Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

[ Chapter 28 ]

.

.

.

Sakura pov.

"Sasuke!" Teriakku.

Tiba-tiba saja dia berlari menjauh, apa yang terjadi padanya? Kakiku mulai terasa sakit, larinya cukup jauh hingga aku kehilangannya, berhenti, napasku sampai sesak, bagaimana dia bisa berlari secepat itu? Aku pikir dia adalah pria yang jarang untuk berolahraga, kerjanya hanya makan, tidur dan bekerja, dan juga marah-marah.

Mencoba mencarinya ke sana dan kemari di setiap kerumunan orang-orang, dia sangat merepotkan, aku menyesal membawanya, sekarang dia berada dimana? Jika dia tersesat aku harus bagaimana? Tidak mungkin melaporkan artis terkenal itu nyasar di kota Suna ini.

Kembali berlari dan berusaha melewati jalan yang mungkin saja di lewatinya, hasilnya tetap sama, aku harus segera kembali ke rumah sakit untuk menemani ibu dan sekarang dia malah menghilang, atau jangan-jangan dia benar-benar sudah tersesat, ini sangat gawat, Kabuto mungkin saja akan marah besar padaku, aku membiarkan Sasuke hilang dari pandanganku, tapi aku tidak bisa di salahkan sepenuhnya, bukannya dia yang main kabur saja.

Berhenti, kakiku semakin lelah, aku sudah tidak kuat lagi berlari, mungkin jika bertanya pada seseorang, mereka mungkin saja melihatnya, lagi pula penampilannya saat ini cukup kuno, celana jins dengan desain celana elvis, dan baju kemeja abu-abu.

"Permisi, apa kau melihat seorang pria dengan kemeja abu-abu berlari ke arah sini?" Tanyaku pada seseorang yang aku lewati.

"Maaf, aku tidak melihatnya."

"Terima kasih."

Sialnyaaaa! Dimana pria dewasa yang bersikap seperti anak-anak itu! Apa dia pikir ini lahan bermain lari-lari! Aku harus mencarinya seperti seorang ibu yang kehilangan anak.

"Tuan, apa kau melihat pria berambut hitam dongker dan memakai kemeja abu-abu, lewat sini?"

Lagi-lagi hanya ucapan 'tidak' atau gelengan kepala, kenapa aku harus mencarinya! Aku juga harus segera kembali ke rumah sakit!

"Kau mencari pria berambut hitam dan kemaja abu-abu?" Ucap seseorang, menoleh dan aku melihat dua orang pria, mereka memakai kacamata hitam dan pakaian kasualnya, pria-pria yang tinggi dan sepertinya seumuran Kabuto.

"I-iya, apa anda melihatnya?" Ucapku, pria berambut hitam ini terasa tidak asing.

"Aku melihatnya berlari ke arah sana." Ucap pria yang satunya lagi, dengan rambutnya yang berwarna dark-blue, stylenya juga terlihat seperti preman, aku rasa hanya ada gigi taring saat dia berbicara, aku malah terfokus pada kedua pria ini.

"Terima kasih." Ucapku dan bergegas.

Berlari dengan sisa-sisa tenagaku, aku menemukannya, dia terlihat seperti anak hilang, tersesat, aku yakin dia mencari jalan kembali dan malah tidak menemukanku.

Plaak!

Memukul punggung lebar itu dengan kedua tanganku. "Kau membuatku khawatir! Kenapa berlari seperti orang gila!" Teriakku kesal, orang-orang di sekeliling kami sampai memperhatikan tingkahku, aku tidak bisa menahan diri lagi, dia sudah membuatku berlari seperti orang gila, bertanya kesana dan kemari hanya untuk mencarinya.

"Kenapa memukulku!" Protesnya.

"Jika tidak aku pukul, apa kau akan tetap sadar? Ini di Suna! Bagaimana bisa aku membiarkanmu berkeliaran begitu saja!" Teriakku, lagi.

"Ada apa itu?"

