25

KALAJENGKING DAN KATAK

.

.

.

Note:

Kindly use your feelings while reading this chapter.

Minggu berikutnya Kai seperti hantu.

Tidak ada yang melihatnya berhari-hari−baik di rumah, di padang rumput, ataupun di sekitar hutan ek−dan tidak ada yang tahu sama sekali di mana dia tidur. Guinevere khawatir putranya kelaparan, kemudian Kyungsoo secara halus menyarankan supaya mereka menaruh sekeranjang makanan di teras untuk Kai setiap malam. Di pagi harinya, keranjang itu selalu hilang.

Bagi Kyungsoo, menghilangnya Kai menimbulkan ketakutan sekaligus rasa lega. Di satu sisi, matahari semakin mengecil setiap hari, membuat padang rumput jadi bergaris-garis merah muda-ungu permanen. Dunia meluncur ketitik akhir dan sang pangeran yang bisa menyelamatkannya dengan sebuah ciuman tidka bisa ditemukan di mana pun.

Tapi itu juga berarti untuk pertama kalinya selama berminggu-minggu, Kyungsoo tidak perlu memikirkan pangeran itu. Mereka berdua menjadi tak terpisahkan seperti dia dan Soojung dulu. Semua pikirannya selama beberapa minggu terakhir ini selalu tentang Kai: mengkhawatirkan Kai, bertengkar dengan Kai, berbaikan dengan Kai−Kai, Kai, Kai, sampai dia terlalu letih menjalani hidup dengan sudut pandang mereka berdua sekaligus.

Dengan menghilangnya sang pangeran, dia tiba-tiba ingat bahwa dirinya adalah manusia biasa seutuhnya. Dan sungguh, jika memang hidup sendirian adalah akhir ceritanya nanti, maka sekaranglah waktunya bersiap-siap.

Pada hari keenam, dia dan yang lainnya sudah memiliki kegiatan rutin seperti keluarga rakyat jelata. Hort seharian bekerja di peternakan bersama Lancelot. Dari pagi sampai malam, mereka memerah sapi, mengurus kebun sayur, mengumpulkan telur-telur ayam, mencukur domba, memandikan kuda, dan mengatur seekor kambing banyak tingkah bernama Fred yang senang menghajar heran betina atau apapun yang ditemukannya di padang rumput. Bermandikan keringat serta berbau jerami dan kotoran hewan, Hort tampak senang sekali bisa berguna bagi seorang laki-laki perkasa, dan mereka hampir seperti ayah dan putra yang sama-sama berambut hitam berminyak, dada membusung, dan gaya berjalan terburu-buru.

Sementara itu, Guinevere harus mengatur rumah dengan segala kegiatan mencuci, menjahit, memasak, dan bersih-bersih yang tak ada habisnya karena kedatangan banyak tamu. Semua dilakukannya dengan gigih, menolak bantuan yang ditawarkan seakan-akan dia memerlukan kesibukan itu untuk mengalihkan perhatiannya.

Dengan begitu, Kyungsoo hanya berduaan dengan Soojung.

Untuk pertama kalinya sejak kehilangan Kebahagiaan Abadi mereka, kedua gadis itu berdua tanpa anak laki-laki di antara mereka. Terjebak di padang rumput tanpa ada yang dikerjakan terasa seperti kembali ke Jangho yang terkukung, dunia para putri dan dongeng berada jauh di sana. Sementara Hort tidur di sofa ruang tengah, kedua gadis itu tidur di kamar tamu kecil. Setiap pagi, mereka sarapan daging asap dan telur bersama Hort, Lancelot, dan Guinevere, berusaha semaksimal mungkin membereskannya sebelum ibu Kai menyuruh mereka keluar dan menghabiskan pagi hari dengan berjalan-jalan di padang rumput atau menunggang kuda bersama.

Pada minggu pertama, mereka seperti lupa bagaimana cara berteman. Di malam hari, mereka saling memunggungi dan menggumamkan sesuatu dengan setengah hati. Selama berjalan-jalan dan menunggang kuda, percakapan mereka hanya seputar apa kira-kira menu makan siang nanti, hewan peternakan yang banyak sekali, dan cuaca (berhubung mereka berada di lokasi ajaib, tentu saja cuacanya tidak berubah).

Kyungsoo sadar Soojung gelisah memikirkan sesuatu, tak henti-hentinya melirik cincin dan nama Kai yang tertato di baliknya. Setiap kali Lancelot berpapasan dengan mereka, Soojung berpura-pura membersihkan kuku atau mengikat tali sepatu, menghindari kontak mata. Kadang-kadang Kyungsoo memergokinya gelisah dalam tidur, menggumamkan kalimat-kalimat yang tak berhubungan: "Jangan dengarkan dia", "Emas angsa hitam", dan "Hati tidak bohong", sebelum Soojung terbangun dengan gemetar dan berwajah merah lalu mengunci diri di kamar mandi.

Di sisi lain, Kyungsoo masih merasa tidak nyaman berada di dekat sahabat lamanya. Sewaktu berjalan bersama Merlin, dia meyakinkan diri bahwa membiarkan Soojung bersama Kai adalah perbuatan Baik−pertama, karena Soojung akan menghancurkan cincinnya dan membunuh Sang Guru; kedua, karena jika Kyungsoo tidak bisa menjadi ratu yang dibutuhkan Kai, bukankah Soojung berhak mendapatkan kesempatan?

Namun ucapan Hort di kolam telah menggoyahkan pendiriannya. Karena meski Soojung ingin memimpin kerajaan Kebaikan, pada saat yang sama dia dan cincinnya menjadikan Kebaikan sebagai tawanan. Meskipun menyetujui persyaratannya akan masa depan Kebaikan, ini tampak Jahat.

Lebih penting lagi, apa Soojung benar-benar bisa membahagiakan Kai? Kai mungkin terlihat kuat dan angkuh, tapi jauh di dalam dirina dia lembut, kesepian, dan lemah. Bagaimana Soojung bisa mengetahui setiap sisi Kai? Bagaimana dia bisa menjagana? Semakin Kyungsoo berusaha membayangkan Kebahagiaan Abadi, perasaannya semakin tidak enak, seakan-akan menghidupkan kembali kisah lama. Seakan sekarang dia menjadi Lancelot yang menyerahkan Kai pada Soojung, seperti sang ksatria menyerahkan Guinevere pada Arthur. Kebaikan macam apa yang didapat pada akhirnya?

Hari demi hari berlalu dan Kai tetap tidak kembali, kedua gadis itu masuk semakin jauh ke keraguan mereka masing-masing, semakin jarang bicara.

Lalu hadirlah Nellie Mae.

Selama enam hari terakhir, Kyungsoo menunggangi kuda bernama Benedict yang dipilihnya karena kaki-kakinya yang kurus, rambut hitam kusut, dan batuk-batuk pendeknya.

