Hiya, guys…. Foto-foto RobSten di Coachella benar-benar membuatku bahagiaaaa! Tahun ini foto-foto mereka lebih banyak. Dan mereka bergandengan tangan, lagi. Awwww, *melting* Hatiku benar-benar bisa meledak saking bahagianya.

Anw, maaf sedikit terlambat. Minggu ini benar-benar minggu yang sibuk untukku dan modem… *sigh* tapi aku tetap berusaha agar bisa update chapter ini.

Masih ada yang marah karena chapter 27 kemarin berakhir seperti itu? *hiding* Well, go on. Tapi sebelumnya, baca chapter ini dulu, okay?

Enjoy!


Bella PoV

AFTERMATH

Setelah sampai di Bandara aku menelfon Ibuku. "Hello?"

"Mom…" Suaraku terdengar aneh, bahkan ditelingaku sendiri.

"Bella!" Renee terdengar lega. "Kau dimana, apa kau baik-baik saja? Apa…" Ibuku mulai berbicara tak karuan.

"Mom, aku baik-baik saja. Sekarang aku ada di bandara."

"Bandara?"

"Yeah, aku mau pulang." Jawabku lemah.

"Apa Alec denganmu? Bukankah seharusnya mau masih ada di acara pernikahan? Bella, ada…?"

"Mom, tolong, bisakah kita tidak membicarakan masalah ini di telfon?" Lalu terdengar pengumuman keberangkatan pesawat yang aku tumpangi. "Mom, aku harus pergi, pesawatku sudah mau berangkat."

"Baiklah. Mom akan jemput di bandara."

"Okay. Thanks, mom."

"Hati-hati, sayang."

Setelah selesai bicara dengan Ibuku, kuputuskan untuk mematikan ponselku. Aku tidak ingin mendengar apapun dan dari siapapun. Aku hanya ingin berada di tempat dimana hanya ada aku dan…

Aku mendesah. Tidak, sekarang hanya ada aku saja.

Perjalananku aku habiskan hanya dengan diam. Untungnya orang yang duduk disebelahku mengerti kalau aku tidak ingin mengobrol. Tapi bukan berarti dia tidak mencoba.

Jacob Black, Ia memberitahuku namanya, tapi aku hanya mengangguk dan tidak menyebutkan namaku. Mungkin itu terlalu kasar, tapi aku hanya ingin sendiri.

Akhirnya pesawat yang aku naiki sampai di bandara Sea-Tac. Segera aku keluar dari pesawat tanpa melirik orang yang ada disebelahku. Kalau aku melihat kearahnya sekali saja, pasti dia akan bertanya macam-macam.

Aku tidak tahu apakah Ibuku sudah sampai atau belum, tidak ada sosok Renee diantara orang yang berlalu lalang, jadi dengan terpaksa kuambil ponselku dan ku hidupkan lagi. Segera setelah hidup, kutelfon Ibuku.

"Mom, aku sudah sampai. Mom dimana?"

"Oh, honey. Maaf, tadi ada kecelakaan dijalan jadi jalanan macet. Mom hampir sampai, kau tunggu saja."

"Okay."

Dengan terpaksa aku duduk dikursi plastic keras sambil menunggu Ibuku. Kupejamkan mataku sejenak. Berharap bisa tidur. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Ponselku berbunyi. Jangan bilang kalau Ibuku masih berada dijalan.

Kulihat layar ponselku sebelum menjawabnya dan sial, dari Alice. Kutepuk jidatku, aku lupa untuk mematikan ponselku lagi. Kalau aku biarkan, Alice sangat keras kepala. Dan dia akan terus menelfon atau mencariku dimanapun aku berada.

Kuhembuskan nafasku dalam-dalam. Kenapa hanya untuk menenangkan diri saja terasa sangat berat?

"Hello?"

"Bella!" Alice berteriak, seolah tidak percaya kalau aku mengangkat telfon darinya. "Dimana kau? Kenapa kau tidak ada di acara pernikahan ini? Kau harusnya…"

"Alice, aku harus pergi sebelum upaca pernikahannya selesai. Aku tidak…aku berusaha untuk tetap disana tapi aku tidak bisa." Air mataku terancam untuk keluar.

