Title: Love And Confusion

Cast: All Bangtan Members - #TaeJin #YoonJin #KookJin #NamJin #VHope #YoonSeok #VMin

Genre: Love, Friendship

Lenght: Chapter Part

Rating: 15+

Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]

Cerita ini sedikit terinspirasi dari drama korea "Cheese In The Trap".


Sudah tiga hari Jin dirawat di rumah sakit.

Yoongi selalu setia menemaninya, tanpa lelah, tanpa mengeluh.

Yoongi sama sekali tidak pulang ke rumahnya. Rutinitasnya adalah kampus dan rumah sakit. Ia bahkan makan, mandi, dan tidur di rumah sakit, setia terus menemani Jin, membantu Jin setiap Jin butuh bantuan dalam bentuk apapun.

Taehyung selalu memaksa Yoongi memberitahukan keadaan Jin dan keberadaan Jin selama mereka berada di kampus, namun Yoongi hanya menatap dingin ke arah Taehyung, tanpa berbicara sepatah katapun. Emosinya masih meluap setiap melihat sosok seorang Kim Taehyung.

Dan tentu saja tidak ada seorangpun di kampus yang mengetahui bahwa Jin sakit karena kekejaman yang dilakukan oleh seorang Kim Taehyung. Yoongi terus terdiam setiap ada yang menanyakan kondisi Jin.

Namjoon yang sangat panik pun tetap tidak bisa membuka mulut Yoongi. Semua rasa penasaran Namjoon tentang kondisi Jin tidak pernah dijawab oleh Yoongi.

Namun, malam itu tiba-tiba Jin meminta tolong kepada Yoongi, sesuatu yang sebenarnya sangat Yoongi tidak ingin kabulkan.

"Yoongi a~ Tolong kabarkan Jungkook dan Taehyung tentang ruanganku dirawat ini.. Ada yang ingin kubicarakan dengan mereka berdua..." pinta Jin kepada Yoongi.

"Hyeong... Kau masih butuh banyak istirahat... Otakmu belum bisa berpikir terlalu keras selama masa pemulihan..." tolak Yoongi.

"Aku janji aku tidak akan memikirkan banyak hal dengan keras, Yoongi a~ Ada sesuatu yang sangat ingin kusampaikan pada mereka berdua, jinjja~" rengek Jin.

"Baiklah, tapi aku akan meminta mereka mengunjungimu di hari yang berbeda! Aku tak ingin terjadi keributan lagi disini jika mereka berdua bertemu..." sahut Yoongi dengan sangat terpaksa.

"Gumawo, Yoongi a~" sahut Jin sambil tersenyum. Wajahnya masih agak pucat karena sakit di kepalanya, namun tetap saja senyumannya terlihat manis di mata Yoongi.

Yoongi menganggukan kepalanya.

"Ah, satu hal lagi... Selama aku berbicara dengan mereka, aku minta kau jangan ada disini... Aku ingin benar-benar berbicara empat mata dengan Jungkook dan empat mata dengan Taehyung..." sahut Jin.

"Itu akan sangat berbahaya, hyeong!" sahut Yoongi.

"Ada para perawat yang menjagaku disini, Yoongi a~ Gwenchana... Jebal..." pinta Jin dengan tatapan memelas.

"Ah, ne.. Araseo..." gumam Yoongi.


Jungkook benar-benar tidak bisa tertidur pulas sejak kejadian di taman malam itu.

Ia selalu dihantui mimpi buruk.

Sosok Jin yang penuh darah selalu muncul dalam setiap mimpinya, membuat Jungkook selalu terbangun tengah malam dengan badan penuh keringat.

Apapun yang dilakukan Jungkook, nyaris semuanya tidak ada yang beres, bahkan di kelasnya, ia selalu melamun dan tidak fokus terhadap mata pelajarannya.

Namun, sore itu, matanya bersinar ketika melihat nomor handphone Jin menghubungi handphonenya.

Antara merasa bersalah, takut, dan senang, Jungkook menjawab panggilan itu.

"Annyeong, Jinnie~ Neo gwenchana?" sahut Jungkook.

"Ini Yoongi.." sahut suara di telepon itu.

"Ah.. Yoongi-sshi... Uhm... Wae?" Jungkook merasa kecewa karena bukan Jin yang meneleponnya.

"Jin hyeong ada di RS Bangtan International, kamar 1306... Jin hyeong memintamu mengunjunginya malam ini, ada yang ingin dibicarakannya denganmu... Namun ia minta hanya kau sendiri yang datang, jangan ajak Taehyung!" sahut Yoongi dengan nada dingin, masih kesal setiap mengingat kejadian di taman malam itu.

