JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Ten
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]

.
.
.


Jihoon tersenyum, memperhatikan wajah lain di layar ponselnya bergerak beberapa kali. Pun lawan bicaranya menarik sudut bibirnya ke samping, melemparkan senyum yang sama pada Jihoon.

"Tidurlah Jihoon."

Jihoon menggelengkan kepalanya manis.

Sebenarnya, ia sudah mengantuk. Matanya sudah terasa panas dan berat sejak tadi, terlebih, ia habis menangis. Jadi, rasa pegal sudah ia rasakan sejak tadi. Tapi ia tetap membuka matanya, ia memaksa dirinya untuk mengusir rasa kantuknya demi video call dari sang kekasih.

Jinyeong berguling kesamping, membenarkan posisinya yang semula terlentang. Maniknya masih menatap wajah Jihoon di balik layar sana.

"Matamu.. sudah membengkak."

Jihoon tertawa ringan. "Benarkah? Tapi aku belum mau tidur, Jinyeongie."

"Kenapa?"

"Aku rindu dengamu."

Jinyeong mendecak di sela senyumannya. Kalau saja ia ada di dekat Jihoon, sudah pasti ia akan mengacak surai yang lebih tua. Membiarkan pipi pemuda Park menggembung karena kesal.

"Jangan memaksakan dirimu, itu tidak baik."

Jihoon tersenyum masam pada jiwanya sendiri.

Tidak kali ini. Ia harus memaksa dirinya sendiri.

"Tidak apa, aku ingin melihat wajahmu."

"Kau sangat rindu denganku eh? Kenapa kau tak kemari tadi? Aku sudah menunggumu."

Oh, Jihoon sudah ke rumah Jinyeong tadi kalau Jinyeong lupa. Atau kalau Jinyeong melihatnya. Jihoon nyaris meloloskan tawa atas kekonyolan dirinya. Mana mungkin Jinyeong melihatnya kalau ia saja belum masuk ke dalam kamar kekasihnya dan hanya mengintip dari balik pintu?

"Aku ada urusan tadi."

Jihoon sangat berterima kasih atas kebohongannya sendiri.

"Sudah kuduga. Jangan melelahkan dirimu sendiri, Jihoon."

Tidak. Kali ini Jihoon harus melelahkan jiwa dan raganya sendiri.

"Aku tidak apa kok. Kau beristirahatlah, besok harus masuk okay? Aku mau bertemu denganmu. Bosan melihat Woojin dan Hyungseob menempel dimana–mana tau?"

Jinyeong terkekeh. "Baik baik, aku akan masuk besok tuan putri."

Jihoon menggigit sudut bibirnya melihat tawa Jinyeong. Jantungnya mulai berdetak, menorehkan suatu perasaan menyesakkan dan perih di dirinya sendiri.

Dan lagi, Jihoon memilih untuk menorehkan sebuah senyum pada kekasihnya.

"Oh, kurasa aku harus tidur sekarang."

Jihoon melirik jam dinding di dekat meja belajarnya. Tak terasa, sekarang sudah pukul 10.42PM. Jihoon baru tersadar bahwa video call dengan Jinyeong bisa menghabiskan waktu hingga selarut ini. Pelan, ia mengangguk pada lawan bicara di seberang sana.

"Kau harus istirahat okay?"

Jinyeong mengedipak kelopaknya. "Tentu."

"Okay, aku–"

"Hey, Jihoon hyung. Tunggu."

Jihoon menaikkan alisnya. Tangannya terhenti di udara sebelum menekan warna merah di layar ponselnya. Hey, apa Jinyeong baru saja memanggilnya hyung? Tampaknya kekasihnya ingin menyampaikan sesuatu yang penting, mengingat Jinyeong jarang sekali memanggilnya hyung.

"Ada apa, hm?"

Jinyeong terdiam sejenak. "Aku.. mencintaimu."

Jihoon tersenyum, membiarkan sudut bibirnya tertarik lebar hingga menciptakan rasa pegal di pipinya sendiri. Sempat ia menarik nafas panjangnya sejenak setelah sang kekasih menyelesaikan ucapannya.

"Aku juga. Aku juga mencintaimu. Sangat."


.

.

.


