Beautiful Prince(ss)
.
Byun Baekhyun as Hisahito no miya Bekkyon shinno denka
Park Chanyeol as Mafia Phoenix
.
SUMMARY
Baekhyun tidak mengerti saat seseorang membawanya ke tempat yang asing, istana mafia Phoenix. Dia hanya seorang pangeran penerus takhta kedua dari Jepang dan ia tak mengenal Chanyeol sama sekali. Lantas ia bertanya-tanya tentang apa yang Chanyeol rencanakan dengan menculiknya hingga ia tahu dan menyadari bahwa dunia memang tak pernah berpihak kepadanya.
.
WARNING : BOY X BOY (YAOI)! MATURE CONTENTS! Abuse! Mafia!
Don't bash! Don't plagiat!
.
.
.
.
Chapter 28
Hati Baekhyun mencelos seolah jantungnya baru saja ditarik paksa ke sudut tergelap. Ia tak tahu pasti apa yang ia rasakan saat melihat seseorang yang berada di kursi roda sana.
Meskipun ingatannya belum pulih betul, dan meskipun ia hanya melihatnya dari foto selama ini, juga meskipun wajah itu kian menua, hatinya dapat mengenali bahwa pria itu adalah sosok yang sama dengan sosok yang ia panggil otou-sama di masa lampau.
"Otou-sama.." suaranya bergetar penuh tangis. Tungkainya mulai berdiri, lantas berjalan dengan terseret menghampiri pria diatas kursi roda yang menatap penuh rasa bingung padanya.
"Otou-sama!" Baekhyun berteriak dengan tangisan pedihnya, memeluk pria tua itu dan menangis di bahunya dengan rasa tidak percaya.
Apa ini mimpi? Ia melihat bagaimana ayahnya berlumuran darah dan terbaring di kursi kemudi tanpa adanya pergerakan sedikitpun. Lantas sekarang bagaimana bisa ayahnya ada disini?
"Kyo-kun?" Suara berat khas pria itu terdengar limbung, kebingungan, dan penuh tanya. Jadi Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap sosok yang ia kenali sebagai ayahnya dengan mata berair.
"Benarkah ini kau, otou-sama? Bagaimana bisa?" Baekhyun kembali menangis di paha ayahnya yang kini mulai mengelus surai hitamnya dengan lembut. Dan Baekhyun sekarang dapat merasakan itu, hangatnya sentuhan orang tua untuk anaknya. Jadi begini rasanya.
"Dia belum meninggal saat kecelakaan itu. Dia sekarat. Sementara ibumu meninggal di tempat. Jadi aku membawanya bersamaku dan dia baru sadar beberapa bulan lalu setelah koma yang teramat panjang. Dia baru bisa berbicara lancar dan masih harus terapi berjalan untuk menggerakan saraf-sarafnya yang kaku."
Baekhyun masih dapat mendengar suara Kozan dengan benar di telinganya. Isakan tangisnya kian menjadi karena rasa sakit hati ini. Jadi selama ini ia masih memiliki seorang ayah dan ia baru tahu kenyataan itu sekarang.
"Kenapa?" Lagi-lagi ia menanyakan sebuah alasan, "kenapa kau menyelamatkan nyawa ayahku setelah membiarkanku berlari darimu? Bukankah dia memintamu untuk membunuh kami semua?" Ia bertanya tanpa menoleh sedikitpun, masih menunduk dan menangis di paha sang ayah.
"Karena aku tidak setuju jika pamanmu menjadi calon kaisar tunggal."
"Lalu kenapa kau menerima misinya, sialan?!" Persetan, ia tak peduli saat sopan santunnya hilang. Ia tak peduli lagi dengan semua itu. Yang ia inginkan saat ini adalah penjelasan yang semestinya ia dapatkan.
"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat dia mengarahkan moncong pistolnya di kepala putraku satu-satunya." Suara Kozan terdengar lirih dan putus asa.
"Dan kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku selama belasan tahun ini, keparat! Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua di usia 5-ku! Kau tidak tahu bagaimana kejamnya istana memperlalukan anak yatim-piatu sepertiku!" Baekhyun hilang kendali dan ia menangis meraung-raung. Tangannya saling terkepal dan matanya terpejam erat disertai isakan yang semakin keras.
Chanyeol menghela nafasnya, lantas menghampiri Baekhyun dan memeluk lelaki kecilnya itu dengan lembut seraya membisikkan kata-kata penenang.
"Otou-sama, putramu yang hina ini adalah seorang lelaki carrier. Dan aku menikah dengan pria ini, Park Chanyeol dari Phoenix. Aku memiliki 2 orang putra kembar darinya dan kini aku tengah mengandung lagi." Baekhyun bertutur setelah amarahnya mulai mereda.
Akainu cukup terkejut mendengar penuturan putra semata wayangnya. Pangeran kecilnya yang tampan yang ia bayangkan akan menikah dengan seorang gadis cantik dari kalangan bangsawan nyatanya memilih untuk menikahi seorang pria dan merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi pihak submisif.
Tapi, Akainu melihat pancaran bahagia dari amber sebening kristal itu hingga hatinya luluh. Putranya bahagia dengan semua yang ia miliki untuk saat ini, jadi tak ada alasan untuk ia mengacaukan segala kebahagiaan anaknya.
"Maafkan aku, otou-sama."
"Kyo-kun.. tidak apa-apa. Tidak masalah jika itu membuatmu bahagia. Tapi, siapa yang akan menjadi kaisar selanjutnya, sayang?" Akainu mendekap putranya, mengusap lelehan air mata yang turun di wajah manis putranya. Ia tak menyangka bahwa Baekhyun akan mewarisi wajah Hana ketimbang dirinya. Hana yang cantik dengan mata sipitnya.
Pertanyaan yang sama yang selalu muncul di benaknya. Jika ia memilih egois, siapa yang akan menjadi kaisar selanjutnya? Ia tak pernah memiliki jalan keluar dari semua itu.
"Aku tidak tahu, otou-sama." Jadi hanya itu yang bisa ia katakan.
Akainu juga tak mengatakan apapun lagi. Ia hanya diam dan menatap paras cantik putranya yang tak ia sangka sudah sebesar ini. Pangeran kecil yang dulu berusia 5 dan hanya setinggi pahanya kini tumbuh besar dengan baik dan telah menjadi seorang ibu.
"Aku ingin membawanya ke rumahku." Baekhyun berbalik, menatap Kozan penuh tekad dengan tatapan intimidatif.
"Tidak, dia masih harus di sini. Aku merasa bertanggung jawab atas kesembuhannya."
Baekhyun memejamkan matanya erat-erat. Ia benar-benar tak paham dengan jalan pikiran gila Kozan. Pria itu yang telah menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya. Lalu pria itu sekarang berbicara tentang tanggung jawab atas kesembuhan ayahnya. Pria sinting.
"Apa yang kau bicarakan? Jangan bicara seolah kau orang baik, keparat!" Baekhyun berbicara penuh penekanan. Ia bahkan mengabaikan fakta bahwa ia berbicara tidak pantas di hadapan ayahnya yang seharusnya sekarang menjabat sebagai kaisar.
"Kau tidak ingin membalaskan dendam pada pamanmu itu, hm?"
"Apa urusanmu, sialan?"
"Hey nak, aku juga punya urusan dengannya. Aku bisa memberimu bukti-bukti atas rencana pembunuhannya terhadap keluargamu."
Baekhyun terdiam, cukup tahu bahwa dia tak memiliki bukti apapun yang dapat menjatuhkan pamannya. Jadi dengan pertimbangan yang sangat panjang dalam pikirannya, ia setuju untuk bekerjasama dengan pembunuh itu.
"Jadi biarkan ayahmu tetap disini untuk menutupi keberadaannya. Kau urus saja urusan pernikahan politikmu disana, nak."
Sial, dia bahkan belum mengatakan apapun soal pernikahan politiknya pada Chanyeol. Dan pria brengsek itu sudah mengatakannya lebih dulu tepat didepan wajah Chanyeol, suaminya.
Ini benar-benar berat. Ia baru saja bertemu kembali dengan ayahnya, dan Kozan justru memintanya agar tetap membiarkan sang ayah disini, bersama seorang pembunuh.
Lantas ia kembali berbalik, menatap ayahnya dengan cemas sampai-sampai pria itu tersenyum kecil untuk menenangkannya, "tidak perlu khawatir, Kyo-kun. Dia tak seburuk yang kau pikirkan." Bisiknya penuh kepercayaan diri hingga Baekhyun merasa mungkin ia memang harus sedikit menaruh kepercayaannya untuk Kozan.
"Kau persiapkan bukti itu. Karena kau mau bekerja sama, membiarkanku berlari saat itu, serta merawat ayahku dengan baik, aku akan membebaskanmu dari tuduhan meski aku tak akan pernah memaafkanmu yang telah menyebabkan semua kekacauan ini, pembunuh." Ia tentunya tak akan pernah lupa pada sosok orang yang telah menyebabkan kematian ibunya. Tak akan pernah. Tak akan pernah ia maafkan seumur hidupnya. Tapi ia harus berpikir rasional.
