Author : #bersujud dalam – dalam. Sungguh memalukan memang Author ini. Tidak tau malu karena udah bikin minna penasaran dan kesel sendiri ama kelanjutan petualangan Yuki-chan dkk, padahal udah mau nyampe akhir. Jujur, Author pun juga sebel ama diri sendiri. Bukannya buruan lanjutin semua tanggungan fanficnya, malah nggak ngapa – ngapain setelah laptop selesai di service. Tapi, apa boleh buat. Ini semua diluar kehendak Author. Nggak, lebih tepatnya karna kecerobohan Author sendiri.
Sedikit curhat nih, minna. Tapi, Author ngga akan maksa minna buat dengerin, langsung aja di skip buat lanjutin baca chapter selanjutnya. Jadi begini minna, berhubung laptop Author emang udah jadul banget dan keseringan dipake buat melakukan segala hal, laptop mulai error dan harus segera di service. Nah, selesai di service nggak tahunya semua data di laptop Author hilang semua. Hilang. Parahnya lagi, Author lupa buat back up semua data ditempat lain. Kalau memang hanya 1 atau 2 proyek fanfic aja ngga masalah, masih bisa Author usahakan dengan baca di web fanfiction. Tapi, masalahnya ini semuanya. Mau itu hasil research, note coret – coretan, koleksi lagu dari yang paling baru ampe yang paling jadul, bahkan sampai tugas dan kerjaan sampingan Author pun hilang. Hilanglah sudah motivasi Author untuk melanjutkan fanfic ini. Hilang sudah semua ide dan motivasi Author. Mana harus ditambah masalah keluarga yang aih, rasanya ampe pengen nyekik satu – satu tuh anggota keluarga besar! Heran kok bisa – bisa orang selicik, sepicik, dan seegois itu ada dikeluarga Author! Kalo ngga ada yang namanya hukum di dunia ini, udah Author jadiin monyet penyiksaan dah! Ampun dah!
Lupakan masalah diatas, pokoknya Author benar – benar minta maaf banget minna. Seandainya Author ngga ngikutin saran Partner in Crime Author, mungkin sampai saat ini Author ngga akan pernah bisa lanjutin lagi petualangan imajinasi Author di dunia fanfiction. Review minna emang obat motivasi paling ampuh yang pernah Author temukan. Padahal ngga begitu seberapa, tapi bisa membuat Author merasa malu karena udah kehilangan motivasi dan semangat. Bahkan disaat terpuruk kayak sekarang aja, Author masih bisa bangkit berkat review dari minna.
Hontou ni arigatou, minna. Thank you so much. Terima kasih banyak, minna.
Rasa terima kasih ini pasti ngga akan bisa Author balas selain dengan cara melanjutkan petualangan gila Author di dunia fanfiction. Dan untuk itu, langsung aja Author balas review menakjubkan dari minna.
Seenaa : Ping pong, 100 untukmu, Seenaa-san. Hahaha, ketauan banget yak kalo emang Yuuma.
Silvia-Ki chan : Romantis? Benarkah Silvia-chan? Kok justru Author malah ngerasa kayak memaksakan diri ya (padahal Author sendiri yang nulis hahaha). Syukur deh kalo Silvia-chan suka dengan chapter ini. Ayo ayo ditebak siapa yang bakal bilang duluan hahaha. Pasti bisa ditebak lah siapa yang bakal bilang suka duluan, Silvia-chan. Yak, semangat bar terisi lagi berkat Silvia-chan. Arigatou!
mawarputih : #muka merah padam. A-aduh, mawarputih-san, kau terlalu memuji. Tapi, syukur deh kalo mawarputih-san suka pake banget malah chapter kemarin. Hehehe, ada untungnya berarti ketawa sendiri ampe teriak gaje buat nulis chapter YukixSubaru. Pasti tau lah siapa itu mawarputih-san hahaha. Sip, ini udah Author update kok. Langsung capcus dibaca. Maap karena baru bisa update sekarang, mawarputih-san.
hikari uta : Hayo hayo, hikari-san. Mungkin udah nggak ada lagi kali yak, moment Yuki-chan ama Subaru. Apalagi ampe panjang kayak chapter kemarin. Tapi, tenang aja hikari-san. Dichapter ini Author tambahin dikit moment mereka berdua. Yah, anggap aja sebagai permintaan maaf karena nggak bisa bikin lagi. Pokoknya, dinikmati aja chapter ini ya.
nayla : Akhirnya ya nayla-san. Author minta maaf karena udah bikin nayla-san nunggu. Saking irinya ampe rasanya gregetan sendiri ngeliat mereka maju mundur nggak jelas gitu. Betul nggak, nayla-san? Sip, ini udah Author lanjutkan kok.
rizee: Sebenernya itu agak maksa sih, rizee-san. Cuman kalo Author pikir – pikir lagi, di game DL rutenya Ayato itu entah kenapa pasti berujung ke pernikahan. Dan yah, karena pada akhirnya Ayato dan Yui-chan jadi adam dan eve, kenapa nggak sekalian aja dinikahin hehehe. Kira – kira kapan ya Yuki-chan ama Subaru jadian? Bahkan Author sendiri tidak bisa memprediksi hahaha #ditabok rizee-san.
nana : Hehehe, untuk menjawab pertanyaan nana-san, silahkan dibaca chapter yang udah Author update ini.
Haruno Bara0201 : Syukurlah kalo Haruno-san bilang chapter kemarin itu manis, padahal Author cuman bayangin mereka berdua ini itu ampe malu – malu dan teriak – teriak sendiri hahaha. Sip, ditunggu aja nantinya okeh.
Meini99 : Ini sudah Author lanjut lagi, meini99-san. Semoga bisa menghilangkan rasa penasaran gara – gara Author lama nggak update hiks. Sungguh maafkan Author ini.
