Judul : Twins; the Queenka and the Geek

Genre : Sisterhood, Romance, School Drama

Main Cast :

- Yoon Jeonghan (Svt) fem

- Choi Minki (Ren; Nuest) fem

- Kim Jonghyun (JR; Nuest)

- Hong Jisoo (Joshua; svt)

- Choi Seungcheol (Scoups; svt)

- Aron Kwak (Nuest)

Other Cast :

- Other SVT member, Fem for uke

- Other Nu'est Member

- Special Guest : Pristin & Produce 101 s2 memberdeul

. . .

10 tahun kemudian…

Kerumunan heboh berkumpul di depan gedung kantor salah satu agensi aktris-aktris dan aktor-aktor terkenal di seluruh negeri. Masing-masing dari mereka membawa kamera, buku catatan, recorder, microfon, dan alat apapun yang bisa di gunakan untuk meliput. Tanda pengenal mereka bertuliskan 'Press' beserta logo institusi media mereka berasal.

Dengan tidak sabar para pemburu berita ini menunggu kedatangan seseorang. Seseorang yang membuat heboh negeri dengan keputusannya mau meninggalkan dunia hiburan. Fans-fansnya serempak patah hati mendengar kabar tersebut. Padahal saat ini karirnya sedang berada di puncak kejayaan.

Wajahnya terpampang di mana-mana. Semua drama yang ia bintangi selalu berakhir dengan indah serta rating tertinggi setiap musimnya. Si ratu iklan kecantikan, hampir semua perusahaan kecantikan berebut untuk menjadikannya bintang iklan. Hampir seluruh negeri ini mencintainya, meskipun tidak sedikit juga yang membencinya. Tetap saja, semua orang menyayangkan keputusannya untuk hengkang dari dunia yang sudah di gelutinya sejak ia masih SMA.

Sekiranya setelah dua jam lebih mereka menunggu, datanglah sebuah van mewah berwarna putih mengkilap. Serentak mereka bergerak menuju van yang berhenti tepat di depan pintu masuk gedung. Para bodyguard yang sejak tadi berjaga langsung menghadang para wartawan dan membuka jalan untuk nona cantik yang akan keluar dari dalam van tersebut.

Pintu van bergeser. Baru satu kaki keluar wartawan sudah dengan buas menjepret kamera membuat cahaya silau tak tertahan. Minki menyeringai kecil, ia langsung memasang kacamata hitamnya yang berharga ribuan dollar itu dengan dramatis sebelum keluar dari mobil dan berdiri sambil melambaikan tangannya.

"Ren, Sang Dewi!" teriak seorang merebut perhatian Minki, atau yang dikenal sebagai Ren, Sang Dewi dalam dunia hiburan karena kecantikannya bak seorang dewi yunani. Minki tersenyum lebar tanpa berkata apa-apa meski wartawan sejak tadi memborbardirnya dengan berbagaimacam pertanyaan.

"Apa alasanmu meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namamu Ren?"

"Benarkah karena tekanan dari para haters?"

"Atau karena kau akan menikah dengan Pewaris itu?"

"Kim J dari J group?"

Minki tersenyum lebar tanpa berkata apa-apa meski wartawan sejak tadi memborbardirnya dengan berbagaimacam pertanyaan. "Aku permisi." Katanya begitu saja lalu berjalan menuju gedung sambil di iringi oleh bodyguard bertubuh besar. Suara para wartawan semakin kencang dan mereka semakin brutal mengejar Minki. Sampai pintu di tutup, Minki pun hilang dari pandangan. Mereka hanya bisa mendengus kecewa.

. . .

Laki-laki itu berkali-kali menghela napas sedih. ia mendongakkan kepala menatap Minki penuh harap. Sekali lagi ia ingin mencoba meyakinkan Minki atas keputusannya. Tetapi melihat Minki yang begitu bersemangat menandatangani surat keterangannya membuat laki-laki berusia awal empat puluhan itu mengurungkan niat.