Paginya, alis Jihoon mengernyit sedalam mungkin melihat Seongwoo berjalan dengan cara paling aneh yang pernah Jihoon lihat. Di sebelahnya, Daniel, sang kekasih, tertawa seraya mencengkram lengan Seongwoo, membantu pemuda surai hitam itu untuk duduk. Ia yakin, seluruh pasang mata di kantin menyadari hal itu.

"Hyung, kau kenapa? Kau tertabrak? Habis kecelakaan?"

Seongwoo melemparkan senyum sarkas pada Jihoon. "Ya, aku habis di tabrak seorang pria brengsek bernama Kang Daniel semalam."

"Hah?"

Seongwoo mendecih pelan melihat raut tak paham di wajah Jihoon. "Sudahlah, kurasa kau masih terlalu muda untuk hal ini."

"Hey, kau mengatakannya seakan kau sudah menjadi ahjumma."

"Ahjussi," koreksi Seongwoo pada kalimat Daniel. Jihoon bisa menangkap nada kesal terselip di patah kata yang meluncur dari bibir Seongwoo. "Dan aku belum setua itu," tambah Seongwoo di akhir.

Daniel mengendikkan bahunya, meski senyuman remeh tercetak di wajahnya. "Baiklah, kau ahjussi bukan ahjumma, aku catat itu."

Jihoon mengibaskan telapaknya di depan tubuhnya, meminta atensi dua manusia yang saling menatap di depannya. "Okay, aku perlu penjelasan disini."

"Penjelasan apa?" desis Seongwoo cepat. "Penjelasan bahwa aku semalam tidur di apartement Daniel dan di tabrak olehnya?"

Apa?

Pipi Jihoon memanas. Okay, sampai disitu, ia sudah paham maksud dari ucapan Seongwoo. Ia berdeham, mencairkan rasa canggung dan malu yang menjalari dirinya. Daniel sendiri hanya tertawa cukup keras mendengar kalimat Seongwoo.

"Hahh, kalau semuanya menjadi mesum seperti ini, aku jadi rindu Euiwoong."

Seongwoo memindahkan fokusnya pada wajah Jihoon. "Em? Kenapa?"

"Yah, sejak dia pindah, tidak ada yang bertingkah semanis dia. Hyungseob saja kalah, well mungkin karena Woojin sudah meracuni Hyungseob dengan hormonnya. Sejak Haknyeon pindah ke Jeju dan Euiwoong home schooling, keduanya jadi susah di hubungi."

Seongwoo memindahkan pantatnya, mulai menyamankan posisi duduknya yang terasa sakit. "Bagaimana dengan akun sosial medianya? Sudahkah kau mencoba menghubunginya dari sana?"

"Setauku, dia baru mengganti ponselnya. Jadi, agak sulit menghubungi akun sosial medianya pula."

Seongwoo mengangguk samar. "Tapi mereka masih berpacaran 'kan?"

"Masih, Haknyeon mengatakan padaku minggu lalu di chat grup kami," Daniel angkat suara. Fokus dua manusia disana berpindah pada sang surai honey brown yang sejak tadi diam. "Dan yah, memang mereka jadi sulit di hubungi."

Jihoon mencebik dalam duduknya. "Dasar, pasangan itu."

"Oh, omong–omong, bagaimana kabar Jinyeong? Kudengar ia sakit kemarin?"

Senyuman terlukis di wajah pemuda Park. "Hari ini dia masuk, aku dan dia akan bertemu di rooftop nanti. Istirahat kedua."

Seongwoo melantunkan tawa sarkas mendengar kalimat malu–malu Jihoon. Persimpangan muncul di dahi Daniel dan Jihoon mendengar tawa terpaksa murid kelas tiga itu.

"Andai saja seseorang bisa senormal itu. Aku pasti tidak sakit jiwa menghadapi hidupku."

Jihoon bisa melihat lirikan Seongwoo pada pemuda di sebelahnya. Yang dilirik menggaruk kepalanya yang tak gatal. Meski begitu, seringai terbentang di bibir surai honey brown.

"Kalau aku normal, kau akan bosan denganku. Kita tidak bisa mencoba gaya yang sama setiap kita– AH! Jangan mencubitku, Ong!"

"Hentikan kalimatmu disitu atau aku akan memenggal kepalamu."

Jihoon mendesah. Dari sekian banyak cerita untuk hidup, kenapa ia harus menjalani cerita abstrak seperti ini? Dikelilingi manusia–manusia tak jelas sudah berhasil membuat kepalanya pening bukan main.

