Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, OOC, OC, Creature! Harry, Twin! Draco, Mpreg, typo, etc.

Rating: M

Genre: Romance, Adventure

Pairing: DMHP, BZNL. etc


CHASING LIBERTY

By

Sky


Tangannya terasa panas seperti ia tengah memegang zat asam yang sangat kuat, bahkan Draco sendiri bisa merasakan kalau kulit tangannya melepuh akibat panas tinggi yang diakibatkan oleh tombak petir yang saat ini ia pegang dengan erat. Semua itu ia hiraukan begitu saja, dari rasa sakit sampai panas yang membara, semua itu ia tidak pedulikan karena ada satu tujuan yang ingin ia tuntaskan saat ini, yaitu membunuh makhluk terkutuk yang ada di depannya sekarang ini.

Tanpa Blaise mengucapkan sepatah kata apapun padanya, Draco juga sudah tahu kalau temannya itu merasa khawatir pada dirinya, terutama dengan memanggil tombak yang saat ini tengah Draco pegang. Benda yang dipegang Draco adalah benda yang sangat berbahaya, sebuah tombak yang sangat terkenal tidak bisa dipegang oleh seseorang tanpa mengorbankan jiwa orang tersebut. Biasanya mereka yang telah menggunakan benda itu akan langsung terbakar di tempat saat semua yang mereka lakukan selesai, dan sampai beratus-ratus tahun semenjak benda itu muncul di muka bumi ini telah banyak menimbulkan korban yang berjatuhan akibattnya. Sekarang Draco memegang benda itu, apakah pemuda berambut pirang tersebut tidak takut kalau kematian akan menjemputnya nanti? Seperti itulah pertanyaan yang muncul di dalam benak Blaise, tapi ia pun tidak bisa melarang sebab kelihatannya Draco telah bertekat untuk memusnahkan Chimmera dengan cara apapun, meski itu artinya adalah mengorbankan diri untuk memenangkan pertempuran ini.

"Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan tombak petir terkutuk itu, Dray, tapi aku harap kau tahu apa konsekuensinya setelah semuanya selesai," ujar Blaise, rasanya ia ingin memukul kepala kawannya karena telah melakukan hal yang sangat bodoh dan berada di luar nalar.

Draco mengayunkan tombak petir yang menyala-nyala itu, layaknya sebuah kilat yang dipegang dan siap ia lontarkan ke arah jantung sang makhluk berkepala tiga itu, sang Hippogrif yang mereka tunggangi tengah menghindari serangan demi serangan yang Chimmera berika pada mereka.

"Tidak perlu kau beritahu pun, aku sudah tahu konsekuensinya, Blaise, dan aku siap menerima risikonya kalaupun nyawakulah yang nanti jadi pertaruhannya," sahut Draco dengan nada serius. Saat ia mengucapkan itu, Draco mengambil salah satu dari tongkat kembarnya yang tadi berada di kantungnya dan dengan cepat ia mengayunkannya ke arah langit secara horizontal.

"Fyendfire!" Lidah api yang luar biasa besarnya itu muncul di permukanan atmosphere yang berasal dari ujung tongkat sihir yang Draco pegang, lidah api yang begitu besar itu langsung mengitari keberadaan mereka berdua bersama sang Chimmera berada di dalamnya, mempersempit ruang tempat mereka bergerak sehingga makhluk yang besar tersebut tidak mampu bergerak secara leluasa apalagi menghindar dari serangan yang nantinya akan Draco lakukan.

Rasa panas akibat sambutan lidah api pada tombak petirnya serta rasa panas dari sihir api yang ia lakukan cukup membuat setengah sihir yang ia miliki pudar, bahkan nafasnya yang tadinya teratur kini serasa berat dan ia ingin kehilangan kesadarannya saat itu juga. Blaise yang menyadari keadaan temannya itu pun juga langsung mengeluarkan tongkat sihirnya, ia memutar benda itu searah jarum jam sebanyak satu kali dan mengacungkannya ke atas langit. Langit yang temaram itu pun serasa terbelah saat sebuah cahaya yang sangat besar pun muncul dari sana dan langsung menghantam tubuh Chimmera, membuat tubuh bersisik milik makhluk itu melepuh akibat cahaya berwarna kuning yang Blaise panggil lagi.