"Bella, harusnya kau jangan pergi."

"Maaf, Alice, tapi aku bukan orang yang suka menderita." Suaraku sedikit kasar, aku tidak pernah bicara dengan nada seperti itu pada Alice. "Sorry, Alice, aku hanya tidak bisa."

"Dimana kau sekarang? Semua orang mencarimu."

"Aku ada di bandara, menunggu Ibuku menjemputku."

"Renee? Kau ada di Seattle?"

"Yeah."

"Oh, Bella. Seharusnya kau tetap disini, jadi kau…"

"Alice, aku harus pergi, Ibuku sudah sampai."

"Tapi Bella…" Kuputus sambungan telfon dan langsung kumatikan lagi ponselku. Sekarang aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku lagi.

Kurasakan seseorang menyentuh pundakku. Kuangkat kepalaku untuk melihat siapa yang ada disampingku. Air mataku keluar semakin deras setelah melihatnya. Akupun langsung memeluk dan menangis didalam pelukannya.

"Honey."

"Mom." Ibuku memelukku dengan erat dan membiarkanku menangis di dalam pelukannya.

"Sshh. Mom disini." Renee berusaha menenangkanku, mengusap rambutku. Tangisku semakin menjadi-jadi. "Semuanya akan baik-baik saja, saying."

Tidak, mom, kau salah. Semua tidak akan baik-baik saja. Mungkin dua tahun yang lalu aku bisa bertahan karena aku bisa punya keyakinan bahwa Edward masih disini dan akan kembali untukku. Tapi saat ini tidak sama seperti dulu. Edward sudah disini, tapi dia tidak bisa kembali untukku.

Pemahaman itu menimbulkan tangis baru. Menyadarkanku bahwa ini benar-benar sudah berakhir.

~oEOBo~

"Bella, kau mau kemana?"

Aku pikir tidak ada orang dirumah. Setelah Ibuku sampai, Ia harus pergi. Ada pertemuan rutin dengan kelompok sanggarnya. Dan aku langsung masuk kekamar. Aku tidak tahu kapan, tapi akhirnya aku bisa tidur. Mungkin karena terlalu capek menangis.

"Oh, hy, Dad." Jawabku sambil berjalan ke dapur. Ayahku sedang duduk di meja makan sambil membaca Koran paginya. "Apa yang kau lakukan jam segini masih dirumah?" Biasanya jam Sembilan sudah tidak ada orang dirumah.

"Tidak apa-apa, aku hanya berangkat sedikit siang dari biasanya." Oh? Tapi kenapa ada yang sedikit aneh?

"Dad, jangan bilang kalau Dad belum berangkat karena aku."

"Huh?" Wajahnya memerah. "Apa yang kau katakan?" Aku hanya mengangkat bahu. Charlie beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan ketempat dimana Ia menyimpan Jaket dan Pistolnya. "Jadi, kau mau kemana?" Tanyanya lagi.

"Oh, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar." Jawabku sekenanya.

"Well, apa kau mau ikut ke kantor?"

"Aku?"

"Tentu kau, memangnya aku bicara dengan siapa?"

"Tidak, terima kasih." Kali ini benar-benar aneh. "Dad, kau ini kenapa?" Tanyaku melihat sikapnya yang aneh.

"Tidak apa-apa, memangnya aku tidak boleh mengajakmu?" Kuputar bola mataku.

"Dad, aku baik-baik saja. Kau tidak menjagaku."

"Bella…"

Kupotong perkataan Ayahku. "Berangkat saja, Dad. Aku akan baik-baik saja."

Charlie mendesah dan memelukku. "I love you, baby."

"Love you, too, Dad."

Setelah mobil patrol Charlie tidak terlihat lagi, aku segera keluar dari rumah dan menguncinya. Kuputuskan untuk jalan kaki saja mengingat cuacanya bagus. Jarang-jarang di Forks cuacanya sebagus ini.

