Sehun mengusap lembar terakhir dari buku yang di bacanya. Sudah hampir sepertiga malam dan matanya yang berkantung tidak mengantuk sama sekali. Malam ini, ia sendirian lagi. Ellios kembali menginap di rumah neneknya. Sehun hanya merasa ia semakin jauh dari jagoan kecil itu. Tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk bersama Ellios sementara ini.
Buku bersampul maroon dengan sedikit aksen coklat kayu itu ia beli kemarin di sebuah toko buku. Covernya yang menarik serta best seller yang tercetak besar membuat Sehun akhirnya membeli buku itu.
Ia baru membacanya sepulang dari rumah sakit sore tadi. Pekerjaan nya menjadi lebih sedikit karena kondisi kesehatan mentalnya sekarang. Professor Do memintanya lebih banyak beristirahat beberapa waktu sebelum sebuah keputusan diambil.
Buku bersampul maroon dengan gambar dedaunan musim gugur itu berhasil membuat Sehun tak beranjak dari kamar hingga malam.
Sebuah buku yang ditulis dari kisah nyata si narasumber.
Park Chanyeol.
See You In Autumn.
.
.
.
"Jongin" suara ibu membuat Jongin menoleh pada pintu kamar yang terbuka.
"Ada apa bu?" tanya Jongin yang sedang sibuk mengancingi kemeja putihnya.
Ibu mendekat dengan kotak makanan di tangan.
"Kau akan pergi?"
Jongin mengangguk, "bertemu Chanyeol hyung sebentar. Wae?"
Ibu menatap kotak makanan di tangannya dan menimang beberapa saat sebelum menyodorkannya pada Jongin.
Jongin menerimanya dan mengangkat alis bertanya, ibu hanya tersenyum. Jongin membuka kotak dan menemukan kue wortel di dalamnya. Ia tau siapa yang sangat menyukai kue wortel.
"Ibu tiba-tiba kefikiran Sehun" Nyonya Kim mengusap lengan Jongin sambil menerawang pada ingatan dulu, "anak itu sangat menyukai kue wortel. Kau bisa mengantarkan ini padanya?"
"Tapi bu, aku..." Jongin ragu untuk mengatakan bahwa dia tidak bisa sedekat dulu dengan Sehun. Walau ia bisa, tapi bertemu Sehun sepertinya perlu janji khusus kini. Melihat wajah ibunya, Jongin jadi tidak tega. "Baiklah, akan aku antarkan"
"Terima kasih nak" senyum Nyonya Kim taunya mengembang.
"Iya bu, aku harus pergi sekarang"
.
Dan disinilah Jongin, di depan kediaman Sehun lagi. Jongin tidak tau apakah pria itu ada di rumah atau masih di rumah sakit. Ia bisa menitipkan kue itu pada pembantu di rumah jika memang Sehun belum pulang.
Tapi setelah menekan bel berkali-kali, tidak ada sahutan. Jongin berfikir mungkin saja di rumah memang tidak ada orang. Melihat beberapa lampu tidak di nyalakan. Ia berbalik akan pergi sebelum suara samar dari dalam rumah kembali membuatnya berhenti. Meski cukup jauh, tapi Jongin tau pasti bahwa itu suara benda pecah.
Sekali, dan Jongin membiarkan. Mungkin dia salah dengar.
Prangg!
Tubuhnya refleks berbalik, menekan bel lagi berkali-kali.
"Sehun!" teriaknya. Ketika menggapai gagang, pintu terbuka. Tidak terkunci. Tanpa fikir panjang Jongin masuk ke dalam rumah, berkeliling mencari sumber suara yang kini sunyi lagi.
"Sehun?" gumamnya di sepanjang tempat. Di ruang tengah, ia melihat Sehun duduk di sofa.
Pecahan kaca di lantai membuat Jongin mengernyit. Sehun meliriknya, kemudian melirik kekacauan di bawah kakinya.
"Aku tidak sengaja menabrak nya" katanya serak.