"Effern Ludish…" Penyihir muda berdarah Italia itu bisa merasakan sihirnya terserap begitu cepat, mengalir seperti air terjun yang sangat besar ketika ia memanggil cahaya itu.

Baik Draco dan Blaise bisa melihat bagaimana Chimmera tersebut mengamuk hebat, tidak hanya tubuhnya melepuh karena serangan fatal dari Blaise, namun sihir api dari Draco itu juga ikut menyerang dan mengitarinya sehingga tidak dapat membuatnya melarikan diri lagi.

"Blaise…" Panggil Draco dengan penuh arti kepada temannya tersebut, kedua tangannya saat ini tengah sibuk dengan memegang tombak petir dan tongkat sihirnya, sementara pedangnya tadi ia selipkan begitu saja di pinggang.

"Aku mengerti," ujar Blaise seraya mengangguk. Pemuda itu pun mengambil alih sihir api yang Draco lakukan tadi menggunakan tongkat sihirnya dengan cepat.

Pengambilalihan serangan sihir seperti yang dilakukan oleh Draco dan Blaise memang tidak asing lagi bagi para penyihir, namun sudah tidak pernah dilakukan lagi karena tingkat berbahayanya yang tinggi. Tapi Draco sangat mempercayai Blaise layaknya pemuda itu adalah saudaranya sendiri, begitu pula dengan Daphne, oleh karena itu mereka bertiga itu saling mempercayai satu sama lainnya untuk melakukan pengambilalihan sihir seperti ini.

"Terima kasih," kata Draco dengan singkat. Kedua bola mata silver kebiruannya itu melihat bagaimana sang sihir api yang besar itu terbelah dan mengitari sang Chimmera yang saat ini tengah dikekang oleh cahaya dari langit yang dibuat oleh Blaise tadi, dari tempatnya duduk di atas punggung Hippogriff itu pun Draco bisa melihat bagaimana kemarahan sang Chimmera menggelegar dan berniat untuk memberontak pergi dari kepungan serangan yang mereka berdua lakukan, hanya saja semua tindakan pemberontakan itu hanyalah sia-sia belaka.

Draco melihat ke bawah, ke arah tangannya yang memegang kedua benda sihir tersebut. Pemuda itu tidak merasa terkejut lagi saat ia menemukan kedua telapak tangannya melepuh dan berdarah seperti itu, sepertinya ia harus datang menemui Perenelle untuk mengobati kedua tangannya setelah ini bila tidak ingin Harry merasa cemas karena perbuatannya yang dinilai sangat gegabah.

"DRAY….BLAISE!" Sebuah suara feminim yang sangat familier pun terdengar memanggil nama mereka, membuat perhatian mereka berdua teralih untuk sesaat sebelum kembali lagi ke arah makhluk terkutuk yang saat ini mereka kekang menggunakan sihir.

Sebuah rantai yang muncul dari udara pun tiba-tiba terbentuk, rantai itu berwarna silver bercahaya dan langsung mengikat keempat kaki sang Chimmera beserta ketiga kepalanya dan ekornya tersebut. Rantai tersebut mengikat secara kuat sampai-sampai sang makhluk terkutuk itu tidak mampu bergerak, bahkan untuk meronta sekalipun.

"Untung aku masih sempat," ujar seorang gadis berambut pirang yang tengah menunggangi sebuah sapu terbang dengan membawa tongkat sihirnya di tangan kanannya. Di punggung gadis itu juga terikat sebuah pemanah dan beberapa anak panah yang ada ada di dalam tempatnya. "Dray…Blaise….kalian berdua terlihat buruk sekali."

Blaise yang tengah memusatkan konsentrasinya pada sihir api yang saat ini tengah ia lakukan hanya bisa mendesah kecil, merasa tidak percaya namun lega untuk beberapa saat lamanya akan kedatangan makhluk cerewet namun ia anggap sebagai saudarrinya itu. Daphne Grengrass benar-benar tiba tepat waktu.