"Aku harus pergi, otou-sama. Berjanjilah padaku untuk cepat pulih. Dan aku berjanji pula padamu untuk segera mengembalikan posisi kaisar yang seharusnya kau dapatkan." Baekhyun menatap sang ayah dengan sendu, enggan untuk berpisah namun ia harus. Ia sudah dewasa dan tak boleh bersikap kekanakkan. Lagipula ini bukan saat yang tepat untuk reuni keluarga. Dia harus menyelesaikan konflik yang tengah ia hadapi secepatnya, sampai ke akar-akarnya.
Baekhyun memeluk Akainu, memberikan kecupan di kedua pipi tua ayahnya sebelum menampilkan sebuah senyum tulus yang begitu manis. Setelahnya ia berbalik dan pergi bahkan tanpa berpamitan pada empunya rumah.
"Bagaimana resolusinya, Baek?" Tanya Kyungsoo yang berada di beranda depan bersama Kai dan si kembar. Namun Baekhyun hanya menggeleng kecil dengan air muka muram yang dapat menjelaskan semuanya.
"Papa.. papa tidak apa-apa?" Jesper dan Jackson langsung memeluk pinggangnya erat dengan penuh rasa khawatir. Dan bagaimanapun itu dapat membuat sedikit rasa gundah Baekhyun hilang.
"Papa tidak apa-apa, babies." Baekhyun berjongkok, lantas menatap anak-anaknya lembut dengan senyuman yang senantiasa terlihat manis bagi keduanya.
"Kenapa tadi papa menangis?"
Baekhyun tersenyum kecut, "papa hanya merasa.. sedih."
"Kenapa?"
"Karena sesuatu yang membuat papa sedih."
"Papa! Itu bukan jawaban!" Si sulung mencebik dengan matanya yang menatap sinis hingga sebuah kekehan keluar begitu saja dari Baekhyun bersama sebuah kecupan sayang yang ia hadiahkan untuk kedua jagoannya.
"Jangan menangis lagi ya, pa? Jesper jadi sedih melihatnya." Tangan si kecil Jesper terulur ke wajah papanya, membelai pipinya dengan lembut disertai senyuman polos khas anak-anak.
"Papa bilang saja pada Jake siapa yang membuat papa bersedih. Nanti Jake akan pukul dia sampai babak belur." Jackson mengepalkan kedua tangannya penuh tekad dengan memasang mimik wajah serius yang menggemaskan.
Baekhyun, Kyungsoo serta Kai yang melihatnya jadi gemas dan tertawa. Anak-anak memang menakjubkan. Mereka memiliki peran yang sangat penting dalam perubahan emosi orang tua mereka.
"Papa janji tak akan menangis lagi," setidaknya tidak di depan kalian, baby.
Tak lama kemudian Chanyeol dan yang lainnya keluar dari kediaman Kozan. Chanyeol menatap Baekhyun untuk beberapa saat dengan tatapan yang Baekhyun sendiri tak mengerti hingga akhirnya Chanyeol berjalan melewatinya tanpa kata dan naik ke atas mobil.
"Ayo pergi dari sini, papa!" Tangan Baekhyun ditarik oleh si kembar dan dia hanya mengikuti mereka hingga akhirnya mereka naik ke mobil.
Chanyeol mengemudi tanpa suara dan tatapannya lurus kedepan dengan sorot dingin yang tak Baekhyun kenali. Itu seperti bukan Chanyeol-nya. Sorot mata itu adalah sorot yang sama ketika Chanyeol melakoni pekerjaannya yang menantang maut. Dan seharusnya Chanyeol tak menunjukkan tatapan dingin yang tanpa belas kasih itu sekarang.
Saat menaiki pesawat, Chanyeol pun tetap tak berubah. Lalu ketika pesawat mulai lepas landas, pandangan Chanyeol tak terarah padanya, pria itu lebih memilih menatap pemandangan diluar jendela dengan violet dinginnya alih-alih menatapnya seperti biasa. Ini terasa asing.
Kris telah meminta izin Chanyeol bahwa mereka akan menaiki jet pribadi milik Phoenix untuk ikut pulang ke Korea. Dan disinilah ia berakhir, duduk di hadapan Chanyeol yang masih terdiam seribu bahasa.
"Baby J! Mau milkshake tidak?" Joonmyeon muncul di ambang pintu kabin setelah pesawat terbang dengan stabil di udara.
Si kembar yang mendengar kata milkshake pun langsung tersenyum, melepas sabuk pengaman mereka lalu berlari ke kabin lain dengan lompatan-lompatan penuh semangat.
Baekhyun masih menatap Chanyeol dalam diam, berusaha memahami keadaan dan apa yang salah dengan Chanyeol. Hingga saat pria itu hendak meninggalkan tempat duduknya, Baekhyun mulai bereaksi dengan menarik tangan kokoh pria itu dengan cepat.
"Chanlie.." sengaja. Panggilan itu biasanya dapat membuat Chanyeol luluh.
Namun sepertinya kali ini tidak, pria kepala 3 yang memiliki banyak tato di tubuh atletisnya itu bahkan tak berbalik untuk menatap Baekhyun. Dalam beberapa saat, Baekhyun merasakan sakit di hatinya. Ia hanya tak mengerti kenapa Chanyeol begitu dingin.
Lantas saat pria itu berbalik, pandangan Baekhyun berubah sendu ketika mendapati tatapan dingin yang tak bersahabat dari Chanyeol.
"Kenapa kau begini? Katakan padaku jika aku mempunyai kesalahan." Suaranya nyaris bergetar ketakutan. Ia takut, sangat takut jika Chanyeol mengabaikannya dan memilih untuk tak peduli. Chanyeol adalah sandaran utamanya untuk saat ini. Tak tahu akan seperti apa jadinya jika Chanyeol berubah memunggunginya dengan kejam.
"Apa karena pernikahan politik itu?" Ia kembali bertanya setelah tak mendapati jawaban apapun dari Chanyeol. Dan saat pria itu lagi-lagi terdiam, Baekhyun tahu bahwa jawabannya 'ya'. "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, Chanyeol. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakannya."
Baekhyun terlihat begitu tertekan dengan keadaan ini. Genggamannya pada Chanyeol menyendur dan berakhir lepas. Ia memijat pangkal hidungnya, mengusap wajah dengan dua telapak tangan sebelum kembali menatap Chanyeol.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu, Chanyeol. Aku tidak tahu. Untuk itu aku ingin meminta bantuanmu karena aku tak tahu lagi harus melakukan apa." Mata Baekhyun berkaca-kaca dengan wajah merah menahan tangis. Namun ia tak sedang ingin menangis. Ia terlalu lelah dengan konflik hidupnya sehingga ia merasa tak ada gunanya lagi ia menangis.
"Jangan pernah berani-beraninya menerima pernikahan itu, Baekhyun." Chanyeol melangkahkan kakinya untuk mengikis jarak diantara mereka. Lantas tangannya meraih pinggang Baekhyun dan membawanya untuk merapat seraya menghirup dalam-dalam aroma rambut Baekhyun yang semanis permen kapas.
"Tentu saja aku akan menolaknya. Aku punya kau. Aku juga punya Jackson dan Jesper juga janin dalam perutku. Aku ini gay, kau jelas tahu itu. Aku tak mungkin dapat memiliki hati pada wanita manapun yang akan Perdana Menteri pilihkan." Baekhyun mengerutkan bibirnya, lalu memeluk leher Chanyeol erat sambil berjinjit dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang dominan.
"Kau tak perlu takut, baby. Aku tak akan membiarkanmu menikah lagi dengan orang lain." Chanyeol membalas pelukan Baekhyun, raut wajahnya tetap sama; dingin dan mengintimidasi. Berbagai skenario kini tengah berputar di kepalanya. Ia tak akan membiarkan satu orang pun mengambil Baekhyun darinya, tentu saja. Ia bahkan dengan suka rela akan menargetkan misil ke istana kekaisaran Jepang jika orang-orang itu tetap bersikeras ingin mengambil Baekhyun darinya.
"Aku percaya padamu, Chanlie."
Pelukan mereka terurai, dan keduanya saling menatap dengan penuh pemujaan sampai akhirnya Chanyeol mengambil inisiatif lebih dulu untuk mempertemukan belahan bibirnya dengan milik Baekhyun yang begitu merah merekah nan menggoda.
Chanyeol melumat bibirnya dengan lembut tanpa adanya campur tangan dari nafsu birahi. Sesekali ia menggesek bibir bagian bawah Baekhyun dengan gigi-giginya hingga Baekhyun berjengit dan mengerang kecil. Pagutan manis itu terus berlanjut hingga saat Baekhyun membuka mulutnya dan Chanyeol menggunakan kesempatan itu untuk melesakkan lidahnya masuk kedalam rongga mulut Baekhyun yang hangat nan basah.
Mata Baekhyun selalu tertutup saat menikmati ciuman yang penuh dominasi dari Chanyeol. Berbanding terbalik dengan Chanyeol yang selalu membuka matanya hanya untuk menikmati wajah merona Baekhyun yang sangat cantik saat mereka berciuman.
