merasakan jika energiku secara luar biasa terisi penuh dalam hitungan detik.

Lalu aku mencoba mengeluarkan potensi penuh dari pedang dengan cara mengalirkan mana di pedang. (Exe Drive... Destruction mode. Active) Suara datang dari pedang ketika seluruh tubuhku di kelilingi energi berwarna hijau tanda mana milikku sedang aku keluarkan secara penuh.

Pedang itu kemudian berubah wujud menjadi sebuah pedang namun memiliki barel dan di gagang aku melihat pedang itu memiliki pelatuk. Pedang namun seperti senjata api laras panjang ada di tanganku.

Lalu ketika aku memfokuskan diriku di pedang itu. (Autumata. Killing Laser Weapon, Active) aku kemudian melihat di ujung pedang sinar laser terkumpul menjadi semacam bola dan saat aku menekan pelatuk.

(Sfx sriiing)

Laser berwarna ungu dengan ukuran medium menembus hutan dan membuat serangan fatal. Aku sangat terkejut melihat laser dari pedang ini mampu menembus hutan bahkan menuju ke laut. Aku mengarahkan serangan tadi kearah barat laut sehingga serangan langsung menuju laut tidak kearah kota.

'Ini sangat luar biasa' aku melihat pedang ini. Lalu pedang berhenti melakukan transformasi dan kembali menjadi pedang normal.

"Gipsy..." aku menatap pedang yang sekarang menjadi milikku sepenuhnya. Aku kemudian mengayunkan pedang untuk merasakan bagaimana keefektifannya. Dan itu sudah cukup karena pedang ini melebihi harapanku.

"..." aku kemudian membawa pedang ini namun sebelum aku pergi aku merasakan getaran di tanah. "Apa" aku terkejut ketika melihat batu dimana pedang itu tertancap langsung terbelah menjadi dua bagian dan menampilkan sarung pedang berwarna biru gelap.

"Surat?" aku melihat sebuah surat di sarung pedang itu.

'Bagi siapapun yang berhasil mencabut pedang ini. Maka aku tahu jika kau adalah pasukan dari kesatuan Number yang terpilih. Aku adalah pemegang pedang ini sebelummu, Gipsy adalah rekan terbaikku jadi aku mohon padamu untuk jaga Gipsy dengan baik.

Salam. Number 18 (Crusader)'

Aku setelah selesai membaca surat itu aku menganggukkan kepala dan tersenyum. "Jangan khawatir. Aku Naruto Uzumaki, Number 0. Bersumpah akan merawat Gipsy seperti harapanmu" aku kemudian mengambil sarung pedang dan menyarungkan pedang itu.

Dan aku melangkah menjauh dari lokasi kembali ke asrama dimana aku bisa beristirahat.

Di pohon terdekat.

"Ini akan sulit, tidak aku duga jika dia adalah Pasukan kerajaan" pria bertopeng kuning menyipitkan mata pada Naruto yang berjalan kembali.

"Jika begini rencanaku akan berantakan. Aku harus menggunakan cara paksa" Pria bertopeng kemudian melenyap dari posisinya dan pergi ke lokasi lain.

Saat sudah sampai pria bertopeng kembali ke desa hujan dimana hujan tidak pernah berhenti. "Nagato sudah dikalahkan, itachi di tangkap, kisame terbunuh dan satu pasukan Devine Wisdom terbunuh. Naruto Uzumaki, siapa sebenarnya kau" Pria bertopeng itu menyipitkan mata.

Ia tidak bisa berpikir bagaimana bisa Naruto mengalahkan pria yang ia sendiri tidak bisa kalahkan. 'Kekuatannya melebihi dari yang aku duga. Sebaiknya aku jangan bertindak gegabah'

19.00

Gadis berambut ungu tertentu saat ini sedang duduk di pinggir tebing dengan senyuman tidak luntur dari wajahnya.

"Eh..ehehehhe... Aku akhirnya bisa bertem dengan Naruto lagi, tapi aku kecewa jika ia kehilangan kenangannya" Neptune murung ketika memikirkan hal itu.

Alasan Neptune berada disini, karena Histoire berhasil memperbaiki alat transportasi dan mengirim Neptune dari dunia Celestia ke dunia Permukaan.

"Tapi tidak apa-apa... Aku akan menjadi pasangannya" Neptune bersenandung ketika memegang hadiah yang Naruto berikan padanya.

Lalu Neptune kembali ke Asrama perempuan dimana ia bisa beristirahat dengan tenang.

Bersama Naruto

"Aku pulang" aku membuka pintu kamar dan melihat pemandangan aneh.

"Naruto sama!" Yoko memanggil dengan wajah memerah.

Aku keringat menetes ketika melihat apa yang di lakukan oleh Onee-sanku. "Noel onee-san, apa yang kau lakukan?"

Noel tersenyum gembira sambil terus memeluk Yoko dari belakang dengan wajah sangat imut sekali.

"Naruto-sama, aku tidak bisa menahannya lagi. Ia terlalu imut" Noel mempererat pelukan dan menggosokkan wajahnya pada wajah Yoko.

"Ehhh..." Yoko mulai panik dan sedikit mencicit pelan karena tindakan Onee-sanku.

Lalu aku menepuk dahi dan meletakkan pedangku di dekat meja belajar. Untuk beberapa alasan kamarku sekarang dirubah oleh Raja Arthur menjadi kasur bertingkat karena aku tidur dengan Onee-sanku.

Dan aku juga terkadang harus menahan nafsu jika onee-sanku menyelinap ke kasurku dan tidur sama denganku.

Aku kemudian menatap langit malam dimana cuaca cerah dapat membantuku melihat terangnya bulan dan bintang. Kota ini sudah memiliki penerangan seperti lampu, tapi energi yang di pakai berasal dari generator chakra di pusat penelitian bagian timur laut dari akademi.

"Besok harus lebih mempersiapkan diri lagi aku" aku bergumam pada diriku sendiri.

Aku kemudian menuju kasur dan tertidur, mengabaikan fakta jika Onee-san masih saling melakukan sesuatu yang bisa di kategorikan sebagai 'YURI/Shoujo Ai'

10/1/1837

Aku terbangun dari tidurku dan berusaha untuk merasakan bagaimana rasanya bangun pagi dengan normal.

"Onee-san, pagi" aku menatap di bawah kasurku dan ku lihat jika onee-sanku sudah tidak ada.

Aku menguap dan berusaha untuk bangkit. 'Mungkin onee-san, sudah pergi ke akademi?' aku kemudian bangkit namun...

"Kenapa ini?" aku merasakan berat di tubuhku.

Lalu aku melihat bagaimana mingkin selimutku bisa menggembung cukup besar. "Jangan bilang!" aku mulai menelan ludah.

Lalu aku membuka selimut dan menyemburkan ludahku. "Bruuuuft"

Aku melihat Noel onee-san telanjang tertidur di di perutku dan aku juga melihat Yoko juga tertidur di sebelahku.

"Oh tidak... Jangan sekarang!" aku merasakan ancaman berbahaya di area kejantananku ketika melihat tubuh putih mulus dari noel onee-san dan tubuh kecil dari Yoko.

"Tidak jangan sekarang dulu" aku berusaha untuk mengalihkan pikiranku.

"Uaahm... Naruto-sama" Noel bangun dan dengan wajah tidak berdosanya Noel bangkit membuatku melihat dengan jelas di dadanya

"Uaahhhhh!" aku langsung pingsan ketika tidak kuat melihat pemandangan tubuh Noel onee-san yang sangat terekspos jelas sekali.

'Apa yang terjadi?' aku melihat sepajang mata memandang hanya sebuah kegelapan. Aku ingat sebelum aku di dunia ini. Aku melihat sesuatu dan akhirnya aku pingsan.

"Apa-apaan tadi itu?" aku mendesah dan berjalan di kegelapan ini. Aku terus berjalan dan akhirnya aku menemukan sebuah pintu dimana pintu itu berwarna kuning emas. 'kemana pintu ini?' aku penasaran dan membuka pintu itu.

"Dimana ini?" aku melihat langit kuning bagai emas, Ruangan yang sama saat aku bertemu dengan secara teknis adalah ayahku, Minato. Aku kemudian berjalan tidak tahu arah selama beberapa menit hingga aku merasakan hembusan angin entah darimana.

"apa itu?" aku melihat walau dengan sangat samar sekali tapi aku yakin aku melihat sesosok manusia berambut merah hingga aku akhirnya melenyap dari ruangan itu.

"..." aku mengerang sakit dan berusaha membuka mata.

'Ruanganku ya?' aku menatap langit-langit yang aku kenali dengan sangat baik sekali. Sekarang aku harus tahu situasi terlebih dahulu.

"Uhg!" aku memegang kepalaku karena sakit yang secara tiba-tiba menyerang.

