Author : #teriak gaje ampe suara serak.

#iklan sebentar

Author : #batuk. Gohom. Maafkan kelakuan gaje Author barusan. Saking senengnya ama chapter ini sampe teriak – teriak dan dikira udah gila hahaha. Padahal, nyatanya mah emang udah gila. Okeh minna, maaf sudah membuat minna menunggu lama. Akhirnya, selesai juga moment manis untuk pairing utama kita di serial EN ini. Yah, entah bisa dikatakan manis atau tidak, Author tunggu reaksi dan komentar minna. Eits, asal jangan kayak Author sampe teriak hahaha. Sebelum kita beralih pada moment manis itu, izinkan Author membalas review tercinta dari minna. Etto...

Hikari uta : Kemanakah Yuki-chan tercinta kita pergi? Jeng jeng jeng... tepat sekali, hikari-san. Aduh, ketauan banget ya hehehe. Yah, unsur surprise-nya kurang dong berarti. Baiklah, semoga aja chapter ini bisa bikin hikari-san dan penggemar pairing utama kita, senyum – senyum sendiri hehehe.

Guest : Lebih tepatnya sih, Yuki-chan menjual jiwanya ke Karl, Guest-san. Bukan ke iblis dan yah anggap aja si Karl itu iblis hehehe. Ah iya ya, Author sampe lupa point itu karena terlalu terpaku dengan pembebasan semua kebenaran dibalik drama DL. Okeh, sudah Author berikan sedikit penjelasan di chapter ini. Silahkan langsung dicari tahu aja jawabannya gimana, Guest-san.

Silvia-Ki chan : Hii! #langsung sembunyi dibalik meja. Go-gomen Silvia-chan. Jangankan Silvia-chan, Author sendiri aja nggak pernah tahu apa yang dipikirin ama Yuki-chan #ditabok Yuki-chan.

Yuki: Kan aku ini OC mu Author-san, masa iya nggak tahu jalan pikiran OC sendiri sih!

Author : Hush! Kan udah Author bilang, semua yang ada di fanfic ini hasil imajinasi gila dan kedua tangan Author. Akal sehat dan pikiran logis tidak berpengaruh. Balik bales review Silvia-chan. Etto...

Sudah sudah, Silvia-chan. Ini udah Author update lagi kok. Mungkin dengan begini, Silvia-chan bisa mengerti sedikit demi sedikit pemikiran Yuki-chan. Semoga aja sih. Yaps, terima kasih lagi untuk semangatnya Silvia-chan #peluk.

mawarputih : Alasan Yuki-chan pergi udah sedikit Author jelasin di chapter ini, mawarputih-san. Tenang aja, udah nggak ada misteri apa – apa lagi kok. Paling cuman masalah batin dan sedikit drama doang hehehe. Sip, ini udah Author update lagi. Langsung cus aja di baca yak.

nayla : Tenang aja, nayla-san. Yuki-chan nggak pergi kok. Nih ada #ngeluarin Yuki. Oke sip. Pastinya akan Author ikat dan kurung dia, apalagi kalo dia udah mulai berulah hahaha

Yuki : Hei, aku kan nggak ngapa – ngapain, Author-san!

Haruno Bara0201 : Aih jangan nangis Haruno-san, cup cup cup. Jawabannya ada dichapter ini, Haruno-san. Yah, sebenernya sih tebakan Haruno-san tepat. Tapi, untuk memastikan dan memperjelas silahkan langsung dibaca aja hahaha.

Terima kasih tak pernah lupa Author ucapkan untuk Silent Reader yang masih setia menunggu kelanjutan serial EN ini. Pokoknya, jangan sungkan untuk memberikan jejak berupa kritik saran dan semangat tentunya di kotak review. Karena review minna adalah obat ampuh untuk Author tetap terus melanjutkan fanfic yang Author tulis.

Baiklah. Jangan berbasa basi panjang kali lebar kali tinggi. Author yakin pasti minna udah pada penasaran apa yang terjadi dichapter ini. Kalau begitu langsung aja. Selamat menikmati~

.

.

.

Warning : karakter OOC, ada OC, typo, kalimat tidak sesuai dengan EYD, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


True Feelings

Dari semua tempat yang terlintas dalam pikirannya, mengapa harus ditempat ini pun Yuki sama sekali tak mengerti. Alam bawah sadarnya seolah memiliki kehendak sendiri untuk menuntunnya ke tempat ini dibandingkan dengan tempat yang ingin dan sudah cukup lama tak ia kunjungi. Akan tetapi, tak memungkiri juga hatinya sedikit tergelitik untuk berada di tempat dirinya berada, disebuah balkon kamar seseorang. Keadaan kamar begitu gelap dan jelas sekali mengatakan bahwa sang penghuni tak berada ditempat. Yah, mungkin itulah pikiran orang pada umumnya jika tidak mengerti siapa penghuni kamar tersebut. Tangan kiri Yuki terjulur dan membuka dengan perlahan jendela kaca besar tersebut. Padahal tak ada pendingin ruangan tapi Yuki bisa merasakan suhu di kamar itu begitu rendah. Perabotan didalam kamar pun tak begitu banyak dan nampak seperti kamar pada umumnya, kecuali ranjang yang seharusnya ada ditiap kamar diganti dengan peti mati.