"Ng.." Baekhyun menarik kepalanya dengan sengaja dan Chanyeol langsung melepaskan pagutannya untuk memberi Baekhyun waktu mengambil nafas dengan bebas.
"Cantik sekali." Chanyeol berbisik dengan suara serak serta seringai seksi di wajah tampannya. Bibir mereka berdua mengkilap oleh saliva dan itu terlihat sangat seksi.
Chanyeol melepas pelukan mereka, beralih untuk menggenggam pergelangan tangan Baekhyun dan menyeretnya ke kabin ketiga setelah melewati rekan-rekan serta si kembar yang ada di mini bar kabin kedua.
Kabin ketiga yang mereka masuki hanyalah sebuah ruangan tempat beristirahat dengan sofa besar yang berada di salah satu sisi.
Chanyeol membawa tubuh kecil Baekhyun kesana dan mencumbunya disana dengan hormonnya yang mulai muncul ke permukaan.
"Ngh.. Chanyeollie." Baekhyun mendesah kecil saat Chanyeol menciumi wajahnya serta menghisap lehernya untuk memberikan beberapa tanda kepemilikan disana. Tangannya mengalung di leher Chanyeol dan matanya sesekali terpejam menikmati sentuhan Chanyeol.
Kemeja Baekhyun keluar dari celana bahannya saat Chanyeol menariknya keluar dan menyingkapnya ke atas hingga perut putih Baekhyun yang masih datar dengan bekas jahitan operasi sesarnya dulu itu terpampang.
"Benih kecilku ada didalam sini, hm?" Chanyeol mengendus perut Baekhyun seperti anjing, mengusakkan hidungnya disana dan menciumi perut Baekhyun hingga empunya merasa tergelitik geli.
Baekhyun membiarkan Chanyeol berlaku sesuai keinginannya, ia hanya mengelus surai abu suaminya dengan penuh sayang sambil sesekali terkikik akibat cumbuan Chanyeol di perut ratanya.
"Dia tumbuh dengan baik seperti yang kau inginkan, Chanlie."
Chanyeol berdengung samar, masih menciumi perut Baekhyun penuh kasih sayang. Ia akan menjaga 2 malaikatnya yang berada dalam satu tubuh ini dengan baik.
"Aku berharap ini perempuan." Baekhyun bergumam kecil, namun Chanyeol masih dapat mendengarnya dengan baik. Lantas ia mendongak pada si cantik pujaan hatinya seraya menaikkan alis.
"Kenapa?"
"Agar dia memiliki semua kasih sayang Jackson dan Jesper."
Chanyeol terkekeh, merangkak di atas tubuh Baekhyun hingga wajah mereka saling berhadapan satu sama lain. Violet teduh Chanyeol menatap amber Baekhyun lembut, lalu bibirnya memberikan sebuah kecupan singkat di bibir tipis Baekhyun.
"Perempuan atau laki-laki, mereka berdua pasti akan sangat menyayanginya, Baekhyun."
Baekhyun harap begitu terlepas dari fakta bahwa Jesper menolak kehadiran seorang adik.
"Daddy dan papa sedang main kuda-kudaan ya?"
Refleks Baekhyun mendorong bahu Chanyeol untuk menjauh darinya dan menarik bajunya kebawah agar perutnya tertutup, lalu duduk dengan benar dan mendapati si kembar berdiri di ambang pintu seraya memegang tirai yang menggantung disana.
"Jake mau ikut bermain!"
"Jes juga!"
Lalu dua pasang kaki mungil itu berlari ke arah mereka dan melompat ke atas sofa dengan tawa riang mereka.
"Hey.. siapa bilang daddy dan papa sedang main kuda-kudaan, hm?" Chanyeol memangku Jackson, lalu menggelitikinya hingga anak itu tertawa terbahak-bahak sambil menggeliat; berusaha melepaskan diri dari ayahnya.
Jesper juga meringkik seperti kuda kala papanya menggigit daun telinganya dengan main-main.
"Papa~ geli!"
"Ah.. daddy! Hentikan!"
Jesper merengek manja dan Jackson memohon sambil tertawa lepas.
"Siapa yang mengatakan itu, hm?" Chanyeol menghentikan gelitikannya pada Jackson, begitupun dengan Baekhyun yang berhenti menggigiti telinga Jesper untuk kemudian memeluknya erat dan menciumi pipinya gemas.
"Paman Luhan. Dia bilang jangan mengganggu daddy dan papa karena kalian sedang main kuda-kudaan." Jackson terengah setelah tawanya habis. Sementara Baekhyun menghembuskan nafasnya berat, tak habis pikir kenapa Luhan mengatakan hal seperti itu pada anak-anak meskipun mereka tak akan mengerti makna dari perkataannya.
"Lalu kenapa mengganggu daddy dan papa, hm?" Chanyeol kembali bertanya.
"Karena kami ingin ikut main!"
"Itu bukan permainan untuk anak-anak, baby."
"Aaa~ daddy selalu bilang begitu." Si kecil Jackson merengek dengan bibir mengerucut.
"Apa papa dan daddy sedang membuat adik baru?" Tanya Jesper dengan violetnya yang memancarkan binar polos dan membuat Baekhyun gelagapan. Ambernya melirik Chanyeol untuk meminta bantuan namun seperti biasa, Chanyeol tak pernah memberikan uluran tangan jika itu menyangkut pertanyaan anak-anak untuknya.
"Tidak, bukan begitu, baby. Itu..."
"Kenapa?" Jesper menyahut dengan cepat saat papanya berbicara dengan tidak jelas, "Jes tidak apa-apa kok jika papa dan daddy mau buat adik baru."
"Hm? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Mata Baekhyun nyaris melotot, hanya tak menyangka Jesper akan mengatakan itu dengan sendirinya, tanpa paksaan apapun dari pihak manapun.
Bola mata Baekhyun kembali melirik Chanyeol, begitupun Chanyeol yang juga menatap ke arahnya saat Jesper mengatakan hal itu. Mereka seolah tengah berkomunikasi lewat tatapan mereka satu sama lain.
"Karena Jes pikir itu tidak buruk. Seperti kata papa, Haowen juga tidak apa-apa memiliki adik. Paman Luhan dan paman Sehun menyayangi mereka sama besarnya. Jadi Jes juga tidak perlu khawatir jika papa dan daddy membuat adik baru karena papa dan daddy akan tetap menyayangi Jes. Bukankah begitu?" Dengan polosnya Jesper berkata demikian disertai senyuman manisnya yang tak luput dari pandangan kedua orang tuanya.
Baekhyun juga merasa tersentuh mendengar penuturan Jesper. Jesper kecilnya dewasa dengan sendirinya. Ini diluar ekspektasinya dan ia bersyukur Tuhan telah mempermudah jalannya untuk menjelaskan pada Jesper tentang calon adik yang akan ia dapatkan.
Sementara itu Chanyeol tersenyum penuh kemenangan. Tentu ia merasa menang karena dengan begitu ia lebih memiliki banyak waktu untuk bercinta dengan serigala kecilnya.
"Tentu saja, Jes. Papa dan daddy akan selalu menyayangi kalian." Lalu mereka berempat saling berpelukan dalam suasana haru yang membahagiakan hingga sampai Baekhyun melepaskan pelukan itu dan kembali menatap si bungsu dengan sayang, "Jes tahu? 9 bulan lagi Jes dan Jake akan segera punya adik baru."
"Benarkah?" Jackson terlihat begitu bersemangat. Ia bahkan melompat dari pangkuan ayahnya hanya untuk beringsut semakin dekat ke arah Baekhyun.
"Hm, adik baru kalian sedang tumbuh didalam sini." Baekhyun mengelus perutnya dan si kembar menatap itu dengan tatapan secerah mentari, menyilaukan. Guru mereka di sekolah pernah mengatakan bahwa mereka harus menghormati ibu mereka yang telah mengandung mereka selama 9 bulan. Dan mereka menyimpulkan bahwa Baekhyun adalah yang mengandung mereka dulu dan juga calon adik baru mereka saat ini. Tetapi, guru di sekolahnya mengatakan sosok ibu adalah seorang wanita.
"Papa? Papa yang melahirkan Jake dan Jes, kan? Tapi papa bukan wanita." Jackson dan Jesper menatap Baekhyun penuh keingintahuan.
"Papa memang bukan wanita. Papa adalah seorang carrier. Carrier itu adalah laki-laki yang memiliki rahim, seperti Jesper. Maka dari itu Jes harus menjaga diri Jes agar tak tercemar pergaulan bebas, okay?" Setidaknya jangan sampai Jesper hamil diluar ikatan pernikahan sepertiku.
Sebetulnya Jesper tak paham akan maksud dari pergaulan bebas yang dikatakan papanya, namun nyatanya ia hanya mengangguk patuh. Karena ia anak baik.
"Adik bayi cepat tumbuh ya! Cepat keluar dari perut papa supaya kita bisa bermain bersama." Jackson tahu-tahu sudah mengelus perut Baekhyun dengan pola acak serta senyuman kekanakkan yang tak pernah lekang dari wajah tampannya.
