A/N : Duh, tiap kali mau update kenapa saya selalu lupain kosakata penting sih. As always maaf kelamaan. Langsung saja balas review!

RosyMiranto18

Scarlet : Yup, bad end-nya Suzu mati lalu tubuhnya terbakar.

Takatora : ... *isi gauge musou*

Scarlet : T-Tenang mas! Aku gak bikin bad end-nya kok! Next... wait Suzu mendengkur? Hell no! Yang mendengkur itu lakinya! Cewe kalau mendengkur itu gak lucu tau! *kumat*

Blossom : Bentar, Let! Mungkin nak An Shu cocok kalau dia tidur ngorok! *ngakak*

Scarlet : ...what. Btw, aku kurang tau soal ukuran cup dada, ABCD apalah... Tapi fyi, aku punya three sizes Suzu. 81-53-82, kira-kira segitu. *muka lenny*

Suzu : Matamu kemana!? *tampar Scarlet* Terima kasih atas review-nya.

-xxx-

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri.

Warning : Mainly Suzu (OC) x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, diksi dan narasi yang tidak baku. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 24

Unchanging Feelings

-XoX-

Fall, 1586

Beberapa bulan setelah pertempuran Shikoku berakhir, Chōsokabe tunduk pada Hideyoshi. Hideyoshi mengizinkannya untuk menjaga wilayah Tosa. Sedangkan wilayah lainnya di Shikoku dibagikan kepada beberapa jenderal. Saat itu pun, Kaisar menghadiahkan nama Toyotomi pada Hideyoshi, menggantikan nama Hashiba.

Sementara itu, meski Takatora tak mendapat sebuah wilayah di Shikoku, dia diangkat sebagai tuan dari Istana Ōta, namun berganti nama menjadi Istana Wakayama dengan tujuan mengawasi wilayah Kii. Kastil tersebut sempat dibangun ulang oleh Takatora. Sementara, Hidenaga yang masih menjadi majikan Takatora, tetap tinggal di Istana Yamato Koriyama.

Pada musim gugur saat ini, walau pria berkepala tiga itu tak terlalu menyukai dedaunan mengering— jatuh dari ranting dimana seharusnya mereka hidup, membuatnya selalu terbayang kehidupan alam yang juga mencerminkan jalan hidupnya selama ini.

Tapi sekarang Takatora tak berniat merenungkan hal itu, ia bisa saja melewatkan kesempatan untuk memperlihatkan pemandangan dari atas tenshu pada istri dan anak angkatnya. Beruntung hari ini langit tampak cerah, gumpalan awan yang berkumpul tak terlalu menghalangi penglihatan agar dapat memandang birunya langit. Hanya saja semilir angin sedikit menusuk seolah menembus pori-pori pakaian yang mereka kenakan.

Selain itu, dedaunan merah yang bertebaran di permukaan seakan menciptakan sebuah permadani. Suzu pasti menyukainya. Alasan Suzu sangat sederhana mengapa ia tidak membenci musim gugur. Satu kata yang muncul di kepalanya hanyalah 'indah'. Pandangannya selalu saja naif seperti biasa, bukan dalam artian buruk. Tapi kesederhanaannya itulah yang memikat perhatian Takatora.

"Kalian berdua, kemarilah." Takatora mengisyaratkan tangan pada Suzu dan putra angkatnya untuk mendekat.

Berada di atas bangunan yang sangat tinggi seperti sekarang adalah pengalaman pertama bagi mereka. Sebelumnya mereka belum pernah sekali pun menginjakkan kaki ke dalam tenshu lantai teratas. Tentu saja, hanya para keluarga istana yang bersangkutan yang diperbolehkan walau mereka sudah pernah memasuki istana Ōsaka.

Kesibukan Takatora selalu menghalangi kesempatannya untuk mengajak mereka ke dalam istana yang ia rancang. Beruntung, sekarang Takatora telah menjadi tuan dari sebuah kastil hasil jerih keringatnya, tanpa halangan Takatora bisa mengajak mereka berdua memasuki tenshu.

Tangan kecil Senmaru menggandeng lengan Suzu, jelas sekali dia gugup melihat pemandangan di depan matanya. Dengan langkah selaras, mereka berdua menghampiri Takatora yang berdiri menunggu mereka di balkon. Takatora mendengus geli melihat ekspresi wajah mereka yang ragu untuk mendekat. Namun dengan sekejap ekspresi wajah mereka berganti.

"Hebat! Tinggi sekali!" jerit Senmaru takjub.

"T-Takatora-sama! Bagaimana ini!?" Suzu menarik-narik jinbaori Takatora. "Aku bisa melihat semuanya dari sini!" jerit Suzu kegirangan. "Aku bukan sedang bermimpi, 'kan, Takatora-sama!?"

Takatora terkekeh. "Tentu tidak, bodoh."

Suzu mencoba menenangkan diri, menaruh kedua telapaknya diatas dada sembari mengatur detak dan ritme napasnya. "Ahh, aku benar-benar berada di sini. Rasanya aku sedang melayang diatas langit. Aku bisa melihat semuanya..."

Senmaru yang menyadari nada suara ibu angkatnya melunak, menoleh kearahnya. Dia langsung panik saat melihat butiran bening menggenangi pelupuk matanya. "I-Ibu, jangan menangis!"

Berbanding terbalik dengan reaksi Senmaru, Takatora menghela napas. Reaksi istrinya bukan menyusahkan Takatora, ia sudah menduganya. Sangat mudah tersentuh. Namun Takatora tahu hal yang mereka temukan hari ini bukan sesuatu yang sepele. Karena pada pertama kalinya, Suzu bisa melihat pemandangan dari tempat yang lebih tinggi, tanpa harus memanjat pohon seperti yang biasa ia lakukan.

"Kau terlalu berlebihan," dengus Takatora mengusap kepalanya.

Suzu tertawa kecil sembari menyeka air matanya. "Ini namanya air mata kebahagiaan."

