.
Chapter 28 – Bring Me to Life
.
Jika Hakuya memang sudah mati saat itu, lalu siapa yang mereka lihat di medan perang? apa yang mereka lihat terjadi pada Yohime dan Hakuya di medan perang hanya ilusi?
Belum sempat mereka berpikir, lagi-lagi mereka dihadapkan pada pantulan lain.
Ruangan yang gelap, Haku tahu tempat ini karena inilah tempat terakhir tiap jasad diletakkan sebelum dikirim untuk pemakaman.
Tepatnya kamar mayat.
Malam itu, setelah mengkamuflase kematian Hakuya sebagai 'mati bunuh diri akibat kehabisan darah pasca menggigit lidahnya sendiri', tabib Kai-En dan bawahannya berniat mengambil isi inti ramuan yang mereka buat, yaitu ular yang masuk ke dalam tubuh Hakuya sebagai inti dari ramuan kutukan 'Kodoku'.
Tanpa mereka duga, sudah ada seseorang yang mendahului mereka dan menunggu kedatangan mereka di ruang mayat itu.
Saat tabib Kai-En meminta asistennya memberikan pisau agar ia bisa membelah tubuh Hakuya dan mengambil kembali ular yang ada dalam tubuhnya, pria itu tergeletak dengan darah yang mengucur dari tengkuk lehernya akibat tusukan pisau yang membunuhnya seketika. Si pelaku yang telah membunuh asistennya kini berdiri di belakangnya.
"masih belum cukup semua penghinaan yang kau berikan pada Hakuya-sama, Kai-En?".
"apa itu cara bicara yang pantas pada atasanmu, Ji Min?".
"kau pikir aku peduli pada hal itu sekarang? takkan kubiarkan kau menyakitinya lebih dari ini, meski yang tersisa kini hanya mayatnya" ujar Ji Min menghunuskan pedangnya ke leher Kai-En dari belakang.
"kenapa kau bersikeras membela Byakko no Kouka, Ji Min? Jatuh hati padanya?".
"tutup mulut... kata-katamu menggelikan..." ujar Ji Min mengiris leher Kai-En beberapa mili, bukan luka fatal tapi cukup untuk membuat darah mengucur dari mulut luka di leher Kai-En.
Ji Min ingat betul, hari-hari yang ia lewati saat ia baru masuk kastil sebagai dayang pada usia 16 tahun, ia mulai mengasuh Yohime yang baru berusia 6 tahun tak lama sebelum mendiang permaisuri Yoan meninggal. Hanya beberapa hari sebelum meninggal, mendiang Yoan sempat berpesan pada Ji Min bahwa Yoan ingin Ji Min mengasuh Yohime sebagai pengasuh / perawat / dayang utama Yohime dan Ji Min bisa menganggap Yohime sebagai putrinya sendiri.
"bagi wanita yang tak bisa mengandung sepertiku, memiliki anak hanya sekedar harapan hampa dan mengasuh anak-anak menjadi satu-satunya penghibur kesepianku... keduanya yang berkata bahwa aku bisa menganggap mereka sebagai anakku dan mengatakan bahwa aku seperti ibu bagi mereka, bagiku pun begitu, aku sudah menganggap mereka berdua seperti anakku sendiri" sahut Ji Min meneteskan air mata; melihat jasad Hakuya yang tergeletak di depan matanya menimbulkan amarah dan kesedihan yang besar akibat luka-luka di tubuh Hakuya "tak mungkin ada seorang ibu yang tak terluka melihat anaknya diperlakukan secara tak manusiawi, disiksa di depan matanya dan dibunuh perlahan-lahan seperti yang terjadi pada Yohime-sama dan Hakuya-sama... dan kau yang telah melakukan tindakan tak manusiawi ini pada mereka berdua, pantas untuk mati...".
Ji Min serius, sorot mata Ji Min membuat Kai-En merasa takut dan ia meminta Ji Min untuk tak membunuhnya karena ia hanya diperintah oleh Kan Soo Jin untuk melemahkan Yohime dan menjadikan Hakuya sebagai boneka mereka.
"lagipula kau juga dokter, kan? memangnya dokter boleh membunuh?"