"Ya ampun, Kyungie, apa kau tidak pernah baca buku dongeng?" kata Soojung setelah Guinevere membuka kandang kuda tunggangan pada hari pertama itu. "Kuda-kuda hitam tidak bisa dilatih, tidak bisa dijinakkan, dan kejam. Lagipula, dia terlihat sudah di ambang kematian. Kenapa kau memilihnya?"

"Mengingatkanku pada diriku," jawab Kyungsoo sambil mengusap leher si kuda dan menemukan segenggam kutu.

Sementara itu, Soojung memilih seekor kuda Arab betina elegan, berkulit cokelat, bernama Nellie Mae, dengan ekor putih yang indah.

"Banyak karakter yang terpancar dari matanya," kata Soojung kagum. "Seperti yang kita tahu, dulu dia milik Scheharazade."

"Scehara-siapa?"

"Oh, Kyungie, memangnya di Sekolah Kebaikan tidak belajar sejarah putri apapun?" kata Soojung sambil menaiki kudanya. "Tidak semua putri berkulit seputih krim dengan hidung kecil dan−"

Kyungsoo tidak sempat mendengar lanjutannya karena Nellie Mae langsung melesat keluar kandang bak iblis baru keluar dari neraka.

Selama sisa minggu itu, Soojung berusaha mengendalikan kuda betinanya dengan sia-sia karena kuda itu mendengih, menendangi, dan meludahinya, hanya mau menurut jika Soojung mencekiknya dengan tali kekang. Sementara Kyungsoo dengan tenang menunggangi Benedict seperti mengalir di sungai.

Hari berganti hari, Soojung tetap menolak menukar Nellie Mae, seolah mengakui pilihan kudanya yang buruk entah bagaimana mengesahkan seluruh pilihannya dalam hidup. Tetapi pagi ini, setelah Nellie Mae menginjak jari kaki Soojung, mengentuti wajahnya, dan menghabiskan waktu lama untuk berputar-putar, Soojung akhirnya berpaling pada Kyungsoo. "Binatang ini sesulit aku, ya?"

Kyungsoo mendengus. "Kau lebih parah."

"Ada apa denganku dan hewan-hewan bertemperamen buruk?" ratap Soojung sementara Nellie Mae berayun maju-mundur, berusaha melemparnya. "Apa karena aku tidak ikut pelajaran Komunikasi Hewan?"

"Masalahnya kau terus-menerus melawannya, bukan memercayainya," kata Kyungsoo seraya menatap dan mengelus leher Benedict. "Kadang-kadang kau harus lebih memperhatikan situasi ketimbang dirimu sendiri, Soojung. Kau tidak bisa memilih segalanya berdasarkan pandangan pertama, hanya karena kelihatan bagus, lalu memaksanya ikut bersamamu, seperti tas atau gaun. Hubungan lebih rumit dari itu. Kau tidak bisa mengendalikan cerita dari kedua sisi."

"Apa kau tidak mau mengendalikan ceritamu kalau semua orang mengatakan hatimu Jahat padahal kau tahu itu keliru? Apa kau tidak akan berusaha membuktikan bahwa mereka salah?" debat Soojung sambil menggenggam tali kekang erat-erat. "Aku punya hati yang Baik, sama seperti hatimu, dan aku percaya pada apa yang dipilihnya untukku. Harus. Karena kalau tidak, apa lagi yang kupunya?"

Kyungsoo menatap mata Soojung. Mereka sama-sama sudah tidak sedang membicarakan kuda.

Soojung mengelus kepala Nellie Mae. "Aku sungguh siap menjalin hubungan, Kyungie. Lihat saja nanti." Dia berbisik di telinga kuda itu. "Benar kan, Nellie Mae? Kita satu tim untuk Kebaikan, kau dan aku. Aku percaya padamu dan kau percaya pada−"

Tiba-tiba Nellie Mae melompat sehingga Soojung terbalik ke belakang dan tertelungkup dengan keras di bokong si kuda, kemudian Nellie Mae berderap cepat melintasi padang rumput.

"Kyuuungieeeee!" teriak Soojung.

Sejenak, Kyungsoo menikmati pemandangan Soojung diseret ke kejauhan: hidung Soojung berada di bokong kuda, bokongnya berada di kepala kuda. Kemudian dia sadar jika dia tidak menghentikan mereka, Nellie Mae tidak akan mau berhenti.

Dengan tendangan kuat di sisi tubuh Benedict, Kyungsoo mengejar kuda Soojung, sementara Hort dan Lancelot bersorak-sorak dari ladang domba, luar biasa terhibur.

Masalahnya, meski Benedict kuda yang baik, dia menjalani hidup seperti melangkah di atas es dan tidak melihat alasan untuk bergerak lebih cepat, terutama karena dia tidak begitu suka pada Soojung maupun Nellie Mae.

Sekarang Kyungsoo bisa melihat sekelebat rawa kecil yang dalam di depan Nellie Mae, tertutup pohon raksasa yang roboh. Nellie Mae mempercepat langkah ke arah pohon itu, mungkin karena melihat kesempatan untuk melepaskan diri dari penunggangnya saat itu juga dan untuk selamanya.

"Soojung, awas!" teriak Kyungsoo.

Soojung mendongak dan terperanjat−

Nellie Mae melompati pohon itu, membuat Soojung terpental sehingga kepalanya tercebur ke rawa berlumpur terlebih dulu, kemudian kuda itu mendarat dengan anggun di sisi lain dan berlari di bawah sinar matahari pagi.

Soojung mendengar kuda Kyungsoo berderap mendekat. "Nah, sekarang mau tarik kembali bagian ucapanmu yang bilang aku lebih sulit?" erang Soojung, berlumur lumpur.

Kyungsoo menatap dari atas kudanya dan mengulurkan tangan. "Tidak."

"Baiklah," desah Soojung, menarik tangan Kyungsoo dan naik ke punggung Benedict di belakangnya.

Sambil berkuda ke rumah, Soojung berpegangan pada Kyungsoo dan Kyungsoo merasakan kepala sahabatnya menyandar di punggungnya.

"Kau masih mau menyelamatkanku setelah semua ini," bisik Soojung, mendekap lebih erat.

"Apa kau pernah dengar dongeng berjudul Si Kalajengking dan Si Katak?" tanya Kyungsoo.

