12 Desember. Negeri Iblis
Hachi dan 4 Uzumaki lainnya memasuki ruangan para tetua Negeri Iblis dengan wajah tegang. Cocok dengan nama negerinya, suasana di setiap inchi ruangan ini benar-benar terasa mencekam. Gelap. Kelam. Ukiran-ukiran aneh tercetak jelas di dinding dan langit-langit ruangan. Penerangan seadanya bahkan tak pantas disebut penerangan karena hanya menggunakan sebuah lampu obor dan lampu putih suram. Jangan lupa tiga tetua yang duduk di depan mereka dengan tudung serta jubah besar yang menutupi seluruh tubuh dan hampir menutupi wajah mereka. Hachi, dalam kegelapan yang mencekam hanya bisa menyipitkan matanya melihat siluet ketiga tetua tersebut. Hanya mata dari 3 tetua saja yang bisa dilihatnya, selebihnya wajah mereka ditutupi tudung dan cadar.
'Berbeda jauh dengan suasana saat Yondaime-sama dijamu di Negeri Iblis…' ya, saat itu Hachi mendengar cerita Konan-pemimpinnya-yang mengawal Uzukage keempat saat bertamu di Negeri Iblis. Konan juga sudah memperingatkan anggota-anggota intelnya bahwa Negeri Iblis adalah benar-benar suatu negeri mandiri yang memakai prinsip hakiki mereka. Sangat susah diajak kerja sama namun jika mereka mau bekerja sama, maka Negeri Iblis akan menjadi partner yang hebat.
"Saat perjamuan, mereka membuat suasana yang meriah dan putih…furnitur yang putih, taplak meja yang putih…berbanding terbalik dengan suasana Negeri mereka yang selalu kelam. Kelam, gelap dan hitam. Orang-orang Negeri Iblis tahu bagaimana mengambil hati sekutunya untuk tetap bekerja sama dengan mereka…"
Begitulah kira-kira yang diceritakan Konan kepada dirinya dan teman-teman anggota intel Uzu. Hachi membungkukkan badan, diikuti 4 Uzumaki lainnya untuk memberi hormat kepada tiga tetua Negeri Iblis.
"Angkatlah kepalamu, wahai duta Uzushiogakure…"
Suara yang berat dan menyeramkan. Hachi mengangkat kepalanya dengan tegukan ludah pelan di kerongkongannya.
"Kami mendengar bahwa kalian adalah Uzumaki…" kata tetua yang berada di tengah. Suaranya agak lembut dan halus, suara wanita.
"Uzumaki yang hidup…" Tetapi suara itu menjadi menyeramkan karena dihiasi nada serak dan tajam.
"Ya…" Hachi hanya menjawab dengan satu suku kata sederhana. Warna rambutnya dan keempat kawannya sudah menjelaskan siapa mereka.
"Kami butuh bukti." Tetua yang paling kiri menahan kepalanya di atas tangan kanannya yang ditopang ke meja. Matanya berkilat putih saat Hachi melihat terpaan lampu suram mengenai alat penglihatan tetua tersebut.
Hachi mengangguk pelan "Ba-baiklah…ehm," Hachi menoleh ke keempat kawannya, 4 Uzumaki mengangguk mengerti. Mereka menggerakkan handseal dan bergumam pelan.
"Fuinjutsu: Jigoku no Randorensa…"
Sraaaakk! Puluhan rantai muncul di sekeliling Hachi dan 4 temannya, lalu rantai tersebut menggeliat seperti ular. Para tetua Negeri Iblis memandang takjub, terlihat suara-suara mereka yang berkata "Waah" pelan dan "Oooh…" dengan nada antusias. Tetua kedua, yang tengah dan wanita, menyuruh Hachi menghilangkan rantai tersebut dan Hachi beserta 4 temannya langsung menghilangkan benda khas Uzumaki itu di hadapan para tetua Negeri Iblis. Tetua pertama, yang kanan, mengangguk pelan. Suara beratnya terdengar mistis.
"Kami mendapat kabar bahwa pemimpin kalian, Yondaime Uzukage-sama masih hidup. Bisa tunjukkan panah yang dia berikan kepadamu wahai Duta Uzu?"
Hachi mengangguk mengerti. Dia mengambil panah itu dari belakang punggungnya dan memperlihatkannya kepada para tetua Negeri Iblis. Mereka kembali mengangguk takjub. Tetua ketiga berbicara dengan nada yang lebih cepat.
"Itu menjelaskan semuanya. Perlu kau sampaikan ke pemimpinmu…" Tetua ketiga memandang dua tetua lainnya, sepertinya meminta persetujuan. Dua tetua lainnya mengangguk membuat tetua yang duduk di kiri kembali melanjutkan kata-katanya.
"Perlu kau sampaikan hal ini ke pemimpinmu wahai duta Uzu, bahwasanya beberapa hari yang lalu Sandaime Kazekage bersama Sandaime Raikage datang ke Negeri kami untuk mengabarkan bahwa Yondaime Uzukage bersama istrinya telah mati akibat penyerangan 5 desa besar terhadap Uzushiogakure. Tentu saja itu pukulan telak untuk kami karena Ratu kami yang tercinta mati bersama suaminya."
Hachi melihat gaya berbicara tetua ketiga. Berekspresi dengan gerakan tubuh yang mengimbangi suaranya yang terdengar cepat.
"Kazekage-sama mengatakan bahwa alasan mereka melakukan penyerangan itu karena berita tentang hidupnya Gerbang Saiken akibat persiapan pernikahan Uzukage-sama dan Shion-sama sesuai dengan ramalan Rikudou Sennin. Sebuah ramalan legenda yang telah ditetapkan di kitab tuanya. Mereka menyayangkan kenapa Negeri Iblis masih ingin melanjutkan pernikahan tersebut walaupun sudah tahu bahwa jika pernikahan itu tetap dilakukan, maka sesuatu yang buruk akan terjadi." Tetua ketiga menyatukan kedua tangannya di atas meja. Iris matanya memandang tajam Hachi dan keempat Uzumaki di hadapan retinanya "Mereka mengatakan kepada kami jika Negeri Iblis berani melakukan gerakan yang mencurigakan, maka Negeri kami akan bernasib sama dengan desamu, wahai Duta Uzu…" hening. Semuanya terdiam.
"Ehm," Tetua ketiga mendehem pelan "Itu yang perlu kau sampaikan ke beliau. Jadi, apa yang diinginkan Yondaime Uzukage kepada kami? Apa yang ingin disampaikannya?"
Hachi mengangguk pelan. Entah kenapa intuisinya menjadi hidup. Masalah politik dan adu pemikiran besar ini membuatnya menjadi sedikit bersemangat. Tentu saja yang dikatakannya sesuai dengan rencana Yondaime Uzukage-sama yang akan memberikan alur cerita untuk Dunia Shinobi ke depannya.
"Yondaime Uzukage-sama ingin menyampaikan dua hal kepada para pembesar Negeri iblis," kata Hachi dengan suara yang sengaja diberat-beratkan. Ketiga tetua Negeri Iblis mengangguk pelan. Suramnya ruangan masih menerpa tiap hati para Uzumaki di sana. Hachi melanjutkan omongannya.
"Pertama, istri beliau, Ratu kalian dan Ratu kami, sang Ratu elegan Shion-sama…" Hachi berhenti sejenak "…masih hidup. Shion-sama sekarang ada di Iwagakure…"
"Beliau baik-baik saja?!" Tanya tetua yang paling kanan dengan suara beratnya, namun terdengar khawatir. Hachi mengangguk yakin.