"Jangan sedih , masih banyak talent lain yang lebih baik daripada diriku." Hibur Minki pada direktur agensinya itu. Ia mengerti perasaan sedih karena ia sendiri sebenarnya merasa sedih harus meninggalkan agensi yang sudah membesarkan namanya.

Minki jadi teringat sepuluh tahun yang lalu saat ia dan Jeonghan sedang asik berjalan-jalan di sekitaran myeongdong. Waktu itu menjadi pertemuan pertamanya dengan yang menawarkannya untuk casting sebagai pemeran pendukung dalam sebuah drama sekolahan. Minki awalnya ragu dan takut karena tampak mencurigakan.

Tetapi Jeonghan mendorongnya untuk tetap mengikuti casting tersebut. Dengan mudah ia diterima, sejak hari itu Minki menyukai dunia akting. Meski susah, Minki terus belajar untuk menjadi aktris yang baik. pun dengan setia membimbingnya.

Sampai saat ini, Minki terus mengembangkan kemampuannya. Minki tidak pernah berpikir untuk meninggalkan dunia ini kalau saja Jonghyun tidak melingkarkan berlian yang terikat dengan emas putih itu di jari manisnya.

"Tapi kau harus mengadakan press conference dulu, baru aku akan benar-benar melepasmu." Sahut Mr. Park masih dengan raut wajah sedihnya. Minki mengangguk.

"Aku akan mencoba mengatur jadwal Jonghyun, nanti akan ku kabari." Kata Minki kemudian. Mereka berdua pun berdiri berhadapan. Tidak tahan dengan tatapan sendu itu, Minki memeluk pria yang sudah seperti ayahnya sendiri. Minki memeluknya dengan erat. "Terima kasih." Bisiknya dengan nada bergetar.

menepuk-nepuk pelan kepala Minki. "Pastikan bulan depan aku duduk di barisan VIP." Wantinya pada Minki. Minki tersenyum lebar.

"Pasti." Sahutnya.

akhirnya tersenyum. Minki merasa lega. Setidaknya laki-laki ini akhirnya tersenyum. Dering ponsel Minki mengintrupsi mereka. mendecak sebal, "pasti si Jonghyun itu kan?" cibirnya. Minki tertawa renyah, ia langsung menggeser layar dan menjawab telepon dari Jonghyun.

"Aku sudah di parkiran bawah." Katanya dari seberang telepon.

"Baiklah, aku segera kesana." Jawab Minki langsung mematikan sambungan lagi. Sekali lagi ia memeluk sebelum keluar dari ruangan. Di luar ruangan berjejer staff yang selama ini menjadi tim Minki. Minki memanggil mereka 'Ren's Operation Team'. Minki memperlakukan mereka dengan baik, menurut mereka Minki adalah aktris paling rendah hati di agensi ini. Mereka sangat menyayangi Minki.

Beberapa dari mereka bahkan menangis sambil memeluk Minki. Minki yang sejak tadi menahan tangis pun akhirnya meneteskan airmata. Ia merangkul semua anggota timnya mulai dari manajer sampai asisten pribadinya. "Terima kasih atas segalanya, maaf aku pergi meninggalkan kalian." Ucapnya di sela-sela isakan.

"Tidak apa, kami mengerti, semoga kau hidup bahagia, selamanya kau adalah Ren, Sang Dewi di hati kami, jangan lupakan kami!" seru mereka. Minki semakin terharu. Berbagai macam hadiah perpisahan mereka berikan pada Minki. Untuk terakhir kalinya para asisten Minki membantunya membawa hadiah-hadiah itu ke dalam mobil Jonghyun.

Minki melambaikan tangannya sepergi mobil itu dari gedung kantor agensi. Jonghyun sesekali melirik Minki dari balik kemudinya. Minki masih terisak-isak mengusap pipinya yang basah. Jonghyun pun menawarkannya tisu.