"Ah, jeongmal? Jinnie ingin menemuiku?" sahut Jungkook.

TUT~ TUT~

Panggilan terputus.

"Yaishhhh~" Jungkook merutuki Yoongi yang memutuskan panggilan padahal ia belum selesai bicara.

Dan ia teringat akan saat pertama kali ia dan Jin berbicara. Ketika handphone mereka tertukar. Bukankah ia juga memutuskan panggilan seenaknya? Bahkan ia sangat kurang ajar terhadap Jin saat itu.

Rasa penyesalan dan bersalah terhadap Jin semakin menghinggapi Jungkook.


Taehyung tidak pernah lagi melihat Jimin mengganggunya sejak kejadian ia menampar Jimin.

"Apakah ia benar-benar marah kali ini?" gumam Taehyung sambil memainkan handphone di tangannya. Bahkan satupun pesan atau panggilan dari Jimin tidak ada yang masuk ke handphonenya.

Padahal biasanya Jimin selalu mengirimkan ucapan selamat pagi, selamat siang, dan selamat malam kepada Taehyung, walaupun pesan-pesn itu tak ada satupun yang dijawab Taehyung.

Taehyung memandangi telapak tangan kanannya. Telapak tangan yang menampar pipi Jimin dua kali. Telapak tangan yang mengarahkan pukulan keras ke punggung Jin dan mengarahkan sebuah batu yang menyebabkan kepala Jin bocor.

"Sekeji itukah seorang Kim Taehyung?" gumamnya sambil terus menatap tangan kanannya itu.

Dan wajah Jin kembali melintas dalam benaknya. "Apakah Jin hyeong baik-baik saja?" gumamnya lagi.


"Jinnie..." Jungkook, dengan segenap keberanian yang dikumpulkannya, berjalan masuk ke kamar tempat Jin dirawat, menghampiri tempat tidur Jin.

Jin tengah terduduk di atas kasurnya sambil membaca sebuah buku pelajaran. Mengejar pelajaran yang tertinggal selama ia berada di rumah sakit.

"Ah, Jungkook a~ Annyeong~" sahut Jin menyapa Jungkook sambil tersenyum manis dengan wajahnya yang masih agak pucat itu.

"Jinnie a~ Mian..." sahut Jungkook pelan sambil meneteskan air matanya, terkejut melihat kondisi Jin yang masih terlihat agak lemah itu.

"Yaishhh, pabo~ Gwenchana... Itu kecelakaan.. Bukan salahmu..." sahut Jin, berusaha menenangkan Jungkook.

Jungkook terduduk di kursi yang ada disamping kasur Jin sambil meneteskan air matanya.

"Gwenchana, imma~" sahut Jin sambil mengacak pelan rambut Jungkook.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Jungkook sambil menghapus air matanya dengan kedua tangannya.

"Aku? Aku rasa aku baik-baik saja... Hanya masih agak sering pusing rasanya..." sahut Jin sambil tersenyum memandang Jungkook yang terlihat benar-benar seperti seorang bocah manis saat itu dihadapannya.

"Mian..." gumam Jungkook.

"Yaishhhh~ Sudah kubilang kan? Bukan salahmu... Ini semua hanya kecelakaan... Anggap saja ini takdir kita, Jungkook a~" sahut Jin, mulai berusaha mengutarakan isi hatinya setelah berpikir panjang selama ia dirawat disana.

"Maksudnya?" Jungkook menatap bingung ke arah Jin.

"Jawab aku dengan jujur, Jungkook a~ Apa kau menyukaiku?" tanya Jin sambil menatap wajah Jungkook.

"Uh?" Jungkook terkejut dengan pertanyaan Jin.

"Apa kau menyukaiku, Jeon Jungkook?" tanya Jin lagi.

"Uh... Uhm... Iya..." sahut Jungkook sambil menundukkan kepalanya.

"Aku sudah menduganya, sejak sikapmu berubah sangat drastis, dari bocah kurang ajar menjadi pria manly yang selalu berusaha menjagaku~" sahut Jin sambil tersenyum.

"Mian karena sangat kurang ajar padamu dulu.. Dan juga mian.. Karena aku selalu gagal menjagamu..." sahut Jungkook sambil menundukkan kepalanya.

"Jungkook a~ Sejujurnya beberapa waktu belakangan ini aku juga sering memikirkanmu..." sahut Jin.

"Ne?" Jungkook menatap wajah Jin.

