Henry menoleh pada sebuah rumah yang beberapa hari lalu masih sepi tanpa penghuni. Kali ini berbeda. Sepertinya ada yang pindah ke rumah itu.

"Ada apa Henry?" Tanya Minho yang berjalan disisi Henry. Melihat sahabatnya terus memperhatikan ke sebuah rumah yang berpagar rendah dan halamannya penuh dengan tumbuhan bunga dan tanaman hias. Ada sebuah mobil yang parkir di halamannya.

"Ada yang menempati rumah itu?" kata Henry kurang yakin.

Henry dan Minho kembali melanjutkan langkah. Minho ikut Henry untuk meminjam buku. "Apa sebelumnya kosong?"

"Aish! Kau tidak pernah perhatikan? Dasar."

"Kenapa aku harus memperhatikan hal tidak penting? Ayolah, cepat. Ini hampir gelap." Minho menyeret lengan Henry agar berjalan lebih cepat. Henry menoleh sekali, entah apa yang ingin dia pastikan. Minho lagi-lagi menarik lengannya hingga kini dia benar-benar mengikuti tarikan Minho.

Sedangkan di belakang, rumah yang barusan ditinggalkan Henry, di dalam rumah Kyuhyun sedang sibuk membereskan barang-barang miliknya. Dia menolak bantuan Jaerim saat wanita itu hendak membantunya. Kyuhyun berdalih akan meletakkan semuanya sesuai keinginannya. Eommanya hanya perlu memperhatikan dan membereskan barang miliknya sendiri. Alhasil dia butuh hampir seharian penuh menata barang di dalam kamarnya.

"Dia masih belum selesai?" tanya Zou Mi menyambut Jaerim yang baru keluar dari kamar Kyuhyun, bergabung duduk di sofa ruang keluarga.

"Dia butuh banyak waktu hanya untuk meletakkan satu barang." keluh Jaerim menyandarkan punggung. Zou Mi langsung meluruskan lengannya di belakang tengkuk Jaerim, menjadikannya sandaran Jaerim. Jaerim tersenyum menerima perlakuan itu, merapatkan diri dia bisa menghirup aroma maskulin Zou Mi.

"Aku berfikir dia yang anak kecil mengaku dewasa atau dia dewasa mengaku anak kecil?"

Zou Mi tertawa mendengar kalimat Jaerim yang juga membuatnya bingung. "Jangan membuat kepalamu pusing. Itu tidak berarti apapun."

Jaerim mengangguk setuju. Jaerim mengambil jemari Zou Mi yang tersampir di bahunya. Memainkannya dengan asal. Zou Mi sedang menyelesaikan settingan TV kabel mereka, merasa tidak terganggu dengan hal itu. Beberapa waktu mereka diam dan hanya menikmati satu sama lain.

Hingga keasyikan mereka dibuyarkan oleh hentakan pintu di atas. Jaerim menoleh cepat, menegakkan punggung melihat Kyuhyun yang sudah keluar kamar. Berjalan menuruni tangga dan langsung mendorong Zou Mi agar menjauh dari Jaerim. Dengan begitu dia menempati ruang kosong diantara mereka, memeluk pinggang Jaerim posesif.

"Aish, bayi beruang!" dengus Zou Mi merasa terusik. Kyuhyun melempar tatapan tajamnya.

"Eomma bukan beruang, kenapa Kyu jadi bayi beruang?"

Zou Mi melebarkan matanya. "Kau tidak lihat tubuhmu sebesar beruang?"

"Hua!" Zou Mi hampir terjungkal ke samping saat Kyuhyun tiba-tiba mendorongnya dengan kuat. Jaerim buru-buru menahan Kyuhyun. Melerainya dari Zou Mi. "Kyu, itu tidak boleh! Bagaimana jika Mimi hyung jatuh? Nanti dia kesakitan."

"Huh! Mimi jelek! Kyu tidak suka dia selalu memeluk eomma!"

"Kami tidak berpelukan!" bantah Jaerim hilang fokus pada tindakan anarkis Kyuhyun. Zou Mi memilih pindah duduk. Pura-pura fokus pada layar TV yang sedang di program ulang.

"Dia meletakkan tangannya disini!" Kyuhyun mempraktikkan dimana lengan Zou Mi tadi berada. "Itu tidak boleh eomma! Appa akan cemburu jika melihatnya!"

Zou Mi menoleh. "Cemburu itu apa Kyunie?" tanyanya mengetes seberapa jauh Kyuhyun mengerti arti kata 'cemburu'.

"Tidak suka lengan Mimi yang seperti tadi." jawab Kyuhyun mantap.

Zou Mi mengangguk. Jawabannya kurang spesifik, tapi cukup benar. Jadi dia diam saja. Kyuhyun kembali menatap Jaerim. "Eomma kapan kita bertemu appa? Appa tidak datang lihat Kyu?"

Jaerim tidak tahu harus menjawab apa. Melirik Zou Mi, berharap dibantu. Tapi Zou Mi acuh. Pemuda itu sedang kesal karena Kyuhyun menyinggung soal appa, itu artinya dia berharap lelaki lain, yaitu Leeteuk, bersanding dengan Jaerim dibanding dirinya. Zou Mi hanya tidak sadar jika dia dan Jaerim tidak pernah memberi tahu kebenaran hubungan mereka kepada Kyuhyun.

"Ah!" seru Jaerim mengalihkan intens Zou Mi kepadanya. "Bagaimana dengan bianglala? Kita bisa pergi besok, sayang."

"Bianglala? Kyu mau naik! Mau kesana eomma!" Kyuhyun mudah sekali dialihkan. Zou Mi meringis melihat keberhasilan Jaerim. Menggeleng maklum dan kembali fokus pada TV.

"Mimi hyung akan menemani kita seharian, nde?"

Zou Mi menoleh lambat kepada Jaerim yang bicara dengan Kyuhyun namun jelas sekali jika itu adalah kalimat yang tertuju kepadanya.

"Kenapa Mimi ikut?" Kyuhyun keberatan.

"Karena kita perlu seseorang untuk mengawal kita, Kyu. Kita juga akan membeli banyak barang besok, jadi dia bisa membawanya."

Kyuhyun mengangguk sekarang. Zou Mi tertawa kering, menerima isyarat Jaerim sepenuhnya. Dia akan jadi kacung besok hari.

0o0o0o0o0

Kim Young Woon menerima segelas teh hijau dari Hera.

"Gomawo." ucap Young Woon langsung menyesap tehnya. Hera mendudukkan diri di depan lelaki itu. Gugatan cerai sudah resmi di batalkan, mereka juga sudah tinggal bersama lagi. Sedikit demi sedikit menjalin keakraban dan membangun kembali rumah tangga mereka. Young Woon juga kembali mencari pekerjaan.

"Bagaimana hari ini?" tanya Hera masih sedikit canggung.

"Seharusnya aku menjalani dua interview. Tapi," Young Woon memasang wajah lesu.

"Gweanchana." Hera memegang tangan Young Woon di atas meja. "Masih banyak perusahaan lain yang bisa kau coba."

Young Woon mengulas senyum. "Tapi aku sudah diterima sebelum mendatangi perusahaan yang kedua."

"Ha?" Hera masih belum sadar Young Woon sedang menggodanya. Begitu melihat senyum lebar Young Woon baru dia ikut tertawa. "Aigooo."

