Dering ponsel yang sangat nyaring membuat Sakura yang tengah terlelap dialam mimpinya harus beringsut keluar dari alam mimpinya. Sakura mengernyit saat melihat siapa yang memanggilnya. Apa yang Ayahnya lakukan dengan menghubungi dirinya tengah malam begini. Dengan gerakan slow motion Sakura mengangkat panggilan ayahnya.

Matanya terbelalak nafasnya tercekat saat mendengar berita yang baru saja didapatkannya. Perasaan bersalah menyelubungi hatinya saat ini. Pikirannya kalut sekarang, apa yang harus dilakukannya sekarang.

Suara panggilann ayahnya disebrang sana membuat Sakura mendapat kesadarannya. Walaupun ayahnya tidak melihat dirinya mengangguk sekarang, namun Sakura yakin ayahnya mengetahuinya. Mungkin ini saatnya mengakhiri kebenciannya.

Sakura menghentikan gerakannya saat akan menekan bel apartement Gaara. Dirinya bingung dan segan untuk membangunkan pria itu. Dia merasa tidak yakin harus membebani pria itu sekarang disaat Gaara sendiri sedang banyak pikiran.

Pemikirannya terhenti dan dirinya terkejut begitu pula orang dihadapannya. Sakura terkejut saat melihat Gaara yang sepertinya akan pergi keluar ditengah malam seperti ini. Tidak jauh berbeda dengan Sakura, Gaarapun sama terkejutnya dengan keberadaan Sakura didepan apartementnya.

"Sakura, ada apa tengah malam begini bediri depan pintu. Seharusnya kau masuk saja. Apa terjadi sesuatu?" tanya Gaara membuka percakapan.

Sakura menganguk. "A-Aku akan kembali ke Jepang" Sakura berhenti sejenak.

Gaara menahan nafasnya saat mendengar penuturan Sakura. Apa yang terjadi? Pikir Gaara.

"Ka-Kaa-san masuk rumah sakit, dan A-Aku harus kembali ke Jepang sekarang. Ka-Kau tidak perlu i-"

"Aku ikut" Gaara memotong ucapan Sakura, karena Gaara tahu yang akan diucapkan oleh gadis itu.

"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu, lusa kau akan ada pemotretan dan kita juga telah menandatangi kontrak kerjasama itu. Aku tidak tahu berapa lama aku di Jepang nanti."

Gaara tersenyum lembut, dan mengacak rambut Sakura pelan. "Apa yang kau katakan huh!? Kita fikirkan itu nanti. Sekarang yang terpenting adalah ibumu"

"Terimakasih" Sakura menyunggingkan semnyumnya..

Sasuke menunggui ibunnya yang sedang terlelap. Dari kemarin, semenjak kedatangan dirinya. Ibunya itu selalu berkata 'jangan tinggalkan Kaa-san'. Jadi walau bagaimanapun Sasuke harus mau berada disisi ibunya, walau sang ayah tidak pernah berkata apa apa pada dirinny semenjak tadi.

Seperti sekarang, ayahnya hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa menyapa dirinya walaupun mereka berada diruangan yang sama. Ibunya sedang tidur dan suasana dikamar rawat ibunya sangat hening.

Sasuke tidak tahu harus mengatakan apapun. Dan dirinyapun hanya bisa pasrah dengan sikap ayahnya sekarang. Masih untung ayahnya tidak menendang dirinya ketika ibunga sedang terlelap seperti ini.

Suara decitan kursi mengalinhkan sekilas atensi Fugaku yang tengah sibuk dengan ponselnya. Sasuke memilih untuk keluar sebentar dari ruang rawat ibunya ini. Mungkin dirinya akan mengisi perutnya sebentar.

Sakura berjalan dengan tergesa gesa dilorong rumah sakit dengan Gaara dibelakangnya. Sebelumya ayahnya telah memberitahunya dimana ibunya dirawat dan bertanya terlebih dulu pada resepsionist.

Sakura mengetuk pintu pelan terlebih dulu sebelum memasukinya. Disana terlihat ayahnya yang sedang menunggui ibunya dengan raut wajah sedih, membuat Sakura merasakan sedih juga. Pandangannya beralih menatap ibunya yang sedang terbaring lemah diatas kasur rumah sakit. Dirinya meringis, dan sekarang perasaan bersalah menghampirinya. Masih pantaskah dirinya sekarang berada disini. Apalagi selama ini dirinya melakukan perang dingin dengan ibunya itu.

Sakura tersentak saat merasakan teguran dipundaknya. Sakura menolehkan kepalanya oada Gaara yang dibelakangnya. Gaara tersenyum dan dengan dagunya dirinya menunjuk Kizashi yang sedang tersenyum.

