Hukuman Mati

Terima kasih atas review kalian, saya sungguh jadi bersemangat untuk menulis.

Song: Sweet Dreams by Emily Browning dan My Son - OST death sentence.

Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.


Sakura melompat ke atas, tepat waktu karena Sasuke sudah mengarahkan tangannya yang dialirkan chidori ke tempat di mana Sakura berdiri sedetik sebelumnya. Pintunya retak dan hacur berkeping-keping. Sakura mengangkat tinjunya dan menyerang Sasuke yang melompat ke belakang, tendangan Sakura yang datang seketika berhasil ia tepis dengan tangannya.

Sakura mengangkat tempat tidurnya hanya dengan satu tangan dan melemparinya ke arah Sasuke yang menghacurkannya dengan kusanagi. Setelah kepingan kayunya terjatuh semua, Sasuke mendapati Sakura berlari keluar kamar. Ia langsung mengejarnya.

Sasuke muncul di depan Sakura yang berlari ke arah mulut gua. Ia mendesis, mengarahkan tinju untuk kedua kalinya ke wajah Sasuke, namun dengan cekatan lelaki itu menangkat tubuh Sakura dengan menarik pergelangan tangannya dan melemparinya ke dalam kamar kosong. Sakura terjatuh di atas tempat tidur dan ia berteriak frustasi. Sasuke dengan tenang menutup dan mengunci kedua pintunya.

"Kau pikir kamu bisa membodohiku... kau pikir aku buta akan kenyataannya?" bisik Sasuke.

Sakura mencoba menjauh sebisa mungkin dari Sasuke, namun dinding menghalanginya.

"Sharingan bisa membedakan warna cakra, lupakah kau hal itu? Cakramu berwarna hijau dan aku melihat... di perutmu ada cakra berwarna merah. Aku tahu hanya satu laki-laki yang memiliki warna cakra pekat seperti itu."

Sakura mengangkat kedua tinjunya. "Apakah kau akan membunuhku?"

Sasuke terdiam sesaat dan Sakura melihat setitik emosi di dalam kedua matanya, sebelum hal itupun menghilang, digantikan oleh kemarahan.

"Tidak, tapi tetap akan ada hukuman mati."

Sasuke memperlihatkan mangekyo sharingannya dan Sakura kehilangan kesadarannya.

Sakura mendapati dirinya terbaring di koridor dalam alam bawah sadarnya. Seketika ia mengangkat kepalanya dan bangkit, ia merasakan kehadiran orang lain di dalam kesadarannya. Tidak salah lagi, Sasuke telah memaksa dirinya masuk.

Sakura berteriak dan ia berlari sekuat tenaga melewati koridornya. Ia menuju tempat dimana pintu emas dengan ukiran naganya berada. Seperti yang ia duga pintunya terbuka lebar.

"TIDAK!"

Sakura menerobos masuk dan mendapati Sasuke berdiri di depan cahaya mungil yang menyala di atas kepala mereka. Cahaya yang masih begitu kecil mungil...

"Sasuke kumohon, jangan!"

Sasuke tidak berkutik, ia masih memandang ke atas, ke arah sumber cahaya itu.

"Bisa-bisanya kau bertindak sejauh ini Sakura. Kau sungguh perempuan rendah, mencintai Itachi dan mengandung anaknya. Jika aku biarkan anak ini hidup ia akan menjadi noda yang mencemari klan Uchiha yang ingin kubangun lagi."

"Kumohon Sasuke... kulakukan apapun!" Sakura berlutut dan memeluk pinggang Sasuke sambil menangis terisak-isak. "Jangan bunuh anak ini."

Sakura merasakan dirinya terhantam ke tanah saat Susanoo muncul dan memaksa Sakura berbaring dengan mendorong punggungnya ke bawah.

"Maaf Sakura..." bisik Sasuke yang tidak berpaling ke arahnya.

"Sasuke!"

Susanoo mengangkat panahnya dan mengarahkannya ke cahaya kecil itu.

"Sasuke onegai!"

Susanoo menghentikan arah bidikannya dan menarik busur.

"Jangan! Kumohon!"

Susanoo melepaskan panahnya.

"Itachi tolong!" teriak Sakura sekuat tenaga.

Panah itu menembus tubuh seseorang, namun bukan cahayanya. Baik Sasuke dan Sakura terkejut melihat diri Sakura yang lain berdiri di depan cahayanya, melindungi dengan tubuhnya.

"Tidak..." air mata Sakura berlinang dan ia merasakan sebuah kehampaan.

Diri Sakura yang lain tersenyum.

"Jaga dia baik-baik," bisiknya, kemudian ia pecah menjadi letupan-letupan cahaya kecil.

"Tidak!" Sakura menutupi wajahnya sambil meraung-raung.

Dari cahaya kecil tiba-tiba keluarlah aliran cakra yang hebat, seperti tali, cakra itu melilit Sasuke dan menghantamnya keluar dari alam bawah sadar Sakura. Sasuke kembali memperoleh kesadarannya, namun napasnya tersengal-sengal seperti usai berlari jauh.

"Cakra yang hebat..." guman Sasuke yang seketika menyentuh mata kanannya yang berdarah. Ia telah melupakan pesan Tobi yang mengatakan kalau terlalu sering menggunakan mangekyo sharingan sebelum terbiasa, akan ada efek samping yang kurang enak.