Dengan atmosfer hangat yang menyinggahi mereka, masing-masing indera penglihatan kembali terkunci pada pemandangan di hadapan mereka. Hamparan persawahan dan ladang bisa dilihat dengan jelas, luas dan nyaman dipandang. Hiruk pikuk kota nyaris tak terdengar, tapi keramaian dibawah sana masih terasa. Awalnya mereka sempat mengira suasana kota tak sehidup dan ramai seperti Ōsaka, tapi mereka yakin akan terbiasa.

"Sekarang kalian bisa berdiri disini kapanpun kalian mau."

"Ya, dan juga ini waktu yang tepat untuk mengisi hari. Ya, 'kan?"

Takatora menoleh kearah Suzu.

"Setiap hari Takatora-sama selalu saja memegang kertas dan kuas. Bisa saja mata Tuan menghitam seperti mata panda. Untuk sementara Takatora-sama bisa rehat sejenak dari pekerjaan, 'kan?"

Takatora membisu sejenak. Dia baru ingat saat mereka pulang dari Shikoku, dirinya tak henti disibukkan dengan tugas yang diberikan Hidenaga. Jarang meluangkan waktu bersama keluarga kecilnya itu. "Kau benar. Aku baru memikirkannya. Terima kasih sudah mengingatkanku."

Semu kemerahan merambat di kedua pipi Suzu, seketika membuatnya terkelu melihat senyuman pada wajah tampannya. Senyuman yang tak pernah diperlihatkan pada orang lain, hanya pada Suzu seorang. Wanita muda itu memalingkan wajah seraya menyelitkan rambut peraknya ke belakang telinga, berusaha menyembunyikan rona merah yang terlihat jelas oleh Takatora.

"Senmaru, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Takatora menghampiri putra angkatnya.

Anak lelaki berumur tujuh tahun itu mengurut dagu sambil berpikir. "Aku bingung..."

"Bagaimana kalau berkeliling?" tanya Suzu.

"Benar juga. Tapi sebenarnya aku ingin mengajak kalian ke Bebatuan Hashigui-Iwa."

"Ah, aku pernah membaca cerita tentang asal muasal Hashigui-Iwa! Dari sana kita bisa melihat pemandangan matahari terbit, 'kan?" ucap Suzu sambil menepuk kedua belah tangannya dengan senang. "Selain itu, kita belum sempat mengajak Senmaru ke pesisir. Walaupun sekarang sudah siang tapi ini kesempatan bagus!"

"Sungguh? Ayo kita pergi sekarang, ayah! Apa jaraknya dekat dari sini?"

"Kau tidak melihatnya? Kalau begitu..." Tanpa aba-aba, Takatora mengangkat tubuh kecil Senmaru, lalu menahannya di belakang kepalanya, kedua kakinya berada di kedua pundak Takatora. Senmaru yang tidak bisa apa-apa hanya setengah kaget sambil menahan kepala ayahnya agar tak terjatuh. "Bagaimana?"

"Wah, itu disana! Aku bisa melihatnya!" Senmaru menunjuk kearah pemandangan jauh di depan, ia sudah bisa melihat bebatuan tinggi di bibir pantai.

"Dekat, bukan?

"Ya!" Senmaru mengangguk antusias.

Takatora kemudian bertatapan dengan sang istri. "Dengan begini, janji kita sudah ditepati."

Suzu tertawa kecil. "Tidak setelah kita bermain disana."

Takatora terkekeh. "Kau benar."

Mereka bertiga pun berjalan keluar dari istana bersamaan. Senmaru menyeret orang tuanya dengan gembira, tidak sabar untuk melihat laut yang pernah mereka janjikan.

-XXX-

Senja menyambut langit, setelah cukup lama meluangkan waktu di pesisir mereka pun kembali ke istana. Memang mengecewakan bagi Senmaru karena ingin bermain bersama Takatora dan Suzu lebih lama, tapi ia yakin selalu ada waktu untuknya bermain lagi dengan kedua orang tuanya di kemudian hari.

Sesampainya di istana, Takatora menyerahkan kuda pada prajurit untuk dikembalikan ke kandang. Di pintu masuk istana, seorang pemuda berambut coklat gelap yang diikat ekor kuda menyambut mereka dengan sebuah surat di tangan kanannya.

"Tuan, kami menerima sebuah pesan dari Hidenaga-sama," lapor pemuda itu, Nakagawa Kurodo, bawahan Takatora. Ia memberikan surat di tangannya pada Takatora. Kemudian Takatora mengizinkannya untuk undur diri.

"Ada apa, Takatora-sama?" tanya Suzu.

Pria itu menghela napas setelah membaca isi surat tersebut, kemudian melipat kembali kertasnya. "Hideyoshi membutuhkanku untuk membangun sebuah tempat tinggal kediaman untuknya di Kyōto. Dia akan menempatinya setelah penyerangan Kyūshū nanti."

"Begitu ya..." Suzu manggut paham.

Takatora menolehi Suzu, sebelah tangannya mendarat di pundaknya. "Tak perlu menungguku. Sekarang kalian berdua istirahatlah." Pria itu pun mengubah jalurnya menuju ruang kerja.

"Ah, tapi setidaknya Tuan harus makan malam dulu..."

"Kalau begitu tolong bawakan manju ke dalam ruanganku," sahut Takatora menoleh kearah Suzu tanpa menjeda langkahnya.

"Baik!"

Setelah melihat sang ayah meninggalkan mereka, Senmaru menarik lengan baju Suzu dengan pelan. "Ibu, apa aku boleh membantumu?"

Suzu melebarkan senyumnya. "Tentu, ayo."

Sepasang ibu dan anak itu berjalan menuju dapur istana. Disana Suzu disambut oleh para pelayan, dia meminta para pelayan yang tengah bertugas untuk menyiapkan bahan untuknya membuat manju. Tetapi mereka diminta oleh Suzu untuk membiarkannya memasak berdua bersama putranya saja.

