Authors Note:

Fujoshi desu xD , Nanaho Haruka thank you for your kind review :D dan Nanaho Haruka, thank u uda merhatiin ff ini sedetail-detailnya XD

Hikari chan dari deskripsi Yuki-nee, juga Slaine dan yang lain, memang dia uda kayak orang sakit sebenernya, hanya mungkin nggak sepucat orang sakit *mungkin T_T abis akting bang naho meyakinkan sih dan dia juga rubah, seperti katamu, jadi saya juga ketipu Orz

Aniway, semanget untuk sekolahnya, semoga ketemu banyak temen (kalo belom butuh pacar :P) dan semoga sekolahnya menyenangkan, selalu semanget untuk buat tugas2nya ya XD

And for all of you: thank you for reading this fanfic. I hope you also enjoy this chapter J

Aniway, for chapter ini dan beberapa chapter selanjutnya sepertinya kita akan mulai permainan tebak-tebakan. Semoga kalian menikmati main tebak-tebakannya ya XD

.

.

.

Aldnoah Zero not mine

Obsession by cyancosmic

Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Fem!Slaine

.

.

.

Enjoy !

Chapter 29: The Accident

"Walaupun dia keturunan sang Putri, namun darah manusianya terlalu kental. Ia tak lebih dari sekedar manusia bumi biasa, hanya saja, ia juga terlahir dengan Aldnoah Drive sang Putri."

Jemari yang tengah menari di atas tombol-tombol keyboard terhenti ketika pemiliknya mengingat perkataan tersebut. Alih-alih melanjutkan tariannya, jemari itu malah menyangga dagu si pemuda dan menanti sang pemilik menggerakkannya kembali. Sayangnya, si pemilik sendiri sepertinya tidak lagi tertarik untuk menyelesaikan tulisannya. Pemuda itu malah menatap kosong pada partisi yang memisahkan meja kerja dengan kamarnya, membiarkan pikirannya berkelana memikirkan informasi yang baru saja didapatnya.

'Aldnoah Drive' batin Inaho sembari menggerakkan tangannya untuk menghalau rambut yang menutupi mata kirinya. Ia mengangkat tangan satunya dan menatap punggung tangan yang ia arahkan pada langit-langit kamarnya. "Aldnoah…"

Aldnoah, atau yang sering ia sebut dengan Aldnoah Drive, setahunya adalah nama energi yang dapat menjalankan android, teknologi mutakhir Vers yang bertujuan untuk memudahkan masyarakat Vers. Energi ini umumnya ada pada setiap manusia, hanya saja tidak selalu dalam keadaan aktif. Satu-stunya yang dapat mengaktifkan energi ini adalah sang Ratu dan karenanya, pengaktifkan energi ini hanya dilakukan pada ksatria yang telah membuktikan dirinya berjasa pada kerajaan.

Selama ini, sistem tersebut tidak pernah menjadi masalah di Vers. Setiap orang menganggap bahwa android dan Aldnoah merupakan pemberian sang Ratu dan menjadi simbol kesetiaan Orbital Knightsnya. Namun bila mereka mengetahui ada Aldnoah yang dapat menonaktifkan android, maka Inaho bisa mengerti mengapa Aldnoah tipe tersebut akan memicu kudeta. Pasalnya, siapapun yang mendapatkan Aldnoah tipe nulifikasi akan kebal terhadap semua android, dan tanpa android, Orbital Knights tidak akan berdaya menghadapi ancaman.

Inaho pun menghela napas dan memutar kursinya ketika menyadari pemikiran tersebut. Ia bangkit dari kursi kerja, berjalan mengitari kamarnya. Ia mengintip dari jendela yang ada di kamarnya dan mengamati pemandangan yang terlihat dari balkon. Di luar sana, matahari masih bersembunyi di balik awan, enggan menunjukkan sinarnya sejak pagi tadi. Melihatnya, ia pun meninggalkan sisi jendela, sementara kedua tungkainya membawanya kembali ke meja.

Pemuda itu duduk lagi di kursi, berhadapan dengan laptop. Ia mencoba fokus pada kata-kata yang akan ditulis, namun lagi-lagi benaknya dipenuhi oleh informasi yang baru diterimanya kemarin. Ingatan akan percakapannya dengan Mazurek, ataupun pembicaraan dengan Ian masih memenuhi benaknya. Menurutnya, kedua percakapan itu saling berkaitan, hanya ia belum dapat menemukan benang merahnya.

Sebelumnya, Mazurek memberikan info bahwa Marylcian, sang Tuan Tanah pada lima ratus tahun yang lalu adalah mantan Orbital Knights pada zaman Gilzeria yang mengundurkan diri. Marylcian sendiri tidak mengatakan soal alasannya berada di Bumi, ia hanya mengklaim bahwa ia ingin melindungi Slaine. Mungkin ia harus membuat Mazurek mencari informasi lebih lanjut perihal zaman Rayregalia atau zaman Gilzeria nanti.

Rayregalia sendiri merupakan Kakek dari Ratu Asseylum sekarang. Pria tua yang pernah memegang tampuk kekuasaan itu, selalu terbaring lemah di ranjangnya, seperti orang sakit. Sementara Gilzeria sudah tewas dalam perang lima ratus tahun yang lalu. Namun, masih ada para Orbital Knights yang melayani keluarga kerajaan hingga sekarang.