"Jadi, kau akan tetap membuka kedai ini?" tanyanya begitu tawa mereka reda.

Hera mengangguk. "Ternyata menyenangkan juga. Aku harap kau tidak keberatan."

"Tidak masalah. Tapi apa tidak sebaiknya kau mengambil pegawai?"

"Aku sedang memikirkannya. Mungkin dua atau tiga." kedai Hera banyak pengunjung. Terlebih di waktu-waktu makan. Jika Hera sendirian dia semakin kewalahan melayani semua pesanan. Jika ada Henry dan Young Woon dia cukup terbantu. Tapi karena Henry sudah kembali sekolah dan Young Woon juga akan kembali bekerja jadi mereka sepakat untuk mencari pegawai.

Hera menoleh saat lonceng pintu berbunyi. Dia bangkit mengira pengunjung datang untuk makan namun dia tertegun melihat siapa yang muncul.

"Anyeong." sapa lelaki itu dengan sopan.

Hera dan Young Woon saling pandang sebelum akhirnya Young Woon mempersilahkan tamu mereka untuk duduk.

0o0o0

Choi Siwon duduk disudut. Kopi yang diberikan Hera belum juga tersentuh sejak 10 menit dihidangkan. Dia juga masih menunggu Hera ataupun Young Woon menyelesaikan apapun yang mereka kerjakan di belakang. Hanya sesekali Hera keluar untuk melayani pelanggan dan akan menghilang ke tempat yang sama lagi. Siwon jadi merasa datang disaat yang tidak tepat. Mereka terlihat sibuk.

"Maaf, kau sdah lama menunggu." akhirnya Young Woon muncul untuk duduk menemaninya. Kedai sudah mulai sepi. Satu jam terlewat dengan kopi yang benar-benar jadi dingin.

"Anni. Saya yang merasa tidak enak datang disaat sibuk kalian."

Young Woon tertawa basa-basi. "Jadi, ada apa?"

"Anda sudah mengetahui siapa saya?"

Young Woon menarik sudut bibirnya kecil. "Iya."

"Aku tidak sangka." siwon benar-benar tidak menyangka hal itu.

"Heum! Wajah keluarga Choi dimuat di internet. Henry bisa menunjukkannya dengan mudah."

Siwon mengangguk paham. "Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi saya pikir untuk berkunjung. Jika anda tidak keberatan saya dan keluarga ingin menjalin silaturrahmi."

Young Woon menahan nafas mendengar hal tersebut. Menegakkan punggung dia menatap Siwon seraya menimbang.

Melihat Young Woon ragu, Siwon kembali bicara. "Saya tahu apa yang dilakukan ayah saya sangat kejam kepada keluarga anda. Banyak hal yang terjadi. Saya sudah mendengar semuanya. Soal Kyuhyun saya ikut menyesal. Sejujurnya saya tidak begitu peka. Tapi Kyuhyun banyak menderita. Saya adalah putra ayah saya, merasa ikut bertanggung jawab akan hal tersebut."

Young Woon menghembuskan nafas panjang. Melihat pada Hera yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ikut mendengarkan dengan serius. Young Woon kembali menghadap Siwon. "Penderitaan Kyuhyun akulah penyebabnya. Aku melakukan banyak hal yang menyakitkan kepada anak itu. Semua penyesalan itu adalah milikku. Aku akan menebus kesalahanku. Tapi aku tidak bisa menerima jika kalian mengambil Kyuhyun dari kami."

Siwon nampak terkejut.

"Bagaimanapun dia adalah putra mendiang istriku. Namaku yang ada di Akta lahirnya. Aku adalah ayah syah dalam hukum. Kalian bisa mengakuinya sebagai keluarga, menganggapnya sebagai adik dan putra ayah kalian, tapi jika harus kehilangannya untuk kedua kali aku tidak bisa menerimanya."

"Tuan Kim."

"Bahkan Kyuhyun belum kembali!" Hera buka mulut setelah lama menahan diri. "Aku dan suamiku sudah membicarakan ini sebelumnya. Bukan hanya kalian yang memiliki banyak penyesalan. Tolong, berikan kami juga kesempatan. Suamiku adalah orang yang berbeda sekarang. Dulu aku menyebutnya ayah yang buruk, tapi sekarang jika kalian bisa memberinya kesempatan aku yakin dia akan menjadi ayah yang sangat baik."

Siwon menghela nafas panjang. Tersenyum. "Ahjussi ahjumma, aku juga sudah mendiskusikan ini dengan keluargaku. Ayahku juga saudara-saudaraku tidak keberatan dengan apapun yang terbaik untuk Kyuhyun. Tolong jangan salah paham. Kami tidak berfikir untuk merebutnya dari kalian. Tapi sebaliknya kami ingin kita menjadi satu keluarga dengan Kyuhyun sebagai penghubung. Dia adalah putra kalian tapi dia juga bagian dari kami. Hanya dengan jalinan baik maka semua juga akan berjalan dengan baik. Hanya seperti itu yang kami inginkan."

Young Woon dan Hera melempar pandang satu sama lain. Mereka sudah mengambil kesimpulan terlalu cepat. Mengira Siwon datang sebagai perwakilan untuk mengutarakan niat keluarga Choi mengambil Kyuhyun. Mereka sudah ketakutan saja. Tersenyum pada akhirnya, keduanya bisa memahami maksud Siwon sekarang. Menyambut hal baik yang di tawarkan Siwon dan keluarga Choi.

0o0o0o00

"Siwon mengatakan hal itu?" Leeteuk bergumam terkejut.

"Eomma dan appa percaya?" Henry kembali menyebut Kim Young Woon dengan appa.

"Henry-ah jangan berfikiran buruk terus kepada mereka." nasihat Hera.

Henry terlihat tidak mau mendengarkan. "Kyu hyung masih belum tahu tentang kebenaran si Choi itu! Menjalin hubungan baik dengan mereka, kita tidak tahu apa nanti itu akan baik untuk Kyu hyung."

"Tentu itu baik Henry." Changmin ikut bicara. Henry menatapnya tidak mengerti maksud dari 'baik' ini.

"Jika ayah biologis dan ayah syahnya akur, tentu akan baik. Hanya dengan ini mereka tidak akan berebut Kyuhyun."

"Tapi kebenaran itu akan melukai Kyu hyung! Itu masalahnya!"

Mereka diam. Membenarkan pendapat Henry.

"Tidak apa!" ucap Kim Young Woon memecah kebisuan diantara mereka. "Kyuhyun-ah anak yang tegar. Dia sudah mendapati banyak hal buruk. Jadi aku yakin dia juga akan bisa menghadapi hal ini."

Henry tidak lagi berkomentar. Mendesah lelah dengan pikiran positif semua orang.

0o0o00o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Jaerim melihat ke ruang depan. Kyuhyun sedang duduk dilantai memangku sebuah buku bergambar. Tapi fokusnya tidak pada bukunya melainkan menerawang keluar. Jaerim perlahan mendekat.

"Jika duduk di lantai seperti itu nanti dingin, lho." kata Jaerim.

Kyuhyun menoleh, mendongak menatap Jaerim. "Eomma~ tidak pergi naik bianglala?" tanyanya pelan.