Di mata orang banyak, Takatora merupakan pria yang memiliki kecakapan dan kecerdasan dalam berbagai bidang seperti chanoyu dan noh. Tak hanya kehandalannya dalam merancang istana dan kecerdikannya dalam medan perang. Suzu merasa pria berbakat sepertinya tidak mungkin menikahi seorang perempuan yang bodoh. Karena itu Suzu yang sebagai seishitsu tak ingin mempermalukan nama baik suaminya, baik dalam hal kecil pun.

Selesai, Suzu membawa nampan berkaki dengan manju hangat yang sudah dihidangkan diatasnya, berjalan menuju ruangan dimana Takatora bekerja, diikuti oleh Senmaru.

"Takatora-sama?" panggil Suzu lembut. Senmaru membantu Suzu menggeser pintunya.

Tak ada jawaban.

Tatkala Suzu mengintip ke dalam, ia tersenyum melihat suaminya yang tengah sibuk membuat sebuah konsep rancangan mansion dengan tekun. Bau tinta tercium samar oleh Suzu, gulungan berserakan di atas meja. Manik biru tajamnya sama sekali tak teralihkan dari kertas yang ia tulis.

Suzu tahu bagaimana caranya untuk tidak mengganggu sang suami. Terkadang Takatora membutuhkan ruang untuknya sendirian terutama saat mengerjakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Suzu meminta Senmaru untuk menunggunya di depan pintu. Lalu berjalan menuju sudut ruangan di belakang Takatora dengan perlahan, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara yang menggaduh. Kemudian Suzu menaruh nampan berkaki itu dan bergegas keluar dari ruangan dan menggeser pintu. Setelah berhasil keluar, Suzu dan Senmaru saling berbalas tawa.

"Nah, ayo kita kembali."

-XXX-

Tanpa Takatora sadari, sunyi yang menyusup di ruangannya semakin dalam. Dari jendela ruang kerja, Takatora bisa melihat langit yang semakin gelap.

Pria itu mengurut dahi setelah menaruh kuas diatas suzuri. Meski pelita yang dinyalakan sudah cukup terang, namun ia merasa sedikit pusing dengan pekerjaan yang menyibukkannya hari ini. Sambil bekerja dia juga sudah memakan beberapa potong manju yang sudah dihidangkan untuk mengisi tenaga.

Bukannya dia muak dengan pekerjaannya. Lagipula di dalam surat yang diterimanya bahwa dia akan bekerjasama dengan Kiyomasa dan Aki. Seharusnya pekerjaannya sudah lebih ringan.

Hanya saja mengingat dia harus membangun sebuah mansion mewah yang dinamakan Jurakudai untuk sang Tenkabito, kepada orang yang dimana kesetiaan Takatora bertentangan dibandingkan Hidenaga. Sulit baginya untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Apa boleh buat. Memiliki satu atau dua hal yang tidak disukai masih bisa dianggap manusiawi. Dia hanya perlu memusatkan pikiran dengan tugasnya.

Pria itu pun bangkit, membereskan gulungan dan kertas yang berserakan. Beruntung tidak terlalu berantakan ia dapat membenahinya dengan sekejap. Setelah itu, Takatora pun meninggalkan ruangan.

Sepanjang jalannya menuju kamar, Takatora mengarahkan manik biru lautnya menuju langit kelam. Gumpalan awan hampir menyembunyikan bulan yang baru separuh penuh. Cahaya yang berpendar tampak lebih terang, Takatora hampir lupa tak lama lagi akan ada perayaan Tsukimi.

Yah, walau andai kata perayaan Tsukimi tak pernah ada pun, mungkin kebiasaan Suzu memandang bulan tak akan berubah, pikir Takatora.

Begitu memasuki kamar, Takatora menemukan istrinya berdiri di depan jendela. Ternyata dugaannya benar, kebiasaan memang sulit ditinggalkan. Akan tetapi mengamati istrinya yang rutin menerawang langit malam ternyata tidak terlalu buruk. Begitu menawan. Sosok Suzu yang jelita selalu menenangkan sanubarinya, menolak untuk memalingkan wajah sedikit pun seolah dirinya hanyut oleh kecantikannya.

Tiap helai rambut peraknya melambai pelan diterpa hembusan angin lemah, menggelitik leher kurusnya dengan lembut. Ketika helaian rambutnya berhenti berkibar, Takatora baru sadar kini rambut peraknya tampak sedikit lebih panjang.

Membuatnya teringat dulu saat Suzu masih belia, tak ingin memanjangkan rambutnya karena takut diusuli bahkan dijambak oleh anak seusianya. Tapi kali ini ia membiarkan rambutnya memanjang. Takatora melihatnya sebagai seorang wanita nan anggun, bukan lagi seorang gadis kecil.

Dipangkunya kedua tangan untuk menahan dinginnya malam yang baru saja menyengat kulit. Manik merah gelap yang awalnya terkunci mengamati bulan berpindah, ia berbalik menghadapnya dan menyambut sang suami dengan senyuman hangat khasnya. "Aku bisa mendengar langkah kakimu, lho, Takatora-sama."

Seperti yang diharapkan dari seorang kunoichi, dia sudah sadar sejak tadi Takatora berdiri di depan pintu. Mengenal dari hal sepele seperti bagaimana langkah kakinya, cara berjalan, suara dan sebagainya sudah bisa Suzu tebak dengan mudah. Walau Suzu tidak terlalu bangga dengan keahliannya.

"Bukankah sudah kubilang tak perlu menungguku?" desah Takatora sembari menggeser pintu di belakangnya, menutupnya dengan rapat.

"Ah, maaf. Sesudah mengantarkan makan malam untuk Tuan, aku menemani Senmaru. Dia ingin sekali aku menceritakan padanya tentang asal muasal Hashigui-Iwa. Sekarang dia sudah tertidur," jelas Suzu terus terang lalu tertawa kecil. "Dia juga bersemangat saat membuatkan manju."

Takatora tersenyum tipis. "Begitu." Kemudian ia melepas tenugui dan jinbaori-nya, sementara Suzu mengambilkan yukata untuknya berganti pakaian. "Besok aku akan berangkat ke Kyōto. Kau bisa mengandalkan Kurodo jika terjadi sesuatu. Walau begitu kau harus tetap berhati-hati, Suzu."