"Daphne," kata Draco mengucap nama gadis itu sebelum memberinya anggukan kecil, tanda kalau ia mengakui keberadaan Daphne di sini.

Kedua mata silver kebiruan Draco beranjak dari sosok cantik gadis itu untuk tertuju pada panah Arte yang Daphne miliki sebelum mereka kembali menatap sosok Daphne yang balik menatapnya dengan penuh arti, tanpa keduanya mengucap sepatah kata lagi mereka pun langsung mengerti maksud satu sama lainnya. Daphne yang saat itu menunggangi sapu terbang langsung mendekat ke arah kedua sahabatnya dan ia pun berpindah dari sapu terbang itu ke atas punggung Hippogriff, hal ini juga dilakukan oleh Draco yang berganti tempat dengan Daphne. Pemuda berambut pirang platinum itu pun menggunakan sapu terbang yang tadi ditunggangi oleh gadis itu sebelum ia terbang mendekat ke arah Chimmera.

"Merlin, aku akan menyukai momen-momen seperti ini, dimana kita bertiga akan menghajar makhluk sialan milik Dumbledore ini," ujar Blaise yang kelihatan semakin bersemangat.

Bahunya yang lebar itu langsung dipukul secara singkat oleh Daphne yang duduk di belakangnya. "Jangan lupakan aku dalam kesenangan ini, Blaise, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu. Nah, kita lakukan sekarang juga!"

"Tentu saja, Daph! Dray…. Kau siap?!" teriak Blaise, pemuda berkulit cokelat itu mengayunkan tongkatnya ke samping dan memberi ruang pada Draco yang mendekat ke arah Chimmera.

"Aku siap kapan pun!" Teriak Draco juga, wajahnya yang tadinya sedikit lesu kini juga kembali berseri, ia mengayunkan tombak petirnya dan menoleh ke arah Blaise dan Daphne.

Api fyendfire yang berwarna merah tadi kini berubah warna menjadi putih, panasnya api yang mengelilingi makhlu raksasa itu juga bertambah semakin panas layaknya api abadi yang mampu memanggang apapun menjadi abu dan tak bersisa. Blaise benar-benar mengerahkan semua tenaganya untuk melumpuhkan Chimmera. Di samping itu, rantai milik Daphne yang membelit tubuh besar Chimmera juga berubah warna menjadi biru laut dengan duri-duri tajam yang terbuat dari besi panas menyelimutinya, mengikat tubuh Chimmera sampai makhluk itu tidak mampu bergerak. Secara berhati-hati baik Draco maupun Daphne pun berdiri dari tempat mereka duduk, baik itu di atas punggung hippogriff maupun sapu terbang.

Daphne yang membawa panah Arte miliknya langsung mengambil busur dan anak panahnya, mengarahkan benda tajam itu ke arah Chimmera tepat di jantung makhluk tersebut. Hal itu pun juga dilakukan oleh Draco yang sedari tadi tengah menahan rasa sakit akibat permukaaan tangannya terbakar oleh tombak petir miliknya. Ia mengarahkan tombak yang diselimuti oleh sihir penghancur itu ke arah jantung sang makhluk besar.

"SEKARANG!" Teriak Draco dengan memberi aba-aba kepada gadis berambut pirang itu.

Tombak petir milik Draco serta anak panah milik Daphne itu pun melesat menuju ke arah Chimmera dengan kecepatan yang tinggi, keduanya pun bertemu saat mereka menembus jantung Chimmera dan membunuh makhluk itu dalam sekali tembak.

"Ignis Averta!" Teriak Blaise saat mengucap mantra. Api putih yang mengelilingi tubuh Chimmera itu langsung membentuk sebuah keranda yang mengelilinginya dan kemudian memadat, mengurung makhluk itu di dalamnya.

BLAAARR…..