"Adik bayi juga jangan menyusahkan papa ya? Adik bayi harus jadi anak baik di perut papa." Jesper juga ikut mengelus perut Baekhyun dan itu tak ayal membuat senyuman manis Baekhyun merekah dengan cantiknya.
"Jake mau adik laki-laki agar bisa diajak bermain bola!"
"Jes juga mau adik laki-laki! Dominan!"
"Hm? Kenapa harus dominan?" Amber Baekhyun menatap Jesper penuh tanya.
"Agar Jes jadi satu-satunya yang harus di lindungi." Lantas si bungsu yang manis itu terkikik geli hingga Baekhyun menjawil hidungnya dengan gemas.
"Terimakasih, babies. Terimakasih telah menerima kehadiran adik kalian." Lantas Baekhyun merangkul kedua pundak si kecil dan memeluknya erat seakan tak ada hari esok yang tersisa untuknya, menumpahkan semua kasih sayang dan rasa leganya dalam pelukan itu hingga si bungsu sedikit merengek ingin melepaskan pelukan.
"Papa memeluknya kencang sekali! Jes jadi sesak nafas." Bibir yang paling muda disana mengerucut dengan mata yang mendelik lucu pada Baekhyun.
Jadi Baekhyun hanya terkekeh atas tingkah si kecil Jesper yang selalu terlihat menggemaskan di matanya, "sorry, baby. Papa hanya terlalu senang."
Mimik kesal Jesper lalu berubah dalam sekejap mata menjadi sebuah senyuman lebar yang tak terduga setelah mendengar ucapan papanya.
"Kalau begitu tidak apa-apa. Asal papa senang, Jes mau melakukan apapun." Lagi, Jesper tersenyum hingga spasi lebar pada gigi serinya kembali terlihat jelas; giginya yang tanggal masih belum tergantikan.
Ucapan Jesper hanyalah sebuah ucapan anak-anak yang tak terlalu paham dengan makna dari sebuah kalimat yang telah mereka ucapkan. Namun entah kenapa hatinya selalu terenyuh tiap kali mendengar ungkapan polos mereka.
"Papa! Tahu tidak? Jake sekarang sudah makin hebat dalam menembak!"
"Jes juga jadi sama kuatnya dengan Haowenie! Hewie tak bisa menjatuhkan Jes dengan mudah sekarang!"
Keduanya kembali bercerita dengan penuh gejolak semangat. Dan setidaknya Baekhyun bersyukur bahwasanya kedua putranya menepati janji mereka untuk semakin kuat kala dia tak ada.
"Siapa Hewie, Jes?"
Lalu dengan polosnya Jesper menjawab, "itu panggilan sayang dari Jes untuk Haowen, pa."
"Panggilan sayang?" Chanyeol mengangkat alisnya skeptis. Jiwanya berubah dalam mode siaga seorang ayah dan itu cukup berbahaya sampai-sampai ia mengeluarkan aura panas.
Sayangnya tanggapan Jesper adalah mengangguk tanpa dosa dengan penuh semangat seraya berkata, "daddy juga punya panggilan sayang untuk papa. Jadi Jes juga punya panggilan sayang untuk Haowenie karena Jes sayang Hewie."
Baekhyun meringis saat mendapati wajah suram Chanyeol dengan perempatan siku-siku imajiner yang ada di pelipisnya. Pria itu sangat sensitif jika membahas hubungan kekanakkan Jesper dan Haowen.
"Jes, kemarilah. Daddy ingin menggendongmu."
Namun Jesper mencebik dan menggeleng, merasakan aura tidak menyenangkan dari sang ayah, mungkin.
"Tidak mau! Jes mau tidur di pangkuan papa saja." Lalu si kecil mulai berbaring dan meletakkan kepalanya di paha Baekhyun dengan kaki yang seenaknya menendang Jackson.
"Jes.. tidak boleh bicara seperti itu pada daddy. Jes juga tidak boleh menendang hyungmu, itu tidak sopan, baby." Baekhyun berusaha bicara baik-baik seraya mengelus surai lembut putranya namun Jesper tak menanggapi dan terus menutup kelopak matanya untuk pergi tidur.
"Jake juga mengantuk, dad."
"Kemarilah, sayang." Chanyeol merentangkan tangannya dan Jackson langsung memeluknya tanpa basa-basi dengan mata yang perlahan tertutup ringan.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan disana. Baekhyun juga memilih diam dan mengelus-elus rambut putra bungsunya yang kini telah terlelap dengan tenang.
"Ayo pindahkan mereka ke kursi"
Baekhyun hanya mengangguk dan menggendong Jesper dengan langkah yang mengikuti Chanyeol yang juga menggendong Jackson yang terlelap.
"Mereka tidur?" Tanya Joonmyeon dari balik meja barnya seraya menuangkan sampanye pada beberapa gelas.
Dan Baekhyun hanya mengangguk kecil untuk kemudian berlalu ke kabin pertama, menidurkan Jesper di kursi pesawat yang telah diatur sedemikian rupa agar nyaman untuk ditiduri.
Setelahnya Baekhyun dan Chanyeol pergi ke kabin kedua dan bergabung bersama Phoenix yang lainnya. Mereka duduk di sofa dan Joonmyeon menyuguhkan segelas wine untuk Chanyeol serta segelas susu vanila untuk Baekhyun. Nyatanya Baekhyun masih sama seperti dulu, masih memiliki jiwa kanak-kanak dan masih menyukai susu daripada minuman beralkohol.
"Tak mau mencoba red wine, darling? Rasanya tidak seburuk yang kau bayangkan." Minseok menggoyangkan gelas yang berisi red wine nya ke arah Baekhyun dengan satu alis yang naik. Namun Baekhyun hanya menggeleng dengan senyum simpulnya.
"Terakhir kali aku mencicipi minuman beralkohol, rasanya seperti air seni kucing." Baekhyun masih mengingat betul saat ia mencoba salah satunya dari gelas Chanyeol. Dan ia bersumpah ia tak akan mencobanya lagi. Lagipula, itu tidak baik untuk kesehatannya mengingat ia juga tengah mengandung.
"Aku lupa memberitahu kalian, Baekhyun hamil lagi." Kris bersuara seperti tim pemandu sorak, penuh semangat dan pembawa kabar baik hingga semua orang terkejut.
"Benarkah? Adik untuk si kembar?" Luhan bertanya dengan mata sipitnya yang kian melebar, tak peduli jika raut wajahnya mungkin terlihat seperti orang bodoh.
"Bukankah Jesper tak ingin punya adik?" Lalu Zitao bersuara setelah sekian lama terdiam dan hanya menjadi pendengar yang baik sejak awal ia berdiri disana. Tubuhnya bersandar pada meja bar dengan satu tangan yang memegang secangkir besar berisi bir.
"Dia berubah pikiran." Tawa Baekhyun pecah dengan nada gurauan yang menyenangkan hingga menarik semua orang untuk tersenyum. Tawanya begitu cantik dan tulus. Baekhyun benar-benar kontras saat disandingkan dengan Chanyeol. Baekhyun yang begitu bersinar, ceria dan pembawa kebahagiaan. Sementara Chanyeol yang dingin, kejam dan dilambangkan sebagai dewa kematian yang mengerikan. Mereka bukan pasangan yang sempurna, tapi begitu melengkapi dan terlihat manis saat berdua seolah kisah romansa Romeo & Juliet pun kalah oleh keintiman yang mereka buat. Pasangan itu membuat banyak orang iri. Bagaimana semua orang iri pada Chanyeol yang mendapatkan malaikat cantik yang cerdas dan berdarah bangsawan seperti Baekhyun. Dan pula bagaimana orang-orang itu iri pada Baekhyun yang dapat meluluhkan hati sekeras pualam milik Chanyeol, Chanyeol yang sangat tampan dan memiliki kekuasaan ganda yang luas jangkauannya; sebagai CEO dari perusahaan monster yang menguasai industri serta sebagai Phoenix yang menjadi konsumen tertinggi pada rantai makanan.
"Ah.. itu pasti bagai mendapat penghargaan daesang bagi Chanyeol." Joonmyeon mencibir, menyinggung soal hasrat Chanyeol yang tak pernah padam jika itu menyangkut Baekhyun. Jika Jesper memberikan lampu hijau, maka selanjutnya yang akan terjadi adalah Chanyeol yang akan terus menguasai Baekhyun dibawah kejantanannya.
Baekhyun hanya terkekeh. Jelas ia tahu itu. Tapi tidak masalah, hidupnya sudah cukup membahagiakan meski sekarang konflik tengah melandanya. Tapi jika ia memiliki Phoenix, apa yang harus ia takutkan? Tidak ada.
