Today's Quote : Kau tidak butuh alasan untuk mencintai seseorang. Karena cinta terjadi begitu saja. (Alex Hirano from 'Sunshine Becomes You')
AE_28
Tifa benar-benar sudah bisa bernafas lega. Setelah dengan sabar menunggu satu minggu lewat, akhirnya dia bisa berjalan lagi. Awalnya Tifa ingin langsung bekerja lagi, tetapi Cloud langsung melarangnya. Dengan alasan baru sembuh, dan Cloud takut Tifa kecapekan. Tifa pikir alasan yang kedua sungguh konyol, memangnya dia artis baru jadi apa? Dia sudah biasa menghadapi jadwal yang sangat padat sampai sepertinya tubuhnya takkan bisa merasa kelelahan lagi. Meskipun hal itu tentu saja tidak mungkin. Dia kan masih manusia.
Sambil memainkan boneka chocobo besar yang ada di pelukannya, Tifa terus menatap acara di televisi. Kebetulan, acara yang ditonton Tifa adalah talk show mengundang Cloud sebagai bintang tamu. Bagi Tifa, acara yang didatangi kekasihnya tentu pantang untuk dilewatkan. Cloud sungguh tampan sekali, meskipun dia masih terlihat agak kurus. Kalau tidak salah ingat, Cloud bilang berat badannya turun lima kilo. Membuat baju dan celananya sempat kedodoran.
"Jadi, katanya anda baru saja menyelesaikan shooting film baru ya?" tanya sang pembawa acara. "Kalau boleh tahu, film apa?"
"Ya, kabar itu memang benar. Untuk kali ini, saya akan bermain film action."
"Wow, tapi anda memang cocok sekali untuk bermain di film action. Lalu apa judulnya?"
Cloud tersenyum kecil. "Masih dirahasiakan tentunya. Tayangnya juga masih lama, mungkin tahun depan."
"Siapa yang menyutradarai film ini?"
"Ayahku, Sephiroth. Dibantu teman-temannya sesama sutradara. Berhubung semua sudah diatur dengan baik, shooting bisa selesai dalam waktu tiga minggu."
Tifa terus menonton tanpa mengalihkan pandangannya. Tadi Tifa sempat tertawa ketika Cloud mengatakan bahwa judul filmnya masih rahasia. Padahal Tifa sudah diberitahu tuh, judulnya adalah 'Cosmo Canyon : The Secret'. Menceritakan mengenai seorang pemuda tampan yang berusaha menguak rahasia desanya. Bukan rahasia yang bagus juga tentunya. Pokoknya film ini didominasi oleh misteri dan adegan pertarungan.
"Oh ya, saya pernah membaca beritanya di internet. Tetapi katanya kau jadi semakin kurus, apakah itu benar?"
Tifa mengangguk-angguk beberapa kali. Ya, kau benar sekali nona pembawa acara.
"Sebenarnya sih saya tidak langsung sadar, dan berhubung saya tidak begitu peduli dengan berat badan saya. Sampai ketika saya mencoba baju dan celana, barulah saya sadar."
Dasar pembohong, padahal jelas-jelas dia baru sadar setelah Tifa yang menanyakannya langsung. Begitulah pikir Tifa.
Tifa terus menonton acara itu hingga selesai. Kini, dia jadi semakin bingung mau melakukan apa untuk menghabiskan waktu. Tadi Tifa sudah memberitahu Reno bahwa dia akan bekerja kembali mulai Senin depan. Reno, meski awalnya sempat berontak, namun akhirnya setuju juga. Untuk jadwal ke depannya, Tifa akan disibukkan dengan shooting iklan, menjadi bintang tamu di beberapa acara talk show, serta menghadiri beberapa acara. Tifa belum mau menerima shooting striping atau film. Meskipun para penggemarnya terus bertanya via internet.
Tiba-tiba saja rasa haus melanda tenggorokan Tifa. Dengan sedikit malas, Tifa berjalan ke dapur dengan niat untuk mengambil segelas jus jeruk dari dalam kulkas. Tetapi baru saja berjalan beberapa langkah, dia sudah dikejutkan dengan lagu 'Chocolate Love'. Lagu yang juga adalah dering SMS masuk.