Tiba-tiba Sakura berdiri di depannya dan meninju wajahnya sekuat tenaga. Sasuke terjatuh dan Sakura mencengkram kerah bajunya.

"Jika kamu mencoba untuk menyentuh janin yang ada di dalam kandunganku lagi, aku bersumpah aku akan membunuhmu. Bukan kamu saja yang bisa terobsesi balas dendam," ancam Sakura.

Sasuke memandang Sakura dengan pandangan tanpa emosi seperti yang Sakura sering lihat darinya dulu. Untuk sesaat, keduanya saling berpandangan tanpa sepatah kata, bagi Sakura rasanya seperti keabadian walau hanya lima menit berlalu. Yang memecah kesunyian adalah Sasuke, namun perkataannya membuat Sakura merasa ia ada kesalahan dengan indra pendengarannya.

"Menikahlah denganku."

Mata Sakura berkedip-kedip terkejut beberapa detik sebelum ia melancarkan tinju kedua ke wajah Sasuke. Dari ujung bibirnya sudah mengalir darah keluar, namun Sasuke tidak berkutik.

"Jangan membuatku tertawa Sasuke," geram Sakura.

Sasuke menjawab dengan nada dingin. "Kau ingin melahirkan anak itu? Baiklah. Lakukanlah. Kembalilah ke Konoha dan besarkan anak itu. Dengan cakra sehebat itu, aku yakin ia akan tumbuh menjadi anak yang jenius. Dan orang bodoh seperti Naruto pun bisa menebak siapa ayahnya. Lalu apa? Anak itu akan hidup dalam cemohan dan caci maki para penduduk desa, begitu juga kau. Aku yakin kau akan kehilangan kepercayaan sang Hokage karena telah tidur dengan seorang kriminal kelas atas sementara mereka cemas setengah mati mencarimu. Kau akan kehilangan pekerjaanmu, mungkin juga teman-teman dan keluargamu. Mungkin juga kalian akan diusir keluar desa..."

Sakura melepaskan kerah Sasuke dengan pelan saat mendengar kata-katanya.

"Kalian akan hidup berat, tanpa uang, tanpa nama baik, tanpa tempat tinggal."

Sakura mundur selangkah saat Sasuke bangkit dan mengusap darah dari ujung bibirnya.

"Kalau kau pulang bersamaku, dan bersedia menikah denganku, aku akan mengakui anak itu sebagai anakku sendiri, aku akan merahasiakan siapa ayahnya. Tidak akan ada yang bertanya-tanya kalau melihat anak itu mendapat sharingannya. Mereka akan berpikir itu karena darahku yang mengalir dalam tubuhnya. Kalian akan punya tempat tinggal, hidup tenang dan nama baik."

Sakura berbisik, "aku tidak mencintaimu."

Sasuke memandang Sakura dengan dingin. "Aku tidak membutuhkan cintamu. Aku hanya butuh tubuh dan janjimu untuk menjadi istriku. Jika aku kembali ke Konoha, aku tidak bisa menjamin bahwa aku akan lolos dari hukuman berat atas apa yang telah kulakukan, mungkin aku akan mendapat hukuman mati, mungkin tidak. Namun peraturan desa adalah seseorang bisa lolos dari hukuman mati jika ada seseorang yang bersedia menikahi orang itu. Sang Hokage tahu bahwa ada banyak gadis yang bersedia menjadi istriku, namun ia membutuhkan seseorang yang bisa ia percayai untuk menanggung tanggung jawab atas dosa-dosaku dan mengawasiku."

Sakura menunduk dan ia membiarkan kata-kata Sasuke menusuk hatinya.

"Tentu saja aku ingin kamu membantuku membangun klanku. Aku telah melihat kamu mengurus anak-anak yatim piatu itu. Kau akan menjadi ibu yang ideal untuk anak-anakku."

Sakura terdiam, ini semua terlalu berat untuknya. Tiba-tiba ia teringat usaha Itachi untuk meraih Sasuke dengan tangan berlumuran darah. Sikapnya yang mencerminkan kasih sayang terhadap adiknya yang membencinya dengen sepenuh hati. Sakura menggigit bibirnya. Bagaimana ia bisa membiarkan pengorbanan lelaki yang ia cintai menjadi sia-sia? Bagaimana ia bisa membiarkan anak dari lelaki itu tumbuh tanpa ayah dalam hidup yang penuh penghinaan dan rasa benci?

Sasuke berbalik," pikirkanlah, kuberi waktu sampai besok karena tanpa atau denganmu aku akan kembali ke Konoha."

"...sedia."

Langkah Sasuke terhenti dan ia berbalik, untuk pertama kalinya ia terlihat terkejut.

"Aku bersedia... menjadi istrimu."

Sasuke terdiam sesaat sebelum ia mendekati Sakura dan mengangkat tangannya untuk mengelus pipinya. Air mata Sakura berlinang, namun ia tidak menepis tangan Sasuke yang membungkuk lalu mengangkat tangan kirinya, mencium jari manisnya. Sebuah tradisi kuno jika lamaran seorang lelaki diterima oleh sang wanita.

Sakura tidak merasa senang sama sekali. Ciuman itu terasa seperti hukuman mati untuknya.


Para pembaca... maaf saya harus mengatakan ini tapi... satu chapter lagi dan CIHE tamat. Tentu saja chapter-chapter selanjutnya setelah itu adalah Itachi Gaiden, namun alur cerita utama akan berakhir di chapter selanjutnya.

Rasanya belum rela! T.T