Aku berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya aku sampai di tempat dimana hanya aku dan Edward yang tahu. Tempat biasa kami bersembungi. Tempat dimana kami biasa membicarakan semua hal yang hanya ingin kami bagi berdua. Tempat dimana kami menyimpan impian dan keinginan kami. Our Meadow.

Dibulan ini bunga-bunga liar bermekaran dengan warna ungu, biru dan putih yang tersebar diseluruh Meadow. Disebelah kiri ada dua buah ayunan yang menggantung dipohon kesukaan kami. Ayunan-ayunan itu bergerak seirama dengan hembusan angin disekitarnya.

Aku berjalan menuju pohon itu, berjongkok dibagian dimana kami menguburkan sesuatu disana. Aku mencari sesuatu yang bisa menggali tanah. Kuambil ranting pohon yang berada tidak jauh dari tempatku. Aku mulai menggali sampai akhirnya kutemukan apa yang aku cari.

Kami berjanji jika ada sesuatu yang terjadi pada salah satu diantara kami, yang lainnya akan datang kemari untuk mengambil barang-barang yang kami kuburkan disini. Dua tahun yang lalu aku bersikeras untuk tidak menggalinya, tapi sekarang aku sudah menggalinya dan menemukan kotak rahasia kami.

Kubawa kotak itu dan duduk diayunan kami. Kuambil nafas dalam-dalam sebelum membukanya.

Didalam ada kotak music yang Edward buatkan untukku. Novel kesukaanku, Wuthering Heigh. Aku tertawa mengingat saat itu, Edward selalu mengatakan padaku bahwa ini bukan kisah cinta tapi kisah benci. Kugelengkan kepalaku.

Berikutnya ada dua buah cincin yang kami menangkan dari kotak mainan. Edward bilang bahwa suatu saat nanti Ia akan memberikan ini untuk orang yang akan dinikahinya. Dan aku bilang mana mau ada orang yang menerima cincin mainan seperti itu. Tapi aku salah, karena sekarang aku berharap Edward benar-benar memberikannya untukku. Tapi aku bukanlah orang yang Ia nikahi.

Terakhir ada dua buah gulungan kertas. Edward menyuruhku untuk menggambar sesuatu di dalamnya. Aku bilang kalau darah seni tidak mengalir didirku. Tapi Edward tetap bersikerans agar aku menggambar sesuatu didalamnya. Sesuatu yang kuinginkan saat aku dewasa nanti. Aku menggambar Edward dan diriku sendiri. Aku membawa beberapa buku ditangan. Aku ingin menjadi seorang penulis. Tapi aku kehilangan satu-satunya inspirasiku.

Edward bilang kalau kami tidak boleh memberitahukan gambar kami kepada siapapun jadi aku tidak tahu apa yang Edward gambar. Tapi ini sudah jadi milikki, jadi aku bisa membuka gambar miliknya.

Kuambil gulungan kertas Edward dan membuka secara berlahan. Aku terkesiap melihat apa yang ada di dalamnya. Dibelakang ada sebuah rumah lengkap dengan mobil dan taman depan. Lalu ada dua orang yag bergandengan di depan. Satu laki-laki dan satu perempuan. Yang membuat air mataku semakin deras adalah tulisan dibawah gambar kedua orang ini.

Dibawah gambar laki-laki itu ada tulisan "Edward" dan dibwah gambar yang satunya bertuliskan "Bella". Lalu dibawah tulisan itu ada sebaris kalimat.

My future Life

Love

Edward

Kupejamkan mataku dan kupeluk kertas milik Edward. Andai keinginannya ini menjadi kenyataaan. Betapa aku menginginkan ini menjadi kenyataan.

Entah berapa lama aku duduk sambil memeluk gambar Edward dan menangis. Tapi aku bisa merasakan kehadiran seseorang disini.

"Aku pikir kau sudah membukanya dua tahun yang lalu."

Suara itu sangat dekat dan sangat nyata. Tapi itu tidak mungkin. Apa aku sudah benar-benar gila hingga menciptakan imajinasi ini? Kubuka mataku dan menoleh kearah suara itu.

Mata hijau itu menatapku dengan tatapannya yang lembut. Diusapnya air mataku dengan jari-jarinya. Sentuhannyapun terasa sangat nyata.