Bila ingatannya benar, para ksatria yang melayani Ratu adalah Femieanne, Sir Vlad, Sir Selkinas, Mazurek, Count Keteratesse yang pernah datang ke Bumi. Selain mereka, masih ada Sir Yacoym, Sir Zebrin, Rafia juga Count Orga. Seingatnya, Orbital Knights yang sudah turun temurun melayani adalah Sir Vlad, Count Keteratesse juga Count Orga. Sisanya merupakan ksatria baru seperti dirinya. Karena itu, tiga Orbital Knights itu pasti tahu soal dua orang putri seperti cerita Marylcian. Kalau begitu, apakah pelakunya ada di antara mereka bertiga?

Tidak mungkin. Kalau mereka mau berkhianat, mereka tidak akan susah payah melayani sang Ratu hingga hari ini. Mereka sudah tahu bahwa sang Ratu tidak punya kekuatan untuk menonaktifkan Aldnoah, mudah bagi mereka untuk melakukan kudeta jika mengetahui fakta tersebut. Namun, hingga hari ini mereka tetap tunduk di bawah perintah Ratu.

Lalu apakah sisa Orbital Knights dapat lepas dari tuduhan? Generasi-generasi dengan usia yang tak jauh berbeda dengannya seharusnya tidak mengetahui ada Aldnoah yang dapat menonaktifkan android. Tanpa fakta tersebut, kemungkinan Orbital Knights seperti dirinya takkan melakukan tindakan bodoh seperti kudeta.

Kalau begitu, kemungkinannya tinggal Orbital Knights yang melayani Rayregalia atau Gilzeria-lah pelakunya. Ian, atau Marylcian mengatakan bahwa Rayregalia membuang sang Putri karena merasakan ancaman dari kemampuan tersebut. Hanya saja, selain menjadi ancaman, kemampuan tersebut juga merupakan jaminan satu-satunya untuk menghindari kudeta. Mungkin itulah alasan Rayregalia mengapa Rayregalia memilih untuk memindahkan cucunya ke Bumi dibanding menyimpannya di Vers.

Berarti arahnya sudah benar, hanya ia masih kurang sedikit informasi. Ia masih membutuhkan nama para Orbital Knights di bawah pemerintahan Rayregalia atau Gilzeria dan ia berencana untuk meminta datanya dari Mazurek. Bila ia sudah mendapatkannya, ia hanya perlu mencocokannya dengan nama yang telah dibawakan Mazurek sebelumnya dan sang pelaku pun akan muncul ke permukaan.

Masalahnya adalah apakah semua cerita ini benar adanya? Apakah Aldnoah Drive tipe nulifikasi itu memang ada? Apakah benar ada dua orang putri di Vers? Terlebih, apakah benar bahwa Aldnoah Drive semacam itu ada di dalam diri Slaine yang dulu dan Slaine yang sekarang? Bagaimana kalau sebenarnya Aldnoah Drive tipe nulifikasi itu hanya karangan Ian semata? Bagaimana kalau sebenarnya Slaine tidak punya Aldnoah Drive tersebut?

Tidak ada. Tidak ada bukti apa pun yang dapat menguatkan informasi yang sudah diberikan Ian sebelumnya. Selama tinggal bersama gadis itu, Inaho tidak pernah menemukan satu pun Aldnoah Drive dalam androidnya mati. Bahkan Tharsis yang kerap kali mengawal gadis itu pun tidak pernah bermasalah. Ia hanya pernah kehabisan energi beberapa kali, namun sistem Aldnoahnya sendiri masih aktif dan dapat berfungsi baik.

Tapi tunggu, Aldnoah Drive dapat berfungsi karena sang Ratu ingin mengaktifkan Aldnoah Drive di dalam diri seseorang. Karena itu, kemungkinan cara kerjanya sama dengan Aldnoah Drive tipe nulifikasi. Selama tidak ada keinginan dari Slaine sendiri untuk menonaktifkan android, maka androidnya akan tetap berfungsi. Kalau benar seperti itu maka tidak ada jalan lain selain memastikannya dengan memberikan Slaine android untuk dinonaktifkan.

Menyadari hal tersebut, Inaho mengambil kunci di salah satu laci mejanya dan memutar kursinya mendekat panel dinding di belakang mejanya. Ia memasukkan anak kunci pada lubang tersembunyi di balik panel dan memutarnya. Panel pun terbuka dan memperlihatkan android-android lama yang dulu pernah digunakan tapi kini tak berfungsi lagi. Ada android pencari kalung yang diciptakannya waktu ia pertama kali datang ke Bumi, android penyaring air, android pembantu untuk memasak, android pelipat baju, android...

Pandangannya terpaku di tempat ketika melihat semua android itu. Semua android itu diciptakan di awal kedatangannya di Bumi dengan maksud untuk mempermudah hidupnya. Ia menganggap pekerjaan-pekerjaan remeh tersebut dapat dilakukan android, tidak perlu merepotkannya. Hanya saja, Slaine tidak pernah setuju dengan pemikirannya.

Slaine selalu mengingatkannya untuk melakukan hal-hal semacam itu seorang diri sekalipun menggunakan android membantu memudahkan banyak pekerjaan. Bagi gadis itu, mengandalkan android untuk melakukan pekerjaan remeh akan membuatnya tergantung pada android hingga tidak dapat melakukannya seorang diri. Untungnya, ia mendengarkan gadis itu dan hal inilah yang membuatnya bertahan dalam perang bahkan menjadikannya pahlawan besar bagi bangsa Vers. Sungguh ironis bahwa pada akhirnya gadis yang menyelamatkan nyawanya, malah terbunuh di saat ia tak berada di sampingnya.

