This Fic I Dedicated For My Readers. All of You
P.M.M.
Nurama Nurmala©2010
Sci-fi, Adventure, Friendship with All Super Junior Member
Warning : OOC, Typo(s), AU
PMM in 28th Episode Totally Reserved
Part sebelumnya…
Suasana riuh itu sekarang tergantikan oleh sepinya malam, oleh embusan pedestrian, oleh lenggokkan daun yang saling bergesekkan, dan oleh suara game dari PSP Kyuhyun yang sedari tadi berontak karena kekalahan.
Mereka semua sudah tidak sadarkan diri. Termasuk Miss Lau.
Tidak, tidak, sebenarnya mereka semua hanya terlelap dalam mimpi.
Tidur.
Ya, mereka semua tertidur secara serentak.
"Kerjamu bagus, Thunder."
Seorang lelaki muda menunduk mematuhi pujian dari lelaki berjenggot putih di sampingnya. "Obat yang kau masukkan ke dalam minuman mereka akan membuat mereka kehilangan kesadaran, dan juga menghapus ingatan mereka selama satu hari ini."
"…" pria bermata tajam di sisinya hanya diam tak berucap. Berdiri patuh mengawal dan melaksanakan setiap perintah yang dikehendaki Tuannya, tanpa pernah bertanya….
"Fuuhhhh~" asap putih mengepul dari pipa yang dihisapnya, sementara kedua atensinya tengadah menatap bangunan megah yang berada di depannya. Yang disebut asrama oleh Kibum, dan yang disebut rumah oleh Sungmin.
Drrrttt….
Getaran ponsel menginterupsi ketenangan malam itu. Thunder dengan sigap mengangkat panggilan yang ditujukan untukknya. "Ye, ye, kalian bisa mengantarkannya sekarang."
Cklek!
Setelah perintah singkat itu, Thunder kembali melipat ponselnya lalu memandang junjungannya dengan tatapan serius. "Kibum-ssi, Sungmin-ssi, dan Heechul-ssi sedang berada dalam perjalanan kemari sekarang."
"Hmmm… ya," ia kembali menyesap tembakau dari pipanya. Kali ini isapan yang dalam, yang membawa ingatannya kembali berlayar pada 17 tahun yang lalu, ketika 13 bayi berkumpul dalam ruang inkubator yang sama.
"Penyelenggara kompetisi ini, adalah orang pertama yang sadar akan peristiwa memilukan 17 tahun yang lalu…" Thunder diam tak bergeming. Kemudian lelaki tua itu mengarahkan pandangannya ke arah ruang game, tempat mereka semua terlelap. "Masih terlalu awal bagi kalian mengetahui kenyataan yang ada. Masih ada waktu… bersabarlah. Bersenang-senanglah anakku, nikmati hidup kalian sekarang. Sebagai gantinya… akan kutebus kesalahanku 17 tahun yang lalu."
PMM
In 28th Episode
Nyaris seperti hari-hari biasa. Tak bersisa ingatan kejadian kemarin dalam ingatan mereka, sekalipun itu adalah Hankyung yang memiliki ingatan fotografis. Semua keanehan yang terjadi kemarin… sempurna telah direnggut secara paksa, oleh seseorang yang ingin melindungi masa depan mereka.
"Selamat pagi semua! Ayo, jangan malas. Mari jalani hari ini dengan semangat baru! Ingat, sebentar lagi ujian tengah semester akan dimulai, kalian harus rajin dan giat belajar!" dengan penuh semangat Miss Lau lagi-lagi membangunkan semua penghuni dengan speaker di tiap kamar dan ruangan dengan volume ekstra.
Semua penghuni melenguh dan membentangkan urat-urat lelahnya ketika mendengar seruan dari Miss Lau, namun ada juga yang tak mempan dibangunkan dengan selentingan lagu aneh dan teriakan penuh semangat dari Miss Lau. Dia adalah Heechul, Sungmin dan Leeteuk.