Sebuah ledakan yang hebat pun tidak terelakkan saat itu juga. Tubuh Chimmera yang hancur itu berubah layaknya bom atom yang menghancurkan lembah itu tanpa ada sisa, api yang membungkus makhluk tadi menyebar ke mana-mana dan membuat hutan di sekitar tempat itu hangus terbakar layaknya inferno abadi yang menyelimutinya. Draco yang saat itu tengah mengendarai sapu terbang tidak mampu mengelak ketika ledakan yang hebat dari tubuh Chimmera membuatnya terpelanting ke belakang, menghilangkan keseimbangannya sehingga ia pun langsung terlempar sejauh 50 meter lebih dari tempatnya terbang. Pemuda itu terus terjungkal ke belakang dan jatuh sampai punggungnya pun bertemu dengan dasar sungai yang ada di bawah saat ia jatuh ke dalam sungai di bawahnya, membuat tubuhnya langsung tenggelam sebelum ia pun muncul kembali ke permukaan.

"Aggh…." Ia mengerang kesakitan seraya air yang panas dari sungai yang terbakar itu pun menyentuh kulit punggungnya yang terluka parah, bahkan air sungai yang berwarna biru itu pun langsung berubah warna menjadi merah ketika mereka bertemu dengan darah yang masih mengucur dari punggung Draco, membuat bajunya basah seketika.

Rasanya Draco siap untuk mati di tempat, tidak hanya badannya sakit sekali dan ia kehilangan banyak darah, tapi kedua tangannya yang melepuh itu tidak bisa digerakkan. Kebas, itulah yang Draco rasakan untuk beberapa saat lamanya pada kedua tangannya, apakah ia harus kehilangan kedua tangannya sebagai pertukaran karena telah memanggil tombak petir tadi? Atau mungkin nyawanya? Draco tidak tahu secara pasti, tapi sepertinya ramalan yang Perenelle berikan akan kematiannya itu akan terjadi sebentar lagi, ia merasa sangat lelah dan rasanya ingin memejamkan kedua matanya saat itu juga.

Kedua mata yang berwarna silver kebiruan itu terlihat sangat lelah, bergerak sedikit pun Draco tidak mampu apalagi harus berenang ke tepi sungai untuk menyelamatkan diri. Pemuda berambut pirang platinum itu membiarkan kedua matanya setengah terpejam ketika dirinya melihat langit yang berangsur-angsur kembali berwarna biru muda, awan hitam yang menyelubungi langit kini mulai menghilang, bahkan api yang mengelilingi sungai serta membinasakan hutan pun juga menghilang semenit kemudian.

Harry…. Nama sang kekasih yang saat ini masih tertidur dalam tidur lelapnya itu adalah satu kata yang bisa Draco utarakan dalam hati, dalam benaknya Draco membayangkan wajah manis kekasihnya yang dihiasi oleh senyum kecil di sana, bahkan bayangan yang Draco miliki itu terlihat semakin nyata dengan bibir Harry yang menggumamkan nama Draco berkali-kali, dan bayangan sang kekasih pun terlihat tengah mengelus perutnya yang besar di mana buah hati mereka tengah berkembang di sana.

Senyuman tipis yang jarang terlihat di wajah Draco pun kini terulas dengan tipis di bibirnya, membiarkan kedua matanya yang tadi setengah terbuka langsung tertutup sepenuhnya serta tubuhnya yang mengambang di atas permukaan air sungai itu terseret arus dan tenggelam di dalamnya.

"DRACO!" Dua suara yang familier itu meneriakkan namanya, tapi Draco sudah tidak ingat apa-apa lagi ketika warna hitam mulai menyelimuti pandangannya dan benaknya, membuatnya tidak sadarkan diri seraya dirinya terus masuk ke dalam air.


Grimmauld Place, Inggris

Remus Lupin adalah seorang werewolf yang sangat marah sekarang, semua orang bisa melihat hal itu karena ekspresinya yang dipenuhi oleh kemurkaan itu terlihat secara langsung. Ia tidak habis pikir kalau Ronald Weasley, salah satu dari anggota Order yang ia percaya untuk menjaga Harry hendak memperkosa anak temannya itu. Hal ini tentu saja tidak bisa Remus maafkan, apalagi melihat kondisi Harry yang tengah tidak sadarkan diri dengan keadaan yang tengah hamil itu.