Seseorang memanfaatkan ketiadaannya untuk membunuh gadis yang ia cintai. Bahkan, Inaho menduga perang tersebut pun merupakan salah satu siasat untuk menyingkirkannya dari sisi Slaine. Ia tak memikirkannya sebelumnya, namun kalau cerita Ian benar maka bukan kebetulan perang terjadi dalam waktu dua tahun sejak kedatangannya ke Bumi.

Kali ini juga sama. Dalam kurun waktu setelah ia tinggal bersama Slaine, bangsa Vers kembali mempersiapkan diri untuk berperang. Peperangan yang membuat Seylum tidak punya pilihan selain menarik asset terbaiknya tanpa menyadari bahwa perang tersebut hanyalah pengalihkan untuk mendapatkan aset yang sebenarnya. Aset yang sekaligus merupakan jaminan untuk kelangsungan tahta sang Ratu. Aset yang…

Tunggu! Tunggu sebentar. Ia melewatkan detail yang penting. Ia lupa, ada satu orang lagi yang akan diuntungkan bila Slaine terbunuh. Tanpanya, Aldnoah Drive akan tetap aktif dan tidak ada ancaman bagi kelangsungan tahtanya. Tanpanya, para Orbital Knights akan tetap melindunginya dan tanpanya tampuk kekuasaan akan tetap berada di tangannya.

Hanya saja… mungkinkah itu?

..

Pemuda berambut kecokelatan mengerutkan dahi ketika melihat pesan yang tertera pada layar tabletnya. Ia sempat bertanya-tanya selama sesaat berhubung ia tidak pernah memberikan alamat emailnya pada si pengirim. Hanya mengingat si pengirim bukanlah orang biasa, ia pun memutuskan untuk melupakan pertanyaannya dan memfokuskan diri untuk membaca tulisan yang tertera di layar tersebut.

Fr : Inaho Kaizuka

Subject : investigated

'Selidiki Orbital Knights di zaman Rayregalia dan Gilzeria.'

Pesan tersebut membuat kerutan di dahi Mazurek semakin dalam. Apa maksud si pengirim dengan menuliskan pesan semacam itu padanya? Bukankah mereka sudah sepakat sebelumnya bahwa ia akan mencari data perihal Cruhteo? Kenapa sekarang orang itu memperluas wilayah penyelidikannya?

Memikirkan hal tersebut, Mazurek berpindah dari tablet menuju monitor berlayar lebar yang ada di atas meja. Sesuai dengan pesan yang didapatnya, pemuda itu pun mengetikkan kata kunci untuk menemukan nama-nama Orbital Knights yang melayani pada zaman pemerintahan Kakek sang Ratu juga Ayah sang Ratu. Begitu nama-nama itu muncul, Mazurek pun menyentuhkan satu tangan pada dagu, sementara pandangannya meneliti satu persatu nama yang muncul.

Sesuai dugaannya, nama Marylcian muncul dan tercatat telah mengabdi sebagai Orbital Knights sejak zaman pemerintahan Gilzeria. Dicatat pula bahwa Orbital Knights itu mengundurkan diri di tahun yang sama dengan wafatnya ibunda sang Ratu. Bahkan tidak hanya dirinya seorang, beberapa nama pun dicatat telah mengundurkan diri di waktu yang sama dan nama-nama lainnya membuat Mazurek kembali mengerutkan dahi.

"Saazbaum dan Cruhteo?" Mazurek tanpa sadar menyebutkan nama-nama Orbital Knights yang juga mengundurkan diri bersamaan dengannya. "Tunggu! Jadi dua ayah Slaine sebelumnya adalah Orbital Knights?"

Biarpun sebelumnya Kaizuka Inaho sudah berpesan untuk tidak menyelidiki Saazbaum, pemuda itu malah mengetikkan nama tersebut lebih dulu di keyboardnya. Hasilnya muncul tak lama kemudian dan pemuda itu kembali menatap layar monitornya. Ia membaca profil pria tersebut sembari menyangga dagu dengan satu tangannya.

Selesai membaca, pemuda itu menggerakkan kepalanya sedikit. Lalu ia kembali mengetikkan kata kunci di keyboardnya sambil bergumam, "Bila ia seorang Orbital Knights, berarti seharusnya ia memiliki android. Coba kita lihat!"

Kata kunci yang diketik oleh pemuda itu menunjukkan beberapa artikel terkait. Ia membuka salah satunya dengan tangan ditempatkan kembali di dagunya. Pupil matanya menelusuri artikel yang dibukanya, namun karena belum puas, pemuda itu pun membuka kembali artikel lain yang ditemukan sebelum kembali membacanya. Setelahnya, baru pemuda itu menghela napas dan menutup semua artikel terkait pencarian tersebut.

"Aneh. Di sini juga disebutkan bahwa androidnya tidak pernah diambil darinya," ujar Mazurek sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau benar begitu, di mana androidnya sekarang? Apa Kaizuka Inaho yang menyimpannya?"

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Mazurek. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang bahkan tak berani ia utarakan. Pertanyaan itu hanya melayang-layang di dalam pikirannya, karena ia sendiri ragu. Mungkinkah, seorang Orbital Knights yang memiliki android setingkat ini akan meninggal karena kecelakaan? Entah mengapa Mazurek tidak yakin.