Jongin mencari saklar dan menyalakan lampu. Barulah ia bisa melihat jejak darah di lantai dan bagaimana penampilan kacau pria di sofa sana.
"Aku juga tidak sengaja menginjak nya"
Jongin mendekat dan berdiri di depan Sehun. Semakin kacau ia lihat pria itu. Kemeja kusut serta rambut hitam yang berantakan. Dan botol-botol wine di samping tubuhnya. Seperti bukan Sehun. Ia khawatir berlebihan sekarang. Belum lagi darah yang terus keluar dari telapak kaki Sehun.
"Kakimu harus di obati" kata Jongin. Ia berinisiatif sendiri untuk mencari kotak P3K dan menemukannya di dalam kamar mandi. Jongin kembali pada Sehun, berjongkok di depan kakinya dan meringis melihat pecahan kaca yang menancap.
"Kau mabuk?" tanya Jongin.
Tidak ada sahutan. Jongin pun masih fokus mencabuti pecahan kaca dengan pinset.
"Lain kali jangan ceroboh"
Sehun sama sekali tidak bersuara kesakitan selama Jongin mengobati kakinya. Netra nya nanar menatap Jongin, tapi fokusnya berada jauh. Matanya kosong. Kepalanya kosong. Ia berubah menjadi Mannequin hidup.
"Sehun?" itu panggilan kesekian kali dari Jongin dan Sehun hanya merespon dengan gumaman tidak jelas.
Sehun melipat kakinya. Memeluk kedua lututnya dan terisak kemudian. Jongin menjulurkan tangan untuk mengusap kepala Sehun, namun urung. Tidak ada keberanian. Sehun menangis lagi. Berbeda dengan yang di pemakaman, kali ini ia menangis seperti anak kecil. Benar-benar seperti anak kecil. Kadang merengek memanggil ibu dan sesenggukan sampai terbatuk. Mungkin karena dia mabuk.
Jongin tidak tau apa yang terjadi. Tapi hatinya ngilu melihat kondisi Sehun yang seperti ini. Ia beralih duduk di samping Sehun, kini memberanikan diri untuk sekedar menyentuh lengan pria itu.
"Jangan di pendam sendirian" ujar nya dengan jutaan volt listrik menyakitkan dari tenggorokan. Berkata seperti itu, apa Sehun kemudian akan mengandalkannya seperti dulu?
"Kris..." isak Sehun.
Jongin mengernyit. Sehun merindukan Kris rupanya.
"Dia selalu menjadi orang pertama yang berbahagia untuk gelar dokter ku" Sehun kembali sesenggukan, "tapi aku menghilangkan nya"
Jongin masih diam. Membiarkan Sehun meluapkan seluruh beban yang sedang di tanggungnya. Sehun kembali merengek dan menatap Jongin dengan matanya yang basah.
"Aku bukan dokter lagi. Kris akan kecewa padaku"
Saat itulah Jongin tau bahwa satu hal lagi yang terjadi dalam semalaman ini. Ia beringsut mendekat, menguatkan hati untuk merengkuh Sehun dalam dekapannya. Tubuh itu menurut seperti tak memiliki apapun lagi dalam sistem motoriknya. Jongin semakin berani untuk sekedar mengusap helai legam Sehun.
"Kau sudah melakukan yang terbaik. Tidak akan ada yang kecewa padamu"
"Kris?"
"Tidak Sehun. Dia akan kecewa melihat kau menangisi diri sendiri seperti ini"
Sehun mengusap air matanya. Meredakan tangisnya meski masih terisak. Hening yang cukup panjang membuat Jongin berfikir untuk melepas rengkuhannya sebelum Sehun bersuara kembali. Kini tidak merengek.
"Kenapa semua hal buruk selalu datang padaku?"
Jongin menjauhkan sedikit badannya sekedar melihat wajah Sehun. Di tangkupnya kedua pipi yang semakin tirus itu guna menghapus sisa air mata disana.
"Karena Tuhan tau kau kuat Sehun-ah"
"Aku tidak sekuat itu" rintihan Sehun selirih desiran perih di rongga dada Jongin.