"Siapa ya?" pikir Tifa sambil mengambil handphone miliknya.
SMS itu berasal dari nomor yang tidak dikenalnya. Tetapi karena penasaran, akhirnya Tifa menekan tombol open.
Nyalakan komputermu, lalu kau lihat e-mail baru untukmu. Sekarang.
Muka Tifa menjadi heran. Siapa ini?
Kau akan tahu setelah melihat isi e-mailnya.
Tifa semakin merasa heran. Kenapa tiba-tiba dia disuruh membuka e-mail miliknya? Apakah ada kejutan? Tifa langsung membatalkan niatnya ke dapur dan langsung mengambil laptop miliknya. Setelah memasang modem, barulah Tifa menyalakannya dan mengecek deretan e-mail miliknya. Memang, di deretan paling atas ada sebuah e-mail baru. Dengan pengirim berinisialkan abc_know. Sangat terlihat kalau orang ini tidak ingin sosoknya ketahuan.
"Ini... Video?"
Tifa membuka video itu dan menunggunya loading terlebih dahulu. Sekitar tiga puluh detik kemudian, barulah videonya mulai berjalan.
"Apa ini video kiriman dari para penggemar ya? Astaga, aku jadi deg-degan."
Yah, video itu memang tentang dirinya. Tetapi belum sampai semenit videonya berjalan, Tifa sudah dibuat begitu syok. Tak lama setelahnya, sebuah SMS baru masuk ke handphone miliknya. SMS yang berasal dari nomor yang sama dengan sebelumnya.
Jika kau tak ingin video itu menyebar, datanglah sendirian ke atap hotel Don Corneo sekarang. Ingat, kau harus sendirian. Jangan mengajak siapa-siapa, terutama pacarmu, Cloud. Awas kalau kau memberitahu siapa-siapa.
Tifa membaca SMS itu dengan ekspresi ngeri. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau dia akan dihantui kembali oleh kenangan buruknya setahun lalu. Orang itu... Pria itu... Ternyata dia masih belum menyerah.
...
Cloud mengendarai celica putih miliknya sambil menerobos jalan raya yang tidak terlalu ramai. Tangannya dia hentakkan pelan di setir sembari mendengar lagu 'What Makes You Beautiful'. Sementara pandangannya terkadang teralihkan ke kiri dan ke kanan. Jam di dasbor sudah menunjukkan pukul 11:05, waktu yang wajar baginya ketika menyelesaikan seluruh jadwalnya dalam sehari. Cloud sungguh merasa lelah, rasanya dia ingin sekali segera pulang dan tidur. Mulutnya terasa pegal karena daritadi dia diajak wawancara terus menerus. Pertanyaannya pun tak berbeda jauh, seperti biasa. Para wartawan sama sekali tidak menyerah untuk mengetahui sisi pribadi Cloud. Terutama pacar. Bagaimana ya reaksi wartawan ketika mereka tahu bahwa Tifa adalah pacarnya?
Cloud memutuskan untuk tidak menelepon Tifa. Sekarang sudah malam, meskipun mungkin Tifa belum tidur jam segini, tapi Cloud takut mengganggu. Apalagi, seperti yang tadi dia katakan. Mulutnya sungguh pegal untuk bicara lagi. Mungkin jika ada yang mengajaknya bicara dia hanya akan menjawabnya dengan kode dan bahasa tubuh. Tahu sendirilah jika dia sudah merasa malas. Atau mungkin, dia akan menjawabnya dalam bentuk tulisan. Benar-benar seperti orang bisu.
Apartemen Cloud sudah tampak dekat. Tetapi meski jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, suasana di sekitar apartemen seperti masih delapan malam. Pemandangan yang biasa dilihat Cloud. Mungkin para 'tetangga'nya itu pergi ke klub malam. Dasar, Cloud yang sepertinya lebih stress dan sibuk saja sama sekali tak pernah terpikir untuk pergi ke sana.
