Chapter 28
Shell cottage
"Lisa Turpin menggodamu?" Kata Ron tak percaya. Draco mengangkat bahu.
"Aku tahu dia tertarik padaku. Tak pernah sungguh-sungguh menanggapinya sampai saat itu. Tapi dia memang mudah di ajak bicara. Dan dia selalu berusaha mengajakku bicara," katanya, melirik Harry sekilas. Harry mengernyit pada bantal di pangkuannya, tapi Tak mengatakan apapun.
"Tapi dia cewek paling cantik seangkatan Kita! Bagaimana bisa kau Tak menanggapinya?" Kata Ron takjub.
Draco terkekeh. "Aku cowok setia, Weasley," katanya simpel. "Bahkan di saat aku dan Harry berpisah, aku harus berusaha keras untuk berpikir bahwa aku punya hak penuh untuk flirting dengan Turpin. Dan aku menanggapinya Karena aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku manusia bebas. Aku bisa move on..."
"Dan apakah gagal?" Tanya Hermione. "Kau tampak sangat tertarik."
Draco mengibaskan tangannya. "Oh aku memang tertarik..." Dia berkata hari-hati, kembali melirik Harry. "Hei, jangan pasang wajah begitu. Kau tahu kau sama bersalah nya denganku." Katanya pada Harry, yang hanya mengangkat bahu, masih berkeras menatap bantalnya.
Draco memutar bola matanya, bersedekap, menatap keluar jendela. Suasana menjadi sangat canggung. Ron Dan Hermione bertukar pandang.
"Oke," kata Hermione pelan-pelan. "Bagaimana cerita selanjutnya?"
Draco Dan Harry nampak sama-sama badmood Dan Tak ingin bicara.
"Harry?" Desak Hermione.
Harry mendesah, lalu melanjutkan ceritanya.
-dhdhdhdh-
Harry turun dari kamarnya di asrama Gryffindor setelah selesai Mandi yang panjang. Hari ini sungguh melelahkan, seleksi Tim Quidditch Gryffindor. Tapi Harry puas dengan hasilnya, dan pertama kalinya sejak masuk kelas 6 dia seriang ini.
Dia duduk di sebelah Hermione, mengeluarkan PR Transfigurasi nya. Hermione sedang menulis grafik panjang PR Aritmancy yang tampaknya sangat kompleks, membuat Harry meringis. Melihat grafik Aritmancy membuatnya teringat pada Draco, tapi dia berusaha mengenyahkan pikiran yang merusak mood nya yang oke.
"Luar biasa PR mu," kata Harry. Hermione mendongak, tampak baru menyadari keberadaan Harry.
"Oh yeah, tapi pressure lebih rendah dari tahun lalu. Malfoy mengedrop kelas ini, dan itu artinya aku Tak perlu banting tulang untuk dapat O plus."
Harry sungguh terkejut dengan info ini. "Malfoy mengedrop Aritmancy?" Ulangnya Tak percaya.
Hermione mengangguk. "Tak tahu kenapa. Dia yang mendapat nilai tertinggi di OWL Dan di kelas tahun lalu. He's so good with numbers. But whatever," kata Hermione, kembali berkutat dengan PR nya.
Harry mengernyit dalam. Draco mengedrop Aritmancy. Rasanya Tak mungkin. Dia cinta pelajaran itu. Kenapa dia mengedrop nya? Harry mendadak teringat sikap aneh cowok itu di Borgin Dan Burkes. Apa yang Draco sembunyikan? Dia Pelahap maut, Dan dia punya misi. Tapi misi apa yang Voldemort berikan pada anak enam belas tahun?
Lamunan Harry terputus Karena Ron datang. "Hei, Transfig?"
Harry mengerjap, berusaha menjernihkan pikirannya. "Yeah. Lebih baik menyelesaikannya sekarang. Ini yang tersulit."
