A/N : Maat atas terlambatnya update chapter ini. Saia sedang menghitung mundur dari story ini dan sedang mencari finishing touchnya. Dicerita ini nantinya masih ada hal yang perlu diselesaikan yang akan berlanjut ke Neverland 2 nantinya. Saia ucapkan terima kasih bagi yang sudah menunggunya, maaf kalau chapternya pendek tapi semoga tidak mengurangi minat kalian dan semoga tetap bisa menghibur dan memuaskan tanda-tanya pembaca heheh.


Warning : T rate, ada OC, banyak tokoh minor, chara death.

Genres : Action/Adventure/Romance/Friendship/Humor/Angst/Tragedy.

Pairing : SasoSaku/KaoMa/ReiSasa (others hint).

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto (kecuali OC).

This story belong to Riyuki18, edited by Yuki.

Dedicate to all reader, please enjoy it!

.

Neverland Side Story

Chapter 26

(Marie Vs Alice)

.

.

Malamnya sesuai dengan rencana Rei pergi menemui Nathan di rumahnya bersama dengan Jun yang juga ikut bersama dengan mereka, tak lupa Sasame yang mengetahui hal ini dari Rei. Ke empat orang itu sekarang sedang berkumpul di dalam kamar milik Nathan dan ditemani dengan dua buah laptop (lebih tepatnya tiga, yang satu lagi milik orang tua Jun).

"Aku akan mulai membuka laptopnya… " kata Rei yang langsung membuka laptop milik orang tua Jun tersebut. Laptop tersebut terkunci password tapi tidak membutuhkan waktu lama untuk Rei membukanya. Setelah terbuka Rei mulai mencari file yang tersimpan di dokumen.

Dia berhasil menemukannya tapi ada satu kendala, folder file itu disimpan tampaknya juga terkunci dan harus diberikan password untuk bisa membukanya.

"Sialan!" Rei mengepalkan tangannya dengan gemas. Dia terlihat frustasi.

"Kau kenapa, Rei?" tanya Sasame yang tidak biasanya melihat Rei putus asa seperti itu.

"Encrypt code! Males banget nih kode ginian, mecahinnya bisa lama!" jerit Rei stress beneran sambil jambak-jambak rambut. Yah, dia memang lemah dalam hal memecahkan kode pakai rumus kayak gitu yang memiliki berbagai macam kemungkinan variasi. Nyesel dulu dia gak bikin tools khusus buat mecahin kode laknat kayak gitu dulunya.

"Jadi gimana dong?" tanya Nathan sambil manyun-manyun. Pasalnya dia juga paling males kalau udah disuruh nebak password njelimet kayak gitu.

"Sigh… Kayaknya gue gak ada cara lain deh… Gue harus tanya ke dia… " balas Rei sambil menghela napas berat, keliatan dari mukanya yang kayak kepaksa banget. Entah siapa 'dia' yang dimaksud oleh Rei.

"Siapa?" tanya Nathan sambil melirik Rei yang tampangnya kayak orang males.

"Dia adalah orang yang pertama kali mengajariku caranya hacking," jawab Rei sambil memasang muka sok misterius, bikin yang lain penasaran jadinya.


Di tempat yang berbeda…

Terlihat kediaman Arashi didatangi oleh Darui, Samui dan Atsui. Ketiga orang itu adalah suruhan Kaito yang ditugaskan untuk menangkap Arashi, karena dia merasa Arashi telah berkhianat dan melakukan tindakan sendiri tanpa sepengetahuannya.

"Keluarlah Arashi! Kami tau kau di dalam!" kata seorang satu-satunya wanita, yaitu Samui yang mendobrak pintu rumah Arashi.

"Kita berpencar!" Darui menyuruh Atsu dan Samui untuk berpencar mencari Arashi.

"KALIAN SEMUA AKAN MATI DISINI!" tiba-tiba saja Arashi keluar dari arah kamarnya. Dia berteriak sambil melemparkan sesuatu ke arah ketiga orang tersebut.

Klotak…

Samui, Atsui dan Darui hanya menatap benda bulat yang menggelinding ke arah mereka.

'Matilah kalian,' ucap batin Arashi sambil menyeringai saat melihat benda yang dia lemparkan mulai mengeluarkan asap.

Sssssssshhh…

Keluar asap dari benda itu dan tercium bau sesuatu.

