© angstgoddess003
.
.
Chanyeol POV
Aku menarik-narik rambut frustasi sambil mengerutkan kening. Bunga brengsek. Ada begitu banyak aneka warna, dan semua bentuknya sama saja menurutku. Aku menghela napas dan menggeleng, lalu berbalik melihat ke sekeliling toko bunga mencari tahu ke mana perginya wingman-ku.
Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang omong kosong ini, dan karena Luhan sudah memberikan Sehun kursus kilat mengenai Bahasa Bunga, jadi aku menyeretnya ikut bersamaku. Dia setuju tanpa banyak membantah, dan kemudian menghilang dari sampingku.
Bajingan.
Akhirnya aku menemukan Sehun sedang berdiri di samping seember penuh bunga mawar, dia mengerucutkan bibirnya sambil melihat bunga dan tangannya masuk dalam-dalam ke saku celana jeans berlubang miliknya.
Sebelah alisku terangkat. "Mawar?" tanyaku datar.
Ini benar-benar klise, Luhan tidak akan senang.
Dia mendengus. "Luhan tidak akan senang kalau kau membawa mawar," gumamnya, berhasil menyuarakan pikiranku sambil menggeleng, ini sedikit menakutkan.
Dia berdeham dan melambaikan tangannya ke rak-rak bunga lain. Aku mengikutinya berjalan melewati lorong yang penuh bunga dengan penasaran, sambil bertanya-tanya dalam hati apa dia serius bisa membantuku.
Dia melangkah ke buket bunga bewarna ungu dan mengambilnya dari keranjang, lalu berbalik melihatku sambil mengangkat alis.
"Ini bunga anyelir. Beberapa orang berpikir bunga ini kurang berkelas, tapi faktanya anyelir adalah bunga yang sangat indah," ucapnya, lalu mengendus buket dan melihatku tajam. "Bunga berwarna ungu melambangkan martabat dan kesetiaan. Buket penuh dengan bunga mekar berwarna ungu melambangkan prestasi dan kekaguman," jelasnya datar.
Dan aku menganga melihatnya mengajariku. Sepertinya dia benar-benar membaca catatan tentang bunga yang diberikan Luhan.
Dia memutar matanya melihatku. "Berikan ini pada Bibi Irene, bukan Baekhyun," ucapnya sambil melemparkan sebuket bunga anyelir ke tanganku.
Aku langsung menangkapnya dengan tergagap, masih heran dengan pengetahuannya. Dia beranjak ke keranjang lain, lalu mengambil sebuket bunga berwarna kuning, lalu beralih melihatku dengan ekspresi serius.
"Luhan pikir aku tidak tahu daisy adalah bunga favoritnya. Kuning melambangkan kegembiraan, sukacita, dan persahabatan. Kuning juga warna yang cocok untuknya Luhan. Kau akan mendapat poin tambahan di matanya," ucapnya sambil kembali melempar sebuket bunga ke lenganku dan beranjak ke keranjang lain.
Dia mengerucutkan bibirnya, lalu mengambil beberapa kuntum bunga berbeda jenis dan menyusunnya sambil bicara.
"Bunga untuk Baekhyun harus lebih signifikan," ucapnya.
Aku memandanginya saat dia meletakkan dua jenis bunga lagi ke dalam bungkus buket.
"Lili putih melambangkan kepolosan dan kehormatan. Bunga ini terlihat elegan dan megah," jelasnya sambil mengerutkan alis penuh konsentrasi dan mulai menambahkan bunga berwarna biru. "Warna biru tua dari bunga iris dapat meredakan kekhawatiran dan memberi perhatian; mewakili perdamaian, keterbukaan, dan ketenangan," sambungnya sambil mengangguk, dan setelah dia selesai menyusunnya di kertas pembungkus buket, dia langsung melemparnya ke arahku dengan ekspresi puas.
Aku tidak habis pikir. Firasatku mengatakan Sehun membaca semua itu dari majalah perempuan. Aku menatapnya sambil menyeringai puas bercampur dengan rasa kagum dan khawatir.
"Sehun..." ucapku dengan nada tidak setuju dan perlahan menggelengkan kepala. "Aku rasa vaginamu mulai muncul," sambungku.
Seringai di wajahnya langsung hilang dan dia menyipitkan matanya melihatku.
"Brengsek. Kau. Bajingan," geramnya, lalu berbalik meninggalkan toko bunga selagi aku terus memelototi punggungnya.
Pikiranku masih sedikit terguncang karena pengetahuannya tentang bunga.
Aku tidak meminta maaf padanya dalam perjalanan pulang, tapi, tentu saja aku berterima kasih. Dia tidak mempermasalahkannya. Tapi, saat dia keluar dari mobilku, dia memandangku dengan tajam. Tatapannya menyiratkan, jangan lagi membuat lelucon tentang vagina padaku, Brengsek.
Saat aku sampai di rumah pukul empat sore, alis Paman Bogum langsung terangkat melihat bunga di tanganku ketika aku melewati ruang kerjanya.
Aku memutar mata saat berjalan di depannya. Tapi, aku tidak berhenti dan tidak juga memandangnya.
"Jangan tanya-tanya," gumamku sambil menggeleng dan terus berjalan menaiki tangga menuju kamarku.
Ini benar-benar konyol.
.
.
Kalau Luhan berharap aku akan mengenakan jas atau semacamnya, berarti dia gila. Bahkan sebenarnya aku tidak ingin membuang-buang uang untuk membelikannya bunga. Tapi, Sehun benar. Aku harus mendapat poin di matanya. Jadi, aku pasrah menerima, dan keluar rumah jam lima, dengan mengenakan kemeja hitam polos, celana jeans gelap, dan jaket kulit.
Sederhana. Gadisku lebih suka kesederhanaan.
Aku berjalan melintasi halaman sambil memelototi bunga berwarna kuning di tangan dan merasa semakin konyol saat memikirkan para tetangga akan melihatku. Tetangga usil sialan.
Aku berjalan menaiki tangga menuju pintu berwarna biru pastel dan mengetuknya ragu-ragu. Setidaknya aku bisa meluangkan waktu tambahan bersama gadisku. Tidak semua ini akan berakhir mengerikan.
Bibi Irene menjawab.
Terima kasih, Tuhan.
Dia tersenyum manis padaku, melangkah ke samping dan menyuruhku masuk. Aku melangkah maju, dan langsung menggelengkan kepala dalam hati saat berbalik menghadapnya dan menyodorkan sebuket bunga berwarna ungu.
Mata Bibi Irene melebar saat memandangi buket di tanganku, dan ini membuat perasaanku semakin konyol. Kemudian wajahnya terlihat berseri-seri sambil tersenyum lebar.
"Oh, Chanyeol!" ucapnya terkesiap, mengambil buket dari tanganku, dan menghirup wanginya sambil tersenyum. "Kau manis sekali, Nak," ucapnya, lalu berjinjit untuk mengecup pipiku.
Senang dengan reaksi Bibi Irene yang tidak terlalu memalukan, aku kembali tersenyum saat dia mengambil jaketku dan berjalan mengikutinya ke ruang tengah. Aku merasa sedikit percaya diri karena sandiwara bunga ini.