Ron mengerang, tapi tetap mengeluarkan bukunya. Mereka belajar sampai agak larut, ruang rekreasi sudah mulai sepi. Hermione yang pertama berdiri, menggulung perkamennya.
"Aku selesai."
Ron mengerang. "Aku juga. Besok akan kusambung lagi. Lelah sekali Hari ini."
Hermione memberinya tatapan Tak terkesan, tapi memilih Tak berkomentar. " Harry?"
"Nah kalian duluanlah. Aku hanya tinggal sedikit lagi."
Tak lama setelah Ron Dan Hermione pergi, seseorang duduk di sebelah Harry. Cewek itu mendongak.
"Hei Dean," sapanya, tersenyum.
Dean nyengir, mengintip perkamen Harry. "Wow, Transfigurasi sudah hampir selesai. Kapten sungguh bertanggung jawab," godanya.
Harry terkekeh. "Memberi contoh dan motivasi, or whatever."
"Aku tahu kau merahasiakan kejeniusanmu!"
"Em hem, aku Tak mau membuat manusia sepertimu minder."
"My my, jenius, rendah hati, Dan berempati, definitely gadis idamanku."
Harry terbahak. "Oh shut up."
Dean ikut tertawa. "What? Aku bicara sejujurnya!"
"Jangan Cari masalah dengan the chosen one Dean, kau tahu betapa hebatnya aku."
"Oh, aku sungguh ingin tahu betapa hebatnya dirimu," bisik Dean menggoda, mendekatkan tubuhnya Dan menatap Harry penuh sugesti sambil menaik-naikkan alisnya. Harry tertawa terbahak, menggebuk kepala cowok itu keras.
"OWWW!"
"what? Kau sendiri yang bilang ingin melihat betapa hebatnya aku," kata Harry pura-pura polos.
Dean cemberut. "You're no fun. "
"Aku fun, kau saja yang Tak bisa menghandle kehebatanku."
Dean mengangkat tangannya. "Oh baiklah, baiklah, aku kalah."
"Kau selalu kalah," ledek Harry.
Dean memutar bola matanya. "Jangan salahkan aku. Matamu kelewat indah, membuat otakku Tak bisa berfungsi."
"Idih," tawa Harry, menggeleng, tapi wajahnya merona juga. Dean tersenyum puas melihat ini. "Lagian kau ngapain jam segini masih melek?"
"Menunggu kau sendirian, sudah lama Kita nggak ngobrol kan," kata Dean, mengambil gitarnya. "Aku mendengarkan banyak lagu baru musim panas ini. Aku ingin tahu pendapatmu."
Harry nyengir. "Kau tahu seleraku..."
"Oh aku tahu persis, wiseee maan say," goda Dean, menyanyikan can't help falling in love. "Dan aku mendengarkan band ini, Linkin Park saat musim panas. Mereka sangat keren. Tapi bukan seleramu. Dan kau tahu apa yang mereka putar di tv tiada henti?"
"Boyband!" Harry Dan Dean berkata bersamaan Dan terbahak.
"Oh yes, I don't care who you areee," tawa Harry.
"Aku tahu itu pilihan pertamamu. Wanna hear it?"
"Shoot."
Dean tampak sangat bersemangat, mengambil gitarnya. Harry mengibaskan tongkatnya, menggumamkan muffliato agar anak-anak yang masih di Sana, hanya 3 orang anak kelas 5, Tak terganggu. Karena Harry tahu persis semua orang selalu Haus ingin mendengarkan suara luar biasa Dean. Dean memainkan gitarnya, mulai bernyanyi,
"Although loneliness has always been a friend of mine
I'm leaving my life in your hands
People say I'm crazy and that I am blind
Risking it all in a glance
And how you got me blind is still a mystery
I can't get you out of my head
Don't care what is written in your history
As long as you're here with me"
Dean mengekspresikan wajahnya seolah dia mempersembahkan lagu ini untuk Harry, yang tertawa-tawa. Dean tersenyum hangat menatap wajah ceria Harry. Dia meletakkan gitarnya di meja , mendekatkan dirinya, membuat tawa Harry terhenti, tapi senyumnya masih.