Remus ingin membunuh Ron dengan lambat, menyiksanya dahulu lalu membunuhnya. Insting Remus sebagai werewolf itu tengah menguasai dirinya secara lugas, ia menganggap Harry dan bayi yang ada di dalam kandungannya itu berada dalam kelompoknya, bahkan Remus pun tidak peduli kalau Harry telah merubah pendapatnya dan sekarang berada di sisi Voldemort, dunia bisa hancur sekarang asalkan anggota kelompoknya itu selamat. Kedua mata kuning keemasang milik Remus terus-terusan menatap pintu yang mengurung Harry di sana dengan tatapan benci, bahkan laki-laki paruh baya yang merupakan mantan pengajar dari pertahanan terhadap ilmu hitam itu rasanya ingin mencabik-cabik tubuh Dumbledore saat ini juga.

Setelah penyerangan yang dilakukan Ron kepada Harry, tidak sekali pun Remus beranjak dari kamar itu, rasanya ia tidak percaya lagi kepada anggota Order untuk meninggalkan Harry di bawah pengawasan mereka, ia tidak ingin kejadian beberapa jam yang lalu terulang lagi. Oleh karena itu sejak tadi ia berada di dalam kamar itu untuk menjaga Harry.

Satu-satunya orang yang mengunjugi Remus di sana adalah Dumbledore, dan kehadiran dari penyihir tua itu semakin membuatnya geram. Remus meminta penjelasan akan alasan mengapa Harry harus berada di dalam kamar ini dan kenapa remaja yang tengah hamil itu tidak sadarkan diri, namun apa jawaban yang Remus terima dari Dumbledore? Penyihir tua yang merupakan salah satu penyihir terkuat di Inggris itu hanya menepis pertanyaan dari Remus dengan santainya, Dumbledore mengatakan kalau mengurung Harry di kamar Sirius ini adalah demi kebaikannya sendiri.

"Ini untuk kebaikan Harry sendiri, my boy, Anak itu sudah dicuci otaknya oleh Tom sampai-sampai ia rela untuk bergabung dengan pihak Tom. Dan aku yakin kalau anak yang ada di dalam kandungan Harry itu adalah anak Tom,"

Perkataan Dumbledore dua jam yang lalu tidak masuk akal, tapi Remus pun tidak memiliki bukti untuk menyanggahnya. Tapi ia tahu kalau anak yang ada di rahim milik Harry bukanlah anak milik Tom, sihir yang menyelubungi bayi itu serasa berbeda dan insting werewolf milik Remus mengakatakan kalau sihir itu bukanlah milik dari Voldemort. Kalau ayah dari bayi milik Harry bukanlah milik Voldemort, lalu siapa ayah anak itu? Pertanyaan itu muncul di benak Remus secara tiba-tiba, membuatnya berhenti berjalan bolak-balik di dalam ruangan itu dan seketika itu pun dirinya langsung menghampiri sosok Harry yang tengah tertidur di atas tempat tidur itu.

Kehamilan yang melanda diri remaja itu membuat Harry terlihat lebih bersinar dan menarik dari biasanya, bahkan sihir asing dan milik Harry bisa Remus rasakan berpusat dengan sangat kuat pada perut yang membesar itu.

"Harry, segeralah buka matamu. Beri tahu aku apa yang terjadi sebenarnya," ujar Remus dengan suara lembut, kedua tangannya menggenggam jemari tangan kanan Harry dengan lembut.

Anak dari James dan Lily itu sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri, bahkan Remus rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak angkatnya itu, oleh karena itu ian berharap Harry bisa segera bangun pada saat ini juga.


Elsewhere Within Harry's mind

Tempat itu terasa sangat asing bagi dirinya, namun entah kenapa pada saat yang sama juga terasa sangat familier dengannya. Harry melihat bagaimana pepohonan yang besar di sana pasti telah memasuki usia ratusan tahun karena terlihat sangat besar dan kokoh, sedikit berbeda dengan apa yang selama ini Harry lihat. Jubah berwarna putih yang Harry kenakan pun menjuntai ke langit hutan, terseret pelan seraya ia berjalan mendekati sumber air yang ia lihat di tempat itu. Remaja bermata emerald itu berjongkok untuk beberapa saat lamanya, ia menatap refleksi dirinya yang tergambar di atas air sungai yang tenang dan jernih itu. Rasanya sang Seraphine itu tidak masalah kalau dirinya harus tinggal di tempat itu untu selamanya, asalkan Draco dan putra mereka mau menemaninya.

