Tales Of Darkness And Light

By : Razux

.

.

.

.

Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana


Chapter XXVII

Natsume sama sekali tidak mempedulikan asap hitam pekat yang terus turun menyelimutinya. Di dalam pikirannya sekarang hanya ada Mikan dan kenyataan dia telah kehilangannya untuk selamanya. Rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit hatinya. Dia ingin mati, dia sama sekali tidak mau hidup di dunia tanpa Mikan.

"MIKAN! MIKAN! MIKAN!" teriak Narsume terus.

"NATSUME!" teriak seseorang tiba-tiba.

Mendengar suara teriakkan tersebut, Natsume segera mengangkat kepalanya menatap pemilik suara tersebut. Dia kenal pemilik suara itu, dia kenal dengan baik suara yang lembut dan seperti denting lonceng itu.

Mata Natsume terbelalak karena terkejut meliht siapa yang berlari keluar dari balik pintu kota Lixir yang terbuka.

Seorang gadis bergaun putih berambut dan mata berwarna coklat madu berlari ke arahnya.

"Mikan…" Panggil Natsume pelan.

Natsume terus menatap Mikan yang ada di depannya. Dia bisa melihatnya bergerak, dia bisa mendengar suaranya dan dia bisa merasakan auranya. Yang ada di depannya benar-benar Mikan.

Mikan telah membuka matanya. Mikan belum mati.

Ruka, Hotaru, Tsubasa, Misaki, Kazumi, Sakurano, Ioran dan Narumi yang berada di atas tembok pertahan kota Lixir sangat terkejut saat melihat Mikan berlari keluar dari pintu di bawah mereka.

Mikan masih hidup? Bukankah tadi mereka semua telah melihat dengan jelas Mikan telah mati? Apa yang sesungguhnya terjadi?

"MIKAN JANGAN!" teriak Kazumi ketakutan saat melihat Mikan melangkahkan kakinya memasuki kekeringan yang diciptakan Natsume.

Namun, yang membuat semua yang ada di atas tembok pertahanan itu terkejut adalah Mikan sama sekali tidak apa-apa. Dia tetap saja berlari mendekati Natsume.

"NATSUME! JANGAN!" teriak Mikan sekuat tenaganya.

Mikan bisa melihat dengan jelas wujud Natsume yang ada di depannya sekarang. Ini adalah ketiga kalinya dia melihat wujudnya ini. Wujud yang dia tahu akan menyebabkan dia kehilangannya untuk selamanya jika dia membiarkannya.

Mikan terus berlari secepat yang dia bisa ke arah Natsume. Air mata terus mengalir menuruni matanya, badannya yang masih sangat lemah menyebabkan dia tidak bisa berlari cepat. Dia takut dia akan terlambat untuk menghentikan Natsume.

Asap hitam tebal yang terus turun menyelimuti Natsume membuatnya tahu, ada yang ingin merebut Natsume darinya. Asap hitam itu ingin bergabung dengan Natsume, asap hitam yang pekat itu, kegelapan yang pekat itu ingin merebut Natsume darinya.

"NATSUME!" teriaknya Mikan lagi.

Natsume benar-benar tidak bergerak sama sekali, dia terus menatap Mikan. Dia bisa melihat wajah Mikan yang berurai air mata dan sangat pucat. Dia bisa melihat Mikan terus berteriak memanggil namanya dan berlari ke arahnya dengan tubuhnya yang kelihatan sangat lemah.

Natsume ingin berlari ke arah Mikan dan memeluknya. Namun asap hitam tebal yang menyelimutinya seakan melarangnya. Asap hitam tebal itu seperti melirit tubuhnya dengan erat.

Natsume menundukkan kepalanya dan mencoba menghimpun tenaganya untuk membebaskan dirinya dari asap tebal itu itu. Namun, semua itu langsung terhenti saat dia melihat kedua tangannya yang ada di bawah tanah serta rambut pajangnya yang terurai ke bawah..

Tangan berbentuk cakar binatang dengan sisik berwarna hitam pecah-pecah yang dipenuhi darah serta rambut perak panjang yang sudah memerah karena darah. Diapun segera sadar dengan wujudnya sekarang. Dia tidak boleh mendekati Mikan lagi, dia hanya akan menyakiti dan membuatnya yang sudah lemah ini semakin lemah.

"NATSUME!"

Natsume mengangkat kepalanya kembali menatap Mikan. Dia tidak boleh melukai Mikan lagi. Dia tidak mau Mikan melihat wujudnya yang mengerikan ini lagi. Dia tidak boleh berada di sini lagi.

Mata Mikan terbelalak karena terkejut saat melihat Natsume membuka kedua sayap hitam besarnya. Ketakutan di dalam hatinya semakin membesar, Natsume bermaksud meninggalkan tempat ini. Natsume bermaksud meninggalkannya di sini.

"TIDAK! NATSUME JANGAN! KAU SUDAH BERSUMPAH TIDAK AKAN MENINGGALKANKU!" teriak Mikan penuh ketakutan sambil menatap Natsume.

Mikan tidak melihat sekelilinya lagi, dia hanya menatap Natsume seorang saja sekarang, karena itulah dia sama sekali tidak melihat batu yang ada di depannya. Dia langsung terjatuh di atas tanah begitu tersandung batu itu.

Natsume yang melihat Mikan terjatuh ingin bergerak mendekatinya. Namun dia tahu dia tidak boleh melakukan itu. Dia harus segera menjauh dari Mikan sejauh-jauhnya.

"NATSUME!" teriak Mikan berurai air mata sambil mengangkat kepalanya menatap Natsume yang ada di depannya. Darah mengalir dari dahinya yang terluka karena terbentur batu kecil yang ada di depannya saat dia jatuh tadi.

Mikan ingin bangkit dan kembali berlari mendekati Natsume, namun dia tidak punya tenaga lagi dan juga kakinya terasa sangat sakit saat dia berusaha menggerakkannya, kakinya telah terkilir.

Melihat darah mengalir turun dari dahi Mikan, ketakutan memenuhi hati Natsume. Darah? Luka? Mikan terluka? Mikan sangat lemah sekarang? Mati? Mikan akan mati lagi? Mikan akan menghilang lagi dari dunia ini?

"TIDAK! TIDAK! MIKAN!" teriak Natsume tiba-tiba. Dia sama sekali tidak memepedulikan apapun lagi, dia segera bangkit dari atas tanah dan berlari maju ke arah Mikan sambil berusaha membebaskan dirinya yang terbungkus asap hitam tebal itu.

Dengan sekuat tenaganya, Natsume akhirnya berhasil melepaskan dirinya dari asap hitam tebal yang membungkusnya. Lingkaran hitam yang terus berputar di bawahnya itu segera berhenti dan menghilang.

"MIKAN! MIKAN!" teriak Natsume sambil berlari ke arah Mikan.

Mikan yang menatap Natsume berlari ke arahnya bisa melihat dengan jelas sisik hitam di seluruh tubuh Natsume menghilang dan memutih. Mata merah darah besar di dahinya, gigi taringnya yang tajam menghilang. Tangan dan kakinya yang seperti cakar binatang buas juga kembali seperti semula. Rambut perak panjangnya memendek dan kembali berwarna hitam. Terakhir, sayap hitam besar di punggungnya semakin mengecil dan akhirnya menghilang dari punggungnya.

Saat Natsume tiba di depan Mikan, dia segera berlutut dan mengangkat tubuhnya. Dia memeluk erat tubuhnya dengan tangan yang terus bergemetar hebat.

"JANGAN TINGGALKAN AKU! AKU MOHON PADAMU! JANGAN PERNAH TINGALKAN AKU SENDIRIAN DI DUNIA INI!" teriak Natsume penuh ketakutan.

Mata Mikan benar-benar terbelalak saat mendengar teriakkan Natsume itu. Air mata mengalir menuruni pipinya dan dia tersenyum lebar penuh kebahagiaan.

Mikan sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Natsume memohonnya untuk jangan pernah meninggalkannya di dunia ini?

Mikan sudah tahu sejak dulu. Natsume bisa hidup tanpa dirinya. Natsume telah hidup sendiri jauh sebelum mereka bertemu. Tapi, tidak begitu dengannya. Sejak dia membuka matanya Natsume sudah berada di sampingnya. Dia yakin, dia pasti tidak akan bisa hidup tanpa Natsume.

Selama ini yang selalu meminta supaya jangan pernah meninggalkannya sendirian adalah dirinya, bukan Natsume. Dia selama ini selalu merasa takut Natsume akan meninggalkannya. Namun, Natsume kini telah mengatakannya. Ucapan yang selalu ingin dia dengar dari mulut Natsume. Jangan pernah meninggalkannya, jangan pernah meninggalkannya sendirian di dunia ini.

Mikan mengangkat tangannya memeluk Natsume sekuatnya "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian di dunia ini, Natsume. Karena itu, kau juga, jangan tinggalkan aku…"

Natsume menggangguk kepalanya mendengar ucapan Mikan itu. Dia terus memeluk Mikan dengan sekuat tenaganya dan membenamkan kepalanya dalam rambut Mikan.

Mikan tiba-tiba merasa pandnagannya menggelap. Namun, dia bisa dengan tenang menutup matanya sekarang, sebab dia tahu, saat dia membuka matanya lagi, Natsume pasti akan ada di sampingnya.

"Jangan pernah tinggalkan aku sendirian di dunia ini…" Ujar Mikan pelan.

Sebelum Mikan menutup matanya dan menyerahkan dirinya pada kegelapan dia sadar untuk pertama kalinya, betapa pentingnya Natsume baginya, Betapa berartinya Natsume baginya. Baginya, Natsume adalah segela-galanya. Baginya, Natsume adalah dunianya


"Benarkah itu, Yang mulia?" tanya persona sambil menatap seorang pria di depannya.

Pria itu tersenyum lebar "Benar."

"Apakah aku perlu ke sana untuk menangkapnya?" tanya Persona.

Pria itu menggeleng kepalanya "Tidak perlu persona. Aku tidak ingin kau membuatnya melarikan diri lagi dariku sebab aku tidak yakin kau mampu menangkap kucing hitam."

"Baiklah, Yang mulia." Jawab Persona dengan wajah tanpa ekspresi walau sebenarnya di dalam hatinya, dia sama sekali tidak setuju dengan apa yang diucapkan pria di depannya.

Pria di depannya bisa merasakan apa yang dipikirkan Persona. Dengan pelan dia berjalan mendekati Persona dan menyentuh pundaknya."Kucing hitam lebih kuat darimu, Persona. Jika dia benar-benar telah kembali pada sosok aslinya, dia akan menjadi tidak terkalahkan."

Persona menggepal tangannya.

Kucing hitam. Nama yang diberikan pria di depannya pada makhuk itu. Persona telah mendengar dari mulut pria itu dan juga membaca buku yang diberikan padanya tentang apa makhluk apa Kucing hitam itu sebenarnya. Makhluk paling mengerikan serta terkutuk, makhluk yang harus dihindari dan juga makhluk terkuat di dunia ini.

"Aku ingin dia kembali padaku dengan kehendaknya sendiri." Lanjut Pria itu.

"Maaf, Yang mulia. Tapi, apa itu mungkin? Dia telah melarikan diri dan bersembunyi dari Yang mulia selama sepuluh tahun."

Pria itu kembali tersenyum menyeringai "Dia pasti akan kembali padaku."


Natsume mengenggam tangan Mikan yang masih belum sadar dengan erat. Dia sama sekali tidak mempedulikan pandangan Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki yang ada di belakangnya. Di dalam matanya sekarang hanya ada Mikan seorang saja.