"Er Dean?"
Dean tampak terhipnotis, menatap mata Harry. " I don't care who you are," senandungnya dalam bisikan. "Where you're from, don't care what you did," Harry menarik napas, mata Dean jatuh ke bibir Harry, "as long as you love me..."
Dan bibir Dean menyentuh bibir Harry, yang menarik napas tercekat. Syok. Dean menekankan bibirnya, membuat Harry menutup matanya, Tak mampu berpikir lagi.
Dean!
Dean Thomas! Temannya selama 5 tahun! Menciumnya!
Harry bahkan Tak pernah memikirkan Dean sebagai seseorang yang mungkin menyukainya. Cowok itu selalu menggoda Harry kan? Mereka hanya teman...
Hanya teman...
Dean menarik dirinya, meringis menatap Harry, yang balas menatapnya dengan mata membelalak syok.
"Er..." Dean menggaruk kepalanya yang Tak gatal. "Well..."
Harry masih terpana.
Dean tertawa Tak yakin. "Sori... Just... Sudah lama aku membayangkan adegan ini...aku..." Dia kehilangan kata.
Harry masih Tak bisa berkata apa-apa.
"Well, aku menyukaimu Harry. Sangat sangat menyukaimu. Aku tahu kau Tak sadar, dan aku Tak Akan memaksamu untuk balas menyukaiku lebih dari teman... Hanya saja... Kau single... Do you... Do you want to give it a shot?" Kata Dean penuh harap.
Dan mendadak Harry teringat Neville. Teman yang naksir Harry, yang cowok itu maksud pasti Dean. Harry merasakan wajahnya merah padam.
Dean!
Dean naksir dia!
Bagaimana bisa? Dean termasuk salah Satu cowok incaran di Gryffindor Karena wajahnya yang lumayan Dan suara emasnya. Menyukai Harry.
Dean! Temannya!
"Hanya... Mungkin kencan ke Hogsmead akhir minggu ini? Lalu kau bisa memutuskan apakah... Apakah kau ingin... Ehm... Jadian? Atau tetap menjadi teman biasa. Maksudku, no pressure. Semua terserah padamu."
Harry menggigit bibirnya. Bisakah dia melakukan ini? Dia tahu inI Tak adil untuk Dean, di saat pikirannya masih penuh dengan Draco. Tapi dia juga tahu bahwa inI kesempatan nya untuk move on. Dia Dan Dean sangat cocok kan? Mereka teman yang sangat baik, selalu nyambung saat bicara tentang apapun... Tapi...
Harry mendesah. "Dean, aku ingin, hanya saja aku... Kau tahu aku punya banyak... Rahasia... Punya banyak urusan. Aku Tak ingin menyakitimu..."
Dean nyengir kecil. "Aku tahu persis Har, Dan aku berjanji itu Tak Akan jadi masalah."
"Aku... Aku pernah menyukai seorang cowok juga... Dan kadang aku masih memikirkannya..." Tambah Harry hari-hati.
Dean mengangkat sebelah alisnya kaget. "Sungguh?" Tapi lalu dia mengangkat bahu. "Don't care. Aku tahu aku bisa membuatmu melupakan siapapun cowok itu."
Harry masih tampak Tak yakin. "Kau yakin?"
Dean nyengir lebar. "Seratus persen. Aku hanya ingin kesempatan. Hanya ingin kau menganggapku lebih dari teman."
Harry tersenyum kecil. "Well, oke kalau begitu."
Dean melompat berdiri. "Sungguh?" Tawanya Tak percaya.
Harry mengangguk, masih tersenyum.
"Yes! Yes! YES!" Dean meninju udara, membuat Harry tertawa, wajahnya masih merona. " Aku berjanji kau Tak Akan menyesal Har!"