Sehun tidak berniat menjauh. Seluruh tubuhnya lelah untuk sekedar menolak Jongin. Lagipula ia memang butuh seseorang kini untuk mendengarkan keluhannya. Biarlah dia terlihat menyedihkan di depan pria ini. Terlalu banyak kesesakan yang Sehun terima.
"Hanya yakin pada dirimu"
Karena hidup masih terus berlanjut walau ia harus merangkak tanpa kaki.
.
Mereka masih di sofa ketika Sehun tertidur di rengkuhan Jongin. Pria yang lebih tua tidak keberatan meski tangan serta bahunya sudah keram. Aroma alkohol yang bercampur dengan shampoo milik Sehun menghantarkan candu yang aneh untuknya.
Jongin tidak berharap lebih. Meski cukup saja tidak bisa membuatnya merasa lebih baik.
Jongin menginginkan Sehun sebanyak Sehun menginginkan Kris untuk kembali.
Suara pintu serta langkah kaki membuat Jongin bergerak sedikit untuk memastikan siapa yang datang. Akan canggung jika itu mertua Sehun. Tapi itu adalah seorang gadis yang Jongin kenal sebagai ipar Sehun.
.
Nancy meninggikan selimut hingga sebatas leher Sehun dan mengusap rambut pria yang masih tertidur itu. Tadi Jongin yang menggendong tubuh kurus itu ke kamar. Pemandangan wajah Sehun sekarang membuatnya meringis. Selama bertahun-tahun ia menjadi ipar Sehun, tidak pernah ia melihat setitik pun air mata di pelupuk pria ini.
Nancy mendongak dan bertemu dengan pigura besar di atas nakas. Potret Kris dan Sehun yang diambil ketika hari pernikahan.
"Jangan khawatir Ge, yang tercintamu sudah kembali pada pemilik hatinya"
Teringat Jongin, Nancy kemudian memilih keluar dari kamar Sehun dan menemui pria yang sekarang duduk di meja makan dengan segelas coklat panas.
"Maaf membuatmu repot Jongin-ssi" kata Nancy, berlalu untuk menuang segelas air putih.
"Aku tidak merasa repot sama sekali"
Nancy tersenyum sebelum berbalik dan duduk di depan Jongin yang memeluki badan gelas dengan kedua telapak tangannya.
"Sehun oppa memiliki waktu yang sulit akhir-akhir ini" diam beberapa saat sebelum Nancy kembali melanjutkan, "aku berada di Montreal untuk merapikan barang milik Yifan gege ketika ku dengar Sehun oppa di... berhentikan dari pekerjaannya. Jadi aku langsung kesini"
Jongin menarik nafas bersamaan dengan Nancy seolah perasaan yang mereka rasakan sama. Uap dari gelas menjadi menarik untuk Jongin tatapi selama ia berfikir tentang Sehun.
"PTSD terlalu berlebihan untuk Sehun oppa. Dia tidak seharusnya..." Nancy kehilangan kata, ia menggigit bibir untuk menahan emosi yang keluar. "Aku sangat menyayangi nya. Semua orang menyayangi nya"
Jongin mengangguk tanpa sadar, menyetujui ucapan Nancy. Keluarga Wu, Chanyeol, Chen, keluarga Park dan dia sendiri adalah bukti nyata seberapa banyak pria itu mendapat kasih sayang.
"Tapi penderitaannya juga sebanyak itu. Sehunku tumbuh dengan rasa sakit"
Sehunku..
Nancy melirik Jongin. Mata pria itu melamun pada permukaan meja. Ucapannya mungkin keluar tanpa sadar, tapi sangat jujur.
"Kakakku sangat mencintainya. Sangat. Sehun oppa tidak bisa hanya ditukar dengan nyawanya, karena jika tulang nya pun mampu membawa kebahagiaan, maka Yifan gege akan memberikan itu untuk Sehun oppa"
Tidak hanya rasa. Kris mencintai Sehun sampai seluruh hidupnya tidak bersisa.
