Fanfiction

Title : Kehidupan Baru Boruto

Chapter : 28

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Genre : Romance & Drama

Pairing : Uzumaki Boruto & Uchiha Sarada

Warning : OOC Yg Berlebihan, TYPO, EYD dan bahasa yg hancur, AU.

::==::==::

:

:

:

Satu Tahun Kemudian Di Konoha.

Pagi hari terasa dingin di Konoha karena kini musim sudah memasuki awal musim dingin. Walau tidak bersalju, tapi suhu akan terasa begitu dingin. Matahari saat itu belum nampak di ufuk timur. Tapi, para penduduk Kota itu sudah melakukan aktifitasnya seperti lari pagi dan sebagainya. Ini bukanlah hari libur melainkan hari senin tapi, kebanyakan penduduk kota lebih suka berolahraga sebelum ke kantor.

Namun, kegiatan itu tidak berarti harus di lakukan semua orang. Tentu ada yang hanya sekedar duduk-duduk di teras rumah atau bahkan masih tidur. Udara yang dingin tidak mematahkan semangat penduduk Konoha untuk beraktifitas.

Di kediaman Uzumaki Naruto, Hinata sedang memasakan Sarapan untuk Suaminya dan Anaknya. Bumbu masakan tercium begitu harus sehingga membangunkan Naruto yang sedang tertidur pulas di ruang keluarga yang berdekatan dengan dapur. Naruto langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu ia langsung mengambil piring dan duduk di meja makan. "Naruto, makanannya belum jadi. Kenapa kau tidak mandi dulu baru makan?" Tanya Hinata dengan sangat lembut.

"Tidak, aku sudah lapar, Hehe. Lagi pula aku datang ke kantor siang," ucap Naruto. Hinata hanya tersenyum mendengar itu sambil melanjutkan kegiatan masaknya. "Aku jamin kau akan nambah sayang. Ini sarapan spesial untuk kita bertiga. Walau seharusnya untuk berempat," ucap Hinata yang awalnya manis lalu di akhirannya menjadi pahit.

"Hmm, Boruto. Sudah lebih dari 1 tahun dia tidak memberi kabar pada kita. Sebenarnya apa alasan ia tidak boleh memegang ponsel selama 1 tahun?" Tanya Naruto. "Tanyakan sama dirimu, tanyakan pada Sasuke, atau tanyakan pada jenderal Hashirama, jika perlu tanyakan pada rumput yang bergoyang," ucap Hinata lalu meletakan sebuah piring berisi sarapan lalu pergi meninggalkan Naruto.

"Hinata, sayang, apa kau marah?" Tanya Naruto dengan lembut. "Tidak, aku mau membangunkan Himawari. Apa aku kelihatan marah, kalau memang begitu maaf ya, tadi aku Cuma mau bercanda saja," ucap Hinata dengan lembut dan senyum membuat Naruto yang menatapnya pun menjadi bahagia dan bersemangat. "Kukira kau marah, maaf karena mengira kau marah," ucap Naruto lalu menyantap sarapan yang di siapkan oleh istrinya itu.

::==::==::

Di kediaman Uchiha Sasuke, keluarga tersebut baru saja menyelesaikan waktu sarapan mereka. Sasuke terlihat sedang membongkar sebuah pistol di depan Sarada dan Sakura. Sementara, Sarada sedang membaca sebuah Novel yang pernah di berikan Boruto sewaktu ia ulang tahun. itu sudah sangat lama, bahkan ia sudah membaca Novel itu sampai habis sebanyak 3 kali. "Sayang, apa kau tidak bosan membaca Novel itu terus?" Tanya Sakura.

"Tidak bu, aku masih penasaran walau sudah menamatkan novel ini 3 kali. Ceritanya menurutku bagus," ucap Sarada dengan tatapan yang terpaku pada sebuah buku fiksi itu. Di saat Sarada sedang sibuk membaca dan Sasuke yang sedang sibuk merakit kembali pistol, seorang ART menghampiri mereka. "Maaf tuan, nyonya. Ada pengawal anda di luar," ucap ART itu.

"Ooo, sudah tiba. Suruh dia datang ke sini!" Titah Sasuke. Tak lama kemudian, Seorang pengawal berjalan menuju ruang makan sambil membawa sebuah koper. Melihat itu, Sakura hanya bisa menghembuskan nafas hawatirnya. Sarada sih tidak begitu khawatir, ia tetap berfokus untuk membaca Novelnya. "Sasuke, apa aku dan Sarada harus meninggalkan kalian?" Tanya Sakura.

"Tidak perlu. Ini bukan lagi rahasia yang harus kusembunyikan dari kalian berdua, tapi jika kau merasa tidak nyaman, kau boleh pergi Sakura," ucap Sasuke. "Tuan Sasuke, maaf. Hanya ini yang kudapat. Susah mencari suku cadang untuk senjata milik anda. Sudah sangat langka," ucap pengawal itu lalu memberikan koper itu pada Sasuke.

"Bagaimana dengan permintaanku untuk di carikan 3 buah pistol terbaik untuk keluargaku," ucap Sasuke. Mendengar itu, Sarada dan Sakura jelas menjadi kaget dan bingung. "Ya, aku mencarinya di pasar gelap di Amerika. Harganya memang sedikit mahal dari harga Legalnya," ucap pengawal itu.

"Tidak masalah. Asal bisa di pakai," ucap Sasuke lalu membuka koper itu dan melihat isinya. Sasuke lalu mengambil sebuah pistol dan berkata "Ini bukannya QSZ-92 buatan Cina. Aku ragu bisa di pakai dalam jangka waktu yang lama," ucap Sasuke. "Ya, tapi katanya penjualnya, senjata ini bagus, jangkauannya sampai 50 meter dan ukurannya tidaklah terlalu besar. Cocok untuk di selipkan di mana saja," ucap pengawal itu.