Ia lantas beringsut pada Chanyeol, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang dominan dengan dengkuran kecil seperti kucing betina yang manja. Chanyeol juga menanggapinya dengan positif, ia memberikan kecupan-kecupan ringan di rambut halus submisifnya. Kakinya bersilang dengan angkuh, tangan kanannya melebar seperti sayap di bahu sofa hanya untuk menjadi sandaran leher Baekhyun dengan satu tangan lain yang menggenggam ringan gelas wine nya, sesekali ia menyesap wine itu hingga cairan alkohol yang manis dan memabukkan itu melewati tenggorokannya dengan sensual. Tapi itu tak seberapa dibandingkan manis dan candunya Baekhyun baginya.
"Aku jadi ingin menikah lagi." Mereka menoleh pada Yixing yang duduk diatas kursi tinggi didepan meja bar dengan tatapan menyedihkannya yang terarah pada interaksi bos dan pendamping hidupnya. Melihat itu membuatnya ingin menikah lagi, dan tentunya membuatnya haus. Jadi ia menenggak margarita di gelasnya dalam sekali tenggak hingga tandas.
"Orang yang mengaku straight sepertinya menderita." Di sisi lain, ada Kai yang masih memiliki luka memar di wajahnya. Ia selalu mencibir Yixing sejak awal karena Yixing selalu mendeklarasikan bahwa dirinya bukanlah gay. Yixing memang straight, dia bahkan menikah dengan salah satu artis dari tirai bambu. Tapi itu tak berarti apa-apa saat mereka memutuskan untuk mengakhiri pernikahan di pengadilan. Lucu sekali.
"Maaf, Tuan Kim. Tapi aku merasa tersinggung karena aku juga straight, tapi aku cukup bahagia." Zitao kembali bersuara, merasa di remehkan dan dilupakan.
"Ya, sayangnya kau harus mengalami yang namanya long distance relationship." Kyungsoo menimpali, dengan mimik wajah datarnya yang kejam hingga mereka semua tertawa, terkecuali untuk Zitao yang merasa di anak tirikan. Dan pengecualian spesial untuk Chanyeol yang sepertinya tak memiliki secuil pun rasa humor dalam sarafnya.
"Dasar pasangan hina." Zitao mendengus, mendelik, dan mengumpat kesal. Jadi ia melampiaskan kekesalannya pada bir yang ada di gelasnya seraya melayangkan sumpah serapah pada Kai dan Kyungsoo yang berada dalam satu tim yang sama untuk mengolok-oloknya.
"Chanyeollo, apakah kau akan memasukkan Jake dan Jes ke akademi Phoenix?" Baekhyun bertanya dengan nada kecewa disaat yang lainnya tengah sibuk melemparkan hinaanγ ‘ atau candaan mungkin, satu sama lain.
Chanyeol berdengung samar, menenggak wine nya terlebih dahulu sebelum menatap Baekhyun dan berbicara, "darimana kau tahu?"
"Kris menceritakannya. Sudah lama. Apakah itu artinya aku akan berpisah dengan mereka?" Baekhyun menatap Chanyeol harap-harap cemas, berharap bahwa Chanyeol tak sekejam itu memisahkannya dari anak-anak. Tapi Chanyeol memang kejam dan menyebalkan hingga ia rasanya ingin menangis dan memukuli dominannya sampai ia puas. Tapi itu hanyalah angan-angan, tentu saja.
"Hanya pada liburan musim dingin dan musim panas mereka akan di karantina disana. Pada hari sekolah biasa, mereka hanya akan pergi kesana setelah pulang sekolah dan kembali ke rumah jam 8 malam."
"Itu lama sekali, Chanlie." Baekhyun merengek kecil, berharap Chanyeol dapat meringankan sedikit jam terbang anak-anaknya untuk berlatih. Namun Phoenix tetaplah Phoenix yang tak dapat dibantah dan berpendirian seteguh baja. Apalagi jika itu menyangkut masa depan organisasinya.
"Mereka akan libur setiap akhir pekan, baby. Tak perlu cemas." Chanyeol menyimpan gelas wine kosongnya di atas meja, lalu mengelus rambut Baekhyun seraya menatap amber cantik itu lekat-lekat.
"Aku takut mereka tidak sanggup melakukannya."
"Mereka pasti bisa, baby. Kau tidak tahu saja betapa luar biasanya mereka. Penuh tekad dan semangat untuk membuatmu takjub saat kau pergi tempo lalu." Chanyeol tetap menatap Baekhyun. Dan itu membuat Baekhyun merasa hangat, Chanyeol menatapnya seolah ia adalah semestanya, itu luar biasa menyenangkan, jantungnya berdengap cepat tiap kali violet dingin itu menatapnya penuh arti.
"Mereka memang luar biasa." Pada akhirnya Baekhyun memilih untuk menyerah pada keadaan untuk kesekian kalinya karena ia selalu ingat bahwa ia tak akan pernah bisa menentang keputusan Phoenix. Lagipula ia yakin Chanyeol akan selalu menjaga anak-anak mereka. Chanyeol telah membuktikan perannya sebagai seorang ayah saat Jackson sakit. Dan sekarang Jackson kembali sehat seperti sediakala, itu membuktikan bahwa Chanyeol adalah ayah yang bertanggung jawab bagi anak-anaknya. Ia bisa mempercayakan mereka pada Chanyeol.
e)(o
Chanyeol baru saja sampai di Seoul, kakinya bahkan baru menginjak lantai marmer rumahnya saat ia berbicara pada Baekhyun dan si kembar bahwa ia harus kembali lagi ke Jepang.
"Kau terlalu memforsir dirimu, Chanyeol. Kau bisa sakit." Baekhyun menurunkan Jackson dari pangkuannya untuk berdiri di sebelah Jesper yang memegang erat ujung kemeja Chanyeol yang keluar acak dari celana yang ia pakai, Jesper tidak ingin ayahnya pergi. Chanyeol telah menanggalkan jasnya yang mengganggu, dan hanya menyisakan kemeja merah maroonnya yang halus serta dasi biru yang terpasang begitu saja di lehernya. Jadi Baekhyun mendekat dan membenarkan dasi Chanyeol dengan bibir melengkung ke bawah. Ia merindukan Chanyeol, sangat. Tapi pria itu harus pergi lagi disaat mereka baru bertemu.
"Aku akan menyelesaikan pernikahan sialanmu disana, sweetheart."
Baekhyun terhenyak, lantas matanya langsung menatap Chanyeol dengan penuh keterkejutan. Ada raut khawatir di wajahnya yang murung.
"Tak perlu terburu-buru, Chanyeol. Mereka bahkan belum memutuskan siapa wanita yang akan dinikahkan denganku." Baekhyun melepaskan tangannya dari dasi Chanyeol saat itu sudah terpasang rapi disana. Ia hanya khawatir mengenai Chanyeol. Bagaimanapun yang Chanyeol hadapi bukanlah gangster yang berada dalam dunia yang sama seperti mereka. Yang mereka hadapi itu adalah pemerintahan Jepang dan politiknya yang sangat kejam.
"Itu justru lebih baik. Kau hanya perlu duduk manis disini, baby wolf. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Chanyeol menyeringai dengan bayangan hitam yang berada di matanya. Baekhyun tahu Chanyeol adalah pria yang pantang menyerah dan tak memiliki rasa takut. Sedikitnya rasa khawatirnya terbobati, meski itu hanya sedikit.
"Berhati-hatilah." Jadi hanya itu yang ia ucapkan sebelum mengecup lama bibir Chanyeol. Hanya sebuah kecupan dalam tanpa lumatan apapun.
"I love you, baby." Chanyeol berbisik dan tersenyum kecil, namun itu terlihat sangat tampan dengan beberapa helaian rambut abunya yang jatuh ke kening. Pria kepala 3 itu mengecup ujung bibir Baekhyun cukup lama hingga si kembar yang melihatnya mulai kesal karena itu terlalu lama menurut mereka.
"Aku juga mencintaimu, Chanyeol." Baekhyun membalas ucapannya saat Chanyeol menjauhkan bibirnya. Bola mata berbeda warna itu saling menatap dalam keintiman dan romansa lekat yang sulit untuk di terjemahkan dalam untaian kata sampai akhirnya si pengacau kecil kembali bersuara.
"Daddy! Jake dan Jes masih disini!" Jackson melayangkan protes saat kedua orang tuanya sibuk dengan dunia mereka sendiri dan tak mengindahkan mereka berdua yang jelas-jelas masih berada disana.
"Kenapa, Jake? Hm?" Maka Chanyeol mengalihkan atensinya pada si sulung, berjongkok dengan satu kakinya dan menatap amber Jackson penuh tanya.
"Daddy mau pergi kemana? Daddy selalu saja begitu saat baru sampai di rumah! Saat daddy ada, papa tidak ada. Tapi saat papa kembali, justru daddy yang pergi! Jake kesal!"
"Jes juga tidak suka daddy pergi!"
Keduanya melipat tangan masing-masing di dada, menunjukkan mimik wajah yang kontra dengan keputusan Chanyeol untuk pergi. Lantas ia terkekeh, mengacak surai kedua putranya dengan gemas sebelum mengecup kedua pipi mereka.
"Daddy harus, baby. Karena jika daddy tidak pergi sekarang, kita akan kehilangan papa."