Jaerim menarik Kyuhyun untuk duduk di atas kursi. Membenarkan letak baju dingin yang dikenakan Kyuhyun. Kemudian memperhatikan wajah pias itu. "Tidak sekarang. Kyu sedang sakit."

Kyuhyun hanya mengangguk lalu menoleh keluar. Melihat entah apapun yang Jaerim tidak tahu. "Kyu ngantuk."

"Jadi tidurlah. Di kamar."

"Takut."

Jaerim nampak sedih. Semalam Kyuhyun mendapat mimpi buruk. Mengigau tentang banyak hal. Memanggil ibunya namun bukan Jaerim. Memanggil ayahnya namun juga bukan Leeteuk. Dan berakhir dengan demam tinggi.

"Mimpinya aneh. Kyu takut eomma." Kyuhyun menatap Jaerim dengan mata berembun takut. Dia tahu mimpinya menakutkan tapi tidak sepenuhnya ingat apa yang dia impikan.

"Cha, tidur disini." Jaerim menepuk kakinya sendiri, tersenyum menenangkan. Kyuhyun menaikkan kedua kakinya, merebahkan kepala di pangkuan Jaerim. Jaerim menaruh buku bergambar di meja lalu melakukan hal lain untuk membuat Kyuhyun lebih nyaman. Mengusap surai lembutnya dan mendendangkan lagu yang biasa.

Zou Mi memperhatikan mereka diujung ruangan. Berfikir, niat untuk bersenang-senang hari ini harus tertunda karena Kyuhyun sakit. Dia seharusnya pergi ke kantor, tapi tidak tega meninggalkan mereka hanya berdua. Bagaimana jika Kyuhyun mendapat serangan lagi? Dia tidak ingin Jaerim melewatinya seorang diri. Dia sudah melihat sendiri bagaimana semalam Kyuhyun mengigau dengan hebat. Bergerak gelisah dengan mata tertutup, Jaerim kewalahan menenangkannya. Disaat itu dia berfikir, sungguh berat berada di posisi Jaerim. Tapi wanita itu tidak menampakkkan beban dan kesulitannya selama ini. Zou Mi jadi semakin suka. Semakin ingin segera meresmikan hubungan mereka lebih serius.

0o0o0o0

0o0o0

0o0

0

Begitu Jaerim membuka pintu rumah Kyuhyun langsung berlari ke dalam. Melempar jaketnya asal.

"Taruh yang benar Kyu!" tegur Jaerim yang diabaikan Kyuhyun. Alhasil dia yang mengalah untuk mengambil jaket biru Kyuhyun. Dibelakangnya Zou Mi masuk dengan kesulitan karena semua barang bawaan di kedua tangan ditambah boneka beruang besar berwarna coklat tua menutupi pandangan.

"Bisa kau membantuku Jaeie?"

Jaerim menoleh terkekeh geli melihat Zou Mi kewalahan. Dia mengambil alih boneka tersebut. "Kasihan." ucapnya yang dicebiki Zou Mi.

Saat mereka masuk ke ruang keluarga, Kyuhyun sudah berjingkrak-jingkrak kesenangan melihat DVD yang tadi mereka beli. Zou Mi langsung menjatuhkan diri di sofa dengan tubuh setengah berbaring setelah meletakkan semua barang di meja. Menghela nafas panjang seolah berkata akhirnya dia bisa beristirahat juga. Jaerim sendiri setelah menaruh boneka di dekat Zou Mi langsung ke dapur, membuat minuman untuk mereka.

Akhirnya setelah tiga hari mereka tiba di Seoul mereka bisa membawa Kyuhyun ke tempat hiburan. Naik bianglala seperti janji Jaerim dulu. Menyenangkan hati anak itu seharian penuh setelah tertunda karena sakit.

Tapi niat untuk menjadikan Zou Mi babu benar-benar terlaksana juga. Dari jadi sopir hingga kuli angkut barang. Rasa tubuhnya remuk mengikuti keduanya kesana kemari seperti tidak kenal lelah. Tapi itu lebih baik daripada dia harus menuruti keinginan Kyuhyun untuk membawa Leeteuk serta. Jika Leeteuk ikut, dia tidak yakin bisa menahan hatinya untuk tidak cemburu. Bayangkan saja, andai gurunya itu ikut, sebagai appa Kyuhyun, yang otomatis akan berada disisi Jaerim sepanjang hari, mereka akan nampak jadi keluarga bahagia, sedangkan dirinya akan menangis darah melihat mereka dengan segala macam barang bawaan di kedua tangannya.

Zou Mi tidak suka ide membawa Leeteuk. Sungguh. Tapi membujuk Kyuhyun juga tidak mudah. Harus ada banyak iming-iming dan alasan-alasan palsu agar anak itu mau bergerak tanpa sang appa, Leeteuk. Tapi syukurlah Jaerim cukup membantunya. Alhasil mereka pergi bersenang-senang tanpa Leeteuk.

Zou Mi membuka mata begitu puas merehat diri beberapa menit. Jaerim sudah ada disisi lain tubuhnya menyesap jus dingin sesekali terkikik geli dengan mata mengawasi Kyuhyun. Zou Mi melihat ke depan, pada Kyuhyun yang sedang menari tarian aneh.

"Apa yang dia lakukan?"

Jaerim menoleh. Tidak sadar Zou Mi sudah bangun, meski tidak tahu entah tadi dia tidur atau hanya sekedar memejamkan mata. "Aku sudah menyiapkan minumanmu." tunjuknya pada gelas jus lain di atas meja. "Kyuhyun menirukan tarian beruang di DVD yang dia tonton. Yang kau belikan tadi." Jaerim kembali menonton Kyuhyun yang masih komat kamit sambil menari.

Zou Mi menegakkan punggungnya. Mengambil gelas jusnya dan minum dengan rakus. Tubuhnya jadi lebih segar setelah mendapat asupan cairan manis dingin tersebut. Lalu perhatiannya kembali pada Kyuhyun. Zou Mi hanya mendengar suara anak-anak bernyanyi. Dia memiringkan tubuhnya untuk mengintip layar TV yang tertutupi tubuh Kyuhyun, akhirnya dia melihat tayangan seperti apa itu.

"Aku jadi membayangkan apa Kyu semanis ini saat kecil dulu." kata Zou Mi setelah melihat memang anak-anak yang bernyanyi di DVD. Lagu berganti, Kyuhyun juga mengganti tariannya.

"Semua anak-anak manis, Zou Mi~ tapi Kyuhyunku jauh lebih manis. Bahkan dengan tubuh raksasanya."

Zou Mi meringis. Menyesap kembali jusnya hingga tandas lalu meletakkan gelas kosongnya di meja. "Ya dia menarik meski dengan segala kesuramannya."

Jaerim menoleh. Tidak mengerti maksud Zou Mi. Menatap balik Jaerim, Zou Mi lalu bergelayut manja di tubuh wanitanya. "Kibum sangat tertarik padanya karena dia diduga pendonor ginjalnya. Tapi seiring waktu kebenaran itu terungkap. Bukan hanya pendonor, dia juga saudara setengah darahnya. Diluar itu semua Kyuhyun bukan orang yang beruntung. Dia sangat menderita Jaeie." Zou Mi menatap lekat-lekat sosok yang masih riang bergumam dan menari. Sesekali suaranya terdengar keras di beberapa bagian namun selebihnya hanya berupa lirihan.