"Kau begitu manis~ Dan kebaikanmu benar-benar menyentuh hatiku... Aku bahkan sering berpikir, apakah aku mulai menyukaimu... Apakah aku mulai menyukai sosok seorang Jeon Jungkook yang selalu berusaha menjagaku..." sahut Jin.

Jungkook terdiam sambil terus menatap wajah Jin.

"Namun, setelah aku berpikir panjang selama aku dirawat disini, aku melupakan satu hal... Bahwa ternyata selama ini, ada sesosok pria, yang tanpa kusadari, selalu ada untukku.. Bahkan sudah sejak sangat lama, jauh sebelum aku mengenalmu... Ia selalu ada di setiap aku membutuhkan bantuan, dan ia tanpa lelah selalu menemani dan menghiburku... Dan ia bahkan ternyata diam-diam sudah menyukaiku sejak dulu, tanpa kusadari, sampai ketika beberapa waktu lalu ia mengungkapkan perasaannya padaku..."

Jungkook terus terdiam sambil menunggu Jin melanjutkan ucapannya.

Jin menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya. "Awalnya aku berpikir, haruskah aku menolaknya dan terus mengikuti kata hatiku yang terkadang seolah berkata bahwa aku mencintaimu... Atau mungkin Kim Taehyung? Karena sejujurnya perhatian Taehyung selama ini juga sempat menjadi pikiranku... Namun semua kejadian di taman malam itu menyadarkanku satu hal, bahwa mungkin memang inilah takdir kita.. Kau dan Taehyung diijinkan masuk dalam kehidupanku untuk membuatku sadar bahwa ada sesosok pria yang selalu menjagaku dalam setiap keadaan apapun... Dan pria itu jelas-jelas bukan dirimu ataupun Taehyung..."

"Yoongi? Pria itu... Yoongi?" tanya Jungkook.

Jin menganggukan kepalanya. "Yoongi~ Ia yang selalu ada untukku sejak awal aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu, bahkan hingga detik ini..."

Jungkook menundukkan kepalanya. Kecewa mendengar ia sudah ditolak bahkan sebelum ia mengungkapkan perasaannya dengan cara yang benar kepada Jin.

"Tapi, bagaimanapun juga, aku merasa bersyukur dengan kehadiranmu dalam hidupku, Jungkook a~ Karena ada sangat banyak waktu yang menyenangkan yang sudah kulalui selama bersamamu selama ini~ Dan aku sangaaaat bersyukur karena bisa mengenalmu... Jinjja..." sahut Jin sambil mengacak pelan poni Jungkook.

"Benarkah? Kau merasa bahagia selama bersamaku selama ini?" tanya Jungkook sambil menatap wajah Jin.

Jin menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Ne~ Kau benar-benar membuatku bahagia selama kita menghabiskan waktu bersama selama ini, Jungkook a~ Aku sangat senang memiliki seorang dongsaeng sepertimu... Gumawo, jinjja~"

"Dongsaeng?" gumam Jungkook.

"Bolehkah aku menganggapmu sebagai dongsaengku mulai saat ini, Jungkook a? Aku berharap setelah aku menceritakan ini semua, hubungan kita tidak menjadi canggung~ Tetaplah disisiku seperti yang selama ini berjalan... Sebagai seorang dongsaeng yang sangat menyayangi hyeongnya... Dan jangan pernah merasa bersalah, apa yang menimpaku ini adalah takdir, bukan salahmu..." sahut Jin sambil tersenyum.

Jungkook meneteskan air matanya.

"Yaishhh, uljima, immaaa~" Jin menghapus air mata Jungkook.

"Lalu, mulai saat ini, bolehkah aku memanggilmu Jin hyeong?" tanya Jungkook.

"Uh? Kau menyebut hyeong? Apa aku salah dengar? Bukankah kau benci kata itu?" Jin terkejut mendengar ucapan Jungkook.

"Aku membenci kata itu sejak satu-satunya hyeong yang kusayangi justru melukaiku... Namun, sejak mengenalmu, aku merasa selain mencintaimu sebagai seorang pria, aku juga menyukaimu sebagai seorang hyeong.. Makanya, ketika kau menawarkan diri untuk menjadi hyeongku, aku sangat terharu... Karena, walaupun aku tidak bisa memilikimu sebagai kekasihku, namun setidaknya aku bisa memilikimu sebagai sosok seorang hyeong seperti yang selama ini selalu kuidamkan..." sahut Jungkook sambil meneteskan air matanya lagi. "Aku selalu merindukan sosok seorang hyeong yang bisa menjagaku..."