"benar, tapi dokter hanya punya dua pilihan, mempertahankan nyawa pasiennya atau tidak dan saat dokter gagal menolong pasiennya, sama saja dia telah membunuh pasiennya secara tidak langsung... lalu apa kau pikir kau pantas bicara begitu padaku sementara kau melakukan hal rendah dan biadab yang tak pantas dilakukan baik sebagai dokter maupun sebagai manusia?!".
Saat Ji Min mengangkat pedangnya ke atas, bersiap menebas Kai-En, sebuah tangan yang besar dan berlumuran darah mencengkram kepala Kai-En dari belakang, membuat Kai-En terbelalak; wajahnya pucat menyadari siapa yang mencengkram kepalanya, tubuhnya gemetar, ia merasa merinding karena ketakutan seolah baru melihat hantu. Siapapun yang melihat pucatnya wajah Hakuya saat itu akan merasa kalau mereka memang melihat hantu.
Ji Min terbelalak, menutupi mulutnya dengan kedua tangannya setelah menjatuhkan pedang di tangannya, air matanya mengalir tak tertahan.
Rambut Hakuya yang awalnya berwarna coklat kehitaman kini berwarna perak yang terlihat mengkilat saat terkena paparan cahaya bulan yang terselip dari ventilasi jendela ruangan itu, warna merahnya darah yang melumuri tubuhnya kini sudah berubah menjadi kehitaman. Yang mengejutkan adalah bola mata kanan Hakuya yang ditusuk; bukan hanya sembuh total, bahkan sebelah matanya yang tadinya berwarna hijau Jade kini berwarna merah yang unik, campuran warna merah tua bagaikan darah dan warna merah muda bunga Sakura, bentuk matanya bukan lagi mata manusia sebab dengan pupil matanya yang mengecil membuat siapapun akan berpikir bahwa mata kanan Hakuya yang kini memiliki bentuk pupil mata yang sama persis seperti mata Shina sebagai mata sang naga.
Semudah memecahkan telur, tengkorak kepala Kai-En pecah akibat dicengkram oleh Hakuya yang menatap kosong Ji Min. Meski jasad Kai-En tergeletak berlumuran darah di hadapannya, melihat Hakuya hanya diam di tempat dan berdiri dengan sorot mata yang kosong, Ji Min tak bisa menahan air matanya, bukan karena takut tapi karena senang bercampur lega.
"oh, tuhan... wahai dewa, terima kasih..." isak Ji Min memeluk Hakuya dan memegangi kepala Hakuya yang bersandar di bahunya, merasa gembira seolah anaknya yang telah mati kembali ke hadapannya.
Melihat Hakuya tak menunjukkan reaksi, ibarat boneka yang tak bernyawa, Ji Min merasa dia masih belum bisa lega karena masih ada yang tak beres, kondisi Hakuya tak bisa dibilang baik. Setelah menutupi Hakuya dengan kain yang menutupi tubuh Hakuya tadi sebagai pengganti jubah sementara, malam itu juga Ji Min membawa Hakuya keluar kastil Hiryuu menuju sebuah bangunan kecil di perbatasan Kuuto.
Ji Min membuka pintu bangunan itu dimana sudah ada seseorang yang menunggu di dalamnya "ayah!?".
"kau membawanya bersamamu, Ji Min?".
"dia disini" ujar Ji Min menutup pintu setelah membawa Hakuya masuk, menggandeng tangan Hakuya dan mendudukkkannya di hadapan pria yang Ji Min panggil ayah itu.
Pria berambut coklat bermata merah itu berdiri, Haku mengenali pria itu sebagai guru Hakuya, Ji An. Sambil memeriksa kondisi Hakuya, Ji An memberi penjelasan pada Ji Min bahwa dalam tubuh manusia terdapat roh dan spirit dimana manusia akan tetap hidup selama roh mereka masih ada dalam tubuh sementara spirit adalah bagian dari roh seseorang yang menyimpan perasaan dan kesadaran.
Mereka masih belum bisa lega sepenuhnya dengan kondisi Hakuya yang saat ini bisa dibilang berada di antara hidup dan mati. Spirit Hakuya yang menyimpan kesadaran dan perasaannya saat ini sebagian besar tak ada dalam tubuhnya.