Jaerim tidak berkomentar. Ikut memperhatikan Kyuhyun yang bersenang-senang. Dia memang belum mengenal Kyuhyun sebelum ini. Hanya sekali lihat jelas saat Jung Soo membawanya di perayaan kecil karena dia mendapat pekerjaan dulu. Tidak ada fikiran dia akan berada sedekat ini dengannya. Menjadi ibu dari Kyuhyun. Tapi setelah mendengar segala masalah itu dari Zou Mi keprihatinannya sangat besar. Mungkin itulah dulu yang mendorong dirinya nekad berada disisinya. Tapi lambat laun, setelah menjalani semuanya bersama dengan Kyuhyun, dia sadar sebuah ikatan kasat mata terjalin.

"Kali ini dia pasti akan bahagia." ucapnya mantap.

Zou Mi menatap Zou Mi yang bahkan tidak menoleh saat mengatakannya. Matanya lurus hanya tertuju pada Kyuhyun. Suaranya tidak ada keraguan. Hanya ada keyakinan dan tekad. Perlahan senyum mengembang di bibir Zou Mi. "Kau benar. Bagaimanapun caranya Kyuhyun harus bahagia."

Jaerim menoleh dan saat itu secepat kilat, tidak diduga Jaerim, Zou Mi menciumnya. Tepat di bibirnya. Wajahnya langsung memerah dan panas. Zou Mi terkekeh.

"Zou Mi!" pekik Jaerim kesal.

Zou Mi menerima pukulan dari Jaerim, namun bukannya kesakitan dia malah semakin keras tertawa. Kyuhyun sampai menoleh. Tidak paham dengan apa yang diributkan kedua orang di belakangnya. Tapi melihat eomma Jaerimnya memukul Mimi hyungnya dia jadi berasumsi jika Zou Mi nakal. Sebagai anak baik yang sayang ibunya Kyuhyun ingin membantu. Dia berbalik melangkah ke sofa. Menarik keras boneka beruang disisi lain Zou Mi.

"Kenapa eomma? Mimi nakal?"

"Heum! Dia sangat nakal Kyu." jawab Jaerim tidak sadar jika Kyuhyun sudah bersiap dengan boneka beruang di tangannya. Dan saat sebuah pukulan melayang di tubuh Zou Mi, Jaerim terkejut. Jaerim menoleh pada Kyuhyun yang berdiri mengayunkan beruang sebesar pelukan orang dewasa pada tubuh kerempeng Zou Mi.

"Rasakan! Kau jahat pada eomma, jadi Kyu akan menghukummu!"

"Huaa! Kyunie kau jangan ikut campur!" Zou Mi mencoba menghindar dari pukulan brutal tersebut. Menghalau kepala boneka dengan kedua tangannya di setiap ayunan yang dilakukan Kyuhyun. " Ini urusan orang dewasa! Anak kecil tidak boleh ikut campur! Lagipula aku hanya menciumnya!"

Jaerim melotot dengan apa yang diucapkan Zou Mi. Dia jadi kesal. Niat hanya menonton sekarang malah ikut melakukan aniaya pada Zou Mi. "Dasar kerempeng mesum!" umpatnya.

"Kerempeng mesum, apa eomma?" tanya Kyuhyun.

"Itu julukan baru Mimi hyung, Kyu."

"Hum! Kerempeng mesum!" Kyuhyun mengangguk setuju saja.

Zou Mi pasrah menerima tatapan sadis dari keduanya. Menaikkan kedua kaki, meringkuk. Dia menyesal mencuri ciuman Jaerim disaat ada Kyuhyun di dekat mereka. Jaerim sukses memanfaatkan keluguan sang anak. Dia akan mengingatnya lain kali.

0o0o0o0

"Eomma~ kapan bertemu appa~" tanya Kyuhyun dengan mata hampir terpejam. Dia diatas ranjangnya, memeluk boneka beruang besar yang baru dia dapat hari ini.

"Besok." jawab Jaerim singkat. Membentangkan selimut di tubuh Kyuhyun. Lalu duduk di tepian ranjang, memperhatikan dengan gemas wajah mengantuk Kyuhyun.

Kyuhyun mengucek sebelah matanya yang berair sehabis menguap lebar. "Janji?" dan masih bisa menuntut di tengah rasa kantuknya.

"Iya. Sekarang tidurlah."

Kyuhyun mengangguk. Memeluk erat bonekanya tidak lama dia sudah jatuh dalam alam mimpi. Jaerim memberi kecupan di pelipis sebelum keluar. Mendapati Zou Mi yang menunggunya menyandar di tembok, mengeluh jika tubuhnya sakit akibat aniaya mereka sore ini.

Mereka beralih ke dapur. Jaerim menyeduh kopi untuk mereka, Zou Mi memperhatikan kekasihnya di kursi makan. Memainkan ponselnya diatas meja. Sekiranya dia tidak hanya memperhatikan Jaerim tapi juga memikirkan sesuatu. Saat Jaerim bergabung dengannya dengan dua cangkir kopi dan duduk dengan nyaman, Zou Mi mulai mengutarakan pikirannya.

"Kita akan membawa Kyuhyun besok."

Jaerim tidak terkejut. Tapi ada sedikit sentakan tidak siap dalam hatinya. "Heum, aku tahu. Jadi bagaimana?"

"Aku akan bicara dengan Leeteuk saem malam ini." masih jam 8 jadi Zou Mi rasa dia masih memiliki waktu cukup untuk berbicara dengan Leeteuk.

"Apalagi yang harus dibicarakan?"

"Keluarga Kim belum mengetahui kondisi Kyuhyun yang sekarang. Leeteuk saem harus mengurus masalah itu."

"Kenapa tidak sedari dulu dibilang saja?"

"Dia memanfaatkannya untuk memecut semangat tuan Kim lagi. Jadi hal itu masih dirahasiakan."

Jaerim diam sesaat. "Lalu keluarga Choi?"

"Mereka tahu, kurasa. Si Siwon itu pasti sudah mendengar banyak dari pesuruhnya. Mungkin juga keberadaan kita sekarang."

"Tapi mereka tidak mengusik kita sampai hari ini."

"Itu bagus. Mereka akhirnya belajar, bukan. Tidak semua hal bisa mereka kendalikan."

Jaerim memutar cangkirnya. "Besok aku ke kedai Hera-ssi?" tanyanya perlahan.

"Seperti yang sudah kita bicarakan. Aku akan menjemput kalian."

Semua sudah disepakati. Jaerim sedikit tegang, Zou Mi mengusap lengannya menenangkan. Mereka tahu hal ini pasti akan terjadi. Jadi siap atau tidak siap harus tetap dijalani. Maka setelah merasa Jaerim akan baik-baik saja Zou Mi pergi untuk menemui Leeteuk. Berharap mantan gurunya itu tidak terkejut dengan kedatangannya dan apa yang akan dia bawa untuk dibicarakan.

0o0o0o0o0

Leeteuk cukup tenang saat menerima tamu adalah Zou Mi, tapi saat keduanya duduk dan sang tamu bilang jika Kyuhyun sudah ada di Seoul, Leeteuk memandang lama pada Zou Mi.