"Kau tahu aku paling tidak suka melihatmu menangis." Ucapnya dengan nada suaranya yang menenangkan. Aku masih terus menatapnya. Berdoa jika ini memang hanya permainan pikiranku, agar tidak pernah berakhir. "Apa kau tidak akan mengatakan sesuatu?" Edward masih terus menatapku.

"Aku bahagia jika imajinasiku ini tidak pernah berakhir."

Alis Edward bertaut lalu tersenyum. "Tidak ada imajinasi disini."

"Apa kau mau bilang kalau semua ini nyata? Kalau kau benar-benar ada disini?" Tangan Edward masih berada di pipiku bergerak untuk meraih tanganku. Dibawanya tanganku ke pipinya.

"Apa kau bisa merasaknnya? Merasakan kalau aku disini, aku nyata dan aku bersamamu?"

Air mataku mengalir lagi. Aku benar-benar bosan menangis. Air mataku juga mengaburkan pandanganku. "Aku berharap ini nyata." Jawabku lalu kutundukkan wajahku.

Edward meraih daguku dan mengangkat wajahku agar Ia bisa melihatku. "Akan kubuktikan kalau aku nyata." Detik berikutnya kurasakan bibir Edward menempel dibibirku. Bibirnya yang hangat dan lembut bergerak dibibirku. Kubalas ciumannya. Selama beberapa detik kami berciuman sebelum Edward menyudahi ciumannya. Edward menarik wajahnya dan kembali menatapku. "Apa itu sudah cukup nyata?"

Aku diam beberapa saat. Aku masih berpikir bahwa ini hanya permainan imajinasiku saja, tapi ciuman tadi terlalu nyata. Kuangkat tanganku dan menaruhnya piwajah Edward, menelusuri garis –garis wajahnya dengan tanganku. Edward pun melakukan hal yang sama. Dan saat itu jugalah aku sadar kalau Edward benar-benar nyata ada disini bersamaku.

"Apa yang kau lakukan disini?" Pertanyaan itulah yang pertama melintas diotakku.

Edward tersenyum, menggenggam tanganku dengan kedua tangannya dan menaruhnya dipangkuannya. Aku hanya menatapnya dan terus menatapnya.

"Apa kau belum menyalakan ponselmu lagi?" Kugelengkan kepalaku. "Well, andai saja kau tidak mematikan ponselmu pasti kau sudah tahu jawabannya."

Kupandang Ia dengan wajah penuh kebingungan.

Edward PoV

Bella hanya menatapku dengan wajah bingungnya yang sangat lucu. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya.

"Kau seharusnya tinggal lebih lama lagi."

"Dan melihatmu menikahi orang lain? Aku rasa tidak." Aku tertawa mendengarnya. "Apa aku mengucapkannya keras-keras?" Tanya Bella. Aku mengangguk

"Karena kau tidak tinggal, jadi aku harus menceritakannya padamu. Dengarkan baik-baik sebelum kau bicara, okay?" Bella mengangguk dan akupun memulai ceritaku.

~oEOBo~

"Edward, apa kau baik-baik saja?" Emmett bertanya padaku.

"Apa aku terlihat baik-baik saja? Hari ini aku akan menikah tapi bukan dengan orang yang aku cintai!" Aku membentak Emmett. "Maaf, Emmett, aku tidak bermaksud membentakmu."

"Santai, bro. Tapi kau harus mengendalikan emosimu. Kau tidak ingin terjadi apa-apa diluar sanakan?" kututup mukaku dengan kedua tanganku. Terdengar sara orang mengetuk pintu.

"Sudah saatnya berangkat." Mr. Hunter a.k.a "ayahku" berdiri di depan pintu. Aku mengangguk dan berjalan kearahnya.

Aku hanya diam saat berada didalam mobil menuju ke gereja. Jika aku bicara, aku bisa benar-benar kehilangan control. Setelah sampai aku disuruh bergegas untuk masuk. Aku melihat orang tuaku sudah berada disini, Alice dan Jasper duduk disebelah mereka. Tapi aku sama sekali belum melihat Bella. Well, aku sama sekali tidak menyalahkannya kalau Ia tidak datang.