"Naruto-sama!" aku di kejutkan oleh dua pelukan gadis yang entah bagaimana bisa berada di depanku.

"Apa kau baik-baik saja, Tuan-ku?" Yoko bertanya dengan kepanikan di wajahnya.

"Naruto-sama. Apa kau sakit, apa perlu aku membelikan obat padanu" Noel juga memberikan wajah khawatir ketika melihat aku sadar.

Aku hanya membalas dengan menggoyangkan tanganku dan menggelengkan kepala. "Jangan khawatir, aku masih baik-baik saja. Untuk sementara" aku keringat menetes di kepalaku ketika mengingat kejadian tadi.

"Tuanku apa yang terjadi?" Yoko menatapku dengan mata memohon.

Aku menghela nafas lalu menatap mereka berdua dengan senyuman gugup. "Yah... Aku secara acak melihat pemandangan bagus. Namun akhirnya aku tidak kuat untuk menerima betapa indahnya apa yang aku lihat itu"

Lalu aku menggaruk kepala bagian belakangku dengan senyuman kaku. Nampaknya mereka bingung dengan apa yang aku katakan. Aku bisa melihat jelas wajah tidak mengerti di mata mereka.

"Lagi pula, ayo kita bersiap." Aku segera mengalihkan suasana agar kami tidak membicarakan hal itu lagi. Jika secara jujur, aku sangat marah pada Noel yang telanjang tertidur di sebelahku seperti tadi. Namun jika Noel seperti itu, maka percuma saja jika aku memberontak karena di ujung kisah Noel akan menggodaku.

Jadi pilihan terbaik adalah tidak membahasnya dan segera mengalihkan pembicaraan dan jangan mengatakan hal yang tadi lagi.

Lalu kami segera mandi dan mengganti pakaian. Pakian yang aku kenakan adalah pakaian Guru Khusus untukku. Baju biru panjang dengan kerah menaik. Di lapisi sebuah jaket putih tanpa kancing namunn di hubungkan dengan sebuah rantai kecil. Celana formal berwarna hitam dan terakhir adalah sepatu hitam. Dan alasan lain kenapa aku tidak mengenakan sarung tangan. Itu karena aku tidak memerlukannya lagi. Semenjak aku menguasai kemampuan pengontrolan mana dan manipulasi chakra dengan baik.

Maka aku tidak perlu bantuan untuk mengontrol mana dan chakraku agar tidak berlawanan satu sama lain.

"Noel Onee-san, kau terlihat ceria" aku tersenyum pada Noel yang bersenandung gembira saat masak di dapur asrama laki-laki.

Yoko sudah kembali ke realm lain dimana aku memerintahkannya untuk kembali. Jika Yoko muncul terlalu lama, maka tinggi kemungkinan semua manaku akan terserap habis karena Roh pemanggil dapat bertahan di realm manusia dengan mengkonsumsi mana milik tuan mereka.

"Naruto-sama..." Noel tersenyum ceria ketika menyiapkan makanan dengan penuh semangat di meja. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas Noel nampaknya sangat bahagia sekali.

"Kau tampaknya sedang dalam kondisi terbaikmu, apa sesuatu yang bagus terjadi. Noel Onee-san" aku ikut tersenyum padanya ketika melihat Noel duduk di depanku dengan senyuman.

"hum..hum..hum... Himitsu Desu" Noel memainkan jarinya dengan sangat menggoda sekali kearahku. Sejujurnya aku sudah sangat tergoda dengan Noel, namun aku harus menguatkan pikiranku. Karena akan sangat berbahaya jika aku terjerat hubungan tidak jelas.

"Itu mengingatkanku, Onee-san. Bagaimana kabar Dee, dan Elena-san. Terakhir kali kita ke desa, semuanya hancur dan aku sama sekali tidak sempat bertemu dengan mereka"

Noel kemudian berdiri menyiapkan teh lalu memberikan secangkir teh padaku. "Mereka Baik-Baik saja. Naruto-sama, itu semua berkat anda. Anda berhasil menyelamatkan desa, walau kita terlambat sedikit"

"Noel Onee-san" aku menatap Noel sebentar, lalu tersenyum lagi padanya.

"Hum.. mungkin kau benar Onee-san"

Lalu aku makan pagi yang Noel masak. Sejujurnya aku mengira jika Noel mempersiapkan sesuatu yang buruk jika mengenai makanan. Namun ternyata aku salah, karena apa yang aku lihat saat ini adalah sebuah hidangan Normal dengan hiasan yang normal.

Tumis bayam dan beberapa sayuran hijau lainnya. Kombinasi sempurna untuk mengawali pagi hari. Shishouku selalu mengjari padaku mengenai makanan pagi. ' Makan Sayur hingga muntah, atau makan daun busuk hingga mati! ' itu adalah pelajaran dari Shishou saat aku masih di planet bumi.

Dan berkat pelajaran seperti itu nampaknya aku terbiasa untuk makan sayur apapun itu jenisnya dan apapun itu cara memasaknya selama masih di kategorikan bisa di makan.

"Ittadakimasu' aku memberi hormat saat akan makan, lalu aku dan Noel sarapan dengan tenang.

"Onee-san, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa masuk kedalam akademi dengan status masih Servant?' aku menatap Noel dengan heran lalu melanjutkan makan.

"Naruto-sama, tidak sopan untuk berbicara dalam keadaan masih makan. Kita akan membicarakannya nanti" Noel tersenyum padaku. Dan aku langsung menganggukkan kepala lalu melanjutkan makan, mungkin setelah selesai makan aku bisa menanyakan penjelasan pada Noel.

Lalu selang beberapa menit aku dan Noel selesai makan dan Noel dapat memulai menjelasakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.

"Naruto-sama, Raja setelah mendengar laporan mengenai aku ras demi Human yang dapat bertarung. Raja memintaku untuk bergabung ke akademi sebagai pelajar. Namun karena aku hanya sebatas servant maka aku berpikir jika aku nantinya hanya berakhir menjatuhkan nama anda Naruto-sama..." Noel menundukkan kepala dengan nada menyesal.

"... tapi Raja memberikanku sebuah pengecualian untuk masuk kedalam akademi. Naruto-sama, anda pasti tidak mengerti kenapa Kelas E-1 di bentuk bukan begitu?"

'jika di pikir lagi benar juga, kenapa kelas E-1 baru ada saat ini?' aku juga bertanya-tanya akan hal itu. Kemudian Noel menjelaskan padaku jika sebenarnya kelas itu di tujukkan sebagai kelas eksekutif. Kelas dimana aku di tugaskan untuk melatih calon pasukan terbaik untuk melawan pasukan musuh seperti yang terjadi di eropa beberapa waktu lalu.

Jadi aku memiliki beban yang sangat rumit sekali di pundakku. Namun aku juga tidak bisa mengatakan jika aku tidak menyukai jika aku melatih agen baru untuk melawan mereka, hanya saja aku sangat tidak menyukai jika terallau banyak ahal yang di sembunyikan ketika aku bekerja dengan bagian itu.

Maka aku harus bertanya dengan sangat banyak pada Raja arthur nantinya. Salah satuna mengenai profil murid baru yang bernama Neptune

"Baiklah aku sudah cukup mengerti akan semua ini, jadi sekarang cepatlah bersiap. Karena jika kau terlambat aku akan menghukummu!" aku mulai masuk ke mode sensei yang sedang memarahi muridnya.

'Nanti aku juga harus mrmberikan penjelasan pada mereka tentang bagaimana aku bisa menjadi pasukan number'

Lalu Noel bersiap-siap mulai dari mengganti pakaian dan merapikan rambutnya dengan benar. Saat Noel menyisir Rambutnya aku hampir terbawa suasana karena kecantikan wanita Demi-Human keturunan Neko (kucing) di depanku.

"Ara? Naruto-sama kami genit" Noel mendekat kearahku dan menempelkan wajahnya di wajahku lalu memberikan senyuman main-main.

"Oi... Jangan bercanda! Ini tidak lucu!" aku membuat nada protes pada Noel agar melepaskan pelukannya dari wajahku.

Lalu pipi Noel menggembung dan membuat wajah tidak menyenangkan. "Hump... Naruto-sama tidak asik"

Namun setelah pelukan terlepas aku hanya melipat tangan di dada dan membuat wajah datar. "Heh... Itu adalah gayaku"

"Hoi cepat lihat jam!" aku kali ini memarahi Noel yang tidak serius pada apa yang akan datang nanti.

Lalu setelah itu kami berangkat ke sekolah bersama-sama. Aku berjalan dengan sebuah buku di tanganku. Buku yang aku baca adalah mengenai penguraian Rune level 1 ini adalah sangat dasar untuk mereka. Namun saat aku membaca 2 bab aku sudah mengerti sepenuhnya jika. Penulis buku ini sangat bodoh.

