Master of Solomon and Dark Magic

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

.

Namikaze Naruto

.

.

.

.

Supranatural, Fantasy, Adventure, Romance

.

.

.

.

.

.

Chapter 28

.

.

.

.

.

.

Menma yang ada di kantin istana dengan sahabatnya Sumaru yang duduk di sebelah kanannya sambil menikmati makan paginya itu. Menma menghembuskan nafas pelan, sesekali garpunya diputarkannya di atas kumpulan mie miliknya, sedangkan Sumaru yang melahap roti kejunya menatap bingung ke arah sahabatnya itu.

" Ada yang menganggu pikiranmu, Menma?" tanya pemuda tersebut, heran dengan tingkah sahabat Uzumakinya itu. Kedua iris azure pemuda itu melirik ke arah sahabatnya, yang tidak lama setelahnya dirinya menghembuskan nafas pelan, menggeleng kepala.

" Bukan apa-apa." jawabnya pelan yang kemudian melahap mie berwarna putih itu, sedangkan sang sahabat hanya menaiki salah satu alisnya bingung dengan tingkah pemuda Uzumaki tersebut. Menma mengunyah beberapa kali mie yang ada di dalam mulutnya, yang kemudian dirinya telam masuk ke dalam kerongkongan. Pemuda itu terdiam kembali, dirinya masih memikirkan tentang penolakan yang dilontarkan oleh Naruto beberapa hari lalu saat menjalankan tugas evakuasi bangunan-bangunan yang runtuh di kota Konoha selatan. Kolonel muda itu mengingatkan dirinya dengan ayahnya yang delapan bulan lalu masih belum pulang saat menjalankan misi rahasia di Iwagakure. Dirinya tidak menyangkah akan bertemu dengan seseorang yang mirip dengan ayahnya sendiri, bahkan bisa di katakan dirinya jika tidak melihat dengan jelas akan mengira Naruto adalah ayah kandungnya. Awal pertemuan saat penerimaan magic knights baru, dirinya hampir mengira ayah kandungnya sendiri, tapi setelah diperhatikan, ternyata bukan sosok ayahnya. Menggeleng kepalanya, dirinya memakan kembali sarapannya dengan lahap, yang kemudian meneguk habis jus jeruk miliknya, sedangkan Sumaru yang ada di sampingnya semakin heran melihat tingkah sahabatnya itu.

" Aku pergi dulu Sumaru." terdengar suara geseran kursi ke belakang, terlihat Menma bangkit dari tempat duduknya, membuat pemuda berambut hitam yang ada di sampingnya itu menatap bertanya-tanya.

" Mau kemana, Menma?" tanyanya sedangkan pemuda Uzumaki itu tidak menggubrisi sahabatnya itu, berjalan diam meninggalkan meja tempatnya berada. Pemuda Uzumaki itu berjalan keluar kantin istana, berjalan diam dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku jas kulit penyihirnya. Berjalan dengan tenang, dirinya tidak mempedulikan dengan beberapa tatapan genit yang dilemparkan oleh beberapa gadis yang berpapasan dengannya. Dirinya berpikir, kapan ayahnya akan kembali dari misi yang ada di Iwagakure, karena sudah delapan bulan tidak ada kabar keberadaannya, bahkan ibunya sendiri tidak ingin membahas tentang ayahnya. Dirinya yakin jika ayahnya, Uzumaki Minato masih hidup karena beliau adalah magic knights terhebat yang dimiliki oleh Konoha, dan nilai terbaiknya adalah ayahnya berasal dari penyihir biasa. Tidak lama setelahnya, dirinya sampai juga ketempat tujuan yang diinginkannya, yaitu sebuah taman sepi dengan sebuah pancuran air yang ada di tengah-tengah taman tersebut, pohon-pohon pinus yang tumbuh sejajar di sisi halaman tersebut, juga sebuah gazebo beton berbentuk kerucut dicat putih yang berada di tengah-tengah halaman tersebut. Tempat tersebut merupakan tempat yang jarang orang kunjungi karena berada disisi sudut istana juga kawasannya tertutup, jadi hanya segelintir orang yang tahu tempat tersebut. Menma berjalan mendekati gazebo yang tiangnya dililit oleh akar tumbuhan itu, dirinya kemudian duduk di kursi tempat, melipat kedua tangannya di atas meja, membungkukkan badannya, menyembunyikan wajahnya kebawah dengan dahi kepalanya bertemu dengan lengannya. Memejamkan kedua matanya, yang tidak lama cairan bening perlahan-lahan keluar dari kedua sudut matanya. Dirinya curiga dengan sikap ibunya yang selalu murung di tempat yang jauh dari keramaian orang. Dari situ dirinya yakin jika ada yang tidak beres dengan ayahnya, tapi pemuda tersebut mencoba menepisnya.

" Ayah….." panggilnya lirih terlihat air mata pemuda tersebut yang semakin lama semakin deras. Tanpa di sadari oleh pemuda tersebut, seseorang menyandar di salah satu sisi belakang pohon pinus lapangan tersebut. Naruto yang kedua matanya terpejam sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menghembuskan nafas pelan, dirinya tahu bagaimana meresakan kehilangan. Mendongakkan wajahnya keatas dengan kedua azurenya yang terbuka, menatap langit cerah yang bersinar hari ini. Dirinya tidak heran dengan apa yang di rasakan oleh Menma, tapi seharusnya pemuda tersebut masih bersyukur karena ayahnya masih hidup, tidak seperti Zetsu, Toneri maupun Kaguya yang di tinggal yatim piatu. Berjalan tanpa suara meninggalkan pemuda Uzumaki tersebut, dirinya sudah menentukan kapan akan melaksanakan misi penyelamatan Jendral juga pasukan yang tertangkap di Iwagakure dan lagi, dia sudah mendaptkan orang-orang yang akan membantunya melaksanakan tugas tersebut.