"Selamat malam tuan," sapa salah satu petugas keamanan sambil menekan tombol untuk membuka palang. Cloud merespon dengan mengangkat sebelah tangannya.
Setelah mengendarai mobilnya sampai basement dan memarkirnya di sana, Cloud segera merapatkan jaketnya dan turun dari mobil. Sambil menyetel lagu di headphonenya keras-keras, dia berjalan secepatnya ke arah elevator. Seorang petugas pria berseragam merah menyembutnya dengan ramah.
"Lantai berapa?" tanya petugas tersebut. Cloud menjawabnya dengan jarinya. "Baik, saya mengerti."
Tidak butuh waktu lama sampai elevator mengantar Cloud tiba di lantai sembilan. Setelah ia mengangguk yang juga adalah tanda terima kasih, Cloud mengeluarkan kunci kamar apartemennya dan langsung membuka pintu. Oh... My home Sweet Home, begitulah isi hatinya sekarang.
"Halo Cloud Strife."
Bak film horor, tiba-tiba televisi yang ada di ruangannya menyala sendiri. Memperlihatkan sosok pria bertopeng yang dulu sempat menyerang rumahnya. Astaga.
"Kau lagi. Apa sih maumu? Apa yang kau lakukan dengan rumahku?" tanya Cloud. Dia terpaksa mengingkar komitmennya sendiri bahwa dia tidak akan bicara untuk malam ini.
"Mauku?" tanya sosok itu. Dari suaranya, sepertinya suaranya disamarkan. "Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu."
Gambar di televisi berganti secepat kilat. Memperlihatkan sosok Tifa yang sedang diikat di kursi dalam keadaan berantakan. Bajunya compang-camping, sementara mulutnya dipasangi lakban abu-abu sehingga dia tak bisa berbicara. Mata Tifa yang berair terfokus pada kamera.
"Tifa?" tanya Cloud tak percaya.
"Iya, Tifa Lockhart. Wanita yang sangat sempurna, dan juga... Kekasihmu kan?"
"Darimana kau bisa tahu? !"
"Sama sekali tak penting bagaimana aku bisa tahu tentang hubungan kalian," jawabnya, "yang pasti, kau tahu kan kalau kekasihmu ada bersamaku sekarang?"
Cloud menggertakkan giginya karena kesal, sekaligus muak.
"Sudahlah Cloud Strife. aku yakin kau ingin kekasihmu selamat kan?"
Cloud tidak menjawab.
"Kau tahu? Kulit kekasihmu sangat manis. Baru saja kurasakan tadi."
Cloud mengepalkan tangannya. Di matanya terlihat begitu besar kebencian yang tersimpan.
"Selain kulitnya, rambut hitam lurusnya juga sangat nikmat. Kau tahu? Aku suka sekali dengan wanginya."
"Kau keparat."
"Ups, jika kau sembarangan bicara, kekasihmu takkan selamat."
Lagi-lagi, Cloud tidak menjawab. Pengecut sekali orang ini, beraninya hanya mengancam saja.
"Kalau kau benar-benar ingin bertemu dengannya, datanglah sekarang ke atap hotel Don Corneo. Tapi ingat, kau harus sendirian. Kau tak boleh memberitahu, apalagi mengajak siapapun ke sini."
"Hotel Don Corneo?"
"Ya, kau tahu tempat itu kan? Itu adalah Love Hotel yang sangat terkenal di Midgar."
"Jangan bilang kau telah..."
"Tidak, mungkin lebih tepatnya—belum."
"Kau! ! !"
"Sudahlah Cloud Strife, jangan membuang waktu lagi. Lebih baik segera datang ke sini dan temui aku dan kekasihmu. Beres kan? Aku akan menunggumu."
"Tung—"
Televisi itu tiba-tiba saja mati sendiri. Saat Cloud mengeceknya, ternyata televisinya sudah dimanipulasi sedemikian rupa. Persis dengan apa yang terjadi pada pintunya beberapa waktu lalu. Wajar memang, apalagi pelakunya sama.