Keduanya langsung luluh, mereka menatap Chanyeol penuh tanya, lalu mengalihkan pandangan pada Baekhyun yang berdiri di sebelah Chanyeol dengan tatapan cemas dan sedih.
"Tidak boleh! Kita tak boleh kehilangan papa, daddy! Papa juga sedang mengandung adik bayi. Kita tak boleh kehilangan mereka." Mata Jesper berkaca-kaca dengan bibir mengerucut.
"Untuk itu daddy harus pergi." Chanyeol mengusap kepala si kembar secara bersamaan, menatap mereka sekali lagi untuk memberikan keyakinan sebelum berdiri diatas dua tungkai kakinya.
"Feon air sudah siap, bos." Joon muncul dari pintu depan sambil membungkuk. Chanyeol telah memutuskan bahwa ia akan pergi menggunakan jet pribadi milik Feon. Ia akan menemui kaisar licik itu dengan identitasnya sebagai CEO dari Feon Group, bukan Godfather dari Phoenix.
Chanyeol hanya mengangguk dan mengibaskan tangannya agar Joon pergi. Lantas ia kembali menatap serigala kecilnya penuh dengan keseriusan, "aku akan cepat kembali."
"Ng, tepatilah janjimu."
"Kalian mau sesuatu untuk oleh-oleh, hm?" Chanyeol beralih pada 2 anak 8 tahunnya.
"Kuda poni!" Jesper mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil meloncat-loncat dengan senyum lebarnya.
"Jes.." dan Baekhyun memberikan tatapan datarnya untuk Jesper hingga si kecil meringkik dengan malu.
"Hanya bercanda, pa."
"Tidak ada, daddy!" Itu suara Jackson, "Jake hanya ingin daddy cepat pulang dan bermain lagi bersama kami." Jesper ikut mengangguk atas apa yang kakak hitungan menitnya ucapkan.
"Tidak masalah, babies." Sebagai perpisahan, Chanyeol memeluk keduanya beberapa saat, memberikan kecupan sayang di kepala mereka untuk kemudian mulai melangkah pergi dengan kecupan terakhir yang sangat spesial di bibir Baekhyun.
"Bye bye, daddy! See you next time!"
e)(o
"Bagaimana dengan kehamilan putra mahkota? Apakah itu tidak akan menjadi masalah?" Nakaito duduk di singgasananya dalam diam. Ada seorang penasihat kaisar di sampingnya, yang selalu memberinya gagasan-gagasan masuk akal dan membantunya dalam berpolitik.
Ada banyak hal yang harus ia persiapkan untuk saat ini, termasuk perang melawan keponakannya sendiri. Ia akan melakukan apapun untuk menyingkirkan hama itu dari garis takhta, sama seperti dulu. Jika bukan karena desakan perdana menteri dan para parlemen, ia tak akan pernah sudi mengeluarkan perintah resmi untuk membawa putra mahkota yang belum di nobatkan itu kembali ke istana. Itu sebuah bencana baginya.
Ini semua karena putrinya tak kunjung mengandung anak laki-laki hingga Bekkyon harus diseret kembali ke istana. Benar-benar kacau.
"Menurut saya tidak, Yang Mulia. Putra mahkota menikah dengan seseorang yang tidak memiliki gelar bangsawan. Ditambah lagi beliau menikah dengan seorang laki-laki yang mana itu merupakan sebuah aib bagi kita. Jika putra mahkota menikah lagi dengan seorang perempuan bangsawan yang dipilihkan Nakamoto-sama, maka itulah awal dari bencana yang sesungguhnya."
Nakaito ikut mengangguk, dia tahu bahwa ide pernikahan politik yang di sarankan perdana menteri akan membawa malapetaka baginya. Satu kesimpulan yang nyata; Bekkyon tak boleh menikah lagi dengan perempuan bangsawan manapun. Ia harus mencegah perdana menteri untuk melakukan itu.
"Lalu apa kira-kira yang bisa menyebabkan pernikahan politik itu di batalkan?"
"Saya memiliki suatu pemikiran, tapi rasanya cukup sulit untuk melakukannya, Yang Mulia."
"Cukup katakan padaku apa itu."
"Apabila benih putra mahkota ternyata tak dapat membuahi. Dengan begitu dia tak akan bisa menikah dengan wanita manapun dengan tujuan mendapatkan pangeran baru bagi kekaisaran."
Itu ide yang bagus. Katakanlah jika Baekhyun mandul dan spermanya hanyalah benih mati. Tapi itu akan sulit di lakukan terkecuali jika Baekhyun mau bekerja sama. Namun tentu saja itu mustahil. Bocah arogan itu pastinya tak akan mau mengalah begitu saja padanya.
Nakaito terlarut dengan pikirannya yang terus memikirkan cara tentang bagaimana agar Baekhyun dapat ia singkirkan. Namun sebelum ia menemui titik terang, pintu berdaun ganda setinggi 2 meter di hadapannya lebih dulu terbuka dan seseorang masuk kesana dengan kepala menunduk sempurna.
"Mohon maaf atas interupsinya, Yang Mulia. Tetapi, seseorang yang telah mengaku memiliki janji temu dengan anda datang untuk menemui anda."
Nakaito mengangkat alisnya, ia tak pernah membuat janji temu apapun dengan siapapun hari ini.
"Siapa?"
"CEO Park Chanyeol dari Feon Group."
Bedebah itu, berani sekali datang kesini! Nakaito menggeram dalam hatinya. Namun ia harus tetap tenang dan terlihat seperti seorang kaisar yang seharusnya. Jika di cermati lebih dalam, hal ini sebenarnya cukup menguntungkan baginya. Pria pengkhianat itu pasti ingin membicarakan soal pernikahan politik submisifnya, dan dengan itu ia bisa menggaet Chanyeol untuk bekerja sama dalam membatalkan pernikahan.
"Ya, aku akan menemuinya."
"Tuan Park bersama perdana menteri tengah menunggu anda di sayap barat, Yang Mulia."
Itulah yang tak pernah Nakaito bayangkan; perdana menteri ada disana juga. Tapi ia tak bisa menarik kembali ucapannya untuk menemui Chanyeol, jadi ia hanya pergi ke sayap barat dan menemui keduanya disana.
"Batalkan pernikahan yang kalian rencanakan untuk Baekhyun." Seperti biasa, tanpa basa-basi dan langsung telak ke intinya, menghujam tanpa ampun. Begitulah Park Chanyeol dengan sikap arogannya yang semua orang ketahui.
Kisame dan Nakaito sempat terkejut dengan sikap kurang ajar Chanyeol. Ini yang pertama untuk Kisame menghadapinya, namun tidak untuk Nakaito; ia telah menghadapi sikap kurang ajar pria Korea itu berulang kali selama bisnisnya bersama Phoenix 8 tahun lalu yang berakhir buruk.
Lantas Nakaito tertawa seringan bulu sambil bertepuk tangan, ada nada mengejek yang tersembunyi dibalik tawanya, "kau harus sadar dimana saat ini kakimu berpijak, nak."
Lalu Chanyeol menanggapinya dengan dengusan yang sama sekali terdengar sangat tidak sopan. Tapi apa pedulinya? Dia bukan bagian dari negara ini, ia tak punya kewajiban untuk tunduk pada kaisar maupun perdana menteri, setidaknya begitu pemikirannya.
"Batalkan pernikahan konyol itu. Dan aku tak akan berulah." Chanyeol tetap setegar karang. Dia tak mempedulikan tatapan berang Nakaito serta tatapan tak mengerti dari Kisame. Semua ini baru untuk Kisame, ia tahu suami Baekhyun adalah seorang mafia besar yang terhormat, tapi tidak tahu jika sifat bar-barnya begitu mencolok dan kurang ajar seolah pria itu di besarkan di kubangan lumpur bersama babi-babi kotor, atau mungkin memang begitu. Mengingat fakta bahwa pria matang di hadapannya adalah seorang bos besar mafia sedikitnya membuat ia khawatir. Tapi mengingat bahwa ini bukanlah teritori pria itu, hatinya kembali menjadi tenang. Chanyeol pastinya tak hanya menggunakan otot dalam kepemimpinannya, tapi juga otak yang cerdas dan berpikir dengan baik terlepas dari bagaimana dia bersikap. Pria arogan, pikirnya saat mengamati Chanyeol lekat-lekat. Tak habis pikir juga kenapa pangeran mudanya yang cerdas dan bersinar bak malaikat jatuh itu mau menikahi seorang pria berperangai buruk seperti Chanyeol dengan hawa gelap yang dingin nan mencekam yang senantiasa mengelilinginya.
"Maaf, Chanyeol-kun. Tapi pernikahan ini sangat penting untuk keberlangsungan pemerintahan Jepang. Kami tidak bisa membatalkannya begitu saja."
Nakaito nyatanya tidak sepaham dengan Kisame meski itu ia sembunyikan baik-baik didalam hatinya. Ia sangat ingin menyetujui apa yang pria angkuh itu utarakan jika saja Kisame tak disini bersamanya. Pernikahan politik itu hanya akan membuatnya berada dalam keadaan yang lebih rumit.