Harry mengangguk, lalu membereskan barang-berangnya. Dean duduk kembali, menatapnya takjub. Harry berdiri, nyengir. "Sampai ketemu besok," katanya, melambai.
Dean mengangguk, senyum tampak Tak bisa lepas dari bibirnya.
"Yeah, sampai besok..."
Harry memberinya senyum lebar berlesung pipinya, membuat Dean harus menahan napas terpesona, lalu berjalan Naik ke kamar anak perempuan.
Harry menutup pintu, bersandar di pintu itu, menutup matanya, menarik napas panjang.
Dia tahu dia bisa melakukan ini.
Dia tahu dia bisa melupakan Draco.
Dia harus melupakan Draco.
-dhdhdhdh-
Draco menatap bayangannya di cermin.
Dia harus melakukan ini.
Dia menutup matanya, Dan entah mengapa yang terbayang adalah mata besar Harry yang menatapnya dingin, mencelanya.
Draco membuka matanya lagi.
Tak Ada hubungannya dengan Harry.
Tak ada hubungannya dengan Harry.
Draco menarik napas.
Dia harus melakukan ini. Ibunya... Ibunya terancam kan?
Dan apa yang akan terjadi pada Harry jika rencana ini berhasil?
Draco hanya tidur sejam semalam, Dan kepalanya pusing bukan main. Dia Tak bisa berpikir. Dia Tak tahu harus berpikir Apa...
"Draco, sarapan." Dia mendengar Blaise mengetuk pintunya.
Draco menatap dirinya sekali lagi, lalu keluar kamar Dan mengikuti Blaise ke aula besar untuk makan. Dia duduk di samping Theo, yang sedang meminum teh sambil membaca Daily Prophet.
"Hei," kata Theo. "Kau ke Hogsmead?"
Draco hanya mengangguk, mengambil teh Dan Dua roti panggang. Dia sedang mengoles selai coklat saat terdengar dengungan bisik-bisik. Dia mendongak, melihat Harry masuk bersama Dean Thomas. Harry tampak tertawa mendengar cowok itu bicara.
"Astaga ternyata gosipnya benar ya," kata Daphne pada Pansy, yang mengangguk, masih menatap Harry Dan Thomas.
"Tak kusangka Potter akhirnya takluk juga dengan semua rayuan Thomas."
Jantung Draco serasa mencelat ke tenggorokannya.
"Apakah in artinya Kita Tak Akan mendengar Thomas bernyanyi lagi di kelas?" Tanya Daphne, nadanya sangat kecewa. "Maksudku, memang lagu muggle yang dia nyanyikan, tapi suaranya lumayan..."
Pansy terkikik. "Ohh Kita semua tahu kau orgasme hanya dengan mendengar suaranya..."
"Hush."
Mereka terkikik berdua.
Draco meletakkan selai coklatnya, menatap piringnya. Terlalu kaget. Dia bisa merasakan Theo meremas pundaknya menenangkan, tapi tetap saja Tak bisa menghilangkan rasa sakit luar biasa di hatinya.
Harry sudah move on.
Dia sudah berpindah ke lain hati. Dia sudah memutuskan bahwa Draco Tak berarti lagi untuknya.
Draco menarik napas, menenangkan dirinya. Dia yang meminta putus. Dia yang berkata Tak mau melihat cewek itu lagi. Dia sudah memutuskan tak mau bersama Harry lagi.
Dia harusnya Tak peduli apa yang Harry lakukan. Dia harusnya gmtak merasa sakit saat membayangkan Harry mencium orang lain...
"Draco? Kau baik-baik saja?" Tanya Pansy cemas.
Draco mendongak, mengangguk pendek.
Dia Tak peduli. Dia Tak peduli. Harry bebas melakukan apapun, Dan Draco Tak Akan mengusiknya lagi. Dia akan melupakan Harry, dia akan move on. Masih banyak cewek yang mau dengannya. Masih banyak yang lebih dari dia...