Luhan duduk di sofa, dan dia berdiri saat aku memasuki ruangan, dia langsung tersenyum terpaksa padaku. Aku memutar mata dan berjalan ke arahnya, sambil berjuang mati-matian untuk menahan diri mengucapkan serangkaian sindiran padanya saat menyodorkan sebuket daisy kuning jelek ke arahnya.
Dan kemudian hal yang sama kembali terjadi. Wajahnya langsung berseri-seri dan tersenyum lebar—senyum yang tulus kali ini—lalu mengambil buket bunga dari tanganku dan menghirup wanginya dalam-dalam, matanya terpejam penuh khidmat.
Sehun brengsek dan pengetahuan briliannya tentang bunga.
Aku menyeringai saat dia membuka mata. Senyumnya langsung hilang saat melihat seringaianku, lalu dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan meletakkan bunga di atas meja, seolah-olah dia tidak memedulikannya.
"Baekhyun sedang di dapur," dengusnya sambil kembali duduk di sofa dan langsung menggonta-ganti saluran televisi.
Aku memutar mata dan berbalik meninggalkan ruangan.
Bibi Irene berjalan melewatiku di lorong, dia kemudian berhenti dan menepuk pelan pundakku. "Jangan tanya apa dia butuh bantuan. Percayalah," bisiknya serius, lalu kembali berjalan melewatiku menuju ruang tengah.
Aku mengangkat bahu dan berjalan ke dapur, di mana gadisku kemungkinan besar sedang melakukan tugas memasaknya.
Saat aku memasuki pintu dapur, aku melihatnya sedang berdiri di depan kompor memunggungiku. Dan gadis di depanku tidak terlihat seperti dia, tapi... ini memang dia. Napasku tercekat saat menatap punggungnya. Dia mengenakan celana jeans ketat yang membuat bokongnya terlihat bisa dimakan, dan kemeja merah dengan lengan sampai di bawah sikunya. Rambutnya tidak bergelombang, tapi, tetap mengkilap dan lurus.
Aku menggeleng dan menyandarkan bahuku di ambang pintu sambil tersenyum untuk mengusir semua kekagetan saat melihat gadisku mengenakan pakaian gadis biasa dan menganalisis semua elemen kesenangannya. Dapur.
Aku mencengkeram bunga di perutku saat melihatnya mengaduk makanan dalam panci yang mengeluarkan aroma lezat. Dia menyenandungkan lagu yang kuinput ke dalam iPod-nya, sambil sesekali menggoyangkan pinggul dan mengangguk, membuat rambut lurusnya bergerak di punggung.
Dia terlihat begitu cantik saat bersenandung dan mengaduk makanan. Dan begitu... nyaman dan hangat.
Tiba-tiba saja, dia berhenti bersenandung, dan tertawa kecil. "Kau boleh masuk, Chanyeol, aku tidak menggigit," ucapnya pelan dan kembali tertawa, dia masih mengaduk makanan di panci tanpa berpaling melihatku.
Aku memutar mata dan berjalan ke dapur. Dia selalu bersikap intuitif.
Aku meletakkan bunga untuknya di atas meja dan melangkah ke kompor, tidak sabar untuk berada dekat dengannya. Dia tetap bergeming saat dadaku menempel di punggungnya. Lenganku langsung bergelung di pinggang rampingnya. Aku membenamkan hidungku ke bagian belakang kepalanya dan menghirup napas dalam-dalam. Sebelah tanganku menyeka rambut lurus mengkilapnya dari bahu kanan dan memindahkannya ke bahu kiri, sebelum aku meletakkan wajahku di bahunya sambil tersenyum, dan memeluknya erat-erat.
Aku mengangkat wajah dan meletakkan daguku di bahunya lalu melihat ke bawah, ke dalam panci. Sayuran. Belahan dada.
O..kay.
Aku menelan ludah saat menatap potongan rendah bajunya yang sedikit ketat, dan melihat hal yang belum pernah ditunjukkannya sebelum ini. Oke, aku berbohong. Aku sudah pernah melihatnya hanya mengenakan bra, tapi itu dalam kondisi "gayung bersambut". Tidak ada nafsu di sana. Dan belahan dada yang mengintip dari baju merahnya sekarang terlihat seksi.
Aku langsung melesatkan mataku ke dinding, dalam hati menendang diriku sendiri karena mengerlingi gadisku seperti bajingan.
"Kau terlihat cantik," bisikku, dan memutar kepala untuk mengistirahatkan pipiku di bahunya agar aku tidak bisa lagi melihat belahan dadanya.
Dan tentu saja, dia tersipu malu dan menatap tajam panci sayuran yang mendidih.
"Penyiksaan Luhan," gumamnya sambil meringis.
Memar di wajahnya masih tertutup make-up, jadi aku tidak tahu bagaimana perkembangannya, tapi aku tidak bisa lagi melihat tanda-tanda memar dari tempatku berdiri.
Aku tersenyum dan semakin bersandar lebih dekat, lalu mengecup lembut lehernya; membuatnya tubuhnya sedikit menggigil.
Dia tertawa kecil saat mengaduk makanan. "Makan malam akan siap dalam lima menit," bisiknya, lalu dia memalingkan wajahnya ke arahku dan tersenyum saat membungkuk untuk memberi kecupan di bibirku.
Aku bergumam pelan di bibirnya yang hangat, dan kemudian berjalan mundur; khawatir Luhan atau Bibi Irene berjalan masuk dan tidak senang melihat adegan yang kumainkan dengan gadisku.
Aku mundur sampai ke meja dan menyambar buket bunga, lalu membersihkan tenggorokanku untuk mengalihkan perhatiannya. Dia berputar ke arahku, matanya langsung melesat ke buket di tanganku. Ekspresi di wajahnya sama seperti ekspresi wajah Bibi Irene dan Luhan. Dia tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri. Aku terus menjaga arah tatapan mataku ke wajahnya dan jauh dari belahan dadanya yang menggiurkan saat dia melangkah ke arahku.
Aku rasa efek yang diberikan bunga jauh lebih kuat daripada yang dibicarakan orang-orang. Saat dia mengambil bunga dari tanganku dan menghirup wanginya sambil tersenyum lebar, dia mengintip ke arahku melalui bulu matanya.
"Terima kasih," bisiknya saat Bibi Irene berjalan ke dapur.
Bibi Irene melirik gadisku yang sedang memegang bunga dan tersenyum cerah pada kami, lalu membawaku ke ruang makan dan menyuruhku duduk. Di depan Luhan. Dia masih bersikap tidak peduli sambil mengerutkan bibir dan bersandar ke kursi, menghindari tatapanku.
Saat gadisku berjalan ke dalam ruangan dan menempatkan semua makanan di atas meja, aku langsung berdiri, lalu melihat Luhan sekilas saat aku menarik kursi di sebelahku untuk Baekhyun. Bersikap sopan.
Gadisku duduk sambil tersenyum kecil, wajahnya merona merah tentu saja.
