HYAAAAAAAAAAAAA! EPISODE 72 MENGGILA! SIAL! KEREN BANGET!#abaikan

Pas lomba poster sukses buat juri epilepsi~ XD#abaikanjuga

Warning : alur lambat, OOC, typo, gaje, humor garing, nyeleneh dari yang seharusnya, dan banyak lagi.


Chapter 27

DING...DUNG...TING! TING! Ngggung...

"Hiks.. yamete...onegai...hiks"(kumohon..hentikan...)

DUNG... TING...TINGGG! DING...DONG...

"hiks...Mimi wa itai yo...hiks..."(telingaku sakit...)

DUNG...DUNG...TONG... DING...TING...

" Dare ga...tasukete..."(siapa saja...tolong aku...)

DONGGG...TIK! DUNG... DUNG... "(name)! Ki..doko...?! ...ko..ae...!"

"hiks...o-otou-san..."(a-ayah..)

TING!...NGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNGGGGGG...!

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Degh!

... Akai...(merah)

.

.

.

Paginya~

Kamu membuka matamu perlahan, dan tanganmu meraih-raih sesuatu. Dari matamu keluar air mata, jantungmu masih berdegup kencang, dan kamu sudah lupa sama sekali mimpi barusan yang kau alami, kamu merasa geli di telingamu dan mengusap sesuatu yang seakan keluar darinya...

Cairan berwarna merah itu melumuri telapak tanganmu yang kamu gunakan untuk mengusapnya, kamu kaget dan cepat-cepat membersihkan sisanya dengan tisu yang (untungnya) terletak persis di sebelah atas bantalmu. Lalu tak lama kemudian kamu menyadari kalau persediaan oksigen di sekitarmu hampir habis

"Se-sesak... berat..." keluhmu. Lalu kamu mulai menyadari posisi tidur absurd nan chaostic yang tengah diperagakan oleh kawan-kawan kumpul kebo-mu.

Kamu dipeluk Momoi sangat erat, kakimu di tindihi Aomine dengan pose tidur yang tidak elit. Dan punggungmu jadi tempat bersandar kepala titan ungu satu-satunya di sana. Tanganmu digandeng Kuroko dan Midorima sangat dekat dengan lehermu bahkan kamu bisa merasakan nafas teraturnya(dia juga di tindihi Murasakibara), dan Akashi masih terbaring dengan tenang dan anteng di kasurnya, begitu pula dengan Himuro dan Kagami.

'Nijimura-senpai dimana?' batinmu menyadari kalau kasurnya sudah terlipat dengan rapi. TAPI! Karena kamu sudah tidak tahan lagi, serasa seluruh aliran darah di tubuhmu sudah macet dan kamu sudah hampir mati rasa, kamu dengan segenap tenaga membangunkan mereka.

"Satsuki-chan, satsuki-chan, ookirou... ku-kurushii..."(satsuki-chan, bangun..se-sesak) panggilmu sambil menepuknya.

"Ngh... (name)-chan? Ohayo..." katanya sambil mengusap matanya dan melepas pelukannya, "Ohayou..." balasmu. Lalu Momoi langsung pergi keluar, sepertinya ingin kembali ke kamar.

Lalu kamu mencubit pipi Murasakibara yang kepalanya bersandar di punggungmu. Dia bangun, tapi matanya masih terpejam dan terkantuk-kantuk. Lalu kamu juga bangun dan menepuk pipi Aomine, kakimu sudah kesemutan.

"Daiki, daiki, ookirou, aku gak bisa jalan entar" tak ada jawaban. Kamu menghela nafas

"Daiki, Mai-chan si model sedang berkunjung di daerah dekat sini lho" katamu tanpa minat dengan wajah datar. Tapi sukses membuat panther itu bangun.

"Apa?! Yang benar?! Di mana?!" katanya. Lalu dia melihat kearahmu, kamu menatapnya datar, tapi sebenarnya berjuang menahan tawa.

"Kau..." katanya geram.

"Kalau kau terus menindih kakiku, Daiki, seharian nanti aku gak akan bisa menggerakkannya..." balasmu.

"Hee, kalau begitu aku akan menggendongmu seharian, (name)"katanya dengan seringai jahil. Kamu menguap, tadi malam benar-benar membuat lelah raga dan pikiranmu.

'Cih, dia cuek' batin Aomine, lalu dia membereskan kasurnya sebisanya, berdiri, dan pergi ke kamarnya.

