Rin mendesah. Dia melihat kamarnya yang seperti kapal pecah. Selimut yang harusnya terlipat rapi kini teronggok dilantai, mug yang tadinya duduk manis di atas meja kini pecah berserakan dilantai, begitu pun dengan tisu. Belasan, bahkan puluhan kertas tisu yang sudah dipakai kini bertebaran di atas lantai bersamaan dengan pakaian kotornya.

Rin meregangkan otot-ototnya, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia merasa terlalu lelah untuk bergerak sekarang ini. tubuhnya lelah, pikirannya lelah, bahkan hatinya juga begitu. Apa yang membuatnya selelah ini?

Huft. Ini semua karena Miku. Sang Diva itu datang tiga jam lalu, dengan penuh air mata dan pakaian kusut dan dua alat tes kehamilan. Dan menangis dan ketiduran di kamarnya.

Eh?

Tes kehamilan?

Ya. Hatsune Miku sang Diva itu hamil. Dan sudah dapat dipastikan si maniak es krim itulah pelakunya. Rin menggulingkan badan ke kiri. Kenapa mereka tidak mengikuti saran para orang tua sih? Jangan melakukan sex sebelum kehamilan. Dan apa mereka gak tau kalau alat kontrasepsi itu tidak seratus persen akurat? Dan kenapa pula dia ingin lari karena takut Kaito akan membencinya seumur hidup? Ingin sekali Rin menjerit dan mengatakan hal hal yang menyakitkan pada Miku untuk membuatnya sadar betapa bodohnya tindakannya itu, tapi dia mengunci mulutnya rapat-rapat dan hanya mendengarkan keluh kesah sang Diva itu.

Rin mengusap perutnya yang tertutup piyama saat pikiran lain mulai merasukinya. Bagaimana kalau dia yang mengalami hal itu? Bagaimanapun juga kesempatan itu pasti ada meski mereka hanya melakukannya sekali. Dan kalau hal itu terjadi, apa yang harus Rin lakukan?

Rin menarik nafas dalam. Tentu saja dia tahu apa yang harus dilakukan. Tapi apa dia sanggup melakukan itu? Bagaimana pun juga hamil itu adalah perubahan yang sangat drastis di usianya yang menginjak delapan belas tahun. apa dia sanggup melahirkan dan membesarkan seorang bayi? Lalu bagaimana caranya mencukupi kebutuhan bayinya jika dia tidak bekerja sebagai penyanyi lagi? Dapat dipastikan Master akan menendangnya keluar jika dia tahu dia hamil. dan bagaimana dengan orang orang di sekitarnya? Orang tuanya, teman-temannya, dan ayah dari anak itu, bagaimana dia harus menghadapi mereka semua? Uft. Sepertinya tindakan Miku untuk lari itu tidak salah juga.

Rin menarik selimutnya dan melemparnya ke sudut kamarnya. Huft, daripada memikirkan hal rumit seperti itu lebih baik dia membersihkan kamar. Dia mengangguk dan bangun dari posisi tidurnya. Matanya segera tertuju pada alat tes kehamilan yang terbaring manis di lantai. Kenapa Miku meninggalkannya disini sih? Sebaiknya itu segera dibuang. Rin mendesah lagi sebelum mengambil benda yang menjadi masalah besar sahabatnya itu.

BLAM!

"Hei Rin! Apa kau bisa-"

Rin mendongak. Len berdiri di depan pintu dengan buku bahasa inggris dan kamus di kedua tangannya. Manik birunya membulat dan mulutnya menganga melihat Rin. Rin melihat Len selama sedetik, lalu pada alat tes kehamilan Miku, lalu kembali pada Len yang tersenyum dengan aneh, lalu pada alat tes kehamilan sialan itu lagi. Rin menelan ludah, dia tidak berpikir kalau Rin...

"... ini punya Miku."

ooOOoooOOooo

Disclaimer: Vocaloid milik Yamaha dan rekan-rekannya