Langkahnya sedikit terseret mengingat ia tak membawa tongkat penyangganya, sadar betapa membutuhkannya ia saat ini. Berulang kali ia meringis dan harus berhenti untuk berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh. Setelah perjuangan menyebalkan itu, Yuki akhirnya sampai didepan peti mati yang berada di tengah ruangan. Ukurannya cukup besar untuk peti mati pada umumnya. Warnanya hitam pekat dan Yuki bisa tahu kalo kayu yang digunakan pun kayu kualitas tinggi. Tanpa permisi, Yuki berusaha mengangkat pembuka peti mati tersebut dengan tangan kirinya, mengingat tangan kanannya yang sama sekali tak berguna. Tepat seperti perkiraannya, sosok Sakamaki Subaru terbaring didalam peti mati mewahnya. Kelopak matanya menutupi iris merah darah Subaru dan wajahnya terlihat tenang, tak terlukis emosi apa pun di paras tampannya. Ia hanya berbaring disana, tanpa ingin tahu apa yang sedang terjadi diluar sana. Jika saja orang yang belum mengenal persis Sakamaki Subaru, mungkin orang tersebut akan berasumsi bahwa cowok bersurai putih itu sudah tak ada di dunia lagi.

Yuki menghela nafas dalam diam, merasa iri pada Subaru karena bisa tak memedulikan hal lain. Ia bersandar pada peti mati tersebut, melipat tangan kirinya ditepian peti mati dan mengamati sosok Sakamaki Subaru. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya untuk memainkan surai putih cowok didepannya, sekadar menghilangkan imajinasi gila didalam kepalanya. Entah sejak kapan Yuki memendam perasaan terhadap Subaru, ia tak ingin mengingatnya maupun mengetahuinya. Selama ini, pikirannya semata hanya tertuju pada Mukami bersaudara. Tak ada hal lain, bahkan dirinya yang berada diambang kematian pun, akal sehatnya masih sibuk memikirkan bagaimana caranya melindungi keempat saudaranya. Lagipula, meski ia menyadari perasaannya terhadap Subaru jauh ketika dirinya masih berkutat menghentikan Cordelia, ia tak mungkin bisa menang. Ia tak akan pernah bisa mendapatkan Subaru untuk dirinya sendiri.

Karena Sakamaki Subaru menyukai Komori Yui.

Yuki mendengus pelan, tertampar akan kenyataan pahit didepannya. Bagaimana pun juga, ia tak mungkin bisa menang melawan Yui. Selain penampilan gadis itu begitu manis dan feminim, ia juga memiliki darah kualitas tinggi berkat jantung milik Cordelia. Yuki memang memiliki darah First Blood ditubuhnya yang berarti kualitas darahnya sama tingginya dengan Yui. Namun, apa boleh buat jika cowok bersurai putih itu lebih menyukai darah Yui karena sudah sering mencicipinya.

Parahnya lagi, kenapa aku bisa suka padanya yang terlihat begitu mirip dengan vampire tua menyebalkan itu? Batin Yuki sedikit kesal.

"Berhenti menatapku atau kubunuh kau," ancam sebuah suara dingin.

Kekehan pelan yang terdengar mengejek keluar dari mulut Yuki. Ia menusuk – nusuk pipi kiri Subaru, membuat cowok itu mendelik tajam padanya. "Sayangnya, kau pasti tak akan bisa melakukan hal itu. Terima kasih atas tawarannya," ucapnya percaya diri sembari menjulurkan lidahnya.

"Berhenti melakukan itu!" sembur Subaru emosi karena Yuki tak juga menghentikan jarinya yang menusuk pipinya.

"Kenapa? Aku cukup suka," jahil Yuki. "Lagipula, aku bosan. Hibur aku~"

Subaru menggeram dan hendak kembali menutup peti matinya, namun mendadak tubuhnya membeku ditempat. Wajahnya langsung merah padam dan entah kenapa dirinya berubah gelagapan. Bagaimana tidak, bayangkan saja Yuki yang memaksa masuk kedalam peti mati dan berbaring disamping Subaru. Seringai lebar nan jahil terlukis dibibir gadis itu.

"Apa yang kau lakukan, hah?!" seru Subaru kencang.

Yuki meringis mendapati suara Subaru yang begitu kencang. Sayang, dirinya tak bisa menutupi telinganya mengingat ia berbaring dengan bertumpu sisi kiri tubuhnya. Menggerakan sedikit saja tangan kanannya sudah membuatnya meringis kesakitan dan ia tak ingin merasakan rasa sakit itu lagi. Setidaknya untuk kali ini.

"Subaru-kun, suaramu keras sekali. Bagaimana kalau mendadak aku menjadi tuli?" rengek Yuki.

"Aku tidak peduli! Cepat keluar dari pe-!"