Berhubung ia tidak menemukan jawabannya, pemuda berambut kecokelatan itu memutuskan untuk menyingkirkan dulu pikiran tersebut dan beralih pada nama lain yang menarik perhatiannya. Siapa sangka, Cruhteo yang seharusnya ia selidiki pun ternyata merupakan salah satu Orbital Knights pada zaman pemerintahan Rayregalia. Bersama-sama Saazbaum dan Marylcian, pria ini pun mengundurkan diri dan pindah ke Bumi. Sama seperti dua Orbital Knights yang lain, Cruhteo pun pindah dalam waktu yang berdekatan dengan keduanya.

Hanya saja, lagi-lagi Mazurek menenemukan fakta bahwa android milik Cruhteo pun tidak diambil darinya. Android tingkat tinggi, sama seperti milik Saazbaum maupun Marylcian dengan kemampuan melihat masa depan. Seharusnya, dengan android setingkat itu, pria ini tidak mungkin meninggal dalam kecelakaan. Namun lagi-lagi Mazurek tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Berhubung ia menemui jalan buntu, pemuda berambut kecokelatan itu pun memutuskan untuk meneruskan membaca artikel yang didapatnya seputar Orbital Knights pada zaman Rayregalia. Selain ketiga orang yang memang namanya disebutkan oleh Count Kaizuka, ada satu orang yang juga mengundurkan diri di waktu bersamaan, namun namanya tak pernah muncul. Melihatnya, mau tidak mau Mazurek pun tertarik untuk meneliti lebih jauh.

"Count Barouhcruz," ujar pemuda itu ketika membaca nama tersebut. Orbital Knights ini pun dicatat mengungsi ke Bumi dalam waktu yang bersamaan, hanya saja kenapa namanya tidak termasuk dalam dua kategori yang dipilih oleh Count Kaizuka waktu itu. Apakah mungkin Orbital Knights yang satu ini tidak ada hubungannya dengan Slaine? Tapi aneh sekali bila hanya orang ini saja yang tidak termasuk dalam daftar.

Mazurek melanjutkan membaca profilnya. Count Barouhcruz sama seperti ketiga Orbital Knights yang lainnya, juga memiliki android tingkat tinggi. Android yang diberi nama Octantis itu tercatat memiliki kemampuan unik yang tidak pernah ada pada android yang pernah ditemuinya. Ia bahkan ragu ada android yang memiliki fungsi menyamar seperti android yang satu ini. Mereka beruntung bahwa android semacam ini berada di pihak mereka, bukan pihak lawan.

Tertarik dengan kemampuan si android, Mazurek pun melanjutkan penelitiannya pada Octantis. Namun, ia tak dapat menggali lebih jauh selain informasi mengenai musuh yang pernah dikalahkan oleh android satu itu. Karena itu, Mazurek pun mengembalikan pencarian ke Orbital Knights yang menjadi pemiliknya, Count Barouhcruz.

Empat Orbital Knights mengundurkan diri dalam waktu bersamaan dengan membawa android masing-masing ke Bumi. Apa mungkin salah satu di antaranya tidak ada hubungannya sama sekali dengan tiga Orbital Knights yang lain? Rasanya ada yang janggal dengan kemungkinan tersebut. Kalau memang begitu di mana gerangan Orbital Knights yang satu ini ketika tiga Orbital Knights lain berada di dekat Slaine Troyard?

Di saat yang bersamaan, perhatiannya tertuju pada android bernama Octantis yang sedari tadi diselidikinya. Bila memang kemampuan android ini adalah melakukan penyamaran, berarti mungkin saja android ini…

Ketika ia sedang menyusun pikirannya mengenai android tersebut, pesan dalam tabletnya membuyarkan konsentrasinya. Tak punya pilihan, Mazurek pun meraih kembali tablet yang ada di atas mejanya dan membuka pesan yang masuk. Ia menyapukan jemarinya pada layar dan membaca pesannya.

Fr : Inaho Kaizuka

Subject : watch out

'Awasi Asseylum.'

'Awasi sang Ratu? Apa maksudnya?' batin Mazurek ketika membaca pesan tersebut. Ia tidak paham ketika membaca pesan dari pemuda yang tinggal di Bumi itu. Apa ada sesuatu yang terjadi hingga ia perlu mengawasi sang Ratu? Apakah… apakah jangan-jangan sang Ratu dalam bahaya?

Kekhawatiran langsung menyergap pemuda itu. Serta merta, Mazurek langsung bangkit berdiri dan beranjak ke luar dari ruang kerjanya. Ia berlari menuruni tangga yang menghubungkan ruang kerja dengan ruang komunikasi yang akan menghubungkannya dengan sang Ratu. Langsung saja ia melangkah masuk ke dalam dan menunggu untuk berbicara dengan sang Ratu Kerajaan Vers.

Beberapa saat berlalu, namun panggilannya tetap tak terjawab. Khawatir akan kemungkinan terburuk, Mazurek memutuskan menghubungi pelayan kepercayaan sang Ratu, Edderrittuo. Lagi-lagi ia menunggu selama beberapa saat, hingga akhirnya panggilannya tersambung dan pemuda itu melihat wajah sang pelayan yang sudah dikenalnya.

"Edderrittuo!"

"Sir Mazurek," ujar Edderrittuo sembari membungkuk, memberi salam. "Apakah ada yang dapat saya bantu?"