Emmett mendekatik dan berbisik. "Bella datang. Rose baru saja memberitahuku."

Kuanggukkan kepalaku. "Terima kasih." Kataku dan musikpun berbunyi. Aku ingin lari dari tempat ini, tapi aku melihat Jane berjalan kearahku dengan senyum tersungging diwajahnya dan aku ingat, aku tidak bisa pergi kemanapun. Dan aku masih belum melihat Bella.

Jane akhirnya sampai didepanku. Aro menaruh tangan Jane ditanganku dan kamipun berbalik menghadap pastur yang akan menikahkan kami. Seperti biasa, Ia memulai upacara pernikahan ini sampai saat dimana aku harus mengatakan "saya bersedia", tapi aku belum bisa menjawabnya. Aku tidak bisa menjawabnya. Jane terus menatapku.

"Edward," Sang pendeta memanggilku. "apa kau bersedia?"

Aku menunduk sebelum menjawab. "Tidak." Akhirnya..tunggu, itu bukan suaraku. Kuangkat wajahlu dan menatap Jane. Ia masih tersenyum melihatku. Terdengar orang-orang berbisik disekitar kami.

"Jane?" Aro memperingatkan Jane.

"Tidak, Dad, pernikahan ini tidak bisa dilaksanakan." Jane menghadap Ayahnya. "Bagaimana bisa kau memaksakan hal semacam ini? Yeah, aku sudah ingat. Dan aku juga ingat kalau dia bukan Tony." Apa? "Jadi bagaimana aku menikah dengan seseorang yang tidak ada?"

Aro hanya terdiam. Jane kembali menatapku. "Edward." Aku terkejut mendengar Ia menyebut namaku. "Maafkan aku karena aku membawamu kesituasi seperti ini." Aku ingat kau bukan Tony setelah kau membawaku kerumah sakit waktu itu. Tapi aku begitu egois dan tidak ingin kehilanganmu juga. Aku sudah pernah kehilangn orang yang aku cintai, Tony yang sebenarnya, atau orang-orang lebih senang memanggilnya James. Dan aku tidak ingin kehilanganmu juga. Tapi keegoisanku menyakiti banyak orang. Kau, keluargamu, Alec dan Bella."

Mendegar nama Bella padanganku langsung tertuju pada orang-orang yang sedang duduk melihat kami. Berharap Bella muncul, tapi sama sekali tidak ada tanda keberadaannya disini.

"Aku seharusnya tidak melakukan ini. Tapi sepertinya darah egois Ayahku menurun padaku." Jane tertawa ironis. "Aku berpikir kalau Bella akan berjuang habis-habisan setelah apa yang Ia lalui selama ini. Tapi tidak, dia lebih memilih mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Jadi bagaimana bisa aku menyakiti orang sebaik itu?" Jane tersenyum dan mendekat kearahnya. Diraihnya kedua tanganku dengan Dua tangannya. "Aku benar-benar minta maaf dan kau tidak perlu berkorban untukku juga."

"Tapi kau sedang sakit."

"Yeah, tapi bukan berarti aku sekarat." Jane berusaha bercanda, tapi candaannya jelas tidak lucu. "Pergilah Edward. Tempatmu bukan disini, tapi bersama Bella. Ia duduk dibangku deretan ketiga dari belakang."

Aku langsung memutar badanku dan Jane melepaskan tanganku. Pandanganku langsung tertuju ketempat yang dimaksud Jane, tapi Bella tidak ada disana. Lalu Alice berdiri.

"Bella pergi tepat sebelum Jane menjawab pertanyaan pastur."

"Apa?" Aku berjalan menghampiri Alice. "Bisa tolong kau telfon Bella?" Alice mengangguk dan mengambil ponselnya.

Aku menunggu beberapa menit dan setelah beberapa kali berusaha menelfon akhirnya Alice menyerah. "Nomornya tidak aktif."

"Akan kucoba telfon kerumah pamanku." Alec menawarkan diri. Aku tidak sadar kalau tamu-tamu yang hadir mulai pergi. Esme berjalan kearahku dan memelukku. Kubalas pelukannya.