"Sialan!"
Cloud langsung berlari keluar dan membanting pintu kamarnya. Ya Tuhan, padahal belum lama dia dibuat lega dengan keselamatan Tifa, tetapi kini dia sudah dibuat khawatir lagi! Sebenarnya apa sih maunya takdir? Kenapa jadi sulit baginya untuk menjalani hidup yang tenang bersama kekasihnya? Parahnya, yang menculik Tifa sekarang adalah seorang pria misterius, freak, mesum, dan tidak tahu diri. Dan situasi menjadi lebih parah lagi karena dia tidak bisa melapor polisi serta teman dekatnya.
...
Tifa sungguh tidak bisa berbuat apa-apa. Selain seluruh tubuhnya diikat dengan begitu kencang di kursi, luka-luka yang begitu perih di sekujur tubuhnya juga sangat mengganggu. Mulutnya juga diselotip dan dia belum lama sadar dari pengaruh obat bius. Tifa yakin dia disiksa saat dia masih dalam keadaan tidak sadar. Astaga, kenapa juga dia bisa mengalami ini? Apalagi setelah melihat sosok yang ada di depannya menghubungi Cloud dengan cara seperti itu.
-flashback-
Dengan langkah ragu-ragu namun yakin, Tifa keluar dari elevator hotel Don Corneo. Berniat menemui sosok yang tadi mengirimnya beberapa SMS teror. Sebenarnya Tifa hampir melupakan 'dia', semua itu berkat Cloud, mungkin lebih tepatnya semenjak dia mengenal Cloud. Meskipun dulu Cloud memang pernah menanyakannya, tetapi Tifa tentu saja tidak bisa menjawab. Soalnya waktu itu kanmereka berdua masih belum kenal satu sama lain. Apakah dia harus memberitahu Cloud sekarang? Tetapi... Dia bilang dia tidak boleh memberitahu siapapun kan?
Tifa mengamati tangannya yang gemetaran dan basah karena keringat dingin. Di depannya sudah ada pintu yang mengarah ke atap. Haruskah dia membuka pintu ini dan menghadapnya? Dalam hati, Tifa merasa takut. Tetapi kalau dia tidak menghadapinya, bisa-bisa videonya disebar. Serba salah.
"Entah keputusanku tepat atau tidak," pikir Tifa. Dan setelah itu, dia membuka pintu.
Angin bertiup begitu kencang dan menelusuri dress cokelat yang dikenakan Tifa. Di ujung, Tifa dapat melihat seorang pria berdiri di sana sambil membaca sebuah buku berwarna merah muda. Rambutnya pendek dan berwarna merah, sementara dibaliknya terpasang anting berwarna silver. Meski hanya di telinga kanannya. Saat ia membalikkan tubuhnya, dapat terlihat senyum mematikan serta bola matanya yang berwarna biru. Biru yang sama dengan Cloud. Wajahnya tampan, namun sangat memuakkan bagi Tifa.
"Lama tidak bertemu, Tifa." katanya. "Aku senang kau mau datang."
"Kau... Kenapa kau harus muncul lagi di kehidupanku setelah sekian lama?"
"Oh, ayolah," katanya sambil mengangkat kedua tangannya. "Kau tahu sendiri bahwa aku adalah tipe yang keras kepala."
Tifa membuang wajah sambil melipat kedua tangannya. "Mau apa kau?"
"Mau apa? Sudah jelas kan? Aku menyukaimu, Tifa."
"Kau hanya menyukai tubuhku kan?"
"Sama sekali tidak, percayalah. Aku sungguh menyukaimu seutuhnya."
"Lalu kenapa kau merekamku saat ganti baju? Bahkan... Bahkan kau..."
"Eits, tenanglah. Aku takkan menyebarkannya, asal..."
Tifa mengernyitkan dahinya, sebagai tanda ingin tahu.
"Kau mau menjadi kekasihku."
"Apa?"
"Aku ingin kau menjadi kekasihku."
"Jangan bercanda."