"Eh?" Kibum merengut aneh ketika memandang Leeteuk yang masih dalam pembaringan. Ia melangkah dengan alis tertaut sementara iris hitamnya bergerak-gerak lincah.
Langkahnya seketika terhenti ketika tubuhnya persis berada di sebelah Leeteuk yang masih terbaring. 'Sejak kapan… Leeteuk terluka?' tanyanya dalam hati. Ia masih bersidekap dan kukuh dalam berdirinya, atensi hitam itu tak ubah seperti lensa kamera interogasi dalam ruang penyidik kepolisian. Meminta kejelasan, dan fakta sedetil mungkin. Apa Leeteuk kembali ke asrama setelah dia? Kibum tak tahu.
Tunggu.
Ingatannya… kandas.
Degup jantungnya tiba-tiba terpacu cepat. Ada yang tak beres. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Kenapa aku tidak bisa ingat kejadian kemarin? Ini adalah kali pertama ia menemukan ingatan dan kenangannya terpenggal.
Bulir air mata menyesaki manik tajam itu.
DUG!
DUG!
DUG!
Jantungnya terdengar berdegup begitu keras, seolah ingin memberitahukan kenyataan dengan mendobrak palung dan dinding rasionalitas. Ada yang aneh di sini. Kibum tahu dengan jelas. Tapi ia tidak tahu apa yang aneh itu. Matanya kembali tertumbuk pada tubuh Leeteuk yang masih tertidur dengan damainya.
Sialan! Semakin aku berusaha mengingat, entah kenapa malah jadi semakin sakit.
Seketika, muncul kilasan wajah Sungmin dan Heechul di dalam ingatannya.
Ia jadi ingin bertemu dengan mereka. Ia lekas berjalan dengan tergesa ke kamar mereka. Namun langkahnya terhenti ketika sampai di ruang tengah. Donghae, Hankyung, Ryeowook, Yesung, dan Miss Lau tengah berdiskusi dengan raut muka serius.
"Kenapa bisa seperti itu?" Yesung mengernyitkan dahinya, sementara kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Aku tidak tahu, setelah aku bangun keadaannya sudah seperti itu," kali ini Donghae yang berkerut-kerut tak mengerti. "Tangannya diperban dan ia tak bangun walau aku sudah menjahilinya. Eh, maksudku membangunkannya. Aku takut jika ses—"
"Ada apa?" pembicaraan itu terinterupsi oleh ucap Kibum dari selasar ruang tengah.
"Ah…" seolah terintruksi, orang-orang yang berada di ruangan itu tertunduk, bingung hendak berucap dan ragu untuk menyampaikan.
"Kondisi beberapa penghuni tampak aneh, Kibum-ah," Yesung berucap jujur. Kibum sudah menyangka, dan sepertinya anggota asrama yang lain juga sudah menyadarinya. "Heechul dan Sungmin terluka parah, namun tak ada dari kita yang ingat penyebab mereka terluka."
Kibum memandang Hankyung dengan tatapan serius, berharap ia akan memberikan penjelasan hari kemarin secara rinci. Namun nihil. Hankyung menggeleng. "Kau juga tidak ingat?" Kibum bertanya tak percaya. Sekali lagi, Hankyung mengangguk.
"Jam setengah delapan tadi aku mendapat telepon dari panitia penyelenggara lomba design pakaian," Miss Lau berucap penuh misteri. "Ia menanyakan bagaimana keadaan Heechul dan keikutsertaan di tingkat selanjutnya, mereka berkata bahwa Heechul lolos ujian seleksi dan berharap bisa membawa design sesuai tema dari perusahaan minggu depan."