"Baiklah. Kerja bagus. Hubungi bendahara Techconnec dan ambil bayaranmu di sana," ucap Sasuke lalu pengawal itu pun pergi meninggalkan mereka. "Apa kau mau memberikan pistol itu pada kami?" Tanya Sakura.

"Ya, ini Cuma untuk bela diri saja jika Mafia macam-macam. Makanya beberapa Minggu ini aku terus melatih Sarada menembak," ucap Sasuke. "Apa kau tidak takut, jika polisi melihat senjata-senjata itu. Kariermu sebagai pemimpin Techconnec bisa sirna. Dan Techconnec bisa jadi milik negara," ucap Sakura.

"Maka dari itu, kita harus pintar-pintar menyembunyikannya dan hanya memakainya jika dalam keadaan darurat," ucap Sasuke. Keadaan menjadi sunyi sejenak lalu mendadak Sarada berdiri. "Ayah, ibu, aku mau ke bengkel Inojin. Aku mau memperbaiki mobilku. Ada sedikit kerusakan," ucap Sarada. "Kenapa tidak memperbaiki mobilmu di bengkel Techconnec saja. Kan tidak perlu mengeluarkan uang," ucap Sakura. "Umm, aku sudah ada janji untuk bertemu dengan teman-temanku di sana. Nanti siang aku baru ke kantor," ucap Sarada lalu berjalan pergi.

"Sarada! Tunggu sebentar," kata Sasuke. "Uhh, ada apa ayah?" Tanya Sarada. Sasuke langsung melempar pistol buatan Cina itu pada Sarada. Karena refleks nya sudah terlatih, Sarada mampu menangkap pistol itu walau ia sempat panik. "Pistol itu ada isinya. Simpan di bawah jok. Untuk berjaga-jaga saja. Kau ingatkan, mafia mulai berulah lagi," ucap Sasuke.

"Hufft, ya. Aku ingat. Jadi aku hanya harus menggunakannya jika sudah benar-benar terpojok. Bagaimana jika aku menghubungi polisi?" tanya Sarada. "Jangan. Hal itu malah akan membuat kondisi kita semakin parah," ucap Sasuke. Sarada menghembuskan nafas lagi lalu berkata "baik. Aku jalan dulu. Keburu bengkelnya ramai."

::==::==::

Hari sudah semakin terang. Di garasi kendaraan kediaman Naruto, Himawari yang akan berangkat menuju kampus pun mencoba menaiki Motor milik Boruto. "Kau yakin bisa mengendarainya sendiri Himawari?" Tanya Naruto. "Ya, aku kan sudah cukup teori dan Praktek. Lagi pula motor seperti ini kalau tidak rajin di pakai bisa rusak," ucap Himawari.

"Apa kau yakin tidak mau menaiki motor biasa saja. Motor ini kan terlalu besar untukmu, dan jarang perempuan menaiki motor seperti ini," ucap Hinata. "Jika kau mau naik mobil, ayah bisa meminjamkan mobil padamu. Urusan sim, nanti ayah yang atur," ucap Naruto. "Tidak, aku naik motor saja. Motor sebagus ini kalau tidak pernah di pakai nanti cepat rusak. Lagi pula naik mobil itu sudah terlalu mainstream di kota ini," ucap Himawari.

"Terserah kau Himawari, asal kau tidak ngebut-ngebut dan patuhi lalu lintas. Dan pastinya kau harus punya semangat belajar," ucap Hinata. "Ya, jangan lupa sepulang sekolah bawa motor ini ke bengkel Techconnec. Jangan bawa ke bengkel lain, ingat," ucap Naruto. "Ya, aku pasti ingat," ucap Himawari lalu menjalankan motornya perlahan keluar garasi.

::==::==::

Seseorang berambut nanas menguap di sebuah bengkel terkenal di Konoha. "Apa hari senin selalu membosankan seperti ini," ucap orang yang menguap tadi alias Shikadai. "Jangan banyak mengeluh, hari ini kita banyak pekerjaan. Kita ada utang 10 kendaraan yang belum di perbaiki," ucap Inojin.

"Hufft, mana ayahmu. Kalau ada dia pasti pekerjaan kita bisa cepat selesai," ucap Shikadai. "Ayahku sedang pergi bersama ibuku. Kalau kamu memang tidak suka pekerjaan ini, kenapa memilih bekerja di sini?" Tanya Inojin. "Setidaknya di sini ada tantangannya. Bekerja di kantor ayahku pasti akan membosankan," ucap Shikadai.

"Kamu bodoh sekali ya, di kasih pekerjaan enak yang bossnya adalah ayahmu sendiri. Pekerjaannya Cuma datang, duduk, dengar, dapat uang malah kamu sia-siakan," ucap Inojin. "Sudah kubilang, Pekerjaan itu membosankan. Bahkan ayahku sendiri mengakuinya," ucap Shikadai.

"Ayah dan anak sama saja, memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya," ucap Inojin merendahkan. "Apa kau bilang. Kau tidak suka kalau sifatku mirip ayahku. Kau mau berkelahi," ucap Shikadai dengan sedikit kasar. "Siapa takut, waktu itu perkelahian kita kan di halangi sama Boruto dan teman-teman yang lain. Ayo kita lakukan di sini mumpung lagi sepi," ucap Inojin dengan nada meremehkan. Shikadai pun di buat marah dan Inojin pun bersiaga dengan memasang muka kesal.