"Bagus." komentarnya singkat.

Zou Mi mengernyit kurang mengerti reaksi Leeteuk. "Jadi kau tidak berniat memberi tahu kondisi Kyuhyun pada keluarga Kim sebelum Kyuhyun kubawa ke tempat mereka besok?"

"Besok?!" Leeteuk terkejut sekarang.

Zou Mi mengangguk mantap. "Sebenarnya kami sudah sampai beberapa hari lalu. Jadi kurasa besok sudah waktunya."

"Tapi kapan aku punya waktu menjelaskan hal itu?" erang Leeteuk.

"Tinggal bilang. Apa sulitnya?"

"Kau pikir itu tidak akan membuat mereka terkejut?!"

Zou Mi mengedik cuek. "Lagipula Kyuhyun ke Seoul untuk mendapatkan kembali ingatannya. Dan mereka harus membantunya. Jika bukan karena itu aku masih sanggup untuk menyembunyikan Kyunie lebih lama, mungkin juga lebih jauh."

Kedua tangan Leeteuk terangkat seolah ingin mencekik mantan muridnya. Rasa kesal bercampur gemas tercetak jelas di wajahnya. Namun gerakannya berhenti begitu dia menghela nafas. Sadar meski dia bisa mencekik Zou Mi, kesulitan ini tidak akan berlalu.

"Kau benar-benar menyulitkanku, sialan!"

"Hoo….! Saem bisa mengumpat rupanya!" Zou Mi tertawa mengejek.

"Kenapa kau berlaku seolah musuhku sekarang?" heran Leeteuk melihat Zou Mi sedikit sinis padanya saat ini.

Zou Mi mencebik. 'Karena kau 'appa' bagi Kyuhyun. Jaerim itu milikku, brengsek!' tentu saja hanya di dalam hati. Dia masih waras untuk mengumpati Leeteuk yang berada pada kondisi sama dengannya. Terjebak dalam fantasi Kyuhyun. Itu mengerikan. Dia ingin ini segera berakhir dan bisa segera menjalani hubungannya dengan aman, lancar dan bahagia.

Zou Mi lupa dengan Hangeng sepertinya….

0o0o0o0

Leeteuk merasa sangat buruk. Sungguh. Dibanding memilih besok untuk memberitahukan kondisi Kyuhyun yang sesungguhnya, dia justru datang saat semua orang merasa penat dan ingin segera berbaring. Salahkan Zou Mi. Salahkan Zou Mi! Salahkan saja pemuda sialan itu! Jerit hati sang guru.

Dia sungguh merasa tidak enak melihat tuan Kim juga Hera dan Henry yang menatapnya bingung. Ekspresi mereka lebih telihat seperti itu. Dibanding terkejut, khawatir atau cemas.

"Sebentar Leeteuk saem." Henry bicara mewakili ayah dan ibunya. "Kyu hyung akan pulang. Besok. Tapi. Tapi kondisinya tidak seperti dulu. Dia amnesia?" Henry merasa kalimatnya sendiri terdengar aneh.

Leeteuk menghela nafas. Dia tahu mereka syok. Syok berlebih hingga kebingungan. Dan efeknya tidak bisa sepenuhnya menangkap maksud dari perkataannya. Jadi dia merasa harus menjelaskan ulang lebih perlahan dan menekankan situasi yang akan mereka hadapi besok.

"…..itu dari tekanan psikis dan jiwanya. Kyuhyun kembali pada pribadi kanak-kanak. Bukan hanya itu, dia melupakan semua hal. Seperti hidupnya yang ditulis kembali. Kyuhyun bukan Kyuhyun anak kalian."

"Apa artinya dia bukan anak kami?!" suara Hera meninggi karena gelisah. Mereka mulai memahami maksud Leeteuk.

"Dia bersama Zou Mi selama ini. Kalian tahu Zou Mi?"

Henry mengangguk tapi yang lain menggeleng. Henry mengatakan jika Zou Mi adalah sunbae di sekolah mereka.

"Zou Mi tidak sendirian. Ada Jaerim."

"Siapa lagi Jaerim?" tanya tuan Kim.

Leeteuk mendesah dalam hati. Dia tahu pembicaraan ini akan sangat panjang. Dan sekali lagi dia menyesal harus datang disaat dirinya sendiri butuh tidur istirahat. Tapi melihat tatapan mata mereka yang menuntut segala penjelasan membuatnya harus rela mengorbankan waktu istirahatnya.

"Jaerim adalah adik perempuan Hangeng. Hangeng adalah temanku, dia seorang dokter. Dulu menangani penyakit Kyuhyun. Tapi percayalah itu semua hanya kebetulan. Hangeng tidak terlibat. Jaerim hanya kebetulan di situasi yang membuatnya bertemu Kyuhyun." Leeteuk diam sebentar, menatap mereka satu persatu. Tahu jika mereka tidak akan menyela sebaliknya mendengarkan dengan sangat tertarik, Leeteuk melanjutkan ceritanya.

Dia menceritakan segalanya. Semua hal yang dia tahu. Dari Kyuhyun bertemu Jaerim, hingga Jaerim menjelma menjadi ibu bagi Kyuhyun. Dan Zou Mi berada dibalik mereka semua menjalankan perannya sendiri. Leeteuk juga menjawabi semua pertanyaan keluarga Kim dengan baik. Hingga waktu bergulir dan masing-masing dari mereka merasakan penat seiring dengan ketegangan yang memudar. Lelah, pasrah dan berdebar menanti esok hari beralih mendominai keempatnya.

Leeteuk harus segera pulang, sudah lewat tengah malam dan akan kembali lagi besok. Beruntung besok minggu. Dia punya cukup waktu meski malam ini dia berencana menenggelamkan diri secepatnya di kasur rumahnya sendiri. Dia akan cukup segar besok jika segera pulang.

Tuan dan nyonya Kim segera masuk kamar begitu Leeteuk pergi. Namun bukan segera tidur justru tidak bisa tidur. Mereka membayangkan besok. Kyuhyun mereka akan pulang, tapi bukan sebagai Kyuhyun putra mereka. Dia putra orang lain. Itu membuat mereka gelisah. Senang pun jadi tidak sepenuhnya. Mengetahui kenyataan jika Kyuhyun tidak benar-benar kembali pada mereka.

"Kita akan membantunya mengingat. Seperti yang dikatakan Leeteuk-ssi." kata tuan Kim melihat Hera begitu gelisah.

"Tapi bahkan banyak peraturan yang harus diperhatikan. Salah-salah Kyuhyun justru akan semakin jauh dari kita." Hera tidak bisa sepenuhnya tenang.

Henry sendiri tidak bisa tidur sama seperti mereka. Jadi dia memutuskan untuk menghubungi Changmin. Sahabat kakaknya itu juga masuk dalam hitungan orang penting untuk Kyuhyun. Jadi perlu tahu hal ini. Sayangnya Henry lupa ini sudah lewat tengah malam, sehingga niatnya menghubungi Changmin tidak berbuah bagus. Changmin tidak mengangkat teleponnya. Sebaliknya Henry meninggalkan pesan agar bisa dibaca Changmin besok pagi. Setelah itu baru Henry merebahkan diri. Memaksa dirinya sendiri untuk tidur.

