AKATSUKI KELILING DUNIA
Chapter 28. Argentina.
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Humor/Adventure
Rating : K+
Summary : Akatsuki mendapatkan hadiah keliling dunia secara gratis bersama Naruto si tourguide ceroboh dan Sasuke si pilot dadakan./ "Apaaa?! Apanya yang tidak masalah?! Kami di kejar polisi gara-gara dia! Dan sekarang aku di kelilingi Akatsuki, sepertinya mereka ingin menghajarku."/"Kalau begitu selamat menikmati masa mudamu ya, Naruto."/"APA YANG KAU MAKSUD MENIKMATI MASA MUDA?!"
.
.
.
Keributan terjadi di kursi belakang mobil mewah yang di kemudikan oleh Deidara. Pemilik mobil alias Temujin, berusaha mengambil alih kemudi karena tidak percaya pada kemampuan menyetir Deidara. Bagaimana tidak? Baru 5 menit ia menyetir, mobil mahal itu hampir menabrak sesama mobil lain tiga kali.
Baru beberapa ratus meter mereka membelah jalanan di negara Brazil, sebuah mobil polisi mengejar mereka dari belakang.
"Kenapa kita tiba-tiba di kejar polisi, un?! Apa salah kita?!" ucap Deidara sambil sesekali menengok ke arah kaca spion. Salah satu polisi yang berada di dalam mobil tampak melonggokkan kepalanya sambil berteriak menyuruh Deidara berhenti. Tapi hal itu justru membuat Deidara semakin keras menginjak gas mobilnya.
"Menyingkir dari sana, sialan! Biar aku saja yang menyetir!"
Temujin mencoba untuk merebut tempat Deidara. Tapi Pein dan Naruto segera mencegahnya. Saat ini bukan saatnya untuk bertukar supir. Jika mereka bertukar supir dan berhenti sejenak, sudah pasti mereka akan tertangkap.
Hidan yang berada di dekat jendela pun tak tinggal diam, ia merogoh saku celananya dan menaburkan garam ke luar jendela. Polisi yang melonggokkan kepalanya pun terkena imbasnya. Matanya perih dan ia kembali masuk ke dalam mobil. Tapi hal itu tidak berpengaruh pada mobil polisi itu. Karena benda itu masih terus mengejar mereka bahkan dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Limosin hitam itu pun akhirnya tiba di pertigaan. Deidara yang tidak mahir berbelok pun cukup mengecoh para polisi. Ia tidak menyalakan lampu sein dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbelok. Tapi begitu tiba di belokan, Deidara langsung banting stir. Hal itu membuat mobil polisi yang ada di belakangnya malah terus lurus.
Akatsuki bersorak gembira melihat mobil polisi yang akhirnya berhenti mengejar mereka. Tapi kegembiraan itu sirna begitu cepat karena di depan mereka kini ada mobil polisi lain yang sudah menunggunya.
Deidara pun menginjak rem dengan spontan. Beberapa mobil yang ada di belakangnya pun ikut mengerem mendadak dan menyebabkan kemacetan.
Para polisi langsung mendatangi Akatsuki dan menggiring mereka ke kantor polisi.
Sakura mencoba berontak, kenapa ia harus di tangkap juga? Yang menyetir kan Deidara. Hingga akhirnya mereka pun shock dengan mulut menganga begitu mendengarkan penjelasan dari polisi.
Yang polisi kejar rupanya bukan Akatsuki, melainkan Temujin yang memang sudah menjadi buronan polisi. Temujin di duga mencuri mobil limosin dan kartu kredit palsu.
Keberadaan Temujin terlacak oleh polisi karena penggunaan kartu kredit yang dilakukan Pein terus menerus di sebuah toko oleh-oleh di dalam beach park.
Setelah menjalani berbagai macam proses, akhirnya Akatsuki di bolehkan untuk pulang karena mereka memang tidak tahu apa-apa dan hanya menjadi tourist di brazil.
Akatsuki pun kembali menuju bandara menggunakan bus umum. Setibanya di pesawat mereka semua langsung mengerubungi Naruto seakan minta penejlasan.
"Bagaimana bisa ada seorang buronan yang menjadi tour guide kita?!" tanya Sakura yang menjadi jubir di acara pembullyan ini.
"I-itu aku tidak tahu," jawab Naruto seadanya.
"Kalau begitu hubungi ayahmu sekarang dan katakan padanya untuk menyediakan tour guide yang normal untuk kitaa!" bentak Sakura. Akatuski yang berkeliling di sekitar Naruto tampak mengangguk meng-iya-kan ucapan Sakura.