Suzu mengangguk dan tersenyum. "Tuan lelah? Sebaiknya tidur lebih awal."

"Aku tahu," sahutnya setelah selesai memasang yukata.

"...Sayang sekali, ya? Padahal aku berharap Takatora-sama bisa rehat lebih lama setelah perang, bahkan kita baru saja pindah."

Takatora mendengus getir. "Hmph, itu bukan apa-apa untukku."

"...Sungguh?" Suzu menautkan alisnya cemas.

Apa yang membuatnya cemas? Padahal ini bukan pertama kalinya Takatora akan bekerja ke tempat yang jauh. Sejenak ia berpikir, Takatora sadar kalau Suzu bukan menanyakan soal kondisi kesehatannya atau sejenisnya. Suzu tahu kalau Takatora tidak bisa fokus dengan tugasnya kali ini.

"...Kupikir kau akan terus menghindari pembicaraan tentang anggapanku terhadap Hideyoshi." Takatora belum membalas pandangannya. "Kau tahu? Dia benar-benar mengikuti cara penguasaan yang sama seperti Nobunaga," ucap Takatora dengan suara dalam. Sorot matanya menggelap dan tajam. "Tanah, nyawa, juga impian. Dengan mudahnya dia menjarah semua itu..."

"..." Suzu menundukkan kepala.

Hening sejenak. Takatora melirik sekejap kearah Suzu. Terkutuk Hideyoshi. Sekarang Takatora harus bertanggung jawab untuk mengembalikan senyuman Suzu yang menghilang.

"...Sebagian orang mungkin menganggap kedamaian yang ingin diraihnya merupakan penderitaan bagi mereka yang telah dirampas." Kali ini Takatora menatapnya. "Kendati mudah bagi beliau menjarah impian mereka yang sudah layu. Aku yakin Hideyoshi-sama sudah memperhitungkan banyaknya nyawa yang harus ia tanggung demi menyatukan negeri ini. Karena sudah ditakdirkan, beliau rela meski dicap sebagai pemimpin yang keji. Beliau sudah bertekad kuat untuk semua itu..."

Oh, tidak. Atmosfer yang menyusup diantara kedua pihak mulai tegang dan mendung. Suzu bisa merasakan napas Takatora yang memberat, rahangnya pun mengencang.

"...Apa yang ingin kau katakan?"

Tangan Takatora dikepalkan. "'Sudah ditakdirkan bahwa Nagamasa-sama tidak memiliki tekad yang kuat.' Itu yang ingin kau katakan!? " bentak Takatora. Suaranya yang lantang dan tinggi membuat Suzu tersentak kejut.

Sudah terlambat untuk menarik ucapannya, mau pun Suzu atau Takatora.

Jelas sekali suasana hati suaminya sedang buruk. Suzu hanya menundukkan kepala, tak berani menjawab sepatah kata pun. Dia menggigit bibirnya yang kelu. Raut wajahnya berubah sedih menerima gertakan pria itu.

Takatora merutuk diri, apa gunanya membicarakan hal itu sekarang? Selain itu, seharusnya dari awal dia tahu bahwa Suzu sama sekali tidak berniat untuk memancing amarahnya. Suzu hanya ingin mencoba meringankan bebannya.

"...Maaf, anggap saja pembicaraan ini tidak pernah terjadi." Takatora menghela napas berat "...Aku akan tidur di kamar sebelah."

Karena telah membuat Suzu canggung, dia yakin akan sulit untuk memperbaiki suasana hatinya. Meski sudah berusaha pun, Suzu pasti hanya akan memasang senyum palsu yang tidak ingin Takatora pikul. Bahkan ia ragu apakah kata-katanya akan kembali menghiburnya atau malah menyakiti Suzu.

"T-Tunggu, Tuan!" Suzu merangkul lengan Takatora, menahannya untuk pergi. "Maafkan aku. Seharusnya aku mendukung Tuan, tapi aku malah—"

Mendukung? Bukannya Takatora tak membutuhkannya. Tapi jika dia mendukung sang suami tentang anggapan buruknya terhadap Hideyoshi, itu artinya Suzu tidak akan pernah berterimakasih setelah apa yang Hideyoshi berikan padanya. Ia telah diselamatkan, memberinya tempat tinggal, bahkan disambut dengan hangat. Jika Suzu adalah wanita yang tidak bersyukur atas semua itu. Mungkin bisa saja Takatora takkan pernah mencintainya.

Takatora memang tak pernah berniat untuk memaafkan Hideyoshi. Tak sekali pun. Sedangkan Suzu, ia menerima segala cobaan hidup yang melandanya, meskipun salah satu penderitaannya adalah kehilangan orang terdekatnya. Mereka berbeda.

Takatora menghela napas. "Jangan katakan itu. Aku tahu kau tidak bermaksud buruk," sela Takatora sebelum membawa Suzu ke dalam rengkuhannya. "Maaf," ucap Takatora sembari menangkup wajahnya. Jarak diantara wajah mereka berkurang ketika Takatora menurunkan kepala dan mendaratkan kecupan di kening istrinya sebagai pertanda minta maaf.

"T-Tunggu, Takatora-sama... anu..." desah Suzu menyela.

"...Ada apa?"

"...Tidak, hanya saja anginnya..." gumam Suzu dengan kedua alisnya bertaut tersirat kegelisahan. Ia pernah merasakan hawa keberadaan ini.

Rasa haus darah.

Namun tak terlalu kuat dari yang pernah Suzu rasakan.

Takatora menaikkan alis. Apa Suzu ingin mengalihkan perhatian karena sulit menangani rasa malunya setelah Takatora menciumnya? Suzu sering melakukan itu tapi tampaknya bukan untuk kali ini.

"Aku menganggu waktu kalian, ya?" Seorang wanita yang tak mereka duga menyusup masuk melewati jendela. Meski wajahnya telah dipasang sebuah topeng burung gagak, mereka tahu betul siapa wanita itu.

"Sango, nee-sama...!"