.

.

.

.

.

Yagura maupun A yang masih berada di Istana Kerajaan Api duduk tenang di ruangan tempat Kaisar berada. Kedua Kaisar dari Kerajaan berbeda itu melirik satu sama lain, kemudian kedua mata mereka menatap ke arah Hiruzen yang duduk di sebrang, terlihat Kaisar dari Kerajaan Api itu gugup di tatap oleh kedua sahabatnya. Yagura menopang dagunya dengan tangan kirinya di pegangan kursi yang di dudukinya itu, menyilang kedua kakinya dengan kedua iris violetnya menatap datar, sedangkan A sendiri melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu apa yang akan terjadi.

" Jadi?" ucapan Kaisar Kerajaan Kabut tersebut memecahkan keheningan, terlihat kedua mata ungunya menajam menatap Hiruzen yang tersentak pelan.

" Kamu tahu jika mereka akan menyerang Kerajaan Api dan tidak memberitahukan kepada kami berdua. Apa kamu tidak yakin jika kita bisa menahan mereka?" lanjutnya lagi. Hiruzen yang mendengar perkataan pemuda berusia enam belas tahun itu hanya terdiam sejenak, yang kemudian dirinya menghembuskan nafas pelan, menyandarkan punggungnya di sofa tempatnya berada. Kaisar dari Kerajaan Api itu mencari kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kaisar Kirigakure tersebut.

" Bukannya aku tidak ingin memberitahu kalian berdua, tapi aku juga mendapatkan informasi mereka akan menyerangpun hal yang mendadak dan itupula beberapa hari sebelum event berlangsung. Waktu itupun kami hanya mengada-ada jika mereka akan menyerang karena penjaga dungeon Temple of The Sand Spirit sudah tidak ada, apalagi tempat tersebut dikabarkan hancur. Jika aku memberitahukan hal ini, malah akan membuat kecurigaan oleh musuh dan lagi penduduk Konoha tentu saja akan panik." jelasnya terlihat kedua Kaisar tersebut terdiam mendengarnya. Hembusan nafas panjang kedua dari mulut Yagura maupun A, yang kemudian keduanya menyandarkan punggung disandaran tempat duduk mereka.

" Kamu ada benarnya juga. Semakin banyak magic knights yang berkeliaran di kota akan membuat mereka curiga, juga warga sipil yang tidak mengikuti event akan cemas." kata pemuda berambut hijau lumut itu, yang di jawab anggukan setuju oleh A.

" Aku setuju juga, apalagi waktu itu terlalu mendadak jadi akan mengundang kecurigaan mereka. Tapi aku tidak menyangkah, mereka bisa mendapatkan tiga divine beasts sekaligus." sambung A yang dijawab anggukan setuju oleh kedua Kaisar tersebut.

" Apa kalian juga merasakan ada yang aneh dengan aliran sihir mereka berdua?" tanya Hiruzen tiba-tiba membuat A mengerutkan kening mendnegarnya, sedangkan Yagura terdiam.

" Apa maksudmu, Hiruzen? Aku tidak mengerti sama sekali?" tanya Kaisar dari Kerajaan Petir tersebut.

" Aku tidak yakin, tapi aku merasakan ada aliran sihir asing yang mengalir bersamaan dengan aliran sihir milik mereka berdua." jawab Yagura sambil memegang dagunya juga kerutan di keningnya menghiasi di wajahnya. Hiruzen mendengar perkataan Kaisar dari Kerajaan Kabut itu tersenyum tipis.

" Kemampuan sensor yang kamu miliki tidak berubah, Yagura-kun. Aku rasa kemampuan yang kamu miliki juga semakin meningkat." jawabnya terlihat pemuda berambut hijau lumut itu tersipu malu sedangkan A hanya menatap bingung dengan interksi kedua sahabatnya itu.

" Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa yang berubah dari mereka berdua?" tanyanya sedikit kesal karena dirinya tidak tahu arah pembicaraan yang kedua sahabatnya bahas membuat Yagura menyengir kecil melihat tingkah Kaisar dari Kerajaan Petir tersbeut.

" Kenapa kamu penasaran? Tumben sekali kamu ingin mengetahui pembicaraan serius." sindirnya membuat kedutan kesal muncul di dahi pria bertubuh besar itu, yang kemudian langsung saja menjitak kepala Kaisar muda di sampingnya cukup keras membuat pemuda tersebut memegang kepalanya juga mulutnya mengeluarkan suara ringisan cukup keras. Kedua iris ungunya menatap tajam ke arah A, kaki kanannya menendang lutut pria tersebut.

" Sakit tahu! Lama-lama aku bisa menjadi idiot jika kamu menjitakku terus!" teriaknya marah, sedangkan A hanya menggorek telinga kirinya dengan jari kelingking, sedikit meringis akibat teriakan Kaisar Kerajaan Kabut tersebut. Hiruzen hanya terkekeh pelan melihat tingkah kedua sahabatnya itu, kemudian dirinya menghembuskan nafas pelan, tersenyum kecil.