Nancy mengatakan itu untuk menegaskan lagi bahwa Sehun dan Kris memang bertakdir. Jongin menyadari itu dan tertohok. Kehadirannya seperti sebuah surat dari masa lalu yang terlambat sampai. Apakah akan ada artinya?
"Aku boleh jujur?" tanya Jongin, menatap Nancy.
"Jujur tentang perasaanmu?" celetuk Nancy.
Jongin mengangguk tanpa ragu, "bahwa aku juga sangat mencintai Sehun"
Nancy menghela nafas dan melipat tangannya di atas meja. Marahnya masih bisa ditahan. Makam kakaknya mungkin saja belum kering dan pria di depannya ini sudah mengajukan proposal perebutan hak milik pada kakak iparnya. Tapi orang-orang yang jatuh cinta tidak lagi bisa melihat logika bukan?
"Dan lihat bagaiman Sehun oppa akan membalasmu"
Nancy tidak bisa mendahului masa depan dan bersikap sarkasme dengan menunjukkan bahwa Jongin tidak memiliki kesempatan.
Mungkin, di masa depan ia akan melihat Jongin di depan makam kakaknya. Meminta ijin atas diri Sehun.
Mungkin.
.
.
.
Tidak ada yang berubah di hari berikutnya. Sehun memulai harinya seolah tidak ada yang terjadi. Ia jadi memiliki banyak waktu dengan Ellios sekarang. Setiap pagi mengantar Ellios dan siangnya menjemput anak itu. Ellios semakin menempel pada ayahnya. Rengekan tentang sang Daddy sudah mulai berkurang.
Hari ini sebuah undangan datang ke rumahnya. Undangan reuni dari SMA nya dulu. Sehun bukan lulusan dari sana, tapi dia tau dengan pasti siapa yang sudah menulis namanya di undangan itu.
Kim Tae Woo.
Senior nya itu menyengir lebar di malam dimana Chanyeol mengajak mereka-Chen, Sehun, Jongin dan Tae Woo-berkumpul di restoran tradisional sebelum acara reuni besok.
"Aku sepertinya tidak bisa datang hyung" kata Sehun sambil terus mengunyah kue beras miliknya. "Aku bukan alumni"
"Semua orang menunggu kehadiranmu" sahut Chen.
Sehun mengernyit, "untuk apa?"
"Tentu saja mereka ingin melihat si pembuat onar ini sekarang. Kau dan Jongin yang paling di tunggu. Tahun-tahun sebelumnya kalian tidak pernah hadir"
"Kau juga?" Sehun menunjuk Jongin di depannya.
Jongin mengangguk. "Aku tinggal di Jeju setelah lulus kuliah"
"Benarkah?"
Jongin hanya bergumam menyahuti. Sehun mengangguk kecil meski di dalam kepalanya muncul beberapa pertanyaan 'kenapa?'. Tapi itu bukan urusannya.
"Jadi?" Chen menjadi yang paling tidak sabar.
"Akan ku fikirkan" sahut Sehun mengangkat bahu acuh. Ia melirik arloji di pergelangan tangan dan bergegas mengenakan mantel hitam miliknya. "Aku harus pulang, Ellios menungguku"
"Ini baru jam delapan" kata Chanyeol, ikut melirik pada arlojinya.
"Lalu apa salahnya? Aku ingin bertemu anakku" ekspresi wajah menyebalkan Sehun mengingatkan Chanyeol ketika sekolah dulu. "Jongin"
Yang di panggil mendongak dengan mulut penuh tahu. Jongin berkedip beberapa kali dan tiga orang lainnya ikut menunggu ucapan Sehun selanjutnya.
"Bisa antarkan aku?"
Sebelum Jongin dapat mencerna pertanyaannya, Sehun sudah lebih dulu meninggalkan meja makan. Pria itu menatap Chanyeol, Chen dan Tae Woo dengan bingung yang di balasan dengusan dari ketiganya.