Mikan masih belum membuka matanya meski dua hari telah berlalu. Namun, yang membuat semua orang bisa bernapas lega adalah wajah pucatnya itu tidak lagi sepucat dua hari yang lalu.

"Mikan…" Panggil Natsume pelan sambil mengelus kepala Mikan dengan lembut.

Ruka, Hotaru, Tsubasa, Misaki dan Ioran sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun pada Natsume, sebab mereka tahu, apapun yang mereka katakan tidak akan mungkin didengarkannya.

Natsume terus saja berada di samping Mikan selama dua hari ini, dia sama sekali tidak mau meninggalkan Mikan walau hanya sedetik saja. Dia sama sekali tidak mau berbicara dengan mereka, makan, minum ataupun tidur selama dua hari ini. Dan itu membuat Ruka, Hotaru, Tsubasa dan yang lainnya sangat khawatir.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka. Saat Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki membalikkan wajahnya menatap pintu yang terbuka itu, mereka melihat seorang pemuda seusia Tsubasa dengan rambut pirang dan mata violet serta seorang pemuda berusia dua puluh tahun dengan rambut hitam panjang dan mata violet berjalan masuk.

"Halo semuanya, apakah Mikan-chan sudah sadar?" tanya pemuda berambut hitam panjang itu sambil tersenyum.

"Jangan bertanya sesuatu yang bodoh, Akira." Ujar pemuda berambut pirang di sampingnya sambil menghela napas.

"Hei! Aku hanya berusaha menceriakan suasana yang suram ini, Kaname." Balas Akira sambil menatap Kaname.

"Aku masih bisa menerima kalau mata-mata itu Kak Kaname. Tapi, aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau memilih kakek genit itu menjadi mata-matamu juga, Bayangan." Ujar Hotaru tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi.

"Hei! Apa maksud ucapanmu barusan, Hotaru?" tanya Akira kesal sambil menatap Hotaru yang sama sekali tidak mempedulikannya.

"Apa boleh buat Hotaru, saat perang ini pecah, dia pas berada di kerajaan Theoden bersama Kaname. Karena itulah mau tidak mau aku terpaksa meminta bantuannya juga." Balas Tsubasa tanpa mempedulikan Akira yang kini telah menatapnya dengan tajam.

"Hei! Apa maksud ucapanmu Tsubasa, begini-begini aku juga merupakan sepupumu seperti Kaname tahu!" protes Akira kesal.

Tsubasa sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya menolehkan wajahnya ke arah lain.

"Dan kalian semua juga harus ingat. Jika aku tidak ada di sana saat itu, mustahil Mikan-chan masih bisa bersama kalian semua di sini sekarang." Lanjut Akira lagi.

"Iya, kami mengerti." Balas Tsubasa cuek.

Akira hanya bisa menggeleng kepalanya dan menggerutu sedangkan Kaname hanya tertawa.

Kaname menolehkan wajahnya ke arah Mikan dan dia melihat Natsume masih tetap berada di sampingnya tanpa mempedulikan mereka. Dengan pelan dia berjalan mendekatinya.

"Mikan-chan pasti akan segera sadar. Natsume. Sebab dia benar-benar ingin berada di sampingmu." Ujar Kaname pelan.

Natsume sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Dia tetap saja diam membisu sambil menatap Mikan dengan kedua mata merah darahnya yang bersinar penuh kekhawatiran.

Kaname hanya tersenyum tipis melihat sikap Natsume, pikirannya melayang kembali pada pertemuan pertamanya dengan Mikan.

"Shhh... Tenanglah, kami teman Tsubasa." Desir Kaname sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya menatap Mikan yang sedang menangis dalam tenda di mana dia disekap.

Air mata Mikan langsung terhenti begitu mendengar ucapan Kaname itu.

"Kami akan membantumu keluar dari sini." tambah Akira yang ada di samping Kaname sambil tersenyum.

Mikan benar-benar terkejut sekarang. Dia hanya terdiam seribu bahasa dan menatap Kaname dan Akira dengan mata coklat madunya yang besar.

"A-Apakah yang k-kalian katakan barusan benar?" tanya Mikan terbata-bata.

Kaname dan Akira mengangguk kepalanya.

"Iya. Kami akan membantumu keluar dari sini." Jawab Kaname pelan.

Senyum lebar penuh kegembiraan mengembang di wajah cantik Mikan.

Kaname dan Akira benar-benar terpesona melihat senyum Mikan itu. Dia cantik sekali, benar-benar seperti malaikat dalam gosib yang sedang beredar ini hanya minus sayap putih saja.

"Terima kasih. Terima kasih, emm…" Ujar Mikan sambil menatap Kaname dan Tsubasa.

"Kaname. Namaku Kaname. Dan yang ada di sampingku ini Akira." Jelas Kaname memperkenalkan dirinya.

Mikan kembali tersenyum menatap mereka berdua "Terima kasih Kak Kaname. Terima kasih, Kak Akira."

Kaname hanya tersenyum menatap Mikan sedangkan Akira tersenyum menyerigai dan berkata "Jika kau benar-benar berterima kasih padaku, kau bisa membalasnya dengan sebuah ciuman."

"Tidak bisa. Kak Misaki mengatakan padaku aku hanya boleh melakukan itu pada Natsume seorang saja." Tolak Mikan cepat sambil menutup bibirnya dengan kedua tangannya.

Kaname dan Akira tertegun mendengar jawaban Mikan itu. Mereka berdua menatapnya dengan pandangan tak percaya. Mereka langsung menyadari betapa polosnya gadis yang ada di depan mereka sekarang ini.

"Natsume? Apakah dia adalah jendral baru yang sedang ramai dibicarakan itu?" tanya Akira sambil menatap Mikan.

"Iya. Aku hanya boleh mencium Natsume seorang saja, karena itu maaf Kak Akira, aku tidak bisa menciummu." Jawab Mikan polos.

Akira tertawa kecil melihat kepolosan Mikan dan membuka kedua tangannya lebar-lebar "Kalau begitu pelukan saja. peluk aku saja"

"Eh!" seru Mikan terkejut.

"Sudah! Sudah Akira! Kita sama sekali tidak punya waktu untuk bermain-main sekarang. Cepat berikan pil itu pada Mikan-chan." Perintah Kaname sambil memukul kepala Akira.

"Iya. Iya. Aku mengerti." Balas Akira sambil menggerutu dan mengeluarkan sebutir pil hitam dari sakunya dan menyerahkannya pada Mikan.

"Apa ini?" tanya Mikan bingung.

"Telanlah pil itu, Mikan-chan. pil itu akan membatmu mati suri." Ujar Kaname pelan.

"EH!" seru Mikan terkejut.

"Tidak perlu khawatir. Kau akan sadar lagi jika kau memakan obat ini." Tambah Akira sambil megeluarkan sebutil pil berwarna putih dari sakunya lagi.

"Hanya ini satu-satunya cara untuk mengeluarkanmu dan mengembalikanmu ke kota Lixir. Dengan sikap Mihara yang sedang penuh kemarahan dan keinginan untuk menaklukkan kota Lixir secepatnya ini. Kami yakin seratus persen dia akan megirimkanmu kembali ke sana jika dia mengira kau telah mati." Jelas Kaname sambil tersenyum lebar.

"Benarkah? Aku bisa kembali ke kota Lixir dan bersama Natsume lagi jika aku menelan pil itu?"

Kaname menggangguk kepalanya dan tanpa membuang waktu lagi, Mikan segera menelan pil yang ada di tangannya.

"Aku sama sekali tidak menyangka rencana kami itu akan berjalan dengan begitu lancar," ujar Akira tiba-tiba menyadarkan Kaname dari lamunannya "Ya. Kecuali prajurit kota Lixir ini yang menahan kami hingga kami terlambat memberikan pil untuk membangunkan Mikan."

Kaname hanya diam membisu. Apa yang dikatakan Akira benar. Itulah satu-satunya kesalahan dalam rencana mereka.

Kaname dan Akira tahu, kesalahan mereka itu hampir saja membuat kota ini berserta isinya lenyap dari dunia ini seperti yang terjadi pada seratus ribu pasukan Theoden.

Kaname dan Akira masih ingat dengan jelas, saat Mikan sadar dari kondisi mati surinya itu. Dia segera berteriak memanggil nama Natsume dan berusaha berlari keluar kediaman Narumi. Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, namun melihat sikap Mikan yang saat itu benar-benar panik, mereka hanya menuruti permintaannya untuk membawanya ke depan pintu gerbang kota Lixir.

Kaname dan Akira sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat pintu gerbang itu terbuka. Sosok Natsume itu benar-benar membuat mereka ketakutan dan mematung. Namun, yang paling mengejutkan mereka adalah sikap Mikan dan apa yang terjadi selanjutnya. Mikan dengan dirinya yang begitu lemah berhasil menghentikan Natsume.

Sosok Natsume itu membuat semua orang tahu, Natsume dan Mikan bukan manusia. Tapi, makhluk apa mereka sebenarnya sama sekali tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang berani mengungkit kejadian itu. Semua orang sangat takut. Tidak ada seorangpun yang berani mendekati Natsume lagi setelah melihat sosoknya yang mengerikan serta apa yang dilakukannya kecuali Ruka, Hotaru, Tsubasa dan yang lainnya walau mereka semua juga tidak bisa mengesampingkan perasaan takut di dalam hati mereka.

"Hm…Natsume…" Gumam Mikan pelan.

Mendengar gumaman Mikan, Natsume segera mempererat gengaman tanganya "Aku di sini Mikan. Bukalah matamu. Aku ada di sini."

"Natsume…" Gumam Mikan lagi dan dengan pelan dia membuka kedua mata coklat madunya.

Melihat Mikan yang telah membuka matanya, Natsume sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan leganya. Dia segera mengangkat tangannya Mikan dan menempelkannya pada keningnya "Syukurlah… Syukurlah… Jangan pernah melakukan ini lagi padaku, jangan pernah meninggalkan aku lagi."

Mikan tersenyum mendengar ucapan Natsume itu. Natsume mengatakannya lagi. Natsume memintanya untuk tidak pernah meninggalkannya lagi. Kata-kata itu bukan mimpi.

"Iya.. Aku tahu, aku tidak akan melakukan itu lagi, Natsume." Balas Mikan pelan.

Natsume menurunkan tangan Mikan yang ditempelkannya pada dahinya tanpa melepaskan gengamannya. Dia menatap wajah tersenyum Mikan dan menghela napas "Baguslah kalau begitu."

"Akhirnya kau sadar juga, bodoh." Ujar Hotaru tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresinya dari belakang Natsume walau sesungguhnya dalam hatinya, dia merasa sangat lega karena Mikan telah sadar.

"Hotaru…" Balas Mikan pelan sambil menolehkan kepalanya menatap Hotaru. Dia tersenyum saat melihat Ruka, Tsubasa, Misaki, Kaname dan Akira yang berada di samping Hotaru menatapnya dengan wajah lega dan penuh senyum.

"Syukurlah kau sudah sadar Mikan-chan." Ujar Misaki sambil berusaha menahan air matanya yang sudah hampir jatuh membasahi pipinya. Mikan semakin lemah saja. Jika saja dia bisa melindungi Mikan dari penculiknya itu, Mikan pasti tidak akan selemah ini.

Ruka sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya tersenyum menatap Mikan, begitu juga dengan Tsubasa, Kaname dan Akira.

"Maaf, membuat kalian semua khawatir." Senyum Mikan.

"Tidak perlu minta maaf, Mikan-chan. Kami sudah sangat gembira kau sudah sadar." Tawa Akira.

Natsume tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya diam membisu menatap Ruka, Hotaru dan yang lainnya.

"Terima ka.." Senyum Mikan lagi. Namun, katanya itu segera terhenti saat pintu kamarnya terbuka.