"Pernah, dong. Memang kau tidak pernah? Benar, deh, meski aku menyukai Profesor Dovey, kurasa kurikulumnya kurang berbobot." Soojung berdeham. "Pada zaman dulu, seekor kalajengking yang sangat ingin menyeberangi sungai melihat seekor katak berada di sisi seberang sungai dengan aman dan meminta si katak untuk menolongnya menyeberang. Tentu saja si katak tidak mau menolong karena dia tahu kalajengking pasti akan menyengat dan membunuhnya. Si kalajengking menjawab bahwa membunuh seekor katak adalah perbuatan bodoh karena dia tidak bisa berenang; dan kalau si katak mati, dia juga mati. Karena memercayai omongan si kalajengking, si katak menawarkan tunggangan pada si kalajengking. Tapi saat mereka baru akan berangkat, si kalajengking langsung menyengat si katak. 'Dasar bodoh!' umpat si katak saat tenggelam. 'Sekarang kita berdua akan mati!' Namun si kalajengking hanya mengangkat bahu dan melompat-lompat gelisah di atas si katak yang tenggelam. 'Aku tidak bisa menahan diri,' ujar si kalajengking−"

"Sudah sifatku," sahut Kyungsoo.

Soojung tersenyum, terkejut. "Ternyata kau tahu!"

"Lebih baik dari yang kau bayangkan," ujar Kyungsoo tajam.

Soojung tidak berkata apa-apa lagi selama sisa perjalanan mereka.

.

.

.

Keesokan harinya, kedua gadis itu sudah kembali dalam persahabatan mereka yang dulu: Kyungsoo menggerutu saat Soojung bicara sendiri, Soojung mengejek Kyungsoo soal kecerobohannya, dan mereka berdua bertengkar serta cekikikan seperti dua remaja yang jatuh cinta. Hari berganti hari, memasuki minggu kedua dan masih tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pangeran, kecuali keranjang makanan yang selalu menghilang di pagi hari. Meski demikian, kepergiannya mendekatkan Soojung dan Kyungsoo, entah ketika mereka minum teh mint di dekat perapian, atau menjelajah padang rumput, atau terus mengobrol setelah seluruh penghuni rumah tidur.

"Menurutmu kenapa Lancelot dan Guinevere punya kamar tamu?" tanya Kyungsoo suatu malam, saat mereka berpiknik di taman liar sekitar satu kilometer dari rumah. "Mereka kan tidak akan kedatangan tamu. Kecuali Merlin, sepertinya. Tapi dia lebih suka tidur di pohon."

Soojung menatapnya.

"Hal-hal yang kau ketahui setelah berkemah dengan seseorang," timpal Kyungsoo, mengambil sepotong bolu ketan hitam buatan Guinevere. "Menurutmu dia dan Lancelot ingin punya anak?"

"Kalau iya, itu menjelaskan kenapa mereka memasang kertas dinding kekanak-kanakan," gerutu Soojung sambil menyesap jus timun buatan sendiri.

"Tapi kenapa tidak? Sudah lebih dari enam tahun sejak Merlin menyembunyikan mereka di sini."

"Mungkin Guinevere sadar dirinya tidak ingin punya anak dengan laki-laki yang kepribadiannya sama menjijikkannya dengan kebersihan tubuhnya," ujar Soojung ketus.

Selesai piknik malam, mereka berjalan-jalan lebih jauh lagi ke taman bunga, menikmati udara hangat dan merasa aman, seakan mereka sedang berada di Hutan Biru yang lebih besar dan lebih bagus.

"Ada yang ingin kuceritakan padamu," kata Kyungsoo sambil menyesap madu dari honeysuckle. "Saat kami kembali ke Hutan, Kai dan aku menemukan portal di makam eommamu di Bukit Kuburan, tapi tidak ada mayatnya. Saat kami sampai di sisi lain−"

"Ada makam eommaku di Drip Drop."

Kyungsoo menatap Soojung, terpana.

"Hal-hal yang kau ketahui setelah berkemah dengan seseorang," Soojung tersenyum. "Kai menceritakan semua yang terjadi sebelum kalian menyelamatkanku. Tapi itu juga tidak masuk akal buatku, Kyungie. Pasti Penjaga Kuburan membuat kesalahan. Aku tahu eommamu tidak menceritakan padamu kalau dulu dia pernah tinggal di sekolah, tapi eommaku tipe orang yang pasti akan menceritakannya padaku. Dia tidak pernah ke Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Dia tidak pernah ke Hutan. Aku yakin itu. Jadi, Storian tidak mungkin menulis kisah dongengnya. Karena eommaku meninggal tepat di hadapanku..." Soojung berhenti bicara, suaranya bergetar. "Seperti eommamu meninggal di hadapanmu."

Kerongkongan Kyungsoo mengering.

"Aku turut berduka, Kyungie," ujar Soojung lirih.

Kyungsoo menemukan kembali perasaan yang dulu ada saat Soojung memeluknya erat-erat. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jangho, Kyungsoo menangisi ibunya.

"Sooyeon sangat menyayangimu," bisik Soojung sambil mengusap-usap punggung sahabatnya. "Meski dia benci padaku."

"Dia tidak benci padamu. Dia cuma berpendapat kita tidak akan bisa tetap berteman setelah kita berada di sekolah masing-masing," kata Kyungsoo, mengusap matanya.

"Dia juga berpendapat kau akan masuk ke Kejahatan dan aku ke Kebaikan," kata Soojung.

"Kalau seperti itu semua akan beres, kan?" kata Kyungsoo.

Kedua gadis itu tertawa.

"Semua orang mengira kita sangat berbeda," kata Soojung. "Padahal kita berdua sama-sama tahu seperti apa rasanya kehilangan orang yang benar-benar memahami kita."

Kyungsoo menyandarkan kepala ke bahu Soojung. "Dan juga menemukan orang yang memahami kita."

Sekarang giliran Soojung yang menangis.

"Kita harus kembali," desah Kyungsoo kemudian. "Sepertinya Guinevere dan Lancelot sudah cukup pusing tanpa kita ikut-ikutan menghilang."

Saat mereka berjalan pulang, Soojung menggandeng lengan Kyungsoo.

"Ngomong-ngomong, menurutmu mereka berdua itu bagaimana? Untuk dua orang yang mengubah keadaan sebuah kerajaan, mereka sangat... rumahan."

"Itu istilah sopannya," kata Soojung, meringis. "Kalau dia mau bertahan dengan Arthur, bayangkan hal-hal yang bisa mereka lakukan bersama sekarang: merencanakan Pesta Dansa atau mengundang raja tetangga untuk makan malam atau mengatur pertemuan banyak kerajaan. Tapi dia di sini, melipat pakaian-pakaian seorang laki-laki dan menikmatinya. Arthur pasti akan bahagia bersama orang seperti eommaku, yang tahu bahwa dia ditakdirkan untuk kehidupan yang lebih megah."

"Aku cuma pernah bertemu eommamu sekali atau dua kali di desa saat aku masih sangat kecil," kata Kyungsoo. "Tapi aku ingat dia sangat cantik, seperti peri berambut emas."

