hai! sepuluh hari dari part pertama ya? saya padahal niat banget mau update tepat di hari ke tujuh tapi ya begitulah. hehe
sampai detik fict ini di publish, saya belum nemu ending yang pas. bear with me ya, kesayangan. chu~
minminyeol : halo! Akai Ito itu kayak semacam legenda benang merah jodoh kalau di Jepang sana. jadi, di jari kamu dan jodohnya kamu nanti, ada seutas benang merah yang nyatuin kalian, gitu katanya.
Jinjin22 : duh, makasih banget kalau emang kamu suka, ehehe. saya juga kadang suka bingung sendiri sama otak saya ini, suka aneh-aneh hahaha.
Nam-SuPD : pertanyaan kamu bagus banget! dulu saya juga bingung pas nulis fict yang berpart-part gini, mending saya bikin judul baru apa gimana, gitu. tapi abis itu saya mutusin buat tetep masukin di NAMJINPEDIA ini aja. selagi words di satu chapternya kurang dari 2k saya bakal masukin ke sini. tapi kalau nanti saya punya cerita yang wordsnya lebih dari itu, saya bakal bikin judul baru, ok luv?
Ammy Gummy : kamu suka YoonJin? saya juga lho! Yoongi itu satu-satunya member yang saya ijinin ngerusak hubungan NamJin di fanfict. tapi saya suka gak tega kalau NamJin kepisah, jadi Yoongi ujung-ujungnya bakal balik ke Jimin lagi hahaha
saya makasih banget sama kalian yang udah ninggalin review. saya sempet gak pede sama cerita yang satu ini.
mudah-mudahan saya gak ngecewain kalian yang udah bersedia mampir ya?
kalau kecewa, tulis di review aja. gak apa-apa wks.
happy reading, luv!
Akai Ito
[2]
Jin sedang berbaring di tempat tidurnya bersama Namjoon malam itu. berdua mereka menatap langit-langit kamar Jin dalam diam. kali ini, pikiran keduanya ramai dengan hal yang sama.
"Namjoon, berapa lama waktu yang kau punya untuk menyelesaikan semua ini?" tanya Jin.
"empat belas hari penuh sejak aku bertemu denganmu," jawab Namjoon.
Jin kemudian memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Namjoon. "kau hanya punya waktu sembilan hari lagi?"
Namjoon mengangguk. "hey, Jin, apa kau percaya kita benar-benar ditakdirkan bersama?" tanyanya.
"aku bahkan masih tidak percaya aku sekarang berbicara denganmu," jawab Jin.
Namjoon lalu mengangguk, "kau benar. ini memang sulit dipercaya," katanya. Namjoon kemudian melayang lagi dengan posisi duduk bersila. mengeliling kamar Jin sambil bersenandung.
"kau dulu bernyanyi?" tanya Jin.
"tidak, aku seorang rapper. bersama dengan sahabatku Yoongi dan Hoseok, kami sering tampil dari bar ke bar," jawab Namjoon. wajahnya tampak lebih bersemangat dari sebelumnya.
"yah, Namjoon," panggil Jin. Namjoon menjawabnya dengan gumaman. "apa kau benar-benar ingin kembali?" tanyanya.
Namjoon perlahan turun dan berbaring lagi disamping lelaki itu. "tentu saja. masih banyak hal yang belum sempat kulakukan. aku, Yoongi dan Hoseok sedang menciptakan musik kami untuk ditawarkan ke label-label rekaman. aku ingin menjadi rapper terkenal bersama mereka. itu adalah mimpi terbesarku," jawabnya.
Jin menatap arwah yang kini terlihat lebih hidup itu. "musik adalah hidupmu sepertinya," kata Jin, tersenyum.
Namjoon mengangguk. "dan lagi, jika aku mati dan pergi, bukankah rasanya sayang sekali?"
Jin mengerutkan keningnya bingung, "kenapa?"
Namjoon tersenyum menatap Jin, menatap mata lelaki itu lekat-lekat. "jika benar kau jodoh yang takdir gariskan untukku, rasanya sayang sekali harus pergi begitu saja."
Jin berusaha menahan diri untuk tidak tersipu mendengar ucapan Namjoon. "yah, Namjoon..."
"aku ingin kembali, Jin. aku ingin meraih mimpi-mimpiku. aku ingin bertemu denganmu lagi. aku ingin melihat apa benang merah ini benar-benar menyatukan garis takdir kita juga. sebab sejujurnya, berjodoh denganmu ku rasa tak ada buruknya."
Jin merasakan jantungnya yang berdebar lembut. dirasakannya tatapan Namjoon yang menghangatkan hatinya. perlahan semburat merah menjalari pipinya, membuatnya tersenyum kecil.
tanpa keduanya sadari, perlahan gulungan benang merah yang awalnya tergulung kusut itu mulai terurai.
hari-hari yang Jin lewati setelahnya tak lagi sama. saat pertama kali matanya terbuka ketika pagi datang, Namjoon selalu berada disampingnya. menatapnya sambil tersenyum lalu mengucapkan selamat pagi. Jin tidak pernah sendirian lagi menunggu bis saat akan pergi ke kampus. tidak sendirian lagi saat makan siang dan pulang menuju apartemennya. Jin tidak pernah takut lagi menyusuri lorong kampus yang gelap saat kuliahnya selesai terlalu malam, sebab ada Namjoon. Namjoon bilang, hantu-hantu di sana tidak ada yang berani dengannya karena dia terlalu tampan.
Jin juga tidak sendirian lagi menikmati film di Jum'at malamnya.
"terkadang bersama Jimin jika dia tidak sibuk di sanggar tarinya. dia itu penari yang hebat, kau tahu," kata Jin, dipangkuannya ada semangkuk besar popcorn manis.