"Langkah yang salah, Nakamoto-san. Kalau begitu aku mendeklarasikan perang dengan Jepang." Chanyeol mengatakan itu seolah ia baru saja mengatakan akan membeli saham seharga β©100.000 hingga membuat Kisame dan Nakaito terkejut bukan main.
"Hati-hati dengan lidah tajammu itu, anak muda." Nakaito menegurnya, namun respon Chanyeol sangatlah menjengkelkan kala pria kepala tiga itu lagi-lagi mendengus sambil mendecih dengan membuang muka.
"Aku tidak main-main saat mengatakannya karena aku tak pernah bermain dengan kata. Aku lebih sudi untuk berperang mati-matian melawan kubu kalian daripada menyerahkan Baekhyun untuk menikahi orang lain."
"Posesif sekali." Kisame berkomentar. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit seolah ada ribuan bom kecil yang meledak secara beruntun di dalam kepalanya hingga rasanya ia ingin cepat-cepat pensiun dari pekerjaannya.
"Ini bukan perkara ringan, Chanyeol-kun. Jangan asal berucap. Perang bukan sesuatu yang menyenangkan." Kisame memberi petuah namun Chanyeol yang telah mengalami berbagai kekerasan dalam hidupnya tak mau mendengar. Ia tak peduli meski ia harus menghancurkan seluruh isi kota Tokyo asalkan Baekhyun tetap berada dalam dekapannya.
"Aku tak pernah berbicara omong kosong. Jika kalian bersikeras ingin melanjutkan pernikahan itu, maka itu artinya kalian harus menyiapkan tentara kalian untuk berperang." Mata Chanyeol menajam sedemikian rupa, menatap Kisame dan Nakaito dengan sorot dinginnya yang kejam hingga mereka tahu bahwa Chanyeol benar-benar tak main-main dengan ucapannya.
"Berikan kami waktu untuk berbicara." Kisame berdiri tanpa persetujuan, memberikan tatapan pasti pada kaisar untuk menjauh beberapa langkah dari Chanyeol demi berbicara secara empat mata.
"Apa kau pikir itu masuk akal? Dia hanya menggertak." Meskipun Nakaito menentang juga pernikahan sinting itu, ia harus tetap terlihat seperti seorang pro disini dan memerankan perannya dengan apik.
"Tentu saja itu masuk akal, Yang Mulia. Phoenix adalah organisasi besar yang menjadi bayangan kematian yang mengerikan di dunia hitam. Kita bahkan harus memperhitungkan eksistensi mereka. Yang kutahu adalah Phoenix memiliki ribuan anggota hampir di setiap negara berkembang dan lebih banyak lagi di negara maju, termasuk negara kita sendiri. Bisa anda bayangkan seberapa besar kerugian yang akan ditimbulkan jika kita tetap bersikeras? Negara kita memang kuat dengan pesenjataan yang mumpuni, tetapi Phoenix juga tak bisa di remehkan. Mereka terhitung sebagai pemasok senjata ilegal terbesar dan paling berbahaya di Asia hingga daratan Eropa, terkhusus Italia. Kemungkinan kita menang memang lebih besar, tapi apakah semuanya harus berakhir dengan tumpahan darah ribuan orang? Perang bukanlah hal yang sepele, Yang Mulia." Kisame terus mengoceh dengan urat-urat ketegangan yang mengiasi leher tuanya.
Nakaito bahkan terdiam untuk beberapa saat, mendalami perannya sekali lagi. Terlihat mempertimbangkan keputusan adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk saat ini meski pada akhirnya ia akan tetap menyetujui pembatalan pernikahan politik untuk putra mahkota.
"Jadi menurutmu pernikahan itu harus di batalkan?"
Kisame mengangguk tanpa jeda, penuh keyakinan, "kita tak punya pilihan lain yang lebih aman. Ratusan ribu nyawa warga kita lebih berharga daripada pernikahan itu."
"Tapi kita membutuhkan penerus."
"Saya mempunyai ide lain untuk itu."
Sebelum Nakaito sempat bertanya, Kisame lebih dulu mempersilahkannya untuk kembali ke tempat duduk mereka demi melanjutkan lagi diskusi mereka yang tertunda.
"Dengan berat hati, kami akan membatalkan pernikahannya, Tuan Park." Nakaito bersuara dengan separuh kelegaan di hatinya.
Dan Chanyeol tersenyum miring dengan wajah puasnya yang tetap terlihat angkuh. Tangannya yang berada di atas paha bahkan saling bertautan satu sama lain sebagai respon lain dari kepuasannya.
"Tetapi," Kisame menyela dengan sopan, ia menatap violet gelap Chanyeol lekat-lekat sebelum kembali berbicara, "jika bayi dalam kandungan Bekkyon denka adalah laki-laki, maka kalian harus rela menyerahkannya pada pihak kekaisaran untuk dibesarkan sebagai seorang pangeran yang akan mewarisi takhta selanjutnya. Jika ternyata bayinya perempuan, maka yang harus kalian serahkan adalah salah satu dari putra kembar kalian."
Rahang Chanyeol mengeras sedemikian rupa dengan otot wajah yang kaku dan terlihat tak menyenangkan. Tangannya yang awalnya saling meremas ringan kini bertaut lebih erat hingga otot tangannya terlihat jelas jika saja pakaian tak membalut tubuhnya.
"Anda tak punya pilihan lain, Chanyeol-kun. Jika anda tak bisa menyerahkan anak anda, maka Bekkyon denka harus melangsungkan pernikahan."
Chanyeol mendengus, nyaris kehilangan ketenangannya sebelum raut wajah dinginnya kembali seperti biasa. Lantas ia berdiri tanpa izin dengan kedua tungkai kakinya yang panjang, berjalan ke arah pintu keluar tanpa memberikan hormat atau salam perpisahan hingga akhirnya berhenti di ambang pintu ganda yang telah ia buka.
"Akan aku pikirkan." Hanya itu yang ia katakan sebelum sepasang tungkai panjangnya melangkah menjauh dari ruangan itu. Sangat tidak sopan dan arogan, bar-bar dan tak memiliki tata krama. Kisame jadi tak dapat membayangkan bagaimana sifat Baekhyun saat ini setelah 8 tahun lebih lamanya ia tinggal bersama sekelompok pria arogan yang tak memiliki tata krama dalam bersikap dan berbahasa.
"Kau mengatakan itu sebuah ide?" Lalu nada penuh kecam itu ia dengar dari Nakaito yang terlihat sangat tak senang dengan keputusan sepihaknya.
"Itu satu-satunya jalan, Yang Mulia."
"Tidak, putriku masih bisa melahirkan seorang pangeran."
"Jika itu terjadi, maka keadaan mungkin akan jauh lebih baik, Yang Mulia." Kisame menghela nafasnya pelan. Hatinya merasa iba pada Naiji yang mendapatkan tekanan besar dari kaisar hanya karena dia tidak mengandung seorang pangeran.
Menurutnya itu bukanlah sebuah kesalahan, sejak awal takhta itu milik Baekhyun dan memang seharusnya Baekhyun yang memberikan pangeran selanjutnya untuk kekaisaran, bukan Naiji.
e)(o
Chanyeol kembali ke Korea Selatan secepat yang ia bisa tanpa berlama-lama di negeri tetangga setelah mengakhiri pembicaraannya yang masih belum rampung bersama kaisar dan perdana menteri.
Kepalanya berdenyut nyeri seolah sebuah godam baru saja menghantam kepalanya dengan keras dan tanpa ampun. Ia bahkan mengabaikan tatapan Joonmyeon yang menatap penuh tanya ke arahnya sejak pesawat lepas landas.
"Sesuatu yang buruk telah terjadi?" Tanya Joonmyeon yang berusaha untuk meraih pundi-pundi kesabarannya. Alisnya naik dengan skeptis saat mendapati raut tak menyenangkan dari pria yang lebih muda. Ruas jemarinya saling bertautan ketika menanti jawaban Chanyeol. Firasatnya mengatakan bahwa hal yang sedang terjadi mungkin bukanlah hal yang bagus.
Tadi siang Chanyeol menolak keras ditemani untuk menemui kaisar. Joonmyeon tahu alasannya dengan pasti; agar pria itu bisa berlaku sesuka hatinya dan mengambil keputusan tanpa campur tangan orang lain.
"Mereka setuju untuk membatalkan pernikahan. Dengan syarat kami harus menyerahkan anak yang berada didalam kandungan Baekhyun jika itu laki-laki, untuk menjadi penerus takhta selanjutnya. Jika bayinya perempuan, maka gantinya adalah Jackson atau Jesper." Chanyeol mengatakannya dengan tenang meski kobaran api kemarahan jelas terlihat di violet gelapnya yang sedingin es.
Joonmyeon bahkan nyaris memekik saat mendengar penjelasan Chanyeol. Itu gila. Tentu saja bukan perkara yang mudah bagi Chanyeol maupun Baekhyun untuk menyerahkan anak mereka, apalagi yang baru lahir.