Sebuah ketukan menghentikan ucapan Subaru, nampaknya berhasil membuat cowok bersurai putih tersebut kembali diam. Suara halus Yui terdengar dari balik pintu kamarnya, terdengar sedikit khawatir. "Subaru-kun. Aku mendengar teriakanmu," ucapnya. "Apa ada sesuatu?"

Yuki berusaha keras untuk menahan tawanya, mengabaikan gerutuan Subaru yang ditujukan padanya. Tak ingin pengganggu bertambah di kamarnya, ia menunggu Yui untuk pergi. Benar saja, karena tak ada jawaban Yui memutuskan untuk pergi, merasa teriakan barusan hanyalah imajinasinya saja. Iris merah Subaru mendelik tajam pada gadis yang masih dengan santainya berbaring ditempat peristirahatannya, surganya. "Kau mau apa, kuso onna?"

"Aku punya nama, moyashi," balas Yuki mengejek. Helaan nafas keluar dari mulutnya. Ia kemudian menutup kelopak matanya dan sebisa mungkin menyamankan diri didalam peti mati tersebut. "Sembunyikan aku untuk sementara waktu."

"Hah? Kau gila, ya?"

"Un. Aku gila karena lukaku tak mau juga sembuh padahal aku memiliki darah vampire," jawab Yuki asal. Ia membuka satu matanya. "Kenapa kau tidak berbaring juga? Peti matimu kan cukup besar, pasti cukuplah untuk kita berdua."

Demi Hades dan pengikutnya di Neraka, Subaru bisa merasakan wajahnya yang kembali panas. Bahkan lebih panas dari sebelumnya. Yuki yang melihat reaksi itu tertawa geli, menyamarkan degup jantungnya yang mulai tak beraturan. Subaru benar – benar mudah sekali untuk digoda. "Bercanda kok, Subaru-kun. Wajah merahmu lucu sekali," godanya.

"Kau!" geramnya.

"Tapi," potong Yuki cepat. Suaranya kembali berubah serius, membuat Subaru sedikit terkejut dengan perubahan drastis itu. "Ucapanku tentang menyembunyikanku itu benar," lanjutnya. Ia menarik lemah kaus hitam Subaru dengan tangan kanannya, mengabaikan rasa sakit yang tercipta. "Aku mohon."

Subaru mengacak surai putihnya sebelum berbaring disamping Yuki, menyimpan semua rasa malu dan rona merah yang nampaknya mustahil untuk disembunyikan. Yuki terkekeh geli. Ah, ia bisa mencium aroma mawar putih dari cowok itu. Aroma yang entah sejak kapan ia sukai melebihi aroma keempat saudaranya. Dilain pihak, Subaru benar – benar tak tahu harus berbuat apa sehingga ia memfokuskan dirinya pada kayu dibelakang Yuki. Ia tak pernah sedekat ini dengan perempuan bahkan dengan Yui sekali pun, kecuali ketika dirinya menghisap darah gadis bersurai pirang pucat itu tentunya. Semburat merah masih saja terlukis diwajah tampannya, sama sekali tak menampakkan akan hilang dalam waktu dekat. Yuki yang menyadari hal tersebut tertawa geli, mengundang geraman dari si bungsu Sakamaki.

"Gomen, bukan maksudku untuk mengejekmu," sesal Yuki. Beruntung ia menyembunyikan wajahnya di dada Subaru. Jika tidak, mungkin cowok tersebut sudah menyadari rona merah hebat yang ada di kedua pipinya. "Santai saja, Subaru-kun. Aku tak akan macam – macam. Justru aku yang khawatir kau akan melakukan sesuatu padaku."

Subaru mendengus. "Ya. Jika saja aku tidak ingat lukamu, mungkin sudah kuhisap sampai habis darahmu."

Alis Yuki terangkat sebelah. "Eh? Kau mengkhawatirkan lukaku?" tanyanya sedikit terkejut sekaligus senang. "Senangnya diperhatikan olehmu."

Gerutuan bercampur dengusan menjadi balasan untuk Yuki yang ditanggapi dengan kekehan. Setelahnya tak ada lagi yang berbicara, bahkan Yuki yang pada dasarnya tak bisa diam nampak tak berminat untuk membuka mulutnya. Keheningan tersebut terasa nyaman, membuat Yuki menguap pelan. Ia mendadak merasa lelah, baik secara fisik maupun mental. Aneh, jika berada didekat Subaru, ia sungguh merasa damai dan tenang, yang mana jarang sekali dan hampir tak bisa ia dapatkan mengingat semua kejadian kemarin. Ia memang merasakannya ketika bersama dengan saudaranya. Namun, jika bersama dengan Subaru, terlebih dalam jarak sedekat ini, perasaan itu sungguh berbeda. Dirinya seolah diperbolehkan untuk melupakan semua hal dan tak memikirkan hal lain selain keegoisannya sendiri.

Disaat dunia mimpi nyaris menjemput kesadaran Yuki, suara berat Subaru terdengar di indera pendengarnya. "Kau mau bersembunyi dari saudaramu lagi?"