Dark ourigami : Ini udah dilanjut, Dark-san dan makasih buat semangatnya. Asalkan Dark-san masih bisa memberikan review barang satu ato dua aja Author udah bersyukur banget loh.
kurumi : Aih, jangan puji Author gila ini, kurumi-san. Masih banyak yang harus Author perbaiki lagi buat bikin cerita yang menarik untuk kedepannya hehehe. Dan makasih banyak buat semangatnya, kurumi-san.
Terima kasih pake banyak dan banget sekaligus pelukan erat nan hangat Author berikan untuk Chrintiana99-san yang udah mau mem-favorit-kan serial EN ini. Di penghujung cerita pun masih ada yang mau favorit cerita ini hiks, Author terharu sekali.
Dan pada akhirnya, sampailah kita di penghujung akhir petualangan Yuki-chan dkk. Niatnya, Author mau bikin satu chapter lagi karena merasa chapter ini terlalu panjang. Tapi, kalau mau dibuat chapter selanjutnya, Author ngga yakin kapan bisa updatenya. Jadi, Author jadikan satu chapter ini sebagai chapter akhir. Chapter penutup untuk fanfic ini. Nggak bisa dibilang penutup juga karena masih ada chapter epilog sih hehehe.
Kalau begitu, langsung aja deh selesaikan chapter ini dan chapter epilognya. Author akan tunggu di chapter epilog ya, minna~
.
.
.
Warning : karakter OOC, ada OC, typo, kalimat tidak sesuai dengan EYD, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author.
Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini.
Akhir dan Awal
Yuki percaya tak ada hal yang lebih mengerikan dibanding tomat dan kemarahan Ruki di dunia ini. Nyatanya, ia lumayan menyukai hal berbau horror meski agak ketakutan yang berhasil ditutupi dengan rasa penasaran. Merapatkan jaket hitamnya, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion tua didepannya. Debu tebal dan aroma lumut menyambut dirinya hingga ia harus menutupi hidungnya dengan lengan jaket. Sol sepatu bootnya menggema mengerikan di atas lantai marmer hitam. Ingatkan dirinya mengapa ia bersusah payah menemukan mansion tua ini. Oh, benar. Mansion tua itu adalah tempat persembunyian ibunya yang dibuat khusus oleh Karl Heinz di Dunia Manusia. Mengapa ia mencari mansion tua itu, alasannya bisa dikatakan cukup sederhana. Ia ingin mengetahui bagaimana kehidupan ibunya di mansion itu, sendirian dan terisolasi dari dunia luar. Ia pun juga sedikit penasaran bagaimana dirinya dirawat mengingat ibunya langsung meninggal usai melahirkan. Rasanya tak mungkin jika Karl Heinz sendiri yang merawatnya. Memikirkannya saja membuatnya merinding tak nyaman.
"Terkutuk kau vampire tua," umpat Yuki.
Tentu saja, ia memiliki alasan lain mencari mansion milik ibunya tersebut.
Manik birunya menatap sekeliling. Kertas dinding hampir mengelupas semua, laba – laba bersarang di setiap sudut ruangan, terdapat lubang di langit yang menampilkan bintang malam. Tangga yang menghubungan lantai dasar dengan lantai dua hancur, akan sedikit mustahil untuk memeriksa bagian atas. Ia bisa saja berteleportasi, tetapi ada bisikan untuk mengabaikan lantai atas. Kakinya terus melangkah hingga ia sampai disebuah koridor cukup panjang. Ia bisa melihat taman belakang yang tak terurus dari sisi kanan, melihat tak ada dinding dan ia yakin dulunya dipasang jendela besar untuk menikmati taman bekalang. Ia memutuskan untuk pergi ke taman bekalang dan melihat betapa luasnya taman tersebut. Didepan sebuah tembok yang dipenuhi sulur tanaman liar, ia melihat sebuah air mancur. Seolah ditarik oleh benang tak kasat mata, ia berjalan menuju tembok tersebut yang nampaknya membentuk sebuah labirin. Beruntung labirin tersebut tidak begitu rumit dan luas karena ia lumayan membenci hal itu. Ketika sampai di pusat labirin, iris birunya melebar.
Sebuah makam yang dihiasi semak mawar putih menyambut kedatangannya.
Pusat labirin tersebut penuh akan mawar putih yang anehnya mekar dengan bangga, seolah tak mengenal waktu. Awalnya ia kira mawar putih itu mawar buatan, namun mencium aromanya meski samar terbuktilah bahwa itu bunga mawar sungguhan. Bukan mawar itu yang mencuri perhatiannya, namun makam yang terletak ditengah bagaikan pusat tanaman tersebut.
""For my dear Evelyn,"" dengus Yuki. "Jangan katakan padaku kalau si vampire tua bangka itu yang membuatnya."
Ia sungguh tak menyangka jika makam ibunya berada disini, di mansion tua ini, tempat ia menghabiskan waktunya ketika hidup. Tangannya terulur kedepan, menyentuh batu hitam dingin tersebut. Jarinya menelusuri tulisan yang diukir sedemikian rupa hingga terlihat elegan dan cantik dengan warna perak. Kemudian ia duduk diatas rumput, tepat didepan makam ibunya. Ia hanya duduk diam sambil mendelik tajam pada ukiran tulisan tersebut, mengabaikan hembusan angin yang terdengar sedikit mengerikan. Sesaat, ia berdebat dengan dirinya sendiri seperti orang gila. Helaan nafas keras ia hembuskan.
"Aish, kenapa sih aku ini?" geram Yuki sambil mengacak surai hitamnya. Ia kembali menatap ukiran nama ibunya di batu makam.
"Aku membencimu," ucap Yuki tegas. "Aku benci kenapa kau dilahirkan dari keturunan First Blood. Aku membencimu karena kau mencintai pada vampire buyut sialan itu. Aku membencimu karena kau menyetujui rencana gilanya. Aku membencimu karena kau mengandungku. Aku membencimu karena kau langsung pergi tanpa memberiku kesempatan untuk mengenalmu."
"Aku amat sangat membencimu," lanjutnya. "Seperti aku membenci diriku sendiri."