"Sepertinya sedang bertengkar dengan pacarnya."

"Sudah dewasa bertengkar di jalanan."

"Ah, bukannya pria itu terlihat tidak asing?"

Gawat, disini terlalu banyak orang, Sasuke bisa saja ketahuan.

"Sekarang ikut aku." Ucapku, menggenggam tangan itu dan menariknya pergi. "Kau tahu, aku mencarimu sampai kebingungan, jika kau seperti ini aku harus apa?" Tambahku.

"Maaf." Ucapnya, aku tidak lagi menariknya, sekarang kami berjalan beriringan.

"Ada apa? Kau bahkan tak mendengar teriakanku, aku sangat khawatir jika saja ada yang mengetahui identitas aslimu dan kau hanya sendirian disini, orang-orang akan heboh melihatmu, aku yakin mereka siap menerjangmu."

"Pikiranmu terlalu jauh, aku tidak apa-apa." Ucapnya, santai.

"Jangan seperti itu! Aku yang membawamu ke Suna, jika terjadi sesuatu, apa yang harus aku katakan pada Kabuto!" Kesalku.

"Maaf." Lagi-lagi hanya minta maaf. "Aku sempat mendengar suara kakakku dan mengejarnya, aku pikir itu adalah dia, tapi berlari kemana pun aku tidak menemukannya." Ucap Sasuke, dia berlari hanya karena mendengar suara seseorang yang mirip dengan kakaknya.

"Itu tidak mungkin, kau hanya salah dengar, lagi pula di dunia ini ada begitu banyak suara yang terdengar mirip atau bahkan sengaja di buat mirip."

"Tidak, aku yakin jika itu adalah suara kakakku."

"Kau bisa mencarinya nanti, tapi kita harus kembali ke rumah sakit terlebih dahulu, aku sudah meninggalkan ibu cukup lama, dan di tambah lagi aku harus mencari pria dewasa yang tersesat." Ucapku, dan tak lupa menyindirnya.

"Aku sudah katakan padamu, aku pernah ke Suna, jadi tenang saja, aku tidak akan tersesat." Ucapnya, genggaman itu mengerat, aku baru saja sadar jika sejak tadi kami berjalan sambil bergandengan tangan.

Menarik tanganku, sayangnya genggaman itu jauh lebih erat.

"Jangan di lepaskan, kau akan kesulitan mencariku lagi." Ucapnya.

Bluush~

A-aku yakin jika bukan itu alasannya, jika seperti ini, kami benar-benar terlihat seperti pasangan, tapi pakaian itu sangat aneh jika di kenakannya.

"Jika kau menemukan kakakmu, apa yang akan kau lakukan? Bukannya hubungan kalian buruk?" Ucapku, aku hanya penasaran akan tindakan Sasuke selanjutnya.

"Aku akan mencoba membujuk kakak, aku yakin dia punya alasan tersendiri meninggalkanku."

Menatap ke arahnya, tatapan itu terlihat sedih, meskipun di tinggalkan, Sasuke tetap ingin menemui kakaknya itu.

"Bagaimana jika dia tidak seperti yang kau pikirkan? Mungkin saja jika benar dia meninggalkanmu karena memiliki niat yang jahat."

"Jangan berbicara seperti itu, aku masih peduli padanya sebagai satu-satunya keluarga bagiku."

"Aku tidak bermaksud mengucapkan hal buruk tentang kakakmu, hanya saja, kau tidak mungkin mengetahui pikirannya."

"Aku akan mengurusnya nanti, kau tidak perlu terlalu pusing akan hal itu." Ucap Sasuke.

Aku tahu, aku tidak perlu terlalu ikut campur, akhirnya genggaman tangan itu terlepas, jantungku sudah tidak karuan sejak tadi, kenapa hanya dia terlihat santai menggenggam tangan seorang gadis? Atau dia memang tidak normal. Sasuke tengah menghubungi seseorang.

"Kabuto, perkecil area pencarianmu."

"Kau menemukannya?"

"Aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin jika dia bersembunyi di Suna."

"Baiklah."

Aku hanya mendengar percakapan pendek mereka, Sasuke masih mencari kakaknya dengan bantuan Kabuto, sekarang mereka hanya akan mencarinya di area Suna, aku juga berharap jika kakaknya segera di temukan, meskipun aku merasa ini tidak adil, pria itu meninggalkan adiknya sendirian dengan begitu banyak hal yang tengah di tanggungnya sendiri, kakak macam apa dia! Jika aku punya kakak seperti itu, aku sudah membasminya.

.

.

.

.

[RS. Konoha]

"Kau sudah kembali? Aku baru saja datang dan melihat bibi sendirian." Ucap pria yang masih tebal muka, kenapa dia datang lagi!

"Untuk apa kau datang?" Ucapku.

"Menjenguk bibi, itu tidak salah 'kan?" Ucapnya, bahkan sengaja memasang wajah sok polos itu.

"Kau-"

"-Sakura, jaga sikapmu sebagai seorang gadis." Ibu membelanya.

"Selamat siang bibi, bagaimana keadaanmu?" Ucap Sasuke, aku rasa dia hanya mencoba bersikap baik di hadapan ibu.

"Aku sudah tidak apa-apa dan akan segera pulang, kata dokter, besok." Ucap ibu, akhirnya dia berbicara lebih baik pada Sasuke, mungkin ibu sudah bisa menerimanya.

"Bibi mau aku kupaskan apel?" Tawar Sasori.

"Biar aku yang melakukannya." Ucap Sasuke, dia bahkan merampas apa yang sudah pegang Sasori, namun aku sudah tahu dia bukan pria yang bisa melakukan banyak hal.

"Kau hampir memotong seluruh isinya tuan." Singgung Sasori.

Sasuke benar-benar payah, hanya mengupas kulit apel saja, dia mengupasnya hingga isinya pun ikut terkupas.

"Bibi, lebih baik makan jeruk ini saja." Ucap Sasori, dia pun sudah mengupas jeruk itu.

"Bibi, makan apel dengan kulit itu jauh lebih bagus untuk kulit." Ucap Sasuke.

Aku ingin tertawa melihat mereka, apa mereka sedang memperlihatkan adegan persaingan? Ibu bahkan tak ambil pusing dan merespon setiap tindakan mereka.

"Sasori, aku ingin bicara denganmu." Ucapku, aku tidak bisa membiarkannya seperti ini, dia tidak memegang kata-katanya.

"Aku ikut." Ucap Sasuke.

"Tidak, kau tetap disini." Ucapku.

Tatapan macam apa itu? Dia terlihat kesal padaku.

"Tenanglah, kami hanya berbicara dan tidak jauh dari sini." Ucapku, setelah mengatakan hal itu, tatapannya menjadi tenang, dia mengkhawatirkanku? Aku sudah katakan jika aku dan Sasori tidak ada hubungan apa-apa lagi.

Mengajak Sasori keluar dari kamar ibu dan berbicara di tangga darurat.

"Kenapa kau datang lagi?" Ucapku, aku tidak bisa membiarkannya seperti ini.

"Aku sudah mengatakannya tadi."

"Aku tahu apa maksudmu, aku tahu ibu sangat sayang padamu, tapi itu sudah berlalu, kenapa kau tidak memegang ucapanmu saat kita sudah sepakat dengan apa yang kita bicarakan bersama?"

"Aku tidak bisa, meskipun kau menyuruhku untuk menjaga sikap dan jarak, aku tetap tidak bisa, aku ingin kau tetap kembali padaku."

"Bagaimana bisa kau bersikap egois seperti ini!"

"Egois? Bagaimana denganmu, kau memberi Sasuke kesempatan, bukannya dia memecatmu dengan sangat marah saat itu? Aku bahkan tak tahu jika hubungan kalian sudah sejuah ini. Aku yakin dia membujukmu untuk kembali dan kau dengan senang hati kembali, kenapa kau tidak memberikanku kesempatan juga?"