Yuki terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya pelan. "Kurasa kali ini aku benar – benar akan berpisah dari mereka."

"Seorang brother complex sepertimu?" dengus Subaru. "Kurasa mustahil."

Senyum terlukis dibibir Yuki.

"Kenapa?" tanya Subaru.

"Eh? Apanya?"

"Kenapa... kau ingin berpisah dari mereka?" ulang Subaru. "Mereka saudaramu, kan?"

"Kau tak akan mengerti, Subaru-kun," jawab Yuki cepat.

Subaru mendecakkan lidahnya. Ia menarik dagu Yuki dengan paksa, membuat gadis itu mendongak menatapnya. "Kalau begitu, jelaskan padaku."

Yuki sedikit mengerucutkan bibirnya. "Sisi ini yang paling kubenci darimu, moyashi," ejeknya sambil menepis tangan Subaru didagunya. Namun, Subaru kembali menangkup dagu Yuki, menuntut gadis itu untuk memberikannya jawaban. Yuki mengalihkan tatapannya dari iris merah darah Subaru, menggigit bagian dalam mulutnya sebelum memberikan Subaru jawaban. "Karena... itu karena mereka memaafkanku..."

Alis Subaru berkerut. "Hah? Lalu apa masalahnya?"

"Mereka... memaafkanku dan menerimaku apa adanya. Aku tak bisa..." lirih Yuki, mencengkram kuat kaus hitam Subaru dengan tangan kanannya, melupakan lukanya. "Setelah tahu kebenaran dari semua mimpi buruk ini, aku tak bisa begitu saja melupakan dan memaafkan apa yang telah diperbuat Karl Heinz. Terlebih lagi, aku tahu dan yakin sekali kalau mereka masih menghormati vampire menyebalkan itu."

Subaru diam, tak berbicara sepatah kata pun. Ia membiarkan Yuki melanjutkan, menumpahkan semua apa yang dirasakan oleh gadis itu.

"Selain itu, jika saja aku tidak bertemu dan memaksa untuk berteman dengan mereka, ada kemungkinan mereka tak akan terlibat dalam obsesi gila Karl Heinz," lanjut Yuki. Matanya terasa panas dan entah sejak kapan air matanya turun membasahi pipi juga kaus hitam Subaru. Gigitan pada bibir bawahnya begitu kencang hingga rasa anyir terasa di indera pengecapnya, namun Yuki membiarkannya. Ia tak bisa merasakan apa – apa selain rasa sakit dan sesak di dadanya.

"Meskipun begitu, mereka masih mengulurkan tangannya padaku dan berterima kasih padaku," racau Yuki ditengah isak tangis yang ia tahan sekuat tenaga. Astaga, ia tak ingin Subaru melihat ataupun mendengar isak tangisnya, sisi lemahnya yang jarang sekali ia perlihatkan pada orang lain. Oleh karena itu, mengabaikan rasa malunya dan debaran jantungnya, ia menguburkan wajahnya di dada Subaru. "Aku... tak bisa hidup... seperti itu... yang dipenuhi rasa bersalah terhadap mereka..."

Subaru masih diam, bingung harus berbuat apa untuk menenangkan gadis yang hampir tak pernah menangis didalam pelukannya. Ya, didalam pelukannya yang tanpa sadar ia lakukan. Tubuhnya seolah memiliki kehendak sendiri untuk memeluk gadis tukang jahil tersebut. Begitu sadar, ia sudah mengelus lembut surai hitam pendek Yuki, membenamkan wajahnya disana. Dirinya yang selalu turun tangan dan bertindak kasar bahkan tanpa pikir panjang bisa bersikap lembut terhadap seseorang. Jika sudah berada didekat Yuki, ia seperti bukan dirinya yang biasa. Samar ia mencium aroma manis apel. Ah, dengan jarak sedekat ini ia jadi ingin menancapkan taringnya dan kembali mencicipi darah nikmat gadis itu.

Yuki menarik nafas panjang. Ia mengambil sedikit jarak dan menyeka kasar air matanya dengan kerah kaus putihnya. Jantungnya kembali berdetak cepat dan rona merah menghiasi pipinya tatkala menyadari bahwa Subaru memeluknya guna menenangkan dirinya. Ia merutuki dan mengucapkan semua kata sumpah serapah yang diketahuinya untuk cowok bersurai putih tersebut. Ia kembali menarik nafas dan tersenyum, menunjukkan sosok ceria seorang Yuki.

"Arigatou Subaru-kun," ucapnya. "Maaf ya, kau harus melihat sisi menyedihkanku ini."

"Berkat itu, kausku jadi basah," dengus Subaru. "Asal kau tahu, aku tidak melakukan hal ini secara gratis."

Yuki menggembungkan kedua pipinya. "Baru saja aku berpikiran kau itu baik dan manis. Kutarik semua ucapanku."

