Untuk membuat Kyuhyun lebih sering berada di rumah keluarga Kim, Jaerim mengambil pekerjaan di luar. Dengan alasan itu dia akan menitipkan Kyuhyun.

Tapi masalahnya Kyuhyun sulit sekali dibujuk.

"Eomma jangan bekerja." rajuk Kyuhyun memeluk lengan Jaerim kuat.

"Tapi eomma butuh bekerja agar Kyunie bisa makan dan membeli mainan. Eomma juga bisa membayar karcis bianglala jika eomma bekerja. Eomma akan dapat uang dan Kyu bisa mendapatkan apapun yang Kyu minta."

Menggeleng, Kyuhyun keras kepala. "Kyu tidak mau apapun. Mau eomma saja temani Kyu."

"Tidak bisa, sayang." Jaerim menangkup wajah Kyuhyun meminta pengertian. Anak itu merajuk sejak Jaerim bilang akan bekerja. Yang artinya tidak bisa menemani Kyuhyun setiap waktu. "Eomma akan bekerja dan Kyunie akan bersama ahjumma Kim nanti."

Kyuhyun menggembungkan pipi, menggerakkan dengan keras kepalanya agar lepas dari tangkupan Jaerim. "Kenapa? Kyu bisa bersama appa."

"Appa juga bekerja."

"Bersama Mimi."

Jaerim tersenyum. "Semua orang bekerja."

"Ahjumma Kim tidak?"

"Ahjumma Kim memiliki kedai. Ah Kyu suka ayam, kan? Kau suka masakan ahjumma? Dia akan memberi makan pet Kyunie dengan makanan-makanan lezat nanti. Jadi pet Kyu tidak akan kelaparan. Kyu mau, ya eomma titipin disana selama eomma bekerja? Mau ya?"

"Huh!" dengus Kyuhyun masih tidak rela.

Jaerim harus bersabar. "Kyuhyun harus jadi anak baik. Tolong eomma, ne? sayang eomma, kan?"

Kyuhyun mengangguk meski wajahnya tertekuk. Jaerim tersenyum puas. Dia belum mendapat pekerjaan. Tapi pasti dia akan mencari pekerjaan.

0o0o0o0o0

Keluarga Kim menerimanya dengan baik. Apalagi Hera dia sangat senang menyambut Kyuhyun pagi itu. Dia hampir mencubit gemas pipinya saat muncul dengan boneka beruang besar dalam pelukan. Menahan dirinya, Hera mempersilahkan Jaerim masuk.

"Tidak ahjumma. Aku langsung pergi saja. Zou Mi sudah menungguku."

Hera melihat Zou Mi yang tidak ikut turun dari mobil. Mengangguk paham. "Jangan khawatir, aku akan menjaganya."

"Aku yakin itu." Jaerim beralih pada Kyuhyun yang masih cemberut. "Aigooo jeleknya wajah ini." mencubit gemas kedua pipi Kyuhyun. "Eomma pergi. Ingat jadi anak baik dan eomma akan bangga pada Kyunie."

Kyuhyun tidak membalas. Tetap memasang wajah merengut. Jaerim merentangkan kedua tangan. "Tidak mau peluk sebelum eomma pergi?"

Kyuhyun bergerak maju. Membuka dekapannya dari boneka lalu memeluk Jaerim. "Eomma cepat pulang."

"Iya."

Hera melihat iri pada mereka. Kyuhyun terlihat sangat nyaman berada dalam rengkuhan Jaerim. Begitu menyayangi wanita itu sebagai eommanya. Dan dia sendiri apa yang dia lakukan? Membiarkan anak sendiri memanggil orang lain eomma tanpa bisa mencegahnya. Hatinya sangat sedih.

Setelah Jaerim pergi Kyuhyun masih berdiri di depan pintu. Hera menunggunya masuk tapi sepertinya Kyuhyun tidak ada niatan untuk masuk.

"Masuk Kyunie."

Kyuhyun memeluk erat bonekanya. Menoleh menatap ahjumma Kim dengan wajah separuh tenggelam di kepala boneka. "Ahjumma Kyu balik pulang saja, ne? Kyu akan tunggu eomma di rumah."

Hera tertegun. Begitu asingkah dirinya sekarang? Bukan hanya tidak dikenali, dia juga diasingkan. "Jangan sayang. Kyu akan sendirian jika disana. Ayo masuk."

Kyuhyun melihat ke dalam rumah. Nampak ragu.

"Nanti ahjumma ajak ke kedai."

Kembali lagi menatap Hera. "Ahjumma punya ayam?" bertanya dengan suara kecil.

Mengangguk. "Hum! Ahjumma punya banyak ayam. Pet Kyunie lapar?"

Kyuhyun menunjukkan wajahnya yang sudah tersenyum lebar. Mengangguk semangat dia akhirnya mengikuti Hera masuk.

0o0o0o0

Henry berlari keluar kelas begitu jam pelajaran terakhir selesai. Dia tahu hari ini Kyuhyun mulai dititipkan di tempat sang eomma. Jadi dia tidak sabar ingin segera pulang. Ah tidak. Eommanya mengirim pesan jika mereka berada di kedai.

"Henry!"

Henry menoleh memelankan laju larinya melihat Changmin di koridor bawah.

"Chang hyung sedang apa?"

"Menunggumu. Apa lagi? Kau akan ke kedai? Aku ikut."

"Untuk apa?"

"Kau masih bertanya?!"

Henry tertawa. Dia menghampiri Changmin dan merangkul sahabat kakaknya itu. "Aku hanya bercanda hyung. Lagipula kau kelas tiga. Kupikir kau akan sibuk di sekolah hingga malam."

"Aku bisa ambil kelas tambahan jika menurutmu aku sebodoh itu." kesal Changmin. Henry hanya terkekeh.

"Mianhe. Mianhe. Cha, pergi. Kau bawa motor, kan, hyung?"

"Aku ada gunanya juga, bukan?" gerutu Changmin.

Tawa Henry semakin keras.

0o0o0o0

Hera kembali menoleh dimana Kyuhyun berada. Wajahnya sedikit keruh melihat kesana. Kyuhyun tertawa gembira bersama seseorang yang sejak beberapa jam lalu muncul di kedainya. Orang itu sedang memainkan boneka Kyuhyun sambil bercerita tentang sesuatu. Mungkin hal lucu sampai bisa membuat Kyuhyun tertawa sebegitu kerasnya.

"Hahhh dia bahkan bisa membuatnya tertawa seperti itu. Apa karena hubungan darah?" gumam Hera heran.

"Nyonya, bayaran dari pelanggan yang disana." salah satu pegawainya menghampiri. Menyodorkan sejumlah uang dari pelanggan.

Hera kembali pada pekerjaannya. Menerima uang dari pegawai tersebut dan menyerahkan kembalian untuk diserahkan kembali kepada pelanggan.

Dari pintu depan setelah seorang pelanggan pergi keluar, masuklah Henry dan Changmin. Hera tersenyum, keluar dari meja kasir dia menghampiri putranya. "Kalian datang lebih awal. Membolos, eoh?"

"Anni eomma."

"Anni ahjumma."

Hera tertawa geli dengan jawaban mereka yang berbarengan.

"Kyu mana ahjumma?" tanya Changmin.

Hera menunjuk di sudut paling dalam. "Ada Kibum juga."

0o0o0o0o0

Donghae menyimpan tasnya di loker karyawan. Eunhyuk muncul, berdiri di sebelahnya untuk melakukan hal yang sama. Mengganti seragam.

"Kibum belum datang?" tanyanya.

"Dia libur." jawab Donghae.

"Dia sering libur akhir-akhir ini."

Donghae berkedik bahu.

"Hae-ah, kulihat mantan pacar bos di depan. Ada apa lagi, ya?"

"Benarkah? Tadi belum ada."

"Ada di depan. Kau pasti tidak melihatnya."

Jaerim kembali melihat jam di pergelangan tangan lalu bergerak resah. Dia tidak suka menunggu. Meskipun itu adalah kakaknya sendiri.

"Hangeng masih belum datang?" Heechul menghampiri Jaerim. Tidak tega melihat wanita itu menunggu sendirian.