"Beliau baik-baik saja. Baik-baik saja…" Hachi menghembuskan napas perlahan. Para tetua saling menatap dan terlihat memberikan pengertian satu sama lain. Ketiganya kembali menatap Uzumaki Hachi yang menunggu respon dari ketiganya.
"Lanjutkan." Kata tetua yang paling kiri dengan nada tenang.
"Yang kedua…" Hachi menajamkan matanya "Yondaime Uzukage ingin kalian bekerja sama," Hachi teringat benar apa yang disuruh Uzukage-sama untuk dikatakan kepada para pembesar Negeri istrinya "Tanpa memperdulikan ancaman dari 5 desa besar yang lebih dulu mengancam kalian sebelum pesan beliau datang."
Tiga tetua terdiam. Yondaime Uzukage tampaknya sudah memprediksi pergerakan 5 desa besar. Hachi mengingat setiap kata dari pesan yang dia sampaikan. Tidak ada yang salah. Dia menyampaikannya dengan tepat.
"Jadi, kalian terima pesan kedua dari Uzukage-sama?"
Para tetua Negeri iblis saling berpandangan setelah Hachi bertanya dengan nada pelan. Sekitar 15 menit berpikir dan berdiskusi pelan, ketiganya membuat keputusan. Tetua yang tengah menghela napas sangat dalam dan menyatukan kedua tangannya di depan wajah. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu.
"Kami terima!"
THE UZUKAGE
BY DONI REN AND ICHA REN
NARUTO IS ALWAYS BY MASASHI KISHIMOTO
THE UZUKAGE PROJECT
STORYLINE PART 2, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE
Arc Pernikahan Shion (IwaSuna Arc)
"Sisi Romantic akan berbeda dengan Sisi Pahlawan." –Yondaime Uzukage, Uzumaki Naruto
WARNING: OUT OF CHARACTER, OUT OF CANON, IMAGINATION, SOME HARD LANGUANGE AND 18+ LANGUANGE, A LITTLE BIT 18+ SCENE (NO SEX SCENE), A LITTLE BIT GORE AND H-AUTHOR
GENRE: ADVENTURE-ROMANCE-DRAMA
PAIR: UZUMAKI NARUTO x SHION
POV: NORMAL POV
HAVE FUN READ, BRO AND SIS!
.
.
.
The Rise of Uzushiogakure
Chapter 28
15 Desember. Kumogakure
Sejak 3 hari insiden dari Hachibi dan penyerangan beberapa Uzumaki,keadaan Kumo benar-benar kembali stabil. Para warga sipil Kumo yang memang tidak terlalu tahu-menahu tentang mengamuknya Hachibi maupun serangan dari orang-orang Uzu hanya menganggap kejadian 3 hari yang lalu merupakan kejadian biasa di dunia shinobi. Bertarung dan bertarung. Ya…mereka menyerahkannya kepada ninja-ninja Kumo untuk menyelesaikan hal tersebut, sedangkan warga berstatus biasa dan sipil punya tugas mereka sendiri di Dunia Shinobi sendiri.
Naruto yang sedang diurut Utakata dan Haku memandang bersamaan sosok wanita cantik dengan rambut pirang yang berponi dibelah dua serta kuncir panjang hingga ke punggungnya. Wanita itu memakai baju Jounin Kumo yang ketat dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Yugito-Nii, sang Jinchuuriki Matatabi menatapnya dengan wajah cemberut yang lucu dan imut. Naruto yang sedang bertelanjang dada dan menelungkup di kasur serta diurut (dalam penglihatan Yugito, seperti digrepe-grepe dua pengawalnya) hanya memandang dengan mata setengah mengantuk ke arah wanita di hadapannya yang sedang memerah perlahan.
"A-apa yang kau lakukan hentai?! Bertelanjang dada seperti itu dan memperlihatkannya kepadaku-"
"Siapa yang memperlihatkannya kepadamu?! Kau yang masuk ke penginapan kami tanpa mengetuk pintu dan-"
"Bagaimana aku mengetuk pintu jika pintu kamar kalian saja terbuka lebar!" Yugito menunjuk pintu kamar Naruto dan kedua pengawalnya yang memang terbuka "Makanya aku langsung bisa melihat pemandangan erotis ini!"
"Apanya yang erotis?! Aku hanya diurut dua om-om ganteng yang masih perjaka-ADUH! Ke-kenapa kau memukul kepalaku Utakata?! U-UTAKATAAAA! HAKU, JANGAN MENENDANG KEPALA UTAKATA SEPERTI TURNAMEN SEPAK BOLA SAJA, ITU KEPALA BUKAN BOLA!"
Yugito melihat keributan itu dengan wajah sweatdrop. Dia memandang sosok tampan bersurai kuning di hadapannya sedang melerai dua pengawalnya sehingga sosok bermata biru itu juga dihajar tanpa sengaja oleh dua pengawalnya.
'Bisa-bisanya aku kalah dengan orang seperti dia…' batin Yugito geram.
"Bisakah kalian hentikan pertikaian bodoh ini?!" Naruto mendorong wajah Haku untuk menjauhi Utakata. Utakata yang sudah menggeram marah berusaha menghajar Haku di sela-sela punggung Naruto yang menahannya. Naruto berbalik dan mendorong tubuh Utakata agar menjauh dari Haku. Tanpa sengaja Haku terkena lengan Naruto dan jatuh ke bawah. Tangan pengguna Hyouton terakhir itu secara reflek memegang celana Naruto saat terjatuh dan melorotkannya sehingga terpampanglah Yondaime Uzukage yang penuh kharisma nan bijaksana itu hanya memakai celana pendek berwarna hijau tua dengan corak polkadot merah.
"Haku…" Utakata menelan ludahnya "Aku minta maaf…aku ke warung dango sebentar…" Utakata membungkukkan badannya lalu berjalan menuju pintu.
"Aku juga minta maaf Utakata. Aku juga mau ke warung dango, kutraktir kau di sana…" Haku berjalan tegap dan bersiul pelan sambil memandang ke langit. Sementara Yugito ternganga dengan wajah memerah seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci. Naruto menggelemetukkan giginya dan menggerakkan handseal dengan cepat.
"Fuinjutsu: Jigoku no Rando-"
"AMPUN UZUKAGE-SAMAAAAAAAA!" teriak kedua pengawalnya sambil melompati pagar teras hotel bak kera. Keduanya berlari meninggalkan hotel dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan asap di jalan Kumogakure.
Naruto tersenyum kecut ke arah Yugito. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"I-ini…Ini Fashion, nona…"
"FASHION APANYA HENTAI BODOH!"
.
.
.
Naruto tidak mengerti sama sekali wanita. Ya, dia sangat tidak mengerti mahluk dengan berkah dua gunung di dadanya tersebut. Sifatnya, kesukaannya, maupun ciri khasnya. Beribu-ribu Fuinjutsu yang telah dia pelajari, tetapi hanya wanita-lah yang bisa membuatnya pusing.