Aku menghela nafas dan meletakkan buku yang aku pegang di tas Noel.

"Naruto-sama?"

"Tidak ada apa-apa, aku hanya menitipkan bukuku"

Lalu saat gerbang sekolah terlihat aku kemudian menolah kearah Noel. "Aku akan masuk nanti, Noel onee-san kau bisa duluan"

Noel kemudian menganggukkan kepala dan masuk kedalam akademi.

Aku menuju kantor kepala sekolah dimana aku mencari informasi yang aku inginkan.

"Permisi"

Raja Arthur kemudian menatapku ketika aku masuk kedalam kantor kepala sekolah. "Ah.. Naruto-sensei, ada yang bisa aku bantu kali ini"

Aku kemudian menganggukkan kepala. "Aku ingin mengetahui informasi mengenai Neptune"

Lalu Raja Arthur mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya dan memberikanku sebuah kertas bio data dengan jumlah halaman 7 lembar.

"..." aku membaca informasi mengenai neptune dengan sangat teliti.

"Apa ini benar?" aku melihat profil dan penjelasan mengenai neptune.

"Apa kau pikir aku berbohong?" Raja bertanya balik padaku.

Dari yang aku baca. Neptune memiliki tinggi 156 berarti ia adalah yang terpendek di antara kami semua. Yah walau sebenarnya aku sudah tahu itu.

Namun penjelasan mengenai siapa Neptune membuatku serius. 'Dewi dari planeptune, Celestia?' aku kemudian melihat gambar dimana lokasi itu.

'Aku merasa pernah disini. Tapi kapan?' aku melihat pulau mengambang di langit dengan sebuah menara pencakar langit sangat megah berdiri disana.

"Kepala sekolah, apa pulau ini nyata atau hanya candaan semata"

Lalu Raja Arthur membuat wajah tersenyum padaku. "Itu nyata. Benua Celestia adalah Benua dimana ada 6 pulau besar mengambang di langit..." lalu raja arthur berdiri dan mengambil sebuah buku di lemari.

"Pulau itu berhasil di temukan oleh peneliti dari kerajaan sekitar 20 tahun lalu" saat aku melihat buku yang di berikan oleh arthur aku sangat tidak percaya jika sebenarnya buku ini memiliki informasi yang sangat akurat. Muali dari koordinat dimana pulau itu berada dan cara agar sampai kesana.

'Cara untuk ke pulau itu, menggunakan jembatan pelangi?' aku sedikit bingung. Namun aku memilih untuk tidak memikirkannya untuk sekarang.

"Apa itu sudah cukup untukmu, Sensei" Raja kemudian duduk di kursinya lagi dan menatapku.

Aku hanya menggelengkan kepala. "Tidak, terima kasih untuk informasinya Kepala sekolah. Jika begitu aku permisi" aku kemudian keluar dari ruangan dengan kertas bio data masih aku pegang bersamaku.

Aku kemudian berjalan kembali ke kelssku dimana para murid sedang menunggu.

"Maaf terlambat" aku masuk kedalam kelas dengan mengucapkan salam maaf.

"Ara... Apa servantku seorang oemalas... Fufufu... Aku kecewa" Dan Tiara seperti biasanya membuatku kesal sekali.

"Siapa yang kau panggil Servant!" aku sedikit membentak lalu menghela nafas dan kembali duduk di kursiku.

"Baiklah kalian semua kita hari ini akan mempelajari. Kolaborasi teknik"

Saat kelas mulai serius aku kemudian menggambar ilustrasi mengenai teknik ini. Ilustrasi yang aku gambar adalah dua buah garis lurus dengan dua warna berbeda. "Dengar kalian. Teknik sihir memiliki karakteristik berbeda bergantung dari pengguna. Dan itu disebut dengan Sihir kemampuan" aku menggambar di garis lurus berwarna merah dengan logo negatif di atas garis itu.

"Dan untuk kemampuan yang sangat fleksibel untuk teknik sihir yang bisa di buat dan ditiru dengan mudah. Itu disebut teknik Sihir Afliliansi"

Aku menggambar tanda positif di garis lurus berwarna putih

"Nah sekarang. Kita akan mempelajari bagaimana caranya menggabungkan kedua sihir ini tanpa menimbulkan bahaya pada pengguna"

Aku kemudian membuat api dan air menggunakan teknik sihir. "Dengar kalian, untuk menguasai ini. Kalian harus paham apa jenis mana dari kalian dan bagaimana penerapannya dengan baik. Sebagai contoh adalah dua teknik ini. Tiara" aku kemudian menatap tiara

Saat Tiara memandang padaku aku langsung menunjukkan padanya di kedua tanganku terdapat dua teknik sihir. "Katakan Tiara, apakah Api dan Air bisa menyatu?"

"Apa kau pikir aku anak kecil, jawabannya tentu tidak" Tiara lagi-lagi membuat pose yakin

"Ada jawaban yang lain?" aku menatap kelas yang terdiam sebentar.

Lalu aku melihat Miyuki menaikkan tangan. "Sensei, menurutku itu bisa"

Dan aku mulai tertarik bagaimana itu mungkin. "Bisa jelaskan?"

"Hai" Miyuki berdiri.

"Kombimasi tekni seperti yang anda katakan, itu memerlukan sebuah pengendalian. Jadi menurut saya dengan mengubah struktur dalam dari Air itu. Justru membuat mereka dapat menyatu"

Aku tersenyum pada Miyuki. "Jawaban bagus. Kau sangat hebat Miyuki" Aku melihat jika miyuki memerah dan segera duduk di kursinya.

Lalu aku menatap mereka semua. "Kalian perhatikan ini!"

Aku memejamkan mata dan berkonsentrasi. "Air dan Api aku yang mengendalikanmu. Dan dengan ini, jadilah satu!" aku kemudian membuat mereka semua terkejut.

Entah bagaimana mereka sangat terkejut ketika melihat api masih menyala padahal sudah di dalam air dan api itu bergerak-gerak bebas ke kanan dan ke kiri.

Aku menyeringai pada mereka. "Ini adalah contoh kecil..."

"Saber Sword" aku merentangkan tangan lalu pedang angin tercipta di tanganku.

""Saber Sword: Light Pierce" api kemudian menyelimuti pedang angin dan membuat pedangku berapi-api.

"Ini adalah teknik tingkat lanjut" aku menatap mereka yang melihat kearah pedangku.

Aku kemudian menjelaskan pada mereka jika teknik ini bisa di lakukan pada teknik apapun selama dasar dari pengendalian teknik dapat di kuasai dengan baik.

Lalu aku membuat latihan sederhana untuk mereka, yaitu latihan mengontrol mana dan chakra tingkat 2 dimana aku memberi perintah untuk melepaskanmana dan chakra di saat yang sama.

'Sudah aku duga, Tiara jauh lebih unggul. Namun...' mataku tertuju pada perempuan berambut ungu.

'...dewi dari planeptune itu tidak terlalu buruk' aku melihat Neptune mengendalikan mana dan chakra dengan sangat baik. Mana dan Chakra saat di lepaskan di saat yang sama itu bagaikan api biru dan api merah menyatu namun dua warna itu masih tidak menyatu.

Tiara membuat luapan mana dan chakra bagaikan api berwarna hijau setelah perpaduan dua energi itu.

Neptune sedikit terlihat beberapa corak biru dan merah di luapan mana dan chakranya. Sementara yang lainnya masih gagal.

"Baiklah sudah cukup" aku menghentikan latihan dan memberi mereka pelajaran ekstra mengenai kontrol mana.

13.00

Lalu setelah selesai jam pelajaran, aku mendesah lelah. "Baiklah, sampai disini saja pelajaran hari ini" aku kemudian duduk di kursi dengan wajah lelah.

Para gadis kemudian saling tukar pandangan.

'Aku tidak akan kalah' mereka berenam saling memberikan tatapan bagai petir yang menyambar ketika menatap satu sama lain.

Di pangkuan mereka terdapat kotak makan siang dimana mereka berencana mengajak pria tertentu untuk makan bersama.

"..."

"Yo kalian, ayo kita makan di kantin" Aku berdiri di depan kelas mengajak mereka semua.

"Ehhh?" mereka berenam terkejut dan menatapku dengan wajah terkejut.

Lalu entah kenapa alis mata mereka menyipit dan ekspresi mereka menjadi marah.

"Kono baka otoko!" Mereka secara serentak berteriak padaku dan akhirnya berpencar keluar dari ruangan dengan wajah marah.

"Ha? Apa yang terjadi?" aku melirik mereka dengan tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi disini.

Tiara berjalan dengan wajah pasrah. 'Naruto sangat bodoh sekali' ia kemudian murung ketika melirik kotak makan siang yang ia bawa.