"Shin, ookirou" katamu sambil menggoyangkan bahunya. Dia membuka mata setelah mengeram kecil, melihat jarakmu dengannya membuatnya cepat-cepat bangkit. Memakai kacamatanya dan memalingkan wajahnya yang memerah.

"Terima kasih sudah membangunkan, aku mau kembali ke kamar dulu-nanodayo" katanya sambil membereskan kasurnya dengan rapi dan pergi.

Lalu kamu menoleh ke orang yang memegang tanganmu. Melihat wajahnya yang polos dan kayak malaikat itu kamu jadi tak tega membangunkannya, lalu kamu mengambil ponsel dan memotretnya.

'Sial, untuk seukuran anak cowok dia terlalu manis, wajahnya terlihat tak berdosa, kulitnya putih halus, meskipun rambutnya yang halus itu terlihat berantakan, itu malah membuatnya makin imut... aku jadi ngerasa dia mirip putri tidur deh, Sialan! Dia sangat imut!' batinmu nista. Lalu kamu sadar dan menggeleng-gelengkan kepalamu dengan cepat.

'Bodoh, apa yang kupikirkan?! Aku harus membangunkannya dan menyiapkan sarapan!' . '...' kamu berpikir sebentar .

"T-Tetsu..." panggilmu ragu-ragu.

"ng... (name)...san... ohayou gozaimasu...' Dia langsung bangun, kamu kaget dan langsung mengatup erat mulutmu.

Lalu setelah mengucek matanya dia melihat ke tangannya yang menggandeng tanganmu, lalu dia melepaskannya, memalingkan wajahnya yang merah sampai ke telinga. "g-go-gomennasai" katanya malu-malu.

"Tidak apa-apa, cepat bangunkan Sei dan yang lainnya, beritau Taiga kalau hari ini aku saja yang masak, sebagai ganti yang kemarin" katamu sambil berjalan keluar dari kamar itu.

Dikamar, sesaat setelah kamu pergi, Kuroko memandangi tangan bekas gandengan tadi, lalu tersenyum dan menciumnya, semu merah terlihat di pipinya yang mulus itu dan pandangannya melembut.

"Sepertinya kau senang sekali Kuroko" kata Akashi yang bangun dari tidurnya dan duduk, itu membuat Kuroko sedikit kaget "Tidak kusangka aku bisa melihatmu bersikap seperti itu, jarang sekali" lanjutnya(kurasa lagi yang oreshi :/).

"Ohayou gozaimasu, Akashi-kun. Kau sudah bangun dari tadi?" kata Kuroko masih dengan poker facenya.

"Begitulah. Dia gadis yang mempesona dan menarik, bukankah kau juga berpikir begitu?" kata Akashi dengan senyum sambil membereskan kasurnya.

"Aku setuju denganmu" kata Kuroko sambil tersenyum dan pipinya kembali merona, sambil membereskan kasurnya juga.

"Dari yang aku lihat, sepertinya kita semua telah terpesona olehnya, dan dia secara rata juga menyukai kita. Aku jadi penasaran, siapa yang berhasil mendapatkan hati gadis itu sepenuhnya nanti." Kata Akashi. Setelah selesai membereskan kasurnya dia berdiri dan berjalan keluar.

"Maksudmu... persaingan?" kata Kuroko. Akashi berhenti di ambang pintu

"... sepertinya kau sudah mengerti, jangan bilang ke siapapun tentang pembicaraan ini, jadikan rahasia kecil kita. Termasuk kau, Himuro-san." kata Akashi sambil lanjut berjalan, dan Kuroko hanya terdiam, tapi dari sorot matanya tersirat tekad yang kuat.

'Aku terima tantanganmu, Akashi-kun' Batin Kuroko.

"well, well, sepertinya tidak mudah menipunya, dia tajam sekali. Selamat berjuang, kalian semua." Kata Himuro sambil bangun dan menggoncangkan tubuh 'adik'nya secara kasar. (soalnya kalo halus gak bakal bangun)

.

.

.

.

Setelah sarapan ada pertandingan persahabatan antara klub basket Teikou dan Klub basket andalan disana. Sebelum pertandingan...

"Kalian sudah bersiap? Sebentar lagi adalah waktunya pertandingan, tetaplah fokus! Lalu, adakah sesuatu yang ingin kalian katakan?" kata si kapten mengawali

"Ooh! Sepertinya ada yang lumayan kuat diantara mereka, Mungkin aku akan mencetak 30 angka di pertandingan ini dan menantangnya one-on-one denganku" sahut Aomine dengan semangat dan senyum kekanakannya.