Draco menarik napas lagi, menenggak teh nya, dan otomatis tatapannya jatuh ke meja Gryffindor, dimana Thomas sedang menyibakkan rambut Harry ke belakang sambil mendengarkan cewek itu bicara. Thomas tampak terpesona dengan nasib baiknya, dengan Harry...
"Draco, apa roti itu melakukan sesuatu yang menyinggungmu?" Tawa Blaise tak yakin.
"What?" Draco menunduk, melihat rotinya yang sudah jadi remah-remahan. Rupanya dia tanpa sadar meremas roti di tangannya. "Oh yeah..." Dia mengambil rotinya Satu lagi.
Bahkan Harry Dan Thomas Tak perlu menyembunyikan hubungan mereka kan? Mereka memamerkan ke semua orang, Dan Tak Ada satupun yang menghakimi mereka. Bahkan para Slytherin Tak punya sesuatu yang buruk untuk di ucapkan. Semua tahu Thomas menyukai Harry sejak lama, Dan semua sepertinya sudah menunggu saat in akhirnya terjadi.
Tak ada yang tahu tentang Harry Dan Draco, tentang sejarah mereka.
Mungkin lebih baik begitu, toh pada akhirnya mereka Tak bersama lagi. Pada akhirnya Draco sudah Tak tahan lagi...
Bukankah jika dilanjutkanpun akan sama saja? Draco akan tetap Tak sanggup pada akhirnya kan?
Ya, lebih baik begini. Sebelum terlalu jauh. Lebih baik begini. Mereka punya cara yang berbeda. Jalan yang berbeda.
Tapi melihat Harry dengan pria lain...
Draco bahkan Tak pernah berpikir ini bisa terjadi. Harry terlalu tertutup untuk punya pacar, dia selalu berpikir begitu. Tapi tentu saja dia sungguh bodoh. Harry yang sangat baik hati, yang penuh senyum Dan Tak pernah menghakimi siapapun, yang easy going.. pasti akan Ada yang mau melupakan segala risiko Dan masalahnya, hanya untuk mendapa sedikit perhatiannya...
"Kau mau ke Hogsmead sekarang?" Tanya Theo, nadanya penuh simpati.
Draco mengangguk, meletakkan rotinya yang sama sekali Tak dia makan.
"Hei tunggu, aku belum selesai," protes Blaise, masih mengunyah telur rebusnya.
"Kau bisa menyusul nanti. Kita cuma akan ke Honeydukes, lalu mungkin mampir membeli pena bulu, Dan ke Three Broomstick," kata Theo, menarik Draco berdiri. "Bye."
Draco Dan Theo berjalan cepat keluar aula besar, menuju kereta tanpa kuda-yang rupanya di tarik oleh Thestral. Theo baru bicara saat mereka sudah Aman di kereta.
"Kau baik-baik saja?"
Draco mengangkat bahu, melihat keluar.
"Kau tahu kau Tak berhak marah kan?"
"Aku tahu Theo," tukas Draco tajam.
"Kau yang memutuskan dia secara sepihak," Theo melanjutkan. "Dia berhak move on setelah kau perlakukan seperti barang Tak terpakai."
Draco menggeram, tapi memutuskan tak menjawab. Tak ada gunanya juga. Theo tampak puas dengan gumaman Draco, Dan mereka hanya terdiam sepanjang sisa perjalanan itu.
Barang Tak terpakai...
Draco mendengus penuh ironi. Sungguh definisi yang sangat pas untuk dirinya.
-dhdhdhdh-
Harry berusaha keras tidak berjengit saat Dean merangkul pundaknya.
Mereka sedang berjalan melalui jalan musim gugur Hogsmead, menuju Three Broomstik. Sejauh ini kencan mereka sangat menenangkan, Harry Tak merasa Ada bedanya dengan berjalan dengan teman. Dean sama kocak Dan seru nya seperti biasa. Dan Dean merangkul pundaknya setiap waktu sejak dulu, jadi Harry Tak tahu kenapa mendadak dia merasa Tak nyaman.