Ia berencana makan bersama dengan calon suaminya. Namun setelah apa yang dikatakan Naruto. "Aaah! Dasar idiot!" Tiara mengamuk lalu menuju taman di sekolah untuk menenangkan diri

Naruto sendiri berjalan menuju kantin dengan wajah kebingungan setelah yang terjadi di kelas.

"Apa yang sebenarnya mereka inginkan?" aku memiringkan wajah dan masih tidak mengerti apa-apa.

Aku kemudian duduk di meja makan dan memesan makan siang di kantin mengingat aku sudah lapar.

Beberapa menit berselang pelayan datang dan memberikanku makanan yang aku pesan

"Tuan, apa ada lagi yang ingin anda pesan? Apa anda ingin teh atau menu penutup?" pelayan perempuan itu memberikanku senyuman.

Aku tersenyum padanya "Baiklah aku pesan teh hangat, dan untuk makanan penutup itu tidak perlu. ini saja sudah cukup. Terima kasih"

"Hai, mohon tunggu sebentar" pelayan kemudian pergi membuatkan aku secangkir teh. Dan aku makan dengan tenang sambil berpikir lagi.

'Quest ya?' aku melirik papan Quest dimana beberapa siswa mengambil quest.

'Mungkin misi solo tidak masalah' aku kemudian segera menyelesaikan makanku dan membayarnya sesuai jumlah.

Saat aku selesai makan aku melirik ke arah kertas Quest apa yang bisa aku ambil. 'Misi berburu?'

Aku tanpa banyak berpikir segera mengambil Quest itu. "Permisi, saya ingin mengambil Quest ini" aku menunjukkan kertas Quest pada petugas Guild.

"Hai" Petugas Guild wanita mengambil kertas Quest dan memberi stempel pada Questku.

"Semoga beruntung" petugas itu memberi salam perpisahan ketika aku melangkah pergi.

Aku kemudian menuju asrama laki-laki dimana aku ingin menguji pedang ekscalibur milikku.

Quest; Memburu serigala yang mengganggu di hutan utara dekat perbatasan.

Level A rank

0000000

Aku kemudian berjalan dan melirik-lirik di sekiar hutan dimana seharusnya targetku berada.

Aku juga membawa pedang baruku untuk bertarung nanti. Saat ini pedangku terikat di pinggangku dengan sangat elegan menurut pendapatku.

'Aku diikuti?' aku merasakan beberapa keberadaan tidak diharapkan berada di sekitarku.

Aku kemudian berjalan berpura-pura tidak mengetahui apapun. 'Akan aku kejutkan mereka'

Aku menyiapkan pedangku untuk melakukan penyergapan. Lalu saat aku berbelok kearah pepohonan aku segera melompat untuk menyergap siapapun itu dari belakangnya

"Ah... Dia hilang" orang misterius itu terkejut ketika melihat Naruto lenyap dari posisinya. Lalu orang itu berkeliling sebentar hingga.

"Yo..."

Orang misterius itu berbalik badan dan terkejut.

"Mencariku?"

"Kau tidak akan lari"

Naruto menangkap orang misterius itu yang mengenakan pakaian jubah coklat di tutupi kerudung.

"Kyah!" suara permpuan adalah pertama sekali lyang Naruto dengar setelah kerudung itu ddi paksa untuk terbuka.

"Shironeko?!"

Saat itu juga Miyuki/Shironeko mulai tersenyum gugup padaku setelah penyamarannya terungkap.

"Ehe... aku ketahuan"

Aku hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala padanya yang membuatku khawatir adalah jika pengutit itu tadi berniat untuk membunuhku.

"Jadi bisa jelaskan padaku apa yang kau lakukan?" aku langsung ke topik pembicaraan setelah aku melihat kearahnya.

Miyuki kemudian membuat senyuman main-main. "Mou... kau tidak menyenangkan Naruto, pergi menjalani misi tanpa memberitahukan kami"

"Yah... aku minta maaf mengenai itu, aku hanya ingin tenang sesekali" aku kemudian melirik kearah hutan dimana targetku berada.

"Sekarang kembali" aku mengusir Miyuki lalu berjalan menuju Hutan. Namun aku salah mengira, Miyuki menahan tanganku dan tidak membiarkanku pergi sama sekali.

Saat aku menatap Miyuki aku mulai menelan ludah ketika melihat wajah tidak menyenangkannya. Bukan karena menakutkan wajahnya, malah sebaliknya. Miyuki bertindak merajuk Justru menambah keimutannya mencapai 300 persen.

Jika ini di jepang, maka para otaku akan berteriak mengenai satu hal. Moe. Itu adalah hal yang paling pertama yang mereka katakan.

'tolong jangan lihat aku seperti itu' aku sudah panik dan mentalku entah berapa lama lagi bisa menahan godaan untuk menerkam Miyuki.

Aku kemudian mengalihkan wajah karena pipiku memerah. "Ba...Baiklah, kau boleh ikut" aku membuat nada kesal karena aku tidak menyangkan jika aku akan kalah dengan wajah dari seorang gadis. Namun setidaknya aku bisa menikmati sedikit dari itu.

'Lelucon yang tidak menangkan' aku menggeram. Lalu kami berdua berjalan menuju hutan.

"Shironeko, bagaimana bisa kau tahu jika aku mengambil misi?" dan aku sukses membuat Miyuki sedikit terkejut.

Lalu Miyuki tersenyum dengan ceria. "itu karena aku mengikutimu"

"Kau tidak perlu sejujur itu!" aku entah kenapa merasa kesal sendiri dengan jawaban Miyuki.

"hufhm... hufhm... hufhm... hufhm" Miyuki bersenandung dengan senyuman ceria.

Lalu aku melihat kearah Miyuki sejenak. 'Aku tidak pernah menduga jika miyuki sudah tumbuh' aku melihat dimana miyuki memanjangkan rambutnya sehingga rambut birunya terurai lurus. Dengan seragam sekolah, sebuah kombinasi sempurna untuk kecantikan alami seperti Miyuki.

'Apa yang hars aku lakukan sekarang. Aku belum memberikan jawaban untuk pernyataan Miyuki, tapi aku sudah melamar gadis lain hanya karena aku di bayangi masa laluku'

Aku mulai menyesali keputusan yang aku buat. Itu memang benar jika aku melamar Tiara. Tapi jika aku pikirkan kembali, aku sama sekali tidak memiliki rasa cinta terlalu besar pada Tiara. Hal seperti itu juga aku rasakan untuk semua gadis yang mengelilingiku.

'Jadi apa alasan sebenarnya aku melamar Tiara?' aku melamun sebentar.

"..."

Dan akhirnyta aku tidak menemukan jawaban apapun yang aku inginkan sama sekali. Bahkan aku sakit kepala sendiri jika memikirkan hal ini dan ini adalah salah satu alasan aku tidak akan pernah mengerti perempuan.

"Baiklah karena kita sudah sampai. Aku akan menjelaskan padamu siapa dan apa yang akan kita lawan" aku kemudian menyerahkan kertas Quest pada Miyuki mengenai target.

Saat miyuki membaca, aku berkeliling mencari-cari dimana lokasi monster itu.

"Kemana itu makhluk?" aku mencari-cari dimana-mana dan akhirnya aku seperti orang mencurigakan yang mencari barang curiannya.

Aku kemudian menatap di balik pohon "disini?" aku melirik tidak ada apa-apa.

"..." tidak ada apa-apa yang bisa aku jadikan sebagai petunjuk.

Lalu aku mendapat alarm bahaya. "... Hampir saja" aku menghindari serangan dari entah mana.

"Siapa kau!" aku menyiapkan pedang kearah pohon di depanku.

Dan beberapa saat berlalu seorang pria misterius dengan topeng kuning satu lubang mata dengan pakaian jubah hitam berlogo awan merah. Pria itu menatap kearahku.

'Sharingan!' aku terkejut melihat di balik lubang mata itu.

"Naruto Uzumaki... Kau menyerahlah dan ikut bersamaku"

"Dengan alasan?" aku tidak menurunkan penjagaan. Lalu pria itu membuat pose berpikir.

"Katakan saja jika aku memiliki sesuatu yang menarik"

"..." aku diam dan mrnyipitkan mata.

"Sayangnya aku tidak tertarik. Kau dari akatsuki, jika kau ingin menangkapku. Silahkan coba jika kau bisa" aku mengarahkan pedang Gipsy pada pria itu.

"Kau akan menyesal"

'Aku berani bertaruj jika pria itu tidak tahu mengenai diriku sama sekali' aku membuat kesimpulan ketika melihat pergerakan pria itu.

"Kena kau" aku menebas pria itu ketika ia di depanku namun...

"Apa?!" seranganku melewari dia.

Aku kemudian melompat menjauh. 'Ini akan sulit' aku kemudian bersiap untuk serangan lagi.

"Teknik fuji: sayatan 8 bayangan" aku meluncur kearahnya dengan teknik berpedang dari jepang.