Sekarang, dan saat ini, ketika dirinya sedang memasang celana hitam shinobi serta jaket tebal berwarna orange gelap di tubuhnya, wanita yang dikalahkannya dalam beberapa detik mengajaknya tanding ulang. Naruto melilitkan syal merah ke lehernya dan membenarkan wig kuningnya. Mata birunya yang bagai berlian biru ditimpa sinar mentari menatap sekali lagi wajah cantik dan tegas itu. Naruto punya pendapat sendiri soal wanita setelah dia melihat berbagai macam karakter wanita yang ditemuinya. Shion…Mei Terumi…dan sekarang Yugito.
Semua wanita itu merepotkan. Bisa jadi-bisa jadi…
"Ayo, aku ingin tanding ulang denganmu!"
"Kenapa harus tanding ulang?"
"Kau terus bertanya apa dan kenapa? Bisa tidak cowok sepertimu tidak bertanya dengan dua kata standar Tsukkomi itu?!"
Naruto menaikkan alisnya. Dia berjalan mendekati Yugito sambil memasukkan kedua tangannya di kantong jas jaket tebalnya. Naruto melewati Yugito tanpa melirik ke wanita cantik tersebut. Yondaime Uzukage menatap langit kumo yang dijatuhi salju lembut. Safirnya sedikit bergetar pelan.
"Ayo kita ke kedai ramen. Aku sedang ingin makan ramen…"
Mata Yugito membulat. Dia nampak terkejut dengan ajakan Naruto.
"Kutraktir deh-"
"BU-BUKAN MASALAH TRAKTIR ATAU TIDAK! AKU MENGAJAKMU UNTUK BERTARUNG BUKAN UNTUK MAKAN SIANG BERSAMA, PRIA HENTAI!"
"Aku lapar…" Naruto berbalik menghadap ke arah Yugito dan menghela napas seperti orang kelelahan. Yugito memasang wajah cemberut yang bagi Naruto tampak imut.
"Helaanmu seolah-olah mengatakan aku adalah wanita yang merepotkan!"
Memang…batin Naruto sambil melirik ke arah lain. Sang Uzukage kembali menatap Yugito dan berusaha menampilkan senyuman menawannya yang terbaik.
"Iya iya…aku mengaku kalah dalam pertarungan kita tempo dulu. Itu hanya…emm apa ya, ya…" Naruto menjetikkan jarinya "…Itu hanya keberuntunganku karena berhasil membuatmu pingsan dalam satu pukulan. Atau kau pasti kelelahan karena perjalanan jauh menuju desamu. Ah ya, pasti yang kedua…benar kan Nona Yugito-"
Duakh! Naruto terjengkang ke belakang hingga punggungnya menabrak tepi pagar teras hotel. Naruto mengusap hidungnya yang berdarah akibat pukulan ganas dari Jinchuuriki Matatabi tersebut. Safirnya memandang datar Yugito yang berdiri di hadapannya dengan tangan kanan terkepal.
"Ba-baka! Kata-katamu seolah-olah membuatku seperti orang lemah! Aku…aku benci dirimu, benci dirimu!" Yugito menggelengkan kepalanya. Dia langsung berlari menuruni tangga dan keluar dari hotel dengan wajah kesal. Naruto jatuh terjengkang dan sweatdrop sambil membayangkan senyuman Shion.
'Apa semua wanita sepertimu, Ratu Elegan…atau seperti wanita itu?'
Naruto bangkit berdiri sambil mengibaskan jaket tebalnya perlahan. Saat dia menutup pintu kamar hotelnya, Yugito kembali sambil melipat kedua tangannya dengan wajah memerah dan cemberut. Naruto menaikkan alisnya perlahan.
"A-ayo kita makan ramen…baru setelah itu membahas pertarungan ulang denganmu," Yugito memalingkan wajahnya dari tatapan Naruto "A-aku yang traktir, karena telah membuatmu repot…"
Naruto berkata "Heh…" pelan dan tersenyum tipis.
Mahluk bernama wanita memang menarik. Dan susah diprediksi.
.
.
.
Uzumaki Naruto menegak kuah ramen keduanya dengan penuh nikmat. Dia meletakkan sumpit-nya rapi di atas mangkok dan mengelap mulutnya menggunakan tisu yang sudah disediakan. Naruto melirik sebentar ke arah Yugito. Yugito yang ketahuan memperhatikan Naruto dengan gesit kembali menatap ramen-nya dan memakannya dengan cepat hingga tersedak. Naruto mengerutkan alisnya, lalu memberikan Yugito segelas air putih. Yugito mengambil air tersebut dan menegaknya hingga bersuara lega. Dia meletakkan gelas tersebut di meja kemudian kembali melahap ramennya. Merasa ditatapi, Yugito melirik ke arah Naruto. Uzumaki muda itu sedang menatapnya dengan senyuman yang menawan sambil bertopang dagu di meja. Yugito menyemburkan ramen yang ada di mulutnya ke wajah Naruto.
(Beberapa menit kemudian…)
"Haah…maaf,"
Yugito dan Naruto kini sedang berjalan-jalan di jalanan Kumo yang cukup ramai. Keduanya berjalan berdampingan di mana Naruto berjalan sambil memasukkan kedua tangannya di kantong jaketnya sementara Yugito meletakkan kedua tangannya di belakang punggung.
"Aku jarang berbicara dengan laki-laki kecuali bersama Raikage-sama, A-sama dan Bee-sama. Yang lainnya tidak ada. Entah kenapa kalau berbicara dengan mahluk bernama pria membuatku gugup."
"Tetapi kau berani menantangku waktu malam itu…" Naruto mengingat Yugito yang mencurigainya dan sang Uzukage tersenyum tipis mengingat hal tersebut. Yugito berdehem pelan.
"Aku tahu saat momen di mana pembicaraan dengan pria itu adalah pembukaan pertarungan. Tetapi berbicara biasa seperti ini…berbicara biasa denganmu membuatku gugup."
"Hmmm..." Yondaime Uzukage tersenyum memandang permen kapas yang dijual seorang penjual tua di dekat Taman Kumo. Penjual tua itu menjajakan permen kapasnya kepada anak-anak dengan senyuman tulus.
"Kau mau itu, Yugito?"
"Eh?!"
"Berarti kau mau…ayo!" Naruto menarik tangan Yugito dan membuat Yugito kebingungan dengan sikap sang Uzukage. Bukankah rencana mereka sehabis makan ramen adalah akan bertarung?!
"Permen kapas dua Oji-san…" kata Naruto lembut. Penjual ramen itu terkekeh dan mengambil dua permen kapas di tempat dagangannya lalu memberikannya kepada Naruto. Naruto melepaskan pegangan tangannya dari tangan Yugito dan mengambil kedua permen kapas tersebut dengan kedua tangannya.
"Berapa Oji-san?" Tanya Naruto sambil tersenyum khas.
"Sudah…aku berikan spesial untuk dua pasangan yang sangat cocok seperti kalian. Memakan permen kapas bersama-sama di tengah turunnya salju memang sangat romantis…" kakek tua itu menyentil rambut kuning Naruto "Kau benar-benar pria yang tahu mengambil kesempatan, Gaki…"
"E-eh, apa sih Oji-san?" Naruto tertawa "Ya sudah, terima kasih Oji-san…"
Sang penjual tua tertawa. Dia menatap salju yang turun dengan lembut di Kumogakure.