"Tapi, Chanyeol. Kurasa itu solusi yang lebih baik ketimbang membiarkan Baekhyun mempunyai anak dari orang lain, terlebih seorang wanita. Karena bagaimanapun anak itu akan tetap jadi anak kalian. Dan dia akan jadi orang yang sangat di hormati di Jepang kelak." Joonmyeon dan pemikiran rasionalnya mulai berbicara. Menurutnya itu memang jauh lebih baik ketimbang menghadirkan orang ketiga yang berpotensi membuat retakan dalam rumah tangga mereka meski itu hanya sekedar pernikahan politik.
Sebetulnya, Chanyeol tak benar-benar khawatir jika Baekhyun terlibat pernikahan politik itu, karena ia sangat yakin bahwa hati lelaki cantik itu hanya untuknya. Ditambah lagi, Baekhyun seorang gay. Tak akan mudah mengubah orientasi seksual seseorang yang sudah jelas-jelas menyimpang. Yang sebetulnya ia khawatirkan adalah Baekhyun yang memiliki anak dengan orang lain. Ia tak sudi membayangkan Baekhyun bersetubuh dengan orang lain meski mungkin di zaman modern ini mereka bisa saja memiliki anak tanpa proses bersetubuh; dengan menyuntikkan sperma pada rahim. Tapi itu bukanlah alasan, ia benar-benar tak ingin Baekhyun memiliki anak selain dengannya. Ia mungkin bisa saja bertransformasi menjadi monster pembantai anak-anak jika hal demikian benar-benar terjadi, yang ironisya anak yang ia bunuh adalah anak submisifnya bersama wanita lain.
Sialan, memikirkannya saja sudah membuatku naik darah.
"Aku memikirkan hal lain," violet Chanyeol bergulir ke arah Joonmyeon dengan serius, "anak itu juga bisa menjadi batu loncatan dalam bisnis kita."
Erangan kecil keluar dari sudut bibir Joonmyeon, ia hanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Chanyeol. Mungkin itu memang benar adanya, bisa dikatakan hal itu seperti peribahasa sambil menyelam minum air. Akan ada banyak hal menguntungkan jika salah satu putra Phoenix menjadi kaisar selanjutnya. Hanya saja yang menjadi pertanyaannya; apalah Chanyeol dan Baekhyun siap?
"Aku tak bisa memikirkannya. Dan Baekhyun mungkin akan histeris saat mendengarnya." Chanyeol mengusap wajahnya kasar, berharap pikiran-pikiran yang membebaninya itu ikut lenyap bersama usapan tangannya.
"Kita bicarakan ini dengan Baekhyun nanti."
Final. Percakapan berakhir dan tak ada obrolan lain lagi setelahnya karena Joonmyeon lebih memilih untuk mengistirahatkan matanya selama satu setengah jam perjalanan dari Jepang ke Korea Selatan.
Hingga akhirnya mereka sampai pada waktu petang di kediaman besar Phoenix dan disambut dengan suara pekikan anak-anak; si kembar dan Chutian.
"Mommy! I miss ya!" Chutian berlari ke pelukan Joonmyeon dan berakhir di pangkuannya. Rambutnya yang di kepang dua terlihat menggemaskan dengan pita merah yang mengikat ujung kepangannya.
"Mom juga merindukanmu, Xiao Tian."
"Mom, kudengar uncle Chan dan aunty Baek akan punya bayi lagi. Benarkah itu?" Mata bulat polos Chutian menatap Joonmyeon penuh keingintahuan dan Joonmyeon berdecak saat mendengar panggilan Chutian untuk Baekhyun.
"Aih.. Baekhyun bukan aunty, Tian. Dia juga uncle."
"Tapi dia sangat cantik seperti wanita."
Joonmyeon terkekeh, lantas mencubit ujung hidung Chutian dengan gemas. "Dasar.. mm, mereka akan punya bayi lagi."
"Lalu kenapa dad dan mom tak punya bayi lagi? Padahal kalian sering melakukan proses pembuatannya." Lagi, Chutian berkata dengan polos hingga membuat Joonmyeon tersesak air liurnya sendiri. Apa-apaan..
"Tian Tian! Darimana kau belajar berbicara seperti itu?" Joonmyeon dan wajah semerah tomatnya bertanya.
"Aunty Bella sering melakukannya dengan uncle James."
Sialan, Bella adalah saudari tiri Kris di Kanada. Dan Joonmyeon tak menyangka bahwa wanita menjengkelkan itu telah mengajari putrinya yang tidak tidak. Chutian hanya anak berusia 5 yang tahun ini akan menjadi 6, demi Tuhan! Ternyata selama ini ia telah melakukan kesalahan dengan menitipkan Chutian bersama keluarga besar Kris di Kanada.
"Chutian tak boleh berkata seperti itu lagi, paham? Apalagi didepan orang lain."
"Kenapa, mom?"
"Karena itu tidak sopan, babe. Dan tak pantas di ucapkan anak-anak sepertimu."
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Smart girl." Joonmyeon tersenyum lebar sambil mengusap kepala Chutian. Chutian berkata tidak akan mengulanginya lagi karena tak mau bercekcok dengan sang ibu, namun siapa yang tahu dia akan menepati ucapannya atau tidak nanti. Tergantung situasi pikirnya.
"Bos, aku ada di paviliun jika kau membutuhkanku." Joonmyeon menghadap Chanyeol yang masih bersama si kembar. Dia merangkul bahu kecil Chutian bersamanya. Lalu menatap si kembar Park, "paman J punya lolipop di paviliun. Apa kalian mau?"
"Benarkah?"
"Mau!"
"Kalau begitu ayo ikut."
"Papa? Daddy? Bolehkah?" Keduanya menatap orang tua mereka secara bergantian untuk meminta izin, dan saat kedua orang tua mereka mengangguk, mereka langsung memekik penuh semangat, "YEAY!"
Dan tanpa pikir panjang mereka mengikuti Joonmyeon ke paviliun. Sebenarnya Joonmyeon sengaja agar Chanyeol memiliki waktu untuk berbicara serius dengan Baekhyun perihal masalah tadi. Untuk itu ia membawa anak-anak mereka pergi agar tak menganggu pembicaraan, juga supaya tak mendengarnya tentu saja.
"Kau terlihat tidak baik, Chanyeol. Ada masalah?" Langkah Baekhyun kian mendekat saat Chanyeol justru mematung di tempatnya. Tangan kecilnya lantas terangkat untuk menyentuh rahang Chanyeol dan merasakan tekstur kulitnya yang sedikit kasar; khas seorang pria yang sering bekerja di lapangan. Ambernya begitu teduh dan menenangkan hingga Chanyeol terlarut dalam suasana yang manis itu.
"Duduklah," Chanyeol membawa Baekhyun untuk duduk di sofa terdekat. Dan Baekhyun merasakan sesuatu yang buruk sedang atau akan terjadi. "Mereka akan membatalkan pernikahannya," Chanyeol memulai, dan Baekhyun menatapnya tak percaya. Chanyeol dapat dengan mudah membuat mereka membatalkan pernikahan gila itu, sedangkan ia sendiri butuh usaha keras untuk dapat menolaknya. Baekhyun jadi bertanya-tanya tentang seberapa kuat pengaruh Chanyeol bagi kekaisaran. "Tapi tidak ada yang gratis, baby."
"Mereka... meminta imbalan?" Alis Baekhyun naik dengan mimik wajah skeptis; hanya tak percaya jika kaisar atau perdana menteri meminta sebuah imbalan dari Chanyeol.
"Mereka menginginkan anak dalam perutmu untuk dijadikan putra mahkota jika itu laki-laki. Tapi jika bayinya perempuan, maka kita harus menyerahkan salah satu dari si kembar J." Chanyeol mengucapkannya tanpa sungkan, namun terdengar sangat lembut dan penuh perasaan.
Diluar dugaannya, Baekhyun ternyata tak histeris. Dia lebih terlihat shock dalam keterdiamannya. Wajahnya seketika memucat dengan pandangan mata yang sayu.
Chanyeol memang menepati janjinya untuk pulang dengan cepat, namun pria itu tak menepati janjinya tentang menyelesaikan masalah, tak sepenuhnya. Kenyataan seolah menamparnya. Ia tahu bahwa tidak akan semudah itu keluar dari masalah yang tengah ia hadapi. Jepang butuh putra mahkota. Jepang butuh keturunan laki-lakinya untuk menjadi kaisar di periode yang selanjutnya.
"Baby.." Chanyeol menegur, ia mengusap pipi Baekhyun dengan lembut untuk menyadarkan sekaligus menenangkannya. Dan Baekhyun kembali dengan dirinya yang lebih terlihat tenang.
Ini saatnya ia memutuskan.
"Aku.."
.
Bersambung
.
Yeyeye lalalala~~~
Baekhyunnya setuju gak ya? Hm hm hm ππ
3 chapter menuju end ini yorobunnn wkwk.. adakah yang udah bosen dan gamau tau kelanjutannya?
Makin males ngebacot nih gue. Oke segitu aja lah. Jan lupa review eaaaa πππ
Met ketemu di chapter depan uwuwuwuuu~ π bhayyy