"bisa dibilang, kondisinya saat ini sama saja seperti boneka tanpa perasaan... dia masih bisa beraktivitas layaknya manusia biasa tapi dia tak bisa merasakan sesuatu tak peduli apapun yang ia lakukan, jadi meski ia membunuh seseorang dalam keadaan saat ini, ia takkan merasakan apapun karena dia tak memiliki perasaan...".
"apa tak ada cara mengembalikan spiritnya seperti semula?".
"sulit mencari spirit seseorang yang keluar dari tubuh dan tersesat, apalagi jika spiritnya merasa kalau ia sudah mati dan tersesat ke alam baka. Yang menggerakkan tubuhnya saat ini hanya setengah spiritnya, yang berarti hanya sebagian perasaan yang tersimpan dalam spiritnya yang tersisa di dalam tubuhnya saat ini, entah apa... Hanya mereka yang memiliki ikatan batin yang kuat dengannya, yang dapat mendeteksi keberadaan spiritnya dan menarik spiritnya kembali".
"andai Hime-sama atau Haku Shogun ada disini...".
"meski Hime-sama masih hidup, kita tetap masih belum bisa mempertemukan Hakuya dengan Hime-sama jika spiritnya belum kembali".
"lalu bagaimana dengan perasaan Hime-sama, ayah?".
"pikirkan bagaimana reaksi Hime-sama jika ia mengetahui kondisi Hakuya saat ini. Anggaplah kita berhasil mengembalikan spiritnya ke tubuhnya seperti semula, masih ada satu masalah lagi yang harus kita atasi".
Ji Min menepuk dahinya "ayah benar, ular yang merupakan inti ramuan kutukan Kodoku yang masih ada dalam tubuh Hakuya belum bisa kita keluarkan".
"kita tak bisa mengeluarkan ular itu hidup-hidup, bisa-bisa Hakuya mati akibat shock, yang bisa kita lakukan adalah membunuh ular itu selagi ular itu ada di dalam tubuhnya, setelah itu baru kita keluarkan bangkai ular itu dari dalam tubuhnya dan memberikan darah Yohime-sama sebagai titisan Suzaku untuk memurnikan racun yang terlanjur menjalar dalam darah di seluruh tubuh Hakuya. Masalahnya adalah bagaimana jika insting binatang buas dalam tubuh Hakuya yang muncul akibat ramuan Ochimizu membuatnya melawan dan mencelakakan Hime-sama di saat Hime-sama berusaha menolongnya? Meski semua itu dilakukan Hakuya tanpa sadar, tidak mengubah kenyataan kalau Hakuya mungkin akan menancapkan taringnya pada Hime-sama. Sebagai titisan Suzaku dan takdirnya sebagai gantinya, Hime-sama pasti akan menolong Hakuya meski dengan taruhan nyawanya. Apa itu yang diinginkan Hakuya? Kembali ke dunia ini meski Hime-sama harus mengorbankan dirinya?".
"ayah, aku merawat dan memperhatikan keduanya sejak kecil, dan tak mungkin Hakuya akan mencelakai Hime-sama".
"kau tak lupa apa yang terjadi saat darah dalam tubuhnya bangkit dan membuatku hampir mati karena menahan kekuatannya, kan? Amarah dan kesedihannya yang terlalu besar membuat kegelapan dalam dirinya membuncah keluar, ia tak ada bedanya dengan hewan buas yang akan berbalik menyerang orang di sekitarnya, tak terkecuali Hime-sama. Aku mengerti kau terlanjur menyayangi mereka berdua, tapi ingatlah, tak semua yang kita rencanakan atau kita inginkan bisa berjalan dengan baik atau terjadi".
"kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang? kita tak bisa membawanya kembali ke Fuuga dengan kondisi begini".
Saat Ji An meminta Ji Min menyembunyikan identitas Hakuya dan kembali ke kastil Hiryuu bersama Hakuya, Ji Min sempat menolak karena ia tak ingin lagi berada di kastil Hiryuu, tak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di kastil Hiryuu terlebih membawa Hakuya kembali bersamanya ke kastil Hiryuu dan mengambil risiko, itu sama saja membahayakan Hakuya.