Dan saat Bibi Irene berjalan ke ruang makan dengan membawa makanan lain, aku juga langsung menarik kursi di ujung meja untuknya. Benar-benar sopan. Dia tersenyum lebar padaku, dan sedikit kaget saat meluncur ke kursinya.
Aku menyeringai ke arah Luhan yang sedang memutar matanya padaku, lalu kembali duduk di samping gadisku.
Saat kami mulai mengisi piring dengan makanan, keheningan yang terjadi terasa sedikit canggung. Ruang makan hanya diisi oleh suara dentingan alat makan.
Bibi Irene yang pertama memecah keheningan.
"Jadi, Chanyeol," ucapnya saat aku meneguk minum. "Bogum bilang kau berasal dari Busan?" tanyanya lalu mengambil sepotong daging rebus di piring sambil menatapku penasaran.
Aku berjuang menahan rasa ngeri dan mengangguk saat meletakkan gelas.
Bibi Irene kembali tersenyum. "Bagaimana rasanya tinggal di sana?" tanyanya tenang saat aku mengunyah daging dan melawan rasa pahit di tenggorokan.
Pembicaraan ini kembali membangkitkan kenangan lama. Aku berjuang mati-matian menghalau mereka pergi sambil menatap piring dan mendorong sayuran ke pinggir.
"Singkat," ucapku hampa, memaksa makanan masuk ke dalam mulutku, dan merasa semakin pahit karena Bibi Irene masih ingin terus membicarakan topik ini.
Bibi Irene sepertinya merasakan aula gelap keluar dari tubuhku dan langsung mengajak Luhan mengobrol tentang kain yang dibeli perusahaan desain interiornya. Dia sesekali memandangku sekilas meminta maaf saat aku mengunyah makanan dengan tidak semangat dan memasang senyum palsu.
Aku akhirnya merasakan tangan gadisku di lutut, dia mengusapnya perlahan untuk menenangkanku. Dan sampai dia menyentuhku, aku tidak sadar telah mencengkeram sumpit dengan erat. Aku membiarkan belaian lembutnya membuat tubuhku rileks.
Aku melirik Bibi Irene dan Luhan yang sibuk mengobrol dengan semangat, dan mereka tidak memerhatikanku saat aku menoleh melihat gadisku. Manik kecilnya penuh kekhawatiran saat mengusap lututku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum kecil, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke piring, dan berjuang menikmatinya saat perasaan mualku perlahan mereda.
Tidak ada yang mencoba untuk melibatkanku dalam percakapan setelah itu—aku sedikit merasa bersalah... dan sangat lega pada saat yang bersamaan.
Setelah makan malam selesai, aku mengucapkan terima kasih dengan tulus pada Bibi Irene, meskipun aku tahu bukan dia yang memasak. Dan saat dia memelukku setelah menyerahkan jaket di pintu depan, aku sama sekali tidak merasakan aura permusuhan darinya karena sikapku ketika makan malam tadi. Terima kasih, Tuhan.
.
.
Baekhyun POV
Aku ingin bicara dengan Chanyeol mengenai apa yang terjadi di ruang makan, tapi aku memutuskan untuk menunggu sampai berada di kamarnya pukul sepuluh nanti.
Aku berjalan keluar pintu setelah dia berpamitan pada Bibi Irene, dan memeluknya—aku harap pelukanku dapat sedikit menghiburnya. Dia lebih banyak diam saat mengecup puncak kepalaku dan berjalan kembali ke rumahnya. Aku melihatnya melangkah sambil menundukan kepala dan tangannya masuk dalam-dalam ke saku jaket.
Saat Bibi Irene bertanya tentang Busan, wajahnya langsung memucat dan keningnya berkerut. Aku ingin marah pada Bibi Irene karena sudah mengungkit masa lalunya. Tapi, sebenarnya aku juga tidak mengerti sampai di mana batas kesopanan saat membicarakan masa lalu Chanyeol.
Saat aku kembali masuk, aku khawatir Bibi Irene akan menanyaiku tentang perilaku Chanyeol, karena aku juga tidak tahu akan menjelaskan apa. Untungnya, Bibi Irene tidak pernah menyinggungnya. Bibi Irene membantuku mencuci piring sambil sesekali membuat komentar tentang kesopanan Chanyeol.
Dan kuakui, aku juga sedikit kaget. Saat aku tahu dia diundang makan malam, aku sedikit khawatir dengan cara bicaranya di depan Bibi Irene. Tapi kenyataannya, dia benar-benar membuat kami bertiga kaget dengan bunga dan gestur sangat sopannya; seperti menarik kursi untuk kami. Bibi Irene terlihat cukup senang dengannya.
Saat mereka pergi tidur pukul sembilan, aku sempat berpikir untuk mengganti pakaian. Luhan memaksaku memakai ini. Aku sudah menggunakan hak vetoku untuk rok, jadi aku harus pasrah menerima keputusannya sambil tersenyum pahit saat mengenakan baju yang memperlihatkan belahan dadaku. Yang paling parah dari semua ini adalah, aku khawatir Chanyeol berpikir kalau aku sedang berusaha terlihat seperti Sulli dan Joy. Itu sama sekali tidak benar.
Insiden di aula pada hari Jumat lalu bukanlah masalah besar. Aku berada di kamar kecil, ruang ganti, untuk mengganti pakaian olahraga saat mereka membicarakannya. Mereka bicara tentang Chanyeol yang telah meniduri Joy, dan mengejek selera Chanyeol dalam memilih kekasih.
Andai saja aku tahu semua ini sebelumnya, aku pasti menganggap ucapan mereka lucu dan sedikit tersanjung karena sudah ditambahkan ke dalam sebuah kelompok; gadis yang pernah tidur dengan Park Chanyeol.
Tapi, kenyataannya aku benar-benar merasa terganggu. Alasanya karena orang lain punya sepotong bagian dari kehidupan Chanyeol dan dia belum bersedia memberikannya untukku. Aku tahu ini benar-benar bodoh, karena aku memiliki cintanya, dan hal lain tidaklah penting. Tapi, aku merasa kalah dan rendah diri, karena mereka pernah berhubungan fisik, lebih daripada aku yang notabene adalah kekasihnya. Chanyeol terus-menerus menarik dirinya dariku, padahal dia tanpa ragu melakukan hal itu dengan gadis-gadis lain.
Gadis mana yang tidak akan merasa rendah diri kalau hal semacam ini sampai terjadi?
Jadi, saat Luhan memaksaku mengenakan kemeja minim dan celana jeans ketat, aku langsung panik, dan berusaha mengenakan sweater untuk menyembunyikan diriku agar Chanyeol tidak berpikir aku sedang berusaha menjadi seperti mereka. Dan tentu saja, Luhan tidak terima. Dia kemudian menghabiskan waktu empat puluh menit untuk meluruskan rambutku... karena menurutnya, rambut ikal itu sudah 'so last year'.
Dan sepertinya Chanyeol tidak terlalu keberatan melihat pakaianku saat makan malam tadi, jadi aku langsung memasang hoodie dan meninggalkan rumah pukul sepuluh.