Aku pertama menebas perut pria itu dan di detik ketiga aku berputar dan mebeas tangan pria itu. Lalu semua dalam hitungan 3 detika aku menyerang sebanyak 8 kali di daerah dada, paha kanan, kaki kiri, bahu, dan lengan. Pergerakan yang aku buat seperti berbayang sehingga ia bingung.

"Kau cukup kuat" pria itu menatapku dengan nada datar. Semua seranganku menembusnya.

'Ia bagai bayangan, namun aku menemukan celah'

Aku tersenyum kecil.

"Apa yang lucu?" pria itu menatapku dengan heran.

Namun aku hanya terkekeh kecil.

"Kau tahu, kau sangat meninggalkan banyak celah"

Saat pria itu tidak mengerti maksudku aku segera melesat kearahnya dengan pedang ingin menebas kepalanya

"Tidak akan" pria itu membuat tubuhnya tidak terkena seranganku namun ketika pedangku melewati kepalanya.

Aku segera memutar tubuh dengan cepat dan melayangkan serangan di punggungnya dengan bagian tumpul pedangku.

"Apa!" pria terkejut ketika aku membuat serangan dadakan.

"Ugh!" pria itu terkena seranganku dan akhirnya terlempar.

'Sudah aku duga' aku tersenyum ketika tebakanku benar mengenai tekniknya.

"Ugh... Bagaimana bisa" pria itu bangkit dan menatap kearahku.

Aku hanya tersenyum. "Jangan Remehkan Mages"

"..." pria itu diam lalu entah bagaimana pria itu hilang di serap portal dan muncul tepat di belakangku.

"Tidak akan!" aku menusuk pria itu namun hasilnya ia melenyap lagi.

Lalu pria itu menuju kearahku dengan berbagai macam pukulan. Aku hanya menghindar.

"Dasar keras kepala" aku mulai kesal di buatnya.

Lalu aku melihat ia melepaskan teknik bola api.

"Gipsy!" aku kemudian mengalirkan mana di pedang dan membuat pedangku di sinari cahaya ungu.

"Hiyah!" aku menebaskan bola api hingga terbelah menjadi dua.

Lalu aku berlari menuju pria itu dan ketika ia ingin membuat teknik aku segera mengeluarkan kartu as.

"Kau tidak akan lari!" aku menyegel kekuatannya dengan Gusha the Arcana.

"Apa!" ia terkejut ketika kekuatannya tidak bisa di keluarkan.

Lalu ketika pria ia berhenti dan melihatku yang melesat kearahnya dengan pedang siap menyerang. "Kau kalah!"

Aku kemudian menusuk pria itu tepat di perutnya.

"Uagh!" pria itu terbatuk ketika pedang berhasil aku tancapkan di perutnya.

"..."

"Ba...bagaimana bisa" pria itu menatapku dengan tidak percaya jika aku berhasil mengalahkannya.

"Sudah aku katakan. Jangan remehkan Mages"

Aku memejamkan mata padanya. "Sekarang ini akhir dari perjalananmu" aku kemudian memejamkan mata dan bersiap untuk menghabisi pria bertopeng itu.

Namun...

"Naruto Awas!" Miyuki melemparkan tubuhnya padaku dan menyelamatkanku dari sebuah serangan tombak bercahaya.

"Apa itu tadi?" Aku menatap serangan tadi.

Lalu mataku menuju Miyuki yang terbaring di sebelahku. "Shironeko, apa kau baik-baik saja"

Kami berdua masih berbaring di tanah, aku berusaha melihat lokasi pria yang aku serang tadi. Namun karena debu, jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas.

Pedangku ada di tanah karena aku lemparkan tadi.

"Naruto, ada musuh baru" Miyuki mulai membuat nada serius saat menatap sumber debu itu.

Aku melihat dua sosok di balik asap debu tanah itu. "Ya... aku bisa melihatnya dengan jelas" aku menjawab Miyuki sambil menyipitkan mata ketika merasakan aura berbahaya.

"kau sangat lemah sekali. Ternyata memang benar apa yang di katakan, kalian akatsuki sangat tidak berguna"

Sebuah suara baru terdengar dengan jelas. Saat asap debu menghilang kami berdua melihat sosok perempuan dengan baju kemeja hitam diikat dasi abu-abu dengan rok setinggi paha berwarna hitam. Perempuan itu berdiri dengan wajah menatap kearah kami dengan waspada kami berdua membalas tatapan perempuan itu.

"heh... kau kalah dengan dua bocah?" perempuan itu tidak memiliki nada terlalu tinggi, hanya datar sekali. Tapi sangat jelas jika perempuan itu menghina pria bertopeng yang terbaring di tanah dengan darah keluar dari luka serangan aku tadi.

Lalu perempuan itu mengulurkan tangan pada pria bertopeng itu dan cahaya hijau mengelilingi pria bertopeng hingga akhirnya lukanya tertutup dan Pria itu sanggup untuk berdiri lagi.

"Tobi, kau kembali ke markas. Aku akan menyelesaikan dua bocah ini"

Pria bertopeng bernama Tobi tidak memberikan jawaban apapn. Namun ia memberikan tatapan langsung kearah aku yang saat ini serius menatap perempuan itu.

"Jangan remehkan mereka berdua" Tobi mengatakan pada perempuan itu.

"Kau seharusnya mengatakan hal itu pada dirimu sendiri" perempuan itu masih tidak memberikan emosi berlebihan dan menatap Tobi adengan isyarat. 'kau terlalu lemah'

"Tchih..." Tobi kemudian menuju lokasi lain dengan lubang hisap teknik miliknya.

Lalu perempuan itu menatap kami berdua. "Baiklah. Bisa kalian segera berikan akusambutan"

'Ini berbahaya' aku sedikit berkeringat di belakang kepalaku ketika ak dan miyuki sudah berdiri.

Lalu aku menjulurkan tanganku dan pedang milikku melayang menuju tangan kananku. "Shironeko, ada rencana?" aku berbicara pelan pada Miyuki.

Miyuki terdiam dan menatap wanita itu dengan sangat serius.

'Sialan. Aku tidak bisa menggunakan Gusha the Arcana selama 30 menit kedepan' aku melirik kartu di saku celana kananku.

Batas dari penggunaan Gusha the Arcana adalah 15 menit dengan jeda 30 menit. Jika aku menunggu maka aku akan hancur. Jadi harapanku adalah melakukan serangan untuk mencari celah dimana aku bisa menyerang.

"Membosankan"

Kami berdua langsung siaga ketika perempuan itu berjalan menuju kami. "Apa kalian akan diam dan melihatdiriku sepanjang hari?"

Lalu perempuan itu menciptakan puluhan pedang dengan sinar berwarna Emas mengelilingi dirinya."Nah... Mari kita bersenang-senang sedikit" perempuan itu tersenyum.

Lalu ketika pedang itu menuju kearah kami. Aku segera melemparkan tubuhku untuk menghindari serangan. Saat ledakan terjadi diikuti debu berterbangan aku mencari dimana perempuan berambut biru (Miyuki)

"Miyuki!" aku menggunakan nama asli miyuki lalu melihat-lihat dimana.

"Jangan mengalihkan perhatian, pada hal lain..."

Aku melebarkan mata ketika mendengar suara datar dari belakang dengan cepat berbalik badan dan menebas wanita itu namun

(Sfx benturan dua pedang)

"Apa hanya itu?"

Pedang berwarna emas itu menahan seranganku. 'Ini sangat sulit' aku melihat bagaimana perempuan itu mengendalikan pedang tanpa membuat banyak pergerakan seolah-olah pedang itu memiliki pikiran sendiri.

Aku kemudian melompat menjauh. "Rohpetir..." aku melompat menuju perempuan itu.

Ketika ia menyerangku dengan pedangnya aku menghindari dengan melompat kesamping. Lalu aku melemparkan pedangku kearahnya dengan mantra selesai aku ucapkan

"...beri aku kekuatan, dan serang musuhku dengan kekuatanmu!" aku mengulurkan tangan dan petir menyambar pedangku yang melayang kearah perempuan itu.

Pedang dilapisi petir melesat kearah perempuan itu dengan kecepatan tinggi.

Perempuan itu melihat pedang ungu di lapisi petir berwarna biru yang menuju kearahnya, ia hanya memberikan senyuman.

"Heh..."

(Sfx ledakan)

"Apa berhasil?" aku melihat kearah wanita itu yang saat ini di telan asap ledakan. Aku menduga jika perempuan itu berhasil di kalahkan, namun pendapat itu hanya bertahan sekitar satu menit setelah asap menghilang.

"Kau memang menarik untuk Mages E rank"

Aku melebarkan mata ketika melihat hal ini. Perempuan itu berdiri dengan tenang, namun hal yang membuatku sangat terkejut adalah pedangku berhenti dan melayang di depan wanita itu.