Namjoon mengangguk saja. matanya terpaku pada tontonan dihadapannya.
"kau sendiri, apa selalu bersama Hoseok dan Yoongi?" tanya Jin.
"ya, aku selalu menghabiskan waktu bersama mereka. bahkan lebih banyak dari waktu yang kuhabiskan dengan adikku Jungkook," jawab Namjoon.
"kau punya adik?"
Namjoon mengangguk. "umurnya tiga tahun lebih muda dan tidak pernah bisa diam. dia hanya diam saat berada di depan meja komputernya untuk bermain game. atau saat makan ramyeon."
"kau merindukannya?"
Namjoon menatap Jin sekilas sambil tersenyum, lalu kembali memperhatikan tontonan mereka. "tentu saja."
Jin mengangguk-ngangguk. "Namjoon," panggilnya.
"hn?" Namjoon menyahut pelan.
"apa benang merah ini sudah tak kusut lagi?" tanya Jin.
Namjoon mengalihkan pandangannya ke benang merah dijari kelingkingnya dan kelingking Jin. "sudah tidak seperti beberapa hari yang lalu. mungkin karena kita sudah banyak menghabiskan waktu bersama. hanya ada beberapa simpul yang terikat."
"bagaimana dengan yang dikelingkingku?" tanya Jin lagi sambil mengangkat kelingking kanannya.
Namjoon menggeleng pelan. "masih sama. jika simpul-simpul itu tertarik aku takut benang merah milikmu akan putus."
Jin menatap Namjoon lekat-lekat. mempelajari baik-baik bentuk wajah yang kini masih pucat itu, menerka-nerka seperti apa bentuknya saat menjadi manusia. apa akan sama tampannya? apa lesung pipi itu akan terlihat menarik?
"Jin," panggil Namjoon.
"hn?" sahut Jin.
"jika nanti aku tidak bisa kembali, apa tidak apa-apa?" tanya Namjoon.
Jin diam. tidak, dia tidak ingin Namjoon pergi atau menghilang. Jin sudah terbiasa dengan Namjoon yang melayang-layang mengikutinya kemana pun. Jin sudah terbiasa dengan Namjoon yang berada disampingnya saat bangun pagi. Jin bahkan sudah tidak terkejut lagi saat Namjoon menembus dinding-dinding di apartemennya. Jin... hanya tidak ingin Namjoon pergi.
"kau tidak akan kembali?" tanya Jin pelan. "katamu gulungan benang merah ini bahkan sudah tidak sekusut di awal. kita hanya perlu memikirkan cara bagaimana agar menyatukan milikku. kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Namjoon tersenyum. "kau tidak ingin aku pergi?"
Jin hanya diam, tidak menjawab.
"jika aku kembali, aku tidak tahu apakah aku bisa langsung menemuimu atau tidak, tapi... aku benar-benar ingin bertemu denganmu. lagi," ungkap Namjoon.
"apa maksudmu?" tanya Jin.
"kau tahu, takdir terkadang suka bermain-main. aku tidak tahu apakah setelah aku kembali nanti takdir langsung menuntun langkahku untuk bertemu denganmu. bagaimana jika ternyata kita justru tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat? bagaimana jika kita bertemu bertahun tahun setelah hari ini?"
Jin tertunduk. dipeluknya mangkuk besar popcorn dipangkuannya erat-erat. "tidak apa-apa. aku hanya ingin bertemu denganmu lagi. tidak peduli itu dalam waktu dekat atau lama."
"kau benar-benar ingin aku kembali, ya?"
Jin menatap Namjoon. "aku ingin kau kembali, Namjoon. dan bertemu denganku lagi. sebagai Namjoon, bukan arwah yang melayang dan menembus dinding seperti sekarang."
Namjoon tertawa pelan. "aku harus mengingat wajahmu baik-baik, aku tak ingin lupa pada siapa benang merahku tersambung," katanya sembari menatap wajah Jin lekat-lekat. jemarinya terangkat, berusaha menyentuh wajah tampan itu meski dia tahu tak akan ada gunanya. "kenapa aku tak bisa menyentuhmu padahal aku bisa menyentuh benda-benda lain?"
Jin mengangkat bahunya. "aku pun tak tahu."
"Jin..."
"hn?"
Namjoon maju perlahan. mendekatkan wajahnya pelan-pelan. dia tahu ini tidak akan berhasil. tapi sedari awal dia ingin sekali mencium bibir merah Jin yang ketika tersenyum dan tertawa selalu membuatnya berdebar itu. jika dia tidak bisa kembali nanti, setidaknya dia pernah mencoba.
sedangkan Jin hanya diam. matanya menutup perlahan. dia tidak merasakan apa-apa saat Namjoon mendekat selain udara dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Namjoon tidak tahu apa takdir benar-benar menggariskan mereka bersama, tapi Namjoom ingin mencoba. Jin terasa baik untuknya. Namjoon tidak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan untuk menyatukan benang merah di jari kelingking Jin dan mengurai simpul pada benang merah yang mengikat keduanya. tapi Namjoon akan mencoba. sebab kini Jin sudah menjadi mimpinya.
kembali ke raganya dan bertemu dengan Jin sekali lagi adalah mimpinya.
"aku akan bertemu denganmu lagi, aku berjanji," bisik Namjoon.
Jin membuka matanya perlahan. "Namjoon?" gumamnya. Jin melihat ke sekelilingnya, berdiri dia dari duduknya, "Namjoon! jangan bercanda! yah, Namjoon!" Jin berteriak panik.
Namjoon tidak ada di dalam pandangannya lagi. lelaki itu menghilang. arwah Namjoon menghilang. begitu saja.
[to be continue~]