Wanita yang Suzu panggil 'kakak' itu menghela napas setelah melepas topeng. Ia menatap Suzu dengan sebelah alisnya mengernyit tak senang. "Dasar, aku geli saat kau memanggilku dengan sebutan itu."

"Kau memang wanita yang tidak tahu sopan santun. Datang kemari untuk menyapa adikmu apakah harus menyusup melewati jendela?"

Sango mendecak samar, menatap Takatora dengan sebelah mata. "Huh, kau seharusnya tahu, bukan? Kalau seorang shinobi tidak mungkin masuk melewati pintu depan. Lagipula kau sendiri yang pernah mengatakan padaku kalau kelinciku ingin bertemu denganku."

Sango berkacak pinggang lalu menyeringai. "Ooh, sebentar. Apa kalian baru saja melakukan sesuatu yang apa kupikirkan? Kalian boleh saja lanjut. Aku hanya akan menonton kalian dari sini."

Wajah Suzu langsung memerah padam saat ia menangkap maksud ucapan kakak angkatnya itu. "Umm... kenapa nee-sama bisa tahu kami disini? Padahal kami baru saja pindah," tanya Suzu mengalihkan pembicaraan.

"Jangan remehkan aku, kelinci. Kemana pun kau pergi aku pasti akan menemukanmu." Sango terkekeh. "Selain itu, sepertinya kau masih saja memakai lonceng itu, ya. Kekanakan sekali. Tapi aku tersanjung kau bersikeras menyimpannya sampai sekarang."

Suzu hanya tersenyum masam. Walau sikapnya masih saja sinis, tapi Suzu bisa merasakan afeksi dari ucapannya. "Itu berkat nee-sama yang menemukan loncengnya. Ah, aku hampir lupa. Ramuan obat yang pernah nee-sama berikan padaku... Maaf, aku menghilangkannya."

"Tidak apa. Memang aku datang kesini karena ada hubungannya dengan obat itu. Tapi sebaiknya..."

Sengaja tak menyelesaikan kalimatnya, dia menghampiri Suzu dan menoleh kearah Takatora. "Nee, danna. Aku ingin berbicara empat mata dengan istrimu. Boleh, 'kan? Jangan khawatir, aku tidak tertarik untuk membunuhnya sekarang."

Takatora menghela napas. "Kata-katamu sama sekali tidak meyakinkan. Tapi baiklah."

"Nah, kelinci. Ayo antarkan aku ke taman, kita akan mengobrol disana." Sango menyeret lengan Suzu. "Lagipula ini waktu yang tepat untuk mendinginkan kepala kalian berdua, bukan? Ini pertama kalinya aku mendengarmu membentak kelinciku."

Takatora mengernyitkan alis dengan jengkel. "Jadi kau menguping pembicaraan kami."

Sango terkekeh sinis sebelum akhirnya keluar dari kamar bersama Suzu, berjalan ke taman. Sesampainya di taman, Sango bersandar di tepi jembatan kecil, sembari memerhatikan sekumpulan ikan menari di dalam kolam.

"Omong-omong, anak yang kau sebut Senmaru itu... bukan anak hasil pernikahan kalian, bukan?"

Suzu merapatkan bibirnya sebelum menjawab, "...Tidak." Suzu memalingkan wajah.

"Aku sudah menduganya."

"Y-Yah, lagipula Senmaru sudah berumur tujuh tahun. Sedangkan kami menikah baru saja tiga tahun."

"Memang. Tapi bukan itu yang kumaksud." Sango menghampiri Suzu.

"Kedua orang tuamu tutup mulut mengenai kondisimu yang sebenarnya. Ryōko pun tidak tahu apapun tentang keluarga kita, wajar kau belum mengetahuinya sampai sekarang." Sango mendekat.

"Karena... kau itu—"

Kedua manik merah Suzu membulat sempurna setelah mendengar bisikannya. Tangannya dikepalkan di depan dada, paru-parunya seakan tergulung. Suzu hanya bisa tertunduk dalam diam.

Wanita bermanik emas itu mundur sejenak. "Yah, percaya atau tidaknya... terserah padamu."

Hening sejenak, Sango yang berniat mendengar jawaban Suzu malah memicingkan mata, menatap lurus manik merah adiknya itu. Ekspresinya berubah, namun ia tak tersenyum dan tak bersedih. "Sepertinya kau tidak terlalu kaget dengan semua ini," tanya Sango, nada suaranya terdengar datar meski ia tak menduga air muka yang tersirat di wajah Suzu. Seolah ia tak tertelan oleh kenyataan pahit yang telah Sango sampaikan.

"Tidak, aku terkejut. Sejak aku terlahir, aku selalu dibutakan dengan kebahagiaan yang ayah dan ibu pertahankan. Tapi mereka sama sekali tidak menyerah akan diriku. Karena itu aku tidak menyesalinya."

Sango mendengus. "Kau tidak pernah bosan membuatku kagum, kelinci."

-XXX-

Sembari menunggu istrinya kembali, Takatora baru saja selesai menggelar futon. Sebenarnya dia ingin istirahat sekarang mengingat dia akan berangkat pagi-pagi ke Kyōto. Tapi Takatora lebih memilih menunggu Suzu kembali. Jadi dia hanya berbaring, mematikan pelita namun belum mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Ya, Takatora tahu kalau dirinya lagi-lagi gagal menghiraukan benih kebencian yang masih mempermainkan seisi kepalanya. Takatora tahu Suzu selalu tutup mulut mengenai anggapan buruknya terhadap sang Tenkabito. Suzu terlalu takut untuk mencabut benih kebencian tersebut karena tak ingin Takatora akan berprasangka buruk padanya.

Perkataan Suzu tadi juga ada benarnya. Bukan, dia memang benar. Lagipula, apa gunanya bagi Takatora jika dia terus mempertahankan dendamnya? Sama sekali tidak ada gunanya. Dia merasa seperti anak kecil yang hanya meluapkan tantrum.

"Yoshitsugu benar. Dia memang bukan kelinci yang mau menggigitku. Menggelikan sekali," gumam Takatora sambil menutup matanya dengan sebelah lengan.