0o0o00o0

0o0o0o0

0o0o0o

0o0o0

0o0

Jaerim membenarkan kancing kemeja putih yang digunakan Kyuhyun.

"Cha, sekarang anak eomma jauh lebih tampan." puji Jaerim memandang lekat wajah Kyuhyun. Ya Kyuhyun akan sangat tampan dan terlihat normal saja jika hanya diam seperti ini. Jaerim yakin banyak yeoja yang akan tertarik kepadanya.

"Eomma kita pergi kemana?" tanya Kyuhyun tidak mengerti. Jaerim bilang mereka akan pergi sore ini. Karena itu dia disuruh siap-siap karena Zou Mi akan segera datang.

"Ke tempat keluarga Kyu."

"Ke tempat keluarga Kyu?" ulang Kyu dengan nada bertanya.

Jaerim meluruskan rambut Kyuhyun di depan telinga, lalu tersenyum pada pemuda itu. "Kita akan berkunjung. Kyuhyun harus bertemu mereka."

Kyuhyun masih tidak mengerti. Keluarga yang mana? Apa dia mengenal mereka? Kenapa harus kesana? Dia tidak ingin pergi kemanapun hari ini. Tapi Kyuhyun tetap diam hingga Zou Mi datang dengan mobil. Mengangkut mereka pergi ke suatu tempat.

0o0o0o0

Tempat petemuan berganti menjadi rumah keluarga Kim. Hera khusus hari itu menutup kedainya. Bersama dengan Young Woon dan Henry ditambah Changmin sibuk menyiapkan berbagai makanan sejak pagi. Padahal waktu yang disetujui adalah sore. Sehingga saat makanan siap ternyata waktu masih panjang dari jam kedatangan.

Hera memanaskan makanan ditemani Young Woon. Sedangkan Changmin dan Henry menunggu di ruang tamu. Menunggu dengan gelisah.

"Kau yakin Kyu akan datang?" Changmin berulang kali memastikan.

"Kau harus bersabar, hyung." jawab Henry kesal.

Changmin meringis menangkap kekesalan Henry. Namun melihat kaki Henry yang tidak bisa diam, dia tahu Henry sama cemas dengan dirinya. Jadi dia berusaha diam. Sejak membaca sms yang dikirim Henry dia tidak memikirkan apapun selain Kyuhyun. Dia keluar dari rumah tanpa mengisi perutnya. Bergegas ke rumah keluarga Kim untuk memastikan kabar tersebut. Ajaibnya dia tidak merasa lapar hingga sore begini.

Saat Changmin mengusap perutnya dengan perasaan heran, bel rumah ada yang memencet. Dia langsung merespon. Begitu juga dengan Henry. Namun tidak ada satupun dari mereka yang beranjak untuk membuka pintu sampai Hera berlari dari arah ruang makan.

"Apa yang kalian lakukan? Harusnya salah satu dari kalian buka pintu." tegurnya seraya berjalan lurus ke pintu. Sejenak dia hanya berdiri dengan tegang. Changmin dan Henry bangkit dari duduknya, menunggu Hera membuka pintu.

0o0o0o0o0

"Eomma, rumah siapa?" Kyuhyun menarik-narik ujung baju Jaerim.

"Rumah keluarga Kyunie."

"Ada appa?"

"Ada."

Kyuhyun tersenyum senang. "Bertemu appa."

Jaerim melempar senyum. Dia bisa merasakan genggaman Zou Mi menguat di tangannya yang lain. Saat pintu perlahan terbuka, dia balas menggenggam balik tangan Zou Mi.

0o0o0o0o0

Hera menatap tidak percaya. Menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Memandang hanya pada satu sosok. Membiarkan pintu terbuka lebar, dia hanya mampu mematung. Satu persatu orang-orang di dalam rumah berdatangan, di belakangnya.

Dia datang.

Kyuhyun mereka datang.

Bagaikan mimpi menjadi kenyataan.

"Selamat sore." sapa Jaerim pertama kali sekaligus mengusir suasana yang terasa mengharukan namun juga harus segera diakhiri. Mereka tidak mungkin hanya menatap dan berdiri di depan pintu seperti ini.

"S-sore." hanya Young Woon yang membalas. Dengan kaku dia meletakkan tangannya di pundak Hera, meremasnya dengan lembut. "Persilahkan mereka masuk, Hera-ya."

Hera tidak berkedip memandang Kyuhyun. Mengangguk kaku mendengar perintah suaminya. "Masuklah. Kami sudah menunggumu." masih tidak ingin melepas pandang pada Kyuhyun.

Kyuhyun sedikit mundur di belakang Jaerim. Memeluk erat lengan eommanya hingga Jaerim harus meyakinkannya jika tidak apa-apa.

"Ahjumma itu aneh, eomma." bisik Kyuhyun yang merasa risih dipandangi Hera.

"Dia orang baik, sayang. Kau pasti menyukainya nanti."

Kyuhyun manyun namun tetap menurut saat Jaerim membimbingnya masuk ke dalam. Menyusul tuan rumah yang lebih dulu masuk.

Kyuhyun memperhatikan sekitar. Merasakan tempat asing namun tidak mengasingkan baginya.

"Kenapa Kyunie?" tanya Zou Mi memperhatikan.

"Kyu pernah kemari?" tanya Kyuhyun balik.

"Pernah."

"Eh?" Kyuhyun tertarik sekarang. Menatap Zou Mi intens dia bertanya. "Kapan?"

"Dulu. Kau lupa?"

Kyuhyun menggembungkan pipi. Menggeleng. "Kyu tidak ingat apapun. Mimi jelek membohongi Kyu, pasti."

"Asal nuduh. Kyunie saja yang pelupa." kata Zou Mi memilih duduk di sisi Jaerim. Kyuhyun ingin protes dimana Zou Mi duduk, namun lengannya lebih dulu ditarik seseorang dan didudukkan di kursi lain.

"Kyuhyun-ah duduk saja disini."

Kyuhyun memandang pemuda tinggi yang menariknya. Lalu menatap Jaerim seolah meminta tolong, namun Jaerim menolak untuk tahu. Kyuhyun kesal jadinya. Dia tahu, seharusnya tidak keluar rumah hari ini.

"Kyu, kenapa?"

Kyuhyun menoleh. "Hyungnim kenal Kyu?" tanyanya pada pemuda tinggi itu.

Bukannya menjawab, pemuda di depannya justru meringis lebar. Menggaruk kepalanya seperti orang bodoh. "Tentu saja." jawabnya setelah itu.

"Nama hyung?"

"Changmin?" sungguh Changmin merasa sangat aneh. "Apa kau benar-benar tidak ingat padaku?"

"Siapa?" Kyuhyun menggeleng setelah mencoba mengingat.

"Kalau aku?" Henry menunjuk wajahnya sendiri setelah hanya memperhatikan mereka saja. Saat Kyuhyun melihat lurus-lurus wajahnya, Henry meneguk ludah sendiri. Melengos dia mengumpati betapa kedua mata kakaknya bisa sepolos itu.

"Hyung kenal Kyu juga?"

"Tentu saja. Dia Henry. Putra ahjumma dan ahjussi Kim."

Kyuhyun beralih kembali pada Changmin yang menjawab pertanyaan yang seharusnya dijawab Henry. Kyuhyun bingung. Mereka sepertinya mengenal dirinya tapi dia sama sekali tidak ingat mereka. Orang-orang asing tapi tidak mengasingkan.