Bicara mengenai Draco, di mana kekasihnya itu berada? Harry tidak ingat pernah meninggalkan sisi Draco sejak tadi pagi, namun ia juga tidak ingat bagaimana dirinya bisa berada di tempat itu seorang diri, dan anehnya pula selama ia berjalan di sana ia tidak merasakan lelah sedikit pun, padahal perutnya yang besar itu terkadang sering membuatnya lelah meski itu hanya berjalan menuju ke kamar mandi saja. Dengan lembut Harry mengelus perutnya untuk beberapa saat lamanya sebelum ia mengambil air sungai yang jernih dan sejuk itu menggunakan kedua tangannya, menggunakannya untuk mencuci wajahnya untuk beberapa saat lamanya.

"Papa," ujar sebuah suara kecil yang tidak ia kenal dari belakang.

Tunggu… seseorang memanggilnya dengan sebutan 'Papa'? Harry menghentikan tindakannya dengan membasuh muka itu, perlahan ia pun menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya itu.

Kedua mata berwarna emerald cerah itu tiba-tiba terbelalak lebar saat ia mendapat seorang anak laki-laki yang mungkin berusia tidak lebih dari tujuh tahun tengah berdiri tepat di belakang tubuh Harry. Namun bukan hanya itu yang membuat Harry terkejut, tapi sosok anak itu begitu mirip dengan Draco. Mulai dari rambutnya yang berwarna pirang platinum, kulit putih alabasternya, hanya saja kedua mata yang balik menatap Harry itu begitu identik dengan milik Harry, bahkan tulang pipi anak itu juga mirip dengannya.

"S-siapa?" Tanya Harry terbata, remaja itu pun membalikkan tubuhnya untuk menatap sosok anak laki-laki yang terus menatapnya dengan kedua mata milik ibunya. Begitu lugu dan manis, rasanya hati Harry ingin menangis dan entah kenapa jiwanya ingin sekali memeluk anak yang tidak ia kenal itu.

Rautan bahagia yang dimiliki oleh anak laki-laki itu masih terus terpancar dari wajah anak itu, bahkan kedua kaki kecilnya pun kembali menuntun anak itu untuk berjalan mendekat ke arah Harry sampai ia pun melingkarkan kedua tangan mungilnya pada perut Harry yang masih membesar.

"Tuhan menjawab doaku, aku ingin bertemu dengan Papa meski pun saat ini bukanlah waktu yang tepat, tapi aku senang sekali karena akhirnya aku bisa melihat Papa dengan kedua mataku," anak itu berucap meski ia masih memeluk perut besar Harry dan membenamkan wajahnya di sana. "Papa….."

Siapa anak ini? tanya Harry pada dirinya, namun ia pun tidak mampu untuk memaksa anak ini untuk melepaskannya begitu saja, entah kenapa hatinya memanggil anak itu sebagai putranya dan Draco, tapi hal itu tidak mungkin 'kan? Putranya masih berada di dalam kandungannya saat ini dan mereka baru akan bertemu beberapa minggu lagi seperti apa yang Perenelle katakan, lalu siapa anak yang memanggilnya dengan sebutan 'Papa' itu?

Harry tidak bisa menemukan suaranya untuk mengutarakan pertanyaan, bahkan tanpa sadar jemari tangan kanannya membelai rambut pirang platinum milik anak itu secara lembut, seperti anak itu adalah anaknya sendiri, dan rasanya begitu nyaman.

"Lucas…." Nama itu muncul begitu saja dari mulut Harry, membuat anak kecil itu langsung mendongak singkat dan menatapnya untuk beberapa saat lamanya.

"Aku senang sekali, Papa ingat namaku," gumam anak yang bernama Lucas itu dengan suara ceria, ia pun merenggangkan pelukannya dari tubuh Harry dan memegang tangannya.