" Apa kalian berdua masih berencana untuk tinggal di sini? Keadaan Konoha sudah bisa dikatakan kami kontrol. Apa kalian tidak ingin kembali ke Kerajaan kalian?" tanyanya membuat kedua Kaisar yang ada dihadapannya itu menatap ke arahnya. Yagura menghembuskan nafas pelan, kemudian dirinya menatap memohon ke arah Kaisar Kerajaan Api tersebut.

" Aku ingin berbicara secara privasi dengan Naruto membicarakan tentang kecurigaanku masalah divine beast berada di salah satu pulau terpencil Kerajaan Kabut. Aku ingin dirinya mencoba memerikasanya." melasnya membuat Hiruzen terdiam mendengar perkataan pemuda tersebut, sedangkan A menatap aneh melihat tingkahnya.

" Memangnya kamu tidak mencoba mengkerahkan pasukan AL untuk mengeceknya?" tanya pria berusia hampir enam puluh itu, terlihat kedua bahu pemuda berambut hijau lumut itu terjatuh ke bawah juga menghembuskan nafas panjang.

" Aku sudah mencoba mengerahkan mereka, tapi yang ada pasukan yang aku kerahkan tewas diserang oleh Sea Serpents raksasa hidup disana. Kisame maupun Zabusa sudah aku kirim, tapi mereka berdua juga pasukan yang selamat kembali dengan luka parah. Aku juga sudah meminta bantuan dengan A, tapi hasilnya tetap saja gagal." jelasnya membuat Hiruzen menatap ke arah Kaisar Kerajaan Petir itu, terlihat pria tersebut mengangguk mengiyakan. Kaisar Kerajaan Api itu tersadar sesuatu dengan ucapan yang dilontarkan oleh pemuda berambut hijau lumut itu, kemudian dirinya menatap dengan kening sedikit berkerut.

" Sea Serpents? Kenapa magic knights kalian berdua bisa kalah dengan mudah melawan mahkluk seperti itu? Bukannya seharusnya mereka menang karena ada pasukan AL Kerajaan Kabut sangat tangguh?" heran Hiruzen membuat Yagura menghembuskan nafasnya, mengangguk membenarkannya.

" Aku juga awalnya berpikiran begitu, tapi setelah mendnegar penjelasan mahkluk yang mereka hadapi, aku mulai meragukan kemampuan yang dimiliki oleh militerku juga anggota militer Kaisar A tidak membantu banyak." jelasnya lemas membuat kerutan di kening Kaisar Kerajaan Api itu semakin dalam. Benar saja, dirinya tidak mengerti kenapa Angkatan Laut Kerajaan Kabut yang terkenal sangat tangguh, bahkan kemampuan yang mereka miliki hampir bisa melampaui kemampuan dari Angkatan Darat dari Kerajaannya sendiri. A memposisikan dirinya duduk nyaman, menatap serius Kaisar Kerajaan Api di sebrangnya.

" Monster laut yang mereka hadapi bukan sembarangan Hiruzen. Aku tahu kamu pasti tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Kalau satu mahkluknya masih bisa mungkin mereka hadapi, tapi ini ada tiga. Bukan hanya itu saja, kekuatan yang dimiliki mahkluk-makluk itu tidak sama dengan sea serpents biasa yang kita hadapi." jelasnya membuat Hiruzen sedikit membulatkan kedua matanya mendengar.

" Apa benar itu? Kalian tidak berbohong denganku kan?" tanyanya sedangkan A maupun Yagura memasang wajah datar mendengar kalimat dirinya itu.

" Memangnya sebelumnya kami kelihatan berbohong?" tanya Yagura dan A hampir bersamaan membuat Hiruzen terkekeh pelan mendengar nada datar yang keluar dari mulut kedua sahabatnya itu. Pria tua itu menghembuskan nafas pelan, bibirnya membentuk senyum kecil untuk kedua sahabatnya itu.

" Jika kalian berdua sudah menggabungkan pasukan masing-masing dan masih tidak bisa, aku akan coba berunding dengan yang lain. Sebelumnya Danzo maupun Kakashi tidak setuju karena itu terlalu berbahaya untuk keselamatan Naruto, apalagi jika prediksi kamu benar jika itu tempat beradanya divine beast, tentu membuat mereka cemas. Untuk sekarang, aku tidak bisa menjalankan misi itu karena Naruto akan menjalankan misi yang sudah kami putuskan." jelasnya membuat Yagura tersenyum lebar, juga A yang tersenyum tipis mendnegarnya.

" Terima kasih kakek, karena sudah mau membantuku. Jika kita memiliki salah satu mahkluk legenda itu, aku yakin kekuatan militer kita bisa unggul kembali dari mereka berdua." ucapnya membuat Hiruzen tersenyum tipis, mengangguk mendengarnya.

" Kamu hormat sekali dengan Hiruzen, sampai-sampai memanggilnya kakek. Sedangkan dengan aku kamu tidak ada sopan santun sama sekali." cibir A mendengar kalimat pemuda itu, sedangkan yang bersangkutan hanya menatap tajam.

" Siapa yang suruh kamu selalu mengangguku juga suka menjitakku. Tidak ada hormat untuk orang yang selalu menganggu juga menjailiku." ucapnya tajam membuat hati A tertohok tajam, kemudian dirinya terbatuk-batuk pelan mendengarnya, sedangkan Hiruzen hanya tertawa mendengar nada merajuk yang keluar dari mulut Kaisar Kerajaan Kabut tersebut. Menormalkan kembali nafasnya, A kemudian menatap ke arah Hiruzen.

" Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu misi apa yang akan dijalankan oleh Naruto? Apa dia akan bersama dengan squadnya atau sendiri?" tanyanya ingin tahu begitupula Yagura menatap penasaran ke arah Hiruzen yang terdiam sejenak, yang kemudian kedua iris mata tuanya menatap kedua sahabatnya itu.

" Kalian masih ingat dengan Uzumaki Minato yang merupakan suami dari Kushina, juga termasuk salah satu Jendral khusus yang dulunya pernah aku ingin ajuhkan sebagai Kaisar selanjutnya?" tanyanya membuat kedua Kaisar itu mengangguk mendengarnya.

" Tentu saja. Dia memiliki sosok yang sama dengan Naruto juga tidak menatapnya dengan teliti. Kalau tidak salah, kamu menugaskan dia untuk mengawasi gerak-gerik Iwa delapan bulan yang lalu. Memang kenapa?" terang A terlihat Hiruzen yang mengangguk mendengarnya.

" Benar. Dan menurut kabar dari salah satu anggota squad baru Naruto jika dirinya masih mengatakan pernah melihat Minato dan yang lainnya tertangkap oleh magic knights Iwagakure tiga bulan yang lalu." ucapnya membuat A maupun Yagura menegakkan tubuh mereka berdua, terkejut mendengar kalimat yang keluar darinya itu.

" Tertangkap?! Bagaimana mungkin?! Uzumaki Minato adalah penyihir yang hebat bahkan merupakan calon Kaisar yang akan kamu nobatkan tahun depan!" nada tidak percaya keluar dari Kaisar Kerajaan Petir tersebut, tidak percaya dengan apa yang didengarnya, begitupula Yagura yang mengangguk setuju dengan perkataan pria itu.

" Benar Hiruzen. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Tidak masalah jika kami yang tahu, tapi bagaimana dengan penduduk maupun magic knights yang tidak menyukai dengan prestasi maupun kemampuannya, pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkannya." jelas Yagura serius sedangkan Hiruzen hanya menghembuskan nafas lelah sambil menyandarkan punggungnya di sofa empuk tempatnya berada.

" Aku juga tahu akan hal itu, dan karena itulah aku akan memberikan jabatan Kaisar kepada calon kandidat yang memiliki prestasi maupun reputasi yang hampir sama dengan Minato. Aku tidak ingin orang-orang yang tidak menyukainya menekan-nekan dirinya, apalagi sampai memintanya untuk mundur menjadi Kaisar. Aku sudah menemukan kandidat yang pas, termasuk juga Naruto-kun karena dirinyalah yang merupakan kandidat yang pas untuk mencapai tujuanku dan Danzo maupun pemimpin terdahulu. Kami tidak bisa langsung mengangkat Naruto karena mengingat umurnya yang masih muda dan lagi, dirinya baru bergabung saat penerimaan tahun ini." jelasnya lelah membuat kedua Kaisar didepannya terdiam. Yagura menghembuskan nafas panjang, mengangguk lemah setelah mereka cukup lama terdiam.

" Kamu ada benarnya juga. Semoga saja Naruto bisa diterima oleh beberapa bangsawan yang ada di Kerajaan Api." katanya yang dijawab anggukan oleh A.

" Aku juga setuju dengan Yagura. Naruto juga dirinya baru bergabung dengan magic knights empat bulan lebih dan lagi menjadi seorang Kapten saat penerimaan, dan sekarang menjadi seorang Kolonel. Sebaiknya dirinya bertahan dulu di statusnya yang sekarang, dan membuat para bangsawan bisa melihat kemampuan-kemampuan lainnya yang dimiliki olehnya. Apalagi jika dilihat dari sifatnya, Naruto bukanlah orang yang terobsesi dengan pangkat. Aku berani bertaruh, dirinya pasti kesal karena menjadi salah satu bagian dari penjabat istana." ucap A sambil terkekeh membuat Yagura maupun Hiruzen tertawa pelan mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh pria berambut pirang cepak disisir rapi kebelakang itu.

" Ngomong-ngomong, masalah yang baru kemari terjadi akibat salah satu putra dari sedap itu, apa yang akan kamu lakukan?" lanjutnya membuat Hiruzen menghentikan tawanya, menatap sahabatnya itu.

" Aku tidak mungkin memberikan hukuman mati kepadanya, apalagi jika mengingat dia adalah putra bungsu dari Rasa. Ibiki dan Naruto juga menjelaskan jika itu bukan kesalahannya, tapi Gaara merupakan korban dari percobaan seseorang." jelasnya membuat keduanya kembali terkejut mendengar berita yang keluar dari mulutnya lagi.

" Percobaan?!" seru Yagura tidak percaya, yang dijawab anggukan olehnya.

" Ya, tapi mereka tidak mengingat siapa yang melakukan hal seperti itu. Mungkin ada yang menghapus ingatan mereka agar tidak bisa menemukan informasi tentang identitas mereka." jelas Hiruzen yang terlihat kedua Kaisar di sebrangnya itu terdiam. Setelah beberapa saat, A maupun Yagura mengangguk paham akan penjelasannya.

" Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Aliran sihir yang ada di dalam tubuh keduanyapun sangat aneh, aku bisa menebak jika mereka menggunakan sihir terlarang untuk membuat kemampuan mereka menjadi diatas rata-rata. Lihat saja, putra bungsu si sedap, dia bisa menaklukkan salah satu divine beast. Berbeda dengan Naruto yang aku dengar darimu jika dia berlatih keras untuk bisa memanggil salah satu makhluk panggilan terkuat miliknya. Kelihatan jelas jika dia tidak mengalami dampak saat memanggil Shukaku dan lagi, aliran sihirnya berubah menjadi liar juga gelap." jelas A yang dijawab anggukan setuju oleh Yagura.

" Benar, aku juga merasakan hal yang sama. Sungguh aneh jika bisa memanggil makhluk sekaliber divine beasts tidak akan mengalami kerusakan apapun yang diterima oleh tubuh pengguna setelah menggunakan banyak sihir. Jadi seperti perkiraan paman A, kemungkinan besar jika mereka menggunakan sihir terlarang untuk membuat pasukan mereka menjadi lebih hebat." setuju Kaisar muda itu membuat A yang ada di sampingnya menyengir kecil.

" Tumben sekali kamu kali ini setuju dengan apa yang aku ucapkan." sindir pria itu sedangkan pemuda yang ada di sampingnya hanya mendengus pelan mendengar ucapannya.

" Kalau itu menurutku benar, kenapa tidak aku dukung? Memangnya ada yang salah jika aku mendukung penilaianmu itu?" sinisnya membuat A tertawa pelan mendengarnya, sedangkan Hiruzen hanya terkekeh mendengar percakapan kedua sahabatnya itu. Pria itu menghembuskan nafas, kemudian dirinya duduk terdiam, memikirkan perkataan salah satu makhluk panggilan yang dimiliki oleh pemuda Namikaze itu, tentang bagaimana keadaan Minato juga yang lainnya. Dirinya berharap semoga saja mereka baik-baik saja dan tepat waktu menyelamatkan magic knightsnya yang sudah tanpa kabar selama delapan bulan itu. Walaupun dijadikan percobaan oleh orang-orang yang entah siapa, tapi Kolonel muda itu bilang akan mencoba menyelamatkannya.

.

.

.

.

.

Mentari sudah menjulang tinggi menandakan jika keadaan semakin siang, apalagi cuaca hari inipun begitu panas. Yahiko, Iruka, juga beberapa anggota squadnya maupun anggota squad dari pemuda Namikaze itu merenggangkan otot-otot mereka semua, karena seharian mereka duduk hanya mengecek dokumen-dokumen saat menjabat sebagai Kapten. Yahiko menatap ke arah meja beradanya tempat pemuda Namikaze itu, terlihat dokumen-dokumennya yang tersusun rapi, yang dirinya yakin pasti sudah duluan menyelesaikan semuanya di hari sebelumnya. Menghembuskan nafas, dirinya kemudian menatap ke arah beberapa rekan satu squadnya yang menyandarkan punggung mereka ke kursi masing-masing, juga Konan dan Hinata yang membuat minuman ringan untuk mereka. Zetsu memejamkan kedua matanya setelah dirinya memeriksa dokumen terakhir miliknya itu, terlihat pria itu memijit pelan pangkal hidungnya. Setengah hari ini adik perempuannya tidak masuk ke dalam kantor, walaupun dirinya tahu apa yang dilakukan gadis berambut salju itu, apalagi tuan mudanya yang berkeliling memikirkan sesuatu. Dirinya tidak bodoh, dengan kemampuannya yang bisa mencari informasi dari semua tumbuhan yang ada di kawasan istana, dia bisa mengetahui dimana orang-orang yang ingin di carinya. Dia tahu jika pemuda tersebut berpikir dalam tentang apa yang akan terjadi jika mereka melakukan ekspedisi penyelamatan Minato juga magic knights yang tertangkap oleh militer Iwagakure, apalagi musuh yang akan mereka hadapi kemungkinan besar adalah iblis yang menjadi parasit dalam tubuh manusia. Dirinya yang sudah berlatih cukup lama akan melakukan apapun untuk melindungi tuan mudanya, karena itu adalah tugasnya maupun kedua adiknya yang merupakan pelayan turun temurun dari leluhur Kaisar Solomon.

" Ngomong-ngomong, dimana adik perempuanmu, Zetsu?" terdengar suara Hidan memecahkan keheningan, terlihat pria itu menekuk siku kanannya di atas meja, menopang wajahnya, menatap ke arah lawan bicaranya itu, sedangkan kedua mata topaz pria itu melirik ke arah pria berambut perak tersebut.

" Memangnya kenapa Hidan? Apa kamu ingin mengencaninya?" goda Mizuki sambil mengedipkan salah satu matanya kepada pria tersebut, sedangkan Hidan yang mendengarpun mendongakkan tubuhnya menghadap ke arah pria yang memiliki warna rambut sama dengannya, mendengus.

" Aku tidak mau mati karena dibekukan oleh wanita. Ya kan aneh saja, dia salah satu anggota dari squad Naruto tapi tidak masuk." kilahnya membuat Mizuki, Nagato, Hayate, Ebisu, Yahiko maupun Iruka terkekeh mendengarnya.

" Bukannya kamu fall in love at first sight dengan Kaguya?" sindir Konan yang membuat pria tampan tersebut tersedak oleh liurnya sendiri mendengar ucapan gadis berambut biru itu, mendelik tajam walaupun kedua pipinya mengeluarkan rona pink tipis.