Takatora mendengar suara pintu, itu Suzu. Langkah dan ritme napasnya yang pelan amat familiar. Ia bisa merasakan keberadaannya semakin dekat. Bukannya berbaring, Suzu hanya duduk di sampingnya.

"Oi, ada apa? Berbaringlah."

"Eh? Takatora-sama belum tidur?"

"Aku menunggumu."

"O-Oh..."

Suzu pun berbaring di sebelahnya, menarik selimut dengan pelan. Diluar harapan Takatora, dia menjarak darinya. Sang suami paham kalau Suzu masih merasa serba salah. Di saat seperti ini, Takatora tahu Suzu berusaha berhati-hati dengan ucapan dan tindakannya.

"Jangan terlalu banyak berpikir. Tidurlah." Takatora mengusap kepala istrinya, kemudian mengubah posisi tidur dengan membelakangi Suzu. Ia hanya bisa berharap mereka akan berbaikan besok pagi.

Tak ada satu kata pun yang bisa Suzu ucapkan. Tidak ingin membiarkan hubungan mereka terus kaku, Suzu mendekat dan menyandarkan kepalanya pada punggung Takatora. Sang suami langsung membuka matanya setengah kaget.

Sejenak Takatora menunggu, ia merasakan telunjuk Suzu menekan punggungnya. Takatora meringis kesakitan. Suzu hampir lupa dengan luka yang Takatora dapat di Shikoku. "Ah, maafkan aku! Ternyata masih sakit, ya..."

"Aku baik-baik saja..." sahut Takatora sambil berbalik menghadapnya. "Apa yang kau bicarakan dengan wanita itu?"

"Um... kami membicarakan tentang..." Suzu tak berani membalas pandangan sang suami. "...keluargaku."

"..." Dia masih canggung, tapi setidaknya dia sudah menjawab pertanyaan Takatora. Ada niat dalam dirinya untuk menguak atmosfer kaku diantara kedua pihak. "...Takatora-sama, lain kali... bisakah kita pergi mengunjungi keluarga Tuan di desa? Aku ingin bertemu dengan mereka."

"Tentu. Lagipula kau belum melihat bunga fuji yang bermekaran di desa. Aku ingin memperlihatkannya padamu suatu hari nanti."

Suzu tersenyum simpul dan mengangguk pelan. "Um..."

Takatora membalas senyumnya, senyuman Suzu yang mudah menular.

Lega sudah berbaikan, Takatora merengkuh tubuh kecilnya dan membenamkan wajah diatas kepala Suzu. Sekarang Takatora tak perlu khawatir meninggalkan Suzu besok.

Suzu menguak keheningan. "Takatora-sama. Apa aku boleh bertanya satu hal?"

"Hm?"

Suzu terdengar ragu, ia tidak langsung memberikan pertanyaannya pada Takatora. Perlahan lengan kurusnya membalas pelukan sang suami. Namun mengherankan bagi Takatora tatkala ia merasakan tangan Suzu meremas pakaiannya.

"...Aku berpikir, ketika perang di Shikoku. Apa yang akan terjadi pada Tuan kalau aku mati di dalam kapal itu?"

Takatora tertegun, memberi jarak dari kepala Suzu, sepasang bibirnya terpisah kemudian kembali tertutup. Tanpa Suzu sadari tatapan tajamnya menggelap.

Pertanyaan Suzu seketika terbesit dalam kepalanya akan mimpi buruk Takatora. Waktu itu, dalam rengkuhannya, Suzu mati bersimbah darah akibat ketidakmampuan dirinya.

Ketika matanya merahnya robek.

Ketika dadanya ditikam oleh pedang Takatora.

Memang Takatora pernah mengatakan padanya bahwa dia akan melakukan cara apapun demi menarik nyawa Suzu kembali dari ajal. Tapi jika Suzu bertanya apabila dia sudah tak bisa tertolong lagi dan takdir tak berada di pihaknya... ada satu jawaban yang muncul dalam benaknya.

"Aku akan bunuh diri."

Suzu hampir terkesiap. "T-Takatora-sama, candaanmu terdengar sedikit..."

"Kau mengira aku sedang bergurau?" Takatora menahan tubuh Suzu, ia menariknya kemudian dengan sengaja menghimpit dirinya sendiri dengan tubuh Suzu berdominasi diatasnya.

"Suzu, kau sendiri, apa yang akan kau lakukan jika aku mati mendahuluimu? Apa kau juga akan langsung menyusulku?" bisiknya sembari membenamkan wajahnya di puncak kepala Suzu lagi, menghirup aroma semerbak khasnya sambil menyisir surai perak Suzu yang halus di sela-sela jemari kuatnya.

Suzu belum mau menatapnya, bukan karena malu dengan posisi mereka saat ini. Tapi dia tak yakin memiliki jawaban yang bisa memuaskan Takatora. Seraya menyandarkan sisi wajahnya di dada bidang sang suami agar dapat mendengar detak harmonis jantungnya, Suzu mencoba menebak mengapa Takatora begitu mudah memutuskan kapan waktunya untuk mengakhiri hidupnya, tapi tak ada petunjuk yang pasti.

"Aku... tidak yakin," jawab Suzu pelan.

Takatora menaikkan alis. "Kenapa?"

Sebelah tangan Suzu meremas pakaian Takatora, dengan gugup mencoba hati-hati menyusun kata-kata yang ada di pikirannya. "Takatora-sama sendiri juga... apa tidak masalah kalau Tuan langsung menyusulku? Habisnya, aku tahu Takatora-sama adalah orang yang mengemban perintah yang sudah diberikan Nagamasa-sama dan Oichi-sama. Tanggung jawab yang Tuan pikul selama ini tidak akan ada artinya. Selama ini Tuan berjuang begitu keras jadi kurasa tidak mungkin Takatora-sama akan membuang nyawamu begitu saja."

Hening sejenak, sebuah sengiran tipis terbentuk di bibirnya. Seperti biasa, Suzu selalu saja memikirkan sisi baik dari diri Takatora. Naif seperti biasa. "Hmph, begitu 'kah?"