"Akhir-akhir ini aku merasa kemampuanku meningkat dan hari ini aku bersemangat! Mungkin aku bisa menyusul dan mengalahkan skor Aominecchi hari ini-ssu!" kata Kise yang belum lengkap tanpa senyum cerahnya (santai belum lengkap, tanpa s*lver quin~#plaak)

"Ha? Bisa saja kau bilang begitu, ore no one-on-one kattara ie yo"(bicaralah seperti itu saat kau menang one on one denganku) kata Aomine meremehkan.

"Na-! Ngrh! To-tonikaku! Aku akan berusaha yang terbaik untuk mengalahkan skor Aominecchi-ssu!" kata Kise dengan muka sebalnya

"Hee~ Mine-chin mo Kise-chin mo ganbatte, jika kalian bersemangat begitu, aku tak perlu bergerak terlalu banyak nanti dan cukup menangani Defense saja..." kata Murasakibara tanpa semangat, seperti biasa.

"Jangan santai begitu-nanodayo, Murasakibara, jika dibutuhkan kau juga harus menangani Offense" sahut Midorima dengan muka seriusnya

"Haa? Musuh kita tak terlalu kuat, kita akan menang mudah nanti... Lagipula kita tak mungkin kalah... Mido-chin juga berpikir seperti itu kan?" balas Murasakibara

"Tentu saja, aku tak ada maksud untuk kalah-nanodayo, tapi, aku akan berusaha semampuku nanti. Meremehkan lawan bisa berbahaya bagi kita-nanodayo"

"Kau benar, Midorima-kun, lawan kita sepertinya cukup kuat, dan kita sudah mengalami latihan yang keras untuk hari ini, aku juga akan berjuang! Dan juga, kita akan menang!" dan akhirnya si phantom angkat bicara (kya~#plaak)

"eeh.. sangat serius seperti biasanya ya? Kuro-chin"

"Ha! Nanoni itsumo koto daro?! Tanobun se, Tetsu! (tapi dia selalu begitu kan?! Tolong ya, Tetsu!) Berikan pass kepadaku, berapa banyakpun akan aku terima!" kata Aomine

"Hai! Ganbarimasu! Makasete kudasai!"(baik! Aku akan berusaha! Serahkan saja padaku!) balas Kuroko.

"Kurokocchi! Ore ni mo onegai suru-ssu yo!"(Kurokocchi! Aku juga tolong ya!) kata Kise tak mau kalah.

"A-,Hai! Akan aku usahakan!"

"Rasanya kok kayak gak yakin gitu sih?!" Kise memanyunkan bibirnya, Midorima tertawa kecil (eh? Sumpah dia ketawa kecil?)

"Sepertinya kalian sudah tak butuh motivasi atau apapun agar tak gugup, pokoknya, Tim ini akan Menang! Itu saja, iku so!" kata Akashi terhadap rekan timnya.

"Ooh!" balas mereka semangat.

"Ganbatte, Minna!" teriakmu dan Momoi, lalu dibalas oleh anggukan dan senyum mereka yang penuh percaya diri.

Melihat pertandingan mereka dari dekat seperti ini membuat hatimu berdebar keras, kagum, adalah kata yang tepat untuk melukiskan keadaanmu ini, kamu tidak pernah melepaskan pandanganmu dari lapangan, binar matamu tak pernah padam dan absen untuk melihat pergerakan mereka yang terlihat seperti pemain pro.

'Dasar orang berbakat, mereka melakukannya secara biasa, tapi di mata kami, mereka seperti sedang pamer kekuatan dan tebar pesona saja' batinmu, dan kamu tak bisa menahan tawamu.

"Ada apa (name)-chan?" tanya Momoi

"Haha, tidak ada, hanya saja, aku baru menyadari kalau mereka benar-benar hebat dan mencintai basket"

Nada penuh semangat dan kegembiraan memenuhi gedung olahraga itu, kamu tak berhenti tersenyum bahagia disana, saat itu, selama pertandingan.

.

"Kalian keren banget!" komentarmu langsung saat mereka istirahat 10 menit di antara quarter 2 dan 3, dengan senyum cerah kayak anak kecil dan tatapan mata penuh kekaguman, berhasil membuat pipi mereka semua(kisedai,pelatih+Momoi) merona.

(R : Tunggu, pelatih juga? . A : biar komplit aja . R : kayak apa gitu paket komplit segala . A : paket komplit nelpon, sms dan internet sepuasnya! Mulai dari 5 ribu rupiah kesemua op-#BLAAAAK #Nyessshhhh...)