Kizashi merentangkan tangannya, Sakura yang melihat itu segera menghambur pada ayahnya dan terisak pelan. Dirinya bergumam apa ibunya akan memaafkannya, apa ibunya akan membencinya sekarang. Bagaimanapun Sakura juga seorang anak dari ibunya. Dirinya tidak tega melihat kondisi ibunya sekarang.

Kizashi mencoba menenangkan Sakura, mengusap lembut punggung putrinya. Rasanya sudah lama ia tidak memeluk putri kecilnya ini.

Mebuki merasa terusik dalam tidurnya, dirinya mencoba membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing sekarang. Dirinya mencoba menolehkan kepalnya kesamping. Mebuki terbelalak saat melihat siapa orang yang sedang dipeluk oleh suaminya itu. Ia merasa senang dan terharu sekarang, apalagi melihat Sakura yang menangisinya. Hatinya menghangat melihat putrinya berada dihadapannya sekarang. Sakurannya telah kembali.

Dengan suara lemah Mebuki mencoba memanggil nama Sakura dan usahanya berhasil saat Sakura menatapnya. Tanpa aba aba Sakura langsung memeluk tubuh lemah ibunya itu dan mengis kembali. Kizashi menepuk nepuk kepala Sakura lembut, diriya terharu sekarang. Setidaknya istri dan putrinya sudah membaik.

Sedangkan Gaara yang melihat interaksi keluarga kecil dihadapannya tersenyum lembut, tidak ingin mengganggu Gaara, perlahan berjalan keluar dari ruangan itu. Saat menutup pintu ruang rawat, Gaara merasa ada yang memanggilnya, dirinya menolehkan kepalanya kesana kemari dan berhenti saat dirinya menoleh kebelakang.

Seseorang mengahampirinya dengan berlari kecil, Gaara hanya tersenyum kaku saat orang itu menghampirinya, mengingat pertemuan terakhir mereka.

"Hai Mastri" sapa Gaara.

Matsuri tersenyum lebar saat mendengar sapaan Gaara. "Hai juga Gaara-kun" kekehnya diakhir ucapannya.

Gaara mengusap tengkuknya canggung. Dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Matsuri hanya tersenyum geli melihat tingkah Gaara sekarang.

"Oh ayolah Gaara-kun, kau tidak perlu secanggung itu. Ya.. Walaupun itu memang salaku sih.. Hehe" kekeh matsuri sebelum melanjutkan ucapannya

"Tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya, namun bukan berarti aku hanya main main saat itu, aku serius. Dan lagi aku tidak apa apa hehe.. Apa yang Gaara-kun lakukan disini?" tanya Matsuri mengalihkan topik pembicaraan mereka.

"Sedang menjenguk kerabat!?" jawabnya ragu.

"Oh ya siapa?"

"Kaa-san Sakura. Dia sedang dirawat didalam"

"Benarkah!? Aku akan menjenguknya nanti bagaimana jika kita pergi kekantin? Mengobrol?" tawar Matsuri , yang dijawab anggukan oleh Gaara.

Langkah kaki yang bergesekan dengan lantai dilorong rumah sakit memecah keheningan disana. Sakura berjalan dengan sedikit cepat, pasalnya dirinya merasa terlambat untuk pergi kerumah sakit. Salahkan ayahnya yang terus memaksanya untuk pulang dan istirahat di Mansion Haruno, yang akhirnya Sakura menyetujuinya dan terbuai oleh kasur empuk disana.

Sakura mengernyit saat melihat pria yang duduk didepan kamar rawat ibunya. Mengedikan bahunya dirinya langsung membuka pintu tersebut tanpa perlu mengetuknya terlebih dulu.

Sakura bergeming ditempatnya saat melihat seseorang yang ada didalam ruangan ini. 'Hotaru' desisnya. Matanya menatap datar mereka. Dan berniat meninggalkan tempat itu jika ibunya itu tidak mencegahnya.

Mebuki buru buru melepaskan genggaman Hotaru saat meihat Sakura datang. Hotaru sedikit kecewa saat ibunya itu melepaskan genggamannya secara paksa. Namun saat dirinya membalikan badannya, Hotaru sama halnya dengan Sakura, hanya diam ditempatnya.

Hotaru tidak tahu harus bagaimana sekarang, ditambah melihat tatapan datar Sakura padanya. Sakit memang, tapi perasaan bersalahnya membuat dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin sapaan!?

"Ha-Hai.." sapa Hotaru memecah keheningan.