"Maafkan aku." Kata Jonghyun merasa bersalah. Karena dirinyalah yang ingin Minki berhenti dari pekerjaannya sebagai aktris. Ia sudah cukup menahan diri melihat Minki bermesraan dengan lawan main sepuluh tahun terakhir. Dan keinginan Jonghyun hanya, ketika Minki resmi menjadi istrinya ia mau Minki seutuhnya miliknya, bukan milik para fans atau agensi atau rakyat negeri ini.

"Tidak apa-apa, aku harus melepaskan impianku untuk impian yang lebih baik." Kata Minki menaruh tangannya di atas tangan Jonghyun. Jonghyun tersenyum haru. Terutama saat melihat cincin berlian itu begitu cantik di jari manis Minki.

"Aku mencintaimu." Kata Jonghyun singkat.

"Aku juga." Jawab Minki. Saat mobil berhenti di lampu merah, Jonghyun diam dan menatap lekat Minki. Dalam hati Jonghyun bersyukur. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Wanita yang dulu menerima cintanya berdasarkan rasa kasihan, kini rela melepas impiannya demi menikah dengan dirinya. Wanita yang dulu selalu meragukan cintanya, kini dengan yakin bersedia hidup bersamanya seumur hidup. Kata orang lebih baik mencintai daripada mencintai. Tapi bagi Jonghyun, lebih baik saling mencintai, walaupun kau harus berusaha keras untuk membuatnya membalas cintamu.

Sebelum lampu lalu lintas berubah hijau, Jonghyun mencoba mencuri ciuman di pipi Minki. Membuat Minki berseru kaget dan memukul lengannya. Jonghyun lalu terkekeh geli dan kekehannya menular pada Minki.

"Oh iya, apa Seungcheol bersedia menjadi best man mu?" tanya Minki.

"Tenang saja, kalau dia tidak mau, akan ku paksa." Jawab Jonghyun tenang.

. . .

Luka-luka di wajahnya sudah kelihatan membaik. Namun luka di jiwanya masih terbuka lebar. Seungcheol menatap prihati gadis di hadapannya. Ia dan timnya berusaha mengorek informasi sekali lagi sebelum kasus ini maju dalam persidangan.

Gadis itu menjadi korban percobaan pembunuhan oleh seorang pria gila yang akhir-akhir ini memang sering berkeliaran di gang-gang sempit pada malam hari. Pria itu memang menjadi incaran polisi sejak awal karena sebelumnya sudah banyak laporan meresahkan dari warga. Sayangnya, pria itu begitu cerdik dan sangat susah di lacak.

Setelah kejadian yang menimpa gadis ini akhrinya pria itu berhasil di ringkus. Dan Seungcheol sendiri yang mengejar dan menangkap pria itu. Sempat terjadi perlawanan, tapi sayangnya Seungcheol lebih kuat daripada pria itu. Pria itu salah memilih lawan, ia tidak tahu saja kalau yang di hadapinya ini adalah siswa terbaik di akademi polisi beberapa tahun silam.

Tetapi gadis ini sulit untuk menceritakan kembali kejadian itu, ia selalu menangis dan histeris ketika hendak bercerita.

"Maafkan aku, tapi ku rasa kau harus menenangkan dirimu dulu, kalau begitu kami permisi." Pamit Seungcheol meninggalkan ruangan bersama timnya.

Aroma khas rumah sakit—aroma antiseptik yang beradu dengan bau obat-obatan langsung menusuk ke indra penciuman Seungcheol. "Detektif Choi, kau ikut kami kan pergi minum-minum?" tanya salah seorang rekan kerjanya. Seungcheol melirik mereka tampak enggan.

"Tidak, aku ingin istirahat, kalian saja." Tolak Seungcheol secara halus. Teman satu timnya mendengus kecewa.