Naruto pun merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Setelah menekan beberapa tombol, ponsel pun mulai tersambung.
Tuuutt...
Tuuuutttt...
"Halo?" sapa seseorang di ujung sana. Tanpa basa-basi, Naruto pun bertanya.
"Tou-san! Kenapa kau membuat seorang buronan menjadi tour guide kami?!"
"Buronan? Siapa yang buronan?"
"Temujin! Dia tour guide kami di brazil!"
"Oh, itu karena dia bersedia di bayar murah. Makanya aku setuju-setuju saja. Toh dia cukup hafal jalanan di brazil kok. Jadi tidak masalah kan?!"
"Apaaa?! Apanya yang tidak masalah?! Kami di kejar polisi gara-gara dia! Dan sekarang aku di kelilingi Akatsuki, sepertinya.. mereka... ingin menghajarku..." cicit Naruto di kalimat terakhir.
"Ah, itu cukup bagus. Anak laki-laki memang wajar saja berkelahi. Kalau begitu selamat menikmati masa mudamu ya, Naruto."
Sambungan terputus.
"APA YANG KAU MAKSUD MENIKMATI MASA MUDA?!" pekik Naruto di depan ponselnya yang sudah tidak terhubung pada ponsel Minato. Di sekelilingnya Akatsuki maju satu langkah mendekati Naruto.
"Apa katanya?" tanya Sakura dengan tatapan penuh curiga.
"I-itu... ayahku bilang dia tidak tahu kalau Temujin penipu," kilah Naruto.
"Tapi tadi Tobi dengar kalau Minato-Sama bilang Temujin bersedia di bayar murah," ucap Tobi yang kebetulan berada di sisi Naruto. Tepat di kuping kirinya yang tadi mengangkat telepon.
Akatsuki pun semakin mendekat pada Naruto.
"Tu-tunggu dulu! Itu bukan salahku kan? Aku pastikan tour guide kali ini benar-benar normal, sungguh!" ucap Naruto berusaha untuk membela diri.
"Awas ya, kalau sampai tour guide kali ini membuat kita sial lagi, kau akan ku hajar!" ancam Sakura. Akatsuki pun bubar menuju kamar pesawat.
Setelah bernapas lega, Naruto pun menyusul pergi ke kamar.
.
Pagi yang cerah di brazil membuat Akatsuki bersemangat untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju negara selanjutnya. Naruto mengatakan bahwa hari ini mereka akan pergi ke benua Amerika bagian selatan. Lebih tepatnya ke Negara Argentina.
Naruto duduk di kursinya di samping Pein dengan was-was. Ia membaca sebuah pesan yang sudah beberapa hari ini tersimpan di ponselnya. Itu adalah deretan nama dan nomor telepon tour guide mereka di masing-masing negara. Dan di negara Argentina tertulis dengan nama 'CHIYO' beserta sederet angka nomor telepon.
Naruto berharap kalau orang ini adalah orang waras. Jika tidak, maka sudah di pastikan bahwa dirinya akan menerima bogeman mentah dari Akatsuki dan juga Sakura.
Pesawat Konoha Air tiba di bandara Internasional Argentina dengan mulus. Udara dingin tiba-tiba saja terasa begitu kentara begitu mereka keluar dari pesawat. Rupanya di negara ini sedang mengalami musim dingin.
Akatsuki yang hanya memakai kaus oblong pun kembali ke dalam pesawat untuk mengganti pakaian. Mereka semua tampak membongkar koper masing-masing untuk mencari pakaian musim dingin.
"Sial, un! Aku tidak punya mantel. Yang aku punya hanya jubah Akatsuki!" gerutu Deidara sembari mengeluarkan isi kopernya yang di dominasi oleh lempung.
"Tidak masalah, ini bukan musim dingin yang terlalu dingin kok, suhunya masih bisa di tangkis oleh jubah Akatsuki," ucap Pein sambil memakai jubah Akatsuki kemudian berjalan keluar.
Akatsuki pun menggunakan jubahnya dan keluar membuntuti Pein. Setibanya diluar, mereka semua di sambut oleh seorang nenek tua.
"NENEK?!" pekik Sasori begitu melihat nenek tua tersebut. Akatsuki cs kompak menatap heran ke arah Sasori. Seingat mereka Sasori tidak punya nenek yang tinggal di Argentina. Lalu kenapa neneknya ada disini?