"Belum. Maaf aku harus duduk lebih lama disini, oppa." kata Jaerim yang merasa tidak enak. Apalagi dia hanya memesan air putih.

Heechul memilih duduk, menemani Jaerim yang terlihat sangat bosan. Siapa yang tidak, dia menunggu sudah 30 menit lebih dan kakaknya itu belum juga muncul. Entah apa yang dipikirkan kakaknya itu hingga membuatnya menunggu selama ini.

"Apa kesibukanmu belakangan ini, Jaerim-ah? Kudengar kau pindah dari tempatmu yang lama." Heechul memutuskan mengajak Jaerim mengobrol. Siapa tahu waktu akan bergerak lebih cepat. Ah itu hanya perumpamaan.

"Aku memang pindah. Eumm…" Jaerim berfikir apa Heechul tahu salah satu karyawannya tinggal bersamanya selama ini. "Bagaimana kabar Kyuhyun oppa?" memilih untuk bertanya.

Heechul terkejut. Kenapa Jaerim menanyakan Kyuhyun seolah dia mengenal dekat anak itu? pikirnya. "Dia tidak bekerja lagi disini."

"Dia pindah bekerja di tempat lain?" kejar Jaerim ingin tahu.

"Aku kurang tahu soal itu. Entahlah. Kuharap dia baik-baik saja."

"Kau baik pada karyawanmu." Jaerim yakin Heechul belum tahu tentang Kyuhyun dan dirinya-

"Dia seperti adikku."

"Dan dia menjadi anakku." dan memutuskan untuk menceritakan hal itu.

"He?!"

0oo0o0o0

Changmin dan Henry kompak menatap Kibum dengan kurang bersahabat. Mereka benar-benar tidak berharap Kibum muncul secepat ini. Apalagi dia lebih bisa mencuri hati Kyuhyun. Lihat saja setelah membuat Kyuhyun tertawa sekarang Kyuhyun nempel padanya.

"Kibum hyung lakukan lagi." desak Kyuhyun yang masih ingin Kibum bercerita dengan media boneka miliknya. Mengabaikan keberadaan dua makhluk lain.

"Mulutku lelah, Kyu. Bermain yang lain saja." tolak Kibum halus.

Kyuhyun mencebik. Mengambil kembali bonekanya. Memeluk dan menenggelamkan dagunya di kepala boneka tersebut. "Tidak asyik."

Kibum mengedik cuek saat hujaman tajam dari dua pasang mata itu mengarah padanya. Entah apa maksud mereka. Padahal dia berhenti memonopoli Kyuhyun agar mereka juga bisa mengambil perhatiannya.

Changmin meraih tasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam. "Tarraa! Bagaimana kalau main ini?" tawar Changmin menunjukkan benda persegi putih di tangannya.

Kyuhyun menatap tertarik. Menunjuknya dengan ujung jari telunjuk. "Apa Chang hyung?"

"PSP."

"PSP apa?"

Henry gemas melihat mata bulat kakaknya yang terkesan polos. Ingin rasanya dia mencubiti pipi yang sekarang chubby itu.

"E ini mainan. Game portable."

"Tidak tahu." geleng Kyuhyun yang membuat Henry berdecak gemas. Kibum yang memperhatikan juga dibuat gemas.

Changmin memilih menyalakan PSPnya. Dijelaskan juga Kyuhyun tidak akan paham. Jadi dia akan langsung saja mempraktikannya. "Lihat, seperti ini."

Kyuhyun ikut menjulurkan kepala melewati kepala boneka saat benda tersebut di arahkan kepadanya di atas meja. Layarnya menyala dan ada gambar yang tidak dia tahu apa. Bergerak-gerak saat Changmin menekan tombolnya.

"Dia dipukul!" seru Kyuhyun melihat charakter lawan jatuh setelah ditinju karakter lainnya.

"Hei kenapa kau menunjukkan game kekerasan seperti itu!" protes Kibum yang ikut melihat. Mengambil alih PSP Changmin. Mencari game lain yang tersimpan disana. "Nah ini saja. Kau hanya perlu strategi dan kecerdasan, tidak ada chara manusia yang mati disini. Ini akan mengembangkan otak cerdasmu, Kyu."

Namun sebelum ditunjukkan pada Kyuhyun Henry merebut PSP itu. "Kenapa jadi kau yang memutuskan? Ini milik Chang hyung!"

Changmin mengangguk setuju. Kibum melipat tangan menatap mereka dengan malas. Kyuhyun memeluk kembali bonekanya. "Main yang lain saja. Kyu bosan disini. Ingin keluar, hyungie. Bum hyung ajak Kyunie keluar." pintanya yang lagi-lagi pada Kibum.

Kibum tersenyum menang. Henry dan Changmin menggertakkan gigi kesal.

"Tidak boleh. Sudah sore sekali. Eomma Kyu akan datang sebentar lagi." Hera muncul membawa beberapa cemilan untuk mereka.

Kyuhyun menggembungkan pipi. Tidak suka dilarang.

"Ahjumma Kim benar, Kyu. Kyunie akan segera dijemput. Jadi kita bisa keluar besok saja. Bagaimana?"

Kyuhyun mengagguk. Mataya beralih pada makanan di meja. Menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering. "Ahjumma boleh?" namun sebelum itu meminta pada nyonya Kim.

Hera tersenyum. "Tentu saja Kyunie. Makanlah." Hera mengusap kepala Kyuhyun sayang.

Henry mengikuti ibunya ke dapur. Dia kesal karena Kyuhyun lebih akrab dengan Kibum. Ingin protes tapi rasanya percuma.

"Ada apa Henry?" tanya Hera yang mencuci tangannya di wastafel melihat wajah masam putranya.

"Kyu hyung lebih suka si Choi itu."

Hera menatap Henry geli. "Kau cemburu, eoh?"

Henry mengangguk kecil. "Bukan hanya aku. Chang hyung juga nampak sangat kesal."

Hera tersenyum maklum. Mengelap tangannya dia menatap Henry. "Dia seperti anak-anak. Siapa yang bersikap baik padanya dia juga akan bersikap sama baik. Tapi kalian tidak bisa menuntut dia akrab dengan semua orang. Tergantung pintar-pintarnya kalian menarik hatinya."

Henry mendengarkan baik-baik nasihat ibunya. Berlaku pada anak kecil memang sulit-sulit gampang. Tapi dia Kyuhyun. Hyungnya, bukan adiknya. Hanya saja memang keadaannya sekarang seperti itu.

"Sejak pagi aku sudah malas masuk sekolah. Eomma, besok aku libur saja, ya?"

"Aigo Henry…. hanya karena itu kau ingin libur? Kyuhyun akan berada bersama eomma hingga sore mulai hari ini, kau masih bisa melihatnya saat pulang sekolah."

"Tapi itu kurang eomma. Bagaimana jika mengajak Kyu hyung menginap?"

Hera diam. Sepertinya memikirkan usulan Henry.

"Ya eomma? Ajak Kyu hyung menginap." bujuk Henry.

"Eomma akan pikirkan. Tapi tidak sekarang. Ini hari pertamanya dititipkan, dia masih merasa tidak nyaman. Sabarlah. Lambat laun dia akan terbiasa dengan kita."

Saat Hera dan Henry kembali ke depan. Mereka melihat Kyuhyun sudah cekikikan kembali bersama Kibum dan Changmin. "Lihatlah. Tidak sesulit itu." kata Hera menepuk bahu Henry memberi semangat. Jika Changmin saja bisa menyesuaikan kenapa Henry tidak?

0o0o0o0

Hangeng benar-benar tidak datang. Jika tahu seperti ini sejak awal Jaerim memilih untuk tidak memenuhi janji bertemu. Dia kesal, tapi tidak terasa karena Heechul mengalihkan hal itu. Berakhir dengan mereka mengobrol panjang lebar tentang apa yang dilakukan Jaerim selama ini. Donghae sempat bergabung, hanya sebentar untuk mendengar cerita Jaerim yang merawat Kyuhyun. Namun karena dia bekerja dia harus kembali pada pekerjaannya.

"Jadi seperti itu. Kau dan Zou Mi merawatnya selama ini."

Jaerim mengangguk. Heechul tersenyum lega.

"Aku sudah yakin dia akan berada di tempat aman. Terima kasih, Jaerim-ah."