Aku mengintai pekarangan belakang diam-diam sambil melirik jendela di lantai tiga rumahnya yang masih menyala. Aku menaiki jenjang tanaman rambat dan balkon tanpa kecelakaan dan sudah berdiri di depan pintu kacanya dalam hitungan detik.
Raut wajahnya saat membukakan pintu membuatku khawatir. Tidak banyak orang yang mampu melihat kerutan halus tanda stres di keningnya. Tapi, aku kenal setiap inci wajahnya seperti telapak tanganku sendiri, dan kerut kening seperti ini hanya muncul setelah dia mengalami mimpi buruk. Dan karena aku tahu dia tidak lagi mengalami mimpi buruk selama lebih dari sebulan, aku kira kerutan keningnya ini karena teringat masa lalu.
Dia masih tersenyum setelah aku masuk dan membungkuk untuk menciumku, seolah-olah tidak ada hal yang mengganggunya. Dan aku kembali membalas ciumannya dengan antusias, lalu memperdalam ciuman kami, sambil bertanya-tanya berapa lama waktu yang tersisa sampai dia menarik diri.
Lima detik ciuman, dan tidak ada suara erangan. Aku tersenyum saat dia menarik diri, dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan tingkahnya ini, terutama karena suasana hatinya sedang buruk.
Dia berjalan ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah kasur dan kembali membuat sketsa. Kegiatan seperti ini terasa baru untuk kami, karena aku tidak membawakannya makanan. Dia sudah makan malam di rumahku, jadi tidak ada gunanya aku membawa makanan lagi.
Aku ingin menemaninya membuat sketsa. Tapi, sebelumnya, aku berjalan ke rak buku dan mengeluarkan sebuah buku yang sudah kubaca minggu kemarin. Dia tidak mendongak melihatku saat aku kembali berjalan ke tempat tidur dan membuka hoodie, aku meringis melihat belahan dadaku sendiri.
Saat aku naik ke tempat tidur, aku melihat sekilas sketsa yang dibuatnya. Sketsa ibunya.
Malam ini, aku jadi tidak ingin duduk di sampingnya seperti biasa. Dan bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku ingin memberinya privasi saat menggambar. Menggambar sepertinya adalah hal intim bagi Chanyeol. Jadi, aku duduk bersila beberapa kaki darinya, lalu membuka buku dan membacanya dalam diam.
Aku sesekali meliriknya dan mengamati ekspresinya dengan seksama. Alisnya berkerut penuh konsentrasi saat tangannya berjalan bolak-balik di kertas gambar dalam diam. Sejumput rambut jatuh di keningnya dan bergerak setiap kali dia menggoreskan pensil dengan keras ke halaman.
Dia sama sekali tidak terlihat marah. Tapi, dia merasa terganggu. Dan dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun semenjak aku masuk, dia juga tidak pernah mendongak dari buku sketsanya setelah mulai menggambar. Kerutan di keningnya masih ada. Aku ingin mengusap keningnya dengan tanganku agar kerutannya hilang.
Tiba-tiba saja, matanya melesat naik dari buku sketsa dan melihatku yang sedang menatapnya terang-terangan. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan ke buku, wajahku mulai terasa panas. Aku menahan erangan frustrasi karena ketahuan.
Aku mendengarnya diam-diam menghela napas dan menutup buku sketsa, ini membuatku ingin kembali mengeluh frustrasi, karena aku tidak ingin mengganggu waktu menggambarnya. Aku mengintipnya saat dia meletakkan buku sketsa di tempat tidur.
Dia tersenyum padaku dari seberang tempat tidur, senyumnya terlihat sangat dipaksakan, dan menjulurkan lengannya—dia ingin aku mendekat. Aku menggigit bibir dan menatap bukuku, lalu menutupnya pelan dan meletakkannya di tempat tidur, di sampingku, sebelum merangkak ke arahnya.
Saat jarakku sudah cukup dekat, dia meletakkan lengannya di pinggangku dan menarikku untuk berbaring. Aku meletakkan pipiku di atas telapak tangan, dan dia mengusap lembut punggungku. Aku menatap matanya yang terlihat sedang berpikir keras. Setelah beberapa saat, aku mengangkat tangan dan mengusap kerutan di keningnya. Namun, kerutannya kembali muncul; aku cemberut, dan memilih untuk membelai rambutnya.
Dia mendesah saat jariku mulai menjalari rambutnya dengan lembut. Dia menatap mataku dalam diam sambil terus mengusap punggungku.
Kami berbaring seperti ini selama beberapa saat; benar-benar diam dan saling bertatapan.
Aku tidak tahu apa yang dicarinya di mataku, tapi aku tahu apa yang kucari di matanya. Aku takut kenangan masa lalu berhasil meracuninya. Kenangan sudah seperti beban berat di pundaknya, dan berpotensi membuatnya jatuh; jauh ke dalam tempat yang tidak bisa kupahami, dan dia jarang membiarkanku untuk melihat ke dalam kenangannya. Dia selalu menyembunyikan sesuatu di balik kebencian pada dirinya sendiri dan kesedihan yang tidak bisa kupahami. Ada sesuatu yang tidak pernah ditunjukkannya padaku, dan kalau tebakanku benar, dia juga tidak membiarkan dirinya sendiri untuk melihat hal itu.
Aku hanya bisa menebak-nebak, karena kurangnya informasi yang dia berikan padaku. Dan aku juga tidak tahu detail tentang kehidupnya sebelum terjadi kebakaran. Aku tidak tahu semengerikan apa ibunya waktu dia kecil. Atau bagimana sikap ayahnya. Hidupnya seolah-olah tidak pernah ada sampai ayahnya meninggal. Aku ingin tahu semengerikan apa kejadian itu. Kenapa dia tidak pernah membicarakan masa kecilnya sebelum kebakaran terjadi.
Sambil menarik napas dalam-dalam, dan berharap aku sudah cukup menghiburnya, aku langsung mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"Ceritakan padaku tentang kehidupanmu yang lain," bisikku dalam keheningan saat menatap matanya dan membelai rambutnya. Sekilas aku melihat kesakitan di matanya sebelum dia memejamkannya, aku tahu dia mengerti maksudku.
Aku terus membelai rambutnya dengan lembut dan menatap matanya yang terpejam. Ritme napasnya tidak pernah berubah, begitu pula dengan cengkeramannya di pinggangku. Tapi, kilatan rasa sakit di matanya membuatku gugup. Saat aku membuka mulut, hendak mengucapkan padanya untuk tidak usah memikirkan kata-kataku, matanya langsung terbuka.
Saat dia menatapku lagi, mulutku spontan tertutup. Seharusnya aku tidak perlu takut dengan apa yang kulihat. Ini benar-benar konyol dan tidak masuk akal. Tapi, matanya terlihat begitu asing. Dia terlihat seperti orang lain saat menatapku lekat-lekat. Dia tidak terlihat marah, atau kesal, atau pahit, atau kosong.
Dia terlihat... polos. Dia terlihat rentan. Dia tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya, dia selalu kuat, melindungiku dari segala masalah. Tapi, pada saat ini, dia terlihat seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Matanya yang berwarna hitam pekat melebar melihatku, membuat jantungku berdebar kencang.