Subaru memilih diam begitu pula dengan Yuki. Jika keheningan yang mereka berdua rasakan beberapa menit lalu terasa nyaman, kali ini terasa canggung dan sedikit memalukan. Terlebih untuk Yuki yang benar – benar menyadari bahwa Subaru terlihat tak ingin melepas pelukannya. Ia bisa merasakan tangan kekar Subaru di pinggangnya, seolah membungkus dan melindungi tubuhnya. Dirinya juga bisa merasakan hembusan nafas lambat Subaru. Ada sedikit godaan untuk melihat bagaimana raut wajah Subaru yang memeluk dirinya. Apakah cowok itu juga merona seperti dirinya ataukah bersikap biasa saja seolah pelukan ini tidak memiiliki arti apa – apa. Namun, apapun yang terjadi, Yuki tak akan mendongak. Jika ia melakukannya, tak ada jaminan dirinya bisa menekan perasaan yang sudah membuncah dan nyaris meledak ini.

Nampaknya tak hanya Yuki saja yang mulai merasa tak nyaman dengan posisi mereka berdua. Mengingat bagaimana sifat Subaru terhadap orang lain, sudah pasti cowok itu merasa asing dengan semua ini. Terlebih lagi dengan tubuh Yuki yang rasanya pas sekali dalam pelukannya. Seumur hidupnya, belum pernah ia merasakan hal ini bahkan terhadap ibunya sendiri atau Yui. Ia juga tak menyangka, seseorang yang tegar bukan main, keras kepala, dan menolak untuk memerlihatkan air matanya dihadapan orang lain ternyata begitu kecil. Sebuah bisikan memerintahkan dirinya untuk memeluk lebih erat Yuki, menyanggupi permintaan gila gadis itu. Sekeras apapun Subaru menahan diri, ia tetap tak bisa. Oleh karena itu, ia mendekap lebih erat tubuh Yuki. Astaga, ia bisa mendengar dengan jelas degup jantung gadis itu yang berdetak tak karuan. Begitu pula aroma darah memabukkan gadis bersurai hitam pendek tersebut. Memang benar, kata menahan diri tak pantas untuk Subaru. Mengabaikan protesan Yuki, Subaru sudah menancapkan kedua taringnya tepat dibawah telinga gadis itu.

Yuki tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk menjauh, tapi pada akhirnya tak bisa karena tenaganya tak cukup kuat mendorong tubuh Subaru. Ia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara aneh dengan menggigit bibir bawahnya. Demi setan penggoda yang berada di Dunia Bawah, apakah Subaru baru saja menjilat dan mengulum telinganya. Ia harus menghentikan Subaru, apapun itu.

"La-latihan!" seru Yuki sambil mendorong pelan dada Subaru, membuat jarak diantara mereka berdua. Ia memberanikan diri menatap wajah Subaru yang, astaga, dipenuhi nafsu untuk kembali mencicipi dirinya. Maksudnya, darahnya."Te-temani aku berlatih jalan. Onegai!"

"Hah? Buat apa?" tanya Subaru. Suaranya terdengar serak dan berat. "Lukamu tak akan sembuh kalau kau memaksakan diri."

"A-alasan lain aku da-datang kesini karena memintamu untuk menemaniku berlatih," jawab Yuki cepat dan sedikit tergagap. "Lagipula, kau juga tak ada kerjaan, bukan? Daripada mengurung diri dan mendengarkan obrolan mesra Yui-chan dan Ayato-kun, lebih baik temani aku berlatih."

Subaru menatap Yuki dan menyadari sesuatu. Kedua pipi gadis itu bersemu hebat, membuatnya juga ikut merona. Inikah yang disebut lupa diri sampai tak bisa melihat apa – apa. Menahan malu akibat perbuatannya barusan, Subaru akhirnya menerima ajakan gadis itu. Yuki tersenyum lebar, memanjatkan syukur dalam hatinya. Karena saking senangnya, ia sampai lupa kalau kaki kanannya terluka dan tak sengaja menubruk pinggiran peti mati. Ringkihan terdengar yang mengundang dengusan geli dari si pemilik peti mati.

"Untuk seseorang yang baru saja menangis, kau cukup ceroboh ya? Atau pada dasarnya memang bodoh?" ejek Subaru.

Yuki mendengus. "Orang yang mengejek orang lain bodoh, biasanya lebih bodoh daripada yang diejeknya," balasnya.

xxx

Yuki mengajak Subaru pergi ke taman mawar milik mansion Sakamaki untuk tempat latihan berjalannya. Selain sudah cukup lama ia tidak pergi kesana, Yuki akui suasana disana membuat hatinya sedikit tenang. Ia sebenarnya merasa curiga karena Subaru dengan mudahnya mau ikut menemaninya. Ia tahu persis sifat bungsu Sakamaki bersaudara. Akan tetapi, sisi liar dan dipenuhi nafsu yang diperlihatkan oleh Subaru membuat jantungnya kembali berdetak cepat. Entah ia harus senang ataukah menyesali penemuan sisi baru dari seorang Sakamaki Subaru. Tuhan, sejak kapan Subaru menjadi seperti Raito. Sungguh, cowok tukang goda itu benar – benar memberikan pengaruh buruk pada saudara bungsunya. Yuki menggelengkan kepalanya cepat, mengenyahkan kejadian memalukan beberapa menit lalu. Saat ini, ia harus berkonsentrasi pada latihannya.