"Itu sangat berbeda!" Tegasku.

Bagaimana bisa dia menyamakan tindakannya dengan Sasuke? Mereka berada di posisi dan kasus yang berbeda, aku tidak bisa memberinya kesempatan, sedangkan Sasuke, kami hanya berbohong tentang hubungan ini dan aku masih ingin bekerja padanya.

"Hentikan Sasori, bagaimana pun kau berusaha aku tetap pada keputusanku." Ucapku, suaraku jauh lebih terdengar rendah.

"Aku sudah berjanji padamu, setidaknya kau memberiku sedikit kesempatan."

"Jika kau masih tetap keras kepala, aku harap ini pertemuan terakhir kita." Ucapnya, beranjak pergi.

"Tunggu."

Menoleh dan tangan kekar itu menahanku, menggenggam erat lenganku, tatapannya tak terlihat, Sasori menundukkan wajahnya.

"Apa kau sungguh-sungguh mencintai Sasuke?" Tanyanya.

Pertanyaan konyol macam apa itu? Kau ingin tahu aku mencintai Sasuke atau tidak? Itu hanyalah kebohonganku dan Sasuke.

"Iya! Aku sangat mencintainya!" Tegasku. Aku harus membuatnya percaya dengan ucapanku.

"Kau bahkan lebih peduli dengan pria yang jauh lebih buruk dariku."

"Aku tidak ingin membahasnya lagi, biarkan aku pergi dan kau pulanglah, tidak ada tempat untukmu lagi, bahkan itu ibuku, dia setuju jika aku bersama Sasuke."

"Aku tidak percaya akan hal ini."

"Bagaimana pun juga aku sudah bersama Sasuke!"

Kenapa Sasori tidak ingin menyerah! Jika saja dia tidak berbuat seperti itu padaku, aku pun tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja.

"Jangan menyentuhnya."

Terkejut, Sasuke tiba-tiba saja datang dan menarikku, bahkan menepis kasar tangan Sasori.

"Jangan pernah berbicara padanya lagi, dia hanya mencoba mengubah keputusanmu." Ucap Sasuke padaku.

"Sasuke, aku sulit percaya jika kau memiliki hubungan dengan seorang gadis, rumor yang berada padamu buruk, kau selalu saja menggonta-ganti pasangan dan tidak ada yang bertahan."

"Aku merasa kasihan pada orang-orang yang hanya sibuk memakan sampah yang beredar."

"Apa katamu!"

"Sasori, cukup, bagaimana dengan kesepakatan kita?" Ucapku.

"Kesepakatan, aku mencoba sepakat denganmu hanya agar kita bisa berdekatan kembali, tapi tiba-tiba saja kau sudah memiliki hubungan dengan pria seperti ini."

"Bukannya itu lebih bagus? Aku akan lebih peduli pada Sakura, bahkan tidak akan membiarkannya pergi begitu saja, jika sudah jadi mantan tidak perlu sibuk mengungkit masa lalu, kapan kau akan move on? Setiap perbuatan buruk akan di balas buruk, bagaimana dengan perbuatanmu? Apa sudah dibalas? Ya aku rasa sudah" Ucap Sasuke, tatapan meremehkan itu di perlihatkannya, dia sampai menyindir keras Sasori.

Sasori terlihat marah, aku tidak ingin mereka berkelahi disini.

"Sebaiknya kita pergi, Sasuke. Sasori pulanglah." Ucapku.

"Kalau begitu bukti padaku jika benar kalian memiliki hubungan, atau kau hanya berpura-pura Sakura, aku masih sangat memahamimu." Ucap Sasori dan membuatku sangat terkejut, apa dia menyadari jika aku berbohong?

.

.

TBC

.

.


update...~

halo-halo apa kabar para reader, karena baru update beberapa hari yang lalu lagi, athor lihat minat pada fic ini cukup banyak juga yaa, terima kasih untuk tetap menunggu updatenanya.

.

.

See you next chap!