"Oh, iya!" Donghae memekik ingar, memecah konsenterasi teman-teman di sekelilingnya. "Aku akan bertanya pada Aram, ia mungkin mengetahui penyebab kecelakaan Heechul. Kemarin Heechul mengikuti lomba design bersama Aram 'kan?" semuanya mengangguk. Tak lama, sebuah sahutan terdengar ketika Donghae selesai memijit beberapa tombol di ponselnya. "Ne, tidak, aku tidak mengajakmu untuk berkencan," Donghae terlihat agak kesal dengan Aram yang salah tangkap. "Kemarin kau bertemu Heechul 'kan? Ne, iya, aku sudah tahu. Dia lolos ke tahap selanjutnya 'kan? Chakkaman, lalu setelah itu apa yang terjadi?" Donghae tampak mendengarkan dengan serius. Namun… seketika pupil matanya membesar karena terkejut. "Mwo? Kamu yakin?" dada Donghae naik-turun tanpa ritme. Akhirnya dengan tangan gemetar ia menyudahi pembicaraan itu.
"Ada apa?" Ryeowook bertanya antusias. Tetapi bukannya langsung menjawab, Donghae malah memandang Kibum dengan tatapan tak mengerti.
"Aram bilang, Heechul terkena lampu gantung ketika pengumuman peserta," semua orang memandang Donghae tanpa berkedip. "Dia juga bilang… bahwa yang membawa Heechul ke rumah sakit adalah Kibum."
"Apa?" sontak mereka semua menoleh ke arah Kibum.
"Benarkan itu Kibum-ssi?" Ryeowook meminta verifikasi. Namun Kibum yang menjadi objek pertanyaan itu diam tak mengerti.
PMM
In 28th Episode
"Aku Thunder," seorang pria berpipi chubby, namun dengan sorot mata tajam menghalangi gerak langkah seorang pria dengan senyum manis.
"Ya," ia berusaha menghindar dari tingkah aneh Thunder.
"Namamu… Nickhun 'kan?" ia memandang Nickhun dengan tatapan penuh arti, lalu melayangkan sebuah senyum ramah. "Namaku Thunder."
"Ya, Thunder. Aku sudah dengar itu," Nickhun menyampirkan ranselnya dalam di satu pegangan, sementara tangannya yang bebas ia masukkan ke dalam kantung celana kanannya. "Ada apa?"
"Aku Thunder," Thunder melayangkan telunjuk ke arah dirinya sendiri. "Kau tidak ingat aku?" ia bertanya tak percaya. Mau tak mau… Nickhun mengernyitkan alisnya. "Aku adalah Thunder. Enam tahun yang lalu… aku hampir membunuhmu."
DEG!
"Kau…" ingatan Nickhun kembali berlayar ke sebuah peristiwa di hari selasa, enam tahun yang lalu. Saat itu ia adalah murid sekolah dasar. Ia hidup dan dibesarkan di sebuah panti asuhan di daerah Cheon Dong. Di sana ia hampir saja bunuh diri, karena mengikuti perkataan seseorang yang selalu muncul setiap kali ia bercermin.
Wajah itu, lambat laun kembali muncul.
"Bagaimana mungkin… kau tidak berubah?" Thunder tersenyum bangga lalu memegang wajahnya perlahan. Enam tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Siapapun yang melewati waktu itu, akan mengalami perubahan, setidaknya sedikit perubahan pada wajahnya. Namun ini….
"Bagaimana kau bisa lupa pada ayahmu sendiri?"
BRUUUKKK!
Tubuh Nickhun limbung ke belakang hingga membentur dinding lorong. "Bagaimana mungkin…" ia bertanya tak mengerti.
"Bagaimana mungkin aku tidak tumbuh menjadi tua?" Thunder meretas senyum mencurigakan. "Dengarkan aku, Nak. Tiga belas orang itu adalah tanggung jawabku, aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan ini, Anak Setan," Thunder memberi penekanan pada kata terakhirnya. "Aku tak segan untuk membunuhmu, lagi. Kali ini, aku akan menikmatinya."
Nickhun tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Ketika Thunder meninggalkannya seorang diri, ia masih tergugu di sisi lorong dengan tubuh yang enggan untuk berhenti gemetar.