Bagaikan film yang diputar, pikirannya kembali pada semua kejadian pahit dalam kehidupannya. Dimulai dari menjadi bahan percobaan ilmuwan gila, menjalani kehidupan neraka di panti asuhan, berjuang untuk hidup tanpa tujuan yang pasti, mengulang waktu hanya untuk melihat hasil yang sama, hingga mengetahui semua kebenaran mengerikan dibalik kehidupannya. Ia cukup menyesal mengapa dirinya tidak langsung menyerahkan nyawanya begitu ajal nyaris menjemputnya dulu. Ia menyesal mengapa tidak menghabisi nyawanya sendiri begitu ada kesempatan. Dengan begitu, ia bisa lolos dari cengkraman percobaan gila, mengenal mereka, dan melibatkan mereka.
Ia tak tahu sudah berapa lama dirinya jauh dari jangkauan Mukami bersaudara. Ia terlalu sibuk memulihkan diri dalam artian bersembunyi di kamar Subaru. Begitu tangan dan kaki kanannya dirasa sudah cukup sehat, ia langsung pergi. Subaru sempat bertanya kemana ia akan pergi dan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Yuki hanya menjawab tidak tahu dan karena memang tidak ingin memberitahu cowok itu. Ia yakin si bungsu Sakamaki bersaudara tak akan memberitahu Mukami bersaudara apa rencananya. Namun, untuk berjaga – jaga apa salahnya. Ia juga tidak mau mengambil resiko apabila Ruki memutuskan untuk mencarinya, meski ia sudah bersumpah untuk tidak melakukannya.
Mengandalkan kekuatannya yang tak seberapa, ia mulai mencari mansion ibunya. Cukup sulit karena ia tidak tahu dimana tepatnya mansion itu berada. Ia hanya mengetahui mansion itu berada di Dunia Manusia dan lumayan terpencil dari keramaian kota. Dirinya yakin sudah melakukan perjalanan mengelilingi dunia hanya untuk menemukan sebuah mansion yang keberadaannya saja sangat misterius. Berkali – kali dirinya nyaris menyerah karena tak kunjung menemukannya, mengingat sudah cukup lama mansion itu tidak dihuni. Pilihan untuk hidup bebas sendirian pun terdengar menggiurkan. Akan tetapi, sesuatu mencegahnya mengambil pilihan itu dan terus mencari mansion ibunya. Lalu, sampailah ia, di mansion tua yang terletak di tengah hutan lebat dan mendapati julukan mansion terkutuk dari penduduk setempat.
"Mansion terkutuk," gumamnya geli mengingat larangan penduduk untuk tidak masuk kedalamnya. "Hanya karena ditemukan banyak tengkorak dan bangkai mayat tidak membuatnya menjadi mansion terkutuk."
"Terkutuk karena mansion ini tempat dilahirkannya seorang bayi terkutuk, campuran First Blood dan vampire. Terkutuk karena pemiliknya sama – sama gila," lanjut Yuki geram.
Jari telunjuknya menelusurinya ukiran nama ibunya. "Apa yang kau pikirkan sampai menyetujui ide gila vampire sialan itu?"
Sebuah jawaban yang tak akan pernah Yuki dapatkan. Ia menghela nafas panjang dan berbaring diatas rumput. Iris birunya menatap langit hitam yang dipenuhi taburan bintang tanpa kehadiran sang bulan. Desiran angin malam yang lembut membuat kelopak matanya sedikit berat. Ia menoleh makam ibunya sebelum pandangannya kembali beralih pada langit malam. "Kau tahu, meskipun aku membencimu anehnya aku justru berterima kasih padamu," ucapnya lirih.
Sudut bibirnya sediki tertarik keatas. "Diantara semua kejadian mengerikan yang selalu kualami, aku bisa bertemu dengan mereka berempat. Kemudian hidup bersama layaknya keluarga yang selalu kuinginkan. Sebuah keluarga kecil, penuh tawa dan kehangatan. Sebuah keluarga yang membuatku ingin melindunginya meskipun harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Kekehan pelan keluar dari mulutnya, diikuti oleh rona merah di pipinya. "Aku yang tak pernah menginginkan apa – apa selain kebahagiaan mereka berempat, bisa menyukai seseorang," lanjut Yuki. Ia tersenyum pahit. "Yah, pastinya perasaanku tak akan terbalas karena orang itu menyukai orang lain. Tapi, aku tak masalah. Cukup menjadi temannya saja aku sudah senang."
Kantuk mulai menyerangnya. Ia tak melawan, membiarkan dirinya ditarik ke alam bawah sadarnya. "Aku yang... terkutuk ini... apakah boleh..."
Tanpa memedulikan dirinya yang berada ditengah taman tak terurus di dalam mansion tua, Yuki tertidur pulas. Begitu memastikan Yuki tak akan bangun, sebuah sosok yang muncul dari balik tembok berjalan pelan tanpa suara kearahnya. Iris merah darahnya menatap Yuki yang terbaring diatas rumput, kedua tangannya melebar kesamping dan terdapat senyum aneh di bibirnya. Dengusan keluar dari mulutnya disertai gelengan tak percaya.
"Benarkah kau ini perempuan?" ejek Subaru. Ia menyelipkan tangannya di punggung dan lutut Yuki, lalu mengangkat gadis itu dengan mudah. "Kau cewek paling aneh yang pernah kutemui."
Sebutlah Subaru seorang penguntit karena ia selalu mengikuti Yuki sejak memutuskan untuk pergi entah kemana. Ia pun tak mengerti kenapa harus repot mengikuti gadis gila itu. Tentu saja ini bukan perintah dari Mukami bersaudara. Mana mungkin ia akan mengikuti perintah keempat cowok itu. Anehnya, mereka bahkan tidak mencari atau menyeret paksa gadis itu untuk pulang. Seolah ikatan diantara mereka benar – benar sudah putus. Seperti bukan dirinya yang selalu menghadang tanpa rasa takut, selama mengikuti Yuki, Subaru harus menyembunyikan aura keberadaannya dan menjaga jarak dari gadis itu. Awalnya ia mengira gadis itu berusaha pergi sejauh mungkin untuk memulai kehidupan baru. Ia nyaris saja percaya melihat kepergian Yuki tanpa tujuan yang pasti. Namun, begitu mendengar suatu rumor mengenai mansion terkutuk di sebuah kota kecil, fokus gadis itu langsung tertuju pada rumor tersebut. Hal itu tentu tak mudah dengan mengandalkan sebuah rumor, sesuatu yang tak pasti. Seperti Yuki yang ia kenal, gadis itu tak menyerah dan terus mencari keberadaan mansion terkutuk itu.