"Baiklah, selamat beristirahat, kami pergi dulu." Pamit mereka melambaikan tangan pada Seungcheol. Seungcheol pun meneruskan langkahnya. Entah kenapa kakinya mengantarkannya pada meja resepsionis unit gawat darurat. Di balik meja resepsionis itu terpampang besar tulisan 'Seoul National University Hospital'. Papan nama yang tidak asing.

"Permisi," panggilnya membuat resepsionis berseragam putih itu menoleh padanya. "Apa Dr. Jeonghan sedang sibuk?" tanyanya setengah berbisik dan sesekali menoleh kiri kanan. Resepsionis itu tersenyum sopan.

"Sebentar kami cek dulu," ucapnya sambil memeriksa data di layar komputer yang ada di hadapannya. "Sepertinya ia baru saja menangani pasien—oh itu dia." Tunjuk resepsionis saat pintu unit gawat darurat terbuka dengan kasar.

Sebuah ranjang beroda beserta para tim medis terburu-buru membawa seorang pasien berlumuran darah. Seungcheol ikut menoleh ke arah yang di tunjuk oleh resepsionis itu. Jeonghan dengan wajah paniknya mencoba menyelamatkan pasien itu. Berkali-kali Jeonghan memompa dada pasien tersebut sambil melakukan pertolongan cepat mencegah darah terbuang lebih banyak.

Jeonghan terlihat sangat keren. Seungcheol bahkan tidak menyangkalnya. Raut wajah serius bercampur panik itu, gerakan cepatnya demi menyelamatkan nyawa seseorang yang bahkan tidak kalian kenal. Di saat-saat seperti itu, kecantikan Jeonghan bertambah berkali-kali lipat.

"Aku akan menunggunya, beritahu aku kalau ia sudah selesai." Ucap Seungcheol pada resepsionis itu lagi.

"Baik."

"Terima kasih." Ucap Seungcheol lalu meninggalkan meja resepsionis.

. . .

Jeonghan menghela napas lega. Satu lagi nyawa yang terselamatkan. Bekerja di unit gawat darurat memang tantangan besar. Meski begitu, perasaan puas ketika berhasil membantu seseorang bahkan sampai menyelamatkan nyawanya itu adalah hal yang tidak ternilai harganya.

Jeonghan sudah mengganti seragam hijaunya yang penuh darah itu menjadi gaun merah pas badan. Jeonghan lalu melapisinya dengan jas putih. Shift kerjanya hari ini akan selesai beberapa belas menit lagi.

Interkom yang ada di mejanya tiba-tiba berbunyi, Jeonghan menyalakannya. "Ada apa?" sahutnya takut-takut ada pasien kecelakaan lagi.

"Tuan Polisi-mu menunggu sejak tadi bu," Jeonghan tertawa renyah. 'Tuan Polisi-MU' katanya.

"Minta dia keruanganku, aku ingin bersiap dulu sebentar." Kata Jeonghan kemudian mematikan interkom. Tak lama, pintu ruangannya terketuk. Tanpa menunggu sahutan Jeonghan, Seungcheol sudah membuka pintu dan melengokkan kepalanya.

Jeonghan menyambutnya dengan senyuman lebar, begitu juga Seungcheol. "Yang tadi itu keren sekali." Kalimat pertama yang Seungcheol katakan ketika melangkah masuk ke ruangan Jeonghan. Jeonghan bersemu malu-malu.

"Kau berlebihan, cheol." Katanya menangkis pujian Seungcheol. Seungcheol menggeleng heran. Wanita ini sama sekali tidak berubah, ya, begitu juga dengan perasaanku. Batinnya.

Jeonghan melepas gelung rambutnya lalu melepas jas putih kebesarannya. Seungcheol pun tidak berkedip. Sungguh, Jeonghan benar-benar menguji keimanannya saat ini. "Untuk siapa kau berdandan cantik seperti itu? Untuk memikat para juniormu yang kau bilang tampan-tampan itu? Iya?"

Jeonghan memutar bola matanya malas. "Kau mulai lagi, Cheol." Dengus Jeonghan. Seungcheol pun mencoba mengontrol dirinya.