"Ya, tentu," Mazurek mengucapkan dengan sedikit tidak sabar. "Di mana Ratu Asseylum? Aku ingin bertemu dengannya."

Sang pelayan mengerjapkan matanya selama sesaat sebelum akhirnya mengalihkan perhatian dari layar. Melihat gerak-gerik si pelayan, kepanikan Mazurek pun semakin menjadi-jadi. Ia bahkan tidak menunggu pelayan itu membuka mulut dan malah langsung menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

"Apa terjadi sesuatu pada Sang Ratu? Apakah Beliau baik-baik saja? Katakan padaku Edderrittuo!" Mazurek mengucapkannya dengan terburu-buru.

"Bukan begitu, Sir Mazurek," Edderrittuo menjawab sembari menggerakkan kedua tangannya. "Tenanglah sedikit!"

"Lalu di mana Ratu? Aku ingin bertemu dengannya."

Melihat ketidaksabaran pemuda berambut cokelat tersebut, Edderrittuo akhirnya mendesah. Gadis pelayan itu pun akhirnya membuka mulut dan berkata, "Ratu sedang tidak bisa ditemui, Sir Mazurek. Ia tengah mengadakan kunjungan ke Bumi."

"Apa?"

"Ratu tengah berkunjung ke Bumi," ulang si pelayan sekali lagi. Namun melihat kerutan di dahi Mazurek, gadis pelayan itu pun menambahkan,"Jangan khawatir! Count Orga, Countess Rafia dan Count Zebrin juga bersama dengannya!"

Mendengar itu, kepanikan Mazurek pun berkurang. Namun sebagai gantinya, ia mengajukan pertanyaan lain, "Apa ada sesuatu hingga sang Ratu sendiri yang berkunjung ke Bumi?"

Pelayannya mengangkat bahu, "Ratu tidak bilang apa pun."

"Begitu?" Mazurek memicingkan mata mendengar jawaban sang pelayan. Namun ia tidak mempermasalahkannya dan mengakhiri percakapan dengan pelayan tersebut. Setelahnya, tangannya bergerak untuk menuliskan pesan pada satu-satunya Count yang tinggal di Bumi saat ini.

To : Inaho Kaizuka

Subject : Queen

'Kau mencarinya? Kebetulan ia tengah berkunjung ke Bumi. Kau mungkin bisa sekalian menanyakannya bila bertemu dengannya.'

Gadis berambut hitam dengan manik semerah delima kembali mengerjap-ngerjapkan mata melihat teman sekelas yang duduk di sampingnya itu. Ia bergantian menatap pria beruban di depan kelas dan gadis berambut perak yang menempelkan salah satu pipinya rata pada meja. Tidak biasanya gadis berambut perak itu melewatkan pelajaran fisika dan lebih memilih untuk mengistirahatkan pikiran ke tempat lain.

"Slaine?"

Si gadis berambut perak yang dipanggilnya itu tidak bergerak ketika mendengar suaranya. Gadis itu tetap menghadapkan kepalanya ke arah lain, sementara buku terbuka, menutupi kepalanya. Melihatnya, Inko pun memutuskan untuk memanggil nama si gadis sekali lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Gadis berambut perak itu tetap bergeming di tempatnya, seolah tak mendengar panggilannya.

Melihat hal ini, Inko pun memutuskan untuk mengeraskan suaranya. Sekali ia memanggil dan terus memanggil dengan suara yang semakin keras. Ia terus mencoba menyebut nama gadis itu hingga tidak menyadari bahwa pria beruban yang ada di depan kelas, kini sudah berdiri di antara meja keduanya sembari memegangi buku diktat di tangannya.

"Sl…," perkataan Inko terputus ketika melihat bayangan seseorang di mejanya. Gadis itu pun memutar kepalanya dan menengok ke depan. Ia tidak terkejut ketika menemukan Guru fisika mereka sudah berdiri di samping dengan pandangan yang siap menerkam keduanya. "S-sensei…"

Tanpa banyak berkata-kata, pria beruban itu menggerakkan tangannya menuju ke pintu ke luar, tanda yang sudah sangat dipahami Inko sebagai isyarat untuk mengusirnya keluar kelas dan berdiri di lorong sepanjang pelajaran. Melihatnya, Inko pun tidak punya pilihan selain berdiri dari bangku dan beranjak ke luar. Ia hanya tidak menyangka bahwa gadis berambut perak yang dikiranya tertidur, akan ikut bangkit berdiri mengikutinya dan beranjak ke luar kelas.

Ketika mereka sudah berada di depan kelas, Inko pun menoleh pada gadis berambut perak yang menatap ke depan dengan pandangan kosong. Gadis itu pun membuka mulutnya dan berkata, "Kukira kau tertidur di pelajaran favoritmu."

Gadis itu tidak menjawab, pandangannya masih tertuju ke depan.

"Slaine?"

Sekali lagi Inko bertanya, namun ia mendapatkan reaksi yang serupa. Mulut gadis itu tetap terkatup rapat, pandangan matanya juga tak mengarah pada Inko. Melihatnya, mau tidak mau Inko pun mengerutkan dahi, sembari bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi pada gadis itu.

"Inko…"

Gadis bermanik semerah delima itu mengerjapkan mata saat mendengar namanya dipanggil. Dahinya kembali berkedut, namun ia berusaha mengucapkan, "Ya?"

Sahabatnya yang berambut perak itu membuka mulut, namun kembali mengatupkannya. Lalu sembari menggelengkan kepala gadis itu berkata, "Tidak jadi."