PMM
In 28th Episode
"Kau dari mana? Kenapa tadi tidak sekolah?" Kangin memandang Kibum aneh. Sudah pukul empat sore sekarang, sebagian penghuni asrama itu tidak masuk sekolah. Beberapa memang datang dengan alasan yang kuat. Seperti Heechul, Sungmin, dan Leeteuk yang memang tidak memungkinkan untuk sekolah. Tapi Kibum dan Siwon? Mereka berdua sama sekali tidak sakit. Dan rasa penasaran Kangin tidak bisa terbendung lagi ketika ia berpapasan dengan Kibum yang baru pulang di ruang bermain Game.
Kibum menggaruk tengkuknya pelan. "Dari rumah sakit," jawabnya pendek.
"Untuk apa? Kau sakit?" Kibum menggeleng.
"Aku ingin tahu… apakah benar yang membawa Heechul ke rumah sakit adalah aku?"
"Lalu apa jawaban dari pihak rumah sakit?"
Kibum terdiam cukup lama dalam menjawab pertanyaan Kangin. Namun akhirnya ia mengangkat kepalanya, lalu memandang Kangin dengan tatapan bingung. "Mereka bilang, bahwa memang aku yang membawa Heechul ke rumah sakit."
"Aneh."
"Sedang apa?" sebuah suara lain menginterupsi percakapan mereka. Hankyung.
"Tidak sedang apa-apa," Kangin kembali mengedarkan pandangannya ke arah layar televisi. "Sebentar lagi akhir tahun ya, tidak terasa kita sudah bersama selama setengah tahun."
Mereka kompak terdiam setelah mendengar penuturan Kangin, yang mungkin tidak ia sadari.
Sudah setengah tahun… tak terasa, tinggal satu setengah tahun lagi waktu mereka bersama, jika tanpa adanya penghalang dari pihak manapun.
"Ada yang ingin aku sampaikan," seseorang berdiri di bibir pintu dengan susah payah. Napas putus-putus ia embuskan berat, sementara tangan kirinya menopang keberadaan tubuh yang condong bersandar pada dinding.
"Leeteuk!"
"Leeteuk-ssi, sedang apa di sini? Kau seharusnya beristirahat saja," Hankyung segera menyambut tubuh ringkih Leeteuk, lalu memapahnya kembali masuk ke dalam kamar. "Mari."
"Tidak, ada sesuatu yang harus aku sampaikan," ia sepertinya bersungguh-sungguh. Terlihat dari kata-katanya yang memaksa dan terus bersikeras.
Hankyung memandang Kangin dan Kibum bergantian, meminta persetujuan dari mereka berdua. Namun Kangin yang sudah paham kondisi urgent di sini, akhirnya memberi izin dengan menganggukkan kepalanya.
"Kita berbicara di kamarku dan Kibum," setelah menuturkan maksudnya, Leeteuk akhirnya mau dipapah Hankyung masuk kembali ke dalam kamarnya. Namun kali ini Kangin dan Kibum mengikuti dari belakang.
PMM
In 28th Episode
"Apa kau bilang?" Kangin memandang Leeteuk dengan tatapan tak percaya. "Ada pihak yang mengancam kita?" Leeteuk mengangguk.
Ingatan mereka hanya terhenti ketika Sungmin dibawa pulang oleh Ryeowook ketika malam hari dengan kondisi aneh. Kibum tidak ingat akan kata-kata peringatan Sungmin tentang seseorang yang akan datang dan membunuh mereka, dan tentang sebahaya apa Black Ryeowook.
Begitu juga tentang ingatan Leeteuk yang memang sudah sengaja dihilangkan oleh Nickhun dan Ryeowook. Ia lupa… bahwa seorang algojo telah dikirim seseorang ke sisi mereka, dan menjadi teman paling perhatian di antara mereka.
Mereka semua… lupa itu.