"Dia kebanyakan makan tahu" kata Tae Woo, menatap Jongin seolah pria itu orang terbodoh di Korea.
"Tidak. Kepalanya kebanyakan rumus" Chen ikut menimpali.
Jongin menelan tahu dalam mulut tanpa mengunyahnya lagi. Suara sumpit yang di letakkan kasar keatas meja membuat Chanyeol menggaruk keningnya tak habis pikir.
"Ku balas kalian nanti" sungutnya sebelum bergegas menyusul Sehun keluar restoran.
.
Jongin kira ia hanya akan benar-benar mengantarkan Sehun pulang. Taunya Sehun malah menjadikannya supir dadakan malam ini. Sampai di rumah, Ellios tiba-tiba rewel dan terus berkata sesuatu tentang Ironman. Jadilah sekarang mereka di toko mainan, berkeliling mengikuti Ellios yang antusias dengan segala hal berbau robot di dalam toko.
"Aku merepotkan mu lagi" kata Sehun.
"Tidak masalah. Aku terbiasa menemani si kembar dulu"
"Ah, sudah sebesar apa mereka?"
"Sudah tau game online dan novel romansa"
Sehun dan Jongin terkekeh bersama. Mereka masih mengikuti Ellios yang tidak ada lelahnya memilih mainan.
"Appa, aku mau ini" Sehun menunduk dan mengambil Ironman yang disodorkan Ellios.
"Masih ada lagi?"
Ellios menggeleng.
"Baiklah, kita ke kasir"
Jongin tersenyum melihat bagaimana Ellios tumbuh dengan baik oleh kedua orang tuanya. Di umurnya yang sekarang, biasanya anak kecil suka membeli apa saja yang mereka lihat. Si kembar dulu seperti itu. Ketika stok susu di dalam kulkas masih penuh, mereka akan kembali mengambil kotak susu saat masuk supermarket. Dan Ellios adalah tipe anak yang sangat penurut. Sebelum kesini, Sehun berkata dia hanya boleh membeli satu Ironman yang benar-benar dia suka, dan anak itu melakukannya. Dia juga tidak banyak bicara.
"Dia anak yang pintar"
Sehun tersenyum sambil menyerahkan robot Ironman besar itu pada penjaga kasir.
"Aku dan Kris sempat khawatir. Dia terlalu pendiam dan pemalu untuk ukuran anak laki-laki"
"Tapi dia luar biasa. Penurut dan sangat peka"
"Kau berlebihan. Ellios bahkan terlihat dewasa sebelum waktunya, itu kurang baik" kekeh Sehun yang kemudian bergumam terima kasih pada petugas kasir dan kembali beriringan bersama Jongin keluar dari toko.
"Itu karena dia cepat mengerti dengan apa yang terjadi disekitarnya, Sehun-ah"
Sehun menghela nafas, "itu yang aku khawatir kan. Ellios tidak pernah mengatakan apapun selain rewel seperti anak lain seusianya. Dia seperti menyimpan banyak hal untuk dirinya sendiri"
Jongin menatap Ellios yang fokus memeluk kotak Ironman miliknya dan mengusap surai kecoklatan anak berusia lima tahun itu.
"Sepertimu" katanya, beralih menatap Sehun.
Sehun mendengus dan tersenyum setengah. "Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Kris mengatakan hal yang sama. Dan saat aku melihat Ellios, aku seperti bercermin pada diriku di masa lalu" ia kembali menghela nafas dan merapatkan mantel, "karena itu aku dan Kris sangat menyayanginya. Aku tidak ingin hidupnya seperti ayahnya ini. Setidaknya dia harus jauh lebih baik"
Sudah berapa kali nama Kris terucap dari bibir Sehun? Jongin hanya kembali mengingat bahwa pria disampingnya ini adalah seorang suami dan ayah.
"Kalian orang tua yang luar biasa"
Sehun tersenyum dan membuka pintu mobil, sadar ia sudah terlalu banyak bercerita.
"Aku ingin menghirup udara segar sebentar. Kau tau tempat yang bagus?"
.