"Maaf." Gumamnya. "Aku hanya-"

"Cheol, sudah ku bilang aku berdandan untuk diriku sendiri." Potong Jeonghan. Seungcheol mengerucutkan bibirnya merajuk. Jeonghan lalu mencubit pipinya.

"Ey, temanku kalau cemburu lucu sekali." Katanya. Seungcheol sempat membelalakan matanya lalu kemudian menghela napas lagi.

"Ya, 'Teman'." Katanya menekan kata teman. Jeonghan hanya tertawa renyah. Seungcheol menatapnya serius.

"Aku akan menjadi best man nya Jonghyun," Katanya. Jeonghan hanya mengangguk-angguk sambil membereskan barang-barangnya. "dan aku berharap kita berpasangan saat mengiring mereka ke altar."

"Tidak perlu berharap kau bisa memintanya kan?" Jeonghan mengunci laci meja kerjanya dan menggantung jas putihnya pada tempat yang sudah di sediakan. "atau bahkan kau sudah memintanya." Jeonghan memicitkan matanya pada Seungcheol.

Seungcheol tidak berani membalas tatapan Jeonghan, ia hanya menggedikkan bahu. "Kau sudah selesai?" ketika Jeonghan sudah berdiri di depannya sambil menenteng tas keluaran desainer ternama itu. Jeonghan mengangguk.

"Ayo." Katanya. Seungcheol pun menggiringnya keluar ruangan. Para perawat dan teman sesama dokter yang melintas di depan ruangan Jeonghan menunduk sopan pada Jeonghan dan juga Seungcheol. Beberapa dari mereka juga menyapa Seungcheol dan Jeonghan akrab. Kehadiran Seungcheol bukan hal baru lagi di rumah sakit ini. Hampir setiap hari ia menyempatkan dirinya menjemput Jeonghan, 'Sahabat' baiknya selama sepuluh tahun terakhir.

Sepuluh tahun… waktu berlalu dengan cepat. Usai sudah penantian Seungcheol. Ia sudah membuktikan segalanya, menjadi lulusan terbaik di akademi polisi sampai berhasil mendapatkan posisi penting di kepolisian negara ini.

Jeonghan pun begitu. Jeonghan sudah berhasil menjadi dokter bedah paling kompeten. Serta lulusan terbaik dari universitas terbaik di negeri ini. Jeonghan pun sempat mengambil gelar spesialisnya di luar negeri dan lagi-lagi ia berhasil meraih gelar cumlaude.

Lalu apa lagi yang harus Seungcheol tunggu? Seungcheol sudah tidak tahan. Bahkan saat ini Seungcheol sedang mengantungi kotak beludru berisi cincin berlian 22 karat milik ibunya. Ibunya berpesan pada Seungcheol untuk melamar gadis pujaannya dengan cincin itu.

"Jeonghan, boleh aku bertanya sesuatu?" tawar Seungcheol saat mereka berhenti di halaman rumah Jeonghan.

"Boleh, silahkan." Jawab Jeonghan. Seungcheol mendadak tercekat. Ia ingin sekali langsung melamar Jeonghan. Hanya saja ia belum menemukan momen yang tepat. Contohnya seperti saat ini, bisa-bisa Seungcheol dicap tidak romantis.

"Cheol?" Jeonghan melambaikan tangannya di depan wajah Seungcheol untuk menyadarkannya dari lamunan. Seungcheol bergidik tersadar dari lamunannya.

"Nanti kau pakai gaun berwarna apa?" tanya Seungcheol dengan ekspresi bodoh. Seungcheol segera menyesali kebodohannya.

Sementara Jeonghan melongo mendengar pertanyaan Seungcheol. "Cream?" jawab Jeonghan mengingat-ingat warna seragam braidsmaidnya. Seungcheol kemudian mengangguk.

"Oke, kalau begitu, selamat malam." Katanya lagi. Jeonghan mengerutkan kening menatap heran Seungcheol.