"dengarkan ayahmu dulu, kau pikir aku juga ingin membiarkan putriku dan muridku berada dalam bahaya tanpa alasan? Kau bilang kalau Hakuya membunuh Kai-En sebelum kau yang membunuhnya dan ia tak bereaksi terhadap rangsangan dari luar, kan? kemungkinan perasaan yang tersisa dalam spiritnya dan menggerakkannya saat ini hanyalah amarah dan kesedihan. Amarah dan kesedihan yang terlalu besar hanya akan menimbulkan dendam dan kebencian, itu adalah racun yang menggerogoti hati manusia, ironisnya justru racun itu yang menahannya dan menggerakkannya kembali... biarkan dia mengatasi sumber amarah dan kesedihannya selagi aku mencari dimana spiritnya dan mencari cara menariknya kembali, dan kau selidiki rentetan kasus kematian anggota keluarga kerajaan di kastil Hiryuu, mulai dari kematian mendiang permaisuri Yoan dan mendiang Yu Hon 10 tahun yang lalu, yang menjadi pemicu semuanya".
Sebelum mengiyakan permintaan Ji An, Ji Min menanyakan tentang ramuan yang diberikan Ji An padanya untuk dicampurkan dalam ramuan buatan Kai-En "ayah bilang obat ini hanya akan menekan kondisi tubuh seseorang sampai orang itu berada dalam kondisi mati dimana detak jantung dan napasnya akan berhenti selama beberapa jam tapi rohnya dan spiritnya masih tetap ada di dalam tubuh, dan saat Hakuya sadar kembali, kita bisa membawanya kabur dari kastil Hiryuu tapi kenapa spiritnya malah keluar?".
Menurut Ji An, saat roh seseorang yang telah mati kembali ke langit, mereka akan melewati alam baka, bisa berupa terowongan atau jalan yang gelap, yang jelas semua roh yang kembali ke langit pasti akan melewati alam baka sebagai perbatasan antara dunia dan langit. Saat seseorang mati, detak jantung dan napasnya berhenti, rohnya akan lepas dari tubuh lalu dalam beberapa jam spiritnya yang tersisa akan mengikuti rohnya menuju alam baka.
"jika berjalan sesuai rencana, seharusnya ia kehilangan arah saat berada di alam baka sehingga ia tak punya pilihan selain kembali ke dunia ini dan terseret kembali ke tubuhnya... seharusnya setelah rohnya kembali ke tubuh, spiritnya juga ikut kembali jadi sebenarnya kemana perginya sebagian besar spiritnya?".
Haku memeluk Yona dari belakang dan meminta Yona menutup matanya.
Yona ingin menutup kedua matanya, kedua tangannya sudah berada di wajahnya, menutupi mulutnya saat ia melihat apa yang terjadi pada Yohime, tepatnya apa yang dilakukan Yohime setelah ia dan Haku jatuh dari jurang itu.
Tepat saat Yohime menutup mata ketika tubuhnya terjatuh ke bawah jurang, sebelum tubuhnya membentur tanah dan memasuki pepohonan, terlihat sosok tubuh Hakuya yang transparan dari belakang Yohime, memeluknya untuk melindunginya dan berbisik "masih terlalu cepat untuk mati, kan?".
Yohime membuka matanya "suara itu...?!".
Saat itulah sayap Yohime muncul dan membungkus tubuhnya sebelum ia jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri di dekat Yona dan Haku yang tak sadarkan diri.
.
Di Awa, saat Yohime berlari dan sampai di tepi tebing, saat ia terduduk lemas dengan mata berkaca-kaca, saat Yohime merasa tak sanggup menahan air matanya lagi dan ingin menangis sekeras mungkin, saat itulah tanda naga perak di punggung Yohime bersinar tanpa ia sadari, saat itulah sosok Hakuya yang transparan kembali muncul, memeluk Yohime dari belakang.
"jangan menangis... aku ada disini...".
Saat patch-eye Hakuya jatuh dari sakunya, Yohime menggenggam erat patch-eye itu bersama liontin yang terkalung di dadanya dan menatap ke arah laut, air matanya yang semula berada di pelupuk matanya dan seolah siap tumpah kapan saja, kini berganti dengan sorot mata yang dipenuhi keyakinan "itu bukan Hakuya... meski fisiknya mirip, tapi dia bukan Hakuya yang kukenal...".
.
Tepat setelah Ik-Su meminta Yohime untuk tak membuang perasaannya pada Hakuya, Ik-Su bertanya padanya.