"Hahaha…aku jadi teringat momen bersama istriku di musim dingin Kumo…kami juga makan permen kapas saat salju turun di jalanan ini. Benar-benar momen yang indah ya, anata…" kata kakek tua itu dengan suara pelan. Dia nampaknya membayangkan momen-momen itu di kepalanya. Naruto tersenyum dan memberikan Yugito permen kapas di tangan kanannya. Yugito menerima permen kapas itu sambil menundukkan kepala.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara keduanya. Naruto nampaknya sedang berkonsentrasi menghabiskan permen kapasnya hingga sedikit melupakan keberadaan Yugito. Yugito sendiri masih berjalan dengan kepala tertunduk dan tangan kanan yang memegang permen kapas teracung mendatar ke depan. Setelah selesai menghabiskan permen-nya, Naruto membuang pegangan permen di tempat sampah (Naruto tidak lupa pada etika lingkungan, ditiru ya anak-anak) dan menoleh ke arah Yugito yang masih dalam pose sama.
"Yu-Yugito? Kau kenapa?" Tanya Naruto khawatir. Yugito tidak menjawab. Dia masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kau tidak suka permen kapas ya?" Naruto menghela napasnya perlahan "Kenapa tidak bilang," Naruto mencomot sedikit permen kapas Yugito dan menatapnya lembut. Yugito mengangkat kepalanya. Jelas terlihat pipinya sangat amat kemerahan. Jujur. JUJUR. Yugito berteriak di hatinya. JUJUR! JUJUR BARU KALI INI DIA DIPERLAKUKAN SEPERTI SEORANG ERR, WANITA!
Yugito sejak dulu hanya menganggap dirinya sebagai shinobi Kumogakure. Shinobi yang setia kepada desanya dan siap melindungi desa dari apapun. Gelar "Jinchuuriki" yang dia dapatkan adalah bukti nyata bahwa dia rela berkorban demi desa. Dirinya yang yatim piatu sejak kecil dan diasuh serta dilatih oleh Sandaime Raikage hanya menganggap laki-laki itu adalah orang yang patut dia patuhi. Yugito tidak terlalu mengenal dekat orang-orang di sekitarnya. Dia hanya berbicara kepada Raikage ketiga, A dan Bee sebagai pembicaraan misi dan misi. Yugito, kau ada misi kali ini. Misi apa itu. Misi ini…bagaimana jika misi ini dan pembicaraan sejenis seperti itu. Bagi Yugito, yang penting adalah desa. Yang terpenting adalah keamanan dan kedamaian Kumogakure. Dia telah membuang sifat kewanitaannya dan siap membunuh siapapun yang berani mengotori Kumogakure walau sedetik debu sekalipun.
Tetapi pria muda di hadapannya ini…
"Kena kau!" Naruto memasukkan bagian permen kapas yang dicomotnya tadi ke mulut Yugito. Mata Yugito membulat terkejut. Naruto tertawa pelan dan mengibaskan tangan kanannya dengan angkuh.
"Lihat, ternyata pilihanku tidak salah. Kau memang suka permen kapas Yugito…kau hanya terlalu banyak berpikir tentang desa ini," Naruto menutup matanya dengan tenang "Seharusnya sebagai wanita, bersenang-senanglah sebagai seorang wanita…kau pasti perlu pacar agar visi hidupmu bisa beruba-"
DHAAAAAARRRHHH! Ya, Yugito benci pria. Mereka seenaknya berbicara setelah berhasil membuat para wanita memerah.
Sementara Haku dan Utakata yang mengintip dari balik pohon hanya terkikik kecil. Haku mengusap matanya yang berair karena tertawa melihat gaya sang Uzukage.
"Apa kau pernah berpikir kalau Uzukage-sama seharusnya mempunyai puluhan istri?"
Utakata yang tertawa langsung terdiam.
"Err, Naruto-san pernah curhat kepadaku jika dia melakukan itu, Shion-sama akan meramal dan mengutuknya hingga menjadi bangkai Homo yang mati dimakan ulat pohon banci…"
Haku berhenti tertawa juga.
"Ehehe…Kejam ya." Haku memandang Uzumaki Naruto yang berlari-berlari dikejar Yugito sambil diteriaki "PERTARUNGAN KITA DIMULAI NARUTO HENTAI! JANGAN LARI SEPERTI BANCI SIALAN!". Haku tersenyum. Tersenyum sangat manis.
"Aaa…aku tahu kenapa Uzukage kita disukai para wanita," Haku menatap tawa tulus dari sang Uzukage "Dia adalah suami yang hebat dan baik untuk istrinya. Naruto-sama adalah sosok suami idaman semua wanita…"
~TU~
Yugito memandang matahari sore dengan tatapan sendu. Dia melipat kedua kakinya dan menghela napas lelah. Kini sang Jinchuuriki Nibi duduk bersama sosok pria menawan yang berhasil membuat hatinya di hari ini…ehem…sangat senang.
"Kau sengaja mengajakku makan, berjalan-jalan dan bersantai di taman ini hingga sore untuk menghindari pertarungan kita kan?"
Naruto tidak menjawab. Dia hanya memandang tenang matahari sore yang nampak memukau di balik pegunungan Kumo.
"Kau sudah merencanakan ini kan, Yondaime Uzukage?"
Naruto menoleh ke arah Yugito dengan wajah datar. Safirnya masih memperlihatkan ketenangan yang memukau bagi Yugito.
"Ya. Maafkan aku Yugito. Aku tidak sanggup jika melukai wajah cantikmu…" mata Yugito melebar mendengar kata-kata sang Uzukage. Apalagi wajah pemimpin Uzu itu diterpa sinar jingga sore yang membuatnya seperti pemuda berkulit emas yang berharga. Hembusan angin musim dingin tidak terlalu membuat Yugito menjadi dingin karena hatinya sudah dihangatkan oleh tatapan menenangkan sang Uzukage.
"Wanita adalah mahluk Tuhan yang paling baik diciptakannya, hasil maha karya yang tak akan bisa dihitung dengan angka-angka dan kata-kata…" Naruto kembali memandang sinar sore mentari "Jadi kau sudah tahu identitasku ya…"
"Aku menanyakannya kepada Raikage-sama."
"Heh…" Naruto tertawa geli. Yugito menaikkan alisnya. Dia memandang tajam Naruto.
"Apanya yang heh?"
"Raikage-sama mengatakan kepadaku, kau masih saja kaku…"
Mata Yugito membulat perlahan. Kaku? Maksudnya?
"Raikage-sama menceritakan kepadaku tentang masa lalumu. Orang tuamu meninggal saat insiden pertama Hachibi. Parahnya, ibumu adalah Jinchuuriki Nibi. Kejadian tersebut membuat para tetua dan semua personil ninja Kumo menjadi khawatir jika ibumu berada dalam titik terendah kesadarannya, maka Matatabi akan keluar dan mengamuk bersama Gyuuki di Kumo. Menangani dua Bijuu bukanlah pekerjaan yang mudah bukan?"
Yugito menunggu kelanjutan kata-kata Naruto. Sang Uzukage mengetuk-ngetuk pinggiran kursi taman yang dia duduki dengan jari telunjuk tangan kanannya. Sementara salju sudah berhenti turun.
"Dengan keputusan cepat, ibumu yang sekarat akibat serangan Hachibi meminta Sandaime Raikage menyegel Matatabi di tubuh anaknya, yakni Yugito-Nii untuk menjadi Jinchuuriki Nibi selanjutnya. Raikage-sama sebenarnya menolak, tetapi ibumu memaksa sang pemimpin Kumo agar memenuhi permintaan terakhirnya. Ibumu juga memberikan amanah khusus kepada Raikage-sama…" ketukan jari telunjuk Naruto agak sedikit pelan "Jagalah anakku…latihlah dia menjadi ninja Kumo terbaik. Aku percayakan kepadamu, Sandaime Raikage-sama…" Naruto memandang Yugito. Perempuan bersurai pirang itu menatap Naruto dengan mata membulat dan air mata yang mengalir di pipi.