"Sasori, cucuku~ akhirnya kau datang!" seru nenek tersebut sambil berhambur ke pelukan Sasori.
"Yaak! Lepaskan aku, nek! Kau membuatku malu!" protes Sasori sambil menggeliat mencoba melepaskan pelukan neneknya yang sangat erat. Melihat hal yang mengharukan itu, Deidara pun ikut memeluk Sasori.
"Woi! Kenapa kau ikut-ikutan?!"
Dan sejurus kemudian Akatsuki ikut memeluk Sasori dan neneknya. Mereka semua saling merangkul layaknya keluarga yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Sakura terharu. Sasuke cuek, sementara Naruto sibuk memotret momen ini.
"KENAPA KALIAN SEMUA MALAH IKUT-IKUTAN, SIALAN!" teriak Sasori yang merasa sesak karena di peluk banyak orang. "Dan kau, Pein! Menyingkir dari nenekku!"
.
Setelah adegan mengharukan tersebut, Nenek Chiyo pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tour guide yang akan mengajak Akatsuki traveling di Argentina. Akatsuki hanya bisa jawsdrop berjamaah, kemudian menatap Naruto dengan tatapan membunuh.
"Tu-tunggu dulu! Memangnya ada yang salah dengan neneknya Sasori? Dia kan sudah tua dan berpengalaman. Pasti dia bisa hidup dengan normal," bela Naruto.
Akatsuki pun mengurungkan niatnya untuk menghajar Naruto. Mereka kemudian membuntuti nenek Chiyo menuju halte bus.
Mereka semua menaiki bus umum untuk sampai di tempat tujuan. Bus yang mereka tumpangi cukup penuh, sehingga mereka semua berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. Yang dapat kursi kosong hanya Nenek Chiyo, Sakura, Konan dan Deidara.
Melihat Deidara yang mendapat tempat duduk, Sasori pun merasa iri.
"Woi, Kau kan laki-laki! Ikut berdiri dong! Ini kan tidak adil!" protes Sasori.
"Kau mau duduk di pangkuanku, un?" tawar Deidara dengan mata yang berbinar-binar.
"TIDAK! ITU TIDAK AKAN PERNAH TERJADI!" bentak Sasori sambil menjauh beberapa meter dari Deidara.
"Kalau begitu kau duduk saja dengan Nenek," tawar Nenek Chiyo.
"PFFFF!" Akatsuki cs menahan tawa mereka ketika mendengar tawaran Nenek Chiyo. Mereka menganggap Sasori 'Anak Bayi' yang di manja oleh neneknya.
Wajah Sasori memerah, antara malu dan kesal.
"Tidak mau! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Nek!" protes Sasori.
"Jangan begitu pada nenekmu, kau kan masih cocok jadi anak kecil, huahaahaha!" ledek Pein.
"Diam kau, sialan!"
Seiring berjalannya waktu, ada beberapa orang yang turun dari bis dan membuat 3 kursi penumpang kosong. Akatsuki yang melihat itu pun segera berebut untuk dapat kursi.
"Minggir sialan, aku duluan yang lihat kursi ini!" ucap Hidan.
"Kau yang minggir, aku sudah menandai kursi ini dari sebelum orang itu turun!" tandas Kisame.
"Mana bisa begitu! Pokoknya kursi ini milikku!"
"Hoi lihat di sebelah sana ada banyak kursi kosong!" pekik Itachi.
"Mana?"
"Mana?" tanya Hidan dan Kisame sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Tidak ada yang kosong," gumam Kisame. Begitu ia berbalik, kursi yang di perebutkan oleh Hidan dan Kisame pun sudah di duduki oleh Itachi.
"Kau menipu kami, sialan?!"
"Maaf, tapi itu namanya cerdik, bukan menipu~" ucap Itachi santai.
Hidan dan Kisame pun mengumpat kesal, begitu juga dengan Akatsuki yang lain. Yang membuat mereka semakin kesal adalah, tiga kursi kosong itu di tempati oleh ketiga Uchiha sekaligus. Tobi, Sasuke dan Itachi. Akatsuki mencurigai adanya tindak kerjasama antar Uchiha tersebut. Huh, dasar Uchiha!
Beberapa menit kemudian, Naruto menghentakkan kakinya karena pegal. Tangannya juga terasa kebas karena terus memegang tali penyangga di dalam bus.
Akhirnya ada dua orang penumpang bus yang turun. Akatsuki pun kembali berebut kursi untuk mendapat tempat duduk. Pein sudah menduduki salah satu kursi kosong tersebut dan kursi kosong di sebelahnya kembali di perebutkan oleh Hidan dan Kisame.