Pria itu berjalan mendekati Tifa. "Kau lebih memilihnya?"
"Siapa?"
"Cloud Strife."
Sebelumnya dia memang pernah menyebut nama Cloud di SMS. Tetapi Tifa bingung mengapa dia bisa tahu.
"Kalau iya memang kenapa? Dia jauh lebih baik darimu," kata Tifa. "Genesis."
Pria bernama Genesis itu tersenyum jijik, dan dia berjalan hingga berhenti di depan Tifa.
"Aku sungguh menyukaimu sejak pandangan pertama, Tifa. Dan aku sungguh berharap kalau kau bisa memilihku. Tinggalkanlah dia, Tifa, aku bisa memberimu kehidupan yang lebih baik."
Tangan kanan Genesis terangkat dengan maksud mengelus wajah Tifa. Namun dengan cepat, Tifa langsung menangkisnya. Mata cokelatnya terlihat begitu marah dan kesal. Lancang sekali pria ini, seolah-olah dia tidak pernah melakukan apa-apa terhadapnya.
"Aku tidak mau! Lalu kau bilang kau bisa memberiku kehidupan yang lebih baik? Asal kau tahu saja Genesis, Cloud jauh lebih baik darimu! Dia... Dialah yang menyembuhkan traumaku pada lelaki karena kau! Dia juga yang mengajariku arti cinta! Dia juga yang selalu melindungi dan memperhatikanku! Sementara kau apa ? !"
"Omong kosong sekali."
"Omong kosong katamu? !" tanya Tifa dengan wajah tak percaya. "Kalau begitu selamat tinggal, omong kosong juga denganmu."
Sebelum Genesis sempat menjawab, Tifa sudah menyelanya lagi.
"Terserah mau kau apakan video itu. Mau kau sebar? Silahkan saja. Dan aku akan menyewa pengacara serta tim penyelidik terhebat yang akan membuatmu terpojok dan ditangkap polisi! Ingatlah Genesis."
Tifa kembali berjalan ke arah pintu. Ya, kenapa dia tidak kepikiran untuk mengatakan ini sebelumnya? Kalau begitu kan, dia tidak usah khawatir lagi. Apalagi video itu dibuat tanpa sepengetahuannya. Jadi kalau misalnya kasus ini dibawa ke pengadilan, dan jika dia dibantu oleh pengacara yang handal, pasti dia yang tetap akan menang. Dan kemudian, Genesis akan terbukti bersalah. Ya! Benar sekali!
"Tangkap dia, Reno."
Tiba-tiba saja sosok Reno muncul di depan dan mulut Tifa langsung disumbat oleh sebuah saputangan berbau obat. Tak lama kemudian, Tifapun tidak sadarkan diri dan mendarat tepat di pelukan Reno.
"Kerja bagus."
-flashback end-
Sosok Genesis bertopeng mematikan video call dan bangkit dari kursinya. Meski dia memakai topeng, tetapi Tifa dapat menebak ekspresi wajahnya. Pasti dia tersenyum puas. Pasti dia menganggap bahwa dia akan segera menang dari Cloud. Dasar bajingan! Pengecut sekali kau sampai memakai cara ini!
"Kau takkan menjumpainya," katanya.
Wajah Tifa terlihat kaget.
"Aku akan melenyapkannya sebelum dia sempat bertemu denganmu, kau lihat saja."
Oke, akhirnya chapter ini selesai juga. Mohon read and review ya! Seperti biasa, saya ucapkan terima kasih buat yang menyukai dan mengikuti fic ini. tanpa kalian, mungkin saya akan kehilangan gairah menulis dan gak bisa belajar banyak. Tetep mohon doanya ya, semoga saya bisa lulus. Makasih.
Oh ya, kalau kalian mau tahu lagunya saya akan kasih tahu. Chocolate Love itu lagunya SNSD, girlband kesukaan saya. Sementara What Makes You Beautiful itu lagunya One Direction, salah satu boyband bule. Saya gak gitu suka sama One Direction sih, Cuma lagunya lumayan enak. Jadi, saya pake aja he he he.