"…Dan berikan kasih sayang orang tua kepadanya. Kalau dia kaku terhadapmu, berusahalah melenturkannya, Raikage-sama."
Mata Yugito membulat. Dia tidak pernah mendengar cerita tentang pesan terakhir ibunya dari Sandaime Raikage. Yugito menutup mulutnya. Kesedihan membanjiri hatinya dan membuat isakan sang gadis Nibi menemani sore Kumo yang indah.
"Raikage-sama tidak ingin menyampaikan pesan ibumu karena takut akan membuat hatimu sedih." Naruto mengusap pelan air mata di pipi Yugito "Raikage-sama tidak hanya menganggapmu seorang Shinobi Kumo yang digunakan untuk melindungi desa, Yugito…Raikage-sama ingin kau menganggapnya sebagai orang tua, orang tua yang memberikanmu kasih sayang dan menjadikanmu bukan hanya menjadi seorang ninja yang hebat…" Naruto mengangkat dagu Yugito dengan tangan kirinya dan mengusap air mata di dagu tersebut. Tangan kanan sang Uzukage mengusap air mata di pipi kiri Yugito perlahan.
"…Tetapi juga wanita yang kuat!" kata Naruto dengan nada menyemangati. Yugito terisak pelan. Dia tidak mampu berbicara. Langsung saja, wanita itu memeluk erat Naruto dan hanya mampu mengucapkan satu kata kepada Uzukage muda itu.
"Arigatou…hiks…hiks…"
Naruto mengusap kepala Yugito dan tersenyum tipis. Yugito berusaha mengucapkan kata-kata berikutnya, walaupun kata-kata itu meluncur berat dari pita suaranya.
"Terima kasih sudah menyadarkanku…hiks…Raikage pasti sedih karena aku hanya menganggapnya sebagai Raikage…a-aku…"
"Sudah. Beliau pasti mengerti Yugito…" kata Naruto menenangkan. Tiba-tiba terdengar bunyi poff pelan dan muncul Michiru dengan sikap hormat yang penuh khidmat.
"Anda pasti dibunuh Shion-sama, Naruto-sama…" gumam Michiru, yang langsung membuat Naruto jatuh sweatdrop dengan keringat dingin sebesar biji jagung.
"Ada apa Michiru?" Tanya Naruto datar. Michiru menganggukkan kepalanya.
"Hachi bersama 4 Uzumaki lainnya sudah datang dari Negeri Iblis. Laporannya akan dilakukan di kantor Raikage. Sandaime Raikage bersama orang penting Kumo sudah menunggu anda di kantornya, Uzukage-sama…"
Naruto bangkit perlahan dan melirik ke arah sebuah pohon di sisi kiri taman.
"Utakata, Haku…ayo pergi ke sana!"
GUBRAK! Kedua pengawal Yondaime Uzukage jatuh terkejut dengan wajah pucat pasi. 'Ketahuaaan…' batin keduanya kacau.
"Michiru, bersama Uzumaki Shiina si resepsionis hotel tempat aku menginap, tolong kalian berdua cari informasi tentang para Uzumaki. Di desa ini maupun di luar Kumo."
"Hai' Uzukage-sama!"
"Yugito, ikut kami ke kantor Raikage…" safir Naruto menajam "…Kita akan menyelamatkan istriku dari cengkraman para iblis!"
Yugito mengangguk pelan. Entah kenapa, mendengar Naruto mengatakan tentang istrinya membuat Yugito sedikit kecewa, tetapi dia ingin berbalas budi kepada Naruto dengan caranya sendiri.
~The Uzukage: The Rise of Uzushiogakure~
Naruto memberi salam hormat kepada Darui dan C yang lebih dulu membungkukkan badannya dengan khidmat. Naruto duduk di meja persegi besar berukuran 10 kali 10 meter tersebut. Dia duduk tepat di hadapan gurunya, Sandaime Raikage yang tersenyum ke arahnya. Naruto membalas senyuman Raikage. Dia menatap sekeliling ruangan tersebut untuk melihat orang-orang di Kumo yang hadir di sini. Selain Raikage, ada A (anak Raikage Ketiga), Killer Bee, Darui, C dan seorang wanita manis berambut abu-abu yang seksi bernama Mabui. Mabui duduk di samping kiri Raikage. A duduk di samping kanan ayahnya. Bee duduk di samping kanan A dan Darui serta C berdiri mengawal di belakang kanan-kiri Raikage ketiga. Perwakilan dari Uzushiogakure adalah dirinya sendiri, Hachi yang duduk di samping kanannya dan Utakata-Haku yang berdiri tegak di belakang kanan-kirinya dalam diam. Yugito sendiri masih kebingungan dengan posisinya saat ini. Naruto melirik ke arah Raikage dan sang Kage ketiga Kumo mengerti dengan lirikan muridnya.
"Silahkan duduk anakku…apakah Naruto sudah mengatakan kepadamu untuk jangan menjadi wanita kaku?"
A dan Bee tertawa lepas mendengar kata-kata sok imut dari ayah mereka, yang mana keduanya langsung digeprak kepalanya oleh Raikage. Naruto terkekeh pelan. Sang Uzukage memandang Yugito yang masih kebingungan dengan posisinya saat ini.
"Duduklah, Yugito…" kata Naruto lembut. Yugito memiringkan kepalanya sedikit dan langsung duduk di samping kiri Naruto. Sang Uzukage menegakkan duduknya dan menoleh ke arah Hachi untuk pelaporannya.
"Ba-baiklah…" Hachi menghela napas dan matanya bercahaya serius "Langung saya buka saja…pelaporannya akan saya paparkan langsung dari Negeri Iblis. Di sana saya punya dua informasi penting untuk disampaikan, sesuai perjanjian antara Kumo dan Uzu untuk berdamai, informasi ini akan disampaikan di hadapan Uzukage-sama dan Raikage-sama sebagai salah satu implementasi perjanjian tersebut." Hachi berdehem pelan, berusaha membersihkan tenggorokannya.
"Emm yang pertama, mungkin Raikage tahu sendiri…beliau bersama Sandaime Kazekage pernah datang ke Negeri Iblis untuk menahan dan mengancam Negeri Iblis agar tidak ikut campur semenjak dihancurkannya Uzushiogakure. Benar begitu, Raikage-sama?"
"Tepat." Mata Raikage menyipit tajam "Kazekage-danna langsung berinisiatif mengancam Negeri Iblis agar tidak ikut campur urusan 5 desa besar apalagi membalas dendam kematian Ratu mereka. Padahal perjanjian pertama kami adalah hanya mengatakan kepada Negeri Iblis soal Ratu mereka dan hanya menahan pergerakan Negeri tersebut, bukan mengancamnya…"
"Jadi Kazekage bertindak secepat itu untuk pencegahan ya…kau pasti tidak dapat protes kan, sensei?" Naruto memiringkan kepalanya, berusaha mendapatkan ekspresi dari gurunya yang berkulit hitam tersebut.