Kemudian, sampailah ia di mansion tersebut yang ternyata mansion milik ibu Yuki. Mansion persembunyian ibunya setelah menikah dengan ayahnya. Apakah ini tujuan sebenarnya Yuki pergi meninggalkan keempat saudaranya, mencari mansion ibunya. Tapi, untuk apa pastinya, Subaru tidak tahu. Rasanya tak mungkin jika datang susah payah kesini hanya untuk mengutarakan protesan Yuki. Ia terpaksa harus menunggu gadis didalam gendongannya ini bangun terlebih dulu sebelum mendengar jawabannya. Kekehan halus terdengar. Subaru menunduk dan mendapati Yuki yang tersenyum lebar bagaikan orang gila.
"Tidak salah lagi, cewek ini memang gila," rutuk Subaru. "Kenapa pula aku mengikuti cewek gila ini?"
Namun anehnya, salah satu sudut bibirnya tertarik keatas.
xxx
Suara keranjang penuh berisikan sayur dan buah – buahan yang diletakkan diatas lantai aspal terdengar diikuti oleh helaan nafas panjang Yuuma. Ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan lengan kaus panjangnya, tak peduli jika nantinya akan kotor oleh tanah dan keringat. Digerakkan sedikit pundaknya yang entah kenapa sedikit pegal lalu kembali pada kegiatan memanen ladangnya. Harusnya ia merasa lebih senang karena semua sayur dan buahnya telah menghasilkan panen yang luar biasa. Begitu terlihat menggiurkan dan menggoda untuk segera dinikmati langsung tanpa perlu diolah menjadi masakan lezat. Akan tetapi, perasaannya justru berbanding terbalik dengan hasil panennya. Ia merasa kesal, amat kesal. Dirinya seperi bom waktu yang sedang berjalan. Jika ada yang berani mengusiknya lebih daripada biasanya, bisa dipastikan ia akan meledakkan semua emosi didalam hatinya. Maka dari itu, tak pernah ada yang mau ataupun berniat menggoda Yuuma. Beruntung Kou, si tukang ribut yang hampir selalu menggoda Yuuma sedang sibuk dengan aktivitasnya sebagai idola.
Penyebabnya hanya satu, tentu saja. Siapa lagi jika bukan adik perempuan, ah bukan, jika gadis kurang ajar tak tahu terima kasih yang sekarang menghilang entah kemana. Sudah hampir dua bulan telah berlalu sejak Yuuma memergoki Yuki pergi ke mansion Sakamaki untuk bertemu dengan Subaru. Awalnya, ia hanya mencari Yuki karena tiba – tiba menghilang dari kamarnya, tanpa tongkat penyangganya. Ia sudah panik jika gadis itu kembali diculik, entah oleh siapa. Tak heran jika Yuuma langsung pergi mencari keberadaan Yuki, walaupun sedikit sulit mengingat betapa lihai gadis itu menyembunyikan aromanya. Tebakan asal berhasil membawanya ke tempat Yuki sedang bersama Subaru. Harusnya ia lega karena gadis itu baik – baik saja. Tapi entah kenapa, ia justru merasa kesal dan panas. Dirinya seperti penganggu di dalam dunia mereka berdua. Oleh karena itu, ia langsung pulang, menggerutu sepanjang jalan. Jika tak ingat akan keputusan tak langsung adiknya itu, mungkin Yuuma sudah menyeretnya pulang dengan paksa.
Benarkah ini akhir untuk mereka semua? Apakah tak ada cara lain untuk membawa Yuki pulang, kembali ke sisi mereka berlima? Lagipula, perasaan menyebalkan apa ini ketika mengingat adiknya bersama dengan si bungsu Sakamaki.
Seolah Tuhan masih ingin mengejek Yuuma, ia tak sengaja menatap tanaman semak mawar putihnya, mulai mengembang layaknya perasaan bahagia Yuki yang akhirnya bisa bebas. Kedua tangannya gatal ingin mencabuti satu per satu kuncup mawar putih tersebut, tapi urung ia lakukan. Setidaknya ia ingin merawat mawar tersebut sebagai bentuk penghormatannya kepada adiknya.
"Seperti bukan diriku saja," dengus Yuuma pelan.
"Tentang... Yu-chan?" tanya sebuah suara.
"Siapa lagi kalo bu- Waa!" seru Yuuma kencang, baru menyadari sosok Azusa yang berada dibelakangnya. "Azusa! Berhentilah mengageti orang!"
Azusa memiringkan kepalanya sedikit sambil bergumam maaf.
Yuuma mendecih. Ia kemudian berjongkok disekitar tanaman sayur tomat cerinya, mulai mencabuti rumput liar yang ada. "Lalu, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya acuh. "Jarang sekali kau keluar dari kamar pagi – pagi begini."
Rintihan daun yang bergesekan dengan batang pohon menjawab pertanyaan Yuuma. Ia tak memastikan apakah Azusa masih berada disana atau tidak karena hawa kehadirannya sudah hilang. Tak ada suara apa pun yang menemani Yuuma selain suara alam. Parahnya, meski ia sudah terbiasa dengan keadaan ini, keheningan yang pekat membuatnya tak nyaman, seolah dirinya berada di pemakaman dibandingkan di ladang sayurnya. Ia tahu penyebabnya, ia tahu masalahnya, tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Ruki sudah memerintahkan dengan jelas dan mutlak untuk tak mencari Yuki, apa pun yang terjadi. Tidak peduli jika gadis kurang ajar itu terlibat masalah pelik ataukah berada diambang kematian. Dirinya tentu enggan dan ingin membantah atau setidaknya mencoba meyakinkan Ruki untuk menarik perintahnya. Namun, sudah bisa dipastikan kekalahan jatuh ke tangan Yuuma. Disinilah ia berada, melakukan aktifitas rutinnya dan berusaha keras melupakan sosok berharga diantara Mukami.