" Si-Siapa bilang?! Jangan memfitnah sembarangan, Konan!" serunya tidak terima, tapi malah wanita tersebut mendengus kasar, walaupun kedua tangannya sibuk mengoles selai di permukaan roti tawarnya, sedangkan Hinata yang ada di sampingnya membuat teh hanya menyimak mendengar apa yang mereka bicarakan.

" Kamu jangan menipu dirimu Hidan. Kamu pikir kami tidak tahu bagaimana kamu memandang Kaguya, juga sesekali kamu mencuri-curi pandang waktu kita berada di panti asuhan ayah angkat Naruto. Kalau suka ya bilang saja suka, apalagi di depan calon kakak ipar sendiri. Siapa tahu Zetsu setuju dan merestui hubungan kalian kan?" jelasnya yang kemudian melapisi roti tawar yang sebelumnya di kasih selai dengan roti yang satunya, kemudian diletakannya di atas piring, terlihat juga beberapa roti tawar yang masing-masing ada di napa tersebut, kemudian mengangkat napan yang cukup besar itu, berjalan mendekati Zetsu, kemudian memberikan salah satu piring berisikan roti isinya kepada pria tersebut.

" Benar begitu, Zetsu~?" tanyanya dengan suara sedikit menggoda, juga salah satu matanya mengedip, sedangkan Zetsu sediri hanya diam, tapi kedua mata topaznya melirik Hidan yang memberikan deathglare yang diarahkannya kepada wanita di depannya itu. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

" Who knows. Asalkan bukan seorang playboy juga pria yang hanya mengincar tubuh wanita, aku tidak masalah." jawabnya yang kemudian memakan salah satu roti isinya, terdengar suara tawa terbahak-bahak keluar dari mulut Yahiko, Ebisu maupun Mizuki setelah mendengar jawaban darinya, sedangkan yang lainnya hanya terkekeh pelan, terlebih Shikamaru, Kiba maupun Lee yang menahan tawa mendengar kalian yang dilontaran oleh pria itu.

" Dengar itu Hidan? Kalau kamu tidak memiliki kedua sifat seperti itu, pasti akan direstui oleh calon kakak iparmu sendiri, tapi kalau tidak, yah menyerah saja untuk mendapatkan cinta Kaguya." kata Yahiko di sela-sela tawanya, yang dijawab anggukan setuju oleh beberapa pria disana.

" Kamu sudah dewasa Hidan, apalagi kamu adalah seorang pria yang sudah berumur duapuluh dua tahun. Sebaiknya kamu ubahlah sifatmu yang selalu bermain-main dengan wanita, apalagi jika kamu benar-benar menyukai Kaguya dan mau serius dengannya, mulai sekarang ubahlah sifatmu. Aku yakin nanti dia pasti akan jatuh ke tanganmu, dan lagi Zetsu maupun Toneri-kun akan merestui hubungan kalian." saran Nagato yang sudah berhasil menormalkan tawanya, membuat Hidan yang mendengarpun merasa terpojok mendengar nasehat sahabatnya itu. Selama ini, dirinya tahu jika dia adalah pria yang sangat bejat, suka mempermaikan wanita dan lagi. Tapi setelah kedatangan ketiga bersaudara itu, terutama gadis yang memiliki sifat seperti musim dingin, membuat sesuatu mengetuk pintu hatinya dan membuat perhatiannya tidak bisa terlepas dari sosok gadis cantik tersebut. Sosok yang anggun bagaikan dewi musim dingin yang memperlihatkan kecantikannya, hati dingin juga kokoh bagaikan pilar es tebal yang tidak mudah dicairkan, walaupun dengan api sekalipun, juga kulit yang begitu indah bagaikan kristal-kristal es, dan dirinya yakin juga gadis tersbeut memiliki kulit yang lembut bagaikan salju.

BLUSH

Tiba-tiba saja wajahnya memerah memikirkan sosok gadis tersebut, juga membuat gelora dalam tubuhnya membara, sedangkan Zetsu dan Toneri yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya, kedua mata adik kakak tersebut menyipit tajam melihat rona merah yang semakin tebal muncul di wajah pria tersebut.

" Apa yang kamu pikirkan tentang adik perempuanku, hmm?" tanya Zetsu dingin juga tanpa disadarinya, aliran sihir hijau gelap miliknya keluar dari dalam tubuhnya beserta aura angker yang begitu kuat memenuhi ruangan tersebut, membuat semua orang yang ada di sana, kecuali Toneri meneguk ludah susah, bergetar ketakutan merasakan KI yang di keluarkan oleh pria tersebut. Hidan yang mendengar nada penuh ancaman keluar dari mulut pria berambut putih hitam itu langsung salah tingkah di tempat duduknya sendiri, juga keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya.

" Bu-Buk-kan apa-apa! Aku tidak berpikiran yang macam-macam tentang Kaguya!" paniknya menjawab pertanyaan dari pria tersebut, sampai-samapi membuatnya sedikit terbatah di awal kalimatnya. Sayang sekali, tapi jawaban tersebut tidak membuat emosi yang sudah terlanjut meledak oleh pria itu mereda, malah aura sihir ungu tersebut bergerak begitu liar.