"Selamat malam." Katanya sebelum keluar dari mobil. Seungcheol menunggu sampai Jeonghan masuk ke dalam rumah lalu memandangi jendela kamar Jeonghan sampai cahaya dari kamar itu redup barulah Seungcheol pergi meninggalkan halaman rumah Jeonghan.

Di tengah jalan, Seungcheol menepikan mobilnya. Ia mengeluarkan kotar bludru yang sejak tadi mengganjal di kantung celananya. Seungcheol membuka kotak tersebut dan memandang isinya yang berkilauan.

"Tunggu sedikit lagi Choi, bersabarlah." Gumamnya meyakinkan diri sendiri.

. . .

Semilir angin laut musim semi berembus menerpa wajah-wajah bahagia para tamu undangan yang datang dalam upacara pemberkatan Jonghyun dan Minki. Upacara pemberkatan dilaksanakan di area Outdoor, perbukitan hijau yang berbatasan dengan hamparan bebatuan pualam pinggir laut di suatu resort mahal di pulau jeju. Vendor terbaik yang mereka pilih sudah menyulap taman kecil itu menjadi venue pernikahan yang sangat cantik.

Upacara berlangsung khidmat dan penuh haru. Airmata-airmata bahagia menetes ketika mendengar Jonghyun dan Minki saling mengucap janji sehidup semati mereka. Nana sampai menangis di pelukan suaminya.

Jeonghan pun terbawa suasana. Entah kenapa tatapannya berlabuh pada Seungcheol. Begitu pula Seungcheol, ia langsung menatap lurus Jeonghan yang berdiri di seberangnya. Seungcheol melemparkan senyum manisnya, Jeonghan mengulum senyum malu-malu. Ia akui Seungcheol dalam balutan tuxedo tampak sangat seksi.

Setelah pemberkatan selesai, pesta resepsi berpindah tempat ke aula resort yang sudah didekor sedemikian rupa. Minki dan Jonghyun masuk ke aula dengan sedekit acara iring-iringan. Senyuman tidak sekalipun hilang dari wajah kedua orang itu. Ucapan selamat berbondong-bondong datang dari kerabat sama banyaknya dengan karangan bunga yang berjejer di dekat pintu masuk aula.

"Hei," Jeonghan tersentak saat seseorang tiba-tiba menarik kursi di sampingnya. Jeonghan terperangah ketika mengetahui siapa orang tersebut.

"Jisoo!" serunya menepuk lengan Jisoo. Ia tidak percaya melihat ada selebriti amerika duduk di sampingnya. "Aku mengira kau tidak akan datang."

"Aku mengosongkan jadwalku hari ini, tapi besok pagi-pagi sekali aku harus terbang ke singapura, pemberhentian terakhirku untuk world tour tahun ini." Katanya sambil tersenyum manis. Jeonghan mendecak kagum. Sekarang Jisoo benar-benar sudah menjadi musisi terkenal. Karirnya di mulai dari youtube dengan video-video sing covernya lalu Jisoo memberanikan diri mengikuti ajang pencarian bakat di amerika karena ia tidak berhasil menyusul aron di juliard. Siapa sangka kalau tenyata ia bisa berhasil maju sampai ke babak final?

Namanya melejit setelah acara pencarian bakat itu. Karya-karyanya di nikmati banyak orang. Hampir semuanya menduduki peringkat teratas setiap kali di luncurkan. Dan disinilah ia sekarang, Joshua Hong si penguasa chart musik.

"Kau datang sebagai undangan atau sebagai penyanyi pernikahan?" gurau Jeonghan. Jisoo tertawa geli.

"Memangnya Jonghyun sanggup membayarku? Aku lebih mahal dari harga sewa hotel ini, hahaha." sahut Jisoo di balas Jeonghan dengan tawa renyah.