Sehun POV.
Jongin adalah tipikal pria romantis, aku melihat itu saat ia bersama Seolhyun dulu. Jadi saat aku bertanya padanya, aku sudah menduga ia akan tau tempat sebagus ini. Hanya sebuah jalan menuju perumahan yang letaknya lebih tinggi dari jalanan lain. Di satu sudut, tepat mengahadap seluruh hiruk pikuk ibukota di bawah sana di letakkan sebuah kursi panjang hingga kami bisa sedikit bersantai.
Ellios tertidur di mobil yang di parkir tidak jauh dari tempatku sekarang. Jongin masih belum kembali setelah berkata akan membeli minuman.
Ini pertengahan musim dingin dan aku duduk di tempat tinggi dengan mantel yang tidak terlalu tebal. Keinginan untuk menghirup udara segar tiba-tiba saja terlintas ketika kulihat wajah Jongin setelah aku bercerita tentang Ellios tadi. Aku tidak seharusnya bercerita banyak padanya.
Sudah hampir dua bulan sejak kepergian Kris. Selama itu juga aku merindukannya. Tidak pernah terlewat satu malam pun. Duduk di ruang baca berjam-jam dan merasakan kehadiran nya disana tidak cukup untuk mengurangi sesak di dadaku.
Suamiku itu..
Dia masih muda, tampan, dan pekerjaannya sedang berada di puncak. Dia di berkahi dengan banyak hal. Tapi tidak dengan usia. Orang baik selalu pergi lebih cepat.
Biasanya, dia akan melarangku keluar rumah ketika musim salju. Dia selalu khawatir terlalu banyak. Jadi kami menghabiskan waktu di depan perapian setelah Ellios tidur. Bercerita banyak hal, kadang hanya saling berdiam diri mendengar suara kayu yang terbakar. Kadang kami yang terbakar gairah dadakan dan berakhir dengan teriakan Ellios esok paginya karena melihat kedua orang tuanya telanjang di tempat tidur. Anak itu suka menyelinap masuk kamar pagi-pagi sekali dan menelusup ke dalam selimut.
"Kopi?" satu cup kopi panas terjulur ke arahku, ku sambut dan tersenyum berterima kasih pada Jongin.
"Aku salah memilih tempat. Semakin dingin disini"
Aku merasa sesuatu melingkupi tubuhku dan saat menunduk ku temukan sebuah selimut melingkar menghangatkan ku.
"Ibu selalu meninggalkannya di mobil"
"Selimuti Ellios saja"
"Sudah"
Aku mengernyit dan akhirnya menyadari bahwa Jongin sudah tidak memakai mantelnya lagi.
Kami bercerita banyak hal malam ini. Tentang kepindahan Jongin ke Jeju. Tentang studiku di Montreal. Dan banyak lagi. Dan ternyata, di awal kepergianku delapan tahun lalu, Jongin rutin mengunjungi Busan dan bertemu Ibu sekedar berharap aku akan pulang sebentar saja. Mereka sangat akrab tanpa sepengetahuanku. Aku hanya ingin mengingat moment ini. Rasa terima kasihku karena Jongin telah banyak ku repotkan. Aku mencairkan sedikit gunung es di dalam sana. Dan ternyata lega rasanya melihat Jongin dalam jarak sedekat ini lagi.
Aku tidak tau bahwa ternyata Chanyeol hyung sedang menjalin hubungan dengan super model yang sering kulihat di televisi. Aku merasa di khianati. Chanyeol hyung selalu berkata bahwa aku adalah adiknya, tapi tidak sedikitpun membagi cerita ini. Tapi wajar, kami seakrab dulu namun tidak lagi dekat. Itu asumsiku sendiri.
Sama seperti Jongin yang tidak tau bahwa beberapa hari lalu ibu datang dari Jeju bersama seseorang yang tidak pernah ku bayangkan lagi akan muncul.
Seseorang yang seharusnya ku panggil ayah, namun hanya suara canggung yang keluar dari masing-masing bibir kami.