"Sudah tujuh tahun, jadi aku bahkan tidak bisa membayangkan wajahnya lagi," kata Soojung seraya menengadah, menatap langit malam bertabur bintang. "Semakin aku berusaha mengingatnya, semakin bayangannya tidak jelas, rasanya seperti mengingat-ingat mimpi. Tapi dulu dia memang jarang keluar rumah. Juga tidak punya banyak teman kecuali Haneul sampai... yah, kau tahu kan. Karena itu, aku tahu dia tidak pernah ke Sekolah atau ke Hutan sama sekali. Karena kalau iya, dia tidak akan pernah mau kembali ke Jangho. Dia sangat membenci tempat itu."

"Eomma dan anaknya sama," komentar Kyungsoo.

"Bedanya, aku pergi dari sana," kata Soojung, suaranya menajam. "Aku akan memilih kehidupan megah seperti yang selalu diinginkannya. Aku akan memiliki Kebahagiaan Abadi yang cukup besar untuk kami berdua."

Kyungsoo tersenyum kaku lalu mereka terdiam.

Saat kedua gadis itu sudah dekat rumah peternakan, mereka melihat penampakan Jangho yang terang di kejauhan seperti aurora, kubah pelindung yang meliputinya berlubang-lubang besar dan kecil, namun tak ada yang lebih besar dari melon. Dari lubang-lubang itu, mereka bisa melihat pucak-puncak hijau rumah-rumah berwarna mencolok dan bertekstur, jam di menara bengkok terlihat tajam dan jelas, juga sekelompok anak-anak di lapangan, wajah-wajah mereka tersembunyi di balik buku. Kyungsoo dan Soojung bahkan bisa melihat beberapa jendela toko, termasuk toko buku dongeng Tuan Hwang yang dibuka kembali dan dipadati anak-anak.

"Mereka membaca dongeng-dongeng yang sudah ditulis ulang," Kyungsoo tersadar, dia ingat peringatan Merlin. "Setiap kali Kejahatan menang, sebuah dongeng diperbarui dengan sendirinya. Itu sebabnya kubah pelindung Jangho berlubang dan memberi jalan untuk Sang Guru beserta Pasukan Kegelapannya. Para Pembaca mulai percaya pada kekuatan Kejahatan."

Soojung gugup. "Eh... kata Merlin berapa lama lagi waktunya sebelum Hutan jadi gelap?"

"Sekarang tidak lebih dari seminggu," Kyungsoo memperingatkan sambil melihat cincin di jari Soojung. Akhir cerita tepat berada di sana, tapi sekaligus jauh di sana. "Dari kemarin aku mau bertanya, malam itu aku melihatmu dan Lancelot mengobrol di ruang makan. Dia bilang apa padamu?"

Sahabatnya berhenti berjalan, tapi tidak mengatakan apa-apa.

"Soojung?"

Mata Soojung masih tertuju pada Jangho. "Sudah dekat, ya?" tanyanya pelan.

"Apa?"

Soojung menoleh. "Kita masing-masing tahu siapa yang Baik dan siapa yang Jahat. Kau, aku, Kai, Seunghyun, bahkan Lancelot. Tapi tidak mungkin kita semua benar, Kyungie. Pasti ada yang salah."

Kyungsoo menggeleng. "Aku tidak menger−"

"Bagaimana kalau kita bisa kembali ke awal cerita? Sewaktu hanya ada kau dan aku." Terlihat bercak-bercak merah di pipi Soojung, terdengar keputusasaan di dalam suaranya. "Itu Akhir Bahagia kita yang pertama, Kyungie. Bisakah itu jadi yang terakhir?"

Kyungsoo memandang sahabatnya penuh harap di bawah cahaya bintang, terbingkai pemandangan kampung halaman mereka yang dulu. Dengan lembut Kyungsoo meraih tangan Soojung dan menatap matanya. "Tapi ternyata bukan, kan? Kebahagiaan Abadi kita tidak bertahan."

Soojung melepaskan diri, kesedihan membuat senyumnya lemah. "Kau masih mengira aku gadis yang dulu. Kau masih mengira aku yang ditakdirkan sendirian."

"Bukan. Bukan begitu maksudku," bantah Kyungsoo.

"Katakan saja, Kyungie," pinta Soojung, bibirnya gemetar. "Katakan kau dan Kai layak mendapatkan Kebahagiaan Abadi bersama. Lebih dari Kai dan aku. Lebih dari kau dan aku."

Keringat Kyungsoo bercucuran.

"Katakan padaku kau ingin jadi ratu Camelot. Bahwa hanya kau yang bisa membuat Kai bahagia selamanya," lanjut Soojung. "Katakan saja dan aku akan menghancurkan cincinku malam ini juga. Aku janji."

Kyungsoo memerah kaget. Dari raut wajah Soojung, Kyungsoo tahu sahabatnya berkata jujur.

Inilah akhir ceritanya.

Inilah jalan keluar dari dongeng.

Dia hanya perlu mengucapkan kata-kata itu.

"Katakan bahwa kau seorang ratu dongeng, Kyungsoo," ujar Soojung tertahan.

Kyungsoo membuka mulut, tapi tidak ada kata-kata yang terucap−hanya bayangan dirinya pada gambar Ikan Harapan, memakai mahkota ratu.

"Katakan saja, Kyungie," desak Soojung.

Kyungsoo membayangkan dirinya sebagai pemimpin klasik nan agung yang layak berdiri di samping putra Raja Arthur.

"Katakan dengan sungguh-sungguh," tuntut Soojung.

Kyungsoo mengatur napas. "Aku... aku..."

Embusan napasnya yang tertahan menghilang di udara.

"Tidak bisa, kan?" bisik Soojung, menyentuh pipi Kyungsoo. "Karena kau tidak pernah sungguh-sungguh memercayainya."

Kyungsoo merasa air matanya panas dan mengaburkan pandangannya, suaranya terkunci di dalam−

Tapi sekarang ada orang lain berjalan ke arah mereka dari padang rumput.

Pemuda pirang bertubuh tegap, memegang setangkai mawar merah muda.

Sudah mandi dan bercukur, Kai melangkah ke arah Kyungsoo memakai kemeja longgar putih susu dan celana hitam, Excalibur tergantung di sabuknya.

Namun dia tidak sedang memandang Kyungsoo.

Matanya tertuju pada Soojung saat dia berhenti di hadapan mereka, tersenyum sensual.

"Bisakah kita pergi ke tempat lain, Soojung? Kau dan aku?"

Soojung tersenyum dan memandang Kyungsoo ragu seolah meminta izin, tapi dia sudah membiarkan Kai menggandeng tangannya.

Sementara Kai menggandeng Soojung menjauh dari rumah, Kyungsoo menunggu pangerannya menengok ke belakang.

Pangerannya tak menoleh.

Berdiri sendirian di padang rumput, Kyungsoo menatap dua bayangan yang semakin berdekatan, kemudian Kai menyelipkan mawar itu di tangan Soojung. Seraya memandang pangerannya, Soojung bersandar ke dada Kai dan membisikkan sesuatu. Calon raja itu tersenyum dan terus menuntunnya, siluet mereka melebur ke dalam bulan yang bersinar, seolah pintu Kebahagiaan Abadi telah terbuka.