Tangan besarnya tak sengaja menghancurkan buah tomat ceri yang masih berwarna hijau. Bukan gerutuan atau makaian karena tidak hati – hati terhadap dirinya sendiri, ia hanya memandang kosong tomat ditangannya. Ia mengusap keringat yang turun dari pelipis menggunakan lengan kausnya.
"Itu keputusannya," bisik Yuuma.
Ya, semua itu merupakan keputusan akhir Yuki untuk meninggalkan Mukami bersaudara.
Yuuma hanya berharap, kehidupannya tidak akan berubah drastis tanpa kehadiran Yuki disisinya, disisi mereka berempat.
xxx
Yuki mengerang pelan sebelum membuka kelopak matanya yang menempel lengket dimatanya. Alisnya sedikit berkerut karena melihat pintu ganda besar yang terbuka. Kerutan di alisnya semakin bertambah ketika ia merasakan benda empuk dibawah tubuhnya. Bagaikan disengat oleh ribuan volt, ia langsung duduk yang baru disadarinya sebagai kasur. Ia menoleh kanan dan kirinya sedikit cepat dan matanya berhenti menatap sosok seseorang yang duduk diatas kusen jendela. Berbeda dengan iris merah darah yang memerhatikan dalam diam, iris birunya melebar ketika menyadari sosok itu.
"Apa yang... kenapa kau ada disini, Subaru-kun?" tuntut Yuki.
Subaru tetap diam menatap Yuki, membuat gadis itu sedikit tak nyaman. Perlahan ia berjalan kearah Yuki masih dengan tatapan tajam bagaikan seekor predator yang memojokan mangsanya. Rasa sakit langsung menjalar lehernya ketika menyadari bahwa Subaru mencengkram kuat lehernya. Tubuh Subaru memerangkap Yuki diatas kasur, tak memberikan gadis itu kesempatan untuk kabur. Jika orang normal akan panik dan ketakutan karena nyawa berada diujung tanduk, Yuki justru terlihat biasa saja. Tak ada rasa panik maupun takut. Ia justru membalas tatapan sengit iris merah darah diatasnya dengan diam bahkan terlihat kosong. Cengkraman di lehernya semakin kuat, berhasil membuat Yuki sedikit sesak nafas.
"Kenapa kau justru tersenyum seperti orang gila?" dengus Subaru.
Iris birunya sedikit melebar. Dirinya bahkan tidak tahu kalau senyum terlukis dibibirnya. Ia berusaha menarik nafas yang diakhiri dengan batuk karena saluran pernafasannya dicengkram kuat oleh si bungsu Sakamaki. "Kurasa... karena... aku bisa... mati..."
"Kau benar – benar ingin mati karena tak bisa menerima keputusan Ayato dan Yui..." ucap Subaru sambil menekan cengkramannya lebih kuat. "Atau karena kau menyesali keputusanmu meninggalkan saudaramu?"
"Kenapa kau peduli padaku?" balas Yuki. Ia balas mencengkram tangan Subaru yang masih menekan kuat lehernya. Kedua kakinya ia tendang tanpa arah dengan harapan cowok bersurai putih itu melepaskannya. Matanya terasa panas namun Yuki menolak dengan keras menangis dihadapan Subaru, seseorang yang mampu meluluhkan perasaannya. "Bunuh saja aku! Patahkan leherku atau hisap darahku sampai kering!" serunya frustasi. "Aku tak peduli lagi!"
Yuki terus memberontak, menendang, memukul, melakukan semua yang ia bisa untuk melepaskan rasa frustasi didalam dadanya. Ia bahkan tak menyadari jika Subaru sudah tak mencengkram lehernya, melainkan menahan kedua tangannya dikedua sisi kepalanya. Racauan yang disertai sumpah serapah berbagai macam bentuk keluar dari mulut Yuki. Air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya tumpah. Pita suara yang ia yakini cedera akibat dicekik Subaru justru mampu mengeluarkan seruan dengan umpatan kasar.
"Aku mengecewakan mereka! Aku gagal melindungi mereka! Aku gagal melepaskan mereka dari tangan takdir! Aku telah gagal! Gagal! Tak sepantasnya aku hidup, sementara mereka masih hidup dalam genggaman mimpi buruk tak berujung! Seharusnya ak-"
Racauan Yuki berhenti karena mulutnya dikunci oleh sesuatu yang lembut dan dingin. Iris birunya melebar dan tubuhnya membeku. Ketika ia menyadari apa yang sedang terjadi, dirinya kembali berontak. Sedikit lebih kasar hingga menyebabkan bibir bawahnya terluka karena sesuatu diatas bibirnya menolak untuk bergerak. Tangannya bergerak seolah tanpa diperintah, menampar keras pipi kanan Subaru.
"Apa yang kau lakukan, kuso onna?!" geram Subaru tak terima. Iris merah darahnya memancarkan amarah dan terlihat siap menerjang Yuki kapan saja. Ia sedikit lengah karena mendapat tamparan dari Yuki sehingga gadis bersurai hitam pendek itu bisa melepaskan diri, duduk tak jauh sambil mengusap bibirnya kasar.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan, baka moyashi?!" seru Yuki tak kalah kesal. Ia menahan diri sekuat tenaga untuk mengembalikan detak jantungnya yang berisik. Pipinya pun tak kalah merah dengan warna merah tomat yang sering dibanggakan oleh saudaranya. Demi anjing cerberus yang imut, ia tak akan mengakui kalau dirinya sangat senang mendapat ciuman dari Subaru. Telapak tangannya terus mengusap bibirnya, memperparah luka dibibir bawahnya. Subaru yang menyadari itu menarik kasar tangan Yuki. "Lepaskan tanganku!" perintahnya.