Subaru berdiri tepat dibawah menara yang ada di taman mawar tersebut. Iris merah darahnya mendelik tajam kearah Yuki yang berusaha berjalan kearahnya, menyuruh gadis itu untuk cepat. Yuki paham betul apa yang saat ini dipikirkan oleh cowok bersurai putih tersebut. Jika memang bisa, ia juga ingin cepat berjalan tanpa harus kehabisan nafas karena merasakan sakit menyengat dari kaki kanannya. Nampaknya memang cukup mustahil untuk kondisinya yang sekarang ini. Mungkin karena terlalu terburu – buru, Yuki sampai tak memerhatikan tempo langkahnya sehingga harus jatuh terjerembab diatas jalan setapak.

"Jangan mendekat!" titah Yuki, mendengar suara langkah Subaru. Menggunakan tangan kirinya, ia memaksakan diri untuk kembali berdiri. Iris birunya menangkap lutut kirinya yang mengeluarkan sedikit darah. Kemudian pandangannya berubah ke arah Subaru yang berdiri tak jauh didepannya. "Percuma kalau kau membantuku."

"Kenapa kau bersikeras ingin cepat berjalan lagi?" tanya Subaru tak mengerti. "Kau bisa berteleportasi, bukankah itu sudah cukup?"

Yuki menggelengkan kepalanya. Ia kembali melangkah sambil memerhatikan tempo langkahnya. "Aku tak ingin bergantung pada kemampuan itu. Apalagi jika mengingat dari mana aku mendapatkannya."

Subaru mengerutkan alisnya, semakin tak mengerti.

"Kau pasti tahu kontrakku dengan ayahmu, bukan?" tanya Yuki yang langsung dijawab oleh Subaru. "Aku mendapatkannya setelah menjalin kontrak itu. Faktor lainnya mungkin karena darah vampire yang ada didalam tubuhku. Lagipula..."

"Lagipula?"

"Lagipula, aku lebih suka bergerak menggunakan kedua kakiku," lanjut Yuki. Ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang sedikit tak beraturan. Lalu, kembali melangkah sambil mengulurkan tangan kirinya kearah Subaru. "Itu membuktikan bahwa aku masih hidup."

Subaru menerima uluran tangan Yuki, menggenggamnya untuk dijadikan tumpuan oleh gadis itu. "Cewek aneh," dengusnya.

Yuki tak menanggapi ucapan Subaru. "Baiklah. Kita lakukan lagi," ucapnya semangat. "Kali ini jangan bergerak dari tempatmu, ya."

Sebenarnya Subaru enggan diperintah oleh gadis tengil tak kenal lelah macam Yuki. Namun, ia sudah terlanjur menyanggupi permintaan gadis itu. Pada akhirnya, Subaru berpindah dengan cepat ketempat semula dibawah menara dan menunggu Yuki untuk menghampirinya. Yuki menarik nafas panjang dan kembali berjalan. Kali ini ia mencoba berjalan sedikit lebih cepat tapi hati – hati agar tidak terjatuh lagi.

"Mengenai kontrakmu..."

"Ng?"

"Apa karena kau akan menghilang lagi, makanya kau bersikeras untuk bisa berjalan dan berpisah dari saudaramu?"

Yuki tak langsung menjawab pertanyaan Subaru. Senyum tipis terlukis dibibirnya. "Kurasa sedikit mustahil mengingat vampire menyebalkan itu sudah mati," jawabnya. "Lagipula, kontrak itu berlaku untuk mencegah Cordelia membunuh mereka berempat. Jadi, kurasa aku tak akan menghilang lagi."

Subaru diam. Ia bersandar pada dinding batu menara dibelakangnya, menunggu Yuki datang menghampiri dengan langkahnya yang tertatih. Tanpa sadar, ia menghela nafas lega dan merasa sedikit bersyukur gadis gila itu tak akan menghilang tiba – tiba lagi. Apalagi sampai membuatnya menderita karena haus darah. Meskipun Subaru tak akan pernah mengakuinya, sekarang ia merasa hanya darah Yuki yang sanggup membuatnya puas. Ah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ditambah dengan lutut kiri gadis itu yang terluka dan mengeluarkan sedikit bercak darah, menggoda dirinya tanpa ampun. Jika saja bukan karena kejadian memalukan tadi, mungkin ia sudah kembali menghisap darah Yuki.

"Oh iya, mulai sekarang apa yang akan kau lakukan, Subaru-kun?" pertanyaan Yuki berhasil membuyarkan lamunannya. "Apa kau bermaksud untuk tetap berada di peti matimu?"

Subaru mendecakkan lidahnya. "Bukan urusanmu."

"Oh ayolah. Tentu saja itu urusanku, bodoh," tukas Yuki. Langkahnya sedikit goyang dan nyaris saja ia kembali jatuh jika tidak segera menguatkan tumpuannya pada kaki kirinya. Ia berdiri tegak dan mulai berjalan lagi. "Aku akan mati bosan kalau kau hanya tidur didalam peti matimu. Kau itu teman sekaligus korban jahilanku."

"Aku tidak sudi berteman denganmu," sergah Subaru kesal. "Dan carilah korbanmu yang lain! Apa saudaramu saja tidak cukup, hah?!"

Yuki mengerecutkan bibirnya. "Tidak asik, tahu!" balasnya. "Lagipula, kau tahu rencanaku setelah aku bisa berjalan lagi."

Subaru hanya mendengus, tak tertarik untuk menanggapi ocehan panjang lebar Yuki.

"Ah iya, kalau Ayato-kun berniat membangun ulang Dunia Bawah bersama Yui-chan, apa itu artinya ia akan menjadi pemimpin Dunia Bawah?" tanya Yuki.

"Yang kudengar dari Reiji begitu," sahut Subaru. Ia melihat Yuki yang sudah hampir sampai ketempatnya berdiri. Wajah penuh konsentrasi dan berhati – hati itu, entah kenapa terlihat manis di manik merah darah Subaru. Helaan nafas berat dan panjang keluar dari mulut bungsu Sakamaki bersaudara, mengingat satu rencana penting yang akan diadakan beberapa bulan kedepan. "Aku tak tahu apa kau sudah mendengarnya atau belum. Ayato dan Yui... bermaksud akan menikah."

Ucapan Subaru barusan berhasil membuat Yuki kembali jatuh diatas jalanan berbatu. Kali ini sedikit lebih keras dan spontan Subaru langsung menghampiri gadis itu. Yuki berusaha duduk, mengusap keningnya yang merah akibat terbentur batu. Baik kaki dan tangan kanannya berteriak kesakitan, menyebabkan tubuh sisi kanannya mati rasa. Ia berusaha menguasai rasa terkejut akan berita tadi, namun tak bisa. Menikah... Sakamaki Ayato dan Komori Yui. Kalimat itu terus terngiang dalam benaknya bagaikan kaset rusak.

"Astaga! Menikah?! Apa ini mimpi?! Tidak, sakit di kaki dan tanganku benar – benar terasa, ini jelas bukan mimpi!" racau Yuki. "Astaga! Apa yang harus kulakukan?!"

Alis Subaru terangkat sebelah. "Kenapa jadi kau yang panik?" tanyanya heran sekaligus geli melihat reaksi Yuki.

"Ha-habisnya, kau juga menyukai Yui-!"

Buru – buru Yuki membekap mulutnya sendiri dengan tangan kirinya. Ia merutuki dalam hati akan kebodohannya sendiri karena telah mengucapkan kalimat tabu itu. Dikatakan tabu juga sepertinya sedikit salah. Karena bukan rahasia umum lagi jika Sakamaki dan Mukami bersaudara menyukai dan mengincar hak milik atas Komori Yui. Semua perebutan yang diawali untuk memonopoli darah Yui berubah menjadi perebutan hati gadis bersurai pirang pucat tersebut. Yuki yang tahu hal itu pun, sudah bertekad untuk merelakan perasaan sukanya terhadap Subaru. Meskipun hatinya pasti akan terluka, setidaknya ia masih bisa menjadi teman atau sahabat dari cowok itu.

Itupun jika ia masih sanggup mempertahankan tekadnya.

Ia sedikit mendongak, merasa heran karena Subaru tidak membalas ucapannya atau pun menyembur dirinya. Iris birunya melebar melihat reaksi kosong dan tak peduli dari Sakamaki Subaru. Baru saja Yuki ingin mengatakan sesuatu, Subaru menarik tangan kirinya dan membuatnya berdiri. Karena tarikan yang sedikit dipaksakan, tubuh Yuki sedikit oleng sehingga harus menjadikan tubuh Subaru sebagai tumpuan. Rona merah menghiasi pipi Yuki diikuti oleh degup jantungnya yang kembali berdetak cepat. Tidak boleh. Ia tidak boleh terbawa perasaan sesaat ini.

"Sa-sakit tahu!" sembur Yuki, mencoba meredakan panas dipipinya. "Kau tahu, aku habis jatuh tadi!"

Dengusan keluar dari mulut Subaru. "Lalu? Kau mau aku melepaskan tanganmu dan membiarkanmu jatuh lagi?" tawarnya. "Dengan senang hati."

Yuki menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan! Jangan dan maafkan aku!" sahutnya. Ia melangkah mundur, masih menggenggam erat tangan Subaru. Astaga, Yuki baru tahu kalau tangan Subaru cukup besar, kontras dengan tangannya yang terlihat kecil. Ia tahu harus melepaskan diri dari Subaru jika ingin kembali melanjutkan latihannya. Namun, sesuatu berbisik untuk tidak melakukannya. Sungguh aneh dan benar – benar diluar kehendaknya. Tubuhnya menjerit dan memerintahkan dirinya untuk berada didalam pelukan Subaru, merasakan perasaan itu lagi. Jika saja akal sehat Yuki tidak bersikeras akan tujuannya berada disini, mungkin ia sudah melemparkan diri pada Subaru.

"Baik. Lupakan berita Ayato-kun dan Yui-chan yang akan menikah lalu kau yang menarikku sampai tangan kiriku ikut kesemutan," ucap Yuki sedikit mengejek dan melepaskan tangannya dari Subaru, merasa sedikit sayang akan hilangnya kontak tubuh mereka. "Aku masih harus latihan."

"Terserah," sahut Subaru. Ia menghilang dan berpindah tempat ke arah sebaliknya dari tempat Yuki. Tingkah laku Yuki sungguh tak masuk akal bagi Subaru. Sudah jatuh dan terluka masih saja ingin melanjutkan latihannya. Padahal besar kemungkinan kalau ia memaksakan diri luka dikakinya itu tak akan cepat sembuh dan justru bertambah parah. Tapi lihatlah sekarang, masih dengan langkahnya yang diseret, Yuki berjalan pelan kearahnya. Raut wajahnya begitu serius dan itu membuat dada Subaru sedikit tergelitik. Sejak kapan wajah yang selalu menampilkan senyum bodoh itu begitu serius dan anehnya terlihat manis dimatanya. Sejak kapan keteguhan hati gadis itu menggelitik hatinya yang sudah membusuk sejak lama. Sejak kapan ada sesuatu yang berbisik pada alam bawah sadarnya untuk menjaga gadis menyebalkan itu.

Tak heran jika ia menyukai gadis itu.

Iris merah darahnya melebar kaget. Berbanding terbalik dengan hembusan angin malam yang lumayan dingin, wajahnya justru terasa panas sekali. Tidak mungkin. Tidak mungkin ia menyukai Mukami Yuki. Ini pasti sebuah kesalahan. Perawakan gadis itu biasa saja, justru sangat tomboy dan nyaris terlihat seperti laki – laki. Penuh kebohongan dan selalu tertawa bagaikan orang bodoh. Jangan lupakan dengan sifat jahilnya yang sanggup membuat orang terkena serangan jantung. Ya, sudah pasti ini sebuah kesalahan.

"Kau kenapa, Subaru-kun? Wajahmu merah loh," tanya Yuki yang mendadak sudah berada didepan wajahnya.

Saking terkejutnya, Subaru sampai melangkah mundur, membuat Yuki memiringkan kepalanya heran. Detik berikutnya seringai lebar khasnya terlukis diikuti oleh iris birunya yang berkilat jahil. "Apakah Sakamaki Subaru-kun baru saja memikirkan hal – hal tak senonoh dengan calon kakaknya, Ayato-kun~" godanya. "Kyaa! Ini berita skandal! Harus cepat – cepat diberitahu!"

"Oi! Yamero!" seru Subaru. "Kalau tidak kubunuh kau!"

Yuki tertawa kencang dan berteleportasi, melarikan diri dari Subaru. "Tangkap aku kalau bisa!"

Malam yang penuh akan pengakuan diam mereka berdua digantikan oleh keributan. Anehnya tak ada satu pun yang mau melerai maupun menghentikannya. Termasuk dari sosok misterius yang sejak tadi memerhatikan mereka berdua, hanya bisa menghela nafas pasrah dan memutuskan untuk pergi dari sana.


Onegai : Kumohon

Yamero : Berhenti


Author : Okeh. Author tak menyangkan bakal begini jadinya hahaha. Pantes aja Author ampe dibilang gila karena ketawa sendiri, wong jadinya begini hahaha. Author tak akan pernah mau mempertanyakan imajinasi gila yang sudah tak bisa dikendalikan oleh Author lagi. #ngomong apa sih hahaha. Ah iya, mungkin ada yang merasa kalo Subaru disini sedikit OOC. Tapi, apa daya jika itu hasil imajinasi liar Author. Mohon maapkan kenistaan Author. Lagipula, kan udah Author peringatkan di awal hehehe #ditabok fansnya Subaru. Oh, adakah yang bisa menebak siapa sosok misterius diakhir cerita? Pastinya langsung pada tahu ya hahaha.

Disaat yang senang dan berbahagia ini, Author kembali meminta maaf pada minna. Berhubung semua konflik udah selesai, sangat disayangkan sebenarnya karena serial EN ini harus mencapai akhir. Mungkin 1 atau 2 chapter lagi untuk menutupi akhir dari perjalanan Yuki-chan dkk. Tapi, jangan khawatir. Petualangan Yuki-chan belum sepenuhnya berakhir karena masih ada kumpulan oneshoot di side story. Author pun menerima semua ide dan saran, baik yang gila maupun yang biasa untuk side story.

Sudah cukup dengan basa basi yang menyedihkan ini. Bagaimanakah akhir dari serial EN ini, ditunggu aja ya minna. Okehlah, sampai jumpa dichapter berikutnya.

Bye bye~