"Singkirkan pantatmu dari kursikuu!"
"Kau yang menyingkir, Hiu gila!"
"Kau minta kursi pada Jashinmu sana!
Hidan dan Kisame saling mendorong pantat mereka yang sudah duduk di kursi tersebut.
"Jangan ribut! Memalukan sekali sih, kalian kan bisa duduk berdua!" lerai Pein yang kediamannya terusik oleh Hidan dan Kisame yang saling dorong di sebelahnya.
"Mana bisa kita berbagi kursi! Lihat pantatku hanya bisa duduk setengahnya karena badan Kisame yang terlalu besar!"
"Badanmu juga besar, sialan!"
Saat mereka sedang berseteru, bus berhenti dan naiklah seorang nenek tua renta. Pein yang melihat nenek itu tidak dapat tempat duduk pun menyuruh Kisame dan Hidan menyingkir dari kursi dan membiarkan nenek itu duduk.
Di balik sikapnya yang mesum dan kasar, ternyata Pein masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Dengan berat hati, Kisame dan Hidan pun menurut. Dalam hati mereka menggerutu 'Kenapa tidak Pein saja yang berikan kursinya?!'
Tak lama kemudian bus pun tiba di sebuah halte. Ada cukup banyak orang yang turun di halte tersebut. Akatsuki dan Naruto pun bergegas memburu kursi yang telah di tinggalkan para penumpangnya.
Akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk kecuali Sasori yang bergerak kurang cepat untuk berburu kursi. Sudah tidak ada lagi kursi kosong dan dia adalah satu-satunya orang yang masih berdiri.
"Sial! Apa tidak ada lagi yang mau turun?!" umpat Sasori.
"Kau duduk di sini saja Dana," Deidara menepuk pahanya. Sasori merinding ngeri. Ia segera menolaknya mentah-mentah.
"Duduklah dengan nenek, Saso-chan," bujuk Nenek Chiyo.
"Tidak, Nek! Sebentar lagi pasti ada yang turun," tolak Sasori.
Berlama-lama kemudian...
"Senpai, kau mau duduk di kursi Tobi? Biar Tobi yang berdiri," tawar Tobi yang tidak tega melihat Sasori terus berdiri dengan kaki gemetar.
"Tidak, aku baik-baik saja!" ucap Sasori gengsi.
"Kau duduk di kursiku saja," tawar Kakuzu. Mata Sasori berkaca-kaca. Ternyata Kakuzu benar-benar sahabat sejati yang peduli padanya.
"Tapi bayarannya 50 dollar," lanjut Kakuzu.
Hati Sasori bagai pecah terbagi dua. Matanya yang tadi terharu kini berubah menjadi kilatan kebencian. Ia menyesal sudah memuji Kakuzu!
"MATI SAJA KAU, LINTAH DARAAT!"
Akhirnya bus tiba di halte selanjutnya. Ada seorang penumpang yang berdiri dan bersiap untuk turun. Sasori pun bergegas menghampiri kursi tersebut.
Ah, akhirnya setelah sekian lama, tiba saatnya ia bisa menyimpan pantatnya di sebuah kursi. Tapi begitu Sasori duduk, orang-orang malah berdiri dan bersiap untuk turun. Begitu juga dengan Akatsuki cs.
"Ayo, Sasori. Kita sudah sampai," ajak Pein.
"ASDFGHJKL! AKU BARU SAJA DUDUK!"
.
.
.
Akatsuki mematung di depan sebuah danau yang di pinggirnya dipenuhi dengan gletser. Bekuan es itu tampak menjulang tinggi di tengah danau. Ada beberapa perahu yang mengangkut para wisatawan untuk melihat gletser lebih dekat.
Tempat sedingin Greenland ini tampak ramai di kunjungi banyak orang. Ada beberapa penjual makanan di sisi lain danau. Tak jauh dari sana adalah tempat penyewaan perahu.
"Kenapa kita datang ke tempat seperti ini?" tanya Pein dengan ekspresi terbengong-bengong. Pasalnya, pria berambut jingga itu sedikit trauma dengan air mengingat ia hanyut dua kali di sebuah ngarai. Dan es itu juga mengingatkan ke sialan Akatsuki ketika bermain salju di Kanada. Mereka semua terjebak di sebuah pemandian air panas yang gila. Ingatan itu membuat Pein sedikit trauna.