Melihatnya, bukan hanya dahi yang berkerut, Inko pun langsung membuka mulutnya dan berkata, "Ada apa sih? Kau aneh sekali hari ini. Kalau kau seperti ini, pasti telah terjadi sesuatu antara kau dengan Kaizuka-san!"

"Tidak."

"Pembohong!" Gadis berambut sehitam arang itu langsung berseru mendengar jawaban gadis itu. "Kau itu mudah ditebak. Kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan orang itu, kau pasti akan melakukan hal-hal yang di luar kebiasaanmu."

"Begitukah?"

Inko menganggukkan kepala. Gadis itu pun mengangkat satu tangannya dan mengangkat satu jari ketika ia berkata, "Sekali waktu kau melamun di pelajaran Miss Mizusaki, padahal kau selalu memerhatikan pelajarannya. Sebelum ini juga kau pernah membanting-banting buku pelajaran yang biasanya selalu kau jaga baik-baik. Lalu terakhir…," gadis itu menunjuk Slaine, "kau berpura-pura tidur di pelajaran Fisika yang paling kau sukai."

"Ah…"

"Jangan hanya 'Ah' saja," lanjut Inko ketika mendengar respon sahabatnya itu. "Aku memang bukan Rayet, tapi aku juga bisa mendengarkan kalau kau mau bercerita. Kau juga bisa mengandalkanku seperti kau mengandalkan Rayet."

Mendengarnya, gadis bermanik sebiru lautan itu menoleh ke arahnya. Pandangan mata yang sebelumnya menatap kosong itu pun akhirnya menunjukkan senyumnya dan ia berkata, "Aku tahu, Inko. Aku sudah tahu itu."

Inko menarik napas lega ketika melihat senyum di wajah sahabatnya. Kemudian ia pun kembali berkata, "Kalau begitu, kau bisa menceritakannya kalau kau mau. Aku bisa mendengarkan."

Slaine menggerakkan kepalanya, "Tapi sekarang ini memang tidak ada apa-apa."

"Mananya yang tidak ada apa-apa," sembur Inko ketika mendengar perkataan gadis berambut perak platina itu. "Kau bermuram durja begini, pasti ada sebabnya dan sebabnya itu pasti berhubungan dengan seseorang bernama Kaizuka Inaho. Iya 'kan?"

"Tidak juga," Slaine menyanggah ucapan sahabatnya. "Ini bukan tentangnya."

"Oh?" Inko terdengar tertarik pada ucapan Slaine. "Kalau begitu tentang apa?"

"Tentang…," gumam Slaine sembari mengangkat kepalanya, menatap jendela di depan ruang kelas, "seseorang yang merasa kecewa karena seseorang tidak menyelamatkannya."

Inko mengerutkan dahi mendengar ucapan si gadis berambut perak. Tanpa sadar, ia menyuarakan keheranannya dan ia berkata, "Apa maksudmu?"

"Ada seseorang yang kecewa karena orang yang dekat dengannya itu tidak menyelamatkannya satu kali," ujar si gadis berambut perak itu yang kini memilih untuk menundukkan kepala. "Ia kecewa, sekalipun ia tahu itu bukan salah orang itu. Sekalipun ia paham keadaannya yang salah, ia tetap kecewa. Padahal ia tahu orang itu pun sudah menderita, tapi tetap saja ia tetap kecewa."

Manik semerah delima itu menyipit ketika mendengar gadis berambut perak itu bicara. Perkataan gadis ini sedikit membingungkan baginya. Biarpun begitu, gadis ini mencoba memahaminya dengan berkata, "Jadi kau kecewa karena Kaizuka-san tidak menyelamatkanmu satu kali? Tapi bukankah ia selalu menyelamatkanmu sebelum-sebelumnya?"

"Ini bukan tentangnya!" Slaine langsung menyentak Inko. Melihat keterkejutan di wajah sahabatnya, gadis itu pun langsung berkata, "Maaf!"

"Tidak apa," jawab Inko cepat. Menyadari bahwa pengucapannya salah, gadis bermanik semerah delima itu kembali berkata, "Bagaimana kalau kita menyebut orang yang kecewa itu dengan Nona X dan orang yang mengecewakan itu Tuan Y?"

"Boleh."

"Baiklah," ujar Inko lagi sembari memicingkan mata, "jadi Nona X kecewa karena Tuan Y tidak menyelamatkannya? Apakah kesalahan itu sangat fatal?"

"Mungkin… fatal," ujar gadis itu. "Karenanya, Nona X kehilangan nyawanya dan Tuan Y harus menunggu lima ratus tahun untuk bertemu Nona X lagi."

Inko mengerjap-ngerjapkan matanya, sedikit bingung dengan perkataan Slaine. Ia berusaha menterjemahkan ke pemahamannya sendiri dan begitu ia cukup bisa mengerti kondisinya, gadis itu berkata, "Kalau begitu, bukankah kesalahan itu sudah ditebus oleh Tuan Y? Tuan Y menunggu selama itu untuk bertemu Nona X, bukan?"

"Aku tahu…," gadis berambut perak itu kembali menjawab. "Aku tahu benar soal itu. Aku tahu ia menunggu begitu lama untuk dapat bertemu kembali, aku tahu ia sudah kehilangan banyak hal, aku tahu ia sudah menderita begitu lama. Hanya saja… "

"Hanya saja Nona X terlalu kecewa hingga tidak mau memaafkannya?"