"Akan kulepaskan kalau kau tenang!" balas Subaru. "Apa kau tahu aku sedang mencoba menahan diri untuk tidak menghisap darahmu saat ini, hah?!"
Yuki mendengus. "Seorang Sakamaki Subaru menahan diri?" ejeknya. Ia memiringkan kepalanya, memerlihatkan leher putih jenjangnya. "Hisap saja! Kalau bisa sampai kering dan aku akan sangat berterima kasih padamu!"
Subaru menggeram dan sesuai keinginan Yuki, ia langsung menancapkan kedua taringnya di leher gadis itu. Berbeda dengan sebelumnya yang terasa sedikit menggoda dan sanggup menghilangkan akal sehatnya, Yuki hanya bisa merasa sakit. Darahnya seperti terhisap keluar secara kasar. Meskipun ia merasa sakit di lehernya, dadanya justru terasa lebih sakit, seperti ditusuk oleh ribuan jarum kecil. Seharusnya ia senang bisa mati menggantikan kehidupan dan kebahagiaan keempat saudaranya. Ia tak masalah mati asalkan kehidupan saudaranya terjamin bahagia, tentram, dan damai. Namun, mengapa ada bisikan yang mengatakan ia tidak ingin mati. Mengapa bisikan tersebut menyumpahi dirinya akan menyesal jika mati sekarang. Dadanya begitu sesak hingga air mata kembali keluar, kali ini tak peduli jika Subaru melihat sisi lemahnya. Ia terus menangis sampai tak sadar jika cowok bersurai putih tersebut justru kembali menatapnya.
"Kenapa aku berpikiran licik seperti ini?! Kenapa aku justru ingin terus hidup disisi mereka?! Kenapa?! Kenapa... aku berpikir tak mau mati..."
Subaru hanya diam dan membiarkan Yuki meracau, karena ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Air matanya tumpah tak terkendali, hidungnya sedikit merah, dan nafasnya mulai tak beraturan akibat berteriak dan menangis bersamaan. Gadis yang selalu terlihat tegar dan kuat ternyata memiliki sifat cengeng jika menyangkut keempat saudaranya. Ia tak pernah bisa mengerti jalan pikiran seorang Mukami Yuki. Demi keempat saudaranya yang bukan saudara kandungnya, dengan kata lain demi keempat orang asing, gadis itu rela mengorbankan semuanya. Ia bahkan memiliki pikiran rela menggantikan nyawanya sendiri asalkan untuk keempat orang asing tersebut.
"Kau memang bodoh," ejek Subaru. "Bagaimana bisa kau memiliki kakak yang pintar tapi kau begitu bodoh?"
Alis Yuki mengerut. "Kau mengajakku berantem ya?" balasnya.
"Bisa apa kau dalam kondisi seperti itu?" dengus Subaru mengejek. "Tangan kurus itu pasti tak akan bisa memu-!"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Yuki menendang Subaru dan membalikkan tubuh mereka berdua. Kini Yuki berada diatas tubuh Subaru, tak lupa mencengkram leher cowok itu dengan kuat. Seringai geli terlukis di bibirnya. "Apa yang mau kau katakan tadi, Subaru-kun?"
Karena tak ingin melanjutkan pertengkaran aneh, Yuki bangkit dan membiarkan Subaru duduk diatas kasur. Ia mengusap darah yang masih keluar dari lehernya dengan lengan jaket hitamnya. "Kau tadi sungguh ingin membunuhku, ya?" tanyanya memastikan.
"Kau yang menginginkannya," tukas Subaru.
Senyum Yuki mengembang. "Ya dan berkatmu pikiranku langsung jernih," ucapnya. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya diatas kasur yang anehnya empuk sekali meski sangat apak dan tercium aroma lumut. "Aku senang kau adalah temanku, Subaru-kun."
Dengusan keluar dari mulut Subaru. "Siapa bilang aku adalah temanmu?"
"Aku," jawab Yuki diselingi tawa. Mereka berdua terdiam. Ia kembali memikirkan bisikan kecil disudut hatinya. Bolehkah ia berpikiran egois seperti itu, menjalani kehidupan yang entah kapan berakhirnya bersama mereka berempat sebagai keluarga. Bolehkah ia hidup bebas tanpa perlu takut akan mimpi buruk dan ancaman untuk mereka berempat. Apakah ia sanggup menerima semua keputusan akhir dari tangan takdir ini. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Tanpa perlu dipikirkan sampai kepala pusing, dalam sudut hatinya Yuki sudah mengetahui jawabannya.
"Kau tahu, sejak memulai pencarian mansion ibuku ini, aku selalu berpikir hal – hal egois yang jarang sekali kupikirkan," ucap Yuki memecahkan keheningan. Iris birunya menatap langit – langit ruangan. "Diantara semua pikiran egois itu, ada satu yang sampai sekarang masih kudebatkan dalam hati. Bolehkah aku hidup bebas bersama mereka sebagai keluarga."
Hening.
"Aku yang sejak dulu tak pernah mengetahui siapa orangtuaku, sudah menganggap keempat orang itu keluargaku. Mereka berempat yang membuatkan tempat untukku. Mereka berempat yang membuatku menemukan tujuan hidupku," lanjut Yuki. Ia kembali menghela nafas, kali ini lebih berat. "Asalkan mereka bahagia, aku tak peduli apa yang akan terjadi padaku. Jika mereka memang bisa hidup dengan nyawaku sebagai bayarannya, pasti akan kuberikan tanpa pikir panjang."
"Ketika mendengar kebenaran itu, aku bingung harus berbuat apa. Seharusnya aku senang karena Karl Heinz telah mati dan saudaraku masih hidup. Seharusnya aku berterima kasih pada Ayato-kun karena telah membalaskan dendamku. Seharusnya aku tidak berada disini dan sedang menjalani peranku sebagai salah satu Mukami bersaudara."