"Masa kecilku merupakan gambar kesempurnaan," bisiknya di wajahku.
Dan bahkan suaranya tidak terdengar seperti suaranya. Ada perasaan naif yang aneh tercampur di dalamnya.
Aku mencari-cari kesedihan di matanya. Tapi, rasa itu sama sekali tidak ada. Dia hanya menatapku dengan kejujuran. Dan saat aku selesai mencerna ucapannya, aku langsung bingung.
Aku memutuskan untuk melawan ketakutanku sendiri dan memanfaatkan keterbukaannya untuk menggali informasi lebih jauh.
"Maukah kau menceritakan lebih banyak tentang orang tuamu?" bisikku hati-hati, tanganku masih membelai rambutnya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman asing. Dan melihatnya seperti ini juga membuatku sedikit takut, karena matanya semakin terlihat jauh.
"Mereka berdua saling mencintai," ucapnya, masih tersenyum padaku. "Mereka menikah saat masih sangat muda," ujarnya, dia menatap jauh ke belakang bahuku. Jari-jarinya bermain dengan ujung rambutku.
Aku terus membelai rambutnya dan berhati-hati mendorongnya untuk mengungkapkan lebih banyak lagi.
"Seperti apa ibumu?" bisikku pelan, mencoba untuk tidak membiarkan kecemasan memancar dari suaraku.
Senyumnya semakin lebar saat dia kembali menatap ke kejauhan, seolah-olah dia sedang mengingat hal yang membuatnya cukup senang, dan secara naluriah aku ikut tersenyum.
"Ibuku punya taman yang sangat luas di halaman belakang rumah," bisiknya diam-diam, kemudian melepaskan rambutku dan kembali memainkannya. "Ibu membiarkanku membantunya menggali lubang saat musim panas," sambungnya dan kemudian tertawa pelan. "Pakaianku selalu kotor karena lumpur," lanjutnya lagi sambil menggeleng, dia tidak pernah mengalihkan tatapannya dari kejauhan, di belakangku, dan senyumnya selalu ada.
Aku tetap diam sambil terus mengelus rambutnya. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi tanpa membuatnya marah.
Matanya tiba-tiba melesat kembali ke arahku. "Saat aku berusia tujuh tahun, mereka membawaku ke konser musik klasik," ucapnya, suaranya terdengar bangga dan dia masih tersenyum sendu.
Aku membalas senyumannya, menikmati kebahagiaannya, meskipun ini topik yang menyakitkan. Dia tersenyum lebar padaku saat memutar-mutar rambutku.
"Apa kau pernah menonton konser simfoni sebelumnya?" tanyanya penasaran.
Aku tersenyum dan menggeleng penuh penyesalan.
Dia kembali tersenyum. "Kita akan menontonnya bersama suatu hari nanti," janjinya.
Dan membayangkan Chanyeol membuat rencana seperti ini untuk kami membuatku terpesona dan gembira, jadi aku terus tersenyum melihatnya. Tapi, kenyataan yang menatapku sekarang benar-benar menyayat hati.
Chanyeol tidak memaksa dirinya untuk melupakan masa kecilnya karena masa kecilnya mengerikan. Melainkan, dia memaksa dirinya untuk melupakan itu semua karena masa lalunya menyenangkan.
Mungkin ada banyak alasan dibalik tindakannya ini. Mungkin dia pikir dia tidak pantas mengingat kenangan yang menyenangkan, atau mungkin karena kenangan masa kecilnya hanya membuatnya merasakan kepahitan, karena dia tidak akan bisa lagi merasakan hal yang sama. Apapun alasannya, dia tetap saja mendorong masa kecilnya yang menyenangkan jauh-jauh dan menempatkan sebuah peristiwa mengerikan untuk dijadikan sorotan utama.
Aku tidak ingin merusak suasana hatinya, tapi perasaan cintaku padanya hanya memicu rasa penasaranku tentang peristiwa kebakaran. Kami saling tersenyum, dan aku masih mengelus rambutnya selagi dia memutar-mutar rambut di punggungku.
"Apa yang terjadi saat kau berusia sembilan tahun?" bisikku.
Senyumnya perlahan hilang dan rasa sakit yang sama kembali melintas di matanya. Dia tidak memejamkan matanya sekarang, dan aku tahu dia merasa tersiksa.
"Saat itu ulang tahun pernikahan mereka," bisiknya sedih, memutar-mutar rambutku lebih cepat. Nada suaranya sudah cukup menjelaskan kejadian apa yang dimaksudnya. Dan kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya, "Tiga belas Mei."
Dia menatapku lama. Aku mengangguk, memintanya untuk lanjut bicara.
Dia semakin memutar-mutar ujung rambutku lebih cepat, dan matanya terlihat semakin sedih. "Aku dan ayahku punya rencana untuk ibuku malam itu," ucapnya serak.
Sekarang aku benar-benar mempertimbangkan untuk membuatnya berhenti bicara, melihatnya seperti ini saja sudah membuat dadaku terasa sakit.
Dia memutar-mutar ujung rambutku dengan putus asa. Rahangnya mengeras.
"Aku pikir lilin itu romantis," bisiknya lagi.
Dan saat aku melihat air mata mulai berlinang di matanya, aku langsung memutuskan untuk berhenti. Dengan cepat aku mengangkat kepalaku dari bantal dan kemudian meletakkan wajahku di lekuk lehernya, mencoba untuk memeluknya meskipun posisi kami canggung.
Dia sepertinya mengerti maksudku, dan dia mempererat lengannya di pinggangku dan membenamkan wajahnya di bahuku. Aku mengencangkan lenganku di belakang lehernya.
Aku masih tidak tahu detail sebenarnya bagaimana kebakaran itu bisa terjadi, sampai-sampai anak berumur sembilan tahun bisa benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu, dan bukan hanya karena dia terlalu takut untuk mencari bantuan bagi ayahnya. Kalau alasannya hanya karena itu, aku bisa mengerti kenapa dia begitu benci dan jijik pada dirinya. Dan aku takut dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, kalau dia memang ada hubungan dengan penyebab kebakaran.
Hal itu akan selalu menghantuinya. Sama seperti suara teriakan di benakku, dan perasaan bersalah karena tidak bisa berlari lebih cepat dan menjadi lebih kuat untuk menyelamatkan ibuku.
Kami begitu serupa, tapi jauh berbeda.
Aku memeluknya lama dengan penuh kasih sayang sambil sesekali mengecup lehernya dengan lembut. Aku harap dia akan membiarkanku mengambil sedikit bebannya. Dia benar-benar diam saat aku terus membelai rambutnya. Dan meskipun dia tidak terisak atau ritme napasnya berbeda, tapi aku bisa merasakan air mata membasahi material kemeja merahku.
Saat aku sedang mempertimbangkan untuk menyenandungkan lagu tidurnya, dan berharap dia mau memaafkanku karena sudah mengambil kesempatan di saat-saat rentan, dia langsung memalingkan wajahnya ke leherku dan mengecupnya lembut.
Dia menghela napas dalam-dalam di kulit leherku.
"Ayo kita keluar dari sini besok," gumamnya di leherku, lalu sedikit meremas tubuhku.