"Um... apa perkiraanku salah?" Kali ini Suzu memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya agar dapat menatap manik biru pria yang berbaring dibawahnya itu.

"Entahlah." Takatora mulai membaringkan kepalanya di bantal, menghela napas seraya memejamkan mata. "Aku tidak mungkin bisa menebak seperti apa diriku di masa depan bila saat kau sudah tiada." Jeda sejenak, ia menarik napas. "...Atau bisa jadi kau benar," gumamnya.

Kedua kelopak mata Suzu berkedip, membiarkan ucapan Takatora menguap di udara.

"Selain itu, seharusnya aku tak perlu bertanya lagi padamu. Kau sudah pernah mengatakan padaku kalau kau pasti ragu bertatapan dengan mereka jika kau menyerahkan nyawamu."

Suzu masih membisu, kemudian kembali membenamkan wajah lalu memejamkan mata, meremas lebih kuat pakaian Takatora. "Tapi aku sedikit paham dengan maksud Takatora-sama. Kalau Tuan tiada, aku tidak tahu aku masih bisa bertahan hidup sendirian. Membayangkannya saja sudah membuatku takut," lirih Suzu tersenyum lemah. "Memikirkan bila tiap kepingan yang sudah saling kita bagi akan sia-sia. Bertahan hidup hanya dengan kenangan yang tersisa, dan dibutai oleh keputusasaan. Kurasa itu ujian hidup yang tersulit. Aku tak tahu bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian Tuan."

Takatora tertawa pelan, kemudian membuka mata. "Tidak ada gunanya mengkhawatirkan apa yang akan terjadi kelak."

Kali ini Takatora memutar posisi mereka, tangannya bertumpu di sebelah kepala Suzu yang berbaring dibawahnya. Mengurung sang istri di bawah kendalinya di dua sisi.

"Lagipula, jika salah satu dari kita bisa membaca masa depan. Itu sama saja langsung membaca halaman terakhir dari sebuah cerita. Bukankah bagimu itu sama sekali tidak menarik?"

"I-Iya..." Suzu tersenyum canggung. "Takatora-sama, anu... sebaiknya kita tidur sekarang. Tuan harus pergi besok pagi, bukan?"

"Jangan melawan." Takatora mendaratkan kecupan di lehernya. Suzu memekik kecil, geli akan kontak yang Takatora berikan. "Anggap saja ini hukuman karena kau berpikir terlalu jauh."

Suzu berjengit kaget lagi. "H-Hukuman...? Takatora-sama marah padaku?"

Lagi, Takatora tertawa pelan. "Tidak juga." Tangannya kemudian menyusup ke punggung Suzu, melepas tali pinggang yukata-nya. "Kurasa aku hanya tak ingin melupakan aromamu sebelum aku berangkat besok pagi."

"T-Takatora-sama..." lirih Suzu gelagapan. "Tuan 'kan bukan mau berangkat ke medan perang."

"Memang. Kau keberatan?" Takatora menenggelamkan diri pada manik merah rubi Suzu yang berkilauan.

Suzu merapatkan bibir dan memalingkan pandangannya dari sang suami. Sejak tadi dadanya berdebar-debar tak mau berhenti. Apakah Takatora mendengarnya atau tidak, Suzu tidak ingin tahu jawabannya. Ia mendadak lemah dan kehilangan akal, ia takkan bisa menghindar lagi. "...Takatora-sama tidak adil."

"Itu kalimatku," bisik Takatora ke telinganya. Tangannya mulai melepas tali merah yang dikalungkan di leher Suzu, menyimpan lonceng kecilnya.

"Eh? Kenapa—" Takatora membungkamnya dengan mengunci bibir merah jambu Suzu dengan miliknya, menolak untuk menjawab pertanyaannya secara langsung. Seketika Suzu melupakan pertanyaannya dan melebur dalam kehangatan yang mereka bagi, seolah merasa kembali jatuh cinta. Menghabiskan malam dan membiarkan kulit mereka saling bersentuhan.

Kenaifan Suzu yang mengirikan hati.

Dahulu Takatora pernah memiliki kenaifan itu. Dengan mudahnya percaya dapat menaklukkan rintangan apapun demi merealisasikan impian Azai. Tapi ia sudah lama membinasakannya bersamaan dengan kobaran api yang melahap Istana Odani. Kenaifan itu selalu membuatnya buta arah.

Kenaifan yang telah Takatora buang— Suzu mengambilnya kembali, dan memilikinya tanpa sadar. Seakan ia melihat dirinya yang dahulu di dalam diri Suzu.

-XXX-

Fajar belum memancarkan cahaya pagi sepenuhnya. Penglihatan Suzu masih buram dan belum bisa ia lebarkan, tapi dia tahu Takatora masih tertidur pulas di sampingnya. Kedua mata Suzu terbuka dengan perlahan ketika merasakan hawa dingin berganti hangat ketika menyadari sepasang lengan kuat melingkar di tubuhnya.

Jarang sekali Takatora bangun sedikit terlambat, biasanya ia selalu lebih awal dari Suzu. Sering sekali Suzu ditinggal sendirian di kamar sehingga mereka jarang berbalas kata 'selamat pagi'. Beruntung, Suzu mendapatkan kesempatannya sekarang.

Tangan kecilnya menggeser rambut Takatora yang hampir menghalangi matanya. Suzu tersenyum senang. Sejak peperangan Shikoku, ia tidak mendapatkan kesempatan mengamati paras tampan suaminya yang tertidur pulas. Dia seakan telah melupakan wajah menakutkan yang Takatora peragakan tadi malam.

"Takatora-sama, bangunlah," panggil Suzu lembut sambil mengusap wajah tirusnya.

Tak ada jawaban, namun matanya sedikit berkedut.

"Aku akan membuatkan mochi, lho!"

Takatora masih belum membuka matanya.

"Ah, atau manju?"

Belum.

"...Keduanya?"

Belum juga. Sepertinya usaha Suzu untuk mengusik Takatora dengan makanan kesukaannya tidak akan berhasil lagi.