"Itu tidak perlu. Jam berapa sekarang?"

"Tujuh."

Jaerim buru-buru membereskan diri. "Maaf oppa. Aku harus segera pergi. Kyuhyun akan mencariku."

Heechul mengangguk. "Jadi kau belum memikirkan akan melamar dimana?"

"Aku sedang mencarinya. Aku pergi oppa."

"Hati-hati."

Heechul beralih melihat Donghae yang memperhatikan kepergian Jaerim. Dia menghampiri Donghae, meremas pundaknya pelan. "Kau merasa lebih tenang?" tanyanya.

Donghae mengangguk. "Aku sudah mendengar itu sebelumnya. Tapi melihat orang yang merawat Kyuhyun langsung, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya banyak hal."

"Tapi kau tidak melakukannya."

"Dia sudah menceritakan semuanya. Apalagi yang harus kutanyakan?"

"Kau belum bertemu Kyuhyun?"

Donghae menggeleng lemas. "Tapi Kibum pergi kesana."

Heechul kembali menepuk bahu Donghae. Menguatkan pemuda itu.

0o0o0o0o0

"Gege?"

Jaerim heran dengan Hangeng. Kakaknya itu meminta bertemu di tempat Heechul tapi justru sekarang bertemu di halte ini. Saat dia duduk menunggu bis Hangeng datang dari seberang jalan lalu duduk di sebelahnya. Melihat gelagatnya Jaerim menebak Hangeng sengaja.

"Kau sengaja?"

"Apanya?"

"Entah apapun itu." sambut Jaerim ketus.

Mereka diam beberapa waktu.

"Aku sudah mendengar hubunganmu dengan Zou Mi."

Jaerim masih diam. Hangeng menoleh, mencoba mencari sesuatu di wajah adiknya. "Itu benar, Jaerim-ah?"

Menghela nafas Jaerim balas menatap Hangeng. "Benar. Aku dan Zou Mi, kami menjalin hubungan. Kami saling mencintai."

Hangeng menegakkan punggungnya tegang. Dia jelas tidak suka. Jaerim tahu itu.

"Kau tidak setuju?"

Hangeng tersenyum remeh. "Hubungan kalian tidak ada masa depan. Itu hanya permainan."

"Begitu di mata gege?" Jaerim tidak percaya Hangeng akan menganggap hubungannya dan Zou Mi semacam permainan saja.

"Apalagi! Jangan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya Jaerim. Berhenti sebelum kau terluka."

"Kau tahu aku gagal itu bukan keinginanku! Papa dan mama memaksa. Aku tidak bahagia dan mereka tetap memaksa!" Jaerim tidak suka diingatkan akan kegagalan rumah tangganya. Dia masih sakit hati diselingkuhi suami yang tidak dicintainya.

"Oke. Itu kesalahan orang tua. Tapi sekarang, lihat Zou Mi, Jae, dia tidak pantas. Kalian berbeda. Lihat rentang usia kalian. Zou Mi, dia hanya anak ingusan. Saat kau berrfikir serius dia belum tentu berfikir seperti itu juga. Bagaimana kau bisa masuk pada perasaan bocah ingusan semacam Zou Mi?"

"Ge,"

"Tidak!" potong Hangeng tegas. "Zou Mi tidak akan bisa menjadi setara denganmu. Pikirkan Jaerim, kalian bersama karena ada Kyuhyun di tengah kalian. Kalian bertemu dan bersama karena urusan Kyuhyun. Tapi jika Kyuhyun sembuh kalian tidak punya alasan lagi untuk bertemu dan bersama. Hingga akhirnya kau kehilanngan dia. Tidak akan ada lagi cita atau apapun itu."

"Zou Mi serius denganku. Kami tidak akan merenggang hanya karena itu."

"Kau hanya tidak berfikir sejauh itu! Kau takut memikirkannya! Dan memilih menjalani kebahagiaanmu! Kesenangan itu hanya sesaat. Itulah remaja. Cintanya monyet, cepat datang dan cepat pergi juga. Dia hanya bersenang-senang, karena dia memang berada di usia yang seharusnya dia bersenang-senang bukan untuk serius."

Jaerim diam. Rupa-rupanya perkataan Hangeng merasuk ke dalam pikirannya. Setitik ragu yang sudah lama dia tenggelamkan perlahan muncul kembali. Di pupuk oleh Hangeng.

0o0oo0o0o0

Kyuhyun berbinar melihat ice cream yang dibawa tuan Kim. Satu box ukuran jumbo. "Ahjussi gomawo!" dia berseru senang.

"Jangan menghabiskannya sekaligus. Kau harus menyimpannya untuk besok juga."

"Kau mengirit, appa? Kita akan menghabiskannya bersama-sama. Boleh Kyunie?" harap Henry.

"Bukan hanya untuk, Kyu? Kyu akan menyimpan sebagian di rumah."

Senyum Henry hilang. Semua tertawa. Namun saat Kyuhyun memakan ice cream tersebut dia juga menyuapkan untuk Henry dan semua orang disana. Bahkan Kibum yang tidak suka ice cream tetap kebagian suapan.

"Kibum sunbae, kau kapan pulang?" tanya Changmin yang baru saja menerima suapan dari Kyuhyun.

"Kyu pulang aku akan pulang."

"Dia niat sekali." cibir Henry. Merebut suapan yang akan diberikan kepada Kibum.

"Henry nakal! Kau tidak boleh merebut giliran orang!" tegur Kyuhyun dengan mimik lucu.

Henry menangkupkan tangan meminta maaf.

"Tidak Kyu, kau makan saja itu." tolak Kibum saat Kyuhyun mengambil yang baru.

"Bum hyung kenyang?"

Kibum mengangguk.

Tuan Kim tersenyum melihat interaksi mereka. Hera merangkulnya. "Damai sekali, bukan?"

"Heum. Sejak kapan Kibum datang?"

"Tadi siang. Kau ingin makan sesuatu?"

"Ya. Perutku lapar sekali. Bagaimana anak-anak?"

"Mereka sudah makan lebih awal. Kyuhyun merengek kelaparan." Hera melepas rangkulannya, berjalan pergi.

"Jaerim belum datang?" Young Woon mengikuti Hera ke dapur.

"Belum. Dia tidak bilang akan sampai malam. Kyuhyun sudah mulai merengek ingin pulang. Untung kamu datang dan emngalihkannya pada ice , mungkin Jaerim masih ada urusan."

0o0o0o00

"Apa?"

Heechul tidak yakin Hangeng mengatakan hal itu.

"Kau minta aku kembali berhubungan dengan Jaerim?" pikirnya ada apa Hangeng datang ke cafenya. Dan lagi apa yang dia minta barusan?

"Apa kau membicarakan ini dengan Jaerim?" tanya Heechul.

Hangeng mengambil nafas dalam. "Jaerim butuh seseorang sepertimu. Dia,"

"Han," potong Heechul gusar. "Masalah ini tidak semudah membalik telapak tangan. Ini masalah hati. Kau tidak bisa datang dan memintaku kembali bersama Jaerim begitu saja."

"Kupikir itu mudah. Kalian saling membutuhkan. Sudah dewasa. Dan apalagi?"

Heechul tertawa kering. "Sudah kubilang ini tidak semudah itu. Ada apa denganmu? Ada masalah apa? kenapa kau minta mendadak begini?"

Hangeng melempar pandang ke tempat lain. "Dia mungkin akan terluka lagi."

"Sesuatu terjadi?"

"Dia berhubungan dengan seorang pemuda yang jauh dibawah usianya."

0o0oo0o00o0

Hampir jam sembilan saat Jaerim akhrinya datang ke kedai. Kyuhyun sudah menahan kantuknya. Ice cream yang dibelikan Young Woon habis oleh Henry dan Changmin.

"Eomma!" Kyuhyun beranjak dari sandarannya di bahu Kibum menghampiri Jaerim.

"Eomma lamaaaa sekali."

"Maaf. Kau tidak nakal?"

Kyuhyun menggeleng. "Kyunie jadi anak baik. Tanya ahjumma."

Hera tersenyum. "Dia sangat tenang, kau jangan khawatir."

"Terima kasih, ahjumma." kata Jaerim lega.