Beeb...Beeb...Beeb...

Suara klakson mobil mengagetkan mereka dan membuat mereka berhenti melakukan tindakan konyol yang baru saja akan mereka lakukan. "Hey kalian berdua, apa kalau kita bertemu kalian berdua harus selalu berkelahi," ucap Sarada.

Ini bukan kedua kalinya Mereka berdua berkelahi. Ini adalah ke-4 kalinya mereka berkelahi. Pertama sewaktu reuni di taman. Kedua beberapa bulan kemudian di karenakan Shikadai berkata "Dasar Playboy kelas kakap" pada Inojin. Ketiga saat ulang tahun Shikadai karena Inojin memberi kado berupa Boneka barbie dan ada sebuah pesan bertuliskan "For my Jones Friend," yang langsung membuat Shikadai tersinggung karena sampai saat itu ia belum punya pacar. Dan ke empat adalah yang baru saja terjadi.

Perselisihan pertama di hentikan oleh Boruto. Perselisihan kedua di hentikan oleh Rama yang saat itu berkunjung ke Konoha untuk menyapa teman lama sekaligus menemui klien barunya yang ada di Konoha. Perselisihan ketiga di hentikan oleh Sarada dan juga perselisihan ke empat sepertinya di hentikan oleh Sarada juga.

"S-sarada?" Ucap Inojin. "Ada apa Sarada. Tadi kami Cuma berakting untuk iklan terbaru bengkel kami," ucap Shikamaru. "Ayolah teman-teman. Jujur saja tadi kalian hampir berkelahi," ucap Sarada mengintimidasi. "Ya, tadi kami hampir berkelahi. Aku terlalu kebawa perasaan. Maaf ya Inojin," ucap Shikadai. "Tidak, aku yang salah. Aku yang memulai pertama, jadi maafkan aku ya," ucap Inojin.

"Tidak, aku yang mengajak kita berkelahi, jadi maafkan aku," ucap Inojin. "Tidak, tadi aku sempat marah. Makanya aku layani ajakanmu," ucap Inojin. "Inojin, aku yang harusnya minta-" merasa kesal, Sarada pun menghentikan percapakan 2 orang sahabat yang mungkin tidak akan pernah berhenti. "Hentikan, kalian berdua sama-sama salah dan sudah meminta maaf. Jadi siapa yang mau melayaniku dengan melakukan servis pada mobilku?" Tanya Sarada.

"Shikadai, kau saja yang servis mobil Sarada. Aku akan servis mobil lain," ucap Inojin. "Kenapa tidak kau saja, kau kan lebih ahli jadi bisa lebih cepat. Jadi Sarada tidak perlu menunggu lama," ucap Shikadai. "Kau saja, lagi pula mobil ini lebih sederhana di banding mobil yang lain," ucap Inojin.

"Teman-teman. Haruskah aku yang memperbaiki mobilku sendiri. Cepatlah aku mau cepat ke kantor," ucap Sarada mulai kesal. "Baiklah, kita kerja sama-sama saja biar lebih cepat," ucap Shikadai. "Baiklah," ucap Inojin lalu mengambil alat-alat servis.

1 jam kemudian, Mobil Sarada pun telah selesai di perbaiki. Banyak sekali suku cadang yang harus di ganti membuat proses penyervisan memakan waktu yang sangat lama. Syukurnya Sarada membawa Novelnya sehingga dia tidak perlu merasa bosan. Akhirnya, servis telah selesai. Inojin mencuci tangannya dan mendekati Sarada. "Ijonin, aku ke dalam dulu, badanku kena oli, aku mau mandi," ucap Shikadai. "Yo'i" ucap Inojin. Inojin mendekati Sarada sambil memijat punggungnya yang pegal sehabis melakukan servis mobil Sarada. "Kau baca apa, Sarada?" Tanya Inojin lalu duduk di bangku sebelah Sarada. Mengetahui mereka terlalu dekat, Sarada bergeser untuk memberi jarak.

"Cuma novel yang pernah di berikan Boruto sebagai hadiah ulang tahunku," ucap Sarada. "Mengenai Boruto, apakah masih belum ada kabar?" Tanya Inojin. "Ya, sudah satu tahun ia belum memberi kabar. Hal itu membuatku sangat khawatir. Aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku makanya ia tidak menghubungiku," ucap Sarada.

"Hufft, mungkin ia sedang selingkuh. Makanya ia tidak menghubungimu lagi, Hehe," ucap Inojin sambil nyengir. Tatapan mata Sarada pun menjadi tajam setelah mendengar perkataan inojin. Dengan cepat dan pasti, Sarada langsung memukul lengan kiri Inojin dengan tangan kanannya dengan kuat. Pukulan itu begitu kuar hingga membuat Inojin terjatuh ke lantai. "Awww, Sarada. Kau kenapa memukulku. Aku Cuma bercanda," ucap Inojin sambil mengelus lengannya yang nyeri dan sakit.

"Itu tidak lucu tahu! Aku yakin Boruto tidak akan melakukan itu. Aku percaya padanya dan pastinya ia percaya padaku juga," ucap Sarada. Dengan susah payah, Inojin berdiri dan meminta maaf hingga pada akhirnya Sarada memaafkannya.

"Jadi semuanya berapa?" Tanya Sarada. "Mobilmu ini kau jarang servis ya? Banyak suku cadang yang rusak makanya sering mogok. Kau juga jarang ganti oli sehingga oli mobilmu sangat hitam dan mesinmu sedikit bermasalah. Jadi totalnya semua 5 juta dan 500 ribu untuk biaya pengobatan lenganku," ucap Inojin sedikit bergurau.