"Hahh, aku pasti sudah gila."


.

.

.


BUAGH

.

Jinyeong terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Kelopaknya mengerjap, membiasakan diri secepat mungkin dari rasa pusing yang mendera kepalanya. Di abaikannya rasa panas yang mengumpul di pipi kanannya. Kakinya melangkah maju, menghantarkan kepalan tinju balasan pada pemuda di depannya dengan cepat tanpa sempat dielak.

Bunyi khas dari benda yang terpukul terdengar setelahnya. Pemuda di depannya pun mundur beberapa langkah dari posisinya berdiri. Maniknya langsung melirik tajam pada Jinyeong.

Keduanya tak peduli dengan sudut bibir yang tersobek hingga mengeluarkan darah, ataupun lebam di wajah dan tubuh keduanya. Pukulan yang saling berbalasan terus saja dilayangkan keduanya. Seakan tak menyisakan satu detik pun waktu terlewat.

Suara derap langkah yang mendekat pada keduanya tak juga dihiraukan. Keduanya tetap berguling, saling memberikan pukulan. Baik saat Jinyeong berada di atas tubuh sang lawan ataupun sebaliknya. Darah yang menetes dari hidung keduanya sudah mengotori tanah di belakang gudang terbengkalai sekolah.

"Kalian! Hentikan!"

Jinyeong tak mengelak ketika pukulan dari pengunjung lain bersarang di pipi lebamnya. Pun pemuda di depannya juga terkena pukulan yang sama di wajahnya. Jinyeong meringis, merasakan rasa sakit di bagian tubuhnya setelah berhenti bertingkah. Barulah ia menyadari bahwa tubuhnya sudah lebam parah di beberapa bagian. Rasanya nyeri bukan main.

Jinyeong menaikkan fokusnya pada pemuda yang baru saja memisahkan acara baku hantamnya dengan si surai hitam. Disana, Woojin tengah mengatur nafasnya yang tampak berantakan. Wajahnya mengeras, begitupula dengan kepalan di tangannya.

Ia berdecih. Perlahan Jinyeong mengendurkan ototnya yang menegang, mencoba untuk merilekskan dirinya sendiri. Ia akan berterima kasih pada kakak kelas bersurai merahnya itu nanti karena telah menghentikan aktifitas memukul antara dirinya dan kakak kelas yang kini tengah mengatur nafasnya di belakang Woojin.

"Gunakan otak kalian, bukan otot kalian, brengsek!"

"Dia yang memulai!" jari Jinyeong menunjuk tepat pada wajah kakak kelasnya yang langsung berubah masam.

"Kau," kakak kelasnya balas mengarahkan telunjuknya pada Jinyeong. Sempat ia tersulut, untung saja Woojin menahan pundaknya dan memberikan pukulan lain di wajahnya guna menyadarkan dirinya. Kalau tidak, ia pasti menerjang kakak kelasnya yang tengah menunjuknya itu.

"Ini semua karena kau!"

"Kau lebih muda dariku bocah! Jaga tata kramamu!"

Kakak kelasnya mendengus keras. "Untuk apa aku menjaga tata krama di depanmu, brengsek? Untuk apa aku menjaga tata krama pada seorang yang idiot sepertimu!"

"Kau!"

"Lai Guanlin! Bae Jinyeong! Diam di tempat atau aku benar–benar membuat kalian dilarikan ke rumah sakit setelah ini!"

Jinyeong menahan langkahnya. Begitu pula Guanlin yang memilih mematung di tempatnya berdiri. Woojin yang berdiri di tengah keduanya mengacak surainya kasar. Untung saja Hyungseob bisa mengetahui soal perkelahian Jinyeong dan Guanlin disini, kalau tidak, pasti keduanya akan berakhir di ruang gawat darurat rumah sakit.

Woojin menunjuk keduanya bergantian. Emosi terarah dari ujung jarinya pada dua pemuda yang lebih muda darinya. "Kalian, berhenti membuat kekacauan seperti ini!"

"Aku takkan menghajarnya kalau ia menyadari kesalahannya!"

Jinyeong mengepalkan tinjunya kuat. "Apa? Apa salahku? Katakan! Jangan kau buat berbelit seperti ini, brengsek!" suara Jinyeong bergetar karena emosinya sendiri.