Sakura hanya diam tanapa membalas ucapan Hotaru. Lalu dirinya beranjak dari sana. "Aku akan sarapan dikantin Kaa-san" ucapnya berlalu dari sana.

Sial. Umpat Sakura dalam hati. Bagaimana mungkin dirinya sampai bisa melupakan Hotaru. Ibunya dan Hotaru masih berhubungan baik dan diringa melupakan itu. Seharusnya tadi dirinya menunggu Gaara bangun dan pergi bersama saja tadi. Moodnya sudah rusak sekarang.

Meletakan nampannya kasar secara bersamaan dengan seseorang membuatnya ingin memaki orang tersebut namun diurungkannya saat tahu orangnya.

"Mau apa kau? Pergilah" haaah... Moodnya benanr benar rusak sekarang. Dirinya juga tidak bisa pergi sekarang, huh, memangnya dirinya pengecut sehingga harus pergi? Yah memang sih.. Tapi tidak untuk sekarang.

Bukannya pergi orang itu dengan santainya duduk dihadapan Sakura, dan memandang sekitarnya sejenak.

"Aku tidak melihat bodyguard merah mu hari ini? Tumben,"

Sakura hanya memutar matanya malas dan melanjutkan acara makannya agar bisa cepat cepat pergi.

"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sakit, atau bodyguard merah mu?"

Sakura memandang takjub orang dihadapannya yang sedang out character. "Apa masalahmu huh Senpai!?" sarkas Sakura.

Sasuke hanya menggeleng dan tersenyim kecil, setidaknya Sakura tidak kabur darinnya hari ini. Berdebat kecil bukan masalah bagi Sasuke dan mungkin ini seperti mereka masih sekolah dulu.

"Kaa-san sedang sakit dan sudah seminggu dirinya dirawat. Kau ingin menjenguknya?"

Oh Kami-sama... Batin Sakura. Apa para ibu ibunya sekarang sedang bekerja sama? Tapi itu mustahil. Sakura menganggukan kepalanya. "Nanti" jawabnya.

"Kapan?"

"Kapan Kapan"

"Kejam sekali. Kaa-san pasti akan sedih mendengarnya"

Sakura mendecih, membuat Sasuke menyeringai.

"Jadi?"

"Saat kau tidak ada. Puas?"

"Sayang sekali, aku akan selalu ada ruangannya. Lalu apa yang kau lakukan disini?" ulangnya.

"Sama sepertimu"

"Benarkah? Aku tidak tahu, baiklah aku akan menjenguknya sekarang" Sakura hanya menghela nafas mendengat penuturan Sasuke. Entahlah. Dirinya sekarang hanya merasa lelah dengan adegan kucing kucingan dirinya dan Sasuke. Mungkin memang dirinya harus berani menghadapi semuanya.

Sakura menggeram kesal melihat tingkah Senpainya ini. "Berhentilah mengikutiku" kesal Sakura.

"Siapa yang mengikutimu? Aku hanya ingin mengunjungi Mebuki Kaa-san. " bela Sasuke.

Sedangkan Sakura hanya merotasi kedua matanya. Alasan. Ditengah perjalanan menuju ruang rawat ibunya Sakura menghentikan langkahnya. Sebuah pemikiran masuk dalam benaknya.

"Diruang mana Mikoto Kaa-san dirawat?"

Sasuke tertegun mendengar pertanyaan Sakura. Sasuke tahu apa yang dipikirkan Sakura sekarang. Oh ayolah.. Apa Sakura berfikir dirinya benar benar berani menjenguk mertuanya itu sendiri? Itu sama saja dengan bunuh diri. Bahkan Sasuke tidak yakin orang tua Sakura mau melihat wajahnya.

"Kita bersama saja bagaimana?" tawar Sasuke.

Sial. Sakura baru ingat jika sekarang ada Hotaru dikamar ibunya. Dan lagi apa yang akan terjadi jika Sasuke dan Hotaru bertemu.

Sial. Lagi dan lagi Sakura harus mengumpati dirinya yang ternyata masih belum benar benar membenci Sasuke. Mengiyakan ajakan Sasuke mungkin yang terbaik saat ini. Lagipula dirinya merindukan kaa-san tercintanya itu. Jika bisa memilih Sakura memilih menjadi putri mertuanya dari pada ibunya sekarang.

Sakura menggelengkan kepala mengenyahkan pemikiran konyolnya. Dan mengikuti langkah Sasuke didepannya. Begini tidak apa bukan?

TBC

Hai.. I'm back.. Maafkan menghilang lama.. RL aku lagu ngga bagus.. Semoga suka..