Seorang gadis cantik seusianya dengan rambut pirang, mata violet serta sebuah tahi lalat di samping kiri bibirnya berjalan masuk sambil membawa sebuah mapan berisi makanan.

Mata semua yang ada di ruangan itu lamgsung menatap gadis itu dan menyebabkan gadis itu menjadi sangat grogi.

"M-Maaf… Apakah aku menganggu kalian.. aku hanya membawakan makanan untuk nona Mikan, sebab aku rasa dia pasti sangat lapar jika dia bangun nanti." Ujarnya gadis itu pelan.

"Tidak. Kau sama sekali tidak menganggu kami. Apakah kau punya waktu malam ini? Bagaimana kalau kita pergi makan mal.." Ujar Akira dengan penuh senyum saat melihat gadis itu. Namun, belum sempat dia menyelesaikan ucapannya Kaname telah mengangkat tangannya memukul kepala Akira.

"Jangan kau pedulikan rayuan gombal, kakek genit ini." Senyum Kaname pada gadis itu tanpa mempedulikan Akira yang kesakitan "Dan kau membawa makanan itu pada waktu yang pas sekali, Mikan-chan baru saja sadar."

Gadis itu tersenyum dan menolehkan kepalanya menatap Mikan.

"Siapa gadis itu?" tanya Mikan bingung.

"Gadis itu bernama Luna, Mikan-chan. Dia akan mengurus dirimu selama kau masih lemah seperti ini." Jawab Tsubasa sambil tersenyum.


Kazumi dan Ioran berdiri di atas tembok benteng pertahanan kota Lixir menatap kekeringan besar yang ada di depan mereka.

Kazumi dan Sakurano masih tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Sosok Natsume yang mengerikan itu, Mayat para prajurit Theoden yang terputus-putus dan berserakkan dalam lautan darah saat pilar api yang dibuat Natsume padam, serta kekeringan yang membuat semua makhluk hidup lenyap dari dunia ini.

"Siapa Natsume dan Mikan itu sebenarnya, Ioran?" tanya Kazumi tiba-tiba sambil menolehkan wajahnya menatap Ioran yang ada di sampingnya.

Ioran hanya diam membisu.

"Siapa Natsume sebenarnya, Ioran. Makhluk apa dia sebenarnya?" tanya Kazumi lagi sambil menaikkan intonasinya.

Ioran tetap tidak menjawab.

"Jawab pertanyaanku Ioran. Kau tahu, siapa mereka sebenarnya bukan?" Bentak Kazumi.

Namun, Ioran tetap saja diam seribu bahasa dan menundukkan kepalanya ke bawah.

Melihat sikap Ioran yang tetap tidak menjawab pertanyaannya. Kazumi menghela napasnya "Kota Aureduil, kota yang hilang dalam satu malam di kerajaan Rohirrim tiga belas tahun yang lalu. Tanah kota itu sama dengan tanah di depan kita sekarang. Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan? Apakah Natsumelah yang melenyapkan kota berserta seluruh isinya seperti yang dilakukannya pada seratus ribu prajurit Theoden itu?"

Ioran mengangkat wajahnya menatap Kazumi. Namun, dia tetap tidak membuka mulutnya. Dia hanya menatap Kazumi dengan ekspresi terkejut bercampur bersalah, karena bagaimanapun dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia telah berjanji pada Natsume tidak akan memberitahu siapapun jati dirinya dan Mikan.

Kota Aureduil, kota yang hilang dalam satu malam di kerajaan Rohirrim. Ioran dulu sama sekali tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kota itu. Namun, kini dia sudah tahu, penyebab menghilangnya kota itu. Kota itu adalah kota terdekat dengan gunung berapi tempat ritual itu dilakukan.

Ioran sangat marah pada dirinya sekarang. Kenapa dia tidak menyadarinya tiga belas tahun yang lalu? Kenapa dia sama sekali tidak menyadari ritual yang mereka kira gagal itu ternyata berhasil dan telah menyebabkan satu kota berserta isinya menghiang dari dunia ini? Yuka, Izumi dan Shiki. Mereka bertiga pasti telah menyadari apa yang terjadi. Karena itulah kenapa Izumi dan Yuka bisa mati? dan kenapa Mikan bisa memiliki wajah Yuka?

Air mata tiba-tiba mengalir menuruni pipinya. Dia sangat sedih. Berapa banyak lagi pengorbanan dari orang yang disayanginya demi menghentikan ambisi gila Raja Theoden itu.

"Ioran.." Panggil Kazumi pelan karena terkejut saat melihat air mata Ioran.

Ioran segera mengangkat tangannya menghapus air matanya "M-Maaf.. Maafkan aku yang mulia.."

Kazumi sama sekali tidak bisa berkata apapun lagi. Air mata Ioran telah membuatnya merasa bersalah karena memaksanya menjawab sesuatu yang sama sekali tidak ingin dijawabnya.

Kazumi tahu, Ioran adalah orang yang memiliki hati yang sangat lembut. Dia pasti memiliki alasan tersendiri sehingga dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

"Maafkan aku. Lupakanlah pertanyaanku barusan itu, Ioran..." Ujar Kazumi pelan.

Ioran menggangguk kepalanya. Kazumi dan Ioranpun diam membisu sampai suara teriakkan salah satu prajurit yang berada tidak jauh dari mereka mengejutkan mereka.

"Hei! Siapa kau! Siapapun dilarang naik ke sini!"

Kazumi dan Ioran menolehkan kepala mereka mengikuti tatapan prajurit itu. Mata mereka berdua terbelalak karena terkejut saat melihat siapa yang berdiri menatap tanah kering yang diciptakan Natsume tidak jauh darinya.

Rambut coklatnya terbang dimainkan angin. Wajahnya terlihat sangat pucat, mata violetnya menatap pemandangan di depannya dengan penuh ketakutan.

"Shiki..." Panggil Kazumi dan Ioran bersamaan.

Mendengar namanya dipanggil, Shiki segera menolehkan kepalanya menatap Kazumi dan Ioran.

"Yang mulia Kazumi.." Panggilnya terkejut. Namun, begitu dia melihat Ioran, matanya benar-benar terbelalak karena terkejut. Dia segera melesat ke arah mereka dan mencengkeram kerah baju Ioran dengan erat.

"Dimana dia Ioran? Di mana sang kegelapan itu?" tanya Shiki.

Kazumi sangat terkejut dengan sikap Shiki yang tiba-tiba ini, sedangkan Ioran yang mendengar pertanyaan Shiki tersebut hanya bisa menatapnya dengan pandangan kebingungan bercampur terkejut.

"Dia bukan Kaoru, Ioran. Tidak peduli betapa miripnya dia dengan Kaoru, dia bukanlah Kaoru. Dia adalah sang kegelapan, makhluk terkutuk yang tidak seharusnya dilahirkan. Dia adalah sang kegelapan yang akan menghancurkan dunia ini dalam ramalan itu, Ioran." Jawab Shiki sambil menatap Ioran dengan tajam.

Ioran sangat terkejut mendengar jawaban Shiki itu, dia segera menolehkan kepalanya menatap Kazumi yang ada di sampingnya. Matanya terbelalak karena terkejut saat melihat Kazumi menatapnya dan Shiki dengan wajah pucat.

"A-Apa maksud kalian? Sang Kegelapan? Maksud kalian itu Natsume kan?" tanya Kazumi penuh kebingungan.

"Benar. Di mana dia berada sekarang Yang mulia? Di mana makhluk itu berada?" jawab Shiki dan kembali bertanya pada Kazumi.

"Dia ada di kediaman waikota kota ini. Tapi tenangkan…" Balas Kazumi. Namun, sebelum dia menyelesaikan kalimatnya itu. Shiki telah melepaskan tangannya yang mencengkeram leher baju Ioran dan berlari menuju kediaman Narumi.

"TUNGGU! SHIKI! HENTIKAN! SEMUA INI SAMA SEKALI TIDAK SEPERTI YANG SELAMA INI KITA PIKIRKAN!" teriak Ioran mengejarnya diikuti Kazumi yang masih kebingungan dari belakang.


Mikan yang masih lemah duduk di atas tempat tidurnya menatap Natsume yang sedang menyuapinya sambil tersenyum.

"Buka mulutmu, idiot. Ini adalah suapan terakhir. Jangan kau muntahkan lagi makanan yang masuk ke dalam perutmu." Ujar Natsume dengan wajah tanpa ekspresi.

Mikan hanya mengangguk kepalanya dan membuka mulutnya.

Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki yang ada di samping Mikan dan Natsume hanya diam membisu. Pemandangan ini memang sudah hal yang sangat biasa bagi mereka semua. Mereka semua bisa melihat wajah bahagia Mikan dengan jelas walau mereka juga bisa melihatnya semakin lemah dan lemah dari hari ke hari.

Wajah Mikan sangat pucat dan tak bertenaga. Dia terus saja memuntahkan apapun yang dimakannya sejak dia sadar.

Natsume memang kelihatan sangat tenang. Namun jauh di dalam hatinya dia sangat takut dan khawatir. Mikan sama sekali tidak pernah seperti ini.

Mikan memang merasa badannya sangat lemah dan tak bertenaga. Namun, dia tidak mau menunjukkannya sebab dia tidak mau melihat wajah sedih dan bersalah Natsume yang mengangap ini gara-garanya.

"KAK NATSUME!" teriak seseorang tiba-tiba sambil membuka pintu kamar Mikan.

Semua yang ada di sana termasuk Natsume sangat terkejut saat melihat pemilik suara itu. Yoichi.

"Yoichi? Kenapa kau ada di sini?" tanya Ruka bingung.

Yoichi sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Saat dia melihat Natsume dan Mikan, dia langsung berlari ke arah mereka dan memeluk Mikan dengan erat.

"Syukurlah... Syukurlah kau tidak mati..." Ujar Yoichi sambil gemetar.

Mikan sangat kebingungan dengan sikap Yoichi yang di luar dugaan itu. Namun, dia sama sekali tidak bertanya apapun. Dia mengangkat tangannya dengan pelan dan membalas pelukan Yoichi.

"Ada apa, Yoichi?" tanya Natsume pelan sambil menatap Yoichi.

Yoichi melepaskan dirinya dari pelukan Mikan dan menatap wajah Natsume "A-Aku bermimpi tentang kematian Mikan, Kak Natsume.. Sama dengan mimpi yang selama ini selalu aku lihat.."

Mendengar jawaban Yoichi itu, Natsume menghela napas dan menepuk kepala Yoichi "Sudah tidak apa-apa, Yoichi. Semua itu sudah berlalu."

Mikan, Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Natsume dan Yoichi. Saat Tsubasa ingin membuka mulutnya untuk bertanya, suara teriakkan seseorang berhasil menghentikannya.

"YOICHI!"

Semua orang menolehkan wajah mereka menatap sumber suara tersebut dan mereka semua melihat Yuu berdiri di depan pintu dengan napas terengah-engah.

"YUU!" Panggil Ruka dan Tsubasa bersamaan.

"Mengapa hari ini ramai sekali?" Ujar Hotaru cuek.

"Semuanya.." Senyum Yuu gembira saat melihat Mikan, Natsume, Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki di depannya.

"Bagaimana kalian berdua bisa berada di sini, Yuu?" tanya Tsubasa.

"Kami kemari bersama Shiki-san, Kak Tsubasa."

"Shiki-san?" tanya Ruka dan Tsubasa bersamaan penuh kebingungan.

"Oh, maaf. Shiki-san itu salah satu penghuni sekolah sihir Ernil. Dia datang ke kota ini untuk mencari seseorang. Dan karena Yoichi memaksa untuk ikut kemari, akupun akhirnya ikut bersamanya." Jelas Yuu.