"Celaka, ini bom rakitan! Menghindar semuanya!" Darui yang kelihatannya lebih berpengalaman langsung mengetahui benda apa yang dilemparkan itu dan menyuruh kedua rekannya untuk segera menghindar.

Zinnnggggg…

DUAR!

Benda itu mengeluarkan cahaya sesaat setelah itu terjadi ledakan hebat di rumah tersebut.

-ooo-

Back to Nathan House…

.

.

Di dalam kamar Nathan terlihat Rei yang sepertinya sedang mengirimkan pesan pada seseorang lewat e-mail. Sepertinya dia mengirimkan kode itu pada pemilik alamat e-mail tersebut.

"Lo yakin orang itu bisa dipercaya?" tanya Nathan sambil melirik aneh pada Sasame dan Sasame sendiri menyadari kalau Nathan seperti tidak menyukainya.

"Tenang aja! Dia bisa diandalkan kok, soalnya dia itu kakak gue!" balas Rei dengan yakin dan ternyata orang yang dia maksud adalah kakaknya sendiri. Nathan, Jun sama Sasame sama-sama sweatdrop sambil membatin 'Jangan-jangan sekeluarga hacker semua lagi'.

.

Disaat Rei dan yang lainnya sedang menunggu tiba-tiba saja terdengar suara teriakan minta tolong dari arah luar.

"KYAAAAAA! TOLONG AKU!" suara teriakan itu menarik perhatian Nathan dan dia merasa kalau suara itu seperti suara tetangganya yang memang biasa pulang malam sehabis bekerja. Dia segera menuju arah luar jendelanya untuk memastikan siapa yang berteriak itu dan di ikuti oleh yang lainnya.

"A-apaan itu?" Nathan dan Rei sama-sama menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Di depam mata mereka melihat sekelompok monster berbentuk seperti kelinci dengan bulu hitam dan matanya yang merah menyala tengah mengepung seorang wanita yang keluar dari dalam mobilnya. Yang membuat mereka shock adalah monster itu bentuknya mirip dengan dark rabbit dari Neverland.

"Kenapa bisa ada dark rabbit disini?" tanya Rei dengan wajah pucat. Dia merasa seperti bermimpi melihat monster-monster itu ada di dunia nyata. Sekaligus inget dosa soalnya dia sering ngebantai itu monster di game.

"Ini berbahaya! Kita harus menolong orang itu!" kata Jun sambil menatap cemas pada wanita yang terkepung itu.

"Jangan kesana! Monster-monster itu sangat berbahaya!" Nathan berusaha mencegah Jun yang berniat untuk membantu wanita itu.

"Tapi setidaknya kita harus melakukan sesuatu!" balas Jun yang mencari-cari akal untuk menolong wanita itu. Pemuda itu tampak melihat ke sekliling ruangan kamar milik Nathan sampai matanya tertuju pada bola baseball serta tongkat pemukulnya. Tanpa berpikir dua kali Jun langsung mengambil bola beserta pemukulnya itu.

"Hey, mau kau apakan benda itu?" tanya Nathan sambil mengernyitkan alis.

"Diam dan perhatikan saja… " balas Jun yang segera pergi ke beranda depan. Pemuda itu melempar bola tersebut ke atas, lalu dipukulnya bola itu keras-keras ke arah monster-monster itu.

ZYUUUUUUUNGGGG…

DUAGH!

Bola yang dipukul itu melesat cepat dan tepat mengenai salah satu monster kelinci yang ada disana dengan cukup telak. Kelinci itu terdorong ke belakang beberapa meter.

.

Keadaan menjadi hening sesaat, sampai kemudian kelinci yang terjatuh itu bangkit berdiri dan menatap ke arah Jun serta yang lainnya. Bukan hanya itu, kini perhatian semua kelinci tertuju pada mereka. Wanita yang tengah ketakutan itu melihat adanya kesempatan untuk lari. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi sesegera mungkin dari monster-monster mengerikan itu.

"Now what?" sambar Rei yang langsung merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk sebentar lagi.

Benar saja firasat buruk Rei benar-benar terjadi, karena kelinci-kelinci itu tanpa terduga melompati tembok dan pagar yang ada di pekarangan depan milik Nathan.