"Pedang Excalibur, tipe Gipsy. Aku sudah lama tidak melihat pedang inu sejak pertarunganku dengan crusader itu..." wanita itu kemudian menatapku.

"Jika kau memiliki pedang Gipsy, berarti aku menduga jika kau adalah pasukan Number... Ah aku baru saja ingat"perempuan itu kemudian tersenyum geli padaku.

"... Number 0, The Fools. Aku tidak menyangka jika ada penerus dari gelar itu. Pengguna dari Gusha the Arcana"

Wanita itu menatap kearahku dengan tawa geli. "Kau pasti orang yang menarik jika memiliki gelar itu"

Aku tidak mengerti apapun itu yang ia katakan. Tapi satu hal yang aku tahu. Wanita ini mengetahui siapa aku dan ia juga mengetahui pengguna dari Gusha the Arcana sebelumnya.

"Baiklah, mari aku tunjukkan padamu apa itu kekuatan" lalu aku melihat perempuan itu mengulurkan tangan kirinya.

"Hancurlah"

Aku melebarkan mata ketika sebuah lingkaran sihir kecil muncul tepat di depan wajahku.

Aku kemudian melompat dengan sangat cepat. Lalu ledakan cukup besar terjadi tepat setelah aku melompat.

"Halo" wanita itu berada di depanku. Lalu perempuan itu menangkap wajahku dan melemparku bagai barang rongsokan.

"Uhuk!" aku terbaring di tanah dengan batuk berdarah.

"..." aku kemudian berdiri dan menatap wanita itu.

Wanita itu hanya tersenyum kecil. "Heh... Hanya ini kemampuanmu?" ia kemudian memegang pedang Gipsylalu melemparkannya kearahku.

"Gunakan itu"

Aku kemudian mengambil pedangku dan menatap lawanku dengan serius. Setelah saling menatap sebentar aku segera melesat menuju wanita itu.

(Sfx dentingan)

Aku menebas wanita itu namun ia menahan seranganku dengan pedang yang ia kendalikan.

"Naif" perempuan itu menghinaku ketika seranganku gagal.

Tidak menyerah sampai disitu aku segera menebasnya lagi dan lagi-lagi pedang itu berhasil menahan seranganku.

"Hiyah!" aku menendang di wajah perempuan itu lalu ketika ia ingin menahan seranganku, aku kemudian mengganti serangan dengan cepat aku berputar badan dan memukulnya.

"Tidak akan" ia menahan pukulanku yang aku arahkan ke perutnya.

Ia menahan tanganku dengan tangan kosong. "Kau masih naif" lalu ia memutar tanganku dan membanting tubuhku ke tanah.

"Uhuak!"

Tidak menunggu lama ia kembali mengangkat tubuhku dengan satu tangan dan memukul perutku hingga aku terlempar cukup jauh.

"Sangat lemah"wanita itu menatap kearah tubuhku yang terbaring di tanah.

'Perempuan ini jauh lebih kuat' aku berusaha bangkit lagi.

"Apa kau masih tidak menyerah? ..."

"Hump aku menghormati keyakinanmu" wanita itu kemudian menciptakan sebuah bola bercahaya.

"Mati" ia menembakkan laser berwarna biru dan aku tidak bisa bergerak sama sekali.

(Sfx ledakan)

'Sial, aku kan mati jika tidak bergerak!' aku mulai sedikit panik ketika melihat serangan itu akan mengenai diriku. dan saat itu juga tidak aku sadari jika aku jatuh ke alam bawah sadarku.

"..."

aku diam dan saat aku membuka mata karena aku mengira aku sudah tamat, namun pendapatku meleset ketika aku melihat dimana aku berada sekarang ini.

"Dimana ini" aku melihat sebuah ruangan dengan banyak sekali pulau kecil mengambang dan di seluruh tempat terlihat bagai angkasa dengan banyak bintang berwarna.

"Selamat datang Tuanku"

suara baru berhasil membuatku terganggu akan suasana ruangan ini. "Siapa itu" aku berbalik badan, namun aku tidak melihat siapapun disana.

"Aku disini tuanku"

Suara perempuan datang belakang tubuhku, ketika aku berbalik seorang gadis dengan tubuh kecil mungkin setinggi 4'5 (140 cm) memiliki rambut biru lautan dengan safir mata berwarna sama seperti rambutnya.

Gadis itu mengenakan pakaian standar Maid dengan Armor perak di kedua tangannya dan di kedua kakinya.

"Aku adalah Luxuria perwujudan dari Gipsy, dan aku adalah senjata dari Crusader. Salam kenal Tuanku" perempuan bernama Luxuria itu kemudian menundukkan kepala padaku dan menatapku dengan wajah datar.

"Tuanku, aku adalah senjatamu. Aku juga perwujudan dari nafsu kekuatan yang anda miliki. Aku bisa mengabulkan keinginan anda, tapi apakah anda bersedia menerima kontrak padaku?"

Aku masih diam menatap gadis kecil itu, kemudian dengan wajah serius aku memiliki keyakinan akan satu hal. 'Aku harus bisa mengalahkan perempuan itu'

"Kenapa harus aku?"

Perempuan itu kemudian menghilang dan muncul lagi di langit-langit terbang kesana dan kemari. "Tuanku adalah penerus yang sangat cocok. Aku adalah tipe pedang dengan kemampuan pengguna harus sama seperti karakteristikku. Bahkan jika aku memberikan kemampuan tinggi, tapi jika pengguna sangat lemah dalam berpedang. Maka tidak ada gunanya menggunakanku"

Lalu gadis itu menghilang lagi dan muncul tepat di depanku. "Jadi bagaimana dengan jawabanmu tuanku?"

Aku diam lagi dan berpikir sebentar. "Baiklah, aku menerimanya"

Gadis itu menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan, aku kemudian merima tangan gadis itu lalu aku berlutut di depan gadis itu. "Dengan ini kau adalah tuanku seutuhnya. Dan aku adalah pelayan anda" Gadis itu menggigit leherku dan menyerap darahku.

'Aku tidak peduli lagi apa yang harus terjadi nanti' aku memejamkan mata lalu aku merasakan lonjakan energi datang dari dalam tubuhku.

Gadis itu setelah selesai proses upacara untuk Master dari pedang Gipsy, kemudian ia menatapku dengan mata datar seperti baisa. "Pergi dan bertarunglah, Musuhmu adalah musuhku. Beri mereka hukuman tuanku"

Lalu aku merasakan jika kesadaranku mulai memudar dan aku memejamkan mata. "Baiklah"

Saat aku membuka mata aku di sambut oleh serangan dari laser itu tadi. Namun aku tetap diam di tempat hingga laser itu menimbulkan ledakan

(Sfx ledakan)

Perempuan dari Wizard Devine Wisdom menatap kearah dimana Naruto terkena serangan. Lalu mata wanita itu menyipit. "Ho?"

(Sriing) asap dari ledakan terbelah menjadi dua bagian dan terlihat Naruto uzumaki dalam form baru.

Tubuhnya di kelilingi api Biru dan tangan kanan Naruto memiliki wujud seperti tangan robot, bahkan pedang Gipsy memiliki bentuk berbeda.

Bentuk dari pedang Gipsy sekarang lebih mirip seperti senjata api laras panjang Shotgun dengan sinar berwarna Ungu. Pedang gipsy sekarang seperti pedang laser dengan bentuk hampir menyerupai Shotgun sepenuhnya.

"Ini..." Naruto menatap tubuhnya yang di kelilingi api biru dengan wajah penasaran. Bahkan di tangan kirinya terdapat beberapa api kecil dengan warna sama.

'Tuanku, ini adalah Form 1 dari 3 form. Karena ini adalah sinkronisasi pertama kita. Aku memberikan kekuatanku untuk berubah wujud hingga 1 form'

Suara dari Luxuria memberitahukanku. Aku menganggukkan kepala lalu menatap lawanku yang masih dian menyaksikan diriku.

"Heheheh... nampaknya kau berhasil membuat kontrak dengan pedang sihir ya? Baiklah jika begitu..." lalu getaran terjadi setelah perempuan itu berbicara padaku.

'Ini biruk' aku melihat tanah mulai meninggi dan tanah itu kemudian memiliki bentuk seperti Golem tanah namun dengan persenjataan sihir lengkap di seluruh tubuhnya. Aku jadi teringat dengan film di planet bumi dan anehnya bentuk dari raksasa ini sangat mirip dengan film itu. (Pasific Rim)

"Nah... sekarang mari kita berpesta" Gadis itu tertawa padaku ketika monster itu siap menyerangku.

"MATI!" golem itu menembakkan peluru sihir seperti laser kearahku, namun aku diam untuk sementara dan memfokuskan energiku di pedanku.

