.
Bleach © Tite Kubo
Bleach Fanfic Story – Dragon Ice and Wolf of Black Snow
Bount Arc
-I do not own Bleach-
Don't Like, Don't Read
Warning : TYPO, OOC, OC, AU, Etc
- Chapter 28 -
Pada keesokan paginya...
Toshiro sudah duduk bersila didepan rumah Kukaku. Akatsuki juga mengikuti disampingnya dalam posisi yang sama. Mereka sudah melakukan itu selama mungkin hampir satu jam. Itu adalah rutinitas mereka bersama setiap pagi. Terdengar suara pintu terbuka perlahan. "Ah, Taichou, Akatsuki-chan. Kalian disini, sarapan sudah siap..." Matsumoto menghampiri.
Perlahan keduanya membuka mata, Akatsuki menoleh. "Selamat pagi, Matsumoto."
"Pagi, Sensei..." balas Matsumoto. "Meditasi pagi?"
"Ya..." jawab Toshiro dan berdiri. Dia merapikan pakaian sebentar, "aku pikir kau juga harus melakukannya Matsumoto. Ini akan bagus untuk membantu konsentrasi dalam pertarungan."
"Hai..." jawab Matsumoto setengah malas.
.
.
.
Ketiganya kembali masuk dan melihat yang lainnya sedang sarapan. Rukia dan Orihime segera menyapa keduanya, "selamat pagi Sensei/Tsuki-chan, Toshiro-kun." "Selamat pagi..." Kata Toshiro duduk disamping Yoruichi, Akatsuki berada disisinya yang lain lalu diikuti oleh Matsumoto, Rukia dan Ichigo.
Yang lain segera melanjutkan makan sambil sedikit memperhatikan. Toshiro makan dengan tenang dan tata krama yang sempurna. Rukia teringat sedikit dengan kakaknya ketika melihat itu. Dia terus memperhatikan dan tanpa sadar sudah melihat terlalu lama hingga Toshiro akhinya bertanya. "Ada apa, Rukia?"
"Ah! Maaf Hitsugaya-sensei, aku tidak bermaksud tidak sopan." Kata Rukia tertunduk dengan muka memerah.
Toshiro menghela nafasnya, "tidak masalah, tapi kenapa kau memperhatikanku?"
"Maaf, Sensei..." Rukia tertunduk kembali. "Hanya saja, cara memegang anda dan Akatsuki-sensei sama seperti yang dilakukan oleh Nii-sama. Maaf jika aku mengganggu makan kalian." Gadis itu tampak semakin malu saat itu.
"Sudahlah, itu bukan masalah." Kata Toshiro melihat pada makanannya. "Akatsuki juga yang mengajarkanku dulu. Ini hanya menjadi kebiasaan saja. Tidak perlu merasa malu, Rukia." Rukia mengangguk kecil sambil kembali makan perlahan.
Ichigo memutuskan untuk berbicara sekarang, "Hey, Toshiro..."
"Apa?" Katanya kembali menghela nafasnya "Yang benar, Hitsugaya-taichou."
"Tadi kalian kemana? Apa kalian selalu bangun sepagi itu?" Tanya Ichigo tersenyum kecil karena mengingat kebiasaan kapten itu yang selalu membenarkan panggilannya.
Akatsuki tersenyum kecil. "Kami hanya meditasi pagi. Itu membantu kami untuk lebih fokus dalam pertarungan atau siap memulai hari. Sedikit kebiasaan lama yang sulit hilang tapi bagus untuk menenangkan diri."
"Aku pikir itu cocok untukmu, Ichigo..." Kata Rukia.
Ishida mengangguk setuju. "Ya, bagus mendinginkan kepalamu yang selalu panas itu." "Hei!" Ichigo tersinggung tapi tidak ada membelanya karena itu adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Ganju dan Kukaku bahkan juga menertawakan pemuda malang itu. Akatsuki tersenyum melihat itu sementara Toshiro masih terlihat tenang dan melanjutkan makannya. Walau begitu gadis itu tahu kalau dia tersenyum didalam.
.
Menjelang siang, kelompok besar itu berdiri didepan rumah Shiba. Mereka bersiap untuk berpencar pada saat itu. "Sebaiknya kita pergi sekarang." Kata Toshiro dan melihat pada Rukia. "Kau akan ikut dengan kita?" Tanyanya. Rukia mengangguk, "Hai, saya harus kembali ke divisiku terlebih dahulu dan melapor pada Ukitake-taichou."