"Se-sejak kapan dark rabbit bisa lompat seperti itu?" tanya Nathan dengan shock karena di dalam game dark rabbit tidak bisa lompat setinggi itu.

"Sejak kita melihatnya di dunia nyata!" jawab Rei asal nyeletuk. "Dah, mendingan kita buru-buru cabut dari sini sebelum kelinci-kelinci itu melompat kemari!" sambungnya lagi yang langsung menyuruh yang lainnya menyingkir dari beranda setelah dilihatnya kelinci-kelinci itu mulai berusaha melompat ke arah mereka.

Rei bergegas mengambil laptop miliknya juga milik Jun. Begitu juga dengan Nathan yang langsung menyelamatkan laptop miliknya (ini anak dua emang laptop udah bagaikan anak). Untuk sesaat, Rei sempat melihat ke laptop milik Jun yang ternyata belum ada balasan. Dia langsung saja menutup laptop itu dan langsung memasukkannya ke dalam tas, sedangkan laptop miliknya sendiri dia pegang.

.

Nathan mengunci pintu kamarnya untuk menahan para dark rabbit disana, tapi ternyata di luar dugaan. Kelinci-kelinci itu secara bersamaan mendobrak pintu kamar tersebut.

"WHAT? PINTU KAMAR GUE!" Nathan teriak lebay. Pintu kamar yang berposter karen (istri komputernya Plankton) didobrak dengan nista dan udah tergeletak malang di lantai.

"Gak pake nangis-nangis kali! Lo mau bernasib sama kayak itu pintu?" sambar Rei yang langsung berusaha menyeret Nathan yang udah nangis-nangis bombay melihat pintu kesayangannya sudah tak bernyawa (?).

Mereka dengan nekat keluar dari sana meskipun di luar banyak sekali para dark rabbit. Ke empatnya berlari menuju gang sebelah untuk menghindari monster-monster itu.


Sunagakure University…

.

.

Saat itu terlihat sosok Kaoru yang berdiri di atas atap gedung kampus Sunagakure sambil menatap ke arah jalanan. Disisinya berdiri Kurotsuchi dan Aoi.

Saat ketiganya sedang menatap luas ke jalanan, saat itu muncul sosok dari balik pintu.

"Sekarang kau mengerti, kan kenapa kau harus kembali ke Neverland," ucap sosok yang tertutup jubah itu sambil berjalan mendekati Kaoru. Pemuda itu segera berbalik untuk melihat lawan bicaranya. Sosok itu terlihat seperti seorang gadis remaja berusia sekitar 15-16 tahun, dia tertutup tudung yang menutupi wajahnya dan hanya terlihat bagian bawahnya saja dan dari suaranya sudah jelas dia perempuan. Tak ada satu patahpun yang keluar dari bibir pemuda itu. dia cukup mengerti apa yang dimaksudkan sosok yang mengaku sebagai Alice itu. Disisnya berdiri sosok NPC yang waktu itu pernah ditemui Kaoru saat berkemah.

"Kalau kau tidak kembali, aku yakin dalam waktu dua atau tiga hari lagi, kota ini akan dikuasai mahkluk-mahkluk seperti itu… " sambungnya lagi yang seperti memberi sebuah peringatan pada Kaoru.

"Jadi kau menyuruhku kemari hanya untuk melihat hal ini?" balas Kaoru seolah bersikap cuek dengan apa yang dilihatnya saat ini.

"Kau harus kembali mengingat identitasmu sebagai pemegang Neverland karena tanpamu Neverland akan kehilangan keseimbangan, hanya kau yang dapat mengembalikan keseimbangan itu." Alice semakin intens mengatakan hal-hal yang dapat membuat Kaoru semakin terdesak. "Kalau kau tidak melakukannya sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja… Nyawa orang-orang di kota ini akan menjadi taruhannya. Cepat atau lambat monster-monster itu akan membunuh untuk kekuasaan," sambungnya lagi sambil melirik Kaoru yang tampaknya sedang berpikir.

Pemuda itu terdiam sejenak sambil memikirkan kata-kata Alice. Saat itu terlintas di pikirannya mengenai orang-orang yang dia kenal yang menjadi orang-orang terdekatnya selama ini. Tentu dia tidak bisa membiarkan kalau teman-temannya berada dalam bahaya.