"Begitu ya.. Tapi karena kota ini sudah aman, aku tidak perlu lagi khawatir jika kalian tinggal di sini untuk sementara." Ujar Tsubasa sambil menghela napas.

"Ya. Aku juga sudah tahu jika sudah tidak ada lagi prajurit Theoden di depan kota ini. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada seorangpun yang menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi walau aku menanyai mereka. Apakah prajurit Theoden ini mundur sendiri?" tanya Yuu lagi penuh kebingungan.

Saat Yoichi, Shiki dan Yuu mencapai kota ini. Mereka telah mendengar cerita bahwa seratus ribu prajurit Theoden yang ada di depan kota ini sudah tidak ada lagi. Namun, setiap kali mereka bertanya pada siapapun tentang apa yang terjadi, wajah mereka akan lengsung memucat dan diam seribu bahasa.

Ruka, Hotaru, Tsubasa dan juga Misaki terdiam begitu mendengar pertanyaan Yuu tersebut. Mereka sama sekali tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Mereka tidak mungkin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada seratus ribu pasukan Theoden itu dihadapan Natsume sekarang.

"Sebaiknya kau tidur saja, idiot." Perintah Natsume tiba-tiba sambil memaksa Mikan berbaring di atas tempat tidurnya.

"Eh? T-Tunggu Natsume. Aku baru saja bertemu dengan Yoichi dan Yuu. Aku masih ingin mengobrol dengan mereka, aku masih belum mau tidur." Protes Mikan sambil berusaha untuk bangkit.

"Mereka tidak akan ke mana-mana saat kau bangun nanti. Kau perlu istirahat. Wajahmu itu pucat sekali, tahu?" Balas Natsume sambil menahan badan Mikan yang ingin bangkit dari tempat tidurnya.

"Tidurlah, idiot. Wajahmu itu jadi kelihatan jelek sekali." Perintah Yoichi yang ada di sampingnya tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi walau jauh dalam hatinya dia sebenarnya sangat khawatir karena Mikan benar-benar kelihatan sangat lemah sekarang.

"Y-Yoichi jangan meniru sikap Natsume. Janji ya? Kalian masih akan ada di sini saat aku bangun nanti."

"Iya. Janji, idiot." Ujar Yoichi cuek.

"Kau juga'kan, Yuu?" tanya Mikan tiba-tiba samba menolehkan wajahnya menatap Yuu.

"Eh! i-iya." Jawab Yuu terbata-bata karena pertanyaan Mikan yang tiba-tiba itu.

Mikan tersenyum mendengar jawaban mereka dan membalikkan wajahnya menatap Natsume "Baiklah. Aku akan tidur, kau juga akan ada di sampingku nanti saat aku bangun'kan Natsume?"

Natsume tersenyum kecil dan menggangguk kepalanya "Tidurlah."


"Mikan-chan pasti akan sehat kembali dalam waktu dekat ini, jadi kau tidak perlu khawatir, Yoichi." Ujar Tsubasa sambil menatap Yoichi yang ada di sampingnya saat dia, Natsume, Ruka, Hotaru, Yoichi, Misaki dan Yuu keluar dari kamar Mikan.

"Benar, Yoichi. Mikan-chan pasti akan segera sembuh." Tambah Misaki sambil tersenyum.

Yoichi sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya diam dan berjalan dengan wajah tanpa ekspresi di samping Natsume yang juga berwajah tanpa ekspresi.

"Lebih baik kita mengobrol saja di ruang tamu. Jangan di depan pintu kamar Mikan. Nanti dia terbangun lagi." Ujar Ruka tiba-tiba.

Tidak ada seorangpun yang membalas ucapan Ruka itu. Namun semua yang ada di sana sangat setuju dengan apa yang diucapkannya. Mereka semuapun berjalan dengan pelan menuju ruang tamu kediaman walikota Lixir ini kecuali Natsume.

Natsume sebenarnya tidak ingin meninggalkan Mikan. Namun, dia juga tahu, apa yang dikatakan Ruka benar. Dengan pelan akhirnya dia membalikkan dirinya dan berjalan mengikuti mereka dari belakang.

Baru beberapa langkah Natsume berjalan, dia tiba-tiba merasakan adanya sihir yang mengarah kepadanya dari belakangnya.

Tanpa membuang waktu lagi Natsume segera meloncat ke samping menghindari sihir tersebut. Serangan sihir itu mengenai lantai di mana Natsume berada tadi dan menciptakan suara ledakan yang sangat keras.

Ruka, Hotaru, Yoichi, Tsubasa, Misaki dan Yuu yang sangat terkejut dengan suara ledakan dan serangan yang tiba-tiba itu segera menolehkan wajah mereka ke sumber serangan sihir itu, begitu juga dengan Natsume.

Mata Yoichi dan Yuu terbelalak karena terkejut saat melihat siapa yang menyerang Natsume. Shiki berdiri tidak begitu jauh dari mereka dengan sebuah lingkaran sihir berwarna violet di tangannya.

"Shiki-san? Apa yang kau lakukan?" tanya Yuu terkejut.

Shiki sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Yuu. Dia kembali membacakan mantra sihir dan menyerang Natsume.

Natsume dengan lincah kembali meloncat menghindari serangan Shiki. Dia sama sekali tidak tahu mengapa pria bernama Shiki itu menyerangnya, tapi dia tahu, pria itu benar-benar ingin membunuhnya, dia bisa merasakan aura membunuh dengan jelas darinya.

Saat Natsume mendarat di atas lantai, dia segera mengangkat tangannya.

Shiki tahu, apa yang akan dilakukan Natsume. Dia akan menyerangnya dengan sihir. Tanpa membuang waktu lagi, Shiki kembali membaca mantra dan membuat lingkaran sihir berwarna violet kebiruaan besar.

Namun, sebelum mereka berdua berhasil melancarkan sihir mereka, Yoichi tiba-tiba meloncat ke depan Natsume dan membuka kedua tangannya.

"Hentikan, Shiki-san! Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Yoichi dengan penuh kemarahan.

Natsume dan Shiki segera menghentikan sihir yang ingin mereka lancarkan dan menurunkan tangan mereka ke bawah.

Ruka, Hotaru, Tsubasa, Misaki dan Yuu benar-benar sangat bingung sekarang, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Shiki tiba-tiba menyerang Natsume?

Natsume tetap tidak bergerak ataupun mengatakan sepatahkatapun. Dia hanya diam menatap Shiki dengan tajam.

Kemarahan memenuhi hati Shiki saat dia melihat Yoichi melindungi Natsume. Tahu'kah siapa sebenarnya yang sedang dia lingdungi itu?

"Menjauhlah dari makhluk terkutuk itu, Yoichi!" teriak Shiki penuh kemarahan.

"Menjauh dan membiarkanmu menyerangnya lagi? Tidak akan pernah!" Balas Yoichi dengan tajam.

"Jangan melindungi makhluk terkutuk itu, Yoichi. Makhluk itu adalah pembunuh dari ayah kandungmu!" Teriak Shiki tiba-tiba.

Mata Yoichi, Ruka, Hotaru, Tsubasa, Misaki dan Yuu terbelalak karena terkejut, begitu juga dengan Natsume, hanya saja dia tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresinya.

"A-Apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Yoichi terbata-bata.

"Dia adalah makhluk yang membunuh ayahmu dan juga penyebab ibumu menghilang, Yoichi." Jawab Shiki sambil menatap Natsume dengan tajam.

"I-Itu tidak benar'kan, Kak Natsume?" Tanya Yoichi sambil menolehkan wajahnya yang pucat pasi menatap Natsume.

Natsume hanya menatap Yoichi. Dia sama sekali tidak tahu harus bagaiman menjawabnya. Dia sama sekali tidak mengenal ayah Yoichi. Namun, apakah ayah Yoichi adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang dibunuhnya dulu.

"Sepuluh tahun yang lalu di desa Arthor yang tersembunyi di kerajaan Arathorn. Kau masih ingatkan bagaimana kau membantai semua yang ada di sana?"

Natsume benar-benar tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya. Ada yang mengenalnya, mengetahui desa dan yang lebih penting, tahu apa yang telah dilakukannya.

"Kau masih ingat dengan darah dari semua yang kau bunuh di desa itu bukan? Dia ada di sana, Izumi, ayah Yoichi adalah salah satu dari sekian ratus orang yang kau bunuh di desa itu."

Yoichi benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa, dia kini menatap Natsume dengan bingung begitu juga dengan Ruka dan yang lainnya.

Natsume tetap diam membisu. Dia sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun.

"Kaulah-" tambah Shiki lagi, namun, ucapannya itu langsung terhenti karena suara pintu kamar Mikan yang terbuka.

"Natsume.. Ada apa?" tanya Mikan yang berjalan keluar dan menatap mereka semua dengan penuh kebingungan.

Mata Natsume terbelalak karena terkejut begitu melihat Mikan. Dengan kecepatan yang luar biasa, dia segera berlari ke arah Mikan. Suara ribut mereka tadi pasti telah membangunkannya.

Natsume segera memeluk dan menutup telingan Mikan dengan erat. Dia hanya berharap Mikan sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan Shiki. Dia tidak pernah peduli atau takut dengan siapapun yang mengetahui siapa dia sebenarnya dan apa dosanya selama ini. Namun, di dunia ini hanya Mikan seorang saja yang dia takutkan jika dia mengetahui siapa dirinya sebenarnya dan semua dosanya. Dia takut Mikan akan membencinya.

"Natsume, ada apa?" tanya Mikan semakin bingung.

Natsume tidak menjawab pertanyaan Mikan, dia menolehkan wajahnya menatap Shiki dengan tajam.

Ruka, Hotaru, Yoichi, Tsubasa, Misaki dan Yuu menatap Natsume dengan penuh kebingungan sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Natsume? Kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu.

"T-Tidak mungkin... Yuka.." Ujar Shiki terbata-bata tiba-tiba tanpa menolehkan wajahnya dari wajah Mikan yang sedang dipeluk Natsume.

"Yuka.." Ujar Shiki lagi sambil berjalan dengan pelan mendekati Natsume dan Mikan.

"SHIKI!" Teriak seseorang tiba-tiba.

Shiki dan semua yang ada di sana segera menolehkan wajah mereka ke sumber suara tersebut. Mereka melihat Ioran dan Kazumi berlari ke arah mereka.

"Dia bukan Yuka, Shiki.." Ujar Ioran pelan dengan wajah penuh kesedihan saat melihat ekpresi di wajah Shiki.

Shiki segera menolehkan wajahnya menatap Mikan lagi. Diapun segera sadar, yang ada di depannya sama sekali bukan Yuka. Wajah mereka memang sangat mirip, tapi usia gadis di depannya sekarang terlalu muda untuk dikatakan sebagai Yuka.

Shiki hanya bisa memikirkan siapa gadis mirip Yuka yang ada di depannya sekarang. Yuka tidak punya saudara ataupun kerabat lagi di dunia ini. Satu-satunya anak Yuka di dunia ini hanyalah Yoichi. Mengapa gadis di depannya sekarang mempunyai wajah yang mirip dengan Yuka?

Namun begitu Shiki melihat Natsume yang memeluk Mikan. Dia langsung tersadar. Sebuah jawaban yang sama sekali tidak mau diakuinya terlintas dalam kepalanya.

Shiki segera menolehkan wajahnya menatap Ioran. Badanya bergetar dan dengan suara yang terbata-bata penuh ketakutan dia berkata "T-Tidak mungkin… Ini Tidak mugkin'kan? Gadis ini adalah sang cahaya.. Katakan apa yang aku pikirkan sekarang salah, Ioran. Aku salah'kan?"