"Akanku beri 1 juta untuk pengobatan lenganmu. Tapi aku harus memukul lenganmu yang satunya lagi," ucap Sarada marah tapi Cuma marah bercanda. "Maaf, bercanda. Biayanya 5 juta. Maaf aku tidak bilang padamu dahulu. Tapi aku yakin kau bisa membayarnya," ucap Inojin. "Ya, aku memang meminta yang terbaik untuk mobilku kan," ucap Sarada lalu memberikan kartu kredit.

::==::==::

Jam saat itu menunjukan pukul 09.00. Sarada melajukan mobilnya dengan cepat di jalanan kota yang terkesan tak terlalu padat. Ia sangat beruntung karena selalu menemui lampu hijau kala ia mendekati persimpangan. Ia terlihat sangat terburu-buru sehingga ia memacu mobilnya dengan sangat cepat.

Di pertigaan, Sarada memasang lampu sen yang menunjukan bahwa ia akan berbelok kiri. Persimpangan itu terlihat sangat sepi sehingga Sarada terus menerus menambah kecepatan. Ia tidak mengurangi kecepatan walau ia sudah mendekati pertigaan itu. Dan kemudian, Sarada melakukan Drift untuk berbelok ke arah kiri dengan sangat lincah dan tanpa kendala.

Drift itu sukses ia lakukan layaknya seorang pembalap ahli. Namun, ini kali ke 6 ia mencoba melakukan drift dan berhasil dengan sangat sempurna. Dan drift kali ini adalah yang pertama ia lakukan seorang diri. Beberapa bulan lalu saat Rama mengunjungi Konoha, Rama mengajari Sarada cara melakukan Drift. Ia mengajari Sarada 2 hari selama 4 jam dan akhirnya Sarada pun dapat melakukannya Seorang diri walau di sampingnya ada Rama yang menjaganya. Tapi, Drift kali ini ia lakukan sendiri dan berhasil seratus persen. Ada rasa bangga dalam dirinya setelah berhasil melakukan itu.

Waktu terus berjalan. Kecepatan Sarada pun semakin cepat hingga kemudian ia bertemu dengan lampu merah. Dengan kekuatan monster terpendam dalam dirinya, ia menginjak rem dengan sangat kuat Tidak main-main, ia menginjak kedua rem bersamaan dengan sangat kuat. Mobilnya pun berhasil berhenti dengan sempurna tanpa menyenggol sesuatu. Sarada hanya dapat mendengus kesal karena keberuntungan telah hilang.

Ia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul 09.20. "Sial, kenapa waktu terasa begitu sangat cepat jika aku sedang terburu-buru," kata Sarada kesal sambil memukul setir mobil.

Tak jauh dari tempat Sarada sedang menunggu lampu berubah menjadi Hijau tepatnya di sebuah taman, 2 orang yang bergender sama sedang duduk sambil bercerita ria di salah satu bangku taman. Seorang dari mereka terlihat begitu Bahagia menceritakan sesuatu pada temannya yang sedang mendengar dengan serius.

Beberapa detik kemudian, tak ada ucapan dari kedua orang tersebut. Mereka berdua terlihat sedang menunggu seseorang dengan rasa khawatir sekaligus kesal. "Di mana Sarada. Apa ia tidak bisa datang," ucap Anjelye. "Mungkin ia sedang ada masalah di jalan. Katanya kan ada razia pagi ini," ucap Chochou. "Itulah yang aku takutkan. Tapi aku lebih takut jika dia tidak jadi datang karena sibuk di kantor," ucap Anjelye.

"Memangnya berita apa yang ingin kau sampaikan pada kami hari ini sampai-sampai kau rela menunggu kami berdua datang?" Tanya Chochou. "Adadeh, itu rahasia. Aku hanya akan menyampaikan setelah kita bertiga berkumpul," ucap Anjelye dengan Nada yang sangat Bahagia.

Tak lama kemudian, Sarada datang mendekati mereka berdua. "Selamat pagi para Sahabatku! Maaf aku terlambat. Tadi aku memperbaiki mobilku dulu," ucap Sarada. "O, pantas kau lama sekali," ucap Chochou. "Memang berita apa yang ingin kau beri tahu pada kami. Dari wajahmu, sepertinya kau akan memberikan sebuah berita bahagia," ucap Sarada.

"Ya, memang berita yang sangat Bahagia, sini duduklah. Aku akan menceritakannya," ucap Sarada. Sarada pun langsung duduk di samping Chochou dan mendengarkan baik-baik semua perkataan Anjelye.

"Kalian tahukan, Pacarku yang dari Indonesia itu. Besok ia akan datang ke Konoha untuk melamarkan di depan orang tuaku. Ia memutuskan untuk lebih mendalami hubungan kami dengan menikahiku. Aku sangat bahagia mendengarnya," ucap Anjelye dengan nada yang sangat bahagia. Sarada dan Chochou pun ikut merasa bahagia mendengarnya.

"Wah, kau akan jadi istri ya, sepertinya kau memang selalu mendahului kami, kau yang pertama punya pacar dan kau yang akan menjadi pertama menikah," ucap Sarada. "Aku turut bahagia mendengarnya, semoga akan berjalan lancar hingga ke pelaminan," ucap Chochou.

"Makasih, Hehe. Aku senang kalau melihat kalian senang mendengarnya. Doakan ya, semoga berjalan lancar. Oh ya, mungkin jika orang tuaku menyetujuinya, maka ia akan membawaku ke Indonesia beberapa Minggu," ucap Anjelye.