"Ayo cepat anak-anak, kita harus menyewa perahu agar bisa melihat jatuhnya gletser di tempat yang strategis," ucap Nenek Chiyo sambil berjalan lambat menuju penyewaan perahu.
"Jatuhnya gletser? Es itu akan jatuh? Lalu kenapa kita malah naik perahu? Bukannya disini lebih aman?" tanya Naruto bertubi-tubi.
"Dasar anak-anak ini!" gerutu Nenek Chiyo, "Tentu saja kita harus melihatnya di tempat yang strategis karena itu tujuan para wisatawan datang kemari. Siapkan kamera kalian untuk menangkap foto yang menakjubkan dan dengarkan ledakkan es itu," lanjutnya.
"Apa? Ledakan?" tanya Deidara antusias.
"Ya, es itu jatuh seperti sebuah ledakan," sahut Nenek Chiyo sambil terus berjalan.
"Keren, un! Akhirnya aku bisa mengalami liburan yang berseni, un!" Deidata tampak riang membuntuti Nenek Chiyo. Di belakangnya Akatsuki cs berjalan dengan lunglai.
Datang jauh-jauh kemari hanya untuk melihat tumpukan es jatuh ke danau? Oh yang benar saja! Mereka sudah sering melihat tumpukan es serut jatuh karena di senggol Tobi. Dan itu menjengkelkan.
Tapi setidaknya mereka bersyukur karena Nenek Chiyo yang sudah berumur itu pasti tidak akan mengajak mereka liburan yang melelahkan. Nenek itu pasti tidak akan sanggup barang berjalan terlalu jauh.
Rombongan Akatsuki pun memasuki sebuah perahu dayung. Mereka semua duduk berbaris dan berpasang pasangan. Empat orang dari mereka mendapat tugas untuk mendayung.
Dan yang mendapat kesialan itu adalah Naruto, Zetsu, Tobi dan Kisame. Naruto dan Tobi mendayung di sisi kiri sementara Zetsu dan Kisame di sisi yang lainnya.
Perahu itu mulai melaju menuju gunungan es yang ada di seberang danau. Di sisi lain perahu, Sasuke sibuk memotret keadaan sekitar menggunakan kamera Naruto. Di depannya ada Hidan yang kedinginan karena tidak mau mengancingkan jubahnya.
Saat perahu mulai mendekat, terdengar bunyi retakan yang berasal dari gunungan es di depan mereka. Sasori yang duduk di paling depan perahu bersama Nenek Chiyo pun bisa melihat lebih jelas retakan yang terjadi di depannya semakin lama semakin membesar.
"Bersiaplah, sebentar lagi kita akan melihat gletser yang meledak," ucap Nenek Chiyo.
"Yuhuuu~ aku sudah menunggu, un!" seru Deidara girang. Sementara itu yang lainnya menggerutu karena mereka menganggap hal itu pasti tidak seru. Mereka juga sudah biasa mendengar ledakan lempung Deidara. Dan itu membuat mereka tuli beberapa saat.
Beberapa menit kemudian, perlahan-lahan gletser itu mulai terjatuh dari bagiannya. Bongkahan gletser itu jatuh ke danau dan membuat suara ledakan yang cukup besar.
Deidara bersorak gembira, sementara yang lain berteriak ketakutan. Dan sejurus kemudian, air danau itu pun meluap dan menyebabkan guncangan hebat pada perahu yang Akatsuki tumpangi. Mereka bahkan terdorong beberapa meter dari tempat semula.
Nenek Chiyo menyuruh Akatsuki cs untuk berpegangan pada perahu agar tidak terjatuh. Semuanya menuruti perintah Nenek Chiyo kecuali Deidara yang malah bersorak gembira sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi seakan menonton konser boyband.
Akibatnya, pria berambut panjang itu pun tercebur ke dalam danau yang dingin.
"Waaa! DEIDARA-SENPAII!" pekik Tobi sambil berusaha menangkap Deidara. Tapi karena panik, Tobi malah melempar dayungnya dan mengenai ubun-ubun Deidara.
"TERKUTUKLAH KAU TOBI, UN!" teriak Deidara sebelum ia tercebur ke dalam air. "TOLONGG! AKU TIDAK BISA BERENANG, UN!" pekik Deidara sambil berenang heboh di tengah danau.
Perahu Akatsuki cs terbawa cukup jauh dari Deidara. Naruto, Kisame dan Zetsu pun mendayung perahu untuk mendekati Deidara. Namun karena guncangan air yang besar, mereka bahkan tidak bergerak sedikitpun.