"Orang itu berbahaya," Raikage menganggukkan kepalanya "Jika aku langsung menahan ide tiba-tibanya di situ, maka kami pasti akan bertarung di ruangan tetua Negeri Iblis saat itu. Sandaime Kazekage lebih kuat daripada Shimura Danzo, Uzukage-sama…"
Naruto mengangguk serius "Aku paham posisimu saat itu Raikage-sama. Jadi, apa yang diambil para tetua Negeri Iblis, Hachi?"
Hachi menatap semua orang yang ada di sana, berusaha mendapatkan momentum untuk kata-kata selanjutnya. Gendang telinga Hachi dapat mendengar ketukan berirama dari jari telunjuk Yondaime Uzukage yang sangat pas dengan suasana ruang rapat tersebut.
"Mereka menerimanya. Mereka tahu, melawan Sunagakure saja susah…apalagi 5 desa besar."
"Aku memperkirakan hal tersebut," Naruto menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. Tangan kanannya menopang dagunya di pegangan kanan kursi. Wajah Darui mengernyit sedikit melihat gaya tenang nan angkuh Yondaime Uzukage, tetapi Sandaime Raikage sudah memberitahu bahwa Uzumaki Naruto punya trik sendiri untuk menguasai suasana suatu rapat.
"Nah, bagaimana respon mereka saat kita mengabari soal ratu mereka dan status Yondaime Uzukage yang masih hidup?" Tanya Naruto pelan.
"Mereka terkejut. Fakta itu mengejutkan para tetua Negeri Iblis. Sesuai instruksimu Uzukage-sama, saya menawarkan mereka untuk bekerja sama dengan Uzushiogakure…kabar baik, mereka menerimanya."
Naruto langsung menatap tajam gurunya. Sandaime Raikage terdiam. Uzumaki Naruto dengan baik hati membantu desanya mengatasi Hachibi, bahkan muridnya memaafkannya dengan tulus. Ketukan Naruto berhenti. Sang Uzukage mengangguk perlahan.
"Kami punya personil yang cukup banyak dan kuat, Raikage-sama. Desamu secara geografis berada dekat dengan dua desa terkuat di elemental dunia Shinobi…Konoha dan Suna. Jika keduanya bersatu dan menyerang Kumo…" mata berlian biru Naruto menajam "Kumo pasti hancur."
"Jangan sembarangan berkata, Uzukage-sama. Dengan segala hormat, kami para ninja Kumo-"
"A, hentikan!" Raikage memandang tajam muridnya "Apa yang kau rencanakan nak? Kekhawatiran 5 desa besar bukan hanya kekuatan Fuinmu, Sumi-Kyo-mu ataupun Gerbang Saiken itu sendiri…kekhawatiran kami dulu juga terletak pada susunan rencana politik cerdas yang sering kau rancang untuk pengembangan Sumber Daya Uzu. Apa yang kau pikirkan?"
"Simpel saja…" Naruto berdiri tegak "Jika perkiraanku tepat, maka Oonoki-jiji dan Kazekage ketiga sudah mulai bergerak. Jika mereka tahu aku masih hidup dan dilindungi di sini…Iwa dan Suna kemungkinan bekerja sama menyerang Kumo, sensei…"
"Apa Kazekage akan memberitahu Yondaime Hokage, si Shimura Danzo?"
Naruto memandang kaca jendela Raikage yang nampak menampilkan pemandangan indah. Sang Uzukage tidak tersenyum. Yugito terpana dengan aura yang dikeluarkan Naruto. Inilah sisi lain yang Yugito lihat dari pria 'hentai bodoh' yang tadi mengajaknya jalan-jalan di Kumo…aura seorang pemimpin yang pekat.
"Entahlah…jika Kazekage memberitahu Danzo," Naruto meneguk ludahnya dan memandang khawatir gurunya.
"Perang Dunia Shinobi Keempat akan segera terealisasikan!"
Semuanya nampak tegang di ruangan itu.
.
.
.
15 Desember, Sunagakure
Kazekage ketiga tersenyum tipis. Kabar baik dan buruk untuknya. Dia menyuruh ninja yang menjadi mata-mata di Kumo untuk kembali ke desa petir melanjutkan tugasnya. Sang Kazekage berdiri dari kursi Kage-nya dan memandang tiga patung Kazekage di ruangan kantor pemimpin Suna tersebut. Para tetua menelan ludah dan mulai protes soal berita mencengangkan tersebut. Kazekage mengangkat tangannya, yang langsung membuat seluruh tetua di sana terdiam.
"Tenang semua…" Kazekage ketiga tersenyum tipis "Berita hidupnya Yondaime Uzukage masih harus kita pastikan. Aku yang akan memeriksanya sendiri!"
"Ta-tapi bagaimana anda memeriksanya Kazekage-sama?" Tanya salah seorang tetua dengan nada khawatir.
"Jika Gerbang Saiken masih menyala di reruntuhan Uzu, maka Uzumaki Naruto masih hidup. Jika tidak…kita bersyukur kalau mata-mata itu salah." Kazekage ketiga menyeringai tipis "Tetapi aku malah bersyukur pemimpin muda itu masih hidup. Dunia ini, tanpa sosok seperti dirinya…dunia ini akan menjadi ladang kebosanan yang tidak menggairahkan. Kembalinya Uzukage keempat membuatku senang."
"Ka-Kazekage-sama…" para tetua Suna nampak sedikit ngeri dengan Killeng Intens yang dikeluarkan Kazekage mereka. Seorang tetua mengangkat tangannya dan memberikan usulan.
"Apa kita harus memberitahu Iwa dan Konoha?"
Semuanya terdiam, lalu berdiskusi. Ada yang setuju memberitahukan informasi tersebut kepada dua desa itu, ada juga yang tidak setuju.
"Aku memilih lebih baik hanya kita yang mendapatkan informasi ini…"
Semuanya memandang cepat ke arah Kazekage ketiga. Rasa, seorang pemuda pengendali pasir emas yang duduk di pojok kanan meja memandang cepat mentor jutsunya tersebut. Dia juga menunggu keputusan dari penguasa Suna yang memiliki pemikiran tajam. Kazekage ketiga memandang datar semua tetua dengan tatapan bercahaya senang.
"Sesuai informasi yang kita dapatkan, Shion-sama sedang berada di Iwagakure, Uzukage keempat sedang berada di Kumogakure. Memutuskan memberitahu Iwa akan berdampak pada hubungan kita dengan Iwagakure. Aku tahu Oonoki bukanlah tipe orang yang ingin membunuh seorang wanita, apalagi kudengar wanita itu adalah istri dari Uzumaki Naruto, bocah Uzumaki yang katanya dekat dengan orang tua sakit punggung itu. Jika dia tahu bahwa Uzumaki Naruto masih hidup dari kita, maka dia tahu aku pasti akan meminta Shion-sama ke desaku untuk dibunuh!" semua tetua terkejut mendengar pernyataan panjang Kazekage. Sang Ratu Negeri Iblis akan dibunuh jika dibawa ke Suna?!
"Ya, karena jika menghilangkan Shion-sama, maka mau Uzumaki Naruto itu hidup atau tidak, cahaya Gerbang Saiken akan menghilang…" kata Rasa tenang. Semuanya memandang Rasa. Kazekage tersenyum mendengar penjelasan dari Rasa. Nampaknya yang sedikit berotak di ruangan ini hanya pemuda bersurai coklat yang duduk di pojok meja rapatnya. Kazekage ketiga kembali duduk dan terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar dingin.