Ioran hanya diam membisu, namun ekspresi wajahnya itu benar-benar kelihatan sangat sedih.

Melihat Ioran yang tidak menbalas ucapannya. Shiki berjalan ke arah Ioran dan mengenggam tangannya "Katakan aku salah, Ioran. Katakan padaku gadis itu bukanlah Sang cahaya. Katakan padaku, Yuka masih hidup. Katakan padaku Yuka tidak mengorbankan dirinya seperti Kaoru demi menghentikan ambisi gila Kuonji itu."

Ioran tetap tidak mengatakan sepatah katapun, namun air matanya mengalir menuruni pipinya. Meski tidak menjawab, kesedihan di wajahnya telah menjelaskan dengan jelas apa yang diinginkan Shiki darinya. Sedangkan Ruka, Hotaru, Tsubasa, Misaki, Yoichi, Izumi dan Yuu yang benar-benar tidak mengerti dengan maksud ucapan Shiki hanya bisa diam menatapnya dan berusaha mencerana apa yang dikatakannya.

Shiki kembali menolehan wajahnya menatap Natsume dan Mikan. Dia bisa melihat Natsume memeluk Mikan dengan sikap melindungi, sedangkan Mikan tetap saja menatapnya dengan penuh kebingungan. Kesedihan yang luar biasa menyerang hatinya, melihat mereka berdua sekarang, dia bagaikan melihat Kaoru dan Yuka. Namun, melihat mereka berdua juga telah memberi tahunya sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya.

Yuka telah tiada.


Delapan belas tahun yang lalu

"Pada suatu masa, kegelapan dan cahaya akan bertarung. Jika kegelapan menang maka kehancuranlah yang tersisa dan jika cahaya menang maka dunia akan damai sentosa. Kegelapan ada-" Ujar seorang wanita berambut dan bermata coklat madu sambil membaca buku yang ada ditangannya di bawah sebatang pohon sakura dalam istana Edoras.

"Sayangnya masa itu bukan sekarang. Masa itu tidak akan terjadi saat kau masih hidup di dunia ini, Yuka." Potong seorang gadis bermata merah kecoklatan dan berambut hitam sambil tersenyum.

"Kau benar Kaoru. Masa itu tidak akan terjadi saat aku masih hidup." Senyum Yuka begitu mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Masa kau terus saja membaca buku itu setelah Jauh-jauh kau datang dari Theoden ke Edoras. Waktumu akan terbuang sia-sia, tahu?"

"Aku tidak ingin kedatanganku mengganggu perkerjaan sahabatku, penyihir istana Edoras yang hebat."

Kaoru tertawa dan bangkit dari duduknya "Tidak perlu khawatir untuk itu. Kau pikir siapa aku! Ayo, aku akan membawamu keliling istana ini."

Yuka tertawa dan tanpa membuang waktu lagi dia memasukkan buku yang dibacanya ke dalam tas dan mengikuti Kaoru.

Kaoru membawa Yuka mengelilingi istana itu. Yuka hanya bisa menatap dengan penuh kagum istana yang indah ini. Istana ini di dominasi warna putih berbeda sekali dengan istana Theoden yang didominasi warna merah.

"Sayang sekali dia tidak bisa datang. Padahal sudah lama sekali kami tidak bertemu. Suasana pasti akan lebih meriah jika dia ada." Ujar Kaoru tiba-tiba.

"Ya. Pasti akan sangat meriah. Kalian berdua pasti akan menciptakan keributan lagi dan aku akan menjadi satu-satunya orang yang harus menghentikan kalian berdua."

"Itu bukan salahku, Yuka. Jika kau mau, salahkan saja wanita itu. Dia yang selalu mengajakku membuat keributan. " Protes Kaoru.

"Tapi, keributan tetap tidak akan terjadi jika kau tidak menerima ajakannya bukan."

Kaoru tersenyum menyeringai "Tidak sopan'kan jika aku menolak ajakkan dari wanita yang sangat-sangat tua dariku?"

Yuka tertawa mendengar ucapan Kaoru itu "Jika dia mendengar apa yang kau ucapkan sekarang, dia pasti akan membunuhmu."

"Dia tidak ada di sini. Karena itu dia tidak akan pernah tahu." Balas Kaoru dengan penuh senyum.

"Lu-" ujar Yuka lagi, namun ucapannya itu segera terhenti karena suara teriakkan seseorang.

"IZUMI! JANGAN LARI KAU!"

Yuka dan Kaoru segera menolehkan wajah mereka menatap sumber suara teriakkan tersebut. Mereka melihat seorang pria berambut pirang dan bermata violet berlari sambil tertawa. Di belakang pria itu, seorang pria berambut hitam dan bermata coklat berlari mengejarnya dengan wajah penuh kepanikan.

Pemuda berambut pirang itu langsung berhenti begitu melihat Kaoru dan Yuka, begitu juga dengan pemuda berambut hitam dibelakangnya.

"Kebodohan apa lagi yang kau lakukan kali ini, pangeran Izumi?" tanya Kaoru.

Yuka sangat terkejut mendengar pertanyaan Kaoru itu. Jadi pemuda berambut pirang di depannya sekarang adalah Pangeran Izumi, putra mahkota kerajaan Edoras yang terkenal itu.

"Tidak apa-apa, Kaoru. Dan eh! Siapa gadis ini?" tanya Izumi terkejut saat melihat Yuka.

"Apanya yang tidak apa-apa. Berteriak menyanyikan lagu dan menari-nari dalam rapat dengan semua dewan ini kau katakan tidak apa-apa." Potong pemuda berambut hitam dibelakang mereka tiba-tiba.

"Hei, Ioran! Dengarkan penjelasaku dulu, aku melakukan itu karena semua yang ada di sana kelihatan sangat ngantuk. Setidaknya setelah aku melakukan itu, mata mereka sudah terbelalak kembali." Protes Izumi kesal.

Ioran hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Izumi itu. Sahabatnya ini benar-benar selalu bertindak sebelum berpikir.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kaoru. Siapa gadis ini? Temanmu ya? Kenalkan aku, Izumi." Senyum Izumi memperkenalkan dirinya tanpa mempedulikan sekelilingnya.

Yuka hanya bisa menatap Izumi dengan penuh kebingungan. Pangeran yang ada di depannya ini benar-benar berbeda sekali dengan orang-orang berkedudukan yang selama ini dikenalnya. Dia sangat ramah dan terlebih lagi senyumnya itu benar-benar memesonakan.

"Siapa namamu?" tanya Izumi lagi.

"Eh! A-anu.. Namaku Y-Yuka, Pangeran Izumi." Jawab terbata-bata.

"Tidak perlu panggil aku Pangeran. Panggil saja aku Izumi." Senyum Izumi.

"T-Tapi.."

"Panggil saja dia Izumi, Yuka. Panggilan pangeran terlalu bagus untuk si idiot ini." Potong Kaoru tiba-tiba.

"Kaoru! Apa maksudmu! Bukankah tadi juga memanggilku pangeran!" Protes Izumi sambil menatap Kaoru.

"Aku memanggilmu pangeran barusan untuk menjatuhkanmu. Mana ada pangeran yang bersikap bodoh sepertimu dalam rapat dengan para dewan." Balas Kaoru cuek.

"Bukan'kah sudah aku jelaskan, aku mel.."

"Kurasa kau tidak perlu menjelaskannya pada kami. Kau jelaskan saja nanti pada yang mulia raja Sakura dan juga Pangeran Kazumi." Potong Kaoru.

Izumi langsung terdiam mendengar ucapan Kaoru itu. Dia baru saja sadar, apa yang dilakukannya dalam ruang rapat itu pasti sudah sampai ke telinga ayah dan kakaknya itu.

"Benar sekali, Kaoru. Aku memang sedang menantikan penjelasan darinya." Ujar seseorang tiba-tiba dari belakang mereka.

Izumi, Yuka, Kaoru dan Ioran segera menolehkan wajah mereka menatap datangnya suara tersebut. Mereka melihat seorang pria berambut pirang dan bermata violet seperti Izumi berjalan ke arah mereka.

"Kakak.." Panggil Izumi dengan wajah pucat.

Wajah Kazumi yang tenang tanpa ekspresi membuat wajah Izumi semakin pucat. Saat kazumi telah tiba di depan Izumi, dia segera mengangkat tangannya dan meninju Izumi dengan kuat.

Yuka sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Kazumi. Sedangkan Kaoru dan Ioran hanya diam melihat Izumi yang terus dipukul Kazumi tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikitpun. Pemandangan ini sudah sangat biasa bagi penghuni istana Edoras ini.

"Tidak perlu khawatir, Yuka-san. Hubungan kedua kakak-adik itu sejak dulu memang sudah seperti itu." Jelas Ioran begitu melihat wajah pucat Yuka.

Yuka hanya bisa menggangguk kepalanya walau dia masih sangat takut. Sebab pukulan Kazumi itu sama sekali tidak segan-segan.


"Jangan bergerak, Izumi." Perintah Ioran yang sedang mengoleskan obat pada luka lebam di wajah Izumi akibat pukulan Kazumi.

"Sakit, Ioran!" Protes Izumi.

"Jika kau tidak bersikap bodoh seperti itu, Pangeran Kazumi tidak mungkin akan memukulmu seperti itu." Ujar Kaoru yang ada di samping Ioran tiba-tiba.

"Kaoru, kau memanggil kakakku pangeran, tapi kenapa kau memanggilku Izumi." Balas Izumi sambil menatap Kaoru.

"Bukannya kau yang mengatakan untuk memanggilmu Izumi tanpa embel-embelan seperti itu." Balas Kaoru cuek.

"Aku tidak mengatakan itu padamu. Aku mengatakan itu pada, Yuka," balas Izumi tidak mau kalah "Benarkan, Yuka?"

Yuka yang ditanya tiba-tiba menjadi kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Kedua pipinya langsung memerah.

"Kenapa wajahmu memerah? Apakah kau sakit?" tanya Izumi lagi sambil menyentuh kening Yuka memeriksa suhu badannya.

Wajah Yuka semakin memerah. Dia sama sekali tidak bisa bergerak, seluruh badannya mematung.

"Hei! Ada apa denganmu?" tanya Izumi semakin bingung. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menepis tangan Izumi dari dahi Yuka.

"Jangan sentuh Yuka dengan tangan kotormu!" perintah seorang pemuda berambut pirang dan bermata violet sambil menatap Izumi dengan tajam.

"Shiki!" Seru Yuka terkejut.

Shiki sama sekali tidak mempedulikan Yuka, dia tetap menatap Izumi dengan tajam.

Izumi yang terus dipandang dengan tajam oleh Shiki menjadi sedikit kesal. Dia sama sekali tidak mengenal pemuda di depannya, namun dia tahu sekali kalau pemuda ini tidak menyukainya.

"Apa maksudmu?"tanya Izumi. Dia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Tapi, kenapa pemuda di depannya ini sekarang menatapnya dengan pandangan tajam seperti ini.

"Jangan sentuh, Yuka." Ulang Shiki lagi.

"Bagaimana jika aku masih mau menyentuhnya!" balas Izumi kesal.

"Aku akan membunuhmu!"

"Coba saja kalau kau bisa!"

"Shiki! Jangan bersikap seperti ini! Dia adalah putra mahkota kerajaan ini tahu?" potong Yuka panik melihat sikap Shiki dan suasana yang sudah berubah menjadi sangat memanas itu. Namun, tiba-tiba suara tawa seseorang mengejutkan mereka semua.

Izumi, Yuka, Shiki serta Ioran menolehkan wajah mereka menatap sumber suara tersebut dan mereka melihat Kaoru tertawa terbahak-bahak.