Namun Leeteuk yang ingat akan kata-kata mengancam Nickhun pada hari pertama mereka bertemu muka, mendorongnya untuk mengatakan perihal itu kepada siapapun yang ia percayai. Ditambah dengan adanya kejadian hilang ingatan secara serentak. Ini adalah sebuah peristiwa janggal, yang dipercaya Leeteuk telah dirancang oleh seseorang.
Berdasarkan seluruh peristiwa itulah… Leeteuk akhinya mau tak mau menceritakan kebenaran ini.
"Bisa jadi, Nickhun adalah orang di balik ini semua," Kibum mulai berpikir kembali.
"Entahlah, tapi dari semua kejadian, memang ia yang paling mencurigakan."
"Hm…" Kibum mengangguk. Lalu seketika pupil matanya mengecil. "Aku meminjam kaset rekaman dari perusahaan tempat kompetisi design Heechul diadakan."
"Eh?"
"Aku mengadakan penelusuran hari ini. Siapa tahu ada petunjuk yang dapat mengarahkan kita pada kenyataan yang disembunyikan seseorang," semua orang mengangguk dan memandang Kibum dengan tatapan serius.
"Aku akan memutarnya di sini," Kibum mengambil laptopnya, lalu memasukkan kaset berisi rekaman kejadian di kompetisi Heechul itu ke dalam DVD Rom-nya. Selama menit pertama sampai menit ke dua puluh empat tak ada peristiwa yang ganjil. Namun pada menit ke 36, Heechul tampak berbicara dengan seseorang. Dan ketika orang itu meninggalkan Heechul, raut wajah Heechul tiba-tiba tegang, seperti orang syok. Semua mata, tertuju pada kejadian itu.
"Si-Siapa orang itu? Apakah dia teman Heechul?" Kibum menggeleng.
"Sudah kuperiksa, dia juga salah satu peserta. Dia dan Heechul tidak pernah bertemu sebelumnya," Kibum membenarkan letak kacamata yang tersemat di atas hidungnya. "Nama laki-laki itu adalah…."
"Hwan Chansung," Hankyung tanpa sadar memotong perkataan Kibum. "Aku pernah melihat ia berbicara dengan Nickhun di sebuah café."
To Be Continued
AN : Ada salah satu pembaca yang mengemukakan pendapatnya, "unni, harapan penulis mengharapkan komentar mungkin sama ya dengan harapan pembaca, yaitu mendapat balasan komentar dari sang penulis."
Ehehe… saya agak malu mendengarnya. Pasalnya, orang ini menyampaikan kebenaran dengan teramat jujurnya, dengan teramat polosnya. Karena itu, untuk menghargai pembaca budiman seperti ini, saya akan mencoba menjawab sebagian komentar para pembaca :) Tapi hanya yang berkomentar di part 27 saja ya ;)
1 . Cie Maknae AdmrHyukkie
Hasil rekayasa genetic? Bisa ya~ Bisa tidak ^^
2 . LeeHaeNa & Shikaku Himira & Kim Min Ra & LyaELF'snowers & chabluebilubilu & Tika & Jipies14 & Rilianda Abelira
Pertanyaannya tidak bisa jawab sekarang. Akan terjawab seiring chapter berjalan.. :)
3 . Guest
Wah… kalau minta nope… mungkin tidak di open site seperti ini ya? Kirim email aja dulu ke nuramanurmala .
4 . Guest
Mau memasukan FF ini ke majalah himpunan di kampus? Boleh aja ^^ Malah merasa tersanjung. Tapi sebelumnya saya butuh bercakap-cakap dulu dengan Anda. Email saya nuramanurmala gmailcomkita bisa chatting atau saling berkirim email di sana. Insya Allah saya OL pada jam kerja.
Sekali lagi terima kasih saya sampaikan pada reader baru yang baru saja bergabung dengan keluarga besar PMM. Maaf saya tak bisa menghaturkan terima kasih kepada Anda secara satu per satu atau secara pribadi. Tapi dengan aspirasi dan testimoni Anda di ff saya, menjadikan saya semakin termotivasi untuk terus berkarya.
Ayo semua,
Tetap berkarya!