"Aku yang harus berterima kasih."

Mereka tahu apa artinya itu. Melempar senyum kecil.

"Eomma kenalkan, Kibum hyung. Teman baru Kyu."

Kibum berdiri membungkuk salam pada Jaerim. Jaerim membalas dan tersenyum ramah. "Kita pulang Kyunie." ajaknya pada Kyuhyun. Dia tidak ingin berlama-lama. Jaerim sudah merasa sangat lelah hari ini.

Kyuhyun menangguk meraih tangan Jaerim. Mengandengnya. Sebelum pergi Changmin menyerahkan PSPnya pada Kyuhyun.

0o0o0o00

Setiap hari Kyuhyun akan ditinggal ke tempat keluarga Kim. Jaerim keluar untuk mendapat pekerjaan. Di hari kelima wanita itu resmi diterima di sebuah perusahaan sebagai karyawan.

Kyuhyun sudah tidak begitu rewel saat akan ditinggal. Kibum datang setiap hari. Jika dia masuk kerja dia akan datang saat pagi dan pergi saat sore. Changmin dan Henry tidak protes lagi akan kehadirannya.

Semua berjalan dengan baik. Sampai tuan Choi datang hari itu.

"Monster!"

Kyuhyun berteriak ketakutan meliaht wajah tuan Choi. Dia bersembunyi dibelakang tubuh Changmin.

"Kyu itu appa Kibum sunbae." kata Changmin mengernyit heran. Dia mencoba menarik Kyuhyun namun pemuda itu bertahan di belakang tubuhnya.

"Monster! Kyunie takut! Eomma, Kyu mau eomma!"

Kyuhyun mulai menangis. Tubuhnya bergetar dan dia menolak membuka matanya. Semua orang panik. Tuan Choi membeku melihat reaksi Kyuhyun. Dulu atau sekarang dia tetap dibenci anak itu.

Jaerim dihubungi agar segera datang. Namun wanita itu tidak bisa datang dan malah menyarankan untuk menghubungi Zou Mi. Akhirnya Zou Mi yang datang.

Zou Mi datang dengan panik. Masih dengan pakaian resmi dan wajah letih dia menghampiri Kyuhyun yang menangis.

"Apa yang terjadi?" dia berjongkok di depan Kyuhyun. Meraih kedua tangan Kyuhyun yang gemetar. Zou Mi mengernyit heran.

"Kyunie, buka matamu." pitanya namun Kyuhyun menggeleng.

"Monster. Kyunie takut, Mimi. Eomma, Kyu mau eomma." tolaknya dengan sesenggukan.

Zou Mi mengedar pandang. Terlihat wajah-wajah cemas mereka. "Ada yang menghubungi Jaerim?"

"Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya." jawab Hera.

Zou Mi mengernyit semakin dalam. Jaerim menolak datang? Tidak biasanya seperti itu. Menepikan pikirannya Zou Mi merangkul Kyuhyun. Dan anak itu balas merangkulnya dengan kuat. Dia bisa merasakan Kyuhyun bergetar. Anak itu ketakutan tapi pada apa?

"Apa yang kau takuti Kyunie?"

"Monster! Monster jahat! Monster itu akan melukai Kyu!"

"Tidak ada monster disini." Zou Mi mengusuk punggung Kyuhyun. Baju itu mulai basah dan Kyuhyun masih tidak mau membuka matanya.

Tuan Choi melangkah mundur. Dia tahu dirinya yang ditakuti Kyuhyun. Jadi dia harus pergi agar anak itu merasa tenang, bukan. Meletakkan bungkusan yang dia bawa, diam-diam dia pergi dari kedai itu.

Kibum menatap sendu pada punggung sang ayah.

"Dia takut pada tuan Choi." kata Changmin akhirnya.

Zou Mi tertegun. Jadi monster yang sering Kyuhyun lihat dalam mimpinya adalah tuan Choi? Memeluk Kyuhyun lebih erat Zou Mi tidak bisa berkata apapun.

0o0o0o0o0

"Kau darimana Jaerim?"

Jaerim berjalan melewati Zou Mi. Menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa ruang tengah. Zou Mi mengikutinya, menatap Jaerim penuh tuntutan.

"Kau menjemput Kyunie?"

"Ya. Dan kau menolak untuk datang?"

"Aku sudah mulai bekerja. Itu hari pertamaku, aku tidak bisa pergi begitu saja. Lagipula mereka keluarganya, lebih lama bersama mereka itu lebih bagus, bukan?"

"Ada apa denganmu? Kau tahu keadaan Kyuhyun bagaimana?"

"Zou Mi aku lelah, please."

"Dan aku juga! Tapi sejak awal kita tahu hal ini. Lalu ada apa denganmu sekarang? Kita masih memiliki tanggung jawab pada Kyuhyun, Jaerim."

Jaerim mendesah. Dia bangkit menghindari pertengkaran.

"Kyuhyun melihat tuan Choi hari ini. Dia menyebutnya monster."

Jaerim berbalik kembali.

"Kyuhyun ketakutan dan tidak berani membuka matanya. Dia menangis terus menerus. Dia sangat ketakutan dan tidak berhenti memintamu. Hanya kau yang dia cari."

Jaerim melengos saat perasaan bersalah itu muncul. "Maaf."

Zou Mi bangkit berjalan mendekat. Mendekap Jaerim saat wanita itu mulai menangis.

"Sudah. Dia sudah tenang dan tidur. Jangan lakukan hal itu lagi lain kali."

Jaerim mengangguk. Memeluk Zou Mi dengan erat seolah takut kehilangan. Zou Mi bisa merasakannya. Perubahan Jaerim dan caranya memeluk dirinya. Ada apa sebenarnya?

0o0o0o0

Choi Jung Woon termenung di kursinya. Melupakan semua pekerjaan yang diserahkan Siwon juga mengabaikan Kibum yang baru datang.

Siwon menoleh pada adiknya. Sejak tadi dia ingin tahu bagaimana tentang hari ini? Tentang ayahnya yang datang menemui Kyuhyun, apakah berjalan dengan baik?

"Kyuhyun takut pada appa, hyung. Saat melihat appa Kyunie berteriak 'monster' lalu menangis."

Siwon sudah duga tidak akan berjalan baik, melihat ayahnya yang termenung dengan sedih. "Tapi kenapa? Bukannya Kyuhyun amesia?"

Kibum menggeleng. Dia juga tidak tahu dengan hal itu. Melihat ayahnya, dia merasa kasihan. Selain dirinya ayahnya adalah orang yang juga tidak sabaran untuk bertemu Kyuhyun. Karena amnesia ayahnya berfikir bisa mencari kesempatan untuk mendekati Kyuhyun. Tapi baru satu percobaan sang ayah sudah emndapat penolakan seperti itu.

"Sudahlah appa. Kita akan coba lain waktu." Siwon mencoba menyemangati ayahnya.

"Dia membenciku. Dulu juga sekarang." ucap tuan Choi lirih. "Apa seperti ini pantas? Aku ayah kandungnya, tapi dia justru takut padaku."

"Jangan berkata seperti itu. Dia memiliki reaksi traumatik terhadap appa. Hal itu mungkin tidak hilang sekalipun dia amnesia." kata Kibum. "Bukan hanya kesalahan appa. Itu juga karena aku. Aku yang menerima ginjalnya, jadi itu juga kesalahanku."

Tuan Choi menutupi wajahnya, menghela nafas panjang dan dalam. "Jangan salahkan dirimu Kibum. Jelas-jelas Kyuhyun hanya membenciku. Aku yang menaruh luka jadi aku yang harus menyembuhkannya. Jangan khawatir. Appa tidak menyerah."

0o0o0o0

0o0o0

0o0

0

Donghae sedang tidak ada jadwal kuliah. Pagi-pagi sekali dia sudah bersiap untuk keluar. Dia akan pergi menemui Kyuhyun. Sudah lama dia mencari waktu untuk bisa melakukan ini. Jadi hari ini dia akan pergi.

"Anyeong ahjumma."

"Donghae?" Hera terkejut melihat Donghae datang pagi-pagi sekali. "Ada apa?"

Doghae menggaruk kepalanya. "Ee aku ingin bertemu Kyuhyunie."

Hera tersenyum. Harusnya dia sudah tahu, belakangan ini Kibum, Siwon, tuan Choi dan sekarang Donghae sering datang. Karena ada Kyuhyun. "Hae-ah, Kyuhyun belum datang." dibanding Choi lainnya Hera merasa lebih akrab dengan Donghae. Mengingat Donghaelah yang sering membantu Young Woon dulu. Donghae juga sudah terbiasa datang.

"Siapa yeobo?" Young Woon muncul di belakang Hera.

"Donghae. Ingin bertemu Kyu."

Young Woon tersenyum ramah pada Donghae. "Dia belum datang, Hae. Biasanya dia akan datang jam 8, kau bisa menunggu didalam."

"Iya. Masuklah." Hera membuka jalan agar Donghae masuk. Namun Donghae buru-buru menggeleng.

"Sebenarnya aku ingin mengajak Kyuhyun keluar hari ini."

Hera dan Young Woon tidak mengerti.

"Aku sudah pernah bilang, kan, ahjussi Kim, jika Kyu dan aku dulu adalah teman di tempat kerja. Kami bekerja di café yang sama. Kami semua dekat dengan Kyuhyunie. Semua orang sangat merindukannya. Jadi kupikir aku akan membawanya kesana. Lagipula mungkin itu juga bisa membuat Kyuhyun ingat sesuatu. Bagaimanapun café itu salah satu tempat yang sering dia kunjungi."

Sepasang suami istri itu terlihat berfikir. Kemudian Young Woon mengangguk. "Boleh. Asal Kyuhyun mau kau ajak pergi, tidak masalah."

"Gomawo ahjussi." Donghae senang mendengarnya.

"Ah mereka datang." Hera berkedik ke jalan. Semua orang beralih melihat kesana.

Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Kim. Berhenti di dekat teras. Setelah mesinnya dimatikan dari pintu depan keluar Zou Mi, yang langsung menuju ke pintu penumpang di belakang.

"Kyu, ayo keluar." mengetuk kacanya. Kyuhyun didalam. "Ayo Kyuhyunie." kembali Zou Mi mengetuknya.

Menunggu akhirnya Kyuhyun membuka pintu dan keluar dengan wajah ditekuk. Bibirnya maju dan pipinya menggembung. Dia keluar tapi tidak melangkah.

"Wajah seperti apa itu. Sudah jangan ambekan." tegur dan bujuk Zou Mi.

"Eomma jahat."

Zou Mi menghela nafas pasrah. Menarik tangan Kyuhyun membawanya ke hadapan tuan dan nyonya Kim. Dia sedikit tekejut melihat Donghae ada disana. Menyapanya singkat lalu kembali pada urusannya menyerahkan Kyuhyun.

"Ada apa?" tanya Hera melihat wajah manyun Kyuhyun. Dia juga tidak membawa bonekanya hari ini. "Mana beruang itu?"

Zou Mi tertawa kaku. "Jaerim berangkat pagi sekali. Kyuhyun marah karena hal itu. Dia melempar beruangnya dan menolak untuk pergi sebenarnya. Untungnya aku bisa menyeretnya kesini." jelas Zou Mi.

"Aigooo kau pasti sangat direpotkan." Hera merasa bersalah karenanya. "Kyunie, kenapa ngambek, eoh? Eommamu, kan, bekerja." Hera mengusap kepala Kyuhyun yang semakin manyun.

"Eomma tidak sayang Kyu lagi. Dia lebih suka bekerja sekarang." jawab Kyuhyun ketus.

Zou Mi segera berpamitan. Dia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya. Setelah Zou Mi pergi mereka masuk karena Kyuhyun mengeluh lapar. Saat itu Henry berlari keluar, terlihat buru-buru.

"Eomma aku berangkat, ne." katanya. Dia berhenti melihat Kyuhyun. Tersenyum lebar dia memeluk Kyuhyun. Tanpa kata dia melepas pelukannya lalu melangkah pergi.

"Dia buru-buru sekali." komentar Donghae yang sepertinya tidak disadari keberadaannya oleh Henry.

"Dia memang sudah telat." sahut Young Woon. "Masuklah, makan dulu Donghae."

"Makan, Kyu lapar." rengek Kyuhyun lagi.

Hera tertawa. Menggandeng Kyuhyun mereka masuk ke dalam rumah.

0o0o0o0o0

"Donghae hyung? Kakaknya Kibum hyung?" Kyuhyun sedang mengulang informasi yang dia dapat. Sambil makan dia memandangi Donghae yang duduk di depannya. "Siwon hyung juga kakak Kibum hyung."

Donghae mengangguk. "Siwon hyung yang tertua. Lalu aku. Kemudian Kibum." Donghae mengatakannya dengan mengelurkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya. Kyuhyun melepas sendok lalu meluruskan jari kelingking Donghae.

"Kemudian Kyu. Kyu yang paling kecil." Kyuhyun tertawa sendiri setelahnya.

Donghae mematung. Menatap jari kelingkingnya tidak berkedip. Seolah itu adalah hal berharga, hatinya menghangat. Biarpun Kyuhyun melakukan seperti sedang bermain-main tapi bagi Donghae itu berbeda. "Kyuhyunie memang yang paling kecil." ucapnya pelan.

Kyuhyun mengangguk-angguk dengan tersenyum lebar. Dia melanjutkan makannya. Mereka hanya berdua, Hera sedang mengurusi Young Woon yang sedang bersiap untuk bekerja.

"Kyuhyuni."

"Heum?"

"Kyu benci appanya hyung?"

"Appa Donghae hyung? Nugu?"

Donghae mengerjap tidak percaya. Kyuhyun tidak ingat orang yang disebut monster adalah appanya?

"'Monster'?" Donghae merasa aneh menyebut appanya sendiri monster. Tapi demi mengingatkan Kyuhyun, dia terpaksa menyebutnya lagi.

Kyuhyun berhenti makan. Menatap Donghae dengan binar takut. "Kyu takut monster. Dia datang terus setiap malam. Mengganggu Kyu. Kyunie takut." jelas Kyuhyun bergidik.

Donghae paham. Kyuhyun sedang berbicara soal mimpinya. "Kenapa monsternya mengganggu Kyu?"

"Molla."

"Jadi Kyu benci dengannya?"

"Takut Hae hyung. Benci tidak."

"Jadi tidak benci, ya."

"Hum hum." Kyuhyun mengangguk lucu. Kemudian diam menatap Donghae. "Monster appa Donghae hyung? Appa Siwon hyung, appa Bum hyung?"

"Iya. Kyunie masih takut?"

Kyuhyun terlihat dilema. Mengaduk makanannya dia seolah berfikir. "Hyungie baik, kenapa monsternya nakal? Eomma terlihat tidak baik setiap Kyu bangun tengah malam karena monsternya mengganggu Kyunie. Donghae hyung bilang pada appanya, ne, jangan ganggu Kyunie. Kyunie jadi sakit, badannya panas dan eomma cemas."

Mata Donghae jadi menyendu. Hatinya teriris mendengar penuturan polos Kyuhyun. Menatap ke arah lain, dia mengangguk menyanggupi permintaan Kyuhyun. "Nanti hyung bilang sama appa. Dia tidak akan mengganggumu."

Kyuhyun tersenyum senang. Melanjutkan makannya dan tidak peka pada senyum kelu Donghae.

Kasihan appa, batin Donghae. Sebesar apapun kesalahan sang ayah, dia tidak bisa memungkiri jika dia kasihan dengannya sekarang. Dia juga pernah sangat marah pada sang ayah, namun itupun bisa memudar. Tapi Kyuhyun. Anak itu tidak membenci tuan Choi, tapi takut padanya. Monster yang menaruh luka bahkan sejak dalam kandungan.

Apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki hal itu?

"Kyu, mau ikut hyung?"

"Kemana?"

"Café."

Kyuhyun menatap Donghae polos. "Café apa?" seolah semua kata yang belum pernah disebutkan Jaerim adalah kata baru yang harus dia ketahui artinya.

"Sebuah tempat makan."

"Seperti milik ahjumma?"

"Iya."

"Ada ayam?"

"Itu," Donghae tidak ingat menu di café Heechul ada ayamnya. "Tidak. Tapi ada menu lain."

"Tapi Kyu suka ayam."

"Tidak suka daging yang lain? Atau kue?" Café milik Heechul menampilkan menu barat. Tapi ayam tidak termasuk. Hanya ada beberapa menu berat yang menggunakan daging sapi, yang lain seperti spageti dan dessert. "Tidak apa. Nanti Shindong hyung bisa membuatkan sup ayam untuk Kyuhyunie."

Kyuhyun mengangguk-angguk semangat. Dia ingin pergi.

0o0o0o0

Kibum menaikkan alisnya saat mendapat pesan dari Donghae. Mereka menuju ke café, katanya. Donghae dan Kyuhyun. Kibum melihat jam di sudut atas layar ponselnya. Jam 11. Berkedip sekali. Namun kemudian dia bangkit buru-buru setelah sadar pesan itu dikirim satu jam yang lalu. Hampir jatuh oleh selimut yang melilit kakinya. Beruntung dia sigap berpegangan di tepian nakas.

"Aish! Bisakah dia membicarakan ini sebelumnya!" umpat Kibum kesal. Melangkah ke kamar mandi. Dia melakukannya dengan kilat. Kenapa juga dia harus tidur hingga siang seperti ini?

Setelah 20 menit Kibum berlari turun. Dia berhenti melihat Siwon dan ayahnya masih di rumah. Mereka memang berpakaian rapi, lengkap dengan setelan jas resmi. Tapi ini sudah sangat siang untuk berangkat ke kantor.

"Kalian tidak bekerja?"

Siwon dan tuan Choi menoleh. Wajah-wajah tegang itu seolah tidak sadar akan pertanyaan Kibum.

"Ada apa?" Kibum akhirnya memilih mendekat. Sepertinya ada masalah disini.

"Appa ingin menemui Kyuhyun lagi." kata Siwon seraya menunduk.

Kibum menatap sang ayah. Masih tentang itu? Sejak Kyuhyun menangis melihat ayah mereka, tuan Choi dilarang sementara waktu untuk menunjukkan dirinya lagi. Itu menyakitkan, tapi apa yang bisa diperbuat? Kyuhyun benar-benar ketakutan pada tuan Choi.

"Itu tidak adil, Kibum. Aku ayah kandungnya. Kalian bisa melakukannya, kenapa hanya appa yang tidak bisa?" tuan Choi terlihat menderita.

"Ini hanya untuk sementara, appa. Tolong bersabarlah." Siwon terdengar lelah membujuk.

Tuan Choi menggeleng frustasi. Kibum bisa mengerti itu. Disamping rasa bersalah, perasaan seorang ayah yang mulai timbul pastilah mendesak ayah mereka melakukan ini.

"Appa bisa melihatnya."

"Kibum!" Siwon berseru tekejut. Lain dengan tuan Choi yang kini menatap Kibum dengan penuh harap. "Tapi jangan mendekatinya." wajah tuan Choi kembali frustasi. Dia mengerti maksud Kibum. Dia bisa melihatnya tapi tidak untuk bertatap muka dengan sang anak. Apa bedanya?

"Kalian berusaha menjauhkannya dariku." tuan Choi merasa dikhianati sekarang oleh anak-anaknya.

"Bukan seperti itu appa. Keluarga Kim sudah menerima jalinan baik ini. Tapi jika appa memaksa bertemu Kyuhyun, itu tidak baik untuk Kyuhyun. Juga akan buruk untuk hubungan Choi dan Kim."

"Itu baik kalian tapi bukan aku!" tuan Choi kehilangan kendali. Dia berbalik dengan bahu berguncang. Dia sangat kesal. Bahkan Siwon yang berkata akan selalu membantu dan mendukungnya malah mengatakan hal semacam itu. Menyudutkan kehendaknya. Mengekanganya yang berusaha menjalin ikatan dengan Kyuhyun.

"Jangan egois, appa! Mana bukti ucapanmu yang akan menebus segalanya! Kondisinya saja seperti ini! Kyuhyun menolakmu, itu bukan kesalahan siapapun. Itu karena dirimu sendiri!" Siwon kehilangan sabarnya. Dia lelah. Dia tidak setegar yang terlihat. Dia mencoba mengambil tanggung jawabnya sebagai yang tertua dan menjadi anak berbakti. Tapi keras kepala sang ayah kali ini juga tidak bisa dia terima.

"Hentikan!" Kibum berseru saat keduanya mulai bersitegang. Menghela nafas dalam, Kibum berhasil menekan emosinya. "Kami bukan berbuat buruk padamu, appa. Hanya situasi yang tidak berpihak padamu. Kita semua berharap hal yag sama. Kami juga ingin appa bersama kami saat kami bersenang-senang. Saat kami bahagia dan appa tidak ada, bukan berarti kami menikmati tanpa beban. Itu ganjalan yang besar."

Tuan Choi tidak bergeming dari menghindari berhadapan dengan Kibum ataupun Siwon. Dia mengerti yang dikatakan Kibum. Tapi dia juga tidak mampu menahan dirinya lebih dari ini. Dia ingin, sangat ingin menjadi bagian dari mereka bersama Kyuhyun. Diterima dan berbagi senyum dengannya. Apa itu salah? Hanya sederhana. Tapi reaksi Kyuhyun membuatnya harus berada diluar lingkaran. Dia sudah tidak mmapu menahan diri lagi. Sabarnya sudah sampai batas.

"Appa." Siwon mendekat, menggenggam erat tangan sang ayah yang mendingin. "sedikit lagi. Tolong lebih bersabar lagi. Kami pasti menemukan cara agar Kyuhyun menerimamu."

Dan tangis tuan Choi tidak mampu dibendung lagi. Dia menumpahkannya di bahu putra tertuanya.

0o0o0o0o0

Saat Kibum sampai tepat jam 12, café dalam keadaan ramai. Pelanggan sedang berdatangan meminta mengisi perut. Kibum mengedarkan matanya mencari sosok yang mungkin berada di salah satu kursi.

"Kibum!"

Kibum menoleh terkejut. Menemukan Eunhyuk dengan senyum lebarnya.

"Hyung datang bekerja?"

Eunhyuk justru tertawa terbahak. Menepuk punggung Kibum tidak kalah keras juga. "Kau bercanda? Aku satu sift denganmu dan Donghae." kemudian Eunhyuk mendekatkan dirinya. "Kau dan Donghae tidak bilang Kyuhyun-ah jadi seperti itu, heum? Kalian membuat kejutan besar pada kami, kau tahu?"

Kibum menjauhkan diri. Eunhyuk menegakkan badan kembali. Mengangkat tangan dan menepuk keras punggung Kibum sekali. "Dia ada disana." mengedik ke tempat kasir. Kibum yang meringis melihat kesana. Benar, Kyuhyun, sosok yang dia cari ada disana.

Mengikuti Eunhyuk, Kibum sampai di meja kasir.

"Bum hyung!" seru Kyuhyun begitu melihat Kibum. Mulutnya penuh dengan ayam tepung yang entah siapa yang memberikan. Yang jelas di meja kasir ada juga Sungmin dan tidak jauh darinya ada Ryewook di depan mesin pembuat kopi. Sepertinya semua yang sift malam berkumpul disini.

"Bum hyung mau?" Kyuhyun menyodorkan sepotong ayam.

Kibum menggeleng. "Tidak. Kyunie habiskan saja."

Eunhyuk menarik lengan Kibum yang masih mencari-cari dengan matanya. "Kau mencari Donghae? Dia di ruang karyawan dengan bos. Sudah dua jam mereka ada disana. Aku jadi khawatir."

0o0o0o0o0

Heechul duduk dengan kaku. Meski tangannya berlipat santai namun dia terkejut setengah mati mendengar cerita Donghae. Mengenai Kyuhyun. Kepalanya berdenyut tapi tangannya lemas hanya untuk mengurut pelipisnya.

Jadi yang dia dengar dari Jaerim adalah benar. Dia sedikit sanksi tapi mendengar dari Donghae sekarang ditambah melihat sendiri kondisi Kyuhyun, keyakinananya jadi 100 %. Tidak diragukan setelah mata sendiri yang menjadi saksi.

"Aku tidak akan berkomentar. Sudah cukup."

Kening Donghae mengernyit. "Responmu biasa-biasa saja, hyung?"

"Biasa apanya! Kau tidak lihat aku cukup terkejut?! Tapi memang, setelah mendengarnya untuk dua kali. Hanya semakin yakin saja. Tapi tetap saja! Oh, Kyuhyun-ah. Ahhh kenapa dia jadi se-idiot itu!"

"YA! Adikku tidak idiot!" bantah Donghae dengan wajah berang.

Heechul berjengit dibuatnya. Tapi dia lega, Donghae sepenuhnya menerima Kyuhyun sebagai adik. Itu membuat Heechul tersenyum kecil. Donghae menghela nafas.

"Jangan menyebutnya idiot. Dia hanya terlalu menderita." Donghae menunduk sedih. Heechul berdehem. Merutuki kesalahannya. Donghae pasti sangat sensitife soal Kyuhyun sekarang.

"Baiklah. Bagaimanapun kita bisa melihat Kyuhyun. Benar. Maaf."

Donghae tersenyum. "Tidak apa."

"Kita keluar. Mereka pasti berfikir aku sedang mengulitimu."

"Aku juga merasa seperti itu saat kau menyeretku ke sini."

Heechul menggeram. Donghae tertawa.

Kyuhyun selesai dari acara makan ayamnya. Semua orang takjub dengan selera makannya sekarang. Pantas saja dia jadi berisi. Tidak sekurus dulu. Dibalik kondisinya yang memprihatinkan, ternyata ada juga yang bisa mereka syukuri.

Kibum menarik tangan Kyuhyun yang basah sehabis mencuci tangan, mengelapnya dengan tisue hingga kering. "Siapa yang memberimu ayam Kyunie?"

"Dong hyung."

"Dong hyung?"

"Shindong hyung, Kibum." sahut Ryewook. "Kyunie mau teh?" kemudian menawarkan minuman pada Kyuhyun.

"Kyu mau ice cream!"

"Yeah tidak ice cream. Harus keluar beli."

"Tidak perlu, Ryewook hyung. Kyunie kau terllau banyak makan ice cream. Tidak bagus." nasihat Kibum pada Kyuhyun.

Kyuhyun menggembungkan pipinya. Duduk di kursi yang tadi dia duduki untuk makan lalu meletakkan kepalanya di meja kasir. Dia ngambek.

"Bos, Donghae." Eunhyuk memanggil saat melihat keduanya telah keluar dari ruang karyawan. Kibum menatap mereka khawatir. Namun keduanya menampakkan wajah yang biasa-biasa saja. Jadi dia pikir tidak ada hal serius hingga cemasnya pun hilang.

"Eoh? Kenapa uri Kyu?" tanya Heechul melihat Kyuhyun manyun.

"Bum hyung melarang Wookie hyung beli ice cream untuk Kyu."

"Kyunie ingin ice cream?"

"Jangan dituruti. Hampir setiap hari dia makan ice cream." sela Kibum yang langsung dilirik tajam oleh Kyuhyun. "Ingat, eommamu akan marah jika tahu Kyu makan ice cream banyak-banyak."

"Mana? Kyu belum makan ice cream." bantah Kyuhyun.

Kibum diam. Yang lain terkikik mendapati Kibum kalah bicara dengan Kyuhyun.

"Arra arra." Donghae ambil suara. "Hae hyung belikan Kyu ice cream. Tapi ukuran kecil, oke?"

Kyuhyun menegakkan diri penuh semangat, mengangguk dengan semangat juga. "Oke!"

0o0o0o0

0o0o0

0o0

0

"Kyu tidak mau!"

"Tidak, Kyu. Eomma sudah sering menurutimu. Sekarang kau yang harus mendengarkanku."

"Tidak mau! Kyu tidak mau bertemu dengan nenek babi itu lagi!"

"Kyuhyun!" bentak Jaerim. Kyuhyun berjengit di kursinya. Menunduk takut. Tapi Jaerim seolah tidak sadar akan hal itu. "Kau semakin nakal! Eomma tidak pernah mengajarimu tidak sopan dan kasar seperti itu!"

"Noona, sudahlah." Zou Mi mencoba menenangkan Jaerim. Tidak tega melihat Kyuhyun.

"Tidak! Kali ini dia harus menurut! Dia tidak bisa berbuat seperti ini! Kapan dia akan sembuh jika selalu berkelit untuk terapi!"

"Jaerim!" seru Zou Mi melihat Jaerim kehilangan kendali.

Jaerim menatap Zou Mi tajam. Membuat pemuda itu tekejut dengan tatapan itu. Belum pernah dia melihat reaksi Jaerim seperti ini. Zou Mi melembutkan tatapannya. Menatap dalam pada sepasang manik hitam Jaerim.

"Ada apa denganmu, Jaerim-ah?"

Menghela nafas kasar Jaerim pergi dari ruang keluarga. Meninggalkan sosok Zou Mi dan Kyuhyun.

Zou Mi menatap prihatin Kyuhyun yang menunduk kemudian terdengar isakan.

"Kyu,"

"Eomma sudah tidak sayang Kyu lagi. Eomma membenci Kyu. Eomma sudah tidak suka Kyu lagi." rengek pemuda itu, air mata menetes ke pangkuannya.

"Jangan menangis. Itu tidak benar. Kau sendiri tahu bagaimana eomma sangat menyayangimu, bukan? Eomma hanya sedang lelah. Kyu juga tidak boleh keras kepala seperti tadi."

Kyuhyun terisak. Semua terjadi karena terapi yang dia pikir sudah berhenti. Kenyataannya terapi itu harus berlanjut. Memangnya dia sakit apa? kenapa eommanya selalu memaksa? Dan Mimi hyung juga tidak membantunya membujuk sang eomma.

"Kyuhyun harus menurut pada eomma. Kau tahu, eomma juga tidak ingin memaksa Kyu. Itu tidak membuatnya nyaman. Dia juga harus melawan dirinya sendiri untuk melakukan itu. Karena eomma menyayangimu. Dia ingin yang terbaik untukmu."

"Tapi Kyu tidak suka."

"Jadi Kyu lebih suka eomma sedih?"

Menggeleng, Kyuhyun memainkan jarinya yang bergetar. Zou Mi tersenyum menang, meraih jemari itu dan menggenggamnya. Meyakinkan Kyuhyun semua baik-baik saja.

"Jangan menangis lagi."

"Tapi tidak bisa berhenti air matanya~ eomma masih marah heks."

"Mimi hyung akan bicara pada eomma Kyu."

0o0o0o0

"Apa itu tadi Jaerim?"

Jaerim melengos. Menolak untuk melihat mata Zou Mi yang mengintimidasinya. Namun Zou Mi juga tidak menyerah. Dia menarik bahu wanita itu dan memaksanya menghadap kepadanya, meski Jaerim tetap menolak beradu mata.

"Itukah eomma Kyuhyun? Eomma Kyuhyun akan selalu menuruti semua keinginannya. Apapun itu. Dan dia tidak pernah keras kepala meski harus berdebat! Dia memiliki caranya sendiri untuk bisa menarik kaki Kyuhyun seperti yang dia mau. Tapi tadi itu apa? Kau membentaknya! Itu untuk pertama kali. Kenapa, Jaerim?!"

"Dia tidak mau mendengarkanku!"

"Kapan dia mau mendengarmu? Dia juga tidak pernah mendengarku. Kita semua tahu Kyuhyun nakal dan bandel. Tapi kau selalu luluh dengan kepolosan matanya."

Menatap lelah Zou Mi, Jaerim berujar seolah dia lelah pada semuanya. "Lalu bagaimana? Dia tidak akan selamanya bersamaku! Kyuhyun harus sembuh! Hanya itu intinya. Dan aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Apa yang salah?"

"Ini bukan dirimu." Zou Mi memicing pada Jaerim yang lagi-lagi menghindari matanya. "Jaerim ada apa?" dia yakin sesuatu sudah mengganjal di hati wanita yang dicintai.

Jaerim sudah tidak bisa menahannya. Segala kegelisahan dan ketakutannya keluar bersama dengan air mata. "Kalian akan meninggalkanku. Kau, Kyuhyun tidak akan ada yang perduli lagi padaku."

"Apa?"