"Aigoo, kyeopta.. Uri dongsaeng... Hehehe~" sahut Jin sambil mengacak-acak rambut Jungkook, berusaha menghentikan air mata Jungkook yang tengah mengalir dari kedua mata indahnya itu.

"Gumawo, Jin hyeong~" sahut Jungkook sambil tersenyum dengan wajah masih dibasahi air mata.

Jin dan Jungkook saling berpelukan. Setidaknya kini status hubungan mereka sudah jelas.


Keesokan harinya, Yoongi menghampiri Taehyung di kampus.

"RS Bangtan International. Kamar 1306. Jin hyeong memintamu menemuinya disana nanti malam. Seorang diri. Jangan beritahukan yang lain keberadaannya saat ini. Ia butuh banyak istirahat. Dan jangan kau coba-coba menyakitinya lagi malam nanti!" sahut Yoongi, singkat, jelas, padat, dengan tatapan dan nada sedingin es.

Yoongi segera berjalan meninggalkan Taehyung yang tengah terpaku sendirian di koridor kampus siang itu.

Malamnya, Taehyung berdiri tepat di depan kamar Jin dirawat. Ragu apakah ia harus masuk atau tidak.

Namun akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam, dan terkejut melihat kondisi pria yang sangat dicintainya itu terlihat pucat dan lemah di atas kasur itu.

"Hyeong... Mian..." sahut Taehyung sambil membelalakan kedua matanya melihat keadaan Jin.

Jin tersenyum. "Gwenchana, Taehyung a~ Inilah takdir kita..."

"Takdir kita?" Taehyung menatap wajah Jin.

"Setidaknya, semoga ini menjadi pelajaran untukmu agar kau bisa lebih berhati-hati kedepannya dan tidak lagi menjadi seseorang yang penuh amarah dan emosi seperti sosok dirimu selama ini.." sahut Jin, masih sambil tersenyum.

"Jangan tersenyum padaku! Aku jadi semakin membenci diriku karena sudah mencelakaimu... Padahal aku bilang aku mencintaimu, namun apa yang kulakukan justru hanya bisa melukaimu..." sahut Taehyung.

"Baguslah kalau kau sadar akan hal itu..." sahut Jin.

Taehyung menatap Jin dalam diam.

"Inilah jawabanku untukmu, Taehyung a... Maaf, aku tidak akan pernah bisa menerima cintamu..." sahut Jin.

"Karena aku menyeramkan? Karena kau akhirnya mengetahui sosokku yang berbahaya seperti ini? Dan kau menjadi takut? Pada sosokku ini?" tanya Taehyung.

"Sejujurnya, memang sejak awal aku takut padamu, tapi sejak semua penjelasanmu ketika kita mengerjakan tugas fotografi di sungai Han waktu itu, aku jadi sering memikirkanmu.. Memikirkan ketulusan cintamu padaku.. Memikirkan sosokmu yang begitu tampan dan menarik perhatianku..."

"Benarkah?" Taehyung membelalakan kedua matanya.

Jin mengangguk. "Ne~ Tapi, mungkin takdir memang tidak mengijinkan kita bersama, Taehyung a~ Karena sejak kejadian di taman malam itu, membuatku tersadar, bahwa jika kita bersama, justru salah satu dari kita akan terus terluka.. Apalagi, aku jadi sadar satu hal, bahwa ternyata selama ini, tanpa kusadari, ada sesosok pria yang selalu memperhatikan dan menjagaku dengan cintanya yang tulus padaku... Jauh sebelum aku mengenalmu.. Dan kejadian malam itu menyadarkanku, bahwa aku ternyata juga sangat membutuhkan pria itu dalam hidupku... Kehadiranmu dan Jungkook dalam hidupku mungkin adalah sebagai sarana untuk mengingatkanku, bahwa aku membutuhkannya disisiku, seumur hidupku."

"Min Yoongi?" sahut Taehyung.

Jin menganggukan kepalanya lagi. "Majjayo~ Min Yoongi... Aku baru sadar sejak kejadian malam itu, betapa aku membutuhkannya dalam hidupku.. Bukankah ini cukup untuk mengatakan bahwa aku mencintainya?"

Taehyung terdiam. Benar seperti ucapan Hoseok. Aura Yoongi ternyata memang lebih kuat daripada auranya.

"Aku mohon, jangan pernah melukainya.. Karena aku begitu mencintai seorang Min Yoongi.. Dan aku bersumpah akan membencimu seumur hidup jika kau melukainya..." sahut Jin.