"Tanpa kau mengatakan hal itu juga, aku akan tetap melaksanakan apa yang sudah kurencanakan. Jadi jangan khawatir… Aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan," jawab Kaoru yang mengerti kalau dia memang tak ada pilihan lain. Mengorbankan satu nyawa demi banyak nyawa bukanlah suatu hal besar dan dia yakin Sasori pasti akan mengerti nantinya. Sakura merupakan target yang tak boleh dia lepaskan lagi, tapi sebenarnya dia juga ragu apakah dengan kematian Sakura, Sasori bisa menghapus semua perasaannya? Dan ingatan-ingatan itu akan benar-benar menghilang? Bagaimana kalau nantinya hanya akan membawa kepedihan bagi Sasori dan dia malah semakin tak bisa melupakan Sakura.

Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka didengarkan oleh Aoba, Hery, Reiki dan Shun. Ke empat pemuda itu memang sudah memata-matai Kaoru sejak awal dan ternyata yang dikatakan Aoba benar-benar menjadi kenyataan. Bukan hanya mereka berempat, karena saat itu Marie juga turut serta bersama mereka dan jelas saja gadis itu cukup shock mendengar rencana yang ingin dilakukan Kaoru.

"Jadi kau benar-benar bersekutu dengan Alice?" tanya Marie yang sudah tidak tahan lagi akhirnya keluar dari persembunyian dan menghadapi mereka semua.

Kedatangan mereka cukup membuat Kaoru dan yang lainnya terkejut tapi keterkejutan mereka tak berlangsung lama.

"Kalian tidak sopan sekali, menguping pembicaraan orang lain," balas Kurotsuchi sambil melipat tangan di dada. Gadis itu terlihat kembali ke sikap santainya yang biasa seolah pembicaraan yang mereka lakukan hanyalah masalah biasa.

"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu! Lalu Joker… Aku juga tak akan membiarkan mereka memanfaatkanmu!" Marie tanpa terduga langsung mengeluarkan sebuah pedang yang langsung dia arahkan pada Alice yang berdiri di samping.

Trang!

Serangan Marie di tahan oleh Kaoru yang juga sudah mengeluarkan sebuah pedang.

"Aku tidak percaya ini… Kau tidak akan membiarkan mereka memanfaatkanmu, kan?" tanya Marie yang tak mempercayai dengan sikap yang diambil Kaoru.

" … Kalau dengan begitu bisa mengembalikan ingatanku, aku tak akan keberatan," balas Kaoru yang menatap Marie dengan datar.

"You are… Hopeless!" Marie yang kesal akhirnya mengerahkan tenaganya untuk menyingkirkan Kaoru yang sedang menghadangnya. Gadis itu berhasil mendorong Kaoru. Lalu dia melompat tinggi dengan satu incaran, yaitu Alice yang berdiri di belakang Kaoru.

Trang!

Lagi, serangan Marie kembali terhadang. Namun kali ini yang menghadang adalah Aoi dan Kurotsuchi yang dengan cepat melindungi Alice.

"Alice-sama cepat pergi! Biar kami yang menanganinya!" kata keduanya menyuruh Alice untuk pergi. Alice segera melompati gedung itu bersama NPC pendampingnya.

"Tidak akan kubiarkan!" geram Marie sambil menyilangkan pedangnya dan berhasil menghempaskan keduanya ke samping. Sepertinya Marie berniat untuk menangkap Alice. Melihat Alice yang melarikan diri, gadis itu segera mengejarnya. Dia ikut melompati gedung lalu berjalan di bangungn itu turun ke bawah.

Aoi dan Kurotsuchi berusaha untuk mengejar Marie tapi keduanya telah dkepung oleh Aoba, Hery, Reiki dan Shun yang sudah bersiap untuk menghadapi mereka.

"Tch… Menyebalkan!" desis Aoi yang kesal dengan kehadiran empat oramg pemuda itu. Dia langsung mengeluarkan sebuah payung dari tangannya.

"Kaoru! Jangan biarkan gadis itu menangkap Alice-sama!" kata Kurotsuchi yang kemudian dia segera mengeluarkan sebuah pedang. Tampaknya dia berniat untuk melawan Aoba dan kawan-kawan.

"Kejar Marie, Kaoru! Kami tak apa-apa! Kau harus mengejar Marie dan melindunginya!" balas Shun yang menyuruh Kaoru untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Kaoru tak menjawab apa-apa. Dia hanya ikut melompat turun dari sana dan berusaha mengejar Alice dan juga Marie yang sepertinya bernapsu sekali untuk membunuh sang Alice.


Shiin Mansion…

.

.

Di tempat yang berbeda, atau lebih tepatnya di kediaman Shiin. Terlihat Arashi berada di sebuah ruangan dimana K sedang duduk memandanginya dengan tatapan mengancam. Samui, Darui dan Atsui hanya berdiri di belakang Arashi dalam diam, menanti perintah K yang selanjutnya.

"Aku sudah memeriksa data-data mengenai dirimu. Kau adalah mata-mata Otogakure yang bekerja di bawah komando Kabuto. Kalau kau masih mau melihat matahari besok, sekarang katakan padaku semuanya yang kau ketahui dan siapa-siapa saja yang terlibat dalam masalah ini." K tampak begitu tegas berbicara Arashi. Dia tidak memberikan pilihan pada pemuda berusia 22 tahun itu selain mati atau mau bekerja sama dengannya.

"Aku dipekerjakan khusus pada misi ini. Dimana aku ditugaskan untuk melenyapkan kode itu bersama dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya, karena rancangan perang itu bisa memacu perang kembali." Akhirnya Arashi mulai bicara. Dia mengakui identitas aslinya pada K.

"Selain aku, masih ada empat orang lagi yang ditugaskan bersama denganku dan kami semua berada di bawah komando Kabuto. Misi kami, apapun caranya kode dan orang-orang yang terlibat di dalamnya harus musnah agar tidak jatuh ke tangan orang-orang sepertimu!" sambung Arashi lagi sambil megirim deathglare pada K dan berteriak padanya.

"Kurang ajar! Beraninya kau bicara begitu pada tuan kami!" Atsui langsung meledak marah ketika dilihatnya Arashi memaki K. Dia menghajar pria itu dari samping, membuat Arashi yang sudah dalam keadaan terikat tersungkur jatuh.

"Jangan lakukan itu padanya. Aku masih belum menginginkan dia mati, karena aku masih butuh informasi darinya." K menyuruh Atsui untuk bersikap tenang sedikit. Pria berambut pirang itu segera mematuhi ucapan K dan mundur kembali ke belakang.

"Sekarang bisa kau jelaskan, apakah anak-anak yang mengembangkan game Neverland ada kaitannya dengan ini?" tanya K yang mengungkit kembali tragedi kebakaran yang terjadi di Otogakure.

"Ya." Arashi menjawab dengan singkat.

"Semua anak-anak itu tewas dalam kebakaran, apakah itu merupakan konspirasi kalian? Apa anak-anak itu mengetahui tentang rancangan itu juga?" tanya K lagi yang kembali menginterogasi. Dia ingin mencari informasi siapa-siapa saja yang kemungkinan besar mengetahui rahasia yang tersembunyi itu dan bisa saja salah satu dari mereka mengetahui kata kunci untuk membukanya. K selalu memikirkan beberapa opsi untuk menjalankan rencananya.

"Aku tidak tau, karena yang menjalankan tugas itu adalah Kabuto." Sepertinya Arashi menyembunyikan kalau Sasori adalah salah satu korban yang berhasil selamat dalam kebakaran itu dan kemungkinan Sasori mengetahui rancangan itu sangat besar.

"Bukankah kau punya seorang adik bernama Sasame Fuuma?" tiba-tiba saja pembicaraan mereka melenceng. K mengubah topik ke pembicaraan lain dan pastinya dia punya niat tersendiri. Arashi yang mendengar pertanyaan itu mendadak saja merasa marah dan cemas disaat yang bersamaan.

"Sasame Fuuma, 17 tahun. Dia juga sama sepertimu, kan? Kemungkinan besar saat ini dia sedang memata-matai seseorang bernama Jun Yoshida karena anak itu memiliki kata kunci tersebut," sambung K sambil menyeringai.

"Kau… !" Arashi tau kalau K memiliki suatu rencana saat melihat seringai itu. Dia berusaha memberontak dari ikatannya.

"Jaga sikapmu di depan Kaito-sama!" Samui langsung memaksa Arashi untuk berlutut dan menjaga sikapnya.

"Darimana kau tau semua itu?" tanya Arashi sambil memandang K dengan penuh kebencian.

"Kau pikir aku ini bodoh? Aku sudah melakukan pencarian informasi mengenai kalian, selain itu anak dari keluarga Klein dengan senang hati memberi informasi," balas K sambil tersenyum licik. Tentu saja, sebagai pemilik rencana besar dia memiliki anak buah yang sudah dia sebar dan melakukan beberapa kerjasama.

"Tentu saja, itu karena kita memiliki tujuan yang sama." Tiba-tiba saja dari balik pintu muncul seorang pemuda lainnya yang bernama Izky Klein. Dia segera berdiri di sebelah K dan memandang sinis pada Arashi.

"Kurang ajar… Kalau kau berani melakukan sesuatu pada Sasame, aku akan membunuhmu!" Arashi menggeram marah. Dia bersumpah akan mengejar kemanapun K pergi kalau dia berani melukai adik yang sangat dia sayangi itu.

"Tenang saja. Aku tidak akan melukainya selama kau mau bekerjasama denganku. Sekarang telepon adikmu dan suruh dia kemari!" K langsung menyodorkan telepon pada Arashi dan menyuruhnya untuk memanggil Sasame ke tempat K.

"Tch… " Arashi sepertinya melakukan penolakan atas apa yang diperintahkan K padanya.

"Ingat, Arashi. Saat ini aku sudah menyuruh orang-orang untuk mengikuti Sasame, dan kalau kau menolak perintahku, aku bisa menyuruh mereka kapan saja untuk membunuh adik kesayanganmu itu." K mengancam Arashi agar pemuda itu mau melakukan apa yang dia suruh dan K tidak hanya sedang menggertak saja. Saat ini memang ada tiga orang yang sedang mengikuti Sasame dan siap menerima perintah dari K kapan saja.


Disisi jalan terlihat Rei, Nathan, Sasame dan Jun tengah bersandar pada dinding tembok jalan. Ke empat remaja itu agak kelelahan karena berlari dari kejaran para dark rabbit yang muncul dimana-mana.

"Hah… Hah… Gila banget deh! Kenapa mereka bisa bermunculan disini?" Nathan masih belum percaya dengan monster-monster yang biasa dia liat di game malah muncul di sekitar daerah mereka.

"Udah gitu banyak banget lagi!" timpal Rei sambil mengingat hampir seluruh gang yang mereka lalui pasti bertemu dengan monster-monster itu.

"Kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian… " tiba-tiba saja muncul Raijin dan Fujin kembali dan kali ini anggota mereka bertambah satu dengan sosok Alvaro yang entah sejak kapan bergabung dengan mereka.

"Tidak mungkin, mereka lagi! Ayo cepat lari!" kata Rei yang masih trauma dengan pengalamannya saat dikejar-kejar dua babon raksasa itu. Secara reflek Rei menyuruh yang lainnya untuk lari dari sana.

"Kalian tidak bisa lari kemana-mana karena kalau kalian berani lari, itu artinya sama saja dengan mati!" balas Alvaro yang langsung menodongkan sebuah senjata laras panjang yang siap dia tembakkan kapan saja.

Melihat senapan yang ditodongkan ke arah mereka tentu membuat ke empat remaja itu terdiam dari tempatnya. Salah-salah mereka akan benar-benar tertembak. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kode itu akan benar-benar jatuh ke tangan K? Lalu bagaimana dengan nasib Hery, Reiki, Shun dan Aoba? Bagaimana pengejaran Kaoru? Apa dia akan melawan Marie atau dia malah menolongnya?

TBC…


Yuki : Sepertinya fic Neverland Side Story akan tetap berlanjut karena tinggal menghitung countdown saja dan sebisa mungkin akan segera saia tamatkan. Untuk judul pada chapter ini bukan hanya antara Alice dan Marie saja, tapi mencakup ke orang-orang yang berada di masing-masing pihak. Sekali lagi saia ingin katakan mengenai chara death yang kemungkinan bisa terjadi, saia jangan dicincang ya! *ngumpet*.

Baiklah, terima kasih atas semua dukungannya dan maaf kalau agak telat update. Bagi yang mau kirim ide, saran, pendapat atau saran atau tanya-tanya silahkan lewat PM atau review, sebisa mungkin akan dibalas. Semoga teman-teman bisa terhibur.

.

.

"Saia ingin mengucapkan Happy X-mas and Happy new year!".