"Eomma, appa eodie?" Kyuhyun memilih bertanya dimana sang appa. Tentu saja Leeteuk yang ditanyakan. Tapi Young Woon yang jadi tegang. Meremas tangannya dengan gugup. Dia sudah diingatkan bahwa Leeteuklah yang disebut 'appa' oleh Kyuhyun.

"Dia akan segera datang. Kyunie mengobrol dulu saja dengan mereka. Semua sangat merindukan Kyu, soalnya." kata Jaerim. Dari ujung matanya dia bisa melihat tuan Kim menundukkan wajah. Dia bisa melihat kesedihan dari lelaki baya itu. Dan dia juga bisa menebak apa yang dilakuan Hera di dapur begitu lama. Hanya membuat minum tapi tidak kunjung keluar.

"Tapi Kyu ingin bertemu appa." rengek Kyuhyun tidak peka pada perasaan di sekitarnya.

"Kami akan menenami Kyu hyu-.. Kyu sampai appa Kyu datang." kata Henry hampir keceplosan menyebut hyung pada Kyuhyun.

Kim Young Woon menahan dirinya sekuat mungkin untuk tidak merengkuh tubuh itu dalam dekapan erat. Sungguh, dia tersiksa. Ini mimpi yang menjadi kenyataan namun sangat menyakitkan saat orang yang berada didepanmu tidak bisa kau peluk. Kyuhyun ada didepannya namun bahkan untuk membuka mulut Young Woon tidak sanggup.

0o0o0o0o0

Mereka memperhatikan sebuah rumah dari dalam mobil. Memperhatikan dari beberapa menit lalu tanpa melakukan apapun. Mereka ingin turun dan ikut masuk bergabung. Namun apa daya. Mereka tidak diundang. Mereka juga tidak tahu jika mereka muncul entah apa yang akan terjadi.

Tok tok tok

Hingga kaca pintu mobil di ketuk seseorang. Siwon menoleh kemudian menurunkan kaca mobilnya. "Leeteuk-ssi?"

Leeteuk tersenyum miring. "Sudah kuduga, itu kalian."

Bukan hanya Siwon tapi juga tuan Choi dan dua Choi lainnya. "Kenapa tidak ikut bergabung saja? Aku juga akan kesana."

Itu hampir sama dengan undangan. Namun Siwon menggeleng. "Kami pasti memiliki gilirannya sendiri. Kami akan bersabar."

Leeteuk mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan memaksanya mengingat, arra? Tidak ada pemaksaan."

"Kami mengerti, saem. Jadi pergilah dan biarkan kami lebih bersabar lagi." itu ucapan Kibum dengan nada dinginnya yang jengah oleh gangguan Leeteuk. Guru itu seolah mengejeknya yang menahan kedua kakinya untuk tidak bergerak keluar.

Leeteuk berlalu dengan cuek setelahnya. Tujuannya, tentu saja rumah keluarga Kim yang jadi satu-satunya titik intai keluarga Choi. Jika mereka tidak menerima undangannya maka tidak masalah. Lebih sedikit orang maka itu tidak akan memberatkan Kyuhyun. Keluarga Kim saja pasti sudah membuat anak itu kebingungan.

0o0o0o0o0

"Appaaa~!" Kyuhyun senang sekali melihat Leeteuk akhirnya datang. Dia sudah merasa jika dibohongi, tapi akhirnya lega melihat Leeteuk.

"Kau senang sekali melihatku, Kyu." Leeteuk balas memeluk Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk-angguk semangat. "Appa tidak datang ke rumah baru?"

Zou Mi sudah masam melihat kedatangan Leeteuk. Namun sebagai gantinya dia puas melihat wajah muram tuan Kim. "Anda sepertinya tidak begitu terkejut?"

"Aku sudah mendengar segalanya dari Leeteuk-ssi."

"Jadi anda sudah lebih dari siap."

Young Woon menggeleng. "Ini tetap terasa sulit."

Percaya atau tidak Zou Mi tidak merasa iba pada Kim Young Woon. Sebaliknya rasanya puas melihat lelaki yang dulu menolak Kyuhyun mati-matian kini berbalik mendambakannya setengah mati.

"Leeteuk-ssi datang tepat waktu. Kami baru akan mulai makan malam."

Changmin jadi ingat perutnya belum terisi. Henry terkekeh geli melihat wajah lucu Changmin seraya mengelus perutnya. "Lapar Chang hyung?"

"Kau pikir?! Aku bahkan melewatkan sarapan dan makan siangku." Changmin si tukang makan melewatkan dua kali jam makannya? Menakjubkan! Henry hampir bertepuk tangan dan tertawa terbahak. Namun urung melihat begitu banyak orang disini. "Eomma aku sudah sangat lapar." beralih merajuk pada Hera agar segera untuk beralih ke ruang makan.

Hera mengangguk. Semua pun beralih ke ruang makan yang sudah ditata. Menambah kursi hingga cukup untuk mereka berdelapan. Kyuhyun berbinar melihat semua masakan di meja.

"Eomma, ayam!" Kyuhyun menunjuk salah satu menu dan berseru tidak tahu malu.

Jaerim mengangguk. "Kau boleh makan sepuasmu."

"Boleh?" binar senang Kyuhyun membuat mereka gemas. Tanpa sadar baik Hera juga Young Woon tersenyum tulus.

"Kyunie boleh memakan apapun. Semua memang disediakan untukmu." kata Hera mencoba menjalin ikatan baik dengan Kyuhyun yang baru. Dia tidak banyak kesempatan dan tidak memiliki cukup keberanian selama di ruang tamu tadi. Sekarang, meja makan adalah kuasanya. Jadi dia sedikit leluasa. Dengan sigap dia mengambil mangkuk Kyuhyun mengisinya dengan nasi hingga penuh dan menawarkan segala lauknya.

Selayaknya bocah polos Kyuhyun menerima baik perlakuan Hera. Dia mengangguk pada setiap masakan yang ditawarkan padanya. Memakannya dengan lahap. Semua merasa lega. Kyuhyun menjalaninya dengan baik. Meski masih menganggap mereka asing. Tapi semua orang yakin itu hanya masalah waktu. Cintalah yang akan menunjukkan jalannya kelak.

0o0o0o0o0

Kibum melihatnya. Kebersamaan mereka di dalam sana. Dia memperhatikannya dengan baik. Dia memang berbeda tapi dia tetap sama. Senyum itu, sorot mata itu, semua hanya berubah. Berubah menjadi lebih baik. Lebih hidup dibanding beberapa bulan silam. Kyuhyun jauh lebih baik.

Dia merindukanya juga. Tentu saja.

Kibum sengat ingin mendekat. Namun tidak cukup nyali untuk hadir. Jadi hanya ini yang mampu dia lakukan. Bersembunyi, mengintip seperti penguntit. Hanya untuk memuaskan diri.

Cling

Kibum merogoh saku jaketnya. Melihat pesan yang baru masuk.

'Tidak akan puas hanya melihatnya, Kibum. Percayalah. Kau perlu untuk menunjukkan dirimu juga.'

Dari Zou Mi.