"jika kau diberi kesempatan sekali saja, dimana kau bisa menolong Hakuya dan Hakuya bisa kembali pada kalian meski nyawamu sebagai taruhannya, apa kau akan tetap berusaha untuk menolongnya?".
Yohime menutup matanya perlahan, ia membuka matanya dan tersenyum sendu, sorot matanya membuat siapapun mengerti, ia takkan mundur tak peduli apapun yang dikatakan orang karena baginya tak ada jalan untuk kembali.
Sambil menempelkan telapak tangan kanannya ke dadanya, Yohime menjawab "meski semua orang mengataiku bodoh, aku takkan membuang kesempatan yang kudapatkan... sebab aku tak ingin menyesal karena tak menolongnya saat aku memiliki kesempatan untuk menolongnya, meski aku harus kehilangan nyawaku sendiri".
"aku mengerti perasaanmu, tapi aku tak bisa bilang itu sebagai pilihan yang bijaksana. Jangan lupakan kalau ada orang-orang yang menyayangimu, ada orang-orang yang masih memerlukan kehadiranmu seperti Yona Hime dan Haku".
"tak apa-apa, mereka berdua akan baik-baik saja selama masih ada Yun dan ke-4 ksatria naga bersama mereka" ujar Yohime tersenyum sendu "yah, mereka berdua pasti marah kalau tahu aku masih saja berpikiran begini, tapi aku sudah siap mati sejak lama... dan aku tak keberatan kehilangan nyawaku jika itu demi melindungi atau menolong orang yang kusayangi".
.
Terlihat para gadis desa Senri yang salah paham karena melihat Yohime dan Haku berduaan siang tadi terkesan mendesak Yohime sehingga Yohime berdiri sambil memukul meja sebelum ia menjawab.
"Haku adalah adik kembar mendiang tunanganku... Haku hanya kuanggap sebagai adik laki-lakiku karena satu-satunya pria yang kucintai hanya kakak kembar Haku, tunanganku itu mati seenaknya dan meninggalkanku tak lama setelah kami bertunangan, hanya selang beberapa hari setelah kami bertunangan pada hari ulang tahunku yang ke-16 tahun pertengahan musim semi lalu... apa jawaban itu cukup untuk memuaskan rasa penasaran kalian?".
Sebelum pergi keluar, Yohime meminta Yona untuk tampil lebih dulu karena ia ingin menata ulang riasannya di tempat lain. Di tepi sungai dimana kunang-kunang beterbangan, Yohime memegang sebuah liontin giok berukiran Suzaku terkalung di lehernya, menutup mata dan mengerutkan kening sambil mencium liontin itu "Hakuya...".
Saat air matanya hampir jatuh, Yohime merasa mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Hime...".
Terdengar suara Hakuya beserta kehangatan yang membungkus tubuhnya seolah Hakuya ada di belakangnya dan memeluknya. Begitu ia membuka mata dan menoleh ke belakang dengan menggenggam erat liontin pengantin miliknya, Yohime menghela napas dan tersenyum getir saat ia melihat tak ada siapa-siapa di belakangnya "duh, kurasa lama-lama aku bisa jadi gila... lagi-lagi aku berhalusinasi?".
Yun, Jae Ha, Kija, Zeno dan Shina melirik ke arah Haku dan Yona.
Haku berdiri mematung dengan mata terbelalak sementara Yona menangis, selama ini Hakuya selalu berada di dekat mereka, spiritnya ada dalam tubuh Yohime, melindunginya.
"oh, tidak... jangan lagi..." gumam Haku saat pemandangan di sekitar berubah menjadi medan peperangan, tempat mereka menyaksikan Hakuya dan Yohime saling bunuh.
"tak mungkin..." gumam Yohime saat ia menoleh ke belakang "aku tak mungkin salah kenal... itu dia... tak salah lagi, itu Hakuya... tapi kenapa...".
"kakak?".
"kenapa, Yohime-sama?".
"rupanya ini maksudmu, Ik-Su... aku mengerti, nyawaku taruhannya tapi tak ada waktu untuk bimbang... Hakuya selalu menyelamatkanku, kali ini giliranku menyelamatkannya... aku harus pergi meskipun aku mungkin harus kehilangan nyawaku..." pikir Yohime yang menutup mata sesaat sebelum berbalik, memeluk Haku dan Yona, mencium kening Yona dan tersenyum saat menatap Haku "jaga adikku, Haku".
