Wuoooookeh! Kita bales review yang setiaaaa~
Evil Red Thorn:
Yosh, tenang saja... Walau nantinya Da Qiao agak ga ada gituh... Ehehehehe... Jangan takut Evil-san! Namamu udah keren tau! Ayo, ganbatte! Yups, wa lanjuten dan itu pasti... Thanx
BlackKight92:
Wa dapet dikomik dan digame, tapi wa campurin jadi es campur(?) makanya cepet. Mau chara laki-laki ya Black-san? Oceeeh... Thanx
Jenny:
Ya gapapa kok, thanx
Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapters 28: let's meet right now
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Chara: Da Qiao
Summary: ayo bertemu sekarang juga... Dan jangan membuat sakit kepala ini meredar sampai mengontrol diriku, nyawaku ini lemah tau!
.
.
.
Desa binatang buas... Walau agak menyeramkan, tapi aku harus tetap harus mengikuti perintah yang sepertinya, MEMPERMAINKAN takdirku ini. Heeh...
"Fong, kita istirahat dimana?" tanya Da Qiao dengan backround bunga-bunga.
"Disana saja" ucapku menunjuk suatu tempat yang lebih baik dari tempat lain.
Kami segera berjalan kesana. Disana agak berdebu, tapi yang penting tidak apa-apa. Da Qiao membuka pintu dan memasuki ruangan tersebut, tapi aku berhenti tepat didepan pintu, karena melihat sesuatu benda berbentuk persegi panjang dan ditutupi banyak debu.
Aku meniup benda persegi panjang itu, tertulis kata bahasa China, apaan itu yah... Aku tidak bisa bicara bahasa Mandarin, tapi kala bahasa China sih bisa!
Ah, sudahlah, aku segera memasuki rumah itu dan duduk disana. Menunggu sampai ada pesan berikutnya.
Sampai besok... Sampai hari berikutnya... Sampai ada pesan...
.
"Taku, Taku" panggil seseorang. "Sini. Kita pulang yuk"
"Meong" jawab yang menjadi lawan bicara orang itu. Kayaknya sih kucing.
Aku masih tertidur kan? Soalnya aku tidak dapat membuka mataku dan melihat siapa itu. Ah, paling paling ini mimpi... Tapi, rasanya disekitarku dingin dingin lembut... Sangat dingin...
"Hm..." aku mengeram saat ada bulu bulu halus yang mengelus pipiku.
Ah aku... Kucing? Kenapa bisa ada kucing disini? Tunggu, kenapa disekitarku putih putih halus? Kenapa suasananya jadi luas dan empuk sekali? Kok aku bisa yah... Ketiduran...
GLEK
Apaaa!?
A, ada seorang lelaki disampingku! Lelaki dengan rambut berwarna emas ke-orange-an yang cukup panjang, namun diikat. Baju putih seputih sesuatu yang seempuk disampingku. Dan kulitnyapun putih. Siapa diaaa?
Sesaat aku berpikir, dia langsung bangun dan terduduk.
"Akhirnya kamu bangun juga. Ini rute jalan-jalanku dan Taku" ucap lelaki berbola mata emas itu. "Bisakah kamu bunuh diri ditempat lain?"
Bunuh diri...? HAH
"Taku, ayo kita pulang" tambah lelaki itu.
"Aku bukan mau bunuh diri... Hyaa?"
Aku tiba-tiba terjatuh saat ingin menjawab pernyataan konyol itu. Tu, tubuhku membeku, kakiku nggak bertenaga... Aku sebenarnya dimana...?
"Kamu nggak apa-apa?" tanya lelaki itu menarik tanganku agar aku berdiri tegap.
Dia mengatakan aku bunuh diri, dan sekarang dia mengangkatku. Wajahku dengannya tidak jauh sekitar 10-11 cm. Wajahnya kelihatan sangat manis, semanis gula dan permen. Mungkin wajahku sudah agak pucat.
"Te, terima kasih. Kaget aku..." ucapku, berusaha tenang.
"Kalau kamu punya masalah, kenapa nggak cerita saja?"
Masalah...? "Hah?"
"Wahai Nona yang mau bunuh diri"
"LI LING FONG, jangan tepuk bahuku" ucapku pedas. "Aku bukan mau bunuh diri! Namaku Li Ling Fong"
"Aku Lu Chuo Kuo, ini kucingku, Taku. Salam kenal"
"Meong"
"Lalu apa yang menjadi motifmu?"
"SUDAH KUBILANG, BUKAN ITU!" bentakku. "Aku Cuma ingin mengetahui aku ada dimana... Gara gara ini aku jadi tertidur. Aku binggung, rasanya tadi aku ada di Desa Binatang Buas, meskipun aku nggak suka... Begitu aku melihat butiran butiran putih. Aku jadi nggak ingin memikirkan apapun"
Aku menatap binggung.
"Sekarang, sepertinya aku harus menemui Partner-ku" lanjutku.
"Ini salju bego lalu... Calon Partner yang kesepian... Turut berduka cita"
Sebuah tanda 'KESEPIAN' langsung menancap kekepalaku. Ouch, kata yang menyebalkan...
"Menyebalkan. Selamat Tinggal" ucapku balik badan.