Lalu mereka menghilang, begitu pula secercah cahaya yang tersisa di hati Kyungsoo.

.

.

.

You really look happy when I see you

So beautiful that it's sad

I don't hate her

Because she makes you smile like an angel

Words that become a secret before I said them

That's why I wasn't for you

The two eyes looking at each other

The one remaining pair of eyes, the lost eyes

The two eyes, tightly shut

The eyes that are too late, the eyes that lost you

Eyes looking at each other

One pair of remaining eyes that have lost its way

Even if my heart that longs for you becomes a small star

At least from far away

At least in my heart

I will warmly shine on you

( EXO – What If )

.

.

.

"Kukira kau bergelantungan di dahan pohon, berjenggot, kotor, dan menepuk-nepuk dada seolah kau ini Kai anak hutan," Soojung menyerocos ketika mereka berjalan melintasi kegelapan sambil bergandengan tangan. "Agak mengecewakan, sebenarnya."

"Tadi mampir ke rumah untuk bersih-bersih," jawab sang pangeran singkat.

"Kau menghilang lebih dari seminggu. Apa yang kau lakukan selama ini?"

"Berpikir."

Soojung menunggu lanjutan ucapan Kai, tapi setelah mereka berjalan selama lebih dari satu jam barulah sang pangeran mulai bicara. Rambut Kai yang beraroma segar begitu menyejukkan dan sang pangeran menuntunnya dengan kuat sehingga punggungnya terasa panas. Tangan Soojung yang sebelah lagi memegang mawar pink lembut itu, menjaganya tetap di sana. Dulu saat Penyambutan, Kai melemparkan mawar untuk melihat siapa cinta sejatinya, dan Soojung gagal menangkapnya. Tapi sekarang dia mendapatkan mawar itu.

Terdengar gemuruh samar di depan mereka, Soojung mendongak dan melihat sungai luas yang memantulkan cahaya bulan dikelilingi dinding batu gelap. Sungai itu mengalir tenang sebelum akhirnya jatuh menjadi air terjun besar, dasarnya tak terlihat karena terlalu dalam. Setelah air terjun tak terlihat apa-apa kecuali bulan putih yang bersinar terang.

"Kau sudah menemukan ujung dunia," kata Soojung.

"Ke sini," kata Kai, menariknya ke celah pada batu sungai.

Soojung menjejalkan diri ke dalam celah itu, berusaha berpegangan tanpa merusak mawar sang pangeran. Sesampainya di dalam, Kai memegangi pinggang Soojung dan membantunya berdiri. Sejenak, Soojung tak bisa melihat apa-apa. Lalu dia mendengar garutan korek api dan melihat Kai menyalakan sebuah lilin tinggi yang pasti dibawanya dari rumah−

Soojung terkesiap.

Mereka berada dalam gua batu safir berkilauan, seluruh dindingnya terbuat dari permata biru terang. Rangkaian batu-batu safir tanpa cacat itu memantulkan wajahnya seperti lorong cermin. Selimut dan bantal tergeletak di sudut dan remah-remah makanan berserakan di tanah bersama beberapa keranjang kosong. Jelas, di sinilah Kai berkemah seminggu terakhir ini.

Kai menebarkan selimut dan membantu Soojung duduk, kemudian duduk nyaman di samping gadis itu, kakinya menyentuh kaki Soojung. Dia meletakkan lilin di depan mereka.

"Kulihat kau banyak menghabiskan waktu bersama Kyungsoo," ujar sang pangeran.

Soojung melirik alis Kai yang terangkat dan tahu betul sang pangeran telah memata-matai mereka dari kejauhan. "Yah, kau kan sudah menghabiskan waktu bersama Kyungsoo dan sudah menghabiskan waktu bersamaku. Adil kan kalau sekarang giliran dia dan aku? Terutama kalau memang ini saat-saat terakhir sebelum semua... berubah." Dia menatap Kai malu-malu.

Kai mengangguk, mengangkat lilin tadi. "Tentu."

"Kami mengkhawatirkanmu, Kai. Kau sendirian di luar. Pasti tidak keruan rasanya masuk ke rumah itu bersama−"

"Aku tidak mau membicarakan cerita lama, Soojung. Aku hanya peduli pada cerita baru." Kai menoleh, tatapannya tajam. "Waktu kita dalam perjalanan, kau bilang ada dua tipe ratu. Yang ingin menjadi ratu dan yang tidak. Aku bertanya padamu, apa yang akan kau lakukan sebagai ratuku−"

"Sebelum kita diganggu zombi-zombi bajak laut," sela Soojung malu-malu.

Kai tidak tersenyum. "Pertanyaan itu salah. Seharusnya aku bertanya kenapa kau ingin jadi ratuku."

Bahu Soojung rileks. Akhirnya, mereka akan menyelesaikan apa yang mereka mulai di Hutan. Kali ini tanpa ketegangan, tanpa kendala. Semua ada di tangannya sekarang. Kai hanya ingin kejujurannya.

Soojung menatap batu-batu safir bergerigi di atas kepala mereka, memantulkan mereka berdua seperti ribuan mahkota. Soojung menarik napas dan mulai bicara.

"Dulu aku sering memimpikan pangeran-pangeran. Pesta dansa megah yang dipenuhi ratusan pemuda tampan dan hanya aku satu-satunya perempuan. Dalam mimpi aku berjalan mengamati mereka satu per satu, berusaha memilih yang akan menjadi Kebahagiaan Abadiku. Setiap malam, aku semakin hampir menentukan pilihan, tapi selalu terbangun tepat sebelum aku menemukannya. Aku selalu khawatir setiap kali membuka mata. Berada di dunia keajaiban dan romansa kemudian direnggut kembali ke dalam kehidupan membosankan tanpa arti rasanya begitu... salah. Aku tidak ditakdirkan hidup di deretan pondok-pondok bersama 15 rumah lain yang persis seperti rumahku. Aku tidak bisa menikahi anak pemilik toko sepatu dan/atau menghabiskan waktu seharian dengan bekerja di toko roti setiap harinya untuk memberi makan anak-anak kami. Aku ingin kebahagiaan yang sesungguhnya, yang pada akhir ceritanya aku tidak menjadi tua dan tak berguna lalu dijejalkan ke dalam kuburan bersama yang lainnya. Menurut Kyungsoo semua itu terdengar seperti surga, tapi dia ingin bersembunyi di balik kehidupan biasa. Aku istimewa. Aku berbeda. Aku ditakdirkan memiliki nama yang akan diingat melebihi Putri Salju, Putri Tidur, dan gadis-gadis yang sekadar cantik serta pasif menunggu pangeran mereka datang bak boneka. Aku ditakdirkan untuk selalu hidup dalam hati orang-orang atas Kebahagiaan Abadiku meski dongengku sudah lama berlalu. Karena tidak seperti gadis-gadis Kebaikan lainnya, aku menemukan akhir cerita untuk diriku sendiri. Aku yang membuatnya jadi kenyataan, walau banyak orang berusaha merenggutnya dariku. Itu sebabnya aku ingin jadi ratu, Kai. Karena sejak dulu aku tahu aku memang seorang ratu, tidak peduli apa kata orang. Seorang ratu yang mencari rajanya." Soojung mengelus pipi Kai. "Dan sekarang kau ada di sini."