"Jangan pedulikan aku.. Teruskan saja adegan perebutan kalian itu, kau memang wanita yang penuh dosa Yuka, daya tarikmu memang sangat luar biasa…"Tawa Kaoru.

"KAORU!" teriak Yuka kesal melihat sikap Kaoru.


"YUKA! KAORU!" panggil Izumi sambil berlari mendekati Yuka dan Kaoru yang duduk dibawah pohon sakura dalam taman istana menikmati hembusan angin musim semi diikuti Ioran dari belakang.

"Ada apa, Izumi?" tanya Kaoru sambil menatap Izumi dan Ioran saat mereka tiba di depan mereka berdua.

"Yuka! Apa yang kau katakan benar-benar terjadi. Bagaimana kau bisa tahu itu?" tanya Izumi dengan wajah penuh terkejut.

"Apakah semua penduduk desa itu baik-baik saja?" tanya Yuka panik begitu mendengar pertanyaan Izumi.

"Berkat peringatanmu itu, semua penduduk desa itu selamat, tidak ada seorangpun yang terluka akibat tanah lonsor itu," Jawab Ioran sambil tersenyum "Tapi, kami semua benar-benar tidak mengerti? Bagaimana kau tahu desa itu akan mengalami tanah longsor? Kau bahkan tidak pernah ke desa itu?"

Yuka terdiam mendengar pertanyan Ioran itu.

"Itu karena Yuka bisa melihat masa depan melalui mimpinya." Jawab seseorag tiba-tiba dari belakang.

Izumi dan Ioran menolehkan kepala mereka ke belakang dan mereka melihat Shiki berjalan mendekati mereka dengan wajah tanpa ekspresi.

"Melihat masa depan?" tanya Izumi dan Ioran binggung bersamaan.

"Benar. Yuka memiliki bakat untuk melihat masa depan seseorang. Dia bisa melihat peruntungan dan juga kematian seseorang." Jelas Kaoru tiba-tiba sedangkan Yuka hanya diam membisu.

"EH! TIDAK MUNGKIN!" teriak Izumi dan Ioran bersamaan.

"Itu mungkin saja, sebab Yuka adalah keturunan langsung dari penyihir besar Azumi." Tambah Kaoru santai.

"APA!" teriak Izumi dan Ioran bersamaan lagi.

Yuka hanya diam membisu dan menundukkan kepalanya ke bawah.

"Penyihir besar Azumi? Maksud kalian penyihir besar yang meramalkan "Ramalan kegelapan dan cahaya" yang terkenal itu"?" tanya Ioran penuh semangat.

Kaoru mengangguk kepalanya.

"Mustahil.. ku pikir sudah tidak ada lagi keturunan penyihir besar Azumi di jaman sekarang." Ujar Ioran dengan wajah penuh kagum.

"Yuka! Kalau kau adalah keturunan penyihir besar Azumi itu dan bisa melihat masa depan, kau pasti mengerti maksud dari ramalan kegelapan dan cahaya yang menjadi teka-teki semua orang itu'kan? Bisakah kau menjelaskannya pada kami?" tanya Izumi dengan mata berbinar-binar.

Yuka, Kaoru dan Shiki langsung terdiam mendengar pertanyaan Izumi itu.

"Jangan bertanya yang tidak-tidak." Ujar Shiki tiba-tiba sambil menatap Izumi dengan tajam.

"Aku tidak bertanya padamu Shiki! Yang aku tanya itu Yuka!" balas Izumi kesal sambil menatap Shiki.

"Tidak apa-apa, Shiki. Kurasa aku bisa menceritakan apa arti sebenarnya ramalan itu pada mereka berdua." Ujar Yuka sambil tersenyum dan mengejutkan Kaoru serta Shiki.

"Yuka. Apa kau yakin boleh menceritakannya pada mereka berdua?" tanya Kaoru sambil menatap Yuka dengan wajah serius.

"Aku yakin, Kaoru. Mereka berdua adalah teman kita. Aku cukup mempercayai mereka." Senyum Yuka.

Kaoru hanya menghela napas mendengar ucapan Yuka itu. Dia tahu, dia sama sekali tidak punya hak untuk melarang Yuka menceritakan kebenaran akan ramalan itu kepada siapapun. Dengan pelan, dia mengangkat wajahnya menatap Izumi dan Ioran "Cukup kalian saja yang tahu, jangan pernah menceritakan kebenaran akan ramalan ini pada siapapun."

"Mengapa?" tanya Izumi bingung.

"Karena itu dilarang." Jawab Shiki tiba-tiba sambil duduk di samping Kaoru.

"Dilarang?" tanya Izumi dan Ioran lagi.

Yuka tertawa mendengar pertanyaan Izumi dan Ioran itu "Duduklah, aku akan menjelaskan semuanya pada kalian berdua."

Izumi dan Ioran segera duduk di depan Yuka begitu mendnegar ucapannya itu. Dengan pelan Yuka mengeluarkan sebuah buku tua dari dalam tasnya. Sampul depan buku itu memiliki sebuah gambar sepasang sayap yang mengelilingi sebuah lingkaran sihir dengan sebuah symbol aneh di tengahnya dan sampul belakangnya juga memiliki gambar yang mirip dengan gambar di sampul depan, perbedaannya hanyalah sampul depan memiliki warna hitam sedangkan sampul belakang berwarna kemerahan serta symbol di tengah lingkaran sihir depan dan belakang terbalik.

"Buku apa itu?" tanya Izumi.

"Buku ini adalah buku ramalan kegelapan dan cahaya." jawab Yuka sambil tersenyum.

"Buku ramalan kegelapan dan cahaya?" tanya Izumi lagi.

"Diam dan dengarkan saja penjelasan Yuka, bodoh." Potong Kaoru kesal melihat sikap Izumi yang dari tadi bertanya terus.

"Benar, contohilah Ioran." Tambah Shiki cuek.

"Hei!" teriak Izumi kesal.

"Teruskan saja penjelasanmu, Yuka. Tidakperlu mempedulikan Izumi jika dia terus memotong penjelasanmu." Senyum Ioran.

"HEI, IORAN! Masa kau juga memihak mereka!" teriak Izumi frustasi melihat sikap sahabatnya itu.

Yuka dan Ioran tertawa melihat reaksi Izumi, Kaoru hanya tersenyum menyeringai dan Shiki hanya diam namun, sinar matanya jelas mengatakan dia sangat setuju dengan apa yang diucapkan Ioran. Pemandangan ini sudah sangat biasa jika mereka berlima berkumpul.

"Baiklah. akan aku lanjutkan. Pertama-tama, aku ingin bertanya pada kalian, apakah kalian tahu dari mana asalnya makhluk sihir?"

"Percuma kalau kau bertanya pada Izumi, Yuka." Ujar Kaoru tiba-tiba sambil menatap Yuka.

"Apa maksudmu, Kaoru?" tanya Izumi sambil manaikkan alis matanya.

"Kau hanya membuang waktumu saja jika bertanya padanya. Dia tidak mungkin tahu." Tambah Shiki sambil menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon sakura dibelakangnya.

Izumi ingin membalas ucapan Kaoru dan Shiki. Namun, karena dia memang tidak tahu jawaban pertanyaan Yuka tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk diam saja, sebab jika dia sembarangan menjawab, dia pasti akan semakin diledek oleh kaoru dan Shiki.

"Emm.. Aku tidak tahu pasti, tapi dari salah satu buku karya murid sekolah sihir Ernil yang pernah aku baca. Dikatakan Makhluk sihir dilahirkan oleh alam ini sendiri." Jawab Ioran ragu-ragu.

"Jawabanmu itu tidak salah, Ioran. Makhluk sihir itu memang dilahirkan oleh alam, kita manusia juga begitu, semua yang ada di dunia ini dilahirkan oleh alam. Hanya saja lebih tepatnya, makhluk sihir itu dilahirkan oleh elemen yang ada di alam ini. Dan sama seperti manusia, makhluk sihir juga melanjutkan ras mereka dengan melahirkan. Mungkin bisa kita katakan makhluk sihir pertama dari para makhluk sihirlah yang dilahirkan oleh alam." Jelas Yuka.

"Karena makhluk sihir dilahirkan oleh elemen-elemen di alam ini, keberadaan merekapun merupakan elemen itu sendiri. Itulah sebabnya mereka bisa menggunakan sihir tanpa mantra dan lingkarang sihir seperti kita. Contohnya naga merah, naga merah dilahirkan oleh elemen api, karena itulah dia bisa menyemburkan api dari mulutnya tanpa lingkaran sihir dan mantra sihir. Kalian cukup mengerti dengan penjelasanku'kan?"

Izumi dan Ioran mengangguk kepla mereka secara bersamaan.

"Nah, pertanyaan keduaku, apakah kalian tahu elemen utama yang menciptakan dunia ini?"

"Kalau itu aku tahu, cahaya dan kegelapan'kan?" jawab Izumi sambil tersenyum menatap Kaoru dan Shiki yang cuek-cuek saja.

"Benar. Cahaya dan kegelapan. Yang pertama ada di dunia ini adalah cahaya dan kegelapan. Cahaya dan kegelapanlah yang menciptakan dunia ini, kedua elemen itu adalah elemen terkuat yang ada, tidak ada yang tahu elemen mana yang dulu ada, setahu kita manusia kedua elemen itu ada secara bersamaan. Kedua elemen itu adalah elemen pencipta elemen api, air, tanah, angin dan petir yang kemudian menciptakan alam ini. Dan kedua elemen itu mustahil untuk dikuasai."

"Boleh aku bertanya Yuka, Kenapa kedua elemen itu mustahi untuk dikuasai?" tanya Izumi tiba-tiba.

"Karena kedua elemen tersebut adalah elemen utama. Api, angin, air, tanah dan petir diciptakan oleh cahaya dan kegelapan. Merekalah yang menciptakan semua yang ada. Apakah menurut kalian kita bisa menguasai mereka?"

Izumi terdiam mendengar pertanyaan Yuka tersebut.

"Yuka, dari penjelasamu ini, apakah kau ingin menjelaskan pada kami bahwa sang kegelapan dan sang cahaya yang ada dalam ramalan penyihir Azumi itu adalah makhluk sihir yang dilahirkan oleh elemen kegelapan dan cahaya?" tanya Ioran tiba-tiba.

"Eh!" seru Izumi terkejut.

Yuka tersenyum mendengar pertanyaan Ioran "Benar sekali terkaanmu itu Ioran. Sang kegelapan dan sang cahaya yang ada dalam ramalan itu sebenarnya adalah ramalan akan dua makhluk sihir yang akan dilahirkan oleh elemen pencipta dunia ini, yaitu elemen kegelapan dan cahaya."

Mata Izumi dan Ioran terbelalak karena terkejut mendnegar jawaban Yuka tersebut.

"Kedua elemen ini bertolak belakang sama sepertinya hidup dan kemataian. Cahaya melambangkan kehidupan dan kegelapan melambangkan kematian. Kedua makhluk sihir itu pasti akan bertarung jika mereka terlahirkan. Jika cahaya menang, maka kehidupan di dunia ini akan terus berlanjut, tapi jika kegelapan menang maka semua kehidupan di dunia ini pasti akan berakhir."

"APA!" teriak Izumi dan Ioran bersamaan.

"Tunggu dulu Yuka, jika apa yang tertulis dalam buku itu benar, bukan'kah itu sangat berbahaya?" tanya Izumi dengan wajah pucat.

Yuka mengangguk kepalanya "Apakah kalian tahu, ramalan terakhir dari penyihir besar Azumi yang selama ini di ceritakan oleh orang dari generasi ke generasi itu sebenarnya tidak lengkap."