' Naruto, selamatkan kami!' batin semua orang yang ada disana hampir bersamaan melihat suasana yang begitu mencekam, apalagi sepertinya akan terjadi pertarungan antara calon ipar dengan calon kakak mertua. Suara pintu terbuka terdengar di dalam ruangan tersebut, yang tidak lama setelah terlihat sosok dua gadis cantik sambil membawa keranjang piknik yang cukup besar masing-masing, membuat suasana yang tadinya begitu mencekap langsung saja menghilang. Aura sihir yang keluar dari tubuh Zetsupun lenyap begitu saja, setelah melihat kedatangan Shion yang terkejut melihat keadaan ruangan tersebut, sedangkan Kaguya yang ada di sampingnya hanya menatap sedikit bersalah ke arah kakaknya.

" Ma-Maaf. Saya mengira tidak ada orang." nada bersalah keluar dari gadis bersurai pirang pucat itu dengan tubuhnya yang membungkuk sembilan puluh derajat kepada mereka semua yang ada di dalam, sedangkan Kaguya hanya menghembuskan nafas pelan, tersenyum tipis ke arah gadis tersebut.

" Sudahlah Shion-san, sebaiknya kita pergi saja. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang serius. Aku juga tidak akan betah jika membahas hal-hal seperti itu." sarannya membuat Shion menegakkan tubuhnya, menatap gadis tersbeut, mengangguk setuju.

" Tidak kok, kami merasa tidak di ganggu. Kalian boleh masuk kemari, apalagi kami melihat kalian berdua membawa keranjang piknik." Ebisu bersuara menahan keinginan kedua gadis tersbeut untuk pergi. Shion yang mendengarpun menatap ke arah pria berambut hitam tersebut.

" Apa tidak apa-apa? Kalian sepertinya membahas sesuatu yang serius?" ragunya yang dijawab anggukan oleh hampir semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

" Tentu saja Shion-san, kamu boleh masuk, apalagi jika kamu membawa makanan, kami dengan senang hati memperbolehkan. Makanan yang kamu buat snagat enak." jawab Lee cepat sekaligus memuji yang tentu saja membuat gadis cantik itu merona malu mendengar perkataannya. Menggeleng pelan, kemudian dirinya memberikan senyum termanis yan dimilikinya itu.

" Baiklah jika itu yang kalian mau, kalau begitu permisi." ucapnya sopan, yang kemudian berjalan masuk ke dalam, diikuti Kaguya membungkuk sejenak, lalu menyusul gadis tersebut. Mereka semua menghela nafas lega karena berkat kedatangan kedua gadis tersebut, suasana perang dingin antara Zetsu dan Hidan akhirnya selesai. Kedua gadis cantik tersebut berjalan mendekati Hinata yang melanjutkan membuat teh tersebut, terlihat senyum ramah diberikan kepada gadis Hyuga tersebut.

" Selamat siang Hinata, maaf jika kami menganggumu." sapa Shion sedikit bersalah, sedangkan Kaguya mengangguk kecil sambil meletakkan keranjang pikniknya itu di atas meja dapur panjang terbuat dari kayu tersebut, sedangkan Hinata yang mendengar hanya menggelenag pelan, tersenyum.

" Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa yang ada di dalam keranjang yang kalian bawa?" tanyanya penasaran ingin mengetahui isi keranjang tersebut. Shion yang mendengarpun tersenyum lebar, lalu meletakkan keranjangnya di atas meja, membuka salah satu sisi keranjang tersebut, lalu mengeluarkan sebuah piring kecil, terlihat sebuah cake yang dilapisi oleh ice cream dengan buah cherry juga daun lemon yang ada di atas kue tersebut, hawa dingin juga melapisi permukaan dessert tersebut.

" Kami berdua membuat Cassata Siciliana. Karena Kaguya pengguna sihir es, jadi kami berdua mencoba membuatnya dan lagi es krimnya tetap utuh, walaupun terkena suhu panas. Coba kamu makan, enak loh apalagi memakannya saat musim panas begini." tawarnya membuat Hinata mau tidak mau tertarik juga, lalu mengambil garpu berada di rak peralatan makan di dekatnya itu, memotong secukupnya permukaan kue dihadapannya, lalu menusuk sisi rata dessert tersebut. Masukkan potongan kue itu ke dalam mulutnya, membuat dirinya sedikit meringis merasakan sensasi dingin yang menyentuh lidahnya.

" Bagaimana?" tanya Shion menunggu komentar yang dikeluarkan oleh gadis berambut indigo tersebut, sedangkan Hinata sedikit menggerakan mulutnya, yang kemudian menelan makanan yang ada di dalam mulutnya, tersenyum.

" Sangat enak Shion. Rasa manisnya juga pas, tidak terlalu berlebihan, apalagi krim dinginnya yang begitu cocok untuk suasana musim panas. Perfecto." jawabnya membuat Shion tersenyum lebar mendengarnya.

" Ini semua berkat Kaguya, kalau tidak ada dia aku tidak bisa membuat kue seperti ini." jawabnya sambil menatap ke arah gadis berambut musim salju itu yang sekarang tersipu malu mendengar ucapannya. Shion kemudian mengambil dua napa yang tersisa, dengan semangat mengeluarkan semua kue yang berada di dalam keranjang bawaannya maupun keranjang Kaguya yang berisikan buah-buah segar yang sudah di potong olehnya maupun Kaguya. Menyusun rapi semuanya di atas napan yang sudah disiapkan olehnya. Konan yang melihatpun berinisiatif mendekati ketiga gadis cantik tersebut.

" Bolehkah aku membantu?" tanyanya menawarkan diri membuat Shion, Kaguya juga Hinata menatap ke arahnya, mengangguk senang.