"Tidak ada yang mengangkat telfon."

"Kemana kira-kira Bella pergi?" Kali ini Rosalie yang bertanya.

"Sebaiknya kita mencarinya saja. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya." Semua orang mengangguk setuju dengan usulku. Tapi Jane hampir terjatuh karena pusing. Jadi aku minta supaya Alec menjaganya. Sekarang aku paham kenapa Alec begitu mengkhawatirkan Jane. Ia jatuh cinta pada Jane.

Selama beberapa jam kami berpencar untuk mencari dimana Bella, tapi tidak ada yang berhasil. Aku hampir menyerah tepat saat Alice menelfonku.

"Aku tahu dimana Bella." Tanpa mengucapkan salam atau apa Alice langsung memberitahuku dimana Bella. "Dia pulang ke Forks. Dia baru saja sampai di Sea-Tac."

"Oh, terima kasih Tuhan. Aku akan langsung menyusulnya."

"Tunggu dulu, Edward. Apa kau akan berencana kembali kesini?"

"Untuk apa aku kembali kesini? Tempatku ada di Forks." Aku tidak paham dengan maksud perkataan Alice.

"Okay kalau begitu, kau sebaiknya menegemasi barangmu."

Apa? "Alice, tidak ada waktu untuk itu." Aku panik. Aku tidak mungkin menunggu lagi untuk memberitahu Bella.

"Tenanglah, Edward. Aku sudah menelfon Charlie dan memberitahu apa yang terjadi. Tapi aku memintanya untuk tidak memberitahu Bella. Sekarang Ia sedang tidur di kamarnya. Jadi kau punya waktu untuk berkemas."

"Kau memang benar-benar jenius. Alice."

"Yeah, yeah."

~oEOBo~

"Jadi kau tidak jadi menikah?"

"Tidak. Aku tidak akan menikah jika tidak denganmu." Aku melihat kotak yanga ada dipangkuannya dan melihat dua buah cincin milik kami. Kuambil cincin itu dan kuamatinya. "Aku masih ingat cincin ini. Dan aku juga ingat bahwa kau bilang tidak aka nada yang menerimanya. Jadi, aku akan memberikan cincin ini padamu saja." Aku berdiri dan berlutut dengan sat kaki didepan Bella. Ia terkesiap melihat posisiku.

"Isabella Marie Swan, aku berjanji akan mencintaimu setiap hari selamanya. Maukah kau membuatku merasa terhormat dengan menikah denganku?" Tanyaku dengan memegang cincin plastic ditanganku.

Air mata megalir dikedua pipi Bella, tapi ada senyum diwajahnya. "Ya." Jawabnya singkat. Aku tidak bisa membendung senyum yang merekah diwajahku. Kupeluk Bella dan kuangkat dia, kami berputar-putar sambil tertawa. Aku berhenti dan menurunkan Bella. Kutaruh cincin plastic kami di kantong.

"Umm, Edward, apa yang kau lakukan? Bukankah seharusnya kau memakaikan cincin itu di jariku." Tanyanya bingung.

"Oh, percayalah, aku akan memakaikan cincin dijarimu." Lalu aku mengambil cincin yang sebenarnya. Cincin yang akan aku berikan sebelum aku mengalami kecelakaan. "Aku sudah punya cincin ini sebelum aku mengalami kecelakaan itu. Aku berencana untuk melamarmu setelah kau pulang dari Phoenix tapi semua itu tertunda dan baru sekarang aku bisa memberikannya padamu."

Kuangkat tangan kirinya dan kupasang cincin pertungan kami dijari manisnya. Tersenyum bahagia melihat akirnya cincin itu bisa berada di tempatnya.

Kutatap lagi Bella. Ia tersenyum, air mata masih keluar dari mata indahnya. "Selamanya?"

"Selamanya."


See? This is not bad. *grinning* Aku kan team Edward, team Bellward, jadi Bella dan Edward selalu bersama. *giggling*

So, any thought? I'm dying to hear from you, guys.. So hit me with your review and you'll make my day.

See you Saturday…

Love,

B