Keningku berkerut bingung mendengar permintaannya.
"Hanya kau dan aku, jauh dari semua omong kosong ini," ucapnya lagi dengan putus asa, suaranya sudah kembali seperti biasa.
Aku tersenyum di lehernya dan mengangguk setuju. Kami selalu berada di bawah tekanan, tidak pernah bisa benar-benar menikmati kebersamaan sebagai pasangan di siang hari tanpa ada seseorang yang terlalu serius menganalisis tiap gerak-gerik kami, atau membawa topik pembicaraan yang menyakitkan. Kami memang punya banyak malam untuk bersama, tapi seharian berada di luar saat siang hari, rasanya akan sangat menyenangkan.
Dia tidak kunjung mengangkat kepalanya dari bahuku, jadi asumsiku dia sudah siap untuk tidur. Dan asumsiku terbukti benar, karena saat aku mulai bersenandung, dia tidak memprotes.
.
.
Chanyeol terlihat lebih baik saat bangun tidur pagi itu. Kerutan di keningnya sudah hilang saat berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, dan mengusap rambutnya.
Aku tidak punya banyak waktu untuk merenungkan peristiwa tadi malam, jadi aku cepat-cepat melompat dari tempat tidur, mengumpulkan semua barang-barangku dan meletakkan Brown Sugar Burdens di samping jam alarm. Dia masih mengantuk dan berbaring di tempat tidur sebelum akhirnya membuka mata dan menatapku.
Matanya masih merah, dan aku langsung tahu dia habis menangis. Tapi, tidak ada lagi rasa sakit ataupun beban saat dia tersenyum padaku, lalu dia duduk saat aku naik kembali ke tempat tidur untuk menciumnya.
Dia menyentuh lembut wajahku saat menciumku dengan singkat sambil mengusap pipiku dan mendesah di bibirku. Tidak seorang pun dari kami ingin memperdalam ciuman ini, karena kami tidak sikat gigi sebelum tidur semalam.
Aku menarik diri sambil tersenyum, senang karena dia merasa lebih baik dan tidak marah karena aku mengorek masa lalunya.
"Gazebo nanti siang?" tanya dengan suara mengantuk sambil mengusap rambutnya setelah bersandar ke kepala ranjang.
Senyumku semakin lebar saat menyadari dia masih ingin pergi keluar bersamaku, dan aku mengangguk dengan antusias. Dia tertawa kecil melihatku.
"Bawa makan siang," tambahnya saat aku melangkah keluar pintu.
Aku meninggalkan kamarnya dengan lega, dan berharap aku sudah sedikit membantunya dengan mencongkel dan memaksa luka lamanya terbuka. Dia sudah mengambil begitu banyak beban dariku; rasanya senang sekali bisa membalas budi.
.
.
Bibi Irene tidak keberatan memberiku izin untuk menghabiskan waktu bersama Chanyeol.
Chanyeol berhasil membuat Bibi Irene terkesan karena kesopanannya saat makan malam. Tapi, lain ceritanya dengan Luhan.
"Baekhyun..." ucapnya saat menatapku frustasi di tengah kamarku. "Apa maksudmu kau tidak tahu ke mana kalian akan pergi?" tanyanya jengkel.
Aku mengangkat bahu dan menatapnya kosong, karena aku tidak bisa melihat di mana letak permasalahannya. Aku tidak peduli ke mana kami akan pergi, asalkan aku bersama Chanyeol.
Dia terlihat gusar dan melemparkan sebuah kemeja pilihannya.
"Bagaimana caranya aku bisa tahu pakaian apa yang harus kau kenakan?" pekiknya sambil mengangkat alis.
Aku kembali mengangkat bahu, masih menatapnya kosong. Aku tidak peduli dengan pakaian apa yang akan kukenakan, selama aku memakainya saat bersama Chanyeol. Lagi pula, hak vetoku minggu ini juga sudah habis.
Dia menggeram kesal dan mulai menjarah laci pakaianku sambil mengerucutkan bibir melihat berbagai pakaian warna-warni. Aku sangat bersyukur karena tidak sempat bertanya ke mana kami akan pergi pada Chanyeol, karena aku sedikit senang melihat Luhan bertingkah konyol seperti ini.
Dia akhirnya memaksaku mengenakan kemeja putih tipis yang terlihat gatal di kulit. Kemejanya berlengan panjang dan berkibar lemas, menyembunyikan tanganku. Aku mengerutkan bibir saat melihat bayanganku di cermin. Kalau tidak salah Luhan menyebut jenis kemeja ini babydoll. Dan kemeja ini mengingatkanku pada pakaian bersalin. Aku bersyukur karena pakaian babydoll tidak dirancang untuk memamerkan belahan dada.
Celana jeans yang kukenakan juga terasa lebih nyaman, walaupun masih terlalu ketat. Alasan Luhan memilih pakaian seperti ini adalah, karena ingin mengikuti tren di majalah atau semacamnya.
Aku membiarkan rambutku tergerai lurus dan mengkilap, dan pergi ke dapur untuk membuat makan siang.
Aku juga merasakan frustasi yang sama dengan Luhan saat berada di dapur, karena aku tidak tahu jenis makan siang apa untuk dikemas. Aku akhirnya memutuskan untuk membuat sandwich. Sama halnya dengan celana jeans... kau tidak akan pernah salah dengan sandwich. Aku mengepaknya ke dalam tasku, ditambah dengan beberapa kaleng soda dan keripik kentang.
Saat siang datang, aku berjalan menuju gazebo. Langit terlihat cerah, dan suhu yang tidak terlalu dingin membuatku nyaman mengenakan kemeja ini.
Chanyeol sedang menungguku di bangku saat aku berjalan ke sana. Dia berdiri saat melihatku mendekat, dia masih mengenakan jaketnya. Sinar matahari yang jatuh di rambutnya membuat rambutnya terlihat sedikit berkilauan. Dia tersenyum padaku, dan mengulurkan tangannya. Tanpa ragu-ragu, aku menyelipkan tanganku ke dalam tangannya, dan membiarkannya membawaku ke manapun yang dia mau.
Aku sedikit kaget saat dia membawaku ke sungai. Aku berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangannya erat-erat, aku sedikit penasaran, dan aku benar-benar mengagumi keindahan sungai ini di siang hari. Kami berjalan di sepanjang tepi sungai yang berbatu, dan akhirnya sampai di sebuah perahu kayu kecil. Saat dia berhenti di depannya, aku menaikkan sebelah alis.
Dia menyeringai ke arahku. "Aku sudah meminjam perahu ini pada pemiliknya; Paman yang sering memancing di sini. Kita butuh perahu untuk sampai ke tujuan," jelasnya samar.
Aku memutar mata dan membiarkannya membantuku masuk ke dalam perahu kecil. Dia sedikit menggodaku saat berjalan di belakangku, lalu dia duduk dengan sisi berlawanan menghadapku. Dan aku menertawakannya saat dia mendayung perahu menyusuri sungai.