" Tentu saja. Maaf jika merepotkan kamu, Kak Konan." kata Shion membuat Konan sedikit menaiki salah satu alisnya.

" Kamu mengenalku?" tanyanya membuat gadis berambut pirang itu tersipu malu, mengangguk.

" Aku mendengarmu dari Naru. Katanya Kak Konan adalah wanita yang memiliki sifat seperti 'ibu' di anggota squad yang kakak miliki." jawabnya malu.

" Pfft…!" terdengar suara tawa tertahan dari mulut Yahiko, Hidan, Nagato, Mizuki, Ebisu juga Kiba mendengar jawaban yang diberikan oleh kekasih Kolonel Namikaze tersebut, sedangkan yang lainnya hanya menutup mulut mereka dengan telapak tangan masing-masing. Konan yang mendengar hanya tersenyum bak malaikat, tapi sebenarnya dalam hatinya menyiapkan penyiksaan yang akan diberikannya kepada orang-orang yang mencoba menertawakan apa yang dilontarkan oleh gadis tersebut.

" Ahem…. Shion-san, kalau beloh tahu, kenapa Naruto tidak ikut dengan kalian berdua?" tanya Yahiko yang kewibawaannya sudah kembali, mencoba tidak mengingat pembicaraan sebelumnya. Shion menatap ke arah pria berambut jingga tersebut, berpikir sejenak.

" Jika aku tidak salah ingat, saat di kamar dia bilang ingin bertemu dengan Jendral Kakashi membahas sesuatu." jawabnya membuat semua orang yang ada disana terdiam. Shikamaru mencoba memposisikan dirinya nyaman, menatap serius ke arah gadis bersurai pirang tersebut.

" Apa Kolonel Naruto ada memberi tahu apa yang akan di bahasnya dengan Jendral Kakashi?" tanyanya ingin tahu, terlihat gadis itu berpikir sejenak, terlihat kening gadis itu sedikit mengerut, lalu menatap ke arah Kaguya yang ada di sampingnya.

" Naru-kun kalau tidak salah hanya pamin ingin pergi ke kantor Jendral Kakashi kan, Kaguya-chan?" tanyanya membuat Kaguya menghentikan aktifitasnya, tersenyum tipis, mengangguk. Shion kembali menatap ke arah pemuda Nara tersebut, menggeleng.

" Dia hanya bilang ingin ke kantor Jendral Kakashi saja." jawabnya terlihat pemuda Nara tersebut menghembuskan nafas kecewa. Zetsu maupun Toneri yang mendengar perkataan kekasih tuan muda mereka saling melirik satu sama lain, sepertinya dalam waktu dekat ini mereka berdua akan melaksanakan tugas tersebut.

.

.

.

.

.

Di kantor Jendral Kesatuan Kepolisan, terlihat Kakashi yang menekuk kedua sikunya di atas meja dengan kedua tangannya yang saling bertaut satu sama lain, menutup bibirnya, menatap tajam sosok Naruto yang berdiri tegak dengan kedua tangannya diletakan di belakang, membalas menatap ke arahnya tanpa gentar.

" Sekali lagi saya tanya, apa orang-orang yang kamu cantumkan ini adalah orang-orang yang kamu inginkan untuk melaksanakan misi itu?" tanyanya dengan kedua iris onyxnya melirik ke arah lembaran kertas yang ada di atas mejanya itu, terlihat beberapa nama orang tertulis di kertas putih tersebut. Naruto yang mendnegarpun menegakkan tubuhnya, mengangguk pasti.

" Tentu saja Jendral, saya sudah memikirkan sangat matang orang-orang yang akan mengikuti misi tersebut. Apakah saya tidak bisa meminta magic knights dari Kesatuan yang berbeda?" tanyanya sedangkan Kakashi merilekskan tubuhnya, menggeleng pelan mendengarnya.

" Aku tidak mempermasalahakn hal itu karena salah satu Jendral pasti akan dengan senang hati memberikan bantuan kepada Jendral lainnya. Hanya saja, apa kamu benar-benar yakin dengan pemilihanmu ini?" tanya pria itu kembali tanpa melepaskan pandangannya kearah sosok pemuda tampan tersebut.

" Walaupun mungkin ada beberapa anggota squadku tidak ikut, tapi mereka pasti mengerti dengan keputusanku. Mereka juga bukan anak kecil lagi yang akan merajuk cuma tidak diikut sertakan dalam misi dan lagi, misi ini sangat berbahaya, karena saya sendiri belum tahu musuh apa yang akan dihadapi. Saya tidak ingin membuat anggotaku terluka, dan juga saya tahu keahlian mereka masing-masing." jelasnya membuat Kakashi tersenyum tipis mendengarnya. Menghembuskan nafasnya, pria itu mengangguk mendengar keputusan yang diambil oleh Kolonel muda itu.

" Kamu ternyata tidak memasukkan sembarangan magic knights yang akan mengikuti misi ini. Menyusup kedalam Kerajaan orang merupakan misi yang sangat berbahaya, apalagi jika tidak ada anggotamu yang bisa mendukung kelompok teammu." katanya sedangkan naruto hanya terdiam, menunggu lanjutan apa yang akan dilontarkan olehnya. Mengangguk pasti sekali, pria berambut perak itu memutuskan.

" Baiklah, saya akan mengabulkan permintaanmu dan malam ini juga, kamu akan melakukan misi penyelamatan Jendral Minato beserta magic knights yang tertangkap oleh pasukan Iwagakure." tegasnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC