Since your loneliness is tormented by the night
There's a light waiting for you when tomorrow comes
GRANRODEO – CAN DO
Semalam aku sudah membuat list di otakku. Pokoknya seharian ini aku harus membereskan isi kamar yang mulai berantakan. Buku-buku SMP-ku harus disimpan ke dalam kardus sehingga meja belajar bisa dipakai untuk menaruh buku-buku SMA. Sampai sekarang aku masih belum dapat kabar apa aku diterima di SMA Seirin atau tidak. Tapi aku selalu berpikir positif. Ya, harus begitu, meski berisiko merasakan kecewa berat jika tidak diterima.
Aku membuka jendela. Membiarkan angin masuk ke dalam kamar. Salju sudah berhenti turun sejak beberapa hari yang lalu. Itu berarti musim sudah berganti jadi musim semi.
"Tecchan, apa ada yang Obaasan bisa bantu?"
Tubuhku berbalik. Terlihat Obaasan tersenyum di depan pintu kamarku yang terbuka. Sejujurnya aku senang ditawari bantuan, tapi melihat kondisi Obaasan akhir-akhir ini...
"Mm, terima kasih, Obaasan. Tapi aku tidak ingin merepotkan Obaasan, jadi..."
Obaasan tertawa pelan. "Baiklah. Kalau 'majalah-majalah' itu ketahuan oleh Obaasan, Tecchan juga yang repot, ya?" katanya seraya pergi ke lantai bawah.
...perasaanku saja atau Obaasan sudah salah paham?
Aku mengedikkan bahu, tidak mau ambil pusing.
"Yosh! Mulai bersih-bersih!" seruku dengan tangan kanan mengepal.
Mula-mula aku menaruh semua buku pelajaran SMP yang ada di meja belajar ke atas karpet berbulu. Aku ingin memisahkan buku tulis dan buku paket terlebih dahulu. Sambil menyortir, aku sempat membaca isinya sekilas. Hampir semua buku tulis kuisi dengan coret-coretan di akhir halaman. Entah itu gambar atau curhatan singkat. Terkadang aku juga menulis kata-kata bijak di sana.
Saat aku membuka buku tulis mata pelajaran matematika, tiga foto ukuran 2R terjatuh. Aku berjongkok untuk mengambilnya lalu menatap benda itu heran. Seingatku, aku tidak pernah menyelipkan foto ke dalam buku.
...atau mungkin memang pernah?
Ingatanku kembali pada kejadian kurang lebih satu tahun yang lalu. Aku memotret tiga foto itu saat klub basket putera Teikou sedang melakukan training camp. Ada fotoku berrsama Kisedai dengan background laut. Lalu ada satu lagi fotoku bertiga dengan Akashi-kun dan Momoi-san yang berdiri di tengah-tengah kami. Foto yang terakhir adalah foto kembang api di langit malam yang gelap. Terlihat pula bulan sabit di ujung kanan atas. Indah...
Oh, aku ingat. Itu sewaktu kami pergi ke Natsu Matsuri di hari terakhir liburan musim panas. Hanya Kisedai, aku dan Momoi-san yang pergi. Tapi kami sempat bertemu dengan Nijimura-senpai.
Sebaiknya kutaruh di atas meja nakas dulu. Aku kembali melihat-lihat isi buku matematika hingga halaman terakhir. Bibir bawah kugigit pelan begitu mendapati tulisan yang tidak asing sudah terukir rapi di sana. Ini... bukan tulisanku. Meski buku ini banyak yang meminjam (dengan alasan tulisanku yang tertata rapi, padahal aku tidak begitu paham isinya), tapi aku tahu siapa pelakunya.
Ini tulisan tangan Akashi-kun.
Hanya dia satu-satunya orang yang mau mengajariku beberapa pelajaran yang tidak kupahami. Termasuk matematika yang sudah jadi rahasia umum sebagai musuh terbesar para pelajar. Bahkan orang dewasa pun banyak yang berpendapat sama.
"Lebih mudah menghapalkan rumus dengan menggunakan logika, Kuroko."
Pesan dari Akashi-kun serupa dengan pesan yang selalu diingatkan oleh Okaasan. Berkat pesan mereka, aku bisa mengingat rumus di luar kepala. Aku tersenyum melihat hiragana berukuran kecil di pojok kanan bawah pada pesan Akashi-kun yang sekelilingnya diberi garis berbentuk oval. 'Ganbatte, Kuroko.' Isinya tanpa emot seperti isi surel dari Kise-kun. Omong-omong, aku tidak pernah membayangkan surel Akashi-kun dengan emot. Bukan Akashi-kun sekali.