Air mata merebak di mata Kai.

"I told you," Soojung tersenyum. "Sudah kubilang padamu kita ditakdirkan untuk bersama sejak hari pertama bertemu."

Sang pangeran menarik pinggang Soojung. "Terima kasih sudah mengatakan yang sejujurnya, Soojung."

"Dan apakah itu cukup... jujur?" tanya Soojung, merah padam.

Kai mengangguk, jemarinya bergerak nai ke punggung Soojung. "Kau hanya melewatkan satu hal."

Soojung menghirup napas Kai yang segar. "Apa itu?" bisiknya, mendekat.

Kai memegangi leher Soojung dan pelan-pelan menyentuh bibir Soojung dengan bibirnya, selembut awan. Sambil terkesiap, Soojung jatuh ke dalam ciuman Kai, jantungnya berdebar kuat.

Akhirnya.

Akhirnya!

Dia merasakan setiap bagian bibir Kai yang sempurna, menunggu rasa bahagia meledak di antara mereka, rasa yang akan menutup akhir kisah mereka. Menunggu letupan yang menyambar sekuat listrik yang hanya bisa dilawan oleh cinta.

Tapi Soojung hanya merasakan kekosongan yang mati, seperti mencium batu.

Gemetar, Soojung menarik Kai lebih erat, menciumnya lebih kuat lagi, tapi dia tidak merasakan apa-apa dari dalam diri sang pangeran, tidak ada apa-apa dari dalam dirinya sendiri−sama sekali tidak ada apa-apa−sementara bibir mereka kehilangan semangat, saling menjauh, hingga akhirnya terpisah.

Kai memandangnya tajam, sedingin es. "Kau tidak mengatakan kau ingin jadi ratuku karena kau mencintaiku."

Hati Soojung redup seketika.

"Aku bukan cinta sejatimu, Soojung. Dari dulu memang bukan," kata sang pangeran. "Kita tidak ditakdirkan untuk bersama."

Soojung sesak napas dan tergagap. "T-tapi... tapi−cincin itu−" Dia cepat-cepat melihat cincinnya, tapi nama Kai sudah menghilang dari balik emas itu, seakan-akan tidak pernah tertulis di sana sama sekali.

Suara denting keras mengejutkannya, dia berbalik dan melihat Excalibur tergeletak di dekatnya.

Soojung mendongak, Kai sudah berjalan keluar gua.

"Saat aku kembali, aku ingin cincin itu sudah musnah," perintah Kai.

Kemudian dia berbaur dengan udara malam dan menghilang dari pandangan.

Perlahan Soojung mengamati cincinnya, berkilauan disorot lilin.

Kemarahan membuncah dalam darahnya; kemarahan yang begitu kental dan menumpuk sehingga tubuhnya bergetar hebat. Dilepaskannya cincin itu dan dilemparkannya ke dinding safir, kemudian cincin itu jatuh ke tanah di seberangnya.

Lancelot benar.

Cincin itu membohonginya. Cincin itu mengukir nama pangeran yang tak pernah ditakdirkan bersamanya. Cincin itu dengan sengaja menuntunnya ke jalan yang salah. Cincin itu sudah mempermalukan dirinya.

Begitu pula pemuda yang memberikan cincin itu padanya.

Dengan geram, diambilnya Excalibur dengan kedua tangan, membayangkan senyuman licik Seunghyun. Pemimpin Kejahatan itu akan menerima pelajaran karena sudah mengkhianatinya.

Soojung mengangkat pedang Excalibur tinggi-tinggi di atas cincin itu dan mengayunkannya sambil berteriak−

Pedang itu berhenti seketika.

Apa Seunghyun benar-benar mengkhianatiku?

Kenapa cincin Kejahatan menuntunnya pada pangeran Kebaikan? Dan kenapa Seunghyun membiarkannya pergi bersama sang pangeran tanpa mengejarnya?

Dia teringat Kapten Hook yang diperintah untuk tidak mengembalikannya pada Sang Guru muda. Dia memikirkan pemuda tampan berambut putih di jendela yang menyaksikan kepergiannya. Dia memikirkan mata biru es Seunghyun yang serba tahu dan wajah tenangnya, juga kata-kata terakhirnya saat Soojung pergi.

"Kau pasti kembali padaku."

Dengan mata terbelalak, perlahan Soojung meletakkan pedang itu.

Seunghyun tidak mengkhianatinya.

Pemuda itu membebaskannya, seperti Kyungsoo membebaskannya dan Kai supaya mereka semua bisa menemukan kebenaran. Kebenaran yang selalu disangkal Soojung sejak lama.

Cincin emas itu terasa hangat di kulitnya saat dia memungut dan menyematkan kembali ke jarinya. Sejenak cincin itu berkilau merah, seakan mengikatnya, dan Soojung memandang pantulan dirinya di permukaan cincin.

Tidak akan ada pemusnahan cincin malam ini atau selamanya.

Karena sekarang dia tahu apa yang hilang dari ciuman Kai. Karena dia sudah pernah merasakannya dengan orang lain.

Seseorang yang mencintainya apa adanya.

Seseorang yang belum dia balas cintanya karena takut.

Karena jika Soojung membalas cintanya, itu berarti dia dan Kyungsoo sama-sama ratu−yang sama-sama takut menerima takdir mereka. Tapi tidak seperti sahabatnya, sekarang Soojung sudah siap.

Sendirian berdiri diterangi lilin, Soojung memejamkan mata dan membuat permohonan. Memohon seorang pangeran, istana, dan mahkota. Kali ini untuk Kejahatan, bukan Kebaikan.

Angin dingin menyapu gua dan memadamkan lilin.

.

.

.

I believe that this was love

Our relationship is superficial

Senses are distorted

The borderline of reality is unclear

She don't love me

To me you were artificial love

Tell me what is the truth and what is a lie

You got that fake smile, fake tears, fake love

You have everything that I want

You're perfectly built, a cold artificial love

( EXO – Artificial Love )

.

.

.

Kyungsoo berbaring dalam kegelapan tanpa batas, berdoa agar bisa tidur. Dia hanya bisa bertahan beberapa menit sebelum akhirnya duduk dan menyalakan lilin di meja samping tempat tidur.