Suzu menghela napas kecewa. Ketika dia mencoba bangkit tetapi Takatora menariknya kembali, membuat Suzu kembali berbaring membelakanginya. Wanita muda itu bisa merasakan badan kekarnya yang tak berbalut yukata menekan punggung Suzu.

Takatora mendaratkan kecupan di tengkuknya. "Kau menyesalinya, ya?"

Pertanyaan yang langsung dilontarkan Takatora membuat Suzu salah tingkah. "T-Tidak kok! Ah, maksudku aku hanya—"

"Tidak perlu berteriak," dengus Takatora setelah memberinya kecupan singkat, seketika membuat Suzu kembali merunduk malu.

「おはよう、鈴。」

「...おはようございます、高虎様。」

Suzu sempat terbuai hanya dengan sapaan yang biasa dikatakan di pagi hari sebelum tersenyum simpul. Takatora mengangguk puas, kemudian bangkit dari futon.

Suzu termangu memperhatikan tubuh kekarnya yang separuh telanjang. Ternyata benar bekas luka bakar di punggungnya masih tertinggal. Sepertinya harus diberi ramuan sesering mungkin untuk menghilangkan bekasnya.

"Suzu, pakaianku." ucap Takatora singkat, mengisyaratkan kalau yukata miliknya dipakai Suzu.

"Eh?" Suzu menurunkan pandangan ke pakaiannya, baru sadar dia mengenakan dua lapis yukata. Yukata biru gelap yang terbalut di bahunya sebagai haori terlalu besar untuk Suzu. "S-Sejak kapan..."

"Tadi malam kau meriang, karena itu aku memasangkannya padamu. Kurasa kau harus membiasakan diri tinggal di lingkungan baru."

"Oh..." Suzu hanya manggut-manggut paham sambil melepas dan memberikan yukata milik Takatora padanya. "Kalau begitu, aku akan menyiapkan sarapan."

"Kau lupa kita sudah memiliki pelayan istana? Biarkan mereka yang melakukan tugasnya."

"Oh iya. Kalau begitu aku akan membangunkan Senmaru."

"Baiklah."

-XXX-

Fajar mulai menyingsing, Takatora sudah menyandang segala keperluan diatas kuda. Suzu dan Senmaru hendak menunggunya akan berangkat.

"Suzu-chan! Aku datang berkunjung!"

Mereka langsung mengalihkan pandangan ke pemilik suara. Seorang gadis bersurai merah jambu yang dikuncir berlari kearah Suzu dan melompat kearahnya.

"Natsuko!? Kenapa kamu bisa disini?" tanya Suzu tak menduga kedatangannya.

"Habisnya onii-chan berangkat ke Kyōto hari ini. Apalagi Hana-chan dan suaminya sudah tidak menetap di Ōsaka lagi semenjak pertempuran Shikoku. Aku bosan ditinggal sendirian! Jangan khawatir, aku berhasil membujuk onii-chan, kok!"

"Begitu ya. Seharusnya kamu mengirimku pesan dulu."

"Lain kali! Lagipula aku sudah datang kesini!" Natsuko lalu menoleh kearah Takatora. "Tuan juga akan pergi ke Kyōto, ya?"

"Ya," jawab Takatora singkat.

"Tidak masalah, 'kan kalau aku menetap disini sampai kau kembali?"

"Aku berterima kasih, Suzu tidak akan merasa kesepian setelah kau datang."

Natsuko membelalakkan mata. "Eh? Eeeh!? Suzu-chan! Ada apa dengan suamimu itu!? Dia berterima kasih padaku, lho, Suzu-chan! Apa kepalanya terbentur sesuatu!?"

Sebelah mata Takatora mengernyit jengkel. "... Aku tarik kembali ucapanku."

"Ya sudahlah." Natsuko lalu menerjang kearah Senmaru, memberinya pelukan erat. "Senmaru-kun! Ayo kita main!"

"Boleh!" Senmaru mengangguk kencang.

Selesai menyadang barang keperluannya, Takatora menghampiri Suzu sebelum membelai rambut peraknya. "Aku akan menunggu pesan darimu. Jaga diri."

"Ya, Takatora-sama juga."

"Hati-hati, ayah!"

Takatora mengusap kepala Senmaru dan tersenyum. Kemudian memberikan kecupan singkat di dahi Suzu sebelum menunggangi kuda. Mereka menatap kepergian Takatora sampai sosoknya tak terlihat lagi.

"Suzu-chan dan suamimu selalu mesra, ya."

Suzu berjengit. "N-Natsuko sendiri... kapan kamu akan menikah?"

"Aku sudah punya onii-chan!"

"...Aku sudah menduga jawabanmu."

"He?"

"Bukan apa-apa. Ayo masuk. Aku akan menyiapkan teh hangat."

-XXX-

-XxX-

-XXX-

A/N : Oh crap, what have i done lmao. Not gomen tho. Lagian gak tau lagi mau bahas apaan di chapter filler. Aku hampir lupa kalau chapter ini bukan secret chapter, 5k lebih... niat amat lol. Mungkin kena efek baca fanfic jepang Takatora x OC. *ketawa setan*

Oke, as you can see. Summary udah diganti, tapi inti ceritanya tetap kok. Dan cover udah diganti lagi.

Kembali ke cerita. Sebenarnya saya gak nemu sejarahnya kalau Takatora jadi Lord di istana Wakayama, dia cuma bantu rebuilt. Malahan sebenarnya yang di 'stationed' di Wakayama itu Kuwayama Shigeharu. Tapi pas main Nobunaga no Yabou bukan dia, malah Takatora. Makasih KOEI, lmao. Jadi saya pakai kesempatan itu buat filler~

Oh mau tahu apa yang dibisik Sango ke Suzu? Jawabannya ada di secret chapter part 4 yang bakal di update nanti. Tapi keknya gak ada lemon. Yosh, nantikan! *slapped*

Dan~ mudah-mudahan bulan depan saya udah bisa pegang laptop lagi. Duh kangen main game hiks. Review pretty please? *puppy eyes*