Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 28: Raven and Snow White
"Sepertinya kita punya masalah di sini," gumam Will pelan. Dia menyentakkan tangannya dan sebuah pistol meluncur dari lengan bajunya dan mendarat di telapak tangan kanannya yang terbuka.
"Jangan pakai senjata!" seru Elliot. "Kau bisa menyakiti Gil!"
"Aku tahu," kata Will. "Aku hanya akan menggunakannya kalau kita benar-benar terdesak. Lagipula, pistol ini bukan berisi peluru biasa, tetapi peluru bius."
"Kalian berdua, jangan ribut terus!" pekik Ann kesal ketika dia melihat Will dan Elliot.
"Kami tidak rib… Ann! Di belakangmu!" seru Will untuk memperingatkan gadis itu. Tanpa menoleh ke belakang, Ann segera meloncat dan bersalto di udara ke belakang ketika mendengar peringatan Will. Untung saja, karena Gil baru saja menerjang ke arahnya dengan kekuatan yang bisa mematahkan leher.
Ann mendarat dengan kedua kakinya dan menatap Gil dengan terkejut, "Sejak kapan dia mengincarku seperti itu? Kalau Will tidak memperingatkanku tadi, mungkin aku sudah jadi mayat sekarang! Dia gila atau apa?"
"Dia tidak gila, tubuhnya dikendalikan oleh Raven, dan kau tahu bagaimana sifat chain," Reo menjelaskan.
"Sejujurnya, aku tidak tahu. Ini pertama kalinya aku berhubungan dengan apapun yang kalian sebut chain ini!"
"Guys, cukup bicaranya!" kata Oz ketika Gil membalikkan badannya. Tatapan kedua mata merahnya kini terpancang ke arah Ada. Gil terdiam sementara dia terus menatap Ada, sementara Ada mulai melangkah mundur.
"Ada? Kusarankan kau… Awas!" teriak Oz putus asa ketika Gil tiba-tiba menerjang ke arah adiknya.
Untung saja Ada mempunyai refleks yang bagus. Dia segera meloncat ke samping dan jatuh berguling sebelum berhenti tepat di samping ubin jebakan yang dulu ditunjukkan oleh Zwei kepadanya.
"Nyaris…" gumam Ada dengan lega.
Tetapi, masalah masih jauh dari selesai, karena Gil sama sekali tidak menghentikan larinya walaupun Ada sudah tidak ada di depannya. Sekarang, orang yang menghalangi jalan Gil adalah…
"Sharon!" seru Echo ketika dia melihat temannya berada di dalam bahaya.
Sharon sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengincarnya, karena dia sedang sibuk berusaha mengeluarkan pisaunya dari sepatunya. Ketika dia mendongak karena mendengar peringatan Echo, Gil hanya tinggal beberapa langkah darinya. Tahu kalau dirinya tidak mungkin menghindar tepat pada waktunya, Sharon menghunus pisaunya untuk membela dirinya. Dia tidak ingin menyakiti Gil, tetapi, mau bagaimana lagi?
Melihat Sharon berada di dalam bahaya, Break tidak diam saja. Dia segera berlari menuju Sharon, mengabaikan teriakan panik dari teman-temannya yang menyuruhnya berhenti. Dia menubruk tubuh Sharon tepat pada waktunya, mendorong gadis itu menjauh dari jalur bahaya.
"Jangan bengong!" tegur Break setelah dia dan Sharon kembali bangkit berdiri.
"Gomen," Sharon meminta maaf. "Omong-omong, terim… Awas mejanya!"
Mendengar peringatan Sharon, Oz segera menyelamatkan Kotak Pandora yang masih berada di atas meja, tidak mempedulikan darah Gil yang masih melumuri kotak itu. Untung saja, karena meja tempat Kotak Pandora biasanya disimpan hancur oleh cakar Gil sesaat setelahnya.
Tunggu, cakar?
"Sejak kapan dia punya cakar?!" tanya Alice sambil berteriak untuk mengalahkan suara benda-benda yang dihancurkan oleh Gil. Kuku-kuku jari milik Gil telah tumbuh sepanjang beberapa senti dengan bentuk yang semakin meruncing, mirip dengan cakar. Alice berani bersumpah kalau tangan Gil masih normal beberapa saat sebelumnya.
"Ini gawat! Raven semakin menguasai tubuhnya," gumam Reo.
"Elliot!" hardik Ada kepada Elliot yang hanya bisa berdiri diam. "Jangan bengong saja!"
"Eh?" jawab Elliot dengan terkejut. Ketika melihat Raven lepas kendali, Elliot sama sekali melupakan tugasnya. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Tampar saja kakakmu," saran Reo.
"Kau yakin?" tanya Elliot dengan ragu.
"Kecuali kalau kau mau Will membius kakakmu!" kata Aire sambil menunjuk ke arah Will, yang sudah mengarahkan laras pistolnya ke arah Gil yang terus mengamuk.
"Aku siap menembak kapan saja!" Will memperingatkan.
"Kurasa aku tidak punya pilihan lain," gumam Elliot. Dia segera berlari ke arah kakaknya, yang entah kenapa sekarang sedang mengincar Echo.
Echo, yang belum pulih sepenuhnya, berusaha menghindar dari serangan-serangan Gil. Gerakan gadis itu tidak selincah dulu. Elliot tahu Echo tidak bisa menghindar dari serangan kakaknya terus menerus. Cepat atau lambat, gadis itu akan kalah.
"Oi, Gil! Atau Raven! Apapun lah!" teriak Elliot untuk mengalihkan perhatian Gil, atau Raven, dari Echo.
Usahanya berhasil. Gil menoleh ke arah Elliot, kedua mata merahnya memancarkan tatapan membunuh yang nyaris membuat Elliot berhenti di tempat. Elliot harus berulang kali mengingatkan dirinya sendiri kalau orang di depannya bukan Gil, tetapi Raven.
Jarak di antara dirinya dan Gil hanya tinggal beberapa langkah lagi. Dari sudut matanya, dia melihat Ann menyeret Echo menuju zona aman. Setelah memastikan kalau teman-temannya aman, dia kembali memusatkan perhatiannya kepada kakaknya, yang masih menatapnya dengan tatapan membunuh yang sama.
"Oi, Gil! Sadarlah!" seru Elliot sebelum dia menampar kakaknya dengan keras.
Bukannya sadar, Gil malah tampak semakin mengamuk karena tamparan itu. Dengan sapuan dari tangan kanannya, dia menepis Elliot ke samping seakan-akan Elliot hanyalah sebuah boneka kain.
Sebelum Elliot menyadari apa yang telah terjadi, dia telah melayang ke sisi lain ruangan dan tubuhnya menabrak dinding dengan suara debuman yang keras. Dengan sebuah erangan, tubuhnya merosot kembali ke lantai dan dia tetap berbaring di situ, terlalu kesakitan untuk berbicara apalagi bergerak.
"Bahkan Elliot tidak mampu menyadarkannya?" kata Reo takjub.
"Mungkin Vincent bisa menyadarkannya," usul Sharon. Dia merunduk untuk menghindari sepotong kayu yang berasal dari meja yang hancur yang dilemparkan oleh Gil ke arahnya.
"Masalahnya, Sharon, kita tidak mungkin membawa Vincent ke sini!" jawab Break.
"Erm, teman-teman?" tanya Ada dengan gugup untuk mengembalikan perhatian teman-temannya yang sempat terbagi karena kegagalan Elliot dalam menenangkan Gil. "Kurasa kita punya masalah baru!"
Oz, Echo, Sharon, Break, Reo, Alice, Ann, Aire dan Will kembali memusatkan perhatiannya kepada Gil, yang sedang berusaha untuk membuka pintu ruangan. Rupanya Raven telah bosan bermain di ruangan itu dan ingin keluar dari sana.
"Kita harus menghentikannya!" kata Aire dengan khawatir. "Kalau guillotine itu tidak memotongnya menjadi dua terlebih dahulu, aku tidak berani memikirkan apa yang akan dia hancurkan di luar sana!"
Tepat pada saat itu, Gil berhasil membuka pintu keluar, mengagetkan orang yang berada di baliknya.
"Demi Tuhan!" pekik Revis terkejut ketika dia melihat Gil, lengkap dengan mata merah dan cakarnya. "Apa yang kalian lakukan kepada teman kalian?"
Tetapi kemunculan Revis tidak hanya mengagetkan mereka, tetapi juga Raven yang berada di dalam tubuh Gil. Ketika melihat Revis, Gil sempat ragu-ragu sejenak. Itu memberikan cukup waktu bagi Revis, yang sudah pulih dari keterkejutannya, untuk kembali menutup pintu dan menguncinya dari luar.
"Bilang kalau kalian sudah selesai dengan apapun yang kalian lakukan di dalam sana!" yang lain bisa mendengar suara Revis yang teredam oleh dinding.
"Trims, Rev!" seru Ann.
"Sisi baiknya, dia tidak akan bisa keluar," gumam Will. Jari telunjuknya kini sudah siap menekan picu pistol bius miliknya, "Sisi buruknya, kita terjebak di sini. Maaf, tapi aku harus mengambil langkah ini!"
Tanpa menunggu persetujuan dari teman-temannya, Will menembakkan pistol biusnya. Peluru itu melesat ke arah Gil dengan kecepatan mematikan, tetapi Gil hanya menepisnya ke samping dengan tangan kosong.
Ann mendecakkan lidahnya, "Ini kali pertama aku melihatmu menembak dan tidak mengenai sasaran, Will!"
"Diam!" gumam Will, gusar karena tembakannya gagal. Dia kembali meletakkan jari telunjuknya di atas picu, siap untuk kembali menembak.
"Will? Kusarankan kau tidak menembaknya lagi," saran Break. "Itu hanya membuatnya semakin marah."
Benar saja. Ketika Will mendongak, dia bisa melihat Gil menatapnya dengan tajam. Nafsu membunuh yang sangat kuat menguar dari tatapannya.
"Sepertinya aku berada di dalam masalah," komentar Will datar.
Pada saat itu juga, terdengar suara kain yang robek memenuhi udara. Ketika mereka mencari sumber suara robekan itu, mereka menyadari kalau bagian punggung kemeja yang dipakai yang dipakai oleh Gil robek di dua bagian. Dari kedua robekan horizontal itu, sebuah sayap gagak raksasa mulai tumbuh di punggung Gil.
"Ini buruk sekali," kata Reo gugup. "Raven benar-benar sudah menguasai tubuh Gil! Kalau kita tidak bisa menghentikannya dalam waktu dekat, berikutnya paruhnya yang akan tumbuh!"
"Reo? Kau bercanda kan?" tanya Alice. "Walaupun pengetahuanku tentang tubuh manusia sangat terbatas, setidaknya aku tahu kalau manusia tidak mungkin menumbuhkan sayap, apalagi paruh!
"Tidak, aku serius!" balas Reo. "Chain bisa meregenerasi dan merekayasa sel-sel tubuh dengan mudah! Jadi, bukan mustahil kalau Raven akan membuat tubuh Gil menumbuhkan paruh!"
"Ralat," Will mengoreksi dengan nada tenang, pandangannya tidak lepas dari sosok Gil yang berada di depannya dan sayap gagak berwarna hitam legam selebar satu depa di punggungnya yang mendominasi ruangan yang dulunya serba putih itu. "Aku berada di dalam masalah yang jauh lebih besar daripada sebelumnya."
Gil menerjang ke arah Will dengan kecepatan tinggi, sayap gagaknya yang sudah tumbuh dengan sempurna semakin menambah kecepatannya. Tetapi, dengan maupun tanpa sayap, Will lebih cepat daripada Gil. Dia sudah menghilang ketika Gil sampai di tempatnya berada sebelumnya. Tidak seperti Gil, Will sudah berlatih semenjak dia kecil. Dia bisa menghindar dari serangan lawan, atau dalam hal ini, kawan, semudah membalikkan telapak tangan, walaupun dia belum pernah menghadapi lawan atau kawan yang bersayap sebelumnya.
"Reo, kalau kau mempunyai sebuah rencana di dalam kepalamu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggunakannya!" seru Will ketika dia mendarat di atas tumpukan kayu yang tadinya adalah meja.
Reo menggigit bibirnya, "Aku kehabisan ide! Ini seperti The Last Effort, dan satu-satunya orang yang bisa menghentikannya adalah orang yang paling berharga baginya. Karena Elliot gagal, kurasa Sharon benar! Kita harus membawa Vincent ke sini! Memang ada cara lain sih, yaitu menyadarkan Gil dengan cara memberikan sebuah kejutan rasa sakit yang amat sangat, seperti yang dilakukan oleh Lily kepada Break dulu!"
"Jangan mengungkit-ngungkit tentang masa lalu," gerutu Break ketika lubang tempat mata kirinya seharusnya berada berdenyut menyakitkan karena mengingat waktu itu.
"Maaf, Break! Tapi, aku memilih untuk tidak memilih pilihan kedua,"
"Kau tahu kalau itu mustahil, kan?" kata Oz. "Kita tidak mungkin bisa menculik Vincent dan membawanya ke sini sekarang juga!"
"Aku tahu itu!" ujar Reo. "Aku sedang mencoba mencari alternatif!"
"Kalau begitu, cepatlah!" hardik Ada yang sedang berlutut di samping Elliot, berusaha membantu anak laki-laki itu bangkit.
"Oi! Ini tidak semudah kelihatannya!" sahut Reo kesal. "Aku tidak tahu siapa orang yang paling berharga bagi Gil! Sepertinya aku menemui jalan buntu."
Mungkin Reo memang menemui jalan buntu, tetapi Echo tidak. Sementara dia berusaha berkelit dari serangan cakar Gil, sebuah ingatan tentang percakapannya dengan Gill beberapa bulan yang lalu menyeruak di dalam kepalanya.
"Apa mungkin?" batin Echo.
"Sepertinya memang benar," sahut Zwei dari dalam kepalanya. "Coba saja dulu!"
"Tapi…"
"Itu, atau kalian harus membuatnya terluka parah!"
Secepat kilat, Echo berlari ke arah Alice yang berada di sisi lain ruangan, berusaha melindungi Oz yang sedang melindungi Kotak Pandora. Dia menepuk pundak Alice dengan agak keras.
"Alice, tampar Gil!" perintah Echo.
"Eh?" tanya Alice bingung. "Kenapa aku?"
Reo menepukkan telapak tangannya ke dahinya, "Bagaimana aku bisa lupa? Eco benar! Alice, tampar dia!"
"Hei!" seru Alice kesal. "Kenapa harus aku?"
"Tidak usah banyak tanya! Tampar dia kalau kau tidak mau burung gagak raksasa haus darah lepas di kota!" kata Reo.
"Baiklah! Tetapi, kalau aku berakhir seperti Elliot, kalian yang bertanggung jawab!" Alice memperingatkan sebelum dia berlari menuju Gil, yang sedang menyerang Break dan Sharon.
"Apa yang kalian buat Alice lakukan?" tanya Oz bingung. Reo dan Echo sama sekali tidak berniat untuk tidak menjawab pertanyaan itu dan memilih untuk menonton apa yang akan terjadi. Melihat kalau mereka berdua tidak akan menjawab pertanyaanya, Oz mendesah dan memutuskan untuk ikut menonton sembari berdoa di dalam hati agar Alice tidak terluka.
Tidak seperti Elliot, Alice sama sekali tidak berteriak untuk mengalihkan perhatian Gil ketika dia berlari mendekat. Dia memilih untuk memotong jalan antara Break, Sharon, dan Gil dan menampar anak laki-laki itu tanpa peringatan.
"Khas Alice," gumam Oz.
"Sadarlah, Gil!" maki Alice. "Lihat apa yang telah kau perbuat!"
Efeknya langsung terlihat. Cakar tajam Gil yang tadinya mengarah ke leher Alice menyusut, digantikan oleh kuku manusia biasa. Sayap gagak di pungungnya mulai menyusut kembali dan perlahan-lahan menghilang ke dalam kulit punggungnya kembali. Warna matanya juga berangsur-angsur berubah menjadi emas kembali. Melihat perubahannya sekarang seperti melihat video pertumbuhan tanaman yang diputar ulang dengan kecepatan tinggi.
"Yokatta," gumam Elliot yang sudah mampu berdiri dengan dipapah oleh Ada. "Dia sudah kembali."
Setelah warna matanya kembali normal, Gil mengedipkan matanya selama beberapa saat dan menatap Alice yang berada di depannya dengan bingung, "Eh? Alice? Kenapa kau ada di sini?"
"Itu pertanyaan yang tidak perlu aku jawab!" kata Alice marah. "Lihat sekelilingmu! Lihat apa yang chainmu lakukan!"
Gil menatap sekelilingnya. Rasa panik dan bersalah segera memenuhi hatinya ketika dia melihat kerusakan yang disebabkan oleh dirinya sendiri selama Raven berada di dalam tubuhnya. Rasa bersalahnya semakin berlipat ketika dia melihat adiknya yang dipapah oleh Ada.
"Aku sama sekali tidak berm…"
Perlahan-lahan, kedua kelopak matanya menutup dan Gil ambruk sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya.
Kesunyian menyelimuti ruangan itu. Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang harus mereka lakukan sekarang. Walaupun usaha untuk menenangkan Gil hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit, tenaga semua orang yang berada di ruangan itu sudah terkuras habis.
"Sekarang aku baru benar-benar tahu kenapa kita tidak boleh membiarkan chain berkeliaran dengan bebas di dunia ini," gumam Sharon yang diikuti oleh anggukan setuju dari teman-temannya. Merobohkan satu chain saja sudah sesulit ini,bagaimana caranya mereka bisa merobohkan semua chain yang berada di Abyss kalau mereka benar-benar berkeliaran di dunia ini?
Gedoran di pintu mengagetkan mereka semua. Suara Revis yang sedikit teredam terdengar oleh telinga mereka.
"Hei, apa kalian sudah selesai?"
.
Revis sudah mempelajari tentang anatomi manusia sejak entah kapan. Tetapi, tidak ada satupun pengetahuan yang dia dapatkan selama bertahun-tahun yang bisa menyiapkannya untuk mendengar cerita tentang apa yang terjadi di ruang Pandora.
Revis memijat-mijat pelipisnya setelah Ann selesai menceritakan apa yang terjadi, "Jujur saja, ini semua membuatku pusing! Kalau saja aku tidak sedang kebetulan lewat dan melihat Gil dengan mata merahnya, aku akan bilang kalau kalian sedang bergurau!"
"Masalahnya, kami tidak sedang bergurau, Revis!" sahut Reo. Dia, Oz, Ann dan Ada sedang berada di ruang klinik sementara Revis sedang mengurus Gil, yang masih belum sadar.
"Dia akan baik-baik saja, kan?" tanya Oz khawatir.
"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan. Regenerasi sel membutuhkan energi yang besar. Walaupun Raven menggunakan energinya untuk meregenerasi dan merekayasa sel-sel Gil, dia tetap mengambil sebagian besar energi yang dimiliki oleh Gil," Revis menjelaskan. "Dulu, ketika Pusat Penelitian tempat aku sebelumnya bekerja belum terbakar, aku dan Miranda pernah mencoba untuk membuat manusia yang bisa meregenerasi sel-sel tubuhnya sendiri dengan cepat."
"Dan bagaimana hasilnya?" tanya Ada penasaran.
"Gagal total. Subjek-subjek penelitian kami tidak pernah bisa bertahan hidup cukup lama karena energi hidup mereka selalu terkuras," jawab Revis dengan nada datar.
"Oh," respon Ada dengan suara kecil.
"Kami juga pernah mencoba membuat manusia bersayap. Entah sudah berapa eksperimen yang kami lakukan untuk mewujudkan itu, tetapi selalu gagal. Akhirnya,kami menyerah dan kami mengambil kesimpulan kalau manusia memang tidak ditakdirkan untuk memiliki sayap. Titik."