Matanya menangkap cermin kecil di dinding dan melihat wajahnya lelah, lingkar mata hitam, dan bahu lemas.

Entah kapan terakhir kali dia merasa dirinya seorang putri.

Dia baru saja akan bergelung di balik selimut dan berusaha tidur dengan lilin menyala saat didengarnya suara musik sayup-sayup dan tawa dari belakang rumah.

Sambil berlutut, dia mengintip dari jendela dan menyaksikan Guinevere menari di kebun sementara Lancelot memainkan pikolo, menari di sampingnya. Lancelot menggenggam tangan Guinevere sambil mereka berputar dan tertawa, keduanya merayakan akhir setiap lagu dengan sebuah ciuman.

Kyungsoo terkesima melihatnya. Selama ini dia kira mereka merana dalam pengasingan, terusir ke tempat pembuangan, dan pasti sangat bosan dengan satu sama lain selama enam tahun yang lama. Tapi ternyata mereka berayun dan berciuman di tengah malam tanpa alasan, seperti dua remaja dimabuk cinta. Tidak penting mereka berada di mana, siapa saja yang berada di sekitar mereka, apa yang mereka miliki dan apa yang tidak mereka miliki.

Mereka masih saling memiliki.

Mereka masih memiliki cinta.

Kyungsoo merona karena malu. Dia di sini, menyerahkan pangerannya karena terlalu takut memperjuangkan harga dirinya. Bukan hanya itu, dia berpura-pura melakukannya demi melindungi pahlawan-pahlawan tua Kebaikan.

Apa pendapat pahlawan tua itu tentang dirinya sekarang? Putri sejati tak akan bersembunyi dari takdirnya di balik kedok Kebaikan. Seorang putri sejati tahu bahwa takdir bukan hanya untuknya saja, tapi juga untuk pangerannya. Tidak bersama Kai berarti dia merusak hidup mereka berdua. Jangho atau Hutan, bangsawan atau rakyat jelata, Baik atau Jahat, Laki-laki atau Perempuan, Muda atau Tua−semua itu tidak penting selama mereka bersama. Dia tidak harus menjadi ratu. Dia harus menjadi ratu nya. Dan untuk itu, dia tahu caranya.

Tanpa berpikir, Kyungsoo beranjak keluar kamar dan menyusuri lorong. Dia membuka pintu depan dan menuruni tangga teras menuju padang rumput. Kyungsoo menyipit dalam kegelapan malam, patah hati. Sudah terlambat. Kai dan Soojung sudah pergi.

Kecewa, dia menunduk sambil melangkah berat ke pintu.

Suara kerisik lembut terdengar di kejauhan.

Kyungsoo berbalik dan melihat sosok tegap jauh di seberang ladang bergerak mendekati rumah. Kyungsoo maju pelan-pelan, matanya tertuju ke depan sambil beradaptasi dalam gelap.

"Hort?" serunya.

Tapi sekarang dia mengenali langkah yang berat, lengan berotot, dan sabuk besar di pinggang, tanpa pedang.

Tatapan Kai terpaku padanya seraya berjalan ke arah rumah.

Tanpa sadar, Kyungsoo berlari menghampiri sang pangeran dan Kai berlari ke arahnya. Terhuyung dalam gelap, Kyungsoo mendengar engahan napasnya sendiri, tercekat saat bayangan Kai mendekatinya dengan cepat, sampai mereka menyatu seperti bintang dan Kyungsoo terjatuh. Kai mengangkatnya sementara Kyungsoo tertawa, lalu Kai menciumnya lama dan sungguh-sungguh, seperti belum pernah mencium Kyungsoo sebelumnya.

"Kau pikir aku tidak memahamimu, Kyungsoo," bisiknya. "Kau kira aku tidak melihat siapa dirimu sebenarnya."

"Tidak cukup kalau hanya kau yang melihatnya," kata Kyungsoo. "Aku juga harus melihatnya sendiri."

"Dan sekarang seluruh kerajaanku akan melihatnya. Ratu terhebat yang pernah ada."

Kyungsoo menatap mata Kai, begitu jernih, begitu yakin. "Tapi aku cuma aku−cuma seorang gadis dan kau... kau..."

"Kau pikir aku tahu cara menjadi raja?" cetus Kai.

"Apa? Kau selalu bersikap begitu−"

"Bersikap. Bersikap!" Dia menggeleng, suaranya pecah. "Katakan kau mencintaiku, Kyungsoo. Katakan kau tidak akan pernah melepaskanku lagi. Katakan kau akan menjadi ratuku selamanya."

"Aku mencintaimu, Kai," Kyungsoo terisak. "Aku mencintaimu lebih dari yang kau kira."

"Katakan lanjutannya juga!"

"Aku−"

Tidak perlu ada kata-kata lagi. Air mata membanjiri wajah dan bibir mereka, manis dan asinnya cinta.

.

.

.

The answer is you

My answer is only you

I'll wait for you, you, you

Open your heart, you, you

I can't help my heart

You are my everything

It'll be forever, my love

Don't leave

Just let me stay by your side

( EXO – My Answer )

.

.

.

Duduk di tangga teras sambil memandangi langit bertabur bintang yang damai, Kyungsoo menyandarkan kepalanya pada bahu sang pangeran. Embusan angin malam sesekali menerbangkan helai rambut hitam legamnya, sekaligus menghapus sisa-sisa air mata harunya. Kyungsoo tersenyum kecil, menikmati setiap detik ketenangan malam maupun ketenangan di hatinya.

"Bernyanyilah untukku," pinta sang pangeran.

Senyuman Kyungsoo luntur. "Hm?" gumamnya seraya menegakkan tubuh.

"Aku pernah dengar suaramu waktu kau berlatih untuk Sirkus Bakat di tahun pertama," kata Kai. "Aku lewat di depan Galeri Kebaikan dan−yah, ternyata kau berlatih di sana. Suaramu bagus. Kenapa waktu itu kau tidak bernyanyi saja?"

Bukannya berterima kasih atau langsung menjawab, Kyungsoo malah menepuk dada Kai cukup keras. "Yak! Bisakah kau menghargai privasi orang? Aku berkali-kali keliling sekolah hanya untuk menemukan ruang yang cukup tertutup dan jarang digunakan guru atau murid. Hanya ada tiga tempat: perpustakaan, Margasatwa Merlin, dan galeri. Aku tidak mungkin bernyanyi di perpustakaan tanpa diusir atau bernyanyi di margasatwa kayak orang gila−"

"Hei, aku hanya memintamu bernya−"

"Tidak mau!"

Hening.

Kai terpaku memandang putrinya yang kini cemberut sambil memajukan bibirnya, melipat tangan di dada, menatap lurus ke depan, dan alisnya berkerut tak suka. Ooh, adakah pemandangan Kyungsoo yang lebih menggemaskan dari ini? Kai terkekeh dalam hati.