"O-ooh! Atari mae da! Sekarang aku senang kau menyadari sisi kerenku!" kata Aomine mengangkat wajahnya.

"Yea... kau keren kalau otakmu gak bodoh dan kau gak mesum" dan kalimatmu sukses menembus dada dan kepala sang power forward dengan mulusnya.

Saat istirahat hanya Momoi yang mondar-mandir menyerahkan minuman, mengambil handuk, semprotan, dan lain-lain, alasannya? Tentu saja balas dendam tadi malam dan kamu disuruh duduk saja sambil sesekali membantu menyerahkan handuk mereka.

.

.

.

Siangnya kamu tertidur di bangku taman sendirian, awalnya kamu mau mencatat lagu pesanan dari karaoke lagi, tapi suasana disana begitu menggoda iman(?) untuk terbuai oleh pesona musim panasnya. Dan 'pluk', kamu tidur deh.

Kuroko yang tak sengaja melihatmu tertidur berjalan mendekat, lalu dia berdiam di depanmu, mengelus pipimu dan menatapmu dengan lembut, dia menundukkan badannya, dan tangannya mengarahkan wajahmu menghadap kearahnya, semakin mendekat dan bibirnya terlihat yang manis dan lembut itu menempel dengan bibir merah mudamu, kelembutan itu begitu terasa sampai terbawa ke mimpimu.

'Aah... jadi ini ya rasanya ciuman seorang pangeran...' batinmu tak menyadari, begitu lembut seperti marshmallow terlembut dan termanis yang kapanpun bisa meleleh di bibir.

.

.

.

Malamnya, di ruang musik 2, kamu duduk di depan piano, lampu kamu matikan karena bulan purnamanya begitu terang malam ini, kamu membuka jendela di belakang kursi tempatmu duduk, dan membiarkan kunang-kunang musim panas masuk dan menari di ruangan yang langsung berhadap dengan hutan di seberangnya itu. Cahaya kecil nan indah berpadu dengan cahaya lembut menyinari langit dan ruangan itu.

Kamu duduk diam, masih terbayang kelembutan tadi siang yang terasa begitu nyata sekaligus bagai mimpi. lalu kamu menyentuh bibirmu dengan ekspresi bertanya-tanya, mengerutkan dahi dan mengangkat sebelah alis, merasa aneh dengan 'sesuatu' yang menempel di bibirmu tadi siang. Lalu kamu tersadar dan menggelengkan kepala dengan cepat lalu jemarimu akan menekan tuts piano di depanmu. Di luar tampak Midorima dan Akashi yang memperhatikanmu dari tadi, dengan tatapan penasaran.

Memasuki intro, Midorima menyadari kalau lagu ini sama dengan lagu yang kamu nyanyikan di atap saat bersamanya, pandangannya melembut seakan terpesona dan terus memandangimu di seberang kaca jendela itu.

Di beberapa bagian kamu berhenti dan menulis ulang partitur di hadapanmu. Lalu melanjutkan lagi sampai selesai. Lalu kamu mengkaji ulang(emang pelajaran?) lagu itu dan tersenyum sambil mengangguk mantap.

"Yosh! Sudah benar!" ucapmu. Lalu kamu mengambil ponsel dan melihat 'order' selanjutnya. Lalu menyetel lagunya dan menulisnya di lembar partitur baru.

Kamu mencatatnya dengan konsentrasi dan kecepatan yang tinggi, menyesuaikan dengan nada di tiap tempo, trinada, dinamikanya, notasi balok sekaligus angkanya, untuk lirik terakhir nanti setelah selesai. Lalu sesudah kamu menulis liriknya. Tanganmu kembali menyentuh tuts piano yang berwarna monoton itu.

(#author NB : sebenarnya menulis dalam gelap itu bisa merusak mata, jangan ditiru yaa~)

[Intro]

Hitorini shinai de...
Awaku, amaku, iroto tte...
Mou hanasanaide
Kimi wa boku no inochi... `

Doushite, nē doushite kimi no negaiwa
Kanashimi no ame ni uta re nagara saiteru no?
Mōdaijina mono kizutsuketakunai
Sono shizukana egao wo tada mamoritai...

Sono te wo nobashite... Kodoku saeko wasuhodoni
Shūen no tokimo
Kimi ga iru nara, Kowakunai yo
Kimi wa boku no terasu
Tada hitotsu no hikari...

