Baekhyun berjalan pelan menyusuri pinggiran kota, entah sudah berapa jauh ia berjalan. Perutnya mulai terasa sakit, ia terdiam di sebuah kedai kecil dengan menahan rasa sakit. Ia belum makan, sambil terus mengusap perutnya. Ia mengeluarkan ponselnya namun tampaknya, ponselnya habis baterai maka ia tak mungkin menelepon Seung Won sedangkan sisa uang di dompetnya tak mungkin ia gunakan untuk makan. Sialnya, ia meninggalkan semua kartu atm di rumah chanyeol jadi Seung Won lah memberinya uang untuk keperluan Baekhyun sehari hari, bahkan ponsel pun pemberian Seung Won. Wajah Baekhyun terlihat lelah, ditengah udara dingin ini nampaknya akan sulit baginya untuk mencari pekerjaan. Karena melihat seseorang di depan kedainya, bibi pemilik kedai pun keluar.
"Ada yang dapat aku bantu, Nyonya ?" Pemilik kedai melihat wajah baekhyun sangat pucat.
"Ya Tuhan, Nyonya. Apa kau baik baik saja ? diluar dingin sekali. Masuklah ke dalam." bibi pemilik kedai membantu baekhyun masuk kedalam kedainya dan mencoba menghangatkan tubuh baekhyun yang mulai mengigil.
"Maaf, jika tidak merepotkan. Apa aku bisa meminta air hangat ? Aku harus meminum obat ini." Bibi pemilik kedai memperhatikan wajah baekhyun dengan seksama.
Penampilannya tidak seperti orang yang kekurangan tapi kenapa ia bisa sendirian ditengah cuaca seperti ini."Apa anda sakit ?"
"Tidak, ini untuk kandunganku."
"Ya Tuhan, kau sedang mengandung ? Tunggu.. tunggu sebentar." dengan tergesa gesa bibi pemilik kedai pergi ke dapur untuk mengambilkan segelas air untuk baekhyun.
Baekhyun tersenyum sekilas, mungkin ini pertama kalinya ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita yang super sensitif terhadap apapun saat sedang mengandung. Entah kenapa ia merasa nyaman melihat perutnya. Sambil terus mengusapnya, ia bersenandung pelan.
"Jagoan kecil, kau harus kuat ya. Kuat seperti Ayahmu, " tanpa terasa baekhyun mulai menangis lagi begitu mengingat hal tentang chanyeol, betapa ia begitu merindukan sosok chanyeol yang dingin namun selalu bersikap hangat kepadanya. Ia rindu sosok itu.
Aku merindukanmu Park Chanyeol.
Bibi pemilik kedai kembali dari dapur dan membawakan baekhyun segelas air hangat dan makanan kecil.
"Makanlah sedikit untuk mengisi perutmu, Nyonya."
"Namaku Baekhyun, jangan panggil Nyonya." Bibi pemilik kedai mengeryit bingung.
Bukankah baekhyun itu untuk nama laki laki ?
"Panggil saja baekki, maaf namaku memang agak tidak lazim, mungkin ibuku dulu menginginkan anak laki laki." Baekhyun terkekeh sambil menahan perutnya yang terasa ngilu.
Bibi pemilik kedai hanya tertawa kecil.
"Baiklah, Baekki. Apa yang membuatmu menerjang cuaca sedingin ini ?" Tanya bibi pemilik kedai.
"Aku sedang mencari pekerjaan, aku tak punya tempat tinggal disini. Rumah temanku cukup jauh jaraknya jika menggunakan bus." Wanita paruh baya itu langsung terperangah mendengar jawaban baekhyun yang dianggapnya sungguh tidak masuk akal, ditengah udara seperti ini. Mencari pekerjaan ? Yang benar saja. Dimana suaminya. Namun pertanyaan itu tidak keluar dari mulut bibi pemilik kedai.
"Begini saja, kalau kau butuh pekerjaan. Aku bisa memberimu pekerjaan tapi gajinya mungkin tidak besar. Kau juga bisa tinggal disini, di lantai atas ada kamar kosong kau bisa tinggal disana. Aku selalu membersihkannya jadi jangan khawatir ya." Baekhyun merasa bersyukur bertemu dengan bibi pemilik kedai tersebut yang membantunya hari ini juga sekaligus memberi tempat tinggal dan pekerjaan.
Bibi pemilik kedai menyuruh Baekhyun beristirahat terlebih dulu dan mengantarnya ke kamar di lantai atas kedai tersebut.
"Istirahatlah dulu.."
Baekhyun merebahkan tubuhnya diatas kasur matras yang sudah tertata rapi diatas lantai. Tangan kirinya mengusap bulir tipis air mata yang semenjak tadi ditahannya, ia menangkupkan tangannya dan mulai menangis. Ia merindukan Chanyeol, rasa rindunya membuat dadanya terasa sesak. Sosok Chanyeol yang terakhir dilihatnya tampak begitu mengerikan mengoyak hatinya, padahal baekhyun begitu mencintainya. Meski tak pernah menyesal telah mencintai Chanyeol sedemikian rupa, baekhyun tak bisa marah pada laki laki itu.
"Aku tak tahu apa kau akan bisa bertemu dengan ayahmu nantinya." Baekhyun mulai mengisak sambil terus memegangi perutnya yang terasa kram, kenapa kini semua begitu terasa seperti beban berat yang harus ia tanggung sendiri, terkadang baekhyun merasa ingin menyerah atas apa yang ia alami sekarang. Semua hal begitu datang dengan tiba tiba dan menghilang secara bersamaan, Baekhyun mencoba menghubungi Seung won begitu selesai mencharge ponselnya.
Seung Won diseberang sana tampak khawatir, ia juga memberitahukan bahwa teman sehun meneleponnya dan mengatakan bahwa ada laki laki yang mencarinya. Laki laki itu mengatakan kalau Baekhyun adalah istrinya, sedikit perasaan berdesir memenuhi hati baekhyun.
Kau tahu Park Chanyeol, aku mungkin hanya sosok kecil di matamu. Tak ada arti, kau hanya bisa melihat sosok seung won bukan byun baekhyun tapi apa kau tahu kalau yang mencintaimu adalah aku. Entah seberapa keras aku mencoba, aku hanya bisa mendapatkan harapan semu tanpa ujung. Tak bisakah kau menyisakan satu ruang dihatimu untukku, meski bukan untuk rasa cinta tapi setidaknya berikanlah untuk sekedar rasa kasihan...
.
.
.
.
.TBC hehe sekedar pemanis dapet pencerahan waktu di busway tadi.
kalo yang masih mau ikutan give away msh bisa ya jangan lupa hashtagnya #crossovergiveaway biar aku bisa bedain.
cuma sampe 25 januari bisa dapetin giveaway buat 3 orang pemenang buat masing masing pemenang yang ide ceritanya paling menarik, bakal dapet pulsa 25k (Satu orang cuma bisa satu kali hashtag ya, biar adil) Giveaway for my sweet readers, gomawo :)))))