Taehyung menatap tajam ke arah Jin. "Benarkah tak ada tempat lagi bagiku dihatimu?"

"Ada~ Sebagai sahabat~ Mari kita bersahabat Taehyung a~ Dan satu permintaanku, sebagai sahabatmu, rubahlah sikap pemarah dan egoismu itu, kumohon... Demi masa depanmu, demi persahabatan kita.. Demi kebahagiaanmu di waktu yang akan datang.. Demi kebaikan dan demi kebahagiaanmu sendiri..."

Taehyung tertegun mendengar ucapan Jin. Jin bahkan masih ingin menjadi sahabatnya setelah mengetahui seberapa berbahaya dirinya. Dan bahkan Jin berharap Taehyung berubah demi kebahagiaan Taehyung.

Taehyung segera berpamitan, dan semalaman itu ia terus memikirkan semua ucapan Jin, dan juga ucapan Jimin.


"Jimin a~ Apakah kau bersedia menemaniku?" tanya Taehyung keesokan paginya.

Ini pertama kalinya Taehyung yang menghampiri Jimin terlebih dahulu!

Membuat Jimin tidak percaya ketika melihat sosok Taehyung ketika ia membuka pintu apartementnya.

"Taetae? Ini pertama kalinya kau yang menghampiriku terlebih dahulu... Akhirnya kau mulai merasa kehilangan sosokku, benar kan?" sahut Jimin.

"Jawab saja pertanyaanku, bodoh... Apakah kau bersedia menemaniku?" sahut Taehyung, masih dengan nada dingin.

"Eodieyo?" Jimin membelalakan kedua matanya.

"Terapi kejiwaan.. Di Amerika... Seperti yang dulu pernah kau beritahukan padaku.. Seorang dokter kejiwaan yang sangat terkenal di Amerika... Maukah kau menemaniku selama aku disana?" sahut Taehyung.

TES~

Air mata menetes dari kedua bola mata Jimin.

"Taetae ya~ Apa aku sedang bermimpi?" Jimin tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Jawab saja... Mau atau tidak?" sahut Taehyung.

"Tentu saja aku mau, immaaaa~ Whoaaaa~" Jimin segera memeluk tubuh Taehyung.

"Gumawo, Jimin a~ Gumawo... Karena kau tidak pernah lelah menemaniku sejak dulu.. Gumawo, karena tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun..." bisik Taehyung.

Jimin melepaskan pelukannya dan menatap wajah Taehyung. "Ada apa denganmu, Kim Taehyung?"

Taehyung menjelaskan semua pembicaraannya dengan Jin kemarin malam.

"Ah~ Ini semua karena pria berambut blonde itu~" gumam Jimin.

Taehyung terdiam.

"Gwenchana~ Setidaknya ia bisa membuatmu berubah seperti ini~" sahut Jimin sambil tersenyum. Sedikit sedih karena bukan ia yang merubah Taehyung.

"Bukan hanya Jin hyeong.. Ucapanmu padaku waktu itu juga membuatku mengambil keputusan ini.." sahut Taehyung.

"Jinjja?" Jimin membelalakan kedua matanya.

"Karena Jin hyeong, dan juga karenamu..." gumam Taehyung.

Jimin langsung memeluk erat tubuh Taehyung. "Kapan kita akan berangkat?"

"Sore ini.." jawab Taehyung.

"Araseo~ Aku akan segera berkemas dan mengurus semuanya agar kita bisa segera kesana~" sahut Jimin sambil tersenyum.


Kepindahan Taehyung yang sangat tiba-tiba itu segera menyebar di kampus, menimbulkan kehebohan, dan Yoongi segera menceritakan kepada Jin akan kepindahan Taehyung yang tiba-tiba itu.

Jin tidak terkejut,karena sebelum pergi, Taehyung sudah berpamitan kepada Jin.

Taehyung mengirimkan sebuah pesan yang sangat panjang pada Jin sebelum ia berangkat ke Amerika. Mengucapkan semua rasa bersalah dan rasa terima kasihnya kepada Jin.

Taehyung bahkan mengakui, bahwa ia dan Jin bisa satu kelompok dengan Jin dan hanya berdua saja karena Taehyung menyogok asisten dosen mata kuliah itu dengan uang dalam jumlah yang cukup besar untuk membujuk Jisung, sang dosen, agar sang dosen mengatur kelompok tugas fotografi, dan Taehyung harus berdua dengan Jin.