Jaerim menatap mata Zou Mi kali ini. Tersirat ketakutan besar disana. "Kyuhyun pasti akan sembuh. Dia akan ingat kembali. Tapi setelah itu apa? Dia akan pergi dariku. Satu-satunya alasan kita menjadi dekat dan bersama adalah Kyuhyun. Jika alasan itu pergi apa lagi yang akan menahanmu disisiku?"

Zou Mi menatap tidak percaya pada Jaerim. Itu pemikiran seperti apa? konyol! "Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu? Aku mencintaimu!"

Jaerim menggeleng sanksi.

"Astaga Jaeie~ kau meragukan aku? Setelah semua ini kau masih meragukan aku? Ada apa denganmu?"

"Aku berfikir apa yang akan terjadi. Dan itu benar! Han ge benar dengan semua kecemasannya!"

Zou Mi mengangguk sarkastis. Dia mengerti sekarang. Itulah kenapa dia tidak suka Jaerim bertemu Hangeng. Si kakak yang terlalu meragukan dirinya dan menularkan keraguan itu kepada adiknya. "Dengar. Kau mencintai aku, bukan? Dan aku mencintaimu. Tidak ada yang akan berubah dengan itu setelah Kyuhyun ingat kembali. Aku menginginkanmu karena aku mencintaimu. Bukan karena Kyuhyun atau karena semua sandiwara ini. Aku mencintaimu, Jaerim."

Jaerim menatap kedua mata yang tidak berbohong itu. Menatapnya dengan lembut dan tegas. Menegaskan seberapa besar cinta yang dia miliki untuk dirinya. Dan masihkan dia harus ragu? Hanya karena semua kecemasan dan keraguan sang kakak? Atau karena dia mulai berfikir kembali tentang semua cinta yang sudah dia rasakan? Tidak jika karena alasan terakhir harusnya dia masih seyakin Zou Mi. Harusnya dia tidak pernah meragukan lelaki yang sudah mencuri hatinya secara utuh.

"Maafkan aku." Jaerim menyesali segalanya. "Maaf. Kau benar. Kenapa aku harus meragukanmu. Kenapa aku harus terjebak dalam ketakutan seperti itu. Oh, Kyuhyun. Aku sudah melukainya. Dia pasti menangis."

"Heum! Masih menangis saat kutinggal untuk bicara denganmu."

Zou Mi memeluk Jaerim yang menangis menyesali tindakannya. Menenangkannya dengan usapan lembut dan penuh perhatian. "Hentikan tangismu. Anak itu akan terus menangis jika kau tidak datang menghampirinya."

Jaerim menghapus air matanya dibantu Zou Mi kemudian pergi keluar, menuju ruang keluarga dimana Kyuhyun masih menangis disana. Hatinya mencelos saat dia mendekat Kyuhyun justru melesakkan dirinya ke sandaran sofa bertindak defensif.

"Eomma jangan benci Kyu. Kyu tidak akan nakal lagi. Kyu tidak akan mengatai nenek dokter itu lagi. Tapi jangan marahi Kyu. Kyu takut eomma benci Kyu."

Jaerim langsung menarik Kyuhyun dalam pelukannya. Memeluknya erat dan menciumi puncak kepalanya penuh rasa bersalah. "Maafkan eomma, sayang. Maaf." ucapnya dan dibalas oleh pelukan erat Kyuhyun.

"Kyu akan pergi. Kyu tidak akan membantah eomma lagi. Kyu janji eomma."

Jaerim mengangguk. Dia bisa melihat Zou Mi tersenyum bersandar tembok. Mengucapkan I love you hanya dengan gerak bibir. Jaerim membalasnya dengan hal sama dan diakhiri dengan ucapan terima kasih. Dia bersyukur karena dia adalah Zou Mi. Hatinya bertambah yakin, pemuda, tidak, Zou Mi jauh lebih dewasa dibanding awal mereka bertemu. Dia seorang lelaki sekarang. Seseorang yang telah mampu untuk mempertanggung jawabkan perasaan cintanya. Bukan hanya untuk diucapkan namun juga direalisasikan. Jaerim yakin, seyakin-yakinnya Zou Mi orang yang tepat. Dan bahkan jika keluarga dan hyungnya menentang dia akan berani memperjuangkannya bersama Zou Mi. Dia yakin pemuda itu tidak akan menyerah untuk berjuang bersamanya.

0o0o0o0o0

"Kyu mau naik biang lala lagi."

"Iya."

"Sama appa, ne."

"Tidak, sayang. Kali ini naiklah dengan Mimi hyung."

"Tidak mau."

"Wae?"

"Mimi kurus, Kyu takut Mimi akan terbang ditiup angin."

"Keh, bagaimana bisa? Kalian akan berada dalam bilik terkunci dan berputar perlahan. Kalian terlindungi."

"Heumm. Tapi Kyu akan naik semua mainannya. Di kereta terbuka itu juga. Mimi tidak akan bisa naik itu. Itu bergerak cepat, meliuk-liuk dan Mimi benar-benar akan terbang nanti."

"Rollcoaster?"

Kyuhyun mengangguki. Jaerim tertawa lagi. "Mimi tetap tidak akan terbang oleh angin, sayang. Ada sabuk yang akan menahan kalian disini." Jaerim menunjuk pinggang Kyuhyun. Namun kemudian dia dengan jahil menggelitik perut Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa kegelian. "Eomma geli." dia menghindar.

"Geli, eoh? Tapi eomma suka menggelitikimu." Jaerim semangat menggelitiki pinggang dan perut Kyuhyun. Kyuhyun tertawa dibuatnya hingga berguling di karpet yang sedang mereka duduki.

"Hahaha eomma! Ampun! Haha! Geli eomma!"

"Bayi besarku yang tidak tahan geli. Oh, kau menggeliat, lucu sekali!"

Jaerim masih menggelitik Kyuhyun. Pemuda itu tertawa seraya menggeliat seperti ulat. Kyuhyun berguling ke kanan, menghindari tangan Jaerim. Matanya menatap kaca lemari pendek, terpantul wajah kecil disana. Kyuhyun mengerjap, emmandnag intens sosok itu yang tengah berguling di karpet tertawa keras.

'Appa, geli! Hentikan! Hahaha!'

'Bayi mungil appa perutnya sudah buncit, eoh?'

'Hahaha appa~!'

Ngiiiiiiiiiinggggg…

Kyuhyun mengernyit tidak nyaman. Suara di kepalanya juga sosok tertawa yang terpantul di kaca tersebut membuatnya merasa aneh. Sangat aneh. Dan sakit itu datang menghantam kepalanya. Berdenyut-denyut sangat menyakitkan.

0o0o0o0o0

Jaerim menghentikan gelitikannya saat Kyuhyun tidak lagi merespon.

"Kyuhyun."

Anehnya Kyuhyun menatap pada lemari pendek di sisi tubuhnya. Ada apa dengan lemari itu? Jaerim menoleh penasaran dan tidak menemukan apapun kecuali wajah Kyuhyun yang terpantul di kacanya, disana mengernyit seolah sesuatu mengusiknya dengan sangat tidak nyaman. Jaerim mendadak cemas.

"Kyunie?" Jaerim meraih wajah Kyuhyun. Namun kemudian Kyuhyun tersentak dan mengerang kesakitan. Memegangi kepalanya dengan keras.

"Kyu, waeyo? Kyunie."

Tubuh Kyuhyun melemas. Jaerim terkejut. meraih tubuh yang sudah tidak berdaya dalam pingsan tersebut. Memangku kepala Kyuhyun, Jaerim memanggil menyadarkannya. "Kyu, jangan menakuti eomma. Kyuhyun!"

Jaerim terus mencoba menyadarkan Kyuhyun namun pemuda itu tidak merespn. Tubuhnya dingin. Dengan kecemasan tinggi Jaerim hanya bisa berteriak memanggil Zou Mi yang berada di halaman memeriksa mobil yang akan dipakai untuk pergi menemui dokter Ma.

TBC

5 Februari 2017

Maaf atas keterlambatanya. Saya update di rumah sakit. Tidak ada edit. Typo tolong dimaklumi. Dan jika ada miss apapun itu tolong diberi tahu. Perbaikannya menyusul jika itu perlu.

Sima Yu'I

(SY'I)