Ayahku. Dia datang. Kembali untuk menegaskan bahwa eksistensinya tidak perlu di ragukan. Ibu tersedu di samping ku yang kaku. Bukannya aku tidak menerima sosok pria berkebangsaan Eropa itu. Aku hanya terlalu terkejut. Sudah puluhan tahun aku hidup tanpa seorang ayah.
Manik biru terangnya menghipnotisku. Menarik ku dalam magis tak kasat mata layaknya benang merah di jeri kelingking. Aku seperti terikat dengannya.
"Ternyata kau memang darah campuran" kekeh Jongin yang ku sambut dengan hal sama.
"Ayahku sangat tampan. Ia tidak menikah setelah kembali ke Jerman. Kau tau kenapa?" tanyaku, sekilas melirik dan tersenyum pada Jongin.
"Kenapa?"
Aku berdiri, melepaskan selimut dari tubuh dan memberikannya pada Jongin. Sedari tadi bisa ku lihat tubuh itu menggigil meski selalu coba ditutupi oleh Jongin. Aku berdiri di tepi pagar pembatas. Keindahan malam kota Seoul sekarang terlihat lebih baik daripada Montreal yang kemarin selalu ku banggakan.
Udara dingin masuk ke paru-paru ku ketika ku hirup lebih banyak oksigen untuk melegakan dada. Teringat lagi kejadian mengharukan di rumah waktu itu. Ibu tidak bisa berhenti menangis meski sudah ku tenangkan. Aku tau bahwa ibu hanya terlalu bahagia.
"Karena yang ayahku inginkan hanya ibu"
Sudah tidak terhitung berapa kali malam ini aku tersenyum. Meski banyak diantara nya hanya bentuk dari sopan santun.
"Itu melegakan untukmu, benar?" suara Jongin di belakang sana ku angguki.
"Setidaknya dia masih mengingat ibu dalam jarak dan rentang waktu sejauh itu" Aku mendengus senang, "aku iri"
Hening.
Suara gesekan ranting dengan dedaunan menjadi background yang menyenangkan. Suara riuh jauh di bawah sana masih samar bisa ku dengar. Para jangkrik penyanyi ikut meramaikan malam ini. Aku terhibur dan ingin berlama-lama. Sampai suara langkah kaki mendekat dan Jongin mendekapku dari belakang di dalam selimutnya.
Hangat tubuh kami menyatu. Hembusan nafasnya di belakang kepalaku bisa kurasakan. Kali ini aku dalam kondisi yang sangat sadar membiarkannya memelukku.
Kau tau Jongin? Makna rindu yang kau tanyakan waktu itu, sejak awal aku sudah tau jawabannya.
Duduk bersama dan mendengarkan suaramu.
Sesederhana itu.
Di musim dingin ini, seharusnya yang sudah membeku di dalam dadaku akan semakin beku dan sulit di hancurkan. Tapi kenyataannya ini mencair sekarang. Ada kehangatan di dalam sini yang sulit ku hentikan.
Aku selalu percaya pada perkataan ibu bahwa aku bukanlah anak haram. Hanya ada satu pria yang selalu ibu tunggu dan cintai sampai sekarang.
Ayah..
25 tahun waktu yang mereka butuhkan untuk bersama. Dan kenapa aku merasa harus menyerah untuk waktu singkat yang ku lalui untuk cinta pertama ku?
Aku mencintai Kris.
Dan Jongin adalah orang yang ku tunggu selama ini.
Kenyataan memang selalu pahit. Kris akan marah padaku. Dia yang setia bersama ku selama ini. Tapi aku tau dia tidak akan membenciku. Dia sangat mencintaiku. Dan aku juga mencintai Kris.
"Aku mencintaimu Sehun" hembusan lirih suara Jongin membuat seluruh tubuhku merinding.
Dan sejak awal sudah ku katakan.
Cinta milikku dan milik Kris berada pada rasa yang berbeda.