Karena Taehyung tahu betul bahwa sang dosen sangat mempercayai sang asisten dosen. Sang dosen juga selalu mendengarkan permintaan sang asisten dosen kepercayaannya itu.

Taehyung benar-benar meminta maaf untuk segala kesalahannya selama ini, dan benar-benar mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan Jin padanya selama ini.


"Min Yoongi, aku bersedia menjadi kekasihmu~" sahut Jin ketika Yoongi sedang menyuapi Jin makan malam.

Ini sudah hari ketujuh Jin dirawat di RS, dan keadaan Jin mulai semakin membaik. Mungkin karena ia sudah tidak lagi memiliki beban dalam pikirannya.

"Ne?" Yoongi membelalakan kedua mata kecilnya.

Sejujurnya, setelah pembicaraan antara Jin dengan Jungkook dan Taehyung, Yoongi sangat penasaran apa yang mereka bicarakan, namun Jin tetap tidak mau memberitahukan padanya.

Sampai tiba-tiba malam itu Jin menjawab perasaan Yoongi.

"Apa aku salah dengar?" tanya Yoongi.

"Dengarkan ini baik-baik, Min Yoongi~" sahut Jin sambil memasangkan earphone ke kedua telinga Yoongi, memperdengarkan rekaman suara dari handphone Jin.

Ternyata, semua pembicaraannya dengan Jungkook dan Taehyung diam-diam direkam oleh Jin di handphonenya, untuk diperdengarkan pada Yoongi.

Yoongi mendengarkan dengan seksama kedua rekaman itu, rekaman pembicaraan Jin dengan Jungkook, dan rekaman pembicaraan Jin dengan Taehyung.

"Hyeong.. Apa ini benar?" tanya Yoongi sambil menatap wajah Jin ketika ia sudah selesai mendengarkan kedua rekaman itu.

Jin tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Mian, Yoongi a... Maaf karena aku sangat telat menyadari perasaanku padamu selama ini~ Dan terima kasih, untuk selalu menjaga dan mencintaiku dengan tulus selama ini~"

"Jadi, mulai sekarang kita berpacaran hyeong?" tanya Yoongi, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Jin menganggukan kepalanya.

"Whoaaaaaaaaa~ Gumawo, hyeong.. Jinjja gumawo~" sahut Yoongi sambil memeluk erat tubuh Jin.

"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, Yoongi a~" bisik Jin.

Yoongi segera melepaskan pelukannya dan mencium lembut kening Jin.

Jin tersenyum dan memajukan bibirnya. Meminta Yoongi menciumnya disana.

Namun, justru Yoongi menyentil kening Jin dan berbisik, "Aku baru akan menciummu disitu setelah kau keluar dari RS ini hyeong~ Cepatlah sembuh, araseo?"

Jin tersenyum sangat manis mendengar bisikan Yoongi. "Araseo~ Hehehe~"


Setelah dua minggu dirawat, keadaan Jin sudah semakin membaik sehingga ia sudah diijinkan pulang.

Dan keesokannya ketika Jin mulai masuk kembali untuk belajar di kampus, Jin masuk ke kampus sambil menggandeng tangan Yoongi erat, seakan ingin seisi kampus tahu bahwa sekarang Yoongi adalah miliknya seorang.

Namjoon dan Hoseok sangat terkejut melihat Jin dan Yoongi bergandengan tangan erat seperti itu.

"Jin hyeong, akhirnya kau masuk lagi~ Bagaimana keadaanmu?" tanya Namjoon.

"Ah sunbae, annyeong~ Uhm... Keadaanku? Sudah jauh lebih baik~ Hehehe~ Apa kabar, sunbae?" sahut Jin, masih sambil menggandeng tangan Yoongi.

"Syukurlah kalau kau sudah sehat... Uhm.. Kalian sekarang bergandengan tangan.. Jangan-jangan kalian pacaran ya?" tanya Namjoon, memberanikan dirinya bertanya.

"Ah, ne~ Akhirnya kami saling menyadari bahwa selama ini kami saling mencintai, hehehe~" sahut Jin dengan polosnya, tanpa mengetahui perasaan Namjoon padanya.

"Chukkae, hyeong~" sahut Namjoon sambi terpaksa tersenyum.

"Gumawo, sunbae~" sahut Jin sambil tersenyum.

Sementara Hoseok diam-diam membuat kode mata dengan Yoongi, mengucapkan selamat karena akhirnya Yoongi berhasil meraih cintanya. Yoongi tersenyum melihat ucapan selamat yang diam-diam diucapkan Hoseok untuknya itu.