"Bukan begitu," jawab Slaine sembari menggelengkan kepala. "Aku… aku hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika mengetahui bahwa ia sekalipun tidak dapat menyelamatkanku."

"Apakah ada yang akan berbeda kalau Tuan Y menyelamatkan Nona X?"

"Mungkin," Slaine mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, Inko."

Melihatnya, Inko pun menganggukkan kepala, "Satu pertanyaan lagi, apakah Tuan Y sekarang pun masih mengecewakan Nona X?"

"Dia..," Slaine meragukan ucapannya, "kurasa tidak."

Sekali lagi Inko menganggukkan kepala. "Apa Tuan Y tahu bahwa ia mengecewakan dan sudah meminta maaf pada Nona X?"

"Berkali-kali malah," jawab si gadis berambut perak. "Ia mengucapkannya berulang-ulang, bagaikan mantra yang tidak berakhir. Aku tahu ia menderita karena kesalahannya, hanya saja meskipun tahu begitu aku masih kecewa padanya. Aku… aku tidak tahu apa yang salah denganku."

Mendengarnya, Inko pun menepuk-nepuk punggung si gadis berambut perak di sebelahnya. Kemudian ia pun berkata, "Tidak apa, Nona X berhak untuk kecewa."

"Aku… berhak untuk kecewa?"

Inko menganggukkan kepala, "Tapi Tuan Y juga berhak mendapat maaf Nona X."

"Apa?"

"Dari ceritamu, sepertinya Tuan Y sendiri sudah banyak menderita karena kesalahannya," ujar gadis berambut sehitam arang itu sembari mengarahkan pandangannya ke jendela. "Kasihan sekali kalau Tuan Y masih terus menderita hingga sekarang kalau Nona X belum memaafkannya."

"Tapi…"

"Mau sampai kapan Nona X kecewa?" Inko balas bertanya padanya. "Tuan Y sudah menunjukkan upaya terbaiknya untuk Nona X lho! Kalau Nona X terus keras kepala, bukan tidak mungkin Tuan Y akan berpaling pada gadis lain, bukan? Apa Nona X rela kalau Tuan Y berpaling pada wanita lain?"

Gadis itu tidak menjawab kali ini dan memilih untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

"Aktris Z yang mendapat pemeran utama di novel Tuan Y juga sangat cantik," ujar si gadis bermanik merah delima itu sembari menyipitkan satu matanya, mengamati reaksi sahabatnya. "Bukan tidak mungkin, Tuan Y akan terpesona pada aktingnya dan akhirnya lebih memilih aktris Z karena Nona X masih keras kepala."

"Tunggu!" Slaine baru menyadari sesuatu pada perkataan Inko, "Kenapa kau bisa menebak pekerjaan Tuan Y?"

Inko mengangkat bahunya, "Hanya kebetulan. Tapi, bagaimana dengan Nona X? Nona X rela bila Tuan Y direbut wanita lain? Yang mengincar Tuan Y itu tidak sedikit lho!"

"Entah." Slaine akhirnya menjawab. "Aku tidak tahu bagaimana perasaan Nona X."

Sekali lagi si gadis berambut sehitam arang itu menganggukkan kepala. Lalu gadis itu pun berkata, "Aku hanya berharap Nona X dapat memaafkan Tuan Y."

"Itu…"

Sebelum Slaine berbicara, Inko sudah memotongnya dengan berkata, "Karena tidak ada gunanya bagi Nona X mengingat-ingat hal yang membuatnya kecewa. Semuanya sudah terjadi dan yang dapat dilakukan Nona X sekarang adalah memperbaiki kesalahan itu, bukannya berdiam diri dan bermuram durja seperti sekarang."

Gadis yang mendengarkannya itu mengerjapkan manik sebiru lautannya ketika mendengar perkataan si gadis berambut hitam. Ia menatap sahabatnya selama beberapa saat sebelum menundukkan kepala dan memejamkan matanya. Ketika matanya kembali terbuka, gadis itu pun berkata, "Benar juga."

Inko menganggukkan kepala. "Kuharap pulang nanti, Nona X sudah berbaikan dengan Tuan Y, ya?"

Ketika gadis berambut perak itu hendak membuka mulut untuk menjawab, beberapa senior melewati lorong kelas tempat keduanya dihukum. Siswi-siswi yang lewat itu bertatapan mata dengan keduanya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian dan kembali fokus pada pembicaraan mereka sebelumnya. Hanya saja salah satunya menyikut temannya dan menunjuk Inko juga Slaine.

"Mereka 'kan dekat dengannya, coba saja tanyakan!"

"Kau saja yang tanyakan!"

Mereka berdebat selama beberapa saat, sebelum akhirnya salah satu dari siswi yang lewat itu menghampiri Slaine dan Inko. Lalu siswi itu berkata, "Kalian ini… dekat dengan Harklight 'kan?"

Untuk urusan semacam ini, bisa dipastikan bahwa gadis berambut hitam lah yang lebih dulu membuka mulutnya. Gadis itu bahkan tidak takut pada senior dan ia berkata, "Benar. Kami kenal cukup dekat dengan Harklight-senpai. Memangnya kenapa?"

"Oh, kalau begitu kalian pasti tahu soal kecelakaan yang menimpanya 'kan?" Siswi itu berkata dengan spontan ketika mendengar jawaban Inko. "Apa kalian tahu di mana Harklight dirawat? Kami berencana mengunjunginya soalnya."