"Wau, asik dong. Kau bisa jalan-jalan di sana, gratis lagi," ucap Chochou. "Siapa tahu aku ketemu Boruto di sana," ucap Anjelye. "Oh ya, apa belum ada kabar dari Boruto. ini sudah satu tahun semenjak ia mengirim pesan itu. Apa kau sudah tahu mengapa ia belum mengirimmu kabar?" Tanya Chochou.

Sarada pun menundukan kepalanya. Senyum bahagia dari wajahnya pun sirna. "Belum, sampai sekarang ia belum menghubungiku. Aku takut terjadi apa-apa dengannya sehingga ia tak dapat menghubungiku," ucap Sarada dengan nada Sedih. "A..., maaf Sarada. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dengan bertanya mengenai Boruto," ucap Chochou.

Sarada perlahan bangkit dari kesedihannya. Ia mengangkat kepalanya dan menghapus kesedihan dari wajahnya. "Tak apa, aku tahu kau peduli makanya kau bertanya," ucap Sarada sambil memasang sebuah senyum pahit di wajahnya. "Apakah orang tuamu tidak mengetahui sesuatu?" Tanya Anjelye.

"Tahu, hanya saat di tanya, Boruto sedang tidak bisa di hubungi selama berada di markas Sakhuri. Tapi aku tidak percaya kalau Cuma karena alasan itu, Boruto tidak bisa menghubungiku. Waktu itukan ia menghubungi kita saat berada di markas Sakhuri. Aku yakin ada yang mereka sembunyikan dari kami," ucap Sarada.

"Kau harus menyelidikinya Sarada. Aku takut jika Boruto diam-diam selingkuh darimu," ucap Chochou. Tanpa menunggu lama, Anjelye langsung memukul lengan Chochou. "Jaga mulutmu bodoh," ucap Anjelye saat memukul lengan Chochou. "Kau dan Inojin sama saja, kenapa kau berpikir Boruto selingkuh dariku. Aku yakin ia tidak akan melakukannya karena aku mempercayainya," ucap Sarada.

"M-maaf. Aku tadi hanya menyampaikan aspirasi saja," ucap Chochou. "Pendapat sih pendapat. Tapi kau harus memperhatikan perasaan orang lain saat kau menyampaikan pendapatmu," ucap Anjelye. Sarada lalu berdiri dan mengambil tas. "Teman-teman. Maaf. Aku harus pergi. Aku harus ke kantor sekarang," ucap Sarada dengan nada datar lalu berjalan pergi meninggalkan Anjelye dan Chochou.

"Lihatkan, ulah dari perkataanmu membuat teman kita marah. Seharusnya hari ini menjadi hari yang bahagia untuk kita semua," ucap Anjelye. "Aku kan sudah minta maaf," ucap Chochou sambil menatapi Kepergian Sarada dengan rasa bersalah.

::==::==::

Siang hari di Gedung Techconnec yang maha besar, Terjadi perselisihan sengit antara dua orang sahabat sejak lama. Siapa lagi jika bukan Naruto dan Sasuke di ruangan milik Sasuke. Bukanlah perselisihan yang berarti. Melainkan hanyalah perselisihan untuk menentukan menu makan siang.

"Kita makan ramen saja sebagai makan siang, warung ramen di jalan dekat persimpangan itu sangat enak," ucap Naruto. "Ramen? Apa kau tidak bosan makan ramen terus. Makan ramen terus menerus akan membuatmu mati menjadi ramen. Mending kita makan Sushi di kedai dekat lapangan bola," ucap Sasuke.

"Tidak bisa, harus ramen. Karena jika bukan makan ramen, aku tidak bisa berpikir jernih," ucap Naruto memaksa. "Aku sudah bosan makan ramen. Setiap kita mau mengadakan rapat, kau selalu minta makan ramen sebagai makan siang," ucap Sasuke.

"baiklah. Aku makan ramen kau makan Sushi," ucap Naruto dengan tegas. "Hey ayolah. Bagaimana kita mau rapat sambil makan siang kalau kita berada di warung yang berbeda," ucap Sasuke. "Makanya, kita makan ramen saja.

"Tuan Sasuke, saya mau memberi saran. Kenapa anda tidak mengutus 2 pengawal untuk membelikan Ramen dan juga Sushi. Anda makan saja di kantor," ucap seorang sekretaris Sasuke. "Hufft, baiklah. Kau yang urus," ucap Sasuke. Sekretaris itu pun pergi meninggalkan ruang kantor Sasuke.

"Naruto, kita harus mencoba menghentikan pertikaian seperti ini apalagi jika ada orang lain. Usia kita tidak muda lagi, kau harus paham. Sewaktu-waktu, kita bisa kena serangan jantung," ucap Sasuke.

"Aku sih sudah siap mati kapan saja. Dosa-dosaku sudah kubersihkan. Tapi kau, dosamu makin lama makin banyak," ucap Naruto. "Huh, jika bukan karena Mafia dan semua rencana buruk mereka, aku tidak akan melakukan ini semua," ucap Sasuke.

Beberapa menit kemudian, percapakan pun telah berubah tema. "Bagaimana, ada kabar dari Sakhuri mengenai keadaan Putraku. Apa mereka sudah memberi tahu alasan mengapa Boruto tidak bisa menghubungi kita?" Tanya Naruto.

"Belum. Tapi Sakhuri memberitahukan bahwa mereka mengetahui rencana sesungguhnya dari Mafia. Tapi mereka sekarang masih melakukan pemastian sebelum memberitahukan yang sebenarnya pada kita," ucap Sasuke. "Jika rencana itu buruk, aku tidak akan ikut campur. Aku menyerahkan semuanya padamu dan Sarada. Aku yakin berkat pelatihanmu, Sarada mampu menjadi agen Techconnec yang hebat," ucap Naruto.