Aku segera bergerak dengan menebaskan pedangku kearah peluru sihir itu. Dan hasilnya sangat mengejutkanku ketika aku berhasil memotong menjadi dua bagian dari peluru laser itu.

"Apa?!" perempuan itu terkejut ketika aku bergerak dengan sangat cepat.

"Jangan remehkan aku, nak" perempuan itu kemudian menembakkan peluru sihir kesegala arah, namun tidak ada satupun tembakan mengenai diriku sama sekali. Lalu aku terus berlari dengan mengayunkan pedangku di sekitar tubuh untuk menjadikannya sebagai perisai.

Lalu aku berlari menjauh dari golem dan membiarkan diriku terus di tembaki walau tidak mengenai diriku namun tetap saja temakan itu membuat semua tempat di telan api.

"..." aku kemudian berbalik badan dan berlari menuju golem itu dan menggunakan pedangku untuk menangkis setiap peluru sihir yang datang kearahku.

"Kau sangat menarik" perempuan itu menatapku dengan wajah tertarik ketika aku terus berlari menuju golem dengan menangkis setiap serangan yang datang

Lalu ketika aku berlari dengan sangat cepat aku menuju kaki dari golem dan menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.

Saat keseimbangan dari golem itu mulai terganggu aku tidak menggunakan waktu lama untuk menunggu. Aku segera melompat kearah kaki satu lagi dan memotongnya, lalu saat golem akan jatuh aku menangkap tangan kanan dari golem itu.

"Uaaaaaah!' aku mengeluarkan setiap tenaga yang aku miliki untuk mengangkat golem itu.

"Bagaimana bisa?!" perempuan itu terkejut ketika aku mulai mengangkat golem yang memiliki bobot sekitar puluhan ton.

"Uaaaaha!" aku membanting golem itu dengan sangat keras bahkan getaran kuat itu mencapai kearah kota Alborz.

Di kota.

Party member Tiara saat ini berjalan menuju rumah setelah selesai mengerjakan tugas tambahan dari Naruto-sensei yaitu, menyalin 50 lebih dari lingkaran sihir dengan berbagai macam bentuk.

"Apa itu" Tiara mulai melihat kearah asap yang datang dari hutan cukup jauh dari kota.

Noel, Satsuki, Putina, dan Neptune melihat kearah asap itu dan dengan wajah serius mereka saling menatap satu-sama lain.

"Ayo kita kesana" putina memberikan saran ketika merasakan getaran hebat datang dari arah asap itu. Kemudian mereka menganggukkan kepala dan segera menuju lokasi itu.

Di posisi semula

"hah...hah..." aku terengah-engah ketika melihat tubuh golem itu berhasil aku jatuhkan.

Lalu aku menyiapkan serangan terakhir dan sebagai penghabisan dari serangan tadi. Aku kemudian memejamkan mata dan mengalirkan seluruh energiku yang aku punya ke dalam pedang. Api biru di sekitarku kemudian menuju pedang dan membuat pedangku semakin bersinar terang.

Saat itu juga pedangku semakin memanjang dengan sinar ungu semakin terang. "Mari kita selesaikan ini" aku kemudian berlari menjauh dari golem dan kembali lagi menuju golem itu. Saat aku sudah cukup dekat aku kemudian melompat cukup tinggi dengan kedua tangan memegang pedangku.

"Hiyaaaaa!" aku dengan sekuat tenaga segera mengayunkan pedangku menuju golem itu dan membelah golem itu menjadi dua bagian.

(Sriiing) suara dari pedangku ketika berhasil memotong golem itu. Lalu aku mendarat di tanah dengan aman dan berdiri sebentar.

(Sfx ledakan)

Ledakan terjadi di tubuh golem itu beberapa detik setelah aku beridiri di depan golem. Kemudian aku mengayunkan pedang lalu menciptakan sarung pedang dari api biru yang tersisa dari tubuhku.

"ini sudah selesai" aku menatap Golem yanag di lahap api karena seranganku. Aku berpikir jika perempuan itu sudah tamat setelah serangan tadi.

Hingga aku mendengar sebuah suara dari golem itu. "hahaha... tidak aku sangka jika kau sekuat itu"

Aku melebarkan mata ketika melihat perempuan itu muncul dari dalam api yang membara seolah-olah api itu tidak menyentuh dirinya.

"Kau memang menarik, sekarang ini saatnya kita serius" perempuan itu kemudian menciptakan pedang berwarna hijau lalu tubuh wanita itu bersinar terang dan saat sinar itu menghilang aku semakin shock ketika melihat perempuan itu melakukan perubahan wujud

Rambut wanita itu berubah menjadi warna merah muda, matanya juga berubah warna menjadi merah darah. Perempuan itu sekarang mengenakan sebuah gaun merah di lapisi baju besi Armor khas kesatria di tangan dan kakinya.

Lalu pedang perempuan itu memiliki sinar hijau terang dengan sambaran petir dari pedang itu. "Sekarang, bisa kita selesaikan ini?" perempuan itu menatap kearahku dengan senyuman.

Aku mulai menyipitkan mata. 'Tuanku, kita sudah mencapai batas. Maafkan aku' lalu tubuhku kembali kewujud semula. Pedangku berubah bentuk seperti pedang pada umumnya dan armor di kaki dan tanganku ikut menghilang dengan cahaya bersinar.

Aku mulai mengumpat dari dalam batinku ketika melihat posisiku yang sudah dalam kondisi darurat. 'Luxuria, bisa beritahu aku mengenai kemampuan lawan' aku berbicara dari dalam bantinku pada pedang yang saat ini aku pegang.

'Hai Tuanku, jenis pedang yang ia miliki adalah tipe Sylestia. Itu adalah pedang kelas atas untuk kaum Knight pemburu. Jarak serang pada umumnya adalah sekitar 7 meter radius serangan. Berhati-hatilah tuanku'

Aku kemudian mengeluarkan pedang dari sarungnya dan bersiap untuk bertarung sekali lagi dengan lawanku

"Hoooo? Kau tidak menyerah ya?" perempuan itu kemudian berjalan menuju kearahku dengan sangat santai.

'ini kesempatanku' aku melesat maju kearah perempuan itu dengan pedang siap untuk menebasnya. Namun aku terlalu meremehkan lawanku.

"Apa!" aku terkejut ketika aku berhenti, tidak. Lebih tepatnya aku tidak bisa bergerak sama sekali saat jarakku dengan perempuan itu sekitar beberapa centimeter.

Lalu perempuan itu mendekat kearahku dengan senyuman. "ah... sangat membosankan" perempuan itu menyentuh wajahku dengan pedangnya dan menggores pipiku.

Aku berusaha bergerak dengan segala cara namun hasilnya aku tetap tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu aku merasakan serangan mengenai wajahku ketika wanita itu menghantamkan bagian tumpul dari pedangnya tepat di pipiku.

"uaah!" aku terlempar cukup jauh dan aku juga merasakan jika beberapa tulang di bagian pipiku mulai remuk.

Aku kemudian beridir dan bersiap untuk menyerangnya lagi dengan gerakan cepat.

Saat ia terus menghindari setiap seranganku aku mulai kesal dengannya karena ini seolah-olah ia hanya mempermainkanku dan tidak menganggapku ada disini.

"Ayolah... aku merasakan kekuatan besar dari tubuhmu, aku ingin kau menunjukkannya padaku" perempuan itu kemudian muncul di depanku dan menebas kearahku namun karena aku cukup cepat menghindar jadi serangan yang seharusnya membunuhku berubah melukai kaki kiriku.

"ah...ah..hah.." aku sudah kelelahan karena ini batasan dari kekuatanku. 'perbedaan kekuatan kami terlalu jauh. Jika aku terus bertarung maka aku bisa mati dengan mudah' aku mulai mengumpat ketika menganalisa dari lawanku

Saat aku bergerak menuju perempuan itu dengan kekuatan yang aku miliki aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan.

"Hah... kau sudah kalah jika kau memaksakan dirimu" perempuan itu menggelengkan kepala ketika aku berjalan menuju dirinya.

Namun aku terus berjalan menuju dia dengan kekuatan yang aku miliki. Lalu aku terbaring ketika sepenuhnya aku sudah kehilangan tenaga.

'Sial... hanya sampai disini ya' aku mulai memuntahkan darah ketika energiku bercampur aduk. Aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk melakukan pemanggilan roh penjagaku.

Lalu aku melihat jika perempuan itu menuju kearahku dengan berjalan sangat santai.

"Uhk" aku mengerang sakit ketika perempuan itu menarik rambutku dan membuat wajahku menatap wajahnya.

"Kau sangat menarik untuk seorang anak muda. Baru kali ini ada yang sanggup melawanku hingga sejauh ini." Lalu saat perempuan itu berdiri ia mengangkat wajahku.

"ayo... saatnya kau bermain sedikit padaku" lalu di tangan perempuan itu muncul lima api biru di setiap jarinya.