"Eksperimen apa saja yang kau lakukan di sana, Revis?" tanya Ann.
"Kalau kau mau tahu, tanya saja Alice." jawab Revis ketika dia merapihkan selang infus yang tersambung ke tangan kanan Gil.
"Lupakan saja," gumam Oz. Masa-masa yang dihabiskannya sebagai kelinci percobaan adalah salah satu dari sedikit topik yang sensitif bagi Alice, selain tentang Alyss dan hubungan mereka dengan Lacie. Menanyakan hal-hal itu kepada Alice sama saja dengan bunuh diri.
"Kapan dia akan bangun?" tanya Reo untuk mengganti topik.
"Paling lama dia akan bangun dalam dua hari. Dia perlu memulihkan energinya," jawab Revis.
"Kalau begitu, mungkin dalam waktu seminggu, kita sudah bisa beraksi," kata Oz. "Mungkin aku perlu mengontak Dark Sabrie untuk mengatur kapan pertempuran terakhir ini akan dilaksanakan dan apa saja syarat-syaratnya. Ada saran?"
"Kalau kau mau mengontak mereka, gunakan telepon umum," saran Ann. "Aku tidak ingin membeberkan lokasi kita kepada mereka."
"Oke. Tapi apa kalian punya nomor telepon Clockwork?" tanya Oz lagi.
Ann tersenyum misterius, "Tentu saja! Kau kira apa yang mata-mata kami lakukan di sana? Bergosip?"
.
"Lima… Tiga… Tujuh…" Break bisa mendengar gumaman Oz dari balik bilik kaca telepon umum yang sedang dia sandari. Dia bertugas untuk melindungi Oz selama dia membuat perjanjian dengan Dark Sabrie. Beberapa meter di depan Break, bersandar di dinding depan sebuah toko dengan ekspresi melamun, adalah Elliot.
"Halo, Glen," sapaan lirih Oz dapat terdengar oleh Break yang berada di luar bilik. "Sudah saatnya kita mengakhiri semua ini."
Break tidak bisa mendengarkan jawaban Glen, tetapi dia bisa mendengar Oz berkata, "Tidak, kami tidak akan menyerahkan Kotak Pandora kepada kalian."
Mempercayai Oz untuk membuat perjanjian dengan Dark Sabrie, Break memusatkan seluruh perhatiannya kepada tugasnya. Dengan sapuan malas mata kanannya, dia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, mencari orang yang pantas untuk dicurigai.
"Ya, kalian bisa melakukan cara apapun untuk menang, bahkan cara terkotor sekalipun. Tentu saja, kami bisa melakukan hal yang sama!"
Break menaikkan alis kanannya. Beberapa meter di hadapannya, dengan mata setengah terpejam, Elliot menggeleng dengan tidak kentara, tanda kalau dia juga tidak melihat orang yang pantas dicurigai.
"Selama itu tidak menyakiti orang yang tidak bersalah, aku tidak keberatan."
Sebuah siulan pendek terdengar oleh Break, tanda dari Elliot kalau dia melihat orang yang mencurigakan. Break membalas dengan dua kali siulan pendek, tanda kalau dia mengerti dan bertanya ada di mana orang yang mencurigakan itu. Dari sudut matanya, Break melihat Elliot sedikit menelengkan kepalanya ke arah kiri.
Dengan gerakan santai, Break menolehkan kepalanya ke arah kiri, mencari orang yang dicurigai Elliot. Jantungnya nyaris berhenti berdegup ketika dia melihat seseorang yang memakai jaket merah menyala dengan tudung dinaikkan berdiri tidak jauh darinya.
"Bagaimana Doug bisa ada di sini?" pikir Break bingung. Tanpa sadar, Break semakin menurunkan ujung topi yang dipakainya untuk menyembunyikan wajah dan warna rambutnya yang mudah dikenali.