"Aku melatihnya bukan untuk menjadikan dia agen. Tapi aku melatihnya agar ia bisa melindungi diri. Aku sadar bahwa bela diri dengan mengandalkan tangan tidaklah cukup. Ini zaman modern. Seorang pendekar pedang hebat sekali pun dapat mati di tangan seorang badut yang memakai senjata," ucap Sasuke.

"Jadi kau hanya memberikannya Senjata dan pengetahuan perang Cuma untuk melindungi diri, kukira kau berencana menjadikannya agen," ucap Naruto. "Ya, aku harap setelah ia kembali ke Konoha, kau juga melatihnya. Aku tidak mau Boruto akan menyusahkan Sarada," ucap Sasuke.

"Boruto tidak akan menyusahkan kalian. Aku juga akan melatihnya jika ia sudah kembali. kita lihat saja, siapa yang lebih hebat," ucap Naruto dengan nada meremehkan. "Jika pun kalau putramu berhasil melebihi Sarada, aku jamin putramu tidaklah lebih hebat dari Rama yang telah Itachi dan aku latih semenjak ia lulus SMP," ucap Sasuke bangga.

"Jadi kau sudah melatih Rama jauh sebelum kau melatih Sarada. Apa kau sudah memberitahukan latar belakang Techconnec padanya?" Tanya Naruto. "Ya, aku dan Itachi terpaksa mengatakan semua kebenaran karena permintaan dari ibunya. Ia memberi Itachi sebuah amanat untuk menjaga dan melatih Rama untuk melindungi diri dan juga kelak akan berguna untuk Techconnec," ucap Sasuke.

"Tahu kayak begitu, lebih baik aku melatih Boruto juga. Walau tidak bisa melatih dengan senjata sungguhan, paling tidak melatih daya bidiknya akan membantu," ucap Naruto. "Sudahlah, melatih anak kita bukanlah sesuatu yang layak untuk di ributkan. Lebih baik kita fokus pada tujuan utama kita yaitu mencari tahu pemimpin Mafia," ucap Sasuke sambil melihat secarik kertas berisi nama-nama anggota Mafia yang pernah mereka bunuh.

"Aku masih binggung, bagaimana cara mengetahui pemimpin mereka yang bahkan masih hidup dengan membaca secarik kertas berisi nama-nama anggota Mafia yang telah kita bunuh. Itu mustahil karena tidak ada sangkut pautnya. Atau kau memakai sebuah perhitungan logika, tapi itu tidak akan bisa karena caramu itu tidak logis," ucap Naruto.

"Diamlah, Naruto. Kau tidak tahu apa-apa. Otak jeniusmu itu tidak akan mengetahui apa yang aku rencanakan," ucap Sasuke. Naruto terdiam dan tak mampu berbicara lagi. Ia menundukan kepalanya kemudian menghembuskan nafas Pasrah. "Apa yang kau rencanakan?" Tanya Naruto.

"Dengan menyelidiki latar belakang orang-orang penting Mafia yang pernah kita bunuh, kita bisa menyelidiki si bayangan hitam. Semua informasi mengenai orang-orang penting Mafia pasti ada di Basis data penyimpanan Mafia. Dan tidak bisa di ragukan lagi, pasti ada beberapa orang di daftar ini yang punya hubungan dekat dengan si bayangan hitam. Contohnya saja Bee yang mempunyai julukan Killer. Pasti dia punya hubungan dekat dengan Si Bayangan Hitam. Entah itu bawahan terpercaya atau punya hubungan keluarga dengan pemimpin Mafia itu," ucap Sasuke.

"Dan bagaimana kau mau mencari dan membuktikan informasi. Kita saja tidak bisa meretas Basis data Mafia," ucap Naruto. "Melalui Internet. Atau jejaring sosial lainnya. Aku yakin Si bayangan hitam ini adalah orang kaya raya yang membentuk Mafia. Kita bisa mencari tahu pemimpin dan Satcom dan pemimpin perusahaan-perusahaan Mafia lainnya. Dengan begitu, kita bisa menyimpulkan nama pemimpin Mafia yang menjuluki dirinya Bayangan Hitam," ucap Sasuke.

"Aku mengerti, dalam masalah ini, aku akan membantumu semampuku. Sisanya aku menyerahkannya padamu dan seluruh anak buahmu," ucap Naruto. "Jadi kau setuju untuk menggelar operasi penyusupan Lagi?" Tanya Sasuke. "Ya. Bagaimanapun juga, kau tidak bisa melakukannya seorang diri. Dan lagi pula, pintu tobat sepertinya masih terbuka lebar," ucap Naruto dengan maksud menyindir Sasuke.

::==::==::

Setelah seluruh pegawai Techconnec mengakhiri jam makan siang, Sarada yang kebetulan baru datang pun duduk menuju kantornya. 21 minggu yang lalu, ketua pimpinan bidang Komputasi Komunikasi meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan. Secara otomatis, kepemimpinan di ambil alih oleh Sarada selaku wakil dan juga anak dari pemimpin Techconnec.

Siang itu, ia merasa tidak tenang. Kepalanya di penuhi pikiran membuatnya sulit berpikir jernih dan melakukan pekerjaan dengan baik. Ia duduk dan menyalakan laptopnya yang ber-background foto dirinya dan Boruto. Melihat foto itu, ia jadi kepikiran dengan Boruto. Pikirannya di penuhi rasa khawatir dan ketakutan jika Boruto memang benar-benar telah melupakannya dan selingkuh. "Tidak...tidak..., aku yaki ia tidak akan melakukannya. Tidak. Pasti ada alasan lain yang membuatnya tidak menghubungiku sampai 1 tahun," batin Sarada.