"Nah... rubah kecil, saatnya bermain" lalu perempuan itu menusukkan kelima jarinya tepat di perutku dan aku terbatuk ketika merasakan kekuatan dari tangan permpuan itu.

Saat itu juga aku merasakan rasa sakit luar biasa di perutku ketika perempuan itu selesai menekan perutku dengan jarinya.

"uaaaaaahhh!" aku mengaum keras ketika merasakan rasa sakit itu. Lalu perempuan itu tersenyum padaku dan melemparkan tubuhku kearah bebatuan.

Saat aku terlempar aku masih merasakan rasa sakit itu, kesadaranku hampir hilang sepenuhnya dan aku sendiri tidak bisa mengendalikan kekuatan yang entah bagaimana masuk kedalam tubuhku.

Namun saat itu juga aku sudah kehilangan kesadaran ketika lonjakan energi merah melebihi kapasitas dan ti tambah rasa sakit yang luar biasa datang dari perutku.

Tubuhku kemudian di lapisi energi merah. Mataku sebelah kiri berubah bentuk menjadi seperti mata kucing bersinar warna merah terang. Kuku dan taring menajam dan tatapan mataku mulai membuas bagai hewan yang ingin memangsa target.

"huh... grrr" aku menggeram seperti harimau ketika sepenuhnya diriku di ambil alih oleh rubah ekor 9.

"Hahaha... sekarang majulah jika kau bisa" perempuan itu tertawa pada Naruto yang dalam mode mengamuk.

Tubuh Naruto tidak mengalami perubahan secara keseluruhan, hanya energi dan kesadaran Naruto yang hilang sehingga Ekor 9 harus bertarung dengan sedikit kekuatannya.

Lalu Naruto maju dengan sangat cepat dan menebas perempuan itu secara membabi-buta tanpa mengenal kata henti.

Naruto kemudian menuju perempuan itu dengan sangat cepat dan menebasnya namun perempuan itu menangkis sehingga dua pedang saling berlaga satu sama lain.

"Heh... kau masih lemah" perempuan itu menatap langsung ke mata Naruto yang memiliki bentuk seperti mata kucing berwarna merah di mata kanannya.

"apa?" perempuan itu sedikit terkejut ketika tenaga Naruto meninggi secara tiba-tiba.

"Grrrah!" Naruto mengaum dan berhasil membuat perempuan itu terlempar akibat perbandingan tenaga yang sangat jauh berbeda.

Saat perempuan itu bangkit, ia kemudian tertawa lagi dan menatap Naruto dengan senyuman. "Baiklah, mari kita lebih serius"

Mereka berdua saling berlaga pedang satu-sama lain dengan kekuatan yang saling berlawanan bagai Api dan Air.

Namun jauh di alam bawah sadar Naruto ia masih dalam keadaan tertidur.

Naruto masih tertidur di sebuah ruangan tempat dimana ia membuat kontrak dengan Luxuria. "Ugh... dimana aku" Naruto bangun dan berusaha membuka mata.

Saat Naruto melihat sekeliling dimana ia berada, Naruto kemudian di sambut oleh Luxuria yang sejak tadi berdiri di depannya .

"Anda sudah sadar Tuanku?" Luxuria menatap Naruto.

Naruto kemudian memegang pundaknya dan menggerakkan kepala karena masih terasa sangat sakit.

"Apa yang terjadi"

Luxuria menatap naruto sebentar dan menjelaskan jika Naruto sudah pingsan dan saat ini Ekor 9 sedang bertarung dengan perempuan itu.

"Jadi apa aku bisa keluar dari sini?"

Luxuria menggelengkan kepala. "Tidak untuk sementara Tuanku. Karena mental dan aliran mana anda saat ini sedang kacau. Jadi aku harus melakukan pemulihan untuk sementara"

Aku melipat tangan dan menganggukkan kepala padanya.

'jadi aku harus terperangkap disini untuk sementara ya?' aku menatap ruangan.

Bersama Naruto di dunia nyata.

Api panas terlihat disana dan disini. Kebakaran terjadi akibat ledakan dan pertarungan membuat lokasi yang hijau ini berubah menjadi neraka dunia.

Perempuan berambut merah muda dengan baju armor sudah retak menatap kearah pria berambut hitam dengan tawa. "hahah... seperti yang diharapkan dari ekor 9. Kau memang sangat kuat"

Perempuan itu tertawa pada Naruto yang di kendalikan oleh ekor 9. Baju Naruto juga mengalami banyak robekan dan tubuhnya sudah menerima memar sangat banyak.

Naruto berusaha mengatur nafas dengan pedang amsih di tangan.

Lalu perempuan itu melesat maju kearah Naruto dengan pedang siap menteang. Namun Naruto segera menghindar dan menyerang balik dengan menebas tubuh wanita itu.

Armor wanita itu langsung terpotong dan melukai tubuhnya.

Perempuan itu kemudian menjauh dan tersenyum pada Naruto. "Jangan lengah" perempuan itu entah bagaimana bisa berada di belakang Naruto dan mencengkram lehernya dengan sangat kuat.

Lalu membanting tubuh Naruto ke tanah hingga menciptakan lubang cukup besar. Saat itu juga perempuan itu mematahkan tangan kiri Naruto.

"Graaaah!' Naruto mengaum keras ketika tangan kirinya patah. Lalu dengan wajah marah Naruto dengan cepat menusuk perempuan itu dengan sangat kuat menggunakan pedang yang di tangan kanannya.

"uhuk!" perempuan itu memuntahkan darah dan menatap ke belakang tubuhnya dimana ia tertusuk oleh pedang.

Lalu dengan secepat mungkin Naruto segera menendang perempuan itu hingga ia terlempar.

Perempuan itu kemudian berusaha bangkit namun tidak ia sadari jika Naruto sudah di depannya. Dan dengan hitungan detik Naruto segera memukul perut dan wajah wanita itu berulang kali.

"gryaaah!" perempuan itu kemudian di banting sangat keras oleh Naruto bahkan membuat lubang dua kali lebih besar dari yang di lakukan oleh perempuan itu tadi.

Lalu Naruto berjalan menjauh dengan nafas terngah-engah Naruto kembali menatap kearah Wanita itu yang masih bisa bangkit.

"hahahaha... kau sangat hebat!" perempuan itu tertawa dan menepuk tangan. Lalu perempuan itu menyiapkan serangan terakhir, Naruto tidak bisa melakukan apapun karena energi dari tubuhnya sepenuhnya sudah lenyap.

Dan Ekor 9 juga sudah tidak bisa bertarung lagi karena tubuh Naruto sudah mencapai batasannya.

Lalu perempuan itu menuju Naruto dengan pedang bersinar terang berwarna Hijau. "Mati!" perempuan itu dengan cepat menuju Naruto.

Namun...

(Sfx ledakan)

Saat ledakan terjadi perempuan itu membatalkan serangannya karena serangan secara langsung menuju kearahnya. Saat perempuan itu melihat kearah penyerang. 5 orang perempuan menatapnya dengan wajah marah.

"Naruto!" mereka berempat memanggil kearah laki-laki tertentu yang sudah penuh luka.

"Beraninya kau melakukan itu padanya" Neptune mulai memberikan wajah marah pada perempuan itu.

Namun perempuan itu hanya tersenyum pada mereka berempat. "Apa kalian mau melawanku?" perempuan itu sukses membuat mereka sangat kesal.

Namun neptune maju dengan wajah menggelap. Lalu tubuh Neptune di kelilingi oleh cahaya dan beberapa nomor muncul mengelilingi tubuhnya.

"Aku yang akan mengatasinya. Kalian tolong Naruto" neptune berubah wujud menjadi seorang gadis 19 tahunan dengan rambut ungu di kepang dua cukup panjang mengenakan pakaian seperti pakaian renang sekolahan berwarna hitam.

Neptune juga memiliki semacam sayap kupu-kupu di belakang tubuhnya dan ia juga melayang di udara. Form dari Neptune adalah form HDD sebuah teknik dimana CPU (Consle Patron Unit) memiliki wujud kedua sebagai kekuatan sesungguhnya dari dewi Celestia.

Di tangan Neptune sebuah pedang besar berwarna ungu siap menyerang perempuan itu kapan saja.

"hoooo?" perempuan itu tertarik menatap keara Neptune, namun neptune masih tidak memberikan ekspresi apapun yang berarti.

Lalu mereka berdua maju untuk bertarung satu sama lain. Sementara sisa dari tim member berusaha untuk melihat bagaimana keadaan Naruto.

"GRAAAAAAAH!" Naruto mengaum secara tiba-tiba dan saat itu juga Naruto terbaring di tanah tidak sadarkan diri karena kehabisan energi.

"NARUTO!"

Mereka bertiga secara serentak berteriak memanggil Naruto yang tiba-tiba pingsan.

000000000000000