"Dayung lebih kerass!" seru Pein.
"Kenapa kau tidak bantu kami saja, sialan!" umpat Naruto sambil mendayung dengan tenaga penuh.
"Hei, tugasku kan mengawasi," elak Pein.
Setelah guncangan air mereda, akhirnya perahu Akatsuki cs melaju mendekati Deidara yang masih berenang heboh di tengah danau.
"Yang punya tenaga kuat tolong ulurkan tangan untuk menarik Deidara!" titah Pein.
"Kau saja Hidan, badanmu kan besar!" suruh Kakuzu.
"Maaf tapi tenagaku hilang karena aku kedinginan," ucap Hidan sambil menggigil memeluk lututnya.
"Siapa suruh kau tidak mengancingkan jubahmu, bodoh!" bentak Kakuzu.
"Biar aku saja!" ucap Sakura sambil berdiri dari duduknya untuk menolong Deidara.
"Errr, ide yang bagus," gumam Pein sedikit ragu. Pasalnya di sini ada banyak laki-laki. Rasanya kemachoan Pein sedikit menurun karena membiarkan seorang wanita menolong Deidara. Tapi apa boleh buat, air danau itu dingin sekali.
Sakura berdiri di sisi perahu sambil mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Deidara. Namun pria berambut pirang itu kesulitan untuk menggapai tangan Sakura.
"AYO, BERUSAHALAH DEI-SENPAI!" teriak Tobi memberi semangat.
Tangan Sakura mulai bergetar karena pegal menunggu Deidara yang tak kunjung meraih tangannya. "Aaarrrghh cepatlah, tanganku pegaal!" gerutu Sakura sambil menghentakkan kakinya.
Entah kapal itu yang rapuh atau tenaga Sakura yang kelewat batas. Dasar perahu yang menjadi tempat hentakkan kaki Sakura pun berlubang.
"O-ow!"
Sakura memasang wajah memelas saat air mulai memasuki kapal.
"Loh? Siapa nih yang pipis di kapal?!" gerutu Hidan.
"Bukan air pipis, bodoh! Perahunya bocor!" teriak Itachi.
"Cepat tutup lubangnya!" Titah Pein.
"Lubangnya terlalu besar!" pekik Hidan.
"Cucurucucut..." Sakura bersiul sambil pura-pura tidak tahu. Kemudian gadis pinky itu kembali ke tempat duduknya di samping Sasuke. Sasuke yang mengetahui kejadian itu hanya bisa menatap horror ke arah Sakura.
Di sisi lain kapal, Akatsuki heboh menutup lubang bekas kaki Sakura. Namun karena tidak ada benda yang bisa di pakai untuk menutupinya, perlahan-lahan perahu itu mulai tenggelam.
"Tidaak! Riwayat kita akan tamat sampai disini!" teriak Sasori heboh.
"Cepat semuanya berenang ke sisi gletser itu!" titah Nenek Chiyo.
"Tunggu, Nek. Biar Sasori saja yang menggendongmu sambil berenang!" tawar Naruto yang tidak tega nenek tua itu berenang cukup jauh.
"Tidak usah. Aku ini salah satu atlet renang. Jadi itu bukan masalah bagiku," ucap Nenek Chiyo sambil melompat ke air. Nenek tua itu menggapai Deidara dan membawanya ke sisi gletser.
Akatsuki pun melompat ke air dan berenang menuju Nenek Chiyo yang sudah menepi di ujung gletser.
Tulang-tulang mereka seakan membeku ketika masuk ke danau yang dingin itu. Butuh beberapa menit untuk tiba di pesisir danau. Mereka pun segera memeluk lutut masing-masing ketika sampai di atas gletser.
"Kalau begini, kita terpaksa memutari danau untuk kembali ke sana," ucap Nenek Chiyo.
"Apapun akan aku lakukan asal bukan berenang, brrr!" Hidan menggigil.
"Tidak, berenang ke sana terlalu jauh. Ayo kita jalan sekarang! Pertama-tama kita harus melewati gletser ini," ucap Nenek Chiyo sambil menunjuk gunungan es yang sangat tinggi.
"Yang benar saja! Mana bisa kau menaiki gletser setinggi itu. Sebaiknya kita telepon heli kopter saja," usul Naruto.
"Tenang saja, dulu aku adalah pendaki gunung es," ucap Nenek Chiyo sambil mengeluarkan sebuah tali dari ranselnya. Dan sepertinya dugaan Naruto untuk tidak liburan melelahkan adalah salah besar.