Tidak ada tanda-tanda kalau Doug telah melihatnya, tetapi Break yakin kalau Doug telah mengetahui niat Oz. Kecurigaannya terbukti ketika dia bisa mendengar Oz berseru "Apa?!" di belakangnya. Dark Sabrie telah mengetahui rencana mereka. Dalam hati, Break berdoa agar Dark Sabrie tidak mengetahui tentang rencana mereka hingga ke detailnya.
Tampaknya Doug sudah menyadari kalau penyamarannya telah diketahui oleh Break dan Elliot, karena dia membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah menjauh. Break terus memperhatikan anak laki-laki itu hingga sosoknya hilang ditelan kerumunan.
Beberapa saat kemudian, pintu bilik terbuka dan Oz melangkah keluar. "Apa kalian melihat salah satu anggota Dark Sabrie tadi?" tanyanya kepada Break.
Break mengangguk pelan, "Doug,"
"Argh!" Oz membenturkan kepalanya ke kaca bilik itu. "Seharusnya aku sudah menduganya! Si Baskerville keparat itu dengan santainya berkata, "Eh, omong-omong, bukan hanya kau yang punya mata-mata, lho!" Dan ketika aku bertanya lebih lanjut, dia memutuskan teleponnya!"
"Yang sudah terjadi, terjadilah," kata Break dengan nada datar.
"Jadi, kapan tanggal mainnya?" tanya Break selagi mereka berdua menunggu Elliot bergabung dengan mereka.
"Dua minggu lagi!" gumam Oz. "Demi Tuhan! Aku berharap siapapun mata-mata itu, dia tidak membocorkan tentang rencana kita kepada DS!"
.
Alice menggigit sebuah apel berwarna merah ranum dengan suara keras. Perilakunya itu mendapatkan lirikan tidak suka dari Sharon yang berjalan di sebelahnya.
"Yang sopan sedikit, Alice!" tegurnya.
Alice tidak mengindahkan teguran Sharon dan malah menawarkan apel lain yang diambilnya dari kantong plastik berisi buah-buahan yang dipegangnya kepada Sharon, "Mau?"
Sharon memutar kedua bola matanya, tetapi dia menerima apel itu. Dia lapar, dan mereka berdua membeli cukup banyak apel tadi. Satu buah apel yang kurang tidak akan membuat terlalu banyak perbedaan, kan?
Mereka berdua berjalan dengan santai sembari menikmati apel di tangan mereka. Cahaya senja yang keemasan menyinari jalan yang mereka berdua lalui. "Sore yang tenang setelah pagi yang menghebohkan," pikir mereka berdua.
"Aku bertanya-tanya apakah Gil sudah sadar sekarang," gumam Alice di antara gigitannya.
"Aku tidak tahu," Sharon mengakui. "Mungkin kita bisa membuatnya sadar dengan apel-apel ini. Dia suka apel, kan?"
"Mungkin?"
Mereka berdua sampai di depan rumah mereka. Alice membuka pintu dan mereka berdua segera masuk ke dalam dan bergegas ke ruang makan. Mereka berdua meletakkan barang-barang belanjaan mereka di atas meja dan mulai membereskannya.
"Jam empat sore," kata Sharon ketika dia melihat jam dinding. "Mereka bertiga belum kembali juga, ya?"
"Kuharap mereka bisa menangani semua itu dengan lancar," sahut Alice. "Aku ingin mengakhiri ini semua dan menjalani sisa hidupku dengan damai."
"Memangnya kau sudah siap bertempur, Alice?" tanya Sharon. Kedua tangannya sibuk menata buah-buahan yang mereka beli tadi di sebuah piring lebar.
"Aku selalu siap," jawab Alice dengan penuh percaya diri.
"Hei! Kalian berdua!"
Alice dan Sharon menghentikan pekerjaan mereka dan segera mencari sumber panggilan itu. Rupanya yang memanggil mereka berdua adalah Esther yang baru saja memasuki ruang makan.
"Halo, Esther!" sapa Sharon. Esther mengangguk untuk membalas sapaan Sharon.
"Kalian berdua, ikut aku! Aku perlu mencari senjata yang cocok untuk kalian!" katanya.