"Sialan." umpat Kibum namun senyum terukir di bibirnya. Memasukkan ponsel tanpa membalas pesan dari Zou Mi. saat melihat kembali ke dalam matanya bersiroboh dengan Zou Mi. Hanya sesaat mereka saling pandang hingga Kibum memilih untuk menyingkir pergi. Memilih mengikuti jejak ayah dan saudara-saudaranya yang lebih dulu pergi.

0o0o0o0

"Zou Mi." Jaerim menyentak lengan Zou Mi yang terus memandangi keluar. "Apa yang kau lihat?"

"Tidak." elak Zou Mi. "Kyu kau tidak memasukkan semua ke dalam mulutmu." tegurnya kemudian melihat cara makan Kyuhyun.

"Enak, Mimi. Kyu bisa memakan semuanya! Ahjumma pintar masak!" Kyuhyun memuji Hera dengan mulut penuh makanan.

"Kau harus menelan makananmu baru bicara, Kyunie." lagi dia mendapat teguran dari Jaerim. Kyuhyun manyun. Pipinya menggembung besar karena makanan.

"Eomma cerewet." gumamnya.

"Mwo?!" Jaerim melotot. "Bilang apa barusan?"

Kyuhyun menggeleng polos. "Eomma cerewet Mimi yang bilang."

"Yak!" seru Zou Mi. "Anak nakal! Tidak ada naik bianglala lagi!" ancam Zou Mi.

Kyuhyun menjulurkan lidah tidak takut. "Appa akan mengajak Kyu naik bianglala." kembali menjulurkan lidahnya mengejek Zou Mi.

Zou Mi menggeram kesal. "Setan kecil." desisnya.

Hera tertawa geli. "Kalian selalu bertengkar?"

Kyuhyun mengangguk. "Karena Mimi nakal. Kyu sering dijahili Mimi. Dia juga mengolok Kyunie, ahjumma. Ahjumma juga harus hati-hati pada Mimi. Dia anak nakal. Sangat nakal." sifat cerewet Kyuhyun mulai timbul.

"Aigoo anak itu! Tidak sadar pada diri sendiri." cibir Zou Mi gemas.

Jaerim menyodok perut Zou Mi. "Itu ajaran darimu."

Di meja makan semua menjadi lebih hangat. Masing-masing belajar menyesuaikan diri dengan Kyuhyun yang baru. Waktu bergulir dan mereka tidak sadar jika beberapa jam sudah terlewat hanya untuk makan malam. Hidangan ludes tidak bersisa. Semua merasa kenyang. Semua merasa senang. Hanya ada tawa dan perdebatan-perdebatan kecil yang tidak berarti. Hingga waktu juga yang memisahkan mereka.

Changmin dan keluarga Kim nampak tidak rela akan waktu berpisah. Mereka butuh lebih panjang untuk bersama Kyuhyun.

"Ayolah. Kami hanya berjarak satu tikungan dari kalian." kata Zou Mi akhirnya.

"Satu tikungan?!" kaget Henry. "Maksudmu sunbae rumah yang itu? Dengan halaman luas dan pagar hidupnya?"

Zou Mi mengangguk. Henry terlihat gembira, menarik lengan Changmin dan mengguncangnya dengan semangat. "Chang hyung, aku selalu melewati rumah itu! Bodohnya aku tidak menyadarinya!"

"Kau memang pabbo. Dan hentikan itu, kau ingin lenganku lepas?!" hardik Changmin merasa linu di pangkal lengannya. Henry spontan melepaskan lengan Changmin, meminta maaf.

Kyuhyun menguap lebar. Hera tersenyum geli. "Kyunie mengantuk, eoh?"

Kyuhyun mengangguk saja. "Pet Kyu kekenyangan. Masakan ajhumma daebak. Mereka senang, Kyu juga senang."

Hera tidak pernah bayangkan Kyuhyun-nya akan semanis ini. Dengan pipi gembil dan mata mengantuk dia masih bisa mengatakan hal yang bisa mengundang tawa.

"Jadi Kyu tidak keberatan untuk sering datang, kan?"

Kyuhyun melihat Jaerim sebelum menjawab. "Eomma Kyu, memberi ijin jadi Kyu akan datang."

"Ahjumma tunggu."

Kim Young Woon menepuk sayang kepala Kyuhyun. Tidak banyak yang bisa dia katakan, jadi hanya sebatas ulasan senyum juga pelukan hangat. Dia merasa bisa menyalurkan segala kerinduan dan apa-apa yang terlewat selama ini. Sedikit menyakitkan tapi ini adalah penebusan. Young Woon menerima segalanya dengan lapang diri.

Kyuhyun lebih dulu berjalan dengan Zou Mi. Dia dipaksa masuk mobil saat baru saja akan meminta Leeteuk pulang bersama mereka. Tapi batal oleh desakan Zou Mi yang ingin segera pulang.

"Jaerim-ssi." panggil Hera sebelum Jaerim mengambil langkah.

"Tidak, panggil saja Jaerim. Aku juga akan memanggilmu ahjumma. Maka hubungan kita akan sedekat itu juga." balas Jaerim.

Hera menyambutnya dengan baik. Tidak canggung memanggil Jaerim dengan nama kecilnya saja. "Aku perlu mengucapkan banyak terima kasih. Kau merawat Kyuhyun kami dengan sangat baik selama ini. Dia menyayangimu, pasti karena kau juga menyayanginya. Kau orang baik, Jaerim-ah. Putra kami begitu beruntung."

Jaerim tertegun sejenak. Dia tidak berfikir Kyuhyun orang yang beruntung. Sebaliknya dialah yang beruntung. Dia mendapatkan banyak hal dengan merawat Kyuhyun. Cinta seorang anak juga seorang lelaki. Cinta yang dia rasa jauh lebih besar dari cinta yang pernah dia dapatkan. Jaerim yakin dirinyalah yang paling beruntung.

"Ahjumma jangan cemas. Aku dan Zou Mi akan usahakan agar Kyuhyun sering datang. Lebih banyak waktu bersama kalian, maka peluang untuk mengingat akan jauh lebih besar. Saya hanya berharap kalian bisa bersabar dengan hal itu."

Hera mengambil tangan Jaerim, menatapnya penuh terima kasih. "Tentu. Kami akan bersabar dan melakukan semua yang perlu dilakukan. Kami akan mendengarkan kalian."

Jaerim menepuk tangan Hera. Mereka saling menguatkan. Berharap yang terbaik dan kelancaran. Untuk terakhir kalinya Jaerim berpamitan.

TBC

Tuesday, January 10, 2017

7:06 AM

Friday, January 27, 2017

1:28 PM

Untuk yang ngerasa PM maaf gak bales tapi nih aku kasih update an *Kyuli99

Ada yang protes kenapa lama? Karena aku sibuk. Dulu waktu bulan desember itu sudah nulis sampe setengah chap. Tapi ada urusan di karang taruna. Perlu fokus untuk itu. Lalu masalah datang bergantian. Satu belum kelar yang lain ikut cari perhatian. Jadi bahkan sampai sekarang kagak kelar-kelar.

Kenapa masih bisa update di tengah masalah numpuk? Inilah pelarian. Semoga merasa puas. Sekalipun gak puas balik lagi aku bilang puas puasin ajah yach.

Sampai jumpa di next chapter

Text me

Sima Yu'I

(SY'I)