Sungai ini tenang, alirannya tidak terlalu deras, jadi dia tidak mengalami banyak kesulitan. Tapi, tetap saja melihatnya mendayung merupakan pemandangan yang lucu. Dia memutar matanya dan mencoba terlihat kesal, tapi aku bisa melihat bibirnya berkedut menahan seringaian setiap kali tawaku meledak.
Matanya terlihat semakin jernih di bawah sinar matahari, dan sama sekali tidak merah seperti tadi pagi. Aku bersandar ke dinding perahu, dan mengawasinya mendayung sambil menahan tawa.
Sungai ini benar-benar indah, dan aku semakin menganguminya saat kami beranjak ke arah selatan. Pepohonan di sepanjang sisi timur sungai terlihat sedikit rapat, dan batangnya ditumbuhi lumut hijau pekat, tanaman pakis juga mengintip di setiap celahnya. Sesekali angin meniupkan rambut ke wajahku, dan aku menyekanya kembali dengan jengkel.
Perjalanan dalam perahu tidaklah berlangsung lama, dan aku sedikit kecewa. Chanyeol membantuku keluar dari perahu, memantapkan pijakkan di atas perahu, dan menggendongku ke tanah dengan mudah. Dia kembali meraih tanganku, membawaku berjalan di pinggiran sungai; membuatku semakin penasaran.
Sebelum kesabaranku habis dan semakin gatal untuk bertanya ke mana kami akan pergi, pohon-pohon di samping pinggir sungai mulai membuat ruang yang lebih terbuka. Ada padang rumput di sini. Seperti padang rumput di halaman belakang rumah kami, tapi dengan rumput yang lebih tinggi, dan sebatang pohon besar tumbuh di tengahnya.
Aku tersenyum dan berjalan memasuki padang rumput di samping Chanyeol dengan antusias. Ini sangat Chanyeol. Tidak ada embel-embel atau omong kosong, hanya ada padang rumput sederhana dengan sinar matahari mengintip melalui kanopi pohon di sekitar kami.
Dan setelah kami duduk di bawah pohon yang tumbuh di tengah-tengah padang rumput dan memberikan kesan teduh, tiba-tiba aku berpikir kesederhanaan adalah salah satu hal yang paling kusukai dari Chanyeol. Kesederhanaannya selalu berhasil membuatku merasa normal dan nyaman.
Kami kemudian makan siang, akhirnya bisa bicara dan tertawa tanpa harus menyembunyikan kedekatan kami dan merasa khawatir dengan orang-orang yang melongo memerhatikan.
Dia membiarkan kepalaku bersandar di bahunya. Punggung kami bersandar di batang pohon selagi kami makan siang. Dia tidak pernah melepas jaketnya, ini sedikit aneh, karena aku saja sudah merasa sangat nyaman dengan suhu sekarang.
"Apa kau sering datang ke sini?" tanyaku penasaran, menatap padang rumput yang terbuka lebar saat sinar matahari jatuh di rumput yang bergoyang tertiup angin.
Dia mengangkat bahunya sambil makan sandwich. "Aku dan Sehun sering ke sini bersembunyi untuk mabuk-mabukkan saat kelas satu," ujarnya sambil mengunyah.
Aku ingin memutar mata, karena sepertinya dia dan Sehun dulu sering melakukan hal semacam itu. Senang sekali rasanya sekarang Sehun memiliki Luhan untuk menjaganya dari kebiasaan jelek. Aku kenal Chanyeol, jadi aku tahu bukan dia yang punya kecenderungan untuk menyarankan hal seperti itu.
Setelah kami selesai makan, dia meletakkan lengannya di pinggangku, dan membiarkanku bersandar di sisi tubuhnya saat dia menceritakan pengalamannya di toko bunga. Aku melipat kaki sambil mendengarkan ceritanya dengan tertarik.
Matanya penuh dengan kegembiraan saat menceritakan bagaimana seriusnya Sehun menjelaskan makna bunga, sambil memandang ke arah padang rumput.
"...tapi, faktanya anyelir adalah bunga yang sangat indah," ucapnya mengejek cara bicara Sehun, kemudian tertawa-tawa mengingat pilihan katanya.
Aku juga ikut tertawa bersamanya. Karena ucapan Sehun seperti mengutip langsung perkataan Luhan. Dan aku tiba-tiba yakin dia benar-benar mengutipnya, karena bunga favorit Bibi Irene adalah anyelir, dan Luhan kesal setengah mati saat semua orang memandang rendah bunga itu.
Saat tawaku meledak karena membayangkan Luhan menguliahi Sehun panjang lebar tentang bunga, Chanyeol memalingkan wajahnya melihatku sambil tersenyum.
Aku berusaha menghentikan tawaku cukup lama untuk mendengar kisah selanjutnya. Tapi, saat Chanyeol kembali mengejek Sehun, "...elegan dan megah..." tawaku meledak dua kali lipat. Dia benar-benar mengutip ucapan Luhan! Chanyeol tertawa bersamaku sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.
"Karena..." ucapnya lagi sambil berusaha mengendalikan diri. "Karena ucapan 'ambil ini, Chanyeol', sepertinya tidak cukup bagi Sehun," sambungnya lagi sambil memutar mata dan menyandarkan kepala ke batang pohon.
Saat tawaku akhirnya reda, napasku mulai terengah-engah, dan kepalaku kembali bersandar ke bahu Chanyeol.
"Ya, tapi aku pikir anyelir memang bunga yang indah," ucapku jujur sambil mengangguk.
Ini mungkin tawaku yang paling lepas semenjak kejadian piyama Nick Wilde. Aku membiarkan kesenangan mengisi euforia yang dibawakan Chanyeol untukku.
Menghabiskan waktu dengan kekasih yang kucintai membuatku merasa seperti gadis normal. Tiba-tiba aku menyadari, saat bersama Chanyeol sendirian, aku benar-benar seorang gadis normal. Kenormalanku sepertinya hanya ada untuknya. Dan alasanku ingin menjadi gadis normal lebih karena dia daripada orang lain.
Kami hanya duduk-duduk dalam waktu yang lama. Hanya menikmati keheningan. Dia meraba ujung rambutku yang jatuh tepat di atas pinggangku. Kepalaku kembali bersandar di bahunya sambil memejamkan mata, menikmati aroma rumput, dan merasakan tiupan angin, ditambah dengan percikan dari Chanyeol. Tiba-tiba saja, aku merasakan jarinya dengan lembut menyentuh daguku.
Aku membuka mata dan berpaling melihatnya. Matanya yang gelap menerobos masuk ke dalam mataku, dan kami hanya saling bertatapan selama beberapa saat. Matanya kemudian melesat ke bibirku dan kembali ke mataku.
Aku berjuang menahan senyum saat menjawab permintaannya dalam diam dan bersandar ke arahnya untuk menempatkan bibirku di atas bibirnya. Jari-jarinya meluncur dari daguku ke pipiku saat dia menghisap bibir bawahku dengan lembut. Aku mendesah saat menghisap bibir atasnya, lalu mengalungkan lenganku di lehernya untuk membelai rambut halus di tengkuknya.