Jongin meletakkan dagunya dengan nyaman di pundakku. Aku menyumpahi diri yang lagi dan lagi terperosok jatuh pada pria ini. Saat sadar, aku hanya tidak bisa berhenti. Selama ini aku berfikir telah mengakhiri perasaan ke Jongin karena ada Kris yang membuatku lupa diri akan masa lalu. Saat pria itu pergi, Jongin menghancurkan benteng pertahanan ku.
Kim Jongin, sejak dulu memang sangat kejam.
"Jangan menunggu ku lagi"
Karena itu akan menyakitimu, Jongin. Menyakiti kita.
"Minta seluruh dunia mengatakan itu, dan aku akan tetap menunggumu"
"Bahkan jika aku benar-benar pergi?"
"Kali ini aku akan menemukanmu. Aku berjanji"
Aku takut untuk janji itu. Entah takut tidak bisa ditepati atau malah sebaliknya.
Aku menoleh dan Jongin meraih bibir ku dengan bibirnya yang beku. Pelukannya semakin erat seiring semakin beraninya bibir itu mengulum milikku. Meski terulang-ulang, namun hanya kerinduan yang dapat kami sampaikan. Ini bukan ciuman pertamaku untuk Jongin, bukan juga sebaliknya.
Ini ciuman pertama kami berdua.
Di musim dingin ini.
Sehun POV end.
.
.
.
.
.
Tap! Tap! Tap!
Brukk!
"Yak! Pakai matamu!"
"Maaf"
Langkah nya secepat angin. Hembusan nafasnya bergulung bersama udara dingin. Tubuh pejalan kaki lain layaknya pilar-pilar penghambat. Jongin kepayahan melewati banyaknya orang di bandara pagi ini.
Dan ketika sampai di depan gerbang keberangkatan, sosok yang ia cari tak nampak meski hanya sebelah kaki. Jongin mengumpat sangat keras. Pengeras suara memberitahukan bahwa pesawat dari Seoul ke Selandia Baru telah berangkat.
Jongin terlambat.
Lagi.
Setengah jam yang lalu, ia masih bersenandung kecil di dalam mobil. Terlalu senang untuk pertemuannya dengan pujaan hati. Setelah malam itu, Jongin memang tidak memiliki waktu untuk bertemu Sehun. Ujian serta pesta kelulusan menyita waktunya.
Jongin merindukan Sehun lagi. Ingin bertemu lagi layaknya remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Sengaja ia tidak mengabari Sehun agar pria itu terkejut.
Tapi justru dia yang tak berkutik di depan mertua Sehun yang membukakan pintu. Seharusnya ia telpon saja Sehun sebelum handphone pria itu mati. Ia menyesal sepanjang kekalutannya menuju bandara.
"Xiuhuan pergi ke Onewhero bersama Ellios. Dia memutuskan menetap lagi disana selama beberapa tahun dan menjalani terapi untuk PTSD yang ia alami"
Seperti telinganya berdengung dan menolak setiap kata yang ia dengar. Jongin menolak kenyataan bahwa Sehun kembali meninggalkannya.
Ia duduk di salah satu bangku tunggu bandara. Menghela nafas dan mendongak agar liquid bening di pelupuk matanya tidak jatuh.
"Kau jahat sekali" gumamnya bergetar.
Sebuah kertas kecil disaku celana mengambil atensi Jongin. Nyonya Wu memberikan itu padanya beserta sebuah buku bersampul maroon, dari Sehun. Kembali ia baca tiap kalimat yang ada disana. Entah untuk alasan apa, kali ini tidak sesakit delapan tahun lalu.
Janji di buat untuk di tepati.
SH.
"Kali ini aku akan menemukan mu, Sehun"
.
.
.
.
.
.
.
End.
.
.
.
Masih bersambung kok ヘ( ̄ω ̄ヘ)
Menye banget yaaa chapter ini. Dakuh belum move on Dilan, jadi maafkeun ಥ⌣ಥ
Dan berharap chapter ini tidak mengecewakan meski aneh bin ajaib.
Detik-detik ending pemirsa baper. Jeng! Jeng!