"Bisa jadi jika kepergianku ke Iwa akan ketahuan oleh pihak Kumo yang kini sepertinya melindungi Uzumaki Naruto. Maka jika itu terjadi, secara tak langsung aku akan menantang dua desa besar untuk melawan Suna." Kazekage meremas jari-jarinya perlahan "Nah, soal memberitahu Danzo lebih parah lagi…"
"Maksudnya Kazekage-sama?!"
"Dia adalah orang yang menggagas penghancuran Uzu. Aku sebenarnya tidak setuju dengan gagasan itu, tetapi menilik tujuan akhir dari penghancuran Uzu, aku tahu bahwa dia ingin menjadikan Konoha satu-satunya desa terkuat di elemental Dunia Shinobi. Keh…aku yang mempunyai ambisi sama seperti dirinya mana bisa membiarkan hal tersebut terjadi, makanya aku ikut dalam rencana 5 desa dengan latar belakang Gerbang Saiken itu." Semuanya terdiam menunggu omongan pemimpin mereka, Kazekage melanjutkan kata-katanya sambil matanya terus menatap semua wajah yang hadir di rapat tersebut "Dengan menghancurkan Uzu, maka desa dengan kekuatan Fuin paling mengerikan berhasil dibinasakan…tinggal 4 desa lainnya yang harus ditaklukkan, pasti seperti itu yang ada di pikiran Danzo." Kazekage ketiga menyeringai "Dan itu juga yang ada di pikiranku, rencana besar kami ternyata sama!"
"Jika kalian mempunyai gagasan yang sama, kenapa-"
"Jika Danzo tahu bahwa Uzumaki Naruto masih hidup, dia tanpa pikir panjang akan menggabungkan semua kekuatannya dan mengajak Suna untuk menyerang Uzu karena tahu keberadaan Uzumaki Naruto sangat berbahaya untuk kedudukannya di Konoha. Hal tersebut membuat desa kita bersama Konoha akan melawan 3 desa sekaligus…Kumo, Iwa dan…Kiri!"
"Kiri?!" para tetua tercengang. Rasa sedikit terkejut dengan fakta yang dibeberkan Kazekage. Sementara sesosok pemuda tampan dengan mata sayu bersurai merah hanya tersenyum tipis di kegelapan ruangan tersebut.
"Informasi ini kudapatkan 3 hari lalu, dari Shimura Danzo…dia sepertinya percaya Suna akan bekerja sama dengan Konoha jika sesuatu di luar rencananya terjadi," Kazekage ketiga berhenti sejenak "Dan kemungkinan Suna adalah target terakhir yang akan Danzo hancurkan…ehm, baiklah, kembali ke topik utama soal Kiri. Tiga hari lalu aku mendapatkan informasi dari Danzo bahwa rezim Yagura sudah hancur oleh pemberontak desa mereka sendiri. Seorang lulusan Anbu Ne yang Danzo kirim ke sana bernama Harate Maru juga tewas di Kiri. Penggulingan yang dilakukan organisasi pemberontakan bernama Rebellion secara sistematis berhasil mengalahkan Yagura dan segala pasukan pro-dirinya. Yang memimpin Kiri sekarang adalah pemimpin para pemberontak tersebut, yakni seorang wanita bernama Mei Terumi…" mata Kazekage bersinar senang "Dan jika hipotesis-ku tepat, Shion-sama saat itu kita tinggalkan di Kiri dan jika Uzumaki Naruto masih hidup saat itu, dia mempunyai dua tujuan di Kiri, yakni menyelamatkan Kiri dari rezim Yagura serta menyelamatkan istrinya. Nah, Yondaime Uzukage pasti membantu Rebellion memenangkan pemberontakan tersebut! Hehehe…dan jika itu benar, Mizukage kelima secara tidak langsung sudah bersekutu dengan Uzumaki keparat itu…"
"T-tapi bukankah Suna dan Konoha memiliki shinobi-shinobi yang lebih hebat dari orang-orang di ketiga desa itu Kazekage-sama?!" Tanya seorang tetua yang mulai ketakutan dengan fakta yang dia dengar. Kazekage mengangguk setuju.
"Jika Danzo tahu, ya…dia pasti mengajak kita melakukan hal tersebut dan kekuatan Konoha-Suna sudah sebanding dengan 3 desa lainnya, apalagi saat ini Kirigakure masih belum stabil. Aku bisa saja memberitahu Danzo soal hidupnya Uzumaki Naruto dan menyetujui bergabung dengan Konoha untuk menyerang Kumo yang melindungi Uzumaki Naruto, masalahnya…" mata Kazekage menajam
"…Aku tak tahu apakah Godaime Mizukage yang baru sudah mengkonfirm Daimyo Negara air soal status dirinya sebagai pemimpin Kiri yang baru. Jika belum, kita bisa langsung menyerang Kumo…jika sudah, kita tidak akan memberitahukan Danzo soal kabar Uzumaki Naruto yang terbaru…" Rasa menahan napasnya, nampaknya pemikiran Kazekage sudah mencapai akhir kesimpulan dan keputusannya "Jika kita bersama Konoha menyerang Kumo dan Kiri tahu hal tersebut, di mana Daimyo Negara Air pasti mengawasi transisi perpindahan Mizukage yang tiba-tiba, maka Daimyo akan tahu bahwa Konoha dan Suna sudah mencetuskan perang, Daimyo Negera Air akan menghubungi 4 Daimyo lainnya dan hal yang mengkhawatirkanku akan terjadi…"
Rasa menelan ludahnya. Kata-kata Kazekage bagai mesin ketik yang mengarang cerita peperangan mengerikan di masa depan.
"Perang Dunia Shinobi Keempat akan terjadi di mana bukan hanya 5 desa besar yang terlibat, tetapi 5 Negara dan desa-desa kecil di sekitar Negara tersebut, dan ini akan menjadi perang terburuk sepanjang sejarah Dunia Shinobi!"
Semuanya nampak tegang di ruangan tersebut, bahkan Kazekage Ketiga sekalipun.
.
.
.
15 Desember, Istana Daimyo Negera Air
"Jadi kau Mizukage yang baru?"
Mei Terumi menganggukkan kepalanya. Daimyo Negeri Air menatap wanita cantik itu dengan pandangan meneliti dan menilai. Perubahan pemimpin di Kiri akan mempengaruhi kekuatan Negara Air sendiri. Daimyo tidak peduli siapa pemimpinnya, tetapi dia hanya ingin memastikan pemimpin tersebut tidak berkhianat kepada Negara Air.
"Baiklah Godaime Mizukage, terima kasih atas laporannya…juga soal kematian Yagura-sama. Kau bertindak dengan baik, tetapi kau tahu kan bagaimana para Daimyo akan melakukan sesuatu saat masa transisi para pemimpin Kiri?"
'Aku akan diawasi.' Batin Mei tenang. Dia kembali menganggukkan kepala mengerti arti perkataan pemimpin Negara Air tersebut.
'Mungkin ini tindakan pencegahan yang harus kulakukan…' batin Mei 'Nah…jika status Naruto ketahuan desa besar lainnya, apa yang akan kalian lakukan ketika tahu bahwa Kiri akan menyokong Naruto sekaligus diawasi Daimyo…' Mei menatap simbol air di mahkota Daimyo. Dia hanya berharap dokongan politik skala besarnya ini akan membantu sang pahlawan Kiri.
.
.
.