"Sttt! Sasori, apa nenekmu sehebat itu? Maksudku dia atlet renang dan pendaki gunung es sekaligus?" bisik Kisame.
"Entahlah, aku tidak ingat," sahut Sasori dengan wajah yang masih shock. Ia pun tidak menyangka punya nenek sekuat itu. Pasti sewaktu muda dia lebih menyeramkan dari Sakura.
Nenek Chiyo melemparkan tali dengan pengait di ujungnya. Setelah dirasa kuat, nenek tua itu pun mulai memimpin untuk pendakian gunung es. Akatsuki hanya bisa melongo melihat Nenek Chiyo yang bisa mendaki salju dengan mudah. Di bawahnya ada Sakura dan Sasuke yang sudah mulai mendaki.
"Yosshh! Kalau Nenek Chiyo saja bisa, ini pasti mudah untuk kita," seru Naruto bersemangat. Pria kumis kucing itu pun mulai menggenggam tali dan bersiap untuk mendaki. Di belakangnya Akatsuki juga ikut mengantri untuk naik.
Ternyata menaiki gunung es tidak semudah yang Naruto lihat. Baru saja beberapa meter menaiki es, Naruto tergelincir dan menimpa seseorang di bawahnya.
Orang yang beruntung tertimpa Naruto itu adalah Sasori. Pria baby face itu pun ikut terjatuh dan menimpa Kisame.
Beruntung karena Kisame cukup kuat menampung Naruto dan Sasori yang bergelantungan di punggungnya. Tapi tentu saja dia tidak melakukannya secara suka rela, "Woi! Menyingkir dari punggungku!" omel Kisame.
"Tunggu, aku akan coba naik," ucap Naruto sambil berusaha meraih tali agar tidak menjadi benalu di punggung Kisame. Namun baru saja ia memegang tali. Terdengar suara teriakan Sakura yang cukup kencang, "SASUKEEEE!"
Saat Naruto mendongkak ke atas, Sasuke terjatuh dan menimpa wajahnya. Kisame yang tidak mampu menopang beban tiga orang sekaligus pun akhirnya terjatuh dan menimpa Akatsuki yang lain.
Nenek Chiyo yang sudah tiba di atas gunung es pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat Akatsuki yang saling tindih di bawah sana.
Setelah Sakura sampai di atas, Nenek Chiyo pun berniat menarik Akatsuki ke atas dengan tali.
"Apa? Apa nenek kuat? Mereka kan ada lebih dari 10 orang?" tanya Sakura.
"Tenang saja, aku ini dulu adalah atlet angkat beban," ucapnya sambil menyingsingkan lengan bajunya dan bersiap menarik Akatsuki.
Sakura hanya bisa jawsdrop mendengarnya. Kalau pendengarannya tidak salah, Nenek Chiyo sempat bilang kalau dia adalah atlet renang, lalu pemanjat tebing handal dan sekarang ia mengaku seorang atlet angkat beban? Sebenarnya dia ini manusia macam apa sih?!
Ahh, Sakura hanya tidak sadar saja kalau dirinya juga memiliki kekuatan yang mirip dengan Nenek Chiyo.
.
Setelah melewati perjalanan jauh mengitari danau, Akatsuki akhirnya tiba di sisi danau tempat mereka keluar menuju halte bis. Namun baru saja mereka melewati gerbang, seorang petugas penyewaan kapal menghampiri mereka.
"Maaf, aku lihat perahu kami tenggelam. Itu artinya kalian harus ganti rugi," ucapnya.
"A-apa? Ganti rugi?!" pekik Kakuzu. Telinganya langsung memerah begitu mendengar kata ganti rugi.
"Tunggu sebentar, kami akan berdiskusi dulu."
Pein meminta waktu sebentar kemudian Akatsuki cs pun berkumpul berbentuk lingkaran.
"Jangan minta patungan padaku!" ucap Kakuzu was-was. Pein hanya menatap bosan ke arah Kakuzu.
"Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak punya uang," ucap Pein sambil berbisik. Pemilik perahu tampak melirik-lirik ke arah Akatsuki karena penasaran.
"Err, Sasori, kau tahu kan kalau nenekmu ini pernah juara 1 lomba maraton?" tanya Nenek Chiyo.
"Aku tidak begitu ingat. Memangnya kenapa?" tanya Sasori.
"Ini saatnya aku mengulanginya lagi. Dalam hitungan ke 3 kita lari."
"A-apa?" Sasori tersentak.