Guanlin tertawa, tawa penuh nada sarkas yang membuat siapa saja akan marah mendengarnya. "Sudah kuduga, kau terlalu idiot untuk menyadari kesalahan yang kau lakukan, tuan Jinyeong."

"Katakan apa maumu!"

"Aku ingin meraih Jihoon dalam genggamanku! Aku ingin memisahkan kalian! Aku ingin melepaskan dia dari pria tak tau diuntung sepertimu! Aku ingin menariknya menjauh dari seorang pemuda brengsek yang tak menyadari bahwa ia telah menyakiti Jihoon dengan rasa cinta Jihoon sendiri!"

Apa?

Kepala Jinyeong pening. Dunianya berputar cepat dibawah kendali dirinya. Kakinya mundur selangkah, mengambil posisi untuk tak limbung dari pijakannya. Sementara itu, gendang telinganya mendengar tawa remeh lolos di bibir Guanlin.

Jinyeong tak sadar sejak kapan ia sudah menerjang Guanlin.

"Jangan bersikap seolah kau tau soal kami, brengsek! Kau bukanlah siapa–siapa disini! Kau– kau hanyalah murid baru!"

Ia tak ingat kapan ia sudah memberikan pukulan bertubi pada wajah lebam Guanlin. Ia pun tak ingat kapan Woojin menendang tubuhnya kuat hingga ia tersungkur jauh dari tubuh Guanlin yang sudah dipenuhi luka.

Jinyeong tertawa atas jiwanya sendiri. Tak peduli dengan Woojin yang mengerang keras, menahan dirinya untuk tidak menghajar Jinyeong kembali ataupun memukul Guanlin yang mencoba bangkit dan menerjang Jinyeong.

Sekali lagi, Guanlin tertawa disana.

"Kau kalah. Kau kalah jauh denganku, Jinyeong," bisik Guanlin dengan suaranya yang bergetar. "Kau kalah. Karena tak perlu mendengar penjelasan Jihoon, aku sudah mengetahui apa yang terjadi."

Dan Jinyeong tak cukup tuli untuk mendengar kalimat itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


[Just an useless author note]

.

Hai? Em, disini JY mau menyampaikan beberapa hal mengenai FF ini dan juga ketakutan JY.

.

Jadi, alasan JY apdet di siang hari ini ada kaitannya. Sejujurnya, JY nggak bisa ngetik apapun dari kemarin. Target itu setiap hari minimal nulis setengah chap baru, tapi yang terjadi? Nulis beberapa patah kata aja saya sudah sujud syukur. Saya juga nggak tau kenapa. Saya sedih, kecewa sama diri sendiri. Saya selalu bertanya, apa FF ini sudah membosankan? Apa FF ini menurun kualitasnya? Apa semuanya berjalan buruk? Saya mau nangis (alay, but that's the fact) ngelihat sheet kosong di laptop yang nggak bisa keisi. Saya takut, FF ini nggak bisa lanjut, saya takut ide yang ada mendadak berhenti, sementara saya masih berusaha untuk terus lanjutin FF ini. Saya sempat merenung, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Honestly, idk why.

.

Saya sempat berpikiran untuk discontinued.
Tapi saya mecoba melihat dari posisi reader. Kalau saya discontinue, pasti akan kecewa.
Saya sempat berpikiran meringkas semuanya langsung di satu chap, menyelesaikan FF ini secara nanggung dan jahat.
Tapi saya nggak bisa. Saya nggak bisa sejahat itu sama semua orang yang udah dukung saya selama ini.
Saya takut. Saya takut sekali.
Saya sedih melihat perubahan drastis di review, yang biasanya bisa melebihi sekian, tapi akhir akhir ini hanya ada satu angka saja.
Jujur, itu benar benar membuat saya kalang kabut. Tapi saya juga menyadari bahwa saya tidaklah bisa selalu sempurna:"

.

Maaf kalau penulisan saya menurun atau bagaimana. Atau mungkin apdet akan sedikit terlambat, tidak setiap hari apdet seperti biasa. Saya minta maaf sekali, kalau akhir akhir ini saya mengecewakan atau sebagainya. Saya akan berusaha memperbaiki secepat mungkin dan terus menulis meski sehari tidak sampai seratus kata.

.

Saya minta maaf yang sebesar besarnya,
Jinny Seo [JY]