"Ehem." Keduanya automatis menoleh ketika mendengar suara deheman tersebut. Seungcheol berdiri tidak jauh dari mereka sambil mengerutkan kening dan memasang raut wajah serius. Jisoo memicitkan matanya. Kilatan permusuhan itu masih ada rupanya meskipun sudah sepuluh tahun berlalu.

Seungcheol melangkah lebih dekat dengan ekspresi yang lebih serius. Jisoo juga berdiri dari duduknya. Jeonghan pun berdiri di antara mereka. Ia takut ada hal yang tidak di inginkannya terjadi.

Tetapi, Seungcheol dan Jisoo malah saling melempar tawa. Mereka lalu bersalaman dan saling memeluk akrab. "Lama tidak berjumpa!" kata Seungcheol menepuk-nepuk punggung Jisoo seperti sahabat lama.

"Ya, Sudah lama sekali, bagaimana kabarmu pak polisi?" tanya Jisoo setelah Seungcheol melepas pelukannya.

"Baik, sangat baik, bagaimana dengan selebriti amerika?" Seungcheol balik bertanya.

"Melelahkan, tapi juga menyenangkan." Jawab Jisoo. Jeonghan tersenyum melihat keakraban mereka berdua.

"Pidato selanjutnya akan di sampaikan oleh salah seorang sahabat dari kedua mempelai, kepada Choi Seungcheol-ssi waktu dan tempat kami persilahkan." Suara Master of Ceremony menggema di seisi aula. Seungcheol merasa namanya terpanggil langsung beranjak dari tempat menunju panggung yang sudah di sediakan.

"Aku pergi dulu, aku harus menyampaikan sesuatu yang penting." Kata Seungcheol pamit pada Jisoo dan mengerling ke arah Jeonghan. Pandangan Jeonghan mengiringi kemana Seungcheol pergi. Matanya tidak lepas dari Seungcheol yang kini berdiri dengan sebuah mikrofon di tangan. Matanya tertuju pada pasangan Jonghyun dan Minki yang duduk di hadapannya.

"Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih pada kesempatan yang telah di berikan. Terutama, saya ucapkan selamat kepada kedua mempelai. Sebagai orang yang menjadi saksi jatuh bangunnya percintaan mereka, saya merasa sangat luar biasa bangga akhirnya mereka bisa berakhir pada ikatan seumur hidup ini. Beri tangan untuk kedua mempelai!" kata Seungcheol di ikuti riuh tepuk tangan para tamu undangan. Seungcheol menghela napas, ia lalu mengganti intonasi bahasa formalnya menjadi informal.

"Doaku yang terbaik untuk kalian berdua, semoga kalian bahagia, selalu bersama sampai maut memisahkan, dan jangan lupa berikan aku keponakan yang banyak!" lanjutnya di sahut oleh gelak tawa tamu undangan. "Selain itu…" sambungnya lagi tapi kali ini tatapannya berakhir pada Jeonghan.

"Aku lelah sejak tadi pagi setiap orang yang mengenalku terus menanyakan hal yang sama 'Kapan giliranmu?' 'kapan kau menyusul?' dan aku hanya bisa tersenyum keki, mereka benar-benar menyebalkan," lagi-lagi ucapan Seungcheol mengundang gelak tawa. "Tapi aku akan mengakhirinya, sekarang juga, teruntuk Jeonghan, wanita cantik yang sedang berdiri di sana…" Seungcheol menunjuk ke arah Jeonghan, lampu sorot pun di nyalakan untuk menyorot Jeonghan.

"Ayo kita susul mereka, kau mau kan? Aku sudah membawa cincinnya, ini." Seungcheol mengeluarkan cincin berlian yang sangat cantik dan kilaunya bias kemana-mana karena terpaan lampu sorot. Semua terkejut sekaligus antusias.

Cara Seungcheol melamar Jeonghan memang sedikit aneh tapi tetap saja Jeonghan tersentuh sekaligus terkejut. Jeonghan membeku dengan wajah memerah. Semua mata tertuju padanya. Semua orang menunggu jawaban Jeonghan, begitu pula dengan Seungcheol. Seungcheol masih menatap lurus Jeonghan dengan tatapan paling tulus yang pernah di lihat Jeonghan.