"Bagus, jika sudah selesai dengan Ukitake, datanglah ke divisiku dan kita akan melanjutkan latihan kita. Ini akan membantumu dalam melawan Bount." Kata Toshiro tersenyum kecil pada Rukia sebelum berpindah pada Ichigo dan teman-temannya. "Kalian semua gunakan Mud-soul untuk mencari Bount. Dan siapa pun yang menemukan segera beritahu yang lain. Jangan lakukan hal gegabah."
"Kami mengerti." jawab Ichigo dan teman-temannya sebelum mengambil jalan yang lain.
Hanya tersisa Toshiro, Akatsuki, Matsumoto dan Rukia saat itu. Mereka semua berjalan hingga sampai pada distrik yang dikenal baik Toshiro dan Akatsuki, Juninran. Disana mereka berpisah dengan Rukia yang pamit pada ketiganya dengan sangat hormat. Dia pun mengambil jalan berlawanan dari mereka.
.
.
.
"Apa kau yakin dia akan baik-baik saja sendiri?" Tanya Matsumoto melihat pada arah yang Rukia ambil dengan khawatir.
"Jangan khawatir, Matsumoto. Dia akan baik-baik saja." Kata Toshiro tenang melihat cepat pada Rukia sebelum kembali berjalan pada tujuan mereka.
Di saat tiba pada gerbang barat, terlihat Byakuya sudah berada disana berdiri dengan mata tertutup. Tampaknya dia menunggu kedatangan mereka. Toshiro berhenti didepannya, dia tahu kenapa kapten itu sedang berada disana. "Selamat pagi, Kuchiki-taichou. Aku yakin kau sudah menerima pesan dari Akatsuki."
"Ya..." Jawab bangsawan itu. Dia melihat pada Toshiro lalu Akatsuki sebelum kembali pada Toshiro. "Aku senang Rukia sudah memilih guru yang tepat. Aku percayakan Rukia padamu, Hitsugaya-taichou, Nokage-fukutaichou."
"Jika anda mau..." Kata Akatsuki tiba-tiba. "Mungkin anda sebaiknya anda menyusul pada arah Rukia pergi sekarang, Kuchiki-taichou."
"Ada sesuatu, Akatsuki?" tanya Toshiro, dia tahu Akatsuki tidak biasanya menyusulkan hal semacam itu. Gadis itu meringis kecil seperti baru saja mendapatkan sesuatu yang buruk. "Aku pikir salah satu klonku melihat satu Bount pada arah yang sama seperti Rukia."
Mata Byakuya melebar kurang dari sedetik sebelum mengangguk dan menghilang dalam Shunpo. Toshiro menatap dimana kapten itu sebelumnya lalu melihat pada Akatsuki. "Siapa yang kau lihat?" tanyanya. "Aku pikir Bount yang bernama Yoshi, My Lord" kata Akatsuki. Kapten divisi sepuluh itu mengangguk. "Jika begitu bukan masalah, Rukia akan belajar dengan cepat dan aku percaya Byakuya akan menolongnya sebelum dia mendapatkan bahaya." Toshiro berbicara itu sambil menatap Akatsuki dengan ujung matanya. Gadis itu mengangguk dan perlahan matanya bersinar kembali.
"Dia akan baik-baik saja, My Lord..." Kata Akatsuki. "Aku mendapatkan pesan kalau ada pertemuan kapten di divisi satu dalam sepuluh menit."
Toshiro mengangguk, "baiklah, aku pergi dulu. Kau kembali ke ruangan dan bersiap dengan semua laporan divisi. Matsumoto, aku ingin kau memeriksa ke divisi empat apakah ada yang terluka dari divisi lain selama penyerangan. Dan tanyakan juga dimana, kapan lalu ciri-ciri Bount yang mereka hadapi. Jika selesai laporkan kembali padaku dan kita akan berkumpul membicarakannya."
"Hai / Yes, My Lord" jawab keduanya. Ketiga orang itu pun menghilang pada tujuan mereka masing-masing.
.
.
.
maaf ya, baru di publish. saya benar-benar merasa bersalah jadinya buat yang nunggu. kalau ceritanya jadi sedikit kurang bagus, maaf ya. yang ini gga diedit banyak dan pasti sedikit berantakan. oh, saya juga ingin memohon maaf lahir dan batin. saya muslim, itu benar jadi saya memohon maaf yang sebenar-benarnya jika ada yang tidak berkenan ucapan dalam cerita ini.
I am still a only human afterall..