"EH!"

"Ramalan terakhir itu sebenarnya berbunyi "Pada suatu masa, kegelapan dan cahaya akan bertarung. Jika kegelapan menang maka kehancuranlah yang tersisa dan jika cahaya menang maka dunia akan damai sentosa. Sang kegelapan dan Sang cahaya, kedua makhluk sihir yang tidak akan bisa melepaskan diri mereka dari takdir yang menyelimuti mereka. Takdir mereka adalah takdir yang menentukan akhir atau permulaan dunia ini. Namun, sesungguhnya takdir ini adalah takdir yang sangat kejam dan menyedihkan."

"Apa maksudnya?" tanya Izumi bingung.

"Penyihir besar Azumi tidak bisa meramalkan akhir dari petarungan kedua makhluk sihir yang akan menentukan nasib dunia ini dengan jelas. Tapi, kalimat "Namun, sesungguhnya takdir ini adalah takdir yang sangat kejam dan menyedihkan." dalam ramalan itu memberitahukan pada semua keturunan dan muridnya. Kemungkinan besar yang akan menang dalam pertarungan itu adalah sang kegelapan. Semua orang percaya kalimat terakhir itu berarti dunia akan hancur dan sang cahaya akan kalah."

"EH!"

"Karena itulah keturunan dan murid penyihir besar azumi mencari semua peninggalan penyihir besar Azumi dan akhirnya mereka berhasil menemukan buku ramalan keglapan dan cahaya yang ditulis oleh penyihir besar azumi ini sebelum meninggal." Senyum Yuka sambil memmperlihatkan buku itu pada Izumi dan Ioran.

"Dalam buku ini tertulis dengan jelas. Sang Kegelapan dan Sang cahaya tidak boleh sadar. Apapun yang terjadi mereka tidak boleh terlahirkan di dunia ini. Sang Kegelapan akan dilahirkan asap hitam dari dalam lahar api panas dan gelap, sedangkan sang cahaya akan dilahirkan oleh bunga putih besar dari dalam danau indah dan terlindungi."

"Lahar api panas dan gelap serta danau indah dan terlindungi? Di mana itu?" tanya Izumi bingung.

"Tidak bisakah kau diam dan mendengarkan penjelasan Yuka tanpa menyela, Izumi?" Ujar Shiki melihat tingkah laku Izumi yang kini menatapnya dengan tajam.

Yuka tertawa melihat tingkah Izumi "Tempat sang kegelapan dilahirkan tertulis dalam buku ini. Namun, tempat sang cahaya akan dilahirkan sama sekali tidak tertulis. Tapi, ada satu hal lagi yang sangat penting, sang kegelapan dan sang cahaya tidak akan terlahir jika tidak ada pengorbanan."

"Pengorbanan?"

"Iya. pengorbanan. Dalam buku ini tertulis. Sang kegelapn dan sang cahaya membutuhkan wadah untuk terlahir di dunia ini."

"Wadah?"

"Yang dimaksud dengan wadah adalah manusia. Jika ada manusia yang mengorbankan tubuh dan hidup mereka ke dalam tempat dimana sang kegelapan dan sang cahaya akan terlahir baik sengaja maupun tidak sengaja, kedua makhluk sihir itupun akan terlahir dengan wujud manusia tersebut."

"EH!" teriak Izumi lagi.

"Izumi, tutuplah mulutmu itu, tidak bisakah kau berhenti berteriak seperti itu?" Ujar Kaoru kesal.

"Tidak bisa, kaoru. Yuka, apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan kelahiran kedua mahkluk itu?" balas Izumi tanpa mempedulikan Kaoru.

"Sang kegelapan dan sang cahaya pasti akan lahir suatu masa nanti. Tidak ada yang dapat mencegah kelahiran mereka, hanya saja kita bisa menunda kelahiran mereka."

"Bagaimana caranya?"

"Kedua makhluk sihir itu memerlukan wadah untuk lahir. Dan mereka adalah makhluk yang bertolak belakang. Jika wadah sang kegelapan adalah lak-laki, maka wadah sang cahaya haruslah wanita, dan sebaliknya jika wadah sang kegelapan adalah wanita, maka wadah sang cahaya harus laki-laki. Cara mencegah kelahiran kedua makhluk itu adalah dengan mengorbankan sepasang wanita dan laki-laki secara bersamaan."

"Mengorbankan sepasang wanita dan laki-laki secara bersamaan?"

"Iya. Tempat kelahiran sang cahaya memang tidak diketahui, tapi tempat kelahiran sang kegelapan telah diketahui sejak buku ini ditemukan. Jika sepasang laki-laki dan wanita mengorbankan diri secara bersamaan, maka sang kegelapan tidak akan bisa mendapatkan wadah yang diperlukannya hingga dia tidak akan bisa terlahirkan. Dan sekali pengorbanan itu dilakukan, maka kelahiran sang kegelapan akan tertunda selama lima ratus tahun."

"Maksudmu, setiap lima ratus tahu, kita harus mengorbankan sepasang wanita dan laki-laki untuk menghentikan kelahiran kedua makhluk sihir itu? Bukan'kah itu terlalu kejam?"

"Huh! Itu suatu kebanggan, tahu? Mengorbankan hidup demi dunia ini adalah suatu kehormatan yang tidak ternilai harganya." Ujar Shiki tiba-tiba.

"Apa maksudmu? Memangnya kau bersedia mengorbankan hidupmu untuk itu shiki?

Shiki tidak menjawab pertanyaan Izumi dia hanya menatap Izumi dan membuang wajahnya.

"Yuka, silakan lanjutkan penjelasanmu itu, kurasa Izumi tidak mau mendengarkannya lagi, tapi kurasa Ioran masih mau." Ujar Kaoru sambil menatap Ioran yang dari tadi hanya diam membisu.

"Baiklah. Dalam buku ini tertulis Sang kegelapan adalah makhluk berbahaya yang hanya tahu menghancurkan. Dia akan menyebarkan kekeringan jika dia benar-benar tersadar di dunia ini. Tanah yang disentuhnya akan ternoda dan tidak akan ada lagi makhluk hidup yang mampu hidup di atas tanah tersebut. Sang kegelapan memiliki wujud yang sangat menyeramkan, wujud aslinya memiliki tiga mata berwarna merah darah, rambut putih panjang berwarna perak, kulit hitam bersisik, tangan dan kaki bagaikan binatang buas, serta sepasang sayap hitam berbulu hitam besar yang lebih hitam dari gelapnya malam. Sedangkan sang cahaya memiliki wujud yang sangat suci. Wujud asli sang cahaya memiliki sepasang sayap besar berwarna putih."

"Seperti iblis dan malaikat, ya?" ujar Ioran pelan.

"Benar. Dikatakan wujud asli kedua makhluk itu persis seperti iblis dan malaikat. Namun, saat mereka berada dalam wujud sementara, wajah mereka akan benar-benar mirip dengan wajah dari wadah yang mereka ambi. Mereka benar-benar akan kelihatan seperti manusia umunya dan tidak bisa dibedakan."

"Apakah tidak ada petunjuk mengetahui mereka jika mereka terlahirkan dan belum kembali ke wujud asli mereka?"

"Ada. Sang kegelapan akan memiliki mata berwarna merah darah dan aura yang aneh. Manusia mungkin tidak bisa merasakan aura tersebut, tapi makhluk hidup lain seperti binatang atau makhluk sihir lainnya akan dapat merasakannya dengan mudah. Tidak akan ada seekor binatang atau makhluk sihirpun yang akan berani mendekatinya, mereka akan segera lari dan bersembunyi karena mereka bisa merasakan dengan jelas bahaya yang ada. Dan sebaliknya, sang cahaya mungkin akan agak sulit diketahui, tapi dituliskan, dia akan memiliki aura yang sangat lembut dan hangat bagaikan matahari. Dan semua binatang ataupun makhluk hidup yang melihatnya pasti akan tertarik dan mendekatinya. Namun, mungkin yang paling mudah untuk mengetahui apakah seseorang itu adalah sang kegelapan atau sang cahaya adalah melalui tanda lahir yang pasti akan terukir dipunggung mereka."

"Tanda lahir?"

"Iya. Tanda lahir seperti ini. Sang kegelapan memliki tanda lahir yang berarna hitam ini sedangkan sang cahaya memiliki tanda lahir yang berwana merah ini." Ujar Yuka sambil memperlihatkan sampul buku dalam tangannya pada Ioran Dan Izumi.

Izumi dan ioran sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun mereka hanya diam membisu melihat buku tersebut dengan sesakma.

"Sang kegelapan dan sang cahaya jika terlahirkan akan dapat menggunakan semua jenis elemen sihir yang ada di dunia ini. Dan yang paling penting, mereka dapat menggunakan salah satu dari elemen pencipta dunia ini. Sang kegelapan bisa menggunakan elemen kegelapan dan sang cahaya bisa menggunakan eleman cahaya" Jelas Yuka lagi dan berhenti sejenak.

"Di dalam buku ramalan ini sebenarnya telah tertulis dengan jelas sekali. Jika terlahirkan sang kegelapan akan menjadi makhluk terbahaya dan terkuat di dunia ini. Dia adalah makhluk yang tidak terkalahkan, kekuatannya adalah kekuatanyang tidak dapat diterima akal sehat siapapun. Dan satu-satunya yang mampu menandinginnya di dunia ini mungkin hanyalah sang cahaya."

"Mungkin? Maksudnya?"

"Bukannya Yuka dari awalnya sudah mengatakan kemungkinan besar yang akan menang dalam pertarungan itu adalah sang kegelapan. Satu-satunya yang dapat mengalahkan sang kegelapan di dunia ini hanyalah sang cahaya yang memiliki elemen cahaya. Namun, jika terlahirkan sang cahaya pasti akan lebih lemah daripada sang kegelapan."

"EH!"

"Para keturunan dan murid penyihir besar Azumi yang mengetahui hal itupun tidak tinggal diam. Mereka melakukan semua cara untuk mengantisipasi akhir dunia ini. Karena itulah mereka menciptakan berbagai senjata sihir-sihir kuno yang kini tersegel dengan rapat dalam ruang bawah tanah istana Theoden." Lanjut Yuka.

"Senjata sihir-sihir kuno?"

"Iya. Mereka menciptakan banyak sekali senjata-senjata dengan kekuatan penghancur yang sangat besar untuk menghadapi sang kegelapan jika dia terlahirkan. Dan apakah kalian tahu dengan pedang sihir Shire yang ada dalam perguruan sihir Ernil di kerajaan Arathorn?"

"Pedang sihir yang tidak bisa dicabut dan tidak diketahui siapa pembuatnya itu?

Yuka mengangguk kepalanya "Pedang itu sebenarnya merupakan pedang yang dibuat oleh penyihir besar Azumi. Pedang itu dibuat dengan mengunakan besi sihir yang tidak dapat ditemukan lagi di dunia ini. Pedang itu tidak akan dapat dicabut siapapun karena penyihir besar Azumi telah menyihir dan mengukir nama sang cahaya dalam pedang tersebut."

"Berati siapapun yang mampu menarik pedang iyu sudah seratus persen sang cahaya'kan?" tanya Izumi sambil tersenyum.

"Tidak. Sang kegelapan juga bisa mencabut pedang itu."

"EH! Kenapa?"

"Karena besi yang digunakan untuk membuat pedang itu mengandung elemen cahaya dan kegelapan. Pedang itu memang pedang cahaya, dan pedang itu pasti akan menolak sang kegelapan. Tapi, karena bagaimanapun juga terdapat sedikit elemen kegelapan dalam pedang itu, sang kegelapan mampu mencabutnya walaupun pedang itu tidak akan pernah menjadi miliknya."