Dan setelah Jin dan Yoongi berjalan menuju kelas mereka, Namjoon dan Hoseok saling berpelukan dalam tangis, karena mereka berdua sama-sama merasa patah hati melihat pasangan baru di kampus mereka itu.

"Takdir memang kejam, Namjoon a~" sahut Hoseok sambil memajukan bibirnya.

"Kali ini aku setuju denganmu, Jung Hoseok..." sahut Namjoon sambil menepuk bahu Hoseok. "Ternyata patah hati sesakit ini, aigoo~"


Sepulang kuliah, Jin dan Yoongi memutuskan untuk mampir ke kedai ramyun kesukaan Jin.

"Ternyata, tanpa Taehyung, kelas jadi agak sepi ya~" sahut Jin sambil berjalan kaki menuju kedai ramnyun dekat kampus, sambil menggenggam erat tangan Yoongi yang tengah berjalan disampingnya.

"Kau merindukannya?" tanya Yoongi sambil menatap wajah Jin, kekasihnya yang sangat manis itu.

Jin menggelengkan kepalanya. "Aku merindukan saat-saat dimana kau selalu ada untukku setiap aku diganggu Taehyung, hehehe~"

"Aigooooo~" Yoongi mengacak-acak rambut blonde milik Jin. Dan tiba-tiba Yoongi berhenti.

Jin menoleh ke arah Yoongi. "Mengapa kau berhenti?"

CUP!

Tiba-tiba bibir Yoongi menempel dengan sangat lembut di bibir merah milik Jin sekilas.

Jin membelalakan kedua matanya.

"Bukankah ini janjiku jika kau sudah keluar dari rumah sakit? Hehehe~" sahut Yoongi, lalu ia kembali menempelkan bibirnya di bibir Jin, kemudian mulai melumatnya, mengabaikan keramaian sekitar yang tengah menatap mereka.

Jin memejamkan kedua matanya sambil tersenyum, menikmati setiap lumatan Yoongi di bibirnya, dan membalas lumatan Yoongi dengan desahan – desahan kecil yang keluar dari mulutnya.

.

.

.

-END-


AKHIRNYA END JUGA SETELAH MARATHON NGETIK 28 CHAPTER :)

Akhirnya bisa manjangin chapter di chapter 27 dan 28 ini :)

Semoga alur ceritanya dan endingnya tidak mengecewakan readers sekalian ya /bows/

Sekali lagi, thx a lot udah mantengin FF ini dari awal sampai tamat di chapter 28 ini :)

Thx bgttt bgttt bgttt buat semua dukungan, masukan, saran, pujian, dan semangatnya selama penggarapan FF ini~

See you all in my next FF ya all :) Jangan bosen2 baca FF saya ya :) /bows/


reply for review chapter 26:

hanashiro kim : agak horor baca ekspresi senengmu pas jin bocor XD asli, kamu kalo ngobrol sama author yang namanya park injung pasti nyambung bgt, sukanya genre beginian XD here last chapt :(

Key0w0 : jadi penasaran teriakan wanita jantan kayak gimana waks XD thx supportnya key :)

sweetsugaaswag : bentar deh, ini pertama kali kamu review ff saya atau sebelumnya pernah? kalo emang baru pertama review, salam kenal yaaa :) /jabat tangan/ thx udah nyempetin baca dan review ff saya ini :) your wish comes trus, taejin ga jadian.. endingnya? yoonjin :)

Bubgummy : annyeong bubgummy, salam kenal ya :) seems its first time kamu review ff saya :) makasih udah nyempetin baca dan review, dan sayangnya kita baru bisa saling nyapa di last chapter :( kalo gt coba mampir ke ff saya yang lain, jadi kita bisa ketemu lg/? #sekalianpromosi/? XD btw, dimata saya memang TaeJin karena entah kenapa buat saya Taehyung itu 90% jiwa seme, sementara Jin 98% jiwa uke wkwkw XD

Aiko Vallery : here aiko :)

heyoyo : Hoseok ditolak Yoongi sok cool padahal abis itu jejeritan di kuping Namjoon XD KookMin aja, Jimin itu uke sejati dimata saya soalnya wkwkw XD cuma di FF baru saya sekali2 lah saya bikin MinYoon, Jimin seme Yoongi ukenya waks XD yg "Kill Me, Heal Me" itu XD thx for semangatnya yo :)

mincsn : YOUR WISH COMES TRUE MIN :) Here, YoonJin :)