Ting, tong.
"Tecchan, tolong bukakan pintunya!"
Aku menutup buku itu seraya menjawab permintaan Obaasan yang terdengar dari kamar sebelah. Bel pintu kembali terdengar setelahnya. "Iya, tunggu sebentar!" seruku. Sebelum membuka pintu, aku mengintip dari lubang di pintu. Oh, petugas kirim barang?
"Ohayou gozaimasu! Saya pekerja dari Kuroneko. Apa benar ini alamat rumah Kuroko-san?"
"Iya, benar. Ada kiriman untuk siapa, ya?" tanyaku dengan nada meragu.
Pekerja antar kiriman barang yang kuperkirakan seumuran dengan Otousan itu tersenyum lega. "Untuk Kuroko Tetsuya-san." Ia mengangsurkan amplop coklat seukuran kertas polio. Aku pun maju selangkah mendekatinya untuk menerima amplop tersebut. Cap dan tulisan besar dari si pemilik cap langsung membuatku kaku. Surat pengumuman dari SMA Seirin.
"Semoga kau diterima, Nak. Nah, bisakah saya mendapat stempel?"
"O-oh, tunggu sebentar." Aku pun berlari kecil menuju ruang keluarga lalu mengambil stempel keluarga yang selalu tersimpan rapi di laci kecil dalam lemari buku. Dengan amplop masih kupegang, aku kembali ke teras dan mencap bukti pengiriman barang.
"Terima kasih."
"Terima kasih juga, Pak."
Aku membungkukkan badan sedikit pada pekerja itu yang dibalas dengan anggukan sambil mengangkat topi putih-birunya. Mataku menatap amplop di tangan kiriku. Ini yang kutunggu-tunggu sejak beberapa hari yang lalu. Obaasan sudah berdiri di bawah anak tangga dengan ekspresi penasaran sebelum ia tersenyum tipis. Aku melangkah mendekatinya yang sudah terlebih dulu berjalan menuju ruang keluarga.
"Surat pengumuman, ya?" tanya Obaasan.
"Ya," jawabku sambil tersenyum.
Kami pun duduk di sofa panjang. Obaasan menyalakan televisi sedangkan aku sibuk membuka segel amplop yang entah kenapa susah sekali dilepas. Aku harus ekstra berhati-hati supaya isi amplop tidak rusak. Begitu segel terbuka, tanganku sempat berhenti bergerak lalu memejamkan mata. Berharap hasilnya positif.
Obaasan terkekeh pelan. "Perlu bantuan untuk membacanya?"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Tetsuya bisa, kok."
Perlahan namun pasti, tangan kananku menarik isi amplop yang ternyata ada dua-tiga kertas di dalamnya. Apapun hasilnya, aku akan terima dengan ikhlas. "Rasanya tegang sekali," akuku.
"Waktu surat dari SMP Teikou datang dulu, Tecchan juga tegang. Jadi, Obaasan sudah tidak heran," sahut Obaasan.
"Kalau tidak diterima, aku tidak tahu lagi harus mendaftar dimana," ringisku.
"Jadi?"
"...!?" Tanpa sadar isi amplop sudah kukeluarkan semuanya. Perhatianku benar-benar teralih pada satu kata yang ditebalkan dan tepat berada di tengah-tengah kertas. DITERIMA.
...wah, aku diterima.
Rasanya sekarang aku bisa bernapas lega untuk sementara waktu.
"Selamat, Tecchan! Obaasan turut senang," ucap Obaasan sambil mengusap puncak kepalaku. Aku hanya mengangguk senang. "Mau langsung memberi kabar orang tuamu?"
"Tidak usah, Obaasan. Nanti saja aku bilang setelah makan malam."
Obaasan mengangguk. Aku memasukkan kertas itu lagi ke dalam amplop lalu pamit ingin melanjutkan kegiatan beres-beres kamar yang masih 5% terlaksana. Sambil menggosokkan kedua tanganku yang sudah berkeringat dingin, aku bergumam.
"Semoga ini adalah awal dari keberuntunganku di masa depan." Prok. Prok.
Hari ini aku beres-beres kamar. Aku menemukan beberapa foto sewaktu aku masih menjadi anggota klub basket Teikou. Selain itu, aku juga dapat surat pengumuman dari SMA Seirin. AKU DITERIMA!
~ Tetsuya's 29th Paper End ~
Ganba desu. Terima kasih sudah mengikuti, mereview dan meluangkan waktu untuk membaca fanfic ZPS sampai sekarang! #bow
Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya. ^^
CHAU!