Tak lama kemudian, ia di penuhi pikiran mengenai Boruto yang mungkin saja telah tewas. "Tidak, ia tidak mungkin tewas. Dia sudah berjanji padaku untuk pulang dan menikahiku. Aku yakin ia tidak akan melupakan janjinya," batin Sarada. Air mata pun terlihat menetes dari kelopak matanya. Ia memangku tangannya di meja kemudian meletakkan kepalanya di tangannya seraya merenung dan menangis.

Hiks, itulah suara yang memenuhi ruangan kerja Sarada yang berukuran lumayan besar itu. Sampai-sampai bawahannya yang mau mengetuk pintu untuk berbicara dengannya pun membatalkan niatnya dan kembali ke tempatnya untuk menunggu waktu yang tepat.

Ini sudah terjadi 4 kali selama Sarada memimpin. Hal ini yang memunculkan rasa Iba dan simpati para bawahannya. Bahkan hal ini juga telah di ketahui oleh Sakura dan Hinata. Namun, Sasuke dan Naruto sama sekali tidak di beri tahu. Mungkin Sakura dan Hinata tidak ingin membuat kedua pria itu menyesali Keputusan yang telah mereka buat setahun yang lalu.

Walau Sarada sempat melupakan Boruto untuk beberapa hari dan memfokuskan pikirannya untuk pekerjaan, tapi sepertinya tubuh dan hatinya tidak bisa melupakan Boruto seutuhnya. Di malam hari ia sering bermimpi mengenai Boruto. Matanya sudah rindu untuk menatap Boruto secara langsung. Telinganya sudah tidak sabar untuk mendengarkan suara Boruto. Kulitnya sudah tidak sabar untuk merasakan sensasi panas bila dekat dengan Boruto. itulah yang di rasakan oleh tubuh dan hatinya.

"Boruto, aku ingin kau cepat pulang. Atau paling tidak menghubungiku saja sudah cukup membuatku bahagia, hiks..., Boruto jika kau sayang padaku, hubungi aku sekarang, Hiks..., hihihii...hiks." Tangis Sarada memecah kesunyian di ruang kerja Sarada. Ia sangat berharap pesan yang di sampaikan hatinya bisa terkirim ke hati Boruto sehingga Boruto langsung menghubunginya. Tapi itu semua mustahil.

Detik demi detik berlalu dan suara tangis Sarada mulai mengecil dan berkurang hingga pada akhirnya berhenti. Tubuhnya sudah diam tanpa ada gerakan kecuali gerakan spontan pernapasan yang ia lakukan secara otomatis. Suara jam dinding dapat terdengar begitu nyaring dalam ruangan itu karena telah sunyi.

::==::==::

Tok...Tok...Tok...

Suara ketukan pintu berkali-kali membuat Sarada mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya. "Masuklah!" Ucap Sarada sembari mengatur posisi meja dengan benar serta merapikan mejanya. Yang pertama Sarada lihat ialah tangan yang nampak familiar di matanya. Kemudian hal kedua ialah rambut berwarna kuning dengan sedikit warna jingga yang sangat familiar dengannya. Ketiga adalah Guratan di pipi dan ke empat adalah mata yang berwarna Biru yang begitu indah di matanya memasuki ruangan kerjanya.

Mata Sarada pun terbuka lebar seketika saat mengetahui bahwa Boruto telah ada di hadapannya. Doa dan keinginannya terkabul bahkan melebihi apa yang ia kira. Setidaknya itulah yang ia pikirkan saat ini. "Sarada, lama tak jumpa," ucap Boruto dengan senyum khas miliknya yang membuat Sarada tak mampu berkata apa-apa. "Aku mau kau ikut aku ke taman," ucap Boruto lagi sambil mengulurkan tangannya. Perlahan dan pasti, Sarada mengenggam tangan itu.

Tibalah mereka di taman tepatnya di sebuah pohon beringin besar di taman tersebut. Sarada melihat seorang perempuan yang sedang duduk manis di salah satu bangku di taman itu. Anehnya, di taman saat itu terlihat sangat sepi bahkan jalan raya yang tadi ia lewati pun sepi.

Boruto mengajak Sarada mendekati perempuan itu. Dan setelah beberapa meter mendekati perempuan itu, ia langsung berdiri seperti telah menanti kedatangan Boruto. "Sayang, inilah Sarada. Teman yang pernah kuceritakan padamu," ucap Naruto pada gadis itu. Seperti tersambar petir, Sarada pun terdiam tanpa bersuara. Hati dan pandangannya pun menjadi hitam setelah mendengar 2 kata yang telah merubah suasana hatinya.

"Jadi dia yang namanya Sarada. Lebih cantik aku kan dari pada dia?" Tanya Gadis itu. "Ya, tentu. Kamu lebih cantik. Dan kamu juga lebih hebat darinya. Dia hanya bisa menangis dan bersedih jika ada masalah. Dia tidak mau berusaha untuk lepas dari masalah itu seorang diri. Berbeda denganmu, sayang," ucap Boruto dengan nada yang menjelek-jelekan.

Hati Sarada pun serasa telah hancur mendengar perkataan kedua Boruto yang begitu menyakitkan. Ia mengajaknya ke taman hanya untuk mempertemukan dirinya dengan kekasih tepatnya selingkuhan Boruto di taman. "Inojin benar, Chochou juga benar. Boruto selingkuh. Ia bahkan tidak menganggapku pacarnya."