Masih hening, tak ada respon sama sekali dan Yuki pun tak keberatan. Ia lalu duduk dan melanjutkan pengakuannya. "Tapi, disisi lain, aku tak bisa semudah itu menerimanya. Rencana Karl Heinz berhasil begitu Ayato-kun bertarung dan membunuhnya. Meskipun berbeda dari hasil yang diharapkan, rencana itu tetap berhasil. Ayato-kun menjadi pemimpin Dunia Bawah bersama Yui-chan sebagai pasangannya, menjadikan mereka berdua Adam dan Eve."
Yuki memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya. "Aku... tak suka itu."
"Lalu, kau melarikan diri dari mereka berempat dengan alasan mencari mansion ibumu," ucap Subaru tenang. Sebuah pernyataan mutlak yang membuat Yuki mengepalkan kedua tangannya. "Setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Terus melarikan diri seperti pengecut?"
"Mungkin," lirih Yuki.
"Seorang brother complex sepertimu, rasanya mustahil bisa terus melarikan diri dari mereka," ketus Subaru. "Lagipula, aku yakin tanpa perlu meminta saran atau bantuan, kau pasti sudah tahu jawaban dari masalahmu."
Yuki menoleh kearah Subaru, melemparkan pandangan sengit dan tak suka kepada cowok itu. Bibirnya sedikit mengerucut diikuti dengan pipinya yang mengembung. "Kenapa pula aku memilihmu menjadi temanku?" protesnya. "Aku membencimu." Tapi, aku juga menyukaimu.
"Siapa juga yang setuju menjadi teman cewek gila, aneh, dan brocon sepertimu?" balas Subaru tak kalah ketus.
"Siapa yang mengikutiku sampai ke mansion mengerikan ini dengan senang hati? Tolong beritahu aku, Sakamaki Subaru-sama," olok Yuki yang kemudian tertawa senang.
Arigatou, Subaru-kun. Aku bersyukur bisa mengenalmu.
xxx
Sungguh, waktu berjalan sangat cepat. Begitu memalingkan mata dari waktu, ia sudah berjalan lebih dulu dengan langkah lebar menyebabkan kita kesulitan mengikuti langkahnya. Yuki sama sekali tak menyangka akan memakan waktu sampai 3 tahun untuk mencari keberadaan mansion ibunya. Ia akui, dirinya cukup menyesal karena telah menghabiskan waktu cukup banyak hanya untuk menemukan satu mansion tua tak berpenghuni yang memiliki rumor tak menyenangkan. Namun, disisi lain, dalam rentang waktu yang panjang ia cukup bersyukur karena bisa berpikir mengenai masalah yang sebenarnya sudah jelas sekali jawabannya. Setelah pengakuan memalukan dihadapan Subaru, Yuki memutuskan untuk menghadapi Mukami bersaudara. Kurun waktu 3 tahun pastilah banyak yang berubah, termasuk pandangan mereka berempat kepadanya. Akan tetapi, ia tak mau melarikan diri lagi. Ia malu dan bodoh karena melarikan diri dari perbuatan kekanakkannya. Ia juga tak peduli jika mereka tidak akan mendengarkan atau parahnya lagi mengusir dirinya dari hadapan mereka. Jika memang seperti itu, setelah mengungkapkan isi hati yang sebenarnya, ia benar – benar akan menghilang dari hadapan Mukami bersaudara.
Yuki menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan, entah sudah yang keberapa kalinya. Ia kembali menyemangati dirinya dan mendorong pagar besi menuju mansion Mukami. Tak ada yang berubah, kecuali tanaman hias yang diatur sesuai musim dan tanaman rambat yang dibiarkan tumbuh disisi bagian kiri mansion. Dadanya berdetak semakin keras setiap kali ia melangkah menuju pintu ganda depan. Astaga, belum pernah ia merasa segugup dan setakut ini. Ia mengangkat tangan kanannya hendak mendorong pintu ganda didepannya.
"Apa yang dilakukan seorang pengkhianat disini?" bisik sebuah suara ditelinganya.
Yuki berbalik dan langsung berhadapan dengan iris biru Kou. Senyum terlukis diwajah tampannya, namun berbeda dengan matanya yang berkilat bahaya. Tak jauh dibalik cowok idola itu, Yuuma dan Azusa berdiri dengan siaga. Ia meneguk ludahnya kasar ketika mengetahui Ruki juga berada dibelakangnya, melemparkan tatapan penuh intimidasi. "Ka-kalian terlihat sehat," ucap Yuki.
"Apa maumu datang kemari, hah?!" sembur Yuuma. "Kau cari mati ya, pengkhianat?!"
"Ada keperluan apa kau datang kesini?" titah Ruki.
"Me-memeriksa keadaan kalian?" Yuki balik bertanya.
"Huh, untuk apa seorang pengkhianat memeriksa keadaan kami?" ketus Kou.
"Pengkhianat... tak pantas... disini..." ucap Azusa.
Seharusnya Yuki sudah menduga reaksi seperti yang akan ia dapat. Akan tetapi, rasanya tetap sakit melihat keluargamu sendiri memberikan tatapan penuh kebencian. Kedua tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia menarik nafas untuk menenangkan jantungnya yang begitu berisik sampai menulikan pendengarannya. Sekarang atau tidak sama sekali. Yuki membungkukkan tubuhnya dalam – dalam.
"Aku minta maaf karena sudah meragukan keputusan kalian. Aku minta maaf karena melarikan diri dari kalian. Aku memang egois, seenaknya, dan kekanakkan," seru Yuki menyesal. "Aku sungguh minta maaf."
Hening sesaat sebelum dipecahkan oleh dengusan Yuuma. "Apa dengan begitu kau berharap kami akan memaafkanmu? Bermimpilah dalam tidurmu."
"Sou da yo ne. Minta maaf tak akan mengubah apapun," sambung Kou menyetujui. "Jika kata maaf bisa menyelesaikan masalah, perang tidak akan terjadi."