Jeonghan tidak sanggup berkata-kata. "Terima! Terima! Terima!" Jonghyun berdiri memandu sorakan mendukung Seungcheol. Satu persatu tamu undangan menyorakkan dukungannya. Jeonghan hanya bisa mengulum senyum dan menahan haru. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk kecil dengan mata berkaca-kaca.

Semua orang bersorak riang. Seungcheol pun turun dari panggung, menghampiri Jeonghan untuk memasangkan cincin itu di jari manisnya. "Aku sudah memenuhi syarat untuk mendapatkanmu kembali kan?" bisiknya di telinga Jeonghan.

"Ya, akhirnya kau mendapatkanku kembali." Balas Jeonghan. Seungcheol mengecup bibirnya singkat. Aula kembali riuh atas adegan romantis itu.

"Jeonghan, tangkap ini!" Seru Minki dari depan melempar buket mawar merahnya sebagai simbol bahwa Jeonghan akan segera menyusul. Jeonghan dengan sigap menangkap buket tersebut.

"Oke, kalau begitu, mari kita lanjutkan pestanya! Ayo semua bawa pasangan kalian ke lantai dansa!" seru Jisoo yang entah sejak kapan sudah mengambil alih mikrofon. Alunan instrument musik romantis mengalun. "Lagu ini ku persembahkan untuk pengantin baru dan calon pengantin yang tengah berbahagia, selamat menikmati."

(Ed Sheeran – Perfect)

I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead

Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine

Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight

"You look perfect everyday." Bisik Jonghyun mengoreksi lirik di sela-sela dansa mereka. Tangannya pun menarik Minki tubuh Minki semakin rapat. Pipi Minki bersemu merah. Di cengkramnya erat pundak Jonghyun. Lirik lagu yang dinyanyikan oleh Jisoo benar-benar menyentuh dan menggambarkan kisah cinta mereka.

Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes

Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this, darling, you look perfect tonight

Seungcheol tidak bisa berhenti menatap Jeonghan dengan tatapan memujanya. Di tambah lirik lagu yang dinyanyikan Jisoo benar-benar mewakili perasaanya. Ia bisa merasakan tangan dinginnya mulai menghangat ketika Jeonghan menggenggamnya. Ia memindahkan kedua tangan Jeonghan ke bahunya sambil berdansa mengikuti alunan irama lagu. Jarak mereka semakin dekat.

Jeonghan bisa merasakan embusan napas Seungcheol. Seungcheol jadi tidak bisa melepaskan tatapannya pada bibir Jeonghan. Ia mempersempit lagi jarak mereka. Jeonghan pun perlahan melingkarkan tangan di leher Seungcheol. Bibir bertemu bibir. Jeonghan memejamkan mata menikmati sensasi lembutnya.

Satu harapan kecil Jeonghan, semoga malam tidak beranjak begitu cepat. Karena malam ini adalah malam terbaik dalam hidupnya.

. . .

The End

. . .

Sekali lagi terima kasih bagi pembaca setia yang bertahan sejak pertama kali kemunculan FF ini. Sedikit kilas balik, awalnya FF ini hanya bentuk keisengan belaka dari ide gilaku dengan teman sebangku. Entah kenapa melihat reaksi pembaca, aku tidak bisa berhenti menulis tentang cerita ini. (meskipun banyak hambatannya)

Untuk terakhir kalinya, dimohon untuk para pembaca meninggalkan jejak berupa bintang dan tulis kesan-kesan kalian terhadap FF ini, walaupun aku jarang membalas komentar-komentar kalian, aku selalu menunggunya (karena komentar-komentar kalian jadi penyemangat buatku) selain itu tolong tinggalkan kritik dan saran juga ya!

With love,

_Lady Chulhee_