'Nee kimi wa sono hitomi de nani o mi teru no?'
'De aiwa wakare wo tsuretekuru shukumei na no?'
Demo kanjiru subete wa Kurikaeshi janai
Saa, shinjiyou
Isshoni ano mirai e, habata kou...

Boku wa kokoni iru... kimi to ima mitsumeatte
Kon'nani hakanaku
Sugiru ichi-byōga
Eien'na no
Kimi to deau tame ni
Boku wa umarete kita...

Arigatou... Arigatou...
Mada tsutae kirete nai yo
Shiawase da yo... Shiawase da yo...
Sono udeni ta karete shiritai
Douka kanade te ite,
Nando kisetsu wo kazue temo,
`Hanare nai yo'
Kono namida wasou, `... yakusoku '

Asaga oto zureru
Iro no nai kaze ga fuku
Kono hiroi sekai de
Kimi ga boku no inochi

Sono te wo nobashite... Kodoku saeko wasu hodoni
Mezameta hanabi ra
Sore wa futari de atashi nanda...
Kimi wa boku no inochi
Tada hitotsu no hikari
Soai Calendula...

Ceui : soai calendula

Lagu yang bertempo cepat selalu membuatmu berdebar memainkannya, ya iyalah yaa, kalo temponya cepet mainnya juga harus cepet. Kamu menghembus nafas lega begitu selesai.

"Fuuh... cih, katanya gak papa kalo meleset, ending-endingnya juga harus ngulangi lagi, dasar penipu, kupatahkan lehernya nanti" kamu ngedumel sendiri sambil melihat hasilnya,

Ekspresimu saat ngedumel kayak anak kecil, manis sekali, melihatmu bersikap seperti itu Akashi dan Midorima tak bisa menahan senyumnya. Dan terus melihat kearahmu yang sedang memeriksa jadwal kegiatanmu besok... kamu tersenyum miris.

"Kencan... kah? Sepertinya aku harus pesan tempat di dokter THT dulu..." dengan senyum miris dan aura-aura kagak enak yang menguar, kamu memeriksa inbox sms.

'Kencan? Dengan siapa?' adalah hal pasti yang terpikirkan oleh kedua insan di luar jendela itu.

Pertama sms dari Omari

[ Hem... kaleidoskop ya... sepertinya menarik, aku akan meneliti lebih lanjut dengan Hijikata, Misaki dan Sabura, untuk property ditangani Bourgenoiz bersaudara, Paula, Anna dan Shean. Lalu untuk musik Arima, Daisuke, Sevani dan Sawamura. Dan sisanya menangani kebutuhan lainnya, kau setuju?]

Kamu tersenyum dan membalas

[ selalu bisa diandalkan seperti biasa, Aniki, tolong ya]

Lalu balasan

[ Sudah kewajibanku untuk membantumu. Nikmatilah liburanmu, ceritakan pada kami saat kau pulang nanti. Oyasumi]

Kamu membalas lagi

[ Oyasumi]

Lalu sms kedua dari Teppei

[ Bagaimana harimu (name)? Sekarang aku, Ryo dan ibu menonton konser Ayah di gedung biasanya, banyak sekali tamu yang datang dan Ryo tak henti-hentinya menyamakanmu dengan ayah, kalian sama-sama suka musik soalnya]

Kamu tersenyum lagi, kali ini tersirat sedikit keantusiasan, lalu membalas

[ Hariku baik kak, lusa di gedung ini akan ada pesta topeng dan para tamu di wajibkan ikut untuk merayakan 1 tahun berdirinya gedung ini, jadi besok aku akan 'kencan' dengan Momoi dan Kise]

Lalu kakakmu membalas

[ Kau mau pakai gaun? Eng... kamu gak sakit kan (name)? Ato habis ini akan ada bencana alam? Maksudku-kamu benci acara seperti itu apalagi pakai pakaian sejenis begituan]

Kamu terkekeh membacanya, lalu kamu mengayun-ayunkan kakimu

[ aku masih sehat kak, aku memang benci acara seperti itu, tapi kalo aku gak ikut entah apa yang akan dilakukan pelatih dan Akashi padaku, aku lebih sayang nyawa :v]

Lalu ada balasan lagi

[ Sepertinya klub basket sekolahmu agak seram yah, berjuanglah (name), tetaplah hidup walau hal itu membunuhmu :v /]

Balasan yang terakhir ini malah seperti kata-kata di film-film colosal barat yang tentang peperangan epic itu. Kamu sweatdrop membacanya dan kamu kembali tersenyum.