"Harklight-senpai…," gumam Slaine sembari mengerutkan dahi, "kecelakaan?"

"Ya!" Siswi itu menjawab dengan yakin. "Beritanya sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Harklight si Ketua OSIS tertabrak truk sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Apa kalian tidak tahu?"

"Kami tidak tahu!" Inko langsung menjawab dengan spontan. "Sejak kapan ia tertabrak? Slaine, kau tahu sesuatu soal ini?"

"Tidak," jawab gadis itu. "Tidak! Aku tidak tahu. Bagaimana ia bisa kecelakaan?"

Siswi yang baru saja bertanya itu mengerutkan dahi, keheranan. "Bukankah kalian lebih dekat dengannya? Kenapa kalian tidak tahu?"

Tidak bisa menjawab, Slaine dan Inko hanya saling berpandangan dengan bingung. Baru beberapa hari yang lalu mereka mengunjungi Ian yang juga masuk rumah sakit karena tertabrak truk. Lalu hari ini mereka mendapatkan kabar bahwa senpai mereka dirawat karena kecelakaan. Ada apa sebenarnya? Bagaimana bisa dua orang yang mereka kenal mengalami kecelakaan dalam waktu berdekatan begini?

Merasakan ada yang tidak beres, gadis berambut perak itu menjauh dari siswi tingkat atas yang tengah berbicara pada Inko. Begitu sudah mengambil jarak yang cukup, gadis itu berbalik dan langsung berlari meninggalkan Inko. Ia bahkan tidak peduli ketika Sensei Fisika nya menunjukkan diri di hadapan kelas dan membuat kerumunan itu bubar. Gadis itu tetap melangkahkan kakinya, bahkan semakin cepat sembari mengeluarkan handphone berwarna putih dari kantung seragamnya.

Jemarinya menggeser layar handphonenya dengan panik dan ia mencoba menghubungi seseorang. Tangannya yang bergetar membuatnya tidak terdeteksi beberapa kali, sehingga ia harus mengulangi perintahnya saat mencoba menelepon. Ketika akhirnya telepon sudah tersambung, gadis itu pun menunggu dengan cemas, berharap bahwa panggilannya segera diangkat.

"Angkatlah…," gumam gadis itu, "kumohon angkatlah!"

Beberapa kali nada sambung terdengar, namun teleponnya belum diangkat. Setahunya hanya sekali waktu ia menelepon dan tidak diangkat. Ketika itu terjadi, pemuda itu pulang larut malam dengan luka di bahu kirinya. Lalu bagaimana dengan sekarang? Setelah dua orang yang dekat dengannya kecelakaan di waktu yang bersamaan, akankah pemuda itu baik-baik saja? Akankah ia mendengar suara pemuda itu lagi? Akankah…

Panggilannya diangkat dan orang itu berkata, "Slaine?"

Mendengar suara baritone yang sama dengan yang diingatnya, tak terkira betapa leganya Slaine. Walaupun begitu, gadis itu tetap tidak dapat mengenyahkan kekhawatirannya dan tetap berkata, "Kaizuka-san? Kaizuka-san, kau di mana?"

"Kenapa memangnya?" Seperti biasanya pemuda itu selalu mengajukan pertanyaan lebih dulu. "Bukankah ini masih jam sekolah, Slaine? Kenapa kau menghubungiku?"

"Ah, itu…"

"Slaine Troyard?"

Panggilan lengkap itu membuat si gadis berambut perak menggerakkan kepalanya dan menghentikan perkataannya pada orang yang dihubunginya. Ia menggerakkan kepala dan menemukan seorang wanita dengan rambut kuning keemasan berdiri di hadapannya. Manik sebiru lautannya bertemu pandang dengan manik sehijau zamrud milik wanita itu dan tanpa sadar, ia terus memandanginya. Sekalipun dibalut baju formal, Slaine merasakan sesuatu yang berbeda pada diri wanita itu.

"Anda… memanggilku?"

Wanita itu mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Benar."

"Apa aku… mengenal Anda?" Slaine kembali bertanya dan mengabaikan handphonenya yang masih tersambung.

"Mungkin tidak," jawab wanita itu sembari tersenyum kembali. "Baru kali ini kita bertemu muka."

Slaine mengerutkan dahi. "Apa… Anda membutuhkan sesuatu dariku?"

Senyum kembali merekah di wajah wanita itu. Senyum yang manis, namun Slaine merasakan adanya ancaman dari senyum tersebut. Ia bertanya-tanya, apa yang dibutuhkan wanita cantik itu darinya.

"Tentu, aku membutuhkan sesuatu darimu," ujar wanita itu. "Ah, sebelumnya biarkan aku memperkenalkan diri."

"O-oh, ya," jawab Slaine. "Anda adalah…?"

"Namaku Asseylum vers Allusia," ujar wanita itu. "Tapi kau bisa memanggilku Asseylum, Slaine."

"Asseylum-san?" Slaine kembali mengulang perkataan wanita itu. "Anda mengenalku Asseylum-san?"

"Tentu saja aku mengenalmu, sangat mengenalmu," jawab wanita itu.

"Bagaimana… Anda bisa mengenalku?"

"Karena," ujar wanita itu sembari menatap manik sebiru lautan milik gadis berambut perak itu, "aku ingin kau mengembalikan hal yang telah kau ambil dariku."

[t.b.c

Thank you for reading, if you mind, please give me any review :D]