15 Desember, Iwagakure
Oonoki bersandar di kursi empuk anti-encoknya dengan wajah berpikir. Yondaime Uzukage masih hidup. Baiklah, 4 kata yang singkat dan jelas…tetapi menimbulkan sejuta pikiran dalam kepalanya. Hidupnya kembali Uzumaki Naruto akan lebih menyusahkan perpolitikan 5 desa besar dibandingkan pemimpin Uzu itu masih hidup. Oonoki terkejut juga bahwa Raikage ketiga ternyata melindungi Naruto di desanya. Susah. Hal ini benar-benar menyusahkan keputusannya.
Shion, istri sang Uzukage ada di genggamannya. Satu-satunya cara menghilangkan tujuan Naruto adalah membunuh Shion.
Gerbang Saiken akan benar-benar meredup dan ramalan itu tidak akan pernah terjadi.
'Aku tidak bisa melakukannya…membunuh wanita itu, kuso! Aku tidak akan melakukan hal kejam terhadap tawanan wanita, apalagi yang kutawan adalah berlian kelam dari Negeri Iblis…'
Opsi kedua, mengabari Suna-Konoha tentang hidupnya Uzumaki Naruto dan bekerja sama dengan dua desa besar tersebut untuk menghancurkan Kumo yang melindungi Naruto. Opsi kedua adalah opsi yang terbaik, tetapi Oonoki memikirkan kemungkinan besar yang akan dihadapinya jika bekerja sama dengan Suna dan Konoha…
'Kazekage maupun Hokage akan meminta Shion ke desa mereka karena tahu Uzumaki Naruto masih hidup dan langsung mengekskusi Sang Ratu untuk benar-benar mematikan cahaya Gerbang Saiken.' Dahi berkerut Oonoki mengernyit 'Itu sama saja dengan aku mengekskusi sang Ratu secara tidak langsung.'
Oonoki bangkit dari kursi empuk non-encok-nya dan berjalan menuju lorong kantornya. Dia memasuki sebuah lorong yang dipenuhi simbol-simbol Iwa dan foto-foto keluarga Tsuchikage, dari yang pertama hingga dirinya, yang ketiga…
"Hm?!" tanpa sengaja mata Oonoki memandang foto pernikahan anaknya. Cucunya, Akatsuchi yang berbadan besar dan Kurotsuchi, di foto tersebut masih bertubuh mungil alias seorang bayi. Bayi perempuan yang imut.
"Aku…punya ide." Gumam Tsuchikage "Ah, ini bukan hanya disebut ide. Ini rencana besar. Ya, ini rencana besar!" Tsuchikage berjalan cepat menuju sebuah kamar di ujung lorong sambil menekan-nekan pinggangnya yang terasa sedikit sakit. Dia membuka pintu kamar tersebut dan terlihat sesosok wanita anggun bersurai pirang kelabu yang sedang menatap ke arah luar jendela. Tsuchikage memanggil namanya dengan lembut.
"Shion-sama, aku punya permintaan kepadamu…"
Shion menolehkan wajahnya ke belakang, ke arah Oonoki. Mata boneka yang indah, hidung mungil yang mancung dan bibir tipis yang menggairahkan, semuanya dikemas dalam sosok anggun yang akan membuat semua pria terpana akan aura 'Ratu'nya. Tsuchikage sendiri terus mengatakan berulang kali bahwa Uzumaki Naruto sangat amat beruntung mendapatkan Sang Ratu sebagai istri di dalam hatinya.
"Apa itu, Tsuchikage-sama?" Tanya Shion lembut.
"Menikahlah lagi…"
Mata Shion melebar
"…Dengan anakku, Kitsuchi. Dia duda dan kau janda," Shion tidak mengatakan kepada Oonoki bahwa suaminya masih hidup, Oonoki juga berniat menyembunyikan status Naruto kepada Shion…padahal keduanya sama-sama tahu bahwa Uzukage keempat masih hidup.
"A-apa maksud anda Tsu-"
"Menikahlah dengan anakku Shion-sama, maka kau akan selamat…" mata Tsuchikage ketiga menajam. Pertaruhan akan ada di drama cinta ini "Ya, kau akan selamat!"
Cinta dan Politik, semuanya akan menyatu bagai pusaran air di tengah lautan rencana para pemimpin elemental Dunia Shinobi.
TBC
AN:
Lupakan sejenak soal fresh scene hints NarutoYugito di awal chap ini, Ratu kita sedang menghadapi keputusan berat yang mempertaruhkan kepalanya. Di arc ini 5 desa besar kemungkinan bergerak, dan terbukanya beberapa misteri seputar insiden 17 Oktober, tanggal di mana Uzu dihancurkan oleh 5 desa besar.
AN From Icha:
Setelah berbicara dengan Doni-san, Icha akhirnya mengiyakan untuk membuat beberapa akun Icha-chan Ren di AO3 dan Wattpad untuk cerita The Uzukage karena termasuk proyek fanfic yang cukup panjang. Icha juga nantinya akan membuat akun FB Icha-chan Ren agar teman-teman dari Ffn bisa saling berkomunikasi dengan kami. The Uzukage juga akan dimuat dalam blogspot yang kami buat untuk akun ini.
The Uzukage akan dipublish di A03 maupun di Wattpad, blog maupun akun Fb setelah cerita di Ffn selesai. Intinya Ffn. net adalah primier publish untuk fic ini, karena nama akun Icha-chan Ren dibuat pertama kali di situs ini, dan harus dipertahankan di sini.
Melihat banyak Author yang hiatus dan pindah dari Ffn membuat Icha sedih ToT, makanya kami official Icha ren (cielah pakai official lagi) ingin meramaikan Ffn lagi agar banyak cerita-cerita berkualitas seperti dulunya.
Oh ya, para pemegang akun ini ada 3 orang, yakni Icha, Doni-san dan Crisya-senpai. Terima kasih kepada orang yang kami hormati, Anella Gathra-nee yang selalu menjadi mentor Icha yang baik.
Untuk sesi balas reviewnya Icha lempar ke Doni-san, tangkaaaap.
Tertanda Icha Ren
.
Saya akan membalas pertanyaan para Readers dalam rangkuman atau frekuensi pertanyaan, terutama yang non-akun di sini, untuk yang berakun, akan saya balas review anda melalui PM.
Q: Pengendali Hachibi? Seorang Uchiha bergender wanita, siapa?
A: Itu akan terungkap di cerita selanjutnya, tetapi para Readers pasti tahu karena saya sudah memberikan sedikit clue untuk kalian semua.
Q: Yang mengambil Benihisago dan yang lainnya siapa?
A: Yap, seseorang. Misteri dan masih dirahasiakan.
Q: Shion akan menikah dengan siapa?
A: Hahaha, pertanyaannya sudah dijawab Tsuchikage ketiga.
Untuk Guest-san yang menanyakan fic soal Telekenesis Hinata, ada sahabat kita dari arsyad226 yang mengatakan nama Ffn-nya Physic World karya uzumaki julianti. Silahkan dicek. Terima kasih untuk Arsyad.
Terima kasih atas review, saran, kritik, pertanyaan dan komentarnya..semuanya dari kalian. Seperti yang diketik Icha di atas, Ffn memang sedang sepi…tetapi diharapkan para Author yang lain tetap semangat melanjutkan ceritanya dan para Readers banyak memberikan reward untuk Author-Author yang terus menghibur dengan karya mereka.
Terima kasih dan semoga terhibur Bro and Sis.
Tertanda. Doni Ren