Mokuji : pembagian takjil wanjir XD SUNBAE THX TO NOTICE ME /peluk mokuji sunbae/ kangen kalian di grup, ampuni saya yang belum sempet buka line ataupun twt karena kondisi lg ga fit :( salam buat semua yang ada disana, akang tae-v akan segera kambek ke grup klo udah agak senggang waktunya :* NGAKAK ASLI BACA REVIEW SUNBAE XD Here last chapter, tamat dah tamat hmmmm...

vip93 : salam kenal vip :) baru liat idmu di review saya, salam kenal yaaaaa :) thx udah nyempetin baca dan review ff saya ya :) iya maaf by ngetrollnya akhir2 ini krn kondisi badan lg drop :( saya kaga akan ngegantung kalian, here last chapter :)


reply for chapter 27:

hanashiro kim : thx semangatnya ya hana :) tamat deh akhirnya hmmm...

mincsn : endingnya YoonJin toh :) chukkae :) kalo dipaksa TaeJin ntar Jungkook menderita, saya tidak tega karena hampir di semua FF saya Jungkook selalu kebagian peran yang tersakiti/? makanya disini saya pilih YoonJin di ending :)

Key0w0 : drama korea apa key? saya skrng lagi suka nonton "Another Oh Hae Young" karena sunbae idola saya Eric lidernya SHINHWA jd pemeran utamanya :) sama Doctors juga lumayan tuh, PARK SHINHYE LEE SUNGKYUNG, DUO BIAS, SAYA MIMPI APA COBA SAMPE DUO BIAS SAYA DIJADIIN SATU FILM GT HMMMMMMM /peluk produsernya Doctors/ KETAMBAHAN LAGI DRAKOR BARU, SUZY YG UNCONTROLLABLY FOND, SAMA KIM SOHYUN YANG LETS FIGHT GHOST, SAYA HARUS GIMANA? ITU SEMUA BIAS ITU BIAS2 CANTIK, SAYA MESTI NONTON YANG MANA? SAYA HARUS LANJUT NGETIK FF ATAU MENYIBUKKAN DIRI NONTON DRAKOR2 YG ISINYA BIAS SEMUA ITU? /ngomong sama tembok/?/

Bubgummy : Yup... YoonJin :) hehehe :)

heyoyo : thx semangatnya yoyo :) musibahnya sakit kok, insya allah lg masa pemulihan nih :) doakan saya segera pulih biar yang Kill Me Heal Me ga ngetroll kelamaan ya :)

EkaOkta3424 : salam kenal eka :) thx ya udah nyempetin baca dan review /bows/ finally, YoonJin :) masa lalu taehyung udah dibahas kan di chapter2 sebelumnya? sedikit terganggu mentalnya karena luka masa kecilnya, ayahnya nikah lagi ibunya kabur, jadi lack of love gt lah makanya jiwanya agak terganggu, emosinya juga :)

Aiko Vallery : here aikoooo :)

Indahira09 : YOUR WISH COMES TRUE, YOONJIN IS THE ENDING :) Silakan menerka2 ya kira2 VMin jadian ga di amerika sana/? XD


DEAR ALL,

PERTAMA, MAU NGUCAPIN MINAL AIDIN, MAAF LAHIR BATIN BUAT SEMUA YANG MERAYAKAN :)

MAAFIN KALO TAE-V BYK BGT SALAHNYA SAMA READERS /sungkem satu2/

KEDUA, MAAF NGETROLL KELAMAAN NGEPOST LAST CHAPTERNYA INI :(

SAYA SEMPET BERMASALAH DENGAN KONDISI TUBUH (YANG KALO KATA PAK DOKTER MAH NAMA PENYAKIT SAYA ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI, JADI INTINYA ZAT BESI SAYA KURANG SEHINGGA SERING PUSING DAN SESAK NAFAS...) NAH PENYEBABNYA APA SAYA JUGA BINGUNG KALO KATA PAK DOKTER MAH KELELAHAN DAN KURANG ASUPAN GIZI :(

JADI RASANYA FF SAYA YANG KILL ME HEAL ME AKAN NGETROLL, DOAKAN SAJA SEMINGGU ATAU MAKSIMAL DUA MINGGU DOANG DELAYNYA... SEKALI LAGI MAAF KALO NGETROLL BGT UNTUK PENGUPDATEAN FF INI /deep bows/

SELAMAT MENUNGGU UNTUK LANJUTAN UPDATE FF KILL ME HEAL ME YA ALL, MAAF BANGET KALO FF ITU JADI MUNDUR JUGA KARENA KONDISI SAYA YANG LAGI KURANG FIT INI :(