"TIGA!" teriak Nenek Chiyo. Dan sejurus kemudian, nenek tua tersebut berlari kencang keluar gerbang danau.
"Apaa? Satu dua nya manaa?!"
"Woi, tunggu kami!" pekik Pein. Akatsuki kemudian ikut berlari membuntuti Nenek Chiyo.
"WOI! JANGAN KABUR KALIAN!" pekik pemilik perahu.
.
.
.
Setelah berlari jauh, mereka pun tiba di halte bus. Pemilik perahu tampak sudah tidak mengejar mereka. Sepertinya dia kehilangan jejak Akatsuki. Dia tidak tahu saja kalau kecepatan berlari Akatsuki semakin meningkat setiap harinya karena selalu di kejar security.
Sasori mendecak kesal beberapa kali, ia tidak suka naik bus sejak kejadian tadi pagi. "Kita naik taksi saja," usulnya.
"Tidak boleh! Taksi itu mahal! Lagi pula kita semua tidak akan cukup masuk ke satu taksi!" bantah Kakuzu.
"Itu bisnya sudah datang!" seru Tobi sambil melompat-lompat. Bus pun berhenti di depan Akatsuki. Syukurlah bis itu menyisakan cukup banyak tempat duduk untuk Akatsuki sehingga mereka semua mendapatkan tempat duduk.
Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, bus pun berhenti di sebuah halte yang dekat dengan Bandara. Mereka pun turun satu persatu dan berjalan dengan gontai menuju bandara. Sebelum mereka masuk, Nenek Chiyo pun pamit kepada Akatsuki dan cucunya, Sasori.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Saso-chan," ucap Nenek Chiyo sambil menatap wajah baby face cucunya itu.
"Iya-iya! Jangan panggil aku Saso-Chan, Nek! Aku sudah besar!" protes Sasori.
"Bagi Nenek, kau tetap cucu kecil Nenek," jawab Nenek Chiyo. Wajah Sasori memerah, Akatsuki menahan tawa mereka.
"Ppfffff! Dasar bayi."
Akatsuki pun memasuki kabin pesawat. Mereka terduduk lesu di kursi masing-masing. Baju yang tadi basah karena tercebur ke danau pun mulai mengering dengan sendirinya.
Naruto merogoh saku celananha untuk mengeluarkan ponselnya. Pria pirang itu berniat untuk melihat nama tourguide mereka di negara selanjutnya. Tapi...
"Loh? Kenapa ponselku mati?!" pekik Naruto.
"Tentu saja mati, kau kan tercebur ke danau. Pasti ponselmu kemasukan air," sahut Pein di sebelahnya dengan santai.
"Huapaaa?! Padahal aku baru saja membelinyaa! Huaaaa!" Naruto mulai menangisi kematian ponselnya. Dan beberapa menit kemudian Akatsuki pun menyadari kalau ponsel mereka pun bernasib sama seperti Naruto.
"HUAAA! PONSELKUU!"
.
.
.
TBC
.
Gomen ne, baru bisa update 🙏
Semoga kalian terhibur ^^
Btw, chapter depan adalah perjalanan terakhir Akatsuki sebelum pulang ke jepang yaa~
.
Balas Review :
.
Anni593 : Huehehe, takan ku biarkan si Dei menodai Sasori wkwk
Ashuraindra64 : Sudah update
DandiDandi : Huahhhaa, mereka emang paling doyan lari dari kenyataan, wkwk. Oia yaa securitynya aku gak kepikiran. Telat sih ngasih taunya, udah mau tamat ini XD
Al FaHmY : Wkwkwk, sepertinya setelah kembali dari tour keliling dunia mereka bakal jadi ahli marathon XD
Honeymoon Hamada : Wkwk penipu kelas Hiu, trus kisame apaan? Wkwk. Ke -Uchiha- an Itachi sudah lama terjangkit virus Akatsuki :v Okee, terimakasih sudah menunggu ^_^
Euraa : Uwoow, selamat anda sudah tertipu oleh Temujin, sama seperti Akatsuki XD
RendyDP424 : Yoshaa, syukurlah kalau begitu. Semoga kali ini juga terhibur yaa ^_^
Ozellie Ozel : Wkwk, terimakasih sudah mampir ^_^
uchiha larasati : Hohoho, sepertinya Itachi masih dalam lindungan Kami-Sama. Tapi tidak dalam hal kesialan. Wkwk XD
niilaa : belum bisa update kilat. Maaf semoga terhibur yaa ^_^
Vira D Ace : Wkwk, okee. aku selalu siap menistakan mereka XD #plak