"Lho, kamu mau kemana?" tanya Lu Chuo Kuo.
"Mencari Partner-ku" ucapku. "Aku memang Calon Partner yang kesepian..."
"Jangan dimasukkan ke hati" ucap Lu Chuo Kuo tersenyum.
Aku tidak mempedulikannya dan berjalan terus. Tapi dia langsung menepuk pundakku.
"Daripada cari sendirian, mending cari bersama" ucapnya tersenyum.
"Eh?" tanyaku agak kaget. "Kamu tahu dimana Desa Binatang Buas itu?"
"Tentu saja"
Aku langsung berjalan kedepan lagi, tidak peduli lagi apa itu, dia akan menunjukkan tempat itu. Jadi, aku tidak perlu khawatir manjang. Aku mulai menghela nafas.
"Kamu darimana?" tanyanya.
"Dari Shu, lalu ke Wu, sekarang mau ke Wei" jelasku.
"Wei? Oh, aku tinggal disana"
"Bagus! Kita tinggal mencari Partner-ku dan ke Wei! Kamu maukan?"
"Nggak"
Lagi-lagi kata 'NGGAK' itu menancap dikepalaku. Ini anak... Mentang mentang lebih tua dan lebih tinggi dariku.
"Kamu katanya dari Desa Binatang Buas-kan? Kenapa bisa kesini?" tanyanya. Dari tadi dia melulu yang memulai percakapan, cerewet kali yah.
"Itu juga jadi pertanyaan untukku" jawabku. "Kamu, kenapa keluar dari Wei dan tertidur disini?"
"... 1 tahun yang dulu aku berhenti menjadi jendral perang... Karena fisikku lemah" jeasnya terbatuk batuk.
"Kamu bohongkan?" tanyaku. "Asal jawab!?"
"Kok kamu tahu saja?"
"Orang yang lemah fisik pasti mati kalau tertidur di tengah salju" jelasku. "Memangnya Kuo mau mati?"
"Itu karena kamu nggak bangun-bangun" ucapnya. "Aku capek nungguin kamu"
"..."
"Gawat. Aku ngantuk lagi... Hoahm..." nguapnya menutup mulutnya pakai tangan.
"Kau mau tidur disini? Apa mau kukubur disini?"
"Kejaaam..."
"Sudah, ayo cari Partner-ku itu! Aku sudah janji akan membawanya pulang dengan selamat!"
"Oke" jawabnya.
Aku tetap menatap kedepan, rasanya dia mirip seseorang... Sseorang... Jiang Wei... Eh? TIDAK! Jiang Wei bahkan lebih baik darinya, tidak, jauh lebih keren darinyaaa! Huh... Tapi, dia benar benar mirip Jiang Wei... Cuma warna rambut dan warna mata saja yang berbeda... Hanya itu.
.
"FOOONG! SAYA KHAWATIR!" ucap Da Qiao segera memelukku. "Disamping itu... Lelaki mencurigahkan yang mengaku dari Wei..."
"Eh? A, aku benar benar dari Wei..." ucap Lu Chuo Kuo.
"Sudah, sudah..."
"Huuh! Oh ya Fong, bisakah kita tetap di Desa ini? Salju sudah turun... Mungkin sekitar tiga hari akan berhenti" ucap Da Qiao.
"Oh, benar..."
"Suka-suka" jawab Lu Chuo Kuo, lagi-lagi ada Thunder Bolt...
Aku berjalan meninggalkan mereka, menarik kudaku memasuki ruangan agar tidak kedinginan. Aku menepuk hidung kuda itu.
"Sebentar lagi..."
"Waaah, ini kudamu? Kayaknya dia benci kamu" ucap Lu Chuo Kuo yang kelihatannya dari tadi membuntutiku.
"Benci... Memangnya Kuo tahu?"
"Nggak sopan!" ucapnya marah. "Waktu aku seorang jendral, aku hebat dalam mengendalikan kuda, prestasiku yang terbaik. Kamu yang punya kuda... Apa nggak masalah...?"
Aku hanya benggong menatapnya.
"Kenapa?"
"Kau kelihatan pintar ya kalau kayak begitu, kamu pasti bisa diterima kalau dari tadi seperti itu" ucapku, mengoreksi.
"Terima kasih sarannya!" ucapnya kesal. "Padahal aku kan lagi mencemaskanmu"
"Haccchih..." bersin kucing yang kalau tidak salah, Taku...
"Ah, kucing memang tidak tahan dingin... Ah, baiklah... Mulai besok, 'Tuan Lu Chuo Kuo' akan membuatmu menjadi jendral kuda yang berbakat" ucap Lu Chuo Kuo tersenyum.
"Eh...? Berarti... KAMU JADI GURUKU!?"
Kalau saat ini... Aku menolaknya, mungkin aku... Nggak akan menyadari kalau aku menyukai Lu Chuo Kuo. Bersama dengan Lu Chuo Kuo, rasanya menjadi menyenangkan, walau kesan pertamanya menyebalkan. Tuan Jiang Wei, apakah ini kau, yang terlahir kembali... Untuk menemui diriku...?
.
.
.
Ge er amat lo Sina, kira itu Jiang...*Didampar Khusina* review guys?