"Kau adalah anakku?" tanya Harry yang sedikit tidak yakin.

Anggukan penuh antusias pun Lucas berikan untuk menjawab pertanyaan Harry, bahkan senyuman tipis yang terulas di bibir mungil anak itu langsung melebar, mengingatkan Harry pada senyuman lebar Draco yang dulu pernah diberikan padanya.

"Tentu, Papa, aku adalah anakmu dengan Ayah," senyuman lebar itu kembali melembut, tangan mungil Lucas pun membelai perut Harry dengan penuh kasih sayang. "Apa yang Papa lakukan di tempat ini? Tidak seharusnya Papa berada di sini."

Harry menggeleng untuk beberapa saat sebelum ia menilik sosok anak kecil yang manis itu untuk beberapa saat lamanya. "Aku tidak yakin bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah pepohonan dan tempat ini."

"Ini tidak baik," gumam Lucas kecil seraya mengeratkan genggamannya pada tangan Harry. Kedua mata yang begitu identik dengan Harry menatapnya dengan penuh keseriusan pada wajahnya yang lugu itu. "Papa harus kembali ke dunianya sendiri, segeralah terbangun dari tidur panjangmu, Papa."

"Apa maksudmu?"

"Di tempat itu masih ada beberapa orang jahat yang ingin mencelakakan Papa dan Ayah, Papa harus bangun. Lawan sihir Ayah yang membelenggu diri Papa dan menaruhnya dalam tidur panjang itu," gumam Lucas sekali lagi.

Anak kecil berambut pirang platinum itu tiba-tiba melepaskan tangan Harry sebelum ia mengambil beberapa langkah ke belakang, membuat jarak di antara dirinya dengan Harry semakin menjauh.

"Lucas…" panggil Harry, jiwanya masih menginginkan anak itu berada di dalam pelukannya saat ini juga, namun anak itu semakin menjauh dari dirinya. Padahal mereka berdua baru saja bertemu dan Harry pun baru menyadari kalau Lucas adalah anaknya, tapi kenapa anak itu malah menyuruhnya untuk pergi. "Jangan pergi!"

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Papa, kita akan segera bertemu. Kumohon bukalah kedua mata Papa dan bangun dari tidur panjang, Ayah membutuhkan Papa sekarang."

"Draco?"

Anggukan kecil dari anak laki-laki berusia tujuh tahun itu sudah mampu membuatnya tersadar dari lamunan dan rasa keterkejutannya, ia pun menatap sosok Lucas yang semakin lama semakin menjauh dari dirinya.

"Papa jangan khawatir, kita akan bertemu nanti. Berikan salamku untuk Ayah," kata Lucas untuk yang terakhir kalinya sebelum kabut yang berwarna putih menyelimuti tubuh kecilnya.

Kabut itu pun tidak hanya membuat tubuh Lucas kecil menghilang dari hadapan Harry, bahkan kabut itu juga menyelimuti tempat itu. Harry ingin berlari mengejar anak itu, namun sebuah kekuatan yang ia tidak tahu dari mana asalnya malah membuatnya berdiri di tempat itu sebelum menariknya menjauh di sana, menelan tempat yang asri tersebut menjadi sosok hitam yang sangat familier.


Sihir yang kuat pun menyelimuti jiwa Harry dan tubuhnya yang saat ini tengah berbaring di atas tempat tidur di Grimmauld Place tersebut, bahkan besarnya sihir yang menyelimuti Harry membuat Remus yang menjaganya pun terlonjak penuh keterkejutan.

"Harry!" Panggil Remus seraya mendekat ke arah tubuh Harry yang masih di selimuti oleh gelombang sihir itu.

Saat gelombang sihir itu menghilang dan namanya disebut, kedua kelopak mata Harry pun tiba-tiba saja terbuka. Memperlihatkan sepasang mata berwarna hijau emerald yang sangat intens, menandakan kebangkitan dari Harry James Potter dari tidur panjangnya.


AN: Beberapa chapter lagi sebelum Chasing Liberty tamat, enjoy...

Author: Sky