"Kalau begitu kenapa dia membuat pedang dari besi yang mengandung elemen cahaya?" tanya Izumi bingung.

"Kegelapan sangat kuat dan tidak tersentuh. Satu-satunya cara membunuhnya adalah mengghancurkan jantugnya. Namun, sisik dibadannya sangat kuat dan tidak dapat dilukai. Karena itulah penyihir besar Azumi memilih besi sihir yang mengandung kegelapan dan cahaya. Sisik hitam kegelapan akan menerima pedang tersebut yang memiliki elemen yang sama dengannya, namun elemen cahaya yang ada dalam pedang tersebut akan melukai sang kegelapan. Satu-satunya senjata yang bisa melukai sang kegelapan jika dia kembali ke wujud aslinya hanyalah pedang sihir Shire."

"Rumit sekali.."

Yuka tertawa "Memang sangat rumit."

"Tapi, aku tetap tidak mengerti. Kenapa keturunan penyihir Azumi dan para muridnya merahasiakan ini pada semua orang?"

"Karena mereka tidak ingin menakuti semua orang. Jika semua orang mengetahui maksud dari ramalan ini, mereka pasti akan gempar. Mereka tidak ingin semua orang yang ada di dunia ini ketakutan."

"Lalu, kenapa kau menceritakan ini semua pada kami, Yuka? Bukankah ini adalah rahasia?" tanya Ioran bingung.

Yuka tersenyum dengan lebar "Kalian berdua mempercayaiku saat tidak ada seorangpun yang mempercayai ucapanku akan tanah lonsor di desa itu padahal kalian baru bertemu denganku selama satu bulan. Aku sangat berterima kasih untuk itu, karena itulah aku bisa menceritakannya pada kalian, aku mempercayai kalian."

"Aku merasa terhormat karena dipercayaimu, Yuka." Tawa Ioran sedangkan Izumi hanya diam membisu. Dia sangat terpesona akan senyum Yuka hingga dia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun.

"Izumi, kenapa dengan wajah Yuka? Kenapa kau terus menatapnya seperti itu? Apa panah dewi cinta sudah membidik hatimu?" goda Kaoru sambil tersenyum menyeringai.

"Eh! I-Itu tidak benar.. A-Aku.." Sangkal Izumi dengan wajah merah padam sedangkan Yuka segera menundukkan kepalanya ke bawah dengan wajah merah padam.

"Iya-iya, aku tahu. Yuka kau hebat juga ya? Bisa membuat pangeran bodoh yang selama ini tidak pernah jatuh cinta itu jatuh hati padamu" Tawa Kaoru semakin menggoda Izumi dan Yuka.

"Kaoru!" teriak Yuka dan Izumi bersamaan.

"Kita semua sudah dewasa, jadi tidak perlu malu-malu lagi."

Izumi ingin membuka mulutnya untuk membalas ucapan. Namun suara seorang dayang yang berjalan mendekati mereka menghentikannya

"Yang mulia pangeran Izumi, Yang mulia raja mencari anda."

Izumi segera menolehkan kepalanya menatap dayang itu "Iya. Aku mengerti, terima kasih."

"Pergilah sana, Yuka sudah menjelaskan semuanya padamu bukan?" Perintah Shiki tiba-tiba mengusir Izumi.

"Iya-iya. Aku tahu, aku akan mencari kalian lagi setelah urusanku selesai. Ayo, ioran." Balas Izumi kesal sambil bangkit dari tempat duduknya dan menarik Ioran mengkutinya.

"EH! EH! Jangan tarik aku seperti itu, Izumi!" teriak Ioran.

Yuka dan Kaoru tertawa melihat sikap Izumi dan Ioran, sedangkan Shiki hanya diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi dan bergumam kurang kerjaan dengan pelan.

Sepeninggalan Izumi dan ioran, Kaoru menolehkan wajahnya menatap Yuka.

"Kenapa kau menceritakan itu semua pada mereka berdua, Yuka? Bukankah itu terlarang? Satu-satunya yang mengetahui kebenaran akan ramalan itu hanyalah kau, keturunan langsung dari penyihir besar Azumi, aku dan Shiki, keturunan murid penyihir besar Azumi dan keluarga kerajaan Theo.."

"Aku ingin mereka berdua mengetahui apa yang akan kalian berdua lakukan." Potong Yuka tiba-tiba.

Mata Kaoru dan Shiki terbelalak mendengar ucapan Yuka.

"Waktu akan segera tiba. Waktu yang tersisa hanya tinggal satu tahun saja.. Aku tahu kau mencintai Ioran, Kaoru. Dan Shiki, meski kau selalu mempermainkan Izumi, aku tahu kau sebenarnya menyukainya dan menggapnya sebagai sahabat. Aku ingin mereka mengetahui apa arti dari pengorbanan kalian kelak. Aku ingin mereka mengerti akan jalan hidup yang telah kalian pikul sejak kalian dilahirkan." Lanjut Yuka dengan mata penuh air mata.

Kaoru dan Shiki menhela napas mendengar ucapan yuka itu. Dengan pelan Kaoru mengangkat tangannya menghapus air mata Yuka.

"Jangan menangis, Yuka. Bukan'kah Shiki sudah mengatakan dengan jelas. Ini adalah sebuah kebanggaan." Ujar Kaoru sambil tersenyum.

"Benar. Itu adalah kebanggaan dan kehormatan yang tidak ternilai harganya walau tidak ada sorangpun yang tahu." Tambah Shiki.

Yuka tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya mengangkat tangannya dan memeluk Kaoru dan Shiki dengan erat sambil menangis.

"Aku tidak peduli itu semua, aku hanya ingin kita semua hidup bersama dan tertawa bahagia seperti hari-hari ini.."


Akhirnya aku update juga! Maaf untuk update yang lama banget, aku sebenarnya mau mengupdatenya semalam, tapi karena tidak sempat ku edit dan juga sudah terlalu ngantuk, ya, jadi update hari ini loh. Maaf ya! Akhir-akhir ini aku kehilangan mood untuk mengetik fic ini. Pikiranku lari ke sana lari ke sini hingga, yang aku update terus itu ternyata fic "petak umpet terakhir dan boyfriend and best friend". Tapi alasan kenapa aku kehilangan mood mungkin karena dalam fic ini, chapter berikutnya merupakan chapter yang paling tidak ingin aku ketik, sebab…. Sebab tidak ada NxM-nya. T_T, Aku benar-benar tidak ingin mengetik bagian ini loh, malah kalau bisa, aku mau menghilangkannya tapi demi menjelaskan semua teka-teki fic ini, maka mau tak mau aku tetap wajib mengetiknya. Aku tidak tahu, kapan aku akan mengupdate fic ini lagi, tapi aku akan berusaha untuk menupdatenya secepat mungkin, jadi doa'kan ya? Ha..ha..ha.. Kurasa sudah banyak orang yang bisa menebak plot chapter ini dari awalnya, semua teka-teki siapa NxM telah terjawab dalam chapter ini, dan chapter berikutnya aku akan menjelaskan kenapa NxM bisa memiliki rupa KxY, bagaimana Izumi bisa mati, mengapa Yoichi bisa tersesat sendirian. Uh! kayaknya fic ini sudah bakal mulai memasuki bagian-bagian sedihnya.. Haih… See Ya! ^^

Oh iya, hamper lupa aku! Terima kasih buat semua yang meriview fic ini selama ini! Fic ini ternyata sudah pecah 200 review! Thx a lot!

Icha yukina Clyne : kayak chapter ini sudah menjawab semua pertanyaan mu ya!^^ Kurasa chapter ini sudah tidak mengagetkan semua orang, karena itu tunggu sjaa chapter depan, yang kemungkinan besar tidak ada NxMnya T_T!

Mochiizuki : Thx. Iya. Itu Mikan kok! Semoga chapter ini tidak akan mengecewakanmu ^^

Yukina Itou Shepiiena Kitami : Jangan menangis dulu, belum masuk ke bagian sedihnya lagi ^^, tapi aku yakin, tidak lama lagi kok, semoga saat itu tiba aku bisa membuat siapapun yang membaca fic ini bakal iba terhadap beberapa tokoh yang nasibnya.. Well kurang beruntung.. mungkin.. ha..ha..ha..

Kuroichibhineko : Syukurlah kalau kau tidak mengecewakanmu. Kuharap chapter ini dan chapter ke depannya juga tidak akan mengecewakanmu. Ketahuilah, kepalaku benar-benar sakit memikirkan cara mengetiknya. Idenya memang ada dalam otak bagaikan air mengalir, tapi tidak tahu mengapa tanganku sama sekali tidak sejalan dengan otakku. Menurutmu caraku menjelaskan siapa NxM itu sebenarnya terlalu berlebihan dan aneh gak?

Thi3x : THXXXXXX utk bantuannya! Aku benar-benar senang sekali! Ya chapter ini sudah menjelaskan siapa sebenarnya NxM itu! Mereka bukan makhluk hasil eksprimen kok, tapi..ya tunggu saja kedepannya lagi.. ha..ha..ha.. eh, sopan tidak ya, aku? Reviewmu panjang banget, tapi balasanku kok pendek banget! Sorry ya! Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana membalas review mu itu, ha..ha..ha..

Daiyaki Aoi : iya, selamat ya! Thx tuk pujiannya ^^ Nah, Mikan belum mati kok! Ha..ha..ha.. tapi aku membuatnya kelihatan seperti mati dichapter sebelumnya karena ada alasannya kok, aku tidak mungkin membuat Natsume mengira Mikan mati tanpa alasan kok. Walau alasannya mungkin akan terlihat sangat klise dan hanya berakhir dalam satu kalimat. Ha..ha..ha…

Bluedephyl : Thx tu reviewnya! ^^ gak apa-apa kok, aku sudah cukup senang karena kau bersedia untuk mereviewnya. Ha..ha.. semoga chapter ini tidak mengecewakanmu, dan aku akan berusaha untuk update secepatnya ^^

Hyuga Kikyou : Tahan air matamu, jangan membuang air matamu dulu, fic ini benar-benar belum masuk ke bagian sedihnya, tunggu chapter-chapter berikutnya ^^ Siapa NxM mungkin sudah terjawab dan apa hubungan mereka dengan KxY akan aku jawab dichapter berikutnya

Kazuki NightNatsu : iya. Benar! Lanjutkan… ha..ha..ha..

Jim-li : thx bgt sudah membaca fic-ficku yang aneh bin ajaib ini ^^ Aku senang sekali kalau ternyata karya-karyaku ini bisa menghiburmu. Untuk The Pray.. aku tidak tahu kapan aku akan mengupdatenya, tapi rencananya aku baru akan mengupdatenya setelah aku menyelesaikan TODAL. Dan mungkin memang benar sih! Sosok Natsume di fic ini sedikit terinspirasi Izaku dalam dunia mimpi ( Tapi ide crita ini muncul benar-benar bukan karena dunia mimpi loh! Sang kegelapan dan sang cahaya, kata ini muncul dengan sendirinya dari kepalaku saat itu ) ya wujud Natsume di sini mau tidak mau harus aku akui adalah campuran dari Izakunya dunia mimpi, Sasukenya Naruto dan Shivanya Lis lyly. ..ha… Yosh tenang saja! Aku akan terus berkatya kok! ^^

Little Yurai : iya. Itu Mikan kok^^ Aku sudah update nih! Semoga chapter ini tidak mengecewakanmu ^^

Author's note : Pertanyaan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan fic ini. Aku hanya ingin bertanya, antara Vampir dan Peri mana yang kalian pilih? Atau kalian tidak akan memilih di antara duanya? Aku akan sangat senang jika kalian bersedia menjawabnya ^^