[ hahaha, terima kasih atas 'dukungan'nya kak, selamat menikmati konsernya, jangan lupa rekamkan untukku]

Lalu ada sms masuk lagi

[ oke, akan kurekamkan di spot terbaik dengan kualitas gambar terbaik *grin*]

Kamu tersenyum puas dan menutup ponselmu, berdiri, mengambil sekotak susu rasa mocca dan berjalan memandangi keluar jendela. Suasana yang sepi dan tenang. Dan kedua pemuda yang melihatmu, tampang mereka seperti orang yang kehilangan kesadarannya, melihat ekspresimu yang banyak macamnya hanya dengan membaca sms adalah suatu hiburan tersendiri. Lalu dengan cepat mereka sadar kembali, memandangi satu sama lain, yang satunya tersenyum tipis seperti merencanakan sesuatu, dan yang satunya menaikkan kacamatanya dan mengangguk mengerti, lalu mereka berdua berjalan pergi.

.

.

.

Pagi yang lebih normal dari biasanya, kamu bangun pagi, cuci muka, ganti baju, membangunkan Kagami dan pergi ke dapur, sangat normal jika di bandingkan dengan pagi kemarin kan?

Lalu setelah selesai kalian makan bersama, berbincang ringan, tapi yang jadi topik utama adalah pesta topeng yang akan diadakan di gedung ini 2 hari lagi.

"Pasti sudah banyak yang mengajak kalian ya? Soalnya yang jadi tamu bukan kita saja, apa lagi Sei" komentarmu.

"Yah, banyak-ssu, tapi tak ada yang menarik perhatianku-ssu, yang menarik bagiku hanya (name)-cchi~" komentar Kise.

"Ada sih yang bicara padaku tadi, tapi aku tidak tau maksud dari bicaranya" kata Aomine.

"Aomine-kun memang tidak peka." Komenar Kuroko dengan datarnya.

"Berisik! Mana kutau kalau dia ternyata ngajak ha?! Memang kau ada yang ngajak?!" balas Aomine.

"Ada, tapi aku ingin berdansa dengan (name)-san saat pesta nanti" balasnya to-the-point. Kamu nahan nafas dan senyum garing. 'dia terus terang dan terang terus' batinmu ngiklan lampu ph*llips.

"jangan yakin dulu Kise, Kuroko, belum tentu (name) mau berpasangan dengan kalian-nanodayo" kata Midorima menaikkan kacamatanya.

"Midorimacchi sih enak udah pernah dansa sama (name)cchi! Lah kita kan belum!" kata Kise dengan suara ultrasoniknya.

"Midorima-kun, bisa kau diam saja?" Kuroko mulai mengeluarkan aura kuro-nya. Midorima kicep

"Yang udah ngerasain diem aja, dan mengalah... dasar serakah" tambah Aomine sambil menggali harta karun di hidungnya. Alis Midorima berkedut, dia menaikkan kacamatanya(lagi)

"Aku tak mau mendengarnya dari orang yang makan 4 porsi sendirian dalam waktu 5 menit-nanodayo" . "Emang salah?!" . "Sejujurnya itu membuatku kelelahan Ahomine" . "Itu tugasmu untuk memasak, Bakagami" . "Kira-kira dong! Aku juga manusia! Gak monster kayak kau!" . "Siapa yang monster?!" . "Kalian kekanakan sekali-nanodayo" . "Berisik! Kau juga cerewet terus daritadi! Songong banget jadi orang!" . "Apa katamu?!" oke, mari kita abaikan mereka.

"Kalau Mukkun ada yang ngajak?" tanya Momoi

"ng? Takusan..."(banyak) jawab Murasakibara dengan nada malas, kamu dan Momoi sweatdrop. 'dasar para ikemen laknat...' batin kalian berdua yang entah lagi muji apa lagi ngutuk itu makhluk warna-warni kelainan pigmen.

"Tidak ada yang mengajakku (name)" ujar Akashi. Kamu langsung kicep

"Yang benar?" lalu kamu melirik kearah tamu lainnya (yang kebanyakan gadis) yang sedang mengumpulkan keberanian dan mencuri-curi pandang ke arah kaptenmu itu.

"Aku tidak bohong" ujarnya kembali dan (akhirnya) dia mengakhiri makannya yang elegan itu. Kamu menepuk pundaknya dan tersenyum friendly.

"Tenang saja, nanti pasti ada banjir ajakan kepadamu, tunggu saja jam tayangnya~" katamu sambil thumbs up dan itu sukses membuat si kapten itu bertanya-tanya.