Dengan tidak sabaran, aku menekan bibirku lebih kencang, lalu melesatkan lidahku keluar untuk menjilati bibir atasnya, dan menahan kembali erangan yang benar-benar terdengar memalukan saat bibirnya menerima lidahku. Kami perlahan saling memijat lidah satu sama lain. Lengannya memeluk pinggangku lebih erat dan tangannya di pipiku berpindah tempat ke belakang kepalaku.
Pelukan kami semakin erat, begitu pula dengan ciuman kami. Sebelah tanganku meluncur ke dalam jaketnya yang terbuka dan mengusap dadanya yang bidang, sebelum mengepalkan tanganku di kaosnya untuk menarik tubuhnya mendekat.
Gerakan lidah kami terasa semakin mendesak, saling berjuang untuk mendominasi. Lengannya di pinggangku membawa tubuhku mendekat saat lidahnya mendorong lidahku. Aku menyelipkan sebelah tanganku ke dalam rambutnya lalu mengepalnya sebelum menariknya.
Aku berjuang menahan desahan saat dia mengerang keras di dalam mulutku. Sebelah tangannya yang berada di rambutku perlahan-lahan meluncur ke bahuku, lalu mengusap lengan atasku dan turun ke siku. Aku semakin bersandar ke tubuhnya sembari berjuang melawan lidahnya dengan terengah-engah, cengkeramanku di rambutnya semakin erat, membuatnya terkesiap saat menekan lidahku dan gerakannya semakin memanas.
Tangannya di sikuku meluncur ke tulang rusuk, dan dia mengusap perutku dengan ibu jarinya, tepat di bawah payudaraku. Aku merintih dan terengah-engah di dalam mulutnya, mendorong tubuhku lebih dekat ke tangannya, dan mendorong apapun yang bisa diasumsikan sebagai usaha agar dia mau menyentuhku lebih jauh. Tapi, dia hanya terus mengusap perutku dengan ibu jarinya dan semakin mendorong lidahnya ke mulutku.
Aku sudah tidak sabar, dan semakin mencengkeram erat rambutnya dengan tinjuku, menariknya dengan kasar dan menyuruhnya... untuk... sentuh aku.
Dia mengeluarkan erangan paling seksi yang pernah kudengar, dan akhirnya dia mulai berinisiatif. Tangannya dengan cepat meluncur ke atas, ke payudaraku. Dia menyentuhnya perlahan sebelum meremasnya pelan.
Aku pikir dia akan kembali mengerang di dalam mulutku saat merasakannya. Tapi, sayangnya, aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk melakukan itu. Karena saat tangannya yang lebar menyelimuti payudaraku dan meremasnya, kepanikan langsung melonjak di dadaku dan membuatku menjauh darinya, sambil terengah-engah dan sedikit gemetaran.
Matanya langsung terbuka saat aku menarik diri, meninggalkan tangannya melayang di udara. Mataku melebar menatapnya yang kebingungan selagi aku menenangkan napas.
Dia menjatuhkan tangannya, ekspresi ngeri terpetakan di wajahnya.
"Oh, Tuhan, Baekhyun. Aku minta maaf," ucapnya buru-buru sambil terengah-engah. Dia menggelengkan kepala dan menatapku dengan prihatin.
Aku menggeleng dan berjuang lebih keras melawan gelombang kepanikan di dadaku. Dalam upayaku untuk mengurangi perasaan menjengkelkan ini, aku bersandar ke batang pohon dan memeluk lutut di dada, lalu menundukkan kepalaku sambil menarik napas dalam-dalam.
Aku menghitung sampai lima puluh di kepalaku sambil terus bergerak maju-mundur dengan perlahan, mengusir kepanikan. Aku tidak melihat kilatan masa laluku, hanya merasa ngeri karena tidak bisa mempertahankan diri. Ini benar-benar tidak rasional dan bodoh. Frustasi yang kurasakan membuatku ingin menangis keras.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali normal. Lagi pula, ini juga bukan gangguan mental yang biasa. Aku mengangkat kepala dan melihat Chanyeol duduk di depanku, dia telihat takut untuk menyentuhku. Dan melihatnya seperti ini hanya membuat perasaanku semakin tidak karuan.
Matanya penuh dengan penyesalan. "Aku minta maaf, Baekhyun. Aku seharusnya memberi peringatan," ucapnya menyesal sambil menggelengkan kepala.
Aku menatapnya gusar, lalu mengubah posisi duduk bersila dan mencabuti rumput.
"Aku tahu apa yang terjadi, Chanyeol," ucapku sambil memutar mata, dan menarik rumput dengan marah. "Aku ingin hal itu terjadi. Hanya saja—" aku berhenti bicara dan mencabuti rumput dengan kesal. "Otakku bodoh," geramku, dan kemudian berkedip cepat untuk menahan air mata yang mengancam keluar.
Chanyeol semakin menunduk saat menyadari maksud ucapanku. Dia mengerutkan keningnya, sebelum kilatan kemarahan bercahaya di matanya.
"Apa dia melakukan itu padamu?" tanyanya sambil berbisik marah.
Butuh beberapa saat sebelum aku mengerti siapa yang dia bicarakan. Kyuhyun. Aku langsung menggeleng marah.
"Tidak!" seruku keras, aku tidak ingin dia berpikir seseorang pernah melakukan hal kotor seperti itu padaku. "Itu tidak pernah terjadi, aku bersumpah," ucapku jujur dan memohon kepercayaannya.
Kyuhyun mengancam akan melakukan banyak hal padaku, dan terkadang dia melakukan gerakan yang sugestif di depanku, tapi dia tidak pernah melakukan hal untuk merenggut kehormatanku sebagai perempuan. Entah karena dia tidak punya kesempatan, atau entah karena memang dia tidak punya niat untuk benar-benar melakukannya, aku tidak tahu. Tapi, kesakitan fisik luar biasa yang dilakukan Kyuhyun, membuatku kembali teringat padanya saat hal-hal tertentu terjadi.
Chanyeol terlihat sangat lega mendengar penyangkalanku dan kembali bersandar di pohon sambil menghela napas. Dia menatapku lekat-lekat, mungkin menganalisis ekspresi frustrasiku. Bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman sedih.
"Jangan sedih begitu," ucapnya memohon pelan, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap tanganku yang berbaring di atas rerumputan.
Sentuhannya terasa baik-baik saja dan menenangkan. Ini hanya membuatku bingung dan semakin frustrasi.
"Aku yakin hal semacam ini juga terjadi pada gadis normal saat ada yang menyentuh mereka untuk pertama kalinya."
Semua udara langsung meninggalkan paru-paruku, karena ucapannya membuat perasaanku sakit dan terpukul.
Aku menatapnya yang sedang kebingungan dengan perasaan terluka. Tapi, sebelum aku sempat mengusir perasaan ini pergi, sebuah tawa hambar keluar dari bibirku. Aku berjuang menahan air mata saat mengingat kebenaran dari perkataannya.
"Benar," ucapku sambil mengangguk setuju, lalu mengalihkan pandangan darinya, melihat padang rumput. "Gadis normal."
And maybe I'm too young
To keep good love from going wrong
-Lover, You Should've Come, Jeff Buckley
.
.
tbc