"aku percaya padamu, Haku, kau pasti bisa menjaga Yona dengan baik... jika aku tak kembali, jagalah Yona untuk bagianku juga...".
Setelah Hakuya membunuh Soo Jin, setelah beberapa saat bertarung, Yohime berhasil melukai Hakuya, dia terpaksa melakukannya agar bisa menyentuh darah Hakuya. Yohime terbelalak, air mata mengalir dari kedua mata Yohime yang menatap lurus Hakuya setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Hakuya serta bagaimana cara menolongnya dari darah Hakuya yang menetes ke wajahnya.
Air mata Yohime mengalir tak tertahan, bukan hanya karena mengetahui apa yang terjadi pada Hakuya tapi juga karena selama ini, tanpa ia ketahui, Hakuya selalu berada di sisinya dan yang tersisa dalam tubuh Hakuya hanya amarah karena pengkhianatan Soo Won dan kesedihannya karena melihat penderitaan dan luka yang didapat Yohime, Haku dan Yona.
Yohime memegang pipi Hakuya sambil tersenyum "Hakuya... bunuh aku...".
Hakuya terbelalak, genggaman tangan kirinya yang mencekik leher Yohime melonggar.
Untuk menutupi pandangan orang-orang di sekitarnya, Yohime sengaja mengobarkan api yang mengurung keduanya, membentuk pilar api yang terbuat dari pusaran api di sekeliling mereka berdua.
"Phantom Pain, jika kau mengalami kondisi yang mirip dengan saat kau menerima bekas luka itu, trauma yang diakibatkan bekas luka itu akan menimbulkan rasa sakit yang kau alami saat mendapat bekas luka itu meskipun sudah tak ada luka apapun atau bekas luka itu sudah lama... waktu itu, sekeliling kita dipenuhi api seperti saat ini, kan?".
Melihat Hakuya tak bereaksi pada ucapannya dan memegangi tubuhnya, Yohime mengerutkan kening sambil memegangi dadanya saat melihat Hakuya bertekuk lutut di hadapannya sambil menutupi wajahnya "dia tak mendengarku...".
"cukup..." gumam Yohime menutup kedua matanya, Yohime mencabut katana yang tertancap di belakangnya "aku mengerti semua ini terjadi bukan karena kemauanmu, tapi aku tak ingin melihatmu dalam kondisi seperti ini... akan kuakhiri semua penderitaanmu, kali ini giliranku menyelamatkanmu...".
Setelah belati milik Yohime yang digenggam Hakuya menusuk tepat di tengah dada Yohime, Yohime membakar ular yang ada di dalam tubuh Hakuya dengan api yang ia hantarkan melalui katana miliknya yang ia tusukkan dan menembus tepat di tengah dada Hakuya.
Saat Yohime mencengkram kerah baju Hakuya dan mencium Hakuya, saat itu ia meminumkan darahnya pada Hakuya untuk memurnikan semua racun yang ada dalam tubuh Hakuya.
Saat kedua tangannya mencengkram punggung Hakuya erat, Yohime membakar bagian katana miliknya yang ada dalam tubuh Hakuya sebelum menggunakan kekuatan penyembuhnya untuk menyembuhkan luka di tengah tubuh Hakuya.
Setelah tubuh Yohime terkulai lemas, darah keluar dari mulutnya, kedua mata Yohime yang menatap kosong dan berlinang air mata tertutup saat bibirnya tersenyum "kau kembali... meski sayangnya... aku tak memiliki waktu yang cukup untuk mengatakannya... tapi kau pasti tahu... aku juga mencintaimu, Hakuya...".
Hakuya sadar apa yang dilakukan Yohime, ia menahan tubuh Yohime, memegang kepala dan pinggul Yohime saat ia balik mencium Yohime sambil menutup kedua matanya. Air matanya menetes ke wajah Yohime saat ia memeluk erat dan mengecup bibir Yohime "aku sudah bersumpah untuk melindungimu, tapi kenapa kau memintaku untuk membunuhmu... bahkan di tanganku... takkan kubiarkan kau mati... jika aku tak bisa membawamu kembali ke dunia ini, akulah yang akan pergi ke tempatmu...".
.