'Apa ada sesuatu yang tak sengaja masuk di makanannya tadi?' nah, itu yang dipikirkannya #gubraak.

"oh iya (name)-cchi, nanti siang jadi? Aku sudah izin ke pelatih dan pelatih mengizinkan." Lanjut Kise

"Dan...?" katamu seperti ingin mengingatkan pemuda itu sesuatu.

"Semuanya aku yang bayar-ssu~ tentu saja aku tidak lupa, khusus untuk (name)-cchi dan Momoi-cchi~" kamu dan Momoi menoleh satu sama lain dan tertawa senang.

"Kalian mau kemana?" tanya Kuroko

"sorewa... hi-mit-su~" balas kalian bertiga dengan senyum yang secerah mentari. Dan itu malah membuat Kisedai sisanya, Kuroko, Kagami dan Himuro makin penasaran.

Untuk cowok sudah disediakan kostumnya, tapi sialnya tidak untuk cewek, mereka harus beli sendiri (ini penindasan namanya -_-) karena para staff gedung dan pimpinan di sana takut tidak cocok karena perempuan cenderung cerewet. Dan 'untung'nya para komisaris setuju dengan usulan yang diajukan oleh segenap hati 'panitia' di gedung itu.

Setelah selesai, kamu ganti baju, bertemu dengan Momoi dan Kise, lalu pergi bersama menuju kota, di distrik perbelanjaan, di salah satu toko penjual pakaian...

"Sudah kuduga aku tidak akan menyukai baju dengan gaya seperti ini..." katamu dengan aura suram dan mata benar-benar ingin membunuh siapapun yang berani mendekat.

Kise sweat drop memandangimu kagum, penampilan ama auramu beda jauh kayak langit ama jurang terdalam.

"Aduuh~ kamu cantik sekali (name)-chan~ aku terpesona sekali~" kata Momoi menghiraukan auramu dan memelukmu, lalu menggosok-gosokkan pipinya ke pipimu.

"Badan nona ini sangat ideal, kulitnya juga punya warna yang bagus~ apa lagi dengan wajah berbentuk seperti ini, rambut ini dan warna mata ini~ aduh, seperti boneka saja~ boleh saya memotret nona?" kata penjaga toko yang kelihatannya (sudah bukan kelihatannya lagi nih) melambai dengan indahnya dengan tubuh 'subur', bibir tebal, rambut licin, tahi lalat di sudut mulut dan pakaian model western jadul(bajunya kayak gimana? Mikir aja sendiri #dicekik banci).

Kamu tak menghiraukannya. Dan mencoba untuk bersabar. Di luar toko...

"Suit~ (name)-chan cocok juga pakai gaun itu, dia cantik sekali~" kata Himuro yang sembunyi di balik tiang.

"Hee, not bad" komentar Kagami di tong sampah (kagak elit banget lu Ka, "EMANG SIAPA YANG BIKIN?!"#BUAK)

Lalu sekelompok pemuda kita yang kece cetar membahana badai antariksa itu hanya memandangi mu dengan tatapan sarat akan arti (weits) tentunya tak lupa dengan blushing di wajah mereka. Bisa dibilang mereka semua sedang jadi stalker dadakan, bajunya pake baju casual biasa, Cuma seragam pake jaket, topi ato kacamata item. Dan mereka tak mempunyai kesadaran diri yang cukup kalau mereka tengah menjadi pusat perhatian para serigala lapar di sana, mulai dari yang cewe(itu udah pasti) yang cowo(kayaknya rela belok demi mereka) dari yang muda(darah muda~ darahnya para remaja~*blaak*) sampai yang tua(dasar ABG tua+pedofil, minggat sono!) dan dari yang transgender(makhluk langka ini ngapain disini?) sampai yang doublegender pun(nama produk baru alat sedot wc ya?) secara tidak langsung –sebenernya secara terang-terangan dan membombardir- meminta pada author untuk membungkus mereka dan membawanya pulang.