Yuki menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak mengharapkan kalian akan memaafkanku. Justru aku akan terkejut dan curiga kalau kalian melakukannya," ujarnya jujur. "Aku memang pantas disebut pengkhianat. Dan aku pun tak akan protes jika kalian mengusirku atau menyuruhku untuk menghilang dari hadapan kalian."
"Tapi, kau tetap memaksakan diri datang dan meminta maaf pada kami?" tandas Ruki menarik kesimpulan.
Anggukan mantap diberikan kepada Ruki. Hening kembali menyelimuti mereka berlima. Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan berjam – jam. Debaran jantung Yuki tak kunjung berhenti dan justru berdetak semakin cepat lantaran cemas. Ia baru saja akan mengucapkan sesuatu ketika merasakan tubuhnya dipeluk. Tubuhnya langsung membeku. Ia mengira dirinya diserang dengan cara tak terduga yang menurunkan kewaspadaannya. Namun, ketika merasakan tak ada serangan mendadak dan murni sebuah pelukan, ia menghembuskan nafas yang entah sejak kapan ditahannya. Kedua matanya terasa panas dan mungkin saja karena air mata yang mulai mengaburkan pandangannya, ia melihat senyum dibibir Ruki. Kou berhambur memeluk dirinya dengan eratnya seperti Azusa, malah lebih erat sampai Yuki kesulitan bernafas.
"Hei, Kou! Berhenti memeluknya atau kau akan membunuhnya," dengus Yuuma. Iris cokelatnya memancarkan sinar geli melihat wajah biru Yuki. Buru – buru Kou melepaskan pelukannya, menatap wajah Yuki yang memang terlihat sedikit biru.
"Ini mimpi ya?" bisik Yuki pelan. Ia kemudian mencubit pipinya sendiri, meringis sakit karena mencubit terlalu keras. "Bukan mimpi."
"Yu-chan... menangis..."
"Tapi, bibirnya tersenyum," olok Kou geli. Kedua tangannya menangkup wajah Yuki, menghapus air mata yang terus berjatuhan dari pelupuk matanya. "Aduh, Yu-chan sungguh cengeng ya."
Yuki menarik diri dan menyeka matanya kasar. "Ini benar – benar bukan mimpi?" ulangnya tak percaya. "Kalian memaafkanku? Tak ada baku hantam, saling hajar, atau hukuman untukku?"
"Kalau kau mau, aku bisa menghajarmu sampai kau puas," tawar Yuuma yang segera dibalas dengan protesan Kou, menolak tegas jika cowok penyuka gula batu itu sampai menyakiti Yuki.
"Hukuman tetap ada untukmu atas semua kesalahanmu," ucap Ruki mutlak. "Tapi, ya. Kami memaafkanmu."
"Yu-chan... adalah adik kami... keluarga kami..." sahut Azusa lembut. "Yu-chan sudah banyak... berkorban... untuk... kami berempat."
"Ta-tapi, aku telah gagal menyelamatkan kalian," sergah Yuki. "Aku juga sudah mengkhianati kepercayaan kalian. Aku..."
"Sudah cukup, jangan diteruskan," potong Yuuma cepat. Ia mendesis ketika Yuki hendak protes, membungkam mulut gadis itu. "Kita semua sudah bebas dari apapun yang membuatmu cemas setengah mati. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun kecuali dirimu sendiri."
"Lagipula, kami percaya kalau suatu saat, jika memang Yu-chan sudah siap, Yu-chan pasti kembali kesini," lanjut Kou.
Sejenak ia bingung dan tak mengerti ucapan Kou. Begitu menyadari maksudnya, iris birunya melebar diikuti dengan air mata baru yang kembali turun. Ia tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa memandang keempat saudaranya yang menatapnya geli. Yuki membuka mulutnya, namun tak ada kata atau ucapan yang keluar. Lidahnya kelu dan pita suaranya mendadak kehilangan fungsinya. Benarkah saudaranya memaafkan dirinya sampai memercayai bahwa ia akan kembali kesisi mereka. Benarkah ini sebuah kenyataan dan bukan salah satu halusinasi atau mimpi buruk yang selalu ia lihat selama ini.
Ruki yang pertama kali bereaksi, meletakkan tangannya dipuncak kepala Yuki. Sentuhan lembut itu berhasil mengembalikan gadis bersurai pendek tersebut dari benaknya. Ia memaklumi jika gadis itu tak bisa mempercayai semua ini. Ia sendiri bahkan sempat meragukan keputusannya untuk percaya jika suatu saat Yuki akan kembali kesisi mereka berempat. Namun, kembali memikirkan sifat dan tabiat Yuki, membuat Ruki memantapkan keputusannya dan terus menunggu. Kesabaran yang ia kira sudah tak dimiliki oleh Mukami Ruki ternyata masih ada. Semua itu dibayar dengan manis. Jika bukan untuk Yuki, mungkin Ruki sudah melupakannya dan melangkah menuju masa depan tiada akhir.
"Yuki, apa kau mau menghabiskan waktu abadimu bersama kami berempat sebagai keluargamu?" tanya Ruki.
Setelah sekian lama berjalan tanpa tujuan, sendirian, dan diliputi penyesalan yang luar biasa, untuk pertama kalinya Yuki tersenyum lebar. Ia akui, semua beban yang tanpa sadar dipikulnya seolah hilang digantikan dengan kebahagiaan. Pipinya merona dan senyumnya begitu lebar hingga terasa sakit. Ia segera memeluk tubuh Ruki dengan erat, menikmati aroma kakak sulungnya yang begitu ia rindukan.
"Tentu saja aku mau!"
Mimpi buruk yang mereka kira tak akan pernah berakhir, kini berganti dengan mimpi indah. Tangan takdir kejam yang membelenggu mereka pun kini ikut menghilang. Kini mereka bebas menjalani hidup sesuai harapan masing – masing. Sebuah keputusan akhir yang menjadi awal dari kehidupan mereka semua. Layaknya bunga mawar putih yang berarti, bunga awal dan akhir.
Author : Yak, abaikan Author Note ini. Langsung aja dibaca chapter epilognya minna. Author tunggu di Author Note nya ya~