"Baiklah, Putri," kata sang pangeran seraya beranjak dan mengulurkan tangannya pada sang putri. "Ayo, ikut aku."

Manik cokelat Kyungsoo perlahan terangkat, menatap uluran tangan Kai sebelum menatap ragu manik birunya.

Melihat putrinya tak bereaksi, Kai menaik-turunkan kedua alisnya.

Dengan ragu, Kyungsoo menyambut uluran tangan Kai sebelum ikut beranjak. "Mau ke mana?" tanyanya setelah kedua kakinya mengikuti langkah sang pangeran dan Kai menuntunnya.

Sang putri menunggu pangerannya menjawab. Suara kerisik lembut dan embusan angin malam seolah mewakili jawaban Kai ketika mereka mulai memasuki padang rumput. Mereka terus berjalan hingga Kyungsoo bisa melihat perbatasan hutan ek beberapa langkah di depannya. Apa Kai mau membawaku pada Soojung? pikirnya.

Kai berhenti melangkah di perbatasan itu. Dia berbalik dan melihat wajah putrinya yang kebingungan, lalu tersenyum lembut. "Ayo kita menyanyi dan menari seperti ibuku dan si raksasa itu. Aku iri melihat mereka."

Kyungsoo menatapnya aneh. "Tapi aku tidak bisa menari sebaik Guine−"

"Aku yang menari."

Kyungsoo berusaha menahan senyumnya, hampir saja terbahak keras yang dia kira bisa menyinggung sang pangeren. "Kau bisa menari?"

"Apa kau tidak percaya?"

"Aku belum pernah melihatmu menari."

"Aku memang belum pernah menunjukkannya pada siapa pun."

Kyungsoo menatap Kai heran.

"Menyanyi saja, dan kau akan jadi yang pertama melihatku menari."

Hening, lagi.

Kyungsoo menimbang-nimbang sejenak dalam kepala kecilnya: lebih baik kembali ke rumah lalu tidur dan mengabaikan pangerannya, atau bernyanyi dan menyaksikan 'pertunjukan' tari perdana sang pangeran. Entah mengapa, ketika Kyungsoo memikirkan opsi kedua, jantungnya berdegup lebih kencang. Dia menggigit bibir bawahnya seraya kembali berpikir. Apa yang diperlihatkan seorang penari selain gerakan tari dan ekspresi? Tidak ada yang 'aneh-aneh', kan?

Kai menguap.

Kyungsoo beralih menatap pangerannya, jantungnya berdentum. "Baiklah. Aku akan menyanyi dengan sepenuh hati. Kuharap kau menunjukkan tarian terbaikmu, Pangeran."

Kai menyeringai. "Tentu saja. Mulailah."

Kyungsoo berdeham dan menarik napas, menghindari tatapan intens sang pangeran. Bibirnya membuka seraya detak jantungnya berpacu, hendak mengeluarkan alunan indah untuk orang pertama yang akan mendengar suara merdunya. Dia menutup matanya dan mulai bernyanyi.

"*The time is running out, we ought to move faster.

Skyline splits in two as seen from afar, you are the shooting star.

Though we're miles apart but I know you're the only one.

Oh, I can't help but staring at your gleaming light eternally, eternally."

Kyungsoo mulai membuka matanya perlahan, dilihatnya Kai sudah mulai menari. Ingin melihat lebih, Kyungsoo lanjut bernyanyi semakin keras.

"Can't seem to reach you though I follow you.

Can't seem to hold you though trying to catch you.

This very long night is filled with my deep sighs.

You're so far away."

Sang putri tersenyum sekaligus terpukau melihat tarian sang pangeran di sela-sela alunan merdunya. Tempo gerakannya berubah-ubah sesuai nyanyian Kyungsoo: dari pelan hingga cepat, lembut hingga tajam. Untuk sejenak, rasanya dia tak mau lanjut menyanyi. Kyungsoo pikir dia bisa menghabiskan malamnya dengan hanya melihat Kai menari, menggerakkan seluruh bagian tubuhnya; mulai dari kepala, leher, pundak, bahu, dada, tangan, pinggang, lutut, hingga pergelangan kaki Kai, semua bergerak seperti penari profesional yang menyuguhkan pemandangan indah melalui setiap sinkronisasinya di bawah sinar bulan.

"You brighten up my night in a split second.

You are knocking on my door.

The darkness may fall but you are coming like a meteor shower.

I'll take your hand, hoping there is no end to this beautiful night.

I will wait for you here.

I wish to hold you close."

Kai menatap putrinya dan melihat senyuman manis yang terukir di sana, membuatnya berteriak kegirangan dalam hati−karena dari ekspresi itu, sang pangeran tahu Kyungsoo terhibur.

"Baby, baby, you know I'll always be your lady, lady."

Kai berhenti menari dan mendekat putrinya. Kemudian, dengan mengukir senyum sensualnya sekali lagi malam ini, sang pangeran melengkapi nyanyian sang putri, "Baby, baby, you know I'll always be your daddy, daddy."

Senyum Kyungsoo luntur, lagi.

Pukul 1:27 dini hari itu, sang pangeran harus mengerang kesakitan karena Kyungsoo menendang tulang kering kaki kirinya lumayan kuat, sebelum sang putri berjalan ke rumah dan meninggalkan Kai meringis sendirian.

"Yak! Apa kau tahu aku lumayan suka daddy kink, Baby-Soo?!" teriak Kai seraya memegangi bagian kakinya yang berdenyut nyeri ketika Kyungsoo sudah menjauh beberapa meter darinya. Namun Kai yakin Kyungsoo masih bisa mendengarnya.

Dan tanpa sepengetahuan Kai, Kyungsoo merona hingga terbawa mimpi.

.

.

.

Jauh di seberang padang rumput, Hort menunggu cukup lama setelah Kai meninggalkan gua sendirian sebelum dia beranjak dari tempatnya. Dia mengikuti sang pangeran ke tempat dia membawa Soojung, maka dia gelisah ketika melihat Kai meninggalkan gua sendirian. Sambil menyelinap keluar dari balik pohon, Hort masuk ke celah gua, jari pendar birunya menyala hingga dinding safir membuatnya silau akibat pantulannya.

"Soojung?" panggilnya sambil melindungi mata. "Soojung, di mana kau?"

Tapi Hort hanya menemukan pedang yang belum digunakan dan melihat serpihan bulu-bulu hitam, seolah Soojung telah dibawa pergi oleh seekor angsa.

.

.

.

The End of Part II

TBC

*) Lagu yang dinyanyikan Kyungsoo adalah Lady Luck by EXO, dengan lirik english cover by DORKyungsoo on youtube.

Ps: Maafin saya kalo chapter kali ini nyerempet konten mature sedikit, hehe. Saya kepikiran KaiHun nari berdua di The EXO'rDIUM sesi accoustic stage dengan iringan Lady Luck, hoho.