PDA selalu membuatnya Tak nyaman.
Yah, Dean Tak tahu itu kan. Dan Harry Tak tahu bagaimana cara memberitahunya tanpa menyinggung perasaanya. Dengan Draco, mereka Tak pernah perlu membicarakannya karena mereka sama-sama Tak suka pamer kemesraan...
Oh ayolah, jangan pikirkan Draco di saat seperti ini! Harry berusaha keras berkonsentrasi pada Dean. Dia harus melupakan Draco. Harus!
Mereka masuk ke Three Broomstick, dan hal pertama yang Harry lihat adalah rambut pirang Draco. Dia buru-buru berpaling sebelum Draco melihatnya. Dean mengajaknya duduk di meja untuk berdua di sisi Kiri pub.
"Butter beer?" Tanya Dean.
Harry melihat antrean yang panjang. "Kau yakin mau mengantre sendiri?" Tanyanya.
Dean nyengir. "Aku memperlakukan kencan ku dengan istimewa," katanya.
Harry mendengus. "Aku Tak mau tahu kalau kau menyesal," tandasnya.
"Jujur, aku Tak Akan pernah menyesal melakukan apapun untukmu," rayu Dean sambil berjalan pergi ke arah antrean. Harry terkekeh Dan menggeleng. Saat matanya menatap mata Draco.
Harry buru-buru berpaling.
Dia tak ingin Draco melihatnya. Dia Tak ingin melihat Draco. Dia ingin bebas dari bayang-bayang cowok itu. Dia ingin move on.
Dia harus move on.
Dean kembali lima menit kemudian dengan Dua botol butterbeer Dan dua piring kentang goreng. Mereka mengobrol ringan sambil makan.
"Ngomong-ngomong," kata Dean, berdeham. "Aku mau minta maaf soal... Kau tahu... Aku menciummu ..." wajahnya merona. "Aku tahu itu ciuman pertamamu, Dan tak seharusnya aku merebutnya seperti itu..."
Harry terbahak. "Dean, rileks, itu bukan ciuman pertamaku," katanya. Dean tampak sangat kaget.
"Kau pernah berciuman sebelumnya?" Tanyanya Tak percaya.
Harry mengangkat bahu. "Aku pernah pacaran sebelum ini Dean, jadi pasti aku pernah ciuman sebelumnya."
Mulut Dean membuka tutup bagai ikan. Harry tertawa Makin keras.
"Sori kalau aku terlihat seperti orang yang Tak laku..."
"Bukan begitu!" Protes Dean. "Tapi kau Tak pernah terlihat dekat dengan siapapun! Bagaimana bisa kau pernah pacaran. Apa dengan muggle?"
"Nah," tawa Harry, matanya berkilat menggoda. "Dengan darah murni."
Dean terkesiap. "Kau pengkhianat!"
"Aku tahu, aku tahu!" Tawa Harry. "Dan percayalah, semua berakhir dengan bencana, jadi darah murni still not recommended..."
Dean mendengus keras. "Setelah bertahun-tahun meledek Neville Dan Ron! Bisa-bisanya kau terjebak dengan pesona mereka!"
Harry entah kenapa Tak bisa berhenti tertawa.
Dia memang bodoh kan? Bisa-bisanya dia terjebak pesona Draco, yang memberinya harapan demi harapan selama Lima tahun Dan akhirnya mendepaknya secara sepihak di saat dia benar-benar dalam keadaan terpuruk.
Dari sudut matanya, dia melihat rambut pirang Draco bergerak pergi.
Pergi dari hidup Harry.
-dhdhdhdh-
Bersambuung
Yeaaayy 2 chapter dalam 1 minggu! Yuhuuuy
Thanx bgt buat yang masih menanti-nanti.. I love you guys so much. Yuuk review yg bnyak.. mumpung lg semangat-semangatnya nulis nih..
Keep review ya gengs :*