Air mata patah hatipun keluar dari mata Sarada. Ia mengenggam tangannya kuat-kuat. Makin lama, air matanya mengalir begitu deras. Semakin lama juga, genggaman tangannya semakin kuat bahkan hingga tangannya mengeluarkan darah. Ia tak merasakan rasa sakit fisik apapun. mungkin sudah tertutup oleh rasa sakit hati yang ia rasakan. Si rambut pirang itu telah menyakiti perasaannya seperti ini. Sungguh tak dapat di percaya.

Namun tiba-tiba, 3 buah mobil jeep bertuliskan Mafia menerobos taman dan berhenti di hadapan Boruto dan Sarada serta kekasih Boruto. 2 orang keluar dari dalam mobil sambil menyodorkan sebuah senjata bertipe Machine gun kearah Boruto dan kekasih barunya. "Kau akan mati. Saat kau mati, maka kami akan lebih mudah mengambil alih Techconnec," ucap salah satu dari mereka.

Boruto terlihat Bersiaga dan mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya membuat Sarada kaget. Perempuan di samping Boruto pun juga terlihat telah bersiaga dengan pistonya. Dalam hitungan detik, mereka semua saling berperang. 2 lawan 2 dan tak lama kemudian, seluruh pasukan Mafia ikut menembak Boruto dan Gadis itu. Pertempuran sangat sengit. Boruto dan Gadis itu berhasil menghindari semua peluru-peluru Mafia dengan bersembunyi di balik pohon.

Sarada hanya mampu terdiam di tempat sambil menyaksikan peperangan itu. Pada akhirnya, Boruto berlari maju berniat membalas serangan. Namun ketika ia melewati depan Sarada, Musuh menembaknya dengan Senjata mesin hingga membuat tubuh Boruto tertuduk berpuluh-puluh peluru. Darah Boruto tercecer hingga ke badan Sarada. Sarada hanya mampu terdiam melihat kejadian itu dan bahkan tak meneteskan air mata lagi.

Tiba-tiba Setelah Boruto tertembak, pasukan Mafia menghilang secara misterius dan bahkan Gadis itu pun ikut menghilang. Landscape pun berubah menjadi sebuah dataran luas yang di penuhi oleh rumput. Sarada nampak kaget melihat itu semua.

"S-Sarada. Dengar aku," ucap Boruto. Secara spontan, Sarada langsung berlutut menghadap Boruto yang sudah tebaring penuh luka tembak. "Aku menyayangimu. Ini semua hanyalah mimpi. Bangunlah dan lupakan kesedihanmu. Walau aku bukanlah Boruto yang asli, tapi aku yakin inilah yang akan ia katakan. Sampai jumpa lagi sayang. Aku sangat menyayangimu, aku percaya padamu dan kau harus percaya bahwa aku akan kembali padamu lagi,," ucap Boruto lalu menutup matanya.

Air mata Sarada pun terlihat menetes. "Borutoooooooooooooo," teriaknya yang kemudian ia lanjutkan di alam sadarnya setelah ia terbangun dari tidurnya.

"Huh...huh..., di mana aku sekarang?" ucap Sarada bingung. "Ini kantorku. Tadi hanya mimpi ternyata," ucap Sarada lagi. Sarada melihat jam yang saat itu sudah menunjukan pukul setengah enam. Ia melihat keluar jendela dan menampakan matahari yang sudah mulai tenggelam.

Ia kemudian melihat layar laptopnya yang masih menyala. Ia melihat wajah Boruto dengan senyum yang selalu khas di wajahnya itu. Melihat foto itu, tiba-tiba membuatnya menjadi bahagia. Padahal tadi siang saat ia melihat foto itu, ia menjadi sedih. Mungkin saja mimpi yang ia alami tadi telah merubah struktur otaknya dan membuatnya mampu melupakan kesedihan dan kerinduan terhadap Boruto.

Tiba-tiba, Sarada mendengar suara pintu di buka. Secara spontan, Sarada melihat ke arah pintu tersebut dan menyaksikan seseorang memasuki ruangannya. "Ehh, maaf nona Sarada. Saya kira anda masih tidur makanya saya tidak mengetuk pintu," ucap perempuan yang memasuki ruangannya.

"Tidak apa-apa. Ada apa?" Tanya Sarada. "Anu, saya Cuma mau membangunkan nona karena hari sudah mau gelap. Takutnya anda ketiduran hingga malam," ucap perempuan itu alias sekretaris Sarada. "Begitu. Terima kasih ya, walau kau sedikit terlambat," ucap Sarada sambil tersenyum. Sekertaris itu pun keluar dari ruangan Sarada.

Sarada menyimpan semua barang-barangnya dan kemudian keluar dan mengunci ruangannya. Tubuhnya terasa fit karena ia baru saja tidur siang dalam waktu yang lama di sela-sela kesibukan kerja. Benar-benar contoh pemimpin yang tak bertanggung jawab. Tapi mengingat situasi yang tadi, kita bisa memakluminya.

:

:

:

To Be Continued

A/N: Malam pemirsa . apa kabar kalian semua. Pasti sudah mengantuk.

Berhubung author lagi punya kuota, author bisa update 1 kali dalam 3 hari. Chapter ini sengaja saya buat panjang karena ini menceritakan mengenai Sarada dan semua yang berada di konoha. Walau tidak semua.

Ada yang kebaperan. #Cuma_Nanya.

Kalo ada author minta maaf. Soalnya sengaja.

Ada yang bingung dan tidak menyangka bahwa akan ada adegan mimpi. Berarti anda kurang jeli dalam membaca dan menafsirkan waktu yang akan datang.

Sampai di sini saja. Selamat malam dan selama tidur (Khusus bagi yang Bacanya malam)