"Ini semua?" tanya Sharon sambil menunjuk belanjaan mereka yang belum sempat mereka bereskan.
"Tinggalkan saja!" jawab Esther. Alice dan Sharon menurut dan mengikuti Esther ke ruang bawah tanah.
Lima belas menit kemudian, Ann memasuki ruang makan ketika dia ingin mencari kudapan sore. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika dia melihat barang- barang belanjaan yang masih berserakan. "Dasar orang-orang tidak bertanggung jawab," gumamnya.
Ann segera membereskan ruang makannya. Dengan sigap, dia memasukkan sayuran dan sebagian buah-buahan ke dalam kulkas dan menata sisanya di atas piring, siap untuk diantarkan ke klinik. Dia menyimpan barang-barang lain di sebuah lemari. Setelah melipat dan memasukkan kantung-kantung plastik di laci, Ann memandang ruang makannya yang kini sudah kembali rapih dengan puas.
"Begini baru bagus," gumamnya.
Dengan tangan kanannya, dia menyambar sebutir apel dari sebuah piring.
.
Hari sudah mulai gelap ketika Oz, Elliot dan Break berjalan pulang.
"Jadi, ada mata-mata di Reinhart juga?" tanya Elliot.
"Ya," jawab Oz dengan ekspresi suram. "Kuharap mereka tidak mengetahui semua rencana kita! Kalau iya, matilah kita!"
"Menurutmu, siapa mata-mata itu?" tanya Break.
"Siapa yang tahu?" Oz mengangkat bahunya. "Dengan pertempuran yang akan terjadi dalam waktu dekat, kita tidak bisa terlalu memikirkannya."
"Jadi, kita tidak memberitahu yang lain?"
"Jangan dulu," kata Oz ketika mereka bertiga sampai di depan pintu rumah kos mereka.
"Aku lapar," gumam Break ketika mereka semua sudah berada di dalam rumah.
"Aku juga," kata Elliot. "Ayo kita ke ruang makan! Mungkin kita bisa menemukan sesuatu untuk dimakan di sana." usulnya.
Ketika mereka bertiga memasuki ruang makan, Oz tersandung sesuatu. Kalau Elliot tidak menahannya tepat pada waktunya, mungkin Oz sudah terjatuh sekarang.
"Sial! Apa sih itu?" umpat Oz.
Break membungkuk dan mengambil benda yang membuat Oz tersandung. "Ini dia, Oz!"
"Apel?" tanya Elliot bingung ketika dia melihat apel merah yang sudah tergigit di tangan Break. "Siapa yang menjatuhkan apel yang baru setengah termakan ini?"
Mereka bertiga mendongak dan tersentak ketika mereka melihat seorang anak perempuan berbaring di lantai yang dingin. Rambut cokelatnya yang biasanya diikat dengan rapih kini tergerai tidak beraturan di sekeliling kepalanya. Dari suara nafasnya, mereka bisa mengetahui kalau gadis itu mengalami kesulitan bernafas. Tangan kanannya berada dalam posisi terbuka, seakan-akan dia sedang memegang sesuatu sebelum dia terjatuh tidak sadarkan diri dan benda itu bergulir menjauh darinya.
Apel itu.
"Ann?"
TBC
A/N:
Moral value 1: A good slap on the face can solve everything
Moral value 2: Don't eat an apple without permission #eh?
Oke, abaikan kedua kalimat di atas. Aoife cuma lagi stress karena gak dapet tiket AFA di indomaret depan #curcol
Dan, gomen telat update! Aoife baru pulang dari kampung halaman, dan disana gak bisa akses internet. Bisa sih, tapi lemot banget. Masa loading sampe lima menit? #curcolsesikedua
Erm, ada yang mikir cerita ini kepanjangan, gak? Jujur aja, pas pertama kali Aoife mengetik cerita ini, Aoife gak ngira kalau bakal jadi sepanjang ini, lho! Dulu Aoife pikir paling cuma sampe sepuluh chapter, tapi sampai chapter 28 juga belum beres-beres ^^v
Last, RnR, please?