(kagak boleh, mereka pemain yang berharga dalam ceritaku) dan mereka(kisedai+kagami+himuro) bersyukur punya author yang lebih cinta ke ceritanya ketimbang ke pemainnya (mereka nangis dalam hati). Yang membuat mereka yang request tadi histeris dan guling-guling berjamaah di jalan seketika itu juga, Yang malah membuat sebuah pemandangan fenomenal spiritual kesurupan masal terparah yang pernah ada di Jepang.(Author tak mau ambil using dan berjalan pergi dengan santainya)

Mari kita skip, karena orang-orang tadi mulai menggantungiku dan membuat scene film zombie yang epic gak ketulungan, dan karena acara pilih-pilih baju plus aksesoris kalian pasti bakal lama. Kise kamu pilih karena dia modis, dan Momoi... wajar, kalian kan sama-sama cewek yang tersisa di klub basket itu. (Reader & Momoi : jangan perlakukan kami kayak makhluk hampir punah! #dilempar)

Kamu yang menentang tas belanjaan kamu, dan menolak tawaran Kise untuk membawakannya, dengan alasan tangan Kise udah penuh untuk membawakan punya Momoi yang gak tanggung-tanggung seakan memborong seluruh isi toko(yang bener?!) melirik toko es krim di pinggir jalan saat kalian jalan-jalan menikmati hari. Kamu menarik-narik ujung baju Kise dan menatapnya dengan tatapan memohon.

"Tolong belikan es krim..." katamu dengan nada memelas, pintamu kekanakan dengan secara baik-baik karena kamu udah kepingin banget. Kise nosebleed. Kisedai lain dan yang lainnya bushing parah, dalam hati ingin koprol di menara Tokyo dan bilang woow#get PLAKed.

'(name)-cchi! Apa kau mau membunuhku dengan ke-moe-an mu?!' batin Kise menjerit.

"B-baiklah (name)-cchi! Kamu tunggu sama Momoicchi di bangku sana dulu ya, setelah aku menaruh ini aku akan langsung membelikanmu-ssu! Ah! Sekalian Momoicchi juga!"

"Satsuki-chan, aku buang sampah dulu, kamu tunggu Ryouta ya" pesanmu di balas anggukan

"Jangan sampai tersesat (name)-chan!" teriak Momoi khawatir.

"aku bukan anak kecil, dasar cerewet" komentarmu dengan suara pelan sambil berjalan pergi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lho? Jangan bilang kalau aku tersesat? Yang benar saja!


Konnichiwa~ ^_^/ ada yang kangen? *plaak* di atas giliran Kuroko yang nyium~ kyaaa~ *nosebleed* ehem, abaikan saja saya yang lagi konslet.

Sempet ada yang menyinggung soal panggilan Akashi sama temen-temennya dan Sumpah, aku bingung pas nayangin Akashi yang kadang gantian antara Oreshi ama Bokushinya. Jadi kalo rada rese' nan ngawur maafin ya =_="

Dan WTH aku bener-bener bingung ini kapten merah yang paling seneng ngancem ini enaknya masih manggil kawan(budak)nya dengan nama marga apa nama kecil? Kalian pasti sadar kalo ada saat dimana Akashi manggil nama kecil dan di lain kesempatan juga manggil pake nama marga mereka kan? Nah aku sebenernya bingung pas ngetik itu.

Btw aku rencananya mau masuki scene yang kisedai mulai pecah, di chapter depan nan jauh di mato~ *plaak* jadi bakal melow nan gloomy, kalian mau apa nggak? Tapi ini bakal bener-bener jauh dari chapter sekarang soalnya masih banyak peristiwa masa smp yang 'menyenangkan' yang mau ku masukin. (Dan sebenernya ni fic genrenya bukan Cuma humor dan komedi, berhubung Cuma muat dua, jadinya ku ambil yang paling dominan~)

aku terharu dan sangat berterima kasih pada yang sudah fav dan follow nih fanfic, seneng banget~ *guling-guling* dan makasih dukungannya~ ya ampun... aku bener-bener senang melihat dukungan dan konten lainnya(?) yang kalian kirim! bener-bener membangkitkan semangat!

fuyuki208, alice dreamland, Choutoru(gak papa, setiap orang punya seleranya masing-masing, btw aku dah upload gambar lagi lho~), ShanNeko, AoiKitahara(dikatain gila? yang sabar ya :v), IzumiTetsuya(ternyata pernah ngalamin...puk-puk ya..), Hyuuga Kaname, farahlagiOOC (permintaan maaf diterima*plaak* maaf jadi rese, 2 chap itu lucu gegara efek pasca ujian kali ya? aku gak nyadar, aku juga ketawa2 sendiri kalo lagi baca ulang :v), Shinju Yoichi(dasar aliran sesat :v), Tsuki no Scarlett (komenmu luar biasa nak :v), Yuzu Nishikawa (woles nak...woles... :v), Asia Tetsu, neca

and the other readers! thank you very much! leave your tracks and see you in next chapter! ^_^/